LAPORAN PRAKTIKUM
ERGONOMIK
ACARA V
MENENTUKAN KORELASI
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2021
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tinggi badan merupakan ukuran kumulatif atau komposit, yang terdiri atas tinggi
kepala dan leher, tinggi tubuh, dan panjang tungkai. Tinggi badan dapat bersifat turunan,
namun dapat juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, seperti keadaan gizi pada masa
pertumbuhan. Pada dasarnya, panjang tulang, kaki dan tangan kita berbanding secara lurus
atau proporsional dengan tinggi badan.
Teknik analisis yang termasuk dalam salah satu teknik pengukuran derajat
keeratan hubungan sering dikenal dengan analisis korelasi. Pengukuran derajat keeratan
hubungan merupakan istilah umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam analisis
bivariateyang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antar dua variabel.
Korelasi bermanfaat untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel
dengan skala-skala tertentu, misalnya pada statistika parametrik terdapat korelasi Pearson
yang memiliki syarat bahwa data harus berskala interval atau rasio, sedangkan pada
statistika non parametrik terdapat korelasi Cramer, Lambda, Phi, dan Tetrachronic yang
digunakan untuk skala data nominal dan korelasi Spearman, Kendall’s Tau,Gamma, dan
Somers’d untuk skala data ordinal.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana korelasi antara tinggi tubuh dengan tinggi bahu, tinggi siku, tebal paha
dan Panjang rentang tangan?
2. Bagaimana korelasi antara Panjang tangan dengan Panjang rentang tangan ke depan?
3. Apakah terdapat korelasi yang tidak ada?
1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui korelasi antara tinggi tubu dengan
tinggi bahu, tinggi siku, tebal paha dan Panjang rentang tangan, serta korelasi antara Panjang
tangan dengan Panjang rentang tangan ke depan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Analisis Korelasi
Analisis Korelasi adalah bentuk analisis variabel (data) penelitian untuk mengetahui
derajat atau kekuatan hubungan, bentuk atau arah hubungan di antara variabel-variabel dan
besarnya hubungan antara variabel yang satu (variabel bebas/independen) terhadap variabel
lainnya (variabel terikat/dependen). Dalam analisis korelasi ini, hubungan antar variabel
dapat berbentuk sebagai berikut (Hasan, 2006):
1. Hubungan Simetris
Hubungan simetris merupakan bentuk hubungan di mana dua variabel atau lebih
muncul secara bersamaan. Dalam bentuk hubungan ini tidak ditemukan secara pasti
adanya variabel bebas dan variabel terikat.
2. Hubungan Kausal
Hubungan kausal merupakan bentuk hubungan yang sifatnya sebab-akibat, artinya
keadaan satu variabel disebabkan atau ditentukan oleh keadaan satu atau lebih
variable lain.
3. Hubungan Timbal Balik (Asimetris)
Hubungan timbal balik atau hubungan interaktif atau hubungan resiprokal
merupakan bentuk hubungan di mana dua variabel atau lebih saling mempengaruhi.
Dalam bentuk hubungan ini, sudah ditemukan secara pasti adanya variabel terikat
dan variabel bebas, namun kedua variabel ini dapat bergantian
kedudukannya, artinya variabel terikat dapat bertindak sebagai variabel
bebas. Demikian pula sebaliknya, variabel bebas dapat bertindak sebagai variabel
terikat (Hasan, 2006).
Korelasi yang terjadi antara dua variabel dapat berupa (Furqon, 2002):
1. Korelasi Positif
Korelasi positif adalah korelasi dari dua variabel, yaitu apabila variabel yang satu
(X) meningkat maka variabel lainnya (Y) cenderung untuk meningkat juga dan
begitupun sebaliknya. Hubungan ini dapat dikatakan sebagai hubungan searah.
2. Korelasi Negatif
Korelasi negatif adalah korelasi dari dua variabel, yaitu apabila variabel yang satu
(X) meningkat maka variabel lainnya (Y) menurun dan begitupun sebaliknya.
