KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat dan karunia-
Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Terapi Kognitif” dengan baik.
Dengan keterbatasan pengetahuan yang ada, kami tidak akan dapat menyelesaikan penulisan
makalah ini tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun
tidak langsung.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkat, imbalan, serta karunia-Nya kepada
semua pihak yang telah memberikan bimbingan dan bantuannya yang tidak ternilai.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan
demi kesempurnaan penulisan di kemudian hari.
Akhirnya, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri,
pembaca, serta masyarakat luas terutama dalam hal menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan.
DAFTAR ISI
i
KATA PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................1
C. Tujuan.............................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Terapi Kognitif..................................................................................................5
B. Indikasi Terapi Kognitif..................................................................................................5
C. Teknik-teknik Terapi Kognitif........................................................................................6
D. Distorsi Kognitif..............................................................................................................9
E. Pelaksanaan Terapi Kogrnitif........................................................................................14
F. Standar Operasional Prosedur.......................................................................................17
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................................................36
B. Saran..............................................................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Individu memiliki sisi perasaan atau afek dengan anggapan benar terhadap dirinya
sendiri, lingkungan di kehidupannya, perasaannya dan pemikirannya pada setiap
tindakan dalam rangkaian interaksi. Berdasarakan kognisi atau pemikirannya dan
pengalaman, individu akan membuat pandangan atau perspektif kebiasaan mengenai diri
sendiri, dunia dan masa depan. Misalnya mengenai individu yang beranggapan psimistis
terhadap cara mengontor takdirnya sendiri atau beranggapan bahwa takdir tersebut
mampu dikontrol oleh orang lain bukan oleh dirinya sendiri.
Orang dengan gangguan jiwa mengalami masalah pada sisi kognitif dan bermasalah
dalam berperilaku. Orang dengan kasus depresi mengalami gangguan emosional berasal
dari ditorsi (penyimpangan) dalam berfikir. Gangguan dalam berpikir mampu mengubah
konsep diri orang tersebut. Cara berpikir yang terganggu akan menimbulkan perilaku
yang maladaptif, salah satunya berperilaku kekerasan. Karenanya diperlukan adanya
perawatan dari perkembangan kognitifnya, yaitu diberikan terapi kognitif.
Terapi kognitif merupakan terapi yang digunakan dalam jangaka pendek dan
dilakukan secar teratur untuk memberikan dasar berpikir pada pasien agar mampu
mengekspresikan perasaan negatifnya, memahami masalahnya, mampu mengatasi
perasaan negatifnya, serta mampu memecahkan masalah tersebut.
Pada pemberian terapi kognitif, perawat berperan sebagai pendamping pasien untuk
memodifikasi cara pikir, sikap dan keyakinan untuk menemukan perilaku yang tepat
dalam menghadapi pengobatan yang sedang dijalaninya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan terapi kognitif?
2. Apa tujuan dari terapi kognitif?
3. Apa saja indikasi pelaksanaan terapi kognitif?
4. Apa saja masalah keperawatan yang bisa diselesaikan dengan terapi kognitif?
1
5. Bagaimana teknik dalam melaksanakan terapi kognitif?
6. Bagaimana standar operasional dari terapi kognitif?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari terapi kognitif.
2. Untuk mengetahui tujuan dari terapi kognitif.
3. Untuk mengetahui indikasi pelaksanaan terapi kognitif.
4. Untuk mengetahui masalah keperawatan yang bisa diselesaikan dengan terapi
kognitif.
5. Untuk mengetahui teknik dalam melaksanakan terapi kognitif.
6. Untuk mengetahui standar operasional dari terapi kognitif.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Terapi Kognitif
Terapi kognitif adalah terapi jangka pendek dan dilakukan secara teratur, yang
memberikan dasar berpikir pada pasien untuk mengekspresikan perasaan negatifnya,
memahami masalahnya, mampu mengatasi perasaan negatifnya, serta mampu
memecahkan masalah tersebut. Teori kognitif sebenarnya rangkaian dengan terapi
perilaku yang disebut sebagai terapi kognitif dan perilaku, karena menurut sejarahnya
merupakan aplikasi dari beberapa teori belajar yang bervariasi (Yusuf, Fitriyasari &
Nihayati, 2015).
