0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan63 halaman

Peran Guru PAI dalam Kecerdasan Spiritual

Peran guru pendidikan agama Islam dalam membina kecerdasan spiritual peserta didik di SMK Negeri 7 Luwu Utara dibahas dalam dokumen ini. Dokumen menjelaskan latar belakang masalah tentang pentingnya pendidikan agama Islam dan kecerdasan spiritual bagi peserta didik. Kemudian rumusan masalah dan tujuan penelitian dijelaskan, yaitu untuk mengetahui peran dan upaya guru agama dalam meningkatkan kecerdasan spiritual siswa.

Diunggah oleh

Nila Sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan63 halaman

Peran Guru PAI dalam Kecerdasan Spiritual

Peran guru pendidikan agama Islam dalam membina kecerdasan spiritual peserta didik di SMK Negeri 7 Luwu Utara dibahas dalam dokumen ini. Dokumen menjelaskan latar belakang masalah tentang pentingnya pendidikan agama Islam dan kecerdasan spiritual bagi peserta didik. Kemudian rumusan masalah dan tujuan penelitian dijelaskan, yaitu untuk mengetahui peran dan upaya guru agama dalam meningkatkan kecerdasan spiritual siswa.

Diunggah oleh

Nila Sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan masyarakat dan pemerintah

melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan yang berlangsung di sekolah

maupun di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar

dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat pada

masa yang akan datang.

Pendidikan merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk

mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan pendidikan.

Interaksi pendidikan berfungsi membantu pengembangan seluruh potensi

kecakapan dan karakteristik peserta didik, baik yang berkenan dengan segi

intelektual, sosial, afektif, maupun fisik motorik.

Lembaga pendidikan merupakan wahana untuk manusia berproses

mengenyam pendidikan sehingga dengan wadah tersebut segala proses dan

prosedur pendidikan diatur dan segala tahapannya bisa terstruktur agar pencapaian

tujuannya maksimal, tentu membutuhkan keprofesionalan di dalamnya, yang

mampu mengatur dan mengarahkan kemana arah kebijakan pendidikan.

Kondisi yang ada memberikan gambaran akan eksistensinya sebagai sebuah

lembaga pendidikan bagi pembentukan moral dan kepribadian peserta didik. Arti

dari pada nilai-nilai pendidikan harus betul-betul nampak dalam realitas

kehidupan peserta didik, namun realita berbicara lain kondisi dan realita

pendidikan yang ada, karena kurangnya kesadaran terhadap nilai akhlak dan

1
2

kepribadian peserta didik sehingga terjadi penyimpangan karakter dan sikap

sebagai manusia yang selalu berubah dan berkembang sepanjang hayat.

Pendidikan agama Islam bagi peserta didik, besar pengaruhnya terhadap

perubahan sikap maupun mentalnya. Dengan perubahan tersebut akan mudah

membangun konsep diri yang sejati bagi peserta didik untuk mencapai tujuan

pendidikan Islam karena seseorang yang disebut berbudaya tinggi adalah seorang

menguasai, memahami dan berprilaku sesuai dengan norma-norma, nilai budaya,

khususnya nilai etis dan moral yang hidup didalam kebudayaan dan lingkungan

kemasyarakatan.1

Pada era global dan teknologi sekarang ini sistem manajemen pendidikan

harus sinergi dengan pengembangan dan persaingan yang ada pada daerah atau

negara tertentu, karena pendidikan merupakan proses atau tahap yang harus dan

mutlak dilalui oleh seorang manusia dari sekolah dasar sampai ketingkat

perguruan tinggi. Peserta didik yang dididik harus ditumbuh kembangkan potensi

yang dimiliki yang diberi oleh Allah swt., yaitu potensi akal dan hati yang

merupakan modal utama dalam proses pekembangan dan pertumbuhan peserta

didik sebagai salah satu bentuk penguatan terhadap potensi yang sudah ada.

Sebagaimana firman Allah dalam Q.s. Ali-imran/3:110

َ‫و َءا َمن‬// ِ ‫اس ت َۡأ ُمرُونَ بِ ۡٱل َم ۡعر‬


ۡ َ‫ن ع َِن ۡٱل ُمن َك ِر َوتُ ۡؤ ِمنُونَ بِٱهَّلل ۗ ِ َول‬/َ ‫ُوف َوت َۡنهَ ۡو‬ ِ َّ‫ُكنتُمۡ خ َۡي َر ُأ َّم ٍة ُأ ۡخ ِر َج ۡت لِلن‬

َ‫خَي ٗرا لَّهُمۚ ِّم ۡنهُ ُم ۡٱل ُم ۡؤ ِمنُونَ َوَأ ۡكثَ ُرهُ ُم ۡٱل ٰفَ ِسقُون‬ ِ َ‫َأ ۡه ُل ۡٱل ِك ٰت‬
ۡ َ‫ب لَ َكان‬

Terjemahnya:

1
H.A.R. Tilaar, Pendidikan Kebudayaan Dan Masyarakat Madani Indonesia, ([Link] ;Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1999), h. 128.
3

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di
antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-
orang yang fasik”.2

Pendidikan agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang

diharapkan mampu mengantar peserta didik lebih peka dan kebal terhadap

pengaruh-pengaruh luar yang dapat menjerumuskan peserta didik kepada sikap

yang negatif. Diperlukan pendidikan sebagai bekal awal dalam menjawab dan

menghadapi tantangan zaman. Pendidikan Islam harus melakukan reorientasi

kearah yang lebih baik.

Pendidikan agama Islam merupakan dasar bagi peserta didik untuk

membentuk kepribadian yang dapat dijadikan panduan kehidupan sehari-harinya.

Dan dengan pendidikan agama Islam peserta didik tidak hanya mampu

mengembangkan kecerdasan intelektualnya namun peserta didik juga mampu

mengembangkan kecerdasan spiritual yang mampu mendongkrak kecerdasan

emosional dan mengantarkan peserta didik bagaimana cara bergaul dan hidup

yang disesuaikan dengan tujuan pencitaannya. Perspektif yang meliputi aspek

intelektual, spiritual, emosi, dan fisik, sehingga seorang muslim dapat memiliki

kepribadian yang Islami mampu dan siap untuk melaksanakan serangkaian tujuan

hidup diciptakannya oleh Allah swt.

Bagi seorang guru, khususnya guru pendidikan agama Islam, aspek

spiritualitas merupakan aspek yang harus dimiliki yang membedakannya dengan

guru bidang studi lainnya. Guru agama bukan sekedar sebagai “penyampai”
2
Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta; Addawa Sukses Mandiri,
2012), h. 65.
4

materi pelajaran. Tetapi lebih dari itu, ia adalah sumber inspirasi “spiritual” dan

sekaligus sebagai pembimbing sehingga terjalin hubungan pribadi antara guru

dengan anak didik yang cukup dekat dan mampu melahirkan keterpaduan

bimbingan rohani dan akhlak dengan materi pengajarannya. Dalam meningkatkan

kecerdasan spiritual, guru PAI dapat melakukan berbagai hal misalnya mengajak

siswanya ikut serta dalam kegiatan bakti social sehingga siswa dapat memiliki

rasa empati kepada sesama, guru PAI dapat mengajak para siswa belajar diluar

kelas dan di bawah ketempat wisata dengan pemandangan alam yang indah

sehingga siswa dapat mengagumi ciptaan Tuhan, guru PAI juga dapat membaca

dan menceritakan kisah-kisah yang inspiratif untuk mendorong siswa memahami

makna hidup dan membantu siswa menyelesaikan permasalahan yang dihadapi

dengan cara yang tepat, dengan demikian kecerdasan spiritual siswa dapat di

bentuk sejak dini. Berdasarkan kenyataan lapangan di sekolah SMK Negeri 7

Luwu Utara, tidak sedikit ditemukan pelanggaran moralitas, misalnya pencurian

di lingkungan sekolah, menyalah gunakan obat-obat terlarang, bolos sekolah,

bolos sholat zhuhur, dan merokok. Ini berarti, penanaman nilai-nilai spiritual

belum berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil laporan yang terjadi di lapangan

masih ada sebagian siswa yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh

sekolah. Oleh karena itu, peneliti ingin melihat seperti apakah kecerdasan spiritual

siswa SMK Negeri 7 Luwu Utara. Maka dari itu peneliti tertarik melakukan

penelitian dengan judul “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina

Kecerdasan Spiritual Peserta Didik Di SMKN 7 Luwu Utara” untuk mengetahui


5

bagaimana peran guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kecerdasan

spiritual peserta didik.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas penulis akan menguraikan beberapa

rumusan masalah yang berkaitan dengan judul dan tujuan penelitian ini, adapun

rumusan masalahnya:

1. Bagaimana peran guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan

kecerdasan spiritual peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara?

2. Bagaimana upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan

kecerdasan spiritual peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui peran guru PAI dalam meningkatkan kecerdasan spiritual

peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara.

2. Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru pendidikan agama

Islam pada sekolah tersebut dalam meningkatkan kecerdasan spiritual peserta

didik di SMKN 7 Luwu Utara.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penulisan proposal ini maka penulis akan memaparkan

beberapa manfaat dari penelitian ini yaitu:

1. Manfaat secara akademik, sebagai landasan tersendiri oleh pihak sekolah untuk

mengembangkan materi tersebut demi pengembangan peningkatan kecerdasan

dari berbagai aspek kecerdasan peserta didik yang ada di SMKN 7 Luwu Utara.
6

2. Manfaat secara ilmiah, untuk menerapkan segala kemampuan IQ, EQ, dan SQ

yang dimiliki dan dapat dijadikan alat untuk mengabdi di masyarakat secara

umum dan disekolah secara khusus.

3. Manfaat praktis, sebagai kajian dan pijakan bagi semua komponen masyarakat,

orang tua dan guru-guru di SMKN7 Luwu Utara. Agar dapat menerapkan metode

pembelajaran yang dapat mengembangkan kecerdasan spiritual peserta didik.


7

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Kajian Penelitian Yang Terdahulu

Untuk mengetahui posisi penelitian ini, berikut dikemukakan hasil penelitian

terdahulu yang relevan yang berhubungan penelitian ini:

No Peneliti Judul Persamaan dan Hasil penelitian


Perbedaan
1. Ratna Sari Peran guru Persamaan : Hasil dari penenlitian
(2017) pendidikan - Menggunakan ini menunjukkan bahwa
Program agama Islam penelitian kualitatif perkembangan spiritual
Studi terhadap - Subyek penelitian peserta didik di SMP 12
kecerdasan
Pendidikan perkembangan Negeri Palopo selain
spiritual
Agama spiritual peserta Perbedaan : dengan materi agama
Islam didik di SMP Tempat penelitian guru juga memberikan
STAIN Negeri 12 sifat-sifat kearifan lokal
Palopo Palopo kel. yaitu kebiasaan yang
sumarambu kec. ada dimasyarakat yang
telluwanua kota selalu ditekankan
palopo kepada peserta didik
supaya tidak ada
keterputusan antara
kondisi dimasyarakat
dengan apa yang akan
mereka hadapi,
terutama dari sisi
kebersamaan,
kekeluargaan, dan juga
disiplin lewat materi
pembelajaran, dan juga
guru melibatkan peserta
didik dalam kegiatan-
kegiatan sosial.3

3
Ratna Sari, “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Terhadap Perkembangan Spiritual
Peserta Didik Di SMP Negeri 12 Palopo Kel. Sumarambu Kec. Telluwanua Kota Palopo”,
(Mahasiswa IAIN Palopo, 2017).

7
8

2. Sukri Peran guru Persamaan : Hasil penelitian ini


Teang pendidikan -Menggunakan adalah upaya guru PAI
(2018) agama Islam penelitian kualitatif dalam meningkatkan
program dalam -Subyek penelitian kecerdasan emosional
kecerdasan spiritual
studi meningkatkan dan spiritual peserta
Perbedaan :
pendidikan kecerdasan didik cukup maksimal,
-Tempat penelitian
agama emosional dan selalu memberikan
islam spiritual peserta motovasi, bimbingan
STAIN didik di SMA dan arahan kepada
Palopo Negeri 2 Palopo peserta didik agar
melaksanakan tuntunan
agama dan mentaati
aturan tata tertib yang
berlaku disekolah
terutama dalam
pelaksanaan shalat baik
shalat wajib maupun
sunnah.4

B. Deskripsi Teori

1. Pengertian Pendidikan agama Islam

Umat Islam dianjurkan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan menjadi

seorang guru agama kepada orang lain atau siswa, mendidiknya dengan akhlak

Islam dan membentuknya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada

Allah SWT.

Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan

atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar

mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah

4
Sukri Teang, “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Kecerdasan
Emosional Dan Spiritual Peserta Didik Di SMA Negeri 2 Palopo”, (Mahasiswa IAIN Palopo,
2018).
9

swt, khalifah dipermukaan bumi, sebagai makhluk social, dan sebagai makhluk

individu yang sanggup berdiri sendiri.

Istilah lain yang biasa digunakan untuk pendidik adalah guru. guru adalah

orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Sedangkan

guru agama adalah guru yang mengajarkan agama.

Guru dalam Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap

perkembangan anak didik dengan mengupayakan seluruh potensinya, baik potensi

afektif, potensi kognitif, maupun potensi psikomotoriknya. Guru juga berarti

orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada anak didik

dalam perkembangan jasmanai dan rohaninya agar mencapai tingkat kedewasaan,

serta mampu berdiri sendiri dalam memenuhi tugasnya sebagai makhluk Allah.

Disamping itu, ia mampu sebagai makhluk social dan makhluk individu yang

mandiri. posisi guru begitu terhormat. Guru diposisikan sebagai orang yang ‘alim,

wara’, shalih, dan sebagai uswah sehingga guru dituntut juga sebagai aktualisasi

dari keilmuan yang dimilikinya.

Guru agama bukan sekedar sebagai “penyampai” materi pelajaran. Tetapi, ia

adalah sumber inspirasi “spiritual” dan sekaligus sebagai pembimbing sehingga

terjalin hubungan pribadi antara guru dengan anak didik yang cukup dekat dan

mampu melahirkan keterpaduan bimbingan rohani dan akhlak dengan materi

pengajarannya.

Ahmad D. Marimba; pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara

sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik
10

menuju terbentuknya kepribadian yang utama.5 Pengertian pendidikan ini minimal

terdapat 5 (lima) unsur yang perlu digaris bawahi yaitu :

1). Ada upaya yang bersifat bimbingan

2). Ada pembimbing atau pendidikan

3). Ada objek yang dididik

4). Bimbingan itu mempunyai dasar dan tujuan

5). Dalam bimbingan itu ada alat yang digunakan.6

Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar dan terencana dalam menyiapkan

peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran

dalam hubungannya dengan kerukunan antar ummat beragama hingga terwujud

kesatuan dan persatuan bangsa. Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem

pendidikan nasional pada Bab I, pasal 1 ayat 1, 2 dan pasal 12 ayat 1 dijelaskan

bahwa pendidikan nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengebangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang

diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. Pendidikan nasional

merupakan pendidikan yang berdasar pada nilai Pancasila dan Undang-undang

Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang mana tersebut berakar pada

5
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (cet. IV, Bandung : Al Ma’rif,
2010), h. 19.
6
Koesmayanti, Nugraha, Dakwah Sekolah di Era Baru, Cet I; Solo: Era Intermedia.
h. 10.
11

nilai-nilai agama, kebudayaan nasional dan tanggap terhadap tuntutan perubahan

zaman. Dalam pasal 12 ayat 1 di jelaskan bahwa setiap peserta didik pada setiap

satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama yang dianutnya dan

diajarkan dengan pendidik yang seagama.7

Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional tersebut, pendidikan agama Islam

juga mempunyai tujuan nasional yang sama, karena tujuan pendidikan agama

Islam itu sendiri adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan

dan pengalaman siswa tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim

yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam

kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara.

Mata pelajaran pendidikan agama Islam secara keseluruhan mencakup bidang

study Al-Qur’an Hadist, keimanan, akhlak, fiqih/ibadah dan sejarah. Hal tersebut

membuktikan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam sangat luas dan

mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan

manusia dengan Allah swt, hubungna manusia dengan manusia yang lain serta

hubungan manusia dengan makhluk lainnya maupun lingkungannya.

Penjelasan tentang guru dan pendidikan agama Islam dapat disimpulkan

bahwa, guru pendidikan agama Islam adalah usaha sadar orang dewasa yang

bertanggung jawab dalam membina, membimbing, mengarahkan, melatih,

menumbuhkan dan mengembangkan jasmani dan rohani anak didik kearah yang

lebih baik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt

7
Redaksi Sinar Grafika, Undang-Undang SISDIKNAS : UU RI No. 20 th 2003, (Jakarta:
Sinar Grafika, 2008), h. 3.
12

serta mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah swt khalifah di muka

bumi, sebagai makhluk social dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.

2. Peran guru pendidikan agama Islam

Peran guru adalah terciptanya serangkaian tingkah yang saling berkaitan yang

dilakukan dalam situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan

tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya.

Menurut Muhaimin pendidikan Agama Islam pada dasarnya merupakan

upaya normatif untuk membantu seseorang atau sekelompok peserta didik dalam

mengembangkan pandangan hidup Islami (bagaimana akan menjalani dan

memanfaatkan hidup dan kehidupan sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai Islam),

sikap hidup Islami, yang di manifestasikan dalam keterampilan di kehidupan

sehari-hari. 8
Dan menurutnya tentang peran guru yaitu guru dapat berperan

sebagai pengajar, pemimpin kelas pembimbing, pengatur lingkungan belajar,

perencana pembelajaran, supervisor, motivator, dan sebagai evaluator.

Dari pendapat di atas peranan guru dalam kegiatan belajar-mengajar sebagai

berikut :

a. Guru Sebagai Pemimpin (Lead)

Peran guru sebagai pemimpin akan berhasil apabila guru memiliki

kepribadian, seperti: kondisi fisik yang sehat, percaya diri sendiri, memiliki daya

kerja yang besar dan antusiasme, gemar dan cepat dalam mengambil keputusan,

bersikap obyektif dan mampu menguasai emosi9.

8
Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h.
145.
9
Omar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, ( Jakarta: Bumi
Aksara, 2010), h. 44.
13

Peran guru pendidikan agama Islam sebagai pemimpin, pembinaan dalam

pendidikan agama Islam dalam mengembangkan suasana keagamaan merupakan

tenaga inti untuk mengarahkan siswa-siswi beriman, bertaqwa serta berakhlak

mulia, dan dapat mengamalkan nilai-nilai agama Islam baik di sekolah,

dilingkungan keluarga, dimasyarakat. Adapun tugas pokok sebagai pemimpin

dalam pembelajaran agama Islam berikut:

1. Mengarahkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya pembiasaan peserta didik dalam

menerapkan norma agama.

2. Memimpin dan membimbing kegiatan pembinaan disiplin beribadah disekolah,

seperti ibadah solat, zakat, infak dan sodaqoh.

3. Mengkordinasikan kegiatan-kegiatan dakwah disekolah dan meningkatkan

wawasan ke Islaman peserta didik.

4. Mengadakan lomba-lomba penulisan tentang keilmuan dan keagamaan

dilingkungan peserta didik.

5. Memantau dan mengawai sikap dan prilaku peserta didik dalam kegiatan dan

pergaulan peserta didik sehari-hari disekolah sesuai tuntunan akhlakul karimah.

Memimpin dan mengkordinasikan kegiatan pesrta didik lainnya yang dapat

menciptakan rasa aman, tertib dan menyenangkan di lingkungan sekolah.18

Dengan sarana prasarana yang tersedia di sekolah guru PAI dapat

mengembangkan suasana keagamaan dan menjadikan siswa-siswi sebagai

generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan.


14

b. Guru Sebagai Teladan

Setiap tenaga pendidik (gutu dan karyawan) dilembaga pendidikan harus

memiliki tiga hal yaitu kompetensi, personal, dan religius. Kompotensi

menyangkut kemampuan dalam menjalankan tugas secara profesional yang

meliputi kompetensi materi (subtansi), metodologi dan kompetensi social.

Personal menyangkut integritas, komitmen dan dedikasi, sedangkan religius

menyanmgkut pengetahuan, kecakapan dan pengalaman di bidang keagamaan.

Ketiga hal tersebut guru akan mampu menjadi model dan mampu

mengembangkan keteladanan dihadapan siswanya10.

c. Guru Sebagai Fasilitator

Guru berperan sebagai fasilitator, guru akan memberikan pelayanan, fasilitas

atau kemudahan dalam kegiatan proses pembelajaran, misalnya saja dengan

menciptakan suasana kegiatan pembelajaran yang serasi dengan perkembangan

siswa, maka proses pembelajaran akan berlangsung secara efektif, sehingga tujuan

pembelajaran akan tercapai secara optimal. Sebagai seseorang fasilitator, tugas

guru adalah membantu untuk mempermudah siswa belajar. Dengan demikian guru

perlu memahami karakteristik siswa termasuk gaya belajar, kebutuhan

kemampuan dasar yang dimiliki siswa.11

d. Guru Sebagai Motivator

Peran guru sebagai motivator sangat pentiong dalam proses pembelajaran,

membangkitkan minat, mengarahkan siswa-siswi untuk melakukan sesuatu

10
Tobroni, Pendidikan Islam, Paradigma Teologis, Filosofis, dan Spiritualitas, ( Malang:
Kalam Mulia, 2008), h. 126.
11
Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,
( Jakarta: Kencana, 2008), h. 14.
15

berkaitan dengan kebutuhan atau keinginan yang mempunyai hubungan dengan

kepentingan sendiri, minat akan selalu berkaitan dengan kebutuhan dan

kepentingan pada diri seseorang. Dalam hal ini guru menciptakan kondisi tertentu

agar siswa-siswi selalu butuh dan ingin terus belajar.12

e. Guru Sebagai Evaluator

Peran guru sebagai evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi

siswa-siswi dalam bidang akademis maupun tingkah laku sosialnya sehingga

dapat menentukan bagaimana siswa-siswi berhasil atau tidak pembelajaran yang

telah dilakukan, apakah materi yang diajarkan sudah dikuasai atau belum oleh

siswa – siswi, apakah metode yang digunakan sudah cukup tepat.

Peran guru yang dimaksud disini adalah dalam proses pembelajaran guru

merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan pada

umumnya, dimana proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan

secara keseluruhan.13

f. Guru sebagai inspirator

Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi

kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik.

Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik.

Petunjuk itu tidak mesti harus bertolak dari sejumlah teori-teori belajar, dari

pengalaman pun bisa dijadikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik. Yang

12
Nanang Hanafiah, Konsep Strategi Pembelajaran, ( Bandung:Refika Aditama, 2010), h.
26.
13
Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesi Guru, ( Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2011), h. 58.
16

penting bukan teorinya, tapi bagaimana melepaskan masalah yang dihadapi oleh

anak didik.

Berdasarkan beberapa uraian diatas, maka dapat dipahami bahwa peran guru

dalam pendidikan Islam cakupannya sangat luas, karena selain bertugas

memberikan pengetahuan kepada peserta didik, juga dituntut mampu memberikan

bimbingan dan mengarahkan mereka agar menjadi anak yang cerdas,

berkepribadian, dan berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Secara rinci peran guru pendidikan agama Islam menurut Zuhairini, peran

guru pendidikan agama Islam antara lain:

1. Mengajarkan ilmu pengetahuan agama Islam

2. Menanamkan keimanan dalam jiwa anak

3. Mendidik anak agar taat dalam menjalankan ibadah.

4. Mendidik anak agar berbudi pekerti yang mulia.14

Peran guru pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan

peserta didik agar memahami, terampil melaksanakan dan mengamalkan agama

Islam melalui kegiatan pendidikan.15 Dari ketiga asfek tersebut “asfek beragama

atau menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilai-nilai Islam yang menjadikan

tujuan utama pendidikan agama Islam di Sekolah.16 Dalam artian, yang paling

pokok dari proses pendidikan agama Islam di sekolah bukan tujuan untuk

menjadikan manusia yang menguasai ilmu pengetahuan agama Islam, ahli agama,

atau pandai dan terampil melaksanakan, akan tetapi tujuannya untuk mewujudkan

14
Zuhairini, Metode Khusus Pendidikan Agama (Jakarta : Usaha Nasional, 2004), h. 55.
15
Ahmad Tafsir, Strategi Meningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
(Bandung: Maestro, 2008), h. 30.
16
Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, Op. Cit., h. 147.
17

nilai-nilai ajaran agama Islam itu dalam kehidupan nyata kepada peserta didik,

yang menyatu dalam kepribadiannya sehari-hari. Dengan kata lain bahwa

pendidikan agama menghendaki perwujudan insan yang beragama/religius.

Pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang luhur dan mulia baik ditinjau

dari sudut masyarakat dan negara ataupun ditinjau dari sudut keagamaan.

Rasulullah Saw adalah tokoh yang memiliki banyak peran. Ia merupakan

seorang pemimpin umat, komandan perang, referensi bagi umat dan hakim dalam

menyelesaikan berbagai masalah. Dari sekian banyak peran beliau, peran paling

utama dan esensial adalah peran sebagai seorang pendidik atau guru.

