BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Wanita Usia Subur (WUS)
Wanita usia subur ( WUS ) adalah wanita yang memasuki usia 15-
49 tahun tanpa memperhitungkan status perkawinannya. Wanita usia
subur mempunyai organ reproduksi yang masih berfungsi dengan baik
antara umur 20-45 tahun. Usia subur pada wanita berlangsung lebih cepat
daripada pria. Puncak kesuburan ada pada rentang usia 20-29 tahun. Pada
usia ini wanita memiliki kesempatan 95% untuk hamil. Pada usia 30-an
persentasenya menurun hingga 90%. Sedangkan memasuki usia 40,
kesempatan hamil berkurang hingga menjadi 40%. Setelah usia 40
wanita hanya punya maksimal 10% kesempatan untuk hamil. Masalah
kesuburan alat reproduksi merupakan hal yang sangat penting untuk
diketahui. Dimana dalam masa wanita subur ini harus menjaga dan
merawat kesehatan dan personal hygiene lat reproduksinya, salah satunya
dengan melakukan deteksi dini kanker serviks pada wanita..
2. Perilaku
a. Pengertian
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang
diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus
(rangsangan dari luar). Sedangkan perilaku kesehatan merupakan
10
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
11
suatu aktivitas atau kegiatan seseorang baik yang dapat diamati
(observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable) yang
berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
seseorang. Pemeliharaan kesehatan ini mencakup mencegah atau
melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan yang lain,
meningkatkan kesehatan dan mencari penyembuhan bila terkena
masalah kesehatan.10
b. Aspek Perilaku dalam Upaya Kesehatan
1) Aspek Pemeliharaan Kesehatan
Pemeliharaan kesehatan terdiri dari kuratif dan rehabilitatif.
Kuratif merupakan setiap perilaku atau aktivitas untuk
penyembuhan penyakit. Sedangkan rehabilitatif, merupakan
setiap perilaku atau aktivitas dalam rangka pemulihan kesehatan
setelah sembuh dari sakit atau kondisi cacat.
2) Aspek Peningkatan Kesehatan
Peningkatan kesehataan terdiri dari preventif dan promotif.
Preventif merupakan setiap perilaku atau aktivitas yang
dilakukan untuk mencegah penyakit. Promotif merupakan setiap
perilaku atau aktivitas yang dilakukan dalam rangka
peningkatan kondisi kesehatan.
c. Klasifikasi
Notoadmodjo (2012) membagi perilaku kesehatan ke dalam 2
kelompok :
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
12
1) Perilaku Sehat (healthy behavior)
Perilaku orang sehat untuk mencegah atau menghindari dari
penyakit dan meningkatkan kesehatan. Perilaku sehat ini disebut
juga dengan perilaku preventif dan promotif. Kegiatan ini dapat
mencakup olahraga, makan makanan yang sehat, melakukan
pemeriksaan gigi rutin, dan mendapatkan vaksinasi terhadap
penyakit. Tetapi ketika orang baik-baik saja, mereka mungkin
tidak merasa ingin mencurahkan usaha dan mengorbankan
perilaku sehat itu. Dengan demikian, berperilaku sehat
tergantung pada faktor motivasi, khususnya yang berkaitan
dengan persepsi individu terhadap ancaman penyakit, nilai
dalam perilaku untuk mengurangi ancaman ini, dan daya tarik
perilaku yang berlawanan. Contoh : dalam penelitian ini adalah
dengan melakukan deteksi dini kanker serviks.
2) Perilaku sakit (sick-role behavior)
Perilaku orang sakit untuk memperoleh kesembuhan dan
pemulihan kesehatannya. Perilaku sakit ini disebut juga dengan
perilaku pencarian pelayanan kesehatan atau pencarian masalah
kesehatan (health seeking behavior). Perilaku ini mencakup
tindakan-tindakan seseorang sebagai upaya kuratif dan
rehabilitative. Pada saat seseorang sakit, ada beberapa tindakan
yang dapat dilakukan, yaitu:
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
13
a) No action, perilaku seseorang yang mengabaikan sakitnya
dan tetap menjalankan kegiatan sehari-hari.
b) Self treatment atau self medication, perilaku seseorang yang
melakukan pengobatan sendiri yakni dengan cara
tradisional maupun cara modern.
c) Mencari penyembuhan keluar, perilaku seseorang dengan
mencari fasilitas pelayanan kesehatan sebagai upaya untuk
penyembuhan penyakitnya (berobat).11
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
Menurut model perubahan perilaku Precede-Proceed dari
Lawrence Green dan M. Kreuter (2005), perilaku kesehatan
dipengaruhi oleh faktor-faktor individu maupun lingkungan, yang
oleh karena itu memiliki dua bagian yang berbeda. Teori Green
mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan.
Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor
pokok, yakni faktor perilaku dan faktor dari luar perilaku. Perilaku
seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh
pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagian dari orang
atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu, ketersediaan
fasilitas, sikap, dan perilaku petugas terhadap kesehatan juga akan
mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.11,12
Teori Precede-Proceed adalah contoh dari model logika yang
menghubungkan penilaian kausal dan perencanaan intervensi serta
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
14
evaluasi ke dalam satu kerangka kerja perencanaan yang
menyeluruh. Pertama adalah Precede (Predisposing, Reinforcing,
Enabling, Environmental, Development). Model Precede-Proceed
merupakan salah satu model yang paling baik untuk perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi program promosi kesehatan. Precede fase
1 sampai dengan 4 berfokus pada perencanaan program, sedangkan
bagian Proceed fase 5 sampai dengan 8 berfokus pada implementasi
dan evaluasi. Delapan fase dari model panduan dalam menciptakan
program promosi kesehatan, dimulai dengan hasil yang lebih umum
ke hasil yang lebih spesifik. Proses secara bertahap mengarah ke
penciptaan sebuah program, pemberian program, dan evaluasi
program. 11,12
Pada fase ketiga penilaian edukasi dan ekologi (educational and
ecological assessment), faktor-faktor yang memiliki potensi untuk
mempengaruhi lingkungan dan determinan perilaku diklasifikasikan
menurut dampaknya. Ada tiga kelas faktor yang mempunyai potensi
dalam mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang, yaitu:
1) Faktor Predisposisi (predisposing factors)
Faktor yang mempermudah dan mendasari terjadinya
perilaku tertentu serta merupakan antesenden dari perilaku yang
menggambarkan rasional atau motivasi melakukan suatu
tindakan, nilai dan kebutuhan yang dirasakan, berhubungan
dengan motivasi kelompok atau individu untuk bertindak.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
15
Sebagian besar dari mereka berada dalam domain psikologi.
Faktor predisposisi secara umum dapat dikatakan sebagai
pertimbangan-pertimbangan personal dari suatu individu atau
kelompok yang mempengaruhi terjadinya perilaku.
Pertimbangan tersebut dapat mendukung atau menghambat
terjadinya perilaku. Yang termasuk ke dalam kelompok faktor
predisposisi antara lain pengetahuan, sikap, nilai-nilai budaya,
persepsi, dan beberapa karakteristik individu seperti umur, jenis
kelamin, tingkat pendidikan, dan pekerjaan.
2) Faktor Pemungkin (enabling factors)
Faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya suatu
perilaku tertentu atau memungkinkan suatu motivasi
direalisasikan. Faktor ini seringkali merupakan kondisi dari
lingkungan, memfasilitasi dilakukannya suatu tindakan oleh
individu atau organisasi. Hal ini juga termasuk kondisi yang
berlaku sebagai hambatan dari tindakan tersebut, seperti
ketiadaan sarana transportasi yang menghambat partisipasi
keterampilan baru yang diperlukan seseorang, organisasi atau
masyarakat untuk membuat suatu perubahan perilaku atau
lingkungan. Yang termasuk dalam kelompok faktor pemungkin
tersebut antara lain ketersediaan pelayanan kesehatan,
aksesibilitas dan kemudahan pelayanan kesehatan baik dari segi
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
16
jarak, biaya, dan sosial, serta adanya peraturan-peraturan dan
komitmen masyarakat dalam menunjang perilaku tersebut.
3) Faktor Penguat (reinforcing factors)
Faktor yang memperkuat (kadang-kadang justru dapat
memperlunak) untuk terjadinya perilaku tersebut. Faktor
penguat merupakan faktor yang memperkuat suatu perilaku
dengan memberikan penghargaan secara terus menerus pada
perilaku dan berperan pada terjadinya suatu pengulangan. Faktor
ini merupakan konsekuensi dari tindakan yang menentukan
apakah pelaku menerima umpan balik yang positif dan akan
mendapat dukungan sosial. Kelompok faktor penguat meliputi
pendapat, dukungan sosial, pengaruh teman, kritik baik dari
teman-taman atau lingkungan bahkan saran dan umpan balik
dari petugas kesehatan. 11,12
3. Deteksi Dini Kanker Serviks
Deteksi dini kanker serviks adalah usaha untuk mengidentifikasi
penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas dengan
menggunakan test, pemeriksaan, atau prosedur tertentu yang dapat
digunakan secara tepat untuk membedakan orang-orang yang
kelihatannya sehat, benar-benar sehat dengan tampak sehat tetapi
sesungguhnya menderita kelainan. Tujuan dari deteksi dini kanker
serviks yaitu untuk menemukan secara dini adanya kanker serviks yang
