MINI RISET
PENGARUH PENGAWASAN INTERN TERHADAP AKUNTABILITAS KEUANGAN
DAERAH DINAS PERHUBUNGAN KOTA PALU
“Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Sektor Publik”
Dosen pengampuh :
Dr. Rio Monoarfa, [Link], [Link],CA
Disusun oleh :
AGUSTIN USMAN
1411421200
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS GORONTALO
2021-2022
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan mini riset ini
sebagai tugas matakuliah Akuntansi Publik dengan judul “Pengaruh Pengawasan Intern
Terhadap Akuntabilitas Keuangan Derah Dinas Perhubungan Kota Palu”
Namun, tentunya sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekurangan.
Harapan penulis, semoga bisa menjadi koreksi di masa mendatang agar lebih baik lagi dari
sebelumnya. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua rekan-rekan dan semua pihak
yang terkait dalam penyusunan mini riset ini. Semoga mini riset ini bisa memberikan sumbangan
pemikiran sekaligus pengetahuanbagi para pembaca
Palu, 17 Desember 2020
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
1.1 PENDAHULUAN
Membahas mengenai akuntabilitas keuangan daerah merupakan proses pengelolaan keuangan
daerah dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pertanggungjawaban, serta
pengawasan harus benar-benar dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan
DPRD terkait dengan kegagalan maupun keberhasilannya sebagai evaluasi tahun berikutnya.
Bentuk pertanggungjawaban atas penggunaan dana publik (APBD) adalah laporan keuangan
daerah pemerintah daerah yang terdiri dari atas laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus
kas dan catatan atas laporan keuangan.
Adapun ciriciri dari akuntabilitas yang efektif antara lain : 1. Akuntabilitas harus utuh
dan menyeluruh (dalam arti tanggung jawab terhadap pokok dan fungsi intansi, serta program
pembangunan yang dipercayakan kepadanya termasuk pelayanan BUMN/D yang berada
dibawah wewenangnya), 2. Mencangkup aspek yang menyeluruh mengenai aspek integritas
keuangan, ekonomis, efisien, dan sesuai prosedur, 3. Akuntabilitas merupakan bagian dari sistem
manajemen untuk menilai kinerja maupun unit instansi, 4. Akuntabilitas harus dibangun
berdasarkan sistem informasi yang handal, untuk menjamin keabsahan, objektivitas dan
ketepatan waktu penyampaian informasi, 5. Adanya penilaian yang efektif dan independen
terhadap akuntabilitas suatu isntansi , 6. Adanya tindak lanjut terhadap laporan penilaian atas
akuntabilitas.
Akuntabilitas merupakan konsep yang komplek yang lebih sulit mewujudkannya
daripada memberantas korupsi. Terwujudnya akuntabilitas merupakan tujuan utama reformasi
sektor publik. Tuntutan akuntabilitas publik mengharuskan lembaga-lembaga sektor publik untuk
lebih menekankan pada pertanggungjawaban horizontal bukan hanya pertanggungjawaban
vertical. Tuntutan yang kemudian muncul adalah perlunya pengawasan intern yang akan 4
mendukung dan mempengaruhi terciptanya akuntabilitas keuangan yang baik, akuntabel. Salah
satu fungsi menejemen yang penting dalam pengelolaan keuangan daerah adalah pengawasan,
baik pengawasan dari arti sempit maupun dalam arti luas sebagai pengendalian.
Pengawasan intern (intern control) adalah kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh
pimpinan atau manajer puncak dan atau pimpinan atau manajer unit atau satuan kerja
dilingkungan organisasi dan atau unit satuan kerja masing-masing. Untuk konsep pengawasan
intern terdiri dari lima komponen (unsur-unsur) namun peneliti hanya mengambil tiga komponen
yang saling berhubungan yang akan menunjang pencapaian tujuan instansi yaitu : 1. Lingkungan
pengendalian merupakan komponen yang berperan dalam membangun atmosfer (iklim), 2.
(Aktivitas Pengendalian) merupakan kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memastikan
dilaksanakannya kebijakan manajemen dan bahwa resiko sudah diantisipasi, 3. Pemantauan,
mengedepankan kebutuhan manajemen untuk monitor sistem pengendalian intern melalui
internal control system itu sendiri.
