MATA KULIAH
PENGANTAR MANAJEMEN
KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
DISUSUN OLEH
NAMA :OWEN JUNIARKO
NIM : 213030302305
DOSEN PENGAMPU :
Dra. TM. Murniati, MM
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PALANGKARAYA
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..............................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................1
B. Tujuan Penulisan....................................................................................3
C. Manfaat Penulisan..................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Komunikasi Organisasi............................................................4
B. Fungsi Komunikasi dalam Organisasi....................................................5
C. Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Organisasi.............................7
D. Pendekatan Komunikasi Organisasi.......................................................8
E. Alur Komunikasi...................................................................................11
F. Dimensi Komunikasi.............................................................................14
G. Distorsi dan Hilangnya Komunikasi......................................................16
BAB III PENUTUP..................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dalam menjalin relasi dengan orang lain, kita membutuhkan komunikasi. Dalam
dunia kerja, komunikasi merupakan satu hal yang paling penting dan menjadi bagian
dari tuntutan profisiensi (keahlian). Komunikasi terjadi jika seseorang ingin
menyampaikan informasi kepada orang lain. dan komunikasi tersebut dapat berjalan
baik dan tepat dan jika penyampaian informasi tadi menyampaikannya dengan patut,
dan penerima informasi menerimanya tidak dalam bentuk distorsi.
Penyebab rusaknya hubungan antar individu dalam suatu organisasi, misalnya
antara manajer atau supervisor dengan karyawan atau di antara karyawan itu sendiri
adalah adanya miskomunikasi yang terjadi. Untuk bisa berkomunikasi dengan baik
dibutuhkan tidak hanya bakat, tapi terutama kemauan untuk melakukan proses belajar
yang kontinu. Keterampilan berkomunikasi yang baik meliputi kemampuan dasar
untuk mengirim dan menguraikan pesan secara akurat dan efektif untuk
memperlancar pertemuan, untuk memahami cara terbaik dalam penyebaran informasi
dalam sebuah organisasi, serta untuk memahami makna simbolis tindakan-tindakan
seseorang sebagai [Link] adalah suatu pertukaran—sebuah konsep
yang sederhana tetapi vital.
Walaupun demikian, terlalu sering kita melakukan pendekatan dengan suatu
pertukaran tanpa mempertimbangkan bagaimana pihak lain bereaksi. Pesan yang kita
sampaikan seringkali terlalu berorientasi kepada diri sendiri, sehingga apa yang
terjadi dengan pihak lain menjadi sesuatu yang terabaikan. Dalam organisasi, ada dua
komunikasi yang terjadi, yaitu komunikasi organisasi secara makro dan secara mikro.
Komunikasi makro terjadi antara organisasi tersebut dengan lingkungannya atau
dengan organisasi lainnya. Komunikasi mikro terjadi di dalam organisasi, yaitu
komunikasi yang terjadi diantara para anggota organisasi, antara atasan dan bawahan,
antar para pemimpin, dan antar kelompok kerja atau antar divisi. Jadi, komunikasi
organisasi secara mikro merupakan komunikasi interpersonal di dalam organisasi.
Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya
yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan
organisasi itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang
berlangsung dalam organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa
yang dipakai, bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan
sebagainya. Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk
bahan telaah untuk selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu
organisasi tertentu berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup
organisasi dengan memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi
dilancarkan.
Berdasarkan uraian diatas, penulis bermaksud untuk mengkaji lebih dalam
mengenai komunkasi organiasi yang dirangkum dalam sebuah makalah yang berjudul
”Komunikasi Organisasi”
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adlah untuk mengetahui komunikasi organisasi,
serta hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah tersebut.
C. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini adalah menambahw wawasan dan pengetahuan bagi
penulis sehingga penulis dapat melakukan komunikasi baik dalam organisasi maupun
interpersonal dilapangan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah suatu komunikasi yang terdiri dalam suatu
organisasi tertentu. Kalau dalam organisasi dikenal adanya struktur formal dan
informal maka dalam komunikasinya yang kiranya juga amat penting dikemukakan
sebagai unsur kontinum yang ketiga ialah komunikasi antarpribadi (Prasetya, 2011).
