BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Definisi struktur dalam konteks hubungannya dengan bangunan adalah
sebagai sarana untuk menyalurkan beban dan akibat penggunaannya dan atau
kehadiran bangunan ke dalam tanah (Scodek,1998). Sebuah Bangunan tinggi
bisa berdiri bebas, yaitu vertical dan ramping, atau horizontal dan besar atau
dapat juga ditempatkan berdekatan dengan bangunan tinggi lainnya sehingga
membentuk suatu blok bangunan yang kokoh. Pada kedua pendekatan tersebut,
pada dasarnya bangunan merupakan suatu benda terpisah. Akan tetapi, pada
masa mendatang banguna tinggi dapat saja merupakan bagian yang terpadu dari
suatu organism bangunan besar, yaitu kota, di mana bangunan atau kisi-kisi
kegiatan saling dihubungkan oleh system-sistem pergerakan bertingkat
majemuk.
Bangunan tinggi berkisar antara kurang dari 10 lantai hingga lebih dari
100 lantai. Suatu proses perencanaan yang agak rumit diperlukan untuk
menentukan tinggi atau pemassaan sebuah bangunan. Di antara faktor-faktor
yang harus dipertimbangkan adalah kebutuhan pemberi tugas terhadap
ketersediaan maupun lokasi lahan tersebut dikaitkan dengan segi-segi konteks
lingkungan.
Struktur dapat didefinisikan sebagai suatu entitas fisik yang memiliki sifat
keseluruhan yang dapat dipahami sebagai suatu organisasi unsur-unsur pokok
yang ditempatkan dalam ruang yang didalamnya karakter keseluruhan itu
mendominasi interelasi bagian-bagiannya.
Fungsi struktur bangunan, dalam arti yang paling sederhana, adalah
untuk mempertahankan bangunan agar tetap tegak. Struktur melakukan ini
dengan mendukung beban bangunan pada arah berlawanan gaya tarik bumi
(gravitasi). Demikian pula struktur harus cukup kuat untuk menahan tekanan
angin, gelombang kejut, ledakan sonik, getaran, beban benturan, dan gempa
bumi. Terdapat beberapa jenis struktur yang biasa digunakan untuk bangunan
tinggi, diantaranya : Rigid Frame (RAngka Kaku), Truss, Cantilever atau
Cantilever Slab, Box atau self Suporting Box, Tube atau Tube in Tube dan lain
sebagainya. Di dalam penerapanya pada bangunan memerlukan tinjauan serta
analisia tentang jenis sistem struktur yang akan digunakan. Dari beberapa
system struktur yang dipaparkan di atas system struktur yang cukup sederhana
tetapi masih mempertahankan kesatuan dari seni dan teknik adalah Struktur
Rangka Kaku atau Rigigd Frame. Sistem Struktur ini pada umumnya berupa Grid
persegi teratur, terdiri dari balok horizontal adan kolom vertical yang
dihubungkan di suatu bidang dengan dinding interior bangunan. Prinsip rangka
kaku akan ekonomis sampai 30 lantai untuk rangka baja dan sampai 20 lantai
uantuk rangka beton.
1.2 Identifikasi Masalah
Adapun permasalahan yang dirumuskan dalam tulisan ini adalah bagaimana
menghadirkan system struktur yang benar-benar tepat sesuai dengan kebutuhan
ruang dan memperhatikan masalah konstruksi yang dihadapi pada banguanan
tingkat tinggi dengan menggunakan system struktur Rigid Frame atua Rangka
kaku ?
1.3 Rumusan Masalah
Dari identifikasi masalah tersebut diatas maka dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :
Apa pengertian dari system struktur Rigid Frame atau Rangka Kaku ?
Bagaimana prinsip-prinsip gaya yang bekerja pada struktur Rigid Frame
atau Rangka Kaku pada bangunan berlantai banyak ?
Bagaimana penerapan struktur Rigid Frame atau Rangka Kaku pada
bangunan berlantai banyak ?
1.4 Tujuan dan Sasaran
1.4.1 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini agar penulis mampu mengetahui serta
memahami system Rigid Frame atau Rangka Kaku dalam desain banguan
Arsitektur.
