Panduan GLP untuk Laboratorium Efektif
Panduan GLP untuk Laboratorium Efektif
PEMBAHASAN
Good Laboratory Practice (GLP) atau praktek laboratorium yang baik/benar pertama kali
dikemukakan dalam New Zealand Testing Laboratory Registraction Act of 1972. Undang-undang
tersebut bertujuan untuk menetapkan kebijakan nasional di bidang pengujian serta digunakan
Kemudian diadopsi oleh pemerintah Denmark dalam Danish National Testing Board No.144, 21 st
March 1973 Selanjutnya Amerika Serikat melalui Food and Drug Administration (FDA) pada
tahun 1976 juga menetapkan peraturan tentang GLP tersebut tertuang dalam Food and Drug
Practice 19th November 1976 kemudian diterbitkan sebagai Food and Drug Administration Non-
Clinical Laboratory Studies-Proposed Regulation for Good Laboratory Practice Regulation final
Rule 22th November 1978. FDA merupakan badan pemerintah yang menetapkan kesesuaian
Hal ini mendorong negara-negara lain dan organisasi internasional seperti Organization for
Economic Co-operation and Development (OECD) dan World Health Organization (WHO)
menuangkan GLP dalam suatu peraturan. Selanjutnya pada tahun yang sama 16 negara yang
tergabung dalam OECD. Enam (6) organisasi internasional bertemu di Stockholm menyimpulkan
Pada tahun 1981 atas usulan dari pertemuan tingkat tinggi kelompok kimia yang didukung oleh
komisi lingkungan dari OECD diputuskan bahwa data yang dihasilkan dari pengujian kimia oleh
negara anggota OECD harus diterima oleh negara lain jika pengujian tersebut sesuai dengan
prinsip GLP yang ditetapkan oleh organisasi tersebut. Dengan demikian tidak terjadi duplikasi
pengujian yang pada akhirnya menghemat biaya, waktu dan mengurangi limbah laboratorium
Good Laboratory Practice (GLP) adalah keterpaduan suatu proses organisasi, fasilitas, personel
dan kondisi lingkungan laboratorium yang benar sehingga menjamin pengujian di laboratorium
persyaratan kesehatan dan keselamatan serta perdagangan. Penerapan GLP dapat menghindari
kekeliruan atau kesalahan yang mungkin timbul sehingga dapat menghasilkan data yang tepat,
akurat dan tak terbantahkan yang pada akhirnya dapat dipertahankan secara ilmiah maupun
secara hukum.
Dari definisi tersebut GLP adalah suatu alat manajemen laboratorium yang memberlakukan
serta meningkatkan dan menjaga mutu data hasil uji. Sebagai alat manajemen GLP bukan
Sebagai alat manajemen, GLP bukan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan ilmiah namun
hanya merupakan pelengkap dalam praktek berlaboratorium untuk mencapai mutu data hasil
uji yang konsisten.
Penerapan GLP bertujuan untuk meyakinkan bahwa hasil uji yang dilakukan telah
mempertimbangkan :
Praktek mendokumentasikan hasil pengujian / data yang baik (Good Documentation Practice)
Praktek menjaga akomodasi dan lingkungan kerja yang baik (Good Housekeeping Practice)
Tujuan GLP :
1. GLP memastikan bahwa data yang dikirimkan adalah proyeksi dari hasil yang diperoleh
selama penelitian.
Laboratorium pengujian yang menerapkan GLP dapat menghindari kekeliruan atau kesalahan
yang mungkin timbul, sehingga menghasilkan data yang tepat, akurat dan tak terbantahkan,
yang pada akhirnya dapat dipertahankan secara ilmiah maupun secara hukum. Sebagai alat
manajemen, GLP bukan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan ilmiah namun hanya
merupakan pelengkap dalam praktek berlaboratorium untuk mencapai mutu data hasil uji yang
konsisten.
B. Aspek-Aspek GLP
Aspek–aspek yang terdapat pada pedoman 14 (empat belas) kategori pertanyaan yang
meliputi:
1. Organisasi Laboratorium
Untuk mendapatkan suatu laboratorium pengujian yang efisien dan efektif sesuai dengan GLP
diperlukan suatu organisasi dan manajemen dengan uraian yang jelas mengenai susunan,
fungsi, tugas dan tanggung jawab serta wewenang bagi para pelaksananya.
