I.
Metode Audiolingual dan Audiovisual dalam Pembelajaran
A. Metode Audiolingual
Audio lingual method merupakan metode pengajaran bahasa kedua yang muncul
di Amerika pada abad ke-20 tahun 40-an. Metode audiolingual menekankan pada
pelatihan struktur dan bentuk kalimat secara berulang-ulang untuk melatih kemampuan
lisan dan mendengar. Dasar teori metode audio lingual ini adalah menggunakan bahasa
percakapan (bahasa lisan) untuk menjalankan pengajaran bahasa. Oleh sebab itu, metode
audio lingual ini menekankan bahwa, pemelajaran bahasa kedua harus dimulai dari
pengajaran bahasa lisan. (Xu Ziliang Wu Renfu,2004).
Kegiatan komunikasi dalam kehidupan manusia bergantung pada bahasa
lisan. Bahasa lisan memiliki unsur-unsur bahasa yang tidak dimiliki oleh bahasa tulisan
seperti intonasi, jeda, penekanan. Oleh sebab itu, pengajaran bahasa dengan metode
audiolingual menitik beratkan pada pengajaran mendengar dan berbicara. Pengajaran
bahasa dimulai dengan mendengar dan dilanjutkan dengan latihan berbicara. Untuk
dapat membuat pemelajar secara alamiah menguasai bahasa sasaran sangat bergantung
pada rangsangan pendengaran yang dilakukan secara berulang-ulang.
Pengajaran dengan metode audiolingual ini memiliki tahap-tahap
pemelajaran, menurut W.F Twaddell (Xu Ziliang Wu Renfu,2004). Terdapat beberapa
tahap pengajaran dengan metode audiolingual antara lain : mengenal, menirukan,
mengulang, dan memilih. Dari keempat tahap pengajaran ini membentuk tahap latihan
tersendiri antara lain : latiham meniru, mengingat dan percakapan.
Dalam metode audiolingual, latihan meniru dan mengingat diperoleh dari
mendengarkan contoh suara materi yang diajarkan, kemudian pemelajar menirukan
contoh suara tersebut berulang-ulang sampai mereka selalu mengingat dengan apa yang
mereka dengan dan tirukan. Sedangkan pada latihan percakapan, dapat dengan meminta
pelajar untuk menyelesaikan percakapan yang rumpang.
Keunggulan dan kelemahan metode audiolingual
Keunggulan metode audiolingual antara lain adalah :
Dapat diterapkan pada kelas-kelas yang sedang memperbanyak latihan dan
praktek dalam aspek keterampilan menyimak dan berbicara sesuai bagi
tingkatan linguistik para siswa.
Kelemahan metode audiolingual antara lain adalah :
Guru terampil dan cekatan sangat dibutuhkan.
Ulangan seringkali membosankan serta menghambat penghipotesisan kaidah-
kaidah bahasa.
Kurang sekali memberi perhatian pada ujaran atau tuturan yang spontan.
Ciri-ciri utama metode audiolingual
Dalam buku yang berjudul Language Teaching: A Scientific Approach, Lado
(1964) mengemukakan “ hukum-hukum empiris mengenai pembelajaran” berikut ini
sebagai dasar bagi metode audiolingual:
1) Hukum latihan yang menemukakan dengan tegas bahwa semakin sering sesuatu
respon dipraktekan, maka semakin baik pula hal itu dipelajari dan semakin lama
diingat.
2) Hukum intensitas yang menyatakan bahwa semakin intensif sesuatu responsi yang
dipraktekan, maka semakin mantap hal itu dipelajari dan semakin lama pula akan
diingat.
B. Metode Audiovisual
Metode audiovisual yaitu suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan
menggunakan alat-alat media pengajaran yang dapat menperdengarkan, atau
memperagakan bahan-bahan tersebut sehingga pemelajar dapat menyaksikan secara
langsung dan mengamati secara cermat. Pada setiap kali bahan pelajaran semestinya
guru menggunakan media pengajaran, seperti papan planel, proyektor dan lain-lain.
Metode audiovisual dikenal dengan keharusan penggunaan audio visual aids atau
audio visual material. Ketiga istilah (baik audio visual method, audio visual aids, audio
visual material) sama-sama menekankan kepada pemberian pengalaman secara nyata
kepada pemelajar. Dengan melihat langsung dan mendengar tentang hal-hal yang
dipelajari itu.
Jadi inti pengajaran audio visual ini dipergunakan beberapa alat/bahan media
pengajaran antara lain melalui film strup, tv, gambar-gambar peta. Lebih utama
menggunakan benda-benda asli sebagai peraga.
Penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan audio-visual untuk
pembelajaran yaitu :
1) Guru harus mempersiapkan unit pelajaran terlebih dahulu, kemudian baru memilih
media audiovisual yang tepat untuk mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan.
2) Guru juga harus mengetahui durasi media audiovisual misalnya dalam bentuk film
ataupun video, dimana keduanya yang harus disesuaikan dengan jam pelajaran.
3) Mempersiapkan kelas, yang meliputi persiapan siswa dengan memberikan
penjelasan global tentang isi film, video atau televisi yang akan diputar dan
persiapan peralatan yang akan digunakan demi kelancaran pembelajaran.
4) Aktivitas lanjutan, setelah pemutaran film atau video selesai, sebaiknya guru
melakukan refleksi dan tanya jawab dengan siswa untuk mengetahui sejauh mana
pemahaman siswa terhadap materi tersebut.
Kelemahan dan kelebihan media audiovisual
Bebrapa kelebihan atau kegunaan media audiovisual pembelajaran yaitu :
1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis ( dalam bentuk
kata-kata, tertulis atau lisan belaka).
2) Menguasai perbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti :
Objek yang terlalu besar digantikan dengan realitas, gambar, film bingkai, film
atau gambar.
Objek yang kecil dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film atau
gambar.
Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan tame line
atau high speed photografi.
Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat
film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal.
Konsep yang terlalu luas (gunung ber api, gempa bumi, iklim dll) dapat di
visualkan dalam bentuk gambar
3) Media audiovisual bisa berperan dalam pembelajaran tutorial.
Pengajaran audiovisual juga mempunyai beberapa kelemahan yaitu :
1) Media audiovisual tidak dapat digunakan dimana saja dan kapan saja, karena media
audiovisual cenderung tetap di tempat
2) Biaya pengadaannya relative mahal
3) Apabila guru tidak mampu berpartisipasi aktif maka siswa akan cenderung
menikmati visualisasi dan suaranya saja.
Dampak positif yang ditimbulkan dalam metode audiovisual :
1) Menjadi hal baru bagi pembelajar
2) Pembelajar akan lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran
3) Dengan cara melihat dan mendengar bahan ajar, maka daya tangkap anak akan
lebih besar
4) Memperkenalkan TIK pada pemelajar
5) Guru menjadi lebih muah dalam menjelaskan bahan ajar dengan adanya contoh
yang disajikan
6) Guru dapat menunjukan benda-benda yang tidak mungkin ada disekolah atau tidak
mungkin dapat ditunjukan secara langsung pada pemelajar. Dengan media ini,
guru dapat menunjukan gambarnya atau videonya.
7) Waktu belajar mengajar jadi efisien
8) Rasa keingintahuan anak biasanya lebih meningkat.
II. Community Language Learning
A. Community Language Learning.
Community Language Learning (CLL) adalah metode mengajar bahasa yang
dikembangkan oleh Charles Arthur Curran, seorang ahli psikologi yang mengambil
spesialisasi penyuluhan di Universitas Loyola Chicago. CLL yang menekankan rasa
komunitas dalam kelompok belajar ( grup ), mendorong interaksi antar siswa sebagai alat
pembelajaran, dan menganggap perasaan siswa sebagai prioritas dan pengakuan dari
perjuangan dalam akuisisi bahasa. Pada metode CLL guru berperan sebagai konselor dan
siswa atau pembelajar sebagai klien.
Guru yang mengajar menggunakan metode ini dituntut untuk memiliki sikap yang
fasilitatif, baik dalam menularkan pengetahuannya maupun dalam menolong para siswa maju
dari satu tahap ke tahap yang lain. Sikap ramah-tamah, penuh pengertian, mengiakan, dan
mendukung merupakan kualifikasi yang harus dimiliki oleh setiap guru. Metode CLL tidak
menggunakan silabus atau buku teks. Karena itu, siswa sendiri yang menentukan isi pelajaran
dengan cara percakapan yang berarti di mana mereka membahas pesan nyata. Khususnya,
menggabungkan terjemahan , transkripsi, dan teknik rekaman.
B. Prinsip Community Language Learning
Pada dasarnya prinsip pengajaran dengan metode ini menggunakan terori humanistik.
Dalam community language learning siswa dianggap sebagai ‘whole persons’ atau seorang
(individu) yang utuh, artinya guru tidak hanya memperhatikan perasaan dan kepandaian siswa
tapi juga hubungan dengan sesama siswa dan hasrat siswa untuk belajar. Menurut Charles A.
Curran (1986:89), siswa merasa tidak nyaman pada situasi yang baru.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya dalam metode ini guru sebagai konselor penunjang
keberhasilan belajar siswa, seorang guru harus memahami perasaan ketakutan dan sensitif
siswa, guru dapat menghilangkan perasaan negatif siswa menjadi energi positif untuk belajar.
seorang siswa kadang takut terihat bodoh di depan kelas sehingga mereka cendrung bersikap
pasif dalam aktivitas kelas. Oleh karena itu, seorang guru harus memposisikan dirinya sebagai
seorang konselor yang akan memahami perasaan dan permasalahan yang dihadapi oleh
siswanya dan membuat mereka nyaman dengan kelompok dan juga gurunya. CLL memiliki
konsep dasar untuk menumbuhkan proses pembelajaran yaitu
Rasa aman
Rasa aman dalam diri siswa yang didapat dari lingkungan belajar karena adanya rasa
saling gotong-royong dan memberi kepercayaan dari guru ataupun kelompok.
Perhatian
Guru harus menyamaratakan perhatian dan berperan aktif siswa dalam proses
pembelajaran.
Mengingat dan memikirkan
Proses pencerminan diri siswa untuk mengetahui sampai sejauh mana para siswa
telah menguasai materi pelajaran dan masalah-masalah apa yang timbul dalam proses
pembelajaran. Kosep ini menggunakan dua cara yaitu dengan mengulang kembali
pelajaran yang telah dipelajari dan mengajak siswa untuk mengungkapkan
permasalahan dalam belajar pelajar yang diajarkan sehingga guru harus memberi
bimbingan dan pengarahan psikologis yang positif.
Membedakan.
Tahap dimana kesalahan-kesalahan ucapan, ungkapan, maupun sintaksis tidak perlu
dipermasalahkan yang terpenting terjadi komunikasi dimana pendengar dapat
memahami maksud dari pembicara. Konsep ini tanpa sadar membimbing siswa agar
mampu mengoreksi sendiri kesalahan-kesalahan yang dilakukan.
Metode CLL menekankan pada peran afektif dalam pembelajaran kognitif. oleh karena
itu metode ini mampu menghilangkan affective filter siswa (yang membuatnya merasa
gugup dan tak berani untuk berbicara) yang ada dalam dirinya akan mulai berkurang karena
telah merasakan kedekatan dengan lingkungan kelompoknya.
C. Tujuan dan Sasaran Metode CLL
Metode ini berfokus pada kesulitan siswa dalam mempelajari bahasa. Tujuan dari
pembelajaran sendiri adalah untuk membangun hubungan komunikasi dan menghilangkan
ketakutan dalam diri siswa saat ia mempelajari bahasa kedua. Oleh karena itu, metode
pembelajaran CLL bertujuan agar para siswa dapat belajar bagaimana cara menggunakan
bahasa target (bahasa yang dipelajari) secara komunikatif.
D. Penerapan CLL
Penerapan metode community language learning dalam proses belajar dengan cara
sebagai berikut :
1. Pendekatan langsung atau pendekatan alami
Pedekatan ini menuju pada tiga tujuan yaitu membuat siswa benar dalam
pelafalan bahasa sasaran, penggunaan tata bahasa yang benar dan membantu
memahami arti dalam setiap percakapan bahasa sasaran.
Jika menggunakan cara pendekaan langsung, maka diharus mengerti lima konsep
berikut :
Memberikan rasa aman dan membangun stabilitas keinginan belajar
Meningkatnya kemampuan penggunaan bahasa sasaran
Dapat berbicara secara bebas menggunakan bahasa sasaran
Mampu menerima kritik dan koreksi dalam balajar bahasa sasaran
Menggunakan bahasa sasaran dengan tepat dan memahami
Dalam istilah Paul [Link] Forge tahapan dari konsep di atas adalah sebagai berikut :
Tahap embrio
Tahap ini merupakan tahap awal pengubahan yang dilakukan guru kepada siswa.
Pada tahap ini siswa masih memiliki ketergantungan tinggi kepada guru.
Tahap menonjolkan diri
Tahap siswa melepaskan perlahan-lahan ketergantungannya kepada guru. Tahap ini
siswa mendapatkan dukungan moral dari rekan kelompok menggunakan bahasa yang
dipelajari sehingga menemukan identitas sebagai penutur bahasa itu dan juga
tersimpannya kata dan juga frase dalam otak.
Tahap Lahir atau Tahap Eksistensi
Tahap ini berkurangnya siswa memakai bahasa ibu dan mulai terbiasa menggunakan
bahasa yang dipelajari untuk komunikasi sesama kelompok. Tahap ini siswa akan
menghilanhkan rasa ketergantungan pada orang lain sehingga jika terjadi sedikit
kesalahan, guru dapat memperbaikinya.
