Peran Guru PAI dalam Kecerdasan Spiritual
Peran Guru PAI dalam Kecerdasan Spiritual
BAB I
PENDAHULUAN
maupun di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar
dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat pada
kecakapan dan karakteristik peserta didik, baik yang berkenan dengan segi
prosedur pendidikan diatur dan segala tahapannya bisa terstruktur agar pencapaian
lembaga pendidikan bagi pembentukan moral dan kepribadian peserta didik. Arti
kehidupan peserta didik, namun realita berbicara lain kondisi dan realita
pendidikan yang ada, karena kurangnya kesadaran terhadap nilai akhlak dan
1
2
membangun konsep diri yang sejati bagi peserta didik untuk mencapai tujuan
pendidikan Islam karena seseorang yang disebut berbudaya tinggi adalah seorang
khususnya nilai etis dan moral yang hidup didalam kebudayaan dan lingkungan
kemasyarakatan.1
Pada era global dan teknologi sekarang ini sistem manajemen pendidikan
harus sinergi dengan pengembangan dan persaingan yang ada pada daerah atau
negara tertentu, karena pendidikan merupakan proses atau tahap yang harus dan
mutlak dilalui oleh seorang manusia dari sekolah dasar sampai ketingkat
perguruan tinggi. Peserta didik yang dididik harus ditumbuh kembangkan potensi
yang dimiliki yang diberi oleh Allah swt., yaitu potensi akal dan hati yang
didik sebagai salah satu bentuk penguatan terhadap potensi yang sudah ada.
َخَي ٗرا لَّهُمۚ ِّم ۡنهُ ُم ۡٱل ُم ۡؤ ِمنُونَ َوَأ ۡكثَ ُرهُ ُم ۡٱل ٰفَ ِسقُون ِ ََأ ۡه ُل ۡٱل ِك ٰت
ۡ َب لَ َكان
Terjemahnya:
1
H.A.R. Tilaar, Pendidikan Kebudayaan Dan Masyarakat Madani Indonesia, ([Link] ;Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1999), h. 128.
3
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di
antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-
orang yang fasik”.2
diharapkan mampu mengantar peserta didik lebih peka dan kebal terhadap
yang negatif. Diperlukan pendidikan sebagai bekal awal dalam menjawab dan
Dan dengan pendidikan agama Islam peserta didik tidak hanya mampu
emosional dan mengantarkan peserta didik bagaimana cara bergaul dan hidup
intelektual, spiritual, emosi, dan fisik, sehingga seorang muslim dapat memiliki
kepribadian yang Islami mampu dan siap untuk melaksanakan serangkaian tujuan
guru bidang studi lainnya. Guru agama bukan sekedar sebagai “penyampai”
2
Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta; Addawa Sukses Mandiri,
2012), h. 65.
4
materi pelajaran. Tetapi lebih dari itu, ia adalah sumber inspirasi “spiritual” dan
dengan anak didik yang cukup dekat dan mampu melahirkan keterpaduan
kecerdasan spiritual, guru PAI dapat melakukan berbagai hal misalnya mengajak
siswanya ikut serta dalam kegiatan bakti social sehingga siswa dapat memiliki
rasa empati kepada sesama, guru PAI dapat mengajak para siswa belajar diluar
kelas dan di bawah ketempat wisata dengan pemandangan alam yang indah
sehingga siswa dapat mengagumi ciptaan Tuhan, guru PAI juga dapat membaca
dengan cara yang tepat, dengan demikian kecerdasan spiritual siswa dapat di
bolos sholat zhuhur, dan merokok. Ini berarti, penanaman nilai-nilai spiritual
belum berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil laporan yang terjadi di lapangan
masih ada sebagian siswa yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh
sekolah. Oleh karena itu, peneliti ingin melihat seperti apakah kecerdasan spiritual
siswa SMK Negeri 7 Luwu Utara. Maka dari itu peneliti tertarik melakukan
penelitian dengan judul “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina
B. Rumusan Masalah
rumusan masalah yang berkaitan dengan judul dan tujuan penelitian ini, adapun
rumusan masalahnya:
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat secara akademik, sebagai landasan tersendiri oleh pihak sekolah untuk
dari berbagai aspek kecerdasan peserta didik yang ada di SMKN 7 Luwu Utara.
6
2. Manfaat secara ilmiah, untuk menerapkan segala kemampuan IQ, EQ, dan SQ
yang dimiliki dan dapat dijadikan alat untuk mengabdi di masyarakat secara
3. Manfaat praktis, sebagai kajian dan pijakan bagi semua komponen masyarakat,
orang tua dan guru-guru di SMKN7 Luwu Utara. Agar dapat menerapkan metode
BAB II
KAJIAN TEORI
3
Ratna Sari, “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Terhadap Perkembangan Spiritual
Peserta Didik Di SMP Negeri 12 Palopo Kel. Sumarambu Kec. Telluwanua Kota Palopo”,
(Mahasiswa IAIN Palopo, 2017).
7
8
B. Deskripsi Teori
seorang guru agama kepada orang lain atau siswa, mendidiknya dengan akhlak
Islam dan membentuknya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Allah SWT.
atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar
4
Sukri Teang, “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Kecerdasan
Emosional Dan Spiritual Peserta Didik Di SMA Negeri 2 Palopo”, (Mahasiswa IAIN Palopo,
2018).
9
swt, khalifah dipermukaan bumi, sebagai makhluk social, dan sebagai makhluk
Istilah lain yang biasa digunakan untuk pendidik adalah guru. guru adalah
orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada anak didik
serta mampu berdiri sendiri dalam memenuhi tugasnya sebagai makhluk Allah.
