0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan45 halaman

Kehilangan Energi pada Jaringan Pipa

Dokumen tersebut membahas percobaan aliran cairan melalui sistem pipa dengan berbagai konfigurasi seperti pipa tunggal, pipa seri, dan jaringan pipa. Peralatan yang digunakan mampu mengukur debit dan kehilangan energi pada berbagai susunan pipa dengan mengatur katub-katubnya. Tujuan percobaan adalah mempelajari hubungan antara kehilangan energi dan debit pada berbagai konfigurasi pipa.

Diunggah oleh

Kijati M Gabian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan45 halaman

Kehilangan Energi pada Jaringan Pipa

Dokumen tersebut membahas percobaan aliran cairan melalui sistem pipa dengan berbagai konfigurasi seperti pipa tunggal, pipa seri, dan jaringan pipa. Peralatan yang digunakan mampu mengukur debit dan kehilangan energi pada berbagai susunan pipa dengan mengatur katub-katubnya. Tujuan percobaan adalah mempelajari hubungan antara kehilangan energi dan debit pada berbagai konfigurasi pipa.

Diunggah oleh

Kijati M Gabian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laboratorium Hidraulika

Fakultas Teknik Jurusan Sipil


Universitas Katolik Parahyangan

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN SIPIL
Percobaan : 6
Laboratorium
Hidrolika Topik : Kehilangan energi pada pipa tunggal, pipa seri,
pipa paralel dan jaring-jaring pipa

I. DISKRIPSI ALAT

Peralatan CK11-MKII Pipe Network dapat digunakan untuk mendemonstrasikan


aliran melalui pipa interkoneksi dan mengukur kehilangan energi yang terjadi. Pipa
dengan berbagai diameter dapat dihubungkan secara seri, paralel dan jaringan
tertutup (ring) untuk mendemonstrasikan karakteristik aliran melalui jaringan pipa.
Sketsa peralatan CK11-MKII Pipe Network dapat dilihat pada Gambar 6-1 berikut.

Gambar 6-1. Peralatan C11-MKII Pipe Network

Percobaan - 6 Halaman 6 - 1
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Gambar 6-2. Pandangan Depan dan Pandangan Samping dari Peralatan C11-
MKII Pipe Network
Keterangan Gambar 6-2.
1 : Katub pengontrol (Control valve)
2 : Katub pengatur debit
3 : Katub isolasi (Isolating valve)
4 : Penghubung pipa percobaan (Conector pipe)
5 : 4 buah pipa percobaan (4 test pipes)
6 : Kelem
7 : Pipa cadangan (Spare pipe)
8 : Katub pengatur kiri
10 : Katub pengatur kanan
12 : Katub pengatur tengah

Pada sistem perpipaan persoalan umum yang dihadapi adalah menentukan debit
aliran dan kehilangan energi yang terjadi pada sistem interkoneksi pipa, seringkali
dikenal sebagai sistem jaringan pipa (pipe network). Jaringan pipa ini dapat berupa
pipa tunggal sampai jaringan pipa rumit yang terdiri atas banyak pipa dengan

Percobaan - 6 Halaman 6 - 2
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

panjang dan diameter berbeda, melibatkan beberapa titik distribusi air seperti dijumpai
pada sistem jaringan pipa ditribusi air bersih perkotaan. Pemahaman yang baik
tentang perilaku jaringan pipa dan kemampuan untuk memperkirakan distribusi aliran
dan tekanan pada jaringan pipa adalah merupakan hal penting dalam perencanaan
sistem transportasi air.
Peralatan C-11 MKII Pipe Network khusus dirancang untuk membuat konfigurasi
berbagai susunan pipa dan mengukur debit dan tekanan aliran dengan air sebagai
medianya.
Kamampuan dari peralatan C-11 MKII Pipe Network adalah:

1. Mengukur kehilangan energi vs debit untuk berbagai dimensi pipa.


2. Karakteristik aliran melalui pipa paralel.
3. Karakteristik aliran melalui pipa seri.
4. Karakteristik aliran melalui jaringan pipa tertutup (jaring-jaring pipa) dan pengaruh
perubahan besarnya debit aliran masuk dan aliran keluar pada beberapa titik.
5. Aplikasi penggandaan pipa (doubling pipes) pada jaringan pipa eksisting untuk
meningkatkan debitnya.

Gambaran Umum (Overview)

Sistem jaringan pipa disusun pada bingkai yang ditopang miring oleh suatu kerangka
yang mudah dipindahkan. Alat ini didesain untuk diletakkan di samping Bangku
Hidraulik (Hydraulic Bench F1-10). Koneksi ke Bangku Hidraulik menggunakan pipa
fleksibel dengan O ring seal tanpa membutuhkan peralatan lain.
Katub penutup (isolating valve) memungkinkan menyusun berbagai konfigurasi pipa
seri, pipa paralel dan pipa campuran tanpa harus mengeluarkan air dari sistem. Aliran
masuk ke sistem dan aliran keluar dari sistem pada setiap titik keluaran (outlet) dapat
diatur secara manual untuk mengubah karakteristik dari sistem.
Semua pipa percobaan yang lurus dapat dipasang menggunakan threaded union
dengan O ring seal yang memungkinkan pipa dengan diameter berbeda dapat
disambungkan tanpa menggunakan peralatan.
Pada beberapa titik strategis dipasang peralatan yang dapat disambungkan ke alat
pengukur tekanan dijital sehingga dimungkinkan untuk mengukur perbedaan tekanan
antara dua titik yang diinginkan. Aliran pada beberapa titik keluaran (outlet) diukur
menggunakan Bangku Hidraulik.
Rute aliran dalam sistem dapat diatur dengan cara membuka dan menutup katub
isolasi tertentu (3). Hal ini memungkinkan menyusun konfigurasi pipa seri, pipa paralel,
penggandaan pipa, jaringan pipa tertutup dan sebagainya untuk dievaluasi

Percobaan - 6 Halaman 6 - 3
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

selama praktikum.
Empat buah pipa percobaan (5) dipasang pada sistem jaringan dan sebuah pipa
cadangan (7) terpasang pada panel dengan kelem yang mudah dilepaskan.
Serangkaian percobaan dapat dilakukan dengan 4 buah pipa percobaan pada posisi
standar ( dari kiri ke kanan, pipa 9 mm, 6 mm, 10 mm dan 9 mm). Semua pipa
dipasang menggunakan threaded union dengan O ring seal pada bagian atas dan
bagian bawah. Kondisi ini memudahkan penggantian pipa tanpa menggunakan alat.
Pipa cadangan dengan diameter 14 mm juga dapat digunakan untuk menggantikan
salah satu pipa percobaan.
Perbedaan tekanan (kehilangan energi) dapat diukur dengan menggunakan alat
pengukur tekanan dijital. Dua buah pipa alat pengukur tekanan dapat dihubungkan
pada 2 titik yang akan diukur perbedaan tekanannya (atau tekanannya). Setiap
koneksi pada alat pengukur tekanan terdapat katub pelepas udara. Jika katub ini
dibuka, air akan masuk ke pipa dan mendorong udara yang terjebak dalam pipa keluar
dari pipa tersebut. Alat pengukur tekanan ini harus ditempatkan di atas Bangku
Hidraulik saat mengeluarkan udara dari dalam pipa.
Aliran keluar dari sistem pipa melalui pipa keluaran kiri dapat diatur dengan katub (8),
pipa keluaran tengah dengan katub (12) dan pipa keluaran kanan dengan katub (10).
Pipa vertikal di atas katub (12) mengalirkan air ke pipa keluaran di bagian atas. Debit
aliran keluar melalui setiap pipa keluaran (outlet) dapat diukur menggunakan alat
Bangku Hidraulik.
Alat ini didesain dengan menggunakan sambungan/belokan (fitting) dengan dimensi
lebih besar dibandingkan dengan diameter dalam dari pipa percobaan sehingga
besarnya kehilangan energi pada bagian tersebut adalah kecil dibandingkan dengan
kehilangan energi pada pipa percobaan sehingga dapat diabaikan.

