BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
SMK Pertanian Wadil Falah merupakan Sekolah Menengah Kejuruan Swasta yang berada dibawah
naungan Yayasan Wadil Falah. Dengan kemampuan yang dimiliki, SMK Pertanian Wadil Falah berupaya
memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik sesuai dengan Standar Layanan Minimum yang
ditetapkan oleh pemerintah.
Untuk menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan profesional dan kompeten dalam mengisi bidang-
bidang pekerjaan di dunia usaha dan dunia industri (DU/DI), atau membuka usaha mandiri, SMK harus
mampu memberikan pelayanan pembelajaran yang proporsional dan profesional. Prinsip pembelajaran
yang dikembangkan oleh guru harus mengacu pada tuntutan Tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum
dalam UU Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam Bab II pasal 3 UU Sisdiknas dikemukakan bahwa pendidikan nasional bertujuan
untuk “berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis, serta bertanggung jawab”.
Tujuan tersebut di atas harus menjadi pedoman bagi setiap guru dan sekolah dalam membuat rencana
pengembangan berdasarkan prioritas menuju kepada peningkatan mutu pembelajaran, yang pada
gilirannya akan meningkatkan mutu lulusan. Dengan demikian, penyiapan lulusan yang profesional dan
kompeten dalam mengisi bidang-bidang pekerjaan di DU/DI akan dapat tercapai.
B. Tujuan
Tujuan penyusunan Program Kerja Sekolah ini adalah:
1. untuk memudahkan dalam mewujudkan Visi dan Misi serta Tujuan Sekolah;
2. untuk memberikan pedoman dalam melaksanakan kegiatan kinerja sekolah pada tahun bersangkutan;
3. memudahkan organisasi sekolah dalam melaksanakan kegiatan sesuai dengan job dan tanggung jawabnya;
4. memudahkan dalam melaksanakan evaluasi keberhasilan selama jangka waktu satu tahun.
C. Sasaran
Sasaran Program Kerja Sekolah ini adalah ketercapaian kinerja sekolah satu tahun pelajaran
2019/2020 sesuai 8 Standar Nasional Pendidikan, berdasarkan skala prioritas.
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan
1. Menyusun Dokumen Kurikulum
a. Menyusun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam bentuk dokumen Standar Isi sekolah.
b. Menyusun SKL dalam bentuk dokumen sekolah.
c. Menyusun Silabus dengan bimbingan Pengawas SMK.
2. Menandatangankan Dokumen kurikulum kepada Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V dan Kepala
Dinas Provinsi Jawa Barat.
3. Menyusun Kurikulum Implementatif dengan institusi pasangan masing-masing Program Keahlian.
B. Standar Proses
1. Menyiapkan perangkat pembelajaran dengan bimbingan Pengawas SMK
a. Menyusun kalender pendidikan.
b. Menyusun Program Semesteran dan Program Tahunan.
c. Menyusun RPP.
d. Menyiapkan bahan, sumber, modul.
e. Menyusun job sheet bagi pelaksanaan pembelajaran praktik.
f. Menyusun jadwal pembelajaran.
g. Menyiapkan/merancang program remedial dan pengayaan.
h. Menyusun program pengawasan pembelajaran, jadwal pengawasan, perencanaan pengawasan dan
pelaksanaan pengawasan serta rencana tindak lanjut hasil pengawasan
2. Melaksanakan proses pembelajaran yang berpedoman pada Tujuan Pendidikan Nasional, baik menyangkut
bidang Normatif, Adaptif, maupun Produktif.
3. Melaksanakan supervisi pembelajaran dan menindaklanjuti hasil supervisi.
C. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
1. Kualifikasi Akademi Tenaga Pendidik
a. Guru mengajar sesuai dengan bidang dan jurusannya, minimal 85 %.
b. Kualifikasi guru S-1 atau D-IV minimal 85 %.
c. Guru memiliki Akta IV minimal 85 %
d. Mendorong pendidik secara bertahap sesuai kuota untuk memiliki sertifikasi preofesi guru.
e. Memiliki guru BP/BK yang berkelayakan untuk membantu layanan peserta didik, baik akademik maupun
nonakademik.
f. Memiliki kecukupan jumlah guru sesuai rasio Standar Pelayanan Minimal (SPM).
2. Tenaga Kependidikan
a. Memiliki Kasubag TU yang kompeten, dibantu oleh tenaga administrasi yang sesuai dengan kebutuhan.
b. Memiliki tenaga laboran.
c. Memiliki tanaga perpustakaan.
d. Memiliki tanaga kebersihan.
3. Kualifikasi tenaga kependidikan minimal Diploma
D. Standar Sarana dan Pasarana
1. Satuan Pendidikan
a. Memiliki minimal 3rombongan belajar.
b. Jumlah peserta didik minimal 32 orang sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.
2. Lahan
a. Memiliki lahan sekolah seluas 2.0000m2, untuk pembangunan seluas 2.000m2, untuk lapangan upacara,
lapangan olahraga, taman seluas 900 m2.
b. Status hak atas tanah Hak Milik.
3. Bangunan Gedung
a. Pembangunan geungmeliputi: Ruang Kelas, Laboratorium, Perpustakaan, Ruang Guru, Taman, dan lapang
olahraga.
4. Ruang Kelas
a. Pembangunanruang kelas dan laboratorium sebanyak 9 Ruang.
b. Kapasitas ruang kelas : 32 peserta didik (sesuai SSN).
c. Melengkapi fasilitas ruang kelas.
