TOKOH PENDIRI ORGANISASI
KEMASYARATAN ISLAM DI INDONESIA
NAMA KELOMPOK 3
1. AINI RAHMA DINI
2. AULIA ZAHRA
3. RINTO APRILANDO
4. RISKI FADHOIL
5. JEFRI RAHMATULLAH
MTS NEGERI 5 SOLOK SELATAN
TAHUN PELAJARAN 2021/2022
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan
kemudahan kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“TOKOH PENDIRI ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA.”
Makalah ini dapat tewujud berkat adanya bantuan dari teman kelompok serta dari
berbagai pihak, oleh karena itu penyusun mengucapkan terima kasih semua pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini dengan penuh kecermatan dan ketelitian.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, dengan kerendahan hati kami siap menerima kritik dan saran yang sipatnya
membangun dalam guna perbaikan dan penyempurnaan penulisan makalah berikutnya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kelompok kami dan teman-teman,
serta pemerhati pendidikan pada umumnya, dan ini merupakan wujud sebuah pengabdian
kami kepada Allah SWT.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
TOKOH PENDIRI ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA
A. K.H. Ahmad Dahlan
B. K.H. Hasyim Asy'ari
C. K.H. Samanhudi
D. Syekh Ahmad Surkati
E. Ahmad Hassan
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
TOKOH PENDIRI ORGANISASI KEMASYARAKATAN ISLAM DI INDONESIA
A. K.H. Ahmad Dahlan
Sosok K.H. Ahmad Dahlan tidak terlepas dari organisasi Muhammadiyah yang
didirikan. Organisasi tersebut telah banyak mengajarkan ajaran Islam yang murni kepada
masyarakat.
1. Biografi K.H. Ahmad Dahlan
Muhammad Darwisy atau [Link] Dahlan lahir tahun 1868 di
Yogyakarta. Kedua orang tuanya dikenal sangat alim, yaitu K.H. Abu Bakar (Imam
Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (putri H. Ibrahim,
Penghulu Keraton Kesultanan Yogyakarta). silsilahnya ialah K.H. Abu Bakar bin
K.H. Muhammad Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Demang Djurung
Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng
Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana 'Ainul
Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishak bin Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik).
Sejak kecil, Ahmad Dahlan dididik dalam lingkungan pesantren, sekaligus
menjadi tempat menimba pengetahuan agama dan bahasa Arab. Tahun 1883, Ahmad
Dahlan berangkat haji ketika usianya masih lima belas tahun. la tinggal di Makkah
selama lima tahun untuk menambah pengetahuan. Pada periode tersebut, Ahmad
Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran pembaru Islam, seperti Muhammad
Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Tahun 1888, ia
kembali ke kampung halaman dan mengganti namanya dengan Ahmad Dahlan. Tahun
1903, Ahmad Dahlan kembali bertolak ke Makkah dan menetap di sana selama dua
tahun. Saat itu, Ahmad Dahlan berguru kepada Syekh Ahmad al-Khatib.
2. Peran K.H. Ahmad Dahlan dalam Perjuangan Meraih kemerdekaan Indonesia
Setelah kembali ke kampung halaman, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan
organisasi Muhammadiyah. Organisasi ini bersifat nonpolitik dan bergerak di bidang
keagamaan, pendidikan, serta sosial budaya yang menjurus kepada tercapainya
kebahagiaan lahir dan batin.
Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita
pembaruan Islam di Indonesia
Muhammadiyah lebih mengutamakan bidang pendidikan dan sosial. Untuk
meningkatkan pendidikan pemuda, dibentuk organisasi kepanduan yang disebut
Hizbul Wathan. Adapun untuk meningkatkan pendidikan dan kecakapan wanita,
Muhammadiyah membentuk organisasi Aisiyah. Dalam perkembangan selanjutnya,
pemudi-pemudi Aisiyah membentuk Nasyiatul Aisiyah.
Gagasan pendirian Muhammadiyah mendapat hambatan dari berbagai
kalangan, baik dari keluarga maupun masyarakat secara luas. Ada yang beranggapan
bahwa ia hendak mendirikan agama baru yang menyalahi Islam. Ada pula yang
menganggapnya sebagai kiai palsu karena sudah meniru bangsa Belanda yang
Kristen, mengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan organisasi Budi Utomo
yang kebanyakan anggotanya dari golongan priayi. Ahmad Dahlan juga mendapat
tuduhan lain. Saat itu, ia mengajar di sekolah OSVIA Magelang. OSVIA adalah
sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priayi.