Pengawasan dapat membantu suatu organisasi dalam mencapai prestasi dan target yang
menguntungkan, dan mencegah hilangnya sumber daya. Dapat membantu menghasilkan laporan
keuangan yang dapat dipercaya. Laporan keuangan yang dapat dipercaya menjadi dasar
pemerintah daerah untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan daerah yang telah
dilakukan dalam suatu periode. Dinas Perhubungan Kota Palu sebagai lembaga yang mengelola
keuangan daerah tentu dalam menjalankan aktivitasnya harus transparan dan akuntabel.
Akuntabilitas keuangan daerah Dinas Perhubungan Kota Palu dapat dilihat dari laporan-laporan
keuangan yang dirilis dapat menyangkut pelaporan keuangan, anggaran operasional lembaga itu
sendiri maupun laporan keuangan.
1.2 Rumusan Masalah
Seberapa besar pengaruh pengawasan intern terhadap akuntabilitas Keuangan Dinas
Perhubungan Kota Palu?
1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besaran pengaruh pengwasan intern
terhadap akuntabilitas keuangan Dinas Perhubungan Kota Palu.
1.4 Manfaat Penlitian
Penelitian di harapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya maupun yang
secara langsung terkait di dalamnya. Adapun kegunaan penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
a. Bagi penulis
Dapat menanmbah wawasan ilmu pengetahuan mengenai pengawasan intern serta
pengaruhnya terhadap akuntabilitas keuangan daerah.
b. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembaca maupun
sebagai salah satu bahan referensi atau bahan pertimbangan dalam penelitian
selanjutnya dan sebagainya penambah wacana keilmuan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 LANDASAN TEORI
2.1.1 Kualitas Laporan Keuangan
Menurut PP No. 12 Tahun 2019 tentang pedoman penyusunan dan pelaporan kualitas
laporan keuangan instansi pemerintah. Kualitas laporan keuangan instansi pemerintah adalah
perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggung-jawabkan informasi
laporan keuangan. Pamungkas, Bambang, (2013) juga mengatakan bahwa pengawasan internal
berpengaruh sepenuhnya sesuai Standar Akuntansi Pemerintah (SAP), ketidakpatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan, dan kurang memadainya kapasitas SDM pengelola keuangan.
Prinsip- Prinsip Pelaksanaan Kualitas Laporan Keuangan Berdasarkan Pedoman Penyusunan
Pelaporan Kualitas Laporan Keuangan dapat berarti sebagai perwujudan pertanggungjawaban
seseorang Instansi Pemerintah yang ditetapkan oleh Kepala Lembaga Administrasi Negara,
pelaksanaan KLK harus berdasarkan antara lain pada prinsip – prinsip sebagai berikut ( Saputra,
2015):
1. Adanya komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi yang bersangkutan,
[Link] suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber sumber daya secara
konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
3. Menunjukkan tingkat pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan,
4. Berorientasi pada pencapaian visi dan misi, serta hasil dan manfaat yang diperoleh,
5. Jujur, objektif, transparan, dan akurat,
6. Menyajikan keberhasilan/kegagalan dalam pencapaian sasaran dan tujuan yang telah
ditetapkan
2.1.2 Penerapan Akuntansi Sektor Publik
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah adalah sistem terpadu yang menggabungkan
prosedur manual dengan proses elektronis dalam pengambilan data, pembukuan dan pelaporan
semua transaksi keuangan, aset, utang dan ekuitas seluruh entitas Pemerintah Daerah. Dalam
implementasi pengelola keuangan daerah diharapkan para pengelola perlu memiliki pemahaman
memadai tentang sistem akuntansi keuangan daerah agar dapat menyajikan laporan keuangan
yang handal. Sistem informasi akuntansi dalam sistem perencanaan dan pengendalian sektor
publik mempunyai arti dan peran penting terkait pada fungsinya dalam pengukuran dan
pengendalian. Salah satu upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan
pemerintah yang memenuhi prinsip tepat waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi
pemerintahan yang telah diterima secara umum. Ada beberapa hal harus dipertimbangkan dalam
penerapan standar akuntansi (Septiani, 2013), antara lain : [Link] memberikan pedoman
tentang informasi yang harus disajikan dalam laporan posisi keuangan, kinerja dan aktivitas
sebuah organisasi bagi seluruh pengguna informasi, [Link] memberikan petunjuk dan aturan
tindakan bagi auditor yang memungkinkan pengujian secara hati-hati dan independen saat
menggunakan keahlian dan integritasnya dalam mengaudit laporan suatu organisasi serta saat
membuktikan kewajaran, [Link] memberikan petunjuk tentang data yang perlu disajikan yang
berkaitan dengan berbagai variabel yang patut dipertimbangkan dalam bidang perpajakan,
regulasi, perencanaan serta regulasi ekonomi dan peningkatan efisien ekonomi serta tujuan sosial
lainnya, [Link] menghasilkan prinsip dan teori yang penting bagi seluruh pihak yang
berkepentingan dalam disiplin ilmu akuntansi.
2.1.3 Pengawasan dan Pengawasan Intern
Pengertian Pengawasan
Manusia dalam organisasi perlu diamati bukan dengan maksud untuk mendidik dan
membimbingnya. Hal ini kiranya sangat penting untuk diperhatikan karena pimpinan dalam
suatu organisasi sering lupa bahwa seorang pimpinan yang baik adalah orang dengan ikhlas
memberi kesempatan yang seluas – luasnya kepada bawahan untuk berbuat kesalahan. Hanya
saja setelah kesalahan itu dengan jalan memberikan bimbingan kepada bawahannya agar dia
tidak lagi berbuat kesalahan yang sama. Sehubungan dengan hal di atas peneliti mengemukakan
definisi pengawasan menurut Siagian (1989:135) dalam bukunya yang berjudul Filsafat
Administrasi, mengatakan: ”Pengawasan adalah proses pengamatan dari pada pelaksanaan
seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang
dilakukan berjalan sesuai dengn rencana yang telah ditentukan sebelumnya”. Sedangkan
pengawasan menurut Atmosudirjo (1989:223) dalam bukunya Administrasi dan Manajemen
Umum, menyebutkan: Pengawasan adalah keseluruhan daripada kegiatan – kegiatan yang
membandingkan atau mengukur apa yang sedang atau sudah diaksanakan dengan kriteria,
norma – norma, standar atau rencana – rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Kemudian
menurut Koontz: sukana (2011:11) mengatakan: “Control the measurement ang correction of
the fepormance of subornatis in order to make sure that enterprise objectives and the plans
devised to attain them are accomplished”. Pengawasan ialah pengukuran dan perbaiakan
terhadap pelaksanaan kerja bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai
tujuan-tujuan dapat terselengara. Pengawasan yang di kemukakan oleh Harold Koonz tersebut
adalah bahwa pelaksaan pengawasan yang dilakukan oleh atasan di sesuaikan dengan rencana
kerja yang dilakuakan oleh bawahan atau intruksi atasan agar tujuan yang dicapai sesuai dengan
rencana yang telah di buat.
Pengawasan Intern
Pengawasan dapat dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan fungsinya.
a. Fungsi pengawasan dari luar (eksternal) Yaitu fungsi pengawasan yang dilaksanakan oleh
pegawai di bidang pengawasan dalam membantu presiden sebagai administrator pemerintahan
yang tertinggi dalam mengendaliakan administrasi Negara. Dengan kata lain fungsi pengawsan
dilaksanakan oleh badan/ organisasi/ unit kerja yang volume dan beban kerja atau tugas
pokoknya di bidang pengawsan. Pengawasan yang dilakuakan oleh badan ini terhadap pegawai
dalam melaksanakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan di sebut pengawasan
eksternal.
b. Fungsi pengawasan dari dalam (internal) Yaitu fungsi pengawasan yang dilakuakan oleh
setiap atasan langsung terhadap bawahanya dalam mewujudkan manajemen yang baik di
lingkunganorganisasi/ unit kerja masing-masing pengawasan ini di sebut pengawasan atasan
langsung sebagai fungsi pengawasan melekat atau pengawasan internal. Untuk melaksanakan
tugas pengawasan ini, setiap atasan langsung dapat melakuakan sendiri dan dapat pula menunjuk
beberapa pembantu beberapa tim tertentu atau berkala. Pengawasan internal harus dilaksanakan
oleh pimpinan/ atasan langsung setiap saat selama proses manajemen berlangsung atau berakhir
yaitu untuk mengetahui efektivitas pencapaian tujuan organisasi.
