Modul Terapi Modalitas Compiled
Modul Terapi Modalitas Compiled
MODUL TERAPI
MODALITAS
Disusun oleh:
Mahasiswa Magister Keperawatan Komunitas FIK-UI 2015
©2016
MILD YOGA
Lita Heni Kusumawardani
1506707253
1. Pengertian
Yoga merupakan suatu sarana untuk mencapai suatu tingkat di mana aktivitas tubuh,
pikiran, dan jiwa berfungsi bersama secara harmonis. Shindu (2013) menyatakan yoga
merupakan salah satu filsafat hidup yang dilatarbelakangi oleh ilmu
pengetahuan yang universal, yakni pengetahuan tentang seni pernafasan, anatomi tubuh
manusia, pengetahuan tentang bagaimana cara mengatur pernafasan yang disertai senam
atau gerak anggota badan, cara melatih konsentrasi, dan menyatukan pikiran.
Latihan yoga harus memperhatikan kemampuan individu dan keterbatasan indvidu seperti
faktor usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, keadaan fisik, dan kondisi emosional. Oleh
karena itu, salah satu jenis yoga adalah mild yoga. Mild yoga merupakan jenis yoga yang
dikhusukan untuk wanita yang sedang berada pada tahap kehamilan, menstruasi, lansia,
dan menopause yang bertujuan untuk mencapai kondisi yang sehat dan keseimbangan
mental (Snyder & Lindquist, 2010). Senam hamil yoga selama kehamilan dapat
meningkatkan berat badan lahir dan mengurangi kejadian prematur dan komplikasi
persalinan (Khalajzadeh, Masoumeh, & Mirfaizi, 2012).
2. Tujuan
Tujuan dilakukan mild yoga antara lain:
a. Melancarkan peredaran darah
Yoga melatih lebih rileks. Latihan rileksasi tersebut membantu sirkulasi darah,
khususnya di tangan dan kaki. Yoga juga membantu oksigen untuk masuk ke dalam
sel. Yoga baik untuk membawa darah ke organ-organ tubuh. Yoga juga
meningkatkan kadar hemoglobin dan sel darah merah yang membawa oksigen ke
jaringan (Posadzki, Cramer, Kuzdzal, Lee, Ernst, 2014).
b. Mencegah hipertensi
Yoga dan teknik relaksasi yoga memiliki efek positif pada tekanan darah. Yoga
merangsang penurunan aktivitas saraf simpatis dan peningkatan aktifitas saraf para
simpatis yang berpengaruh pada penurunan hormon adrenalin, norepinefrin dan
kotekolamin serta vasodilatasi pada pembuluh darah yang mengakibatkan transport
oksigen ke seluruh tubuh terutama otak lancar sehingga dapat menurunkan tekanan
darah dan nadi menjadi normal (Cahyono, 2013).
c. Mencegah penyakit jantung
Yoga dan perubahan gaya hidup bisa membantu menjaga jantung dan tubuh yang
sehat. Sebuah studi yang dilakukan pada orang-orang dengan penyakit arteri koroner
menunjukkan bahwa dengan memasukkan yoga kedalam rutinitas normal mereka,
serta perubahan gaya hidup dan pola makan yang sehat, kejadian penyakit arteri
koroner menurun (Posadzki, Cramer, Kuzdzal, Lee, Ernst, 2014).
d. Mencegah diabetes
Latihan yoga teratur juga dapat membantu mengendalikan diabetes. Latihan
pranayama seperti suryabhedi, ujjayi dan bhastrika juga telah diresepkan untuk
diabetes. Tes pada pasien diabetes menunjukkan hasil yang positif pada sebagian
besar orang yang telah menjalani semacam pelatihan yoga (Bonura, 2014).
e. Mencegah osteoartritis
Yoga juga baik untuk mengontrol nyeri muskuloskeletal, terutama osteoarthritis.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa berlatih yoga efektif membantu osteoarthritis
tangan. Pose yoga tertentu dapat berpengaruh positif untuk titik sendi dan titik stres
tubuh (Sujatha & Mohanraj, 2013). Yoga bisa meningkatkan pelumasan sendi,
ligamen, dan tendon, sehingga membuatnya menjadi fleksibel dan fungsional.
3. Indikasi
Indikasi melakukan yoga menurut Ram (2008) antara lain:
a. Pada prinsipnya yoga aman dilakukan selama kehamilan dan dapat dilakukan oleh
semua wanita hamil sejak usia kehamilan 18 minggu, tanpa riwayat komplikasi
selama kehamilan termasuk PJT, tidak memiliki riwayat persalinan preterm, dan
BBLR. Pada wanita dengan riwayat abortus boleh melakukan yoga setelah usia
diatas 20 minggu atau setelah dinyatakan kehamilannya baik (Pratignyo, 2014).
b. Memiliki riwayat hipertensi, DM, penyakit jantung, osteoartritis, dan asma
c. Mengalami stres/depresi
4. Kontraindikasi
Indikasi melakukan yoga menurut Pratignyo (2014) antara lain:
a. Nyeri dada persisten berkaitan dengan penyakit jantung
b. Suhu di atas 380C serta rasa pusing, mual, dan muntah yang berkelanjutan
c. Sebelum latihan tekanan darah sistolik > 180 mmHg dan diastolik > 120 mmHg,
frekuensi jantung >100x/menit
d. Gangguan penglihatan
e. Kram pada perut bagian bawah
f. Pembengkakan pada tangan dan kaki
g. Tremor pada ekstremitas atas maupun bawah
h. Hamil dengan penyakit jantung dan kehamilan dengan gerakan janin yang melemah
6. Proses
a. Persiapan
Persiapan alat
Yoga dilakukan dengan menggunakan pakaian yang nyaman dan longgar (tidak
menghalangi nafas dan gerak), tanpa menggunakan alas kaki, gunakan matras yoga
(lebih baik), namun bila tidak ada dapat dilakukan di atas karpet atau lantai kayu
(Pratignyo, 2014).
Persiapan klien
Klien tidak dianjurkan untuk makan atau minum sesaat sebelum latihan yoga. Klien
mengenakan pakaian yang longgar. Makan tidak kurang 1-3 jam sebelum dan hanya
minum sedikit air sebelum latihan dan bila memungkinkan jangan minum selama
latihan (Pratignyo, 2014). Lakukan yoga dalam keadaan tubuh bersih dan segar
(sangat baik dilakukan setelah mandi).
Tekanan darah :
Sebelum latihan sebaiknya tekanan darah sistolik < 180 mmHg dan diastolik <
120 mmHg,
Tidak terdapat tanda-tanda syok.
Apabila terdapat hal-hal tersebut di atas maka latihan harus ditunda atau
dihentikan terutama untuk latihan pertama kali
Frekuensi jantung sebelum latihan, tidak boleh >100x/menit
Persiapan lingkungan
Yoga sangat baik dilakukan pada pagi hari (saat udara masih terasa segar), pilihlah
tempat tenang dan nyaman, memiliki sirkulasi udara yang baik (lebih baik lagi di
alam terbuka), lakukan yoga pada waktu yang sama setiap hari (akan membuat
pikiran menjadi lebih mudah terpusat/konsentrasi), dapat juga memutar musik yang
lembut atau menyalakan lilin aromaterapi saat berlatih yoga (Pratignyo, 2014).
b. Pelaksanaan
Pemanasan
Sebelum memulai latihan yoga, terlebih dahulu melakukan pemanasan. Pemanasan
bertujuan untuk meningkatkan kelenturan otot dan sendi, sehingga gerakan yoga
akan mudah dilakukan. Pemanasan dilakukan untuk menghindari risiko cedera saat
berlatih. Gerakan pemanasan terdiri dari gerakan leher, leher dan bahu, bahu dan
seluruh tubuh. Gerakan pemanasan ringan dapat dilakukan seperti
Menengadahkan kepala ke atas dan ke bawah selama 10 kali
Menengok ke arah kanan dan kiri selama 10 kali
Memutar leher searah jarum jam dan berlawanan dengan jarum jam masing-
masing sebanyak 10 kali putaran
Memutar bahu kanan dan kiri masing-masing 10 kali
Melengkungkan tulang punggung ke arah kanan dan kiri, masing-masing
sebanyak 10 kali
Meregangkan pergelangan tangan, lutut dan jari-jari kaki
7. Evaluasi
Evaluasi latihan yoga, dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada klien,
bagaimana perasaan klien setelah mengikuti latihan yoga. Evaluasi ini dapat dilihat dari
respon verbal (klien mengatakan merasa lebih segar, lemas dan lelah berkurang, mudah
istirahat) dan non verbal klien (vital sign lebih stabil dan normal). Peningkatan daya
tahan tubuh akan mulai terasa bila klien melakukan latihan yoga secara teratur. Sesudah
latihan, tekanan darah sistolik tidak >200 mmHg dan diastolik tidak > 130 mmHg.
Sebaiknya tekanan sistolik tidak naik > 30 mmHg dari keadaan istirahat dan jangan turun
> 10 mmHg. Minum air yang banyak sesudah latihan (Pratignyo, 2014).
DAFTAR PUSTAKA
Bonura, K.B. (2014). Yoga mind while expecting. International Journal of Childbirth
education, 29, 49-56. doi: 10.1002/pon.3581
Cahyono, K.H. (2013). Pengaruh senam lansia terhadap kualitas tidur pada lansia di Desa
Leyangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten [Link]: STIKES Ngudi
Waluyo.
Khalajzadeh, M., Masoumeh & Mirfaizi, M. (2012). The effect of yoga on anxuety among
pregnant women in second and third trimester of pregnancy. scholar research library,
85-89. doi:10.1177/0269215513491586
Lundy, K., S and Janes, S. (2009). Community Health Nursing Caring for the Public’s
Health. Massachusetts: Jones and Bartlett Publishers, LLC
Mustian, Karen. (2014). Yoga as treatment for insomnia among cancer patients and
survivors: a systematic review. NIH Public Access: 21 Oktober 2014
Posadzki, P., Cramer, H., Kuzdzal, A., Lee, M.S., Ernst, E. (2014). Yoga for hypertension: A
systematic reviewof randomized clinical trials. Complementary Therapies in Medicine
22, [Link]://[Link]/10.1016/[Link].2014.03.00
Shamanthikamani, N., Raghuram, N., Sulochana, G., & Rau, N.H. (2005). Efficacy of yoga
on pregnancy outcome. The Journal of Alternative and Complementary Medicine, 11,
237-244.
Yoga dibagi dalam 9 jenis (cabang/aliran), antara lain : Jnana Yoga, Karma Yoga, Bhakti
Yoga, Yantra Yoga, Mantra Yoga, Tantra Yoga, Kundalini (Laya Yoga), Hatha Yoga,
dan Raja Yoga. Selain Hatha Yoga, yang lazim dilakukan hingga sekarang oleh sebagian
besar orang dari berbagai kalangan adalah 4 aliran yoga utama yaitu : Jnana Yoga
(penyatuan melalui ilmu pengetahuan), Karma Yoga (penyatuan melalui tidakan), Bakti
Yoga (penyatuan melalui pengabdian), Raja Yoga (penyatuan melalui meditasi), pada
hakikatnya dari setiap cabang itu akan dapat membantu seseorang memasukkan yoga ke
dalam kehidupannya dengan cara yang paling berarti. (Ranti, 2010). Menurut survei yang
dilakukan The Wall Street Journal dan NBC, pada 1998 ada 18 juta warga Amerika
Serikat yang menjadi praktisi yoga aktif. Jumlah yang terus berkembang hingga sekarang
(Annunaki, 2008).
Ranti (2010) dalam panduan Shidma Yoga menyatakan bahwa Hatha Yoga merupakan
system pelatihan Yoga yang menggunakan berbagai bentuk sikap tubuh (Asana) disertai
dengan teknik pernafasan (pranayama) untuk mencapai keseimbangan 2 kekuatan yang
ada di dalam tubuh. (tubuh bagian atas dan tubuh bagian bawah, tubuh bagian kiri dan
tubuh bagian kanan, tarikan napas dan hembusan napas, energi positif dan energi negatif).
Dengan berlatih hatha yoga secara teratur, maka kita akan terbebas dari stress tubuh,
pikiran negatif dan emosi. Juga akan memberikan dorongan pada keseimbangan hormonal
untuk perbaikan mental, spiritual dan kesehatan secara maksimal.
2. Tujuan
a. Meningkatkan fungsi kelenjar endokrin dalam tubuh,
b. Meningkatkan sirkulasi darah keseluruh tubuh dan otak (Mengurangi stress),
c. Membentuk postur trubuh yang lebih tegap, otot lebih lentur dan kuat,
d. Meningkatkan kapasitas paru-paru saat bernafas,
e. Membuang racun dari dalam tubuh,
f. Merenajakan sel tubuh dan menghambat penuaan,
g. Mengurangi ketegangan tubuh, fikiran dan mental,
h. Meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk berfikir positif,
i. Mengurangi nyeri saat haid.
3. Prosedur
a. Persiapan
Persiapan Alat
Yoga dilakukan dengan menggunakan pakaian yang nyaman dan longgar(tidak
menghalangi nafas dan gerak), tanpa alas kaki, lebih baik dilakukan diatas matras
yoga, karpet atau lantai kayu.
Persiapan Klien
Lepaskan perhiasan atau lensa kontak, kosongkan perut (tunggu 3 jam setelah makan
berat dan 2 jam setelah makan ringan, sebelum berlatih Yoga), lakukan Yoga dalam
keadaan tubuh bersih dan segar (sangat baik dilakukan setelah mandi).
Persiapan Lingkungan
Yoga sangat baik dilakukan pada pagi hari atau subuh (saat udara masih terasa segar)
dan pada petang hari (saat menjelang atau sesudag matahari terbenam), lakukan Yoga
pada waktu dan ruang yang sama setiap hari (akan membuat pikiran menjadi lebih
mudah terpusat, ruangharus cukup hangat dan mamiliki fentilasi baik, dapat juga
memutar music yang lembut atau menyalakan lilin aroma terapi saat berlatih Yoga.
b. Proses Pelaksanaan
Pernafasan
Pernafasan sangat dianjurkan dalam pelaksanaan Yoga, sebaiknya pengaturan nafas
dilakukan sebelum gerakan Yoga. Pernafasan bertujuan untuk meningkatkan
kelenturan otot dan sendi sehingga gerakan akan lebih mudah dilakukan. Pemanasan
menghindarkan resiko cidera saat ber4latih., lakukan gerakan pernafasan secara
perlahan sambil bernafas teratur. Yoga merupakan cara yang efektif untuki
mengembalikan keseimbangan tubuh dan fikiran. Latihan teknik relaksasi dasar untuk
mengembalikan rasa percaya diri anda. Teknik pernafasan ringan adalah, sebagai
berikut :
Menengadahkan kepala ke atas dan bawah selama beberapa kali,
Menengok ke kanan dan kiri selama beberapa kali,
Memutar kepala searah dengan jarum jam dan berlawanan dengan jarum jam,
Mengencangkan otot-otot bahu dan leher,
Memutar bahu,
Menggerakkan tulang punggung kearah kanan dan kiri.
Meregangkan pergelangan tangan, lutut dan jari-jari kaki.
5. Janu Sirsasana
Posisi kaki kiri ditekuk, kaki kanan diluruskan,
badan membungkuk dengan kedua tangan kearah
kaki kanan, sambil mencium lutut kanan,
dilakukan selama 2 menit.
6. Paschimottanasana
posisi kedua kaki lurus, badan membungkuk
mencium kedua lutut, tangan memegang kedua jari
kaki, dilakukan selama 2 menit.
7. Upavishta konasana
Posisi duduk dengan kedua kaki dibuka lebar,
tangan dan badan sujud kedepan, dilakukan selama
2 menit.
8. Bhujangasana
Posisi tengkurap dengan badan diangkat, kepala
ditengadahkan ke atas, tumpuan pada kedua
lengan tangan dilakukan selama 2 menit.
9. Marichyasana
Posisi duduk dengan kaki kiri diluruskan, kaki
kanan ditekuk dan dipegang tangan kiri, badan
memutar kearah belakang, dilakukan selama 2
menit.
10. Viparita karani mudra
posisi telentang, kedua kaki diangkat ke atas,
kedua tangan di atas kepala melingkar), dilakukan
selama 3 menit.
11. Savasana
posisi telentang, kedua kaki dibuka, kedua tangan
diletakkan di samping badan, posisi relak),
dilakukan selama 5-10 menit.
4. Evaluasi
Respon Verbal :
a. KIien menyatakan nyeri haid berkurang (ditinjau dari lama nyeri dan skala nyeri)
b. KIien menyatakan Stress menurun
c. KIien menyatakan Tubuh menjadi lebih segar
d. KIien menyatakan Percaya diri menjadi semakin meningkat
Respon Non Verbal :
a. Denyut nadi menurun
b. TTV lebih stabil dan normal
DAFTAR PUSTAKA
Shindu, P. (2006). Hidup Sehat dan Seimbang dengan Yoga. Qanita : Bandung
2. Tujuan
a. Menurunkan berat badan
Pijat perut tak hanya baik untuk perut, namun mampu memberikan hasil yang baik bagi
kesehatan tubuh secara menyeluruh. Pijat perut juga mampu membantu Anda
menurunkan berat badan dengan meningkatkan tingkat metabolisme dan
mempromosikan pencernaan. Ini sangat bermanfaat bagi mereka yang tengah
melakukan diet penurunan berat badan.
b. Meredakan kembung
Gangguan pencernaan bisa menjadi penyebab utama perut kembung. Dalam hal ini,
pijat perut dapat membantu proses pencernaan dan membuang gas yang terakumulasi di
dalam lambung.
c. Menyembuhkan susah BAB
Menurut sebuah studi, pijat perut memberikan rasa lega alami bagi mereka yang
memiliki masalah konstipasi dan sakit perut juga susah buang air besar.
d. Menghilangkan nyeri perut
Sakit perut yang sering dirasakan juga bisa sembuh dengan pijat perut. Itu karena pijat
akan membuat sirkulasi darah di area perut meningkat sehingga rasa nyeri pun
berangsur-angsur reda.
e. Meredakan stres dan lelah
Pijat perut tak hanya membantu Anda menjaga kesehatan perut, namun juga membuat
tubuh serta pikiran rileks sehingga stres dan rasa lelah pun hilang seketika.
