BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Hasil penelitian ini diuraikan dalam beberapa siklus pembelajaran yang
dilakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Dalam penelitian ini dilakukan
dua siklus, satu siklus terdiri atas dua pertemuan.
1. Siklus I
Tindakan pada siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan yang terdiri dari
empat tahap, yaitu tahap perencanaan, Tahap pelaksanaan, tahap observasi dan
tahap refleksi sebagai berikut.
a. Perencanaan
1) Observasi tentang kondisi siswa pada saat pelajaran berlangsung
untuk mengetahui segala kelemahan dan kekurangan dari metode
sebelum dilakukan perbaikan.
2) Konsultasi dengan supervisor 2 tentang hasil observasi yang telah
dilakukan untuk dijadikan dasar rencana perbaikan. Berdasarkan pada
tindakan pendahuluan yang dilaksanakan peneliti sebelum perbaikan,
maka peneliti mengatasi persoalan dengan menggunakan model
pembelajaran think pair share.
3) Pembuatan perangkat perbaikan pembelajaran RPP, LKPD, dan soal
tes akhir siklus.
b. Pelaksanaan dan observasi
Pada awal siklus I pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua
pelaksanaan tidak berlangsung sesuai dengan rencana. Hal ini disebabkan :
1) Guru tidak melakukan kegiatan apersepsi untuk membangkitkan
semangat belajar siswa.
2) Sebagian siswa belum terbiasa dengan kegiatan berkelompok secara
berpasangan.
26
27
3) Penempatan kelompok secara berpasangan masih berdasarkan tempat
duduk siswa. Sehingga ada beberapa kelompok yang berpasangan
dengan tingkat kemampuan yang sama-sama rendah.
Untuk mengatasi permasalahan di atas peneliti melakukan upaya sebagai
berikut.
1) Guru memberikan apersepsi pada awal kegiatan pembelajaran.
2) Guru memberikan motivasi kepada siswa pada siklus berikutnya agar
siswa lebih aktif dalam pembelajaran.
3) Guru membagi pasangan kelompok berdasarkan tingkat kemampuan
siswa.
Pada akhir siklus I dari hasil pengamatan guru dan pengamatan
supervisor 2 dapat disimpulkan:
1) Siswa menjadi bersemangat untuk belajar.
2) Siswa akan mulai terbiasa dan lebih aktif dengan kondisi belajar
kelompok secara berpasangan.
3) Siswa mampu melaksanakan tugas kelompok secara berpasangan
dengan saling bertukar pikiran dengan teman satu kelompoknya.
Nilai Akhir siklus I dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.1 Hasil Evaluasi siklus I
No Tindakan Siklus I
1. Nilai Terendah 20
2. Nilai Tertinggi 80
3. Daya Serap (%) 50%
4. Ketuntasan Belajar (%) 60%
5. Nilai Rata-rata 50
6. Jumlah siswa yang tuntas 24
Kategori Belum tuntas
28
Dari data tabel 4.1 di atas terlihat bahwa rata-rata nilai siswa pada siklus
I adalah 50, daya serap 50%, dan ketuntasan belajar klasikal adalah 60%.
Hal ini berarti pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I dikategorikan
belum tuntas karena suatu kelas dapat dikatakan tuntas jika di kelas tersebut
telah terdapat 85% dari jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 60.
Pembelajaran pada siklus ini belum tuntas disebabkan karena proses
pembelajaran melalui model think pair share belum diikuti dengan baik
oleh semua siswa.
c. Refleksi siklus I
Untuk meningkatkan aspek yang masih kurang pada kegiatan pembelajaran
melalui model think pair share, maka dilakukan refleksi terhadap kegiatan
pada siklus I berdasarkan hasil analisis terhadap data-data yang diperoleh.
Adapun keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus I adalah
sebagai berikut.
1) Guru belum terbiasa menciptakan suasana pembelajaran yang mengarah
kepada model pembelajaran thinks pair share. Hal ini terlihat dari hasil
evaluasi ketuntasan belajar siswa yang belum mencapai 80%.
2) Sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar berkelompok
secara berpasangan.
3) Pembentukan kelompok yang tidak heterogen menyebabkan sebagian
kelompok tidak dapat mengerjakan tugas kelompoknya dengan baik.
Untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang ada pada siklus I
maka pada siklus II dapat dibuat perencanaan sebagai berikut.
1) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar siswa lebih aktif dalam
kegiatan pembelajaran. Motivasi yang diberikan dapat berupa tepuk
tangan dan reward.
2) Guru lebih aktif lagi dalam membimbing siswa agar terbiasa dengan
kegiatan pembelajaran melalui model think pair share.
29
3) Guru membagi kelompok secara berpasangan sesuai dengan tingkat
kemampuan siswa.
2. Siklus II
Seperti pada siklus I, siklus II juga dilaksanakan dua kali pertemuan yang
terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan, Tahap pelaksanaan, tahap
observasi dan tahap refleksi sebagai berikut.
a. Perencanaan
1) Memberikan apersepsi di awal pelajaran.
2) Lebih intensif lagi membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran.
3) Memberikan motivasi agar siswa lebih antusias dan bersemangat
dalam kegiatan pembelajaran.
4) Konsultasi dengan supervisor 2 tentang hasil observasi yang telah
dilakukan untuk dijadikan dasar rencana perbaikan. Berdasarkan pada
tindakan pendahuluan yang dilaksanakan peneliti sebelum perbaikan,
maka peneliti mengatasi persoalan dengan menggunakan model
pembelajaran think pair share.
b. Pelaksanaan dan observasi
1) Suasana pada kegiatan pembelajaran sudah berjalan baik. Siswa sudah
terbiasa dengan cara model pembelajaran think pair share.
2) Hampir seluruh siswa sudah terbiasa dengan kegiatan berkelompok
secara berpasangan.
3) Suasana kegiatan pembelajaran berjalan dengan efektif dan
menyenangkan.
4) Siswa terlihat aktif dalam kegiatan kelompok.
30
Nilai Akhir siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.2 Hasil Evaluasi siklus II
No Tindakan Siklus II
1. Nilai Terendah 40
2. Nilai Tertinggi 100
3. Daya Serap (%) 78,5%
4. Ketuntasan Belajar (%) 90%
5. Nilai Rata-rata 78,5
6. Jumlah siswa yang tuntas 36
Kategori Tuntas
Dari data tabel 4.2 di atas terlihat bahwa rata-rata nilai siswa pada siklus
II terjadi peningkatan nilai rata-rata siswa menjadi 78,5, daya serap 78,5%,
dan ketuntasan belajar klasikal 90%. Hal ini berarti pelaksanaan proses
pembelajaran pada siklus I dikategorikan tuntas karena suatu kelas dapat
dikatakan tuntas jika di kelas tersebut telah terdapat 85% dari jumlah siswa
yang mendapat nilai ≥ 60.
c. Refleksi siklus II
Adapun keberhasilan yang terjadi pada siklus II adalah sebagai berikut.
1) Meningkatnya rata-rata nilai dari 50 menjadi 78,5 pada siklus II
pertemuan kedua.
2) Kegiatan pembelajaran sudah sesuai dengan RPP Perbaikan.
B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
31
Pada bagian pembahasan akan dideskripsikan secara singkat apa saja yang
dilakukan oleh peneliti dari kegiatan pengamatan kondisi awal guru dan siswa
mengikuti refleksi awal. Refleksi awal merupakan langkah peneliti untuk
merencanakan tindakan siklus I, dan siklus II.
Keterkaitan model pembelajaran dengan tujuan, materi, dan kondisi belajar
siswa pada pengamatan awal harus menjadi perhatian guru. Dengan pemilihan
model pembelajaran yang tepat maka pembelajaran di dalam kelas dapat berjalan
dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Karena banyaknya nilai
matematika yang rendah pada kelas IV C, maka peneliti menerapkan suatu model
pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa ditinjau
dari pemahaman konsep pada pembelajaran melalui model think pair share pada
materi keliling dan luas bidang datar di kelas IVC SD Negeri 77 Kota Bengkulu
mengalami peningkatan pada tiap siklus.
Pada pelaksanaan kegiatan melalui model pembelajaran think pair share guru
membagi siswa ke dalam kelompok secara berpasangan. Siswa secara
berkelompok bekerja sama menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa yang
telah dibagikan oleh guru. kemudian setiap kelompok diminta untuk
mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. Selanjutnya siswa
dengan bantuan guru menyimpulkan hasil pembelajaran. Dengan langkah
pembelajaran think pair share yang dilaksanakan guru dan siswa secara tepat dan
maksimal, maka nilai siswa mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar
pada tiap siklus dapat dilihat dalam tabel 4.3.
Tabel 4.3 Perkembangan Hasil Belajar Siswa Tiap Siklus
Hasil Belajar
Siklus Keterangan
Daya Ketuntasan
Rata-Rata
Serap Belajar
Siklus I 50 50% 60% Belum tuntas
32
Siklus II 78,5 78,5% 90% Tuntas
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalan grafik 4.1.
90
80
70
60
50
40 Siklus I
Siklus II
30
20
10
0
Nilai Rata-Rata
Daya Serap
Ketuntasan Belajar
Gambar 4.1 Perkembangan Hasil Belajar Siswa Tiap Siklus
Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 50; daya serap 50% ; dan ketuntasan
belajar 60%. Pada siklus I dari 40 orang siswa hanya 24 orang siswa yang
mendapat nilai ≥ 60. Hal ini menunjukkan pembelajaran pada siklus I dikatakan
belum tuntas. Belum tercapainya ketuntasan belajar ini karena terdapat kelemahan
guru dalam proses belajar mengajar.
Pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 78,5; daya serap 78,5%;
dan ketuntasan belajar 90%. Secara klasikal proses pembelajaran yang telah
dilaksanakan pada siklus II sudah dikatakan tuntas karena lebih dari 85% siswa
telah mendapat nilai ≥ 60. Peningkatan hasil belajar ini dikarenakan guru telah
memperbaiki kelemahan dan kekuranggan pada kegiatan proses belajar mengajar
33
yang telah dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu pembelajaran matematika
melalui model think pair share berhasil dengan optimal.
Dengan demikian pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran think
pair share terbukti dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar
matematika. Hal ini sesuai dengan kelebihan yang telah dikemukakan Lie
(2006:6) bahwa dengan penerapan think pair share dapat meningkatkan
partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran dan melatih kecepatan
berfikir, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.