Laporan Proyek Mendesain Peledakaan Menggunakaan Software Shotplus
Laporan Proyek Mendesain Peledakaan Menggunakaan Software Shotplus
Rire Rastabi
Arief Pebriantori
Aditia Ariotama
Zidan Ath Thoriq
Andre Fegita Darika
Siti Sahara Novita
Edo Sasmito
Muhammad Aryo
[Link] fahreza
[Link] Ramadan
Julian Saputra
Angga Mardiansyah
Muhammad Roy Jordi
[Link]
Khoirul Fahmi
1
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PROYEK
Laporan Proyek
Software Shotplus
Dibuat Oleh
Kelompok 1
Mengetahui,
Elvita, S.T
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt atas petunjuk, rahmat serta hidayah-nya, sehingga
kami dapat menyelesaikan laporan tugas proyek ini tanpa ada halangan sesuai waktu
yang telah ditentukan dengan judul Laporan Tugas Proyek Mendesain Peledakaan
Menggunakaan Software Shotplus. Laporan ini disusun berdasarkan pengalaman dan
ilmu yang penulis dapatkan selama melaksanakan kegiatan tugas proyek.
Banyak hambatan yang penulis lalui selama melaksanakan kegiatan tugas proyek
maupun dalam penyusunan laporan tugas proyek. Namun dengan adanya dukungan
dari beberapa pihak alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan
baik. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada :
3
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan tugas proyek ini masih banyak
kekurangan. Dengan ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifatnya
membangun untuk kesempurnaan laporan ini. Penulis berharap laporan ini dapat
bermanfaat bagi kita semua dan khusus nya bagi siswa siswi smk teknologi nasional
palembang.
4
BAB I
PENDAHULUAAN
Maksud pembuatan tutorial peledakan ini adalah untuk bisa membuat pola
peledakan dengan menggunakan software beserta dengan ruang lingkup dan
pemahamannya.
1.2.2 Tujuan
1. Dapat membuat rancangan pola peledakan menggunakan software ShotPlus
2. Dapat mengetahui pembuatan pola peledakan dengan jenis detonator nonel
atau elektronik
3. Mengetahui manfaat dari rancangan pola peledakan yang dibuat
menggunakan software
5
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1Pola pengeboran
[Link] terbuka
Keberhasilan suatu peledakan salah satunya terletak pada ketersediaan
bidang bebas yang mencukupi. Minimal dua bidang bebas yang harus ada.
Peledakan dengan hanya satu bidang bebas, disebut crater blasting, akan
menghasilkan kawah dengan lemparan fragmentasi ke atas dan tidak terkontrol.
Dengan mem-pertimbangkan hal tersebut, maka pada tambang terbuka selalu
dibuat minimal dua bidang bebas, yaitu (1) dinding bidang bebas dan (2) puncak
jenjang (top bench). Selanjutnya terdapat tiga pola pengeboran yang mungkin
dibuat secara teratur, yaitu: (lihat Gambar 1.1)
1) Pola bujursangkar (square pattern), yaitu jarak burden dan spasi sama
2) Pola persegipanjang (rectangular pattern), yaitu jarak spasi dalam satu
baris lebih besar dibanding burden
3) Pola zigzag (staggered pattern), yaitu antar lubang bor dibuat zigzag yang
berasal dari pola bujursangkar maupun persegipanjang.
6
minimal terdapat dua bidang bebas agar proses pelepasan energi berlangsung
sempurna, sehingga batuan akan terlepas atau terberai dari induknya lebih
ringan. Pada bukaan bawah tanah umumnya hanya terdapat satu bidang bebas,
yaitu permuka kerja atau face. Untuk itu perlu dibuat tambahan bidang bebas
yang dinamakan cut. Secara umum terdapat empat tipe cut yang kemudian dapat
dikembangkan lagi sesuai dengan kondisi batuan setempat, yaitu:
1) Center cut disebut juga pyramid atau diamond cut (lihat Gambar 1.2).
Empat atau enam lubang dengan diameter yang sama dibor ke arah satu
titik, sehingga berbentuk piramid. Puncak piramid di bagian dalam
dilebihkan sekitar 15 cm (6 inci) dari kedalaman seluruh lubang bor yang
ada. Pada bagian puncak piramid terkonsentrasi bahan peledak kuat.
