0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan38 halaman

Laporan Proyek Mendesain Peledakaan Menggunakaan Software Shotplus

materi ukk atau peledakan

Diunggah oleh

Rire Restabi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan38 halaman

Laporan Proyek Mendesain Peledakaan Menggunakaan Software Shotplus

materi ukk atau peledakan

Diunggah oleh

Rire Restabi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PROYEK MENDESAIN PELEDAKAAN

MENGGUNAKAAN SOFTWARE SHOTPLUS

Dibuat Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti Ujian Kompetensi Keahlian Serta


Sebagai Syarat Kelulusan Pada Program Studi Geologi Pertambangan
Disusun oleh : Kelompok 1

Rire Rastabi
Arief Pebriantori
Aditia Ariotama
Zidan Ath Thoriq
Andre Fegita Darika
Siti Sahara Novita
Edo Sasmito
Muhammad Aryo
[Link] fahreza
[Link] Ramadan
Julian Saputra
Angga Mardiansyah
Muhammad Roy Jordi
[Link]
Khoirul Fahmi

SMK TEKNOLOGI NASIONAL PALEMBANG TAHUN AJARAN


2021/2022

1
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PROYEK

Laporan Proyek

Mendesain Peledakaan Menggunakaan

Software Shotplus

Dibuat Oleh

Kelompok 1

Palembang, Maret 2022

Ketua Kompetensi Keahlian

Geologi Pertambangan Pembimbing Proyek

S Fahmi, S.T Rahmalia,S.T

Mengetahui,

Kepala Sekolah SMK Teknologi Nasional Palembang

Elvita, S.T

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt atas petunjuk, rahmat serta hidayah-nya, sehingga
kami dapat menyelesaikan laporan tugas proyek ini tanpa ada halangan sesuai waktu
yang telah ditentukan dengan judul Laporan Tugas Proyek Mendesain Peledakaan
Menggunakaan Software Shotplus. Laporan ini disusun berdasarkan pengalaman dan
ilmu yang penulis dapatkan selama melaksanakan kegiatan tugas proyek.

Maksud penyusunan laporan ini untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian


kompetensi kejuruan sebagai syarat kelulusan pada program studi geologi
pertambangan dan untuk menambah ilmu cabang geologi.

Banyak hambatan yang penulis lalui selama melaksanakan kegiatan tugas proyek
maupun dalam penyusunan laporan tugas proyek. Namun dengan adanya dukungan
dari beberapa pihak alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan
baik. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibu Elvita, S. T selaku kepala sekolah SMK Teknologi Nasional Palembang


2. Bapak S Fahmi, S.T. selaku kepala kompetensi keahlian geologi pertambangan
3. Ibu Rahmalia,S.T. selaku pembimbing tugas proyek
4. Orang tua tercinta yang telah memberikan dukungan selama kegiatan proyek ini
berlangsung.
5. Rekan-rekan anggota kelompok laporan tugas proyek yang telah memberikan
semangat dan usaha keras dalam penyelesaian proyek dengan tepat waktu.
6. Dan semua pihak yang telah ikut serta memberikan bantuan dan dorongan dalam
proses penyelesaian kegiatan tugas proyek.

3
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan tugas proyek ini masih banyak
kekurangan. Dengan ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifatnya
membangun untuk kesempurnaan laporan ini. Penulis berharap laporan ini dapat
bermanfaat bagi kita semua dan khusus nya bagi siswa siswi smk teknologi nasional
palembang.

Palembang, Maret 2022

4
BAB I
PENDAHULUAAN

1.1 Latar Belakang


Pada kegiatan pertambangan, peledakan merupakan salah satu cara efektif yang
dipakai dalam metode pemberaian batuan dengan material yang sesuai dengan sifat
batuan tersebut. Peledakan ini juga dipilih agar pemberaian dilakukan dengan tidak
memakan waktu yang lama untuk jenis batuan yang sudah tidak dapat diberai
dengan peralatan mekanis.