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan
organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi
(Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh
organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa
cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus
dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan
surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui
secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya
secara individual.
Everet [Link] dalam bukunya Communication in Organization,
mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja
sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian
tugas.
B. Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
Sendjaja (2004) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai
berikut:
1. Fungsi informatif. Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan
informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat
memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi
yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan
pekerjaannya secara lebih pasti. Orang-orang dalam tataran manajemen
membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna
mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan
(bawahan) membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping
itu juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin
cuti, dan sebagainya.
2. Fungsi regulatif. Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku
dalam suatu organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi
regulatif, yaitu: a. Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran
manajemen, yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan
semua informasi yang disampaikan. Juga memberi perintah atau intruksi supaya
perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. b. Berkaitan dengan
pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya,
bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan
tidak boleh untuk dilaksanakan.
3. Fungsi persuasif. Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan
tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya
kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi
bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara
sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar
dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan
kewenangannya.
4. Fungsi integratif. Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang
memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik.
Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu: a.
Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut
(buletin, newsletter) dan laporan kemajuan organisasi. b. Saluran komunikasi
informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja,
pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini
akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri
karyawan terhadap organisasi.
Griffin (2003) dalam A First Look at Communication Theory, membahas
komunikasi organisasi mengikuti teori management klasik, yang menempatkan suatu
bayaran pada daya produksi, presisi, dan efisiensi. Adapun prinsip-prinsip dari teori
management klasikal adalah sebagai berikut:
kesatuan komando- suatu karyawan hanya menerima pesan dari satu atasan
rantai skalar- garis otoritas dari atasan ke bawahan, yang bergerak dari atas
sampai ke bawah untuk organisasi; rantai ini, yang diakibatkan oleh prinsip
kesatuan komando, harus digunakan sebagai suatu saluran untuk pengambilan
keputusan dan komunikasi.
divisi pekerjaan- manegement perlu arahan untuk mencapai suatu derajat tingkat
spesialisasi yang dirancang untuk mencapai sasaran organisasi dengan suatu cara
efisien.
tanggung jawab dan otoritas- perhatian harus dibayarkan kepada hak untuk
memberi order dan ke ketaatan seksama; suatu ketepatan keseimbangan antara
tanggung jawab dan otoritas harus dicapai.
disiplin- ketaatan, aplikasi, energi, perilaku, dan tanda rasa hormat yang keluar
seturut kebiasaan dan aturan disetujui.
mengebawahkan kepentingan individu dari kepentingan umum- melalui contoh
peneguhan, persetujuan adil, dan pengawasan terus-menerus.
C. Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Organisasi
Lesikar menguraikan adanya empat faktor yang mempengaruhi keefektifan
komunikasi organisasi yaitu meliputi :
1. komunikasi formal. Merupakan cara komunikasi yang didukung, dan mungkin
dikendalikan oleh manajer. Contohnya adalah newsletter, memo reguler, laporan,
rapat staf, dan lain-lain.
2. Struktur wewenang. Perbedaan status dan kekuasaan dalam organisasi membantu
menentukan siapa yang akan berkomunikasi dengan enak kepada siapa. Selain
itu, isi dan akurasi komunikasi juga dipengaruhi oleh perbedaan wewenang.
3. Spesialisasi pekerjaan. Biasanya akan mempermudah komunikasi dalam
kelompok yang berbeda-beda. Anggota suatu kelompok kerja biasanya memiliki
jagron, pandangan mengenai waktu, sasaran, tugas dan gaya pribadi yang sama.
4. Kepemilikan informasi, Setiap individu mempunyai informasi yang unik dan
pengetahuan mengenai pekerjaan mereka, yang merupakan semacam kekuasaan
bagi individu-individu yang memilikinya.