Struktur organisasi laboratorium harus menunjukan garis kewenangan, ruang lingkup tanggung
jawab, uraian kerja serta hubungan timbal balik semua personel yang mengelola, melaksanakan
atau memverifikasi pekerjaan yang dapat mempengaruhi mutu pengujian. Bentuk struktur
ruang lingkup, jenis atau komoditi, serta beban kegiatan pengujian. Hal ini menyebabkan
Manajer atau pimpinan laboratorium mengambil seluruh tanggung jawab dalam laboratorium
yang berfungsi sebagai pengambil keputusan tentang kebijakan ataupun sumber daya yang ada
di laboratorium. Labortorium harus menunjuk salah satu personelnya sebagai manajer mutu
yang diberi tanggung jawab dan wewenang untuk meyakinkan bahwa sistem manajemen mutu
diterapkan dan diikuti sepanjang waktu. Manajer mutu tersebut harus dapat berhubungan
mempunyai manajer teknis yang mempunyai tanggung jawab atas seluruh operasional teknis
serta menetapkan sumber daya yang dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa operasional
pengalaman yang tepat. Laboratorium harus memiliki ketentuan untuk menjamin agar seluruh
personelnya bebas dari pengaruh komersial baik secara internal maupun eksternal, pengaruh
keuangan serta tekanan lainnya yang dapat mempengaruhi mutu kerjanya. Laboratorium harus
didukung oleh personel yang mempunyai tanggung jawab terhadap penerapan sistem
manajemen mutu dan personel teknis dalam kegiatan operasional laboratorium. Personel
tersebut harus mempunyai wewenang dan uraian kerja yang jelas serta harus ditunjang dengan
relevan dengan tugas sekarang dan tugas masa depan yang diantisipasi oleh laboratorium.
Harus ada catatan atau data tentang kualifikasi, pengalaman dan latihan yang dipunyai oleh
setiap personel.
Pada dasarnya, program pelatihan berguna bagi personel yang memerlukan pengetahuan dan
keterampilan atau mereka yang masih membutuhkan peningkatan keahlian. Karena itu, langkah
pertama adalah melakukan analisis kebutuhan pelatihan bagi seluruh personel laboratorium.
on the job training untuk personel baru,merupakan pembekalan yang dilakukan dalam bentuk
pengarahan oleh personel senior yang berwenang terhadap personel baru sebelum mendapat
antisipasi terhadap lingkup pekerjaan laboratorium yang dirasakan perlu bagi mayoritas
personel.
External training, dilaksanakan di luar laboratorium atas undangan dari pihak luar dalam suatu
program pelatihan. Training tersebut biasanya diikuti oleh personel yang kompeten sehingga
dapat memberikan pengetahuan yang didapat kepada personel lain. Pelatihan jenis ini dikenal
Apapun jenis pelatihan yang telah dilakukan, personel laboratorium harus membuat laporan
dan bila memungkinkan melakukan presentasi serta dievaluasi oleh personel lain yang
berwenang.
Personel laboratorium harus berlatih cara kerja yang aman sesuai dengan peraturan
keselamatan laboratorium dan sesuai pula dengan peraturan nasional atau internasional dalam
bidang keselamatan dan kesehatan. Semua personel harus memenuhi semua peraturan
keselamatan untuk meminimalkan resiko bagi diri pekerja sendiri serta kawan kerja. Kesehatan
para personel harus selalu dimonitor sesuai peraturan atau keperluan. Personel yang diketahui
berpenyakit tidak diperkenankan berada ditempat kerja agar tidak memperburuk keadaan atau
menularkan penyakit.
1. ISO/IEC 17025:2000
Pada tahun 2000, sebagai hasil pengalaman yang luas dalam menerapkan ISO/IEC Guide 25:
1990 dan EN 45001:1989 kedua standar tersebut disempurnakan menjadi ISO/IEC 17025:2000
"General Requirement for Competence of Testing and Calibration. Dengan demikian dua
standar tersebut tidak berlaku lagi. ISO/IEC 17025 merupakan perpaduan antara persyaratan
manajemen dan persyaratan teknis yang harus dipenuhi oleh laboratorium pengujian/kalibrasi.