Disamping itu, ia mampu sebagai makhluk social dan makhluk individu yang
mandiri. posisi guru begitu terhormat. Guru diposisikan sebagai orang yang ‘alim,
wara’, shalih, dan sebagai uswah sehingga guru dituntut juga sebagai aktualisasi
terjalin hubungan pribadi antara guru dengan anak didik yang cukup dekat dan
pengajarannya.
sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik
10
Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar dan terencana dalam menyiapkan
kesatuan dan persatuan bangsa. Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional pada Bab I, pasal 1 ayat 1, 2 dan pasal 12 ayat 1 dijelaskan
bahwa pendidikan nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang mana tersebut berakar pada
5
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (cet. IV, Bandung : Al Ma’rif,
2010), h. 19.
6
Koesmayanti, Nugraha, Dakwah Sekolah di Era Baru, Cet I; Solo: Era Intermedia.
h. 10.
11
zaman. Dalam pasal 12 ayat 1 di jelaskan bahwa setiap peserta didik pada setiap
juga mempunyai tujuan nasional yang sama, karena tujuan pendidikan agama
dan pengalaman siswa tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim
yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam
study Al-Qur’an Hadist, keimanan, akhlak, fiqih/ibadah dan sejarah. Hal tersebut
membuktikan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam sangat luas dan
manusia dengan Allah swt, hubungna manusia dengan manusia yang lain serta
bahwa, guru pendidikan agama Islam adalah usaha sadar orang dewasa yang
menumbuhkan dan mengembangkan jasmani dan rohani anak didik kearah yang
lebih baik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt
7
Redaksi Sinar Grafika, Undang-Undang SISDIKNAS : UU RI No. 20 th 2003, (Jakarta:
Sinar Grafika, 2008), h. 3.
12
serta mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah swt khalifah di muka
bumi, sebagai makhluk social dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.
Peran guru adalah terciptanya serangkaian tingkah yang saling berkaitan yang
upaya normatif untuk membantu seseorang atau sekelompok peserta didik dalam
memanfaatkan hidup dan kehidupan sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai Islam),
sehari-hari. 8
Dan menurutnya tentang peran guru yaitu guru dapat berperan
berikut :
kepribadian, seperti: kondisi fisik yang sehat, percaya diri sendiri, memiliki daya
kerja yang besar dan antusiasme, gemar dan cepat dalam mengambil keputusan,
8
Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h.
145.
9
Omar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, ( Jakarta: Bumi
Aksara, 2010), h. 44.
13
5. Memantau dan mengawai sikap dan prilaku peserta didik dalam kegiatan dan
Ketiga hal tersebut guru akan mampu menjadi model dan mampu
siswa, maka proses pembelajaran akan berlangsung secara efektif, sehingga tujuan
guru adalah membantu untuk mempermudah siswa belajar. Dengan demikian guru
10
Tobroni, Pendidikan Islam, Paradigma Teologis, Filosofis, dan Spiritualitas, ( Malang:
Kalam Mulia, 2008), h. 126.
11
Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,
( Jakarta: Kencana, 2008), h. 14.
15
kepentingan pada diri seseorang. Dalam hal ini guru menciptakan kondisi tertentu
Peran guru sebagai evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi
telah dilakukan, apakah materi yang diajarkan sudah dikuasai atau belum oleh
Peran guru yang dimaksud disini adalah dalam proses pembelajaran guru
secara keseluruhan.13
Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi
kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik.
Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik.
Petunjuk itu tidak mesti harus bertolak dari sejumlah teori-teori belajar, dari
pengalaman pun bisa dijadikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik. Yang
12
Nanang Hanafiah, Konsep Strategi Pembelajaran, ( Bandung:Refika Aditama, 2010), h.
26.
13
Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesi Guru, ( Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2011), h. 58.
16
penting bukan teorinya, tapi bagaimana melepaskan masalah yang dihadapi oleh
anak didik.
Berdasarkan beberapa uraian diatas, maka dapat dipahami bahwa peran guru
Secara rinci peran guru pendidikan agama Islam menurut Zuhairini, peran
Peran guru pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan
Islam melalui kegiatan pendidikan.15 Dari ketiga asfek tersebut “asfek beragama
atau menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilai-nilai Islam yang menjadikan
tujuan utama pendidikan agama Islam di Sekolah.16 Dalam artian, yang paling
pokok dari proses pendidikan agama Islam di sekolah bukan tujuan untuk
menjadikan manusia yang menguasai ilmu pengetahuan agama Islam, ahli agama,
atau pandai dan terampil melaksanakan, akan tetapi tujuannya untuk mewujudkan
14
Zuhairini, Metode Khusus Pendidikan Agama (Jakarta : Usaha Nasional, 2004), h. 55.
15
Ahmad Tafsir, Strategi Meningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
(Bandung: Maestro, 2008), h. 30.
16
Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, Op. Cit., h. 147.
17
nilai-nilai ajaran agama Islam itu dalam kehidupan nyata kepada peserta didik,
Pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang luhur dan mulia baik ditinjau
dari sudut masyarakat dan negara ataupun ditinjau dari sudut keagamaan.
seorang pemimpin umat, komandan perang, referensi bagi umat dan hakim dalam
menyelesaikan berbagai masalah. Dari sekian banyak peran beliau, peran paling
utama dan esensial adalah peran sebagai seorang pendidik atau guru.
