BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Kajian Teori
2.1.1 Pengertian Permainan
Permainan berasal dari kata bermain yang memiliki kata dasar “main”
dengan imbuhan “per-an”, yang maknanya adalah suatu kegiatan yang memiliki
unsur menyenangkan. Permainan diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk
bermain, barang atau sesuatu yang dipermainkan (Qadratillah, 2009: 289). Dunia
anak adalah dunia bermain, dalam bermain anak menggunakan otot tubuhnya,
menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia sekitarnya dan menem
kan seperti apa diri sendiri.
Menurut Rusli Lutan, dkk (2010: 56) bahwa “Bermain merupakan
kegiatan hakiki kebutuhan dasar manusia, bermain merupakan sebuah konsep
oleh karenanya manusia disebut makhluk bermain (homo ludens)”. Bermain
adalah belajar menyesuaikan diri dengan keadaan, anak-anak bermain dalam
daerah sekelilingnya dan dengan peralatan dalam daerah itu. Melalui kegiatan
bermain, potensi dan kemampuan yang terdapat dalam diri anak akan dapat
dikembangkan, oleh karena itu dalam memilih permainan harus mengandung
nilai-nilai positif yang dapat mengembangkan kemampuan anak. Apabila diamati
aktivitas permainan yang dilakukan anak-anak sekarang sudah banyak
mengalami perubahan, baik dari segi jenis maupun bentuk.
Permainan merupakan salah satu kegiatan yang paling menyenangkan dan
menghargai kebudayaan yang memiliki dampak yang positif terhadap aspek
11
12
perkembanngan anak dan dapat mengembangkan potensi penuh yang ada pada
anak. Permainan merupakan sarana anak-anak untuk dapat bereksperimen dengan
berbagai cara secara meluas tanpa adanya batas. Permainan merupakan sesuatu
kegiatan yang bersifat aktif, dinamis, dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Dengan kata lain, permainan dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja.
Permainan juga dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi dengan teman sebaya
dan lingkungan sekitar. Melalui kegiatan bermain, anak-anak akan
mengembangkan konsep membangun pengetahuan mereka sendiri yang mereka
dapatkan dalam kegiatan bermain.
2.1.2 Permainan Tradisional
[Link] Pengertian Permainan Tradisional
Secara umum permainan terdiri atas 2 jenis, yaitu permainan modern dan
tradisional. Permainan modern untuk saat ini masih mendominasi kehidupan
masyarakat luas khusunya anak-anak. Perkembangan teknologi yang semakin
lama bertambah canggih, banyak orang yang dimanjakan oleh teknologi modern
seperti televisi, handphone, playstation dan smartphone. Kesan dari
perkembangan teknologi moderen tidak selamanya berdampak positif bagi dunia
anak-anak. Menurut Perwitasari (dalam Andi Akifa Sudirman,dkk: 2018: 215)
fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, banyak permainan digital yang berdampak
negatif bagi anak. Hal tersebut akan menyebabkan aktivitas anak akan semakin
berkurang karena anak-anak sibuk dengan gadget, sehingga menimbulkan
perkembangan motorik menjadi terhambat.
13
Perbedaan besar antara permainan masa kini dengan permainan
tradisional adalah pada zaman dahulu permainan trasional tidak cuma melatih
otak, perasaan, emosional seseorang, tetapi juga melatih keseimbangan gerak dan
ketangkasan tubuh, hal ini sangat jauh berbeda dengan permainan modern.
Menurut Muliawan (dalam Andi Akifa Sudirman,dkk: 2018: 216) permainan
tradisional merupakan permaian yang dapat digunakan untuk membantu anak
dalam perkembangan motorik. Keuntungan permainan tradisional dapat
menambah kreativitas anak dalam mengelola permainan dan mengembangkan
kemampuan interaksi sesama anak, karena pada dasarnya permainan tradisional
cenderung pada permainan kelompok yang menumbuhkan kerja sama yang baik.
Permainan tradisional ialah aktivitas budaya dalam bentuk permainan
dengan unsur-unsur gerak, seni, sosial, dan budaya. Sebagai aktivitas budaya,
permainan itu mengandung sumber dan media informasi yang dapat mewarnai
dan dapat memperkaya kebudayaan nasional maupun daerah, serta memperkukuh
nilai-nilai budaya yang dapat merangsang kearah pembaharuan yang kreatif
(Nopilayanti, Wiyasa, dan Negara, 2016). Permainan tradisional adalah
permainan yang memiliki unsur-unsur budaya yang tubuh dan berkembang dalam
masyarakat sesuai dengan aturan dan norma adat kebiasaan yang diwarisi dan
dipelihara secara turun temurun baik menggunakan alat atau tanpa alat dalam
permainannya (Rahmadani, 2014).
Permainan tradisional merupakan permainan yang sederhana dan mudah
di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari serta dalam permainan tradisional
anak dapat mewarisi dan mencintai budaya daerah. Menurut Apriliawati dan
14
Hartoto (2016) permaiman tradisional adalah suatu bentuk aktivitas yang
dilakukan dengan sengaja tanpa ada unsur paksanaan yang sifatnya
menyenangkan untuk meningkatkan potensi dalam diri setiap individu.
Permainan tradisional pada dasarnya permainan yang dimainkan secara
berkelompok, hal ini dapat memberikan ruang anak untuk bersosialisasi dengan
lingkungan serta melatih dalam sifat demokratis anak.
Menurut Pontjopoetro (2002:5) Permainan tradisional adalah bentuk
kegiatan permainan dan atau olahraga yang berkembang dari suatu kebiasaan
masyarakat tertentu. Pada perkembangan selanjutnya permainan tradisional selalu
dijadikan sebagai jenis permainan yang memiliki ciri kedaerahan asli serta
disesuaikan dengan tradisi budaya setempat. Kegiatannya dilakukan baik secara
rutin maupun sekali-kali dengan maksud untuk mencari hiburan dan mengisi
waktu luang setelah terlepas dari aktivitas rutin seperti bekerja mencari nafkah,
sekolah, dsb. Dalam pelaksanaannya permainan tradisional dapat memasukkan
unsur-unsur permainan rakyat dan permainan anak ke dalamnya. Bahkan
mungkin juga dengan memasukkan kegiatan yang mengandung unsur seni seperti
yang lajim disebut sebagai seni tradisional.
Menurut James Danandja (2007: 23) permainan tradisional adalah salah
satu bentuk permainan anak-anak yang beredar secara lisan di antara anggota
kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan diwarisis turun temurun, serta banyak
mempunyai variasi. Menurut Azizah ( 2016: 284) permainan tradisional adalah
kegiatan yang diatur oleh suatu peraturan permainan yang merupakan pewarisan
15
dari generasi terdahulu yang dilakukan manusia (anak-anak) dengan tujuan
mendapat kegembiraan.