Pada kegiatan peledakan, harus memperhatikan fragmentasi dan pelemparan


batuan dimana dalam hal ini harus mengetahui dan memahami pola atau geometri
yang diterapkan pada kegiatan tersebut. Adapun salah satu keberhasilan operasi
kegiatan peledakan adalah terpenuhinya fragmentasi yang sesuai dengan
perencanaan yang diharapkan untuk pemrosesan selanjutnya.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud

Maksud pembuatan tutorial peledakan ini adalah untuk bisa membuat pola
peledakan dengan menggunakan software beserta dengan ruang lingkup dan
pemahamannya.

1.2.2 Tujuan
1. Dapat membuat rancangan pola peledakan menggunakan software ShotPlus
2. Dapat mengetahui pembuatan pola peledakan dengan jenis detonator nonel
atau elektronik
3. Mengetahui manfaat dari rancangan pola peledakan yang dibuat
menggunakan software

5
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1Pola pengeboran
[Link] terbuka
Keberhasilan suatu peledakan salah satunya terletak pada ketersediaan
bidang bebas yang mencukupi. Minimal dua bidang bebas yang harus ada.
Peledakan dengan hanya satu bidang bebas, disebut crater blasting, akan
menghasilkan kawah dengan lemparan fragmentasi ke atas dan tidak terkontrol.
Dengan mem-pertimbangkan hal tersebut, maka pada tambang terbuka selalu
dibuat minimal dua bidang bebas, yaitu (1) dinding bidang bebas dan (2) puncak
jenjang (top bench). Selanjutnya terdapat tiga pola pengeboran yang mungkin
dibuat secara teratur, yaitu: (lihat Gambar 1.1)

1) Pola bujursangkar (square pattern), yaitu jarak burden dan spasi sama
2) Pola persegipanjang (rectangular pattern), yaitu jarak spasi dalam satu
baris lebih besar dibanding burden
3) Pola zigzag (staggered pattern), yaitu antar lubang bor dibuat zigzag yang
berasal dari pola bujursangkar maupun persegipanjang.

Sketsa pola pengeboran pada tambang terbuka

[Link] pengeboran pada bukaan bawah tanah


Mengingat ruang sempit yang membatasi kemajuan pengeboran dan hanya
terdapat satu bidang bebas, maka harus dibuat suatu pola pengeboran yang
disesuaikan dengan kondisi tersebut. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa

6
minimal terdapat dua bidang bebas agar proses pelepasan energi berlangsung
sempurna, sehingga batuan akan terlepas atau terberai dari induknya lebih
ringan. Pada bukaan bawah tanah umumnya hanya terdapat satu bidang bebas,
yaitu permuka kerja atau face. Untuk itu perlu dibuat tambahan bidang bebas
yang dinamakan cut. Secara umum terdapat empat tipe cut yang kemudian dapat
dikembangkan lagi sesuai dengan kondisi batuan setempat, yaitu:

1) Center cut disebut juga pyramid atau diamond cut (lihat Gambar 1.2).
Empat atau enam lubang dengan diameter yang sama dibor ke arah satu
titik, sehingga berbentuk piramid. Puncak piramid di bagian dalam
dilebihkan sekitar 15 cm (6 inci) dari kedalaman seluruh lubang bor yang
ada. Pada bagian puncak piramid terkonsentrasi bahan peledak kuat.
Dengan meledakkan center cut ini secara serentak akan terbentuk bidang
bebas baru bagi lubang-lubang ledak disekitarnya. Center cut sangat
efektif untuk betuan kuat, tetapi konsumsi bahan peledak banyak dan
mempunyai efek gegaran tinggi yang disertai oleh lemparan batu-batu
kecil.

Sketsa dasar center cut

2) Wedge cut disebut juga V-cut, angled cut atau cut berbentuk baji: Setiap
pasang dari empat atau enam lubang dengan diameter yang sama dibor
ke arah satu titik, tetapi lubang bor antar pasangan sejajar, sehingga
terbentuk baji (lihat Gambar 1.3). Cara mengebor tipe ini lebih mudah

7
disbanding pyramid cut, tetapi kurang efektif untuk meledakkan batuan
yang keras.

