C.
PENDEKATAN PROBLEM BASED LEARNING
1. Definisi dan Konsep Pendekatan Pembelajaran Problem Based Learning
Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris problem based
learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan
suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan
pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya. Problem based learning (PBL) atau
Pembelajaran Berbasis Masalah adalah metode pengajaran yang bercirikan adanya
permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berpikir kritis
dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan (Duch, 1995).
Menurut Arends (2013:102), “PBL dirancang terutama untuk membantu siswa
mengembangkan keterampilan berpikir, memecahkan masalah, dan Lintelektualnya;
mempelajari peran-peran orang dewasa melalui berbagai situasi nyata atau simulasi;
dan menjadi pelajar yang mandiri dan otonom”. Menurut Wena (2013:91) PBL
merupakan strategi pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada permasalahan-
permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa
belajar melalui permasalahan-permasalahan. Definisi yang dijelaskan di atas
mengandung arti bahwa PBL merupakan setiap suasana pembelajaran yang diarahkan
oleh suatu permasalahan sehari-hari. Berdasarkan uraian mengenal PBL diatas, dapat
disimpulkan bahwa PBL merupakan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada
masalah dunia nyata (real world) untuk memulai pembelajaran. Tujuan utama
problem based learning bukanlah penyampaian sejumlah besar pengetahuan kepada
peserta didik, melainkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan
kemampuan pemecahan masalah dan sekaligus mengembangkan kemampuan peserta
didik untuk secara aktif membangun pengetahuan sendiri. Problem based learning
juga dimaksudkan untuk mengembangkan kemandirian belajar dan keterampilan
sosial peserta didik.
Terdapat tiga ciri utama dari pembelajaran berbasis masalah. Pertama,
pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya
dalam implementasi pembelajaran berbasis masalah ada sejumlah kegiatan yang harus
dilakukan siswa. pembelajaran berbasis masalah tidak hanya mengharapkan siswa
sekedar mendegarkan mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi
melalui pembelajaran berbasis masalah siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari
dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan. Kedua, aktivitas pembelajaran
diarahkan untuk menyelesaikan masalah. pembelajaran berbasis masalah
menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa
masalah maka tidak mungkin ada proses pebelajaran. Ketiga, pemecahan masalah
dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan
menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan
induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis
artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu; sedangkan empiris
artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
Karakteristik Problem based learning menurut Herminarto Sofyan (2015: 216) yaitu:
(1) aktivitas didasarkan pada pernyataan umum; (2) belajar berpusat pada peserta
didik (student center learning), guru sebagai fasilitator; (3) peserta didik bekerja
kolaboratif; (4) belajar digerakan oleh konteks masalah; dan (5) belajar interdisipliner.
2. Tahapan Pendekatan Pembelajaran Problem Based Learning
Terdapat lima langkah utama dalam penerapan problem based learning. Langkah-
langkah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Langkah Tahapan Perilaku Guru
Kegiatan
(Sebagai Narasumber)
Kegiatan Awal Apersepsi
Menyampaikan tujuan dan indikator
pembelajaran
Tahap 1 (Sebagai Narasumber)
Mengorientasikan Menjelaskan tujuan pembelajaran.
peserta Didik Menjelaskan logistik (bahan-bahan)
terhadap masalah. yang diperlukan.
Memotivasi peserta didik untuk terlibat
aktif dalam pemecah-an masalah yang
dipilih.
Kegiatan Inti Tahap 2 (Sebagai Fasilitator)
Mengorganisasi Membantu peserta didik mendefinisikan dan
peserta mengorganisasikan tugas belajar yang
didik untuk belajar. berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap 3 (Sebagai Fasilitator)
Membimbing Mendorong peserta didik untuk
penyelidikan mengumpulkan informasi yang sesuai,
individual melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan
maupun kelompok penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap 4 (Sebagai Fasilitator)
Mengembangkan dan Membantu peserta didik dalam merencanakan
menyajikan hasil dan menyiapkan karya yang sesuai seperti
karya laporan model dan berbagi tugas dengan
teman.
Tahap 5 (Sebagai Fasilitator)
Menganalisis dan Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang
mengevaluasi proses telah dipelajari/meminta kelompok presentasi
pemecahan masalah hasil kerja.
