Kehilangan Energi pada Jaringan Pipa
Kehilangan Energi pada Jaringan Pipa
I. DISKRIPSI ALAT
Percobaan - 6 Halaman 6 - 1
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Gambar 6-2. Pandangan Depan dan Pandangan Samping dari Peralatan C11-
MKII Pipe Network
Keterangan Gambar 6-2.
1 : Katub pengontrol (Control valve)
2 : Katub pengatur debit
3 : Katub isolasi (Isolating valve)
4 : Penghubung pipa percobaan (Conector pipe)
5 : 4 buah pipa percobaan (4 test pipes)
6 : Kelem
7 : Pipa cadangan (Spare pipe)
8 : Katub pengatur kiri
10 : Katub pengatur kanan
12 : Katub pengatur tengah
Pada sistem perpipaan persoalan umum yang dihadapi adalah menentukan debit
aliran dan kehilangan energi yang terjadi pada sistem interkoneksi pipa, seringkali
dikenal sebagai sistem jaringan pipa (pipe network). Jaringan pipa ini dapat berupa
pipa tunggal sampai jaringan pipa rumit yang terdiri atas banyak pipa dengan
Percobaan - 6 Halaman 6 - 2
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
panjang dan diameter berbeda, melibatkan beberapa titik distribusi air seperti dijumpai
pada sistem jaringan pipa ditribusi air bersih perkotaan. Pemahaman yang baik
tentang perilaku jaringan pipa dan kemampuan untuk memperkirakan distribusi aliran
dan tekanan pada jaringan pipa adalah merupakan hal penting dalam perencanaan
sistem transportasi air.
Peralatan C-11 MKII Pipe Network khusus dirancang untuk membuat konfigurasi
berbagai susunan pipa dan mengukur debit dan tekanan aliran dengan air sebagai
medianya.
Kamampuan dari peralatan C-11 MKII Pipe Network adalah:
Sistem jaringan pipa disusun pada bingkai yang ditopang miring oleh suatu kerangka
yang mudah dipindahkan. Alat ini didesain untuk diletakkan di samping Bangku
Hidraulik (Hydraulic Bench F1-10). Koneksi ke Bangku Hidraulik menggunakan pipa
fleksibel dengan O ring seal tanpa membutuhkan peralatan lain.
Katub penutup (isolating valve) memungkinkan menyusun berbagai konfigurasi pipa
seri, pipa paralel dan pipa campuran tanpa harus mengeluarkan air dari sistem. Aliran
masuk ke sistem dan aliran keluar dari sistem pada setiap titik keluaran (outlet) dapat
diatur secara manual untuk mengubah karakteristik dari sistem.
Semua pipa percobaan yang lurus dapat dipasang menggunakan threaded union
dengan O ring seal yang memungkinkan pipa dengan diameter berbeda dapat
disambungkan tanpa menggunakan peralatan.
Pada beberapa titik strategis dipasang peralatan yang dapat disambungkan ke alat
pengukur tekanan dijital sehingga dimungkinkan untuk mengukur perbedaan tekanan
antara dua titik yang diinginkan. Aliran pada beberapa titik keluaran (outlet) diukur
menggunakan Bangku Hidraulik.
Rute aliran dalam sistem dapat diatur dengan cara membuka dan menutup katub
isolasi tertentu (3). Hal ini memungkinkan menyusun konfigurasi pipa seri, pipa paralel,
penggandaan pipa, jaringan pipa tertutup dan sebagainya untuk dievaluasi
Percobaan - 6 Halaman 6 - 3
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
selama praktikum.
Empat buah pipa percobaan (5) dipasang pada sistem jaringan dan sebuah pipa
cadangan (7) terpasang pada panel dengan kelem yang mudah dilepaskan.
Serangkaian percobaan dapat dilakukan dengan 4 buah pipa percobaan pada posisi
standar ( dari kiri ke kanan, pipa 9 mm, 6 mm, 10 mm dan 9 mm). Semua pipa
dipasang menggunakan threaded union dengan O ring seal pada bagian atas dan
bagian bawah. Kondisi ini memudahkan penggantian pipa tanpa menggunakan alat.
