Chapter 3
“Tatap mataku! Jangan menunduk ku bilang! Sialan, kau ini benar-
benar!”
Dugh!
Dugh!
Yaya meringis melihat seorang lelaki yang tengah dipukul membabi
buta oleh anak buah suruhan Gopal. Anak laki-laki itu pasti salah satu
korban COS seperti dirinya. Yaya segera mempercepat langkah kakinya
sebelum para pembully itu melihatnya.
Saat ini Yaya akan pergi ke Perpustakaan, ia harus meminjam buku
untuk ia baca di rumah nanti. Besok kelasnya akan mengadakan ujian
harian, dan Yaya harus benar-benar mendapat nilai yang memuaskan.
Perpustakaan merupakan tempat favoritnya setelah atap sekolah.
Biasanya Yaya selalu pergi kesini bersama Fang, ia akan mengajarkan
Fang materi-materi yang sahabatnya itu kurang pahami. Memikirkannya
sudah membuat Yaya rindu padanya. Ia kemudian melangkahkan
kakinya ke arah rak buku pelajaran.
“Fang?!” Ucapnya setengah memekik
Lelaki dihadapannya kemudian membalikan diri mengahadap Yaya.
Yaya melihatnya, ini benar-benar Fang, sahabatnya. Tapi, ia tidak
melihat senyuman di wajah Fang, hanya ada wajah datar yang
menatapnya.
“Fang, a-aku.. aku—“ ucapannya terpotong saat Fang segera beranjak
pergi meninggalkannya.
“Fang, aku minta maaf, maaf Fang.” Yaya menundukan kepalanya. Ini
benar-benar menyedihkan!
“Hey kau, gadis kampungan!”
Yaya kemudian terlonjak kaget. Melihat para pembully itu sudah berlari
menghampirinya. Ia sudah akan berlari sebelum mereka berhasil
menangkapnya.
“Mau lari kemana kau? Ayo ikut kami!” Ucap salah seorang dari
mereka. Mulai menyeret Yaya secara paksa, mengabaikan tatapan dari
semua orang yang ada di perpustakaan.
“Lepaskan aku! Biarkan aku kembali ke perpustakaan. Aku harus
meminjam buku untuk ujianku besok.” Yaya berusaha berontak, tapi
akhirnya sia-sia.
“Aku tidak perduli! Hali menyuruh kami untuk membawamu padanya!
Jadi siapkan dirimu, gadis kampungan!”
Apa?
Tidak!
Jangan orang itu!
Yaya tidak mau berhadapan dengannya.
BRAK!
Pintu atap sekolah ditendang oleh salah satu anak buah Halilintar. Yaya
melihat orang itu sedang membelakangi mereka, kemudian berbalik
sambil menghembuskan asap rokok.
“Kalian bisa pergi!” Usirnya pada 4 orang yang menyeretnya tadi.
“Baik boss.”
Kemudian mereka semua pergi turun ke bawah, menyisakan Yaya
dengan iblis dihadapannya ini. Yaya menundukan kepalanya, terlalu
takut untuk menatap wajah yang terkesan datar itu.
“Apa yang kau lihat?”
Yaya merasakan bulu kuduknya merinding, ia kemudian menggeleng.
“Apa kau tidak diajarkan sopan santun huh?! Tatap aku jika aku sedang
berbicara!” Bentak Halilintar.
Tidak, Yaya tidak berani menatap orang itu. Ia malah semakin
menundukkan kepalanya.
“Ck, kau ini benar-benar!”
Halilintar kemudian berjongkok, mencengkram bagian belakang kepala
Yaya sampai gadis itu benar-benar menatapnya. Menyedihkan, kenapa
disaat seperti ini ia harus menangis? Kenapa Yaya harus selalu terlihat
lemah?
“Hentikan air mata palsu itu! Aku benar-benar muak!” Halilintar
semakin mencengkram kuat bagian belakang kepala Yaya.
Jilbabnya hampir saja terlepas jika Yaya tidak segera menghempaskan
tangan Halilintar. Oh tidak! Sepertinya dia sudah melakukan kesalahan.
“Berani sekali kau!”
“Maaf…” Yaya menundukan kepalanya.
“……”
“Aku mohon lepaskan aku kali ini, a-aku harus pergi ke perpustakaan.
Kelasku akan mengadakan ujian besok, dan aku harus meminjam buku
dari sana.”
Bodoh. Kenapa ia harus bercerita seperti itu pada orang di hadapannya
ini.
“…… “
“Kau boleh menyiksaku setelah pulang sekolah nanti, tapi kumohon
lepaskan aku sekarang, aku harus segera pergi.” Yaya tak berani
mendongakan kepalanya.
“Aku tidak perduli! Ku peringatkan sekali lagi, jangan pernah
menampakkan dirimu di depanku lagi! Dan hentikan air mata menjijikan
itu, aku benci!” Ucapnya penuh penekanan, lalu menghempaskan Yaya
ke aspal dan beranjak pergi dari atap sekolah.