1.4.2 Sasaran
Pemahaman yang baik akan system Rigid Frame atau Rangka Kaku, serta
mampu menerapakannya dalam bangunan berlantai banyak.
1.5 Ruang lingkup/Batasan
Ruang lingkup dari penulisan makalah ini terbatas pada bagaimana karakteristik
dari system Rigid Frame atau Rangka Kaku serta aplikasinya pada bangunan.
1.6 Metodologi
Pengumpulan data yang dilakukan untuk penulisan karya tulis ini menggunakan:
1.6.1 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data tertulis dari berbagai sumber seperti Buku-buku pada
perpustakaan , majalah serta dari Internet sebagai bahan referensi bagi
permasalahan yang ada.
1.6.2 Metode Analisa
Analisa ini menekankan pada penjelasan umum dengan pendekatan
terhadap apa yang ingin dicapai dalam penulisan ini secara optimal
B A B II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Struktur Rigid Frame atau Rangka Kaku.
Sistem rangka kaku pada umumnya berupa grid persegi teratur, terdiri dari
balok horizontal dan kolom vertical yang dihubungkan di suatu bidang dengan
menggunakan sambungan kaku (rigid). Rangka ini bisa satu bidang dengan
dinding interior bangunan, atau sebidang dengan fasade bangunan. Prinsip
rangka kaku (Rigid Frame) akan ekonomis sampai 30 lantai untuk ranga baja
dan sampai 20 latai untuk rangka beton.
2.1.1. Pengertian dan Prinsip-Prinsip Gaya.
Definisi struktur dalam konteks hubungannya dengan bangunan adalah
sebagai sarana untuk menyalurkan beban dan akibat penggunaannya dan
atau kehadiran bangunan ke dalam tanah (Scodek,1998). Dengan
menggunakan gaya penulisan kamus yang kompleks dan pasti, Struktur
dapat didefinisikan sebagai suatu entitas fisik yang memiliki sifat
keseluruhan yang dapat dipahami sebagai suatu organisasi unsur-unsur
pokok yang ditempatkan dalam ruang yang didalamnya karakter
keseluruhan itu mendominasi interelasi bagian-bagiannya.
2.1.2. Karekteristik Sysytem Rangka Kaku (Rigid Frame)
Sistem Rangka Kaku (Rigid Frame System)
System rangka kaku pada umumnya berupa grid persegi teratur,
terdiri dari balok horizontal dan kolom vertical ( post and beam)
yang dihubungkan di suatu bidang dengan menggunakan
sambungan kaku (rigid). Rangka kaku ini bisa satu bidang dengan
dinding interior bangunan atau sebidang dengan fasade bangunan.
Rangka kaku (rigid frame) yang diberi pengakuan secara lateral
dapat dibedakan berdasarkan penekenan pada peletakan kolom
tipikal yang dikaitkan dengan bentuk bangunan, antara lain:
Rangka melintang sejajar (parallel cross frame
Rangka pembungkus (envelope frame)
Rangka melingkar dua arah (two-way cross frame)
Rangka pada grid polygon (frame onpolygonal grid)
Dari bentuk denah diatas, enerapan system-system struktur rangka
pada berbagai entuk denah berdasarkan jenis pola garis, seperti
berikut ini:
o Rangka melintang sejajar
Pada grid persegi tipikal
Pada grid persegi dengan grid interior offset
Pada grid radial
Pada grid lengkung
Pada grid sumbu
o Rangka luar
Rangka luar dengan rangka inti melintang
Rangka luar dan dalam pada grid persegi
Rangka dua arah (grid persegi)
o Rangka pada grid polygon (bentuk kompleks bersifat hamper
organic)
Perilaku Terhadap Pembebanan
Pada prinsipnya beban yang bekerja pada rangka kaku adalah beban
vertical dan horizontal dimana bahan yang digunakan mempunyai
batsan maksimal dalam menanggung beban yang bekerja.
