Metode Genius Learning
[Link] Genius Learning
Genius learning adalah sebuah model pembelajaran yang dikemas sedemikian rupa yang
menggunakan pengetahuan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu seperti pengetahuan tentang
cara kerja memori, neuro-linguistik programming, motivasi, konsep diri, kepribadian, emosi,
perasaan, pikiran, metakognisi, gaya belajar, multiple intelegensi atau kecerdasan majemuk,
teknik memori, teknik membaca, teknik mencatat, dan teknik belajar lainnya. Pada intinya,
tujuan berbagai model ini sama, yaitu bagaimana membuat proses pembelajaran menjadi
efisiensi, efektif, dan menyenangkan.
Dasar Genius Learning adalah accelerated learning atau cara belajar yang dipercepat. Di
luar negri, model pembelajaran ini dikenal dengan beragam nama, seperti Accelerated Learning,
Quantum Learning, Quantum Teaching, Super Learning, Efficient and Effective Learning. Pada
intinya, tujuan berbagai model ini sama, yaitu bagaimana membuat proses pembelajaran menjadi
efisiensi, efektif, dan menyenangkan.
Menurut Adi W. Gunawan dalam bukunya “Genius Learning Strategy” ada sembilan
prinsip dalam Genius Learning, yaitu:
1. Otak akan berkembang dengan maksimal dalam lingkungan yang kaya akan stimulus multi
sensori dan tantangan berpikir. Lingkungan demikian akan menghasilkan jumlah koneksi yang
lebih besar di antara sel-sel otak.
2. Besarnya pengharapan / ekspektasi berbanding lurus dengan hasil yang dicapai. Otak selalu
berusaha mencari dan menciptakan arti dari suatu pembelajaran. Proses pembelajaran
berlangsung pada level sadar dan pikiran bawah sadar. Motivasi akan meningkat saat murid
menetapkan tujuan pembelajaran yang positif dan bersifat pribadi
3. Lingkungan belajar yang “aman” adalah lingkungan belajar yang memberikan tantantang
tinggi namun dengan tingkat ancaman rendah. Dalam kondisi ini otakneo-cortex dapat diakses
dengan maksimal sehingga proses berpikir dapat dijalankan dengan maksimal.
4. Otak sangat membutuhkan umpan balik yang bersifat segera dan mempunyai banyak
pilihan.
5. Musik membantu proses pembelajaran dengan tiga cara. Pertama, musik membantu untuk
men-charge otak. Kedua, musik membantu merilekskan otak sehingga otak siap untuk belajar.
Dan ketiga, musik dapat digunakan untuk membawa informasi yang ingin dimasukkan ke dalam
memori.
6. Ada berbagai alur dan jenis memori yang berbeda yang ada pada otak kita. Dengan
menggunakan teknik dan strategi yang khusus, kemampuan untuk mengingat dapat ditingkatkan.
7. Kondisi fisik dan emosi saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Untuk bisa mencapai
hasil pembelajaran secara maksimal, kedua kondisi ini, yaitu kondisi fisik dan kondisi emosi,
harus benar-benar diperhatikan.
8. Setiap otak adalah unik dengan kapasitas pengembangan yang berbeda berdasarkan
pada pengalaman pribadi. Ada beberapa jenis kecerdasan. Kecerdasan dapat dikembangkan
dengan proses pengajaran dan pembelajaran yang sesuai.
9. Walaupun terdapat perbedaan fungsi antara otak kiri dan kanan, namun kedua belah hemisfer
ini bisa bekerja sama dalam mengolah suatu informasi.
B. Strategi pembelajaran dengan model pembelajaran Genius Learning
Berdasarkan prinsip-prinsip di atas dan lebih jauh berdasar pada cara kerja otak (yang
dijelaskan dalam sekian bab dalam buku Genius Learning Strategy), Adi W. Gunawan
menawarkan langkah-langkah aplikatif dalam proses pembelajaran, yakni sebagai berikut:
1. Suasana Kondusif
Inti Genius Learning adalah strategi pembelajaran yang membangun dan
mengembangkan lingkungan pembelajaran yang positif dan kondusif. Tanpa lingkungan yang
mendukung, strategi apapun yang diterapkan di dalam kelas akan sia-sia. Guru bertanggung
jawab untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif sebagai persiapan untuk masuk ke dalam
proses pembelajaran yang sebenarnya. Kondisi yang kondusif ini merupakan syarat mutlak demi
tercapainya hasil yang maksimal. Untuk menciptakan suasana kondusif ini ada beberapa hal
yang harus dilakukan:
a. Memenuhi kebutuhan fisik, yang meliputi :
1) Fisik murid: murid harus dijauhkan dari lapar, kekenyangan, haus, lelah, terlalu panas, terlalu
dingin, terlalu dibatasi gerak-geriknya.