3. Indikasi
Massage umumnya dianjurkan setelah bekerja berat karena samngat besar manfaatnya
dalam membantu mengembalikan tubuh dalam keadaan pulih. Massage membantu
menghilangkan kelelahan, biasanya dilakukan kepada seluruh tubuh dalam waktu yang
cukup lama kira-kira 1 jam, untuk massage obdomen diperlukan waktu sekitas 10-15
menit. Dalam dunia olahraga, massage telah menjadi sebagian upaya pemeliharaan kondisi
para olahragawan pada masa latihan, sebelum pertandingan, masa pertandingan dan
sesudah pertandingan.
4. Kontra Indikasi
Dalam keadaan tertentu massage tidak boleh dilakukan, biasanya menyangkut:
a. Suhu tubuh meningkat tinggi karena infeksi
b. Menderita penyakit yang berkenaan dengan pembuluh darah.
c. Mempunyai jenis penyakit syaraf
d. Menderita penyakit haemophilia
e. Menderita penyakit kulit yang dapat menyebabkan meluasnya infeksi kulit
f. Patah tulang yang baru sembuh
g. Menderita penyakit tumor atau kanker
h. Sedang datang bulan atau pada hamil muda
i. Peradangan usus buntu
j. Menderita tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan paru-paru.
5. Proses
a. Ruangan massage, dilengkapi dengan ventilasi yang baik tapi tidak terlalu berangin
dilengkapi dengan :
Bangku massage lengkap dengan kasur, bantal, guling besar dan kecil serta sprei.
Tempat ganti pakaian, tempat cuci tangan dengan sabun anti septic dan handuk.
Gunting kuku, alat P3K dan obat lain yang diperlukan.
Bahan pelicin : parafine oil, cfream massage atau bedak higienis.
b. Perlengkapan untuk pasien.
Handuk besar untuk menutup bagian badan yang tidak di massage.
Handuk kecil untuk pembersih tubuh selesai dimassage.
c. Tata tertib massage.
Sebelum massage, sprei dilipat ke bawah kasur, pasien ditidurkan di bangku setelah
lebih dulu dibersihkan dari debu dll. Massaeur mencuci tangan, dikeringkan dan
dihangatkan, kuku harus pendek dan tanpa perhiasan di tangan.
Selama massage, badan yang tidak dimassage harus ditutup dengan handuk besar
Selesai massage, bersihkan badan pasien dengan handuk kecil
pasien diberi waktu istirahat 10 - 15 menit.
6. Evaluasi
Catat respon dan kondisi pasien mulai dari apa yang dilihat, diraba, sebelum selama serta
sesudah pemijatan.
DAFTAR PUSTAKA
Sari, K., & Christiani, N. (2016). Musik dan masase dapat mengurangi nyeri persalinan kala I
ibu primigravida. Jurnal Keperawatan Soedirman, 10(3), 203-209.
Tasya, P. (2015). Lima Manfaat Pijat Perut. Diakses Minggu, 27 Maret 2016
[Link]
Wirya, I., & Sari, M. D. (2013). Pengaruh Pemberian Masase Punggung Dan Teknik
Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien Post
Appendiktomi Di Zaal C Rs Hkbp Balige Tahun 2011. Jurnal Keperawatan HKBP
Balige, 1(1).
MASASE
PUNGGUNG
Umi Hani
1506707846
1. Pengertian
Masase adalah proses menekan dari menggosok, atau memanipulasi otot-otot dan jaringan
lunak lain dari tubuh (Kushariyadi dan Setyohadi, 2011). Riset menunjukkan bahwa
masase punggung memiliki kemampuan untuk menghasilkan respon relaksasi (Gauthier,
1999 dalam Berman, 2009). Masase merupakan tindakan keperawatan dengan cara
memberikan masase pada klien dalam memenuhi kebutuhan rasa nyaman (nyeri) pada
daerah superficial atau pada otot/tulang punggung. Tindakan masase ini hanya untuk
membantu mengurangi rangsangan nyeri akibat terganggunya sirkulasi.
Masase dapat diartikan sebagai pijat yang telah disempurnakan dengan ilmu-ilmu tentang
tubuh manusia atau gerakan-gerakan tangan yang mekanis terhadap tubuh manusia dengan
mempergunakan bermacam-macam bentuk pegangan atau teknik. Masase punggung atau
sering diistilahkan effleurage merupakan teknik yang sejak dahulu digunakan dalam
keperawatan untuk meningkatkan relaksasi dan istirahat, yang mengkaitkan konsep body-
mind-spirit (Snyder dan Lindquist, 2010).
2. Tujuan
a. Meningkatkan relaksasi otot, mengurangi ketegangan otot, menstimulasi sirkulasi darah
pada kulit.
b. Backrub baik diberikan kepada klien yang bedrest, agar dapat meningkatkan suplai
darah ke daerah punggung.
3. Indikasi
a. Dianjurkan setelah bekerja berat karena sangat besar manfaatnya dalam membantu
mengembalikan tubuh dalam keadaan pulih. Masase membantu menghilangkan
kelelahan dengan segala gejala yang menyertainya, seperti rasa pegal, kaku, nyeri, atau
perasaan lemas. Masase biasanya dilakukan kepada seluruh tubuh dalam waktu yang
cukup lama, kira-kira satu jam.
b. Pekerjaan ringan tetapi terus menerus seperti misalnya terlalu lama duduk atau berdiri
atau dalam pekerjaan yang menimbulkan kelelahan dan kejenuhan. Dalam hal ini
kelelahan mungkin bersifat mental maupun fisik. Dalam hal ini, masase dapat
mengembalikan kenyamanan tubuh maupun perasaan.
c. Untuk merawat dan mengembalikan fungsi bagian badan setelah cedera, membantu
mempercepat proses penyembuhan. Seringkali masase diperlukan untuk misalnya
setelah sembuh dari operasi atau perawatan dari patah tulang. Masase dapat
mengembalikan fungsi-fungsi otot dan persendian yang biasanya mengalami kekakuan.
4. Kontraindikasi
a. Dalam keadaan kena infeksi penyakit menular seperti : cacar, campak, demam, liver,
dan lain-lain.
b. Suhu tubuh meningkat tinggi karena infeksi.
c. Dalam keadaan sakit berat sehingga memerlukan istirahat yang benar.
d. Menderita penyakit pembuluh darah seperti arterisclerosis, trombosis dan lain-lain.
e. Pada setiap jenis penyakit syaraf yang berat seperti penderita chorea dan neurathenia.
f. Menderita penyakit haemophilia, karena cenderung terjadi pendarahan, meskipun sebab
yang kurang jelas.
g. Menderita penyakit tertentu yang bila dimassage dapat menyebabkan meluasnya infeksi
seperti bisul, borok, dsb
h. Pembengkakkan akibat cedera yang masih baru yang menunjukkan adanya pendarahan
di dalam. Kapiler-kapiler yang tadinya pecah dan telah menutup dapat pecah kembali
bila dimassage. Juga pada luka yang belum sembuh atau baru sembuh.
i. Patah tulang yang baru sembuh. Masase dapat mengganggu letak sambungan.
j. Menderita penyakit tumor atau kanker.
k. Sedang datang bulan atau pada hamil muda, juga pada peradangan usus buntu
(appendicitis), gastroentiritis, colittis, batu empedu, dll.
l. Menderita tekanan darah tinggi, pendarahan otak, penyakit jantung dan paru-paru.
5. Komplikasi
Jika klien tidak mengetahui kulitnya sensitif terhadap lotion atau babyoil yang digunakan
dapat berisiko menimbulkan alergi.
6. Proses
a. Persiapan
Persiapan Diri
Siapkan handscoen
Kenakan apron jika dibutuhkan
Persiapan Alat
Minyak untuk masase atau body lotion. Minyak yang bagus yaitu minyak kelapa,
minyak biji anggur, minyak jojoba, atau minyak almon.
Handuk
Aroma atau musik jika diperlukan
Tensi
Persiapan tempat
Siapkan tempat pemijatan, baik berupa meja pijat, kursi, sofa, atau tempat tidur.
Pastikan tempat yang nyaman bagi klien juga memungkinan untuk pergerakan
perawat.
Sediakan aroma dan music sebagai aroma therapy dan music therapy jika
dibutuhkan.
Persiapan Klien
Sarankan klien menggunakan pakaian yang nyaman
Persilakan klien menempatkan diri di tempat tindakan.
Periksa tekanan darah dan nadi.
Buka bagian punggung (bagian tubuh yang dibutuhkan).
b. Pelaksanaan
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2. Cuci tangan
3. Tuangkan minyak pada tangan dan oleskan ke tubuh
4. Sebarkan minyak dengan gesekan memijat ringan yang
panjang dan merata. Gunakan seluruh bagian telapak
tangan, dan mulai memijat dari bagian bawah punggung
mengarah ke atas. Selalu pijat ke arah atas, menuju ke
jantung (sesuai arah aliran darah) kemudian secara
perlahan dorong tangan ke tepi punggung. Pertahankan
kontak dengan punggung tanpa memberikan tekanan
saat Anda menarik tangan kembali ke bawah. Ulangi
teknik ini selama 3-5 menit sambil menambah tekanan
dari ringan hingga sedang untuk memanaskan otot
punggung. Jangan lupa memijat bagian bahu dan leher.
DAFTAR PUSTAKA
Belland, Kethleen Hoerth & Wells, Marry Ann (1986). Clinical Nursing Prosedures.
California: Jones and Battlett Publisher
Snyder, Mariah, Lindquist, Ruth. (2010). Complementary & alternative therapies in nursing
6th ed. New York: Springer Publishing Company, LLC
TERAPI
AKUPRESUR
Niken Fitri Astuti
1506707486
1. Pengertian
Akupresur atau yang biasa dikenal dengan terapi totok/ tusuk jari adalah salah satu bentuk
fisioterapi dengan memberikan pemijatan dan stimulasi pada titik tertentu pada tubuh
(Fengge, 2012). Terapi akupresur ini merupakan pengembangan dari ilmu akupuntur,
sehingga pada prinsipnya metode terapi akupresur sama dengan akupuntur yang
membedakan terapi akupresur tidak menggunakan jarum dalam proses pengobatan. Proses
pengobatan dengan teknik akupresur menitik beratkan pada titik saraf di tubuh. Titik
akupresur terletak pada kedua telapak tangan dan telapak kaki. Dimana kedua telapak
tangan dan kaki kita terdapat titik akupresur untuk jntung, paru, mata, hati, kelenjar tiroid,
pankreas, sinus dan otak (Fengge, 2012).
2. Tujuan
Teknik pengobatan akupresur bertujuan untuk membangun kembali sel-sel dalam tubuh
yang melemah serta mampu membuat sistem pertahanan dan meregenerasi sel tubuh
(Fengge, 2012). Pengobatan akupresur ini tidak memerlukan makan obat-obatan, jamu
dan ramuan sebab dengan terapi akupresur sel-sel syaraf dalam tubuh diaktifkan sehingga
tubuh kita dapat memproduksi zat-zat tertentu yang berguna untuk ketahanan tubuh.
Sehingga bila ditambahkan obat-obat, yang terjadi adalah kelebihan dosis yang justru akan
mengakibatkan kerusakan organ terutama ginjal (Fengge, 2012).
3. Manfaat Akupresur
Akupresur terbukti bermanfaat untuk mencegah penyakit, penyembuhan penyakit,
rehabilitasi (pemulihan) dan meningkatkan daya tahan tubuh (Fengge, 2012).
Penamaan sistem meridian umum berdasarkan singkatan dari nama organ maupun sistem
meridian istimewa, yaitu:
Lung (LU) : Paru
Large Intestine (LI) : Usus Besar
Stomach (ST) : Lambung
Spleen (SP) : Limpa
Heart (HT) : Jantung
Small Intestine (SI) : Usus Kecil
Bladder (BL) : Kandung Kemih
Kidney (KI) : Ginjal
Pericardium (PC) : Selaput Jantung
San Jiao (SJ) : Tri Pemanas
Gall Bladder (GB) : Kandung Empedu
Liver (LR) : Hati
Consepsion Vessel / Ren (CV/ RN) : Meridian Konsepsi
Governoor Vessel / Du (GV/ DU) : Meridian Gubernur (Depkes, 2015)
6. Kontraindikasi
Akupresur merupakan terapi yang dapat dilakukan dengan mudah dan memiliki efek
samping minimal. Meskipun demikian, akupresur tidak boleh dilakukan pada bagian yang
luka, bengkak, tulang retak atau patah dan kulit yang terbakar (Sukanta, 2008).
Pijat bisa dilakukan setelah menemukan titik meridian yang tepat yaitu timbulnya reaksi
pada titik pijat berupa rasa nyeri, linu atau pegal. Dalam terapi akupresur pijatan bisa
dilakukan dengan menggunakan jari tangan (jempol dan jari telunjuk). Semua titik pijat
berpasangan kecuali untuk jalur meridian Ren dan Tu. Lama dan banyaknya tekanan
(pijatan) tergantung pada jenis pijatan. Pijatan untuk menguatkan (Yang) dapat dilakukan
dengan menggunakan 30 kali tekanan, untuk masing-masing titik dan pemutaran
pemijatannya searah jarum jam sedangkan pijatan yang berfungsi melemahkan (Yin) dapat
dilakukan 50 kali tekanan dan cara pemijatannya berlawanan arah jarum jam (Fengge,
2012).
8. Cara Pemeriksaan pada Terapi Akupresur
a. Pengamatan
Amati perubahan tubuh pasien yang tampak oleh kasat mata. Misalnya, ada
pembengkakan/luka dan perubahan warna kulit/rambut
b. Penciuman dan pendengaran
Penciuman dan pendengaran ini dilakukan untuk mengetahui kelainan bau yang
keluar atau dikeluarkan oleh tubuh pasien
c. Wawancara
Hal yang perlu ditanyakan adalah sebab penyakit, riwayat penyakit, keluhan yang
diderita, pengobatan yang pernah dijalankan, pola makan, BAB, BAK dan kebiasaan
tidur
d. Perabaan
Perabaan dilakukan dengan tangan pada daerah keluhan dan titik pijat atau indikator,
serta sifat nadi di pembuluh radikal
Setelah dilakukan pengumpulan data diagnostik dari hasil pemeriksaan barulah dibuat
kesimpulan atau biasa disebut diagnosa. Titik pijat, teknik perangsangan, jadwal
pengobatan dan saran bagi pasien dapat diambil dari hasil diagnosa tersebut.
GV 20 GB 20
Terletak di Puncak Kepala Terletak di Belakang Kepala, Dibawah
Tonjolan Tulang Tengkorak
GB 21 LI 4
Di Puncak Bahu, Pertengahan Antara Terletak pada Tonjolan Tertinggi Ketika
Tengkuk dan Pangkal Lengan Ibu Jari dan Telunjuk di Rapatkan
b. Mata Lelah
Titik yang ditekan adalah EX-HN 3, EX-HN 4, EX-HN 5, BL 2, SJ 23, dan ST 2
EX-HN 3 EX-HN 4
Terletak di garis tengah tubuh depan, Terletak di pertengahan alis di atas pupil
antara ke-dua pangkal alis mata
EX-HN5 BL
Terletak di lekukan tulang pelipis, sejajar Terletak di Pangkal Alis
dengan sudut mata luar
SJ 23 ST2
Terletak di ujung alis Terletak di bawah pupil mata pada
lingkar bawah tulang mata
LI SI 9
Terletak pada lekukan persendian bahu Terletak Satu Jari di atas ujung lipat
depan, ketika lengan diangkat ketiak belakang
SJ14 Terletak pada lekukan persendian
bahu belakang, ketika lengan diangkat
b. Nyeri Pergelangan Tangan/Sindroma Terowongan Karpal Titik yang ditekan adalah
PC7, PC 6 dan SJ 5
PC7 PC6
Terletak di pertengahan pergelangan Terletak pada 2 cun tulang (3jari) diatas
tangan bagian dalam pertengahan pergelangan tangan bagian
SJ5
Terletak pada 3 jari diatas punggung pergelangan tangan segaris jari tengah
3. Nyeri Pinggang
Titik yang ditekan adalah BL 23 dan BL 40.
BL 23 BL40
Terletak pada pinggang bagian belakang Terletak dipertengahan lipat lutut
sejajar dengan pusar, selebar 2 jari tangan
kesamping kiri dan kanan dari garis tengah
4. Nyeri Lutut
Titik yang ditekan adalah EX-LE 2, ST 35, BL 40 dan EX-LE 4. Titik EX-LE 2, ST
35 dan EX-LE 4 dapat ditekan bersamaan dengan mempergunakan ibu jari dan
telunjuk.
BL40
Terletak di pertengahan lipat lutut
5. Stress
Titik yang ditekan adalah Ll 4, HT 7, LR 3 dan ST 36.