Untuk rangka baja kemampuan maksimalnya mencapai 30 lantai
Untuk rangka beton kemampuan maksimalnya 20 lantai
Karena memiliki komunitas, maka rangka kaku bereaksi terhadap
beban lateral, terutama melalui lentur dari kolom dan balok. Sifat
menerus dari rangka bergantung pada tahanan rotasi dari
sambungan batang-batang sehingga tidak terjadi peleset. Kapasitas
rangka sangat bergantung pada kekuatan balok dan kolom
individual (kapasitasnya menurun sebanding dengan kenaikan
tinggi lantai dan jarak antar kolom).
Lendutan lateral rangka kaku disebabkan oleh:
Lendutan disebabkan oleh lentur cantilever. Fenomena ini
dikenal sebagai chord drift, ketika melawan momen guling,
rangka ini berlaku sebagai balok kantilever vertical yang
melentur melalui deformasi aksial serat-seratnya
Defleksi karena lentur balok dan kolom. Fenomena ini dikenal
sebagai shear lag atau frame wracking. Gaya geser horizontal
dan vertical yang bekerja pada kolom dan balok menyebabkan
terjadinya momen lentur pada batang-batang tersebut, bila
melentur maka seluruh batangnya (rangka) mengalamai distorsi.
Lengkung defleksi setara dengan diagram geser eksternal
dimana kemiringan deformasinya adalah minimum pada bagian
dasar strukturnya yaitu di tempat terjadinya geser terbesar.
2.2. Analisis Struktur Rangka Kaku
Struktur rangka kaku (rigid frame) adalah struktur yang terdiri atas elemen-
elemen linier, umumnya balok dan kolom, yang saling dihubungkan pada ujung-
ujungnya oleh joints (titik hubung) yang dapat mencegah rotasi relatif di antara
elemen struktur yang dihubungkannya. Dengan demikian, elemen struktur itu
menerus pada titik hubung tersebut. Seperti halnya balok menerus, struktur
rangka kaku adalah struktur statis tak tentu. Banyak struktur rangka kaku yang
tampaknya sama dengan sistem post and beam, tetapi pada kenyataannya
struktur rangka ini mempunyai perilaku yang sangat berbeda dengan struktur
post and beam. Hal ini karena adanya titik-titik hubung pada rangka kaku. Titik
hubung dapat cukup kaku sehingga memungkinkan kemampuan untuk memikul
beban lateral pada rangka, dimana beban demikian tidak dapat bekerja pada
struktur rangka yang memperoleh kestabilan dari hubungan kaku antara kaki
dengan papan horisontalnya.
a) Prinsip Rangka Kaku
Cara yang paling tepat untuk memahami perilaku struktur rangka sederhana
adalah dengan membandingkan perilakunya terhadap beban dengan struktur
post and beam. Perilaku kedua macam struktur ini berbeda dalam hal titik
hubung, dimana titik hubung ini bersifat kaku pada rangka dan tidak kaku
pada struktur post and beam.
b) Beban Vertikal
Pada struktur post and beam, struktur akan memikul beban beban vertikal
dan selanjutnya beban diteruskan ke tanah. Pada struktur jenis ini, balok
terletak bebas di atas kolom. Sehingga pada saat beban menyebabkan momen
pada balok, ujung-ujung balok berotasi di ujung atas kolom. Jadi, sudut yang
dibentuk antara ujung balok dan ujung atas kolom berubah. Kolom tidak
mempunyai kemampuan untuk menahan rotasi ujung balok. Ini berarti tidak
ada momen yang dapat diteruskan ke kolom,sehingga kolom memikul gaya
aksial. Apabila suatu struktur rangka kaku mengalami beban vertikal seperti
di atas, beban tersebut juga dipikul oleh balok, diteruskan ke kolom dan
akhirnya diterima oleh tanah. Beban itu menyebabkan balok cenderung
berotasi. Tetapi pada struktur rangka kaku akan terjadi rotasi bebas pada
ujung yang mencegah rotasi bebas balok. Hal ini dikarenakan ujung atas
kolom dan balok berhubungan secara kaku. Hal penting yang terjadi adalah
balok tersebut lebih bersifat mendekati balok berujung jepit, bukan terletak
secara sederhana.