Pipa cadangan dengan diameter 14 mm juga dapat digunakan untuk menggantikan
salah satu pipa percobaan.
Perbedaan tekanan (kehilangan energi) dapat diukur dengan menggunakan alat
pengukur tekanan dijital. Dua buah pipa alat pengukur tekanan dapat dihubungkan
pada 2 titik yang akan diukur perbedaan tekanannya (atau tekanannya). Setiap
koneksi pada alat pengukur tekanan terdapat katub pelepas udara. Jika katub ini
dibuka, air akan masuk ke pipa dan mendorong udara yang terjebak dalam pipa keluar
dari pipa tersebut. Alat pengukur tekanan ini harus ditempatkan di atas Bangku
Hidraulik saat mengeluarkan udara dari dalam pipa.
Aliran keluar dari sistem pipa melalui pipa keluaran kiri dapat diatur dengan katub (8),
pipa keluaran tengah dengan katub (12) dan pipa keluaran kanan dengan katub (10).
Pipa vertikal di atas katub (12) mengalirkan air ke pipa keluaran di bagian atas. Debit
aliran keluar melalui setiap pipa keluaran (outlet) dapat diukur menggunakan alat
Bangku Hidraulik.
Alat ini didesain dengan menggunakan sambungan/belokan (fitting) dengan dimensi
lebih besar dibandingkan dengan diameter dalam dari pipa percobaan sehingga
besarnya kehilangan energi pada bagian tersebut adalah kecil dibandingkan dengan
kehilangan energi pada pipa percobaan sehingga dapat diabaikan.
Percobaan - 6 Halaman 6 - 4
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Nomenklatur
Volume Air m3 V Diukur Volume air yang diukur selama waktu tertentu
(t).
Pada diagram yang melengkapi panduan setiap percobaan, simbol berikut digunakan
untuk menyatakan apakah katub dibuka penuh, ditutup penuh atau diatur bukaannya
untuk mendapatkan debit aliran yang diinginkan.
Percobaan - 6 Halaman 6 - 5
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
I. TUJUAN
Tujuan percobaan adalah mengukur kehilangan energi melalui pipa tunggal dengan
berbagai diameter dalam pipa pada berbagai debit aliran sehingga dapat diketahui
hubungan antara kehilangan energi dan debit aliran.
II. METODE
Metode percobaan adalah dengan mengukur debit dan besarnya kehilangan energi
pada debit tersebut yang mengalir melalui pipa dengan diameter dalam yang berbeda-
beda.
Kehilangan energi primer pada aliran dalam pipa disebabkan akibat adanya gesekan.
Besarnya kehilangan energi primer ini dapat dihitung menggunakan rumus Darcy -
Weisbach sebagai berikut :
LV2
Hf =f (6.1)
d 2g
dimana :
Percobaan - 6 Halaman 6 - 6
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
𝑉𝐷
Koefisien gesekan f merupakan fungsi dari bilangan Reynold (𝑅𝑒 = 𝑣
) dan
Pada aliran turbulen f = f (Re, e/D), dimana e/D merupakan kekasaran relatif.
Hal ini juga dibuktikan oleh Nikuradse dengan percobaan-percobaan pipa yang
dikasarkan dengan pasir berdiameter rata-rata e. Besarnya f berbeda beda untuk pipa
hidraulik licin, kasar maupun transisi dengan rumus berikut:
Percobaan - 6 Halaman 6 - 7
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
LQ 2
H f= K 5
v [m H2O] (6.5)
d
Keterangan:
Hf : Kehilangan energi akibat gesekan [m H2O]
K : Konstanta, tak berdimensi
L : Panjang pipa = 0,7 m (konstan)
Qv : Debit aliran [m3/s]
d : Diameter dalam pipa [m] (0,006, 0,009, 0,010, atau 0,014)
5
H1−2 d
K= [tak berdimensi] (6.6)
LQv2
Grafik hubungan antara Hf dan Qv dapat dibuat seperti gambar di bawah yang
menunjukkan terjadi peningkatan kehilangan energi dengan semakin mengecilnya
diameter pipa.