Bukti hal ini bisa dilihat pada firman Allah Swt. QS. Al-Jumu’ah : 2

َ َ‫وا َعلَ ۡي ِهمۡ َءا ٰيَتِ ِهۦ َويُ َز ِّكي ِهمۡ َويُ َعلِّ ُمهُ ُم ۡٱل ِك ٰت‬
‫ب َو ۡٱل ِح ۡك َمةَ َوِإن‬ ْ ُ‫ث فِي ٱُأۡل ِّم‍يِّۧنَ َر ُسواٗل ِّم ۡنهُمۡ يَ ۡتل‬
َ ‫هُ َو ٱلَّ ِذي بَ َع‬
ٰ َ ‫وا ِمن قَ ۡب ُل لَفِي‬ْ ُ‫َكان‬
‫ين‬ٖ ِ‫ضلَ ٖل ُّمب‬
Terjemahnya :

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (As
Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam
kesesatan yang nyata”17

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

‫ ِإ َّن هللاَ لَ ْم يَ ْب َع ْثنِ ْي ُم ْعنِتا ً َوالَ ُمتَ َعنِّتًا َولَ ِك ْن‬:‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َوسلم‬
َ ِ‫ل هللا‬/ُ ‫ع َْن عَاِئ َشةَ قَا َل قَا َل َرسُو‬
‫بَ َعثَنِ ْي ُم َعلِّ ًما ُميَ ِّس ًر‬

Artinya :

“Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda kepada ‘Aisyah:


“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan
17
Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta; Addawa Sukses
Mandiri, 2012), h. 553.
18

dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai


seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.”18

Ayat ini menegaskan bahwa Islam dibangun di atas pondasi Ilmu dan

pengetahuan. Dan menjadi tujuan diutusnya Nabi ialah menunjukkan manusia

kepada kebenaran dan mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah kepada

cahaya ilmu dan pengetahuan. Maka tidak heran jika Nabi Muhammad Saw,

mengutamakan ilmu dan menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu.

Secara kontekstual hadis riwayat Imam Muslim ini menjelaskan bahwa dalam

pembelajaran, pendidik hendaknya memberikan kemudahan pada peserta

didiknya, salah satunya dalam penyampaian materi. Dalam penyampaian materi

pendidik dapat menggunakan media pembelajaran agar anak didiknya dapat

memahami apa yang disampaikan dengan mudah. Dalam konteks pendidikan

Islam, karakteristik ustadz (guru yang profesional) selalu mencerminkan dalam

segala aktivitasnya sebagai murabby, mu’allim, mursid, mudarris, dan mu’addib.

Dengan demikian, guru PAI adalah orang yang menguasai ilmu pengetahuan

agama Islam sekaligus mampu melakukan transfer ilmu/ pengetahuan agama

Islam, internalisasi, serta implementasi, mampu menyiapkan peserta didik agar

dapat tumbuh dan berkembang dengan kecerdasannya dan daya kreasinya untuk

kemaslahatan diri dan masyarakatnya, mampu menjadi model atau sentral

identifikasi diri dan konsultan bagi peserta didik, memiliki kepekaan informasi,

intelektual dan moral spiritual serta mampu mengembangkan bakat, minat dan

kemampuan peserta didik, dan mampu menyiapkan peserta didik untuk

bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang diridhoi Allah SWT.


18
Muhammad Fuad Abdul Baqi’, shohih Bukhori Muslim ‘Allu’luul Wal Marjan, (Jilid 1;
Jabal: Insan Kamil, 1400 H/1978 M), h. 97.
19

Peran guru pendidikan agama Islam dalam mengembangkan suasana

keagamaan di sekolah melalui pembelajaran dikelas, tidaklah cukup untuk

membekali peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa serta

berakhlak mulia hanya mengandalkan pada mata pelajaran agama yang hanya 3

jam pelajaran dalam satu minggu, oleh sebab itu perlu upaya-upaya pembinaan

lain yang dilakukan secara terus-menerus dan tersistem, diluar jam pelajaran

agama, baik di dalam kelas, diluar kelas, atau diluar sekolah, tetapi perlu

menjadikan pendidikan agama sebagai care pengembangan pendidikan disekolah,

yang dalam implementasinya diperlukan kerjasama yang harmonis dan interaktif

diantara warga sekolah dan para guru dan tenaga kependidikan yang ada

didalamnya.

3. Pendidikan Agama Islam di Sekolah

a. Dasar Pendidikan Agama Islam

Dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu, fungsi dasar ialah

memberikan arah tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan untuk

berdirinya sesuatu. Hubungannya dengan pendidikan agama Islam, dasar-dasar itu

merupakan pegangan untuk memperkokoh nilai-nilai yang terkandung

didalamnya.

Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah mempunyai dasar yang kuat,

dasar tersebut dapat ditinjau dari dari berbagai, yaitu:

1) Dasar yuridis/hukum
20

Pelaksanaan pendidik agama Islam berasal dari perundang-undangan yang

secara tidak langsung dapat menjadi pegangan dalam melaksanakan pendidikan

agama di sekolah secara formal. Dasar yuridis yang dimaksud adalah:

a. Dasar ideal, yaitu filsafah negara pancasila, sila pertama: Ketuhanan Yang

Maha Esa.

b. Dasar structural/konstutional, yaitu UUD 45 dalam bab XI pasal 29 ayat 1 dan

2 yang berbunyi : 1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa; 2)

Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama

masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaan itu.

c. Dasar operasional, yaitu terdapat dalam Tap MPR No. IV/MPR1973 yang

kemudian dikokohkan dalamTap MPRNo. IV MPR1978 [Link] MPR No.

II/MPR1983, tentang GBHN yang pada pokoknya menyatakan bahwa

pelaksanaan pendidikan agama secara formal, mulai dari sekolah dasar hingga

perguruan tinggi.

2) Dasar Religius

menurut pendapat Zuhairini, yang dimaksud dengan dasar religius adalah

dasar-dasar yang bersumber dari ajaran agama Islam yang tertera dalam Al-

Qur‟an maupun Al-Hadist.19

Dalam perspektif pendidikan Islam tugas guru merupakan amanat yang

diterima atas dasar pilihannya untuk memangku jabatan guru. Amanat tersebut

wajib dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Dalam Q.S. An-Nisa / 4 : 58 sebagai berikut :

19
Zuhairin dan Abdul Ghafar, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, (Surabaya: Biro
Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang), Cet Ke-8, h. 22.
21

ۡ ‫وا بِ ۡٱل َع‬//


َ ‫د ۚ ِل ِإ َّن ٱهَّلل‬// ْ ‫اس َأن ت َۡح ُك ُم‬
ِ َّ‫ا َوِإ َذا َح َكمۡ تُم بَ ۡينَ ٱلن‬//َ‫ت ِإلَ ٰ ٓى َأ ۡهلِه‬ /ْ ‫َؤ ُّد‬//ُ‫م َأن ت‬/ۡ‫أ ُم ُر ُك‬//ۡ َ‫ِإ َّن ٱهَّلل َ ي‬
ِ َ‫وا ٱَأۡل ٰ َم ٰن‬
‫يرا‬ٗ ‫ص‬ ِ َ‫نِ ِع َّما يَ ِعظُ ُكم بِ ۗ ِٓۦه ِإ َّن ٱهَّلل َ َكانَ َس ِمي ۢ َعا ب‬
Terjemahnya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang


berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.20

Tanggung Jawab guru, sekolah dan institusi pendidik lainnya, hanyalah

pihak yang membantu mencerdaskan anak-anak kita. Tugas utama mencerdaskan

anak, tetaplah ada pada orang tua. Sebagaimana disabdakan Rasulullah saw.:

ْ ِ‫د يُولَ ُد َعلَى ْالف‬/ٍ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم ُكلُّ َموْ لُو‬
‫ط َر ِة‬ َ ‫ال النَّبِ ُّي‬َ َ‫ي هَّللا ُ َع ْنهُ قَا َل ق‬ ِ ‫ع َْن َأبِي هُ َري َْرةَ َر‬
/َ ‫ض‬
‫فََأبَ َواهُ يُهَ ِّودَانِ ِه َأوْ يُنَصِّ َرانِ ِه َأوْ يُ َم ِّج َسانِ ِه َك َمثَ ِل ْالبَ ِهي َم ِة تُ ْنتَ ُج ْالبَ ِهي َمةَ هَلْ ت ََرى فِيهَا َج ْدعَا َء‬
Artinya:

“Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi


Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan
fithrah. Kemudian kedua orang tunyalah yang akan menjadikan anak itu
menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang
melahirkan binatang ternak.”21

Jika kita lihat kembali pengertian pendidikan Agama Islam, akan terlihat

dengan jelas suatu yang diharapkan terwujud setelah orang memahami pendidikan

Islam secara keseluruhan, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi

“Insan Kamil” dan “Taqwa”, Insan Kamil artinya manusia utuh jasmani dan

rohaninya, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya

kepada Allah swt. Ini mengandung arti bahwa Pendidikan Agama Islam itu

20
Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta; Addawa Sukses
Mandiri, 2012), h. 87
21
Abdullah Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim Al-Bukhori Al Ja’fi, Shohih Bukhori, (Jilid
1; Beirut Libanon: Dar al-Fikr, 1401 H/1981 M), h. 104.
22

diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya, masyarakat serta

gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam berhubungan dengan

Allah swt. dan sesama manusia, serta dapat mengambil manfaat dari alam semesta

ini untuk kepentingan hidup di dunia dan di akhirat.

Menurut M. Athiyah Al-Abrosy dalam Abdul Salam, berpendapat bahwa

tujuan pokok dari pendidikan agama Islam adalah mendidik budi pekerti dan

pendidikan jiwa.22 Tujuannya adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah

suatu usaha atau kegiatan selesai. Sedangan pendidikan merupakan suatu kegiatan

yang berproses melalui tahapan-tahapan dan tingkatan-tingkatan, maka tujuannya

bertahap dan bertingkat pula.23 Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang

berbentuk statis dan tetap, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian

seseorang yang berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya.

Dengan melihat tujuan pendidikan agama Islam di atas dapat tergambar

fungsi pendidikannya yaitu:

a. Fungsi spiritual yang berkaitan dengan aqidah dan iman

b. Fungsi psikologis yang berkaitan dengan tingkah laku individu termasuk nilai-

nilai akhlak yang mengangkat manusia ke derajat yang lebih sempurna.

c. Fungsi sosial yang berkaitan dengan aturan-aturan yang menghubungkan

manusia dengan manusia lain atau masyarakat, dimana masing-masing menyadari

hak-hak dan tanggung jawabnya, untuk menyusun masyarakat-masyarakat yang

harmonis dan seimbang.24

22
Abdul Salam., Peran Orang Tua Terhadap Pendidikan Agama Anak Pada Siswa MIS
Muhammadiyah Lasusua Kabupaten Kolaka Utara. ( STAIN palopo:2010), h. 20.
23
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000), h. 97.
24
Hamalik, Demar, kurikulum dan pembelajaran, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2009), h. 99.
23

3) Dasar Psikologis

Dasar psikologis adalah dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan

kehidupan bermasyarakat. Pada dasarnya dalam kehidupan manusia baik sebagai

individu maupun sebagai anggota masyarakat diharapkan pada hal-hal yang

membuat hatinya tidak tenang dan tidak tenteram sehingga memerlukan adanya

pandangan hidup. Manusia yang hidup di dunia ini pasti membutuhkan pegangan

hidup yang disebut agama, bahwa didalam jiwa manusia ada suatu perasaan yang

mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa, tempat untuk berlindung dan tempat

manusia meminta pertolongan. Manusia akan merasa suatu ketenangan manakala

dirinya dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Swt.

4. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan agama Islam, istilah “tujuan” atau “sasaran” atau

“maksud”, dalam bahasa arab dinyatakan dengan ghayat dan ahdaf atau maqasid.