Sketsa dasar wedge cut

3) Drag cut atau pola kipas: Bentuknya mirip dengan wedge cut, yaitu
berbentuk baji. Perbedaannya terletak pada posisi bajinya tidak ditengah-
tengan bukaan, tetapi terletak pada bagian lantai atau dinding bukaan.
Cara membuatnya adalah lubang dibor miring untuk membentuk rongga
di lantai atau dinding. Pengeboran untuk membuat rongga dari bagian
dinding disebut juga dengan fan cut atau cut kipas. Beberapa
pertimbangan pada penerapan pola drag cut :
• Sangat cocok untuk batuan berlapis, misalnya shale, slate, atau
batuan sedimen lainnya.
• Tidak efektif diterapkan pada batuan yang keras.
• Dapat berperan sebagai controlled blasting, yaitu apabila
terdapat instalasi yang penting di ruang bawah tanah atau pada
bukaan dengan penyangga kayu.

Sketsa dasar drag cut

8
4) Burn cut disebut juga dengan cylinder cut (Gambar 1.5): Pola ini sangat
cocok untuk batu yang keras dan regas seperti batupasir (sandstone) atau
batuan beku. Pola ini tidak cocok untuk batuan berlapis, namun demikian,
dapat disesuaikan dengan berbagai variasi. Ciri-ciri pola burn cut antara
lain:
• Lubang bor dibuat sejajar, sehingga dapat mengebor lebih
dalam dibanding jenis cut yang lainnya
• Lubang tertentu dikosongkan untuk memperoleh bidang
bebas mini, sehingga pelepasan tegangan gelombang
kompresi menjadi tarik dapat berlangsung efektif.
Disamping itu lubang kosong berperan sebagai ruang
terbuka tempat fragmentasi batuan terlempar dari lubang
yang bermuatan bahan peledak.
Walaupun banyak variable yang mempengaruhi keberhasilan peledakan
dengan pola burn cut ini, namun untuk memperoleh hasil peledakan yang
memuaskan perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

• Pola lubang harus benar-benar akurat dan tidak boleh ada


lubang bor yang konvergen atau divergen, jadi harus benar-
benar lurus dan sejajar.
• Harus digunakan bahan peledak lemah (low explosive) untuk
menghindari pemadatan dari fragmen batuan hasil
peledakan di dalam lubang yang kosong.
• Lubang cut harus diledakkan secara tunda untuk memberi
kesempatan pada fragmen batuan terlepas lebih mudah
dari cut.

9
Sketsa dasar burn cut

Variasi burn cut

2.1.2 Pola Peledakaan


Secara umum pola peledakan menunjukkan urutan atau sekuensial ledakan
dari sejumlah lubang ledak. Pola peledakan pada tambang terbuka dan bukaan di
bawah tanah berbeda. Banyak faktor yang menentukan perbedaan tersebut,
diantaranya adalah seperti yang tercantum pada, yaitu faktor yang
mempengaruhi pola pengeboran. Adanya urutan peledakan berarti terdapat jeda
waktu ledakan diantara lubang-lubang ledak yang disebut dengan waktu tunda
atau delay time. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menerapkan
waktu tunda pada sistem peledakan antara lain adalah:

1) Mengurangi getaran
2) Mengurangi overbreak dan batu terbang (fly rock)
3) Mengurangi gegaran akibat airblast dan suara (noise).
4) Dapat mengarahkan lemparan fragmentasi batuan

10
5) Dapat memperbaiki ukuran fragmentasi batuan hasil peledakan
Apabila pola peledakan tidak tepat atau seluruh lubang diledakkan sekaligus,
maka akan terjadi sebaliknya yang merugikan, yaitu peledakan yang mengganggu
lingkungan dan hasilnya tidak efektif dan tidak efisien.

a. Pola peledakan pada tambang terbuka


Mengingat area peledakan pada tambang terbuka atau quarry cukup luas, maka
peranan pola peledakan menjadi penting jangan sampai urutan peledakannya
tidak logis. Urutan peledakan yang tidak logis bisa disebabkan oleh: Ö penentuan
waktu tunda yang terlalu dekat, Ö penentuan urutan ledakannya yang salah,

• dimensi geometri peledakan tidak tepat,

• bahan peledaknya kurang atau tidak sesuai dengan perhitungan.