Kegiatan (Sebagai Fasilitator)
Penutup 1. Melakukan Refleksi
2. Penutup pelajaran
3. Pendekatan Problem Based Learning dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
Bahasa Indonesia: Informasi Iklan Melalui Media
1. Fase 1 (Orientasi Peserta Didik pada Masalah)
a. Peserta didik mengamati video tentang iklan layanan masyarakat.
b. Peserta didik melakukan tanya jawab tentang isi iklan layanan masyarakat
di video.
c. Peserta didik membentuk kelompok dengan kata dang_ding_dung secara
bergantian dengan tertib.
d. Peserta didik berkumpul dengan peserta didik lain yang sama kata
dang_ding_dung tanpa membandingkan perbedaan.
e. Peserta didik berkumpul dalam kelompok dan menyimak instruksi dengan
teliti.
Fase ke-2 (Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar
Peserta didik berdiskusi membuat pertanyaan dengan menggunakan kata tanya
dimana, apa, siapa, mengapa, dan bagaimana mengenai masalah yang disajikan.
Fase ke-3 (Membimbing Penyelidikan secara Individu atau Kelompok)
a. Peserta didik menentukan Kata kunci pada iklan layanan masyarakat
tentang pentingnya minum air putih
b. Peserta didik menemukan kata kunci sebagai informasi penting dalam
diskusi kelompok
c. Peserta didik menuliskan pada potongan kertas mengenai informasi
penting dalam iklan.
Fase ke-4 (Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya)
a. Peserta didik memerinci informasi-informasi penting yang berkaitan
dengan teks iklan layanan masyarakat.
b. Peserta didik menganalisis dan memerinci pentingnya air putih untuk
kesehatan organ pencernaan makanan.
c. Peserta didik menyajikan dalam bentuk karya/poster.
d. Guru melakukan pengamatan untuk menilai sikap dan keterampilan
peserta didik.
Fase ke-5 (Menganalisis dan Mengavaluasi Proses pemecahan Masalah)
a. Peserta didik menyajikan informasi penting dalam iklan yang telah dibuat
melalui poster.
b. Peserta didik menyimpulkan hasil diskusi.
c. Peserta didik secara mandiri menyelesaikan permasalahan pada soal
evaluasi.
4. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Problem Based Learning
Beberapa keuntungan dari pembelajaran problem based learning adalah sebagai
berikut (Johnson & Johnson, 1984: 23-33: (1) meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah. Problem based learning menekankan peserta didik terlibat dalam tugas-tugas
pemecahan masalah dan perlunya pembelajaran khusus bagaimana menemukan dan
memecahkan masalah. Problem based learning ini membuat peserta didik lebih aktif
dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks; (2) meningkatkan
kecapakan kolaboratif. Pembelajaran Problem based learning mendukung peserta
didik dalam kerja tim. Dalam kerja tim ini, mereka menemukan keterampilan
merencanakan, mengorganisasi, negosiasi dan membuat konsensus isu tugas,
penugasan masing-masing tim, pengumpulan informasi dan penyajian. Keterampilan
pemecahan masalah secara kolaboratif kerja tim inilah yang nantinya akan dipakai
ketika bekerja; (3) meningkatkan keterampilan mengelola sumber. Problem based
learning memberikan kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam
mengorganisasi proyek, alokasi waktu dan sumber-sumber lain untuk penyelesaian
tugas.
Hal lain yang menjadi kekurangan Problem based learning yaitu meskipun
Problem based learning sudah lama diterapkan akan tetapi masih menjadi barang baru
di dunia pendidikan Indonesia. Perlu adanya training dan pelatihan sebelum
pelaksanaannya sehingga guru menguasai proses dan juga tujuan dari PBL dalam
pembelajaran itu sendiri.
Sumber:
Wagiran, Herminanto Sofyan, dkk. 2017. Problem Based Learning dalam Kurikulum
2013. Yogyakarta: UNY Press.
Krissandi, Apri Damai Sagita, dkk. 2018. Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk SD
(Pendekatan dan Teknis). Jakarta: Penerbit Media Maxima.
[Link]
[Link]
menggunakan-model-problem-based-learning-pbl/