2) Fisik dan fasilitas pendukung ruang belajar: Pengaturan meja variatif, ukuran
kelas yang tepat, suhu ruang yang nyaman, pencahayaan yang memadai, ketenangan
kelas terjaga, berbagai hiasan (poster-poster, pot-pot bunga).
b. Memenuhi kebutuhan rasa aman, dicintai dan dihargai.
Pemenuhan kebutuhan fisik bukanlah tugas yang terlalu sulit. Yang lebih sulit adalah
untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan akan rasa aman, dicintai dan
dihargai. Faktor ini adalah faktor internal, yang walaupun sudah berusaha dipenuhi, sering kali
tidak mudah untuk [Link] Learning menawarkan beberapa langkah praktis
untuk memenuhi kebutuhan psikhis, yaitu:
1) Ciptakan hubungan positif. Untuk menciptakannya, gunakan metode partis , yaitu: Perasaan
diterima, Aspirasi, Rasa aman, Tantantang,Identitas, dan Sukses.
Tip praktis untuk menciptakan Perasaan diterima:
o Gunakan dan sebut nama anak dengan positif
o Berikan perhatian secara adil dan merata terhadap diri setiap anak
o Bagi tugas dan tanggung jawab secara merata dan adil
o Kelompokkan anak dengan kawan yang ia kenal baik
o Kelompokkan anak dengan kawan yang belum ia kenal
o Rayakan keberhasilan secara bersama-sama
o Berikan pujian dan penghargaan pada saat-saat khusus
Tip praktis untuk menciptakan Aspirasi:
o Tunjukkan dan berikan contoh perilaku positif
o Buat tembok aspirasi, suatu tembok atau tempat menempel aspirasi
o Anjurkan murid untuk menggunakan kalimat positif “aku bisa ...”
o Gunakan poster/alat peraga untuk memperjelas apa yang dipelajari
o Tetapkan target pribadi untuk murid
Tip praktis menciptakan rasa aman:
o Rancang proses pembelajaran menjadi bagian-bagian kecil yang terukur yang
dapat dimengerti setiap murid.
o Perhatikan bahasa lisan yang digunakan dalam komunikasi
o Berikan penilaian positif, misalnya: hitunglah berapa jawaban benar
o Perkuat perilaku positif dengan memberikan pujian atas perilaku baik
o Lakukan aktivitas bersama
Tip praktis menciptakan Tantangan:
o Dorong murid melakukan self test sebagai bagian dari proses pembelajaran
o Gunakan beragam jenis pengujian yang bersifat informal
o Fokuskan peningkatan prestasi murid dengan membandingkan prestasi murid saat ini dengan
prestasi sebelumnya, bukan dengan membandingkan prestasi murid satu dengan yang lain
o Bagi proses pencapaian prestasi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan terukur
o Berikan tanggung jawab dan peran bagi setiap murid secara bergantian
o Bicarakan dengan murid metode penilaian yang akan digunakan untuk mengukur prestasi
mereka.
Tip Praktis menciptakan Identitas :
o Kenali murid: nama sampai latar belakang, kesukaan, hobi, dan kebiasaan murid.
o Berikan pujian dan penghargaan atas prestasi murid
o Tetapkan target secara individual dan memberikan keyakinan bahwa mereka bisa mencapai
target itu
o Temukan keunikan murid dan gunakan dalam komunikasi.
o Dorong murid berani mengambil tanggung jawab
Tip praktis menciptakan budaya Sukses:
o Luangkan waktu untuk mencari tahu keberhasilan kecil maupun besar yang dicapai oleh
murid dan berikan waktu untuk mendengar cerita sukses dibalik peristiwa itu.
o Jelaskan kepada murid bahwa diperlukan usaha dan keuletan untuk bisa mencapai
keberhasilan.
o Gunakan Goal-Setting agar tingkat pencapaian prestasi dapat diukur dengan mudah dan jelas.
2) Guru berdiri di depan pintu kelas menyambut kedatangan murid dan menyalami murid satu
persatu
3) Sapa murid dengan menggunakan nama mereka masing-masing
4) Buat catatan mengenai perkembangan diri setiap murid
5) Gunakan poster: penyambutan, pelepasan, kalimat afirmatif, dll.
