BERJUANG MENEGAKKAN KEDAULATAN NKRI
Disusun Oleh :
KELOMPOK 3
1. Aldi Bagus Kurniawan
2. Cantikarisma Putri Maharani
3. Erik Gilang Saputra
4. Lia Septi Puspita Sari
5. Sandy Malik Maharsa
6. Tady Kusuma
A. Perkembangan dan Tantangan di Awal Kemerdekaan
Indonesia
1. Kondisi Awal Indonesia Pasca-Proklamasi Kemerdekaan
Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, kondisi negara masih belum stabil. Banyak
permasalah yang belum diatasi. Ketidaksetabilan ini diperparah dengan datangnya
Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang bertugas mengembalikan pemerintahan
sipil dan hukum pemerintah colonial Hindia Belanda.
Beredarnya uang Hinda Belanda, uang Jepang, dan uang De Javasche Bank menyebabkan
inflasi di Indonesia tinggi. Sementara itu, diskriminasi mulai hilang dan pemerintah mulai
menyelenggarakan pendidikan yang diselaraskan dengan sila kemerdekaan.
2. Kedatangan Pasukan AFNEI (Sekutu) yang Membawa Pasukan NICA
(Belanda)
Setelah perang dunia II,terjadi perundingan belanda dan ingris di London, inggris yang
menghasilkan Civil Affairs Agreement. Isi Civil tentang pengaturan penyerahan kembali dari
pihak inggris kepada belanda
Semua yang bertanggung jawab atas pendudukan kembali atas Indonesia, kecuali wilayah
Sumatra adalh amerika serikat dengan komando SWPAC. Namun, berdasarkan persetujuan
postdam isi Civil Affairs (perjanjian inggris dan belanda) di perluas. Tugas tentara AFNEI di
Indonesia adalah menerima penyerahan tantara Jepang tanpa syarat; membesakan para
tawanan perang dan intermiran sekutu; melucuti dan mengumpulkan orang orang jepang
untuk di pulangkan ke negrinya; menegakkan dan mempertahankan keadaan damai,
meciptakan ketertiban, dan keamanan,untuk kemudian di serahkan kepada pemerintahan
sipil; serta mengumpulkan keterangan tentang penjahat perang untuk kemudian di adili
sesuai hokum yang berlaku.
Pasukan Inggris yang tergabung AFNEI dibagi menjadi Tiga Divisi yaitu divisi India ke-23 di
Bawah pimpinan Mayor Jendral D.C Hawthorn bertugas di Jawa bagian Barat yang berpusat
di Jakarta Divisi India kelima dibawah Komando Mayor Jendral E.C mansergh bertugas di
Jawa Bagian Timur yang berpusat di Surabaya divisi india ke-26 dibawah, Komando Mayor
Jendral chambers bertugas di Sumatra yang berpusat di medan.
AFNEI pada tgl 16 september 1945 dibawah komando panglima skuardon v penjajah
ingris laksamanamuda [Link] dg memakai kapal Cumberland mendarat di
pelabuhan tanjung priok Jakarta.
3. Usaha Perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Berbagai ancaman dan hambatan, bangsa Indonesia terus berupaya untuk
mempertahankan kemerdekaan. Adapun perjuangan-perjuangan yang dilakukan untuk
mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebagai berikut.
A. Pertempuran lima hari di Semarang
Pertempuran yang terjadi pada tanggal 15 oktober 1945 dan berakhir pada tanggal 20
oktober 1945 ini terjadi antara warga Semarang melawan tentara Jepang . Pertempuran
lima hari di Semarang ini terjadi ketika amarah para pemuda tersulut oleh kabar tewasnya
[Link] oleh tentara Jepang, di mana [Link] pada waktu itu tengah melakukan
perjalanan ke reservoir siranda guna memastikan bahwa Jepang telah meracunisumber air
tersebut.
B. Pertempuran Kota Baru Di Yogyakarta
Pertempuran tgl 7 oktober 1945,sejarah mencatat keberanian pemuda Yogyakarta
bersenjatakan seadanya menyerang markas tentara jepang,yaitu Osha butai di kota baru.
Markas tersebut kini di manfaatkan sebagai asrama TNI Angkatan darat yang letaknya di
sebelah timur stadion Kridosono.
Mereka tidak mau menyerah ,meskipun jepang sudah menyatakan menyerah pada
sekutu.
C. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya
Terjadinya perang di Surabaya berawal dari insiden meningalnya Jendral A.W.S. Mallaby
pd tgl 30 oktober 1945 di dekat jembatan Merah,Surabaya.