II. DATA TEKNIS C11-MKII


Spesifikasi pipa:
• Panjang pipa percobaan L = 0,70 m
• Diameter dalam pipa d = 6 mm (1x)
d = 9 mm (2x)
d = 10 mm (1x)
d = 14 mm (1x)
• Diameter dalam manipol (manifolds) = 22,4 mm
• Alat pengukur beda tekanan : Digital pressure meter dengan spesifikasi:
• Rentang : 0 – 2000 cm H2O (0 – 2000 mBar)
• Resolusi : 1 cm H2O (1 mBar)

Percobaan - 6 Halaman 6 - 4
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Nomenklatur

Judul Kolom Satuan Simbol Tipe Keterangan

Diameter Pipa m d Data 0,006 m, 0,008 m, 0,009 m, 0,010 m, atau


0,014 m sesuai keperluan.

Panjang Pipa m L Data 0,7 m untuk semua pipa.

Volume Air m3 V Diukur Volume air yang diukur selama waktu tertentu
(t).

Waktu s t Diukur Waktu pada saat pengukuran volume.

Debit m3/s Qv Dihitung V Volume Air


Qv = =
t Waktu Pengukuran

Kehilangan m H2O Hf Dihitung  L Q2 


H = K  v 
Energi Akibat 5
f
 d 
Gesekan

Koef. Kehilangan K Empiris


Energi

Kehilangan m H2O Hx Diukur X adalah lokasi pengukuran


Energi

Kehilangan m H2O HT Dihitung HT = H 1 + H 2 + H 3


Energi Total
Pada Pipa Seri

Debit Total Pada m3/s QT Dihitung QT = Q1 + Q2 + Q3


Pipa Paralel

Suhu Air oC Diukur Suhu air saat percobaan.

Kekentalan m2/s  Diukur Dari tabel Kekentalan Kinematik Air,


Kinematik merupakan fungsi dari suhu air.

Bilangan Reynold Re Dihitung VD


Re=

Pada diagram yang melengkapi panduan setiap percobaan, simbol berikut digunakan
untuk menyatakan apakah katub dibuka penuh, ditutup penuh atau diatur bukaannya
untuk mendapatkan debit aliran yang diinginkan.

Percobaan - 6 Halaman 6 - 5
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN SIPIL
Percobaan : 6-1
Laboratorium
Hidrolika Topik : Aliran melalui pipa tunggal dengan berbagai
diameter pipa.

I. TUJUAN

Tujuan percobaan adalah mengukur kehilangan energi melalui pipa tunggal dengan
berbagai diameter dalam pipa pada berbagai debit aliran sehingga dapat diketahui
hubungan antara kehilangan energi dan debit aliran.

II. METODE
Metode percobaan adalah dengan mengukur debit dan besarnya kehilangan energi
pada debit tersebut yang mengalir melalui pipa dengan diameter dalam yang berbeda-
beda.

III. ALAT YANG DIPERLUKAN

Untuk menyelesaikan percobaan ini, diperlukan peralatan sebagai berikut:


• C11-MKII Pipe Network Apparatus.
• Bangku Hidraulik F1-10
• Stop Watch
• Pengukur Tekanan Portabel H12-8 (H12-8 Portable Pressure Meters).

IV. DASAR TEORI/ANALISA

Kehilangan energi primer pada aliran dalam pipa disebabkan akibat adanya gesekan.
Besarnya kehilangan energi primer ini dapat dihitung menggunakan rumus Darcy -
Weisbach sebagai berikut :
LV2
Hf =f (6.1)
d 2g

dimana :

Hf = Kehilangan energi dalam pipa akibat gesekan [m].


f = Koefisien gesekan Darcy – Weisbach.
L = Panjang pipa [m].
D = Diameter pipa bagian dalam [m].
V = Kecepatan aliran dalam pipa [m/s].

Percobaan - 6 Halaman 6 - 6
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

g = Gravitasi [m/s2] = 9,8 m/s2

𝑉𝐷
Koefisien gesekan f merupakan fungsi dari bilangan Reynold (𝑅𝑒 = 𝑣
) dan

kekasaran relatif pipa (e/D), dimana :


Re = Bilangan Reynolds
V = Kecepatan aliran [m/s]
D = Diameter dalam dari pipa [m]
e = Kekasaran pipa [m]
 = Kekentalan kinematik air, nilainya bervariasi, merupakan fungsi dari
temperatur air [m2/s]. Tabel kekentalan kinematik dapat dilihat pada Tabel 6.1
Bila Re < 2.000 aliran adalah laminair
Bila Re > 4.000 aliran adalah turbulen

Tabel 6.1. Kekentalan Kinematik Air ()


Temp. t [0C] 0 5 10 20 25 30

 x 10-6 [m2/s] 1,794 1,519 1,310 1,010 0,897 0,804

Pada aliran turbulen f = f (Re, e/D), dimana e/D merupakan kekasaran relatif.
Hal ini juga dibuktikan oleh Nikuradse dengan percobaan-percobaan pipa yang
dikasarkan dengan pasir berdiameter rata-rata e. Besarnya f berbeda beda untuk pipa
hidraulik licin, kasar maupun transisi dengan rumus berikut:

Untuk menentukan f dapat dipergunakan diagram Moody.


Suatu pipa dengan diameter d dan panjang L yang mengalirkan debit air sebesar Q
akan mengalami kehilangan energi sebesar Hf akibat adanya gesekan sepanjang pipa
yang dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Percobaan - 6 Halaman 6 - 7
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

 LQ 2 
H f= K  5 
v [m H2O] (6.5)
 d 

Keterangan:
Hf : Kehilangan energi akibat gesekan [m H2O]
K : Konstanta, tak berdimensi
L : Panjang pipa = 0,7 m (konstan)
Qv : Debit aliran [m3/s]
d : Diameter dalam pipa [m] (0,006, 0,009, 0,010, atau 0,014)

Gambar 7-2. Kehilangan energi dalam pipa akibat gesekan

Kehilangan energi akibat gesekan yang sesungguhnya (H1-2) dapat diukur


menggunakan alat ukur tekanan portabel sehingga koefisien K dapat dihitung
menggunakan persamaan berikut:

5
H1−2 d
K= [tak berdimensi] (6.6)

LQv2

Grafik hubungan antara Hf dan Qv dapat dibuat seperti gambar di bawah yang
menunjukkan terjadi peningkatan kehilangan energi dengan semakin mengecilnya
diameter pipa.