Pengawasan internal (melekat) ini merupakan tugas dan tanggung jawab setiap pimpinana
atau atasan langsung harus menyelengarakan manajemen/ administrasi efektif dan efesien di
lingkungan organisasi/ unit kerja masingmasing di bidang pemerintahan. Fungsi pengawsan
melekat harus ditingkatakan agar efesiensi dan efektifitas tugas umum pemerintah dapat
dilaksanakan dengan baik.
2.2. Metode Analisis Data
Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Dimulai
dengan mengumpulkan dan menyaring keterangan-keterangan yang diperoleh secara menyeluruh
dan detail, kemudian diuraikan sehingga diperoleh gambaran yang jelas. Adapun data yang
diperoleh selanjutnya dilihat kesesuainnya dengan Permendagri No.86 Tahun 2017.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Gambaran Dinas Perhubungan Kota Palu
3. 1.1 Struktur Organisasi
KEPALA DINAS
MOHAMAD ARIF [Link]. [Link]
NIP. 197808 199612 1 001
SEKERTARIS
AKRAM , [Link]. [Link]
NIP. 19670203 199412 1 001
KUSUBAG KUSUBAG
KEPEGAWAIAN DAN UMUM KEUANGAN DAN PERENCANAAN
FITRIAH [Link] PROGRAM
NIP. 19810724 200212 2 002 RISTY WAHYUNIGSIH. [Link]. Msi
NIP. 19881123 200701 2 002
BIDANG LALU LINTAS DAN BIDANG PRASARANA BIDANG PENGEMBANGAN DAN
ANGKUTAN NIRWAN [Link] KESELAMATAN
[Link] NIP. 19670507 199403 1 015 MOHAMMAD AFFAN , [Link]
NIP. 19780212 199803 1 004
NIP. 19750205 200604 1 006
SEKSI LALU LINTAS SEKESI PERENCANAAN &
ILMAN. [Link] PEMBANGUNAN PRASARAN SEKSI PEMANDUAN MODA &
NIP. 19730820 200701 1 024 NOFRITA BEATRIX [Link],MM TEKNOLOGI PERHUBUNGAN
NIP. 1977107 201101 2 003 DIDIK WAHYUDI KURIAWAN. SE
NIP. 19740801 1 200904 1 001
SEKSI ANGKUTAN
SUGENG RIYADI. SH
NIP. 19671224 200212 1 003 SEKSI PENGOPRASIAN PRASARAN
SEKSI LINGKUNGAN
LUSTRIANA [Link]
NIP. 19810923 20003 2 001 PERHUBUNGAN
YANNI SOFIANI. SH. M. Adm. KP
SEKESI PERPARKIRAN NIP. 19730523 2007011 014
BENY ELFIANTO, SE
NIP. 19770702 200801 1 018
SEKESI PERAWATAN PRASARAN
SYAFRUDDIN. ST. MSi
NIP. 19720323 199903 1 008 SEKSI KESELAMATAN
ADJIMIN. [Link]
NIP. 19730523 300701 1 014
KA. UPTD PENGUJIAN
DEY INTAN. [Link]
NIP. 19740505 20003 2 007
3.2 Hasil Survey
3.2.1 Analisis Terhadap Pengawasan Audit
Berdasarkan pasal 47 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah, telah diamanatkan kepada mentri/pimpinan lembaga, gubernur,
dan bupati/walikota untuk beranggung jawab atas efektifitas penelenggaraan sistem
pengendalian intern dilingkungan masing-masing. Untuk memperkuat dan menunjang efektivitas
sistem pengendalian intern, dilakukan pengawasan intern terhadap pelaksanaan tugas, fungsi,
akuntabilitas keuangan negara, serta pemenuhan kebutuhan pengawasan intern dalam organisasi
modern pada kementrian perhubungan.
Auditi adalh orang/instansi pemerintah atau kegiatan, program fungsi tertentu suatu entitas
sebagai obyek penugasan audit intrn oleh Auditor atau APIP. Audit dengan tujuan tertentu
dilakukan dengan tujuan khusus diluar audit keuangan dan audit kinerja terhadao masalah yang
menjadi fokus perhatian pimpinan organisasi atau Auditi atau masalh yang bersifat khas.