Peran perawat dalam pelaksanaan terapi kognitif diharapkan mampu menerapkan
terapi kognitif ini serta mendampingi pasien untuk memodifikasi cara pikir, sikap dan
keyakinan untuk memutuskan perilaku yang tepat dalam menghadapi pengobatan
yang sedang dijalaninya.
B. Indikasi Terapi Kognitif
Menurut Setyoadi, dkk (2011) terapi kognitif efektif untuk sejumlah kondisi
psikiatri yang lazim, terutama:
1. Depresi (ringan sampai sedang).
2. Gangguan panic dan gangguan cemas menyeluruh atau kecemasan.
3. Individu yang mengalami stress emosional.
4. Gangguan obsesif kompulsif (obsessive compulsive disorder) yang seringterjadi
pada orang dewasa dan memiliki respon terhadap terapi perilaku dan
antidepresan. Jarang terjadi pada awal masa anak-anak, meskipun kompulsi
terisolasi sering terjadi.
5. Gangguan fobia (misalnya agoraphobia, fobia social, fobia spesifik).
6. Gangguan stress pacatrauma (post traumatic stress disorder).
7. Gangguan makan (anoreksia nervosa).
8. Gangguan mood.
9. Gangguan psikoseksual.
10. Mengurangi kemungkinan kekambuhan berikutnya.
3
Menurut Yusuf, Fitriyasari dan Nihayati (2015) indikasi atau karakteristik pasien
yang mendapatkan terapi kognitif, sebagai berikut:
a. Menarik diri.
b. Penurunan motivasi.
c. Defisit perawatan diri.
d. Harga diri rendah.
e. Menyatakan ide bunuh diri.
f. Komunikasi inkoheran dan ide/topic yang berpindah-pindah (flight of idea).
g. Delusi, halusinasi terkontrol, tidak ada manik deperesi, tidak mendapat ECT.
C. Teknik-teknik Terapi Kognitif
Menurut Yosep (2009, dikutip Afiya, 2016) perawat jiwa harus mengetahui
beberapa teknik dalam melakukan terapi kognitif. Pengetahuan tentang teknik ini
merupakan syarat agar peran perawat jiwa bisa berfungsi secara optimal. Dalam
pelaksanaan tehnik-teknik ini harus dipadukan dengan kemampuan lain seperti tehnik
konter, milieu therapi dan konseling. Beberapa tehnik tersebut antara lain:
1. Tehnik Restrukturisasi kognitif.
Perawat berupaya untuk memfasilitasi klien dalam melakukan pengamatan
terhadap pemikiran dan perasaan yang muncul. Tehnik restrukturisasi dimulai
dengan cara memperluas kesadaran diri dan mengamati perasaan dan
pemikiran muncul.
2. Tehnik penemuan fakta-fakta
Tehnik yang digunakan untuk mencari fakta-fakta untuk mendukung
keyakinan dan kepercayaan. Teknik penemuan fakta juga mencakup pencarian
sumber-sumber data yang berkaitan. Klien yang mengalami distorsi dalam
pemikirannya seringkali memberikan bobot yang sama terhadap semua sumber
dan atau data yang tidak disadarinya. Data tersebut bisa diperoleh dari staf,
keluarga atau anggota lain dalam masyarakat sebagai support dalam
lingkungan sosialnya dalam hal ini penemuan fakta dapat berfungsi sebagai
penyeimbang pendapat klien tentang pikiran buruknya.