Secara umum istilah – istilah itu mengandung pengertian yang sama, yaitu arah

suatu perbuatan atau yang hendak dicapai melalui upaya atau aktivitas.25

Zakiyah darajat mengemukakan tujuan pendidikan agama Islam adalah

membimbing dan membentuk manusia menjadi hamba Allah yang saleh, teguh

imannya, taat beribadah, dan berakhlak terpuji. Bahkan keseluruhan gerak dalam

kehidupan setiap muslim, mulai dari perbuatan, perkataan dan tindakan apapun

yang dilakukannya dengan nilai mencari ridha Allah, memenuhi segala perintah-

Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya adalah ibadah. Maka untuk melaksanakan

semua tugas kehidupan itu, baik bersifat pribadi maupun sosial, perlu dipelajri dan

25
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h.133.
24

dituntun dengan iman dan akhlak terpuji. Dengan demikian, identitas muslim akan

tampak dalam semua aspek kehidupannya.26

Menurut Abdurahman tujuan akhir pendidikan Islam adalah “mewujudkan

manusia ideal sebagai ‘abid Allah atau ibad Allah yang tunduk secara total kepada

Allah SWT.27 Menurut Al- Syaibany, tujuan pendidikan tertinggi pendidikan

Islam adalah “persiapan untuk kehidupan dunia akhirat”.28

Dalam Qs. Al-Qasas / 28 : 77 yang berbunyi sebagai berikut :

‫ ۖكَ َواَل‬/‫نَ ٱهَّلل ُ ِإلَ ۡي‬/‫ٓا َأ ۡح َس‬//‫صيبَكَ ِمنَ ٱل ُّد ۡنيَ ۖا َوَأ ۡح ِسن َك َم‬ِ َ‫َنس ن‬َ ‫َو ۡٱبت َِغ فِي َمٓا َءاتَ ٰىكَ ٱهَّلل ُ ٱل َّدا َر ٱأۡل ٓ ِخ َر ۖةَ َواَل ت‬
َ‫ض ِإ َّن ٱهَّلل َ اَل ي ُِحبُّ ۡٱل ُم ۡف ِس ِدين‬ ۡ
ِ ۖ ‫ت َۡب ِغ ٱلفَ َسا َد فِي ٱَأۡل ۡر‬
Terjemahnya :

”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu


(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan”.29

Demikian Allah SWT, memerintahkan kepada manusia untuk mencari

kebahagiaan akhirat dapat diperoleh bagaimana manusia itumenjalankan

kehidupan didunianya. Diantaranya adalah berbuat baik kepada sesama dan alam

sekitar. Dengan demikian sistem pendidikan Islam tidak hanya berorientasi

kepada persoalan ukhrawi/akhirat saja, tapi harus terintegrasi dengan persoalan-

persoalan duniawi, seperti ilmu pengetahuan, tekhnologi, seni, budaya dan

sebagainya
26
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 86.
27
Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an (Jakarta
: Rineka Cipta, 1994), h. 73
28
Omar Mohhammad Al-Taumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan
Bintang, 1979), h. 399.
29
Kementrian Agama RI, Qur’an dan Terjemahnya, (Surabaya: Halim, 2014), h. 395
25

Tujuan pendidikan dalam sekolah adalah agar kelak peserta didik itu mampu

berkembang secara layak dan maksimal, meliputi seluruh aspek perkembangan

peserta didik, yaitu jasmani dan rohani. Selain itu, pendidikan agama dalam

lingkungan sekolah dapat pula membantu sekolah atau lembaga-lembaga

pendidikan nonformal dalam mengembangkan pribadi peserta didiknya.30

Muhammad Athiyah al-Abrasyi seperti yang dikutip oleh Samsul Nisar

menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam terdiri atas lima sasaran, yakni :

1) Membentuk akhlak mulia

2) Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat

3) Persiapan untuk mencari reski dan memelihara segi kemanfaatannya.

4) Menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan peserta didik.

5) Mempersiapkan tenaga profesional yang terampil.31

Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam,

dengan mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang

sebenarnya. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi

keagamaan saja dan tidak hanya pada segi keduniaan saja, melainkan Islam

menaruh perhatian pada kedua-duanya sekaligus dan dan memandang persiapan

untuk kedua kehidupan itu sebagai tujuan tertinggi terakhir bagi pendidikan.

Agama Islam mrengajarkan nilai-nilai kehidupan dunia dan akhirat agar dapat

merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Betapa pentingnya pendidikan agama itu bagi peserta didik sesuai pedoman

serta fondasi dalam rangka mengatasi segala macam persoalan hidup dan
30
Saridjo, Marwa, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, Departemen Agama RI
Direktorat jendral pembinaan kelembagaan Agama Islam, Jakarta: CV. Amisco, 2006, h. 34.
31
Monks, F. J. Psikologi Perkembangan. (Jogjakarta: Gajah Mada. 2002), h. 98.
26

kehidupan ini yang makin hari kian terasa lebih berat bila keadaan politik sosial,

ekonomi goncang maka agama semakin diperlukan.32

C. Konsep Kecerdasan Spiritual

Berbicara mengenai SQ atau kecerdasan spiritual tidak lepas dari konsep

filosofi yang menjadi latar belakangnya. Kecerdasan spiritual atau SQ adalah

kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu

kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna

yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan adalah jalan

hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.33Dengan

kompleksilitasnya permasalahan manusia mampu terorganisir oleh beberapa

prinsip kehidupan pada kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh setiap manusia.

Tugas utama mencerdaskan peserta didik, tetaplah ada pada orang tua.

Sebagaimana disabdakan Rasulullah saw.:

‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم ُكلُّ َموْ لُو ٍد يُولَ ُد َعلَى‬


َ ‫ال النَّبِ ُّي‬ َ َ‫ ق‬:‫ي هَّللا ُ َع ْنهُ قَا َل‬
/َ ‫ض‬ ِ ‫ع َْن َأبِي هُ َري َْرةَ َر‬
ْ ِ‫ْالف‬
‫ط َر ِة فََأبَ َواهُ يُهَ ِّودَانِ ِه َأوْ يُنَص َِّرانِ ِه َأوْ يُ َمجِّ َسانِ ِه َك َمثَ ِل ْالبَ ِهي َم ِة تُ ْنتَ ُج ْالبَ ِهي َمةَ هَلْ تَ َرى فِيهَا َج ْدعَا َء‬

Artinya:
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi
Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Setiap peserta didik dilahirkan
dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan
menjadikan peserta didik itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi
sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak.34 (Bukhari
Muslim)

32
Nasution, Harun. Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya. (Jakarta: Uneversitas
Indonesia Press, 2001), h. 57.
33
Ari Ginanjar Agustian, ESQ Emosional Spiritual Kuotien, (Jakarta : Arga Wijaya
Persada, 2014), h. 42.
34
Abdullah Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim Al-Bukhori Al Ja’fi, Shohih Bukhori,
(Jilid 1; Beirut Libanon: Dar al-Fikr, 1401 H/1981 M), h. 104.
27

Didalam ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna

ibadah terhadap setiapa perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan

pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif), dan

memiliki pola pemikiran tauhid (integralistik), serta berprinsip”hanya karena

Allah berkehendak” penelusuran kecerdasan spiritual merupaka jawaban akan

keterbatasan kemampuan intelektual (IQ) dan emosional (EQ) dalam

menyelesaikan kasus-kasus yang didasarkan akan krisis makna hidup. Otak IQ

dasar kerjanya adalah berfikir seri, linear, logis, tempat dan dapat dipercaya.

Kelemahannya adalah ia hanya bekerja dalam batas-batas yang ditentukan, dan

menjadi tidak berguna, jika seseorang ingin menggali wawasan baru

atauberurusan dengan hal-hal yang terduga. Otak EQ cara kerjanya berfikir

asosiatif. Jenis pemikiran ini membantu seseorang menciptakan asosiasi antarhal,

misalnya antara lapar dan nasi, antara rumah dan kenyamanan, antara ibu dan

cinta, dan lain-lain. Intinya pada pemikiran ini membuat asosiasi antara satu emosi

dan yang lain, emosi dan gejalah tubuh, emosi dan lingkungan sekitar. 35

Kelemahan dari otak EQ adalah variasinya sangat individual dan tidak ada

dua orang yang memiliki kehidupan yang emosional yang sama. Hal ini Nampak

dari pernyataan “saya dapat mengenali emosi anda”. Otak SQ cara kerjanya

berpikir unik yaitu kemampuan untuk menangkap seluruh konteks yang

mengaitkan antar unsur yang terlibat. Kemampuan untuk menangkap suatu situasi

dan melakukan reaksi terhadapnya, menciptakan pola dan aturan baru.

Kemampuan ini merupakan ciri utama kesadaran, yaitu kemampuan untuk

35
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional dan
Spritual (Jakarta: Arga, 2001), h. 14.
28

mengalami dan menggunakan pengalaman tentang makna dan nilai yang lebih

tinggi. 36

Dalam perspektif Al-Qur’an memandang jiwa menusia mempunyai dua

kecenderungan yang saling bertentangan yaitu kecenderungan pada sifat-sifat

ketuhanan dan kecenderungan pada sifat-sifat kesyaitanan. Bisa juga dikatakan

bahwa jiwa manusia seperti dua sisi mata uang, yang satu cenderung kepada

kebajikan dan sisi yang lainnya cenderung pada kejahatan.

Untuk mencapai tingkat kepribadian yang sehat, manusia dituntut untuk

selalu mengikuti kecenderungan jiwanya pada kebajikan. Manusia dituntut juga

untuk mampu mengaktualkan sifat-sifat baik yang terdapat dalam dirinya. Untuk

itu, manusia harus mampu mengendalikan dan menghancurkan kecenderungan

kejahatan dalam jiwanya.

Islam menjelaskan bahwa struktur jiwa manusia terbagi menjadi tiga unsur

pokok yaitu akal, diri, dan nafsu-nafsu. Akal merupakan struktur jiwa yang paling

pokok, karena akal memungkinkan manusia mampu menangkap makna penting

dari tanda-tanda kekuasan Allah Swt, sifat-sifatnya, dan kebesarannya di alam

semesta. Akal merupakan dimensi bercahaya dalam diri manusia, sehingga akal

sering dianalogikan sebagai cahaya. Akal dapat melihat apa yang tersembunyi,

dan mengungkapkan apa yang tidak diketahui. Akal merupakan alat untuk

melawan kebodohan. Dengan akal manusia mampu mempertimbangkan segala

sesuatunya, sehingga membuat manusia mampu memahami petunjuk Allah swt.

Diri merupakan “aku” yang bisa merasakan, melakukan tindakan untuk mencapai

sesuatu, yang hadir dalam eksistensinya. Diri membutuhkan akal untuk


36
Sanggit Purnomo, Tips Cerdas Emosi dan Spiritual Islami (Jakarta, 2010), h.12.
29

memahami dunianya, mempertimbangkan segala tindak-tanduknya sehingga

jelaslah bahwa diri tanpa akal akan terombang-ambing tanpa arah dan kemuliaan.

1. Indikator Kecerdasan Spiritual

Adapun indikator orang yang kecerdasan spiritualnya berkembang dengan

baik diantaranya sebagai berikut:

1) Kemampuan bersikap fleksibel

2) Tingkat kesadaran yang dimiliki tinggi

3) Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan

4) Menjadikan hidup bermakna dan memiliki kualitas hidup yang diilhami oleh

visi dan nilai-nilai

5) Memiliki rasa tanggung jawab dan keengganan untuk menyebabkan kerugian

yang tidak perlu

6) Berkaitan dengan keimanan

7) Berzikir dan berdoa

8) Memiliki kualitas sabar

9) Memiliki empati yang kuat.37

Selain itu kecerdasan spiritual menurut Toto Tasmara ada 8 (delapan)

indikator yaitu :

1) Merasakan kehadiran allah

2) Berzikir dan berdoa

3) Memiliki kualitas sabar

4) Cenderung pada kebaikan

5) Memiliki empati yang kuat


37
Uhar Suparsaputra, Menjadi Guru Berkarakter, (Bandung: Refika Aditama, 2013). h.45
30

6) Berjiwa besar dan memiliki visi

7) Bagaimana melayani.38

2. Bentuk-bentuk kecerdasan spiritual

Di bawah ini sebagian contoh bentuk-bentuk kecerdasan spiritual (qalbiah)

yang dianggap representatif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa:

a. Ri’ayah, yaitu memelihara pengetahuan yang pernah diperoleh dan

mengaplikasikannya dengan perilaku nyata, dengan cara melakukan perbuatan

baik dan ikhlas, dan menghindari perbuatan yang merusak atau merugikan.

b. Istiqamah, yaitu melakukan suatu pekerjaan baik melalui prinsip kontinuitas

dan keabadian. Dalam istiqamah terdapat konsistensi perilaku seseorang, baik

lahir maupun batin, dalam menempuh suatu jalan yang benar.

c. Sabar, yaitu menahan diri dari hal-hal yang dibenci dan menahan lisan agar

tidak mengeluh. Sabar dapat menghindarkan seseorang dari perasaan resah,

cemas, marah dan kekacauan.

d. Haya’ (malu), yaitu kepekaan diri yang mendorong untuk meninggalkan

keburukan dan menunaikan kewajiban.

e. Muru’ah, yaitu sikap keperwiraan yang menjunjung tinggi sifat-sifat

kemanusiaan yang agung. Muru’ah meliputi pengamalan perilaku yang baik,

meninggalkan perilaku yang buruk dan menghindarkan diri dari perbuatan yang

hina dan rendah.

f. Qana’ah, yaitu menerima apa adanya. Seseorang telah mengerahkan daya

upayanya seoptimal mungkin, kemudian menerima hasil dari jerih payahnya,


38
Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence: Membentuk
Kepribadian Yang Bertanggung Jawab, Professional, Dan Berakhlak), (Jakarta: Gema Insani,
2001), h. 138
31

tetapi ia belum mampu menggapai puncak keinginannya. Meskipun demikian, ia

tidak merasa gagal, apalagi frustasi, melainkan tetap tegar.

g. Amanah, yaitu kepercayaan atau titipan. Sesungguhnya motivasi hidup manusia

hanyalah realisasi atau aktualisasi amanah Allah SWT semata. Amanah

merupakan inti kodrat manusia yang diberikan sejak awal penciptaan, tanpa

amanah manusia tidak memiliki keunikan dengan makhluk-makhluk lain.