Bukti hal ini bisa dilihat pada firman Allah Swt. QS. Al-Jumu’ah : 2
َ َوا َعلَ ۡي ِهمۡ َءا ٰيَتِ ِهۦ َويُ َز ِّكي ِهمۡ َويُ َعلِّ ُمهُ ُم ۡٱل ِك ٰت
ب َو ۡٱل ِح ۡك َمةَ َوِإن ْ ُث فِي ٱُأۡل ِّميِّۧنَ َر ُسواٗل ِّم ۡنهُمۡ يَ ۡتل
َ هُ َو ٱلَّ ِذي بَ َع
ٰ َ وا ِمن قَ ۡب ُل لَفِيْ َُكان
ينٖ ِضلَ ٖل ُّمب
Terjemahnya :
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (As
Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam
kesesatan yang nyata”17
ِإ َّن هللاَ لَ ْم يَ ْب َع ْثنِ ْي ُم ْعنِتا ً َوالَ ُمتَ َعنِّتًا َولَ ِك ْن:صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َوسلم
َ ِل هللا/ُ ع َْن عَاِئ َشةَ قَا َل قَا َل َرسُو
بَ َعثَنِ ْي ُم َعلِّ ًما ُميَ ِّس ًر
Artinya :
Ayat ini menegaskan bahwa Islam dibangun di atas pondasi Ilmu dan
cahaya ilmu dan pengetahuan. Maka tidak heran jika Nabi Muhammad Saw,
Secara kontekstual hadis riwayat Imam Muslim ini menjelaskan bahwa dalam
Dengan demikian, guru PAI adalah orang yang menguasai ilmu pengetahuan
dapat tumbuh dan berkembang dengan kecerdasannya dan daya kreasinya untuk
identifikasi diri dan konsultan bagi peserta didik, memiliki kepekaan informasi,
intelektual dan moral spiritual serta mampu mengembangkan bakat, minat dan
membekali peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa serta
berakhlak mulia hanya mengandalkan pada mata pelajaran agama yang hanya 3
jam pelajaran dalam satu minggu, oleh sebab itu perlu upaya-upaya pembinaan
lain yang dilakukan secara terus-menerus dan tersistem, diluar jam pelajaran
agama, baik di dalam kelas, diluar kelas, atau diluar sekolah, tetapi perlu
diantara warga sekolah dan para guru dan tenaga kependidikan yang ada
didalamnya.
memberikan arah tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan untuk
didalamnya.
1) Dasar yuridis/hukum
20
a. Dasar ideal, yaitu filsafah negara pancasila, sila pertama: Ketuhanan Yang
Maha Esa.
c. Dasar operasional, yaitu terdapat dalam Tap MPR No. IV/MPR1973 yang
pelaksanaan pendidikan agama secara formal, mulai dari sekolah dasar hingga
perguruan tinggi.
2) Dasar Religius
dasar-dasar yang bersumber dari ajaran agama Islam yang tertera dalam Al-
diterima atas dasar pilihannya untuk memangku jabatan guru. Amanat tersebut
19
Zuhairin dan Abdul Ghafar, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, (Surabaya: Biro
Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang), Cet Ke-8, h. 22.
21
anak, tetaplah ada pada orang tua. Sebagaimana disabdakan Rasulullah saw.:
ْ ِد يُولَ ُد َعلَى ْالف/ٍ صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم ُكلُّ َموْ لُو
ط َر ِة َ ال النَّبِ ُّيَ َي هَّللا ُ َع ْنهُ قَا َل ق ِ ع َْن َأبِي هُ َري َْرةَ َر
/َ ض
فََأبَ َواهُ يُهَ ِّودَانِ ِه َأوْ يُنَصِّ َرانِ ِه َأوْ يُ َم ِّج َسانِ ِه َك َمثَ ِل ْالبَ ِهي َم ِة تُ ْنتَ ُج ْالبَ ِهي َمةَ هَلْ ت ََرى فِيهَا َج ْدعَا َء
Artinya:
Jika kita lihat kembali pengertian pendidikan Agama Islam, akan terlihat
dengan jelas suatu yang diharapkan terwujud setelah orang memahami pendidikan
“Insan Kamil” dan “Taqwa”, Insan Kamil artinya manusia utuh jasmani dan
rohaninya, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya
kepada Allah swt. Ini mengandung arti bahwa Pendidikan Agama Islam itu
20
Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta; Addawa Sukses
Mandiri, 2012), h. 87
21
Abdullah Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim Al-Bukhori Al Ja’fi, Shohih Bukhori, (Jilid
1; Beirut Libanon: Dar al-Fikr, 1401 H/1981 M), h. 104.
22
Allah swt. dan sesama manusia, serta dapat mengambil manfaat dari alam semesta
tujuan pokok dari pendidikan agama Islam adalah mendidik budi pekerti dan
suatu usaha atau kegiatan selesai. Sedangan pendidikan merupakan suatu kegiatan
bertahap dan bertingkat pula.23 Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang
berbentuk statis dan tetap, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian
b. Fungsi psikologis yang berkaitan dengan tingkah laku individu termasuk nilai-
22
Abdul Salam., Peran Orang Tua Terhadap Pendidikan Agama Anak Pada Siswa MIS
Muhammadiyah Lasusua Kabupaten Kolaka Utara. ( STAIN palopo:2010), h. 20.
23
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000), h. 97.
24
Hamalik, Demar, kurikulum dan pembelajaran, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2009), h. 99.
23
3) Dasar Psikologis
membuat hatinya tidak tenang dan tidak tenteram sehingga memerlukan adanya
pandangan hidup. Manusia yang hidup di dunia ini pasti membutuhkan pegangan
hidup yang disebut agama, bahwa didalam jiwa manusia ada suatu perasaan yang
mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa, tempat untuk berlindung dan tempat
“maksud”, dalam bahasa arab dinyatakan dengan ghayat dan ahdaf atau maqasid.
Secara umum istilah – istilah itu mengandung pengertian yang sama, yaitu arah
suatu perbuatan atau yang hendak dicapai melalui upaya atau aktivitas.25
membimbing dan membentuk manusia menjadi hamba Allah yang saleh, teguh
imannya, taat beribadah, dan berakhlak terpuji. Bahkan keseluruhan gerak dalam
kehidupan setiap muslim, mulai dari perbuatan, perkataan dan tindakan apapun
yang dilakukannya dengan nilai mencari ridha Allah, memenuhi segala perintah-
Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya adalah ibadah. Maka untuk melaksanakan
semua tugas kehidupan itu, baik bersifat pribadi maupun sosial, perlu dipelajri dan
25
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h.133.