4
3. Tehnik penemuan alternatif
Banyak klien melihat bahwa masalah terasa sangat berat karena tidak adanya
alternatif pemecahannya lagi. Latihan menemukan dan mencari alternatif-
alternatif pemecahan masalah klien bisa dilakukan antara klien dengan bantuan
perawat. Klien dianjurkan untuk menuliskan masalahnya, mengurutkan
masalah-masalah paling ringan dulu, kemudian mencari dan menemukan
alternatifnya. Disini penting sekali bagi perawat jiwa untuk merangsang klien
agar berani berpikir lain dari yang biasanya atau berani berfikir beda.
4. Dekatastropik
Tehnik Dekatastropik di kenal juga teknik bila dan apa. Hal ini meliputi upaya
menolong klien untuk melakukan evaluasi terhadap situasi dimana klien
mencoba memandang masalahnya secara berlebihan dari situasi alamiah untuk
melatih beradaptasi dengan hal terburuk dengan apa-apa yang mungkin terjadi.
Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan perawat adalah: “ apa hal terburuk
yang terjadi bila…?, dan apakah akan gawat sekali bila hal tersebut memang
betul-betul terjadi…. ?, serta tindakan pemecahan masalah apa, bila hal
tersebut benar-benar terjadi….? Tujuan dari tehnik dekatastropik adalah untuk
menolong klien melihat konsekuensi dari kehidupan.
5. Reframing
Reframing adalah strategi dalam merubah persepsi klien terhadap situasi atau
perilaku. Hal ini meliputi memfokuskan terhadap sesuatu atau aspek lain dari
masalah atau mendukung klien untuk melihat masalahnya dari sudut pandang
yang lain. Klien seringkali melihat masalah hanya dari satu sudut pandang
saja. Tehnik ini memberi kesempatan pada klien untuk merubah dan
menemukan makna baru dan merubah perilaku klien.
6. Thought stopping
Tehnik berhenti memikirkannya (thought stopping) sangat baik digunakan
pada saat klien mulai memikirkan sesuatu sebagai masalah, sehingga klien
dapat menggambarkan bahwa masalahnya sudah selesai.
7. Learning new behavior with modeling
5
Modeling adalah sebuah strategi untuk merubah perilaku baru dalam
meningkatkan kemampuan dan mengurangi perilaku yang tidak sesuai.
Sasaran perilaknya adalah memecahkan masalah-masalah yang disusun dalam
beberapa urutan kesulitannya. Kemudian klien melakukan observasi pada
seseorang yang berhasil memecahkan masalah yang serupa dengan klien
dengan cara memodifikasi dan mengontrol lingkungannya setelah itu klien
meniru perilaku orang yang dijadikan model. awalnya klien melakukan
melakukan pemecahan secara bersama dengan fasilitator. Selanjutnya klien
mencoba memecahkannya sendiri sesuai dengan pengalaman yang diperoleh
selama bersama terapis (perawat).
8. Membuat pola
Membentuk pola perilaku baru oleh perilaku yang diberikan reinforcement
(pujian). Setiap perilaku yang diperkirakan sukses dari apa-apa yang diniatkan
klien untuk melakukannya akan diberi reinforcement (pujian).
9. Token economy
Token economy adalah bentuk reinforcement positif yang sering digunakan
pada kelompok anak-anak. Hal ini dilakukan secara konsisten pada saat klien
mampu menghindari perilaku buruk atau melakukan hal yang positif.
10. Role play
Role play memungkinkan klien untuk belajar menganalisa perilaku negatifnya
melalui kegiatan-kegiatan sandiwara yang dapat dievaluasi oleh klien dengan
memanfaatkan alur cerita dan perilaku orang lain. Klien dapat menilai dan
belajar mengambil keputusan berdasarkan konsekuensi - konsekuensi yang ada
dalam cerita.
11. Aversion therapy
Aversion therapy bertujuan untuk menghentikan kebiasaan-kebiasaan negatif
klien dengan cara membayangkan kegiatan negatif tersebut dengan sesuatu
yang tidak disukai.
6
12. Contingency contracting
Contingency contracting berfokus pada perjanjian yang dibuat antara terapis
(perawat jiwa), perjanjian dibuat dengan punishment dan reward.