Seiring dengn hal tersebut, diperoleh beberapa keuntungan, yaitu
bertambahnya kekakuan, berkurangnya defleksi, dan berkurangnya momen
lentur internal. Akibat lain dari hubungan kaku tersebut adalah bahwa kolom
menerima juga momen lentur serta gaya aksial akibat ujung kolom
cenderung memberikan tahanan rotasionalnya. Ini berarti desain kolom
menjadi relatif lebih rumit. Titik hubung kaku berfungsi sebagai satu
kesatuan. Artinya, bila titik ujung itu berotasi, maka sudut relatif antara
elemen-elemen yang dihubungkan tidak berubah. Misalnya, bila sudut antara
balok dan kolom semula 900, setelah titik hubung berotasi, sudut akan tetap
900. Besar rotasi titik hubung tergantung pada kekakuan relatif antara balok
dan kolom. Bila kolom semakin relatif kaku terhadap balok, maka kolom
lebih mendekati sifat jepit terhadap ujung balok, sehingga rotasi titik hubung
semakin kecil.
Bagaimanapun rotasi selalu terjadi walaupun besarannya relatif kecil. Jadi
kondisi ujung balok pada struktur rangka kaku terletak di antara kondisi
ujung jepit (tidak ada rotasi sama sekali) dan kondisi ujung sendi-sendi
(bebas berotasi). Begitu pula halnya dengan ujung atas kolom. Perilaku yang
dijelaskan di atas secara umum berarti bahwa balok pada sistem rangka kaku
yang memikul beban vertikal dapat didesain lebih kecil daripada balok pada
sistem post and beam. Sedangkan kolom pada struktur rangka kaku harus
didesain lebih besar dibandingkan dengan kolom pada struktur post and
beam, karena pada struktur rangka kaku ada kombinasi momen lentur dan
gaya aksial. Sedangkan pada struktur post and beam hanya terjadi gaya aksial.
Ukuran relatif kolom akan semakin dipengaruhi bila tekuk juga ditinjau. Hal
ini dikarenakan kolom pada struktur rangka mempunyai tahanan ujung,
sedangkan kolom pada post and beam tidak mempunyai tahanan ujung.
Perbedaan lain antara struktur rangka kaku dan struktur post and beam
sebagai respon terhadap beban vertikal adalah adanya reaksi horisontal pada
struktur rangka kaku. Sementara pada struktur post and beam tidak ada.
Pondasi untuk rangka harus didesain untuk memikul gaya dorong
horisontal yang ditimbulkan oleh beban vertikal. Pada struktur post and
beam yang dibebani vertikal, tidak ada gaya dorong horisontal, jadi tidak ada
reaksi horisontal. Dengan demikian, pondasi struktur post and beam relatif
lebih sederhana dibandingkan pondasi untuk struktur rangka.
c) Beban Horisontal
Perilaku struktur post and beam dan struktur rangka terhadap beban
horisontal sangat berbeda. Struktur post and beam dapat dikatakan hampir
tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk memikul beban horisontal.
Adanya sedikit kemampuan, pada umumnya hanyalah karena berat sendiri
dari tiang / kolom (post), atau adanya kontribusi elemen lain, misalnya
dinding penutup yang berfungsi sebagai bracing. Tetapi perlu diingat bahwa
kemampuan memikul beban horisontal pada struktur post and beam ini
sangat kecil. Sehingga struktur post and beam tidak dapat digunakan untuk
memikul beban horisontal seperti beban gempa dan angin. Sebaliknya, pada
struktur rangka timbul lentur, gaya geser dan gaya aksial pada semua
elemen, balok maupun kolom. Momen lentur yang diakibatkan oleh beban
lateral (angin dan gempa) seringkali mencapai maksimum pada penampang
dekat titik hubung. Dengan demikian, ukuran elemen struktur di bagian yang
dekat dengan titik hubung pada umumnya dibuat besar atau diperkuat bila
gaya lateralnya cukup besar.