D. Pendekatan Komunikasi Organisasi
Untuk melihat komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi dapat digunakan
tiga pendekatan, yaitu :
Pendekatan Makro, dalam pendekatan makro organisasi dipandang sebagai
suatu struktur global yang berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam berinteraksi,
organisasi melakukan aktivitas tertentu seperti :
1. Memproses informasi dan lingkungan.
2. Mengadakan identifikasi.
3. Melakukan intergrasi dengan organisasi lain.
4. Menentukan tujuan organisasi.
Pendekatan Mikro, pendekatan ini terutama menfokuskan kepada komunikasi
dalam unit dan sub-unit pada suatu organisasi. Komunikasi yang diperlukan pada
tingkat ini adalah komunikasi antara anggota kelompok seperti :
1. Komunikasi untuk pemberian orientasi dan latihan.
2. Komunikasi untuk melibatkan anggota kelompok dalam tugas kelompok.
3. Komunikasi untuk menjaga iklim organisasi.
4. Komunikasi dalam mensupervisi dan pengarahan pekerjaan.
5. Komunikasi untuk mengetahui rasa kepuasan kerja dalam organisasi.
Pendekatan individual berpusat pada tingkahlaku komunikasi individual dalam
organisasi. Semua tugas-tugas yang telah diuraikan pada dua pendekatan sebelumnya
diselesaikan oleh komunikasi individual satu sama lainnya. Ada beberapa bentuk
komunikasi individual :
1. Berbicara pada kelompok kerja.
2. Menghadiri dan berinteraksi dalam rapat-rapat.
3. Menulis dan mengonsep surat.
4. Berdebat untuk suatu usulan.
Griffin menyadur tiga pendekatan untuk membahas komunikasi organisasi.
Ketiga pendekatan itu adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan sistem. Karl Weick (pelopor pendekatan sistem informasi)
menganggap struktur hirarkhi, garis rantai komando komunikasi, prosedur
operasi standar merupakan mungsuh dari inovasi. Ia melihat organisasi sebagai
kehidupan organis yang harus terus menerus beradaptasi kepada suatu perubahan
lingkungan dalam orde untuk mempertahankan hidup. Pengorganisasian
merupakan proses memahami informasi yang samar-samar melalui pembuatan,
pemilihan, dan penyimpanan informasi. Weick meyakini organisasi akan
bertahan dan tumbuh subur hanya ketika anggota-anggotanya mengikutsertakan
banyak kebebasan (free-flowing) dan komunikasi interaktif. Untuk itu, ketika
dihadapkan pada situasi yang mengacaukan, manajer harus bertumpu pada
komunikasi dari pada aturan-aturan.
Teori Weick tentang pengorganisasian mempunyai arti penting dalam bidang
komunikasi karena ia menggunakan komunikasi sebagai basis pengorganisasian
manusia dan memberikan dasar logika untuk memahami bagaimana orang
berorganisasi. Menurutnya, kegiatan-kegiatan pengorganisasian memenuhi fungsi
pengurangan ketidakpastian dari informasi yang diterima dari lingkungan atau
wilayah sekeliling. Ia menggunakan istilah ketidakjelasan untuk mengatakan
ketidakpastian, atau keruwetan, kerancuan, dan kurangnya predictability. Semua
informasi dari lingkungan sedikit banyak sifatnya tidak jelas, dan aktivitas-
aktivitas pengorganisasian dirancang untuk mengurangi ketidakpastian atau
ketidakjelasan.
2. Pendekatan budaya. Asumsi interaksi simbolik mengatakan bahwa manusia
bertindak tentang sesuatu berdasarkan pada pemaknaan yang mereka miliki
tentang sesuatu itu. Mendapat dorongan besar dari antropolog Clifford Geertz,
ahli teori dan ethnografi, peneliti budaya yang melihat makna bersama yang unik
adalah ditentukan organisasi. Organisasi dipandang sebagai budaya. Suatu
organisasi merupakan sebuah cara hidup (way of live) bagi para anggotanya,
membentuk sebuah realita bersama yang membedakannya dari budaya-budaya
lainnya.
Pacanowsky dan para teoris interpretatif lainnya menganggap bahwa budaya
bukan sesuatu yang dipunyai oleh sebuah organisasi, tetapi budaya adalah sesuatu
suatu organisasi. budaya organisasi dihasilkan melalui interaksi dari anggota-
anggotanya. Tindakan-tindakan yang berorientasi tugas tidak hanya mencapai
sasaran-sasaran jangka pendek tetapi juga menciptakan atau memperkuat cara-
cara yang lain selain perilaku tugas ”resmi” dari para karyawan, karena aktivitas-
aktivitas sehari-hari yang paling membumi juga memberi kontribusi bagi budaya
tersebut.