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
17
masih dapat disembuhkan serta untuk mengurangi mordibitas dan
mortalitas akibat kanker serviks.13
Melihat dari perjalanan penyakit serviks, kelompok sasaran untuk
deteksi dini kanker serviks adalah perempuan berusia 30 - 50 tahun;
perempuan yang menjadi klien pada klinik IMS dengan discharge
(keluar cairan) dari vagina yang abnormal atau nyeri pada abdomen
bawah (bahkan jika di luar kelompok usia tersebut); perempuan yang
tidak hamil (walaupun bukan suatu hal yang rutin, perempuan yang
sedang hamil dapat menjalani screening dengan aman, tetapi tidak boleh
menjalani pengobatan dengan krioterapi) oleh karena itu IVA/Papsmear
belum dapat dimasukkan pelayanan rutin pada klinik antenatal;
perempuan yang mendatangi Puskesmas, klinik IMS, dan klinik KB
dianjurkan untuk screening kanker serviks.14
Deteksi dini kanker serviks dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Adapun macam-macam metode deteksi dini kanker serviks yaitu :
a. Papsmear
1) Pengertian
Papsmear merupakan suatu prosedur pemeriksaan
sederhana melalui pemeriksaan sitopatologi untuk mengetahui
adanya perubahan pada daerah serviks/leher rahim. Papsmear
dilakukan dengan tujuan untuk menemukan perubahan
morfologis dari sel-sel epitel leher rahim yang ditemukan pada
keadaan prakanker dan kanker. Papsmear penting bagi wanita
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
18
yang telah melakukan seksual aktif maupun yang telah
divaksinasi.13,14
2) Frekuensi
Pemeriksaan papsmear dianjurkan dilakukan pada wanita
yang telah menikah/seksual aktif selama 3 tahun atau sebelum
usia 21 tahun, sedangkan pemeriksaan rutin diberhentikan saat
usia 70 tahun pada wanita yang tidak memiliki abnormalitas
pada hasil pemeriksaan papsmear. Papsmear memiliki tingkat
sensitivitaas 90% apabila dilakukan setiap tahun, 87% bila
dilakukan setiap dua tahun, 78% setiap tiga tahun, dan 68%
setiap lima tahun.13
3) Pemeriksaan papsmear
Pada dasarnya prinsip pemeriksaan papsmear adalah
mengambil epitel permukaan serviks yang
mengelupas/eksfoliasi dimana epitel permukaan serviks selalu
mengalami regenerasi dan digantikan lapisan epitel
dibawahnya. Epitel yang mengalami eksfoliasi merupakan
gambaran keadaan epitel jaringan di bawahnya juga.
Kemudian epitel yang mengelupas/ eksfoliasi tersebut diwarnai
secara khusus dan dilihat di bawah mikroskop untuk
diinterpretasi lebih lanjut (dibedakan tingkat dysplasia sampai
pada kanker).13
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
19
4) Klasifikasi Papsmear
Tabel 2. Klasifikasi Papsmear
Sistem
Sistem WHO
Papanicolau1
Klas 0 Tidak dapat dinilai
Klas I Normal
Klas II Atipik (proses radang dengan atau tanpa
dysplasia ringan)
Klas III Displasia ringan - berat
Klas IV Karsinoma In Situ
Klas V Karsinoma invasif
b. IVA
1) Pengertian
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) merupakan tes visual
menggunakan larutan asam cuka (asam asetat 3-5%) dan
larutan iodium lugol pada serviks dan melihat perubahan
warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Daerah yang tidak
normal akan berubah warna dengan batas yang tegas menjadi
putih (acetowhite), yang mengindikasikan bahwa leher rahim
mungkin memiliki lesi prakanker. Tujuan dari pemeriksaan
IVA ini adalah untuk melihat adanya sel yang mengalami
dysplasia sebagai salah satu metode screening kanker serviks.
13
IVA adalah praktik yang dianjurkan untuk fasilitas dengan
sumber daya sederhana karena: aman, tidak mahal, dan mudah
dilakukan; akurasi tes tersebut sama dengan tes-tes lain yang
digunakan untuk screening kanker serviks; dapat dipelajari dan
dilakukan oleh hampir semua tenaga kesehatan di semua
jenjang sistem kesehatan; memberikan hasil segera sehingga
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
20
dapat segera diambil keputusan mengenai penatalaksanaannya
(pengobatan atau rujukan); suplai sebagian besar peralatan dan
bahan untuk pelayanan ini mudah didapat dan tersedia;
pengobatan langsung dengan krioterapi berkaitan dengan
screening yang tidak bersifat invasif dan dengan efektif dapat
mengidentifikasi berbagai lesi prakanker. 14
2) Frekuensi
Seorang perempuan yang mendapat hasil tes IVA-negatif,
harus menjalani screening 3 - 5 tahun sekali. Mereka yang
mempunyai hasil tes IVA-positif dan mendapatkan
pengobatan, harus menjalani tes IVA berikutnya enam bulan
kemudian.13
3) Peralatan dan bahan
Peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan
IVA adalah peralatan dan bahan yang biasa tersedia di klinik
atau poli KIA seperti berikut:14
a) Meja periksa gynekologi dan kursi.
