0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan35 halaman

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika

Dokumen tersebut membahas tentang permasalahan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran matematika berbasis pendekatan Realistic Mathematics Education pada materi perbandingan kelas VII SMP/MTs. Guru kesulitan menyusun RPP dan LKPD berdasarkan Kurikulum 2013 serta belum menguasai pendekatan pembelajaran sesuai kurikulum tersebut. Oleh karena itu, perlu dikembangkan perangkat pembelajaran berbasis RME untuk meningkatkan kualitas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan35 halaman

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika

Dokumen tersebut membahas tentang permasalahan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran matematika berbasis pendekatan Realistic Mathematics Education pada materi perbandingan kelas VII SMP/MTs. Guru kesulitan menyusun RPP dan LKPD berdasarkan Kurikulum 2013 serta belum menguasai pendekatan pembelajaran sesuai kurikulum tersebut. Oleh karena itu, perlu dikembangkan perangkat pembelajaran berbasis RME untuk meningkatkan kualitas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Judul Penelitian
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berbasis Pendekatan
Realistic Mathematic Education (RME) Pada Materi Perbandingan Kelas VII
SMP/MTs.

B. Latar Belakang Masalah


Pembelajaran adalah proses terpenting didalam dunia pendidikan. Salah satu
pembelajaran yang terdapat pada semua jenjang pendidikan adalah pembelajaran
matematika. Pembelajaran matematika adalah proses interaksi antara guru dan siswa
yang melibatkan pengembangan pola berfikir dan mengolah logika pada suatu
lingkungan belajar yang sengaja diciptakan oleh guru dengan berbagai metode agar
program belajar matematika tumbuh dan berkembang secara optimal dan siswa dapat
melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien (Rusyanti, 2014).
Menurut Masykur, M, (2008) “belajar matematika sama halnya belajar logika,
karena kedudukan matematika dalam pengetahuan adalah sebagai ilmu dasar atau
ilmu alat”. Sehingga untuk dapat mempelajari sains, teknologi dan ilmu lainnya
haruslah dapat menguasai ilmu dasar terlebih dahulu yaitu matematika. Matematika
merupakan mata pelajaran yang perlu diberikan kepada semua siswa dengan tujuan
untuk membekali kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif,
serta kemampuan bekerjasama (Depdiknas, 2007).
Tujuan pembelajaran matematika sesuai kurikulum 2013 yaitu siswa
diharapkan dapat: (1) memahami keterkaitan antar konsep dalam pemecahan
masalah; (2) menggunakan pola sebagai dugaan dalam penyelesaian masalah, dan
membuat generalisasi berdasarkan fenomena atau data yang ada; (3) menggunakan
penalaran pada sifat, melakukan manipulasi matematika baik dalam penyederhanaan,
maupun menganalisa komponen yang ada dalam pemecahan masalah dalam konteks
matematika maupun di luar matematika (kehidupan nyata, ilmu, dan teknologi); (4)
mengkomunikasikan gagasan, penalaran serta mampu menyusun bukti matematika
dengan menggunakan kalimat lengkap, simbol, tabel, diagram atau media lain untuk

1
memperjelas keadaan atau masalah; (5) memiliki sikap menghargai kegunaan
matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat
dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan
masalah; (6) memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dalam
matematika dan pembelajarannya; (7) melakukan kegiatan-kegiatan motorik yang
menggunakan pengetahuan matematika; (8) menggunakan alat peraga sederhana
maupun hasil teknologi untuk melakukan kegiatan-kegiatan matematika.
Jika proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, maka tujuan
pembelajaran tersebut dapat dipenuhi. Pada proses pembelajaran disekolah, guru