Pendekatan ini mengkaji cara individu-individu menggunakan cerita-cerita,
ritual, simbol-simbol, dan tipe-tipe aktivitas lainnya untuk memproduksi dan
mereproduksi seperangkat pemahaman.
3. Pendekatan kritik. Stan Deetz, salah seorang penganut pendekatan ini,
menganggap bahwa kepentingan-kepentingan perusahaan sudah mendominasi
hampir semua aspek lainnya dalam masyarakat, dan kehidupan kita banyak
ditentukan oleh keputusan-keputusan yang dibuat atas kepentingan pengaturan
organisasi-organisasi perusahaan, atau manajerialisme.
Manajer dapat menciptakan kesehatan organisasi dan nilai-nilai demokrasi
dengan mengkoordinasikan partisipasi stakeholder dalam keputusan-keputusan
korporat.
E. Alur Komunikasi
Komunikasi keatas, kebawah, dan menyamping merupakan ciri-ciri arah dan alur
komunikasi organisasional, dan mereka menggambarkan saluran komunikasi formal
dan informal. Alur komunikasi diatur di dalam organisasi. Ada secara eksplisit dan
implisit pembatas pada siapa dapat berkomunikasi, dengan cara bagaimana, tentang
apa, dan untuk tujuan apa.
Jaringan komunikasi organisasi merupakan suatu struktur saluran dimana
informasi melewatinya dari individu satu ke individu lainnya. Jaringan tersebut
mengandung alur informasi, dan ia mencerminkan interaksi formal antar anggota
organisasi. Beberapa jaringan yang berbeda beroperasi di dalam organisasi kerja
(lihat gambar). Jaringan rantai merupakan suatu pola komunikasi yang ada pada
birokrasi dan organisasi lain dimana terdapat suatu rantai formal komando.
Informasi melintasi hirarki organisasi baik ke atas maupun ke bawah dengan
pertukaran antara satu orang dan dua orang lainnya—satu diatas dan satu dibawah
posisi seseorang itu sendiri. Bergantung pada ukurannya, organisasi mungkin
memiliki beberapa rantai komunikasi yang menghubungkan tingkatan-tingkatan
organisasi yang lebih tinggi dan lebih bawah. Meskipun rantai tersebut hanya
memiliki kapasitas dua-jalur, ini digunakan terutama untuk komunikasi kebawah.
Jaringan roda memasukkan satu orang yang berkomunikasi dengan masing-masing
dari sejumlah orang lainnya.
Jaringan Y memasukkan dua orang sentral yang menyampaikan informasi kepada
yang lainnya pada batas luar suatu pengelompokkan. Pada jaringan ini, seperti pada
jaringan rantai, sejumlah saluran terbuka dibatasi, dan komunikasi
disentralisasi/dipusatkan. Orang hanya bisa secara resmi berkomunikasi dengan
orang-orang tertentu saja. Pada jaringan pinwheel, seluruh saluran terbuka. Setiap
orang berkomunikasi dengan setiap orang lainnya. Pinwheel ini memberikan contoh
suatu struktur komunikasi yang terdesentralisasi. Jaringan terpusat/sentralisasi dan
disentralisasi memiliki kegunaan yang berbeda. Sebagai contoh, struktur
desentralisasi dapat lebih efektif untuk pemecahan masalah secara kreatif, sedangkan
strukur desentralisasi lebih bagus untuk pergerakan informasi yang cepat.
Komunikasi organisasi berbeda sesuai dengan apakah tujuan pokoknya mengirim
informasi kebawah, ataukah pada arah yang horisontal. Komunikasi kebawah
membawa informasi yang berhubungan dengan tugas pada seseorang yang
melakukan tugas tersebut. Ia juga membawa informasi tentang kebijakan dan
prosedur, serta bisa jadi digunakan untuk feedback yang bersifat motivasional pada
karyawan. Komunikasi lateral atau horisontal terjadi antar rekan kerja. Anggota tim
dan departemen harus berkomunikasi untuk memperluas hubungan kerja mereka.
