0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan9 halaman

Praktikum Acara Vii Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Diunggah oleh

Wiwin Rastika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan9 halaman

Praktikum Acara Vii Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Diunggah oleh

Wiwin Rastika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRAKTIKUM ACARA VII

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ruang kerja merupakan tempat atau ruangan yang digunakan untuk bekerja.
Kenyamanan ruang kerja adalah hal yang utama yang harus diperhatikan. Bila suatu
tempat mampu memberikan kenyamanan, maka seseorang akan betah untuk berlama-
lama di dalam ruangan tersebut. Hal ini juga akan mendukung mood baik untuk
bekerja.

Ruang kerja tidak hanya ada pada kantor, tetapi bisa Pins aplikasikan di rumah.
Ruang kerja di rumah bisa digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan ataupun belajar.
Bekerja di ruang kerja akan membawakan ambience berbeda dengan bekerja di
ruangan lainnya. Ruang kerja membuat seseorang mampu bekerja dengan lebih
[Link] utama suatu ruangan nyaman untuk ditempati adalah ruangan tersebut
merupakan ruangan yang sehat

Desain ergonomis berkaitan erat dengan kenyamanan dan kesehatan dari


penggunanya. Dalam menciptakan sebuah furnitur, proses kalkulasi akan disesuaikan
menurut berbagai ukuran tubuh manusia yang bergerak pada berbagai posisi, mulai
dari duduk, membungkuk, berputar hingga tidur dalam posisi telentang. Melalui
proses kalkulasi berbagai posisi gerakan tersebut, maka penghitungan ergonomis akan
didapatkan dan diaplikasikan pada rancangan furnitur yang akan diproduksi.

Adapun, hasil akhir dari produksi furnitur dari penghitungan ergonomis tersebut
tak hanya akan berdampak pada kenyamanan saat digunakan, namun juga dapat
meningkatkan kesehatan pengguna misalnya membuat tubuh terbebas dari rasa pegal
dan kaku meskipun harus duduk di kursi kantor dalam waktu yang lama.

1.2 Tujuan Praktikum


Mahasiswa mampu merancang lay out ruang kerja ergonomis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan alat, cara kerja dan
lingkungan pada kemampuan, kebolehan dan batasan manusia sehingga diperoleh kondisi
kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan efisien sehingga tercapai produktivitas
yang setinggi-tingginya (Sutajaya, 2007). Ergonomi dapat meminimasi dampak negatif
pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena dengan ergonomi berbagai penyakit
akibat kerja, kecelakaan, pencemaran, keracunan, ketidakpuasan kerja, kesalahan unsur
manusia, bisa dihindari (Devi, 2011).

Pendekatan ergonomi perlu dilakukan dalam perencanaan dan perancangan ruang


kerja yang berpusat pada manusia. Ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang
sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat manusia, kemampuan dan
keterbatasan manusia untuk merancang sistem kerja yang baik agar tujuan dapat dicapai
dengan efektif, aman dan nyaman (Sutalaksana, 2006), sehingga fokus utama ergonomi
dalam perancangan objek, prosedur kerja dan lingkungan kerja adalah manusia itu
sendiri (Sanders dan Mc Cormick, 1992).

Sebagai sebuah sistem kerja, ruang kantor mengandung beberapa komponen kerja,
dan masing-masing komponen tersebut berinteraksi satu sama lain (Darlis, et al, 2009).
Tata ruang kantor yang ergonomis diperoleh melalui pengaturan tata letak dan fasilitas
kerja untuk mencari gerakan-gerakan kerja yang efisien dan disesuaikan dengan aliran
kegiatan dan gerakan yang efisien (Wignjosoebroto, 2003). Salah satu aspek penting
dalam kajian ergonomi adalah antropometri tubuh manusia. Antropometri diartikan sebagai
suatu ilmu yang secara khusus berkaitan dengan pengukuran tubuh manusia yang
digunakan untuk menentukan perbedaan pada individu, kelompok, dan sebagainya
(Liliana, 2007). Data antropometri yang paling tepat untuk diimplementasikan adalah data
yang diukur secara langsung terhadap populasi manusia yang nantinya akan mengoperasikan
hasil rancangan tersebut (Wignjosoebroto, 2000).