Menurut Sri Wahyuningsih ( 2009: 5) Permainan tradisional atau biasa
disebut dengan permainan rakyat, yaitu permainan yang dilakukan masyarakat
secara turun temurun dan merupakan hasil dari penggalian budaya lokal yang di
dalamnya banyak terkandung nilai-nilai pendidikan dan nilai budaya, serta dapat
menyenangkan hati yang memainkannya. Permainan tradisional anak adalah
proses melakukan kegiatan yang menyenangkan hati anak dengan
mempergunakan alat sederhana sesuai dengan potensi yang ada dan merupakan
hasil penggalian budaya setempat menurut gagasan dan ajaran turun temurun dari
nenek moyang.
Maka dapat disimpulkan bahwa permainan Tradisional adalah kegiatan
bermain yang mencerminkan kearifan lokal dan menyenangkan hati anak yang
dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang hingga sekarang. Permainan
Tradisional juga merupakan salah satu kegiatan yang paling menyenangkan dan
menghargai kebudayaan yang memiliki dampak yang positif terhadap aspek
perkembanngan anak dan dapat mengembangkan potensi penuh yang ada pada
anak.
[Link] Fungsi Permainan Tradisional
Hetherington dan Parke yang dikutip dari Novi Mulyani ( 2016: 27)
fungsi bermain untuk mempermudah perkembangan kognitif anak. Dengan
bermain, akan memungkinkan anak untuk meneliti lingkungan sekitarnya,
16
mempelajari segala sesuatu, dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Selain
itu bermain juga meningkatkan perkembangan sosial anak. Dengan menampilkan
berbagai macam peran orang lain dan menghayati peran yang akan diambilnya
setalah ia dewasa.
Menurut Dwijawiyata (2013: 7) fungsi bermain adalah ketika bermain
kemampuan motorik anak-anak menjadi lebih latih dan terarah. Selain mototik,
keterampilan sosialnya juga ikut terasah, bermain sangat baik untuk
perkembangan otak, jasmani, dan juga kesehatan mental anak.
Bermain memiliki peran penting dalam perkembangan anak pada
hampir semua bidang perkembangan, baik perkembangan pada kemampuan
motorik menurut Piaget dan curtis yang dikutip oleh Slamet Suyanto (2017:67)
menunjukkan bahwa bermain memungkinkan anak bergerak secara bebas
sehingga anak mampu mengembangkan kemampuan motoriknya. Pada saat
bermain anak berlatih menyesuaikan antara pikiran dan gerakan menjadi suatu
keseimbangan, anak terlahir dengan kemampuan refleks , kemudian ia belajar
menggabungkan dua atau lebih gerak refleks, dan pada ahirnya ia mampua
mengontrol gerakannya. Melalui bermain anak belajar mengontrol gerakannya
menjadi gerak terkoordinasi.
Menurut piaget yang dikutip oleh Slamet Suyanto (2017:69) anak
belajar memahami pengetahuan dengan berinteraksi melalui objek yang ada di
sekitarnya. Bermaian memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi
dengan objek, memahami aturan dalam permainan yang oleh teman bermain
sedikit demi sedikit, tahap demi tahap sampai setiap anak memahami aturan
17
bermain. Kemampuan Bahasa akan berkembang pada saat melakukan
permainan,karena pada saat bermaian anak menggunakan bahasa, baik untuk
berkomunikasi dengan temannya maupun sekedar menyatakan pikirannya.
Kemampuan Sosial, pada saat bermain anak berinteraksi dengan anak yang lain.
interaksi tersebut mengajarkan anak cara merespons, memberi dan menerima,
menolak atau setuju dengan ide dan perilaku anak yang lain.
[Link] Manfaat Permainan Tradisional
Menurut Novi ( 2016;23) manfaat permainan tradisional adalah
sebagai berikut:
1. Permainan tradisional cenderung menggunakan atau memanfaatkan
alat atau fasilitas dilingkungan kita tanpa harus membelinya sehingga
perlu daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi.
2. Permainan Tradisional melibatkan permainan yang relatif banyak.
Setiap permainan rakyat banyak anggotanya. Selain mendahulukan
faktor kesenangan bersama, permainan ini juga mempunyai maksud
sebagai pendalaman kemampuan interaksi antar pemain.
3. Permainan Tradisional memiliki nilai-nilai luhur dan pesan-pesan
moral tertentu, seperti nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung
jawab, sikap lapang dada, dorongan berprestasi, dan taat pada aturan.
Sedangkan menurut subagiyo (dalam Novi,2016: 26) permainan
tradisional mempunyai beberapa manfaat, antara lain seperti berikut :
18
1. Anak menjadi kreatif.
2. Bisa digunakan sebagai terapi terhadap anak. Saat bermain anak akan
melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa, dan bergerak.
3. Mengembangkan kecerdasan intelektual anak. Sebab permainan
tersebut akan menggali wawasan anak terhadap beragam pengetahuan.
4. Mengembangkan kecerdasan emosi antarpersonal anak. Karena
hampir semua permainan tradisional dilakukan dengan berkelompok.
5. Mengembangkan kecerdasan logika anak. Beberapa permainan
tradisional melatih anak untuk berhitung dan menentukan langkah-
langkah yang harus dilewati.
6. Mengembangkan kecerdasan kinestetik anak. Pada umumnya,
permainan tradisional mendorong para pemainnya untuk bergeraak,
seperti melompat, berlari, menari dll.
7. Mengembangkan kecerdasan natural anak. Banyak alat-alat permainan
yang dibuat atau digunakan sari tumbuhan, tanah, pasir. Aktivitas
tersebut mendekatkan anak terhadap alam sekitarnya sehingga anak
lebih menyatu terhadap alam.
8. Mengembangkan kecerdasan musikal anak. Nyanyian atau bunyian-
bunyian sangat akrab pada permainan tradisional.
9. Mengembangkan kecerdasan spriritual anak. Dalam permainan
tradisional mengenal konsep menang dan kalah.
19
Selain itu, menurut Sri Wahyuningsih ( 2009: 5) manfaat pembelajaran
permainan tradisional bagi pendidik dan pengelola PAUD di antaranya sebagai
berikut :
a. Menambah/memperkaya metode pembelajaran yang sudah ada.
b. Memperkenalkan, melestarikan, sekaligus meningkatkan kecintaa
terhadap warisan budaya bangsa dan nilai-nilai luhur yang terkandung
di dalamnya, baik bagi dirnya sebagai pendidik dan pengelola,
maupun bagi anak didiknya di tengah gencarnya pengaruh budaya dan
teknologi modern.
c. Memberikan suasana belajar yang menyenangkan, memberikan
keceriaan dan kegembiraan bagi anak sebagai suatu proses kegiatan
pemberian rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani anak.
Manfaat dan pengaruh permainan tradisional terhadap anak usia dini di
antaranya sebagai berikut :
a. Anak menjadi lebih kreatif. Mereka menggunakan barang-barang,
benda-benda atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain.
b. Dapat digunakan sebagai terapi terhadap anak. Saat bermain, anak-
anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa, dan
bergerak. Kegiatan semacam ini dapat digunakan sebagai terapi untuk
anak-anak yang memerlukan kondisi tersebut.
c. Mengembangkan kecerdasan majemuk anak (multiple intelligences)
20
[Link] Keuntungan dan Kerugian Permainan Tradisional
Keuntungan permainan tradisional menurut Muliawan (2009: 57) antara
lain sebagai berikut:
1. Menambah kreativitas anak dalam mengelola permainan
2. Mengembangkan kemampuan interaksi sesama anak, karena pada
dasarnya
3. Permainan tradisional cenderung pada permainan kelompok yang
menumbuhkan kerja sama yang baik
4. bahan-bahan yang digunakan adalah bahan yang mudah dan murah,
bahkan pada umumnya jika ada alat dan bahan yang diperlukan dalam
melakukansuat permainan, maka alat dan bahan tersebut adalah alat-alat
bekasyang ada di sekitar lingkungan mereka.