sangatlah berperan penting dalam menjalankan proses pembelajaran. Menurut


Marsigit (2011: 9) guru memiliki tiga fungsi utama, yaitu sebagai fasilitator, sumber
ajar dan memonitor kegiatan siswa. Kemudian, agar pembelajaran matematika dapat
berjalan dengan baik guru perlu mempersiapkan sarana prasana yang akan digunakan
saat proses belajar mengajar. Salah satunya adalah perangkat pembelajaran.
Menurut Zuhdan, dkk (2011: 16) perangkat pembelajaran adalah alat atau
perlengkapan untuk melaksanakan proses yang memungkinkan pendidik dan peserta
didik melakukan kegiatan pembelajaran. Perangkat pembelajaran menjadi pegangan
bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium atau di luar
kelas. Perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah Silabus, Rancangan
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).
Mengingat proses pembelajaran adalah sesuatu yang sistematis dan terpola, perangkat
pembelajaran memberi panduan apa yang harus dilakukan seorang guru didalam
kelas, memberi panduan dalam mengembangkan teknik mengajar, dan mempermudah
guru dalam menyampaikan materi yang diajarkan.
Berdasarkan paparan diatas, peneliti menemukan beberapa permasalahan
dalam pembelajaran matematika, yakni guru mengalami kesulitan dalam menyusun
perangkat pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh
peneliti dengan guru matematika di SMP Negeri 3 Pekanbaru, peneliti memperoleh

2
informasi bahwa guru mengalami kesulitan dalam menyusun perangkat pembelajaran
Kurikulum 2013, terutama RPP dan LKPD. Kemudian pada proses pembelajaran
guru belum menguasai pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum
2013, sehingga kembali lagi pada pembelajaran konvensional. Selain itu, guru juga
kesulitan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pendidikan (RPP) dan Lembar
Kerja Peserta Didik (LKPD) berdasarkan Kurikulum 2013.
Rizza Yustianingsih, dkk (2017) dalam penelitiannya mengatakan bahwa
berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Sawahlunto, SMP Negeri 2 Sawahlunto
dan SMP Negeri 3 Sawahlunto diperoleh kesimpulan bahwa guru telah berupaya
menerapkan model-model pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik
dalam proses pembelajaran. Namun tujuan pembelajaran masih belum tercapai karena
masih rendahnya kemampuan pemecahan masalah dan aktivitas peserta didik seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah perangkat
pembelajaran yang dibuat oleh guru belum membantu peserta didik mengkonstruksi
pengetahuan yang dimiliki dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan nyata
sehingga kemampuan pemecahan masalah dan aktivitasnya belum sesuai dengan apa
yang diharapkan dalam tujuan pembelajaran. Dan keberhasilan peserta didik dalam
pembelajaran matematika, bukan hanya ditentukan oleh ketertarikan peserta didik
terhadap cara guru bidang studi mengemas perangkat pembelajarannya, karena
perangkat pembelajaran berfungsi untuk memandu proses pembelajaran dalam
mencapai tujuan dari pembelajaran salah satunya meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah matematis
Marah Doly Nasution dan Wita Oktaviani (2020) dalam penelitiannya
mengatakan bahwa, berdasarkan observasi yang telah dilakukan di SMP PAB 9
Klambir V ditemukan beberapa hal yang menjadi permasalah peserta didik maupun
guru. Guru dalam memberikan materi pembelajaran masih kurang maksimal.
Keterbatasan sarana dan prasarana merupakan salah satu penyebabnya. Selain itu,
perangkat pembelajaran matematika yang disediakan guru juga tidak sama dengan
tujuan pembelajaran, karakteristik, dan kemampuan peserta didik. Contohnya seperti

