BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Life Cycle Analysis (LCA)
Life Cycle Assessment (LCA) adalah suatu pendekatan “cradle to grave”
mencakup keseluruhan dari daur hidup produk, yaitu: proses, pengekstrakan,
pemrosesan bahan mentah, pemanukfakuran, transportasi dan distribusi,
penggunaan/penggunaan ulang/pemeliharaan, daur ulang, dan penyelesaian
akhir. Life Cycle Analysis (LCA) atau sering juga disebut Life Cycle
Assessment merupakan sebuah metode berbasis cradle to grave (analisis
keseluruhan siklus dari proses produksi hingga pengolahan limbah) yang
digunakan untuk mengetahui jumlah energi, biaya, dan dampak lingkungan
yang disebabkan oleh tahapan daur hidup produk dimulai dari saat
pengambilan bahan baku sampai dengan produk itu selesai digunakan oleh
konsumen.
Penilaian Daur Hidup atau Life Cycle Assessment (LCA) berdasarkan SNI
ISO 14040:2016 dan SNI ISO 14044:2017 merupakan kompilasi dan evaluasi
masukan, keluaran dan dampak lingkungan potensial dari sistem produk di
seluruh daur hidupnya. LCA merupakan pendekatan dari hulu ke hilir atau
cradle to grave untuk menilai suatu sistem produk secara kuantitatif.
Dengan melakukan penilaian daur hidup, pengambil keputusan dapat
mempunyai dasar yang berbasis data dan fakta dalam mengambil keputusan.
LCA dapat digunakan mulai dari perancangan produk, pengembangan proses
produksi yang lebih baik, inovasi produk dan proses, meningkatkan sistem
manajemen lingkungan, pemilihan produk atau proses serta pemilihan
pemasok, mengomunikasikan informasi lingkungan untuk produk yang
dihasilkan oleh perusahaan, penetapan strategi perusahaan, sampai
pengambilan keputusan untuk kebijakan dalam pemerintahan. LCA
merupakan suatu alat ukur kuantitatif untuk pembangunan berkelanjutan.
Konsep dasar dari Life Cycle Assessment (LCA) ini didasarkan pada
pemikiran bahwa suatu sistem industri tidak lepas kaitannya dengan
lingkungan tempat industri itu berada. Dalam suatu sistem industri terdapat
input dan output. Input dalam sistem adalah material-material yang diambil
dari lingkungan dan output nya akan dibuang ke lingkungan kembali. Input
dan output dari sistem industri ini tentu saja akan memberi dampak terhadap
lingkungan. Pengambilan material (input) yang berlebihan akan
menyebabkan semakin berkurangnya persediaan material, sedangkan hasil
keluaran dari sistem industri yang bisa berupalimbah (padat, cair, udara) akan
banyak memberi dampak negatif terhadap [Link] karena itu Life
Cycle Assessment (LCA) berusaha untuk melakukan evaluasi untuk
meminimumkan pengambilan material dari lingkungan dan juga
meminimumkan limbah industri.
LCA secara umum juga merupakan metode untuk mengidentifikasi dan
menghitung penggunaan energi, penggunaan sumber daya alam, pembuangan
pada lingkungan, serta mengevaluasi dan menerapkan kemungkingan
perbaikan lingkungan. Oleh karena itu, LCA dapat digunakan untuk
membantu strategi dalam pembuatan keputusan, untuk meningkatkan kualitas
produk dan proses serta mempelajari aspek lingkungan dari suatu produk.
Elemen utama dari Life Cycle Assessment (LCA) antara lain :
1. Mengidentifikasi dan mengkuantifikasikan semua bahan yang terlibat,
misalnya energi dan bahan baku yang dikonsumsi, emisi dan limbah yang
dihasilkan.
2. Mengevaluasi dampak yang potensial dari bahan-bahan tersebut terhadap
lingkungan.