24
dituntun dengan iman dan akhlak terpuji. Dengan demikian, identitas muslim akan
manusia ideal sebagai ‘abid Allah atau ibad Allah yang tunduk secara total kepada
ۖكَ َواَل/نَ ٱهَّلل ُ ِإلَ ۡي/ٓا َأ ۡح َس//صيبَكَ ِمنَ ٱل ُّد ۡنيَ ۖا َوَأ ۡح ِسن َك َمِ ََنس نَ َو ۡٱبت َِغ فِي َمٓا َءاتَ ٰىكَ ٱهَّلل ُ ٱل َّدا َر ٱأۡل ٓ ِخ َر ۖةَ َواَل ت
َض ِإ َّن ٱهَّلل َ اَل ي ُِحبُّ ۡٱل ُم ۡف ِس ِدين ۡ
ِ ۖ ت َۡب ِغ ٱلفَ َسا َد فِي ٱَأۡل ۡر
Terjemahnya :
kehidupan didunianya. Diantaranya adalah berbuat baik kepada sesama dan alam
sebagainya
26
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 86.
27
Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an (Jakarta
: Rineka Cipta, 1994), h. 73
28
Omar Mohhammad Al-Taumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan
Bintang, 1979), h. 399.
29
Kementrian Agama RI, Qur’an dan Terjemahnya, (Surabaya: Halim, 2014), h. 395
25
Tujuan pendidikan dalam sekolah adalah agar kelak peserta didik itu mampu
peserta didik, yaitu jasmani dan rohani. Selain itu, pendidikan agama dalam
menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam terdiri atas lima sasaran, yakni :
keagamaan saja dan tidak hanya pada segi keduniaan saja, melainkan Islam
untuk kedua kehidupan itu sebagai tujuan tertinggi terakhir bagi pendidikan.
Agama Islam mrengajarkan nilai-nilai kehidupan dunia dan akhirat agar dapat
Betapa pentingnya pendidikan agama itu bagi peserta didik sesuai pedoman
serta fondasi dalam rangka mengatasi segala macam persoalan hidup dan
30
Saridjo, Marwa, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, Departemen Agama RI
Direktorat jendral pembinaan kelembagaan Agama Islam, Jakarta: CV. Amisco, 2006, h. 34.
31
Monks, F. J. Psikologi Perkembangan. (Jogjakarta: Gajah Mada. 2002), h. 98.
26
kehidupan ini yang makin hari kian terasa lebih berat bila keadaan politik sosial,
kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu
kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna
yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan adalah jalan
prinsip kehidupan pada kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh setiap manusia.
Tugas utama mencerdaskan peserta didik, tetaplah ada pada orang tua.
Artinya:
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi
Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Setiap peserta didik dilahirkan
dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan
menjadikan peserta didik itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi
sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak.34 (Bukhari
Muslim)
32
Nasution, Harun. Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya. (Jakarta: Uneversitas
Indonesia Press, 2001), h. 57.
33
Ari Ginanjar Agustian, ESQ Emosional Spiritual Kuotien, (Jakarta : Arga Wijaya
Persada, 2014), h. 42.
34
Abdullah Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim Al-Bukhori Al Ja’fi, Shohih Bukhori,
(Jilid 1; Beirut Libanon: Dar al-Fikr, 1401 H/1981 M), h. 104.
27
pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif), dan
dasar kerjanya adalah berfikir seri, linear, logis, tempat dan dapat dipercaya.
misalnya antara lapar dan nasi, antara rumah dan kenyamanan, antara ibu dan
cinta, dan lain-lain. Intinya pada pemikiran ini membuat asosiasi antara satu emosi
dan yang lain, emosi dan gejalah tubuh, emosi dan lingkungan sekitar. 35
Kelemahan dari otak EQ adalah variasinya sangat individual dan tidak ada
dua orang yang memiliki kehidupan yang emosional yang sama. Hal ini Nampak
dari pernyataan “saya dapat mengenali emosi anda”. Otak SQ cara kerjanya
mengaitkan antar unsur yang terlibat. Kemampuan untuk menangkap suatu situasi
35
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional dan
Spritual (Jakarta: Arga, 2001), h. 14.
28
mengalami dan menggunakan pengalaman tentang makna dan nilai yang lebih
tinggi. 36
bahwa jiwa manusia seperti dua sisi mata uang, yang satu cenderung kepada
untuk mampu mengaktualkan sifat-sifat baik yang terdapat dalam dirinya. Untuk
Islam menjelaskan bahwa struktur jiwa manusia terbagi menjadi tiga unsur
pokok yaitu akal, diri, dan nafsu-nafsu. Akal merupakan struktur jiwa yang paling
semesta. Akal merupakan dimensi bercahaya dalam diri manusia, sehingga akal
sering dianalogikan sebagai cahaya. Akal dapat melihat apa yang tersembunyi,
dan mengungkapkan apa yang tidak diketahui. Akal merupakan alat untuk
Diri merupakan “aku” yang bisa merasakan, melakukan tindakan untuk mencapai
jelaslah bahwa diri tanpa akal akan terombang-ambing tanpa arah dan kemuliaan.