Pada tanggal 9 November 1945 Jenderal Mansergh mengerluarkan ultimatum tersebut
untuk kembali kepada para pemuda Surabaya untuk menyerahkan semua kejahatannya.
Akibatnya, pada tanggal 10 November 1945, Inggris menyerang Surabaya secara besar
besaran. Para pemuda menyambut dengan kekuatan senjata. Pengalaman dan peralatan
senjata sekutu (AFNEI) yang sangat unggul tidak menyurutkan nyali pemuda Surabaya
Untuk mengenang dan mempringati semangat kepahlawanan pemuda Surabaya, maka
tangggal 10 November di tetapkan sebagi hari Pahlawan.
D. Pertempuran Medan Area
Pada tanggal 10 Desember 1945 tentara sekutu melancarkan aksi militer secara besar
besaran dengan mengikut sertakan pesawat tempurnya. Seluruh wilayah Medan dijadikan
sasaran sehingga walikota Medan dan TKR untuk sementara waktu menyingkir ke Pematang
Siantar. Pertempuran di Medan dan sekitarnya ini di kenal dengan sebutan pertempuran
Medan area.
Hal ini mengundang kemarahan para pemuda. Pada tanggal 18 oktober 1945 brigadir
jendral T.E.D Kelly memberikan ultimatum kepada pemuda medan agar menyerah kan
senjatanya.
E. Pertempuran Ambarawa
Pertempuran ambarawa menyebabkan gugurnya letcol isdiman, komandan resimen
[Link] lekol isdian di gantikan oleh letkol sudirman. Kehadiran letkol sudirman
memerikan nafas baru kepada pasukan pasukan RI.
Tanggal 21 november 1945 pasukan sekutu mundur dari magelang ke ambarawa.
Gerakan ini segera di kejar resimen kedu tengah di bawah pimpinan letkol colonel M.
selama 4 hari 4 malam kota ambarawa di kempung karena merasa terjepit maka pada
tanggal 14 desember 1945 paasukan sekutu meninggalkan ambarawa menuju ke semarang
untuk mengenang peristiwa tsb di bangun monument ambarawa. Selain itu tanggal 15
desember di peringati sbg hari jadi TNI AD.
F. Bandung Lautan Api
Pada tanggal 23 Maret 1946, tentara sekutu mengeluarka ultimatum untuk yang kedua
kalinya agar TRI (tentara republic Indonesia)mengosongkan seluruh kota bandung paling
lambat pd pukul 14.00 [Link] sehari sebelum ultimatum tsb keluar,pemerintah pusat
di Jakarta memberikan perintah untuk mengosongkan kota [Link] ttp,markas
tertinggi TRI di Yogyakarta meminta suaya kota bandung tetap dipertahankan .TRI ternyata
lebih mematuhi perintah dari pemerintahan pusat di Jakarta untuk mengosongkan Kota
Bandung dari pada perintah Markas besarnya di Yogyakarta.
G. Berita Proklamasi di Sulawesi
Bendera merah putih dikibarkan diseluruh pelosok minahasa hampir selama satu
bulan,yaitu sejak tanggal 14 Februari [Link] Ratulangi diangkat sebagai gubernur
Sulawesi bertugas untuk memperjuangkan keamanan dan kedaulatan rakyat sulawesi . Ia
memerintahkan pembentukan badan perjuangan pusat keselamatan [Link] Sam
Ratulangi membuat petisi yang di tanda tangani oleh 540 pemuka masyarakat Sulawesi .
Dalam petisi itu dinyatakan bahwa seluruh rakyat Sulawesi tidak dapat dipisahkan dari
Republik Indonesia.
H. Operasi Lintas Laut Banyuwangi-Bali
Pasukan pimpinan Kapten Makardi (sering disebut pasukan M) berangkat pada tanggal 4
April 1946 dengan menaiki 16 perahu nelayan Madura dan membawa 130 pasukan. Ketika
pasukan M hamper sampai di Pantai Panginuman, rombongan ini terpegok patroli AL NICA
yang menggunakan LCM (Landing Craft Mechanized).
Adu senjata pun meletus di Selat Bali. AL NICA membombardir perahu pasukan M dengan
browning caliber 12,7mm. NICA beberapa kali menabrakan kapalnya ke perahu Pasukan M.
Pada saat itu pasukan M membalas dengan melemparkan sejumlah granat ke kapal AL NICA.
Dalam pertempuran laut selama 15 menit itu, Pasukan M berhasil menang.
B. Upaya Mempertahankan Kemerdekaan melalui Perjuangan
Diplomasi
Salah satu strategi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah dengan cara
melakukan aktivitas diplomasi. Aktivitas perjuangan melalui cara diplomasi yang dilakukan
sebagai berikut.