5. Permainan tradisional sangat mendidik anak-anak untuk menghadapi
masa depan. Sebabdalam cerita rakyat dan permainan anak-anak,
terdapatbanyak nilai–nilai yang bisa dijadikan pegangan hidup. Nilai
moral, etika,kejujuran, kemandirian, etos kerja, solidaritas sosial, dan
lain-lain
Adapun kekurangan dari permainan tradisonal menurut Euis Kurniaati
(2016: 23) yaitu:
1. Tempat atau lahan yang semakin sulit di temukan, dikarenakan
banyaknya pemukiman penduduk.
2. Karena umur permainan yang tua yang menjadikan permainan ini tidak
dikenal
21
3. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang permainan tradisional
4. Kurangnya sosialisasi baik dari masyarakat maupun pemerintah.
2.1.3 Permainan Tradisional Papan Titian
Menurut Montolalu (2007: 6.19) bahwa bermain papan titian tidak hanya
mengembangkan kemampuan motorik kasar saja tetapi juga mampu
mengembangkan kemampuan lainnya pada keterampilan dalam mengkoordinasi
gerak motorik kasar dan halus, dapat mengoperasikan kemampuan kognitifnya
untuk memikirkan agar tidak jatuh, mengembangkan, menumbuhkan, mengasah
kepekaan, kepedulian, anak menjujung moral dan nilai nilai yang berlaku
universal.
Menurut Mulyani dan Gracinia (2007: 97) papan titian merupakan papan
atau bangku panjang dengan ketinggian ± 10-30 cm dan ukuran panjang papan
1,5-2 m serta lebar ± 10 cm. Papan titian merupakan merupakan media yang
dapat mengukur atau melatih keseimbangan anak. Menurut Mulyani dan Gracinia
(2007: 99) beberapa tujuan dari kegiatan bermain papan titian adalah untuk
melatih kekuatan otot kaki, melatih keseimbangan tubuh, melatih keberanian dan
kepercayaan diri. Menurut Faruq (2009: 35) papan titian bermanfaat untuk
meningkatkan keseimbangan, meningkatkan koordinasi, meningkatkan
kepercayaan diri dan memberikan kesenangan.
Menurut uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bermain papan titian
adalah suatu kegiatan meniti diatas papan yang menyenangkan dan melatih
keseimbangan diri. Keseimbangan merupakan kemampuan mempertahankan
22
posisi tubuh dalam keadaan bergerak ataupun diam (Yudanto, 2006: 12).
Keseimbangan merupakan integrasi yang kompleks dari sistem sensorik
(somatosensoris, vestibular, visual) dan muskuloskeletal (otot, sendi, jaringan
lunak) yang kerjanya diatur oleh otak terhadap respon internal dan eksternal
tubuh (Batson, 2009: 56). Tujuan dari tubuh mempertahankan keseimbangan
adalah menyanggah tubuh melawan gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk
mempertahankan pusat massa tubuh agar seimbang dengan bidang tumpu, serta
menstabilisasi bagian tubuh ketika bagian tubuh lain bergerak (Brown and Eason,
2006:78).
Untuk mempertahankan keseimbangan diri dalam bermain papan titian,
anak harus mampu berkosentrasi dan tidak teralihkan agar saat meniti di papan
titian tidak terjatuh atau terpeleset. Maka dapat disimpulkan bahwa anak yang
mampu menyeimbangkan diri dengan baik, maka anak tersebut memiliki
kemampuan kosentrasi yang baik.
Ciri-ciri belajar menurut Smith et all Garvey (Suryadi 2010: 284)
mengemukakan ciri-ciri bermain papan titian adalah sebagai berikut:
1. Dilakukan atas pilihan sendiri, motifasi pribadi, dan untuk kepentingan
sendiri.
2. Anak yang melakukan aktifitas bermain mengalami emosi-emosi
positif.
3. Adanya unsur fleksibilitas, yaitu mudah ditinggalkan untuk beralih
keaktifitas yang lain tanpa beban.
23
4. Tidak ada tekanan tertentu atas permainan tersebut, sehingga tidak ada
target yang harus dicapai.
5. Bebas memilih. Ciri ini mutlak bagi anak usia dini.
6. Mempunyai kualitas pura-pura, seperti anak memegang kertas dilipat
pura-pura menjadi pesawat dan sejenisnya.
Jenis bermain menurut Khoirul Anam ( 2017: 113) berdasarkan aktifitas
fisik dan sumber kesenangan adalah sebagai berikut:
1. Bermain aktif, seorang anak melakukan sendiri dalam sumber rasa
senang yang diperoleh anak berasal dari apa yang dilakukan oleh anak
itu sendiri.
2. Bermain pasif adalah anak melakukan kegiatan dengan sedikit
menggunakan aktifitas fisik dan sumber rasa senangnya diperoleh dari
aktifitas yang dilakukan oleh orang lain.
Adapun setiap permainan memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Menurut Khoirul Anam ( 2017: 113), Kelebihan dan kekurangan dari bermain
papan titian adalah sebagai berikut:
1. Kelebihan Bermaian Papan Titian
Meningkatkan ketangkasan dan koordinasi, meningkatkan
konsentrasi anak dan keyakinan mengendalikan tubuh
2. Kekurangan Bermain Papan Titian
Beresiko jatuh lebih banyak jika tidak berhati-hati dalam
bermain, jika rusak agak sulit memperbaikinya
24
2.1.4 Permainan Tradisional Kelereng
[Link] Pengertian Permainan Kelereng
Menurut Saputra & Ekawati (2017: 53) permainan tradisional bermanfaat
bagi tumbuh kembang anak, namun tidak banyak orang tua yang mengetahui
manfaat tersebut, bahkan orang tua sangat jarang masih mengingat bagaimana
memainkannya dan jarang menceritakan permainan tradisional yang pernah
dimainkan dulu kepada anak-anaknya. Hal ini tentu membuat eksistensi
permainan tradisional semakin tidak diketahui oleh masyarakat luas.
Kelereng adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca atau
tanah liat. Konsep permainan tradisional kelereng dalam pembelajaran yaitu
ketika siswa sedang bermain kelereng dan mereka berhasil menjentik kelereng
hingga keluar dari segitiga maka siswa harus menghitung selisih jumlah kelerang
awal dengan jumlah kelereng setelah berhasil di keluarkan. Sehingga untuk dapat
melakukan permainan tersebut, anak-anak harus berkosentrasi agar dapat
menjentikkan kelerang kearah yang dituju.