Percobaan - 6 Halaman 6 - 8
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Gambar 6-3. Garfik hubungan antara Hf dan Qv pada berbagai diameter pipa
Percobaan - 6 Halaman 6 - 9
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
1 0,7
2 0,7
3 0,7
4 0,7
5 0,7
VI. HASIL
1. Bandingkanlah nilai K yang diperoleh pada diameter pipa yang sama pada
berbagai debit aliran dan pada berbagai diameter pipa pada debit yang sama.
2. Bandingkan nilai Hf (kehilangan energi) saat percobaan dan nilai Hf teoritis.
3. Gambarkanlah grafik hubungan kehilangan energi dan debit aliran pada berbagai
diameter pipa pada satu grafik sehingga karakteristiknya dapat dibandingkan.
Percobaan - 6 Halaman 6 - 10
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
VII. KESIMPULAN
Pipa Diameter 14 mm
Suhu = 25oC
Kekentalan Kinematik = 0,897 x 10-6 m2/s
Waktu
Diameter Panjang Volume Air
Kehilangan Energi H1-2 Kehilangan Energi Rata-Rata (m air) Waktu (s) rata-rata Debit V
No. Pipa [d] Pipa [L] [V] (l)
(cm air) (s)
(m) (m) 3
Rata-rata(cm) Rata-rata(m) Kesalahan % Kesalahan V1 V2 V3 t1 t2 t3 T (l/s) (m /s) (m/s)
1 0.014 0.7 42.5 42.4 42.2 42.367 0.424 0.1667 0.39 9 9 9 32.40 32.33 32.33 32.353 0.2782 0.000278 1.807
2 0.014 0.7 36.9 36.1 36.2 36.400 0.364 0.3000 0.82 9 9 9 34.10 34.90 34.90 34.633 0.2599 0.000260 1.688
3 0.014 0.7 76.8 75.8 76.6 76.400 0.764 0.6000 0.79 9 9 9 23.35 24.03 24.03 23.803 0.3781 0.000378 2.456
4 0.014 0.7 33.5 33 32.2 32.900 0.329 0.7000 2.13 6 6 6 23.77 22.49 22.49 22.917 0.2618 0.000262 1.701
5 0.014 0.7 78.5 90.7 83.1 84.100 0.841 5.6000 6.66 9 9 9 21.58 21.47 21.47 21.507 0.4185 0.000418 2.718
6 0.014 0.7 154 153.1 147.2 151.433 1.514 4.2333 2.80 18 18 18 27.79 27.29 27.29 27.457 0.6556 0.000656 4.259
7 0.014 0.7 299.4 298.6 310.5 302.833 3.028 4.2333 1.40 18 18 18 21.75 21.96 21.96 21.890 0.8223 0.000822 5.342
8 0.014 0.7 378.7 390.2 387.8 385.567 3.856 6.8667 1.78 18 18 18 18.94 19.14 19.14 19.073 0.9437 0.000944 6.131
9 0.014 0.7 85 85.4 85 85.133 0.851 0.1333 0.16 9 9 9 20.83 20.67 20.67 20.723 0.4343 0.000434 2.821
10 0.014 0.7 151.4 164 155.1 156.833 1.568 5.4333 3.46 18 18 18 30.38 30.07 30.07 30.173 0.5966 0.000597 3.875
11 0.014 0.7 304.1 290.3 302.4 298.933 2.989 8.6333 2.89 18 18 18 22.16 21.31 21.31 21.593 0.8336 0.000834 5.415
12 0.014 0.7 409.1 405.2 395 403.100 4.031 8.1000 2.01 18 18 18 18.57 18.54 18.54 18.550 0.9704 0.000970 6.304
13 0.014 0.7 474.9 491.7 492.7 486.433 4.864 11.5333 2.37 18 18 18 16.96 16.99 16.99 16.980 1.0601 0.001060 6.886
14 0.014 0.7 10.6 10.1 10 10.233 0.102 0.2333 2.28 6 6 6 36.71 36.81 36.81 36.777 0.1631 0.000163 1.060
15 0.014 0.7 18.4 18.6 18.4 18.467 0.185 0.0667 0.36 6 6 6 28.85 28.49 28.49 28.610 0.2097 0.000210 1.362
16 0.014 0.7 254.2 262.5 257 257.900 2.579 3.7000 1.43 10 10 10 11.91 12.65 12.45 12.337 0.8106 0.000811 5.266