6) Tempatkan meja guru dekat dengan meja murid
7) Umpan balik dari murid
8) Kelompok belajar
2. Hubungkan
Hubungkan pelajaran yang akan diajarkan dengan apa yang telah diketahui oleh murid
sebelumnya, konteksnya, dan apa yang dapat dilakukan oleh murid dengan pelajaran itu pada
masa akan datang. Semakin personal hubungan yang bisa diciptakan, hasilnya akan semakin
baik.
Dapat digunakan strategi sebagai berikut:
a. Mengajukan pertanyaan.
Pertanyaan selalu membutuhkan jawaban. Untuk bisa menjawab, kita perlu berpikir. Saat
berpikir kita mengakses memori jangka pendek kita. Dengan demikian, memori ini terisi
informasi baru dan menggeser informasi yang tidak ada gunanya ke luar dari memori jangka
pendek. Untuk menghilangkan memori yang tidak berguna ini, murid diminta untuk
menghubungkan (memikirkan) materi yang akan mereka pelajari saat ini dengan apa yang telah
mereka ketahui sebelumnya. Selain itu, murid perlu mengerti aplikasi dari apa yang dipelajari ke
dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal melakukan ini, minta murid untuk menuliskan di atas kertas, apa yang muncul
di pikirannya. Ini akan semakin memperkuat pikirannya tentang materi yang akan dipelajari dan
dengan demikian akan menghapus informasi tak berguna yang ada di dalam memorinya yang
tidak ada hubungan sama sekali dengan materi pelajaran.
b. Gunakan gambar atau poster sebagai pemicu
Misalnya anda menggantungkan gambar manusia perahu. Lalu tanyakan kepada murid
apa yang muncul dalam pikiran mereka saat mereka melihat gambar tersebut. Laukan brain-
storming. Catat apa saja ide yang muncul dan tuliskan di papan tulis. Setelah mendapatkan cukup
banyak ide, kategorikan ide-ide itu ke dalam kelompok-kelompok tertentu.
c. Membangun ide/idea-build-up
Cara ini bisa dilakukan sebagai berikut: Misalnya materi yang akan diajarkan adalah
mengenai cara kerja otak manusia. Anda bisa meminta murid mengeluarkan kertas kosong dan
menuliskan dua hal yang ia ketahui dan dua hal yang tidak ia ketahui mengenai otak. Ia boleh
menulis apa saja. Setelah itu minta murid untuk saling membandingkan apa yang mereka
tuliskan dengan teman di sebelahnya. Dari sini akan muncul empat hal yang diketahui dan empat
hal yang tidak diketahui. Setelah itu, minta pasangan ini membandingkan isi kertas mereka
dengan pasangan lain. Lakukan ini hingga semua pasangan telah saling membandingkan isi
kertas mereka. Setelah ini semua selesai dilakukan, anda sebagai guru akan mendapat satu daftar,
yang memberikan gambaran kelas secara menyeluruh, mengenai hal yang diketahui dan yang
tidak diketahui mengenai otak. Lalu tuliskan daftar itu di papan tulis. Ajarkan materi mengenai
otak berdasarkan informasi yang anda dapatkan dari murid anda. Ajarkan apa yang tidak mereka
ketahui dann jangan membuang waktu mengulang apa yang telah mereka ketahui.
3. Gambaran besar
Untuk lebih membantu menyiapkan pikiran murid dalam menyerap materi yang
diajarkan, sebelum proses pembelajaran dimulai, guru harus memberikan gambaran besar (big
picture) dari keseluruhan materi. Memberi gambaran besar ini berfungsi sebagai perintah kepada
pikiran untuk menciptakan “folder” yang nantinya akan diisi dengan informasi. Folder ini akan
diisi dengan informasi yang sejalan pada saat proses pemasukan informasi. Pada tahap
pemasukan informasi, materi pelajaran disampaikan secara linear dan bertahap.
4. Pemasukan informasi
Pada tahap ini, informasi yang akan diajarkan harus disampaikan dengan melibatkan gaya
belajar. Metode penyampaian harus bisa mengkombinasikan gaya belajar visual, auditori, dan
kinestetis dan bila memungkinkan juga mengakomodasi gaya penciuman dan pengecapan. Pada
tahap ini, memori jangka panjang akan dapat diakses apabila proses pemsukan informasi bersifat
unik dan menarik. Gunakan strategi yang berbeda sesuai dengan situasinya
Lalu bagaimana tepatnya metode pengajaran/pemasukan informasi untuk
mengakomodasi masing-masing gaya belajar?