3. Mengkaji beberapa pilihan yang ada untuk menurunkan dampak tersebut.
2.2 Prinsip Life Cycle Assessment (LCA)
Life Cycle Assessment (LCA) dapat dicirikan oleh prinsip berikut:
1. Siklus Hidup Perspektif: Life Cycle Assessment (LCA)
mempertimbangkan seluruh siklus hidup fisik dari suatu produk (atau jasa)
sistem, dari ekstraksi bahan baku, lebih dari energi dan material produksi,
manufaktur, penggunaan dan akhir operasi kehidupan. Melalui pergeseran
antara tahapan siklus hidup atau proses individu seperti beban perspektif
dapat diidentifikasi dan dihindari.
2. Kelengkapan: Life Cycle Assessment (LCA) idealnya mencakup semua
aspek lingkungan, seperti ekstraksi bahan baku, ekologis integritas sistem,
dan pertimbangan kesehatan manusia. Dengan memasukkan semua aspek
menjadi satu penilaian umum, trade-off dapat diidentifikasi.
3. Transparansi: Karena kompleksitas yang melekat dalam penilaian sistem
Life Cycle Assessment (LCA), transparansi merupakan prinsip penting
dalam melaksanakan studi Life Cycle Assessment (LCA), dalam rangka
untuk memastikan interpretasi yang tepat atas hasil.
4. Fleksibilitas: Standar ini memberikan prinsip-prinsip dan pedoman untuk
keseluruhan Life Cycle Assessment (LCA). Metodologi ini memungkinkan
spesifik studi fleksibilitas Life Cycle Assessment (LCA) yang cukup dalam
menerapkan standar ini tetap menjaga kerangka metodologis umum.
5. Sifat iteratif: Life Cycle Assessment (LCA) terdiri dari empat tahap yaitu
tujuan dan ruang lingkup, Life Cycle Inventory (LCI), Life Cycle Impact
Assessment (LCIA), dan Interpretasi. Standar ini mendefinisikan Life
Cycle Assessment (LCA) sebagai siklus di alam, di mana fase individu dari
Life Cycle Assessment (LCA) hasil penggunaan fase yang sebelumnya dan
mengharuskan pengguna standar untuk terus mengamati tujuan tertentu
dan ruang lingkup penelitian. Pendekatan berulang di antara fase dalam
Life Cycle Assessment (LCA) adalah penting, karena memberikan
kontribusi terhadap kelengkapan dan konsistensi penelitian dan hasil yang
dilaporkan.
6. Fokus Lingkungan: Life Cycle Assessment (LCA) mempelajari aspek
lingkungan dari sistem produk. Biasanya aspek ekonomi dan sosial berada
di luar penelitian. Pada saat yang sama Life Cycle Assessment (LCA)
memberikan perspektif sistem, sehingga alat-alat analisis lain mungkin
merujuk pada studi Life Cycle Assessment (LCA) untuk penilaian
lingkungan yang lebih lengkap daripada yang disediakan oleh situs atau
perspektif emisi individu.
7. Berbasis Sains: metodologi Life Cycle Assessment (LCA) dan studi Life
Cycle Assessment (LCA) harus berdasarkan ilmu. Sementara keadaan
pengetahuan ilmiah selalu berubah, studi Life Cycle Assessment (LCA)
adalah snapshot dari keadaan tertentu pengetahuan pada waktu tertentu.
8. Relatif Alam: Life Cycle Assessment (LCA) berhubungan aspek
lingkungan ke sistem produk. Semua temuan diukur dan dinyatakan dalam
aspek lingkungan per unit referensi. Selain itu, Life Cycle Assessment
(LCA) berkaitan dengan suatu aspek penilaian siklus hidup produk
terhadap dampak zat, seperti setara GRK, yang dinyatakan dalam satuan
setara karbon dioksida (CO2).
9. Potensi Dampak Lingkungan: Life Cycle Assessment (LCA) hanya
mempelajari dampak lingkungan yang potensial. Karena dampak relatif ke
unit referensi, integrasi rilis lingkungan atas ruang dan waktu,
ketidakpastian yang melekat dalam pemodelan dampak lingkungan, dan
fakta bahwa beberapa dampak yang cukup jelas terhadap dampak masa
depan, semua dampak yang bersifat potensial.