HT 7
Terletak pada lekukan garis pergelangan tangan bagian dalam, segaris dengan jari kelingking
LR 3 ST 36
Terletak pada punggung kaki pada cekung Terletak 3 cun tulang (4jari) di bawah lutut
antara pertemuan tulang telapak kaki ibu ditepi luar tulang kering
jari dan jari ke-2
DAFTAR PUSTAKA
Fengge, A. (2012). Terapi Akupresur: Manfaat & Teknik Pengobatan. Yogyakarta : Crop
Circle Corp
4. Evaluasi :
Pasien diminta memberikan isyararat kalau dia sudah meraaskan santai pada semua otot
5. Terminasi
Hitung mundur dari 4 -1, htungan ke 4 pasien mulai mengerakan kaki, 3 lengan dan
tangan, htungan ke 2, kepala dan leher dan hitungan 1 pasien membuka mata, dan
meminta
DAFTAR PUSTKA
2. Tujuan
Tujuan utama dari terapi ini adalah untuk mempercepat aliran darah dan untuk
melancarkan darah yang "terjebak" dan yang tidak bermanfaat bagi tubuh. Bekam juga
berguna untuk mengeluarkan racun dari sirkulasi kulit dan kompartemen interstisial (Kim
et al, 2012). Pada terapi bekam, terdapat hubungan dari kulit dengan organ internal lainnya
seperti sistem limpa dan sistem imun.
a. Kulit
Merupakan organ terbesar pada tubuh kita, mengandung cairan, darah, saluran darah,
jaringan penghubung, otot, dan terdapat banyak saraf. Kulit juga merupakan organ
yang memiliki kontak pertama dengan dunia luar. Kulit menggambarkan kesehatan
tubuh, melindungi tubuh dari patogen eksternal, dan memiliki peran utama bagi
tubuh. Merupakan organ utama untuk merasakan sensasi, efektif untuk mengontrol
temperatur.
b. Sistem Limpa
Sistem ini membantu menyeimbangkan cairan pada tubuh dengan mengurangi
kelebihan cairan dari jaringan dan mengembalikannya ke sistem peredaran darah.
Selama menjalankan terap bekam, sistem perdarah darah dan limpa secara simultan
bekerja secara efisien. Mereka melakukan pengumpulan dan transportasi pada racun
dan memasukkannya ke sistem limpa untuk dihancurkan kemudian material yang
sudah bersih bersirkulasi untuk memberikan nutrisi kepada jaringan dan menaikkan
sistem pertahanan tubuh. “When energy flows, illness goes” ketika energi tersalurkan,
maka penyakit akan hilang, ini merupakan pepatah dari Cina. Bekam meregulasi
energi dan aliran darah, ini membantu mengeliminasi beberapa hal yang tidak
seimbang seperti panas, dingin, kelembapan. Bekam membuka pori-pori pada kulit
hal ini memungkinkan patogen melalui kulit. Tidak ada terapi lain yang efektif untuk
mengalirkan darah dan energi se-efisien dari bekam. Tujuan utama dari terapi ini
adalah menghilangkan penyebab ketidakharmonisan dari tubuh, memulihkan aliran
darah, energi dan carian hingga tercapai keseimbangan.
3. Efek Terapi
a. Kulit
Meningkatkan temperatur kulit
Meninngkatkan metabolisme jaringan kulit
Meningkatkan kerja kelenjar keringat
Meningkatkan sekresi garam dan ekskresi air
Menguatkan dan memperbarui kekuatan kulit
Meningkatkan resistensi kulit terhadap berbagai macam kondisi yang berbahaya
b. Otot
Stimulasi ekspansi pembuluh darah di otot dengan meningkatkan aliran darah
Memfasilitasi aliran limpa
c. Persendian
Meningkatkan alirann darah pada persendian
Meningkatkan sekresi cairan sinovial
d. Organ digesti
Menstimulasi organ target
Meningkatkan pergerakan peristaltik
Meningkatkan sekresi cairan digestif
e. Darah
Meningkatkan sirkulasi darah
Meningkatkan tekanan darah
Mempengaruhi komposisi dari darah: RBC, WBC dan pH
f. Sistem saraf
Stimulai saraf sensori pada kulit
Mempengaruhi ANS
4. Indikasi
Terdapat review dari Mahmoud, et al (2013) mengenai indikasi bekam diantaranya yaitu:
a. Nyeri muskuloskeletal (untuk mengekskresi substansi yang menyebabkan nyeri,
prostaglandin, mediator inflamasi dan sitokin) : Fibromyalgia, osteoartritis, nyeri
punggung dan lumbar, arthralgia, artritis, prolaps tulang lumbar, nyeri umum pada otot,
nyeri leher dan pudnak, Cervical spondylosis dan lumbar disc herniation, low back
pain, terkilir, kondisi setelah fraktur, Plantar fasciitis
b. Penyakit kardiovaskular (Untuk mengekskresi kelebihan cairan intravaskular, kelebihan
lemak, dan substansi patologik): hipertensi, iskemi miokradial dan aritmia,
Atherosclerosis, trombosis vaskular, hipotensi, edema
c. Penyakit gastrointestinal: gastritis, Irritable bowel syndrome, intoksikasi,
membersihkan darah dari zat racun),
d. Penyakit respirasi (untuk mengekskresi subtansi patologik dan meningkatkan pertahan
annatural): asma bronkial, mabuk perjalanan, tonsilitis, sinusitis, otitis media,
e. Penyakit autoimun (untuk mengekskresi kelebihan autoantibodii komplek, sitokin,
prostaglandin, substansi patologik, dan meningkatkan pertahanan natural): Rheumatoid
arthritis, Vitiligo, Thyroid autoimmunity (Grave’s disease and Hashimoto’s thyroiditis),
SLE, Multiple sclerosis, Goodpasture’s disease, Scleroderma, Addison’s disease, DM
tipe 2, anemia autoimun dan anemia pernisiosa
f. Kondisi metabolik (untuk mengekskresi metabolik, produk yang tidak bermanfaat,
substansi yang menyebabkan nyeri,prostaglandin dan substansi patologik): Gout,
disfungsi tiroid, kondisi ketidakseimbangan hormon, hiperlipidemi,
g. Infeksi ( untuk mengekskresi patogen, produk yang tidak bermanfaat, meningkatkan
pertahanan natural) : selulit, herpes zoster, hepatitis B dan C, kaki diabetes
h. Kondisi hematologikal: talasemia (untuk mengekskresi kelebihan zat besi dan sel yang
terfragmen), anemia (untuk mengekskresi kelebihan zat besi), hemolisis (untuk
mengekskresi hemoglobin bebas dan sel yang terfragmen)
i. Hal-hal lain (untuk mengekskresi substansi patogen dan meningkatkan pertahanan
natural) : kondisi kegagalan pertahanan tubuh, alopecia, sindrom kelelahan kronik,
glaucoma, nyeri disminore, kelainan ovulasi, gangguan metabolisme
5. Kontraindikasi
Banyak yang mengatakan bahwa prosedur dari bekam memiliki sedikit konsekuensi,
namun beberapa reaksi seperti respon psikolgikal saat pasien melihat darah secara
langsung keluar dari tubuhnya. Beberapa pasien ada yang mual, lemah, muntah, pada saat
pasien mengalami hal ini prosedur harus dihentikan dan pasien diharuskan untuk
beristirahat dengan berbaring dan minum air atau air yang manis. Namun ada beberapa hal
yang harus diperhatikan sebelum melakukan terapi bekam yaitu:
a. Bekam kering (dry cupping) tidak direkomendasikan pada usia dibawah 3 tahun
b. Bekam basah (wet cupping) dihindari pada anak usia dibawah 6 tahun
c. Bekam basah (wet cupping) harus dihindari pada pasien dengan usia lebih dari 65
tahun, namun bekam kering dapat dilakukan pada usia tua,
d. Jangan dilakukan pada wanita yang sedang menstruasi
e. Jangan dilakukan pada pasien yang memiliki ulserasi pada kulit, edema, atau pada area
kulit yang mengalami pelebaran pembuluh darah seperti varises
f. Pasien dengan demam tinggi dan mengalami penurunan kesadaran tidak boleh
dilakukan bekam
g. Bekam tidak boleh dilakukan pada bagian abdominal dan sakral pada wanita hamil
h. Bekam basah tidak boleh dilakukan pada payudara wanita, kecuali sangat diperlukan
i. Bekam pada leher atau pada tulang occipital sangat tidak disarankan, hal ini dapat
menyebabkan masalah pada penglihatan dan ingatan
j. Bekam pada kepala bagian depan tidak diperbolehkan, hal ini dapat menyebabkan
ketidakstabilan emosional
k. Pada pasien anemia harus sangat berhati-hari karena menyebabkan perdarahan serius
l. Tidak boleh dilakukan jika pasien dalam keadaan lemah, sangat haus/lapar, bingung,
alkoholik
6. Proses
a. Tipe terapi bekam
Terdapat 2 tipe utama dari bekam yaitu:
Bekam kering (dry cupping) : kulit secara langsung dilakukan penyedotan oleh
vakum pada cup.
Bekam basah (wet cupping) : Kulit secara langsung di insisi pada bagian
superfisial, sehingga darah dapat keluar pada bagian kulit yang dilakukan
penyedotan oleh vakum.
Kedua tipe tersebut sangat dianjurkan pasien untuk meningkatkan intake air terlebih
dahulu. Bekam kering selalu digunakan sebelum bekam basah
b. Metode bekam
Terdapat 10 metode pelaksanaan bekam yaitu:
1. Weak (light) cupping: dilakukan saat darah dan energi stagnan, dilakukan bekam
dengan tenaga yang rendan dan minimal, hanya menyebabkan kemerahan pada
kulit. Jenis ini dapat dilakukan pada pasien lansia, pada pasien anak.
2. Medium cupping : dapat dilakukan pada pasien anak, suction diletakkan pada kulit
dengan kekuatan yang rendah dan hanya menyebabkan kemerahan pada kulit.
3. Strong cupping: dengan tenaga yang kuat, kemerahan dapat hilang secara
sempurna dalam 15-20 hari
4. Moving cupping: bekam dengan teknik kuat lalu dipindah-pindahkan selama
bekam berlangsung, ini merupakan metode bekam yang paling sakit.
5. Light moving cupping: banyak digunakan pada pasien selulit, tenaga yang
dikeluarkan disini tidak banyak, kemudian digerakkan selama bekam berlangsung,
kemerahan dapat hilang antara 1-2 hari,
6. Needle cupping dan Moxa (hot needle) cupping: jarang dilakukan, metode ini
menggabungkan bekam dengan akupuntur. Cup diletakkan pada bagian yang
ditusukan jarum akupuntur.
7. Empty (flash) cupping: ini digunakan untuk menstimulasi aliran darah.
menggunakan metode medium hingga strong cupping dengan periode yang singkat
yaitu <30 detik, dapat diulangi 5-10 menit kemudian.
8. Full (bleeding/wet) cupping: ini merupakan metode yang paling sering digunakan,
metode ini sering dikombinasikan dengan metode strong cupping, setelah
melakukan strong cupping kemudian dilakukan inisisi superfisia. Tidak
direkomendasikan dilakukan lebih dari satu kali dalam sebulan dan tidak boleh
hingga mengeluarkan darah lebih dari 100 ml pada satu waktu.
9. Herbal cupping: metode ini menggunakan cup dari bambu, sebelumnya cup
dipanaskan dengan air yang telah dicampurkan dengan ramuan herbal yang
diresepkan, herbal akan meresap ke bambu, dan diharapkan akan disalurkan
kepada tubuh pasien
10. Water cupping : memasukkan air hangat pada 1/3 cup, lalu tutup dengan salah satu
telapak tangan lalu letakkan pada area yang akan dilakukan bekam. Biasanya pada
metode ini tidak akan menimbulkan bekas kemerahan
Gambar 1. Perbedaan tekanan kulit pada weak, medium dan strong cupping
c. Persiapan
Persiapan pasien:
Berikut beberapa yang harus dipersiapkan sebelum dimulainya terapi bekam:
Pada pasien dengan obesitas, untuk menghindari menipisnya darah (polycytaemia),
diperlukan berendam pada air hangat 1-2 jam sebelum bekam. Hal ini untuk
membantu stimulasi aliran darah ke kulit, dan membuat bekam lebih efektif.
Selama bekam tidak menggunakan pakaian, sehingga diharapkan temperatur udara
yang hangat dan nyaman
Pastikan pasien nyaman dan tidak sedang cemas
Jelaskan kepada pasien prosedur yang akan dilakukan, demonstrasikan pada lengan
Anda jika diperlukan
Untuk mencapai kontak yang baik dari cup ke kulit, sebaiknya aplikasikan minyak
yang cocok dioleskan pada area yang akan dituju.
Sebelum bekam, pasien disarankan untuk minum minuman yang bergizi
Tekanan dilakukan pada cup disesuaikan dengan kondisi pasien. Pada pasien yang
memiliki permukaan yang luas dan pada pasien yang memiliki kelebihan jaringan
lemak, tekanan akan ditingkatkan. Pasien yang lebih ramping akan mendapatkan
respon lebih cepat dibandingkan pasien dengan jaringan lemak yang lebih banyak
Bekam dapat dilakukan diiringi dengan pijat.
Persiapan alat
Berikut beberapa alat yang harus dipersiapkan sebelum melakukan bekam:
Cup/gelas bekam dan handpump (pompa), pisau bedah, skapel, sarung tangan, masker
wajah, mangkok/cawan, kassa, iodin, spiritus, kapas, minyak pijat, tempat sampah,
bengkok, meja, kursi, tensimeter.
Peralatan emergensi: tabung oksigen
d. Pelaksanaan
Pertama yang dilakukan adalah memilih lokasi bekam, kemudian memposisikan pasien
sesuai dengan kenyamanan pasien yang berhubungan dengan titik bekam yang akan
dilaksanakan. Setelah dua prosedur ini dilakukan, maka prosedur bekam dapat segera
dilaksanakan.
e. Pemilihan lokasi
Titik bekam pada lampiran
f. Posisi pasien
Jika akan melakukan bekam pada bagian belakang pasein maka posisi yang nyaman
adalah pronasi pada tempat tidur atau area yang rata; jika pada bagian perut, pronasi
merupakan posisi yang dianjurkan. Untuk wajah, kaki, dan bahu posisi duduk pada
kursi merupakan posisi yang dianjurkan. Pada lansia dengan asma atau pada pasien
dengan riwayat penyakit kardiovaskuler, posisi duduk harus selalu menjadi pilihan.
Gambar 3. Posisi pasien pada saat bekam
g. Proses bekam:
Vakum pada cup kaca atau cup dari plastik keras biasanya dibuat dengan cara yang
berbeda. Pada metode tradisional, cup dipanaskan menggunakan alkohol yang dituang
ke kapas, kemudian diletakkan segera di kulit. Oksigen akan terbakar kemudian vakum
akan membentuk "kunci" pada kulit. Peralatan ini dapat dengan mudah dipindahkan
dengan tangan.
Saat ini, terdapat pompa yang dihubungkan dengan cup dan suction dilakukan secara
manual. Berikut prosedur terapi bekam:
Bersihkan bagian yang akan dilakukan bekam
Setelah memilih cup dengan ukuran yang sesuai
Secara umum, cup diletakkan pada bagian yang rata pada tubuh (tidak ada rambut
atau bulu, tidak pada bagian tulang yang menonjol, dan relatif lebih tipis)
Jarak antara cup yang satu dengan yang lainnya yaitu 1-2 cm.
Pada bekam basah, lokasi diinsisi pada bagian superfisial dengan ujung pisau
(lancet). Biasanya tidak menimbulkan nyeri namun menimbulkan sensasi yang
biasa.
Kemudian cup diletakkan di kulit lalu dpompa. Tunggu hingga 20 hingga 100 ml
darah ada di cup, sesuai dengan ketebalan kulit yang diaplikasikan. Setelah itu,
perdarahan akan berhenti secara otomatis, sebagai mekanisme homeostatis.
Proses berlangsung sekitar 15 hingga 20 menit dari aplikasi cup
Perhatikan keselamatan pasien selama bekam berlangsung
Setelah selesai tindakan hal yang dilakukan adalah:
Setelah selesai tindakan berikan krim antiseptik pada bagian yang dilakukan insisi.
Penggunaan madu tidak selalu efektif seperti antiseptik, namun dapat membantu
untuk penyembuhan luka.
Pemberian minuman bernutrisi
Makanan padat sebaiknya dihindari dahulu setidaknya 3 jam setelah bekam
Tidak dianjurkan mandi setidaknya 12 jam setelah bekam
Setelah bekam berikut beberapa tanda yang harus diperhatikan:
a. Kemerahan pada kulit (eritema) akan hilang setelah beberapa minggu
b. Bekas insisi akan segera sembuh sesuai dengan proses penyembuhan luka
c. Terdapat tanda merah sebagai bagian dari proses penyembuhan luka
Cao H, Han M, Li X, et al. 2010. Clinical research evidence of cupping therapy in China: a
systematic literature review. BMC Complement Altern Med. 2010;10:70e80.
Cao H, Li X, Liu J. 2012. An updated review of the efficacy of cupping therapy. PLoS One.
2012;7:e31793.
Cao H, Li X, Yan X, et al. 2014. Cupping therapy for acute and chronic pain management: a
systematic review of randomized controlled trials. J Traditional Chin Med Sci.
2014;1:49e61.
Kim JI, Lee MS, Lee DH, Boddy K, Ernst E. 2011. Cupping for treating pain: a systematic
review. Evid Based Complement Altern Med. 2011:467014.
Kim TH, et al. 2012. Cupping for treating neck pain in video dis-play terminal (VDT) users:
a randomized controlled pilot trial.J Occup Health 2012;54(6):416—26.4
Lee MS, Kim JI, Ernst E. 2011. Is cupping an effective treatment? An overview of systematic
reviews. J Acupunct Meridian Stud. 2011;4:1e4.
Mahmoud HS, Abou-El-Naga M, Omar NAA, El-Ghazzawy HA, Fathy YM, et al. 2013.
Anatomical Sites for Practicing Wet Cupping Therapy (Al-Hijamah): In Light of
Modern Medicine and Prophetic Medicine. Altern Integ Med 2: 138.
doi:10.4172/2327-5162.1000138
S.M. El Sayed, H.S. Mahmoud, M.M.H. Nabo. 2013. Methods of wet cupping therapy (Al-
Hijamah): in light of modern medicine and prophetic medicine. Altern. Integr. Med. 2
(2013) 111, [Link]
Tagil SM, et al. 2014. Wet-cupping removes oxidants anddecreases oxidative stress.