3
guru dalam melaksanakan proses pembelajarannya tidak sesuai dengan langkah-
langkah yang ada di RPP. Umumnya para guru tidak membuat RPP sendiri
melainkan mengambilnya dari internet. Selain itu, LKPD yang didapat peserta didik
juga tidak sama dengan karakteristik peserta didik karena LKPD yang diterima tidak
dibuat sendiri oleh guru matematikanya melainkan dibeli dari penerbit. Sehingga
tujuan pembelajaran yang dibuat oleh guru tidak tersampaikan kenapa peserta didik.
Faktor ini menjadi salah satu penyebab hasil belajar peserta didik rendah. Faktor
lainnya adalah kemampuan pemecahan masalah peserta didik.
Mahmidatul Fitri, dkk (2020) dalam penelitiannya mengatakan bahwa
berdasarkan hasil observasi dengan enam orang guru matematika SMP di Pekanbaru
diperoleh bahwa hanya satu orang guru yang mengembangkan perangkat dan
menggunakannya dalam proses pembelajaran, sedangkan lima guru lainnya hanya
menggunakan perangkat pembelajaran yang sudah ada. Perangkat pembelajaran yang
dimaksud adalah perangkat pembelajaran yang berasal dari teman, penerbit,
download dari internet dan perangkat dari hasil Musyawarah Guru Mata Pelajaran
(MGMP) matematika. Guru hanya memberikan contoh-contoh soal yang ada dibuku
paket khususnya pada KD yang menuntut pemecahan masalah. Selain itu guru kurang
memfasilitasi peserta didik untuk dapat mengembangkan kemampuan pemecahan
masalah matematis mereka.
Perangkat pembelajaran yang dikembangkan harus sesuai dengan model
pembelajarannya. Pengembangan perangkat pembelajaran dilakukan agar
pembelajaran menjadi efektif, efisien, dan tidak melenceng dari
kompetensi yang akan dicapai. Guru hendaknya mengembangkan perangkat
pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan siswa.
Berdasarkan permasalahan diatas, untuk mengembangkan pengetahuan dan
pemahaman matematika siswa, ada lima standar kemampuan matematis yang harus
dimiliki oleh siswa, yaitu kemampuan pemecahan masalah (problem solving),
kemampuan komunikasi (communication), kemampuan koneksi (connection),
kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan representasi (representation).

4
Salah satu kemampuan matematika yang perlu dikembangkan adalah kemampuan
pemecahan masalah. Hal ini dikarenakan matematika tidak lepas dari tantangan dan
masalah matematis.
Lesler (Dalam Ani, 2015) menegaskan bahwa “Problem solving is the heart of
mathematics” yang berarti jantungnya matematika adalah pemecahan masalah.
Kemampuan pemecahan masalah merupakan fokus utama dalam pembelajaran
matematika. Karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa
dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta
keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterpakan pada pemecahan masalah yang
bersifat tidak rutin. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Nasution (Kesumawati,
2010:4) pemecahan masalah merupakan proses siswa menemukan kombinasi aturan-
aturan yang dipelajari lebih dahulu yang digunakan untuk menyelesaikan masalah
yang baru. Agar siswa memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik,
diperlukan kemampuan pemecahan matematis yang bermakna bagi setiap siswa.
Siswa dikatakan memahami suatu konsep matematika (masalah) antara lain ketika
mereka membangun hubungan antara pengetahuan baru yang di peroleh dengan
pengetahuan sebelumnya. Pemahaman siswa terhadap suatu masalah merupakan
bagian dari pemecahan masalah. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah siswa diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang efektif,
yaitu Realistic Mathematic Education (RME).
RME awalnya dikembangkan dan diperkenalkan oleh Institut Freudenthal di
Belanda, dengan nama Realistic Mathematic Education (RME). Menurut Hadi
(dalam Kesumawati, 2010) bahwa “RME menggabungkan pandangan tentang apa itu
matematika, bagaimana siswa belajar matematika, dan bagaimana matematika harus
diajarkan”. Secara umum pendekatan RME adalah pembelajaran orientasi terhadap
pemahaman siswa yang realistis yang bertujuan untuk mengembangkan pola pikir
praktis, logis, kritis dan jujur yang berorientasi terhadap memahami konsep
matematika dalam pemecahan masalah (Dian, Wahyudi, & Suripto, 2011).