13. Social skill trining
Teknik ini didasari oleh sebuah keyakinan bahwa ketrampilan apapun
diperoleh sebagai hasil belajar.
D. Distorsi Kognitif
Distorsi kognitif merupakan kesalahan logika, kesalahan dalam penalaran, atau
pandangan individual dunia yang tidak mencerminkan realitas. Distorsi dapat berupa
positif atau negatif. Misalnya, seseorang yang secara konsisten dapat melihat
kehidupan dengan cara yang realistis positif dan dengan demikian mengambil peluang
berbahaya, seperti menyangkal masalah kesehatan dan mengaku sebagai "terlalu
muda dan sehat untuk serangan jantung". distorsi kognitif mungkin juga negatif,
seperti yang diungkapkan oleh orang yang menafsirkan semua situasi kehidupan
disayangkan sebagai bukti kurang lengkap diri (Stuart, 2009; dikutip Yosep & Iyus,
2009).
Macam-macam distorsi kognitif menurut Yusuf, Fitriyasari dan Nihayati (2015)
sebagai berikut:
1. Pemikiran “segalanya atau tidak sama sekali”
Melihat segala sesuatu dalam kategori hitam atau putih. Contohnya, jika prestasi
Anda kurang dari sempurna, maka Anda memandang diri Anda sendiri sebagai
seorang yang gagal total.
2. Overgeneralisasi
Memandang suatu peristiwa yang negatif sebagai sebuah pola kekalahan tanpa
akhir. Contoh, seorang murid yang gagal dalam ujian berpikir, “Saya tidak akan
7
pernah lulus ujian yang lain dalam semester ini dan saya akan keluar dari sekolah
ini.”
3. Personalisasi
Memandang diri sebagai penyebab dari suatu peristiwa eksternal yang negatif
yang kenyataanya tidaklah demikian. Contohnya, “Direktur saya mengatakan
bahwa produktivitas perusahaan kami menurun, tapi saya tahu ia sebenarnya
sedang membicarakan saya.”
4. Berpikir dikotomi
Berpikir dengan ekstrem bahwa semua hal adalah semuanya baik atau semuanya
buruk. Contohnya, “Jika suami saya meninggalkan saya, saya mungkin akan
mati.”
5. Pembencanaan
Berpikir yang terburuk tentang orang atau kejadian. Contohnya, “Saya lebih baik
tidak mengajukan diri untuk promosi di tempat pekerjaan karena saya tidak akan
mendapatkannya dan saya merasa diri saya sangat buruk.”
6. Membuat abstrak yang selektif
Memfokuskan pada detail tapi tidak pada informasi yang relevan. Contohnya,
“Seorang istri percaya bahwa suaminya tidak mencintainya karena ia pulang kerja
larut malam, tetapi sang istri menolak perhatian yang diberikan oleh suami,
hadiah yang dibawanya, dan acara khusus yang mereka rencanakan bersama.”
7. Kesimpulan yang tidak beralasan
Menarik kesimpulan negatif tanpa bukti yang mendukung. Contohnya, seorang
wanita muda menyimpulkan, “Teman saya tidak suka kepada saya karena saya
tidak mengirimkan kartu ulang tahun untuknya.”
8
8. Membesar-besarkan atau mengecilkan
Melebih-lebihkan suatu hal atau mengecilkan suatu hal secara tidak tepat.
Contoh, “Saya telah menghanguskan makan malam, itu menunjukkan betapa
tidak mampunya saya.”
9. Prefeksionis
Merasa butuh untuk melakukan segala sesuatu secara sempurna agar merasa
dirinya baik. Contoh, “Saya akan menjadi seorang yang gagal apabila saya tidak
mendapat nilai A pada semua ujian saya.”
10. Eksternalisasi harga diri
Mengukur nilai seseorang berdasarkan pendapat orang lain. Contoh, “Saya harus
selalu kelihatan cantik. Kalau tidak, teman-teman saya tidak akan mau berada di
dekat saya.”