Visual:
a. gerakan tubuh/body language
b. buku/majalah
c. grafik, diagram
d. peta pikiran/mind mapping
e. OHP/LCD/Komputer
f. poster
g. kolase
h. flowchart
i. Highlighting (memberikan warna pada bagian yang dianggap penting)
j. kata-kata kunci yang dipajang di sekeliling kelas
k. tulisan dengan warna yang menarik
l. model/peralatan
Auditori:
a. instruksi guru
b. suara yang jelas dengan intonasi yang terarah dan bertenaga
c. membaca dengan keras
d. pembicara tamu
e. sesi tanya jawab
f. diskusi dengan teman
g. belajar dengan mendengarkan atau menyampaikan informasi
h. role play / permainan peran
i. musik
j. kerja kelompok
Kinestetik:
a. merancang dan membuat aktivitas
b. keterlibatan fisik
c. field trip
d. membuat model
e. memainkan peran/skenario
f. highlighting
g. berjalan
h. membuat mind mapping
i. menggunakan gerakan tubuh untuk menjelaskan sesuatu
j. waktu istirahat yang teratur
Selain memperhatikan cara penyampaian yang multi sensori, anda juga harus
memutuskan, pada level mana dari perkembangan kognitif dalam taksonomi Bloom, murid akan
diajar berpikir. Apakah hanya pada level pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis
ataukah pada level evaluasi?
5. Aktivasi
Saat murid menerima informasi melalui proses pembelajaran (pemasukan informasi),
informasi ini masih bersifat pasif. Murid masih belum merasa memiliki informasi atau
pengetahuan yang ia terima. Mengapa? Karena proses penyampaian berlangsung satu arah, yaitu
dari guru ke murid. Untuk bisa lebih meyakinkan bahwa murid benar-benar telah mengerti dan
untuk menimbulkan perasaan di hati murid bahwa informasi yang barusan diajarkan adalah
benar-benar milik mereka, kita perlu melakukan proses aktivasi.
Aktivasi bisa dilakukan dengan menggunakan aktivitas yang dilakukan seorang diri,
secara berpasangan atau secara berkelompok guna membangun kemampuan komunikasi dan
kerja sama/kelompok. Dorong murid untuk membuat keputusan sendiri dan mengukur kemajuan
yang mereka capai dibandingkan dengan kriteria sukses yang telah ditetapkan. Pada tahap ini
murid menemukan arti yang sesungguhnya dari apa yang ia pelajari. Proses ini lebih bersifat
internal. Murid mengintegrasikan apa yang ia pelajari dan menemukan makna yang
sesungguhnya dari apa yang ia pelajari.
A. Asumsi Dasar Tentang kecerdasan Dalam Metode Genius Learning
1. Setiap anak dilahirkan pintar, dengan suatu kombinasi kecerdasan yang beragam. karena
perbedaan perjalanan dan pengalaman hidup, maka timbul perbedaan dalam dominasi dan
tingkat perkembangan kecerdasan yang anak miliki. kondisi social dan budaya serta sifat dan
proses pembelajaran yang anak alami akan menentukan seberapa cepat atau lambat
perkembangan kecerdasan ini terjadi.
2. Secerdasan adalah suatu fenomena yang unik. Ada banyak cara dimana seorang anak melihat
dan mengerti dunia di sekelilingnya dan cara ia mengungkapkan pengertian yang ia dapatkan.
3. konsep diri seorang anak berbanding lurus dengan potensi yang ia gali dan kembangkan semakin
baik konsep diri yang berhasil ia bangun, semakin baik pula ia mampu memaksimalkan
penggunaan potensi yang ia miliki.
4. IQ tinggi sangat membantu keberhasilan akademik namun bukan satu-satunya factor yang
keberhasilan belajar. IQ rendah bukan berarti akan menemui kgagalan akan belajar.
5. Guru dapat mempengaruhi dan meningkatkan pemahaman anak didiknya dalam belajar. Guru
memainkan peranan penting dalam upaya menghilangkan berbagai hambatan yang menghambat
pemahaman anak dalam pembelajaran. Guru dapat melakukan nya dengan menggunakan strategi
dan teknik yang tepat untuk membantu mengembangkan kecerdaan anak didik.
6. Kecerdasan berkembang secara bertahap dapat di kelompokan menjadi tahap yaitu:
a) Stimulasi
b) Penguatan
c) Belajar dan mengerti
d) Transfer dan pengaruh
7. kemampuan berfikir dapat di ajarkan. Metakgnisi dikenal dengan istilah berfikir mengenai
proses berfikir, juga meliputi aspek belajar cara belajar yang benar.
B. Prinsip Dalam Genius Learning
1. Otak akan berkembang dengan maksimal dalam lingkungan yang kaya stimulus multisensory
dan tangtangan berpikir. lingkungan demikian akan menghasilkan jumlah koneksi yang lebih
besar di antara sel-sel otak.