b) Lampu sorot
c) Spekulum graves bivalved (“cocor bebek”)
d) Kapas lidi
e) Larutan asam asetat 3-5%
Dapat menggunakan asam cuka 25% yang dijual di
pasaran kemudian diencerkan menjadi 5% dengan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
21
perbandingan 1:4 (1 bagian asam cuka dicampur dengan 4
bagian air). Jika menggunakan asam asetat 3%, asam cuka
25% diencerkan dengan air dengan perbandingan 1:7 (1
bagian asam cuka dicampur 7 bagian air). Contoh : 10 ml
asam cuka 25% dicampur dengan 70 ml air akan
menghasilkan 80 ml asam asetat 80%. Campur asam asetat
dengan baik. Buat asam asetat sesuai dengan keperluaan,
jangan menyimpan asam asetat yang telah diencerkan
dalam waktu beberapa hari.
f) Sarung tangan
g) Larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi alat
4) Pemeriksaan IVA
Tindakan IVA dimulai dengan penilaian klien dan
persiapan, tindakan IVA, pencatatan dan diakhiri dengan
konseling hasil pemeriksaan. Penilaian klien didahului dengan
menanyakan riwayat singkat tentang kesehatan reproduksi dan
harus ditulis di status, termasuk komponen berikut: paritas,
usia pertama kali berhubungan seksual atau usia pertama kali
menikah, pemakaian alat KB, jumlah pasangan seksual atau
sudah berapa kali menikah, riwayat IMS (termasuk HIV),
merokok, hasil pap smear sebelumnya yang abnormal, ibu atau
saudara perempuan kandung yang menderita kanker leher
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
22
rahim, penggunaan steroids atau obat-obat alergi yang lama
(kronis).14
Sebelum melakukan tes IVA, diskusikan kembali tindakan
dengan ibu/klien. Jelaskan mengapa tes tersebut dianjurkan
dan apa yang akan terjadi pada saat pemeriksaan. Diskusikan
juga mengenai sifat temuan yang paling mungkin dan tindak
lanjut atau pengobatan yang mungkin diperlukan. Selanjutnya
tes IVA dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut: 1,13,14
a) Memposisikan klien di meja periksa dengan posisi
litotomi
b) Memakai sarung tangan dan membersihkan genitalia
eksterna dengan menggunakan air DTT.
c) Inspeksi/periksa genitalia eksternal dan lihat apakah
terjadi discharge pada mulut uretra. Palpasi kelenjar
Skene’s and Bartholin’s. Jangan menyentuh klitoris,
karena akan menimbulkan rasa tidak nyaman pada ibu.
Katakan pada ibu/klien bahwa spekulum akan dimasukkan
dan mungkin ibu akan merasakan beberapa tekanan.
d) Dengan hati-hati masukkan spekulum sepenuhnya atau
sampai terasa ada tahanan lalu secara perlahan buka
bilah/daun spekulum untuk melihat leher rahim. Atur
spekulum sehingga seluruh leher rahim dapat terlihat, lalu
kunci speculum.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
23
e) Amati leher rahim apakah ada infeksi (cervicitis) seperti
discharge/cairan keputihan mucous ectopi (ectropion);
kista Nabothy atau kista Nabothian, nanah, atau lesi
“strawberry” (infeksi Trichomonas).
f) Gunakan kapas lidi bersih untuk membersihkan cairan
yang keluar, darah atau mukosa dari leher rahim. Buang
kapas lidi ke dalam wadah anti bocor atau kantung plastik.
g) Identifikasi ostium servikalis dan SSK serta daerah di
sekitarnya.
h) Basahi kapas lidi dengan larutan asam asetat dan oleskan
pada leher rahim. Buang kapas lidi yang telah dipakai.
i) Setelah leher rahim dioleskan larutan asam asetat, tunggu
selama 1 menit agar diserap dan memunculkan reaksi
acetowhite.
j) Periksa SSK dengan teliti. Lihat apakah leher rahim
mudah berdarah. Cari apakah ada bercak putih yang tebal
atau epithel acetowhite yang menandakan IVA positif.
k) Bila pemeriksaan visual pada leher rahim telah selesai,
gunakan kapas lidi yang baru untuk menghilangkan sisa
asam asetat dari leher rahim dan vagina. Buang kapas
sehabis dipakai pada tempatnya.
l) Lepaskan spekulum secara halus. Jika hasil tes IVA
negatif, letakkan spekulum ke dalam larutan klorin 0,5%
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
24
selama 10 menit untuk didesinfeksi. Jika hasil tes IVA
positif dan setelah konseling pasien menginginkan
pengobatan segera, letakan spekulum pada nampan atau
wadah agar dapat digunakan pada saat krioterapi.
m) Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada klien.
5) Klasifikasi IVA
Tabel 3. Klasifikasi IVA
Klasifikasi IVA Kriteria Klinis Penatalaksanaan
IVA Negatif Halus, berwarna merah Meminta klien untuk
muda, seragam, tidak datang menjalani tes
berfitur, ectropion, IVA kembali 5 tahun
cervicitis, kista Nabothy, kemudian.
dan lesi acetowhite tidak
signifikan
IVA Positif Bercak putih (acetowhite Dilakukan krioterapi,
epithelium sangat jelas elektrokauterisasi atau
terlihat) dengan batas yang eksisi LEEP/LLETZ
tegas dan meninggi, tidak
mengkilap yang terhubung
atau meluas dari
squamocolumnar junction.