Karena jalur otoritas tidak berseberangan, maka komunikasi lateral ini lebih cepat
daripada komunikasi ke atas atau ke bawah secara hirarkis.
Komunikasi keatas membawa informasi dari tingkat bawah ke tingkat atas
organisasi. Informasi itu mungkin concern pada aktivitas lingkungan luar atau
internal pada tingkat bawah organisasi.
Para pimpinan organisasi menerima feedback tentang efektifitas keputusan yang
telah diambilnya. Anggota tingkat bawah mempunyai kesempatan untuk
menginformasikan dan mengajukan keluhan, dan memberikan saran untuk
pengembangan.
Pesan lebih mungkin untuk dimengerti ketika sebuah pertukaran terjadi daripada
ketika penerima tidak membuat respon apapun. Dengan komunikasi satu-arah,
informasi dikirim ke bawah dari pimpinan kepada anggota. Pimpinan tidak
menanyakan atau tidak mengharapkan suatu respon. Tentu saja, jika tidak ada
komunikasi keatas, maka akan sangat sulit mengetahui apakah pesan pimpinan telah
dapat diterima. Pada komunikasi dua-arah, penerimaan pesan dapat diperjelas sebab
suatu respon diharapkan kemunculannya. Komunikasi dua-arah ini memungkinkan
misunderstanding/ kesalah-pahaman dapat dijernihkan.
Para teoritikus human relation, berusaha mendorong ke arah terbukanya
komunikasi antara para pimpinan dan anggota-anggotanya. Komunikasi terbuka
merupakan penyingkapan informasi personal dan/atau yang berhubungan dengan
pekerjaan. Dua isu sentral dari konsep itu adalah kejujuran dalam menyingkap
informasi dan keikhlasan dalam menerimanya.
F. Dimensi Komunikasi
Pertukaran gagasan di antara para administrator dan karyawan dalam suatu
perusahaan, dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara
horisontal dan vertikal di dalam perusahaan, sehingga pekerjaan dapat berjalan.
Empat Dimensi Komunikasi organisasi :
1. Downward communication Yaitu komunikasi yang berlangsung ketika orang-
orang yang berada pada tataran manajemen mengirimkan pesan kepada
bawahannya. Fungsi arus komunikasi dari atas ke bawah ini adalah: a) Pemberian
atau penyimpanan instruksi kerja (job instruction) b) Penjelasan dari pimpinan
tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job retionnale) c)
Penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku (procedures
and practices) d) Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.
Ada 4 metode dalam penyampaian informasi kepada para pegawai menurut Level
(1972): 1. Metode tulisan 2. Metode lisan 3. Metode tulisan diikuti lisan 4.
Metode lisan diikuti tulisan
2. Upward communication, Yaitu komunikasi yang terjadi ketika bawahan
(subordinate) mengirim pesan kepada atasannya. Fungsi arus komunikasi dari
bawah ke atas ini adalah: a) Penyampaian informai tentang pekerjaan pekerjaan
ataupun tugas yang sudah dilaksanakan b) Penyampaian informasi tentang
persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh
bawahan c) Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan d) Penyampaian
keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya.
Komunikasi ke atas menjadi terlalu rumit dan menyita waktu dan mungkin hanya
segelintir kecil manajer organisasi yang mengetahui bagaimana cara memperoleh
informasi dari bawah. Sharma (1979) mengemukakan 4 alasan mengapa
komunikasi ke atas terlihat amat sulit: 1. Kecenderungan bagi pegawai untuk
menyembunyikan pikiran mereka 2. Perasaan bahwa atasan mereka tidak tertarik
kepada masalah yang dialami pegawai 3. Kurangnya penghargaan bagi
komunikasi ke atas yang dilakukan pegawai 4. Perasaan bahwa atasan tidak dapat
dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai
3. Horizontal communication Yaitu komunikasi yang berlangsung di antara para
karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan yang setara. Fungsi arus
komunikasi horisontal ini adalah: a) Memperbaiki koordinasi tugas b) Upaya
pemecahan masalah c) Saling berbagi informasi d) Upaya pemecahan konflik e)
Membina hubungan melalui kegiatan bersama
4. Interline communication, Yaitu tindak komunikasi untuk berbagi informasi
melewati batas-batas fungsional. Spesialis staf biasanya paling aktif dalam
komunikasi lintas-saluran ini karena biasanya tanggung jawab mereka
berhubungan dengan jabatan fungsional. Karena terdapat banyak komunikasi
lintas-saluran yang dilakukan spesialis staf dan orang-orang lainnya yang perlu
berhubungan dalam rantai-rantai perintah lain, diperlukan kebijakan organisasi
untuk membimbing komunikasi lintas-saluran.