2. Besarnya pengharapan/ ekspektasi berbanding harus lurus dengan hasil yang di capai. otak selalu
berusaha mencari dan menciptakan arti dari suatu pembelajaran. Proses pembelajaran
berlangsung pada level pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Motivasi akan akan meningkat
saat murid menetapkan tujuan pembelajaran postif dan bersifat pribadi.
3. Lingkungan belajar yang “aman” adalah lingkungan belajar yang memberikan tantangan tinggi
namun dengan tingkat ancaman yang rendah. Dalam kondisi ini otak neo cortex dapat di akses
dengan maksimal sehingga proses berfikir dapat dijalankan secara maksimal.
4. Otak sangat membutuhkan umpan balik yang bersifat segera mempunyai banyak pilihan.
5. Musik membantu proses pembelajaran dengan 3 cara:
1. musik membantu untuk men-charge otak.
2. musik membantu merilekskan otak sehingga otak siap untuk belajar.
3. musik dapat di gunakan untuk membawa informasi yang ingin di masukan ke dalam memory.
6. Ada berbagai alur dan jenis memory yang berbeda yang ada pada otak kita. Dengan
menggunakan teknik strategi khusus, kemampuan untuk mengungat dapat di tingkatkan.
7. Kondisi fiik dan emosi saling berkaitan dan tidak dapat di pisahkan untuk dapat mencapai hasil
pembelajaran secara maksimal. Kedua kondisi ini yaitu kondisi fisik dan kondisi emosi harus
benar-benar di perhatikan.
8. Setiap otak adalah unik dengan kapasitas pengembangan yang berbeda berdasarkan pada
pengalaman pribadi. ada beberapa jenis kecerdasan, dapat di kembangkan dengan proses
pengajaraan dan pembelajaran yang sesuai.
9. Walaupun dapat perbedaan fungsi antara otak kiri dan otak kanan. Namun kedua belah hemisfer
ini dapat bekerja sama dalam mengolah suatu informasi.
Perlu dibedakan antara tantangan dan stress. Stres meliputi rasa takut dan kawatir yang
berasal dari keinginan untuk menghentikan atau melarikan diri dari suatu pengalaman
negatif yang nyata maupun suatu pengalaman yang dianggap, dipandang atau diasumsikan
negatif.
Rasa takut dan khawatir ini bisa berasal dari suasana kelas dan keadaan sekolah yang
kondusif, rasa takut terhadap sikap dan perilaku guru, rasa takut akan hukuman, rasa takut akan
kegagalan, rasa takut mendapat malu, rasa takut dimarahi, rasa takut mendapat hukuman fisik.
Peran otak dalam proses pembelajaran sangat penting karena sistim limbic berkaitan erat
dengan emosi dan memori jangka panjang. Apabila anak dalam kondisi senang, maka otak neo
cortex dapat aktif dan digunakan untuk berpikir.
Jika kita berharap siswa dapat menemukan arti/relevansi dari apa yang mereka pelajari maka
kita harus memastikan bahwa proses peembelajaran harus dapat membuat berhubungan antara
pengalaman masa lalu mereka dengan materi yang diajarkan. Selain itu, guru harus membantu
siswa dengan menghubungkan meteri pelajaran dengan kegunaan atau aplikasi di masa depan.
Bila ini dapat dilakukan, otak siswa akan memberikan perhatian lebih terhadap materi yang
diajarkan dan apa yang disampaikan guru tidak saja masuk akal akan tetapi juga memiliki arti
bagi siswa.
Ada banyak factor yang berperan dalam menentukan keberhasilan proses belajar. Factor
dominan yang menentukan keberhasilan proses belajar adalah dengan mengenal dan memahami
bahwa setiap individu adalah unik dengan gaya belajar yang berbeda satu dengan yang lain.
Tidak ada gaya belajar yang lebih unggul dari gaya belajar yang lainnya. Semua sama uniknya
dan semua sama berharganya. Kesulitan yang timbul selama ini lebih disebabkan oleh gaya
mengajar yang tidak sesuai dengan gaya belajar. Dan yang lebih parah lagi adalah kalau anak
sendiri tidak mengenal gaya belajar mereka.
Dalam setiap proses pembelajaran ada 3 komponen penting yang saling terkait satu sama
lain yaitu:
1. Kurikulum, materi yang akan diajarkan
2. Proses, bagaimana materi diajarkan
3. Produk, hasil dari proses pembelajaran
6. Menciptakan lingkungan belajar Genius Learning
Tahap awal dari proses pembelajaran adalah bagaimana kita dapat menyiapkan Susana
yang kondusif. Ada banyak factor yang turut bermain dalam menentukan suasana yang
mendukung proses pembelajaran yaitu factor eksternal dan internal.