Dicurigai Pertumbuhan massa seperti Segera rujuk ke fasilitas
Kanker kembang kol yang mudah yang dapat memberikan
berdarah atau luka pengobatan yang
bernanah/ulcer. memadai untuk kanker
invasi dan mungkin
dapat dilakukan biopsi.
Seseorang wanita dalam melakukan perilaku deteksi dini kanker
serviks dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku deteksi dini kanker serviks antara lain
a. Umur
Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu
keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun
yang mati. Menurut teori L Green mengatakan bahwa faktor
sosiodemografi termasuk di dalamnya umur berpengaruh terhadap
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
25
perilaku kesehatan. Semakin dewasa dan bertambah umur seseorang
maka semakin bertambah pula daya tanggapnya, melalui perjalanan
umurnya semakin dewasa individu yang bersangkutan akan
melakukan adaptasi perilaku terhadap lingkungannnya. Dengan
demikian, umur yang semakin dewasa seharusnya akan lebih mudah
untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar sehingga bisa lebih
memahami kebermanfaatan dalam mengikuti deteksi dini kanker
serviks.
b. Pendidikan
Pendidikan adalah proses di mana semua kemampuan manusia
(bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh
pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik
melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapapun
untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan
yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik (Adler, 2011). Pendidikan
terdiri dari pendidikan formal, nonformal, informal, pendidikan anak
usia dini, pendidikan jarak jauh, dan pendidikan berbasis
masyarakat.
Kategori pendidikan menurut Arikunto :
1) Pendidikan rendah (SD-SMP)
2) Pendidikan tinggi (SMA-Perguruan Tinggi)
Jalur pendidikan di Indonesia terdiri atas pendidikan formal,
nonformal, dan informal. Menurut pasal 14 dalam UU RI nomor 20
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
26
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dimaksud
pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah dan pendidikan tinggi.30
1) Pendidikan dasar yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan
Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah
(MTs) atau bentuk lain yang sederajat.
2) Pendidikan menengah yang merupakan lanjutan dari
pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan
menengah umum berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA)
dan Madrasah Aliyah (MA) serta pendidikan menengah
kejuruan berbentuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan
Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang
sederajat.
3) Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah
pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan
diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang
diselenggarakan oleh perguruan tinggi dan diselenggarakan
dengan sistem terbuka. Perguruan tinggi dapat berbentuk
akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas.
Tingkat pendidikan seseorang dapat mendukung atau
mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang dan taraf pendidikan
yang rendah selalu berhubungan dengan informasi dan pengetahuan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
27
terbatas, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi pula
pemahaman seseorang terhadap informasi yang didapat dan
pengetahuannya pun akan semakin tinggi. Pendidikan juga akan
mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan. Wanita
berpendidikan tinggi dapat menerima informasi dengan lebih mudah
dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan rendah sehingga
informasi tersebut dapat dilaksanakan. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Ayu Wulandari, Sri Wahyuningsih, dan Ferdiana
Yunita (2016),faktor yang paling dominan dalam menentukan
perilaku WUS terhadap pemeriksaan IVA adalah tingkat pendidikan
(OR=3,403).15
c. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu subjek tertentu.