Adapun prinsip Life Cycle Assessment (LCA) lainnya menurut Pujadi (2013)
adalah sebagai berikut:
1. Melihat siklus hidup sebagai suatu perspektif, dengan kata lain
mempertimbangkan seluruh siklus hidup fisik dari suatu produk (atau
jasa), mulai dari ekstraksi bahan baku, pemakaian energi dan material
produksi, proses produksi, penggunaan produk, sampai akhir hidup produk
tersebut. Perspektif yang lainnya adalah melihat siklus hidup pada suatu
proses tertentu yang sekarang ini banyak dilakukan sebagai penelitian.
2. Mencakup semua aspek lingkungan menjadi satu penilaian umum
sehingga dampak lingkungan dapat diidentifikasi.
3. Memberikan transparansi dalam rangka memastikan interpretasi yang tepat
atas hasil yang didapatkan oleh perhitungan.
4. Bersifat iteratif karena terdiri dari empat tahapan yaitu penentuan tujuan
dan ruang lingkup penelitian, Life Cycle Inventory (LCI), Life Cycle
Impact Assessment (LCIA), dan interpretasi.
5. Berfokus kepada lingkungan dengan mempelajari aspek lingkungan dari
sistem produk dan mengesampingkan aspek ekonomi dan sosial ke luar
penelitian
6. Merupakan metode yang berbasis ilmu pengetahuan meskipun keadaan
ilmiah selalu berubah. LCA memberikan gambaran dari keadaan tertentu
pada waktu tertentu.
2.3 Manfaat Life-Cycle Assessment (LCA)
Beberapa manfaat atau nilai penting dari life-cycle assessment antara lain:
a) Mengembangkan evaluasi sistematis dari konsekuensi lingkungan terkait
dengan proses suatu produk (Tukker, A., 2000),
b) Menganalisis trade-off lingkungan terkait dengan satu atau lebih produk
atau proses untuk membantu mendapatkan masukan terhadap tindakan
yang direncanakan (Vink et al., 2003),
c) Mengukur siklus kehidupan atau proses yang berkontribusi utama
menghasilkan dampak lingkungan ke udara, air, dan tanah (Miettinen &
Hamalainen, 1997; Fernando et al., 2015),
d) Menilai dampak manusia dan ekologis dari konsumsi material dan
pelepasan lingkungan dalam komunitas lokal, wilayah, dan dunia (Frankl
& Rubik, 1999),
e) Membandingkan dan mengidentifikasi dampak kesehatan serta ekologis
antara dua atau lebih produk atau proses tertentu dan area lingkungan
spesifik yang menjadi perhatian.
2.4 Karakteristik dan Batasan Life Cycle Assessment (LCA)
Life Cycle Assessment (LCA) memiliki karakteristik dan batasan untuk
menilai siklus hidup, adapun batasan tersebut adalah sebagai berikut (Pujadi,
2013):
a. Karakteristik utama dari LCA adalah sifat analisis secara menyeluruh dan
lengkap yang menjadi kekuatan utama metode ini.
b. LCA tidak dapat mengukur suatu dampak lokal. LCA tidak menyediakan
kerangka untuk sebuah studi penilaian dampak lokal di tempat yang
spesifik.
c. Metode LCA berfokus pada karakteristik fisik dari aktivitas industri dan
proses ekonomi lainnya, dan tidak termasuk mekanisme pasar atau efek
lain dalam pengembangan teknologi.
d. LCA hanya berfokus pada aspek lingkungan dan tidak berkaitan dengan
aspek ekonomi, aspek sosial, maupun aspek lainnya.