Complementary Therapies in Medicine (2014) 22, 1032—1036
INHALASI
SEDERHANA
Noor Rochmah Ida Ayu Trisno Putri
1506707455
1. Pengertian
Terapi inhalasi merupakan salah satu proses memberikan obat secara langsung ke dalam
saluran nafas melalui penghisapan (Potter & Perry, 2005). Terapi inhalasi adalah teknik
memberikan obat dengan dosis tertentu untuk langsung menuju ke paru-paru, merupakan
teknik yang paking sederhana dan efektif (Ikawati, 2007). Menurut Wirjodiardjo,
inhalasi adalah bagian dari fisioterapi paru-paru dengan memberi obat sejenis aerosol
dalam bentuk uap secara langsung pada alat pernafasan menuju paru-paru, menggunakan
bahan dan cara yang sederhana, dilakukan dirumah atau dilingkungan keluarga.
Beberapa macam terapi inhalasi antaralain:
a. Metered dose inhaler (MDI) merupakan metode terbaik akan tetapi partikel yang
masuk mempunyai kecepatan tinggi dengan ukuran droplet besar sehingga dapat
menyebabkan deposisi obat di bagian orofaring.
b. Dry powder inhaler (DPI) digunakan untuk mengatasi kesulitan koordinasi dan tidak
menggunakan campuran propelan
c. Nebulizer digunakan pada kondisi
d. Inhalasi sederhana, inhalasi akan membuat proses kerja obat lebih cepat
dibandingkan penggunaan obat secara oral karena langsung menuju ke sistem
respirasi. Dosis obat yang digunakan relatif kecil dan tidak memiliki efek samping ke
anggota tubuh lain, partikel obat berukuran kurang lebih 2 – 5 mikron.
2. Tujuan
Terapi inhalasi sederhana mempunyai tujuan untuk melegakan pernafasan, mencegah
terjadinya peradangan, meredakan spasme brokus serta meningkatkan fungsi pernafasan
dan paru-paru. Sehingga terapi ini diharapkan dapat membuat klien merasa lebih relaks
dalam bernafas.
3. Indikasi
Terapi inhalasi dapat dimanfatkan bagi:
a. Klien dengan masalah pernafasan seperti pilek yang disertai dengan adanya lendir
yang berlebih, tanpa ada penyerta lain seperti demam dan tidak lebih dari 3 hari
b. Klien yang mengalami kesulitan dalam mengeluarkan sekret
c. Adanya asma karena bersihan jalan nafas tidak efektif
4. Kontraindikasi
a. Klien dengan riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap minyak tertentu
b. Klien yang sedang mengalami lesi atau perlukaan di wilayah facial/wajah
5. Tahap Persiapan
Sebelum dilakukan terapi ini, maka kaji terlebih dahulu perasaan dan keluhan yang
dialami oleh klien. Berikan lingkungan yang nyaman dan dapat membuat klien merasa
rileks. Petugas memberikan penjelasan terkait dengan proses yang akan dilakukan agar
klien mengerti dengan jelas terkait prosedur penatalaksanaan. Persiapan alat yang perlu
dilakukan adalah:
a. Baskom dengan ukuran sedang
b. Obat aromaterapi seperti minyak kayu putih, campuran kelopak bunga kering (herbal
populer seperti sage, thyme, chamomile, rosemary, pinus, oregano dan juniper yang
dikenal untuk mengobati ketidaknyamanan sinus).
c. Air panas
d. Handuk
e. Tissue
7. Evaluasi
Setelah tindakan dilakukan maka evaluasi perlu dilakukan diantaranya adalah:
a. Evaluasi respon klien terhadap intervensi yang telah dilakukan
b. Evaluasi tingkat kenyamanan klien setelah dilakukan tindakan
c. Perhatikan efek samping pada obat atau cairan yang telah digunakan
d. Evaluasi status pernafasan klien sebelum dan sesudah dilakukan terapi inhalasi
Terapi ini lebih mudah dilakukan dimana saja, dapat dilakukan oleh klien atau pun
keluarga secara mandiri, dan biaya yang digunakan lebih terjangkau. Terapi ini kurang
tepat untuk dilakukan pada balita karena uap air panas dapat menimbulkan resiko injury,
kecuali diberikan dengan pengawasan khusus. Metode ini dapat menjadi salah satu terapi
alternative pilihan yang dapat dilakukan untuk mengatasi keluhan sesak nafas pada anak
bahkan dewasa.
DAFTAR PUSTAKA
Potter, P.A. & Perry, A.G. 2005. Fundamentals of nursing : Concepts, process, and practice
4thed. Jakarta: EGC.
Rhoads, J. & Meeker, Bonnie J. (2008). Davis’s guide to clinical nursing skills. Philadelphia:
F.A. Davis.
RELAKSASI
BENSON
Eka Wisanti
1506707032
1. Pengertian
Benson & Proctor 2000 mendefinisikan bahwa relaksasi Benson merupakan
pengembangan metode respon relaksasi pernafasan dengan melibatkan faktor keyakinan
klien, yang dapat menciptakan suatu lingkungan internal sehingga dapat membantu klien
mencapai kondisi kesehatan dan kesejahtraan yang lebih tinggi (Purwanto, 2006).
Respon relaksasi adalah salah satu teknik meditasi sederhana untuk mengatasi tekanan
dan meraih ketenangan hidup. Sedangkan Chomaria (2009) mengatakan relaksasi
merupakan upaya pengurangan ketegangan sehingga orang yang mengalami stress
mampu beradaptasi dan mengendalikan stress yang dialami.
Teknik Relaksasi Benson merupakan teknik latihan nafas . Dengan latihan nafas yang
teratur dan dilakukan dengan benar, tubuh akan menjadi lebih rileks, menghilangkan
ketegangan saat mengalami stress dan bebas dari ancaman. Perasaan rileks akan
diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan Corticotropin Releasing Factor (CRF).
Selanjutnya CRF merangsang kelenjar pituitary untuk meningkatkan produksi
Proopioidmelanocortin (POMC) sehingga produksi enkephalin oleh medulla adrenal
meningkat. Kelenjar pituitary juga menghasilkan endorphin sebagai neurotransmitter
yang mempengaruhi suasana hati menjadi rileks. Meningkatnya enkephalin dan β
endorphin kebutuhan tidur akan terpenuhi dan lansia akan merasa lebih rileks dan
nyaman dalam tidurnya.
Teknik relaksasi merupakan metode utama yang digunakan untuk mengurangi stress.
Respon relaksasi Benson mengkkombinasikan meditasi dengan relaksasi. Selama
mengulang-ngulang kata/frase, sikap pasif merupakan hal yang essensial. Mekanisme
penurunan kadar gula darah dengan relaksasi Benson ini adalah adanya penurunan stress
fisik dan psikologis aan mmenurunkan epineprin, menurunkan kortisol, menurunkan
glukagon, dan menurunkan hormon tyroid. Proses ini akan menurunkan gula darah
(Brunner & Suddarth’s, 2000; Craven & Hirne, 2000).
2. Tujuan
Tujuan teknik relaksasi Benson adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara
pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, meningkatkan efesiensi batuk, mengurangi
stress baik stress fisik maupun emosional sehingga dapat membuat tubuh menjadi lebih
nyaman dan rileks serta mampu menurunkan kadar gula darah pada klien DM.
3. Indikasi
Menurut Benson (2000) terapi ini dapat digunakan untuk:
a. Menghilangkan kelelahan
b. Mengatasi kecemasan
c. Meredakan stress
d. Membantu tidur nyenyak
e. Menurunkan tekanan sistolik dan diastolik
f. Meringankan nyeri
4. Prosedur
a. Proses Persiapan
Pada persiapan awal lakukan pengkajian kepada klien terkait masalah tidur dan
penyebab klien susah untuk memulai tidur. Memang sulit untuk menghilangkan
gangguan pikiran atau kecemasan, karena itu tehnik ini memerlukan latihan,
dengan konsistensi dan berjalannya waktu, respon relaksasi bisa dicapai dengan
mudah.
Membuat jadwal waktu latihan relaksasi diantara rutinitas sehari – hari. Banyak
orang melakukan tehnik latihan pada waktu yang hampir bersamaan setiap
harinya misalnya, setelah lepas dari kesibukan orang akan memperoleh malam
yang rileks dan menyenangkan, tehnik relaksasi ini akan memberikan perubahan
setelah 1 sampai 3 minggu apabila dilakukan secara rutin.
Menggunakan baju yang longgar
Tidak diperkenankan memakai kacamata dan sepatu
b. Pelaksanaan
Klien dengan Gangguan Tidur
Ciptakan lingkungan yang sunyi dan bebas dari gangguan
Anjurkan klien berbaring dengan posisi yang nyaman
Anjurkan klien untuk menutup mata
Anjurkan klien untuk relaksasi semua otot secara dalam, mulai dari kaki dan
relaksasikan sampai wajah
Nafas melalui hidung, hembuskan nafas, sambil mengucap satu, tenangkan
pikiran. Nafas dalam…..hembuskan, dua, Nafas dalam……hembuskan dua.
Bernafaslah dengan mudah dan alami….hembuskan sampai tercipta ketenangan
dan rileks pada diri anda.
Ulangi 10 sampai 20 menit sampai anda tertidur.
c. Evaluasi
Klien dengan Gangguan Tidur
Mengevaluasi respon klien dalam melakukan terapi ini, dan anjurkan kepada klien
untuk menggunakan terapi ini serta jelaskan bahwa terapi ini akan memberikan
perubahan setelah dilakukan secara rutin selama 1minggu hingga 3 minggu.
Kontrak waktu terakait jadwal latihan berikutnya.
Klien dengan DM (Menurunkan Kadar Gula Darah)
1) Respon verbal
Klien mengatakan pikirannya menjadi rileks
Perasaanya lebih tenang
2) Respon non verbal
Klien nampak lebih rileks
Penurunan kadar gula darah
DAFTAR PUSTAKA
Aryana, K.O., & Novitasari, D. (2013). Pengaruh tehnik relaksasi benson terhadap penurunan
tingkat stres lansia di unit rehabilitas sosial Wening Wardoyo Ungaran. Jurnal
Keperawatan Jiwa. Volume 1, No. 2, November 2013; 186-195
Brunner & Suddarth’s. (2000). Medical surgical nursing (9th ed.). Philadelphia: Lippincott.
Casey, A., & Benson, H. (2006). The Harvard Medical School guide to lowering your blood
pressure. USA: McGraw Hill.
Craven, R.F., & Hirnle, C.J. (2003). Fundamental of nursing: Human health ang function
(4th ed.). Philadelphia: Lippincott.
Keliey, M. & Barret. (1999). Relaxation on diabetes mellitus. Charlotte: University of North
Carolina.
Sukarmin., & Himawan, R. (2015). Relaksasi benson untuk menurunkan tekanan darah
pasien hipertensi di rumah sakit daerah [Link] Volume 6 No. 2 Agustus 2015
86-93
TERAPI RENDAM
GARAM INGGRIS
Verra Widhi Astuti
1506707884
1. Pengertian
Garam Inggris merupakan campuran mineral yang terdiri dari magnesium sulfate
heptahydrate yang awalnya diambil dari air mineral musim semi di Epsom, Inggris. Air
ini mempunyai manfaat merelaksasi. Garam Inggris ini dikembangkan dan dibuat dalam
bentuk sintetis sejak tahun 1850. Sekarang ini garam Inggris banyak ditemukan di took-
toko farmasi tanpa resep dokter. Garam Inggris ini digunakan untuk terapi, baik untuk
mandi/rendam sebagian atau seluruh tubuh. Terapi rendam garam Inggris yaitu terapi
dengan cara merendam bagian tubuh atau seluruh tubuh dengan air hangat yang dicampur
dengan garam Inggris. Magnesium dan sulfat keduanya siap untuk diserap, tembus ke
kulit dan ke dalam aliran darah. Kulit merupakan lapisan yang mengambil mineral dan
menghilangkan recun setiap hari. Penggunaaan mineral yang kuat seperti garam Inggris
dalam bak mandi menciptakan sebuah proses yang dinamakan osmosis. Proses ini
menarik garam dan racun keluar tubuh serta membiarkan magnesium dan sulffat untuk
masuk ke dalam tubuh.
2. Tujuan
a. Memberikan efek relaksasi
b. Mengurangi rasa sakit setelah massage atau olahraga berat
c. Mengurangi inflamasi yang disebabkan oleh bengkak dan memar
3. Indikasi
a. Memar
b. Sprain atau kesleo pada fase subakut
c. Kesakitan setelah olahraga berat
d. Nervous tension
e. Nyeri arthritis
f. Detoksifikasi
4. Kontraindikasi
a. Penyakit kardiovaskuer seperti hipertensi
b. Dehidrasi
c. Luka terbuka atau luka bakar
b. Rendam Kaki:
Periksa bersama klien untuk memastikan tidak ada kontraindikasi untuk rendam
kaki dengan air garam Inggris.
Jelaskan pada klien manfaat terapi rendam garam Inggris pada kaki dan mintalah
persetujuan.
Letakkan bath mat di lantai depan tub dan handuk belakang dimana kepala akan
diletakkan klien
57
Mulailah mengisi air sampai menutup kaki atau
sekitar kedalaman 8 inchi, periksa suhu dengan
thermometer (98-104oF) dan masukkan garam
Inggris. Selama mandi, remas garam Inggris
untuk mendapatkan manfaat dari sari-sarinya
Mintalah klien untuk masuk ke tub dan
mengenakan pakaian atau duduk untuk
menjaga bagian tubuh atas tetap hangat.
Setelah 15-20 menit, keringkan dengan handuk
Beri lotion secara merata.
58
DAFTAR PUSTAKA
Sinclair, M. (2008). Modern hydrotherapy for the massage therapist. Philadelphia: Wolter
Kluwer│Lippincott Williams & Wilkins.
Jockers, D. (2013). The remarkable health benefits of Epsom salt bath. Diakses dari
[Link]
_detoxificatin_technique.html.
59
KOMPRES
HANGAT DAN
DINGIN
Ria Roswita
1506779063
60
7. Pengertian
Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau alat
yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian tubuh yang memerlukan. Jenis
kompres meliputi kompres hangat dan kompres dingin.
8. Tujuan Tindakan
Kompres Hangat
a. Memperlancar sirkulasi darah.
b. Mengurangi rasa sakit.
c. Memberi rasa hangat, nyaman, dna tenang pada klien.
d. Memperlancar pengeluaran eksudat.
e. Merangsang peristaltik usus.
Kompres Dingin
a. Menurunkan suhu tubuh.
b. Mencegah peradangan meluas.
c. Mengurangi kongesti.
d. Mengurangi perdarahan setempat.
e. Mengurangi rasa sakit pada suatu daerah setempat.
9. Indikasi
Kompres Hangat
a. Klien yang kedinginan (suhu tubuh rendah).
b. Klien dengan perut kembung.
c. Klien yang mempunyai penyakit peradangan, seperti radang persendian.
d. Spasme otot.
e. Adanya abses, hematoma.
Kompres Dingin
a. Klien dengan suhu tubuh yang tingggi
b. Klien dengan batuk atau muntah darah.
c. Pasca tonsillectomy
d. Radang, memar.
10. Kontraindikasi
Kompres Dingin
a. Sprain dan strain serta pasca trauma akut
b. Bursitis, Fibrositis, kapsulitis
Kompres Hangat
a. Gangguan sensibilitas
b. Buerger diseases
c. Gangguan peredaran darah arterial perifer
11. Komplikasi Tindakan
Menimbulkan perparahan penyakit yang dikontraindikasikan.
12. Alat – alat yang diperlukan
Kompres hangat basah
a. Kom berisi air hangat sesuai kebutuhan (34-37O C)
b. Bak steril berisi pinset dua buah, kasa beberapa potong, dengan ukuran sesuai
c. Kassa perban atau kain segitiga
61
d. Pengalas
e. Sarung tangan bersih
f. Bengkok dua buah (satu kosong, satu berisi larutan Lysol 3%)
Kompres hangat kering menggunakan buli-buli hangat
a. Buli-buli hangat dan sarungnya
b. Termos berisi air hangat
c. Termomerter air
d. Lap kerja
Kompres dingin basah dengan air biasa/ air es
a. Kom berisi air bias
b. Perlak pengalas.
c. Beberapa buah waslap/kain kasa dengan ukuran tertentu
d. Sampiran bila perlu
e. Selimut bila perlu
Kompres dingin kering dengan kirbat es (eskap)
a. Kirbat es/eskap dengan sarungnya
b. Kom berisi berisi potongan-potongan kecil es dan satu sendok teh garam agar es
tidak cepat mencair
c. Air dalam kom
d. Lap kerja
e. Perlak pengalas
62
14. Hal- hal yang harus diperhatikan pada kompres hangat dan dingin
a. Kompres hangat basah
Kain kasa harus diganti pada waktunya dan suhu kompres di pertahankan tetap
hangat
Cairan jangan terlalu panas, hindarkan agar kulit jangan sampai kulit terbakar
Kain kompres harus lebih besar dari pada area yang akan dikompres
Untuk kompres hangat pada luka terbuka, peralatan harus steril. Pada luka
tertutup seperti memar atau bengkak, peralatan tidak perlu steril karena yang
penting bersih.
b. Kompres hangat kering menggunakan buli-buli hangat
Buli-buli hangat tidak boleh diberikan pada klien pendarahan
Pemakaian buli-buli hangat pada bagian bdomen, tutup buli-buli mengarah ke
atas atau ke samping
Pada bagian kaki, tutup buli-buli mengarah ke bawah atau ke samping
Buli-buli harus di periksa dulu atau tidak cicin karet pada penutupnya.
c. Kompres dingin basah dengan air biasa/ air es
Bila suhu tubuh 39oc/lebih, tempat kompres dilipat paha dan ketiak
Pada pemberian kompres dilipat paha, selimut diangkat dan dipasang busur
selimut di atas dada dan perut klien agar seprei atas tidak basah.
d. Kompres dingin kering dengan kirbat es (eskap)
Bila klien kedinginan atau sianosis, kirbat es harus segera di angkat
Selama pemberian kirbat es, perhatikan kult klien terhadap keberadaan iritasi dan
lain-lain
Pemberian kirbat es untuk menurukan suhu tubuh, maka suhu tubuh harus
dikontrol setiap 30-60 [Link] suhu sudah turun kompres di hentikan
Bila tidak ada kirbat es biasa menggunakan kantong plastik
Bila es dalam kirbat es sudah mencair harus segera diganti (bila perlu).