Untuk bisa menciptakan lingkungan belajar atau sekolah yang kondusif dan mendukung proses
pembelajaran, maka sekolah haruslah memberikan kesan sebagai satu temapat yang menghargai
murid sebagai seorang manusia, yang pemikiran dan idenya dihargai sepenuhnya.
Lingkaran sukses pembelajaran Genius Learning terdiri dari :
1. Suasana kondusif
2. Hubungkan
3. Gambaran Besar
4. Tetapkan Tujuan
5. Pemasukan informasi
6. Aktivitas
7. Demonstrasi
8. Ulangi (review) dan jangkaran
a. Gaya Belajar
Dari cara kita memasukkan informasi ke dalam otak melalui lima pancaindra, kita mengenal
ada lima gaya belajar:
1. Visual (penglihatan)
2. Auditori (pendengaran)
3. Tactile/kinestetik (perabaan/gerakan)
4. Olfactori (penciuman)
5. Gustatori (pengecapan)
Idealnya, dalam proses belajar kita harus dapat menggunakan kelima gaya belajar tersebut.
Namun, pada kenyataannya situasi tidak memungkinkan kita untuk melakukan hal ini. Dari
kelima gaya belajar itu, ada tiga gaya belajar yang dominan dan yang paling sering digunakan,
yaitu gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Pada umumnya, orang jarang menggunakan
hanya satu gaya belajar. Jarang ada orang yang hanya belajar secara visual, atau hanya secara
auditori, atau hanya secara kinestetik. Biasanya aka nada kombinasi antara visual dan auditoria
tau auditori dan kinestetik atau bahkan kombinasi antara ketiga gaya belajar ini.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa jumlah orang yang belajar secara visual 27%, auditori
34%, dan kinestetik 39% . Perlu dipahami bahwa gaya belajar terdiri dari dua bagian yaitu gaya
belajar yang bersifat eksternal dan internal. Gaya belajar yang bersifat ekternal bergantung pada
materi atau media dari luar diri kita sebagai sumber informasi. Sedangkan gaya belajar yang
bersifat internal bergantung pada kemampuan kita dalam mengolah fikiran dan imajinasi. Selain
perlu mengetahui modalitas gaya belajar anda (visual, auditori dan kinestetik), perlu juga
diketahui gaya belajar lingkungan yang anda sukai.
a. Peran guru dalam kecerdasan anak
1. Guru sebagai fasilitator dan katalisator
Peran guru sebagai fasilitator adalah memfasilitasi proses pembelajaran yang berlangsung
dikelas guru merancang proses pembelajaran, menetapkan materi apa yang akan dipelajari
murid, bagaimana cara penyampaian, apa hasil yang ingin dicapai, level berfikir apa yang akan
digunakan, strategi apa yang ingin di gunakan untuk memeriksa kemajuan murid dan selanjutnya
membantu dan mengarahkan murid untuk melakukan sendiri aktifitas pembelajaran itu.
Sedangkan peran guru seabagi katalisator adalah guru mambantu anak didik dalam menemukan
kekuatan, talenta atau kelabihan meraka. Guru bertindak sebagai pembimbing, membantu
mengarahkan dan mangembangkan aspek kepribadian, karakter dan emosi serta aspek intelektual
murid.
b. Metode collaborative learning
Proses belajar secara collaborasi atau collaborative learning bukan sekedar bekerjasama
dalam suatu kelompok tetapi penekanannya lebih pada suatu proses pembelajaran yang
melibatkan proses komunikasi secara utuh dan adil di dalam kelas.
Ada lima elemen penting yang harus ada dalam suatu collaborative learning:
· Interdependen yang positif atau perasaan kebersamaan
· Interaksi face to face atau tatap muka yang saling mendukung ( saling membantu, saling
menghargai, memberika selamat dan merayakan sukses bersama)
· Tanggung jawab individu dan kelompok atau (demi keberhasilan pembelajaran)
· Kemampuan komunikasi antar pribadi dan komunikasi dalam suatu kelompok kecil
( komunikasi, ras percaya, kepemimpinan, pembuatan keputusan dan manajemen serta resolusi
konflik
· Pemrosesan secara kelompok ( melakukan refleksi terhadap fungsi dan kemampuan mereka
bekerja sama sebagai suatu kelompok dan bagaimana untuk mampu berprestasi lebih baik lagi.