Dengan meledakkan center cut ini secara serentak akan terbentuk bidang
bebas baru bagi lubang-lubang ledak disekitarnya. Center cut sangat
efektif untuk betuan kuat, tetapi konsumsi bahan peledak banyak dan
mempunyai efek gegaran tinggi yang disertai oleh lemparan batu-batu
kecil.
2) Wedge cut disebut juga V-cut, angled cut atau cut berbentuk baji: Setiap
pasang dari empat atau enam lubang dengan diameter yang sama dibor
ke arah satu titik, tetapi lubang bor antar pasangan sejajar, sehingga
terbentuk baji (lihat Gambar 1.3). Cara mengebor tipe ini lebih mudah
7
disbanding pyramid cut, tetapi kurang efektif untuk meledakkan batuan
yang keras.
3) Drag cut atau pola kipas: Bentuknya mirip dengan wedge cut, yaitu
berbentuk baji. Perbedaannya terletak pada posisi bajinya tidak ditengah-
tengan bukaan, tetapi terletak pada bagian lantai atau dinding bukaan.
Cara membuatnya adalah lubang dibor miring untuk membentuk rongga
di lantai atau dinding. Pengeboran untuk membuat rongga dari bagian
dinding disebut juga dengan fan cut atau cut kipas. Beberapa
pertimbangan pada penerapan pola drag cut :
• Sangat cocok untuk batuan berlapis, misalnya shale, slate, atau
batuan sedimen lainnya.
• Tidak efektif diterapkan pada batuan yang keras.
• Dapat berperan sebagai controlled blasting, yaitu apabila
terdapat instalasi yang penting di ruang bawah tanah atau pada
bukaan dengan penyangga kayu.
8
4) Burn cut disebut juga dengan cylinder cut (Gambar 1.5): Pola ini sangat
cocok untuk batu yang keras dan regas seperti batupasir (sandstone) atau
batuan beku. Pola ini tidak cocok untuk batuan berlapis, namun demikian,
dapat disesuaikan dengan berbagai variasi. Ciri-ciri pola burn cut antara
lain:
• Lubang bor dibuat sejajar, sehingga dapat mengebor lebih
dalam dibanding jenis cut yang lainnya
• Lubang tertentu dikosongkan untuk memperoleh bidang
bebas mini, sehingga pelepasan tegangan gelombang
kompresi menjadi tarik dapat berlangsung efektif.
Disamping itu lubang kosong berperan sebagai ruang
terbuka tempat fragmentasi batuan terlempar dari lubang
yang bermuatan bahan peledak.
Walaupun banyak variable yang mempengaruhi keberhasilan peledakan
dengan pola burn cut ini, namun untuk memperoleh hasil peledakan yang
memuaskan perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
9
Sketsa dasar burn cut
1) Mengurangi getaran
2) Mengurangi overbreak dan batu terbang (fly rock)
3) Mengurangi gegaran akibat airblast dan suara (noise).
4) Dapat mengarahkan lemparan fragmentasi batuan
10
5) Dapat memperbaiki ukuran fragmentasi batuan hasil peledakan
Apabila pola peledakan tidak tepat atau seluruh lubang diledakkan sekaligus,
maka akan terjadi sebaliknya yang merugikan, yaitu peledakan yang mengganggu
lingkungan dan hasilnya tidak efektif dan tidak efisien.
11
Peledakan pojok dengan pola staggered dan sistem inisiasi
echelon serta orientasi antar retakan 90°
3) Bila peledakan dilakukan serentak antar baris, maka ratio spasi dan
burden (S/B) dirancang seperti pada Gambar 1.9 dan 1.10 dengan pola
bujursangkar (square pattern).
4) Bila peledakan dilakukan pada bidang bebas yang memanjang, maka
sistem inisiasi
dan S/B dapat diatur seperti pada Gambar 1.11 dan 1.12.
12
Peledakan pojok antar baris dengan pola staggered
Peledakan pada bidang bebas memanjang dengan pola V-cut persegi panjang dan waktu
tunda bebas
13
lubang bukaan, yaitu bagian atap dan dinding. Pada bagian tersebut pengontrolan
menjadi penting agar bentuk bukaan menjadi rata, artinya tidak banyak tonjolan
atau backbreak pada bagian dinding dan atap.
Roof holesatau
back holes
Stoping holesatau
Tinggi helper holes atau
busur reliever holes
Wall holes
atau rib holes
Cut holes
Tinggi
abutment Cut spreader holes
atau raker holes
Floor holes atau
lifter holes
14
Pola peledakan dengan wedge cut pada Pola peledakan dengan drag cut
15
Arah Lubang Pemboran
Fragmentasi
• Arah lemparan
• Kestabilan jenjang
• Perlindungan terhadap lingkungan sekitar
• Jenis bahan peledak yang akan digunakan, dan energi dari bahan peledak tersebut
16
• Burden (b)
Burden adalah jarak dari lubang bor ke free face (bidang bebas) yang terdekat
pada saat proses peledakan. Peledakan dengan jumlah baris (row) yang banyak,
tergantung penggunaan bentuk pola peledakan yang digunakan. Bila peledakan
digunakan delay detonator dari tiap-tiap baris delay yang berdekatan maka akan
menghasilkan free face yang baru.
Burden merupakan variabel yang sangat penting dan dalam mendesain
peledakan. Terdapat jarak maksimum burden sehingga proses peledakan bisa
dinyatakan berhasil, seperti pada gambar 2.2, yang memberikan ilustrasi efek variasi
jarak dengan jumlah bahan peledak formasi yang sama.
B = 25 – 40 d
B = 25 – 40 d
17
Keterangan : B = Burden (ft)
Sge = Spesific Gravity Bahan Peledak
De = Diameter Bahan Peledak (in)
• Spasi (S)
Spasi adalah jarak antara lubang bor yang dirangkai dalam satu baris (row) dan
diukur sejajar terhadap “pit wall”. Biasanya spasi tergantung pada burden, kedalaman
lubang bor, letak primer, waktu tunda dan arah struktur bidang batuan.
S = 1,1 – 1,8 B
Keterangan : S = Spasi
B = Burden
Jika spasi lebih kecil dari pada burden cenderung mengakibatkan steaming
ejection yang lebih dini. Akibatnya gas hasil ledakan dihamburkan ke atmosfer
dibarengi dengan noise dan air blast. Sebaliknya jika spacing terlalu besar diantara
lubang tembak fragmentasi yang dihasilkan tidak sempurna.
• Stemming (T)
Stemming atau disebut juga collar, adalah isian akhir dari suatu lubang ledak
(untuk menutup lubang ledak), harga stemming ini sangat menentukan stress balance
dalam lubang bor, fungsi lain adalah untuk mengurung gas yang timbul.
18
Untuk mendapatkan stress balance yang tepat maka harga stemming sama
dengan burden. Pada batuan kompak, jika perbandingan antara stemming dan burden
kurang dari satu maka akan terjadi cratering atau back break, terutama pada collar
proming. Biasanya harga standar tang dipakai adalah 0,70 dan ini sudah cukup untuk
mengontrol air blast dan stress balance. Dan dapat dirumuskan sebagai berikut :
S = (0,7 – 1) X B
Keterangan : S = Spasi
B = Burden
• Subdrilling (J)
Subdrilling adalah bagian dari kolom lubang ledak yang terletak dibagian dasar
jenjang yang dimaksud untuk menghindari terjadinya toe atau tonjolan pada lantai,
karena dibagian ini merupakan tempat yang paling sukar diledakkan, dengan demikian,
gelombang ledak yang ditimbulkan pada lantai dasar jenjang akan bekerja secara
maksimum. Pada lantai jenjang setelah peledakan. Juga dapat didefinisikan sebagai
tambahan kedalaman dari pada lubang bor dibawah rencana lantai jenjang.
Jika subdrilling berlebih akan menghasilkan excessive ground vibration. Dan jika
subdrilling tidak cukup dapat mengakibatkan problem tonjolan pada lantai (toe).
Secara praktis subdrilling (J) dibuat antara 20 – 40% burden (B), sehingga dapat
dirumuskan :
J = (0,2 – 0,4) X B
19
Hubungan Diameter Lubang Bor dengan Ketinggian Jenjang
Secara praktis hubungan diantara lubang bor dengan ketinggian jenjang dapat
dirumuskan sebagai berikut :
K = 0,1 – 0,2 d
Pemilihan diameter lubang bor tergantung pada tingkat produksi yang diinginkan.
Dengan lubang bor yang lebih besar, lebih besar pula tingkat produksi yang dihasilkan.
Untuk kontrol desain dengan hasil fragmentasi yang bagus, menurut pengalaman,
diameter lubang bor harus berkisar antar 0,5 – 1% dari tinggi jenjang.
d = 5 – 10 K
20
K = tinggi jenjang (m)
Pemakaian lubang bor kecil pada kondisi batuan yang banyak terdapat joint akan
menghasilkan fragmentasi yang baik dari pada lubang bor yang besar. Pada permukaan
tiap-tiap joint terdapat reflaksi gelombang ledak yang dihasilkan oleh proses
peledakan, karena bisa berfungsi sebagai free face.