5. Ruang Perpustakaan
a. Memiliki ruang perpustakaan seluas 96 m2.
b. Melengkapi perabot ruang perpustakaan.
c. Melengkapi administrasi perpustakaan sampai penggunaan sistem catalog.
d. Menambah koleksi buku perpustakaan.
e. Pemeliharaan ruang perpustakaan setiap akhir tahun pelajaran.
6. Laboratorium
a. Lab komputer menggunakan AC.
b. Jumlah komputer minimal 25 unit, printer 5 Unit.
c. Pemeliharaan komputer setiap hari Sabtu.
d. Merencanakan pembangunan lab bahasa seluas 64 m2.
7. Melengkapi perabot ruang pimpinan, para wakil, dan para ketua kompetensi keahlian.
8. Melengkapi perabot dan sarana lain ruang guru.
9. Melangkapi perabot dan sarana lain ruang tata usaha
10. Menyiapkan ruang OSIS, Pramuka.
11. Membuat lapangan olahraga Bola Voli, futsal.
E. Standar Pengelolaan
1. Perencanaan Program
a. Visi sekolah :
Menjadi sekolah unggulan berwawasan global – sosioekologis, kreatif – inovatif, cerdas berkarya untuk
daerah melalui Dunia Usaha/Dunia Industri berlandaskan Iman dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Misi sekolah:
1. Menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
2. Menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik dan kejuruan berstandar
nasional/internasional;
3. Menghasilkan lulusan yang high-recommended untuk Du/Di karena keunggulan komparatif
dan kompetitif;
4. Melakukan adaptasi dan pengembangan IPTEK dunia untuk menunjang pembangunan
daerah;
5. Meningkatkan kualitas manajemen berbasis sekolah yang transparan dan akuntabel;
6. Meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan melalui Pendidikan dan
Pelatihan;
7. Meningkatkan kemitraan dengan Dunia Usaha/Dunia Industri untuk menunjang kualitas Unit
Produksi;
8. Menjaga kelestarian lingkungan melalui program Green-school/Green-ecology berbasis
budaya dan kearifan local
c. Tujuan Sekolah :
1. Menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, disiplin
kerja dan ibadah, mengisi lowongan pekerjaan yang tersedia di seluruh wilayah kecamatan
juga yayasan wadil falah mempunyai alumni di berbagi wilayah , sebagai tenaga kerja tingkat
menengah sesuai dengan kompetensi dari program keahlian yang dipilihnya;
2. Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karir sesuai bakat/minat, ulet dan gigih dalam
pembelajaran (belajar dan bekerja), mampu beradaptasi di lingkungan kerja, dan
mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang dipilihnya;
3. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni agar mampu
mengembangkan diri di kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang
pendidikan yang lebih tinggi;
4. Membudayakan komunikasi berdasar rasa empati baik intra-sekolah maupun dengan
masyarakat;
5. Menanamkan rasa penghargaan dan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap sumber dan
sarana pembelajaran, baik yang terdapat di lingkungan sekolah maupun di alam sekitar;
6. Mewujudkan anak generasi alumni pondok pesantren menjadi lebih berkualitas
2. Pelaksanaan Pengembangan Pedoman Sekolah
a. Menyusun kode etik dan tata tertib guru.
b. Menyusun tata tertib siswa dilengkapi dengan sanksinya.
c. Menyusun tata tertib praktik di laboratorium.
d. Menyusun pedoman prakerin, ujian semester, ujian akhir kenaikan kelas, uji kompetensi, ujian sekolah, dan
ujian nasional.
3. Pelaksanaan Pengembangan Struktur Organisasi Sekolah
a. Menyusun struktur organisasi dengan uraian tugas dan tanggung jawabnya.
b. Kepala Sekolah dibantu oleh 4 orang wakil yang membidangi: Kurikulum, Kesiswaan, Sarana Prasarana,
dan Hubin/ Humas
c. Organisasi Kompetensi Keahlian terdiri atas : Ketua Kompetensi Keahlian, Kepala Bengkel, Laboran dan
tim MR.
d. Menyusun struktur organisasi tata usaha.
e. Menyusun organisasi Unit Produksi.
4. Pelaksanaan Kegiatan Sekolah
a. KBM dilaksanakan mulai pukul 07.00 – 14.00 WIB
b. Rapat rutin dengan guru minimal 3 bulan sekali.
c. Pertemuan rutin dengan Institusi Pasangan
d. Pertemuan rutin dengan orang tua siswa/Komite Sekolah.
5. Pelaksanaan Rencana Kerja Bidang Kesiswaan
a. Menyusun dan menetapkan petunjuk pelaksanaan PPDB, MPLS, LDKS.
b. Melaksanakan bimbingan konseling kepada seluruh peserta didik.
c. Melaksanakan kegiatan pengembangan diri melalui BK dan kegiatan ekstra kurikuler :
1) PRAMUKA
2) Ekskul Futsal
3) Ekskul Bola Voli
4) Ekskul Badminton
5) Ekskul Basket
d. Melaksanakan penelusuran lulusan melalui kegiatan :
Kunjungan Industri
Pengajian rutin bulanan
e. Melaksanakan promosi sekolah untuk meningkatkan animo masyarakat, melalui kegiatan :
Open House SMK PERTANIAN WADIL FALAH
Pemasangan Pamflet dan penyebaran brosur
Pemasangan Spanduk
6. Pelaksanaan rencana Kerja Bidang Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran
a. Penyusunan DOKUMEN KURIKULUM memperhatikan SKL, SI, dan Bintek BSNP.
b. DOKUMEN KURIKULUM dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah, potensi atau karakeristik
daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.