Hubungan ini dapat dikatakan sebagai hubungan tidak searah atau berlawanan.
3. Tidak ada korelasi
Tidak ada korelasi terjadi apabila kedua variabel (X dan Y) tidak menunjukkan
adanya hubungan.
4. Korelasi Sempurna
Korelasi sempurna adalah korelasi dari dua variabel, yaitu apabila kenaikan atau
penurunan variabel yang satu (variabel X) berbanding dengan kenaikan atau
penurunan variabel lainnya (variabel Y). Untuk korelasi sempurna ini nilai koefisien
korelasinya adalah +1.
2.2 Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi ialah pengukuran statistik kovarian atau asosiasi antara dua
variabel. Koefisien korelasi menunjukkan kekuatan (strength) hubungan linear dan arah
hubungan dua variabel acak. Secara umum koefisien korelasi dilambangkan dengan “r”.
2.3 Analisis Korelasi Bivariate
Analisis korelasi bivariateadalah analisis hubungan antara dua variabel yaitu erat atau
tidaknya suatu hubungan, arah hubungan, dan berarti atau tidaknya hubungan. Beberapa
macam korelasi bivariateyaitu, korelasi Product Moment (Pearson), korelasi Kendall’s Tau,
Korelasi Spearman, Korelasi Gamma, Korelasi Somers, Korelasi Eta dan sebagainya.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Hari, Tanggal : Rabu, 10 November 2021
Waktu : 13.00-14.40 WITA
Tempat : Praktikum dilakukan di kediaman masing-masing secara
mandiri dan daring
3.2 Alat dan Bahan
- Laptop/Komputer
- Data Antropometri
3.3 Metode
Langkah-langkah menghitung Koefisien Korelasi dengan Functions Arguments Pearson:
1. Buka Program Microsoft Excel,
2. Masukan data diatas ke dalam worksheet Excel,
3. Di Toolbar, Klik [Formulas],
4. Klik [More Functions] kemudian pilih [Statistical],
5. Cari dan Klik [PEARSON], maka akan muncul Window Functions
Arguments,
6. Di Array 1, klik tombol “Selektion” untuk seleksi atau blok data Variabel X
yang akan dianalisis,
7. Di Array 2, klik tombol “Selection” untuk seleksi atau blok data Variable Y
yang akan dianalisis,
8. Klik [OK],
9. Akan muncul nilai Koefisien Korelasi.
Untuk membuat kesimpulan hubungan antara dua variabel di atas, perlu memenuhi
kriteria sebagai berikut, apabila:
0,00 – 0,199: Hubungan korelasinya sangat lemah
0,20 – 0,399: Hubungan korelasinya lemah
0,40 – 0,599: Hubungan korelasinya sedang
0,60 – 0,799: Hubungan korelasi kuat
0,80 – 1,0: Hubungan korelasinya sangat kuat
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1.1 Data Antropometri
D2
NAMA D1 D3 D4 D12 4 D28
tamarrinni paembonan 171 141 104 14 72 20
sinlinlin 170 140 104 16 70 20
ilham yusuf 170 132 104 16 67 16
14
Tiani 172 113 14 79 18
7
15
Donie Jatmiko 182 116 21 85 20
9
Allysa Nurrahmani D.P 150 131 103 20 77 18
14
Fely Rante Arru 169 102 14 70 18
0
168 14 104 19 70 18
Sarah Rahayu /
0
150 13
IRNA WATI YERMIA
1 99 18 76 14
13
Dehansen David Hendriko M
160 5 100 18 75 16
Yoga Prasetyo Jati 175 15 116 21 85 20
9
13
Dani Susanti Rahayu / 157 96 15 77 17
9
12
Herlina Yunitha / 150 97 17 74 16
6
14
Debora Imamat Simanjuntak/ 159 112 19 71 18
2
13
Arkan Ramzy Yafi / 165 101 20 74 19
3
13
KATER 164 5 97 20 72 19
13
EVA DIANTI 156 5 98 12 67 17
14
164 107 12 66 20
YOHANISTA CRISTINA DUA LIIN 5
13
165 99 22 74 21
AFRIDU BOMBA 7
13
162 100 16 64 18
HERRY FEBRIAN 7