K.H. Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia
Belanda untuk mendapatkan badan hukum tanggal 20 Desember 1912 dan dikabulkan
tahun 1914, yaitu Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914 M.
Izin dari pemerintah Hindia Belanda tersebut hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta
dan organisasi ini hanya boleh bergerak di Yogyakarta. Pemerintah Hindia Belanda
khawatir akan perkembangan organisasi ini. Oleh karena itu, kegiatan organisasi ini
dibatasi. Meski dibatasi, Muhammadiyah telah memiliki cabang di Srandakan,
Wonosari, Imogiri, dan lainnya.
Gagasan pembaruan Muhammadiyah disebarluaskan Ahmad Dahlan dengan
mengadakan tablig ke berbagai kota. Ia juga menyebarluaskan melalui relasi dagang.
Gagasan pembaruan Ahmad Dahlan mendapat sambutan dari berbagai kota di
Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah datang untuk menyatakan dukungan
terhadap organisasi Muhammadiyah. Muhammadiyah semakin lama semakin
berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, Ahmad Dahlan
mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan
cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia tanggal 7 Mei 1921 M. Permohonan ini
dikabulkan pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921 M.
K.H. Ahmad Dahlan wafat tanggal 23 Februari 1923 di Yogyakarta dalam usia
54 tahun. Ia dimakamkan di Kampung Karangkajen, Brontokusuman, wilayah
bernama Mergangsan di Yogyakarta. Atas jasanya terhadap bangsa dan negara,
pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar kehormatan sebagai Pahlawan
Kemerdekaan Nasional. Gelar tersebut dituangkan dalam Surat Keputusan Presiden
RI No. 657 Tahun 1961, tanggal 27 Desember 1961. Kisah tentang K.H. Ahmad
Dahlan diangkat ke layar lebar pada tahun 2010 dengan judul film "Sang Pencerah".
Film ini menceritakan tentang kisah K.H. Ahmad Dahlan dan terbentuknya
Muhammadiyah.
B. K.H. Hasyim Asy'ari
Sosok K.H. Hasyim Asy'ari identik dengan pesantren dan organisasi Nahdlatul
Ulama. Lahirnya NU memiliki sejarah dan perjuangan yang cukup panjang. Melalui
organisasi ini, nama besarnya semakin berkibar. Ketokohan, kharisma, dan kedalaman
ilmu yang dimiliki menempatkannya menjadi salah satu ulama termasyhur di Indonesia.
Berikut ulasan singkat mengenai K.H. Hasyim Asy'ari.
1. Biografi K.H. Hasyim Asy'ari
Muhammad Hasyim atau K.H. Hasyim Asy'ari lahir hari Selasa, 14 Februari
1871 M, bertepatan 24 Dzulkaidah 1287 H di Gedang, sebuah dusun kecil yang
terletak di utara Jombang, Jawa Timur. Ayahnya bernama Kiai Asyari merupakan
pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama
Halimah. Dari nasab ibu, Hasyim Asy'ari masih keturunan Raja Brawijaya VI, yang
juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi raja Kerajaan
Pajang.
2. Peran K.H. Hasyim Asy'ari dalam Perjuangan Meraih kemerdekaan Indonesia
Di kalangan komunitas NU, Hasyim Asy'ari mendapat gelar sebagai hadratus
syekh atau mahaguru.
K.H. Hasyim Asy'ari banyak membuat tulisan berdasarkan pemikirannya.
Karyakarya K.H. Hasyim Asy'ari sebagai berikut.
a. Risalah Ahlus-Sunah wal Jama'ah: Fi Hadisil Mawta wa Asyrathis-Sa'ah wa Bayan
Mafhumis-Sunnah wal Bid'ah (Paradigma para Ahlus-Sunah wal Jama'ah:
Pembahasan tentang Orang Mati, Tanda-Tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunah
dan Bid'ah).
b. Al-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin (Cahaya yang Terang tentang
Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad saw.).
c. Adab al-'Alim wal Muta'allim: fi ma Yahtaju llayh al-Muta'allim fi Ahwali Ta'alumihi
wa ma Ta'limini (Etika Pengajar dan Pelajar: dalam Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
Pelajar Selama Belajar).