Terdapat beberapa kemungkinan sebagai acuan dasar penentuan pola peledakan
pada tambang terbuka, yaitu sebagai berikut:
a. Peledakan tunda antar baris.
b. Peledakan tunda antar beberapa lubang.
c. Peledakan tunda antar lubang.
Orientasi retakan cukup besar pengaruhnya terhadap penentuan pola pemboran
dan peledakan yang pelaksanaannya diatur melalui perbandingan spasi (S) dan
burden (B). Beberapa contoh kemungkinan perbedaan kondisi di lapangan dan
pola peledakannya sebagai berikut:

1) Bila orientasi antar retakan hampir tegak lurus, sebaiknya S = 1,41 B

11
Peledakan pojok dengan pola staggered dan sistem inisiasi
echelon serta orientasi antar retakan 90°

2) Bila orientasi antar retakan mendekati 60° sebaiknya S = 1,15 B dan


menerap-kan
interval waktu long-delay dan pola peledakannya terlihat Gambar 1.8.

3) Bila peledakan dilakukan serentak antar baris, maka ratio spasi dan
burden (S/B) dirancang seperti pada Gambar 1.9 dan 1.10 dengan pola
bujursangkar (square pattern).
4) Bila peledakan dilakukan pada bidang bebas yang memanjang, maka
sistem inisiasi
dan S/B dapat diatur seperti pada Gambar 1.11 dan 1.12.

Peledakan pojok dengan pola staggered dan sistem inisiasi


echelon serta orientasi antar retakan 60°

Peledakan pojok antar baris dengan pola


bujursangkar dan sistem inisiasi echelon

12
Peledakan pojok antar baris dengan pola staggered

Peledakan pada bidang bebas memanjang dengan pola V-cut


bujursangkar
dan waktu tunda close-interval (chevron)

Peledakan pada bidang bebas memanjang dengan pola V-cut persegi panjang dan waktu
tunda bebas

[Link] peledakan pada tambang bawah tanah


Prinsip pola peledakan di tambang bawah tanah adalah sama dengan di
tambang terbuka, yaitu membuat sekuensial ledakan antar lubang. Peledakan
pembuatan cut merupakan urutan pertama peledakan di bawah tanah agar
terbentuk bidang bebas baru disusul lubanglubang lainnya, sehingga lemparan
batuan akan terarah. Urutan paling akhir peledakan terjadi pada sekeliling sisi

13
lubang bukaan, yaitu bagian atap dan dinding. Pada bagian tersebut pengontrolan
menjadi penting agar bentuk bukaan menjadi rata, artinya tidak banyak tonjolan
atau backbreak pada bagian dinding dan atap.

Permuka kerja suatu bukaan bawah tanah, misalnya pada pembuatan


terowong-an, dibagi ke dalam beberapa kelompok lubang yang sesuai dengan
fungsinya, yaitu cut hole, cut spreader hole, stoping hole, roof hole, wall hole dan
floor hole. Bentuk suatu terowongan terdiri bagian bawah yang disebut abutment
dan bagian atas dinamakan busur (arc).

Roof holesatau
back holes
Stoping holesatau
Tinggi helper holes atau
busur reliever holes
Wall holes
atau rib holes

Cut holes
Tinggi
abutment Cut spreader holes
atau raker holes
Floor holes atau
lifter holes

Kelompok lubang pada pemuka kerja suatu terowongan

Pola peledakan dengan burn cut pada suatu terowongan

14
Pola peledakan dengan wedge cut pada Pola peledakan dengan drag cut

pada suatu terowongan suatu terowongan

2.1.3 Geometri peledakan

Secara definisi geometri peledakan merupakan jarak, ukuran/dimensi dari lubang


ledak yang dibuat pada saat sebuah area pertambangan akan di ledakkan. Geometri
peledakan terdiri dari beberapa bagian, diantaranya adalah :
• Burden (B)
• Diameter lubang tembak
• Tinggi jenjang (L)
• Kedalaman lubang tembak (H)
• Subdrilling (J)
• Stemming (T)
• Spacing (S)
• Powder column (PC)