14
163 101 12 72 12
ALFRED MARTHEN BATU LOBO 2
14
166 105 11 66 20
MUHAMMAD RISKI YANNUR 4
ERSA SAGITA SARI/ 151 130 98 20 66 18
ARDO JUNI LUBIS/ 165 148 112 10 81 18
NETA APRIANI MERIQ/ 160 127 104 11 69 17
PUTRI INSANI SITUMORANG/ 155 128 97 16 71 17
JOFALDI BAGAS/ 165 138 98 16 70 20
HENI NOR AULIA PUTRI/ 148 125 90 15 64 15
IBNU FADILLAH/ 179 161 108 16 81 20
NOUFAL NUR HAIKAL/ 167 139 106 62 76 21
MUHAMMAD ALFY ZULFIKAR/ 179 160 109 18 88 27
SUSI RUWAHYU SIHOTANG/ 161 134 102 15 71 20
13
Gloriana Nanni Dau Fredy 157 1 98 15 70 18
13
Decky Risaldi 162 8 107 16 82 18
13
Sania Larasati Ayu Ningrum 155 7 96 18 73 18
15
Jorgie Norton Simalango 176 1 110 21 78 19
13
151 98 20 66 18
Qhywensly Jhealine Pritty Arzhitania 0
14
Gamal Abdul Nasir 170 0 109 16 84 19
13
163 99 18 70 20
Fadhil Haris Abdillah 8
14
170 99 18 74 20
Muhammad Akmal Ramadhan 6
14
172 108 18 85 20
Radhitya Prass Marhaindra 2
13
Rahmat Katahmi 168 1 109 13 76 22
14
RURI ADELIA PANJAITAN 170 103 12 71 18
4
14
DARWAN SYA 165 110 19 65 13
0
13
MUHAMMAD IQBAL. F 160 103 18 70 18
4
14
RESTU DWI INDRIANI 167 102 18 72 19
0
13
CHERYL MAHIRA 162 101 15 77 17
3
13
ALVIN MUHAMMAD. H 160 100 16 69 18
5
14
NAUFAL BANU. T.S 170 110 19 74 19
5
14
MUHAMMAD KEMAL. P 174 111 18 78 17
4
13
ARYA BASKARA PUTRA. Y 162 102 13 73 19
1
14
TRISKY SUHARTI 172 110 15 75 18
7
Anugerah Bayu K 159 138 101 19 69 18
Adi Afriansyah 162 139 102 16 75 20
Rudi Kusuma 171 145 110 17 77 19
Eka Kristin Maulidyah 160 133 108 11 62 20
M. Taufiq Irawan 168 140 105 24 84 18
Bima Agung Lande 170 142 105 20 74 20
123.
M. Khatami Tuni Raga N 171 142 20.2 80 18.7
4
Venzhiana Elfanivhio M S 159 134 98 14 72 18
14
Akhyar Febrian Rahmatsyah 176 8 113 14 81 19
14
Wiwin rastika gunadi 168 8 106 14 80 20
12
KRISNA BERNADETH SIAHAAN 152 9 100 15 73 17
12
Nurul eka pratiwi sapitri 152 5 94 13 74 20
15
Aprinius Migael Pabita 177 1 110 15 58 18
15
EZRI NAINGGOLAN 165 2 102 12 63 18
13
Yusri 164 5 104 12 74 17
14
Miftah khair 167 0 110 16 75 18
15
Soni arta silitonga 166 3 103 12 64 19
13
[Link] pasya 160 9 93 19 64 17
15
Nunut EP. Sianturi 163 0 100 12 62 18
14
Aprian Dwitama 168 104 17 75 19
1
13
Krisna Govinda Sirait 162 98 13 79 19
2
13
Ayuni Putri Andini 161 102 14 65 16
6
12
Dhelina putri p 153 102 55 40 9
9
Ananda Putra Borneo 170 16 100 12 70 20
0
13
Alwi Andani 162 98 19 74 19
4
13
Ayu Astuti 155 104 21 74 18
1
12
ELISABETH MARISA 147 90 12 74 7
4
14
Feriza Dwi Ananda Putra 168 102 23 79 20
0
14
Haidar Ashari 169 106 19 75 19
2
Tabel 1.2 Koefisien Korelasi Data
D1:D3 D1:D4 D1:12 D24:28 D1:D24
0.805 0.726 -0.022 0.428 0.402
Sangat Kuat Kuat Lemah Sedang Sedang
4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan diatas diperoleh data berupa korelasi antar data
antropometri. Pada perbandingan antara data tinggi tubuh (D1) dengan tinggi bahu (D3)
diperoleh nilai absolut sebesar 0.805, nilai tersebut menunjukkan bahwa korelasi tinggi tubuh
(D1) dengan tinggi bahu (D3) memiliki korelasi yang sangat kuat. Pada perbandingan tinggi
tubuh (D1) dengan tinggi siku (D4) diperoleh nilai absolut sebesar 0.726, nilai tersebut
menunjukkan bahwa tinggi tubuh (D1) dengan tinggi siku (D4) memiliki korelasi yang kuat.