Rangka kaku dapat diterapkan pada gedung besar maupun kecil. Secara
umum, semakin tinggi gedung, maka akan semakin besar pula momen dan
gaya-gaya pada setiap elemen struktur. Kolom terbawah pada gedung
bertingkat banyak pada umumnya memikul gaya aksial dan momen lentur
terbesar. Bila beban lateral itu sudah sangat besar, maka umumnya
diperlukan kontribusi elemen struktur lainnya untuk memikul, misalnya
dengan menggunakan pengekang (bracing) atau dinding geser (shear walls).
d) Kekakuan Relatif Balok dan Kolom
Pada setiap struktur statis tak tentu, termasuk juga rangka (frame), besar
momen dan gaya internal tergantung pada karakteristik relatif antara
elemen-elemen strukturnya. Kolom yang lebih kaku akan memikul beban
horisontal lebih besar. Sehingga tidak dapat digunakan asumsi bahwa reaksi
horisontal sama besar. Momen yang lebih besar akan timbul pada kolom yang
memikul beban horisontal lebih besar (kolom yang lebih kaku). Perbedaan
kekakuan relatif antara balok dan kolom juga mempengaruhi momen akibat
beban vertikal. Semakin kaku kolom, maka momen yang timbul akan lebih
besar daripada kolom yang relatif kurang kaku terhadap balok. Untuk
struktur yang kolomnya relatif lebih kaku terhadap balok, momen negatif
pada ujung balok yang bertemu dengan kolom kaku akan membesar
sementara momen positifnya berkurang.
e) Goyangan (Sideways)
Pada rangka yang memikul beban vertikal, ada fenomena yang disebut
goyangan (sidesway). Bila suatu rangka tidak berbentuk simetris, atau tidak
dibebani simetris, struktur akan mengalami goyangan (translasi horisontal)
ke salah satu sisi.
f) Penurunan Tumpuan (Support Settlement)
Seperti halnya pada balok menerus, rangka kaku sangat peka terhadap
turunnya tumpuan. Berbagai jenis tumpuan (vertikal, horisontal, rotasional)
dapat menimbulkan momen. Semakin besar differential settlement, akan
semakin besar pula momen yang ditimbulkan. Bila gerakan tumpuan ini tidak
diantisipasi sebelumnya, momen tersebut dapat menyebabkan keruntuhan
pada rangka. Oleh karena itu perlu diperhatikan desain pondasi struktur
rangka kaku untuk memperkecil kemungkinan terjadinya gerakan tumpuan.
g) Efek Kondisi Pembebanan Sebagian
Seperti yang terjadi pada balok menerus, momen maksimum yang terjadi
pada struktur rangka bukan terjadi pada saat rangka itu dibebani penuh.
Melainkan pada saat dibebani sebagian. Hal ini sangat menyulitkan proses
analisisnya. Masalah utamanya adalah masalah prediksi kondisi beban yang
bagaimanakah yang menghasilkan momen kritis.
h) Rangka Bertingkat Banyak
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan analisis rangka
bertingkat banyak yang mengalami beban lateral. Salah satunya adalah
Metode Kantilever, yang mulai digunakan pada tahun 1908. Metode ini
menggunakan banyak asumsi, yaitu antara lain :
- ada titik belok di tengah bentang setiap balok
- ada titik belok di tengah tinggi setiap kolom
- besar gaya aksial yang terjadi di setiap kolom pada suatu tingkat
sebanding dengan jarak horisontal kolom tersebut ke pusat berat semua
kolom di tingkat tersebut.
Metode analisis lain yang lebih eksak adalah menggunakan perhitungan
berbantuan komputer. Walaupun dianggap kurang eksak, metode kantilever
sampai saat ini masih digunakan, terutama untuk memperlajari perilaku
struktur bertingkat banyak.
i) Rangka Vierendeel
Struktur Vierendeel seperti pada Gambar 4.29, adalah struktur rangka kaku
yang digunakan secara horisontal. Struktur ini tampak seperti rangka batang
yang batang diagonalnya dihilangkan. Perlu diingat bahwa struktur ini adalah
rangka, bukan rangka batang. Jadi titik hubungnya kaku. Struktur demikian
digunakan pada gedung karena alasan fungsional, dimana tidak diperlukan
elemen diagonal. Struktur Vierendeel ini pada umumnya lebih efisien
daripada struktur rangka batang.