Salah satu aspek ergonomi yang berpengaruh dengan kualitas kerja yaitu lingkungan
fisik kerja dengan memperhatikan tata letak dan desain ruangan dalam suatu tempat kerja.
Lingkungan kerja fisik adalah kondisi-kondisi pekerjaan yang menyenangkan terlebih lagi
semasa jam kerja yang akan mempengaruhi jam kerja pegawai dan kesungguhannya dalam
bekerja. Pihak manajemen yang ingin menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan,
perlu memberikan perhatian pada penataan ruang kerja secara fisik seperti peralatan kerja,
penerangan, kebisingan dan kenyamanan, sehingga nantinya dapat meningkatkan
kedisiplinan kerja karyawan, karena karyawan merasa betah dalam bekerja (Tuka, 2009).
Indikator lingkungan kerja menurut Sedarmayanti (2009) sebagai berikut :

1. Penerangan atau cahaya di tempat kerja Cahaya atau penerangan sangat besar
manfaatnya bagi pegawai guna mendapatkan keselamatan dan kelancaran kerja, oleh
sebab itu di perlukan cahaya yang terang tapi tidak menyilaukan, cahaya yang kurang
jelas mengakibatkan penglihatan kurang jelas sehingga pekerjaan menjadi lambat dan
kurang efisien dalam melaksanakan pekerjaan.
2. Sirkulasi udara di tempat kerja Udara disekitar tempat kerja harus segar karena dapat
memberikan rasa sejuk dan segar bekerja, sebaliknya apabila udara kotor akan
mempengaruhi kesehatan tubuh dan akan mempercepat proses kelelahan.
3. Kebisingan di tempat kerja Suara bising mengganggu ketenangan bekerja, merusak
pendengaran, dan menimbulkan kesalahan komunikasi, karena pekerjaan
membutuhkan konsentrasi, maka suara bising hendaknya dihindarkan agar
pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan dengan efisien sehingga produktivitas kerja
meningkat.
4. Warna Warna juga mempengaruhi kenyamanan dan ketahanan dalam bekerja
5. Suhu dan kelembaban udara

Beberapa standar ergonomi perkantoran adalah sebagai berikut:

1. Luas Tempat Kerja


Setiap ruang kerja harus dibuat dan diatur sedemikian rupa, sehigga setiap orang
yang bekerja dalam ruangan tersebut mendapat ruang udara sedikitnya 10 m3 dan
sebaiknya 15 m3. Luas tempat kerja staf sedikitnya 2,2 m2, merujuk peraturan tentang
Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Sehingga tiap pekerja
dapat bergerak secara bebas dan memudahkan untuk evakuasi sewaktu terjadi
keadaan darurat.
2. Tata Letak Peralatan Kantor
Tata letak peralatan kantor memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a) Sesuaikan tinggi tempat duduk dengan tinggi monitor
b) Sesuaikan tinggi sandaran punggung dan tangan, sehingga tersangga dengan
baik
c) Sesuaikan meja dengan posisi keyboard dan mouse yang sejajar.