3. Langkah-langkah mengembangkan kecerdasan spiritual

Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku

dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk

menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding

dengan yang lain. Kecerdasan spiritual (SQ) bersumber dari batin dan jiwa yang

merupakan bagian terdalam dari diri manusia yang menggerakkan pikiran dan

tindakan. Mengembangkan kecerdasan spiritul perlu diasa sejak dini dengan

berbagai macam aspek pengembangan spiritual. Berikut ini ada beberapa cara

dalam mengembangkan kecerdasan spiritual anak.

1. Mengembangkan lima latihan penting

Tony Buzan, seorang ahli yang telah menulis lebih dari delapan puluh buku

mengenai otak dan pembelajaran, menyebutkan ciri-ciri orang yang mempunyai

kecerdasan spiritual. Ciri-ciri tersebut adalah senang berbuat baik, senang

menolong orang lain, menemukan tujuan hidup, turut merasa memikul sebuah

misi yang mulia kemudian merasa terhubung dengan sumber kekuatan, dan

mempunyai selera humor yang baik.39

39
Triantoro safaria, Metode Pengembangan Keccerdasan Spiritual Anak, (Jokjakarta:
Graha Ilmu), h. 20-23.
32

2. Melibatkan anak dalam beribadah

Kecerdasan spiritual sangat erat kaitannya dengan kejiwaan. Demikian pula

dengan kegiatan ritual keagamaan atau ibadah. Keduanya bersinggungan erat

dengan jiwa atau batin seseorang. Apabila jiwa atau batin seseorang mengalami

pencerahan, sangat mudah baginya mendapatkan kebahagiaan dalam hidup.

Sehingga anak-anak mempunyai kecerdasan spiritual yang baik, perlu dilibatkan

untuk beribadah semenjak usia dini.

3. Mencerdaskan spiritual melalui kisah

Kecerdasan spiritual anak dapat ditingkat melalui kisah-kisah agung, yakni

dari orang-orang yang dalam sejarah yang mempunyai kecrdasan spiritual yang

tinggi. Metode ini dinilai sangat efektif karena anak-anak pada umumnya sangat

menyukai cerita. Di samping anak-anak memang sangat dekat dengan segala hal

yang bernuansa imajinasi, pengembaraan, hal lain yang bersifat yang luar biasa,

juga anak sangat senang dengan segala sesuatu yang baru dan disampaikan

dengan cara bercerita. Di sinilah sesungguhnya orang tua dapat berperan aktif

menceritakan kepada anak-anak tentang kisah-kisah agung agar kecerdasan

spiritualnya dapat berkembang dengan baik. Orangtua dapat saja menceritakan

kisah para Nabi, para sahabat yang dekat dengan Nabi, orang-orang yang terkenal

kesalehannya, atau tokoh-tokoh yang tercatat dalam sejarah karena mempunyai

kecerdasan spiritual yang tinggi.40

4. Melejitkan Kecerdasan Spiritual dengan Sabar dan Syukur,

40
Akhmad Muhaimin Azzet, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Bagi Anak,
(Jogjakarta: Katahati, 2010), h. 50.
33

Sifat sabar akan menghindarkan anak dari sifat tergesa-gesa, mudah

menyerah, memberikan rasa tenang dalam hal apapun. Sedangkan rasa syukur

dapat memberikan sifat tidak mudah cemas, sanggup menghadapi kenyataan di

luar dugaan, dan anak akan lebih semangat. Kedua hal ini penting dilatihkan

kepada anak sejak dini.

5. Membimbing Anak Menemukan Makna Hidup

a. Membiasakan diri berpikir positif

Cara berpikir positif akan membawa pengaruh yang sangat besar dalam

kehidupan seseorang manusia. Berpikir positif yang paling mendasar untuk

dilatihkan kepada anak-anak adalah berpikir positif kepada Tuhan yang telah

menetapkan takdir bagi manusia. Ketika seseorang telah berusaha semaksimal

mungkin dan hasilnya tidak sesuai dengan harapan, orang tersebut menyadari

bahwa itulah takdir Tuhan yang harus diterima dengan sabar, dan berpikir secara

positif kepada Tuhan bahwa apa yang diputuskan-Nya adalah yang terbaik serta

berintropeksi guna melangkah yang lebih baik lagi.

b. Memberikan sesuatu yang terbaik

Menanamkan kepada anak bahwa apa yang dilakukan atau apa yang

dikerjakan diketahui oleh Tuhan perlu kita latihkan kepada mereka. Agar anak-

anak kita akan tetap berusaha memberikan yang terbaik dalam hidupnya karena ia

berbuat untuk Tuhannya. Maka anak tersebut tidak akan mudah untuk menyerah

sebelum apa yang telah direncakannya berhasil. Apabila seseorang berbuat

sesuatu atau bekerja dengan misi untuk memberikan sesuatu yang terbaik untuk

Tuhan secara otomatis hasil kerjanya pun berbanding lurus dengan keberhasilan.
34

Apa yang diupayakannya pun bernilai baik dihadapan orang lain kerena ia telah

bekerja dengan memberikan yang terbaik kepada Tuhannya.

c. Menggali hikmah di setiap kejadian

Kemampuan untuk bisa menggali hikmah ini penting sekali disampaikan

bahkan dilatihkan kepada anak agar tidak terjebak untuk menyalahkan dirinya,

atau bahkan menyalahkan Tuhan atas semua kegagalan-kegagalan yang dialami.

Satu hal yang penting untuk dipahami bahwa, hal tersebut bisa dilakukan apabila

berangkat dari sebuah keyakinan bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik

kepada hamba-Nya.

Adapun Abdul Wahab mengemukakan tujuh langkah untuk mengembangkan

kecerdasan spiritual, yakni sebagai berikut:

1) Seseorang harus menyadari dimana dirinya sekarang. Langkah ini menuntut

seseorang menggali kesadaran diri yang pada gilirannya menuntut menggali

kebiasaan merenungkan pengalaman.

2) Merasakan dengan kuat bahwa dia ingin berubah. Setelah renungan mendorong

untuk merasakan bahwa perilaku, hubungan, kehidupan, atau hasil kerja dapat

lebih baik maka harus ingin berubah.

3) Merenungkan apakah pusatnya sendiri dan apakah memotivasinya yang paling

dalam.

4) Menemukan dan mengatasi rintangan.

5) Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju. Langkah ini seseorang

harus mencurahkan usaha mental dan spiritual untuk menggali potensinya,


35

membiarkan bermain dalam imajinasi, menemukan tuntutan praktis yang

dibutuhkan dan memutuskan kelayakan setiap tuntutan tersebut.

6) Menetapkan hati pada sebuah jalan.

7) Menetapkan hati pada sebuah jalan dipilih sendiri, harus tetap sadar bahwa

masih ada jalan-jalan yang lain.41

4. Peran guru PAI dalam mengembangkan kecerdasan spiritual

Danah Zohar dan Ian Marshall mengemukakan enam jalan untuk

mengembangkan kecerdasan spiritual (SQ). Keenam jalan ini dapat diterapkan di

lingkungan sekolah. Berikut ini beberapa peran guru PAI dalam mengembangkan

kecerdasan spiritual :

1. Melalui “jalan tugas”.

Berikan ruang kepada siswa untuk melakukan kegiatannya sendiri dan latih

mereka memecahkan masalahnya sendiri. Untuk itu guru tidak perlu terlalu

khawatir bahwa muridnya akan melakukan kesalahan. Dalam setiap kegiatan

belajar-mengajar, beri tahu manfaat mengapa anak perlu mempelajari hal tersebut

sehingga dia sendirin memiliki motivasi untuk memperdalam materi tersebut yang

muncul dari dalam dirinya.

2. Melalu “jalan pengasuhan”.

Pendidik perlu menciptakan suasana kelas penuh kegembiraan dimana setiap

peserta didik saling menghargai, saling memaafkan apabila terjadi konflik satu

dengan yang lain. Dalam sebuah kelas, dimana terdapat beragam karakter,

kemungkinan muncul konflik atau pertengkaran sangat tinggi. Justru itulah

41
Abd. Wahab Dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan Dan Kecerdasan Spiritual,
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), h. 73
36

kesempatan bagi pengembangan kecerdasan spiritual bagi peserta didik. Di sini

guru perlu menjadi pengasuh dengan empati mengarahkan peserta didiknya

memahami akar yang menimbulkan permasalahan, perasaan masing-masing dan

melalui dialog mencari pemecahan yang terrbaik atas masalah yang dihadapi

tersebut. Setiap konflik atau masalah muncul, guru perlu menjadikannya

momentum bagi seluruh peserta didik untuk bertumbuh kecerdasan spiritual.

[Link] “jalan pengetahuan”.

Pendidik perlu mengembangkan pelajaran dan kurikulum sekolah yang mampu

mengembangkan realisai diri pesrta didik. Misalnya, kurikulum yang bisa melatih

kepekaaan peserta didik terhadap berbagai masalah aktual, dimana pesrta didik

diajak berekfleksi tentang makna, bagaimana dia dapat ikut serta memecahkan

masalah-masalah aktual tersebut. Peristiwa-peristiwa bencana alam, banjir, dan

tanah longsor. Begitu banyak orang mengalami perubahan hisup secara tiba-tiba

dan menjadi menderita. Di sini kepekaan terhadap nilai dan makna kemanusiaan

dapat ditumbuhkan apabila peserta didik dapat diajak untuk berefleksi, menyadari

dan ikut merasakan bagaiamana berada seperti orang lain.

a. Melalui “jalan perubahan pribadi” (kreativitas).

Dalam setiap kegiatan belajar-mengajar seharusnya guru merangsang

kerativitas peserta didiknya. Anak-anak itu sebenarnya memiliki imajinisa dan

daya cipta yang sangat tinggi. Misalnya, mereka dapat menciptakan peraturan

kelas dan peraturan sekolahnya sendiri dengan sangat baik dan ideal. Guru tinggal

menciptakan kondisi dimana daya kreativitas yang sudah ada dalam diri mereka

itu dapat diekspresikan dengan penuh makna.


37

b. Melalui “jalan persaudaraan”.

Hukuman dan olok-olok, perkelahian dan saling mngejek antara murid perlu

dihindari karena dapat menghambat kecerdasan spiritual. Sebaliknya, guru perlu

mendorong setiap peserta didik untuk saling menghargai dan saling memahami

pendapat dan perasaan masing-masing. Bila terjadi konflik, murid perlu diajak

berdialog untuk mencari cara pemecahan konflik yang dapat diterima oleh semua

pihak. Setiap konflik merupakan kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan

spiritual. lingkungan seperti itu membantu peserta didik mengembangkan

kemampuan mengelola konfliknya sendiri dan inilah kecerdasan spiritual.

c. Melalui “jalan kepemimpinan yang penuh pengabdian”.

Gurulah yang menjadi model seorang pemimpin yang diamati oleh peserta

didiknya. Pengalaman peserta didik bagaiamana dilayani dan dipahami

sungguhsunggguh oleh gurunya adalah pengalaman yang sevara tidak langsung

mengajarkan kepada pesrta didik bagaimana layaknya perilaku seorang pemimpin,

pemimpin yang efektif itu adalah yang mengerti dan memahami bawahannya,

melayani kepentingan bawahannya dan bukan hanya mengurus kepentingan

dirinya sendiri.

D. Kerangka Pikir

Penelitian ini difokuskan pada peran pendidikan agama Islam dalam membina

kecerdasan spiritual peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara, alur kerangka pikir

penilaian ini, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pembelajaran senantiasa mengacu pada tujuan pendidikan agama Islam

secara umum, yang selanjutnya dijabarkan dalam tujuan intruksional umum dan
38

tujuan intruksional khusus. Bertitik tolak pada tujuan belajar tersebut, maka guru

dan peserta didik berinteraksi dalam proses belajar mengajar secara terstruktur,

sistematis dan terukur.