e. LCA adalah sebuah alat analitis yang digunakan untuk menyediakan
informasi untuk mendukung keputusan, namun LCA tidak dapat
menggantikan proses pengambilan keputusan itu sendiri
2.5 Kelebihan Life Cycle Assessment (LCA)
1. LCA menilai sistem dan memberikan hasil analisis yang luas dan lebih
komprehensif
2. LCA menawarkan hasil analisis siklus hidup yang selanjutnya dapat
digunakan untuk perbaikan sistem, hasil analisis yang dihasilkan dapat
berupa dampak lingkungan maupun dominansi substansi kontributor yang
menyebabkan dampak lingkungan itu menjadi tinggi
3. Secara khusus, LCA dalam pengelolaan limbah menunjukkan manfaat
lingkungan yang dapat diperoleh melalui pengelolaan limbah dengan cara
tertentu
2.6 Langkah-langkah Life Cycle Assessment (LCA)
Setiap langkah LCA dijelaskan dalam standar internasional (ISO 14040,
ISO 14041). Langkah ini senantiasa berulang, di mana tingkat dari detail dan
usaha akan tergantung pada tujuan penelitian (World Business Council for
Sustainable Development, 2002). Langkah-langkah tersebut adalah:
Langkah 1 (Tujuan dan cakupan (Goal and Scoping))
Langkah pertama dalam LCA adalah menentukan ruang lingkup dan
batasan dari pembahasan. Langkah ini dinamakan goal and scope
definition. Pada tahap ini, alasan untuk melaksanakan LCA
diidentifikasikan: penentuan produk, proses, maupun pelayanan yang akan
dipelajari; pemilihan unit fungsional dari produk; penentuan pilihan
tentang batasan sistem, termasuk batasan ruang maupun waktu. Yaitu,
inventarisasi kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak
penting yang ditimbulkan oleh proses atauproduk tertentu terhadap
lingkungan.
Batasan sistem menentukan unit proses mana yang tercakup dalam
pembahasan LCA dan batasan tersebut harus mencerminkan tujuan dari
pembahasan. Kesimpulannnya, tahap ini mencakup deskripsi dari metode
yang diaplikasikan untuk memperkirakan potensi dampak lingkungan dan
dampak mana yang akan diperhitungkan.
Langkah 2 (Analisis inventori (Inventory Analysis)
Langkah kedua dalam life-cycle assessment adalah menginventrisasikan
input, seperti bahan baku dan energi, dan output, seperti produk, produk
samping, limbah, dan emisi, yang terjadi dan digunakan sepanjang daur
hidupnya. Analisis inventori merupakan bagian LCA yang berisi inventori
input yang berupa energi maupun bahan baku, dan output emisi maupun
limbah. Emisi yang dimaksud disini adalah senyawa yang dilepaskan ke
lingkungan, baik ke udara, ke badan air, maupun ke tanah Pada proses ini
dilakukan pengumpulan data kuantitatif untuk menentukan level atau tipe
input energi maupun material pada suatu sistem industri dan hasil yang di
lepaskan kelingkungan. Langkah ini terkadang membutuhkan porsi waktu
dan data paling banyak di antara langkah-Langkah yang lain.
Langkah 3 (Penakaran dampak (Impact Assessment)
Hasil dari langkah life-cycle inventory merupakan kumpulan
bahan/material yang terkandung dari setiap bahan yang digunakan atau
yang dikeluarkan. Untuk mengubah tiap elemen dalam inventarisasi
tersebut menjadi suatu kajian kualitatif terhadap kondisi lingkungan maka
memerlukan suatu langkah untuk memperkirakan dampak lingkungan
yang merupakan akibat dari emisi dan bahan yang digunakan. Sehingga,
langkah ketiga ini adalah untuk memperkirakan dampak lingkungan dari
semua input dan output yang sudah terkumpul dalam inventaris tahap dua.
Langkah ini disebut life-cycle impact analysis. Penakaran dampak
digunakan untuk menganalisis dampak suatu proses terhadap lingkungan
dan kesehatan manusia yang telah didata secara kuantitatif pada penakaran
inventori. Dalam pengklasifikasian, data inventori yang dihubungkan
dengan efek potensi terhadap ekologi dan kesehatan manusia ditempatkan
dalam kategori-kategori khusus. Contoh: indikator kategori untuk dampak
potensi pemanasan global adalah CO2-ekuivalen. Hasil perhitungan dari
penilaian dampak daur hidup adalah nilai karakterisasi.