Dengan adanya permainan kelerang menuntut anak untuk berkosentrasi,
sehingga anak dalam pembelajaran akan dengan senang mengikuti segala aturan
dan tugas yanng diberikan guru. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Olanda
Dwi Sumintra, dkk (2014) membuktikan bahwa penggunaan konteks permainan
tradisional kelereng dalam pendesainan pembelajaran memiliki peranan penting
dalam membantu meningkatkan kepemahaman siswa dalam memahami konsep
dan juga bisa membantu untuk meningkatkan minat belajar siswa. Selain itu
permainan tradisional kelereng juga sangat berpengaruh terhadap pembelajaran,
25
karena dengan metode ini siswa bisa belajar secara konkrit dan bisa menerapkan
pembelajaran langsung ke dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini berpotensi
tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses,
tetapi juga untuk memberikan pengalaman secara langsung bagi siswa untuk
memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari melalui
interaksi serta melatih untuk berkonsentrasi.
Menurut Supriyanto (dikutip dalam Kartiko, 2014: 5), kelereng muncul
sejak zaman kerajaan. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan bahwa di Yogyakarta
masih terdapat tiga kelereng berukuran besar, terbuat dari marmer berdiameter
sekitar 15-30 cm dan berlokasi di dekat Makam Kotagede. Batu kelereng tersebut
diceritakan sebagai mainan Raden Rangga, putra dari Panembahan Senopati yang
berkuasa pada masa kerajaan Mataram Islam.
Kemudian, dalam perkembangannya kita mengenal kelereng sebagai
sebuah objek berukuran kecil yang diproduksi dari pabrik. Umumnya, kelereng
yang kita kenal adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca.
Namun, di daerah yang jauh dari perkotaan, kelereng seringkali dapat berupa biji-
bijian yang diurai. Di beberapa daerah, kelereng terbuat dari campuran semen dan
kapur yang dibentuk bulat atau dari batu wali yang dibentuk sedemikian rupa
sehingga menyerupai kelereng yang kita kenal (Hasanah, 2016: 5).
26
[Link] Manfaat Permainan Kelereng
Permainan kelereng memiliki beberapa manfaat. Salah satunya,
permainan kelereng dapat meningkatkan kemampuan motorik halus (Fauziah,
2018). Gerakan jari serta pengaturan kekuatan dan kecepatan kelereng dengan
menggunakan jari-jari tangan sangat penting dalam mengasah kemampuan
motorik halus. Kemudian, permainan kelereng juga membantu anak untuk
mengenal matematika sekaligus bentuk bangun datar. Pemain perlu menghitung
banyak kelereng di dalam arena permainan. Kemudian, pemain juga melukis
segitiga atau persegi di tanah sebagai wadah untuk meletakkan kelereng yang
akan dibidik anak Menurut Siregar & Lestari(2018: 34) manfaat bermain
kelereng antara lain
1. Mengatur Emosi (Relaks), Bermain kelereng sangat menyenangkan
bagi anak. Kesenangan inilah yang memunculkan unsur relaks yang
membantu anak keluar sebentar dari rutinitasnya sehari-hari untuk
“me-recharge” kembali baterai energinya. Bila energinya sudah
kembali penuh, tentu baik sebagai persiapan menghadapi hal-hal yang
serius, seperti belajar.
2. Melatih Kemampuan Motorik Kegiatan-kegiatan dalam permainan ini,
seperti melempar dan menyentil kelereng, dapat melatih keterampilan
motorik halus dan kasar di usia sekolah. Makin baik kemampuan
motorik, koordinasi visual dan konsentrasinya maka anak pun
semakin mahir untuk menembakkan kelereng-kelerengnya.
27
3. Melatih Kemampuan Berfikir (kognitif) Kemampuan berpikir anak
ikut dirangsang dalam permainan ini. Misalnya, jika ia ingin
memenangkan permainan maka harus memecahkan masalah dan
menggunakan strategi dengan menggunakan teknik-teknik tertentu.
4. Kemampuan Berkompetensi Keberhasilan anak menjalani suatu
teknik yang lantas memperoleh tanggapan dari para lawan nya
merupakan hadiah tersendiri bagi anak. Adanya perasaan bersaing di
usia sekolah sangat penting untuk membentuk perasaan harga diri.
5. Kemampuan Sosial (Menjalin Pertemanan) Yang paling penting dari
kegiatan bermain adalah bagaimana anak mampu menjalin
pertemanan dengan kawan mainnya. Jangan lupa, hubungan
pertemanan akan memberi kesempatan pada anak untuk mempelajari
konteks sosial yang lebih luas. Misal, ia jadi belajar bekerja sama,
belajar mengatasi konflik ketika terjadi pertengkaran pada saat
bermain dengan temannya, serta belajar mengomunikasikan keinginan
dan pikirannya.
6. Bersikap Jujur Anak juga punya kesempatan mengembangkan
karakter dan kepribadian yang positif ketika bermain, seperti
pentingnya kejujuran dan fairness. Kecintaannya pada nilai-nilai yang
benar merupakan landasan dalam menjalin hubungan dengan orang
lain di masa yang akan datang
28
[Link] Cara Melakukan Permainan Kelereng
Adapun langkah-langkah bermain kelereng menurut Chatarina Febriyanti
(2019: 38), sebagai berikut:
(1) Gambar lingkaran kecil di tanah, kemudian semua anak menaruh lima
butir kelereng di dalam lingkaran atau tergantung dari kesepakatan para
pemain;
(2) Semua anak berdiri kira-kira satu meter dari lingkaran, di belakang
sebuah garis. Secara bergantian, lemparkan sebutir kelereng lainnya ke
arah lingkaran. Anak yang kelerengnya paling jauh dari lingkaran, boleh
main terlebih dahulu. Peraturan dalam memainkan permain ini yaitu pada
intinya tergantung dari pemain
(3) Anak harus memakai kelereng yang ada di luar lingkaran sebagai
“Penyerang” agar kelereng di dalam lingkaran keluar. Jika berhasil
melakukannya, maka anak boleh menyimpan setiap kelereng yang kena
jentik;
(4) Pertemukan ibu jari dengan jari tengah, kemudian menyentil kedua jari
tepat pada gundu,
(5) Kelereng penyerang harus tetap tinggal di dalam lingkaran. Jika tidak,
maka anak yang memilikinya akan kehilangan kelereng tersebut,
(6) Pemenang adalah anak yang mengumpulkan kelereng atau gundu
terbanyak,
(7) Jika sudah tidak ada lagi kelereng dalam lingkaran, ada kesempatan
pemain mengenai kelereng pemain lain dengan masing-masing satu
29
kesempatan, jika mengenai maka kelereng yang didapat oleh pemain yang
terkena kelereng menyerahkan kelerengnya kepada pemain yang
mengenai dan permainan telah selesai.
2.1.5 Kosentrasi Belajar
[Link] Pengertian Kosentrasi Belajar
Konsentrasi atau concentrate menurut kata kerja berarti memusatkan,
sedangkan dalam kata bentuk benda concentration artinya pemusatan. Jika
seseorang dapat memfokuskan pikiran untuk berkonsentrasi, maka segala potensi
yang ia miliki akan tergali secara maksimal untuk tujuan yang dibutuhkan, seperti
saat belajar, bekerja, ataupun melakukan hal lainnya.