4) Menjadikan hidup bermakna dan memiliki kualitas hidup yang diilhami oleh
indikator yaitu :
7) Bagaimana melayani.38
baik dan ikhlas, dan menghindari perbuatan yang merusak atau merugikan.
c. Sabar, yaitu menahan diri dari hal-hal yang dibenci dan menahan lisan agar
meninggalkan perilaku yang buruk dan menghindarkan diri dari perbuatan yang
merupakan inti kodrat manusia yang diberikan sejak awal penciptaan, tanpa
dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk
menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding
dengan yang lain. Kecerdasan spiritual (SQ) bersumber dari batin dan jiwa yang
merupakan bagian terdalam dari diri manusia yang menggerakkan pikiran dan
berbagai macam aspek pengembangan spiritual. Berikut ini ada beberapa cara
Tony Buzan, seorang ahli yang telah menulis lebih dari delapan puluh buku
menolong orang lain, menemukan tujuan hidup, turut merasa memikul sebuah
misi yang mulia kemudian merasa terhubung dengan sumber kekuatan, dan
39
Triantoro safaria, Metode Pengembangan Keccerdasan Spiritual Anak, (Jokjakarta:
Graha Ilmu), h. 20-23.
32
dengan jiwa atau batin seseorang. Apabila jiwa atau batin seseorang mengalami
dari orang-orang yang dalam sejarah yang mempunyai kecrdasan spiritual yang
tinggi. Metode ini dinilai sangat efektif karena anak-anak pada umumnya sangat
menyukai cerita. Di samping anak-anak memang sangat dekat dengan segala hal
yang bernuansa imajinasi, pengembaraan, hal lain yang bersifat yang luar biasa,
juga anak sangat senang dengan segala sesuatu yang baru dan disampaikan
dengan cara bercerita. Di sinilah sesungguhnya orang tua dapat berperan aktif
kisah para Nabi, para sahabat yang dekat dengan Nabi, orang-orang yang terkenal
40
Akhmad Muhaimin Azzet, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Bagi Anak,
(Jogjakarta: Katahati, 2010), h. 50.
33
menyerah, memberikan rasa tenang dalam hal apapun. Sedangkan rasa syukur
luar dugaan, dan anak akan lebih semangat. Kedua hal ini penting dilatihkan
Cara berpikir positif akan membawa pengaruh yang sangat besar dalam
dilatihkan kepada anak-anak adalah berpikir positif kepada Tuhan yang telah
mungkin dan hasilnya tidak sesuai dengan harapan, orang tersebut menyadari
bahwa itulah takdir Tuhan yang harus diterima dengan sabar, dan berpikir secara
positif kepada Tuhan bahwa apa yang diputuskan-Nya adalah yang terbaik serta
Menanamkan kepada anak bahwa apa yang dilakukan atau apa yang
dikerjakan diketahui oleh Tuhan perlu kita latihkan kepada mereka. Agar anak-
anak kita akan tetap berusaha memberikan yang terbaik dalam hidupnya karena ia
berbuat untuk Tuhannya. Maka anak tersebut tidak akan mudah untuk menyerah
sesuatu atau bekerja dengan misi untuk memberikan sesuatu yang terbaik untuk
Tuhan secara otomatis hasil kerjanya pun berbanding lurus dengan keberhasilan.
34
Apa yang diupayakannya pun bernilai baik dihadapan orang lain kerena ia telah
bahkan dilatihkan kepada anak agar tidak terjebak untuk menyalahkan dirinya,
Satu hal yang penting untuk dipahami bahwa, hal tersebut bisa dilakukan apabila
berangkat dari sebuah keyakinan bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik
kepada hamba-Nya.
2) Merasakan dengan kuat bahwa dia ingin berubah. Setelah renungan mendorong
untuk merasakan bahwa perilaku, hubungan, kehidupan, atau hasil kerja dapat
dalam.
7) Menetapkan hati pada sebuah jalan dipilih sendiri, harus tetap sadar bahwa
lingkungan sekolah. Berikut ini beberapa peran guru PAI dalam mengembangkan
kecerdasan spiritual :
Berikan ruang kepada siswa untuk melakukan kegiatannya sendiri dan latih
mereka memecahkan masalahnya sendiri. Untuk itu guru tidak perlu terlalu
belajar-mengajar, beri tahu manfaat mengapa anak perlu mempelajari hal tersebut
sehingga dia sendirin memiliki motivasi untuk memperdalam materi tersebut yang
peserta didik saling menghargai, saling memaafkan apabila terjadi konflik satu
dengan yang lain. Dalam sebuah kelas, dimana terdapat beragam karakter,
41
Abd. Wahab Dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan Dan Kecerdasan Spiritual,
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), h. 73
36
melalui dialog mencari pemecahan yang terrbaik atas masalah yang dihadapi
mengembangkan realisai diri pesrta didik. Misalnya, kurikulum yang bisa melatih
kepekaaan peserta didik terhadap berbagai masalah aktual, dimana pesrta didik
diajak berekfleksi tentang makna, bagaimana dia dapat ikut serta memecahkan
tanah longsor. Begitu banyak orang mengalami perubahan hisup secara tiba-tiba
dan menjadi menderita. Di sini kepekaan terhadap nilai dan makna kemanusiaan
dapat ditumbuhkan apabila peserta didik dapat diajak untuk berefleksi, menyadari
daya cipta yang sangat tinggi. Misalnya, mereka dapat menciptakan peraturan
kelas dan peraturan sekolahnya sendiri dengan sangat baik dan ideal. Guru tinggal
menciptakan kondisi dimana daya kreativitas yang sudah ada dalam diri mereka
Hukuman dan olok-olok, perkelahian dan saling mngejek antara murid perlu
mendorong setiap peserta didik untuk saling menghargai dan saling memahami
pendapat dan perasaan masing-masing. Bila terjadi konflik, murid perlu diajak
berdialog untuk mencari cara pemecahan konflik yang dapat diterima oleh semua
Gurulah yang menjadi model seorang pemimpin yang diamati oleh peserta
pemimpin yang efektif itu adalah yang mengerti dan memahami bawahannya,
dirinya sendiri.