Laboratorium yang telah menerapkan ISO/IEC 17025 sudah sesuai dengan persyaratan standar
ISO seri 9000 termasuk di dalamnya model yang digunakan dalam ISO 9002, jika laboratorium
melakukan pengujian dengan metode standar dan ISO 9001 jika laboratorium terlibat dalam
badan akreditasi lain maka negara tersebut harus dapat saling menerima data hasil uji dari
Jika dibandingkan dengan ISO/IEC Guide 25:1990, maka ISO/IEC 17025 : 2000 lebih teratur
karena persyaratan manajemen 14 elemen dan persyaratan teknis 10 elemen terpisah sehingga
memudahkan penerapannya. Sedangkan ISO/IEC Guide 25:1990 yang terdiri dari 13 elemen
2. SNI 19-17025:2000
Indonesia telah mengadopsi ISO/IEC 17025 menjadi SNI 19-17025:2000. Satu-satunya lembaga
akreditasi di Indonesia yang mengeluarkan sertifikat SNI 19-17025:2000 adalah KAN – BSN
pengujian yang dikeluarkan oleh KAN – BSN sudah diakui oleh negara-negara kawasan Asia
Pasific karena sudah mempunyai perjanjian saling pengakuan (Mutual Recognition Agrements).
Kepala Badan Standarisasi Nasional selaku Ketua Komite Akreditasi Nasional sesuai dengan
Pengendalian mutu (quality control) adalah bagian dari jaminan mutu (quality assurance).
memastikan bahwa sistem mutu berjalan secara efektif. Pada dasarnya, penerapan
pemeriksaan sistem mutu secara menyeluruh. Adapun penerapan pengendalian mutu non-
numerical melalui pendekatan a hazard analysis. Pendekatan ini merupakan cara yang
seluruh tahapan pada setiap proses operasional, melalui perencanaan pengambilan contoh
sampai hasil pengujian, termasuk proses pembelian serta preparasi dan penyimpanan bahan
habis pakai. Setiap tahapan yang relevan tersebut harus diidentifikasi sumber-sumber
penyebab yang memungkinkan timbulnya bahaya. Namun, apabila bahaya terjadi dalam
mendeteksi atau mencegah serta mengurangi terulangnya kembali. Setelah didapatkan cara
pengendalian yang sangat baik utuk dapat diterapkan dengan didasarkan pada efektifitas dan
efisiensi biaya, maka pengendalian tersebut harus diterapkan dan didokumentasikan serta
dilakukan pelatihan bagi personel terkait. Untuk mengetahui efektivitas pengendalian bahaya
keutuhan data
pemeriksaan terhadap perhitungan dan pemindahan data memonitor unjuk kerja peralatan
Pengendalian mutu digunakan numerical untuk memonitor validitas dan reliabitas hasil
pengujian dan kalibrasi. Karena itu, laboratorium harus mempunyai prosedur pengendalian
mutu untuk memonittor validitas pengujian dan kalibrasi yang dilakukan. Selanjutnya, data
yang dihasilkan harus direkam sehingga kecenderunagn dapat dideteksi dan apabila
memungkinkan teknik statistik harus diterapkan untuk keji ulang pengujian. Monitoring
tersebut harus direncanakan dan dikaji ulang serta mencakup hal-hal sebagai berikut :
Penggunaan secra berkala bahan acuan bersertifikat dan/atau pengendalian mutu internal
Laboratorium harus mempunyai ukuran, konstruksi, lokasi dan sistem pengendalian yang
memadai agar dapat memenuhi tugas dan fungsi laboratorium. Desain yang tidak tepat dan
fasilitas laboratorium yang kurang terawat dapat mengurangi mutu data hasil uji dan atau
baik, selain untuk mencapai keabsahan mutu data juga dapat melindungi personel laboratorium
dari bahaya bahan kimia, kebakaran, serta bahaya lain yang timbul.