Proses pembelajaran pendidikan agama Islam yang menyentuh semua aspek

kehidupan sudah tentu dapat dijadikan jembatan bagi guru dan peserta didik

selaku objek pendidikan untuk dapat memiliki kepekaan emosional dan sosialisasi

peserta didik dapat tergabung dengan baik dan disamping itu, diharapkan peserta

didik memiliki kepekaan spiritual yang dapat menghantarkan peserta didik dapat

membawa dirinya kedalam prilaku dan sosiologis yang positif sehingga dengan

adanya kedua kompetensi tersebut peserta didik dapat mengimbangi pengetahuan

yang mereka dapat dibangku sekolahnya. Disamping itu guru harus berupaya

meningkatkan kualitasnya dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi

pembelajaran. Sehingga dalam proses pembelajaran di sekolah segala harapan

guru dan peserta didik selaku objek pembelajaran mendapatkan yang sebenarnya

secara maksimal dan ini tindakan dapat dicapai jika guru selaku pendidik tidak

kreatif dalam menyampaikan bahan ajarnya kepada peserta didik dengan baik.

Berikut dikemukakan bagan kerangka pikir penelitian ini:

Guru PAI
39

Landasan Pembelajaran PAI


[Link] yuridis formal
2. Landasan teologis normatis
3. Landasan psikologis

Peran Guru PAI


1. Leader
2. Teladan
3. Facilitator
4. Motivator

Kecerdasan Spiritual Peserta


didik

SMKN 7 LUTIM

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif

(qualitative Research) adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk


40

mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas social, sikap,

kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.

Beberapa deskripsi digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip dan

menjelaskan yang mengarah pada penyimpulan. Penelitian kualitatif bersifat

induktif, peneliti membiarkan permasalahan-permasalahan muncul dari data atau

dibiarkan terbuka untuk interpetasi. Data dihimpun dengan pengamatan yang

seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang mendetail disertai catatan-

catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan

catatan-catatan. Penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama, yang pertama

yaitu, menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore) dan kedua

menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explaim).42 Lokasi penelitian

dalam penelitian ini adalah di SMKN 7 Luwu Utara.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini dimaksudkan untuk membatasi studi kualitatif sekaligus

membatasi penelitian guna memilih mana data yang relevan dan mana yang tidak

relevan. Pembatasan dalam penelitian kualitatif ini lebih didasarkan pada tingkat

kepentingan/urgensi dari masalah yang dihadapi dalam penelitian ini.

C. Definisi Istilah

1. Peran guru pendidikan agama Islam diantaranya, guru pendidikan agama Islam

Sebagai demonstrator, pengelola kelas, Sebagai mediator, Sebagai motivator dan

Sebagai evaluator dalam proses pembelajaran PAI di SMKN 7 Luwu Utara.

42
Lexy J Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2012), h. 6.
41

2. Upaya guru PAI adalah suatu metode dan usaha yang dilakukan oleh guru

dalam mencapai tujuan pembelajaran PAI di SMKN 7 Luwu Utara.

3. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan melalui pengamalan dan penerapan

tindakan yang dilakukan dengan memandang hal positif terhadap keyakinan

seseorang.

D. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dimana peneliti

adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dengan triangulasi,

analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih

menekankan makna daripada generalisasi.

E. Data dan Sumber Data

1. Data

Data dalam penelitian ini menggunakan data yang berupa kata, kalimat,

wacana dan gambar yang diperoleh secara langsung oleh peneliti di lapangan

dengan cara observasi.

2. Sumber Data

Penelitian ini adalah penelitian pengamatan yang bertumpu pada sumber data

berdasarkan situasi yang terjadi. Sumber data penelitian yang penerapannya

dilakukan pada jenis penelitia kualitatif. Jadi, yang dimaksud sumber data dalam

penelitian ini adalah semua guru pendidikan agama Islam yang ada di sekolah

SMKN 7 Luwu Utara yang akan memberikan data yang valid terhadap objek
42

penelitian ini yang dijadikan sebagai sumber data. Adapun penelitian ini

menggunakan dua jenis data, yaitu:

1. Data primer adalah data utama yang diambil langsung dari para informan

dengan menggunakan instrumen wawancara pada saat observasi dan penelitian

lapangan. Informannya adalah semua guru Pendidikan Agama Islam di SMK

Negeri 7 Luwu Utara sebanyak 3 orang.

2. Data sekunder adalah data yang bersifat pendukung yang bersumber dari

dokumentasi arsip sekolah dan dokumentasi gambar pada saat penelitian yang

dilakukan untuk mendukung data utama penelitian ini.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan oleh peneliti dalam hal ini adalah instrumen pokok

dan instrumen penunjang. Instrumen pokok adalah manusia itu sendiri sedangkan

instrumen penunjang adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara.

1. Instrumen pokok dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti sebagai

instrumen dapat berhubungan langsung dengan responden dan mampu memahami

serta menilai berbagai bentuk dari interaksi di lapangan.

2. Instrumen kedua dalam penelitian ini adalah dengan metode wawancara. Secara

umum, penyusunan instrumen pengumpulan data berupa pedoman wawancara.

3. Instrumen ketiga dalam penelitian ini adalah dengan observasi.

G. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian yang tepat perlu memiliki teknik dan alat pengumpulan data yang

relevan. Pengguna teknik dan alat pengumpulan data yang dapat memungkinkan
43

diperolehnya data yang objektif. Sedangkan dalam penulisan skripsi ini penelitian

menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu:

1. Observasi

Observasi biasanya diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara

sistematika terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Observasi

langsung dilakukan terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya

peristiwa, sehingga observer berada bersama objek yang diselidikinya.43

Observasi adalah metode ilmiah yang bisa diartikan sebagai pengamatan dan

perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan sebuah alat

indera.44Observasi dilakukan untuk melihat kecerdasan spiritual peserta didik di di

SMKN 7 Luwu Utara.

Observasi yang dimaksud ialah dengan melihat kondisi langsung dilapangan

mengenai kecerdasan spiritual peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara dan untuk

pengamatan spiritual para peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara yakni dengan

melihat aktivitas sholat peserta didik dan faktor-faktor religious yang lain yang

dapat menggambarkan aspek religious dari peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara.

2. Wawancara

Wawancara adalah salah satu cara menggali data. Hal ini harus dilakukan

secara mendalam untuk mendapatkan data yang detail dan valid. Menurut Burhan

Bungin menyatakan bahwa, wawancara mendalam adalah proses memperoleh

keterangan untuk tujuan penelitian dengan tanya jawab sambil bertatap muka

antar pewawancara dan informan atau orang yang diwawancarai, atau tanpa
43
Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial (Jogjakarta: Gadjah Mada University
Press, 1998), h. 100.
44
Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan ( Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 158-159.
44

menggunakan pedoman wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat

dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara

mendalam adalah keterlibatan dalam kehidupan informan.45

Metode wawancara peneliti arahkan kepada para informan. Peneliti

berperan aktif untuk bertanya dan memancing pembicaraan menuju masalah

tertentu kepada sumber data atau informan agar memperoleh jawaban dari

permasalahan yang ada sehingga diperoleh data penelitian.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah metode yang menggunakan bahan klasik untuk meneliti

perkembangan yang kusus yaitu untuk menjawab pertanyaan atau persoalan-

persoalan tentang apa, mengapa, kenapa, dan bagaimana.

Adapun menurut Suharsimi Arikunto bahwa metode dokumentasi adalah cara

mencari tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat

kabar, majala dan sebagainya.46

Metode dokumentasi dipergunakan untuk mendapatkan informasi tentang:

a. Sejarah singkat berdirinya di SMKN 7 Luwu Utara

b. Visi dan misi di SMKN 7 Luwu Utara

c. Keadaan pendidik dan tenaga Kependidikan di SMKN 7 Luwu Utara

d. Keadaan siswa tahun pelajaran 2018/2019

e. Keadaan sarana dan prasarana di SMKN 7 Luwu Utara

H. Pemeriksaan Keabsahan Data

45
Sudarwam Danim, Menjadi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), h.
2010.
46
Suharsimi Arikonto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 1998), h.206.
45

Pengecekan keabsahan data sangat perlu dilakukan agar data yang

dihasilkan dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pengecekan

keabsahan data merupakan suatu langkah untuk mengurangi kesalahan dalam

proses perolehan data penelitian yang tentunya akan berimbas terhadap akhir dari

suatu penelitian. Maka dari itu, dalam proses pengecekan keabsahan data pada

penelitian itu harus melalui beberapa teknik pengujian. Adapun teknik yang

digunakan dalam pemeriksaan keabsahan data (Lexy J Moleong, 1991: 175),

yaitu:

1. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau

sebagai pembanding terhadap data itu, tekniknya dengan pemeriksaan sumber

lainnya. Trianggulasi yang digunakan peneliti ada 2, yaitu :

a. Triangulasi Sumber

Peneliti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu

informan yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian

kualitatif (Moleong, 2011: 330). Hal ini dapat dicapai dengan jalan

membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, membandingkan

apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara

pribadi dan lain sebagainya. Triangulasi sumber yang dipakai yaitu guru, dan

siswa.

b. Triangulasi Metode
46

Peneliti menggunakan metode yang sama pada peristiwa berbeda atau

menggunakan dua atau lebih metode yang berbeda untuk objek peneliti yang

sama. Triangulasi ini digunakan untuk memperoleh data tentang peran guru

pendidikan agama Islam dalam membina kecerdasan spiritual peserta didik di

SMKN 7 luwu utara. Triangulasi dalam penelitian ini menggunakan wawancara,

observasi dan dokumentasi. Sumber yang dilakukan dengan membandingkan data

hasil wawancara lalu membandingkan dengan isi dokumen yang terkait.47

I. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data

hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data

dan memilih mana yang penting serta mana yang perlu dipelajari serta membuat

kesimpulan sehingga mudah dipahami. Teknik analisis data yang digunakan

dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yang digunakan peneliti yaitu

pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan langkah terakhir adalah

penarikan kesimpulan. Langkah-langkah tersebut sebagi berikut.

a. Reduksi data

Reduksi data merupakan penyerderhanaan yang dilakukan melalui seleksi,

pemfokusan dan keabsahan data mentah menjadi informasi yang bermakna,

sehingga memudahkan penarikan kesimpulan.

b. Penyajian data
47
Lexy J Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2012), h. 12.
47

Penyajian data yang sering digunakan pada data kualitatif adalah bentuk

naratif. Penyajian-penyajian data berupa sekumpulan informasi yang tersusun

secara sistematis dan mudah dipahami.

c. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dalam analisis data yang

dilakukan melihat hasil reduksi data tetap mengaju pada rumusan masalah secara

tujuan yang hendak dicapai. Data yang telah disusun dibandingkan antara satu

dengan yang lain untuk ditarik kesimpulan sebagai jawaban dari permasalahan

yang ada.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Sejarah SMKN 7 Luwu Utara.


48

Sejarah SMKN 1 Sabbang atau lebih dikenal dengan nama SMKN 7 Luwu

Utara adalah salah satu sekolah menengah kejuruan yang terletak di daerah

Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara tepatnya di Dusun Salu

Karondang Desa Dandang dengan koordinat (Lintang: -2.68740000, Bujur :

120.1813000). Sekolah ini, dibangun di atas lahan seluas ±20.100 m 2 yang telah

dihibahkan oleh Bapak Jahidin Patadari, seorang Tokoh Masyarakat sekaligus

menjabat sebagai Kepala Desa saat itu, yang kemudian dihibahkan kepada Negara

untuk dibangun sebuah sekolah.

Sekolah ini pertamakali beroperasi pada tahun 2014, sesuai SK izin

operasional No. 188.2.45/301/V/2014, hanya ada 2 (dua) Kompetensi Keahlian

atau Jurusan dibuka,yang pertama adalah Teknik Kendaraan Ringan (TKR), dan

yang kedua adalah Teknik Komputer dan [Link] siswa pada saat itu

sebanyak 80 orang yang dibagi ke dalam 3 (tiga) rombel, 2 (dua) rombel untuk

TKR, dan 1 (satu) rombel untuk TKJ.

Pada semester pertama (Gasal-T.P. 2014/2015), proses pembelajaran masih

berada di SMP Negeri 1 Sabbang (sekarang: SMPN 1 Sabbang Selatan) karena

bangunannya belum ada. Saat itu juga proses belajar-mengajar dilakukan di siang

s/d sore hari, karena paginya digunakan oleh siswa SMPN 1 Sabbang. Pada tahun

2015, bangunan pertama yaitu 2 (dua) ruang bengkel, 2 (dua) ruang kelas, dan 1

(satu) ruang perpustakaan, serta toilet selesai dibangun, maka proses pembelajaran

dipindahkan ke lokasi sekolah yang telah dibangun. Namun, kendala yang

dihadapi adalah sarana ruang kelas yang masih kurang dan fasilitas yang minim.