Pengetahuan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan domain yang sangat
penting dalam membentuk tindakan seseorang.11
Pengetahuan menjadi faktor yang penting namun tidak cukup
memadai dalam membentuk perubahan perilaku kesehatan
seseorang. L. Green memaparkan bahwa pengetahuan tertentu
tentang kesehatan mungkin penting sebelum tindakan kesehatan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
28
pribadi terjadi, namun tindakan kesehatan yang diharapkan tidak
akan terwujud kecuali seseorang mendapat dorongan yang kuat dari
diri sendiri yang membuat ia bertindak atas dasar ilmu pengetahuan
yang dimilikinya.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari
subjek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin
diukur dan disesuaikan dengan tingkatannya. Tingkat pengetahuan
dapat ditentukan dengan kriteria:29
1) Baik jika menguasai materi ≥76-100%
2) Cukup jika meguasai materi ≥56-75%
3) Kurang jika menguasai materi <56%.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nonik Ayu dan Novi
Indrayani (2018), pengetahuan wanita usia subur tentang
pemeriksaan IVA sangatlah penting karena, pengetahuan
mempengaruhi perilaku kunjungan wanita usia subur dalam
pemeriksaan IVA. Wanita yang sudah mengetahui penyebab, gejala
dan cara pencegahan dari kanker serviks serta arti dan manfaat
deteksi dini kanker serviks bagi dirinya akan melakukan deteksi dini
kanker serviks dan mampu memotivasi orang lain untuk melakukan
deteksi dini kanker serviks.16
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
29
d. Sikap
Menurut Notoatmodjo (2014), Sikap merupakan reaksi atau
respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau
obyek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi
yang bersangkutan (senang tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-
tidak baik, dan sebagainya). Sikap belum merupakan tindakan atau
aktivitas, melainkan suatu predisposisi perilaku.11
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu: menerima (receiving),
menerima diartikan bahwa subjek mau dan memperhatikan stimulus
yang diberikan. Merespon (responding), memberikan jawaban
apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang
diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Menghargai (valuing),
mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu
masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Bertanggungjawab
(responsible), bertanggungjawab atas segala suatu yang telah
dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang memiliki
tingkatan paling tinggi.11,17
Menurut Azwar, sikap seseorang dapat diukur. Pengukuran sikap
dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung
dapat ditanyakan bagaimana pendapat dan pernyataan responden
terhadap suatu obyek. Pengukuran sikap dilakukan dengan
menggunakan model likert, yang dikenal dengan summated rating
method. Skala ini juga menggunakan pernyataan-pernyataan dengan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
30
empat alternatif jawaban atau tanggapan atas pernyataan-pernyataan
tersebut. Subyek yang diteliti diminta untuk memilih satu dari lima
alternatif jawaban yang dikemukakan oleh Likert yaitu:18
1) sangat setuju (strongly approve)
2) setuju (approve)
3) tidak setuju (disapprove)
4) sangat tidak setuju (strongly disapprove)
e. Dukungan Suami/Keluarga
Menurut House dan Kahn dalam Friedman (2010) dukungan
keluarga adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang masa
kehidupan, sifat dan jenis dukungan berbeda dalam berbagai tahap-
tahap siklus kehidupan. Dukungan keluarga dapat berupa dukungan
sosial internal, seperti dukungan dari suami, istri atau dukungan dari
saudara kandung dan dapat juga berupa dukungan keluarga eksternal
bagi keluarga inti. Dukungan keluarga membuat keluarga mampu
berfungsi secara ekonomi yaitu untuk mengadakan sumber-sumber
ekonomi yang memadai untuk menunjang dan meningkatkan
kesehatan.
Suami sebagai kepala keluarga dalam masyarakat patriakhal
sangat berperan sebagai pengambil keputusan dalam kesehatan
keluarga termasuk istri. Suami yang merupakan bagian dari keluarga
yang memiliki pemahaman baik mengenai perilaku sehat akan
memberikan dukungan kepada istri. Sehingga informasi tentang tes
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
31
IVA tidak hanya para WUS yang perlu diberikan penyuluhan tentang
IVA tetapi suami mereka juga perlu mendapatkan informasi yang
benar sehingga mereka dapat memberikan dukungan kepada para
istri untuk tes. Dukungan suami dapat memberikan keuntungan
emosional yaitu memberikan rasa nyaman dan memberikan
semangat bagi WUS untuk melaksanakan tindakan kesehatan. Oleh
karena itu peran suami sangat penting terhadap tindakan individu
khususnya dalam tindakan deteksi dini kanker serviks. Hal ini
ditunjang hasil penelitian yang dilakukan oleh Miftahil Fauza,
Aprianti, dan Azrimaidaliza (2018), dukungan suami merupakan
variabel yang paling berpengaruh terhadap keikutsertaan WUS
dalam tes IVA di dengan nilai p value 0,000 dan OR sebesar 46,6.19
f. Dukungan Tenaga Kesehatan
Menurut teori L Green faktor dukungan dari tenaga kesehatan
merupakan faktor pendorong atau penguat seseorang melakukan
perilaku. Hal ini dikarenakan petugas tersebut ahli dibidangnya
sehingga dijadikan tempat untuk bertanya dan pemberi
input/masukan untuk pemanfaatan pelayanan kesehatan. Jenis-jenis
dukungan yang harus diberikan tenaga kesehatan meliputi:20
1) Dukungan informasional, berbentuk dukungan
informasional yang melibatkan pemberian informasi, saran,
atau umpan balik tentang situasi dan kondisi. Jenis
informasi seperti ini dapat menolong individu untuk
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
32
mengenali dan mengatasi masalah dengan mudah.
2) Penilaian (appraisal), berbentuk penilaian yang positif,
penguatan untuk melakukan sesuatu, bimbingan umpan
balik, memberikan support, penghargaan, dan perhatian.
3) Instrumental, berbentuk pemberian bantuan secara
langsung, bersifat fasilitas atau materi. Manfaat dukungan
ini adalah mendukung tenaga kesehatan dalam
menyampaikan pesan kepada masyarakat sehingga dapat
mengatasi masalah dengan lebih mudah.
4) Emosional, berbentuk ekspresi empati misalnya
mendengarkan, bersikap terbuka menunjukkan sikap
percaya terhadap yang dikeluhkan, bersedia memahami, dan
ekspresi kasih sayang dan perhatian. Dukungan emosional
akan membuat individu atau masyarakat merasa berharga,
nyaman, aman, percaya dipedulikan oleh tenaga kesehatan
sehingga individu dapat mengatasi masalah yang dihadapi
dengan baik.