17 0.014 0.7 313.4 319.8 315.7 316.300 3.163 2.9000 0.92 10 10 10 12.69 12.34 12.59 12.540 0.7974 0.000797 5.180
18 0.014 0.7 378.5 371.3 375.3 375.033 3.750 3.7333 1.00 10 10 10 11.25 11.51 11.36 11.373 0.8792 0.000879 5.712
19 0.014 0.7 441.7 446.2 445.5 444.467 4.445 2.7667 0.62 10 10 10 10.34 10.06 10.06 10.153 0.9849 0.000985 6.398
20 0.014 0.7 47.2 46.9 45.3 46.467 0.465 1.1667 2.51 9 9 9 29.47 29.48 29.48 29.477 0.3053 0.000305 1.983
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Contoh Perhitungan :
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Q14 vs Hf-14
6.0
4.0
Hf-14 [m]
3.0
2.0
1.0
0.0
0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2
Q14 [l/s]
Empiris Power (Empiris)
Hf-14 vs Q14
1.2
Q14 = 0,[Link]-140,4873
1.0
0.8
Q14 [l/s]
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0
Hf-14 [m]
Empiris Power (Empiris)
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Kesimpulan :
1. Berdasarkan data Pengolahan hasil pengamatan (suhu air, panjang pipa, diameter
pipa, kehilangan energy, volume air, waktu didapatkan persamaan empiris hubungan
antara Qv dan Hf. Dan didapat :
Hf (d = 10 mm) = 13,539 . Q1.9157 Hf (d = 9 mm) = 21.321 . Q1.7795
Qv (d =10 mm) = 0,2574 . Hf0.5197 Qv (d =9 mm) = 0,1799 . Hf0.5594
VIII. TUJUAN
Tujuan percobaan adalah mengukur kehilangan energi versus debit aliran pada
berbagai diameter pipa yang dihubungkan secara paralel.
IX. METODE
Metode percobaan adalah dengan mengukur debit dan besarnya kehilangan energi
terkait pada berbagai kombinasi pipa paralel dan membandingkan kehilangan
energi dengan prediksi kehilangan energi pada pipa tunggal dengan debit yang
sama.
Kehilangan energi primer pada aliran dalam pipa disebabkan akibat adanya
gesekan. Besarnya kehilangan energi primer ini dapat dihitung menggunakan
rumus Darcy - Weisbach sebagai berikut :
LV2
Hf =f
D 2g (6.7)
dimana :
Pada aliran turbulen f = f (Re, e/D), dimana e/D merupakan kekasaran relatif.
Hal ini juga dibuktikan oleh Nikuradse dengan percobaan-percobaan pipa yang
dikasarkan dengan pasir berdiameter rata-rata e. Besarnya f berbeda beda untuk
pipa hidraulik licin, kasar maupun transisi dengan rumus berikut:
• Pipa Hidraulik Licin:
1 Re f
= 2 Log
2,51
(6.8)
• Pipa Hidraulik Kasar:
1 3,7 D
= 2 Log
f e
(6.9)
• Transisi :
1 e 2,51
= −2 Log +
f 3,7 D Re f (6.10)
Catatan:
Akan ada tambahan kehilangan energi pada jaringan pipa dan fittings (sambungan,
belokan) yang terletak diantara pipa percobaan. Kehilangan ini telah diminimalisir
pada alat C11-MKII dengan menggunakan diameter komponen yang lebih besar
dari pada pipa percobaan. Dalam aplikasi yang sesungguhnya, kehilangan energi
pada fittings akan lebih signifikan besarnya sehingga perlu diperhitungkan pada
perhitungan kehilangan energi pada jaringan pipa. Pada alat C11-MKII, ke 4 pipa
percobaan panjangnya sama, pada aplikasi sesungguhnya panjang pipa bisa
beragam.