d. Al-Tibyan: fin-Nahyi 'an Muqata'atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan (Penjelasan
tentang Larangan Memutuskan Tali Silaturahmi, Tali Persaudaraan, dan Tali
Persahabatan).
e. Risalah fi Ta'kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A'immah al-Arba'ah. Kitab ini menjelaskan
tentang perihal imam empat mazhab, yaitu Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Abu
Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hambal.
f. Mawaidz, kitab ini menjadi solusi cerdas bagi pegiat di masyarakat.
g. Arba'ina Haditsin Tata'allaqu bi Mabadi' Jam'iyyat Nahdlatul Ulama. Kitab ini berisi
empat puluh hadis pilihan yang seharusnya menjadi pedoman bagi warga NU.
h. At-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna al-Maulid bi al-Munkarat. Kitab ini menyajikan
beberapa hal yang harus diperhatikan ketika memperingati maulud Nabi Muhammad
saw..
Selain menjadi pemimpin NU, K.H. Hasyim Asy'ari juga memiliki andil penting
dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Beliau terlibat secara aktif dalam perjuangan membebaskan bangsa dari penjajah
Belanda. Tahun 1937, beliau didatangi pimpinan pemerintah Belanda dengan
memberikan Bintang Mas dan Perak tanda kehormatan, tetapi beliau menolak. Masa-
masa revolusi fisik tahun 1940 merupakan kurun waktu terberat bagi beliau. Pada masa
penjajahan Jepang, beliau sempat ditahan oleh pemerintah fasisme Jepang.
Selama ditahan beliau mengalami penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangan
menjadi cacat.
C. K.H. Samanhudi
K.H. Samanhudi dikenal sebagai pendiri organisasi Sarekat Dagang Islam.. Berikut
uraian singkat mengenai Samanhudi.
1. Biografi K.H. Samanhudi
Samanhudi lahir 8 Oktober 1868 di Surakarta dengan nama Wirjowikoro. Selain
itu, juga sempat dikenal dengan nama Sudarno Hadi. la baru memakai nama
Samanhudi setelah menunaikan ibadah haji. Ayah Samanhudi seorang pengusaha kain
batik.
Latar belakang pendidikan Samanhudi hanya sampai tingkat sekolah dasar.
Walaupun tidak melanjutkan pendidikan, dia tetap belajar mendalami Islam di
Surabaya.
Semasa muda, ia pernah menimba ilmu di beberapa pondok pesantren, seperti
Ponpes K.M. Sayuthy (Ciawigebang), Ponpes K.H. Abdur Rozak (Cipancur), Ponpes
Sarajaya dan Ciwaringin (Cirebon), dan Ponpes K.H. Zaenal Musthofa (Tasikmalaya).
Samanhudi mulai melihat ada perlakuan berbeda yang dilakukan pengusaha
Hindia Belanda antara pedagang net pribumi yang beragama Islam dan pedagang
Tionghoa
2. Peran K.H. Samanhudi dalam Perjuangan Meraih kemerdekaan Indonesia
Dalam dunia perdagangan, K.H. Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan
oleh penguasa Hindia Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama
Islam dan pedagang Tionghoa tahun 1905.
Berkat pengalaman beliau dalam berdagang itulah kemudian didirikan
organisasi Sarekat Dagang Islam. Di dalam organisasi tersebut, Samanhudi diberi
kepercayaan untuk menjabat sebagai ketua organisasi.
Setelah itu, Samanhudi memutuskan untuk menyudahi karier politik dan
kembali berjualan batik. Kendati demikian, ia masih berumur panjang hingga dapat
merasakan kemerdekaan Indonesia. Samanhudi wafat pada 28 Desember 1956 di
Klaten dalam usia 88 tahun.
D. Syekh Ahmad Surkati
Syekh Ahmad Surkati merupakan salah seorang tokoh pembaru Islam di Indonesia. la
mendirikan serta memimpin sebuah organisasi kemasyarakatan bernama al-Isryad
alIslamiyah.
1. Biografi Syekh Ahmad Surkati
Syekh Ahmad Surkati seorang keturunan Arab yang berasal dari Sudan. Nama
lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Assurkati al-
Khazrajiy alAnshary.
Ahmad Surkati lahir dari keluarga yang memiliki dedikasi tinggi dalam
pendidikan agama yang ditanamkan sejak usia dini.