2. Peran Guru SMKN 7 Luwu Utara.


49

Motivasi belajar dan kecerdasan spritual sangat penting dalam kegiatan

belajar. Oleh karena itu, guru sangat berperan dalam menumbuhkan minat belajar

siswa. Dalam hal ini, guru agama islam di SMKN 7 Luwu Utara dalam

menumbuhkan minat belajar pendidikan agama Islam dituangkan dalam bentuk:

1. Kompetisi dan Hadiah

Kompetisi adalah persaingan yang dapat digunakan sabagai alat dan

motivasi untuk mendorong siswa agar mereka bergairah belajar, baik dalam

bentuk individu maupun kelompok. Dalam hal ini kepala sekolah mengungkapkan

tentang cara minat belajar siswa :

“Menciptakan minat belajar dan kondisi pembelajaran yang efektif di


SMKN 7 Luwu Utara dalam pembelajaran pendidikan agama Islam
diadakan kompetisi, baik dalam bentuk individu, antar kelas maupun
mendelegasikan siswa yang berprestasi untuk mengikuti lomba, baik tingkat
lokal maupun tingkat kabupaten. Dan bagi mereka yang berprestasi akan
dijanjikan hadiah oleh pihak sekolah. Hal-hal yang berkaitan dengan
kompetisi tersebut dihadirkan dilapangan (saat upacara) pemberian hadiah
misalnya. Hal tersebut dimaksudkan agar anak didik yang lain terdorong
untuk mengikuti jejak mereka, dan bagi yang berprestasi agar lebih giat
belajar guna meningkatkan prestasi yang telah diraih.”48

Dunia pendidikan, hadiah bisa dijadikan alat motivasi. Hadiah dapat

diberikan kepada anak didik yang [Link] ini merupakan gejala yang baik

dan harus disediakan dilingkungan sekolah yang kreatif bagi anak

[Link] hadiah yang sederhana ini perlu digalakkan karena relatif murah

dan dirasakan cukup efektif untuk memotivasi siswa dalam kompetisi belajar.

2. Memberi Angka

Angka atau nilai yang baik merupakan potensi yang besar untuk

memberikan motivasi kepada anak didik lebih meningkatkan belajarnya. Apabila


48
Aris, Kepala sekolah SMKN 1 Sabbang atau SMKN 7 Luwu Utara “Wawancara“, 26
Januari 2021.
50

angka yang diperoleh oleh anak didik lebih tinggi dari anak didik lainya, maka

dalam diri anak tersebut akan senang dan puas, sehingga ia akan terus

meningkatkan belajarnya.

Berkaitan dengan itu guru pendidikan agama Islam di SMKN 7 Luwu Utara

untuk merangsang anak didik dalam kegiatan pembelajaranya menggunakan cara

pemberian nilai (angka) yang pelaksanaanya berupa pertanyaan langsung satu-

persatu anak didik maupun dalam bentuk ulangan tertulis.

“Untuk memberikan efek motivasi belajar dan kecerdasan spritual yang


kuat, guru pendidikan agama Islam menjanjikan nilai dari jawaban-jawaban
secara langsung maupun dalam hasil ulangan (tertulis) tersebut akan
dikomulatifkan dengan hasil tes sementara. Dengan kata lain, nilai tersebut
akandijadikan tambahan diraport. Hal ini dirasa sangat efektif sebab setiap
siswa pasti ingin nilai raportnya tinggi.” 49
3. Partisipasi siswa

Sehubungan dengan hal ini, guru PAI mengemukakan :

“Setiap hari rabu diadakan kegiatan keagamaan, dan seluruh siswan


diwajibkan mengikuti kegiatan tersebut, karena kegiatan tersebut adalah
milik siswa. Artinya segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan
tersebut ditangani oleh siswa sendiri, dan pihak sekolah hanya sebagai
fasiliator dan guru agama yang salah satunya ialah guru Pendidikan Agama
Islam sebagai pemandu.”50
4. Praktek

Dalam belajar pendidikan agama Islam dikelas, murid terkadang merasa

jenuh dan bosan, guru pendidikan agama Islam di SMKN 7 Luwu Utara

mengambil inisiatif dalam menggunakan metode disamping teori juga praktek.

“Adapun kegiatan praktek meliputi ceramah, shalat dan membaca Al-


Qur’an yang pelaksanaanya dimusholah sekolah. Praktek-praktek tersebut
dimaksudkan agar siswa dalam suasana baru, sehingga bersemangat untuk
49
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.

50
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.
51

mengikuti. Di samping itu juga, agar tujuan yang lebih khusus, yaituh
tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam tercepat. 51

5. Memberikan perhatian

Dalam hal ini pendidikan agama islam di SMKN 7 Luwu Utara sebagai

upaya penumbuhan motivasi belajar dan kecerdasan spritual yang dalam

aplikasinya, mendekati, mengamati, mengarahkan perilaku anak didik disaat

mengikuti kegiatan belajar. Bila disaat anak belajar terlihat malas, ngantuk, tidak

memperhatikan, atau tidak mencatat materi pelajaran maka guru agama,

memberikan perhatian penuh kepada mereka.

“Perhatian-perhatian tersebut berupa arahan-arahan yang bersifat kontruktif.


Perhatian yang penuh kearifan dan ketulusan seorang guru akan membuat
anak didik tergugah hatinya sehingga arahan-arahan tersebut akan sangat
serius diperhatikan dan dijalani siswa dengan serius pula.”52

6. Perilaku Siswa Pada Proses Pembelajaran.

Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara kepada guru khususnya guru

bidang studi pendidikan agama Islam yang lebih mengetahui bagaimana perilaku

siswa pada saat dilaksanakannya proses pembelajaran. Hasnawar Hakim guru di

SMKN 7 Luwu Utara menyatakan :

“pada saat pembelajaran siswa sangat antusias dalam menerima pelajaran ini
dengan baik, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan
lancar, Setiap awal pembelajaran pendidikan agama Islam guru mengajak
semua siswa melakukan tadarrus yang dipanduu oleh setiap guru, kemudian
guru menilai setiap bacaan yang dibaca siswa utamanya tajwid dan
makharijul huruf.”53
51
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.

52
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.

53
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.
52

3. Upaya Guru SMKN 7 Luwu Utara

Upaya pembentukan kecerdasan spiritual pada anak dimulai dari lingkungan

keluarga dan lingkungan sekolah hal ini di kemukakan oleh guru PAI SMKN 7

Luwu Utara :

“Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan dan bimbingan yang diberikan


kepada anak sejak dini akan memiliki pengaruh yang kuat di dalam jiwa
mereka, sebab masa tersebut merupakan masa persiapan dan pengarahan.
Dalam usaha pembentukan kecerdasan spiritual sejak dini adalah dengan
penanaman pendidikan agama menjadi sesuatu yang sangat signifikan.
Pendidikan agama merupakan hal terpenting dalam kehidupan di dunia, sebab
memusatkan pada perbaikan spiritual, disiplin diri, dan perbaikan tingkah
laku, disamping itu juga memperhatikan tentang kaidah-kaidah utama tentang
akhlak mulia serta keteladanan yang baik.” 54

“aturan sekolah adalah kontrol utama dalam pembinaaan dan pendidikan


akhlak, akhlak luhur merupakan pondasi dan jaminan bekal untuk
kesempurnaan Islam dalam pembinaan dan pengembangan pribadi manusia,
yang mana fitrah terdapat pada setiap jiwa manusia berupa kecerdasan dan
akal, serta akhlak akan terbentuk jika ada motivasi, latihan, dan keteladanan
dari melalui proses waktu yang berlangsung terus menerus yaitu dalam proses
pendidikan. Sehingga dengan penanaman pendidikan agama yang benar maka
potensi kecerdasan manusia akan terbentuk terutama kecerdasan spiritual.” 55

Kecerdasan spiritual membantu seseorang untuk menemukan makna hidup

dan kebahagiaan. Karena itu kecerdasan spiritual dianggap sebagai kecerdasan

yang paling penting dalam kehidupan. Sebab kebahagaian dan menemukan makna

kehidupan merupakan tujuan utama setiap orang. Kecerdasan seseorang dapat

ditunjukkan dalam tingkah lakunya sehari-hari. Dengan memiliki kecerdasan

spiritual siswa dapat mengetahui mana yang baik dan buruk. Dan kecerdasan ini

54
Hasnawar Hakim, Pendidik Muatan Pembelajaran PAI SMKN 7 Luwu Utara
“Wawancara“, 26 Januari 2021.

55
Aris, Kepala sekolah SMKN 1 Sabbang atau SMKN 7 Luwu Utara “Wawancara“, 26
Januari 2021.
53

mengarahkan seseorang pada prilaku yang baik. Peran guru pendidikan agama

Islam dalam mengembangkan kecerdasan spiritual peserta didik SMKN 7 Luwu

Utara merupakan suatu bagian utama dalam melaksanakan tugas dan

tanggungjawab dari seorang guru.

“Tidak adanya pedoman motivasi belajar dan kecerdasan spritual yang baku
(Standar), hal tersebut dikarenakan faktor yang mempengaruhi motivasi
bermacam macam. Untuk itu sudah menjadi tugas guru pendidikan agama
Islam harus pandai-pandai menentukan pendekatan dalam memberikan
motivasi belajar dan kecerdasan spritual pada anak didiknya, agar motivasi
belajar dan kecerdasan spritual dapat berjalan efektif.” 56

Mendidik atau mengajar merupakan pekerjaan yang rumit dan kompleks.

Karena banyak hal yang harus dipahami, dipersiapkan dan dilakukan. Rumit

karena subyek didik adalah manusia serba misterius. Mendidik dan mengajar

memerlukan kesabaran, ketekunan, ketelitian, tetapi juga kelincahan dan

kreativitas. Semuanya itu membutuhkan adanya motivasi mendidik dan mengajar

yang cukup tinggi dari guru atau pendidik, agar ia tidak lekas bosan, dan putus

asa.

Demikian juga halnya dengan proses belajar yang dijalani siswa. Belajar

merupakan proses yang panjang, ditempuh selama bertahun-tahun. Belajar

membutuhkan motivasi yang secara konstan tetap tinggi dari para siswanya. Agar

para siswa memiliki motivasi yang tinggi beberapa usaha perlu dilakukan oleh

guru untuk membangkitkan motivasi.

upaya pertama yang perlu dilakukan guru adalah memecahkan kendala dalam

motivasi belajar dan kecerdasan spritual disertai pemecahannya dapat berupa:

56
Aris, Kepala sekolah SMKN 1 Sabbang atau SMKN 7 Luwu Utara “Wawancara“, 26
Januari 2021.
54

“Setiap guru harus dapat memahami motivasi baik tujuan, fungsi maupun
jenis dan upaya meningkatkan motivasi belajar dan kecerdasan spritual
kegiatan pembelajaran secara utuh. Setiap guru harus pandai-pandai
menggunakan pendekatan dalam motivasi belajar dan kecerdasan spritual
siswa, karena motif bersifat perorangan, ini dimugkinkan guru dapat
menggunakan pendekatan individual. Untuk itu guru PAI haruslah
memberikan pemahaman terhadap setiap anak didik tentang pentingnya
belajar, disamping itu setiap guru dituntut untuk menggunakan metode yang
tepat, karena sangat singnifikan dapat memotivasi belajar dan kecerdasan
spritual siswa.” 57
B. Pembahasan

1. Peran guru pendidikan agama Islam

Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan melihat kontek perannya adalah

sama-sama menghadapi obyek yaitu siswa. Pelaksanaan proses belajar mengajar

(PBM) menuntut adanya berbagai peran untuk senantiasa aktif dan aktivitas

interaksi belajar mengajar dengan siswanya.

Dalam pendidikan formal maupun non formal salah satu faktor utama yang

menentukan mutu pendidikan adalah guru. Gurulah yang berada digarda depan

dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia. Guru berhadapan langsung

dengan anak didiknya di kelas malalui proses belajar mengajar. Ditangan gurulah

akan dihasilakan peserta didik yang berkaualitas, baik secara akademik, keahlian,

kematangan emosional, moral, dan spiritual. Guru di sekolah sebagai

penanggungjawab kecerdasan spiritual siswa dengan memberikan pendidikan

Agama Islam kepada anak-anaknya dengan menanamkan ajaran agama dan

pendidikan akhlak sehingga anak akan menjadi pribadi yang tangguh dan

bermoral, karena pendidikan akhlak yang diberikan di sekolah merupakan peletak

dasar bagi pendidikan anak untuk selanjutnya.