Gambar 6-6 Berbagai konfigurasi pipa paralel, 2 pipa paralel (kiri), 3 pipa paralel
(tengah) dan 4 pipa paralel (kanan)
XIII. HASIL
XIV. KESIMPULAN
Berikanlah komentar pada korelasi antara debit total yang diperoleh dari hasil
pengukuran dan debit hasil perhitungan dari kehilangan energi. Bahaslah bila
terjadi perbedaan.
Berikanlah komentar terhadap besarnya debit aliran pada setiap pipa dan
bahaslah perbedaannya.
Praktikan diminta untuk menghitung debit teoritis pada setiap pipa jika diberikan
data beda tinggi tekan dengan menggunakan data geometri pipa dan estimasi
besarnya koefisien gesekan. Bandingkanlah hasil di atas dengan besaran yang
diperoleh dari percobaan, berikanlah ulasan saudara tentang perbedaan yang
terjadi.
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
No. Debit
H1-2 rata-rata (m Debit Empiris (l/s) Kecepatan [v] (m/s)
Percoba Diameter (m) Terukur f teori e [mm] e/D Re Ruas Kiri Ruas Kanan Delta
an air) (l/s)
Q10 Q 14
2,419 0,093 0,224 29,51 12,20 0,317 0,00
Contoh Perhitungan:
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Hf vs Q
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
Hf
0.4
0.3
0.2
Hf = 0.1799Q-2.235
0.1
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
Q
Q vs Hf
1
0.9
0.8
0.7
0.6 Q = 0.4824Hf-0.392
0.5
Q
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
Hf
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil pengolahan data berupa kehilangan energy, volume air, dan waktu
didapatkan persamaan empiris hubungan Qv dan Hf, Hf dengan Qv pipa pararel
diameter 10 mm dan 14 mm.
Berdasarkan grafik, dapat diketahui bahwa, semakin besar debit aliran, maka semakin
besar kehilangan energy yang terjadi, dan juga berlaku sebaliknya.
Pipa pararel menghasilkan kehilangan energy yang sama untuk setiap pipanya (pipa
10 mm dan 14 mm) tetapi debit yang berbeda untuk masing masing pipa, dimana Q
total adalah jumlah debit kedua pipa pararel. Berdasarkan perhitungan, diperoleh
persamaan. Dan dapat disimpulkan bahwa dengan pipa diameter yang lebih besar
dapat mengalirkan aliran dengan debit yang lebih besar, Karena pipa yang lebih besar
menghasilkan debit yang lebih besar pada kehilangan energy yang sama.
Berdasarkan perhitungan, ada beda antara debit praktis dan empiris yaitu 63.73 %,
12.37 %,dan 13.04 %.
Adanya perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor keterbatasan praktikan dalam
pengamatan, pompa yang tidak konstan menyebabkan aliran yang tidak konstan,
serta kemungkinan terdapat gelembung udara di selang pengukur tekanan portable.
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN SIPIL
Percobaan : 6-3
Laboratorium
Hidrolika Topik : Aliran melalui pipa seri
I. TUJUAN
Tujuan percobaan adalah mengukur kehilangan energi versus debit aliran pada
berbagai diameter pipa yang dihubungkan secara seri.
II. METODE
2 0,7
3 0,7
4 0,7
5 0,7
6 0,7
VII. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan, periksalah bahwa kehilangan energi total pada pipa seri Hf
sama dengan jumlah kehilangan energi pada setiap pipa untuk semua debit aliran.
Berikanlah komentar terhadap besarnya kehilangan energi pada setiap pipa dan
bahaslah apakah ada perbedaan besarnya debit pada setiap pipa?.
Praktikan diminta untuk menghitung kehilangan energi teoritis pada setiap pipa jika
diketahui debit aliran, geometri pipa dan besarnya koefisien gesekan. Bandingkan
hasil perhitungan dengan besaran yang diperoleh dari percobaan.
Mengapa pengetahuan tentang penurunan energi pada jaringan pipa merupakan
hal penting yang harus dipertimbangkan oleh perencana?. Coba sebutkanlah
aplikasi praktis yang saudara ketahui dimana jaringan pipa seri digunakan!
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Contoh Perhitungan:
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
16 Hf = 184.2Qv1.933
14
12
Hf [m]
10
6 Hf = 4.4081Qv1.9556
4
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Qv [l/s]
6mm 14mm Empiris Power (6mm) Power (14mm) Power (Empiris)
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Kesimpulan :
I. TUJUAN
II. METODE
Metode percobaan adalah dengan mengukur debit dan besarnya kehilangan energi
pada 2 pipa yang dihubungkan secara seri, kemudian salah satu pipa digandakan.
Gambar 6-13. Kurva hubungan Hf dan Qv pada pipa seri dan pipa ganda
Untuk meningkatkan kapasitas aliran pada sistem jaringan pipa, suatu pipa dapat
diganti dengan pipa lain dengan diameter lebih besar atau dengan pipa paralel
seperti pada Percobaan 6-2. Akan tetapi biayanya akan mahal dan seringkali tidak
praktis karena lokasinya tidak memungkinkan.
Alternatif untuk meningkatkan kapasitas jaringan pipa adalah dengan
menambahkan pipa paralel pada sebagian panjang pipa, khususnya jika bagian
pipa tersebut diameternya lebih kecil dari pada bagian lainnya. Penambahan pipa
ini disebut sebagai pipa ganda (doubling pipe).
Jaringan pipa awal dihubungkan secara seri seperti pada Percobaan 6-3,
diperlihatkan pada Gambar 6-11. Pipa ganda dipasang pada bagian pertama
sehingga menciptakan pipa paralel seperti ditunjukkan pada Gambar 6-12.
Pada suatu debit tertentu, kehilangan energi pada pipa B tidak terpengaruh karena
debit melalui pipa ini tidak berubah. Akan tetapi debit melalui pipa A akan dibagi ke
pipa C sehingga kehilangan energi pada bagian ini akan berkurang. Umumnya
jaringan pipa dipengaruhi oleh beda elevasi tersedia (dari tampungan atau dari
pompa sirkulasi), maka pengurangan kehilangan energi yang terjadi akan
meningkatkan aliran melalui pipa ganda, dan tentu saja pada pipa B, sehingga
secara keseluruhan jaringan pipa ini akan meningkat kapasitasnya.
Akan ada tambahan kehilangan energi pada jaringan pipa dan fittings (sambungan,
belokan) yang terletak antara pipa percobaan. Kehilangan ini telah diminimalisir
pada alat C11-MKII dengan menggunakan diameter komponen yang lebih besar
dari pada pipa percobaan. Dalam aplikasi yang sesungguhnya, kehilangan energi
pada fittings akan lebih signifikan besarnya sehingga perlu diperhitungkan pada
perhitungan kehilangan energi jaringan pipa.
VI. HASIL
VII. KESIMPULAN
Contoh Perhitungan:
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Seri
0.4
Qv = 0.0673Hf0.5173 Ganda
0.3
Power (Seri)
0.2
Power (Ganda)
0.1
0
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
Hf [m]
500
400 Ganda
300 Power (Seri)
200 Power (Ganda)
100 Hf = 184.2Qv1.933
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8
Qv [l/s]
Laboratorium Hidraulika
Fakultas Teknik Jurusan Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Kesimpulan :