63
j. Bila klien menoleransi kompres hangat tersebut, lalu ditutup/ dialpisi dengan kasa
kering. Selanjutnya dibalut dengan kasa perban atau kasa segitiga.
k. Lakukan selama 15-30 menit atau sesuai program dengan anti balutan kompres
tiap 5 menit.
l. Lepaskan sarung tangan.
m. Atur kembali klien pada posisi yang nyaman.
n. Bereskan semua alat.
o. Cuci tangan.
p. Dokumentasikan.
Kompres dingin
Kompres dingin basah dengan air biasa/ air es
a. Kom berisi air bias
b. Dekatkan alat-alat ke klien
c. Pasang sampiran bila perlu
d. Cuci tngan
e. Pasang pengalas pada area yang akan dikompres
f. Masukkan waslap/kain kasa kedalam air biasa atau air es lalu diperas sampai
lembab
64
g. Letakkan waslap/kain kasa tersebut pada area yang akan dikompres
h. Ganti waslap/kain kasa tiap kali dengan waslap/kain kasa yang sudah terendam
dalam air biasa atau air es.
i. Diulang-ulang sampai suhu tubuh turun
j. Rapikan klien dan bereskan alat-alat bila prasat ini sudah selesai
k. Cuci tangan
l. Dokumentasikan
Kompres dingin kering dengan kirbat es (eskap)
a. Kirbat es/eskap dengan sarungnya
b. Bawa alat-alat ke dekat klien
c. Cuci tangan
d. Masukkan batnan es ke dalam kom air supaya pinggir es tidak tajam
e. Isi kirbat es dengan potongan es sebanyak kurang lebih setengah bagian dari kirbat
tersebut
f. Keluarkan udara dari eskap dengan melipat bagian yang kosong, lalu di tutup rapat
g. Periksa skap, adakah kebocoran atau tidak
h. Keringkan eskap dengan lap, lalu masukkan ke dalam sarungnya
i. Buka area yang akan di kompres dan atur yang nyaman pada klien
j. Pasang perlak pengalas pada bagian tubuh yang akan di kompres
k. Letakkan eskap pada bagian yang memerlukan kompres
l. Kaji keadaan kulit setiap 20 menit terhadap nyeri, mati rasa, dan suhu tubuh
m. Angkat eskap bila sudah selesai
n. Atur posisi klien kembali pada posisi yang nyaman
o. Bereskan alat setelah selesai melakukan prasat ini
p. Cuci tangan
q. Dokumentasikan
DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. (2008). Teknik prosedural keperawatan: Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
DeLaune, S.C. & Ladner, P.K. (2002). Fundamentals of nursing: Standards & practice.
USA: Delmar
65
FOOD COMBINING
Rohayati
1506707625
66
1. Pengertian
Food combining adalah pola makan yang diselaraskan dengan mekanisme alamiah
tubuh manusia.
2. Tujuan/ Indikasi
a. Mempermudah pekerjaan sistem pencernaan sehingga pemakaian energi tubuh lebih
efisien dan tubuh menjadi sehat.
b. Menserasikan berat badan dan tinggi badan
3. Prosedur
a. Persiapan
Prinsip food combining sebenarnya tidak berbeda dengan pola makan gizi seimbang,
hanya saja menyesuaikan dengan siklus pencernaan tubuh manusia. Siklus tersebut
terbagi dalam tiga periode yaitu:
1) Siklus pencernaan
Siklus ini berlangsung pada pukul 12.00 – 20.00 Waktu ini merupakan saat yang
tepat untuk mengkonsumsi makanan padat karena pada periode ini tubuh
mencerna makanan secara aktif.
2) Siklus penyerapan
Siklus penyerapan dimulai pada pukul 20.00 – 04.00 WIB. Sebagian besar zat
makanan yang telah dicerna dibagikan ke seluruh tubuh. Pada saat ini sebaiknya
jangan banyak melakukan aktivitas dan tidak makan lagi, karena sel-sel tubuh
yang rusak digantikan pada periode ini.
3) Siklus pembuangan
Siklus ini adalah siklus terakhir yang terjadi pada pukul 04.00 -12.00 WIB.
Energi sangat banyak dikeluarkan pada periode ini. Sebaiknya menghindari
makan makanan padat pada periode ini dan cukup dengan meminum segelas
juice.
Ketiga periode tersebut bukan hanya memperhatikan kapan waktu makan, tetapi juga
keseimbangan asam dan basa (nilai pH makanan) yang dimakan. Berdasarkan
periode makan yang ada dan prinsip keseimbangan asam basa, maka dalam
melakukan food combining harus dipersiapkan pengelompokkan makanan yaitu:
1) Makanan pembentuk asam
Makanan ini berbentuk protein hewani seperti daging, lemak, minyak, produk
susu, biji-bijian, kacang tanah dan makanan mengandung ragi serta alkohol.
2) Makanan pembentuk basa
Buah-buahan, sayuran, kentang yang direbus dengan kulitnya, susu mentah,
kedelai, taoge, kacang-kacangan (kecuali kacang tanah).
3) Zat pati
Beras, jagung, sagu dan gandum, singkong, ketela dan sebagainya.
4) Protein
5) Sayuran
6) Kelompok netral
7) Buah-buahan
67
4. Pelaksanaan
Penyusunan menu dengan metode food combining adalah menyusun menu dengan serasi
yaitu:
a. Sebaiknya makanan pembentuk asam basa dimakan sekaligus sehingga akan tercapai
makanan yang sifatnya netral
b. Semua kelompok makanan yang ada pada tahapan persiapan dapat dimakan secara
bersamaan, kecuali kelompok pati dan protein tidak boleh dimakan secara bersamaan
c. Kombinasi protein dengan lemak
Unsur lemak berguna melambatkan laju pencernaan sehingga protein cukup waktu
untuk berinteraksi dengan asam lambung. Protein juga mengandung lemak sehingga
jika dikombinasi dengan lemak, maka makanan akan lebih lama berada dalam
lambung. Sebaiknya jika makan ayam, daging atau ikan secara dipanggang, direbus
atau dibakar, demikian juga dengan kacang-kacangan.
d. Pati dan lemak
Kombinasi pati dan lemak baik jika tidak ditambahkan lemak lagi. Karena pati juga
mengandung lemak walaupun sedikit sekali.
e. Lemak dan asam
Keduanya bisa disantap beriringan jika lemaknya rendah. Asam dapat melarutkan
lemak dan enzim pengurai lemak membutuhkan pH asam. Menambahkan asam pada
makanan berkadar lemak tinggi menyebabkan pH sangat asam dan menghambat
proses pencernaan.
f. Gula dan asam
Kedua makanan ini dapat dikombinasikan, contohnya yoghurt murni dan madu alam
murni, yoghurt murni dan buah manis. buah asam dan buah manis atau
g. Pati dan pati
Sekalipun makan nasi dan mie menurut metode ini cukup serasi asalkan tidak
h. Protein nabati dan protein nabati
Kombinasi yang serasi adalah antara dua jenis protein nabati, misalnya nasi merah
dengan tempe, sup dengan aneka biji-bijian.
5. Evaluasi
Berdasarkan kombinasi menu yang telah dijelaskan di atas, maka dalam sehari kita bisa
makan:
68
a. Satu menu protein dan sayuran dan satu menu buah-buahan
b. dua menu zat pati ditambah sayuran dan satu menu buah-buahan
c. dua menu buah-buahan dan satu menu zat pati plus sayuran
d. Satu menu protein dan sayuran plus dua menu buah-buahan
e. Dua menu zat pati dan sayuran ditambah satu menu protein dan sayuran
f. Makan roti dengan telur dadar, nasi dengan ayam goreng, mie dengan bakso daging,
ikan bumbu acar, daging dengan kuah saus tomat. cabe isi buah manis, bubur
sumsum dengan kinca merah, roti dengan gula pasir, roti dan selai buah, daging dan
buah, puding setelah makan makanan tinggi protein, dadar telur dengan keju atau
daging dan daging ayam merupakan kombinasi yang tidak serasi.
g. Evaluasi respon verbal dan non verbal untuk tindakan food combining adalah:
1) Respon verbal
Klien mengatakan bahwa sudah mencoba melakukan metode food combining
Klien mengatakan sudah ada perubahan (penurunan) berat badannya selama
melakukan metode food combining
Klien mengatakan sudah makan sesuai dengan kombinasi menu yang serasi
Klien mengatakan berhenti makan makanan berat setiap hari sampai pukul
19.00 WIB
Klien mengatakan kalau pagi hanya makan buah-buahan
2) Respon non verbal
Berat badan klien turun
Menu makan klien kombinasi yang serasi
Lapisan lemak sub kutan berkurang
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Menu satu minggu. diunduh dari [Link] tanggal 26
Maret 2016 pukul 20.00
Lad, Vasant. (2016). Food Combining. Ayurvedic cooking for self healing. diunduh dari
[Link]
Lebang, Erikar. (2014). Food combining itu gampang. Mizan Publishing: Jakarta.
69
TERAPI STIMULASI KOGNITIF:
SENAM OTAK
Rasdiyanah
1506707556
70
1. Pengertian
Senam otak (Brain Gym) adalah bagian dari Educational-Kinesiology (Edu-K) yang
menekankan gerakan tubuh untuk menyelaraskan fungsi dan penggunaan otak. Dengan
kata lain, senam otak merupakan rangkaian gerakan yang akan merangsang aspek-aspek
tertentu dari otak dan membantu kerja sama belahan otak kanan dan otak kiri, sehingga
mengoptimalkan penggunaan seluruh bagian otak dalam proses belajar atau aktivitas
lainnya serta menyingkirkan hambatan-hambatan seperti stress.
2. Tujuan
Adapun tujuan dari gerakan-gerakan senam otak adalah untuk menghubungkan bagian
otak yang mengontrol emosi dengan bagian otak yang memproduksi logika dan
pemikiran sehingga otak menjadi relaks dan seimbang. Dan juga senam otak bertujuan
untuk membantu berbagai permasalahan yang dihadapi, meningkatkan kepercayaan diri,
serta memperbaiki konsentrasi dan koordinasi fisik.
3. Manfaat
Gerakan-gerakan yang menghasilkan stimulasi ini dapat meningkatkan kemampuan
kognitif seperti kewaspadaan, konsentrasi, kecepatan, persepsi, belajar, memori,
pemecahan masalah serta kreativitas. Manfaat senam otak untuk orang dewasa dan lansi
adalah :
a. Untuk mengurangi risiko stroke dan kepikungan.
b. Mengoptimalkan fungsi kinerja pancaindera
c. Menjaga kelenturan dan keseimbangan tubuh
d. Meningkatkan daya ingat dan pengulangan kembali terhadap huruf dan angka (dalam
waktu 10 minggu)
e. Meningkatkan ketajaman pendengaran dan penglihatan
f. Mengurangi kesalahan membaca, memori, dan kemampuan komprehensif pada
kelompok dengan gangguan bahasa sehingga mampu meningkatkan respon terhadap
rangsangan visual.
Senam otak juga memiliki banyak manfaat untuk perkembangan anak diantaranya:
a. Anak dapat belajar dengan nyaman dan tanpa stress
b. Waktu yang dibutuhkan untuk senam otak cukup singkat sehingga tidak akan
mengganggu proses belajar.
c. Praktik senam dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
d. Senam otak dapat digunakan untuk membantu semua situasi, baik dalam belajar
maupun dalam kehidupan sehari-hari
e. Senam otak pada gilirannya dapat meningkatkan kepercayaan diri anak.
f. Senam otak segera menunjukkan hasil dan sangat efektif untuk menangani anak yang
mengalami hambatan dalam belajar atau stres belajar.
4. Indikasi
Brain gym dapat dilakukan oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Brain gym
dapat dilakukan pada anak-anak usia sekolah yang mengalami kesulitan dalam menghapal
angka/numerik/matematika. Brain gym ini juga dapat dilakukan pada lansia yang
mengalami penurunan daya ingat atau demensia, juga pada lansia yang mengalami
penyakit Alzheimer.
71
5. Kontraindikasi
Terapi stimulus kognitif tidak cocok diberikan pada orang dengan dimensia akut akibat
masalah fisik dan psikis yag cukup kompleks sehingga tidak dimungkinkan mengikuti
terapi dengan 14 intervensi/sesi.
6. Persiapan
Berikut ini merupakan beberapa persiapan yang dilakukan sebelum memulai terapi:
a. Brain gym dapat digabung atau dihantarkan dengan musik yang menyenangkan,
berirama tenang atau disukai anak, sehingga membuat anak lebih rileks.
b. Membuat situasi ruangan yang menyenangkan dan nyaman untuk anak.
c. Gunakan baju yang nyaman untuk bergerak.
d. Karena tubuh kita 70% lebih mengandung air, maka minum air putih sebagai langkah
pendahuluan sangat disarankan.
7. Pelaksanaan
Terdapat gerakan-gerakan yang menghasilkan stimulasi yang dapat meningkatkan
kemampuan kognitif. Gerakan-gerakan tersebut adalah :
a. Thinking Cap (Pasang Telinga)
1) Langkah-langkah
Posisikan kepala tegak dan dagu lurus dengan posisi senyaman mungkin
Kemudian lakukan gerakan memijat daun telinga dengan ibu jari dan telunjuk
sambil menarik telinga ke luar.
Memijat daun telinga dari ujung atas kemudian menurun sepanjang lengkungan
daun telinga dan berakhir di cuping telinga.
Grakan ini di ulang sebanyak 3 kali.
2) Manfaat
Menstimulasi sensoris pendengaran yang berada di telinga bagian luar sehingga
anak menjadi lebih waspada terhadap stimulus suara atau perintah. Sehingga
meningkatkan konsentrasi saat melakukan tugas.
Menghantarkan rasa nyaman ke pusat telinga tengah sehingga anak lebih
mampu duduk tenang dan berkonsentrasi pada saat pusat keseimbangan stabil.
72
Setelah 30 detik, ganti lakukan hal yang sama dengan telinga kiri. Ulangi
gerakan hingga beberapa kali.
2) Manfaat
Mengaktifkan otak untuk kesiapsiagaan dan memusatkan perhatian, mengambil
keputusan, berkonsentrasi, dan pemikiran asosiatif.
73
d. Titik Positif
1) Langkah-langkah
Sentuhlah dua titik yang terdapat di dahi, kira-kira terletak di antara perbatasan
rambut dan alis
Kemudian anak dianjurkan memikirkan sesuatu yang membuatnya tegang,
misalnya beberapa hari kedepan akan dilakukan pengambilan nilai olah raga
berupa lompat jauh yang belum dikuasainya.
Anjurkan anak memejamkan mata dan instruksikan membayangkan ia
melakukan lompat jauh dan berhasil dengan baik. Lakukan gerakan ini selama
30-60 detik atau sampai ketegangan anak hilang dan me rasa nyaman.
2) Manfaat
Memberikan aura positif, membantu seseorang siap dalam tugas yang
membutuhkan konsentrasi, mengurangi beban dan tekanan secara psikologis,
menurunkan rasa gelisan dan kecemasan serta menimbulkan perasaan tenang.
74
f. Gerakan burung hantu (The owl)
1) Langkah-langkah
Memijat bahu kanan agar otot leher yang tegang menjadi relaks
Hadapkan kepala ke arah depan sambil menarik napas
Gerakkan kepala pelan-pelan ke arah kanan sambil menghembuskan napas
Gerakkan kepala kembali lurus ke depan sambil tarik napas
Gerakkan kepala pelan-pelan ke arah kiri sambil menghembuskan napas.
Setelah beberapa menit melakukan gerakan ini, ganti pijatan bahu kiri dan
ulangi langkah-langkah gerakan tersebut.
2) Manfaat
Membantu anak menurunkan ketegangan otot leher dan mulut, sehingga anak akan
lebih siap dalam mengeluarkan ujaran secara verbal, menghasilkan artikulasi yang
akan lebih jelas, dan bahkan lancar dalam mengungkapkan pendapat.
75
h. Luncuran Gravitasi (Gravity Glider)
1) Langkah-langkah
Duduklah di kursi sambil meluruskan kaki
Silangkan kaki kanan di atas kaki kiri
Bungkukkan badan ke depan
Menjulurkan tangan dan menundukkan kepala
Gerakkan tangan seperti gerakan menyembah dengan menjulurkan tangan ke
bawah dan depan. Angkat lengan dan tubuh bagian atas sambil menarik napas.
Mengulang gerakan tersebut sebanyak tiga kali kemudian ganti kaki.
2) Manfaat
Mengaktifkan otak untuk rasa keseimbangan dan koordinasi, meningkatkan
kemampuan mengorganisasi dan meningkatkan energi.
76
j. Gerakan Silang (Cross Crawl)
1) Langkah-langkah
Gerakkan saling silang yang dilakukan dengan menggerakkan tangan kanan
bersamaan dengan kaki kiri dan menggerakkan tangan kiri bersamaan dengan kaki
kanan. Seperti, gerakkan tangan kanan menyentuh lutut kiri dan sebaliknya tangan
kiri menyentuh lutut kanan.