Pada perbandingan antara rentang tangan ke depan (D24) dengan Panjang tangan
(D28) menunjukkan nilai absolut sebesar 0.428, nilai tersebut menunjukkan bahwa rentang
tangan ke depan (D24) dengan Panjang tangan (D28) memiliki hubungan korelasi sedang.
Perbandingan antara tinggi tubuh (D1) dengan Panjang rentang tangan ke depan (D24)
memiliki nilai absolut sebesar 0.402, nilai tersebut menunjukkan bahwa tinggi tubuh (D1)
dengan Panjang rentang tangan ke depan (D24) memiliki hubungan korelasi sedang.
Pada perbandingan antara tingi tubuh (D1) dengan tebal paha (D12) diperoleh nilai
absolut sebesar -0.022, nilai tersebut menunjukkan bahwa tinggi tubuh (D1) dengan tebal
paha (D12) memiliki korelasi yang lemah, serta menujukkan keduanya berbanding terbalik.
Dari data korelasi tersebut diketahui bahwa korelasi antara D1:D3, D1:D4, D24:28
dan D1:D24 menunjukkan ukuran yang berbanding lurus. Selain itu, korelasi antara D1:D12
menunjukkan korelasi yang berbanding terbalik.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari seluruh percobaan serta hasil diatas maka dapat diketahui korelasi antar data,
yaitu:
a. Korelasi tinggi tubuh (D1) dengan tinggi bahu (D3) bersifat sangat kuat dan
berbanding lurus.
b. Korelasi tinggi tubuh (D1) dengan tinggi siku (D4) bersifat kuat dan berbanding
lurus
c. Korelasi tinggi tubuh (D1) dengan tebal paha (D12) bersifat lemah dan berbanding
terbalik.
d. Korelasi Panjang rentang tangan ke depan (D24) dengan Panjang tangan (D28)
bersifat sedang dan berbanding lurus.
e. Korelasi tinggi tubuh (D1) dengan Panjang rentang tangan ke depan (D24) bersifat
sedang dan berbanding lurus.
Dari data korelasi tersebut diketahui bahwa kelima data tersebut meliliki korelasi
dengan penghitungan menggunakan skala rasio. Selain itu, korelasi antara D1:D3, D1:D4,
D24:28 dan D1:D24 menunjukkan ukuran yang berbanding lurus. Sedangkan korelasi antara
D1:D12 menunjukkan korelasi yang berbanding terbalik.
DAFTAR PUSTAKA
Kriesniati, P., Yuniarti, D., & Nohe, D. A. (2013). Analisis korelasi somers’d pada data
tingkat kenyamanan siswa-siswi smp plus melati samarinda. BAREKENG: Jurnal
Ilmu Matematika dan Terapan, 7(2), 31-40.
Hasan, Iqbal. 2006. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta: Bumi Aksara.
Furqon. 2002. Statistika Terapan untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.