Bagus, kenapa banyak sekali orang yang membencinya di sekolah ini?
Yaya rasanya ingin menyerah, tapi ia tidak bisa. Itu pasti akan sangat
mengecewakan ibunya. Dia tidak pernah bercerita apapun mengenai apa
yang terjadi pada dirinya selama di sekolah. Termasuk soal sahabat
kecilnya yang sekarang sudah membencinya.
Yaya kemudian berdiri dan merapihkan penampilannya, lalu mulai
beranjak pergi turun ke lantai bawah sambil sesekali menyeka air
matanya.
••••••••••
*FLASHBACK ON*
Yaya dan Fang sedang berjalan menuju Pepustakaan. Biasanya saat
guru hanya memberikan tugas dan tidak masuk ke kelas, mereka berdua
akan mengerjakan tugas di perpustakaan.
Suasana sekolah sedang sunyi, itu karena kegiatan belajar mengajar
sudah dimulai. Pasti semua murid sedang belajar di dalam kelas
masing-masing. Sepertinya pengecualian bagi Taufan. Anak itu sedang
asik memukul seorang siswa lelaki di pojok Caffetaria.
“Ampun.. Ku mohon biarkan aku belajar dulu.”
Yaya mendengar siswa lelaki itu merintih kesakitan. Ingin rasanya
menghentikan aksi keterlaluan itu, tapi dia tidak bisa melakukan apa-
apa. Namun, melihat siswa lelaki itu sudah jatuh tersungkur di atas
lantai, membuat jiwa kemanusiaan Yaya bergejolak. Ia kemudian mulai
melangkahkan kakinya menuju pojok Caffetaria. Tapi seseorang segera
menahan tangannya.
“Jangan! Kau tidak boleh kesana Aya!” Fang mencegah Yaya.
“Tapi, dia kesakitan Fang! Hidungnya berdarah! Kau tak lihat?”
“Aku tahu. Tapi jangan membahayakan dirimu juga, Aya! Orang-orang
seperti kita tidak ada hak untuk menghentikan mereka. Aku tidak mau
kau mencari masalah dengan geng itu. Kita hanya perlu bersikap tak
perduli pada apapun yang terjadi di sekolah ini. Ingat, kau dan aku,
bukankah kita berdua hanya ingin bersekolah disini tanpa membuat
masalah dan lulus dengan hasil yang memuaskan? Jadi, tolong jangan
pernah mecampuri urusan mereka, okay?!” Fang memegang kedua
pundak sahabat manisnya itu.
Benar. Yaya tak sepantasnya melakukan hal seperti itu. Dia hanya
kalangan kelas bawah, sangat bawah. Mencari masalah dengan orang-
orang itu sama saja ia akan kehilangan beasiswanya, dan ia tidak ingin
itu terjadi. Yaya harus selalu bersama Fang, hanya dia yang selalu
menemani Yaya. Singkatnya Yaya tidak mempunyai satu temanpun di
sekolah ini kecuali Fang.
Orang-orang selalu menganggapnya seperti sampah. Teman-teman
sekelasnya pun tidak ada yang mau berteman dengannya. Kemana-
mana dia selalu bersama Fang. Sebagian besar murid disini
menganggap Fang sama seperti Yaya, murid penerima beasiswa. Tapi
nyatanya tidak, Fang termasuk orang beruntung yang terlahir dari
keluarga elite. Ayah dan Ibunya mampu memasukan Fang ke sekolah
ini, itu sebabnya Yaya mati-matian untuk mendapat beasiswa di sekolah
ini agar ia bisa terus bersama Fang. Mungkin karena Fang selalu
bersama Yaya, itu sebabnya banyak orang yang menganggap Fang
anak miskin. Tapi, Yaya pernah melihat sebagian teman sekelasnya
mengajak Fang untuk makan bersama, tentunya dengan Fang yang
membayar makanan mereka. Ah, Fang ternyata hanya dimanfaatkan
oleh mereka.
“Hey, Aya! Kau tidak apa-apa?” Fang melihat sahabatnya itu malah
melamun.
“Eh, ya! Aku baik-baik saja. Ayo, kita ke perpustakaan!”
“Lets go!!” Ucap Fang semangat.
*FLASHBACK OFF*
Yaya berjalan gontai menuju lokernya. Hari ini ia cuti bekerja,
jadwalnya hanya dari hari senin sampai hari kamis. Senang sekali
akhirnya besok sekolah libur. Hari sabtu dan minggu adalah hari yang
selalu Yaya tunggu-tunggu. Ia tak perlu pergi bekerja, ia tak perlu pergi
sekolah, ia juga tak perlu disiksa oleh mereka. Meski hanya 2 hari Yaya
merasakan kebebasan, ia merasa sedikit senang. Setidaknya ia masih
bisa mendapat waktu untuk mengahabiskan hari liburnya dengan berada
di rumah. Membantu ibunya, belajar, dan bermain bersama sang adik.