2) Manfaat
Merangsang bagian otak yang menerima informasi dan bagian yang
mengungkapkan informasi sehingga proses mempelajari hal-hal baru menjadi lebih
mudah, meningkatkan daya ingat, meningkatkan kesadaran keberadaan tubuh,
menghilangkan stress, menjernihkan pikiran, meningkatkan daya ingat dan daya
pikir, merangsang kelancaran cairan otak, meningkatkan koordinasi tubuh,
mempermudah belajar, menyeimbangkan emosi, melancarkan peredaran limfa,
mengatur tekanan darah, meningkatkan penglihatan, melancarkan pencernaan serta
meningkatkan skor IQ.
77
l. Memikirkan huruf ‘X’
1) Langkah-langkah
Melakukan gerakan membayangkan huruf ‘X’ di langit-langit ruangan atau
menggerakkan matanya membentuk huruf ‘X’.
2) Manfaat
Membantu proses transfer informasi yang melewati jembatan belahan otak kanan
dan kiri sehingga memperlancarkan proses berfikir dan bertindak yang
membutuhkan keterlibatan otak kanan dan otak kiri.
78
Kemudian, melakukan gerakan menggambar angka 8 tidur yang sama dengan
tangan kanan dan tangan kiri bersamaan. Dapat menggunakan spidol berbeda
warna untuk masing-masing tangan.
2) Manfaat
Membantu anak mengaktifkan belahan otak kanan-kiri dan ekstermitas sehingga
dapat melancarkan dalam melakukan gerakan dan berfikir yang melibatkan
integrasi otak kanan dan kiri.
79
ditulis di sisi kiri angka 8 tidur. Sementara huruf ‘b’ yang perutnya di kanan,
harus ditulis di sisi kanan angka 8 tidur.
2) Manfaat
Mampu memperbaiki koordinasi motorik halus, terutama yang berhubungan
dengan menulis dan menggambar.
8. Contoh Kasus
Verral anak usisa 7 tahun, kelas 2 SD, memiliki tulisan yang masih belum bagus dalam
hal keproporsionalan tulisan, kecepatan, dan kehalusannya masih kurang. Verral juga
tidak mampu menulis dikte dengan cepat, benar, dan bagus tulisannya.
80
KOLOM EVALUASI SENAM OTAK
PACE
- Positive
- Active
- Clear
- Energetic
PACE goal : “Verral mampu menulis dikte dengan benar”
Pre-Activity :
Menulis cerita yang dibacakan Ibu dengan benar
Learning Menu : Brain gym Writing and Listening
- double doodle
- alphabet 8’s
- lazy 8’S
- cross crawl
- thinking cap
Post-Activity :
Menulis cerita yang dibacakan oleh Ibu dengan benar
Celebrate the Goal :
Verrel mampu menulis dikte dengan bagus…. Horeee…..
81
DAFTAR PUSTAKA
Dennison, P.E & Dennison, G.E. (2006). Brain gym And Me. Jakarta : PT Grasindo.
Dennison, Paul. (2002). Buku Panduan Lengkap Brain gym . Jakarta : Gramedia.
Dennison, P. E. & Dennison, G. E. (2009). Brain gym Teacher’s Edition Revised. Jakarta:
PT Gramedia
Frieri, Liza. (2010). Effectiveness of Cognitive Stimulasi Therapy Groups for Individuals with
Dementia. University of Western Ontario : School of Communication Sciences and
Disorder.
82
REMINISCENCE
THERAPY
Utami. R
1506779100
83
1. Pengertian
Reminiscence therapy atau terapi kenangan merupakan salah satu instrumen terapeutik
penting untuk mengintervensi pasien lansia. Terapi kenangan didefinisikan sebagai
penggunaan kejadian, perasaam dan pemikiran tentang masa lalu untuk memfasilitasi
ketenangan, kesenangan, kualitas hidup, dan adaptasi terhadap situasi saat ini (Bulechek,
Butcher, & Dotcherman, 2013).
2. Tujuan
Tujuan dari terapi kenangan ini yaitu meningkatkan kestabilan emosional dan
memotivasi lansia untuk berbagi pengalaman dan kenangan.
3. Indikasi
Reminiscence therapy merupakan salah satu intervensi non-medik pada pasien lansia
dengan penurunan daya ingat seperti demensia pada tingkat ringan dan sedang. Terapi ini
juda dapat diaplikasikan pada pasien dengan depresi yang menunjukkan gejala kesepian,
penurunan kualitas hidup maupun harga harga diri, serta perubahan suasana hati (Wang,
2007). Perlu diperhatikan bahwa pasien yang mengikuti terapi paling tidak memiliki
penurunan fungsi kognitif ringan ke sedang dan mampu memperhatikan selama 5 menit.
4. Kontraindikasi
Selama proses terapi, perawat perlu memperhatikan beberapa kondisi dimana lansia tidak
disarankan untuk mengikuti terapi seperti: risiko bunuh diri, penggunaan obat dan
alkohol, penurunan kognitif yang signifikan (berat) dengan skor MMSE di bawah 24,
dan pada terapi berkelompok perlu diperhatikan lansia yang memiliki hambatan fisik
(Watt & Cappeliez, 2000).
5. Manfaat
Manfaat dari terapi ini diantaranya perasaan bahagia setelah sesi terapi bersama, selain
itu juga mampu meningkatkan daya ingat terhadap kejadian lampau (Gibson 2004 dalam
Melrose, 2010). Salah satu manfaat dari terapi ini yakni meningkatkan kesadaran diri
maupun komunikasi antar keluarga/penghuni lain sehingga mampu menguatkan
hubungan dan meningkatkan kesejahteraan seseorang. Chiang [Link] (2010) dalam
penelitiannya menyatakan bahwa terapi kenangan mampu meningkatkan kemampuan
lansia secara komprehensif, meredakan gejala depresi dan ketidakberdayaan,
meningkatkan harga diri dan kualitas hidup, serta secara umum meningkatkan
kesejahteraan psikologis.
6. Langkah Pelaksanaan
Langkah pelaksanaan dimulai dengan mengkondisikan ruangan dengan meletakan foto
dari masa lalu ataupun barang-barang yang ada zaman dulu. Selain itu, beberapa sumber
menjelaskan adanya perlengkapan reminiscence box yang berisikan paket informasi
dengan beberapa pernyataan yang bisa menjadi fokus topik pada kelompok terapi.
Teknik terapi dapat dilakukan pada kelompok terstruktur maupun tidak terstruktur dan
juga individu (Buchanan, 2002). Sesi terapi kenangan dilakukan selama 12 minggu
menurut Schweitzer dan Bruce (2008) dengan waktu 30-60 menit setiap sesinya ataupun
84
pada kelompok terstruktur yang dilakukan oleh Chiang selama 6 minggu. Berikut ini
merupakan langkah-langkah yang harus disiapkan terapis selama proses:
a. Persiapan
Siapkan lingkungan yang sesuai dengan terapi kenangan dengan meletakkan
barang atau foto yang menyimpan cerita di masa lalu.
Perkenalkan diri dan lakukan kontrak kegiatan dengan klien. Pada terapi
berkelompok, idealnya kelompok terdiri dari 4 klien dan 2 fasilitator. Sementara
pada kasus dengan demensia, 4 klien ditangani 3 fasilitator.
Tentukan tema setiap sesi dengan pasien. Tentukan pula metode apa yang akan
digunakan, misal: tinjauan hidup terstruktur, bercerita, atau berdiskusi.
Tema yang dapat digunakan selama terapi berlangsung diantaranya terkait cerita
masa kecil, sekolah, pernikahan, prestasi, ataupun kegiatan berlibur (Harris, 2012).
1 topik untuk 1 sesi untuk menghindari kebingungan klien akan banyaknya topik
atau informasi yang masuk.
b. Kerja
Terapis menyiapkan sejumlah trigger berupa pertanyaan singkat terkait
pengalaman atau kenangan masa lalu klien. Mulai sesi dengan topik masa kecil dan
kehidupan keluarga dahulu.
Terapis dapat pula menyiapkan gambar atau potongan kliping yang digunakan
untuk menuntutn pasien mengingat pengalaman yang berkaitan dengan gambar.
Sebagai contoh, tanyakan pada klien “apa yang Anda lakukan saat masih kecil
dulu? Apakah Anda menikmati masa sekolah?” “Bagaimana seragam sekolah
zaman dulu?”
Contoh lain, “mari kita berandai-andai, kota mana yang ingin Anda kunjungi?”
“apakah Anda pernah pergi sendirian tanpa diketahui teman atau keluarga?”
Fasilitasi pengungkapan perasaan baik positif maupun negatif. Dampingi klien
dalam mengekspresikan perasaan marah, sedih, atau kenangan buruk lainnya.
Apabila klien mengingat kejadian diluar topik, biarkan klien mengeksplorasi
perasaan dan pengalaman terkait topik baru tersebut.
Tentukan kapan sesi diakhiri dengan melihat tingkat kefokusan klien.
Berikan umpan balik positif pada pasien dengan gangguan fungsi kognitif.
c. Terminasi
Akhiri sesi dengan mengevaluasi respon pasien dan dokumentasikan.
85
DAFTAR PUSTAKA
Chiang, et,al. (2010). The effect of reminiscence therapy on psychological well-being, depression,
and loneliness among the institutionalized aged. International Journal of Geriatric
Psychiatry, 2010(25): 380-388 doi: 10.1002/gps.2350
Kozier, B., Erb., & Oliver, R. (2004), Fundamental of nursing; Consept, process and
practice. 4th edition. California: Addison-Wesley Publishing CO
Snyder, M., Lindquist, R. (2010). Complementary & alternative therapies in nursing. 6th edition.
New York: Springer Publishing Company, LLC
Wang, J.J. (2007). Group reminiscence therapy for cognitive and affective function of demented
elderly in Taiwan. International Journal of Geryatric Psychiatry, 2007(22): 1235-1240 doi:
10.1002/gps/1821
Watt, L.M., Cappeliez, P. (2000). Integrative and instrumental reminiscence therapies for depression
in older adults: Intervention strategies and treatment effectiveness. Aging & Mental Health,
4(2): 166-177
86
MANAJEMEN STRESS:
MEDITASI
Elly Junalia
1506778836
87
1. Pengertian
Manajemen stres adalah kemampuan penggunaan sumber daya manusia secara efektif
untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena
tanggapan (respon). Manajemen stres adalah kemampuan untuk mengendalikan diri
ketika situasi, orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memberi tuntutan yang
berlebihan. Tidak ada seorang pun yang bisa menghindarkan diri dari stres. Namun, stres
bisa dikelola sehingga justru mendatangkan nilai positif bagi seseorang. Tujuan dari
manajemen stres itu sendiri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup individu itu agar
menjadi lebih baik (Mudjaddid, Diffy: 2005).
Teknik dalam manajemen stress, salah satunya adalah dengan teknik meditasi. Meditasi
merupakan cara yang sangat efektif untuk meredakan dan mengurangi stress. Meditasi
adalah praktik yang ditujukan pada diri (mandiri) untuk merelaksasikan tubuh dan
menenangkan pikiran menggunakan ritme pernapasan, biasanya pernapasan perut yang
dalam, relaks, dan perlahan. Saat mengalami stres, denyut jantung dan tekanan darah
meningkat, pernapasan menjadi cepat dan pendek, dan kelenjar adrenalin memompa
hormon-hormon stress. Selama anda melakukan meditasi, detak jantung melambat,
tekanan darah menjadi normal, pernapasan menjadi tenang, dan tingkat hormon stres
akan menurun. Meditasi menimbulkan keadaan santai, menurunkan konsumsi oksigen,
mengurangi frekuensi pernapasan dan denyut jantung, sehingga secara otomatis tubuh
akan lebih rileks dan pikiran akan jauh lebih tenang dan meningkatkan kesejahteraan
fisik dan emosional (Fontaine, 2005). Menurut sumber lain, meditasi yang dilakukan
selama 20 menit sebanyak 1 atau 2 kali sehari, menunjukkan efeknya untuk menurunkan
tekanan darah dan gejala terkait stress lainnya (Davis, Eshelman, & McKay, 2008 dalam
Townsend, 2009).
2. Tujuan
a. Mengontrol pikiran agar dapat rileks
b. Meyakinkan diri akan kemampuan positif yang dimiliki
c. Memberikan ketentraman diri
d. Memperbaiki sirkulasi darah sebagai unsur penting dalam sistem tubuh manusia
e. Memperbaiki organ-organ tubuh dan sel tubuh agar bekerja lebih teratur
3. Indikasi
Ada banyak indikasi untuk meditasi, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Kecemasan atau suasana yang menegangkan (stress)
b. Hipertensi
c. Rasa nyeri kronis
d. Sindroma kelelahan kronis
e. Kegelisahan
f. Depresi ringan
g. Gangguan tidur
88
4. Kontraindikasi
Meditasi merupakan kontraindikasi bagi beberapa individu yang memiliki ketakutan
akan kehilangan kontrol karena menganggap meditasi sebagai bentuk pengontrolan
pikiran dan mungkin menolak untuk melakukan teknik tersebut.
5. Manfaat meditasi
Meditasi dapat memberikan rasa tenang, damai dan keseimbangan yang menguntungkan
bagi kesejahteraan emosional dan kesehatan secara keseluruhan sehingga dapat
membantu membawa suasana lebih tenang dalam kehidupan sehari hari. Suasana tenang
dapat menekan produksi hormon adrenalin pemicu kecemasan dan meningkatkan
hormon epinefrin yang meredakan stress. Dengan semakin meningkatnya hormon
epinefrin aliran darah juga menjadi lancar, tekanan darah turun, beban jantung
berkurang. Kondisi seperti ini otomatis membuat sistem kekebalan tubuh meningkat.
Dengan meningkatnya kekebalan tubuh maka kesehatan organ-organ tubuh pun
meningkat. Meditasi juga berguna pada kondisi medis tertentu, terutama yang dapat
diperburuk oleh stres, misalkan hipertensi.
89
4) Kaji pengalaman klien sebelumnya dan tindakan yang telah dilakukan untuk
mengatasi masalah
5) Evaluasi keefektifan tindakan klien sebelumnya untuk mengatasi masalah
6) Periksa tanda-tanda vital klien
7) Memulai tindakan meditasi dengan baik.
8) Instruksikan langkah-langkah meditasi dengan memberi contoh kepada
klien.
9) Posisi duduk bersila di lantai atau di taman yang teduh, hening atau dalam
ruang pribadi.
Jika tidak biasa duduk bersila di lantai karena postur tubuh tidak
memungkinkan, meditasi dapat dilakukan dengan cara duduk di kursi.
Sebaiknya punggung lurus dan jangan menyender. Tungkai kaki
direnggangkan dan telapak kedua kaki menapak lantai. Lutut kaki kanan dan
kiri dilemaskan membentuk sudut 90 derajat jika dilihat dari samping.
10) Kedua telapak tangan diletakkan bertumpu di atas paha kanan dan kiri dekat
lutut. Telapak tangan kiri diletakkan di atas lutut kiri dan telapak tangan
kanan di atas lutut kanan.
11) Kondisikan tubuh dalam kondisi rileks, nyaman dan hilangkan keraguan
dalam hati agar pikiran yang dipenuhi persoalan hidup sejenak ditanggalkan
dan alihkan kepada hal-hal menyenangkan dalam khayalan.
12) Tetap santai dan mata mulai terpejam dan lakukan pernapasan perut dengan
tarik nafas melalui hidung dalam hitungan 1-2-3…s/d 8 hitungan lalu tahan
nafas di dada dalam hitungan 1-2-3…s/d 8 hitungan. Segera buang nafas
dalam delapan hitungan secara pelan-pelan melalui mulut mendesis. Ulangi
siklus tarik-tahan-buang nafas ini.
13) Instruksikan kepada klien untuk membayangkan hal yang paling berat yang
mengganggu pikirannya pada saat menarik napas dan saat menghembuskan
napas membayangkan seolah melepaskan semua beban pikiran/masalah.
14) Bila sudah delapan kali tarik-tahan-buang nafas niatkan seluruh tubuh mulai
dari ubun-ubun kepala hingga ujung jari-jari telapak kaki menjadi rilek
serilek mungkin. Bernafaslah alami selanjutnya dengan tarik dan buang
nafas melalui hidung dan tetap rileks.
15) Instruksikan klien untuk tetap melanjutkan tarik dan buang nafas melalui
hidung dan tetap rileks. serta focus membayangkan hal-hal yang
menyenangkan dan membuat rileks klien atau berdzikir/berdoa sesuai agama
dan kepercayaannya, dapat diiringi dengan music klasik
16) Tahan posisi meditasi ini selama 20-30 menit.
17) Akhiri tindakan meditasi dengan baik
c. Tahap Evaluasi
1) Evaluasi proses intervensi, apakah klien mengikuti instruksi gerakan yang di
anjurkan oleh therapist dengan benar dan tepat..
2) Evaluasi keberhasilan meditasi dalam pengaturan klinis, perawat
dapat menggunakan pembacaan tekanan darah, denyut jantung, dan tingkat
pernapasan sebagai indikator efektivitas meditasi
90
3) Evaluasi keberhasilan intervensi yang dilakukan setelah program intervensi
selesai dilaksanakan dengan menanyakan kepada klien tentang pencapaian
perasaan relaks yang dihasilkan.
4) Berikan reinforcement positif kepada klien atas kerjasama klien selama
intervensi dan atas keberhasilan intervensi yang dilakukan.
5) Anjurkan untuk melakukan intervensi secara mandiri untuk mengurangi
stress
6) Meditasi yang dilakukan sehari – hari membawa perubahan dilaporkan
termasuk
ketenangan pikiran; lebih sabar; kurang marah dan marah sedikit
ledakan; komunikasi interpersonal yang lebih baik; hubungan yang lebih
harmonis dengan anggota keluarga; lebih tenang
tidur; penurunan penggunaan obat untuk nyeri, tidur, dan kecemasan; serta
peningkatan yang nyata dalam arti keseluruhan kesejahteraan.