Untuk menghindari kontaminasi serta perubahan kondisi contoh, maka ruangan tempat
penerimaan contoh, penyimpanan, preparasi, lingkungan pengujian harus bebas dari debu,
asap serta faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap contoh, misalnya tempertatur dan
kelembaban.
Debu, temperatur, kelembaban, getaran dan kestabilan tenaga listrik akan mempengaruhi
peralatan laboratorium. Hendaknya peralatan yang dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan
Personel laboratorium
Penerangan dan ventilasi di lingkungan pengujian harus cukup serta terhindar dari kebisingan
agar memberikan rasa nyaman kepada personel yang melakukan kegiatan operasional
laboratorium. Ruang yang memadai juga harus tersedia untuk melaksanakan administrasi
Persyaratan kondisi dalam metode pengujian serta peralatan penunjang harus dipenuhi untuk
b) Fasilitas Laboratorium
Pencahayaan
jendela kaca dengan luas sekitar satu pertiga (1/3) dari luas lantai ruangan. Jika bahan kimia
atau peralatan instrumentasi sensitif terhadap sinar matahari langsung gedung laboratorium
harus didisain sedemikian rupa untuk mengihindari penembusan langsung sinar matahari yang
Pencahayaan dalam laboratorium yang diperlukan berkisar antara 540 – 1075 lux atau lumen
per m2 pada area kerja. Kualitas dan intensitas pencahayaan harus dikontrol agar masih dalam
kisaran yang dapat diterima. Untuk itu, seluruh rekaman pencahayaan dalam laboratorium
Ventilasi harus didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan kontaminasi udara yang
terjadi di ruang laboratorium yang disebabkan bahan kimia dapat keluar dan digantikan dengan
udara segar. Sistem ventilasi laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan ventilasi
alami dan buatan (AC). Jika digunakan AC di ruang laboratorium maka kebutuhan AC pada
ruangan tersebut diperhitungkan sebesar 1 PK untuk 20 m2. Penggunaan ventilasi alami tidak
dimungkinkan pada ruang instrumentasi, ruang srteril, atau ruang timbang karena akan
menyebabkan adanya debu atau pergerakan udara yang dapat mempengaruhi peralatan dan
tidaknya 3 bulan sekali jika pemantauan kontinu tidak tersedia, serta harus dievaluasi ulang
Sumber Energi
Laboratorium harus memastikan bahwa sumber energi cukup untuk kegiatan operasionalnya.
Selain itu, laboratorium harus mempunyai jenset untuk cadangan energi apabila sewaktu-waktu
kestabilan arus listrik adalah hal yang perlu diperhatikan, karena arus listrik akan sangat
mempengaruhi kinerja instrumentasi yang mempunyai sensitivitas tinggi. Karena itu perlu
dipertimbangkan penggunaan stabiliser, di samping isolated ground circuit dan instalasi listrik
Persediaan Air
Laboratorium harus memastikan persediaan air cukup untuk kegiatan operasional, baik air
destilasi, air bidestilasi, air demineralisasi, air untuk keperluan sehari-hari, misalnya air untuk
pencucian peralatan gelas, cuci tangan, atau keperluan di kamar kecil.
Alat Keselamatan
Fasilitas dan peralatan keselamatan harus tersedia untuk menjamin lingkungan kerja yang
informasi safety
alat pemadam kebakaran yang siap pakai dan mudah dijangkau, bak berisi pasir kering
Meja kerja sebaiknya disesuaikan dengan kenyamanan personel dalam melakukan kegiatan
operasional laboratorium. Biasanya tinggi meja kerja sekitar 80 cm, lebar 90 cm, sedangkan
panjang disesuaikan dengan ruangan yang ada. Untuk pemilihan meja laboratorium harus
kedap air
Metode pengujian dan/atau kalibrasi adalah prosedur teknis tertentu untuk melaksanakan
kegiatan pengujian, pengukuran atau kalibrasi. Karena itu, laboratorium harus menggunakan
metode dan prosedur yang tepat untuk semua jenis pengujian dan/atau kalibrasi yang sesuai
transportasi
penyimpanan
Untuk memastikan agar pengujian dan/atau kalibrasi dilakukan dengan benar serta
memberikan hasil yang memuaskan dan dapat dipercaya, laboratorium harus menggunakan
metode standar internasional maupun nasional. Selain itu, laboratorium dapat juga
menggunakan metode non-standar yang mempunyai spesifikasi yang telah diakui serta berisi
informasi yang cukup dan ringkas tentang bagaimana melaksanakan pengujian dan/atau
kalibrasi tersebut. Dalam hal ini, tambahan dokumentasi untuk tahapan metode atau detail
semua metode tersebut harus dipelihara kemutakhirannya dan tersedia untuk personel yang
tepat;
metode tersebut harus dilakukan secara berkala oleh personel yang bersangkutan untuk
memelihara kemahirannya.