Percobaan - 6 Halaman 6 - 8
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Gambar 6-3. Garfik hubungan antara Hf dan Qv pada berbagai diameter pipa

V. LANGKAH KERJA / PROSEDUR PERCOBAAN

1. Letakkan peralatan C11-MKII di samping Bangku Hidraulik F1-10 sedemikian


rupa sehingga air keluar dari 4 pipa keluaran dapat mengalirkan airnya ke alat
ukur Bangku Hidraulik.
2. Hubungkan bagian keluaran aliran (water outlet) Bangku Hidraulik dengan selang
aliran masuk C11-MKII.
3. Sebelum alat digunakan, perlu dilakukan langkah untuk mengeluarkan udara
yang terjebak dalam pipa.
4. Aturlah konfigurasi alat dengan membuka dan menutup katub pada beberapa
tempat seperti ditunjukkan pada gambar di bawah sesuai dengan pipa mana yang
akan diteliti.
5. Katub aliran masuk yang berada di bagian bawah alat dibuka penuh, alirkan air
ke dalam alat dengan menghidupkan pompa Bangku Hidraulik.
6. Ukur tekanan air dalam pipa dengan menggunakan alat pengukur tekanan
portabel pada 2 titik (titik aliran masuk H1 dan titik aliran keluar H2). Catatan: alat
pengukur tekanan portabel supaya diatur agar bacaan tekanan dalam cm
H2O.
7. Lakukanlah percobaan dengan variasi debit dari nol sampai maksimum dengan
mengatur katub keluar di bagian atas atau katub masuk di bagian bawah. Pada
setiap percobaan tunggu sampai kondisi aliran stabil baru dilakukan pengukuran
tekanan dan debit aliran.
8. Setelah diperoleh karakteristik hubungan antara kehilangan energi dan debit
aliran diperoleh untuk pipa A, maka aturlah konfigurasi untuk pipa B seperti
gambar di bawah dan ulangi percobaan di atas. Demikian seterusnya untuk pipa
C dan D.
9. Untuk setiap percobaan buatlah tabel pengukuran dan untuk setiap percobaan
hitunglah besarnya K sebagai berikut:

Percobaan - 6 Halaman 6 - 9
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Perco- Diameter Panjang Kehilangan Volume Waktu t Debit K


baan pipa d pipa L Energi H1-2 Air V Qv
[Detik] Hd5
f
[m] [m] [m Air] [m3] [m3/s] LQ 2
v

1 0,7

2 0,7

3 0,7

4 0,7

5 0,7

Gambar 6-4 Berbagai konfigurasi pipa untuk percobaan pipa tunggal

VI. HASIL

1. Bandingkanlah nilai K yang diperoleh pada diameter pipa yang sama pada
berbagai debit aliran dan pada berbagai diameter pipa pada debit yang sama.
2. Bandingkan nilai Hf (kehilangan energi) saat percobaan dan nilai Hf teoritis.
3. Gambarkanlah grafik hubungan kehilangan energi dan debit aliran pada berbagai
diameter pipa pada satu grafik sehingga karakteristiknya dapat dibandingkan.

Percobaan - 6 Halaman 6 - 10
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

VII. KESIMPULAN

Hasil praktikum seharusnya membuktikan bahwa kehilangan energi akan


bertambah sebesar kuadrat kecepatan aliran dalam pipa untuk pipa yang sama,
bila kecepatan bertambah lipat dua, maka kehilangan energi akan bertambah
dengan faktor 4 kali.
Hasil praktikum seharusnya membuktikan bahwa pada debit aliran yang
sama, apabila diameter pipa bertambah maka akan menurunkan kecepatan
sehingga menurunkan besarnya kehilangan energi.
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Pipa Diameter 14 mm
Suhu = 25oC
Kekentalan Kinematik = 0,897 x 10-6 m2/s

Waktu
Diameter Panjang Volume Air
Kehilangan Energi H1-2 Kehilangan Energi Rata-Rata (m air) Waktu (s) rata-rata Debit V
No. Pipa [d] Pipa [L] [V] (l)
(cm air) (s)
(m) (m) 3
Rata-rata(cm) Rata-rata(m) Kesalahan % Kesalahan V1 V2 V3 t1 t2 t3 T (l/s) (m /s) (m/s)
1 0.014 0.7 42.5 42.4 42.2 42.367 0.424 0.1667 0.39 9 9 9 32.40 32.33 32.33 32.353 0.2782 0.000278 1.807
2 0.014 0.7 36.9 36.1 36.2 36.400 0.364 0.3000 0.82 9 9 9 34.10 34.90 34.90 34.633 0.2599 0.000260 1.688
3 0.014 0.7 76.8 75.8 76.6 76.400 0.764 0.6000 0.79 9 9 9 23.35 24.03 24.03 23.803 0.3781 0.000378 2.456
4 0.014 0.7 33.5 33 32.2 32.900 0.329 0.7000 2.13 6 6 6 23.77 22.49 22.49 22.917 0.2618 0.000262 1.701
5 0.014 0.7 78.5 90.7 83.1 84.100 0.841 5.6000 6.66 9 9 9 21.58 21.47 21.47 21.507 0.4185 0.000418 2.718
6 0.014 0.7 154 153.1 147.2 151.433 1.514 4.2333 2.80 18 18 18 27.79 27.29 27.29 27.457 0.6556 0.000656 4.259
7 0.014 0.7 299.4 298.6 310.5 302.833 3.028 4.2333 1.40 18 18 18 21.75 21.96 21.96 21.890 0.8223 0.000822 5.342
8 0.014 0.7 378.7 390.2 387.8 385.567 3.856 6.8667 1.78 18 18 18 18.94 19.14 19.14 19.073 0.9437 0.000944 6.131
9 0.014 0.7 85 85.4 85 85.133 0.851 0.1333 0.16 9 9 9 20.83 20.67 20.67 20.723 0.4343 0.000434 2.821
10 0.014 0.7 151.4 164 155.1 156.833 1.568 5.4333 3.46 18 18 18 30.38 30.07 30.07 30.173 0.5966 0.000597 3.875
11 0.014 0.7 304.1 290.3 302.4 298.933 2.989 8.6333 2.89 18 18 18 22.16 21.31 21.31 21.593 0.8336 0.000834 5.415
12 0.014 0.7 409.1 405.2 395 403.100 4.031 8.1000 2.01 18 18 18 18.57 18.54 18.54 18.550 0.9704 0.000970 6.304
13 0.014 0.7 474.9 491.7 492.7 486.433 4.864 11.5333 2.37 18 18 18 16.96 16.99 16.99 16.980 1.0601 0.001060 6.886
14 0.014 0.7 10.6 10.1 10 10.233 0.102 0.2333 2.28 6 6 6 36.71 36.81 36.81 36.777 0.1631 0.000163 1.060
15 0.014 0.7 18.4 18.6 18.4 18.467 0.185 0.0667 0.36 6 6 6 28.85 28.49 28.49 28.610 0.2097 0.000210 1.362
16 0.014 0.7 254.2 262.5 257 257.900 2.579 3.7000 1.43 10 10 10 11.91 12.65 12.45 12.337 0.8106 0.000811 5.266
17 0.014 0.7 313.4 319.8 315.7 316.300 3.163 2.9000 0.92 10 10 10 12.69 12.34 12.59 12.540 0.7974 0.000797 5.180
18 0.014 0.7 378.5 371.3 375.3 375.033 3.750 3.7333 1.00 10 10 10 11.25 11.51 11.36 11.373 0.8792 0.000879 5.712
19 0.014 0.7 441.7 446.2 445.5 444.467 4.445 2.7667 0.62 10 10 10 10.34 10.06 10.06 10.153 0.9849 0.000985 6.398
20 0.014 0.7 47.2 46.9 45.3 46.467 0.465 1.1667 2.51 9 9 9 29.47 29.48 29.48 29.477 0.3053 0.000305 1.983
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