Langkah 4 (Interpretasi atau analisis perbaikan (Improvement Analysis)
Langkah keempat dalam life-cycle assessment adalah untuk
menginterpretasikan hasil dari langkah ketiga, bila mungkin disertakan
saran untuk langkah perbaikan. Jika life-cycle assessment ditujukan untuk
membandingkan produk, langkah ini bisa berisi tentang rekomendasi
produk yang paling ramah terhadap lingkungan. Jika hanya satu produk
yang dianalisis, saran untuk memodifikasi produk bisa ditambahkan dalam
tahap ini. Langkah keempat ini disebut improvement analysis atau
interpretation step. (Pada tahapan ini dilakukan interpretasi hasil, evaluasi,
dan analisis terhadap usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk perbaikan).
Tingkatan amatan dalam Life Cycle Assessment
Tingakatan amatan yang diamati dalam LCA adalah sebagai berikut:
1. Geografis
Tempat pelaksanaan aktivitas manufaktur berpengaruh besar terhadap
dampak yang dihasilkan terhadap lingkungan. Proses produksi yang
dilakukan di tempat berbeda akan menghasilkan emisi yang berbeda.
2. Ekstraksi bahan baku
Siklus hidup produk dimulai dengan perpindahan bahan bakudan sumber
energi dari bumi (EPA, 2006)
3. Material processing dan manufaktur
Proses yang terjadi adalah penentuan bahan yang dijadikan produk, proses
manufaktur dari raw material hingga menjadi produk yang didistribusikan
kepada konsumen. Terdapat 3 bagian pada material processing dan
manufaktur yakni:
- Material manufacture
Melibatkan aktivitas yang mengubah raw material menjadi suatu produk.
- Product fabrication
Merupakan bagian dimana produk yang sudah jadi sudah siap untuk diisi
atau dikemas.
- Filling packaging distribution
Merupakan bagian akhir dan persiapan untuk dikirim (EPA, 2006).
4. Use re-use maintenance
Setelah didistribusikan pada konsumen, seluruh aktivitas yang berhubungan
dengan waktu turut diperhitungkan (EPA, 2006).
5. Recycle waste management
Pada tahap ini memperhitungkan kebutuhan energi dan buangan ke
lingkungan (EPA, 2006).
Batas-batas Sistem di Dalam Studi LCA
Ada empat pilihan utama untuk menentukan batas-batas sistem yang
digunakan berdasarkan standard ISO 14044 didalam sebuah studi LCA: (1) Cradle
to grave: termasuk bahan dan rantai produksi energi semua proses dari ekstraksi
bahan baku melalui tahap produksi, transportasi dan penggunaan hingga produk
akhir dalam siklus hidupnya. (2) Cradle to gate: meliputi semua proses dari
ekstraksi bahan baku melalui tahap produksi (proses dalam pabrik), digunakan
untuk menentukan dampak lingkungan dari suatu produksi sebuah produk. (3)
Gate to grave: meliputi proses dari penggunaan pasca produksi sampai pada akhir-
fase kehidupan siklus hidupnya, digunakan untuk menentukan dampak
lingkungan dari produk tersebut setelah meninggalkan pabrik. (4) Gate to gate:
meliputi proses dari tahap produksi saja, digunakan untuk menentukan dampak
lingkungan dari langkah produksi atau proses.
2.7 Keuntungan dan Kerugian menggunakan Life Cycle Assessment (LCA)
Penerapan life-cycle assessment memberikan manfaat dari segi informasi
dalam pengambilan keputusan yang besar bagi produsen dan
marketers,antara lain:
1. Informasi untuk bagian eksternal; Desain atau redesign produk dan proses
produksi, pemilihan bahan, life-cycle management, dan perencanaan yang
strategis.
Shareholders berpengaruh pada investasi mereka
Konsumen menilai atau mengkaji produk
Kelompok penekan yang berkenaan dengan pengaruh lingkungan
organisasi
Pembuat kebijakan memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap
produk
Pihak lain yang berkepentingan seperti investor
Badan pengatur ekollabel
Badan pengatur eko audit
2. Informasi untuk bagian internal; Environmental labeling, environmental
procurement, dan penentuan kebijakan public.
Membuat dasar informasi yang luas, pada semua produk sumber
kebutuhan dan pengeluaran
Membantu untuk menentukan prioritas pada tindakan peduli
lingkungan.
Menyediakan manajer dengan informasi untuk mengatur target
dan tindakan lingkungan yang berhubungan dan perbuatan atau
tindakan.