c. Memiliki kalender pendidikan yang sesuai dengan yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Kota
Bandung.
d. Pelaksanaan pembelajaran didasarkan pada SKL, SI, dan peraturan pelaksa-naannya, serta standar proses
dan standar penilaian.
e. Melaksanakan sistem RKS dan KHS.
f. Menilai hasil belajar untuk seluruh MP yang didokumentasikan dan dilaporkan dalam bentuk KHS, buku
Laporan Pendidikan.
g. Menetapkan petunjuk pelaksanaan operasional yang mengatur mekanisme penyampaian ketidakpuasan
peserta didik dan penyelesaiannya mengenai penilaian hasil belajar.
h. Menyusun dan menetapkan peraturan akademik, yang meliputi:
1) persyaratan minimal kehadiran siswa untuk mengikuti pelajaran dan tugas dari guru;
2) ketentuan mengenai ulangan, remedial, ujian (uji kompetensi, ujian sekolah, dan UN), kenaikan kelas, dan
kelulusan;
3) ketentuan mengenai hak siswa untuk menggunakan fasilitas belajar, laboratorium, perpustakaan,
penggunaan buku pelajaran, buku referensi, dan buku perpustakaan;
4) ketentuan mengenai layanan konsultasi kepada guru MP, wali kelas, dan konselor.
7. Pelaksanaan Rencana Kerja Bidang Sarana Prasarana
a. Menyusun program pengelolaan sarana prasarana yang mengacu pada Standar Sarana dan Prasarana.
b. Mengadakan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan dan mendaya-gunakannya.
c. Pengelolaan perpustakaan dilakukan dengan kondisi:
1) menyediakan petunjuk pelaksanaan operasional peminjaman buku dan bahan pustaka lainnya;
2) merencanakan fasilitas peminjaman buku dan bahan pustaka lainnya sesuai dengan kebutuhan peserta
didik dan pendidik;
3) membuka pelayanan minimal enam jam sehari pada hari kerja;
d. Laboratorium dikembangkan sesuai dengan perkembangan IPTEK serta dilengkapi dengan manual yang
jelas, sehingga tidak terjadi kekeliruan yang dapat menimbulkan kerusakan.
e. Fasilitas fisik untuk kegiatan ekstrakurikuler disesuaikan dengan perkembangan kegiatan ekstrakurikuler
peserta didik.
8. Pelaksanaan Rencana Kerja Bidang Hubungan Industri
a. Menyusun program kegiatan Hubungan Kerjasama Industri untuk memudahkan kegiatan Praktik Kerja
Industri (Prakerin) dan/atau kegiatan Uji Kompetensi, serta pemasaran lulusan.
b. Membuka Bursa Kerja Khusus (BKK) bekerja sama dengan Disnaker.
c. Melaksanakan rencana penempatan siswa Prakerin pada DU/DI yang relevan dengan Program Keahlian
siswa.
d. Memasarkan tamatan bekerja sama dengan orang tua siswa, Komite Sekolah, dan DU/DI.
e. Mendata masukan, saran, dan umpan balik dari perusahaan/industri pemakai tenaga kerja tamatan.
f. Mengkomunikasikan masukan, saran, dan umpan balik kepada Kepala Sekolah, Program Keahlian, BP/BK,
wali kelas, dan seluruh pendidik di sekolah.
9. Pengawasan dan Evaluasi
a. Pengawasan dilaksanakan secara objektif, bertanggung jawab, dan berkelan-jutan
b. Komite Sekolah melakukan pemantauan pengelolaan sekolah secara teratur dan berkelanjutan untuk
menilai efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan.
c. Supervisi pengelolaan akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh Kepala Sekolah dan
Pengawas Sekolah.
d. Laporan hasil evaluasi dan penilaian dari guru sekurang-kurangnya setiap akhir semester kepada kepala
sekolah.
e. Laporan pelaksanaan teknis dari tenaga kepandidikan kepada kepala sekolah, sekurang-kurangnya setiap
akhir semester.
f. Kepala Sekolah melaporkan hasil evaluasi kepada Komite Sekolah, kepada Pengawas Sekolah, dan pihak-
pihak lain yang berkepentingan, sekurang-kurangnya setiap akhir semester.
g. Melaksanakan Evaluasi Diri terhadap kinerja sekolah.
h. Melakukan evaluasi, revisi, dan pengembangan DOKUMEN KURIKULUM.
i. Melakukan evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan.
j. Melakukan upaya untuk meningkatkan Status Akreditasi.
k. Hasil akreditasi sekolah mencapai nilai A (Amat Baik)
10. Sistem Informasi Manajemen
a. Mengelola sistem informasi manajemen yang memadai untuk mendukung kegiatan administrasi pendidikan
yang efektif, efisien, dan akuntabel.
b. Memiliki fasilitas informasi yang efisien, efektif, dan mudah diakses.
c. Menugaskan seorang guru atau tenaga kependidikan untuk melayani permin-taan informasi maupun
pemberian informasi dan didokumentasikan dengan baik.
F. Standar Pembiayaan
1. Jenis dan Sumber Pembiayaan
a. Mengalokasikan biaya pendidikan untuk investasi (penyediaan sarana prasarana, pengembangan SDM, dan
modal kerja tetap), biaya operasional (gaji pendidik dan tenaga kependidikan), bahan atau peralatan
pendidikan habis pakai, biaya operasi pendidikan tak langsung, dan biaya personal.
b. Mengoptimalkan sumber-sumber pembiayaan pendidikan untuk meme-nuhi kebutuhan pembiayaan
pendidikan secara mandiri.