Tahap Reversal
Tahap di mana hubungan siswa dengan gurunya telah mencapai taraf saling percaya.
Sehingga pada proses pembelajaran bahasa selalu menggunakan bahasa sasaran
tanpa ada kekhawatiran kesalahan pada pelafalan, pengucapan, pendengaran dan
penulisan. Tahap ini juga kebutuhan siswa pada guru hanya berupa idiom, beberapa
ekspresi dan tata bahasa.
Tahap Bebas
Tahap dimana siswa telah mencapai tahap akhir setelah menguasai materi
pembelajaran. Sehingga siswa akan lanjut mempeljari aspek-aspek sosial dan budaya
dari para penutur asli.
2. Komunitas Online
Bergabung dengan komunitas yang menggunakan bahasa sasaran. cara ini sangat
efisien digunakan oleh orang yang ingin belajar otodidak. Selain dapat mempelajari
bahasa sasaran melalui komunitas online juga dapat mempelajari sedikit budaya
ataupun aktivitas masyarakat bahasa sasaran tersebut.
E. Kelebihan dan kekurangan CLL
Kelebihan dari CLL adalah
Adanya aktifitas mandiri siswa dalam proses pembelajaran.
Belajar dengan berkelompok sehingga mengurangi rasa rendah diri
pada siswa yang lambat dan susana yang dilakukan sehat.
Awal pembelajaran siswa sudah dapat menggunakan kemampuan
kognitif mereka sesuai kaidah-kaidah bahasa sasaran dan dari awal
pembelajaran sudah adanya komunikasi timbal balik antar siswa.
Kekurangan dari CLL adalah
Guru akan berperan sebagai penerjemah karena tahap awal biasanya
guru akan menugaskan membuat kalimat sendiri dan ini akan mudah
hanya untuk siswa yang sudah memahami kaidah-kaidah bahasa
sasaran.
Materi pelajaran dalam metode ini berdasarkan proses, tidak
berdasarkan isi, oleh karena itu materi pelajar setiap kelas tidak sama
sehingga materi yang disajikan biasanya hanya sturuktur bahasa.
Peran guru sebagai penyuluh hanya pemberi rasa aman dalam
pembelajaran dan tidak bisa memacu perkembangan kemajuan bahasa.
Test evaluasi akhir biasanya lenih rumit dari test evaluasi dalam kelas.
F. Contoh Pelaksanaan pembelajaran
1. Satu kelas terdiri dari 6 – 12 siswa yang duduk dengan membentuk lingkaran.
2. Guru memberi salam, mengenalkan diri dan mempersilakan siswa saling berkenalan.
3. Guru memberi tahu siswa tentang apa yang akan dilakukan, menjelaskan prosedur dan
menentukan batasan waktu.
4. Guru berdiri di luar lingkaran dari siswa berada.
5. Tape recorder disiapkan untuk merekam ucapan siswa (yang direkam hanya ucapan
bahasa target yang sedang dipelajari yang nantinya akan ditranskripsikan).
6. Siswa melakukan percakapan. Seorang siswa mengucapkan dengan keras pesan
menggunakan bahasa pertama. Guru berdiri dibelakang siswa tersebut.
7. Guru memberikan pesan dalam bahasa target.
8. Siswa mengulangi pesan dengan suara yang keras untuk teman-teman dengan
menggunakan bahasa kedua.
9. Proses ini dilakukan berulang-ulang serta direkam. Dalam proses ini, guru juga
memberi tahu sisa waktu untuk percakapan.
10. Setelah selesai siswa diajak membicarakan tentang perasaan mereka selama
percakapan, guru memahami dan menerima semua yang diungkapkan siswa.
11. Ucapan-ucapan ini dimainkan lagi, diterjemahkan kedalam bahasa pertama.
12. Siswa disuruh membuat setengah lingkaran menghadap papan tulis dan ucapan-
ucapan yang telah direkam tadi di transkripsikan.
13. Pada kegiatan Human ComputerTM, siswa memilih frase mana yang ingin mereka
latih pengucapannya. Guru mengikuti apa yang diinginkan siswa, mengulangi frase
sampai siswa merasa puas dan berhenti.
14. Pada pertemuan yang lain, siswa juga bisa bekerjasama dalam kelompok kecil (tiga
orang).
15. Jika ada kesalahan, guru memberikan koreksi dengan cara mengulangi dengan benar
kalimat yang telah dibuat siswa.
Daftar Pustaka
1. [Link]
%[Link]
2. [Link]