SPIRITUALITAS DALAM
KELUARGA
PSIKOLOGI KELUARGA KELAS 2
KELOMPOK 3
1. Firda Amalia (15000120120059)
2. Alif Damar Eryanto (15000120140091)
3. Nayla Azka Zuhra Sadika (15000120140101)
4. Nandiati Huda (15000120140124)
5. Salsabila Rahma Indryadewi (15000120140156)
6. Annisa Earlysiam (15000120140365)
DEFINISI DAN ASPEK
SPIRITUALITAS
Spiritual berasal dari kata spirit yang berati semangat, kehidupan, pengaruh dan
antusiasme (Poerwadarminta, 1987:963). Spiritualitas merupakan keyakinan dalam
hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta (Hamid, 2009). Kemudian
terdapat beberapa definisi Spiritual oleh para ahli seperti Nelson dan Miller.
Beberapa peneliti mengemukakan bahwa spiritualitas terdiri dari aspek-aspek,
sebagai berikut :
1. Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam
kehidupan
2. Menemukan arti tujuan hidup
3. Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri
sendiri
4. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan yang maha tinggi
Spiritualitas
dalam
Keluarga
Keyakinan spiritual yang dimiliki oleh setiap individu dapat menjadi sumber kekuatan bagi
individu yang merasa dirinya tersesat, putus asa, atau bagi mereka yang menderita
penindasan, rasisme, kemiskinan, dan trauma (Aponte, Barret, Boyd-Franklin, dkk dalam
buku The Expanding Family Life Cylce). spiritualitas tersebut digunakan dan diyakini
sebagai sarana untuk meninjau pencapaian yang telah mereka raih, makna hidup mereka
selama hidup, dan juga berdamai dengan akhir kehidupan mereka sebagai seorang manusia.
Sehingga diperlukannya pendidikan spiritual dalam keluarga
Berhasil atau tidaknya seorang anak dalam menjalani hidupnya juga bergantung pada
berhasil atau tidaknya peran keluarga dalam mnanamkan ajaran moral kehidupan.
Penyelesaian Konflik Spiritualitas dalam Keluarga menggunakan
pendekatakan Psikologi
Spiritualitas dalam keluarga tersebut juga berkaitan dengan Ilmu Psikologi
Klinis, dimana menurut American Psychiatric Association (2015) psikiatri
memperluas kategori "masalah agama atau spiritual" dalam manual diagnostik dan
statistik gangguan mental (DSM-5) yang diinformasikan melalui penelitian tentang
aspek spiritual dan agama dan merekomendasikan bahwa agama dan spiritualitas
dianggap sebagai hal yang berkaitan erat dengan budaya. Terdapat model untuk
menilai spiritualitas seseorang dengan menggunakan genogram atau ecocampt
(Hodge, 2004).
Spiritualitas
Keluarga Di
Indonesia
● Indonesia merupakan negara yang multikultur atau multi
agama.
● Di Indonesia, spiritualitas merupakan suatu hal yang
umum dan biasa dijumpai dalam masyarakat, atau dalam
setiap suku bangsa di Indonesia, walaupun setiap
individu memiliki kadar atau tingkatan yang
berbeda-beda terkait spiritualitasnya.
● Spiritualitas juga terdapat dalam ideologi negara.
● Untuk mencegah penurunan spiritualitas yang dimiliki
oleh individu, diperlukannya pendidikan terkait spiritual
dalam keluarga, untuk menyadarkan dan membentuk jadi
diri seseorang.
SIKLUS
SPIRITUALITAS
DALAM
KELUARGA
SIKLUS SPIRITUALITAS KELUARGA
01 02 03
Masa Anak-Anak Masa Remaja Dewasa Awal
04 05
Dewasa Pertengahan Usia Tua
01
Masa Anak - Anak
Masa Anak-Anak
Pada masa ini, anak-anak bergantung pada
orang tua mereka dan merupakan penerima
manfaat dari kepercayaan spiritual orang tua
mereka. Seringkali, mereka mendapatkan
kenyamanan dari ritual keagamaan dan
kepercayaan. Mereka berkembang meningkat
kapasitas dan pengalaman spiritual saat mereka
dewasa, dan rasa heran bawaan mereka mengarah
pada eksplorasi dan spekulasi tentang
spiritualitas (Hart, 2006).