DAFTAR PUSTAKA
Fontaine K. (2005). Healing Practices : Alternative therapies For nursing. Edisi 2. Prentice
Hall.
Snyder, M., & Lindquist, R. (2010). Complementary & Alternaive Therapies in Nursing
(Sixth Edition). New York: Springer Publishing Company.
Stuart, G.W. (2009). Principles and Practices of Psychiatric Nursing. 9th ed. St. Louis :
Mosby Elsevier.
91
COACHING
Yona . Sahalessy
1506707934
92
1. Pengertian
Coaching atau bimbingan adalah cara menetapkan dan menjelaskan arah atau tujuan dan
untuk mengembangkan rencana-rencana kerja untuk mencapai tujuan. Setiap individu
diberikan kemampuan untuk mengambil dan melaksanakan tanggung jawab yang telah
diberikan yaitu membangun dan melakukan setiap rencana kerja. Secara sederhana
proses Coaching akan membantu untuk menciptakan visi yang terbaik dan terbaru yang
dimiliki dalam rangka mencapai suatu keberhasilan, dan keberhasilan itu dapat mencapai
tujuan secara berkelanjutan (Nurhayani, 2011). Coaching mengambil pendekatan
apresiatif, dalam hal ini berfokus pada kekuatan individu dan didasarkan pada apa yang
bekerja di hidupnya. Dengan cara ini, metode Coaching membantu klien untuk membuat
perubahan gaya hidup menetap, yang meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan. Dalam
hubungan bimbingan profesional, klien dianggap mitra, atau setara, dengan pelatih. Klien
didukung dalam mengklarifikasi apa yang penting bagi mereka, mengakui keyakinan dan
asumsi mereka tentang siapa mereka di dunia, memperluas pilihan mereka, dan memilih
dan membuat perubahan-semua kehidupan yang diinginkan dengan tujuan keseluruhan
bergerak ke arah yang lebih seimbang , efektif, dan kehidupan pribadi yang bermakna
(Ng Pak Tee , 2014).
Coaching dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang tepat sehingga peserta latih
(coachee) akan menemukan sendiri jawaban yang dibutuhkannya. Pendampingan juga
diterjemahkan menjadi seseorang yang dapat memfasilitiasi peserta lain untuk
menggapai kinerja yang lebih baik dari keadaan (Jerussalem, 2011). Dapat disimpulkan
Coaching atau bimbingan atau pendampingan merupakan proses belajar intensif untuk
meningkatkan capaian melalui bimbingan perorangan, demontrasi, dan praktik yang
diikuit dengan pemberian umpan balik segera. Jika dikaitkan dengan pasien Diabetes
Melitus tipe 2, maka coching bertujuan agar pasien mengambil tanggung jawab atas
pemeliharaan hidupnya. Upaya yang dapat dilakukan penderita diabetes untuk
menormalkan kadar gula darah adalah dengan melakukan aktifitas manajemen DM.
Terdapat lima pilar pengelolaan DM tipe 2 menurut Smeltzer & Bare (Apriani dkk,2012)
yaitu pengaturan pola makan (diet), latihan fisik (olahraga), monitoring gula darah, obat
untuk mencegah hipoglikemik dan penyuluhan/edukasi.
2. Tujuan
Tujuan utama dari proses Coaching bagi klien adalah untuk secara mandiri
mengembangkan struktur internal dan eksternal. Coaching menggunakan komponen
kognitif untuk membantu klien memperoleh kesadaran tentang bagaimana mereka
berubah perilaku mereka . Tujuan jangka panjang yang ditetapkan selama pertemuan
awal dan sebaiknya semua tujuan dapat diukur, diamati,spesifik, wajar, dan memotivasi.
Pelatih tidak menyarankan tujuan yang spesifik, tetapi membantu peserta menentukan
tujuan. Pertanyaan konstan coach tentang cara terbaik bagi klien untuk mencapai tujuan
akan merangsang pikirannya , dan dengan demikian model strategi kognitif akhirnya
dapat digunakan oleh klien tanpa pelatih (Swartz, Stacy L, 2005) Tujuan yang paling
efektif dari proses Coaching ini adalah untuk meningkatakan, mengembangkan dan atau
menerapkan materi pembelajaran atau prosedur, misalnya prosedur tindakan atau suatu
93
terapi. Penelitian yang dilakukan oleh Apriani dkk, (2012) menjelaskan bahwa program
Coaching pada pasien DM ini merupakan dasar untuk melakukan perawatan pasien
Diabetes. Proses ini menggabungkan kebutuhan, tujuan, dan pengalaman hidup orang
dengan DM, dan dituntun oleh panduan standar berdasarkan berbagai penelitian. Tujuan
dari program bimbingan DM adalah untuk mendukung informasi pengambilan
keputusan, perilaku perawatan diri, pemecahan masalah dan kolaborasi aktif dengan tim
kesehatan dan untuk meningkatkan hasil klinis, status kesehatan, dan kualitas kehidupan.
3. Indikasi
Elemen yang paling penting dalam tahapan Coaching dalam Coaching tindakan klinis
adalah:
a. Clear Performance Model (Model Kinerja yang jelas), para peserta diperlihatkan
secara jelas dan efektif keterampilan yang akan mereka pelajari.
b. Openes to Learning (Keterbukaan untuk Belajar), hendakya menyertakan peserta
dalam kegiatan yang dirancang untuk mempersiapkan belajar dan menggunakan
ketrampilan baru.
c. Assessment of Performance (penilaian Kinerja), adanya upaya pengukuran
kompetensi keterampilan yang diajarkan serta memberikan umpan balik terhadapa
kemajuan kearah kinerja standart yang dinginkan.
d. Communication (komunikasi), komunikasi dua arah yang efektif antara coach dan
coachee.
e. Help and follow up (Menolong dan tindak lanjut), bimbingan klinis hendaknya
mencakup juga perencanaan untuk aplikasi keterampilan baru pada lingkungan baru
peserta dan membantu mengatasi hambatan dalam penggunaan keterampilan baru
tersebut.
Indikasi dari proses Coaching ini adalah:
a. Mendorong kemampuan masing-masing individu sesuai dengan minatnya.
b. Menilai peserta dengan berbegai metode penilaian termasuk observasi.
c. Mengikuti lebih dekat perkembangan peserta
d. Mengutamakan pendekatan personal dibanding dengan training kelompok.
e. Membuat lebih termotivasi dan bertanggung jawab untuk melakukan keterampilan
yang baru dipelajari, karena bimbingan terus menerus dan personal.
94
Hope Intervensi
Modul
Sesi 1 Pengantar Hope
a. Pengantar HOPE dan bagaimana metode itu dapat menolong
b. Membangun hubungan
c. Pengantar aktivitas perilaku
Sesi 2 Menetapkan tujuan aktivitas perilaku
a. Pengenalan prinsip penetapan tujuan dan perencanaan tindakan
b. Pendahuluan/pilihan daerah ketrampilan
Sesi 3 - 6 Meningkatkan kegiatan menyenangkan
(Sesi ketrampilan; a. Menyambung kegiatan dengan suasana hati
dipilih oleh b. Manfaat meningkatkan kegiatan yang mneyenangkan dan bermakna
peserta) c. Tujuan pengaturan dan rencana aksi untuk meningkatkan kegiatan
yang menyenangkan
Mengelola obat
a. Pentingnya mengambil obat yang diresepkan
b. Menetapkan tujuan dan rencana aksi untuk meningkatkan aktivitas
terkait:
Mengetahui obat
Memilih obat diabetes yang tepat
Menjaga jadwal unutk mengambil obat
Obat untuk mencegah stress
95
b. Menetapkan tujuan dan rencana aksi untuk meningkatkan aktivitas
yang berhubungan dengan
Teknik relaksasi nafas dalam untuk mengurangi stres dan
ketegangan
Citra tubuh unutk mengurangi stres dan kecemasan
Sesi 7 – 9 Menyesuaikan rencana dan mengatasi rintangan
(follow up) a. Memeriksa kemajuan dan menyelesaikan hambatan pencapaian
tujuan
Akan tetapi model yang akan dipakai pada teknik Coaching saat ini yang sudah sangat
familiar dengan pengembangan teknik coahing yang lazimnya dipakai yaitu GROW
MODEL’S suatu model yang dikembangkan oleh Michael Heat Comp. G(goals),
R(reality), O(option), (way foward) adalah suatu model coacing yang melibatkan klien
secara aktif dalam proses pembimbingan.
a. Goal > tujuan : setuju dengan yang akan dilakukan, hai itu dapat berasal dari klien
atau dari pembimbing
b. Reality > kenyataan : setuju dengan ; di mana anda saat ini ? apa yang akan
dilakukan unutk mendapatkannya. Klien dan pembimbing perlu setuju dimana posisi
klien saat ini sebelum menyusun program dan bergerak maju.
c. Option > pilihan ; tentang cara lain yang bisa dilakukan untuk tujuan baru yang
disetujui
d. Way Foward > tentang kepastian melakukan sesuatu atau bagaimana memfokuskan
waktu dan dana.
Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang
bersifat terbuka seperti; “ apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana”, bukan
pertanyaan tertutup seperti ; “ berarti, dapatkah, jika, akankah, dst”. Ada tiga hal yang
perlu diperhatikan oleh pembimbing saat melakukan Coaching yaitu ;
a. Tidak menghakimi klien atas situasi mereka
b. Tidak mengajukan pertanyaan doebel, ajukan satu pertanyaan satu waktu
c. Tidak mengajukan pertanyaan yang menggiring klien untuk memberi jawaban yang
pembimbing inginkan
Berikut ini adalah pertanyaan – pertanyaan dan bimbingan pada setiap stase
a. Stase Tujuan
Apa tujuan yang klien sendiri inginkan
Bagimana klien tau hal tersebut bisa tercapai
Pancapaian seperti apa yang ingin dilihat
Seberapa penting untuk menerima tujuan tersebut
Mengapa ingin menerima tujuan tersebut
b. Stase Realita
Kemajuan apa yang telah dicapai
Apa yang mengarah ke situasi itu
Apa hambatan atau kendala yang anda hadapi
96
Apa yang mempengaruhi anda untuk berperilaku seperti itu
Apa keputusan yang anda buat
Apa yang memperngaruhi anda seperti itu
Mengapa anda mengambil pendekatan seperti itu
c. State Option
Apa yang anda pikir tentang pilihan anda
Apa hal terbaik atau hal terburuk tentang pilihan anda
Jika terdapat hambatan dalam melaksanakan hal ini, apa yang akan anda
lakukan
Apakah ada pendekatan lainnya yang bisa membuat anda berhasil dengan ini
d. Stase Way foward
Kapan tepatnya anda akan memulai tindakan ini
Apa langkah pertama yang akan anda lakukan untuk memulai ini
Siapa yang akan terlibat menolong anda untuk melakukan ini
Dari skala 1 – 10 bagaimana anda dapat menetapkan / mengukur keberhasilan
anda
Bagaimana anda bisa yakin dapat melakukan hal tersebut
5. Pengkajian
Pengkajian yang diperlukan pada pasien Diabetes Melitus antara lain
a. Riwayat
1) Tinjau kembali kesehatan pasien sebelum ada indikasi terjadinya penyakit
2) Catat keluhan yang disampaikan pasien
3) Tinjau ulang riwayat kesehatan keluarga yang dapat mempengaruhi timbulnya
penyakit DM
b. Data dasar
1) Aktivitas / istrahat.
Tanda : Lemah, letih, susah, bergerak susah berjalan, kram otot, tonus otot
menurun. Tachicardi, tachipnea pada keadaan istrahat/daya aktivitas. Letargi /
disorientasi, koma.
2) Sirkulasi
Tanda : Adanya riwayat hipertensi : infark miokard akut, kesemutan pada
ekstremitas dan tachicardia. Perubahan tekanan darah postural : hipertensi, nadi
yang menurun / tidak ada. Disritmia, krekel : DVJ
3) Neurosensori
Gejala: Pusing, gangguan penglihatan, disorientasi : mengantuk, lifargi, stuport /
koma (tahap lanjut). Sakit kepala, kesemutan, kelemahan pada otot, parestesia,
gangguan penglihatan, gangguan memori (baru, masa lalu): kacau mental,
refleks fendo dalam (RTD) menurun (koma), aktifitas kejang, nyeri.
4) Kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang / nyeri (sedang berat), wajah meringis dengan
palpitasi : tampak sangat berhati – hati.
97
5) Keamanan
Gejala : Kulit kering, gatal : ulkus kulit, demam diaporesis. Menurunnya
kekuatan immune / rentang gerak, parastesia / paralysis otot termasuk otot – otot
pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam). Urine encer,
pucat, kuning, poliuria (dapat berkembang menjadi oliguria / anuria jika terjadi
hipololemia barat). Abdomen keras, bising usus lemah dan menurun : hiperaktif
(diare).
c. Test Diagnostik
Beberapa tes yang di lakukan yaitu glokosa darah: meningkat 100-200 mg/dl atau
lebih, aseton plasma (keton): positif secara mencolok, asam lemak bebas: kadar lipid
dan kolesterol meningkat, urin: gula dan aseton positif: berat jenis dan osmolaritas
mungkin meningkat, Tes Toleransi Glukosa (TTG) memanjang (≥200mg/dl) untuk
pasien yang kadar glukosa meningkat dibawah kondisi stress, hemoglobin glikosilat
diatas rentang normal untuk mengukur presentase, glukosa yang melekat pada
hemoglobin rentang normal 5-6%.
8. Intervensi/prosedur
Persiapan (termasuk alat yang diperlukan)
98
1) Menjelaskan keterampilan dan interaksi yang akan dilakukan kepada peserta
yang dibimbing.
2) Menyiapkan alat peraga yang akan dilakukan dan lakukan dengan cara yang
sistematis, efektif dengan bantuan alat seperti: slides/VCD, Model Anatomis
atau dengan menggunakan film.
3) Menjelaskan kontrak kerja atau frame work yang akan dilakukan, target
pencapaian dan waktu lama interaksi.
Proses (disertai gambar)
1) Sebelum praktik sebaiknya peserta mengadakan pertemuan untuk mereview
kegiatan, termasuk langkah-langkah yang perlu mendapat penekanan.
2) Coach merencanakan skenario pembelajaran secara rinci dan menyiapkan
seluruh instrumen bimbingan termasuk instrumen evaluasi.
3) Intrumen evaluasi disampaikan dan dibahas bersama oleh peserta.
4) Coach menyiapkan ruangan pelatihan beserta kelengkapannya. Apabila materi
merupakan keterampilan keperawatan maka saran prasarana pembelajaran
disiapkan semirip mungkin dengan keadaan nyata dilapangan.
5) Pelajari kemampuan dasar yang telah dimiliki oleh setiap peserta, sehingga
coach dapat memusatkan dan menyesuaikan bimbingan dengan kemampuan
yang telah dimiliki agar bimbingan efektif dan efisien.
6) Coach merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses bimbingan dan
memberikan umpan balik sesuai dengan tingkat pencapaian kompetensi setiap
peserta.
7) Peserta melakukan redemontrasi, coach mengamati dan memberikan umpan
balik saat mereka melakukan langkah-langkah kegiatan, peserta mencoba
kembali tanpa bimbingan, coach memberikan umpan balik dan penguatan.
99
3) Apabila bimbingan berupa manajemen suatu hal, maka setelah pembelejaran
laboratorium maka dilanjutkan pula dengan pembimbingan dilapangan seperti
penyusunan SOP.
4) Bimbingan dilakukan sampai peserta dinilai kompeten dalam melaksanakan
keterampilan.
5) Berikan kesempatan untuk refleksi dengan diberikan umpan balik.
6) Hasil evaluasi penampilan peserta digunakan untuk salah satu bahan untuk
menetapkan kompetensi atau keberhasilan peserta sesuai dengan standaart
pelatihan yang ditetapkan.
100
DAFTAR PUSTAKA
Apriani, S., Raksanagara, A. S., & Sari, C. W. M. (2012). Pengaruh Program Edukasi
Dengan Metode Kelompok Terhadap Perilaku Perawatan Diri Pasien Diabetes
Melitus Tipe 2., CWM Sari - [Link].. Date accessed: 26 mar.
2016.
Blackwell W.(2014). Nursing Diagnoses definitions and classification 2015-2017. United
Kingdom:Nanda International Inc.
Cully, J. A., Breland, J. Y., Robertson, S., Utech, A. E., Hundt, N., Kunik, M. E., ... & Naik,
A. D. (2014). Behavioral health Coaching for rural veterans with diabetes and
depression: a patient randomized effectiveness implementation trial. BMC health
services research, 14(1), 191.
Helen et al.(2003). Coaching for behaviour change inchronic disease: a reviewof the
literature and the implications for Coaching as a self mangement intervention.
Australia of Primary Health Vol. 09, no 2 & 3.