Berdasarkan penelitian Yuliwati (2012) diperoleh
dukungan petugas kesehatan dengan perilaku periksa IVA
diperoleh proporsi WUS yang berperilaku IVA baik
sebanyak 35 (72,9%) yang dukungan petugas baik dan
sebanyak 53 (32,3%) yang dukungan petugas kurang. Hasil
uji statistik diperoleh p-value = 0.001 artinya ada hubungan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
33
yang signifikan antara dukungan petugas kesehatan dengan
perilaku WUS dalam melakukan periksa IVA. 21
4. Kanker Serviks
a) Pengertian Kanker Serviks
Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim
(serviks). Serviks merupakan sepertiga bagian bawah rahim atau
bagian terendah dari rahim, yang berbentuk silindris, menonjol dan
berhubungan dengan puncak liang senggama (vagina). Kanker
serviks muncul karena adanya pertumbuhan sel yang tidak normal
sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan pada serviks atau
menghalangi serviks.1
b) Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab kanker serviks diketahui adalah virus HPV (Human
Papilloma Virus) sub tipe onkogenik, terutama sub tipe 16 dan 18.
Virus ini ditemukan pada 95% kasus kanker leher rahim. Sebenarnya
sebagian besar virus HPV akan menghilang sendiri karena ada
sistem kekebalan tubuh alami, tetapi ada sebagian yang tidak
menghilang dan menetap. HPV yang menetap inilah yang
menyebabkan perubahan sel serviks menjadi kanker serviks.13
Setiap wanita berisiko terkena infeksi HPV onkogenik yang dapat
menyebabkan kanker serviks. HPV dapat dengan mudah ditularkan
melalui aktifitas seksual dan beberapa sumber transimi tidak
tergantung dari adanya penetrasi, tetapi juga melalui sentuhan kulit
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
34
di daerah genital tersebut (skin to skin). Dengan demikian setiap
wanita yang aktif secara seksual memiliki risiko untuk terkena
kanker serviks.
Faktor yang menyebabkan perempuan terpapar HPV (sebagai
etiologi dari kanker serviks) adalah :1
1) Menikah/ memulai aktivitas seksual pada usia muda (kurang
dari 20 tahun).
2) Berganti-ganti pasangan seksual.
3) Berhubungan seks dengan laki-laki yang sering berganti
pasangan.
4) Riwayat infeksi di daerah kelamin atau radang panggul.
5) Perempuan yang melahirkan banyak anak.
6) Perempuan perokok mempunyai risiko dua setengah kali lebih
besar untuk menderita Kanker Leher Rahim dibanding dengan
yang tidak merokok.
7) Perempuan yang menjadi perokok pasif (yang tinggal bersama
keluarga yang mempunyai kebiasaan merokok) akan meningkat
risikonya 1,4 (satu koma empat) kali dibanding perempuan yang
hidup dengan udara bebas.
c) Tanda dan Gejala
Kanker serviks stadium dini (prakanker) biasanya tanpa gejala-
gejala. Tetapi jika dilakukan pemeriksaan deteksi dini bisa
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
35
ditemukan adanya lesi prakanker atau disebut dengan sel-sel serviks
yang tidak normal.
Gejala-gejala kanker ini adalah:22
1) Ada bercak atau pendarahan setelah hubungan seksual
2) Ada bercak atau pendarahan di luar masa haid
3) Ada bercak atau pendarahan pada masa menopause
4) Mengalami masa haid yang lebih berat dan lebih panjang dari
biasanya
5) Keluarnya bau menyengat yang tidak bisa dihilangkan walaupun
sudah diobati.
6) Timbul nyeri panggul atau perut bagian bawah bila ada radang
panggul
d) Diagnosis Kanker Serviks
Diagnosis kanker serviks ditegakkan atas dasar anamnesis,
pemeriksaan klinik.1
1) Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Pada umumnya, lesi prakanker belum memberikan gejala.
Bila telah menjadi kanker invasif, gejalan yang paling umum
adalah perdarahan (contact bleeding, perdarahan saat
berhubungan intim) dan keputihan.
Pada stadium lanjut, gejala dapat berkembang menjadi
nyeri pinggang atau perut bagian bawah karena desakan tumor
di daerah pelvik ke arah lateral sampai obstruksi ureter, bahkan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
36
sampai oligo atau anuria. Gejala lanjutan bisa terjadi sesuai
dengan infiltrasi tumor ke organ yang terkena, misalnya: fistula
vesikovaginal, fistula rektovaginal, edema tungkai.
2) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan klinik ini meliputi inspeksi, kolposkopi, biopsi
serviks, sistoskopi, rektoskopi, USG, BNO -IVP, foto toraks dan
bone scan , CT scan atau MRI, PET scan. Kecurigaan metastasis
ke kandung kemih atau rektum harus dikonfirmasi dengan
biopsi dan histologik. Konisasi dan amputasi serviks dianggap
sebagai pemeriksaan klinik. Khusus pemeriksaan sistoskopi dan
rektoskopi dilakukan hanya pada kasus dengan stadium IB2 atau
lebih.
e) Stadium Kanker Serviks
Tabel 4. Stadium Kanker Serviks
Klasifikasi Stadium menurut FIGO1,13
0 Karsinoma in situ (karsinoma preinvasif)
I Karsinoma serviks terbatas di uterus (ekstensi ke korpus uterus
dapat diabaikan)
IA Karsinoma invasif didiagnosis hanya dengan mikroskop.
Semua lesi yang terlihat secara makroskopik, meskipun invasi
hanya superfisial, dimasukkan ke dalam stadium IB
IA1 Invasi stroma tidak lebih dari 3,0 mm kedalamannya dan 7,0
mm atau kurang pada ukuran secara horizontal
IA2 Invasi stroma lebih dari 3,0 mm dan tidak lebih dari 5,0mm
sampai ke dinding panggul atau mencapai 1/3 bawah vagina
dengan penyebaran horizontal 7,0 mm atau kurang
IB Lesi terlihat secara klinik dan terbatas di serviks atau secara
mikroskopik lesi lebih besar dari IA2
IB1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar
4,0 cm atau kurang
IB2 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar
lebih dari 4,0 cm
II Invasi tumor keluar dari uterus tetapi tidak tidak sampai ke
dinding panggul atau mencapai 1/3 bawah vagina
IIA Tanpa invasi ke parametrium
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
37
IIA1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar
4,0 cm atau kurang
IIA2 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar
lebih dari 4,0 cm
IIB Tumor dengan invasi ke parametrium
III Tumor meluas ke dinding panggul/ atau mencapai 1/3 bawah
vagina dan/atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal
IIIA Tumor mengenai 1/3 bawah vagina tetapi tidak mencapai
dinding panggul
IIIB Tumor meluas sampai ke dinding panggul dan / atau
menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal
IVA Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rektum
dan/atau meluas keluar panggul kecil (true pelvis)
IVB Metastasis jauh (termasuk penyebaran pada peritoneal,
keterlibatan dari kelenjar getah bening supraklavikula,
mediastinal, atau para aorta, paru, hati, atau tulang)
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
38
B. Kerangka Teori
PRECEDE
Fase 4 Fase 3 Fase 2 Fase 1
Penilaian Penilaian Penilaian Penilaian Sosial
Administrasi Pendidikan dan Epidemiologi,
dan Kebijakan Ekologi Perilaku, dan
dan Arah Lingkungan
Intervensi
Faktor
Predisposisi:
1. Pengetahuan
2. Sikap
3. Nilai-nilai
budaya
4. Persepsi
Promosi 5. Umur
Kesehatan 6. Jenis kelamin
7. Tingkat Genetik
pendidikan
Strategi Faktor Penguat:
Pendidik 1. Pendapat
an 2. Dukungan
sosial Perilaku
(dukungan
petugas
kesehatan &
masyarakat
Organisasi 3. Pengaruh
Regulasi teman
Kesehatan Kualitas
4. Kritik baik
Kebijakan Hidup
dari teman
Faktor
Pemungkin:
1. Fasilitas
2. Aksesibilitas
3. Keterpaparan Lingkungan
informasi
Fase 5 Fase 6 Fase 7 Fase 8
Implementasi Evaluasi Proses Evaluasi Dampak Evaluasi Hasil
PROCEED
Gambar 1. Teori perubahan perilaku, Model Perencanaan Precede-Proceed (Green
and Kreuter, 2005)
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
39
C. Kerangka Konsep
Variabel Bebas Variabel Terikat
1. Umur
a. <30 tahun
b. ≥30 tahun
2. Tingkat pendidikan
a. Rendah
b. Tinggi
3. Pengetahuan
a. Kurang
b. Baik Perilaku Deteksi Dini
4. Sikap Kanker Serviks
a. Negatif 1. Tidak Periksa
b. Positif 2. Periksa
5. Dukungan suami/keluarga
a. Kurang Mendukung
b. mendukung
6. Dukungan tenaga
kesehatan
a. Kurang Mendukung
b. mendukung
Gambar 2. Kerangka Konsep
D. Hipotesis Penelitian
1. Umur <30 tahun, tingkat pendidikan yang rendah, pengetahuan yang
kurang, sikap yang negatif, suami/keluarga yang kurang mendukung, dan
tenaga kesehatan yang kurang mendukung merupakan faktor risiko untuk
tidak melakukan deteksi dini kanker serviks pada WUS di Wilayah Kerja
Puskesmas Pandak II.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
40
2. Ada faktor yang paling mempengaruhi perilaku deteksi dini kanker
serviks pada WUS di Wilayah Kerja Puskesmas Pandak II.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta