100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
2K tayangan17 halaman

Laporan Pendahuluan DM Tipe 2

Laporan pendahuluan pasien Tn. P.S dengan diabetes melitus tipe 2 menjelaskan konsep dasar penyakit tersebut, termasuk pengertian, etiologi, manifestasi klinis, pathway, dan komplikasi diabetes melitus tipe 2. Laporan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang diabetes melitus tipe 2 pada pasien.

Diunggah oleh

calvin bano
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
2K tayangan17 halaman

Laporan Pendahuluan DM Tipe 2

Laporan pendahuluan pasien Tn. P.S dengan diabetes melitus tipe 2 menjelaskan konsep dasar penyakit tersebut, termasuk pengertian, etiologi, manifestasi klinis, pathway, dan komplikasi diabetes melitus tipe 2. Laporan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang diabetes melitus tipe 2 pada pasien.

Diunggah oleh

calvin bano
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN Tn. P.S DENGAN DM TIPE 2


RUMAH SAKIT Tk. IV 09.07.01 WIRASAKTI KUPANG

OLEH:
JOICE VERAWATI KAHA

UNIVERSITAS CITRA BANGSA KUPANG


FAKULTAS KESEHATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
2021
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. PENGERTIAN
Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang
ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (Hiperglikimia) akibat
kerusakan pada sekresi insulin, (Smeltzer & Bare,2015). Diabetes mellitus
adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan kadar glukosa dalam
darah akibat dari berkurangnya produksi insulin di pankreas atau suatu
keadaan dimana kadar gula di dalam darah melebihi kadar normal (>150
mg/dl).
2. ETIOLOGI
Menurut Sari (2012), faktor-faktor yang menyebabkan diabetes melitus yaitu :
a. Faktor keturunan: Orang yang memiliki riwayat keluarga pernah
mengalami diabetes memiliki faktor resiko terkena diabetes yang lebih
tinggi.
b. Usia : Resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun
c. Jenis kelamin: Refalensi wanita terkena diabetes lebih tinggi dibandingkan
prefalensi pada pria.
d. Obesitas: Semakin besar kelebihan berat badan maka prefalensi
terganggunya kerja insulin akan semakin besar, karna kelebihan lemak
dapat menyebabkan gangguan pada kerja hormon insulin.
e. Aktivitas fisik: Semakin jarang kita melakukan aktivitas fisik maka gula
yang dikonsumsi juga akan semakin lama terpakai, akibatnya prefalensi
peningkataan kadar gula dalam darah juga akan semakin tinggi
f. Pola makan: Pola makan berlemak dan karbohidrat yang berlebihan akan
meningkatkan resiko diabetes
g. Stres: Merupakan salah satu faktor pemicu meningkatakan faktor resiko
diabetes.
3. MANIFESTASI KLINIS
(Perkeni,2015) yaitu :
a. Gejala penyakit akut Diabetes Melitus
Gejala penyakit DM bervariasi pada setiap penderita, bahkan
mungkintidak menunjukan gejala apa pun sampai saat tertentu.
Permulaan gejala yang ditunjukan meliputi :
- Banyak makan (Poliphagi)
- Banyak minum (Polidipsi)
- Banyak kencing (Poliuri)
Keadaan tersebut jika tidak segera di obati akan timbul gejala banyak
makan, banyak minum, banyak kecing, napsu makan mulai berkurang atau
berat badan turun dengan cepat (5-10 kg) dalam waktu (2-4 minggu),
mudah lelah dan bila tidak lekas diobati akan timbul rasa mual.
b. Gejala kronik penyakit Diabetes Melitus
Gejala kronik yang sering ditemukan oleh penderita DM, yaitu :
- Kesemutan
- Kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum
- Rasa tebal di kulit
- Keram
- Mudah mengantuk
- Mata kabur dan biasanya sering mengganti kaca mata
- Gatal disekitar kemaluan terutama wanita
- Gigi mudah goya dan mudah lepas
- Kemampuan seksual menurun
- Para ibu hamil sering mengalami kematian dan keguguran janin
kandungan atau dengan bayi berat lahir lebuh dari 4 kg.
4. PATHWAY

Reaksi auto imun Obesitas, Usia, Genetik

DM Tipe I DM Tipe II

Sel beta Sel beta pancreas


pancreas hancur hancur

Defisiensi Insulin

Proses pembentukan Metabolisme Lipolisis meningkat Penurunan pemakaian


protein protein menurun glukosa
Metabolisme lipid
Kerusakan pada Merangsang meningkat Hipoglikemia
antibodi Hipotalamus

Kekebalan tubuh Aterosklerosis Ketogenesis Glycosuria Viskositas


Lapar & Haus
menurun darah
Ketoasidosis Osmotik
Polidipsi & polifagi Aliran
diuresis
darah
Resiko Neuropati Nyeri Abdomen melambat
Infeksi sensori perifer Ketidakseimbangan Mual Muntah Poliuria
nutrisi kurang dari Hiperventilasi
kebutuhan tubuh Nafas bau keton Iskemik
Klien merasa Dehidrasi jaringan
tidak sakit saat Koma
luka
Kekurangan
volume cairan
Makro vaskuler Mikro vaskuler
Ketidake
fektifan
Retina diabetik perfusi
Jantung setebratal jaringan
Gangguan penglihatan perifer
Miocard Penyumbatan
infrak pada otak Stroke Resiko cedera

Nyeri Akut Nekrotis luka

Gangren

Kerusakan integritas
kulit

Sumber: (Haryati, dkk (2015)


5. KOMPLIKASI
Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada pasien DM tipe II akan
menyebabkan bergabai komplikasi. Komplikasi DM tipe II terbagi dua
berdasarkan lama terjadinya yaitu: komplikasi akut dan komplikasi kronik
(Smeltzer & Bare, 2015).
a. Komplikasi Akut
- Ketoasidosis Diabetik (KAD)
KAD merupakan komlikasi DM yang ditandai dengan peningkatan kadar
glukosa darah yang tinggi (300-600 mg/dl), disertai dengan adanya tanda
dan gejala asidosis dan plasma keton (+) kuat. Osmolaris plasma
meningkat (300-320 mOs/mL) dan terjadi peningkatan anion gap.
- Hiperosmolar Non Ketotik (HNK)
Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600-
1200 mg/dl), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas plasma sangat
meningkat (330-380 mOs/mL), plasma keton (+/-), anion gap normal atau
sedikit meningkat.
- Hipoglikemia
Menurunya kadar glukosa darah mg/dl. Pasien DM yang tidak sadarkan
diri harus di pikirkan mengalami keadaan hipoglikemia. Gejala dari
hipoglikemia terdiri dari berdebar-debar, banyak keringat, gemetar, rasa
lapar, pusing, gelisah dan kesadaran menurun sampai koma.
b. Komplikasi Kronik
Komlikasi jangka oanjang menjadi lebih umum terjadi pada pasien
DM, penyakit DM tidak terkontrol dalam waktu yang lama akan
menyebabkan terjadinya komplikasi kronik. Kategori umum komplikasi
jangka panjang terdiri dari :
- Komplikasi Makrovaskular
Komplikasi makrovaskuler pada pasien DM akibat aterosklerosis dari
pembuluh-pembuluh darah besar, khususnya arteri akibat timbunan plak
ateroma. Makroangiopati tidak spesifik pada DM namun dapat timbul lebih
cepat, lebih sering terjadi dan lebih serius. Komplikasi makroangiopati
umumnya tidak ada hubungan dengan kontrol kadar gula darah dengan
baik, tetapi telah terbukti secra epidemologi hiperinsulinemia merupakan
suatu faktor resiko mortalitas kardiovaskular dimana peningkatan kadar
insulin dapat menyebabkan terjadinya risiko kardiovaskuler menjadi
semakin tinggi. Kadar insulin puasa > 15 mU/mL akan meningkatkan risiko
mortalitas koroner sebesar 5 kali lipat.
Makroangiopati, mengenai pembulu darah besar antara lain adalah
pembuluh jantung atau penyakit jantung koroner, pembuli darah otak atau
stroke, dan penyakit pembulu darah. (Smeltzer & Bare, 2015).
- Komplikasi Mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskuler terjadi akibat penyumbatan pada pembulu darah
kecil khususnya kapiler yang terdiri dari retinopati, nefropati diabetik.
Retinopati diabetik dibagi dalam 2 kelompok yaitu: retinopati non proliferatif
dan retinopati proliferatif. Retinopati non proliferatif merupakan stadium
awal yang ditandai dengan mikroaneurisma, sedangkan retinopati
proliferatif ditandai dengan adanya pertumbuhan darah kapiler, jaringan
ikat, dan adanya hipoksia retina. Seterusnya, nefropati dibetik adalah
gangguan fungsi ginjal akibat kebocoran selaput penyaring darah. Nefropati
diabetik ditandai dengan adanya proteinuria persisten (>0,5gr/24 jam),
terdapat retinopati dan hipertensi. Kerusakan ginjal yang spesifik pada DM
mengakibatkan perubahan fungsi penyaring sehingga molekul-molekul
besar seperti protein dapat masuk kedalam kemih (albuminuria). Akibat dari
nefropati diabetik dapat menyebabkan kegagalan ginjal progresif dan upaya
prefentif pada nefropati adalah kontrol metabolisme dan kontrol tekanan
darah (Smaltzer & Bare, 2015).
- Neuropati
Diabetes neuropati adalah kerusakan saraf sebagia komlikasi serius akibat
DM. Komplikasi yang paling serimg dan terpenting adalah neuropati perifer,
berupa hilangnya sensasi distal dan hiasanya mengenai kaki trrlebih
dahulu. Neuropati beresiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi.
Gejala yang sering dirasakan adalah : kaki terasa terbakar, bergetar sendiri
dan lebih terasa sakit di malam hari.

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Nanda (2015-2017), pemeriksaan penunjang diabetes melitus
adalah
a. Kadar glukosa darah
Kadar glukosa sewaktu :
Kadar glukosa darah sewaktu (mg/dl) DM Belum DM
Plasma Darah >200 100-200
Darah Kapiler >200 80-100

Kadar glukosa darah puasa (mg/dl) DM Belum DM


Plasma vena >120 110-120
Darah Kapiler >110 90-110

b. Kadar diagnostik WHO untuk diabetes melitus sedikitnya 2 kali


pemeriksaan
- Glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dl (1.1 mmol/L)
- Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
- Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp)> 200mg/dl)
c. Tes laboratorium DM
Jenis tes pada pasien DM dapat berupa tes saring, tes diagnostik, tes
kompilkasi.
- Tes diagnostik DM
Tes-tes diagnostik pada DM adalah GDP, GDS, GD2PP (glukosa
darah b2 jm post prandial), glukosa jam ke 2 TTGO
- Tes monitoring terapi
Tes untuk mendeteksi komplikasi :
a. GDP: plasma vena dan darah kapiler
b. GD2 PP: plasma Vena
c. Alc: darah vena darah kapiler
- Tes mendeteksi komplikasi

Tes untuk mendeteksi komplikasi adalah :