02
Masa Remaja
Masa Remaja
Masa ini adalah tahap ketika orang muda mencari
identitas dan menyuarakan pendapat dan perasaan otentik
dalam konteks tekanan sosial, orang tua, dan teman
sebaya untuk menyesuaikan diri dengan stereotip usia,
jenis kelamin, dan ras. Beberapa remaja akan
mempertanyakan keyakinan spiritual keluarga mereka
ketika mereka mencoba mengembangkan rasa identitas
yang mandiri. Sementara yang lain, terutama mereka yang
berada dalam kelompok terpinggirkan, mungkin memeluk
keyakinan keluarga mereka ketika mereka mencoba untuk
menegaskan rasa identitas mereka dalam budaya dominan
yang meminggirkan mereka
03
Dewasa Awal
Dewasa Awal
Pada masa ini, mereka mungkin menjauh dari agama
mereka, terutama karena mereka berhubungan
dengan jaringan sosial yang lebih luas dalam
masyarakat kita yang beragam dan pergi ke perguruan
tinggi atau memasuki dunia kerja. Kaum muda lebih
cenderung terlibat dalam berbagai praktik keagamaan
dan keyakinan spiritual alternatif (Pew Forum on
Religion and Public Life, 2009). Pada titik tertentu,
individu harus membuat pilihan tentang di mana
mereka berdiri dalam kaitannya dengan keyakinan
keluarga mereka.
04
Dewasa Madya
Masa Peralihan dan Evaluasi Spiritualitas
Dewasa madya adalah tahap perkembangan dimana seseorang memiliki pencapaian sosial yang stabil,
tanggungan pekerjaan, dan keluarga (Boyd & Bee, 2012; Kokko et al., 2013).
Di usia yang tidak lagi muda, dewasa madya mulai menyadari keterbatasannya, serta kehidupannya mulai
mendekati kematian. Hal tersebut menjadi evaluasi bagi individu dewasa madya (Frankl dalam Rohim, 2016).
Dalam melakukan evaluasi tersebut, individu pada tahapan dewasa madya mulai
mengembangkan spiritualitas dalam dirinya untuk memperkuat makna
hidup mereka (Kokko dalam Krok, 2015).
Dalam riset Krok (2015) mengungkapkan bahwa
kepercayaan dan perilaku religius dapat menjadi sumber dukungan
dan kestabilan yang menyediakan tujuan dan nilai yang signifikan,
serta menjadi dasar dalam memahami dan mengevaluasi perilaku,
sekaligus dalam menuntun perilaku. Dewasa madya mungkin
menjadikan kepercayaan sebagai kompas moral dan sosial untuk
mampu mengarungi berbagai situasi dalam hidup serta untuk
menyesuaikan transisi menuju dewasa akhir (Krok, 2015).
05
Masa Tua
Penuaan dan Menghadapi Kematian
Tugas perkembangan pada fase kehidupan lanjut usia adalah meninjau kembali kehidupan yang telah
dilewati oleh seseorang mengenai hubungan dan pencapaian dalam perjalanan hidupnya serta memahami
dan menerima terjadinya proses penuaan dan kematian yang akan dihadapi, hal-hal tersebut dipengaruhi
oleh aspek spiritual yang ada di dalam diri seseorang.
Individu tidak selalu berubah menjadi lebih religius disaat mereka menua akan tetapi proses
memaknai kehidupan adalah spiritualitas.
Seseorang dengan religiusitas tinggi akan melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan
dan bergabung dengan komunitas untuk mendapatkan pemahaman mengenai kematian.
Namun, bagi seseorang yang tidak religius pun mendekati akhir kehidupannya mereka akan
lebih sering melakukan kegiatan keagamaan, seperti berdoa atau bertobat .