5
Treffers (Dalam Anisa, 2014) merumuskan lima karakteristik pembelajaran
RME, yaitu : (1) menggunakan masalah kontekstual; (2) menggunakan model dalam
pemecahan masalah; (3) menggunakan kontribusi siswa; (4) proses pembelajaran
yang interaktif; dan (5) keterkaitan antar unit atau topik. Prinsip aktivitas dalam
pendekatan RME memberikan peluang bagi siswa untuk meningkatkan kemampuan
berpikir matematis mereka, khususnya pemecahan masalah.
Proses pembelajaran yang diterapkan pada kurikulum 2013 adalah berpusat
pada siswa, sifat pembelajaran yang kontekstual, dan buku teks memuat materi dan
proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan. Hal ini
sesuai dengan pendekatan RME. RME merupakan suatu
pembelajaran yang bertujuan memotivasi siswa untuk memahami konsep
matematika dengan mengaitkan konsep dan permasalahan dalam kehidupan sehari-
hari. RME dapat dikatakan strategi yang sama-sama mengajak siswa untuk lebih
aktif dan kreatif dalam berpikir serta mengajak siswa untuk mengemukakan
gagasan dalam menyelesaikan suatu persoalan matematik (Agus, 2016). Kemudian
Pendekatan RME dapat digunakan di setiap tingkat pendidikan,
sehingga mudah dikembangkan sesuai kondisi (dalam Fauzi, 2018).
Menurut Pertiwi (Hamidah et al., 2018) siswa masih mendapatkan kesulitan
dalam mengerjakan soal perbandingan. Pendapat tersebut didukung oleh Tiffani
(Hamidah et al., 2018) bahwa siswa masih sering mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan permasalahan materi perbandingan senilai dan berbalik nilai.
Putri Fadillah (2018) dalam penelitiannya yang berjudul “Penelitian
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berbasis Realistic Mathematic
Education (RME) Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Pada
Siswa Kelas VII SMP” menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa
meningkat setelah dikembangkan perangkat pembelajaran pada materi perbandingan.
Selain itu, penelitian Syahrina Anisa Pulungan dan Ismi Nurul Aninda (2020) yang
berjudul “Perangkat Pembelajaran Melalui Pendekatan RME Untuk Meningkatkan
Kemampuan Pemecahan Masalah“ menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan

6
masalah matematis siswa mengalami peningkatan sebesar 7,79. Hal ini berdasarkan
hasil analisis uji coba I dan uji coba II menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan
pemecahan matematis siswa pada hasil posttest uji coba I adalah sebesar 76,40
meningkat menjadi 84,19 pada uji coba II.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti terdorong untuk mengembangkan
perangkat pembelajaran matematika berbasis pendekatan Realistic Mathematic
Education (RME) untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis
siswa kelas VII pada materi perbandingan.
.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka yang menjadi rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah produk Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Matematika Berbasis Pendekatan Realistic Mathematic Education
(RME) Pada Materi Perbandingan Kelas VII SMP/MTs sudah memenuhi kriteria
valid dan praktis?”

D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Matematika Berbasis Pendekatan Realistic Mathematic Education
(RME) Pada Materi Perbandingan Kelas VII SMP/MTs untuk digunakan siswa kelas
VII SMP /MTs yang valid dan praktis.

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian pengembangan ini adalah :
1. Bagi siswa
Dari penelitian ini siswa mendapat pengalaman belajar yang baru, dapat
terlibat dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, meningkatkan minat
siswa dalam belajar dan melatih siswa pemecahan masalah matematis.
Tersedianya sumber belajar baru berupa LKPD yang valid dan memenuhi

7
praktikalitas pada materii perbandingan yang dapat digunakan siswa kelas VII
SMP/MTs.
2. Bagi guru
Sebagai panduan dalam proses belajar mengajar serta menjadi referensi bagi
guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran menurut Kurikulum
2013 dan sebagai kelengkapan alat atau bahan dalam proses pembelajaran.
3. Bagi Sekolah
Tersedianya perangkat pembelajaran matematika Kurikulum 2013 materi
perbandingan yang valid dan praktis untuk digunakan di SMP/MTs
4. Bagi peneliti
Selain untuk tugas akhir. Penelitian ini dapat menambah wawasan dan
pengetahuan peneliti mengenai cara mengembangkan perangkat pembelajaran
matematika berbasis pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
5. Bagi pembaca
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai
pembelajaran berbasis pendekatan Realistic Mathematic Education (RME).
Dapat dijadikan sebagai referensi dalam melakukan penelitian dan
mengembangkan perangkat pembelajaran matematika serta dapat
meningkatkan kreatifitas pembaca dalam mengembangkan perangkat
pembelajaran lebih lanjut.