7. Beberapa teori kecerdasan yang cukup populer
1. Kecerdasan umum/general intelligence
Teori ini mengatakan bahwa manusia mempunyai sebuah kemampuan mental umum yang
mendasari semua kemampuannya untu menangani kerumitan kognitif, factor ini di kaitkan
dengan kemampuan untuk melakukan pemecahan masalah, pemikiran abstrak dan keahlian
dalam pembelajaran. Teori ini di cetuskan oleh Charles spearman, seorang ahli psikolgi dari
inggris pada awal 1900.
2. Kecerdasan cair dan kecerdasan Kristal/fluid intelligence & crystallized intelligence.
Teori ini dicetuskan pada 1960an oleh Raymond Cattell and John Horn teori ini merupakan
pengembangan lebih lanjut dari kecerdasan umum. Ada dua macam kecerdasan umum,
kecerdasan cair adalah kecerdasan yang berbasis pada sifat biologis sedangkan kecerdasan
Kristal adalah kecerdasan yang diperoleh dari proses pembelajaran dan pengalaman hidup.
3. Kecerdasan yang dapat dimodifikasi/Modifiable Intelligence
Teori ini dikembangkan oleh Reuven Feuerstein yang bekerja dengan anak-anak cacat
mental. Feuerstein mengidentifikasi tahap-tahap perkembangan kemampuan berpikir dan
merancang suatu metode untuk mengajar anak tersebut. Tujuannya adalah mengajarkan keahlian
berpikir dan memodifikasi keahlian kognitif dengan kejadian/pengalaman yang dialami anak
tersebut.
4. Kecerdasan proksimal / Proximal Intelligence
Menurut Leo Vigotsky, cara menguji perkembangan kognitif seorang anak dilakukan tidak
hanya dengan memperhatikan kronologis dan usia mental anak tetapi juga dengan
memperhatikan kapasitas potensi anak tersebut. Caranya adalah dengan membandingkan
kemampuan anak menyelesaikan suatu permasalahan seorang diri dan dengan kemampuan anak
memecahkan masalah serupa namun dengan mendapat bantuan seorang guru.
5. Kecerdasan yang dapat dipelajari/ Learnable intelligence
Teori kecerdasan ini dicetuskan oleh David Perkins dari Harvard. Inti teori ini adalah bahwa
kecerdasan dipengaruhi dan dioperasikan oleh beberapa factor dalam kehidupan manusia. Factor
teresebut adalah sistem otak, pengalaman hidup dan kapasitas untuk melakukan pengaturan diri.
6. Kecerdasan perilaku/ Behaviour Intelligence
Profesor Arthur Costa dari Institute of Intelligence di Berkeley melakukan riset terhadap
kecerdasan sebagai suatu kumpulan dari kecerdasan sebagai suatu kumpulan dari kecenderungan
perilaku. Yang termasuk kecerdasan adalah keuletan, kemampuan mengatur perilaku implusif,
empati, fleksibilitas dalam berpikir, metakognisi, menguji akurasi dan ketepatan, kemampuan
bertanya dan mengajukan pertanyaan, menerapkan pengetahuan yang didapatkan sebelumnya.
7. Kecerdasan tri tunggal/ Triarchic Intelligence
Menurut Prof. Robert J. Stenberg, seorang yang berhasil pasti mempunyai keseimbangan
dalam kecerdasan kreatif, analisis dan prakts. Kecerdasan kreatif meliputi kemampuan
mengenali dan merumuskan ide yang baik dan solusi untuk masalah dalam berbagai bidang
kehidupan.
8. Kecerdasan moral/ Moral Intelligence
Teori ini dicetuskan oleh Robert Coles dan didasari oleh bagaiman lahir dan terbentuknya
nilai hidup dalam diri seorang anak.
9. Kecerdasan emosional/Emotional Intelligence
Menurut Daniel Golemen, dalam kecerdasan emosi terdapat lima komponen penting dan
kombinasi dari masing-masing komponen ini memiliki nilai yang lebih penting daripada IQ.
Elemen tersebut adalah : kesadaran diri, manajemen emosi, motivasi, empati, dan mengatur
hubungan/relasi (untuk lebih jelas, anda bisa membaca buku Emotional Intelligence oleh
pengarang yang sama).
10. Kecerdasan Majemuk/ Multiple Intelligence
Kecerdasan ini dicetuskan oleh prof. Howard Gardner dari Harvard. Menurut Gardner
manusia mempunyai lebih dari satu kecerdasan. Teori kecerdasan Gardner mengatakan bahwa
manusia paling tidak memiliki delapan kecerdasan yaitu : linguistik, logika-matematika,
intrapersonal, interpersonal, musical, naturalis, visual-spasial, dan kinestetik.