2. Program Pembiayaan
a. Memiliki program dan upaya menggali dan mengelola, serta memanfaatkan dana dari berbagai sumber
melalui laporan pertanggungjawaban secara akuntabel dan transfaran.
b. Memiliki pedoman pengelolaan biaya investasi dan operasional yang mengacu pada Standar Pembiayaan.
c. Pembiayaan pendidikan dirancang dalam RAPBS.
G. Standar Penilaian Pendidikan
1. Perangkat Penilaian
a. Memiliki rancangan jadwal pelaksanaan penilaian termasuk remedial oleh setiap guru mata pelajaran.
b. Menyiapkan perangkat penilaian (berupa format penilaian tahapan kompetensi dan penilaian kognitif,
afektif, dan psikomotor).
c. Memiliki bank soal ulangan dan bank soal ujian.
d. Menerbitkan laporan hasil belajar siswa (berupa: KHS, Raport, SKHUN, Ijazah), dan Sertifikat Uji
Kompetensi (oleh DU/DI atau Asosiasi Profesi).
2. Pelaksanaan Penilaian
a. Teknik penilaian dilakukan sesuai dengan KD yang harus dikuasai oleh siswa, dapat berupa tes tertulis,
observasi, tes praktik, penugasan secara individu atau kelompok, dan projeck work.
b. Melaksanakan kerja sama dengan lembaga pendidikan lain, dengan DU/DI atau dengan Asosiasi Profesi
untuk melaksanakan penilaian Uji Kompetensi.
c. Seluruh pendidik telah melakukan penilaian hasil belajar untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan
hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan
kelas.
d. Penilaian untuk kelompok mata pelajaran: Pendidikan Agama dan Akhlak Mulia, PKn dan Kepribadian,
Olahraga dan Kesehatan, serta Seni Budaya dan Estetika, dilakukan oleh guru mata pelajaran dan dewan
guru, dengan menetapkan KKM masing-masing 7,5 (Baik).
3. Hasil Penilaian
a. Rerata nilai UN untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris 8,00, Kompetensi
Keahlian Teori minimal 8,00, Kompetensi Keahlian Praktek 9,00
Action Plan Program Kerja SMK Pertanian Wadil Falah
Tahun 2019/2020
Uraian Waktu Target Penanggung
No Pelaksana
Kegiatan Pelaksanaan Ketercapaian Jawab
1 Validasi Agustus 2019 Mempunyai Kurikulum Kepala
Kurikulum Kurikulum yang Ka. Kom Sekolah
sudah tervalidasi
DU/DI
2 Pembuatan Juli 2019 Semua Guru Semua Wk.
RPP membuat RPP Guru Kurikulum
standar SMK
Pertanian Wadil
Falah
3 Menjalin Bulan Mei · Penyusunan Wk. Hubin Kepala
Kerjasama 2019 Kurikulum Wk. Sekolah
dengan DU/DI · Memiliki Kurikulum
Program Prakerin [Link]
yang terpadu dan Guru
sinergis dengan Produktif
DU/DI
· Pelaksanaan
pembelajaran di
DU/DI melalui
kegiatan Prakerin
· Penyerapan
Tenaga Kerja
4 Menjalin Kerja Mei 2019 · Studi banding Wk. Hubin Kepala
sama dengan · Sharing Informas Ka. Kom Sekolah
sekolah lain i Semua
Guru
5 Kelengkapan Juli 2019 Memiliki Semua wk. Kepala
Administrasi Administrasi Kepala Sekolah
Sekolah Sekolah yang Sekolah dan
lengkap TU
6 Rekruitment Juni 2019 Memiliki Semua Kepala
Pendidik dan Pendidik dan Wakil Sekolah
Tenaga Tenaga Kepala
Pendidikan Pendidikan yang Sekolah
SMK Pertanian sesuai kualifikasi
Wadil Falah
7 Pelatihan Juni 2019 Memiliki Semua Semua Wakil
Pendidik dan Pendidik dan Guru dan Kepala
Tenaga Tenaga TU Sekolah
Uraian Waktu Target Penanggung
No Pelaksana
Kegiatan Pelaksanaan Ketercapaian Jawab
Pendidikan Pendidikan yang
SMK Pertanian Kompeten dan
Wadil Falah Profesional
PPDB Maret-Juli Jumlah siswa Wk. Kepala
2019 mencapai 240 Kesiswaan Sekolah
8 Ekstrakurikuler · Memiliki Pembina Wk.
Kegiatan Ekskul Kesiswaan
Ekstrakulikuler
· Mengikuti
Kegiatan LKS
9 Penambahan Mei 2019 · Memiliki 20 Wk. Sarpras Kepala
Ruang Kelas ruang kelas / 20 Sekolah
Rombel
10 Rehab Ruang Mei 2019 · Memiliki Ruang Wk. Sarpras Kepala
Kelas Kelas sesuai Sekolah
standar
11 Pemeliharaan Berkala Terciptanya Wk. Sarpras Kepala
Lingkungan lingkungan Sekolah
sekolah yang
Indah, asri dan
nyaman
12 Penyedian Juni 2019 Memiliki Wk. Sarpras Kepala
Peralatan peralatan untuk [Link] Sekolah
penunjang kegiatan praktek
KBM dan teori sesuai
standar
13 Proses Tahun · Tercapainya Semua Kepala
Pembelajaran Pelajaran KKM semua Komponen Sekolah
yang PAKEM 2019/2020 Mata Pelajaran SMK
· Kelulusan Siswa Pertanian
100% Wadil Falah
14 Kegiatan Unit Juli 2019 Memiliki Unit Ka. Kom Kepala
Produksi Produksi pada Sekolah
masing-masing
Kompetensi
Keahlian
RKJM DAN RKT
RKJM
Benjamin Franklin pernah mengungkapkan quote: “If you fail to plan, you are planning to fail”.