Slameto, 2010:86, konsentrasi adalah pemusatan pikiran terhadap suatu
hal dengan cara menyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan.
Konsentrasi dimaksudkan adalah
memusatkan segenap kekuatan perhatian pada suatu situsi belajar (Sardiman,
2001:38). Dalam proses belajar maka konsentrasi berarti pemusatan pikiran
terhadap suatu mata pelajaran dengan
menyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan pelajaran
tersebut. Pemusatan pikiran peserta didik untuk fokus menerima dan memahami
materi yang disampaikan oleh guru pada saat pelajaran berlangsung.
Dengan definisi tersebut, menurut Kartini Kartono (2016:20) dalam
Muhammad Almi Hidayat menjelaskan konsentrasi (perhatian) merupakan reaksi
umum dari organisme dan kesadaran yang menyebabkan bertambahnya aktivitas,
30
daya konsentrasi dan pembatasan kesadaran seseorang terhadap suatu objek. Jika
kata konsentrasi itu dihubungkan dengan situasi belajar atau situasi kerja dapat
diartikan sebagai pemusatan daya pikiran seseorang terhadap suatu obyek yang
dipelajari atau sesuatu yang dikerjakan dengan menghalau atau menyisihkan
segala hal yang tidak ada hubungannya dengan obyek yang dipelajari atau obyek
yang dikerjakan.
Suatu proses pemusatan daya pikir maksudnya adalah aktivitas berpikir
untuk memberikan tanggapan-tanggapan yang lebih intensif terhadap obyek
tertentu atau fokus (Hendra Surya, 2004:17). Menurut Gagne (Baharudin dan Esa
Nur Wahyuni, 2010:17), konsentrasi merupakan salah satu tahap dari suatu
proses belajar yang terjadi di sekolah. Tahapan konsentrasi terjadi saat siswa
harus memusatkan perhatian yang telah ada pada tahapan motivasi yaitu untuk
tertuju pada hal-hal yang relevan dengan apa yang akan dipelajari. Dalam
tahapan ini siswa harus memperhatikan unsur-unsur pokok dalam materi yang
diberikan oleh guru.
Sedangkan menurut Thursan Hakim (2002:1), secara garis besar, sebagian
orang memahami pengertian konsentrasi sebagai suatu proses pemusatan pikiran
kepada suatu obyek tertentu. Dengan adanya pengertian tersebut, timbullah suatu
pengertian lain bahwa di dalam melakukan konsentrasi, orang harus berusaha
keras agar segenap perhatian panca indera dan pikirannya hanya boleh fokus pada
satu obyek saja. Panca indera, khususnya mata dan tellinga tidak boleh terfokus
terhadap hal-hal lain, pikiran tidak boleh memikirkan dan teringat masalah-
masalah lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemusatan daya
31
pikir atau perhatian sangatlah penting untuk dimiliki setiap orang khususnya
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang membutuhkan konsentrasi agar
dapat fokus dalam menerima materi yang diberikan oleh guru.
Pengertian konsentrasi secara umum adalah sebagai suatu proses
pemusatan pikiran kepada suatu obyek tertentu. Artinya tindakan atau pekerjaan
yang dilakukan harus dilakukan secara sungguh-sungguh yaitu dengan cara
memusatkan seluruh panca indera yang dimiliki, seperti: penciuman,
pendengaran, pengelihatan, dan fikran, hal ini akan membantu jalannya
konsentrasi. Bahkan sesuatu yang sifatnya abstrak seperti perasaan termasuk
dalam suatu tindakan yang dapat dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi
secara maksimal.
Konsentrasi ketika mendengar guru menyampaikan materi pastilah harus
didengar oleh telinga yan dimiliki dengan memastikan bahasa dan perintahnya
secara jelas, pesan yang didengar untuk siapa dan apakah perlu disampaikan lagi
kepada orang lain atau tidak. Ketika memahami kata perkata tentu harus paham
betul arti kata yang dimaksud, karena pendengaran yang dimiliki setiap siswa
harus mampu menyerap apa yang telah disampaikan oleh guru. Sehingga
maksud dan tujuannya dapat tersampaikan dengan baik. Ketika seseorang atau
siswa mampu memahami apa yang disampaikan guru dengan pendengarannya
dan mampu mengerti apa yang dimaksud dengan bersungguh-sungguh
mendengar, serta memperhatikannya secara sungguh-sungguh pula maka itu yang
dinamakan konsentrasi. Menurut Siswanto (2007:65) konsentasi merupakan
32
kemampuan untuk memusatkan pikiran secara penuh pada persoalan yang sedang
dihadapi.
Sedangkan konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan
perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan
belajar maupun proses memperolehnya (Dimyati dan Mudjiono, 2009:239). Hal
ini dapat dilihat dari terpusatnya perhatian pada diri seseorang atau siswa pada
proses pembelajaran yang berlangsung tanpa melakukan hal-hal lain.
Kemampuan untuk memusatkan pikiran terhadap suatu hal atau pelajaran
itu pada dasarnya ada pada setiap orang atau siswa, hanya saja besar kecilnya
kemampuan itu berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan lingkungan,
latihan atau pengalaman serta perhatian dari orang tua. Pemusatan pikiran
merupakan kebiasaan yang dapat dicapai dengan mengabaikan atau tidak
memikirkan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya, jadi kita hanya memikirkan
suatu hal yang sedang dihadapi atau sedang dipelajari yang sesuai dengan
hubungannya.
Dalam memperoleh konsentrasi belajar yang baik terhadap siswa perlu
dilakukan beberapa usaha dari diri siswa tersebut ataupun dari guru, misalnya;
siswa hendaknya mempunyai minat dalam pelajaran (motivasi tinggi dalam
pelajaran), tersedianya tempat belajar yang bersih dan nyaman, mencegah
timbulnya kejenuhan atau kebosanan, menjaga kesehatan dan memperhatikaan,
siswa mampu menyelesaikan soal atau masalah-masalah yang mengganggu serta
bertekat untuk mencapai tujuan dan hasil terbaik dalam setiap kali belajar.
33
Dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsentrasi belajar
merupakan suatu kemampuan dalam memusatkan perhatian pada saat proses
belajar mengajar berlangsung. Pemusatan perhatian oleh siswa yang tertuju pada
pemahaman terhadap isi materi yang telah disampaikan oleh guru. Sehingga
siswa tersebut mampu menerima isi materi pelajaran dengan baik sesuai dengan
tujuan pembelajaran.