Ng Pak Tee 2014, Coaching: Grow Me Model. Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia [Link]/fruma/Coaching-
grow-me-model 24 Jul 2014 -
101
KONSELING
Desi Deswita
1506778792
102
1. Pengertian
Konseling adalah memberi kesempatan pada klien utk mengeksplorasi, menemukan &
mengklarifikasi jalan hidup yg lebih memuaskan dan bermakna (The British Association
for Councelling cited in Godden & Charles-Edwards, 1984). Bimbingan dan dukungan
individual yang diberikan oleh perawat kepada remaja yang beresiko mengalami masalah
pergaulan dengan teman sebaya dengan pendekatan Gestalt. Menurut teori Gestalt
individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara
penuh, ia baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Melalui
konseling membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini
dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. Manusia aktif terdorong kearah
keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya
2. Tujuan
a. Membantu remaja mengenali dan melaksanakan tugas perkembangannya
b. Membantu remaja memasuki masa pembentukkan identitas diri
c. Membantu remaja membentuk konsep diri yang positif
d. Melatih remaja memiliki dan mengembangkan kepercayaan diri
3. Prosedur Pelaksanaan
a. Persiapan
Persiapan Alat
Ruangan konsultasi
Klien
Sebelum memulai proses konseling hubungan perawat klien harus mencapai
thrust relationship
Klien bersedia mengikuti konseling
Klien terindikasi membutuhkan konselor dalam memfasilitasi penyelesaian
masalah klien
Lingkungan
Ruangan kondusif, tenang dan privacy klien terjaga
Dapat dilakukan di ruangan bimbingan konseling yang ada di sekolah
Jika pada pelayanan kesehatan dilakukan pada ruangan tertutup dan terjaga
privacy klien sehingga klien memiliki keleluasaan mengungkapkan
permasalahannya
b. Pelaksanaan
Klien diberikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dan permasalahan
dengan sejujurnya
Mengidentifikasi kemampuan klien mengenal masalah, apakah dirasakan sebagai
suatu permasalahan atau tidak serta berapa lama masalah dirasakan
Mengidentifikasi kemampuan klien mengenal penyebab masalah
Bersama dengan klien mengidentifikasi penyebab permasalahan
Bersama klien mengidentifikasi dampak permasalahan
Mengidentifikasi keinginan dan kemampuan klien mengatasi permasalahan
103
Konselor memberikan contoh orang – orang yang memiliki permasalahan yang
sama dan berhasil mengatasi permasalahan
Bersama klien mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah yang
digunakan untuk mengatasi penyebab permasalahan
Konselor memberikan penguatan dan reinforcement terhadap pilihan klien
Menetapkan perencanaan konseling selanjutnya tentang alternatif pemecahan
masalah untuk mengatasi penyebab permasalahan klien
c. Evaluasi
Struktur
Konselor mampu menyiapkan diri untuk bersikap empati, netral, menghargai
klien caring serta menjaga kerahasiaan klien sebelum memulai proses konseling
Konselor telah melakukan pengkajian yang akurat dari berbagai sumber (klien,
orang tua, guru dan teman) sebagai data dasar sebelum memulai proses konseling
Klien menyatakan bersedia mengikuti konseling
Telah terbina mutual relationship dan thrust relationship antara klien dan konselor
Tersedia ruangan yang tenang dan privacy klien terjaga
Proses
Konselor mampu menunjukkan sikap sebagai konselor yang empati, netral dan
caring serta meyakinkan dan menjaga privacy klien
Klien mengikuti konseling dari awal sampai akhir dan melaksanakan arahan yang
diberikan
Proses konseling dilaksanakan pada ruangan yang tenang dan kondusif
Hasil
Konselor mampu melaksanakan 90% dari keseluruhan tugasnya dengan tepat
Proses konseling berjalan lancar, tujuan konseling tercapai 90%
Klien mampu membuka diri, mengidentifikasi diri, membuat pilihan kegiatan
atau tindakan yang mendukung klien untuk meningkatkan dan mengembangkan
kepercayaan diri
Konseling dilaksanakan dalam ruangan tenang dan kondusif
DAFTAR PUSTAKA
104
TERAPI
BERMAIN LEGO
Evi Supriatun
1506778842
105
1. Pengertian
Lego adalah suatu jenis permainan yang terdiri dari berbagai macam potongan bentuk
bangun ruang seperti balok, prisma ataupun tabung yang memiliki suatu sistem knock-
down pada salah satu sisinya sehingga bisa dibongkar dan dipasangkan kembali.
Permainan lego ini dapat disusun dan disatukan antar bagian agar terbentuk suatu bangun
ruang yang variatif. Permainan lego memiliki berbagai manfaat bagi tumbuh-kembang
kecerdasan balita.
2. Tujuan
a. Sebagai fasilitas komunikasi
b. Stimulasi tumbuh kembangs sensorik, motorik dan intelektual
c. Memacu perkembangan moral
d. Sarana untuk mengekspresikan perasaan
e. Mengembangkan aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman bermain lego
f. Mengurangi kecemasan
g. Membantu mempercepat penyembuhan
h. Meningkatkan adaptasi efektif terhadap stress
i. Sebagai media sosialisasi anak
j. Sebagai terapi
4. Indikasi
a. Anak gangguan mental dengan penyerta gangguan psikis, sosial emosi dan
komunikasi, sasaran pada mental, psikologi, sosial emosional dan komunikasinya.
b. Anak berkesulitan belajar dengan gangguan penyerta psikologis, sosial emosional,
gerak kurang koordinasi, tremor, kelayuhan atau kaku.
c. Anak gangguan perilaku atau emosi
d. Anak gangguan bahasa penyertanya psikis, sosial emosional dan ada kalanya
terbelakang mental.
e. Anak gangguan pendengaran penyertanya berbahasa atau bicara, psikis, sosial
emosional, dan terkadang mental.
f. Anak gangguan penglihatan penyerta psikis dan sosial emosional.
g. Anak gangguan fisik dan kesehatan penyertanya psikis, sosial emosional.
h. Anak cacat ganda penyerta majemuk seperti sensorik, psikis, sosial emosional,
komunikasi dan kadang penyimpangan perilaku.
i. Anak dengan kecerdasan luar biasa atau berbakat, efeknya psikologis dan sosial
emosional.
106
5. Kontraindikasi
a. Kondisi tanda-tanda vital tidak stabil dalam 24 jam
b. Anak dalam keadaan mengantuk
c. Anak dalam keadaan lapar
d. Anak dalam kondisi lemah
6. Alat
Lego
7. Prosedur
a. Tahap Pre Interaksi
Melakukan kontrak waktu
Mengecek kesiapan anak (tidak mengantuk, tidak rewel, keadaan umum
membaik/kondisi yang memungkinkan).
Menyiapkan peralatan permainan
b. Tahap Orientasi
Memberikan salam kepada klien/anak dan keluarga
Menyapa nama klien/anak
Menjelaskan tujuan dan prosedur kanpelaksanaan
Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien/keluarga sebelum kegiatan
dilakukan
c. Tahap Kerja
Memberi petunjuk pada anak cara bermain lego
Mempersilakan anak untuk melakukan permainan sendiri atau dibantu
Memotivasi keterlibatan klien/anak dan keluarga
Memberi pujian anak jika dapat melakukan dengan baik
Mengobservasi emosi, hubungan interpersonal, psikomotor anak saat bermain
Meminta anak menceritakan bentuk lego yang disusunnya
Menanyakan perasaan anak setelah bermain
Menanyakan perasaan dan pendapat keluarga tentang permainan lego
d. Tahap Terminasi
Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan
Berpamitan dengan pasien
Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula
Mencuci tangan
107
Mencatat jenis permainan dan respon pasien serta kegiatan keluarga dalam
lembar catatan keperawatan dan kesimpulan hasil bermain meliputi emosional,
hubungan interpersonal, psikomotor dan anjuran untuk anak dan keluarga.
8. EVALUASI
a. Struktur
Sarana dipersiapkan pagi hari sebelum kegiatan dimulai
Media dipersiapkan 1 hari sebelum pelaksanaan
Struktur peran telah ditentukan 1 hari sebelum pelaksanaan
Kontrak dengan keluarga klien / anak yang akan diberi terapi bermain dilakukan
1 hari sebelum dan pagi hari sebelum kegiatan dilaksanakan
b. Proses
Perawat memandu terapi bermain dari awal hingga akhir kegiatan
Respon anak baik selama proses bermain berlangsung
Anak mau dan dapat bermain lego dengan baik didampingi perawat
Anak mau menceritakan bentuk susunan lego yang dibuat
Keluarga ikut membantu anak selama pelaksanaan proses bermain
Kegiatan berjalan dengan lancar dan tujuan perawat tercapai dengan baik
c. Hasil
Kegaiatan bermain dimulai tepat sesuai waktu yang telah ditentukan
Anak dapat membuat bentuk susunan lego sesuai dengan imajinasi dan
kemampuannya
Anak mengikuti proses bermain dari awal sampai akhir
Anak ikut berpartisipasi aktif dalam terapi bermain dan dapat menyelesaikan
proses bermain lego sampai selesai.
DAFTAR PUSTAKA
Adriana, D. (2011). Tumbuh kembang dan terapi bermain pada anak. Jakarta : Salemba
Medika.
108
TERAPI
PSIKOEDUKASI
Muhamad Jauhar
1506779012
109
1. Pengertian
Suatu bentuk intervensi keperawatan dengan cara memberikan informasi, edukasi
melalui komunikasi terapeutik dengan pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatis
(Stuart & Sundeen, 2005 dalam Lestari, 2011). Psikoedukasi dikembangkan oleh
Mottaghipour dan Bickerton (2005) dalam Rachmaniah (2012) yaitu suatu tindakan yang
diberikan kepada individu dan keluarga untuk memperkuat strategi koping atau suatu
cara khusus dalam menangani kesulitan perubahan mental. Menurut Lukend & Mc
Farlane dalam Catwright (2007) menjelaskan bahwa psikoedukasi adalah sebuah
tindakan modalitas yang disampaikan oleh professional yang mengintegrasikan dan
mensinergiskan antara psikoterapi dan intervensi edukasi.
2. Tujuan
Meningkatkan fungsi adaptif klien dan meningkatkan keterampilan mekanisme koping
yang positif serta membantu perawat dalam mengidentfiikasi masalah klien (Stuart &
Sundeen, 2005 dalam Lestari, 2011). Menurut Rachmaniah (2012) menjelaskan bahwa
terapi ini betujuan untuk meningkatkan kemandirian klien melalui peningkatan dukungan
dan pengetahuan dalam rangka mengurangi masalah psikologis klien. Terapi
psikoedukasi diharapkan dalam meningkatkan kemampuan klien dalam manajemen
pengetahuan dengan sumber daya yang ada, membantu menguatkan mekanisme koping
pada klien tersebut sehingga masalah yang muncul dapat ditangani dengan bersumber
pada kekuatan keluarga itu sendiri.
3. Indikasi
Terapi psikoedukasi dapat dilakukan pada klien dengan gangguan seperti skizofrenia,
depresi mayor, gangguan bipolar, dan klien yang memiliki masalah psikososial dan
gangguan jiwa (Stuart & Laraia, 2005 dalam Lestari, 2011). Menurut Clarkin, dkk (1998
dalam Stuart & Laraia, 2005) menjelaskan bahwa indikasi pemberian terapi ini adalah
keluarga yang mengalami masalah psikososial, gangguan jiwa umum, gangguan
perasaan, skizofrenia, dan keluarga dengan penolakan dan beban yang tinggi.
4. Langkah-langkah tindakan
Terapi psikoedukasi dapat diberikan oleh penyedia pelayanan kesehatan seperti dokter,
psikolog, perawat, terapis okupasi, dan spesialis. Berikut ini langkah-langkah terapi
psikoedukasi yang dikembangkan oleh Lestari (2011) dari McCloskey dan Bulechek
dalam Stuart Laraia (2005):
a. Sesi 1 : mengidentifikasi masalah keluarga, perawat menggali pengalaman keluarga
dalam merawat anggota keluarga yang sakit.
110
b. Sesi 2 : manajemen pengetahuan keluarga tentang penyakit yang diderita oleh anggota
keluarga dan memaksimalkan pengetahuan yang dimiliki keluarga untuk merawat
anggota yang sakit.
c. Sesi 3 : manajemen masalah psikologis yang dialami keluarga selama merawat
anggota keluarga yang sakit misalnya kecemasan akan keadaan anggota keluarga yang
sakit atau depresi keluarga karena merawat anggota keluarga dengan penyakit kronis,
dll.
d. Sesi 4 : manajemen beban, memberi dukungan kepada keluarga untuk melaksanakan
manajemen beban dalam keluarga yang mungkin ada. Perawat membantu menentukan
strategi koping keluarga jika ada masalah yang muncul dan mencari dukungan sosial.
e. Sesi 5 : evaluasi dan permberdayaan keluarga, perawat dan keluarga mendiskusikan
hambatan dalam merawat anggota keluarga yang sakit dan pembagian peran masing-
masing anggota keluarga lain.
5. Hambatan-hambatan
Menurut Dixon et al (2001) dalam Rachmaniah (2012) menjelaskan bahwa ada beberapa
faktor yang dapat menghambat pelaksanaan terapi ini yaitu:
a. Anggota keluarga, pelaksanaan terapi ini dapat terhambat oleh realitas kehidupan
individu/keluarga. Stigma anggota keluarga mungkin tidak ingin diidentifikasi
terkait masalah kejiwaan karena ketidaknyamanan untuk mengungkapkan perasaan
yang saat ini dialami. Keluarga tidak ingin mengeksplorasi pengalaman negatif di
masa lalu, kurangnya sumber informasi tentang nilai psikoedukasi keluarga sehingga
tidak dapat menghargai keuntungan dari terapi ini.
b. Pemberi pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan menyatakan keprihatinan tentang
biaya dan durasi terapi ini, meskipun layanan manajemen pengobatan dan kasus
untuk klien harus dilanjutkan untuk waktu yang lebih lama dari terapi ini. Beban
kasus individu/keluarga secara umum tinggi namun waktu yang dimiliki oleh tenaga
kesehatan terbatas.
6. Penelitian terkait
a. Chien dan Wong (2007) meneliti tentang efektifitas psikoedukasi dengan skizofrenia
meliputi persepsi, pengetahuan, dan keterampilan keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang mengalami skizofrenia didapatkah hasil adanya perbaikan fungsi
keluarga dan fungsi klien.
b. Nurbani (2009) meneliti tentang pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap beban
keluarga dalam merawat pasien stroke memperoleh hasil bahwa terjadi penurunan
beban keluarga yang cukup bermakna.
c. Sari (2009) meneliti tentang pengaruh family psychoeducation therapy terhadap
beban dan kemampuan keluarga dalam merawat klien pasung memperoleh hasil
bahwa terjadi penurunan beban keluarga dan peningkatan kemampuan keluarga
yang cukup bermakna.
d. Suerni, dkk (2013) meneliti tentang penerapan terapi kognitif dan psikoedukasi
keluarga pada klien harga diri rendah di Ruang Yudistira Rumah Sakit Dr. H.
Marzoeki Mahdi Bogor tahun 2013 memperoleh hasil terjadi peningkatan
111
kemampuan klien dalam mengidentifikasi pikiran negatif, menggunakan tanggapan
rasional terhadap pikiran negatif, mengidentifikasi manfaat penggunaan tanggapan
rasional, dan menggunakan sistem pendukung yang baik setelah diberikan terapi
kognitif dan psikoedukasi.
e. Lestari, dkk (2011) meneliti tentang pengaruh terapi psikoedukasi keluarga terhadap
pengetahuan dan tingkat ansietas keluarga dalam merawat anggota keluarga yang
menderita tuberculosis paru di Kota Bandar Lampung memperoleh hasil bahwa
meningkatnya pengetahuan keluarga dalam merawat anggota keluarga dan
menurunnya tingkat ansietas keluarga setelah diberikan terapi psikoedukasi.
f. Banon, dkk (2011) meneliti tentang pengaruh terapi reiminiscence dan psikoedukasi
keluarga terhadap kondisi depresi dan kualitas hidup lansia di Katulampa Bogor
tahun 2011 didaptkan bahwa adanya penurunan yang bermakna kondisi depresi,
ketidakberdayaan, keputusasaan, isolasi sosial dan adanya peningkatan bermakna
pada harga diri dan kualitas hidup setelah diberikan terapi tersebut.
g. Rachmaniah (2012) meneliti tentang pengaruh psikoedukasi terhadap kecemasan
dan koping orang tua dalam merawat anak dengan thalasemia mayor di RSU
Kabupaten Tangerang Banten didapatkan bahwa terapi tersebut berpengaruh
terhadap kecemasan dan koping orang tua.
h. Hasanat dan Ningrum (2010) meniliti pengaruh program psikoedukasi terhadap
kualitas hidup klien dengan diabetes mellitus, didapatkan bahwa program ini dapat
membantu pengelolaan klien dengan diabetes mellitus menjadi lebih baik dan
meningkatkan kualitas hidup klien.
i. Soep (2009) meneliti tentang pengaruh intervensi psikoedukasi dalam mengatasi
depresi postpartum di RSU Dr. Pirngadi Medan memperoleh hasil terjadi penurunan
depresi postpartum pada ibu postpartum sebesar 65% setelah dilakukan intervensi
psikoedukasi dimana terdapat pengaruh yang signifikan pendidikan, paritas ibu, dan
dukungan suami terhadap terapi ini.
112
DAFTAR PUSTAKA
Baron, Endang. (2011). Pengaruh terapi reminiscence dan psikoedukasi keluarga terhadap
kondisi depress dan kualitas hidup lansia di katulampa bogor tahun 2011. Retrieved
from : [Link]
Lestari, Arena. (2011). Pengaruh terapi psikoedukasi keluarga terhadap pengetahuan dan
tingkat ansietas keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami
tuerkulosis paru di kota Bandar lampung. Restrieved from :
[Link]
Rachmaniah, Dini. (2012). Pengaruh psikoedukasi terhadap kecemasan dan koping orang tua
dalam merawat anak dengan thalassemia mayor di RSU Kabupaten Tangerang
Banten. Retrieved from :
[Link]
Soep. (2009). Pengaruh intervensi psikoedukasi dalam mengatasi depresi postpartum di RSU
Dr. Pirngadi Medan. Retrieved from :
[Link]
Suerni dkk. (2013). Penerapan terapi kognitif dan psikoedukasi keluarga pada klien harga diri
rendah di ruang yudistira rumah sakit dr. h marzoeki Mahdi bogor tahun 2013.
Retrieved from : [Link]
113