Syekh Ahmad Surkati dikenal sebagai reformis. la banyak membaca kitab
serta mengagumi dua ulama besar, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah.
Dari Sudan, Ahmad Surkati pernah menetap dan belajar di Madinah selama
empat tahun. Selama di Madinah, beliau mendalami berbagai ilmu agama dan bahasa
Arab serta belajar ilmu hadis dari ulama besar Maroko, seperti Syekh Salih dan Syekh
Umar Hamdan
Syekh Surkati menerima tawaran tersebut kemudian meninggalkan Makkah
menuju Indonesia. la berangkat ditemani dua orang sahabat, yakni Syekh Muhammad
Abdul Hamid al-Sudani dan Syekh Muhammad Tayyib al-Maghribi.
2. Peran Syekh Ahmad Surkati dalam Perjuangan Meraih kemerdekaan Indonesia
Syekh Ahmad Surkati datang ke Indonesia tahun 1911 M. Beliau didatangkan
Jamiatul Khair, sebuah perkumpulan yang anggota dan pengurusnya terdiri atas orang
Indonesia keturunan Arab dari golongan Alawi yang ada di Jakarta.
Setelah keluar dari Jamiatul Khair, Ahmad Surkati bersama para sahabat
mendirikan sebuah perkumpulan bernama al-Irsyad al-Islamiyah tahun 1914 M.. Al-
Irsyad juga mendirikan sebuah majelis bernama "Ifta wa at-Tarjih" yang merupakan
lembaga kajian dan penelitian hukum Islam.
Dakwah Ahmad Surkati mampu mengubah tradisi sebagian masyarakat
keturunan Arab di Indonesia serta menjadi penggerak lahirnya beberapa tokoh
reformasi di Indonesia.
Syekh Surkati dan al-Irsyad berperan aktif melibatkan diri dalam setiap
kegiatan umat Islam di Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, al-Irsyad berada di
barisan paling depan dalam menampilkan sikap taat kepada "imamah".
Gagasan dan ide Syekh Ahmad Surkati banyak dituangkan dalam bentuk
tulisan yang diterbitkan dalam bahasa Arab, Melayu, dan Belanda serta beberapa
dimuat di majalah dan surat kabar. Majalah yang menerbitkan tulisan Ahmad Surkati
ialah Suluh Hindia, yang diketuai H.O.S Tjokroaminoto dan Azzachratoel Islamiah.
Melalui media inilah, pemikiran Ahmad Surkati kemudian tersebar luas.
Ahmad Surkati juga menulis beberapa karya sebagai berikut.
a. Risalah Surah al-Jawab, yang berisi tentang pertanyaan dari H.O.S.
Tjokroaminoto tentang kafa'ah.
b. Risalah Tawjih Al-Qur'an, yang berisi tentang kedekatan seseorang dengan
Rasulullah saw. bukan karena nasab, tetapi ketaatannya dalam menjalankan
syariat yang telah dibawa beliau saw..
c. Al-Wasiyyat al-Amiriyyah, yang berisi anjuran amar makruf nahi mungkar.
d. Al-Masail al-Thalath, Zeedeleer Uit De Qor'an, yang merupakan terjemahan dari
Risalah Adab Al-Qur'aniyah.
e. Al-Khawatir al-Hisan berupa sajak kenangan Syekh Ahmad Surkati dengan teman
seperjuangan.
f. Huqqus Zaujain, sebuah tulisan dari kumpulan ceramahnya tentang hak suami dan
istri.
Syekh Ahmad Surkati wafat hari Kamis, 16 September 1943 di kediamannya
Jalan Gang Solan, Jakarta (sekarang Jalan K.H. Hasyim Asy'ari). Ahmad Surkati
wafat dalam usia tujuh puluh tahun dan dimakamkan di TPU Pondok Karet, Tanah
Abang. Saat itu, Ir. Soekarno dan para pemimpin Islam lain turut mengantar jenazah
ke pemakaman.
E. Ahmad Hassan
Ahmad Hassan merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional. Ia pemikir Islam
yang sangat menyukai debat dan rajin menulis buku.. Berikut ulasan singkat mengenai
Ahmad Hassan.