[Link] Manfaat Kosentrasi Belajar
Konsentrasi dalam belajar sangatlah penting dan dibutuhkan bagi siswa
dalam mengikuti proses pembelajaran agar kompetensi yang diharapkan dapat
dikuasai dan bisa tercapai dengan baik. Begitu pentingnya konsentrasi bagi siswa,
sehingga konsentrasi merupakan persyaratan bagi siswa agar dapat belajar dan
berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Rooijakker (Dimyati dan Mudjiono,
2013:239) menyebutkan bahwa konsentrasi belajar akan berpengaruh terhadap
prestasi belajar siswa. Hal ini senada dengan Slameto (2003:38) yang
menyatakan bahwa konsentrasi besar pengaruhnya terhadap belajar. Yaitu apabila
siswa berusaha untuk berkonsentrasi selama proses belajar berlangsung maka,
siswa tersebut akan memperoleh pengalaman langsung, dapat mengamati sendiri,
meneliti sendiri, dapat menyusun dan menyimpulkan pengetahuan yang telah
diterima dari pembelajaran. Berikut ini beberapa penjelasan tentang pentingnya
konsentrasi bagi siswa dalam belajar (Supriyo, 2008:103):
34
1) Kecepatan. Kemampuan kita dalam berkonsentrasi akan
mempengaruhi kecepatan kita dalam menangkap materi yang kita
butuhkan.
2) Kekuatan. Konsentrasi merupakan sumber kekuatan dimana pikiran
kita akan bekerja berdasarkan “ingat” dan “lupa”. Pikiran yang kita
miliki tidak dapat bekerja untuk lupa atau ingat dalam satu waktu
sekaligus.
3) Keseimbangan. Semakin bagus kemampuan yang kita miliki dalam
berkonsentrasi, akan semakin cepat kita dapat menangkap signal dari
dalam diri tentang apa yang kurang, apa yang lebih, apa yang perlu
dilakukan, atau apa yang perlu kita hindari, apa yang baik dan apa
yang tidak baik untuk kita.
Menurut Supriyo (2008:104) beberapa manfaat jika siswa mampu
berkonsentrasi dengan baik atau efektif pada saat mengikuti proses pembelajaran
di kelas (KBM):
1) Siswa akan lebih mudah menguasai dan paham dengan materi ajar
yang telah diberikan oleh guru.
2) Dapat dipastikan bahwa siswa yang konsentrasi dalam belajar akan
lebih aktif dibandingkan dengan siswa yang tidak konsentrasi. Untuk
itu konsentrasi dapat dijadikan suatu tanda bahwa siswa akan lebih
aktif dalam KBM.
3) Menambah semangat (motivasi) bagi siswa untuk lebih aktif
beraktifitas dalam belajar.
35
4) Memudahkan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
5) Suasana belajar menjadi semakin kondusif.
6) Memudahkan siswa mendapatkan pengalaman yang baru, serta
7) Munculnya hal-hal yang positif dalam diri siswa.
Dari uraian penjelasan tentang pentingnya konsentrasi dapat disimpulkan
bahwa seseorang yang sedang menempuh pendidikan yaitu peserta didik atau
siswa harus memiliki konsentrasi yang baik dalam KBM, sehingga dengan
adanya konsentrasi yang dimiliki akan menghasilkan hasil yang baik untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dilakukan. Dan dalam proses
pembelajaran akan tercipta suasana belajar yang lebih aktif dan efektif.
[Link] Ciri-ciri Konsentrasi Belajar
Menurut Hidayati (2012: 71) ciri-ciri anak yang dapat
berkonsentrasi belajar tampak pada perhatiannya yang terfokus pada hal yang
diterangkan guru atau pembelajaran yang sedang dipelajari. Ciri anak yang dapat
berkonsentrasi dalam belajar yaitu meliputi sebagai berikut:
a. Perilaku kognitif, yaitu perilaku berhubungan dengan cara berfikir untuk
mengolah informasi yang diperoleh anak. Pada perilaku kognitif ini, siswa
yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai dengan kesiapan
pengetahuan yang dapat segera muncul bila diperlukan, komprehensif
dalam penafsiran informasi, mengaplikasikan pengetahuan yang
diperoleh, dan mampu mengadakan analisis dan sintesis pengetahuan
yang diperoleh.
36
b. Perilaku afektif, yaitu perilaku yang berhubungan dengan kerapian anak
saat mengerjakan tugasnya. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki
konsentrasi belajar dapat ditengarai dengan adanya penerimaan, yaitu
tingkat perhatian tertentu, respon yang berupa keinginan untuk mereaksi
bahan yang diajarkan, mengemukakan suatu pandangan atau keputusan
sebagai integrasi dari suatu keyakinan, ide dan sikap seseorang.
c. Perilaku psikomotor. Pada perilaku ini berhubungan dengan aktivitas
tubuh, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai dengan
adanya gerakan anggota badan yang tepat atau sesuai dengan petunjuk
guru, serta komunikasi non verbal seperti ekspresi muka dan gerakan-
gerakan yang penuh arti.
d. Perilaku berbahasa. Pada perilaku ini berhubungan dengan cara anak
berkomunikasi., siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai
adanya aktivitas berbahasa yang terkoordinasi dengan baik dan benar.
Dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri siswa yang dapat berkonsentrasi
belajar adalah siswa yang memiliki perilaku kognitif atau memiliki pengetahuan,
informasi atau kecakapan intelektual yang tinggi, siswa yang memiliki perilaku
afektif atau mempunyai sikap dan apersepsi terhadap materi yang telah diterima,
siswa yang memiliki perilaku psikomotor atau tingkah laku dalam
berkomunikasi, dan siswa yang memiliki perilaku bahasa yang baik atau saat
proses KBM mampu melakukan timbal balik terhadap materi yang disampaikan
guru dengan berbahasa yang santun.
37
Dari penjabaran diatas, maka indikator konsentrasi belajar siswa yakni
dapat diamati dari beberapa tingkah lakunya saat proses belajar mengajar
berlangsung, antara lain:
a) Memperhatikan secara aktif setiap materi yang disampaikan guru dengan
cara mencatat hal-hal yang perlu, menyimak dengan seksama, bertanya
saat ada yang tidak dipahami dll.
b) Dapat merespon dan memahami setiap materi pelajaran yang diberikan
seperti menerapkan pembelajaran yang disampaikan.
c) Selalu bersikap aktif dengan bertanya dan memberikan argumentasi
mengenai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
d) Menjawab dengan baik dan benar setiap pertanyaan yang diberikan guru
e) Kondisi kelas tenang dan tidak gaduh saat menerima materi pelajaran,
tidak mudah terganggu oleh rangsangan dari luar dan minat belajar siswa.
[Link] Faktor Pendukung dan Penghambat Konsentrasi Belajar
1) Faktor Pendukung Konsentrasi Belajar
Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan seseorang untuk dapat
melakukan konsentrasi bealajar yang baik (efektif) memerlukan faktor-faktor
pendukung tertentu. Menurut Sunawan ( 2009: 6-9) faktor pendukung tersebut
meliputi faktor internal (faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang),
dan faktor eksternal (faktor-faktor yang berasal dari luar diri
seseorang atau sekitar lingkungan seseorang), berikut penjelasan secra rincinya:
38
a. Faktor internal
Faktor internal adalah sesuatu hal yang berada dalam diri seseorang.