11. Filter mental
Menemukan hal kecil yang negatif dan terus memikirkannya sehingga pandangan
tentang realita menjadi gelap.
12. Mendiskualifikasi hal positif
Menolak pengalaman-pengalaman positif dengan bersikeras bahwa semua itu
“bukan apa-apa”.
13. Penalaran emosional
Menganggap emosi-emosi yang negatif mencerminkan realita yang sebenarnya.
Contohnya, “Saya merasa begitu, maka pastilah begitu.”
14. Memberi cap atau salah memberi cap
Bentuk ekstrem dari overgeneralisasi, yaitu memberi cap negatif pada diri
sendiri. Contohnya, “Saya memang seorang sial” atau, “Saya memang seorang
yang bodoh.”
9
E. Pelaksanaan Terapi Kogrnitif
Terapi kognitif terdiri atas sembilan sesi, yang masing-masing sesi dilaksanakan
secara terpisah. Setiap sesi berlangsung selama 30–40 menit dan membutuhkan
konsentrasi tinggi Yusuf, Fitriyasari dan Nihayati (2015).
1. Sesi I: Ungkap pikiran otomatis.
Jelaskan tujuan terapi kognitif.
a. Identifikasi masalah dengan apa, di mana, kapan, siapa (what, where, when,
who).
b. Diskusikan sumber masalah.
c. Diskusikan pikiran dan perasaan.
d. Catat pikiran otomatis dan klasifikasikan dalam distorsi kognitif.
2. Sesi II: Alasan.
a. Review kembali sesi I.
b. Diskusikan pikiran otomatis.
c. Tanyakan penyebabnya.
d. Beri respons atau tanggapan.
e. Tanyakan tindakan pasien.
f. Anjurkan menulis perasaan.
g. Beri rencana tindak lanjut, yaitu hasil tulisan pasien dibahas pada pertemuan
berikutnya.
3. Sesi III: Tanggapan.
a. Diskusikan hasil tulisan pasien.
b. Dorong pasien untuk memberi pendapat.
c. Berikan umpan balik.
d. Dorong pasien untuk ungkapkan keinginan.
e. Beri persepsi/pandangan perawat terhadap keinginan tersebut.
f. Beri penguatan (reinforcement) positif.
g. Jelaskan metode tiga kolom.
h. Diskusikan cara menggunakan metode tiga kolom.
10
i. Rencana tindak lanjut, yaitu anjurkan menuliskan pikiran otomatis dan cara
penyelesaiannya.
4. Sesi IV: Menuliskan
a. Tanyakan persaan pasien saat menuliskan rencana tindak lanjut pada sesi III.
b. Dorong pasien untuk mengomentari tulisan.
c. Beri respons/tanggapan dan umpan balik.
d. Anjurkan untuk menuliskan buku harian.
e. Rencana tindak lanjut, yaitu hasil tulisan pasien akan dibahas.
5. Sesi V: Penyelesaian masalah.
a. Diskusikan kembali prinsip teknik tiga kolom.
b. Tanyakan stresor/masalah baru dan cara penyelesaiannya.
c. Tanyakan kemampuan menanggapi pikiran otomatis negatif.
d. Berikan penguatan (reinforcement) positif.
e. Anjurkan menulis pikiran otomatis dan tanggapan rasional saat menghadapi
masalah.
6. Sesi VI: Manfaat tanggapan.
a. Diskusikan perasaan setelah menggunakan tanggapan rasional.
b. Berikan umpan balik.
c. Diskusikan manfaat tanggapan rasional.
d. Tanyakan apakah dapat menyelesaikan masalah.
e. Tanyakan hambatan yang dialami.
f. Berikan persepsi/tanggapan perawat.
g. Anjurkan mengatasi sesuai kemampuan.
h. Berikan penguatan (reinforcement) positif.