2.3. Desain Rangka Kaku
Struktur rangka adalah jenis struktur yang tidak efisien apabila digunakan untuk
beban lateral yang sangat besar. Untuk memikul beban yang demikian akan lebih
efisien menambahkan dinding geser (shear wall) atau pengekang diagonal
(diagonal bracing) pada struktur rangka. Apabila persyaratan fungsional gedung
mengharuskan penggunaan rangka, maka dimensi dan geometri umum rangka
yang akan didesain sebenarnya sudah dipastikan. Masalah desain yang utama
adalah pada penentuan tiitik hubung, jenis material dan ukuran penampang
struktur.
a) Pemilihan Jenis Rangka
Derajat kekakuan struktur rangka tergantung antara lain pada banyak dan
lokasi titik-titik hubung sendi dan jepit (kaku). Titik hubung sendi dan jepit
seringkali diperlukan untuk maksud-maksud tertentu, meminimumkan
momen rencana dan memperbesar kekakuan adalah tujuan-tujuan desain
umum dalam memilih jenis rangka. Tinjauan lain meliputi kondisi pondasi
dan kemudahan pelaksanaan.
Momen yang diakibatkan oleh turunnya tumpuan pada rangka yang
mempunyai tumpuan sendi akan lebih kecil daripada yang terjadi pada
rangka bertumpuan jepit. Selain itu, pondasi untuk rangka bertumpuan sendi
tidak perlu mempunyai kemampuan memikul momen. Gaya dorong
horisontal akibat beban vertikal juga biasanya lebih kecil pada rangka
bertumpuan sendi dibandingkan dengan rangka yang bertumpuan jepit.
Rangka bertumpuan jepit dapat lebih memberikan keuntungan
meminimumkan momen dan mengurangi defleksi bila dibandingkan dengan
rangka bertumpuan sendi. Dalam desain harus ditinjau berbagai macam
kemungkinan agar diperoleh hasil yang benar-benar diinginkan.
b) Momen Desain
Untuk menentukan momen desain, diperlukan momen gabungan akibat
beban vertikal dan beban horisontal. Dalam bebrapa hal, momenmomen
akibat beban vertikal dan lateral (horisontal) ini saling memperbesar.
Sementara dalam kondisi lain dapat saling mengurangi. Momen kritis terjadi
apabila momen-momen tersebut saling memperbesar. Perlu diingat bahwa
beban lateral umumnya dapat mempunyai arah yang berlawanan dengan
yang tergambar. Karena itu, umumnya yang terjadi adalah momen yang
saling memperbesar, jarang yang saling memperkecil. Apabila momen
maksimum kritis, gaya aksial dan geser internal telah diperoleh, maka
penentuan ukuran penampang elemen struktural dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu :
(1) Mengidentifikasi momen dan gaya internal, maksimum yang ada di
bagian elemen struktur tersebut, selanjutnya menentukan ukuran
penampang di seluruh elemen tersebut berdasarkan gaya dan momen
internal tadi, sampai ukuran penampang konstan pada seluruh panjang
elemen struktur tersebut. Cara ini seringkali menghasilkan elemen
struktur yang berukuran lebih (over-size) di seluruh bagian elemen,
kecuali titik kritis. Oleh karena itu, cara ini dianggap kurang efisien
dibanding cara kedua berikut ini.
(2) Menentukan bentuk penampang sebagai respon terhadap variasi gaya
momen kritis. Biasanya cara ini digunakan dalam desain balok menerus.
c) Penentuan Bentuk Rangka
(1) Struktur Satu Bentang
Pendekatan dengan menggunakan respon terhadap beban vertikal
sebagai rencana awal tidak mungkin dilakukan berdasarkan momen
negatif dan positif maksimum yang mungkin terjadi di setiap penampang
akibat kedua jenis pembebanan tersebut. Konfigurasi yang diperoleh
tidak optimum untuk kondisi beban lateral maupun beban vertikal,
namun dapat memenuhi kondisi simultan kedua jenis pembebanan
tersebut.
(2) Rangka Bertingkat Banyak
Pada struktur rangka bertingkat banyak juga terjadi hal-hal yang sama
dengan yang terjadi pada struktur rangka berbentang tunggal.
d) Desain Elemen dan Hubungan
Penentuan bentuk elemen struktur dapat pula dilakukan dengan
menggunakan profil tersusun. Titik hubung yang memikul momen umumnya
dilas/disambung dengan baut pada kedua flens untuk memperoleh kekakuan
hubungan yang dikehendaki. Umumnya digunakan plat elemen pengaku di
titik-titik hubung kaku agar dapat mencegah terjadinya tekuk pada elemen
flens dan badan sebagai akibat dari adanya tegangan tekan yang besar akibat
momen. Rangka beton bertulang umumnya menggunakan tulangan di semua
muka sebagai akibat dari distribusi momen akibat berbagai pembebanan.