8. Kecerdasan yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan
Factor yang mempengaruhi pertumbuhan.
1. Lingkungan
2. Kemauan dan keputusan
3. Pengalaman hidup
4. Genetika
5. Gaya hidup
9. Menggunakan music dengan tujuan dan cara yang benar
Struktur music yang harmonis, kualitas interval, timbre, pola nada dan tempo diproses di
otak kanan, sedangkan perubahan yang cepat seperti pada perubahan volume suara, penataan
nada suara yang akurat dan lirik, diproses oleh otak kiri kita. Oleh sebab itu music dapat
mempengaruhi seluruh aktivitas otak. Pengaruh musik juga dapat kita rasakan pada detak
jantung kita
Jenis musik yang boleh digunakan:
1. Gunakan music instrument dengan tempo 55-70 bit permenit
2. Music instrumentnya sebaiknya murni dari lagu instrumental. Jangan menggunakan music
instrument yang berasal dari lagu, misalnya lagu “ My Way “ yang dijadikan music instrument
3. Untuk mudahnya gunakan music klasik dari zaman Baroque
Pengaruh music dalam diri kita
· Music meningkatkan energy otot
· Music meningkatkan energy sel tubuh
· Music mempengaruhi detak jantung
· Music menigkatkan metabolism tubuh
· Music mengurangi stress dan rasa sakit
· Music meningkatkan kecepatan penyembuhan dan pemulihan pasien oprasi
· Music mengurangi rasa lelah dan mengantuk
· Music membantu meningkatkan kondisi emosi kearah yang lebih baik
· Music merangsang kreatifitas, kepekaan, dan kemampuan berfikir.
Mengenalkan dan memasukkan music kedalam kurikulum sejak usia dini tidak hanya
akan menigkatkan apresiasi anak terhadap music, tetapi juga dapat meningkatkan kecerdasan
musiknya. Keuntungan lain adalah membantu meningkatkan kemampuan anak dalam bidang
matematika, membaca dan sanis.
10. Bermain adalah cara efektif untuk belajar
Bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi anak. Lewat permainan, anak
akan mengalami rasa bahagia. Dengan perasaan sukacita itulah syaraf atau neuron di otak anak
dengan cepat saling berkoneksi untuk membetuk satu memori baru. Itulah sebabnya anak-anak
dengan mudah mempelajari sesuatu dari permainan. Permainan akan memberi kesempatan untuk
belajar, menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus belajar memecahkan masalah, juga
mempunyai kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman
sebayanya dan mengembangkan perasaan realistis akan dirinya.
11. Menggunakan Brain Gym di kelas
Brain Gym sangat baik digunakan pada awal proses pembelajaran, terlebih lagi bila
diiringi dengan lagu atau music yang bersifat riang dan genbira. Brain Gym juga bisa dilakukan
untuk menyegarkan fisik dan pikiran murid setelah menjalani preoses pembelajaran yang
memebutuhkan konsntrasi tinggi yang mengakibatkan kelelahan pada otak, meningkatkan
kemampuan belajar membangun harga diri.
Menurut Paul dan istrinya, Gail E. Dennison, mereka membagi otak dalam 3 fungsi
1. Dimensi lateral: koordinasi antara hemisfir kiri dan kanan dari otak untuk bisa berkomunikasi
dengan efektif
2. Dimensi pemusatan: koordinasi antara bagian atas dan bawah dari otak untuk pengaturan proses
berpikir dan tindakan
3. Dimensi fokus: koordinasi antara batang otak dan prefrontal protex untuk tujan pemahaman dan
perseptif.
Brian Gym membuat ke 3 dimensi ini dapat menyatu dan terintegrasi secara menyeluruh.
Hala ini akan mengakibatkan peningkatan prestasi yang sangat signifikan.
Daftar Pustaka
Gunawan, Adi., W. 2003. Born to be a Genius. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Gunawan, Adi., W. 2003. Genius Learning Strategy. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Windura, Susanto. 2013. Shortcut to Genius. Jakarta : PT Elex Media Computindo.
Setiabudi, Tessie dan Joshua Maruta. 2012. Cerdas Mengajar. Jakarta : PT Grasindo.
Yuniarni, Desni. 2013. Neurosains dalam Pembelajaran. Pontianak.
Kurniasih, Imas. 2012. Kumpulan Permainan Interaktif untuk Meningkatkan Kecerdasan
Anak. Yogyakarta : Cakrawala.