1. Perundingan Hooge Veluwe
Dilaksanakan tanggal 14-21 April 1946 di Hooge Veluwe, Belanda. Delegasi Indonesia
terdiri atas Mr. Soewandi, Dr. Soedarsono, dan Mr. A.K Pringgodigdo. Delegasi Belanda
terdiri atas H.J van Mook, Dr. van Royen, Sultan Hamid II, dan Soeryo Santoso. Dalam de
facto atas Jawa dan Madura. Perundingan ini tidak memberi kemajuan bagi RI, sehingga di
anggap gagal.
2. Perjanjian Linggajati
Dilaksanakan tanggal 10 November 1946 di Linggajati, Cirebon. Sutan Syahrir menjadi
ketua delegasi Indonesia, sedangkan Belanda diwakili oleh tim Komisi Jenderal dan dipimpin
oleh WIm Schermerhom, dan Lord Killearn yang berasal dari Inggris sebagai mediator. Hasil
perjanjian sebagai berikut.
a. Belanda mengakui wilayah Indonesia secara de facto atas Jawa, Sumatra, dan
Madura.
b. RI dan Belanda bekerja sama membentuk RIS dengan RI sebagai salah satu bagian
dari RIS.
c. RIS dan Belanda membentuk UNI Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai
Ketuanya.
3. Konferensi Malino
Atas prakarsa Dr.H.J van Mook diadakan Konferensi Malino yang berlangsung di Malino,
Sulawesi Selatan pada tanggal 15-25 Juli 1946. Konferensi ini dihadiri oleh 39 orang dari 15
daerah dari Kalimantan (Borneo) dan Timur Besar (De Groote Oost) dengan tujuan
membahas rencana pembentukan negara-negara bagian yang berbentuk federasi di
Indonesia serta rencana pembentukan negara yang meliputi daerah-daerah di Indonesia
Timur.
4. Agresi Militer Belanda I
Untuk mencapai tujuan tersebut pihak belanda melanggar perundingan
Linggarjati,bahkan mereka menyobet kertas perjanjian tsb. Kemudian pada tanggal 21 july
1947,belanda melancarkan aksi militer pertama dengan target utama kota kota besar di
pulau jawa dan Sumatra. Pada tanggal 4 agustus 1947 pemerintah republic Indonesia dan
belanda mengumumkan pemberlakuan genjatan senjata. Akan tetapi kenyataanya belanda
masih terus memperluas wilayah sampai dengan di bentukannya garis demarkasi yang jauh
kedepan.
5. PEMBENTUKAN KOMISI 3 NEGARA (KTN)
Aksi tersebut menyebabkan dewan keamanan PBB membentuk suatu badan komisi jasa
jasa baik yang kemudian disebut komisi 3 negara (KTN).
[Link] dengan cara langsung penghetian tembak menembak sesuai dengan resolusi
PBB
[Link] penengah konflik INDONESIA sampai Belanda.
[Link] patok patok wilayah status quo yang dibentuk oleh TNI.
[Link] kembali Indonesia serta Belanda dalam perundingan Renville.
6. PERUNDINGAN RENVILLE
Perundingan dimulai pada tanggal 8 Desember 1947 dan di tengahi oleh komisi 3 Negara
(KTN) sedangkan Belanda diwakili oleh Abdul Kadir Widjodjoatmodjo, dan dari KTN sebagai
mediator yaitu [Link] Graham. Berikut isi perundingan Renville
1. Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatra sebagai bagian
wilayah republic Indonesia.
2. Disetujuinya sebuah garis demarkasi (Garis Van Mook) yang memisahkan wilayah
Indonesia dan daerah penduduk Belanda
3. TNI harus ditarik mundur dari daerah penduduk Jawa Barat dan Timur.
7. Agresi Militer Belanda II Dan Penangkapan Pemimpin Negara
Belanda kembali melancarkan agresi militer keduanya pada tanggal 19 Desember 1948.
Serangan tersebut kemudian dikenal sebagai Agresi Militer II atau Operasi Gagak. Dalam
waktu yang relatif singkat, Yogyakarta dapat dikuasai Belanda. Peristiwa ini membuat
Soekarno, Mohammad Hatta, Syahrir dan beberapa tokoh lainnya di tangkap dan
diasingkan.
8. Pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)
Sekitar satu bulan setelah Agresi Militer Belanda II, baru dapat terjalin komunikasi antara
pimpinan PDRI dan keempat menteri yang berada di Jawa. Setelah berbicara jarak jauh
dengan pimpinan Republik di Jawa, pada tangggal 31 Maret 1949 Syafruddin Prawiranegara
mengumumkan penyempurnaan susunan pimpinan Pemerintahan Darurat Republik
Indonesia.