a. Mikroalbuminuria; urin
b. Ureum, kreatinin, asam urat
c. Kolestrol total: plasma vena (puasa)
d. Kolestrol LDL: plasma vena (puasa)
e. Kolestrol HDL: plasma vena (puasa)
7. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksaan Non Farmakologi (terapi primer) :
1) Perancanaan makan/diet Misalnya :
 Kurangi makan yang mengandung glukosa jeroan, santan dan
makan ringan yang banyak mengandung glukosa
 Sering mengkonsumsi yang kurang manis, misalnya papaya,
kedondong, pisang, apel, tomat,semangka
 Sayur-sayuran dan buahan yang berserat
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang
seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak yang sesuai dengan
kecukupan gizi baik yaitu :
 Karbohidrat sebanyak 60 – 70 %
 Protein sebanyak 10 – 15 %
 Lemak sebanyak 20 – 25 %
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur,
stress akut dan kegiatan jasmani. Untuk kepentingan klinik praktis,
penentuan jumlah kalori dipakai rumus Broca yaitu Barat Badan Ideal =
(TB-100)-10%, sehingga didapatkan =
 Berat badan kurang = < 90% dari BB Ideal
 Berat badan normal = 90-110% dari BB Ideal
 Berat badan lebih = 110-120% dari BB Ideal
 Gemuk = > 120% dari BB Ideal.
Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari BB Ideal dikali kelebihan
kalori basal yaitu untuk laki-laki 30 kkal/kg BB, dan wanita 25 kkal/kg BB,
kemudian ditambah untuk kebutuhan kalori aktivitas (10-30% untuk pekerja
berat). Koreksi status gizi (gemuk dikurangi, kurus ditambah) dan kalori untuk
menghadapi stress akut sesuai dengan kebutuhan.
Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut diatas dibagi
dalam beberapa porsi yaitu :
 Makanan pagi sebanyak 20%
 Makanan siang sebanyak 30%
 Makanan sore sebanyak 25%
 2-3 porsi makanan ringan sebanyak 10-15 % diantaranya.
2) Latihan jasmani/latihan fisik
Dapat memperbaiki metabolisme glukosa asam lemak dan meranggsang
sintesis [Link] juga meningkatkan kepekaan insulin pada
jaringan perifer, sehingga dosis insulin dapat menurunkan waktu latihan.
3) Edukasi
Penyuluhan untuk merencanakan pengelolaan sangat penting untuk
mendapatkan hasil yang maksimal. Edukator bagi pasien diabetes yaitu
pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan yang
bertujuan menunjang perubahan perilaku untuk meningkatkan
pemahaman pasien akan penyakitnya, yang diperlukan untuk mencapai
keadaan sehat yang optimal. Penyesuaian keadaan psikologik kualifas
hidup yang lebih baik. Edukasi merupakan bagian integral dari asuhan
keperawatan diabetes (Ganardi, 2012).
b. Penatalaksanaan Farmakologi (terapi sekunder)
Pemberian Obat Oral Anti-Diabetes (OAD), Resep akan diberikan oleh
dokter sesuai dengan kondisi tubuh, reaksi obat, dan kondisi
pengendalian kadar glukosa darah pada pasien.
Jenis Fungsi Contoh
Sulfonilurea Merangsang sekresi insulin dari pancreas Tolbutamide
Gliclazide
Gliclazide MR
Glimepiride
Glipizide
Biguanid Mengurangi produksi glukosa di hati, Metformin
meningkatkan penggunaan glukosa oleh Metformin XR
jaringan tubuh (otot), dan mengurangi
penyerapan glukosa di saluran pencernaan
Penghambat Memperlambat penyerapan dekstrosa di Akarbose
α-Glukosidase usus halus sehingga mencegah
penyerapan glukosa yang berlebihan
setelah makan
Glitazon Meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap Pioglitazone
insulin sehingga glukosa bisa masuk ke
dalam sel dan menurunkan kadar glukosa.
Penghambat Merangsang sekresi insulin dari pancreas Sitagliptin
Enzim Vildagliptin
Dipeptidil Linagliptin
Peptidase-4 Saxagliptin
Alogliptin
Meglitinides / Merangsang sekresi insulin dari pancreas Repaglinide
Glinides
Penghambat Menghambat reabsorpsi glukosa di ginjal Dapagliflozin
SGLT2 dan menurunkan kadar gula darah; Empagliflozin
misalnya empagliflozin, dapagliflozin Canagliflozin

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
4. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Anamnese
1) Identitas:
Jenis kelamin: Perempuan lebih sering dari pada laki-laki
Umur: DM Tipe 1 Usia < 30 tahun, DM Tipe 2 Usia > 30 tahun,
cenderung meningkat pada usia > 65 tahun.
2) Keluhan utama: Banyak minum, Banyak kencing dan Penurunan berat
badan, Poliuria, polidipsia, Polifagia, berat badan menurun, Lemah,
Kesemutan, Gatal, Visus menurun, Bisul/luka, Keputihan.
3) Riwayat penyakit sekarang: Banyak minum, Banyak kencing dan
Penurunan berat badan, Poliuria, polidipsia, Polifagia, berat badan
menurun, Lemah, Kesemutan, Gatal, Visus menurun, Bisul/luka,
Keputihan.
4) Riwayat penyakit dahulu: Diabetes tipe 1 (destruksi sel ß, umumnya
menjurus ke defisiensi insulin absolut): autoimun dan idiopatik, diabetes
tipe 2 (bervariasi mulai terutama dominan resistensi insulin disertai
defisiensi insulin relatif sampai terutama defek sekresi insulin disertai
resistensi insulin), Diabetes tipe lain: Defek genetik fungsi sel beta,
Defek genetik kerja insulin, Penyakit esokrin pankreas, Endokrinopati,
Karena obat/zat kimia, dan diabetes Melitus gestasional
5) Riwayat Psikososial
Pada anak umur 14 tahun biasanya sangat tertarik pada bacaan, mulai
tertarik dengan lawan jenis, menyesuaikan diri dengan standar
kelompok, sangat dekat dengan orang tua dan juga teman sebaya.
6) Riwayat Tumbuh Kembang
a. Pertumbuhan meliputi: BB normal pada anak usia 14 tahun adalah
12.7-19,2 kg dan tinggi badan normal pada anak usia 4 tahun adalah
95-106 cm (Sylfia, 2006).
b. Perkembangan meliputi:
Menurut teori perkembangan erikson anak usia 12-18 (Remaja) masuk
pada tahap Identitas vs kekacauan identitas. Pada masa ini merupakan
masa transisi dari kanak-kanak ke remaja, dan menurut sebagian besar
orang tua inilah masa yang bisa jadi cukup sulit terutama dalam hal
membangun komunikasi dengan anak remaja. Pada fase ini dijumpai
hal-hal sebagai berikut :
 Berakhir fase kanak-kanak dan memasuki fase remaja
 Pertumbuhan fisik yang pesat mencapai taraf dewasa
 Orang tua sebagai figure identifikasi mulai luntur dan mencari
identifikasi lain
 Sikap coba-coba yang tidak jarang menjerumuskan remaja ke hal-
hal negative
 Sering terjadi konflik pada saat mencari identitas diri sehingga apa
yang dialami pada fase kanak-kanak muncul kembali.
 Kebingungan peran diri dapat menimbulkan kelainan perilaku yaitu
kenakalan remaja dan mungkin juga psikotik
 Dalam mencari identitas diri, anak sering mencoba berbagai macam
peran yang cocok dengan dirinya.
7) Riwayat Iminisasi
Pada anak usia < 15 tahun biasanya sudah harus mendapat
imunisasi Diptheria Tetanus (DT) dan Tetanus Diptheria (Td).
8) Pola ADL
- Aktivitas/istirahat
Lemah, letih, sulit bergerak,/berjalan, Kram otot, tonus otot menurun,
gangguan tidur/istirahat
- Eliminasi
Perubahan pola berkemih (poliuria) nokturia. Rasa nyeri/terbakar,
kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang. Nyeri tekan abdomen.
Diare
- Nutrisi
Hilang napsu makan. Mual/muntah. Tidak mengikuti diet; peningkatan
masukan glukosa/karbohidrat. Penurunan berat badan lebih dari
periode beberapa hari/minggu. Haus. Penggunaan diuretik (tiazid).
- Hygiene
Perawatan diri dapat dibantu maupun tidak.
9) Pemeriksaan fisik
a. Kepala: Bentuk kepala normoshepal
b. Wajah: Wajah biasanya pucat, bibir biasanya kering dan pucat
c. Mata: Konjungtiva anemis, pada pasien dengan Diabetes Melitus
dapat terjadi penurunan penglihatan, Retinopati Diabetikum.
d. Hidung: simetris dan normal
e. Leher: Biasanya terjadi Pembesaran tiroid, tidak terdapat
peningkatan tekanan Vena Jugularis
f. Dada :
 Jantung
Adanya riwayat hipertensi, infark miokard akut, takikardi, tekanan
darah yang cenderung meningkat, disritmia, nadi yang menurun.
 Paru-paru
Sesak napas,batuk dengan/tanpa sputum purulen, perubahan frekuesi
pernapasan, lapar udara, Terjadi perubahan pola napas, baik irama,
kedalaman maupun frekuensi yaitu cepat dan dangkal, irama tidak
teratur (chyne stokes, ataxia brething), bunyi napas ronchi, wheezing
atau stridor. Adanya sekret pada tracheo brokhiolus.
g. Abdomen: pada kulit apakah ada strie dan simetris adanya
pembesaran organ (pada penderita dengan penyerta penyakit sirosis
hepatic atau hepatomegali dan splenomegali), abdomen yang
tegang/nyeri, asites.
h. Ektremitas: kelemahan pada otot, rasa kesemutan dan kebas pada
ekstermita merupakan tanda gejala dari penderita diabetes
[Link], letih dan sulit bergerak atau berjalan, kram otot, tonus
otot menurun, penurunan kekuatan otot,kelelahan, kulit gatal – gatal,
kulit kering, ulkus kulit, parastesia/ paralisis, penurunan kemampuan
dalam beraktivitas.
i. Genitalia: perubahan pola perkemihan, nokturia, adanya rasa
nyeri/terbakar, ISK baru/ berulang, urine encer, pucat, kuning, poliuria.
2. Diagnosa Keperawatan
 Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor
biologis (disfungsi insulin)
 Resiko ketidakstabilan kadar glukosa dalam darah
 Defisiensi pengetahuan b.d kurang informasi.
2. Intervensi Keperawatan

DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI/RENCANA TINDAKAN


KEPERAWATAN GOAL OBJECTIVE KRITERIA HASIL/EVALUASI (NIC)
Nyeri akut b.d agen Nyeri Selama Selama dalam perawatan NIC 1: Manajemen nyeri
cedera biologis pasien dalam pasien akan menunjukkan: 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
ditandai dengan akan perawatan, NOC 1: Tingkat Nyeri komprehensif
ekspresi wajah berkuran penyebab 1. Nyeri yang dilaporkan (3) 2. Observasi adanya petunjuk nonverbal
nyeri, keluhan g selama nyeri akan 2. Wajah meringis (5) mengenai ketidaknyamanan
tentang dalam berkurang 3. Mengeluarkan keringat (5) 3. Pantau TTV pasien
karakteristik nyeri perawata Ket: 4. Berikan informasi mengenai nyeri
dengan n 1. Berat 5. Berikan lingkungan yang nyaman
menggunakan 2. Cukup berat 6. Anjurkan pasien untuk istirahat
standar instrumen 3. Sedang 7. Anjurkan teknik manajemen nyeri
nyeri 4. Ringan nonfarmakologi
5. Tidak ada 8. Kolaborasi pemberian analgetik
4. Frekuensi napas (5)
5. Tekanan darah (5)
Ket:
1. Deviasi berat dari
kisaran normal
2. Deviasi yang cukup
berat dari kisaran normal
3. Deviasi yang sedang
dari kisaran normal
4. Deviasi ringan dari
kisaran normal
5. Tidak ada deviasi yang
cukup berat dari kisaran
normal
3. Implementasi keperawatan

Diagnosa keperawatan Implementasi


Nyeri akut b.d agen cedera 1. Kaji skala nyeri pasien
biologis ditandai dengan 2. Berikan tempat yang nyaman bagi pasien
ekspresi wajah nyeri, 3. Observasi TTV
4. Edkasi pasien tentang nyeri
keluhan tentang
5. Anjurkan pasien untuk istirahat
karakteristik nyeri dengan 6. Anjurkan teknik manajemen nyeri
menggunakan standar nonfarmakologi (tarik napas dalam)
instrumen nyeri 7. Pemberian obat anti nyeri

4. Evaluasi Keperawatan
Diagnosa keperawatan Evaluasi
Nyeri akut b.d agen cedera S: pasien mengatakan tidak nyeri
biologis ditandai dengan ekspresi lagi
wajah nyeri, keluhan tentang O: keadaan umum membaik, pasien
karakteristik nyeri dengan tampak tidak nyeri lagi
menggunakan standar instrumen A: masalah nyeri akut teratasi
nyeri P: intervensi dihentikan
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association (ADA,2015). Diabetes basic.


[Link] diabetes-basic

Haryati, ddk (2014). Hubungan Faktor Resiko, Jenis Kelamin, Kegemukan dan
Hipertensi dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe II di Wilayah Kerja
Puskesmas Mataram . Media Binal Ilmiah. Nuha Medika

NANDA, (2015-2017), Diagnosis Keperawatan NANDA Defenisi & Klasifikasi

PERKENI (2015). Konsep pengolahan dan pencegahan diabetes melitus di


indonesia. Jakarta

Rendy, M Clevo dan Margarets TH. (2012). Asuhan Keperawatan Medikal


Bedah Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika

Smeltzer, C.S dan Bare (2015), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Bruner
& Suddarth Edisi 8 Jakarta:Egc

Anda mungkin juga menyukai