Cklek!
Yaya memandang pilu isi lokernya yang sudah sudah berantakan. Loker
untuk murid yang mendapat COS memang ‘istimewa’. Pintu loker
mereka tidak dikunci. Siapapun bisa saja mengambil sesuatu di loker
tersebut. Tapi, sepertinya tidak ada yang berani selain anak buah
suruhan geng Halilintar.
Yaya kemudian memungut buku-buku yang terjatuh, dan
memasukkannya ke dalam tas. Ini benar-benar keterlaluan, kenapa
mereka sampai setega itu padanya? Bisakah ia bertahan untuk 2 tahun ke
depan?
“Ah aku harus segera pulang. Ibu pasti sudah menunggu!” Gumamnya
pada diri sendiri.
Yaya kemudian bergegas pergi setelah menutup pintu lokernya. Tak
sadar jika ada seseorang yang sudah memperhatikannya dari tadi.
••••••••••
*FLASHBACK ON*
Fang dan Yaya baru saja selesai membawa jatah makan siang mereka di
Cafetaria. Mereka berdua hendak berjalan mencari kursi yang kosong
untuk mereka duduki. Tapi, karena terlalu senang menjaili Yaya, Fang
tidak sengaja menabrak seseorang di depannya.
"Maaf, maaf. Aku minta maaf." Ucap Fang.
Lelaki itu buru-buru membersihkan makanannya yang terjatuh mengenai
sepatu high heels berwarna hitam itu. Yaya ikut berjongkok, membantu
Fang membersihkan noda-noda makanannya.
"Berdirilah." Ucap gadis yang tak sengaja Fang tabrak tadi.
Fang dan Yaya kemudian berdiri. Menatap ke arah gadis cantik di depan
mereka.
"Maaf, aku tidak sengaja. Sungguh." Ucap Fang kemudian
menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati." Ucap gadis itu.
Fang kemudian mengangkat kembali pandangannya dan melihat gadis
itu sudah berjalan keluar dari Cafetaria.
"Kau sih, jangan suka jail padaku. Kan, jadi menabrak orang lain." Ucap
Yaya.
"Iya, nanti aku akan lebih hati-hati saat menjailimu, Yaya. Hahaha."
"Ish, Fang~" Ucap Yaya sebal.
••••••••••
"Yaya, ada yang ingin aku ceritakan padamu." Fang memulai
pembicaraan.
Saat ini, Fang dan Yaya sedang berada di rooftop sekolah. Tempat
favorit mereka yang sering sekali mereka kunjungi.
"Apa itu?"
"Kau... Apa kau tahu siapa gadis yang waktu itu tidak sengaja aku
tabrak?" Tanya Fang.
Yaya menautkan kedua alisnya bingung. Sedikit mengingat-ingat gadis
yang Fang bicarakan.
"Ah itu. Yang ku tahu namanya Ying. Kakak kelas kita. Kalau tidak
salah kelas 12-A, ketua cheers juga." Ucap Yaya.
"12-A? Serius? Itu kan kelas paling istimewa." Fang terkejut.
Yaya menganggukkan kepalanya. Ya, 12-A adalah kelas paling
istimewa di sekolah ini. Kelas yang dihuni oleh siswa-siswi kalangan
atas, termasuk kembar Boboiboy dan Gopal.
"Ada apa? Kenapa menanyakan itu?" Tanya Yaya.
Fang kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Terlihat salah
tingkah. Apa jangan-jangan?
"Kau menyukai senior Ying ya?" Tanya Yaya menggoda.
"Mana ada!" Fang membantah.
Yaya kemudian tertawa.
"Tidak apa-apa, jujur saja padaku. Aku ini sahabatmu tahu."
"Huft, baiklah. Setidaknya ada 1 orang yang tahu kalau aku menyukai
senior Ying." Ucap Fang.
"Kau serius?" Tanya Yaya terkejut.
"Hmm. Tapi belum terlalu sih, aku menyukainya karena dia baik, cantik
lagi, hehehe. Ku pikir saat aku tak sengaja menabraknya, dia akan marah
padaku. Tapi ternyata tidak." Jelas Fang.
"Aku akan selalu mendukungmu, Fang." Ucap Yaya.
"Terima kasih. Sekarang beri tahu aku, apakah ada seseorang yang kau
suka?" Giliran Fang yang bertanya pada Yaya.
Yaya kemudian menundukkan kepalanya. Terlihat tersipu malu.
"Eyy, beri tahu aku siapa lelaki beruntung yang telah dicintai oleh
sahabat kecilku ini?" Fang menggoda Yaya.
*FLASHBACK OFF*
TBC