D. Kerangka Pikir
Penelitian ini difokuskan pada peran pendidikan agama Islam dalam membina
kecerdasan spiritual peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara, alur kerangka pikir
secara umum, yang selanjutnya dijabarkan dalam tujuan intruksional umum dan
38
tujuan intruksional khusus. Bertitik tolak pada tujuan belajar tersebut, maka guru
dan peserta didik berinteraksi dalam proses belajar mengajar secara terstruktur,
kehidupan sudah tentu dapat dijadikan jembatan bagi guru dan peserta didik
selaku objek pendidikan untuk dapat memiliki kepekaan emosional dan sosialisasi
peserta didik dapat tergabung dengan baik dan disamping itu, diharapkan peserta
didik memiliki kepekaan spiritual yang dapat menghantarkan peserta didik dapat
membawa dirinya kedalam prilaku dan sosiologis yang positif sehingga dengan
yang mereka dapat dibangku sekolahnya. Disamping itu guru harus berupaya
guru dan peserta didik selaku objek pembelajaran mendapatkan yang sebenarnya
secara maksimal dan ini tindakan dapat dicapai jika guru selaku pendidik tidak
kreatif dalam menyampaikan bahan ajarnya kepada peserta didik dengan baik.
Guru PAI
39
SMKN 7 LUTIM
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan
yaitu, menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore) dan kedua
B. Fokus Penelitian
membatasi penelitian guna memilih mana data yang relevan dan mana yang tidak
relevan. Pembatasan dalam penelitian kualitatif ini lebih didasarkan pada tingkat
C. Definisi Istilah
1. Peran guru pendidikan agama Islam diantaranya, guru pendidikan agama Islam
42
Lexy J Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2012), h. 6.
41
2. Upaya guru PAI adalah suatu metode dan usaha yang dilakukan oleh guru
seseorang.
D. Desain Penelitian
analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih
1. Data
Data dalam penelitian ini menggunakan data yang berupa kata, kalimat,
wacana dan gambar yang diperoleh secara langsung oleh peneliti di lapangan
2. Sumber Data
Penelitian ini adalah penelitian pengamatan yang bertumpu pada sumber data
dilakukan pada jenis penelitia kualitatif. Jadi, yang dimaksud sumber data dalam
penelitian ini adalah semua guru pendidikan agama Islam yang ada di sekolah
SMKN 7 Luwu Utara yang akan memberikan data yang valid terhadap objek
42
penelitian ini yang dijadikan sebagai sumber data. Adapun penelitian ini
1. Data primer adalah data utama yang diambil langsung dari para informan
2. Data sekunder adalah data yang bersifat pendukung yang bersumber dari
dokumentasi arsip sekolah dan dokumentasi gambar pada saat penelitian yang
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan oleh peneliti dalam hal ini adalah instrumen pokok
dan instrumen penunjang. Instrumen pokok adalah manusia itu sendiri sedangkan
1. Instrumen pokok dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti sebagai
2. Instrumen kedua dalam penelitian ini adalah dengan metode wawancara. Secara
Penelitian yang tepat perlu memiliki teknik dan alat pengumpulan data yang
relevan. Pengguna teknik dan alat pengumpulan data yang dapat memungkinkan
43
diperolehnya data yang objektif. Sedangkan dalam penulisan skripsi ini penelitian
1. Observasi
Observasi adalah metode ilmiah yang bisa diartikan sebagai pengamatan dan
mengenai kecerdasan spiritual peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara dan untuk
pengamatan spiritual para peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara yakni dengan
melihat aktivitas sholat peserta didik dan faktor-faktor religious yang lain yang
dapat menggambarkan aspek religious dari peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara.
2. Wawancara
Wawancara adalah salah satu cara menggali data. Hal ini harus dilakukan
secara mendalam untuk mendapatkan data yang detail dan valid. Menurut Burhan
keterangan untuk tujuan penelitian dengan tanya jawab sambil bertatap muka
antar pewawancara dan informan atau orang yang diwawancarai, atau tanpa
43
Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial (Jogjakarta: Gadjah Mada University
Press, 1998), h. 100.
44
Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan ( Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 158-159.
44
dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara
tertentu kepada sumber data atau informan agar memperoleh jawaban dari
3. Dokumentasi
mencari tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat
45
Sudarwam Danim, Menjadi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), h.
2010.
46
Suharsimi Arikonto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 1998), h.206.
45
proses perolehan data penelitian yang tentunya akan berimbas terhadap akhir dari
suatu penelitian. Maka dari itu, dalam proses pengecekan keabsahan data pada
penelitian itu harus melalui beberapa teknik pengujian. Adapun teknik yang
yaitu:
1. Triangulasi
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau
a. Triangulasi Sumber
informan yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian
kualitatif (Moleong, 2011: 330). Hal ini dapat dicapai dengan jalan
apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara
pribadi dan lain sebagainya. Triangulasi sumber yang dipakai yaitu guru, dan
siswa.
b. Triangulasi Metode
46
menggunakan dua atau lebih metode yang berbeda untuk objek peneliti yang
sama. Triangulasi ini digunakan untuk memperoleh data tentang peran guru
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data
dan memilih mana yang penting serta mana yang perlu dipelajari serta membuat
dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yang digunakan peneliti yaitu
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan langkah terakhir adalah
a. Reduksi data
b. Penyajian data
47
Lexy J Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2012), h. 12.