F. Definisi Operasional
Istilah-istilah yang perlu dijelaskan dalam pengembangan perangkat
pembelajaran matematika yang akan dibuat adalah sebagai berikut :
1. Perangkat Pembelajaran adalah sekumpulan media atau sarana yang digunakan
oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Perangkat yang
digunakan dalam proses pembelajaran yang akan dikembangkan pada penelitian
ini adalah Silabus, RPP dan LKPD.

8
2. Pendekatan Realistic Mathematic (RME) adalah pendekatan matematika yang
menekankan pada pemahaman siswa terhadap matematika dalam kehidupan sehari-hari,
serta dapat meningkatkan kreativitas siswa melalui situasi yang bisa di bayangkan dari
pelajaran matematika.
3. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa adalah kemampuan yang
dimiliki siswa dalam menyelesaikan masalah matematis non rutin yang disajikan
dalam bentuk soal matematika tekstual maupun kontekstual yang dapat mengukur
kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah.
4. Materi perbandingan merupakan salah satu golongan matematika aritmatika yang
dipelajari di kelas VII SMP/MTs semester genap pada kurikulum 2013. Adapun
sub bab materinya adalah perbandingan senilai dan perbandingan berbalik nilai
5. Validitas perangkat pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh
pakar dibidangnya untuk memberikan status valid atau sah, sehingga perangkat
pembelajaran sudah layak digunakan sebagai perangkat pembelajaran dan
dinyatakan valid jika sudah memenuhi kategori valid atau sangat valid.
6. Praktikalitas Perangkat Pembelajaran adalah kepraktisan perangkat pembelajaran
berupa LKPD yang dikembangkan apabila peserta didik memberi respon positif
terhadap LKPD berdasarkan data yang diperoleh dari angket respon peserta didik
dan dinyatakan memenuhi kategori praktis atau sangat praktis.

G. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan


Produk yang dihasilkan pada penelitian ini adalah perangkat pembelajaran
matematika berupa Silabus, RPP, dan LKPD yang mengacu pada Kurikulum 2013
dengan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME). Berikut spesifikasi
produk dalam penelitian pengembangan ini :

1). Silabus

a. Silabus disusun berdasarkan Permendikbud No. 22 Tahun 2016 yang terdiri


dari identitas silabus (nama sekolah, mata pelajaran, kelas/semester, tahun

9
pelajaran, materi pokok dan alokasi waktu), kompetensi dasar (KD),
kompetensi inti (KI), materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
indikator pencapaian kompetensi (IPK) , penilaian, alokasi waktu dan sumber
belajar.
b. Kegiatan pembelajaran pada silabus merupakan gambaran secara umum
mengenai kegiatan pembelajaran berbasis pendekatan Realistic Mathematic
Education (RME)
c. KD yang terdapat pada silabus adalah KD 3.8 Membedakan perbandingan
senilai dan berbalik nilai dengan menggunakan tabel data, grafik, dan
persamaan dan KD 4.8 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
perbandingan senilai dan berbalik nilai.

2). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

a. RPP dikembangkan dengan mengacu pada Permendikbud Nomor 22 Tahun


2016 dan Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014, dengan komponen yaitu :
Identitas sekolah; mata pelajaran; kelas/semester; materi pokok; alokasi
waktu; tujuan pembelajaran; kompetensi dasar; indikator pencapaian
kompetensi; materi pembelajaran; metode pembelajaran dengan pendekatan
Realistic Mathematic Education (RME); media pembelajaran; sumber belajar;
langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematic
Education (RME).
b. RPP dikembangkan pada materi perbandingan dengan KD 3.8 Membedakan
perbandingan senilai dan berbalik nilai dengan menggunakan tabel data,
grafik, dan persamaan dan KD 4.8 Menyelesaikan masalah yang berkaitan
dengan perbandingan senilai dan berbalik nilai.
c. RPP dikembangkan untuk 6 kali pertemuan.