Dalam penelitian Adelina (2007) mengenai kecerdasan rohaniah dengan kesepian saat
menjelang kematian menunjukkan seorang lansia dengan tingkat spiritualitas yang tinggi akan
menghadapi kematiannya dengan menghargai waktu yang ada serta mengisi kesehariannya
dengan kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan dan orang lain, dan juga merasa tidak
cemas saat membicarakan tentang kematian. Berbeda pada lansia dengan tingkat
spiritualitas yang rendah, kematian merupakan suatu hal yang amat ditakuti dan dicemaskan.
Mereka cenderung untuk mengurung diri dan menghindari berbagai kegiatan sosial.
Spiritualitas juga dapat memberikan makna bagi seseorang yang mengalami
kesulitan serta membantu mereka dalam mengatasi kekurangan yang dimiliki (Aponte,
2009: Boyd-Franklin & Lockwood, 2009). Spiritualitas bagi para lansia yang kurang
mampu adalah sumber yang kuat bagi mereka agar tetap menjalani kehidupan dengan
baik, karena kemiskinan dan penindasan cenderung membuat mereka merasa
keterpurukan atas takdir yang dimiliki.
CONTOH KASUS
ANALISIS KASUS
Video tersebut merupakan contoh penerapan spiritualitas di masa anak-anak yaitu Nussa dan Rara
yang diajarkan oleh ibu mereka untuk berdo’a sebelum makan, lalu melaksanakan ibadah sesuai dengan yang
telah orang tua mereka ajarkan kepada mereka. Mereka juga belajar untuk mandiri. Hal ini sesuai dengan
siklus spiritualitas dalam keluarga pada masa anak-anak di mana pada masa ini anak-anak mempelajari
nilai-nilai dan perilaku sosial dan menyesuaikan diri dengan harapan yang dipandu oleh spiritual atau
re-praktik keagamaan. Seringkali, mereka mendapatkan kenyamanan dari ritual keagamaan dan kepercayaan.
Dalam salah satu jurnal Al-Ghazali dikemukakan bahwa spiritual sangat penting untuk membantu anak-anak
yang sedang belajar dalam pengembangan potensi spiritual nya apalagi di sekolah mereka. Orang tua juga
memiliki peranan yang penting dalam membentuk kecerdasan spiritual anak sejak dini yang nantinya dapat
membantu mereka menyembuhkan dan membangun dirinya secara utuh. Selain itu, pendidikan spiritual dalam
keluarga juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan potensi kemanusiaan yang dimiliki oleh anak
agar nantinya semakin banyak individu yang lebih kompeten serta berwatak dan berakhlak mulia seperti pada
video, mereka diajarkan untuk menghormati dan menyayangi orang tua dan juga belajar mandiri ketika ibu
mereka sedang sakit.
DAFTAR PUSTAKA
Adelina, D. (2007). Hubungan Kecerdasan Rohaniah Dengan Kesiapan Menuju Kematian Jurnal Insight, 9-10
Ahimsa, S. H., & Putra. (2012). Spiritualitas Bangsa dan Moralitas Bangsa. Yogyakarta
Boyd, D., & Bee, H. (2012). Lifespan development. Boston: Pearson. coping:Advances in theory, research, and
practice. In R. F. Paloutzian & C. L. Park
Kokko, K., Korkalainen, A., Lyyra, A. L., & Feldt, T. (2013). Structure and continuity of well-being in mid-adulthood:
A longitudinal study. Journal of Happiness Studies, 14(
Krok, Dariusz. (2015). Religious coping and well-being in middle adulthood: The mediational role of meaning in life.
10.1002/9781634826686.ch2.
McGoldrick, M., Preto, N. G., & Carter, B. (2016). the Expanding Family Life Cycle. In Pearson (Vol. 6, Issue 1).
Pearson Education.
Situmorang, A. R. (2016). Gambaran Spiritualitas Keluarga dengan Anggota Keluarga yang Mengalami Skizofrenia di
Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem Provinsi Sumatera Utara.
Rasyid, A. (2018). “Peranan orang tua dalam membina kecerdasan spiritual anak dalam keluarga di kelurahan
tumampua kecamatan pangkajene kabupaten pangkep”. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Makassar
Thanks!
Do you have any questions?