15
Arah Lubang Pemboran

Dalam menentukan pembuatan geometri peledakan, terdapat faktor-faktor yang


perlu dipertimbangkan, diantaranya adalah :

• Diameter lubang bor


• Ketinggian jenjang (bench hight)
• Burden dan spasing
• Struktur batuan

Fragmentasi
• Arah lemparan
• Kestabilan jenjang
• Perlindungan terhadap lingkungan sekitar
• Jenis bahan peledak yang akan digunakan, dan energi dari bahan peledak tersebut

16
• Burden (b)
Burden adalah jarak dari lubang bor ke free face (bidang bebas) yang terdekat
pada saat proses peledakan. Peledakan dengan jumlah baris (row) yang banyak,
tergantung penggunaan bentuk pola peledakan yang digunakan. Bila peledakan
digunakan delay detonator dari tiap-tiap baris delay yang berdekatan maka akan
menghasilkan free face yang baru.
Burden merupakan variabel yang sangat penting dan dalam mendesain
peledakan. Terdapat jarak maksimum burden sehingga proses peledakan bisa
dinyatakan berhasil, seperti pada gambar 2.2, yang memberikan ilustrasi efek variasi
jarak dengan jumlah bahan peledak formasi yang sama.

(a). B = 15’ (b). B = 12’ (c). B = 9’ (d). B = 8’ (e). B = 3’


Surface and
Completetely subsurface Full Crater, Full Crater,
Start of
contained, only faillure almost burden com- lower vo-lume
surface
failure is pulveri- meet. There will pletely broken than optimum
faillure.
sation near the be a shell of out. Surface fine
Burden not
charge and unbroken rock and subsurface fragmentation.
broken. Some
radial tensile between the faillures run Noise, flyrock,
doming of the
failure running two. Domming through to the bowl shaped
surface.
out from it. or surface surface. crater.
buiging.

Schematic Efek Jarak Burden

Terdapat beberapa persamaan untuk menentukan burden, diantaranya adalah :

B = 25 – 40 d

Keterangan : B = Burden (mm)


d = Diamater Lubang Bor (mm)

B = 25 – 40 d

17
Keterangan : B = Burden (ft)
Sge = Spesific Gravity Bahan Peledak
De = Diameter Bahan Peledak (in)

SGr = Spesific Gravity Batuan

• Spasi (S)
Spasi adalah jarak antara lubang bor yang dirangkai dalam satu baris (row) dan
diukur sejajar terhadap “pit wall”. Biasanya spasi tergantung pada burden, kedalaman
lubang bor, letak primer, waktu tunda dan arah struktur bidang batuan.

Untuk material (batuan) yang homogen B = S, sedangkan untuk struktur batuan


yang kompleks, misalnya orientasi joint sejajar dengan jenjang maka burden dapat
dirapatkan dan spasi dapat dijarangkan. Bila orientasi joint tegak lurus jenjang maka
burden dapat dijarangkan dan spasi agak dirapatkan. Spasi merupakan fungsi dari pada
burden dan dihitung setelah burden ditetapkan terlebih dahulu. Secara teoritis,
optimum spasi (S) berkisar antar 1,1 – 1,4 burden (B) atau :

S = 1,1 – 1,8 B
Keterangan : S = Spasi

B = Burden

Jika spasi lebih kecil dari pada burden cenderung mengakibatkan steaming
ejection yang lebih dini. Akibatnya gas hasil ledakan dihamburkan ke atmosfer
dibarengi dengan noise dan air blast. Sebaliknya jika spacing terlalu besar diantara
lubang tembak fragmentasi yang dihasilkan tidak sempurna.

• Stemming (T)
Stemming atau disebut juga collar, adalah isian akhir dari suatu lubang ledak
(untuk menutup lubang ledak), harga stemming ini sangat menentukan stress balance
dalam lubang bor, fungsi lain adalah untuk mengurung gas yang timbul.

18
Untuk mendapatkan stress balance yang tepat maka harga stemming sama
dengan burden. Pada batuan kompak, jika perbandingan antara stemming dan burden
kurang dari satu maka akan terjadi cratering atau back break, terutama pada collar
proming. Biasanya harga standar tang dipakai adalah 0,70 dan ini sudah cukup untuk
mengontrol air blast dan stress balance. Dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

S = (0,7 – 1) X B
Keterangan : S = Spasi

B = Burden

• Subdrilling (J)
Subdrilling adalah bagian dari kolom lubang ledak yang terletak dibagian dasar
jenjang yang dimaksud untuk menghindari terjadinya toe atau tonjolan pada lantai,
karena dibagian ini merupakan tempat yang paling sukar diledakkan, dengan demikian,
gelombang ledak yang ditimbulkan pada lantai dasar jenjang akan bekerja secara
maksimum. Pada lantai jenjang setelah peledakan. Juga dapat didefinisikan sebagai
tambahan kedalaman dari pada lubang bor dibawah rencana lantai jenjang.
Jika subdrilling berlebih akan menghasilkan excessive ground vibration. Dan jika
subdrilling tidak cukup dapat mengakibatkan problem tonjolan pada lantai (toe).
Secara praktis subdrilling (J) dibuat antara 20 – 40% burden (B), sehingga dapat
dirumuskan :

J = (0,2 – 0,4) X B

• Tinggi Jenjang (L)


Kedalaman lubang bor tidak boleh lebih kecil daripada burden. Hal ini untuk
menghindari terjadi atau cratering. Secara spesifik tinggi jenjang maksimum
ditentukan oleh peralatan lubang bor dan alat muat yang tersedia. Ketinggian jenjang
disesuaikan dengan kemampuan alat bor dan diameter lubang. Lebih tepatnya,
jenjang yang rendah dipakai diameter lubang kecil, sedangkan diameter bor besar
untuk jenjang yang tinggi, seperti pada gambar 2.3 menggambarkan beberapa faktor
untuk menentukan tinggi jenjang sehubungan dengan diameter lubang bor.

19
Hubungan Diameter Lubang Bor dengan Ketinggian Jenjang

Secara praktis hubungan diantara lubang bor dengan ketinggian jenjang dapat
dirumuskan sebagai berikut :

K = 0,1 – 0,2 d

K = Tinggi Jenjang (m)

d = diameter Lubang Bor (mm)

• Diameter Lubang Bor


Diameter lubang tembak yang biasanya dipilih disesuaikan dengan sifat-sifat fisik
batuan yang akan diledakkan. Apabila batuan yang akan diledakkan sukar pecahmaka
penggunaan diameter lubang tembak yang kecil akan dapat menghasilkan energi
peledakan yang lebih baik.

Pemilihan diameter lubang bor tergantung pada tingkat produksi yang diinginkan.
Dengan lubang bor yang lebih besar, lebih besar pula tingkat produksi yang dihasilkan.
Untuk kontrol desain dengan hasil fragmentasi yang bagus, menurut pengalaman,
diameter lubang bor harus berkisar antar 0,5 – 1% dari tinggi jenjang.

d = 5 – 10 K

Dimana : d = diameter lubang bor (mm)

20
K = tinggi jenjang (m)

Pemakaian lubang bor kecil pada kondisi batuan yang banyak terdapat joint akan
menghasilkan fragmentasi yang baik dari pada lubang bor yang besar. Pada permukaan
tiap-tiap joint terdapat reflaksi gelombang ledak yang dihasilkan oleh proses
peledakan, karena bisa berfungsi sebagai free face.

Efek Joint pada Fragmentasi bila Menggunakan Diameter Lubang Bor Besar dan Kecil
(atas – bawah). Daerah yang diarsir menunjukan fragmentasi kurang (insufficient
fragmentation

2.1.4 Hasil peledakaan

[Link] batuan

Fragmentasi batuan merupakaan ukuran setiap bongkah batuaan hasil


[Link] fragmentasi direncanakaan sesuai kebutuhaan pada proses
selanjutnya,misalnya untuk ukuraan fragmentasi yang besar biasana digunakaan
sebagai penghalang di tepi jalan tambang,namun biasanya fragmentasi yang umum
diinginkan adalah berukuraan kecil sebab penangaanan nya lebih mudah .