3). Lembar Kerja Siswa (LKPD)

10
a. LKPD dikembangkan dengan pendekatan Realistic Mathematic Education
(RME). LKPD berisi dengan langkah-langkah sistematis untuk menyelesaikan
masalah. Diawali dengan menyajikan masalah-masalah kontekstual pada
suatu materi pembelajaran. Kemudian siswa akan memecahkan masalah
dengan kreatif dan menggunakan pengetahuan yang didapatkan sebelumnya.
b. LKPD dikembangkan pada materi perbandingan dengan KD 3.8 Membedakan
perbandingan senilai dan berbalik nilai dengan menggunakan tabel data,
grafik, dan persamaan dan KD 4.8 Menyelesaikan masalah yang berkaitan
dengan perbandingan senilai dan berbalik nilai.
c. LKPD dikembangkan untuk 6 kali pertemuan.
d. LKPD dikembangkan dengan komponen-komponen yang terdiri atas :
1) Judul, berisi tentang identitas LKPD setiap kali pertemuan;
2) Materi pembelajaran, berisi tentang judul materi setiap kali pertemuan;
3) Identitas siswa, berisi tentang nama siswa, kelas dan kelompok;
4) Kompetensi yang dicapai, berisi tentang hal-hal yang harus dicapai siswa
setelah mengerjakan LKPD;
5) Petunjuk, berisi tentang petunjuk penggunaan LKPD;
6) Informasi pendukung, berisi informasi-infomasi yang dapat membantu
siswa dalam menyelesaikan LKPD;
7) Tugas dan langkah kerjanya, berisi tentang tugas dan langkah
penyelesaian LKPD untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan.
8) Penilaian, berisi tentang soal-soal untuk menguji pemahaman siswa
terhadap materi yang telah dikerjakan pada LKPD.

H. Landasan Teoritis
1) Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran merupakan suatu perencanaan yang dipergunakan
dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, Kunandar (2014: 6) menjelaskan
bahwa “setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun perangkat

11
pembelajaran yang lengkap, sistematis agar pembelajaran dapat berlangsung secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif”.
Menurut Nazarudin (Fadilah, 2018) perangkat pembelajaran merupakah suatu
persiapan yang disusun oleh guru agar pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dapat
dilakukan secara sistematis dan memperoleh hasil seperti yang diinginkan, meliputi:
analisis minggu efektif, program tahunan, program semester, silabus, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD, instrumen
evaluasi, dan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Syahrir (dalam Ria Rahayu dan
Julan Hernadi, 2020), perangkat pembelajaran adalah sebuah penyusunan dan
perencanaan yang akan digunakan sebagai pedoman oleh guru dan siswa dalam
melakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa perangkat
pembelajaran adalah suatu perencanaan yang disusun oleh guru untuk dijadikan
sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran yang sistematis agar
memperoleh tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
a. Silabus
Menurut kurikulum 2013, silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu
kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi,
kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator,
penilaian, alokasi waktu dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan
penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi
pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi
untuk penilaian. Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang
kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar.
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar
kedalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian (BSNP, 2006: 14).
b. RPP