57
Aris, Kepala sekolah SMKN 1 Sabbang atau SMKN 7 Luwu Utara “Wawancara“, 26
Januari 2021.
55

Peran yang dilaksanakan guru pendidikan agama Islam di SMKN 7 Luwu

Utara menjalankan beberapa peranan yang pelaksanaannya cukup efektif,

diantaranya sebagai berikut:

1. Kesadaran akan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik. Guru adalah

pendidik profesional, karenanya secara implisit telah merelakan dirinya menerima

dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan. Guru adalah orang yang

membimbing, mengarahkan, dan membina anak didik menjadi manusia yang

matang atau dewasa dalam sikap dan kepribadiannya, sehingga tergambarlah

dalam tingkah lakunya nilai-nilai Agama Islam. guru dalam Islam adalah orang

yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan

mengupayakan seluruh potensinya, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun

potensi psikomotorik. Adapun peran guru yang terlaksana yaitu

a. Memberikan motivasi, motivasi yang diberikan tiada lain karena untuk

mengubah tingkah laku peserta didik menjadi lebih baik dan untuk melihat sejauh

mana potensis tersebut dapat di kembangkan

b. Saling menghargai dan ikhlas dalam memberikan pengajaran, sifat saling

menghargai memang perlu untuk di jaga oleh seorang pendidik karena sifat ini

memiliki potensi yang sangat besar kepada peserta didik untuk merasa nyaman

dalam proses pembelajaran.

c. Pentingnya menjalin tali persaudaraan, menjalin tali persaudaraan memang

perlu di bangun pendidik sesama pendidik atau dengan masyarakat demi untuk

mengembangkan potensi rasa persudaraan peserta didik. Selain itu peserta didik
56

juga sangat diharapkan dapat memetik hikmah dari gurunya apa yang mereka

contohkan selama ini.

d. Memberikan nasihat, pemberian nasihat harus perlu di lakukan pendidik baik di

dalam kelas maupun di luar kelas karena mengingat keadaan siswa yang dinamis

dan berubah-ubah sehingga dibutuhkan nasihat terus menerus untuk

mempertahankan tingkah lakunya dan tidak gampang terpengaruh dari berbagaia

macam perilaku yang ada di lingkungan masyarakat yang kurang mencerminkan

nilai-nilai spirtual.

e. Menyelesaikan masalah peserta didik, penyelesaian masalah di kalangan

peserta didik memang perlu agar masalah tersebut tidak panjang lebar, dan untuk

mengantisipasi sifat menyimpang di antara dua belah pihak.

f. Pelaksanaan sholat berjamaah, melihat keutamaan sholat berjamaah adalah

sunnah yang sangat penting dikerjakan karena mempunyai nilai tinggi derajatnya

dibanding sholat sendiri. Maka dari itu selaku guru yang ada di SMKN 7 Luwu

Utara membuat aturan untuk melaksanakan sholat zhuhur berjamaah bersama

siswa di mushollah sebelum meninggalkan sekolah. Selain melihat ke utamaan

sholat berjamaah juga untuk mengembangkan potensi kecerdasan spirtual yang

ada di dalam setiap individu siswa.

2. Kesadaran siswa

Kesadaran diri adalah kesadaran akan keberadaan dirinya, dari mana dia

berasal, apa kelebihan dan kekurangan dirinya, dan apa tujuan hidupnya. Adapun

kesadaran yang dimiliki peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara adalah kesadaran

untuk menolong sesama siswa, kesadaran menjalin tali persaudaraaan, kesadaran


57

akan pentingnya ibadah sholat zhuhur secara berjamaah, kesadaran akan

pentingnya kedisiplinan, baik disiplin akhlak, waktu, belajar, maupun dalam

kebersihan. Itu semua tidak lepas dari peran guru sebagai pendidik untuk melihat

anak didiknya akan lebih baik.

3. Metode pembelajaran

Metode pembelajaran adalah suatu cara atau upaya yang dilakukan oleh para

pendidik agar proses belajar mengajar pada siswa tercapai sesuai dengan tujuan.

Metode pembelajaran ini sangat penting dilakukan agar proses belajar

mengajar tersaebut nampak menyenangkan dan tidak membuat para peserta didik

suntuk, dan juga para pesrta didik tersebut dapat menangkap ilmu dari tenaga

pendidik tersebut dengan mudah. Dengan metode yang tepat yang diterapkan oleh

guru Pendidikan Agama Islam dalam proses pembelajaran, peserta didik dapat

mengembangkan potensi di dalam dirinya. Di antaranya peserta didik dapat

merasakan kebersamaan/persaudaraan, peserta didik dapat bertutur kata yang

sopan baik pada teman maupun kepada gurunya, peserta didik dapat menjalankan

ibadah sholat zhuhur berjamaah dengan tertib dan benar, itu semua tidak lepas

dari peran guru sebagai pendidik dalam mengembangkan keerdasan spiritual yang

ada setiap diri individu siswa.

4. Menjalin kerjasama antara kepala sekolah dengan guru

Kerjasa yang dijalin antara kepala sekolah dengan guru yang ada di sekolah

tiada lain untuk mengembangkan seluruh potensi anak didiknya. Potensi yang di

kembangkan adalah meningkatakan rasa persaudaraan, menumbuhkan sikap kasih


58

sayang kepada anak didiknya, menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, dan

berakhlak mulia.

5. Kedisiplinan

Kedisplinan peserta didik sangat penting untuk kemajuan sekolah itu sendiri.

Sekolah yang tertib akan menciptakan proses pembelajaran yang baik.

Meningkatkan kedisiplinan terhadap peserta didik sangat penting dilakukan oleh

sekolah, mengingat sekolah tempat generasi penerus bangsa salah satu faktor yang

membantu para peserta didik meraih sukses dimasa depan yaitu dengan

kedisiplinan. Kedisiplinan yang terlaksana di SMPKN 7 Luwu Utara adalah

disiplin waktu, disiplin belajar, disiplin sholat berjamaah tepat waktu, disiplin

menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekolah.

2. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam

Upaya adalah usaha atau ikhtiar untuk mencapai suatu maksud,

memecahkan persoalan, mencari jalan keluar.

Dalam pengertian sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu

pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang

yang melaksanakan pendidikan ditempat – tempat tertentu, tidak mesti dilembaga

pendidikan formal, tetapi bisa juga di masjid, di surau/dimushola, di rumah dan

sebagainya. Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat,

kewibawaanlah yang menyebabkan guru dihormati, sehingga masyarakat tidak

meragukan figur guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik

anak didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.


59

Jadi yang dimaksud dengan upaya guru pendidikan agama Islam menurut

penulis dalam penelitian ini adalah usaha guru yang dengan sengaja untuk

membina, membimbing dan mengasuh peserta didik agar memiliki rasa

tanggungjawab kepada pelaksanaan pendidikan agama Islam agar nantinya dapat

memahami, menghayati, dan mengaplikasikan dalam kehidupannya sehari – hari.

Metode atau cara tertentu yang dapat memotivasi semua murid dengan cara

yang sama atau dengan hasil yang sama, ini dikarenakan faktor yang

mempengaruhi motivasi belajar dan kecerdasan spritual banyak sekali

diantaranya: kondisi siswa, kondisi lingkungan siswa, unsur-unsur dinamis dalam

belajar dan pembelajaran. Untuk itu sebagai jalan keluarnya dapat diupayakan

sebagai berikut:

a) Siswa harus dihindarkan dari gangguan kesehatan baik fisik maupun psikis.

b) Mendapatkan lingkungan belajar yang ideal perlu disediakan lingkungan

pendidikan (sekolah) yang sehat, kerukunan hidup, ketertiban pergaulan perlu

dipertinggi mutunya, dengan lingkungan yang aman, tenteram tertip dan indah,

maka semangat dan motivasi belajar dan kecerdasan spritual mudah diperkuat.

c) Unsur-unsur dinamis dalam belajar penting diciptakan karena siswa memiliki

perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang mengalami perubahan

berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebaya berpengaruh dengan

motivasi belajar dan kecerdasan spritual dan perilaku belajar. Lingkungan siswa

yang berupa lingkungan alam, lingkungan tempat tiggal, dan pergaulan juga

mengalami perubahan. Lingkungan budaya siswa yang berupa surat kabar,

majalah, radio, televisi dan film semakin mengjangkau siswa. Ke semua


60

lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajar dan kecerdasan spritual

siswa.

d) Membantu kesulitan belajar siswa secara individual maupun kelompok.

e) Membentuk kebiasaan belajar yang lain

f) Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Dari penjelasan diatas, dapat pahami bahwa salah satu indikator

keberhasilan pendidikan secara mikro, pembelajaran level kelas adalah tatkala

seorang guru mampu membangun motivasi belajar dan kecerdasan spritual para

siswanya. Jika siswa-siswa itu dapat ditumbuhkan motivasi belajarnya, maka

sesulit apapun materi pelajaran atau proses pembelajaran yang diikutinya niscaya

mereka akan menjalaninya dengan baik tanpa adanya paksaan dari siapapun.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari pembahasan tentang peran guru pendidikan agama Islam

dalam meningkatkan kecerdasan spiritual peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara,


61

dan masalah-masalah yang dijadikan dasar berpijak dalam penelitian ini, serta dari

berbagai data yang telah dikumpulkan dan dianalisa, maka penelitian dapat

mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Peran guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kecerdasan spiritual

peserta didik di SMKN 7 Luwu Utara ialah, Guru Sebagai Pendidik, Guru Sebagai

Pengajar, Guru Sebagai Sumber Belajar, Guru Sebagai Pemimpin, Guru Sebagai

Teladan, Guru Sebagai Fasilisator, Guru Sebagai Motivator, dan Guru Sebagai

Inspirator.

2. Upaya guru dalam meningkatkan kecerdasan spiritual siswa adalah dengan

memotivasi siswa untuk mencapai sebuah tujuan yang telah tentukan.

Meningkatkan motivasi belajar dan kecerdasan spritual siswa pada pembelajaran

Pendidikan Agama Islam di SMKN 7 Luwu Utara, maka diperlukan berbagai

metode pembelajaran yang menyenangkan.

B. Saran-Saran

Setelah penulis mengemukakan kesimpulan di atas, maka berikut ini penulis

akan mengemukakan beberapa saran sebagai harapan yang ingin dicapai sekaligus

sebagai kelengkapan dalam penyusunan skripsi ini sebagai berikut ;

1. Bagi kepala sekolah

Sebaiknya pihak sekolah secara berkelanjutan meningkatakan pembinaan

kualitas kinerja guru dan penguatan dalam memotivasi dan keteladanan kepada

siswa agar tetap mempunyai kecerdasan spiritual dalam dirinya.

2. Bagi guru
62

Agar siswa tetap cerdas secara spiritual, maka sebaiknya guru

meningkatkan perannya sebagai motivator dengan cara memotivasi dan

memberikan keteladanan kepada siswa agar senantiasa berakhlak mulia.

3. Bagi peneliti

Penulis menyadari meskipun skripsi ini dilakukan dengan upaya yang

maksimal dan mencapai hasil yang terbaik. Namun, tidak lepas pula dari

kekurangan dan kelemahan sebagai penulis untuk sangat mengharapkan saran dan

kritik.

DAFTAR PUSTAKA

Arikonto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Cet. I;


Jakarta: Rineka Cipta, 1998)

Agustian Ary Ginanjar, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi Dan


Spiritual, (Cet. I; Jakarta: Arga Tilanta), 2011

Danim Sudarwam, Menjadi Penelitian Kualitatif, (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia,


2002).
63

H.A.R. Tilaar, Pendidikan Kebudayaan Dan Masyarakat Madani Indonesia,


([Link] ;Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999),

Kementerian Agama RI,Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta; PT. Addawa


Sukses Mandiri,2012),

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan Cet.2, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003),

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologis Proses Pendidikan, (Bandung:


PT. Remaja Rosda Karya, 2011).
Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Cet. 7; Yokyakarta: Reka
Sarasin, 1996).

Sanafiah Faisal, Format-Format Penelitian Sosial, (Cet. 4; Jakarta: Raja Grafindo


Persada, 2003).

Ratna Sari, “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Terhadap Perkembangan


Spiritual Peserta Didik Di SMP Negeri 12 Palopo Kel. Sumarambu Kec.
Telluwanua

[Link], Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Cet. I;


Makassar: Aksara Timur, 2015

Suryadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Cet. 1; Jakarta: Raja Grafindo


Persada, 1998),

Sukri Teang, “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan


Kecerdasan Emosional Dan Spiritual Peserta Didik Di SMA Negeri 2
Palopo”, (Mahasiswa IAIN Palopo, 2018).

P. Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, (Cet. I; Jakarta:
Rineka Cipta, 1997).

Anda mungkin juga menyukai