Wajar sekali kiranya dalam pengelolaan pendidikan yang menjadi kegiatan yang pertama adalah
perencanaan. Perencanaan yang dikenal baik pada dunia pendidikan yaitu Rencana Kegiatan
Sekolah (RKS) yang terdiri dari RKJM, RKT dan RKAS. Idealnya RKS ini menjadi pedoman
dalam menyelenggarakan pendidikan selama tenggat waktu yang dicanangkan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan secara khusus Standar Nasional
Pendidikan untuk SMK untuk mempercepat proses revitalisasi di seluruh aspek
penyelenggaraan pendidikan kejuruan, yaitu dengan diterbitkanya Permendikbud No 34 Tahun
2018. Pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba membedah Lampiran VII Standar
Pengelolaan bagian Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM).
Standar Pengelolaan SMK, selanjutnya disebut Standar Pengelolaan adalah kriteria minimal
mengenai perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat SMK
agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar Pengelolaan SMK
memuat sepuluh komponen yaitu (1) Visi, Misi, dan Tujuan, (2) Rencana Kerja Jangka
Menengah, (3) Rencana Kerja Tahunan, (4) Kepemimpinan, (5) Budaya, (6) Pelaksanaan, (7)
Pengembangan Kurikulum dan Penjaminan Mutu Internal, (8) Pengawasan, (9) Akuntabilitas,
dan (10) Sistem Informasi Manajemen.
RKJM dibuat oleh Kepala SMK untuk jangka waktu 3-5 tahun meliputi 7 standar. Kepala Sekolah
merupakan leader dari Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Tingkat Sekolah (TPMPS). Seorang
leader yang profesional menentukan arah perubahan dan faham detail dari alur yang akan
dicapai meskipun demikian hal-hal yang bersifat pekerjaan teknis dan berulang dilakukan oleh
tim namun semuanya dalam kendali mutu. Kebiasaan lingkup RKJM adalah 4 tahun, menurut
aturan ini dibolehkan sampai 5 tahun. RKJM sekurangnya mencakup strategi terhadap tujuh
standar yaitu SKL, Isi, Proses, Penilaian, Saranadan prasarana, Tendik dan Pembiayaan.
Terdapat perbedaan pada SKL dan Standar lainya, pada SKL menggunakan istilah target
pemenuhan sedangkan standar lainya menggunakan istilah strategi pengelolaan. Menurut KBBI
istilah target menggambarkan sasaran (batas ketentuan dan sebagainya) yang telah ditetapkan
untuk dicapai. Seperti halnya dalam menembak baik dengan senapan, target atau sasaran
tembak itu tidaklah hanya berbentuk titik saja tetapi dalam bentuk lingkaran, artinya bahwa target
itu memberikan ruang untuk tidak tercapai 100% berhasil karena banyak variabel yang berperan.
Secara teknis bagaimana menentukan target pencapaian SKL di SMK tentu para guru sudah
mafhum semuanya yaitu dengan menentukan Ketuntasan Belajar Minimal untuk tiap Kompetensi
Dasar yang diajarkan. KBM tidaklah harus 100 semua namun boleh kurang sesuai dengan hasil
analisis terhadap variabel yang akan berperan dalam pencapaian seperti kondisi sarpras baik
utama atau pendukung, lingkungan sekolah, tingkat kompleksitas materi dan input peserta didik.
Pada pendidikan kejuruan yang merupakan pendidikan replika dari industri seharusnya target
KBM adalah 100% yaitu bisa (1) atau tidak (0), Dunia pendidikan Kejuruan saat ini masih
mengandalkan tingkat toleransi yang tinggi, hal ini disebabkan kesenjangan standar pendidikan
di sekolah yang tertinggal dari kemajuan yang ada di dunia usaha dan industri, tingkat
adaptibilitas peserta didik terhadap situasi dan kondisi kerja di DUDI dan sebagainya.
Menurut Wikipedia (Wikipedia, 2020) strategi merupakan pendekatan secara keseluruhan yang
berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam
kurun waktu. Jadi strategi pengelolaan merupakan bagaimana gagasan dari TPMPS yang
diketuai oleh Kepala Sekolah dicurahkan dalam bentuk perencanaan pada tiap standar
pendidikan.
1. Strategi pengelolaan kurikulum, kurikulum di SMK yang memiliki banyak kompetensi keahlian
memiliki kompleksitas yang lebih tinggi, karena tiap kompetensi keahlian memiliki karakteristik
yang khas dan berbeda satu dengan lainya. Salah satu contoh strategi pengelolaan kurikulum
adalah diserahkanya penyusunan KTSP kepada tim kompetensi keahlian masing masing.