12
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan
prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar
yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam Silabus (Kunandar, 2011:
263). Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 menyatakan bahwa Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) adalah rancangan kegiatan proses pembelajaran untuk sekali
pertemuan atau lebih. RPP disusun berdasarkan silabus dan berguna untuk
mengarahkan proses pembelajaran secara rinci sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai.
Pengembangan RPP merupakan kegiatan yang dimulai dari kajian terhadap
silabus, dan analisis guru dan peserta didik dengan tujuan menyusun perencanaan
proses pembelajaran yang efektif dan efisien, sehingga kompetensi yang telah
ditentukan dapat dicapai oleh siswa. Komponen RPP pada kurikulum 2013 terdapat
pada Permendikbud No. 22 tahun 2016
c. LKPD
Kodir (2011) menyatakan bahwa lembar kerja peserta didik (LKPD) adalah
lembaran kerja yang berisi informasi dan soal-soal yang digunakan pada saat
penanaman konsep maupun saat pemahaman konsep. Jadi lembar kerja peserta didik
(LKPD) merupakan pedoman untuk melakukan penyelidikan dalam mencari solusi
dari masalah yang diberikan sehingga siswa memahami konsep yang dipelajari.
Menurut Pandoyo (dalam Kodir, 2011) kelebihan dari penggunaan LKPD adalah :
(1) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa; (2) dapat mendorong siswa untuk
mampu bekerja secara mandiri ; (3) dapat menuntun siswa ke arah pengembangan
konsep.
Menurut Trianto (2009:222) lembar kerja peserta didik (LKPD) dapat berupa
panduan untuk latihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan untuk
pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen atau
demonstrasi. Trianto (2009:223) menambahkan bahwa LKPD memuat sekumpulan
kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh peserta didik untuk memaksimalkan
pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator

13
pencapaian hasil belajar yang harus ditempuh. Isi dari LKPD secara umum adalah
sebagai berikut: 1) terdapat judul, mata pelajaran, dan semester; 2) petunjuk
pengerjaan; 3) kompetensi yang harus dicapai; 4) indikator; 5) informasi pendukung
pengerjaan LKPD; 6) tugas-tugas serta langkah-langkah kegiatan; 7) penilaian.
2) Realistic Mathematic Education (RME)
Pendekatan RME merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang
mengedepankan konteks dunia nyata dan bisa ditemukan siswa dalam kehidupan
sehari-hari. RME juga menyajikan masalah realistik sebagai langkah awal untuk
memahamkan konsep matematika pada siswa. Penggunaan masalah realistik
bermanfaat untuk meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa pada matematika
(Wijaya, 2012:22). Penggunaan masalah realistik juga akan membuat siswa berpikir
bahwa ternyata matematika itu ada dalam aktivitas mereka sehari- hari sehingga
pengetahuan yang mereka dapatkan menjadi lebih bermakna. Karakteristik Realistic
Mathematics Education yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut
(Wijaya,2011:21):

1) Menggunakan konteks
Konteks dalam permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal dalam
pembelajaran. Konteks tidak harus berupa masalah dunia nyata, namun bisa
dalam bentuk permainan, penggunaan alat peraga, atau situasi lain selama hal
tersebut bermakna dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa. Melalui
penggunaan konteks, siswa dilibatkan secara aktif untuk mengeksplorasi
permasalahan.
2) Menggunakan model
Pembelajaran suatu topik matematika sering memerlukan waktu yang panjang
serta bergerak dari berbagai tingkat abstraksi. Dalam RME, model digunakan
sebagai jembatan dari pengetahuan matematika tingkat konkrit menuju
matematika tingkat formal.
3) Memanfaatkan hasil konstruksi siswa