7. Sesi VII: Ungkap hasil.
a. Diskusikan perasaan setelah menggunakan terapi kognitif.
b. Beri reinforcement positif dan pendapat perawat.
c. Diskusikan manfaat yang dirasakan.
d. Tanyakan apakah dapat menyelesaikan masalah.
e. Beri persepsi terhadap hambatan yang dihadapi.
11
f. Diskusikan hambatan yang dialami dan cara mengatasinya.
g. Anjurkan untuk mengatasi sesuai kemampuan.
h. Berikan penguatan (reinforcement) positif.
8. Sesi VIII: Catatan harian.
a. Tanyakan apakah selalu mengisi buku harian.
b. Berikan penguatan (reinforcement) positif.
c. Diskusikan manfaat buku harian.
d. Anjurkan membuka buku harian bila menghadapi masalah yang sama.
e. Tanyakan kesulitan dan diskusikan cara penggunaan yang efektif.
9. Sesi IX: Sistem dukungan
a. Jelaskan keluarga tentang terapi kognitif.
b. Libatkan keluarga dalam pelaksanaannya.
c. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang telah dimiliki pasien.
d. Anjurkan keluarga untuk siap mendengarkan dan menagggapi masalah
pasien.
BAB IV
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
A. SOP terapi kognitif: Menghentikan Pikiran
1. Menyampaikan salam.
2. Mengingatkan nama perawat.
3. Menegaskan kembali kontrak untuk terapi.
12
4. Menyampaikan tujuan terapi.
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi.
6. Menyiapkan kursi atau mengambil tempat.
7. Memberikan kesempatan pasien untuk BAK atau BAB (k/p).
8. Menanyakan keluhan utama atau memberi kesempatan pasien bertanya atau
menyampaikan sesuatu (k/p tindak lanjuti sementara).
9. Menjelaskan prosedur terapi sekaligus memperagakan.
10. Membimbing pasien melakukan perasat :
a. Letakkan tubuh pasien dan semua anggota badan termasuk kepala (bersandar)
pada kursi senyaman mungkin.
b. Tutup mata.
c. Ambil nafas melalui hidung (secukupnya) tahan sebentar, keluarkan melalui
mulut perlahan – lahan (Lakukan sampai merasa tenang).
d. Minta pasien untuk menghadirkan pikiran – pikiran yang tidak menyenangkan
atau menyakitkan yang telah disepakati untuk dihentikan. (Diawali dari hal positif
– negatif atau menyenangkan – menyekitkan).
e. Pastikan pasien mampu menghadirkan (Perhatikan responnya).
f. Minta pasien untuk mengatakan pada dirinya “STOP!” (Dengan penuh
kesungguhan).
g. Buka mata.
11. Tanyakan atau evaluasi respon pasien.
12. Kesimpulan dan support (telah melakukan dengan baik dan mampu menerapkannya).
13. Memberikan follow up, apa yang harus dilakukan selanjutnya. (Terapkan dalam
kehidupan sehari – hari apabila datang lagi pikiran seperti itu).
14. Salam teraupetik.
B. SOP Terapi Kognitif: Mengganti Pikiran
1. Menyampaikan salam
2. Mengingatkan nama perawat
3. Menegaskan kembali kontrsk untuk terapi termasuk alihan pikiran
4. Menyampaikan tujuan terapi
5. Menanyakan kesiapan klien untuk terapi
6. Menyiapkan kursi/mengambil tempat
7. Memberikan kesempatan klien untuk bak/bab (k/p)
13
8. Memberikan kesempatan klien untuk bertanya/menyampaikan sesuatu (k/p tindak
lanjuti sementara)
9. Bersama klien merumuskan dan menetapkan alihsn pikiran
10. Menjelaskan prosedur sekaligus memperagakan
11. Membimbing klien melakukan perasat :
a. Letkkan tubuh dan semua anggota badn termasuk kepala (bersandar) pad kursi
senyaman mungkin
b. Tutup mata
c. Ambil nafas melalui hidung (secukupnya) tahan sebentar, keluarkan melalui
mulut perlahan – lahan. (lakukan ampai merasa tenang)
d. Mengambil pikiran negatif yang mengganggu
e. Pastikan klien mampu mengambil pikiran negatif, kemudian induksi klien agar ia
mampu memikirkan akibat negatif dan pikiran negatif
f. Alihkan pikiran yang menyenangkan/positif/yang telah disepakati
g. Bantuinduksi klien agar mudah mengalihkan pikiran. Perintahkan klien untuk
mengatakan dengan mantap “alihkan pikiran” yang telah disepakati.