Beberapa factor internal pendukung konsestrasi belajar adalah
1) Jasmani
a) Kondisi badan yang normal menurut standar kesehatan atau bebas dari
penyakit yang serius,
b) Kondisi badan di atas normal atau fit akan lebih menunjang konsentrasi,
c) Cukup tidur dan istirahat,
d) Cukup makan dan minum serta makanan yang dikonsumsi memenuhi
standar gizi untuk hidup sehat,
e) Seluruh panca indera berfungsi dengan baik,
f) Detak jantung normal. detak jantung ini mempengaruhi ketenangan dan
sangat mempengaruhi konsentrasi
g) Efektif, dan
h) Irama napas berjalan baik. sama halnya dengan jantung, irama napas juga
sangat mempengaruhi ketenangan.
2) Rohani
(a) Kondisi kehidupan sehari-hari cukup tenang,
(b) Memiliki sifat baik,
(c) Taat beribadah sebagai penunjang ketenangan dan daya pengendalian diri,
(d) Tidak dihinggapi berbagai jenis masalah yang terlalu berat,
(e) Tidak emosional,
(f) Memiliki rasa percaya diri yang cukup,
39
(g) Tidak mudah putus asa,
(h) Memiliki kemauan keras yang tidak mudah padam, dan
(i) Bebas dari berbagai gangguan mental, seperti rasa takut, was-was, dan
gelisah.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal berarti hal-hal yang berada di luar diri seseorang atau
dapat dikatakan hal-hal yang berada di sekitar lingkungan. Beberapa factor
eksternal yang mempengaruhi belajar adalah:
1. Lingkungan : terbebas dari berbagai suara yang keras dan bising sehingga
mengganggu ketenangan. Udara sekitar harus cukup nyaman, bebas dari
polusi dan bau yang mengganggu.
2. Penerangan harus cukup agar tidak mengganggu penglihatan.
3. Orang-orang di sekitar harus mendukung suasana tenang apalagi
lingkungan tersebut merupakan lingkungan belajar.
Menurut Suyadi (2013: 13) faktor pendukung internal dan eksternal
konsentrasi belajar di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi jasmani, rohani dan
lingkungan sekitar atau masyarakat sangat berpengaruh untuk mendukung
terjadinya konsentrasi pada siswa. Selain faktor internal dan eksternal tersebut
terdapat pula faktor pendukung yang lainnya, yaitu penggunaan strategi
pembelajaran oleh guru.
Menurut Oemar Hamalik (2003:21) strategi pembelajaran ini merupakan
keseluruhan metode dan prosedur yang menitikberatkan pada kegiatan siswa
dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu. Terdapat
40
hambatan-hambatan yang harus dihadapi untuk tujuan yang ingin dicapai, materi
yang hendak dipelajari, pengalaman-pengalaman belajar, dan prosedur evalusi.
Peran guru lebih bersifat fasilitator dan pembimbing. Strategi tersebut juga
dimaksudkan sebagai suatu materi atau prosedur pembelajaran yang dapat
digunakan oleh guru untuk menunjang jalannya proses pembelajaran yang aktif
dan efektif.
2) Faktor Penghambat Konsentrasi Belajar
Selain faktor pendukung, ada juga faktor penghambat konsentrasi belajar.
Faktor penghambat tersebut menjadi penyebab terjadinya gangguan konsentrasi
belajar. Menurut Sunawan ( 2009: 14-18) ada dua faktor penyebab gangguan
konsentrasi yakni faktor internal dan eksternal, adapun penjelasan lebih lanjut
sebagai berikut :
a. Faktor internal
1) Faktor jasmaniah, yang bersumber dari kondisi jasmani seseorang
yang tidak berada di dalam kondisi normal atau mengalami gangguan
kesehatan, misalnya mengantuk, lapar, haus, gangguan panca indra,
gangguan pencernaan, gangguan jantung, gangguan pernapasan, dan
sejenisnya.
2) Faktor rohaniah, berasal dari mental seseorang yang dapat
menimbulkan gangguan konsentrasi seseorang, misalnya tidak tenang,
mudah gugup, emosional, tidak sabar, mudah cemas, stres, depresi,
dan sejenisnya.
41
b. Faktor eksternal
Gangguan yang sering dialami adalah adanya rasa tidak nyaman dalam
melakukan berbagai kegiatan yang memerlukan konsentrasi penuh, misalnya
ruang belajar yang sempit, kotor, udara yang berpolusi, dan suhu udara yang
panas.
Menurut Hendra Surya (2003:18-19) penyebab timbulnya tidak
konsentrasi antara lain:
a) Lemahnya minat siswa terhadap pembelajaran. Jika seseorang kurang
berminat untuk belajar, maka akan mudah terpengaruh pada hal-hal
lain yang seharusnya tidak ia perhatikan. Hal ini dapat disebabkan
karena kurang motivasi yang diberikan oleh guru.
b) Gelisah. Perasaan tidak enak yang ditimbulkan karena adanya suatu
konflik dengan pihak lain atau rasa khawatir karena suatu hal, akan
menyebabkan perhatian menjadi berkurang.
c) Suasana lingkungan yang berisik dan berantakan, suara hiruk pikuk
kendaraan, suara orang yang sedang bertengkar, dan lain-lain dapat
mempengaruhi perhatian dan kemampuan yang dimiliki seseorang
untuk berkonsentrasi belajar. Begitu juga dengan kondisi tempat
belajar yang berantakan dapat mempengaruhi perhatian dan dapat
menimbulkan rasa tidak nyaman dalam belajar.
d) Kondisi kesehatan jasmani. Gangguan pada kesehatan jasmani, seperti
sakit, kurang tidur, keletihan sehabis kerja (beraktivitas padat), kurang
42
gizi dan orang yang sedang dalam keadaan lapar akan berpengaruh
sekali terhadap kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi.
e) Penggunaan strategi pembelajaran yang kurang tepat oleh guru,
sehingga menyebabkan siswa tidak memiliki kecakapan dalam cara-
cara belajar yang baik. Sedangkan dalam proses belajar membutuhkan
prosedur-prosedur pengaktifan pemikiran atau kemampuan untuk
menstimulus daya ingat agar fokus pada pelajaran. Baik itu belajar
dalam situasi mengikuti pelajaran dari guru maupun belajar sendiri
(mandiri). Jika tidak memiliki cara belajar yang baik maka siswa akan
timbul kejenuhan berfikir dalam menghadapi pokok pelajaran yang
sulit.
Faktor penyebab siswa tidak konsentrasi dalam belajar ialah lemahnya
minat siswa dalam pembelajaran, sering merasa gelisah atau khawatir terhadap
hal-hal yang sedang dialami, mudah terganggu dari kebisingan lingkungan
sekitar, dan memiliki kondisi jasmani yang terganggu atau melemah. Selain itu
penggunaan strategi pembelajaran oleh guru yang tidak sesuai atau tidak tepat
terhadap penyampaian materi, sehingga siswa akan cepat jenuh atau bosan
terhadap proses pelajaran.