47
Penyajian data yang sering digunakan pada data kualitatif adalah bentuk
c. Penarikan kesimpulan
dilakukan melihat hasil reduksi data tetap mengaju pada rumusan masalah secara
tujuan yang hendak dicapai. Data yang telah disusun dibandingkan antara satu
dengan yang lain untuk ditarik kesimpulan sebagai jawaban dari permasalahan
yang ada.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Sejarah SMKN 1 Sabbang atau lebih dikenal dengan nama SMKN 7 Luwu
Utara adalah salah satu sekolah menengah kejuruan yang terletak di daerah
120.1813000). Sekolah ini, dibangun di atas lahan seluas ±20.100 m 2 yang telah
menjabat sebagai Kepala Desa saat itu, yang kemudian dihibahkan kepada Negara
atau Jurusan dibuka,yang pertama adalah Teknik Kendaraan Ringan (TKR), dan
yang kedua adalah Teknik Komputer dan [Link] siswa pada saat itu
sebanyak 80 orang yang dibagi ke dalam 3 (tiga) rombel, 2 (dua) rombel untuk
bangunannya belum ada. Saat itu juga proses belajar-mengajar dilakukan di siang
s/d sore hari, karena paginya digunakan oleh siswa SMPN 1 Sabbang. Pada tahun
2015, bangunan pertama yaitu 2 (dua) ruang bengkel, 2 (dua) ruang kelas, dan 1
(satu) ruang perpustakaan, serta toilet selesai dibangun, maka proses pembelajaran
dihadapi adalah sarana ruang kelas yang masih kurang dan fasilitas yang minim.
belajar. Oleh karena itu, guru sangat berperan dalam menumbuhkan minat belajar
siswa. Dalam hal ini, guru agama islam di SMKN 7 Luwu Utara dalam
motivasi untuk mendorong siswa agar mereka bergairah belajar, baik dalam
bentuk individu maupun kelompok. Dalam hal ini kepala sekolah mengungkapkan
diberikan kepada anak didik yang [Link] ini merupakan gejala yang baik
[Link] hadiah yang sederhana ini perlu digalakkan karena relatif murah
dan dirasakan cukup efektif untuk memotivasi siswa dalam kompetisi belajar.
2. Memberi Angka
Angka atau nilai yang baik merupakan potensi yang besar untuk
angka yang diperoleh oleh anak didik lebih tinggi dari anak didik lainya, maka
dalam diri anak tersebut akan senang dan puas, sehingga ia akan terus
meningkatkan belajarnya.
Berkaitan dengan itu guru pendidikan agama Islam di SMKN 7 Luwu Utara
jenuh dan bosan, guru pendidikan agama Islam di SMKN 7 Luwu Utara
50
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.
51
mengikuti. Di samping itu juga, agar tujuan yang lebih khusus, yaituh
tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam tercepat. 51
5. Memberikan perhatian
Dalam hal ini pendidikan agama islam di SMKN 7 Luwu Utara sebagai
mengikuti kegiatan belajar. Bila disaat anak belajar terlihat malas, ngantuk, tidak
Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara kepada guru khususnya guru
bidang studi pendidikan agama Islam yang lebih mengetahui bagaimana perilaku
“pada saat pembelajaran siswa sangat antusias dalam menerima pelajaran ini
dengan baik, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan
lancar, Setiap awal pembelajaran pendidikan agama Islam guru mengajak
semua siswa melakukan tadarrus yang dipanduu oleh setiap guru, kemudian
guru menilai setiap bacaan yang dibaca siswa utamanya tajwid dan
makharijul huruf.”53
51
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.
52
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.
53
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.
52
keluarga dan lingkungan sekolah hal ini di kemukakan oleh guru PAI SMKN 7
Luwu Utara :
yang paling penting dalam kehidupan. Sebab kebahagaian dan menemukan makna
spiritual siswa dapat mengetahui mana yang baik dan buruk. Dan kecerdasan ini
54
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.
55
Aris, Kepala sekolah SMKN 1 Sabbang atau SMKN 7 Luwu Utara “Wawancara“, 26
Januari 2021.
53
mengarahkan seseorang pada prilaku yang baik. Peran guru pendidikan agama
“Tidak adanya pedoman motivasi belajar dan kecerdasan spritual yang baku
(Standar), hal tersebut dikarenakan faktor yang mempengaruhi motivasi
bermacam macam. Untuk itu sudah menjadi tugas guru pendidikan agama
Islam harus pandai-pandai menentukan pendekatan dalam memberikan
motivasi belajar dan kecerdasan spritual pada anak didiknya, agar motivasi
belajar dan kecerdasan spritual dapat berjalan efektif.” 56
Karena banyak hal yang harus dipahami, dipersiapkan dan dilakukan. Rumit
karena subyek didik adalah manusia serba misterius. Mendidik dan mengajar
yang cukup tinggi dari guru atau pendidik, agar ia tidak lekas bosan, dan putus
asa.
Demikian juga halnya dengan proses belajar yang dijalani siswa. Belajar
membutuhkan motivasi yang secara konstan tetap tinggi dari para siswanya. Agar
para siswa memiliki motivasi yang tinggi beberapa usaha perlu dilakukan oleh
upaya pertama yang perlu dilakukan guru adalah memecahkan kendala dalam
56
Aris, Kepala sekolah SMKN 1 Sabbang atau SMKN 7 Luwu Utara “Wawancara“, 26
Januari 2021.