h. Buka mata
12. Tanyakan/evaluasi respon klien (perasaan klien sekarang)
13. Kesimpulan dan support
14. Memberikan follow up apa yang harus dilakukan selanjutnya (gunakan cara yang
sama ketika datang pikiran distorsi)
15. Salam terapeutik
C. SOP Terapi Kognitif: Penangkapan Pikiran
1. Menyampaikan sala
2. Perkenalan
3. Menyampaikan maksud pertemuan
4. Menyampaikan tujuan terapi
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi
14
6. Memberi kesempatan pasien bertanya/menyampaikan sesuatu (k/p tindaklanjuti
sementara)
7. Menanyakan keluhan utama
8. Tanggapi secukupnya
9. Jelaskan, bagaimana kaitan antara pikiran-perasaan dengan prilaku (Prilaku yang
ingin dihilangkan)
10. Mintai respon klien akan penjelasan tersebut, khususnya kaitan antara perasaan-
pikiran dengan dirinya, over generalisasi, missal dst.
11. Bantu klien mengenali distorsi kognitifnya. Catat pada lembar/form yang tersedia.
(Distorsi kognitif mungkin lebih dari satu)
12. Sepakati distorsi kognitif yang akan diintervensi.
13. Mintai respon klien
14. Kesimpulan dan support
15. Memberikan follow up, untuk mengikuti tahap II
16. Kontrak untuk tahap II.
17. Salam
D. SOP Terapi Kognitif: Uji Realitas
1. Menyampaikan salam
2. Perkenalan
3. Menyampaikan maksud pertemuaan
4. Menyampaikan tujuan terapi
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi
6. Memberi kesempatan pasien bertanya /menyampaikan sesuatu (K/P Tindak lanjuti
sementara )
7. Validasi distorsi kognitif yang telah disepakati untuk diintervensi
8. Tanyakan bukti bukti yang mendukung distorsi kognitif dan atau keuntungan apa
yang didapatnya (gunakan UJi Form Realitas)
9. Hadirkan atau tanyakan bukti bukti yang melemahkan dan atau kerugian yang
didapatkannya.
10. Mintai respon klien(seberapa besar keyakinan yang masih dimilikinya )
11. Kesimpulan dan support
12. Memberikan follow up. Untuk mengikuti tahap III.
13. Kontrak untuk tahap III
14. Salam
E. SOP Terapi Kognitif: Guide Imagery
1. Menyampaikan salam.
15
2. Mengingatkan mana perawat.
3. Menegaskan maksud pertemuan.
4. Menyampaikan tujuan terapi.
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi.
6. Memberi kesempatan pasien bertanya/menyampaikan sesuatu (k/p tindak lanjuti
sementara)
7. Menanyakan keluhan utama
8. Tanggapi secukupnya
9. Atur posisi klien senyaman mungkin tersedia. (Duduk atau tiduran)
10. Perawat berada disamping klien.
11. Melakukan bimbingan:
a. Klien menutup mata.
b. Letakkan tubuh senyaman-nyamannya.
c. Periksa otot-otot klien dalam keadaan relaks.
d. Ambil nafas melalui hidung, tahan sebentar, dan keluarkan melalui mulut
perlahan-lahan (sesuai bimbingan)
e. Minta klien untuk membayangkan hal-hal yang menyenangkan atau keindahan,
dan pastikan klien mampu melakukannya.
f. Kalau perlu tanyakan kepada klien, bila belum bias dan gagal.
g. Secara terbimbing perawat meminta klien untuk melakukan imaginasi sesuai
dengan ilustrasi yang dicontohkan perawat.
h. Biarkan klien menikmati imaginasinya.
i. setelah terlihat adanya respon bahwa klien mampu, dan waktu dalam rentang 15-
30 menit, minta klien untuk membuka mata.