2) Validasi Metode
pengambilan contoh, sebelum metode tersebut digunakan. Validasi metode adalah konfirmasi
dengan cara menguji suatu metode dan melengkapi bukti-bukti yang objektif apakah metode
tersebut memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai tujuan tertentu. Dengan kata lain,
validasi metode merupakan proses mendapatkan informasi penting untuk menilai kemampuan
menentukan batasan suatu metode, misalnya akurasi, presisi, batas deteksi, pengaruh matrik,
dan lain-lain.
mempengaruhi, seperti personel, peralatan atau instrumentasi, bahan kimia, kondisi akomodasi
dan lingkungan, contoh/barang, dan waktu yang semuanya merupakan faktor yang dapat
Tujuan Validasi metode adalah untuk mengetahui sejauh mana penyimpangan yang tidak dapat
dihindari dari suatu metode pada kondisi normal dimana seluruh elemen terkait telah
metode non-standar;
metode standar yang digunakan di luar ruang lingkup (rentang) yang ditentukan
penegasan serta modifikasi metode standar untuk konfirmasi bahwa metode tersebut sesuai
Hal-hal yang biasanya menjadi bahan pertimbangan dalam melaksanakan validasi metode
adalah :
kepentingan laboratorium;
kepentingan pelanggan;
diutamakan untuk pekerjaan yang bersifat rutin.
Sebagai bukti bahwa laboratorium telah melakukan validasi metode, laboratorium harus
mencatat hasil yang diperoleh, prosedur yang digunakan untuk validasi, dan suatu pernyataan
Pengambilan contoh didefinisikan sebagai prosedur pengambilan suatu bagian dari substansi,
bahan, atau produk untuk keperluan pengujian dari contoh yang mewakili kumpulannya. Hal-
Keselamatan kerja
Laboratorium harus mempunyai rencana pengambilan contoh dan prosedurnya, serta harus
tersedia pada lokasi di mana pengambilan contoh dilakukan. Perencanaan pengambilan contoh
didasarkan pada metode statistik yang tepat dan ditujukan kepada faktor-faktor yang
preparasi contoh untuk menghasilkan informasi yang diperlukan. Petugas pengmabil contoh
harus dilakukan oleh personel yang qualified, dibuktikan dengan pendidikan, pelatihan dan
dapat menunjukan keterampilannya dalam pengambilan contoh serta telah ditunjuk atau
Laboratorium harus mempunyai prosedur dan fasilitas yang memadai untuk menghindari
kerusakan atau kehilangan barang yang diuji selama penyimpanan, penanganan dan preparasi.
Apabila barang/contoh harus disimpan atau dikondisikan dalan kondisi tertentu, maka kondisi
Ketika barang yang diuji diterima oleh laboratorium, barang tersebut harus diidentifikasi
dengan jelas untuk memastikan bahwa tidak akan terjadi kesalahan pengujian. Oleh karena itu,
Laporan pengujian merupakan suatu laporan akhir terhadap kegiatan pengujian dan
didistribusikan kepada pelanggan serta disimpan sebagai arsip laboratorium. Setiap hasil
pengujian yang dilakukan oleh laboratorium harus dilaporkan secara akurat, jelas, tidak
menimbulkan keraguan dan objektif, serta sesuai dengan instruksi yang spesifik dalam metode
pengujian.