54
“Setiap guru harus dapat memahami motivasi baik tujuan, fungsi maupun
jenis dan upaya meningkatkan motivasi belajar dan kecerdasan spritual
kegiatan pembelajaran secara utuh. Setiap guru harus pandai-pandai
menggunakan pendekatan dalam motivasi belajar dan kecerdasan spritual
siswa, karena motif bersifat perorangan, ini dimugkinkan guru dapat
menggunakan pendekatan individual. Untuk itu guru PAI haruslah
memberikan pemahaman terhadap setiap anak didik tentang pentingnya
belajar, disamping itu setiap guru dituntut untuk menggunakan metode yang
tepat, karena sangat singnifikan dapat memotivasi belajar dan kecerdasan
spritual siswa.” 57
B. Pembahasan
Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan melihat kontek perannya adalah
(PBM) menuntut adanya berbagai peran untuk senantiasa aktif dan aktivitas
Dalam pendidikan formal maupun non formal salah satu faktor utama yang
menentukan mutu pendidikan adalah guru. Gurulah yang berada digarda depan
dengan anak didiknya di kelas malalui proses belajar mengajar. Ditangan gurulah
akan dihasilakan peserta didik yang berkaualitas, baik secara akademik, keahlian,
pendidikan akhlak sehingga anak akan menjadi pribadi yang tangguh dan
1. Kesadaran akan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik. Guru adalah
dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan. Guru adalah orang yang
dalam tingkah lakunya nilai-nilai Agama Islam. guru dalam Islam adalah orang
mengubah tingkah laku peserta didik menjadi lebih baik dan untuk melihat sejauh
menghargai memang perlu untuk di jaga oleh seorang pendidik karena sifat ini
memiliki potensi yang sangat besar kepada peserta didik untuk merasa nyaman
perlu di bangun pendidik sesama pendidik atau dengan masyarakat demi untuk
mengembangkan potensi rasa persudaraan peserta didik. Selain itu peserta didik
56
juga sangat diharapkan dapat memetik hikmah dari gurunya apa yang mereka
dalam kelas maupun di luar kelas karena mengingat keadaan siswa yang dinamis
nilai-nilai spirtual.
peserta didik memang perlu agar masalah tersebut tidak panjang lebar, dan untuk
sunnah yang sangat penting dikerjakan karena mempunyai nilai tinggi derajatnya
dibanding sholat sendiri. Maka dari itu selaku guru yang ada di SMKN 7 Luwu
2. Kesadaran siswa
Kesadaran diri adalah kesadaran akan keberadaan dirinya, dari mana dia
berasal, apa kelebihan dan kekurangan dirinya, dan apa tujuan hidupnya. Adapun
kesadaran yang dimiliki peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara adalah kesadaran
kebersihan. Itu semua tidak lepas dari peran guru sebagai pendidik untuk melihat
3. Metode pembelajaran
Metode pembelajaran adalah suatu cara atau upaya yang dilakukan oleh para
pendidik agar proses belajar mengajar pada siswa tercapai sesuai dengan tujuan.
mengajar tersaebut nampak menyenangkan dan tidak membuat para peserta didik
suntuk, dan juga para pesrta didik tersebut dapat menangkap ilmu dari tenaga
pendidik tersebut dengan mudah. Dengan metode yang tepat yang diterapkan oleh
guru Pendidikan Agama Islam dalam proses pembelajaran, peserta didik dapat
sopan baik pada teman maupun kepada gurunya, peserta didik dapat menjalankan
ibadah sholat zhuhur berjamaah dengan tertib dan benar, itu semua tidak lepas
dari peran guru sebagai pendidik dalam mengembangkan keerdasan spiritual yang
Kerjasa yang dijalin antara kepala sekolah dengan guru yang ada di sekolah
tiada lain untuk mengembangkan seluruh potensi anak didiknya. Potensi yang di
berakhlak mulia.
5. Kedisiplinan
Kedisplinan peserta didik sangat penting untuk kemajuan sekolah itu sendiri.
sekolah, mengingat sekolah tempat generasi penerus bangsa salah satu faktor yang
membantu para peserta didik meraih sukses dimasa depan yaitu dengan
disiplin waktu, disiplin belajar, disiplin sholat berjamaah tepat waktu, disiplin
pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang
meragukan figur guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik
Jadi yang dimaksud dengan upaya guru pendidikan agama Islam menurut
penulis dalam penelitian ini adalah usaha guru yang dengan sengaja untuk
Metode atau cara tertentu yang dapat memotivasi semua murid dengan cara
yang sama atau dengan hasil yang sama, ini dikarenakan faktor yang
belajar dan pembelajaran. Untuk itu sebagai jalan keluarnya dapat diupayakan
sebagai berikut:
a) Siswa harus dihindarkan dari gangguan kesehatan baik fisik maupun psikis.
dipertinggi mutunya, dengan lingkungan yang aman, tenteram tertip dan indah,
maka semangat dan motivasi belajar dan kecerdasan spritual mudah diperkuat.
motivasi belajar dan kecerdasan spritual dan perilaku belajar. Lingkungan siswa
yang berupa lingkungan alam, lingkungan tempat tiggal, dan pergaulan juga
siswa.
seorang guru mampu membangun motivasi belajar dan kecerdasan spritual para
sesulit apapun materi pelajaran atau proses pembelajaran yang diikutinya niscaya
mereka akan menjalaninya dengan baik tanpa adanya paksaan dari siapapun.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
dan masalah-masalah yang dijadikan dasar berpijak dalam penelitian ini, serta dari
berbagai data yang telah dikumpulkan dan dianalisa, maka penelitian dapat
peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara ialah, Guru Sebagai Pendidik, Guru Sebagai
Pengajar, Guru Sebagai Sumber Belajar, Guru Sebagai Pemimpin, Guru Sebagai
Teladan, Guru Sebagai Fasilisator, Guru Sebagai Motivator, dan Guru Sebagai
Inspirator.
B. Saran-Saran
akan mengemukakan beberapa saran sebagai harapan yang ingin dicapai sekaligus
kualitas kinerja guru dan penguatan dalam memotivasi dan keteladanan kepada
2. Bagi guru
62
3. Bagi peneliti
maksimal dan mencapai hasil yang terbaik. Namun, tidak lepas pula dari
kekurangan dan kelemahan sebagai penulis untuk sangat mengharapkan saran dan
kritik.
DAFTAR PUSTAKA
P. Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, (Cet. I; Jakarta:
Rineka Cipta, 1997).