Efek Joint pada Fragmentasi bila Menggunakan Diameter Lubang Bor Besar dan Kecil
(atas – bawah). Daerah yang diarsir menunjukan fragmentasi kurang (insufficient
fragmentation
[Link] batuan
21
menyebabkan choke pada secondary sircut yang mempengaruhi keekonomisan pada
efisiensi processing.
Fragmentasi batuan yang terbentuk dari hasil suatu kegiatan peledakaan dapat
berasal dari:
Beberapa proses dalam dalam mekanisme fragmentasi batuaan adalah sebagai berikut
22
2.2 Software orica
Perangkat lunak SHOTPlus™5 dari Orica memungkinkan para insinyur dan juru
ledak (shotfirer) untuk mendesain, menganalisis dan mengoptimalkan urutan inisiasi
peledakan pada tambang terbuka, tambang kuari dan konstruksi. Program ini memuat
kemampuan desain inisiasi peledakan yang ekstensif yang mendukung semua sistem
inisialisasi dan sistem peledakan elektronik Orica. Generasi kelima teknologi
SHOTPlus™ dari Orica ini memungkinkan Anda membuat desain dan berbagai laporan,
mensimulasi urutan peledakan dan pengecekan desain untuk hasil yang optimal. Anda
juga dapat memaksimalkan efisiensi proses desain peledakan Anda dengan
menyimpan aturan desain sebagai template untuk digunakan kembali pada peledakan
selanjutnya.
23
BAB III
Deskripsi:pola peledakan
24
Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022
• Panjang:12,0 M
• Beban(Burden):6,0 M
• Jarak(Spasi):6,0 M
• Jumlah baris:5
• Lubang di baris: 10
• Pengeboran(bor):Standar drill 140,0 mm
25
Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022
26
Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022
[Link] tekan OK
1. Tampilan lubang ledak setelah mengisi loading dan geometri lubang ledak
27
[Link] menentukan rangkaian peledakan (surface delay) pilih tools “tie tool”
[Link] menentukan spesifikasi surface delay yang di pakai klik menambahkan produk
4. pilih spesifikasi produk surface delay pilih “penundaan ditetapkan pengguna” masukan
delay (penundaan) 7,lalu klik ok.
28
[Link] lead-in tool, lalu tekan ok
29
[Link] lakukan perangkaian dari E5 Ke A5 menggunakan Tie tool yang
penundaan(delay) 14
30
[Link] lubang ledak setelah mengisi loading dan geometri lubang ledak
[Link] menentukan rangkaian peledakan (surface delay) pilih tools “tie tool”
3. untuk menentukan spesifikasi surface delay yang di pakai klik menambahkan produk,
lalu pilih pilih spesifikasi produk surface delay, pilih “penundaan ditetapkan
pengguna” masukan delay (penundaan) 7,lalu klik ok.
31
Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022
32
[Link] lead-in tool di A6
[Link] lakukan perangkaian pola corner cut dari A6 ke A1 menggunakan tie tool
dengan penundaan 7
33
[Link] perangkain dari A5 ke C6, A4 ke C5,A3 ke C4,A2 ke C3,A1 ke C2 menggunkan tie
tool 14
[Link] Relief
34
B. Angle of Initiations
C .First Movement
35
3.2.2 Pola Peledakaan corner cut
[Link] Relief
B. Angle of Initiations
36
C .First Movement
Hasil fragmentasi dari kegiatan peledakan yang baik atau sesuai dengan
ukuran yang diinginkan ialah yang ditunjukkan oleh Buden Relief yang berwarna
biru, menunjukkan distribusi peledakan yang merata untuk setiap lubang. Hal
tersebut tentu tak lepas dari perancangan geometri peledakan serta penentuan
pola peledakan yang tepat sehingga dapat membuat proses peledakan menjadi
maksimal dan efektif. Apabila terdapat hasil fragmentasi yang kurang baik dimana
disini ditunjukkan oleh warna selain biru, maka hal tersebut dapat dikarenakan
penentuan jarak spasi dan burden yang kurang tepat, serta pemasangan delay
pada lubang bor yang kurang tepat.
37
BAB IV
KESIMPULAN
38