Data yang dihasilkan oleh laboratorium harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Objektif : data yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Laporan pengujian harus bebas dari kesalahan, perubahan atau koreksi. Perubahan terhadap
laporan hasil harus dilakukan dengan dokumen baru. Laboratorium pengujian harus segera
memberitahukan pelanggan secara tertulis apabila validitas hasil pengujian yang telah
Tanggal penerimaan contoh, tanggal pengujian contoh dan bila perlu tanggal pelaporan.
Uraian tentang sampling, prosedur preparasi contoh dan metode penelitian yang digunakan.
Juga pernyataan bahwa prosedur pengujian yang digunakan memnuhi standar nasional atau
internasional
Pernyataan ketelitian dan detail hasil yang diperoleh dan penggunaan CRM untuk
Mengungkapkan bila ada metode uji tidak baku yang digunakan atau adanya penyimpangan
Nama, jabatan, dan tanda tangan atau identifikasi dari orang yang mengesahkan laporan
pengujian.
Pernyataan bahwa laporan hasil uji tidak boleh digandakan (reproduksi) tanpa izin
laboratorium penguji.
13. Dokumentasi dan Rekaman
Laboratorium harus mempunyai dan mengembangkan sistem dokumentasi dan rekaman yang
sesuai dengan kebutuhannya dalam menerapkan praktek berlaboratorium yang baik (GLP).
Rekaman data hasil uji, pemrosesan, serta penerbitan laporan hasil uji merupakan unsur yang
sangat penting dalam keseluruhan proses pengujian. Rekaman dapat berupa hard copy atau
media elektronik. Seluruh rekaman data yang berhubungan dengan pengujian harus mudah
dibaca, didokumentasikan, dan dipelihara sedemikina rupa sehingga rekaman tersebut dapat
mudah diperoleh kembali dengan cepat sampai batas waktu yang ditentukan. Selain itu,
rekaman tersebut harus disimpan pada lokasi yang memadai untuk mencegah kerusakan,
kehilangan dan harus dijamin aman serta rahasia. Biasanya rekaman disimpan selama 5 tahun,
pendukung atau back-up yang disimpan secara elektronik atau komputerisasi serta mencegah
adanya akses untuk mengubah rekaman tersebut oleh personel yang tidak berwenang.
Pencatatan atau rekaman berfungsi untuk mendokumentasikan apa yang diperoleh dari
perhitungan atau pengamatan orisinil tanpa direkayasa. Pengamatan, pencatatan data dan
perhitungan harus direkam pada saat pengujian dilakukan serta dapat diidentifikasi untuk
Meningkatkan kesadaran personel penanggung jawab melalui pelatihan atau pengarahan dari
atasannya
Pemeriksaan oleh operator yang berbeda
Namun, apabila kesalahan tetap terjadi dalam suatu rekaman, setiap kesalahan harus dicoret.
Tidak diperkenankan untuk menghapus atau meghilangkan data aslinya, sehingga membuat
tidak dapat terbaca. Cara yang benar adalah : nilai yang salah dicoret, dan nilai yang benar
ditulis disampingnya. Karena itu, perlu dihindari penggunaan pensil yang mudah dihapus untuk
perhitungan tau pencatatan data di laboratorium. Semua perubahan dalam rekaman harus
ditandatangani atau diparaf oleh orang yang melakukan koreksi. Tindakan serupa harus
dilakukan pada rekaman yang disimpan secara elektronik untuk mencegah hilang atau
Untuk menjaga konsistensi antar sistem rekaman dan dokumentasi dengan pelaksanaannya,
memenuhi persyaratan nasional dan internasioal dalam melaksanakan GLP. Inspektor harus
seorang ahli yang sesuai, berpengalaman dan memahami petunjuk dalam GLP serta
independen dari laboratorium yang dinilai. Disarankan agar inspeksi dilakukan dalam setiap
1. Personel
Inspeksi dan assesmen harus memeriksa ketenagakerjaan, diantaranya :
2. Keselamatan
Inspeksi dan assesmen harus memeriksa hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan :
b. Penyimpanan dan penanganan bahan bahan serta pembuangan limbah kimia berbahaya.