Tulangan baja terbanyak umumnya terjadi di titik-titik hubung kaku.
Pemberian pasca tarik dapat pula digunakan pada elemen struktur horisontal
dan untuk menghubungkan elemen-elemen vertikal. Rangka kayu biasanya
mempunyai masalah, yaitu kesulitan membuat titik hubung yang mampu
memikul momen. Salah satu usaha yang dilakukan untuk mengatasinya
adalah dengan memakai knee braces. Titik hubung perletakannya biasanya
berupa sendi.
BAB III
Studi kasus
Chrysler Building
(Dengan Struktur Rigid Frame)
3.1. Latar Belakang Pembangunan Chysler Building
Chrysler building merupakan sebuah pencakar langit
77 lantai tertinggi di dunia antara tahun 1930-1931,
sampai diresmikannya Emperial State yang
mempunyai 100 lantai. Namun sampai saat ini masih
merupakan gedung tertinggi dengan material bata.
Gedung yang beraliran Art Deco Karya William Van
Alen ini terasa menonjol dibandingkan dengan
pencakar langit yang telah ada di New York pada saat
itu.
Gedung Chrysler tidak sekedar beraliran Art
Deco, namun bangunan ini merupakan pencakar langit bercorak baru.
Bentuknya yang menggairahkan seolah merangkum energi dan keflamboyannan
kawasan Manhattan pada akhir tahun 1920-an. Seluruh keinginan untuk
mencapai ketinggian dan segenap gairah teatrikal tampak ditampilkan pada
bagian puncak bangunan yang megah tersebut.
Romantisme Gedung Chrysler tampaknya merupakan gambaran yang paling pas
tentang bentuk perkembangan pencakar langit yang diinginkan New York
daripada pencakar langit bercorak historis maupun gaya International Style.
Dengan segenap keanehannya, kualitas rancangan Gedung Chrysler sebagai
suatu karya arsitektur berasal dari kemampuannya untuk menjadi romantis dan
irasional maupun tidak terlihat bodoh sehingga dapat menjadi bahan tertawaan.
Tidak mengherankan apabila Chrysler Building merupakan simbol Kota New
York selama setengan abad. Suatu bangunan yang dapat lebih mempengaruhi
emosi daripada mempengaruhi pemikiran intelektual. Pada awal berdirinya
bangunan ini, banyak arsitek yang tidak menyukainya. Kenneth Franzheim
menjuluki Alen sebagai “badut dari profesi arsitek”. Akan tetapi pada
kenyataannnya bangunan inilah yang lebih sukses dibandingkan pencakar langit
lain yang ada.
Data Teknis
Nama = Chrysler Building
Arsitek = William Van Alen
Owner = Walter [Link]
Fungsi = Gedung perkantoran
Lokasi = perpotongan 42nd street dan
Lexington Avenue, Midtown, Manhattan,
New York City, U.S.A
Jumlah lantai = 77 lantai
Tinggi Gedung = 1.046 kaki/319 meter
Luas lantai = 111.201 m2
Tahun berdiri = 1928-1930
Gaya = Art Deco
Biaya = $ 20 juta
Material = beton, batu bata (muka bangunan), baja
Jmlh jendela = 3.882 buah
Baja struktur = 20.961 ton
Paku keling = 391.881 buah
Batu bata = 3.826.000 buah
Konsep Bentuk Tampilan
Bangunan dan Gaya Arsitektur
Yang Dipakai
Chrysler Building merupakan contoh
bangunan beraliran Art Deco. Hal ini
sangat terlihat dari detail ornamen
kepala bangunan yang terinspirasi dari abstraksi kap mobil Chrysler keluaran
1929. Yaitu hiasan-hiasan dengan lengkungan tajam dan garis zig-zag dan
jendela segitiga yang dikerjakan 3000 pekerja. Pada keempat sudut lantai 61
terdapat hiasan kepala burung garuda. Pada lantai 31 terdapat ornamen yang
merupakan tiruan radiator mobil Chrysler.