12. Mintai respon klien.
13. Kesimpulan dan support.
14. Memberikan follow up.
15. Kontrak (bila diperlukan)
16. Salam.
F. SOP Terapi Kognitif: Meditasi
1. Menyampaikan salam
2. Mengingatkan nama perawat
3. Menegaskan maksud pertemuan
16
4. Menyampaikan tujuan terapi
5. Menanyakan kesiapan pasien untuk terapi
6. Memberi kesempatan pasien bertanya/menyampaikan sesuatu (k/p tindaklanjuti
sementara)
7. Menanyakan keluhan utama
8. Tanggapi secukupnya
9. Atur posisi klien senyaman mungkin tersedia.(Duduk atau tiduran)
10. Perawat berada disamping klien
11. Melakukan bimbingan:
a. Klien menutup mata
b. Letakkan tubuh senyaman-nyamannya
c. Periksa otot-otot klien dalam keadaan relaks
d. Ambil nafas melalui hidung, tahan sebentar, dan keluarkan melalui mulut
perlahan-lahan (sesuai bimbingan)
e. Minta klien untuk membayangkan hal-hal yang menyenangkan atau keindahan,
dan pastikan klien mampu melakukannya.
f. Kalau perlu tanyakan kepada klien, bila belum bias dan gagal,
Secara terbimbing perawat meminta klien untuk melakukan imaginasi sesuai
dengan ilustrasi yang dicontohkan perawat.
g. Biarkan klien menikmati imaginasinya
h. Setelah terlihat adanya respon bahwa klien mampu, dan waktu dalam rentang 15-
30 menit, minta klien untuk membuka mata
12. Mintai respon klien
13. Kesimpulan dan support
14. Memberikan follow up
15. Kontrak (bila diperlukan)
16. Salam
17
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan terstruktur, aktif,
direktif dan berjangkan waktu singkat, untuk menghadapi berbagai hambatan dalam
kepribadian, misalnya ansietas atau depresi. Terapi kognitif digunakan untuk
mengidentifikasi, memperbaiki gejala perilaku yang malasuai, dan fungsi kognisi yang
terhambat, yang mendasari aspek kognitif yang ada. Terapis dengan pendekatan kognitif
mengajarkan pasien atau klien agar berpikir lebih realistik gejala yang berkelainan yang
ada.
Beberapa teknik dalam terapi kognitif yaitu teknik restrukturisasi kongnisi
(restructuring cognitive), teknik penemuan fakta-fakta (questioning the evidence), teknik
penemuan alternatif (examing alternatives), dekatastropik (decatastrophizing), reframing,
thought stopping, learning new behavior with modeling, membentuk pola (shaping),
token economy, role play, social skill training, anversion theraphy, contingency
contracting.
B. Saran
Sebagai mahasiswa dan calon tenaga medis kita mampu menerapkan mekanisme
koping dengan menggunakan terapi kognitif kepada klien sehingga jumlah kasus
penderita gangguan jiwa di Indonesia dapat menurun.
18
DAFTAR PUSTAKA
Afiyah, Nor. 2016. Penerapan Terapi Kognitif Pada Klien Isolasi Sosial Di Rsjd [Link]
Gondohutomo Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang.
Setyoadi, dkk. (2011). Terapi Modalitas Keperawatan pada klien Psikogeriatrik. Jakarta:
Salemba Medika.
Yosep & Iyus. (2009). Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditamam.
Yusuf, Fitriyasari dan Nihayati. (2015). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika
iv