Sebagai pedoman perkembangan produk
Menyediakan dasar untuk tuntutan pemasangan iklan latihan
hubungan masyarakat
Sebagai bagian dari proses audit suplier
Membantu dalam memilih operasi praktek lingkungan yang terbaik.
Beberapa pihak yang dapat menerapkan life-cycle assessment antara lain :
perancang produk dan produsen barang (pabrik)
pemegang saham, ahli keuangan (akuntan), dan pihak asuransi
pelanggan
LSM lingkungan dan lembaga pelindung konsumen
Pembuat kebijakan atau pemerintah
Life-cycle assessment juga mempunyai beberapa kelemahan dalam
pelaksanaannya. Beberapa kelemahan tersebut sebagai berikut:
Menyita waktu
Biaya yang cukup besar
Rawan konflik
Keterbatasan data : ketersediaan dan kualitas data life-cycle inventory
Permasalahan tentang metodologi : masih sedikitnya pihak yang setuju
tentang metodologi analisis dampak
Tidak Semua dampak lingkungan diperhatikan dan dipertimbangkan
Kesulitan dalam menginterpretasikan data kuantitatif menjadi dampak
lingkungan yang ditimbulkan: ketidakpastian dalam inventarisasi dan
dalam metodologi analisis dampak
Perbedaan dalam perumusan LCA yang akan menyebabkan hasil analisis
yang berbeda pula.
2.8 Pelaksanaan Life Cycle Assessment (LCA) di Perusahaan Minuman
Isotonik Mizone
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Simon Pieter Hamonangan
dkk tentang Evaluasi Dampak Proses Produksi dan Pengolahan Limbah
Minuman Isotonik Mizone Terhadap Lingkungan menghasilkan beberapa poin
penting, diantaranya :
1. Dari tahap Life Cycle Impact Assessment (LCIA) yang telah dilakukan,
dampak yang ditimbulkan dari proses produksi dan pengolahan limbah
produk minuman isotonik Mizone diketahui dan dibagi menjadi beberapa
kategori. Kategori-kategori tersebut didapatkan berdasarkan metode
EDIP/UMIP 97 versi 2.04 dalam perhitungan yang dibantu dengan
software SimaPro 7.1.8. Kategori-kategori dampak yang ditimbulkan
adalah potensi pemanasan global, penipisan lapisan ozon, pengasaman,
eutrofikasi, asap fotokimia, pencemaran air, pencemaran tanah, limbah
berbahaya, dan abu.
2. Melalui tahap perhitungan yang dilakukan maka diketahui bersaran
dampak lingkungan yang dihasilkan dari proses produksi dan juga proses
pengolahan limbah produk minuman isotonik Mizone. Proses produksi
minuman isotonik Mizone menghasilkan dampak terbesar yaitu
pencemaran terhadap air sebesar 247.2998 dan diikuti oleh kategori
terbesar kedua yaitu pencemaran tanah sebesar 108.86949. Hasil tersebut
disebabkan oleh besarnya volume penggunaan air sebagai bahan baku
utama produksi yang tidak dapat dimanfaatkan menjadi produk, dimana
4,7 juta liter air yang digunakan sebagai bahan baku, hanya sekitar 1,1 juta
liter air yang menjadi produk Mizone. Pencemaran air juga mempengaruhi
pencemaran tanah dan mengakibatkan kategori dampak pencemaran tanah
juga bernilai besar. Proses pengolahan limbah minuman isotonik Mizone
menghasilkan dampak tertinggi pada pencemaran tanah sebesar 206.4119
dan diikuti oleh kategori terbesar kedua yaitu potensi pemanasan global
sebesar 46.113355. Tingginya nilai kategori dampak pencemaran tanah ini
disebabkan oleh pencemaran tanah yang dipengaruhi oleh lumpur yang
dihasilkan dari proses pengolahan limbah, sedangkan kategori dampak
pemanasan global disebabkan oleh penggunaan energi untuk proses
pengolahan limbah dan juga gas metan yang dihasilkan oleh proses
pengolahan limbah secara anaerob.