[Link] Fragmen Batuan

Ukuran fragmen batuan merupakaan salah satu paramenter yang mempengaruhi


efesiensi alat muat,alat gali dan proses [Link] yang terlalu besar
membutuhkan proses secondary blasting sedangkaan yang terlalu halus dapat
meyebabkan mudahnya pengaliran material tanpa harus proses crushing sehingga

21
menyebabkan choke pada secondary sircut yang mempengaruhi keekonomisan pada
efisiensi processing.

Ukuran fragmentasi diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu

• Oversize merupakan ukuran ukuran batuan yang relatif besar(melebih standart


yang ditentukaan) atau sering di sebut sebagai boulder yang membutuhkaan
pemecahaan sekunder sebelum dilakukaan penanganan selanjutnya.
• Fine merupakaan ukuraan partikel yang sulit ditangani dengan proses kimia
misalnya menggunakaan proses fiotasi
• Medium merupakaan ukuran fragmentasi yang signifikan bernilai ekonomis
namun tidak terlalu penting sebagai syarat fragmentasi

Fragmentasi batuan yang terbentuk dari hasil suatu kegiatan peledakaan dapat
berasal dari:

1. Pecahaan yang terbentuk dari rekahaan batuaan yang disebabkaan oleh


proses detonasi bahan peledak
2. Rekahaan atau blok batuan yang terdorong oleh energy peledakaan
3. Kombinasi dari rekahaan akibat kegiataan peledakaan dan rekahaan alami

C. Mekanisme Fragmentasi batuaan

Beberapa proses dalam dalam mekanisme fragmentasi batuaan adalah sebagai berikut

1. Gelombang tekan dan tekanan gas berperan penting dalam fragmentasi


batuan akibat peledakaan
2. Pembentukaan rekahaan radial pada dinding lubang ledak merupakaan
pengkondisiaan awal akibat gelombang tekanan
3. Pengembangan gas dari detonator bahan peledak menekan rekahaan radial
untuk terus berekspansi
4. Dalam kondisi tegang rekahaan yang ada akan terus berkembang

22
2.2 Software orica

Perangkat lunak SHOTPlus™5 dari Orica memungkinkan para insinyur dan juru
ledak (shotfirer) untuk mendesain, menganalisis dan mengoptimalkan urutan inisiasi
peledakan pada tambang terbuka, tambang kuari dan konstruksi. Program ini memuat
kemampuan desain inisiasi peledakan yang ekstensif yang mendukung semua sistem
inisialisasi dan sistem peledakan elektronik Orica. Generasi kelima teknologi
SHOTPlus™ dari Orica ini memungkinkan Anda membuat desain dan berbagai laporan,
mensimulasi urutan peledakan dan pengecekan desain untuk hasil yang optimal. Anda
juga dapat memaksimalkan efisiensi proses desain peledakan Anda dengan
menyimpan aturan desain sebagai template untuk digunakan kembali pada peledakan
selanjutnya.

23
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAAN

3.1 Toturial Penggunaan Aplikasi Shoutplus

[Link] aplikasi shoutplus

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] Menu “file”, kemudian pilih “New”

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] form “new plan header information”

Judul: mendesain peledakaan

Deskripsi:pola peledakan

24
Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] tools “Standard Pattern tool”

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] detail lubang tembak sesuai kondisi lapangan

• Panjang:12,0 M
• Beban(Burden):6,0 M
• Jarak(Spasi):6,0 M
• Jumlah baris:5
• Lubang di baris: 10
• Pengeboran(bor):Standar drill 140,0 mm

25
Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] mengedit loading

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] data mengedit loading seperti berikut ini

26
Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] tekan OK

[Link] untuk menepatkan hasil pola peledakaan

3.1.2 pola peledakaanV cut

1. Tampilan lubang ledak setelah mengisi loading dan geometri lubang ledak

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

27
[Link] menentukan rangkaian peledakan (surface delay) pilih tools “tie tool”

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] menentukan spesifikasi surface delay yang di pakai klik menambahkan produk

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

4. pilih spesifikasi produk surface delay pilih “penundaan ditetapkan pengguna” masukan
delay (penundaan) 7,lalu klik ok.