Ada dua kondisi yang harus dipenuhi dalam menggunakan komunikasi lintas-
saluran: 1. Setiap pegawai yang ingin berkomunikasi melintas saluran harus
meminta izin terlebih dahulu dari atasannya langsung 2. Setiap pegawai yang
terlibat dalam komunikasi lintas-saluran harus memberitahukan hasil
komunikasinya kepada atasannya
G. Distorsi dan Hilangnya Komunikasi
Sebagai informasi yang dikirim kebawah dari pimpinan kepada anggota
organisasi melalui suatu jaringan yang terbatas, seperti jaringan rantai, ia diubah
melalui proses Filtering. Pimpinan tingkat menengah menyaring informasi yang
mereka terima dan teruskan. Mereka menghilangkan beberapa bagian dari informasi
itu dan menambah detil pada bagian yang lain. Mereka mengirimkannya kepada
beberapa bawahan tetapi tidak seluruhnya. Pada setiap tingkatan yang dilalui oleh
sebuah pesan, seorang pimpinan memutuskan seberapa banyak informasi yang perlu
dikirimkan. Jelasnya, dengan sembrono, pesan awalnya menjadi berubah. Informasi
hilang, dan pesan menjadi terdistorsi. Seberapa seriuskah masalah filtering ini?
Beberapa pihak telah melaporkan bahwa sebanyak 80% informasi hilang sebagai
pesan yang turun dari atas ke bawah organisasi, mengindikasikan bahwa filtering
dapat menjadi masalah besar (Nichols, 1962).
Bagaimanapun juga, filtering seringkali diperlukan. Komunikasi tentang
kebijakan dan prosedur organisasi mungkin butuh diterjemahkan ke dalam bahasa
yang relevan dengan tugas sebelum mereka dikirim kepada [Link] terjadi
pada komunikasi keatas dengan cara yang sama. Pimpinan menengah merangkum
informasi dari tingkat bawah sebelum mengirimnya kepada pimpinan tingkat di
atasnya. Ini mungkin perlu jika atasan tidak memiliki waktu atau keahlian teknis
untuk mengkaji dan mengerti pesan aslinya. Anggota mungkin juga menyaring
informasi sebelum mereka mengirimnya kepada seorang atasan. Beberapa informasi
ditahan ketika komunikasi berisikan berita buruk atau ketika atasan di atasnya tidak
dipercaya. Kesalahan umum dalam komunikasi keatas adalah penghilangan detail
yang penting (Gaines, 1980). Detail yang dihilangkan dari pesan ini seringkali
dibelokkan dalam saluran komunikasi lateral. Sehingga informasi yang seharusnya
diberikan
BAB III
PENUTUP
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi
di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Proses komunikasi
berbeda-beda tergantung dari metode dan teknik yang dipergunakan, media yang dipakai,
prosesnya, faktor-faktor yang menjadi penghambat, dan sebagainya. Selain hal tersebut,
komunikasi juga tergantung pada jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup organisasi
dengan memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilancarkan.
DAFTAR PUSTAKA
Griffin, 2003, A First Look at Communication Theory, McGrraw-Hill Companies
[Link]
Sendjaja, 1994, Teori-Teori Komunikasi, Universitas Terbuka
Susanto, DKK. 2004. Strategi Organisasi. Yogyakarta: Amara Books.
Sutarto. 2006. Dasar-Dasar Organisasi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Thoha. 2008. Perilaku Organisasi; konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Wayne Pace dan Don F. Faules. 2006. Komunikasi Organisasi; strategi meningkatkan
kinerja perusahaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.