Sangat tidak logis jika seorang wakil kepala sekolah menyusun KTSP untuk seluruh kompetensi
keahlian meskipun dibantu tim dari tiap kompetensi keahlian. Strategi pengelolaan kurikulum
secara generik diantaranya meliputi:
Penyelarasan kurikulum antara SK/KD dari BNSP dengan SKKNI dari BNSP dan DUDI,
Penjadwalan; Jadwal blok untuk persiapan, produksi, pemasaran, jadwal PKL/Magang,
Uji kompetensi dll
Kerjasama dengan DUDI untuk PKL/Magang guru dan peserta didik, Joint Production
Program dan lainya
Penyusunan Modul/Jobsheet
2. Strategi pengelolaan Proses Pembelajaran
Kepala Sekolah bersama TPMPS menyusun perencanaan berdasarkan nilai raport mutu tentang
pembelajaran yang akan dilakukan dengan memperhatikan visi sekolah untuk 3-5 tahun
kedepan. Proses pembelajaran membutuhkan berbagai perangkat baik sarpras maupun
berbagai aplikasi dan skill dari pendidik dan tenaga kependidikan yang akan berperan dalam
melaksanakanya.
Proses pembelajaran Abad 21 sudah menjadi mainstream pendidik yaitu pembelajaran yang
menekankan pada 4C (Critical thinking, Creativity, Colaboration, Comunication). Pembelajaran
RI 4,0 yaitu pembelajaran yang menekankan pada ciri Robotic Automation, 3D printer, Internet of
thing dan Data of thing. Pembelarajan Society 5.0 yaitu pembelajaran yang menekankan pada
peran manusia menjadi utama pada setiap penggunaan teknologi.
Pada masa Covid-19 seperti saat ini, pendidik mau tidak mau harus membelajarkan siswa
dengan berbagai macam aplikasi online seperti google drive, drop box, box untuk menyimpan
materi pelajaran, google classroom, edmodo, schoology, class dojo untuk proses pembelajaran
penugasan, google form, jotform, quizizz untuk penilaian, zoom, google hangout, webex untuk
video conference, sedangkan untuk animasi menggunakan Canva dan animaker. Guru guru
menjadi akrab pada kondisi seperti ini, namun sampai saat ini belum jelas bagaimana efektifitas
dan efisiensi dari pembelajaran daring dengan berbagai aplikasi tersebut tentunya perlu kajian
lebih lanjut. Pada penyusunan rencana proses pembelajaran dalam RKJM bagus sekali jika
terinventarisir keseluruhan guru menggunakan proses pembelajaran seperti apa saja. Dengan
demikian pendidik yang membaca RKJM akan memperoleh manfaat besar dengan melihat
kolega lain dalam membelajarkan siswanya apatah lagi ada penjadwalan dalam bentuk FGD
proses berbagi secara berkala.
3. Strategi pengelolaan Penilaian
Penilaian pendidikan seperti ulangan harian, tengah semester, akhir semester, uji unit
kompetensi, uji kompetensi keahlian sebaiknya dicari yang paling efektif dan efisien. Pada
beberapa mata pelajaran yang bisa dilaksanakan dengan daring bisa menggunakan berbagai
aplikasi seperti google form, jotform, quizizz dan class dojo selain guru tidak harus memeriksa
dan mengawasi peserta didik dalam melaksanakan test juga hasilnya mudah untuk proses.
Namun demikian bahwa mengapa perlu perencanaan penilaian tiap mata pelajaran karena
harus ada kesesuaian antara tujuan pembelajaran dengan soal soal yang diberikan. Kesalahan
umum adalah banyak guru yang melaksanakan penilaian dengan mengikuti atau menyalin soal
soal dari buku teks. Dengan demikian perlu ada strategi secara masive di suatu sekolah untuk
memastikan bahwa soal yang diujikan mengukur apa yang seharusnya diukur. Beberapa strategi
diantaranya adalah dengan dibuatnya tim review yang terdiri dari pertama, wakasek kurikulum
beserta staf untuk mengukur apakah soal-soal yang dibuat berdasarkan kisi-kisi atau tidak serta
sudah HOTS atau belum, kedua, ketua kompetensi keahlian dan guru produktif untuk
memastikan apakah soal soal yang diberikan kontekstual dengan kompetensi keahlian siswa
atau tidak dan dari kebahasaan bisa diambil dari guru bahasa untuk memastikan redaksionalnya
mudah untuk dibaca. Selain itu perlu tindak lanjut dari hasil penilaian dengan dilakukan analisis
butir soal sehingga untuk kompetensi yang sama diberikan soal yang sudah diuji tingkat
validitas, reliabilitas tingkat sukar dan daya beda. Perlu strategi pengelolaan untuk mencipatakan
iklim itu semua di sekolah.
4. Strategi pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK)
Secara teknis perumusan strategi pengolaan Tendik Berdasarkan raport mutu dicari mana nilai
yang terrendah dari PTK, selanjutnya dicari akar permasalahan berdasarkan indikator mutu dan
dicari rekomendasi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Langkah
selanjutnya adalah membuat program yang sesuai dengan rekomendasi dan sumber biaya serta
kuantitas biaya yang diperlukan berapa. Beberapa permasalahan dalam merumuskan strategi
pengelolaan PTK diantaranya adalah Missmatch, Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang tidak berjalan, Guru kunjung atau
instruktur dari DUDI, Program Induksi Guru Pemula (PIGP) dan lainya. Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan banyak yang dlakukan dengan hanya adanya IHT/Workshop tanpa
memperhatikan berapa lama guru sudah mengajar dan kompetensi apa yang belum dan ingin
dikuasainya. Proses demikian jelas tidak akan efisien dan efektif karena gagal dalam
memetakan kompetensi guru. Langkah yang rasional adalah diawal tahun setiap guru membuat
evaluasi diri apa kekurangan dan kelebihannya dari 4 kopetensi yang seharusnya dimiliki yaitu
paedagogiek, kepribadian, sosial dan profesional. Kemudian guru tersebut menuliskan dalam
matriks kapan dan bagaimana akan memenuhi kekuranganya. Selanjutnya Ketua Tim PKB
membuat peta setiap guru dalam memenuhi kekuranganya baik secara mandiri, berkelompok
apakah di tingkat MGMP, sekolah atau di tingkat yang lebih tinggi misalnya provinsi atau
organisasi profesi. Jika memperhatikan grafik piramida PKB maka guru yang
pangkat/golonganya sudah IV/b misalnya tentu lebih fokus pengelolaan sekolah bukan pada
pengelolaan kelas lagi, jadi jika diawal tahun seluruh guru mengikuti IHT dengan materi yang
sama baik guru pemula maupun guru dewasa tentu hal ini merupakan miskonsepsi yang harus
segera direduksi.
5. Strategi pengelolaan Sarpras
Pendidikan kejuruan paling banyak memerlukan biaya pada sarana dan prasarana, baik untuk
peralatan praktik maupun bahan praktik. Lebih lengkapnya tiap ketua kompetensi keahlian
membuat pemetaan dengan rasio benar terhadap jumlah siswa dai peralatan ideal seperti
tercantum pada lampiran VI Permendikbud No. 34 tahun 2018. PMP mengambil data dari siswa,
guru komite dan pengawas sekolah, yang paling tahu tentang peralatan adalah guru yang
mengajar mata pelajaran kejuruan. Jadi kurang bijak jika berdasarkan kepada pendapat pada
siswa, komite, kepala sekolah dan pengawas karena secara detai akan kurang memahami
kondisi real kebutuhan peralatan. Oleh karena itu dibutuhkan bagaimana strategi untuk secara
jelas pemetaan kebutuhan akan sarpras pada tiap kompetensi keahlian secara khusus dan
sekolah pada umumnya. Langkah selanjutnya adalah bagaimana langkah efektifitas dan
efisiensi penggunaan peralatan yang ada dan langkah ketiga adalah bagaimana pengadaan
yang memungkinkan.
6. Strategi pengelolaan Pembiayaan
Pembiayaan pendidikan untuk sekolah swasta terdiri dari BOS sebesar 1.6 juta
rupiah/siswa/tahun, BPMU 550 Ribu rupiah/siswa/tahun dan Dana Komite Sekolah serta dari
Sumber lain yang berbeda tiap sekolah dan tiap kompetensi keahlian. Sedangkan untuk di
Provinsi Jawa Barat SMK Negeri tidak diperkenankan memungut sumbangan dari peserta didik
dalam bentuk SPP dan sejenisnya.
Menurut Wibowo (2019, 14)1 Pembiayaan operasional tiap siswa per tahun pada masing
masing program Bidang keahlian diantaranya yang paling banyak yaitu Teknologi dan Rekayasa
Rp. 8.472.000, Teknologi Komunikasi dan Informasi Rp. 8. 328.000 Bisnis dan Manajemen Rp.
4.980.000. Belum termasuk biaya investasi dan personal, di Jawa Barat biaya personal untuk
SMK Swasta dari BPMU sedangkan untuk SMK Negeri dipenuhi dari Honorarium guru
pengganti. Sebagai contoh untuk Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa. Jika dipenuhi dari
BOS dan BPMU serta pengganti SPP menjadi Rp. 8.472.000 - Rp. 1.600.000 – Rp. 550.000 – X
(tergantung jumlah siswa)
Jadi sekolah tetap masih kekurangan untuk masuk ke dalam standar, hal ini masih bisa dipenuhi
dengan subangan sukarela dari berbagai pihak. RKJM yang sudah tersusun dibagi menjadi 3-5
tahun dan untuk tiap tahunya jadilah Dokumen RKT dan jika sudah disertakan pada setiap
kegiatan pembiayaan maka dinamakan RKAS. Meskipun dalam implementasinya sekolah sering
merasa kesulitan, namun sesungguhnya ketika tekadnya kuat bisa mengimplementasikan apa
yang sudah direncanakan.
Kesimpulan.
Penyusunan RKJM bisa didasarkan kepada raport mutu tiap sekolah dengan melihat standar,
indikator dan sub indikator mana yang masih rendah kemudian dicari akar masalah dan
dibuatkan rekomendasi. Selanjutnya dari Rekomendasi yang sudah dibuat di tentukan program
yang sesuai serta dihitung biaya untuk setiap kegaiatan dari program yang ditentukan.
RKT
Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) pada prinsipnya diturunkan dari RKJM yaitu membaginya
mejadi berapa tahun tenggat RKJM. Namun demikian Permendikbud No 34 Tahun 2018 secara
eksplisit memberikan standar minimal komponen apa saja yang harus ada pada RKT. Baik
RKJM maupun RKT sebelum menjadi pedoman bersama harus mendapat persetujuan dalam
rapat Dewan Guru, dengan demikian bahwa yang menandatangani RKT bukan hanya kepala
sekolah tapi juga Dewan Guru. Isi RKT sekurangnya terdiri dari:
1. Stuktur Kurikulum dan Program Pembelajaran;
Spektrum keahlian menggunakan Perdirjen Dikdasmen No. 06/D.D5/KK/2018 tanggal 7 Juni
2018. Sedangkan struktur kurikulum menggunakan Perdirjen Dikdasmen No. 07/D.D5/KK/2018
tanggal 7 Juni 2018 untuk tiap kompetensi keahlian. Hubungan yang sudah dijalin dengan
industri perlu di perkuat dalam kurikulum jadi sesungguhnya kurikulum SMK haruslah fleksibel,
kedua Perdirjen diatas berlaku untuk SMK yang belum memiliki joint program yang kuat dengan
Dunia Usaha dan Dunia Industri. Kurikulum SMK bisa diterapkan jika sudah diselaraskan
dengan SKKNI dan Kepentingan DUDI. Struktur kurikulum yang diterbitkan oleh BSNP adalah
struktur minimal yang harus dicapai oleh peserta didik.