3. Kursi
Ukuran kursi harus sesuai dengan ukuran karyawan yang menggunakan
a) Pilih kursi kerja sesuai dengan jenis tugas pekerjaan
b) Kursi harus stabil, baik beroda maupun tidak beroda
c) Sandaran kursi harus menyangga lengkungan pinggang (kemiringan fleksibel)
d) Adapun tips sebelum melakukan pembelian kursi ergonomik disarankan agar
melakukan pengujian dengan mengundang beberapa perwakilan pekerja yang
akan menggunakan kursi tersebut. Mereke dapat memberikan umpan balik
mengenai kenyamanan kursi, kemudahan dalam menggunakan, dan
menyesuaikan kursi untuk mendapatkan posisi duduk yang ergonomis
4. Meja Kerja
Dalam meletakkan barang-barang di meja kerja perlu diatur. Peletakkan barang-
barang dapat dikelompokkan sesuai dengan tingkat kebutuhan, yaitu barang-barang
yang sering dipakai, barang-barang yang lebih jarang dipergunakan, dan barang-
barang yang hanya sesekali digunakan. Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk
mengorganisasi meja kerja adalah dengan mengidentifikasi dokumen kerja yang
merupakan dokumen tim (bukan merupakan dokumen pribadi) agar dapat disimpan
dalam lemari arsip, sehingga tidak menumpuk di meja pribadi.
5. Postur Saat Bekerja
a) Pada saat duduk, posisikan siku sama tinggi dengan meja kerja, lengan bawah
horizontal, dan lengan atas menggantung bebas
b) Mata sama tingginya dengan bagian paling atas layar monitor
c) Atur tinggi kursi sehingga kaki bisa diletakkan di atas lantai dengan posisi
datar
d) Sesuaikan sandaran kursi sehingga punggung bawah dapat ditopang dengan
baik
e) Letakkan layar monitor kurang lebih sepanjang lengan Anda. Pastikan letak
monitor dan keyboard berada di tengah-tengah sumbu tubuh
f) Atur meja dan layar monitor untuk menghindari silau, atau pantulan cahaya
g) Pastikan ada ruang yang cukup di bawah meja untuk pergerakan kaki
h) Hindari tekanan berlebihan dari ujung tempat duduk pada bagian belakang
kaki dan lutut
i) Letakkan semua dokumen dan alat yang diperlukan dalam jangkauan
j) Gunakan mouse yang sesuai dengan ukuran genggaman tangan dan letakkan
di samping keyboard
k) Saat menggunakan keyboard, pergelangan tangan harus berada pada posisi
netral (tidak menekuk ataupun berputar
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Lokasi Praktikum


Hari, Tanggal : Rabu, 24 November 2021
Waktu : 13.00-14.40 WITA
Tempat : Praktikum dilakukan di kediaman masing-masing secara
mandiri dan daring

3.2 Alat dan Bahan


1. Smartphone
2. Aplikasi Homestyler

3.3 Metode Praktikum


a. Download aplikasi homestyler
b. Diskusikan secara berkelompok tentang kriteria ruang kerja ergonomis
c. Rancanglah suatu ruang kerja ergonomis
d. Jelaskan/uraikan tentang aspek ergonomis lay out ruang kerja yang sudah dibuat.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.2 Pembahasan
Pada hasil rancangan di atas terlihat ruangan tersebut sangat nyaman dari segi
pencahayaan yang baik untuk kesehatan dan kenyamanan pada saat bekerja di siang hari dan
pada malam hari ada lampu penerangan dan lampu belajar, sirkulasi udara di ruangan tersebut
dipastikan baik karena ruangan tersebut cukup besar dan dekat dengan jendela serta barang
yang tidak menumpuk, serta kursi yang dipakai sangat nyaman, jarak antara kursi dengan
komputer pun telah di sesuaikan dengan kenyamanan pemakai.
Penambahan pot tumbuhan menambah suasana lebih sejuk dan sebagai penghilang
rasa jenuh ketika mulai bosan, tidak lupa juga catatan kerja yang di tempel di dinding sebagai
pengingat tujuan atau rencana kerja yang belum terealisasikan serta pajangan atau penghias.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari suatu pekerjaan maka ruang kerja harus
dibuat senyaman mungkin untuk pekerja tersebut, oleh karena itu sangat penting menerapkan
aspek-aspek ergonomik di dalam lingkup kerja.

5.2 Saran
Sebaiknya saat merancang ruangan kerja masukkan barang yang sepelunya saja agar
ruangan terasa nyaman, tidak terlihat penuh dan lebih leluasa untuk bergerak serta perhatikan
aspek ergonomiknya.
DAFTAR PUSTAKA

[Link]

Modul Ergonomik MERANCANG LAY OUT RUANG KERJA ERGONOMIS.2021

[Link]

Anda mungkin juga menyukai