fteori (Hasil Ruas H1-2 Teori


No. K f Re e [mm] e/D Ruas Kiri Delta Beda f (%) K Teori Beda (%) Cek
Solver) Kanan 𝑅 𝑅
[m]
1 0.00421 0.0509 28204.18 0.0270 0.019 0.0014 6.084 6.084 0.000 88.42 0.00223 0.225 88.42 0.0017 0.0431 HL
2 0.00414 0.0501 26347.43 0.0273 0.019 0.0014 6.051 6.051 0.000 83.50 0.00226 0.198 83.50 0.0018 0.0459 HL
3 0.00411 0.0497 38334.94 0.0258 0.019 0.0014 6.222 6.222 0.000 92.40 0.00213 0.397 92.40 0.0013 0.0325 transisi
4 0.00369 0.0446 26545.43 0.0273 0.019 0.0014 6.054 6.054 0.000 63.59 0.00225 0.201 63.59 0.0018 0.0456 HL
5 0.00369 0.0447 42428.67 0.0255 0.019 0.0014 6.265 6.265 0.000 75.25 0.00211 0.480 75.25 0.0012 0.0295 transisi
6 0.00271 0.0328 66468.32 0.0242 0.019 0.0014 6.430 6.430 0.000 35.46 0.00200 1.118 35.46 0.0008 0.0193 transisi
7 0.00344 0.0416 83371.33 0.0237 0.019 0.0014 6.500 6.500 0.000 75.94 0.00196 1.721 75.94 0.0006 0.0156 transisi
8 0.00333 0.0403 95683.25 0.0234 0.019 0.0014 6.538 6.538 0.000 72.07 0.00193 2.241 72.07 0.0005 0.0137 transisi
9 0.00347 0.0420 44032.46 0.0254 0.019 0.0014 6.280 6.280 0.000 65.51 0.00210 0.514 65.51 0.0011 0.0285 transisi
10 0.00339 0.0410 60483.82 0.0244 0.019 0.0014 6.398 6.398 0.000 67.75 0.00202 0.935 67.75 0.0008 0.0212 transisi
11 0.00331 0.0400 84516.76 0.0236 0.019 0.0014 6.504 6.504 0.000 69.20 0.00195 1.767 69.20 0.0006 0.0154 transisi
12 0.00329 0.0398 98382.67 0.0233 0.019 0.0014 6.545 6.545 0.000 70.54 0.00193 2.364 70.54 0.0005 0.0133 transisi
13 0.00333 0.0403 107479.30 0.0232 0.019 0.0014 6.568 6.568 0.000 73.62 0.00192 2.802 73.62 0.0005 0.0122 transisi
14 0.00295 0.0358 16541.27 0.0296 0.019 0.0014 5.808 5.808 0.000 20.58 0.00245 0.085 20.58 0.0028 0.0702 HL
15 0.00323 0.0390 21262.94 0.0283 0.019 0.0014 5.943 5.943 0.000 37.88 0.00234 0.134 37.88 0.0022 0.0559 HL
16 0.00302 0.0365 82184.93 0.0237 0.019 0.0014 6.496 6.496 0.000 54.00 0.00196 1.675 54.00 0.0006 0.0158 transisi
17 0.00382 0.0463 80852.32 0.0237 0.019 0.0014 6.491 6.491 0.000 94.86 0.00196 1.623 94.86 0.0006 0.0161 transisi
18 0.00373 0.0451 89146.08 0.0235 0.019 0.0014 6.519 6.519 0.000 91.69 0.00194 1.956 91.69 0.0006 0.0146 transisi
19 0.00352 0.0426 99857.65 0.0233 0.019 0.0014 6.549 6.549 0.000 82.74 0.00193 2.432 82.74 0.0005 0.0131 transisi
20 0.00383 0.0463 30956.66 0.0266 0.019 0.0014 6.127 6.127 0.000 74.01 0.00220 0.267 74.01 0.0016 0.0396 HL
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Contoh Perhitungan :
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Q14 vs Hf-14
6.0

5.0 Hf-14 = 4,6019.Q142,0121

4.0
Hf-14 [m]

3.0

2.0

1.0

0.0
0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2
Q14 [l/s]
Empiris Power (Empiris)

Hf-14 vs Q14
1.2
Q14 = 0,[Link]-140,4873
1.0

0.8
Q14 [l/s]

0.6

0.4

0.2

0.0
0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0
Hf-14 [m]
Empiris Power (Empiris)
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Kesimpulan :

1. Berdasarkan data Pengolahan hasil pengamatan (suhu air, panjang pipa, diameter
pipa, kehilangan energy, volume air, waktu didapatkan persamaan empiris hubungan
antara Qv dan Hf. Dan didapat :
Hf (d = 10 mm) = 13,539 . Q1.9157 Hf (d = 9 mm) = 21.321 . Q1.7795
Qv (d =10 mm) = 0,2574 . Hf0.5197 Qv (d =9 mm) = 0,1799 . Hf0.5594

Hf (d = 6 mm) = 171,02 . Q1.83 Hf (d = 14 mm) = 4.6019 . Q2.0121


Qv (d = 6 mm) = 0,061 . Hf0.5434 Qv (d = 14 mm) = 0,4666 . Hf0.4875

Didapatkan bahwa R2 setiap kurva mendekati nilai 1 sehingga diketahui bahwa


persamaan regresi mampu mewakili seluruh data percobaan
2. Berdasarkan grafik hubungan Hf dan Qv, bahwa semakin besar debit maka Hf
semakin besar
3. Semakin besar diameter pipa, maka semakin kecil kehilangan energy yang terjadi (
pada debit yang sama). Hal ini disebabkan oleh pipa yang memiliki diameter kecil
kecil memiliki kecepatan aliran yang lebih besar sehingga kehilangan energy primer
akibat adanya gesekan antara air dan dinding pipa semakin besar juga.
4. Kehilangan energy praktis lebih besar daripada kehilangan energy teoritis, karena Hf
energy praktis memperhitungkan kehilangan energy sekunder seperti belokan,
sedangkan kehilangan energy teoritis hanya memperhitungkan kehilangan energy
primer akibat gesekan.
UNIVERSITAS KATOLIK
PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN SIPIL
Percobaan : 6-2
Laboratorium
Hidrolika Topik : Aliran melalui pipa paralel

VIII. TUJUAN

Tujuan percobaan adalah mengukur kehilangan energi versus debit aliran pada
berbagai diameter pipa yang dihubungkan secara paralel.

IX. METODE

Metode percobaan adalah dengan mengukur debit dan besarnya kehilangan energi
terkait pada berbagai kombinasi pipa paralel dan membandingkan kehilangan
energi dengan prediksi kehilangan energi pada pipa tunggal dengan debit yang
sama.

X. ALAT YANG DIPERLUKAN

Untuk menyelesaikan percobaan ini, diperlukan peralatan sebagai berikut:


• C11-MKII Pipe Network Apparatus.
• Bangku Hidraulik F1-10
• Stop Watch
• Pengukur Tekanan Portabel H12-8 (H12-8 Portable Pressure Meters).

XI. DASAR TEORI/ANALISA

Kehilangan energi primer pada aliran dalam pipa disebabkan akibat adanya
gesekan. Besarnya kehilangan energi primer ini dapat dihitung menggunakan
rumus Darcy - Weisbach sebagai berikut :
LV2
Hf =f
D 2g (6.7)
dimana :

hf = Kehilangan energi dalam pipa akibat gesekan [m].


f = Koefisien gesekan Darcy – Weisbach.
L = Panjang pipa [m].
D = Diameter pipa bagian dalam [m].
V = Kecepatan aliran dalam pipa [m/s].
g = Gravitasi [m/s2] = 9,8 m/s2
VD
= ) dan
Koefisien gesekan f merupakan fungsi dari bilangan Reynold ( Re

kekasaran relatif pipa (e/D), dimana :
Re = Bilangan Reynolds
V = Kecepatan aliran [m/s]
D = Diameter dalam dari pipa [m]
e = Kekasaran pipa [m]

 = Kekentalan kinematik air, nilainya bervariasi, merupakan fungsi dari


temperatur air [m2/s]. Tabel kekentalan kinematik dapat dilihat pada Tabel 6.2
Bila Re < 2.000 aliran adalah laminair
Bila Re > 4.000 aliran adalah turbulen

Tabel 6.2. Kekentalan Kinematik Air ()


Temp. t [0C] 0 5 10 20 25 30

 x 10-6 [m2/s] 1,794 1,519 1,310 1,010 0,897 0,804

Pada aliran turbulen f = f (Re, e/D), dimana e/D merupakan kekasaran relatif.
Hal ini juga dibuktikan oleh Nikuradse dengan percobaan-percobaan pipa yang
dikasarkan dengan pasir berdiameter rata-rata e. Besarnya f berbeda beda untuk
pipa hidraulik licin, kasar maupun transisi dengan rumus berikut:
• Pipa Hidraulik Licin:
1 Re f
= 2 Log
2,51
(6.8)
• Pipa Hidraulik Kasar:
1 3,7 D
= 2 Log
f e
(6.9)

• Transisi :
1  e 2,51 
= −2 Log +
 
f  3,7 D Re f  (6.10)

Untuk menentukan f dapat dipergunakan diagram Moody.


Gambar 6-5 Pipa paralel
Pada jaringan pipa yang terdiri atas pipa-pipa dengan berbagai diameter yang
dihubungkan satu dengan lainnya secara paralel, tinggi tekan pada manipol, pada
pertemuan pipa-pipa, harus sama untuk setiap pipa, yaitu Hf sama untuk setiap pipa.
Debit total Qv akan terdistribusi melalui setiap pipa yang dikendalikan oleh tekanan
di ujung hilir, dan:

QT = QA + QB untuk 2 buah pipa yang dihubungkan paralel.

QT = QA + QB + QC untuk 3 buah pipa yang dihubungkan paralel.

QT = QA + QB + QC + QD untuk 4 buah pipa yang dihubungkan paralel.

Catatan:
Akan ada tambahan kehilangan energi pada jaringan pipa dan fittings (sambungan,
belokan) yang terletak diantara pipa percobaan. Kehilangan ini telah diminimalisir
pada alat C11-MKII dengan menggunakan diameter komponen yang lebih besar
dari pada pipa percobaan. Dalam aplikasi yang sesungguhnya, kehilangan energi
pada fittings akan lebih signifikan besarnya sehingga perlu diperhitungkan pada
perhitungan kehilangan energi pada jaringan pipa. Pada alat C11-MKII, ke 4 pipa
percobaan panjangnya sama, pada aplikasi sesungguhnya panjang pipa bisa
beragam.

XII. LANGKAH KERJA / PROSEDUR PERCOBAAN

1. Letakkan peralatan C11-MKII di samping Bangku Hidraulik F1-10 sedemikian


rupa sehingga air keluar dari 4 pipa keluaran dapat mengalirkan airnya ke alat
ukur Bangku Hidraulik.
2. Hubungkan bagian keluaran aliran (water outlet) Bangku Hidraulik dengan
selang aliran masuk C11-MKII.
3. Sebelum alat digunakan, perlu dilakukan langkah untuk mengeluarkan udara
yang terjebak dalam pipa.
4. Aturlah konfigurasi alat dengan membuka dan menutup katub pada beberapa
tempat seperti ditunjukkan pada gambar di bawah sesuai konfigurasi pipa
paralel mana yang akan diteliti.
5. Katub aliran masuk yang berada di bagian bawah alat dibuka penuh, alirkan air
ke dalam alat dengan menghidupkan pompa Bangku Hidraulik.
6. Ukur tekanan air dalam pipa dengan menggunakan alat pengukur tekanan
portabel pada 2 titik (titik aliran masuk H1 dan titik aliran keluar H2). Catatan:
alat pengukur tekanan portabel supaya diatur agar bacaan tekanan dalam
cm H2O.
7. Lakukanlah percobaan dengan variasi debit dari nol sampai maksimum dengan
mengatur katub keluar di bagian atas atau katub masuk di bagian bawah. Pada
setiap percobaan tunggu sampai kondisi aliran stabil baru dilakukan
pengukuran tekanan dan debit aliran.
8. Ulangi percobaan untuk 3 pipa paralel dan 4 pipa paralel.

Gambar 6-6 Berbagai konfigurasi pipa paralel, 2 pipa paralel (kiri), 3 pipa paralel
(tengah) dan 4 pipa paralel (kanan)
XIII. HASIL

XIV. KESIMPULAN

Berikanlah komentar pada korelasi antara debit total yang diperoleh dari hasil
pengukuran dan debit hasil perhitungan dari kehilangan energi. Bahaslah bila
terjadi perbedaan.
Berikanlah komentar terhadap besarnya debit aliran pada setiap pipa dan
bahaslah perbedaannya.
Praktikan diminta untuk menghitung debit teoritis pada setiap pipa jika diberikan
data beda tinggi tekan dengan menggunakan data geometri pipa dan estimasi
besarnya koefisien gesekan. Bandingkanlah hasil di atas dengan besaran yang
diperoleh dari percobaan, berikanlah ulasan saudara tentang perbedaan yang
terjadi.
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

II. Perhitungan Pipa Paralel 10 mm – 14 mm


Panjang Pipa Kehilangan Volume Air [V] (m3) Waktu (s) Debit (m3/s)
No. Kehilangan Energi H1-2 (cm air)
[L] (m) Energi Rata-Rata V1 V2 v3 T1 T2 t3 Q1 Q2 Q3 Qrata-rata
7 0.7 22.8 23.4 22.9 0.230 0.018 0.018 0.018 20.46 20.68 20.68 0.00088 0.00087 0.00087 0.00087
8 0.7 66 67.5 64.5 0.660 0.018 0.018 0.018 35.5 35.21 35.21 0.00051 0.00051 0.00051 0.00051
9 0.7 82.2 80 82.7 0.816 0.018 0.018 0.018 32.02 31.26 31.26 0.00056 0.00058 0.00058 0.00057

No. Debit
H1-2 rata-rata (m Debit Empiris (l/s) Kecepatan [v] (m/s)
Percoba Diameter (m) Terukur f teori e [mm] e/D Re Ruas Kiri Ruas Kanan Delta
an air) (l/s)

D = 10 mm D = 14 mm Total Beda (%) D = 10 mm D = 14 mm


0,01 0,0217 0,015 0,0015 57629,5056 6,784 6,784 0,000
1 0,230 0,874 0,120 0,197 0,317 63,73 4,03 2,06
0,014 0,0200 0,015 0,0011 41163,9326 7,076 7,076 0,000
0,01 0,0217 0,015 0,0015 104202,0915 6,783 6,784 0,001
2 0,660 0,510 0,207 0,365 0,573 12,37 7,29 3,72
0,014 0,0200 0,015 0,0011 74430,0653 7,076 7,076 0,000
0,01 0,0217 0,015 0,0015 117458,4879 6,784 6,784 0,000
3 0,816 0,571 0,232 0,414 0,646 13,04 8,22 4,19
0,014 0,0200 0,015 0,0011 83898,9199 7,076 7,076 0,000

Koef. Perbandingan Q 10 Beda [%]


Q10 [l/s] Q 14 [l/s] Q total [l/s] Beda [%]
dan Q 14

Q10 Q 14
2,419 0,093 0,224 29,51 12,20 0,317 0,00

2,419 0,168 0,405 23,79 9,83 0,573 0,00

2,419 0,189 0,457 22,64 9,36 0,646 0,00


Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Contoh Perhitungan:
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Hf vs Q
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
Hf

0.4
0.3
0.2
Hf = 0.1799Q-2.235
0.1
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
Q

Q vs Hf
1
0.9
0.8
0.7
0.6 Q = 0.4824Hf-0.392
0.5
Q

0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
Hf
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil pengolahan data berupa kehilangan energy, volume air, dan waktu
didapatkan persamaan empiris hubungan Qv dan Hf, Hf dengan Qv pipa pararel
diameter 10 mm dan 14 mm.
Berdasarkan grafik, dapat diketahui bahwa, semakin besar debit aliran, maka semakin
besar kehilangan energy yang terjadi, dan juga berlaku sebaliknya.
Pipa pararel menghasilkan kehilangan energy yang sama untuk setiap pipanya (pipa
10 mm dan 14 mm) tetapi debit yang berbeda untuk masing masing pipa, dimana Q
total adalah jumlah debit kedua pipa pararel. Berdasarkan perhitungan, diperoleh
persamaan. Dan dapat disimpulkan bahwa dengan pipa diameter yang lebih besar
dapat mengalirkan aliran dengan debit yang lebih besar, Karena pipa yang lebih besar
menghasilkan debit yang lebih besar pada kehilangan energy yang sama.
Berdasarkan perhitungan, ada beda antara debit praktis dan empiris yaitu 63.73 %,
12.37 %,dan 13.04 %.
Adanya perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor keterbatasan praktikan dalam
pengamatan, pompa yang tidak konstan menyebabkan aliran yang tidak konstan,
serta kemungkinan terdapat gelembung udara di selang pengukur tekanan portable.
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN SIPIL
Percobaan : 6-3
Laboratorium
Hidrolika Topik : Aliran melalui pipa seri

I. TUJUAN

Tujuan percobaan adalah mengukur kehilangan energi versus debit aliran pada
berbagai diameter pipa yang dihubungkan secara seri.

II. METODE

Metode percobaan adalah dengan mengukur debit dan besarnya kehilangan


energi dengan berbagai diameter pipa.

III. ALAT YANG DIPERLUKAN

Untuk menyelesaikan percobaan ini, diperlukan peralatan sebagai berikut:


• C11-MKII Pipe Network Apparatus.
• Bangku Hidraulik F1-10
• Stop Watch
• Pengukur Tekanan Portabel H12-8 (H12-8 Portable Pressure Meters).

IV. DASAR TEORI/ANALISA

Gambar 6-7. Pipa seri


Pada jaringan pipa yang tersusun atas beberapa pipa dengan diameter berbeda
yang dihubungkan secara seri, maka debit total yang sama Qv akan mengalir melalui
setiap pipa. Kecepatan di dalam setiap pipa akan bervariasi, tergantung besarnya
diameter pipa, sehingga tinggi kecepatanpun akan berbeda-beda.
Suatu debit Qv yang mengalir dalam sistem pipa seri akan menghasilkan
kehilangan energi total Hf pada seluruh panjang pipa, yang merupakan penjumlahan
kehilangan energi pada setiap pipa. Sebagai contoh:
Hf = H1-2 + H2-3 untuk 2 pipa dihubungkan secara seri
Hf = H1-2 + H2-3 + H3-4 untuk 3 pipa dihubungkan secara seri
Catatan:
Akan ada tambahan kehilangan energi pada jaringan pipa dan fittings (sambungan,
belokan) yang terletak antara pipa percobaan. Kehilangan ini telah diminimalisir
pada alat C11-MKII dengan menggunakan diameter komponen yang lebih besar
dari pada pipa percobaan. Dalam aplikasi yang sesungguhnya, kehilangan energi
pada fittings akan lebih signifikan besarnya sehingga perlu diperhitungkan pada
perhitungan kehilangan energi pada jaringan pipa. Pada alat C11-MKII, ke 4 pipa
percobaan panjangnya sama, pada aplikasi sesungguhnya panjang pipa bisa
beragam.

V. LANGKAH KERJA / PROSEDUR PERCOBAAN

1. Letakkan peralatan C11-MKII di samping Bangku Hidraulik F1-10 sedemikian


rupa sehingga air keluar dari 4 pipa pengeluaran dapat mengalirkan airnya ke
alat ukur Bangku Hidraulik.
2. Hubungkan bagian keluaran aliran (water outlet) Bangku Hidraulik dengan
selang aliran masuk C11-MKII.
3. Sebelum alat digunakan, perlu dilakukan langkah untuk mengeluarkan udara
yang terjebak dalam pipa.
4. Aturlah konfigurasi alat dengan membuka dan menutup katub pada beberapa
tempat seperti ditunjukkan pada gambar di bawah sesuai konfigurasi pipa seri
mana yang akan diteliti.
5. Katub aliran masuk yang berada di bagian bawah alat dibuka penuh, alirkan air
ke dalam alat dengan menghidupkan pompa Bangku Hidraulik.
6. Ukur tekanan air dalam pipa dengan menggunakan alat pengukur tekanan
portabel pada 2 titik (titik aliran masuk H1 dan titik aliran keluar H2). Catatan:
alat pengukur tekanan portabel supaya diatur agar bacaan tekanan dalam
cm H2O.
7. Lakukanlah percobaan dengan variasi debit dari nol sampai maksimum dengan
mengatur katub keluar di bagian atas atau katub masuk di bagian bawah. Pada
setiap percobaan tunggu sampai kondisi aliran stabil baru dilakukan
pengukuran tekanan dan debit aliran.
8. Ulangi percobaan untuk alternatif: 2 pipa dan 3 pipa dihubungkan secara seri
seperti dilukiskan pada Gambar 6-8.
Gambar 6-8 Berbagai konfigurasi pipa seri
VI. HASIL

Untuk setiap percobaan buatlah tabel berikut:


Perco Diam Panja Kehilan Kehilan Kehilan [Link] Wakt Debit Kehila
baan e- ter ng g- an g- an g- an rV ut Teruk ng an
pipa d pipa L Energi Energi Energi ur Qv energi
[m3] [s]
[m] H1-2 H2-3 H3-4 total Hf
[m] [m3/s
[m [m [m ] [m
Air] Air] Air] Air]
1 0,7

2 0,7

3 0,7

4 0,7

5 0,7

6 0,7

VII. KESIMPULAN

Dari hasil percobaan, periksalah bahwa kehilangan energi total pada pipa seri Hf
sama dengan jumlah kehilangan energi pada setiap pipa untuk semua debit aliran.
Berikanlah komentar terhadap besarnya kehilangan energi pada setiap pipa dan
bahaslah apakah ada perbedaan besarnya debit pada setiap pipa?.
Praktikan diminta untuk menghitung kehilangan energi teoritis pada setiap pipa jika
diketahui debit aliran, geometri pipa dan besarnya koefisien gesekan. Bandingkan
hasil perhitungan dengan besaran yang diperoleh dari percobaan.
Mengapa pengetahuan tentang penurunan energi pada jaringan pipa merupakan
hal penting yang harus dipertimbangkan oleh perencana?. Coba sebutkanlah
aplikasi praktis yang saudara ketahui dimana jaringan pipa seri digunakan!
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

II. Perhitungan Pipa Seri 6 mm – 14 mm

Kehilangan Energi Volume Air [V]


Panjang Kehilangan Energi Rata-Rata (m air) Waktu (s)
No. H1-3 (cm air) (l)
Pipa [L] (m)
1 2 3 Rata-Rata Kesalahan % Kesalahan V1 V2 V3 T1 T2 T3 Rata-Rata Kesalahan % Kesalahan
8 0.7 1482 1480 1483 14.817 0.017 0.11 9 9 9 36.04 36.20 36.20 36.14666667 0.106666667 0.30
9 0.7 1840 1839 1838 18.390 0.010 0.05 9 9 9 31.50 31.73 31.73 31.65333333 0.153333333 0.48
10 0.7 911.7 903.7 907.3 9.076 0.039 0.43 6 6 6 28.57 28.60 28.60 28.59 0.02 0.07
No Debit Terukur Kehilangan Energi Tiap Pipa [m] V [m/s] PIPA 0,006 m
3
Percobaan. [l/s] [m /s] 0,006 m 0,014 m Total Beda [%] 0,006 m 0,014 m Re fteori e [mm] e/D Ruas Kiri Ruas Kanan Delta Hf6
8 0.249 0.000249 13.29 0.281 13.57 8.41 8.81 1.62 75480.62 0.0268 0.015 0.003 6.112 6.112 0.000 12.36
9 0.284 0.000284 16.96 0.366 17.33 5.78 10.06 1.85 86195.43 0.0266 0.015 0.003 6.137 6.137 0.000 15.98
10 0.210 0.000210 9.71 0.199 9.91 9.15 7.42 1.36 63620.68 0.0271 0.015 0.003 6.076 6.077 0.000 8.88
PIPA 0,014 m Hf teori Beda
Re fteori e [mm] e/D Ruas Kiri Ruas Kanan Delta Hf14 (total) [m] [%]
32348.84 0.0258 0.015 0.0011 6.224 6.224 0.000 0.17 12.53 15.45
36940.90 0.0253 0.015 0.0011 6.289 6.289 0.000 0.22 16.20 11.89
27266.00 0.0266 0.015 0.0011 6.137 6.137 0.000 0.13 9.01 0.74
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Contoh Perhitungan:
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Hubungan Qv dan Hf, D = 6mm - D = 14mm Seri


20
Hf = 159.45Qv1.8109
18

16 Hf = 184.2Qv1.933
14

12
Hf [m]

10

6 Hf = 4.4081Qv1.9556
4

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Qv [l/s]
6mm 14mm Empiris Power (6mm) Power (14mm) Power (Empiris)
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Kesimpulan :

1. Berdasarkan hasil pengolahan data pengamatan berupa kehilangan


energy, volume air, dan watku aliran pipa seri diameter 6 mm dan 14 mm,
diperoleh persamaan empiris dari grafik hubungan Qv dan Hf.
2. Pipa seri menghasilkan debit yang sama pada setiap pipanya dan
kehilangan energy yang berbeda beda, dimana kehilangan energy total
adalah penjumlahan dari setiap kehilangan energy dari pipa yang ada
3. Berdasarkan hasil perhitungan secara empiris dan secara teoritis didapapat
bahwa kehilangan energy pipa yang lebih kecil, lebih besar dari pada
kehilangan energy pada pipa yang lebih besar, hal ini dijelaskan dengan
hukum kontinuitas dimana pipa 6 mm menghasilkan kecepatan yang lebih
besar, sehingga gesekan antara aliran air dan dinding pipa semakin bear,
akibatkan kehilangan energy lebih besar.
4. Berdasarkan grafik, sama seperti pipa tunggal dan pararel, debih semakin
besar maka semakin besar kehilangan energy yang terjadi
5. Perbedaan Hf praktis dan empiris adalah 15.45%, 11.89% dan 0.74 %,
adanya perbedaan ini disebabkan oleh faktor kesalahan seperti
keterbatasan praktikan dalam pengamatan maupun pompa yang kurang
stabil, dan adanya gelembung.
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN SIPIL
Percobaan : 6-5
Laboratorium
Hidrolika Topik : Penggunaan pipa ganda untuk meningkatkan
kapasitas jaringan pipa

I. TUJUAN

Tujuan percobaan adalah memperlihatkan bahwa kapasitas jaringan perpipaan


akan meningkat jika digunakan pipa ganda pada suatu segmen pipa tertentu.

II. METODE

Metode percobaan adalah dengan mengukur debit dan besarnya kehilangan energi
pada 2 pipa yang dihubungkan secara seri, kemudian salah satu pipa digandakan.

III. ALAT YANG DIPERLUKAN

Untuk menyelesaikan percobaan ini, diperlukan peralatan sebagai berikut:


• C11-MKII Pipe Network Apparatus.
• Bangku Hidraulik F1-10
• Stop Watch
• Pengukur Tekanan Portabel H12-8 (H12-8 Portable Pressure Meters).

IV. DASAR TEORI/ANALISA

Gambar 6-11. Dua buah pipa dihubungkan secara seri


Gambar 6-12. Penggandaan pipa (kiri) untuk mengurangi kehilangan energi

Gambar 6-13. Kurva hubungan Hf dan Qv pada pipa seri dan pipa ganda

Untuk meningkatkan kapasitas aliran pada sistem jaringan pipa, suatu pipa dapat
diganti dengan pipa lain dengan diameter lebih besar atau dengan pipa paralel
seperti pada Percobaan 6-2. Akan tetapi biayanya akan mahal dan seringkali tidak
praktis karena lokasinya tidak memungkinkan.
Alternatif untuk meningkatkan kapasitas jaringan pipa adalah dengan
menambahkan pipa paralel pada sebagian panjang pipa, khususnya jika bagian
pipa tersebut diameternya lebih kecil dari pada bagian lainnya. Penambahan pipa
ini disebut sebagai pipa ganda (doubling pipe).
Jaringan pipa awal dihubungkan secara seri seperti pada Percobaan 6-3,
diperlihatkan pada Gambar 6-11. Pipa ganda dipasang pada bagian pertama
sehingga menciptakan pipa paralel seperti ditunjukkan pada Gambar 6-12.
Pada suatu debit tertentu, kehilangan energi pada pipa B tidak terpengaruh karena
debit melalui pipa ini tidak berubah. Akan tetapi debit melalui pipa A akan dibagi ke
pipa C sehingga kehilangan energi pada bagian ini akan berkurang. Umumnya
jaringan pipa dipengaruhi oleh beda elevasi tersedia (dari tampungan atau dari
pompa sirkulasi), maka pengurangan kehilangan energi yang terjadi akan
meningkatkan aliran melalui pipa ganda, dan tentu saja pada pipa B, sehingga
secara keseluruhan jaringan pipa ini akan meningkat kapasitasnya.
Akan ada tambahan kehilangan energi pada jaringan pipa dan fittings (sambungan,
belokan) yang terletak antara pipa percobaan. Kehilangan ini telah diminimalisir
pada alat C11-MKII dengan menggunakan diameter komponen yang lebih besar
dari pada pipa percobaan. Dalam aplikasi yang sesungguhnya, kehilangan energi
pada fittings akan lebih signifikan besarnya sehingga perlu diperhitungkan pada
perhitungan kehilangan energi jaringan pipa.