3. Rekomendasi yang dapat diberikan untuk meminimalkan dampak
lingkungan yang dihasilkan dari proses produksi dan proses pengolahan
limbah Mizone adalah sebagai berikut:
- Melakukan perawatan mesin secara berkala agar tidak terjadi masalah-
masalah yang menghambat proses produksi. Hal ini dianggap penting
agar tidak banyak produk yang menjadi reject akibat mesin-mesin
yang tidak bekerja secara optimal dan juga tidak membuang energi
dengan sia-sia untuk melakukan proses ulang terhadap produk reject
tersebut.
- Penggantian penggunaan bahan baku untuk boiler pada proses
pasteurisasi dalam proses produksi Mizone dari solar menjadi biosolar.
Penggunaan biosolar akan mengurangi produksi emisi CO2 sebesar
78.5% dan tidak akan menghasilkan sulfur dioksida karena biosolar
dibuat dari bahan-bahan terbarukan dan alami. Penggunaan biosolar
akan mengurangi penyebab fenomena gas rumah kaca dan juga lebih
ramah terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
- Melakukan pertimbangan mengenai subtitusi bahan kemasan PET
menjadi berbahan karton. Penggunaan kemasan karton lebih ramah
lingkungan jika dibandingkan dengan penggunaan kemasan plastik
PET, selain itu kemasan karton juga terbuat dari bahan alami yang
terbarukan.
- Mengganti proses pengolahan limbah yang tadinya secara aerob dan
anaerob menjadi pengolahan limbah secara aerob saja. Proses
pengolahan limbah secara aerob terbukti lebih efektif dan juga lebih
ramah lingkungan dibandingkan dengan pengolahan limbah secara
anaerob meskipun penanganan yang dibutuhkan lebih rumit dan biaya
operasional yang dikeluarkan akan lebih besar.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan.
Pedoman Penyusunan Laporan Penilaian Daur Hidup (LCA). Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. 2021.
Harjanto, TR., Fahrurrozi, M., Bendiyasa, IM. Life Cycle Assessment Pabrik
Semen PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap: Komparasi antara Bahan
Bakar Batubara dengan Biomassa. Yogyakarta: Jurnal Rekayasa Proses.
2012. Vol. 6, No. 2.
Irawati DY, Kurniawati M. Life Cycle Assessment dan Life Cycle Cost untuk
Serat Kenaf. J Rekayasa Sist Ind. 2020;9(3):213–24.
Pringgajaya, KA., Ciptomulyono, U. Implementasi Life Cycle Assessment (LCA)
dan Pendekatan Analytical Network Process (ANP) untuk Pengembangan
Produk Hetric Lamp yang Ramah Lingkungan. Surabaya: Jurnal Teknik
ITS. 2012. Vol. 1, No. 1.
Pujadi, Yola M. Analisis Sustainability Packaging dengan Metode Life Cycle
Assessment ( LCA ). UIN Sultan Syarif Kasim Riau. 2013;1:1–127.
Siregar K, Tambunan AH, Irwanto AK, Wirawan SS, Araki T, Chaerul M, et al.
Life Cycle Assessment (Lca) Emisi Pada Proses Produksi Bahan Bakar
Minyak (Bbm) Jenis Bensin Dengan Pendekatan Analytical Hierarchy
Process (Ahp). J Serambi Eng [Internet]. 2019;65(1):816–23. Available
from: [Link]
Hamonangan, S. P., Handayani, N. U., & Bakhtiar, A. (2017). Evaluasi Dampak
Proses Produksi dan Pengolahan Limbah Minuman Isotonik Mizon
Terhadap Lingkungan dengan Metode Life Cycle Assessment. Industrial
Engineering Online Journal, 6(2), 1–14.
Sudibya, Alfian hayu, dkk. 2020. Simulasi Life Cycle Assessment (LCA) Proses
Produksi Gula di Brazil dengan OpenLCA. Prosiding Seminar Nasional
Teknik Kimia “Kejuangan”. 1-4.
Ula, Rahmah Arfiyah, dkk. 2021. Life Cycle Assessment (LCA) Pengelolaan
Sampah di TPA Gunung Panggung Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Jurnal
Teknologi Lingkungan. 22(2): 147-161.