1. Biografi Ahmad Hassan
Ahmad Hassan berasal dari keluarga campuran Indonesia dan India. Ia lahir di
Singapura tahun 1887. Ayahnya, Sinna Vappu Maricar merupakan seorang penulis,
jurnalis, dan ulama terkenal di Singapura. Maricar pernah menjadi redaktur di
majalah Nur al-Islam. Ibunya bernama Muznah berasal dari Palekat, Madras, tetapi
lahir dan besar di Surabaya. Keduanya menikah di Surabaya kemudian menetap di
Singapura.
Ketika usia dua belas tahun, A. Hassan belajar mandiri dengan bekerja di
sebuah toko milik iparnya bernama Sulaiman. Sambil bekerja, ia menyempatkan diri
belajar privat dan berusaha menguasai bahasa Arab sebagai kunci untuk
memperdalam pengetahuan tentang Islam. Dia juga mengaji pada Haji Ahmad di
Bukittiung dan Muhammad Thaib, seorang guru termasyhur di Minto Road.
Haji Ahmad merupakan seorang guru yang disegani dan berakhlak tinggi.
2. Peran Ahmad Hassan dalam Perjuangan Meraih kemerdekaan Indonesia
A. Hassan bukanlah tokoh tersohor yang aktif dan populer di bidang politik. Ia
lebih memilih untuk fokus membina kaum muda khususnya dalam bidang agama.
Natsir merupakan salah satu murid A. Hassan yang paling populer akan pemikiran
dan pribadi religius..
Tak hanya Natsir, presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno juga belajar
agama kepada A. Hassan.
Ketika Soekarno merumuskan konsep nasionalisme yang memisahkan peran
agama, A. Hassan pun menolak.
Tahun 1936 Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) berdiri sebagai sebuah
wadah perjuangan Islam dalam menyatukan berbagai macam ormas Islam. Di
dalamnya tergabung beberapa organisasi, seperti NU, Muhammadiyah, Persis,
Sarekat Islam, dan hampir semua ormas Islam lainnya.
A. Hassan dikenal bukan hanya sebagai ahli debat. Sebagai bekas jurnalis, ia
juga produktif dalam menulis..
Doktrin A. Hassan tersebut memengaruhi metode dakwah Persis. Berbeda
dengan Muhammadiyah yang menekankan kegiatan sosial, Persis punya kelebihan
menonjol di bidang publikasi..
Kecintaan A. Hassan pada dunia literasi tersebut diteruskan hingga akhir
hayat. Keahliannya dalam berbagai bidang ilmu agama seperti tafsir, hadis, dan fikih
menjadikan tulisannya sebagai rujukan para pemerhati kajian Islam. la wafat di
rumah sakit Dr. Sutomo, Surabaya tanggal 10 November 1958 dan dimakamkan di
Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.
KESIMPULAN
Sosok K.H. Ahmad Dahlan tidak terlepas dari organisasi Muhammadiyah yang
didirikan. Organisasi tersebut telah banyak mengajarkan ajaran Islam yang murni kepada
masyarakat.
Sosok K.H. Hasyim Asy'ari identik dengan pesantren dan organisasi Nahdlatul
Ulama. Lahirnya NU memiliki sejarah dan perjuangan yang cukup panjang.
K.H. Samanhudi dikenal sebagai pendiri organisasi Sarekat Dagang Islam. Ia seorang
pengusaha batik yang turut membantu perjuangan bagi kemerdekaan Indonesia lewat
organisasi yang didirikan.
Syekh Ahmad Surkati merupakan salah seorang tokoh pembaru Islam di Indonesia. la
mendirikan serta memimpin sebuah organisasi kemasyarakatan bernama al-Isryad
alIslamiyah.
Ahmad Hassan merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional. Ia pemikir Islam
yang sangat menyukai debat dan rajin menulis buku.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Sunyoto. 2012. Atlas Walisongo Buku Pertama yang Mengungkap Walisongo Sebagai
Fakta Sejarah. Jakarta: Pustaka liman, Trans Pustaka, LTN PBNU.
Ahmad Al-Usairy. 2003. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam hingga Abad XX. Jakarta: Akbar
Media.
Badri Yatim. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Hery Nugroho, Spdl. 2016. Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam Pendekatan Saintifik Kurikulum
2013.
Kementerian Agama RI.
Kholiluddin Muhammad. 2020. Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam MTs Kelas IX. Kementerian
Agama RI.
Latif, Chalid dan Irwin Lay. 1992. Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia. Jakarta: PT Pembina
Peraga.
M. Abdul Karim. 2007. Islam Nusantara. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
_____________2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book
Publisher.