Program Pembelajaran di jelaskan pada program meliputi program pembelajaran tatap muka,
praktik, proyek, magang atau PKL secara jelas dicantumkan jumlah jam pembelajaran masing
masing.
2. Kalender Pendidikan;
Kalender pendidikan secara umum mengikuti kalender pendidikan yang diterbitkan oleh Disdik
Prov Jawa Barat namun secara spesifik perlu ditambahkan kegiatan kegiatan yang mencakup
seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah. Kalender pendidikan meliputi hari efektif,
hari libur, hari pertama masuk, MPLS, masa penilaian (PTS, PAS, PAT, UUK, UKK) dan
sebagainya.
3. Program Pembinaan Peserta Didik;
Program pembinaan peserta didik berisi kompilasi berbagai program baik intrakurikuler seperti
layanan Bimbingan dan konseling, penanaman pembiasaan seperti 5R (Rapih resik rawat rajin
ringkas), 5S (senyum, sapa, salam, sopan, santun) atau 3P (Penampilan, pelayanan dan
prestasi). Cokurikuler seperti pemetaan penugasan tiap guru agar terdistribusi normal tidak
terlalu bertumpuk atau pada minggu tertentu kosong. Program ekstrakurikuler merupakan bagian
pengembangan diri siswa seperti pramuka, olahraga, sains, club IT, bahasa dan sebagainya.
Seluruh program ditata dalam bentuk matriks sesuai klasisfikasinya.
4. Pembiasaan Karakter, Budaya, Literasi, dan Kedisiplinan;
Program karakter yang meliputi program pembiasaan karakter di kelas, sekolah, lingkungan
bagus dinyatakan dalam bentuk matriks kegiatan dengan tujuan, input, outcome, output yang
jelas. Program penanaman budaya bisa berbentuk seni, olahraga, budaya kerja, budaya bersih
dan lain lain termasuk budaya literasi dibuat dalam bentuk matriks sehingga orang dengan
mudah memahami baik substansi dengan melihat tujuan dan teknis pelaksanaan kegiatan
maupun penjadwalan. Program kedisiplinan perlu dibuat narasi konsep kedisiplinan apa yang
akan diterapkan dilengkapi dengan sedikit rasional dan kajian mengapa menerapkan konsep
kedisiplinan demikian. Bentuk kegiatan pembinaan kedisiplinan juga dibuat dalam bentuk matriks
dilengkapi dengan capaian yang diharapkan.
5. Supervisi dalam Kegiatan Intra-Kurikuler, Ko-Kurikuler, dan Ekstra-Kurikuler;
Kompetensi kepala sekolah selain manajerial, kewirausahaan adalah supervisi. Supervisi atau
bantuan profesional akademik yang diberikan kepada guru atau tenaga kependidikan
dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi dan mutu. Supervisi dilaksanakan secara
berkesinambungan, terjadwal dengan berbagai metode. Supervisi dilakukan oleh kepala sekolah
jika dibantu oleh guru senior sebaiknya seluruh kendali tetap berada di kepala sekolah karena
guru tidak diwajibkan memiliki kompetensi supervisi. Guru senior yang akan melaksanakan
supervisi sebaiknya dibekali terlebih dahulu dengan model, metode, teknik dan strategi supervisi
serta ilmu andragogi, tanpa pembekalan seperti itu akan alih alih meningkatkan mutu malah
menjadi kontraproduktif. Jadwal supervisi dilengkapi dengan motode apakah individual atau
kelompok, class visit, guru kunjung, klinis, coaching GROW ME dan sebagainya.
6. Program Pemenuhan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK;
Program pemenuhan standar PTK diturunkan sebagaimana disusun pada RKJM dengan
berdasarkan kurun waktu 1 tahun.
7. Pemanfaatan Sarana dan Prasarana;
Program pemanfaaatan sarana meliputi inventarisasi, pengadaan, pemanfaatan, perawatan
atau pemeliharaan serta penghapusan. Bagus dibuat dalam bentuk matriks yang mudah dibaca
oleh setiap orang dengan mudah.
8. Pengelolaan Keuangan
Uang bukan segalanya namun segalanya memerlukan uang, pengelolaan uang sangat penting,
saat ini guru dan tenaga kependidikan bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa namun mereka
menurut perundangan adalah tenaga profesional. Guru tidak semangat membelajarkan peserta
didik karena hak haknya tidak terpenuhi akan bersifat menular kepada guru lain dan siswa
menjadi malas untuk belajar. Kemalasan yang akan membentuk persepsi dari masyarakat
sekitar pada ujungnya pada penerimaan siswa baru pendaftar sedikit. Karena pendaftar sedikit
untuk sekolah swasta maka penerimaan hanya mengandalkan dari BOS dan BPMU sehingga
kesejahteraan guru sulit untuk berkembang. Suatu sekolah yang menerapkan dengan ajeg
prinsip prinsip pengelolaan keuangan tidak akan merugi dan kepercayaan dari berbagai pihak
akan terbangun dengan sendirinya. Mungkin ini yang dimaksud dengan barokah atau
bertambahnya kebaikan dari setiap kebaikan yang di tanamkan menjadi sistem di sekolah.