9. Gerilya dan Serangan Umum 1 Maret 1949
Berdasarkan pertemuan kedua tokoh tersebut di tetapkan waktu penyerangan terhadap
kota Yogyakarta. Penyerangan tersebut ditandai dengan bunyi sirene pada pukul 06.00 WIB
di tanggal 1 Maret 1946. Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 mempunyai arti
penting dan berpengaruh baik ke dalam negeri maupun ke luar negeri. Pengaruh ke dalam
negeri adalah mendukung perjuangan diplomasi pemerintah RI dan meningkatkan semangat
TNI dan moral rakyat yang sedang melakukan gerilya.
10. Perundingan Roem-Royen yang menyudutkan Belanda
Perundingan ini diadakan di Hotel Des Indes, Jakarta di bawah pimpinan Merle Cochran
(Amerika Serikat). Tanggal 14 April 1949 atas inisiatif UNCI antara Republik Indonesia dan
Belanda.
11. Para Pemimpin Indonesia ke Yogyakarta
Tanggal 29 Juni 1949, Kota Yogyakarta dikosongkan dari tentara NICA (Belanda) dan
digantikan TNI yang berangsur-angsur mulai masuk. Rombongan kemudian dijemput Sri
Sultan Hamangkubuwono IX di damping Letkol Soeharto, dan dua wartawan, yaitu Rosihan
Anwar dan Pedoman dan Frans Sumardjo dari IPPHOS. Pada tanggal 15 Juli 1949 diadakan
sidang kabinet yang dipimpin oleh Moh. Hatta.
12. Konferensi Inter-Indonesia
Konferensi Inter-Indonesia II dipimpin oleh Sultan Hamid (Ketua BFO). Keputusan cukup
penting yang diambil adalah akan dilakukan pengakuan kedaulatan tanpa ikatan politik dan
ekonomi.
13. Konferensi Meja Bundar
Konferensi meja bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia
dan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November
1949.
14. Pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS)
Wilayah RIS meliputi seluruh Indonesia dengan RI sebagai salah satu negara bagiannya.
Pemberlakuan Konstitusi RIS tidak serta-merta mencabut UUD 1945 karena perbedaaan
ruang lingkup penerapan.
15. Pengakuan Kedaulatan
Di Belanda, penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan dilaksanakan di ruang
takhta Istana Kerajaan Belanda Ratu Juliana, P.M. Dr. Williem Drees. Sementara itu, di
Jakarta, Sultan Hamangkubuwono IX dan A.H.J Lovink (Wakil Tinggi Mahkota)
membubuhkan tanda tangan pada naskah pengakuan kedaulatan. Pada tanggal yang sama,
di Yogyakarta dilakukan penyerahan kedaulatan dari Republik Indonesia kepada Republik
Indonesia Serikat.
16. Kembalinya ke Negara Kesatuan
Tuntutan semacam ini memang dibenarkan oleh konstitusi RSI pada pasal 43 dan 44.
Penggabungan antara negara atau daerah dimungkinkan karena kehendak rakyat. Mereka
sadar bahwa negara serikat merupakan upaya Belanda untuk memecah belah persatuan
dan kesatuan bangsa Indonesia.
C. Nilai-Nilai Perjuangan Masa Revolusi dan Hikmahnya
Peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi dalam perang kemerdekaan banyak mengandung
nilai-nilai positif dan hikmah yang penting untuk diketahui dan diteladani sebagai berikut.
1. Persatuan dan Kesatuan
Sejak dari zaman datangnya bangsa asing ke Nusantara, proses terusirnya para penjajah
hanya dapat dilakukan ketika rakyat dan pemimpin berhasil bersatu dalam tekad untuk
mencapai kemerdekaan.
2. Rela Berkorban Tanpa Pamrih
Rakyat dan para pemimpin bangsa rela berkorban untuk menegakkan dan
mempertahankan kedaulatan Indonesia yang telah diproklamasikan pada tanggal 17
Agustus 1945.
3. Cinta Tanah Air
Perasaan cinta tanah air sejatinya memiliki makna yang sangat mendalam bagi para
pejuang saat itu, perasaan cinta tanah air yang mereka wujudkan telah sampai pada titik
yang tertinggi, yaitu keberanian untuk rela berkorban.
4. Saling Pengertian dan Saling Menghargai
Adanya sikap saling mengerti dan menghargai, segala perbedaan yang ada dianggap
sebagai hal yang biasa. Berangkat dari sikap saling pengertian dan saling menghargai, akan
memupuk rasa persatuan dan menghindarkan perpecahan.