5 .pilih lagi menambahkan produk,pilih “penundaan ditetapkan pengguna” masukan


delay (penundaan) 14,lalu klik ok.

28
[Link] lead-in tool, lalu tekan ok

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] lead-in tool di E5

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

29
[Link] lakukan perangkaian dari E5 Ke A5 menggunakan Tie tool yang
penundaan(delay) 14

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

9. lakukan perangkaian lagi dari E5 Ke E1,E5 ke E10,D5 ke D1,D5 ke D10,C5 ke C1,C5 ke


C10,B5 ke B1, B5 ke B10,A5 ke A1, A5 ke A10 menggunakan tie tool 7

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

3.1.3 pola peledakan corner cut

30
[Link] lubang ledak setelah mengisi loading dan geometri lubang ledak

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] menentukan rangkaian peledakan (surface delay) pilih tools “tie tool”

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

3. untuk menentukan spesifikasi surface delay yang di pakai klik menambahkan produk,
lalu pilih pilih spesifikasi produk surface delay, pilih “penundaan ditetapkan
pengguna” masukan delay (penundaan) 7,lalu klik ok.

31
Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

4. pilih lagi menambahkan produk,pilih “penundaan ditetapkan pengguna” masukan


delay(penundaan) 14,lalu klik ok

5. pilih lead-in tool, lalu tekan ok

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

32
[Link] lead-in tool di A6

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

[Link] lakukan perangkaian pola corner cut dari A6 ke A1 menggunakan tie tool
dengan penundaan 7

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

33
[Link] perangkain dari A5 ke C6, A4 ke C5,A3 ke C4,A2 ke C3,A1 ke C2 menggunkan tie
tool 14

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

3.2 Hasil peledakaan

3.2.1 Pola peledakaan v cut

[Link] Relief

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

34
B. Angle of Initiations

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

C .First Movement

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

35
3.2.2 Pola Peledakaan corner cut

[Link] Relief

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

B. Angle of Initiations

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 2022

36
C .First Movement

Sumber: Data hasil proyek Shotpuls 202

Hasil fragmentasi dari kegiatan peledakan yang baik atau sesuai dengan
ukuran yang diinginkan ialah yang ditunjukkan oleh Buden Relief yang berwarna
biru, menunjukkan distribusi peledakan yang merata untuk setiap lubang. Hal
tersebut tentu tak lepas dari perancangan geometri peledakan serta penentuan
pola peledakan yang tepat sehingga dapat membuat proses peledakan menjadi
maksimal dan efektif. Apabila terdapat hasil fragmentasi yang kurang baik dimana
disini ditunjukkan oleh warna selain biru, maka hal tersebut dapat dikarenakan
penentuan jarak spasi dan burden yang kurang tepat, serta pemasangan delay
pada lubang bor yang kurang tepat.

37
BAB IV

KESIMPULAN

Peledakan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting pada


kegiatan pertambangan, sehingga aturan-aturan peledakan harus diperhatikan
dimana hal tersebut sangat berkaitan dengan keberhasilan yang akan dicapai
pada kegiatan tersebut. Sekarang ini telah banyak software yang dikhususkan
untuk perancangan model peledakan, salah satunya ialah ShotPlus yang
diluncurkan oleh Orica Limited. Model rancangan peledakan dapat dengan
mudah dibuat dengan software tersebut sehingga memungkinkan untuk
mengetahui hasil fragmentasi material sebelum dilakukanya kegiatan peledakan.
Perancangan model peledakan juga dapat diakukan dengan jenis bahan peledak
yang diinginkan seperti detonator nonel maupun ekektronik, yang perbedaannya
hanya terdapat pada penggunaan fungsi connecting wire untuk nonel, sehingga
perangkaiannya pun dapat dibuat sedemikian rupa mengikuti pola-pola yang
telah ada pada kegiatan pengeboran maupun pola peledakan. Adapun manfaat
dari perancangan model peledakan menggunakan software adalah dapat
menentukan serta mengetahui model peledakan yang benar sehingga didapatkan
hasil fragmentasi yang diharapkan

38

Anda mungkin juga menyukai