[Link] Cara Meningkatkan Konsentrasi Belajar
Menurut Aryati dan Setiyo ( 2010: 90) ada beberapa cara untuk
meningkatkan konsentrasi belajar, yaitu:
43
a) Memberikan kerangka waktu yang jelas. Yaitu memberikan penjelasan
berapa waktu yang akan dipakai dalam pelajaran. Missal: 30 menit untuk
pemberian materi, 10 menit untuk tugas dan 10 menit untuk waktu
bertanya kepada guru tentang materi yang belum dipahami
b) Mencegah siswa agar tidak terlalu cepat berganti dari satu tugas ke tugas
lainnya. Memberikan arahan untuk siswa dalam menyelesaikan tugas
yang awal kemudian dilanjutkan dengan tugas yang lainnya ( Berurut
dalam melaksanakan tugas)
c) Mengurangi jumlah gangguan dalam ruangan kelas. Yaitu guru
mensterilisasi kelas dari gangguan-gangguan yang nantinya kan
mengganngu proses pelajaran, contoh: memastikan kelas dalam keadaan
bersih, rapi dan nyaman, serta memastikan tidak ada permainan (mainan)
yang dibawa siswa di dalam kelas yang nantinya akan menganggu proses
pelajaran dan membuat siswa tidak konsentrasi.
d) Memberikan umpan balik dengan segera. Guru senantiasa sigap untuk
menanggapi pertanyaa-pertanyaan yang diberikan oleh siswa, sehingga
akan terjadinya umpan balik antara siswa dan guru serta akan menjadikan
proses KBM aktif.
e) Merencanakan tugas yang lebih sedikit daripada memberikan satu sesi
yang banyak. Setelah memberikan materi guru hanya memberikan tugas
untuk dikerjakan secara individual, sehingga semua siswa akan dapat
merasakan untuk mengerjakan atau menjawab tugas dari guru.
44
f) Menetapkan tujuan dengan menawarkan hadiah untuk memotivasinya
agar terus bekerja. Hadiah merupakan salah satu alat yang digunakan guru
untuk memotivasi atau memancing siswa agar lebih giat dan aktif dalam
pelajaran ataupun mengerjakan tugas. Karena pada dasarnya siswa lebih
tertarik dengan apa yang akan diberikan atau imbalan setelah mereka
menyelesaikan tugasnya
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa cara untuk
meningkatkan konsentrasi belajar siswa dapat dilakukan melalui pemberian
waktu yang jelas agar siswa fokus untuk mengerjakan tugas awal sebelum tugas
yang berikutnya, mengurangi gangguan yang ada di dalam kelas, guru mampu
sigap dalam memberikan umpan balik saat mendapat pertanyaan dari siswa,
memberikan tugas yang sedikit sehingga siswa akan tepat waktu untuk
menyelesaikannya, dan guru mamapu memberikan motivasi kepada siswa agar
mau menyelesaikan segala tugas dan pekerjaan yang telah diberikan dengan cara
memberikan hadiah sebagai alat yang digunakan guru dalam memotivasi siswa.
2.2 Kerangka Berpikir
Konsentrasi belajar merupakan pemusatan perhatian dalam proses
perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan,
dan penilaian terhadap sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar
yang terdapat dalam berbagai bidang studi. Secara teoritis jika konsentrasi siswa
rendah, maka akan menimbulkan aktivitas yang berkualitas rendah pula serta
dapat menimbulkan ketidakseriusan dalam belajar. Ketidakseriusan itulah yang
45
mempengaruhi daya pemahaman materi. Padahal konsentrasi merupakan modal
utama bagi siswa dalam menerima materi ajar serta menjadi indikator suksesnya
pelaksanaan pembelajaran.
Dalam pencapaian konsentrasi belajar yang baik dan efektif perlu disertai
dengan adanya strategi yang mendukung. Strategi adalah suatu materi dan
prosedur pembelajaran yang digunakan untuk menimbulkan hasil belajar pada
siswa atau sebagai suatu komponen umum bahan ajar (prosedur pembelajaran)
yang digunakan untuk memperoleh hasil belajar siswa sesuai dengan harapan.
Strategi merupakan faktor pendukung eksternal dari kegiatan belajar mengajar.
Dan merupakan komponen pembelajaran yang memungkinkan terlaksanakannya
pembelajaran yang baik, kondusif, serta menyenangkan sesuai dengan
perencanaan pembelajaran yang telah dibuat oleh guru.
Mencermati kondisi tersebut untuk meningkatkan konsentrasi belajar anak
memerlukan suatu cara atau teknik yang dianggap menarik dan menyenangkan.
Salah satu cara untuk meningkatkan konsentrasi belajar anak adalah melalui
aktivitas bermain. Hal ini sesuai dengan karakteristik dari Anak Usia dini yang
masih memprioritaskan diri untuk sealu bermain. Anak menghabiskan waktu
selama ±4 jam di sekolah dan ditemani oleh guru tanpa orang tua, salah satu
stimulasi perkembangan yang diberikan oleh guru adalah belajar dan bermain
disekolah merupakan role model lanjutan dirumah. Melalui media permainan
yang baik anak dapat mengeskpresikan perasaan serta daya kreasi yang dapat
mengembangkan kreativitasnya dan beradaptasi lebih efektif terhadap berbagai
sumber stress.
46
Permainan merupakan salah satu kegiatan yang paling menyenangkan dan
menghargai kebudayaan yang memiliki dampak yang positif terhadap aspek
perkembanngan anak dan dapat mengembangkan potensi penuh yang ada pada
anak. Permainan merupakan sarana anak-anak untuk dapat bereksperimen dengan
berbagai cara secara meluas tanpa adanya batas. Melalui kegiatan bermain, anak-
anak akan mengembangkan konsep membangun pengetahuan mereka sendiri
yang mereka dapatkan dalam kegiatan bermain.
Permainan Papan titian tidak hanya mengembangkan kemampuan motorik
kasar saja tetapi juga mampu mengembangkan kemapuan lainnya seperti
mengkoordinasi gerakan motorik, baik motorik kasar maupun motorik halus,
anak juga mengoperasikan kemampuan kognitifnya untuk memikirkan agar tidak
jatuh dan melatih untuk berkonsentrasi.
Permainan tradisional kelereng juga sangat berpengaruh terhadap
pembelajaran, karena dengan metode ini siswa bisa belajar secara konkrit dan
bisa menerapkan pembelajaran langsung ke dalam kehidupan sehari-hari. Metode
ini berpotensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan
keterampilan proses, tetapi juga untuk memberikan pengalaman secara langsung
bagi siswa untuk memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-
hari melalui interaksi serta melatih untuk berkonsentrasi.
47
Adapun gambaran kerangka berpikir dalam penelitian ini, sebagai berikut:
Aktivitas Permainan
Papan Titian (X1)
Kosentrasi Belajar Anak
(Y)
Aktivitas Permainan
Kelereng (X2)
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian
2.3 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan kesimpulan dari jawaban sementara yang masih
memerlukan pembuktian atas kebenarannya. Hipotesis dalam penelitian ini,
sebagai berikut:
1. Permainan Tradisonal Papan Titian dapat mengefektifkan kosentrasi
belajar anak
2. Permainan Tradisonal Kelereng dapat mengefektifkan kosentrasi
belajar anak