V. LANGKAH KERJA / PROSEDUR PERCOBAAN

1. Letakkan peralatan C11-MKII di samping Bangku Hidraulik F1-10 sedemikian


rupa sehingga air keluar dari 4 pipa pengeluaran dapat mengalirkan airnya ke
alat ukur Bangku Hidraulik.
2. Hubungkan bagian keluaran aliran (water outlet) Bangku Hidraulik dengan
selang aliran masuk C11-MKII.
3. Sebelum alat digunakan, perlu dilakukan langkah untuk mengeluarkan udara
yang terjebak dalam pipa.
4. Aturlah konfigurasi alat dengan membuka dan menutup katub pada beberapa
tempat seperti ditunjukkan pada Gambar 6-14. sehingga terbentuk jaringan pipa
seri D dan C.
5. Katub aliran masuk yang berada di bagian bawah alat dibuka penuh, alirkan air
ke dalam alat dengan menghidupkan pompa Bangku Hidraulik.
6. Atur bukaan katub 3 katub pengeluaran pada bagian atas alat untuk mengatur
distribusi aliran pada jaring-jaring pipa.
7. Ukur tekanan air dalam pipa dengan menggunakan alat pengukur tekanan
portabel pada 2 titik (titik aliran masuk H1 dan titik aliran keluar H3). Catatan:
alat pengukur tekanan portabel supaya diatur agar bacaan tekanan dalam
cm H2O.
8. Ukur debit aliran dengan menggunakan Bangku Hidraulik.
9. Lakukanlah percobaan dengan variasi debit dari nol sampai maksimum dengan
mengatur katub keluar di bagian atas atau katub masuk di bagian bawah. Pada
setiap percobaan tunggu sampai kondisi aliran stabil baru
dilakukan pengukuran tekanan dan debit aliran.
10. Lakukan percobaan dengan membuat pipa A paralel dengan pipa C atau pipa
B paralel dengan pipa C seperti pada Gambar 6-15.

Gambar 6-14. Konfigurasi pipa seri D dan C


Gambar 6-15. Kofigurasi pipa ganda A dan C (kiri) dan B dan C (kanan)

VI. HASIL

Untuk setiap percobaan buatlah tabel berikut:


Percobaan Diam Panja Kehilang Kehilang Volum Wakt Debit
e- ter ng an an
e u Qv
pipa d pipa energi energi
L H1-2 H1-3 [m3] [s] [m3/s]
[m]
[m] [m Air] [m Air]
D+C Run-1 0,7

D+C Run-2 0,7

D+C Run-3 0,7

D+(C+A) Run-1 0,7

D+(C+A) Run-2 0,7

D+(C+A) Run-3 0,7

D+(C+B) Run-1 0,7


D+(C+B) Run-2 0,7

D+(C+B) Run-3 0,7

Buatlah grafik hubungan antara kehilangan energi versus debit pada 2


percobaan tersebut. Grafik tersebut akan menggambarkan peningkatan
kapasitas aliran pada sistem dengan pipa ganda.
Praktikan diminta untuk menghitung aliran melalui setiap pipa pada pipa ganda
dengan rumus pipa paralel yang digabung dengan pipa seri seperti pada
Gambar 6-12.

VII. KESIMPULAN

Berikanlah komentar pengaruh penggandaan pipa dan berikanlah saran dimana


kemungkinan penggunaan pipa ganda ini dalam praktek.
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Perhitungan Pipa Ganda (6 mm – 10 mm) – 14 mm


No. Panjang Pipa Volume [L] Waktu [sekon] Hf1-3 rata- Hf1-4 rata- Hf3-4 rata-
Kehilangan Energi H1-3 [cm] Kehilangan Energi H1-4 [cm]
Percobaan L [m] V1 V2 T1 T2 rata [m] rata [m] rata [m]
4 0.7 100.2 99.3 101 71.9 71.6 71.8 9 9 33.975 33.98 1.002 0.718 0.284
5 0.7 542.4 543.3 540 178.8 179.7 176.1 18 18 27.8 27.80 5.419 1.782 3.637
6 0.7 786 787.1 786.3 523.1 522.4 521.4 18 18 22.97 22.97 7.865 5.223 2.642

H1-3 Debit Koef.


No. Diameter Hf [m] Beda Hf [m] Beda Debit Empiris [l/s] Ruas Ruas Q6 Q10 Q total Beda
Rata Terukur f teori e[mm] e/D Re Delta Perbandingan
Percobaan [mm] Kiri Kanan
Rata[m] Q1 dan Q2
[l/s] D = 14mm [%] D = 6mm/10mm [%] D = 6mm D = 10mm Total Beda [%] [l/s] [l/s] [l/s] [%]
6 0.0249 0.015 0.003 15050200.142 6.341 6.341 0.000
4 1.002 0.265 0.32 10.63 0.6839 4.94 0.050 0.211 0.261 1.51 0.261 0.210 0.003 0.213 22.20
10 0.0217 0.015 0.002 38448824.384 6.783 6.784 0.000
6 0.0249 0.015 0.003 36546642.820 6.340 6.341 0.000
5 5.419 0.647 1.92 89.51 3.4999 49.08 0.120 0.494 0.614 5.16 0.261 0.514 0.307 0.821 25.16
10 0.0217 0.015 0.002 89822154.731 6.784 6.784 0.000
6 0.0249 0.015 0.003 44590508.193 6.340 6.341 0.000
6 7.865 0.784 2.82 6.24 5.0471 3.49 0.147 0.597 0.744 5.05 0.261 0.622 0.415 1.037 28.22
10 0.0217 0.015 0.002 108645151.398 6.784 6.784 0.000
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Contoh Perhitungan:
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Hubungan Hf dan Qv Seri 10-14 dan Ganda (6/10)-14


0.8
Qv = 0.0251Hf0.5081
0.7
0.6
0.5
Qv [l/s]

Seri
0.4
Qv = 0.0673Hf0.5173 Ganda
0.3
Power (Seri)
0.2
Power (Ganda)
0.1
0
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
Hf [m]

Hubungan Qv dan Hf Seri 10-14 dan Ganda (6/10)-14


900
Hf = 1410.8Qv1.9682
800
700
600
Seri
Hf [m]

500
400 Ganda
300 Power (Seri)
200 Power (Ganda)
100 Hf = 184.2Qv1.933
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8
Qv [l/s]
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan

Kesimpulan :

1. Berdasarkan hasil pengolahan data hasil pengamatan berupa kehilangan


nergi, volume air, waktu aliran, pada konfigurasi pipa ganda (6 mm dan 10
mm pararel, disertai dengan pipa 14 mm), didapat persamaan empiris danr
igrafik hubungan Qv dengan Hf.
2. Sama sepert ipipa sebelumnya, peningkatan debit berbanding lurus dengan
peningkatan kehilangan energy yang terjadi.
3. Berdasarkan grafik perbandingan antara pipa ganda dan seri, disimpulkan
bahwa pada kehilangan energy yang sama, debit yang dihasilkan pipa ganda
lebih besar dari pada debit pipa seri, dan kehilangan energy pipa ganda lebih
kecil dari pada pipa seri.
4. Berdasarkan perhitungan dan analisa, ditemukan perbedaan antara debit
praktis dan debit empiris ( menggunakan rumus empiris dan percobaan 6.1),
perbedaan debit total adalah 22.2%, 25.16%, 28.22%. adanya perbedaan
tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kedaktelitian peserta
praktikum, dan tekanan yang kurang stabil menyebabkan aliran tidak stabil,
serta kemungkinan adanya gelembung udara pada selang pengukur tekanan
portabel

Anda mungkin juga menyukai