Gaya Art Deco juga tampak pada lobby yang dihiasi marmer afrika.
Bentuk penampilan bangunan Chrysler sebenarnya merupakan bentuk final dari
beberapa rancangan yang salah satunya beratap bulat. Tidak ada satupun yang
sebaik versi final yang kemudian dibangun. Semula Van Alen berpendapat bahwa
pencakar langit ini seharusnya mempunyai bentuk atap bulat, sehingga
memberikan sentuhan Byzantium atau Moor. Tentunya hal ini merupakan
penyeleasaian yang buruk untuk dasar bangunan yang indah, bergaya modern,
dan bernuansa ceria.
Bagian puncak atap sendiri juga bukan rancangan
asli. Bentuk ini muncul sebagai akibat persaingan
yang tajam pada masa itu. Ketika Gedung Chrysler
sedang dibangun, seorang mantan pekerja Van Alen
[Link] Severance dengan koleganya Yosou Matsui,
mendirikan bangunan setinggi 66 lantai di 40nd
Wall Street. Atap bangunan ini membentuk
piramida yang kaya akan ornamen (namun tidak sama dengan atap Gedung New
York Central). Tinggi gedung Chrysler adalah 925 kaki, sedang bangunan di 40nd
Wall Street yang merupakan kantor pusat Bank of Manhattan Company
direncanakan memiliki ketinggian 927 kaki. Hal ini tentunya menjadikan karya
Severance bangunan tertinggi di dunia pada saat itu.
Van Alen yang sangat ingin meraih gelar tersebut kemudian menambahkan
puncak atap yang dirakit secara diam-diam dalam cerobong lift Gedung Chrysler,
dan memasangnya sesaat sebelum bangunan secara keseluruhan selesai selama
90 menit. Tambahan ini menjadikan Gedung Bank of Manhattan Company
tertinggal jauh pada urutan kedua. Kejadian ini mewakili “kegialaan” akan
pencapaian ketinggian bangunan yang merasuki para arsitek dan developer pada
tahun menjelang pergantian dekade.
Konsep Sistem Struktur
Struktur yang dipakai pada Chysler building adalah struktur rigid frame dengan
konstruksi beton bertulang dengan baja dan bata. Pemilihan struktur tepat
karena memang sesuai perhitungan struktur yang mampu menahan segala
beban bangunan tinggi.
Hingga menjadikan Chrysler building mendapat gelar bangunan struktur
tertinggi di dunia sebelum Menara Eifell selesai dibangun.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Bentuk dari sistem struktur ini adalah kolom balok yang dapat digabung
dengan sistem pelat lantai beton bertulang. Kerena bersifat rangka, maka
dinding-dinding hanya berfungsi sebagai pembatas atau pembentuk ruang saja.
Dinding ini bahkan dapat dihilangkan.
Beban-beban pada bangunan pada intinya ditopang oleh kolom dan balok,
sehingga dari atas hingga ke bawah bangunan, letak titik-titik beban seharusnya
dipasang pada titik-titik tumpunya. Sehingga idealnya kuda-kuda harus ditopang
oleh kolom, dan kolom harus ditopang oleh pondasi titik di bawahnya.
Keuntungan Sistem Rangka:
- Ruang lebih fleksibel karena dinding dapat dipasang atau dihilangkan
- Pelaksanaan konstruksi di lapangan yang lebih cepat karena dinding dan
ruangan dapat dipasang kemudian.
- Pondasi dapat dibuat lebih sederhana dengan menggunakan pondasi
setempat atau titik
Kerugian Sistem Rangka:
- Beban-beban diutamakan diletakkan pada titik-titik hubungnya, sehingga
relatif sulit untuk mendapatkan kedudukan sistem struktur yang benar-
benar ideal pada penerapannya
- Bangunan harus terdiri dari kolom-kolom dan balok yang posisi dan letaknya
harus memenuhi persyaratan jarak tertentu yang dipengaruhi oleh sifat-sifat
teknis bahan bangunan struktur utamanya.