14
Mengacu pada pendapat Freudenthal bahwa matematika tidak diberikan
kepada siswa sebagai suatu produk yang siap pakai, tetapi sebagai suatu
konsep yang dibangun oleh siswa, maka dalam RME ditempatkan sebagai
subjek belajar. Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi
pemecahan masalah sehingga diharapkan akan diperoleh strategi yang
bervariasi. Hasil konstruksi siswa berupa ide, variasi jawaban atau variasi cara
pemecahan masalah dapat memperbaiki atau memperluas konstruksi yang
selanjutnya digunakan untuk landasan pengembangan konsep matematika.
4) Interaktivitas
Proses belajar seseorang bukan hanya suatu proses individu
melainkan juga secara bersama merupakan proses sosial. Proses
belajar siswa akan menjadi lebih singkat dan bermakna ketika siswa
saling mengkomunikasikan hasil kerja dan gagasan mereka.
Pemanfaatan interaksi sangat diperlukan dalam pembelajaran, baik
antara siswa dan siswa atau antara siswa dan guru yang bertindak
sebagai fasilitator. Interaksi dalam pembelajaran bermanfaat dalam
mengembangkan kemampuan kognitif dan afektif siswa secara
simultan. Bentuk interaksi dapat berupa diskusi, pemberian
penjelasan, atau komunikasi.
5) Keterkaitan
Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat parsial, namun
banyak konsep matematika yang memiliki keterkaitan. Oleh karena
itu, konsep-konsep matematika tidak diperkenalkan secara terpisah
satu sama lain. RME menempatkan keterkaitan antar konsep sebagai
hal yang harus dipertimbangkan dalam pembelajaran. Melalui
keterkaitan ini, satu pembelajaran matematika diharapkan dapat
mengenalkan dan membangun lebih dari satu konsep matematika
secara bersamaan.

15
Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematic Education
menurut Hobri (Ningsih, 2014:81) sebagai berikut:

1) Memahami masalah kontekstual


Guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-
hari dan meminta siswa memahami masalah tersebut. Jika terdapat
siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami masalah yang
disajikan, maka guru hanya dapat memberikan informasi, gambaran
atau petunjuk seperlunya terbatas pada pemahaman siswa terhadap
masalah. Karakteristik RME yang muncul dalam langkah ini adalah
menggunakan masalah kontekstual sebagai awal konsep dari
pembelajaran menuju pada matematika formal hingga pembentukan.
2) Menjelaskan masalah kontekstual
Guru meminta siswa atau perwakilan dari kelompok untuk
menjelaskan atau mendeskripsikan masalah kontekstual dengan bahasa
mereka sendiri. Karakteristik RME yang muncul dalam langkah ini
adalah adanya interaksi antara siswa dengan guru dan siswa dengan
siswa.
3) Menyelesaikan masalah kontekstual
Siswa, baik individu maupun kelompok diharapkan dapat
menyelesaikan masalah kontekstual dengan model mereka sendiri. Guru
bertugas untuk memotivasi siswa selama menyelesaikan masalah
kontekstual menggunakan model mereka sendiri. Karakteristik RME
yang muncul dalam langkah ini adalah menggunakan model dan
menggunakan kontribusi siswa.
4) Membandingkan dan mendiskusikan jawaban siswa
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membandingkan
dan mendiskusikan jawaban soal secara berkelompok. Selanjutnya,
membandingkan dan mendiskusikan di depan kelas. Karakteristik RME

16
yang muncul dalam langkah ini adalah menggunakan kontribusi siswa
dan adanya interaksi antar siswa.
5) Menyimpulkan
Guru mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan pembelajaran
berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan dalam kelompok
maupun antar kelompok. Karakteristik RME yang muncul dalam
langkah ini adalah adanya interaksi guru dengan siswa.
3) Materi Perbandingan Kelas VII SMP/MTs
Materi perbandingan disajikan pada kelas VII semester genap SMP/MTs.
Kompetensi yang harus dicapai adalah :
1). KD 3.8 Membedakan perbandingan senilai dan berbalik nilai dengan
menggunakan tabel data, grafik, dan persamaan.
2). KD 4.8 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbandingan senilai
dan berbalik nilai.
1). Perbandingan senilai adalah apabila nilai dua variabel saling berbanding lurus.
Jika nilai variabel yang satu semakin besar maka nilai variabel yang lain juga
semakin besar. Sebaliknya jika nilai salah satu variabel semakin kecil maka nilai
variabel yang lain juga semakin kecil.

Komponen I Komponen II Komponen I Komponen II


a c atau a c

naik ↓ ↓
b d
naik turun ↓ ↓
b d
turun

17
Persamaan perbandingan senilai :

a c
= → ad = bc
b d

2). Perbandingan berbalik nilai adalah apabila nilai dua variabel saling berbanding
terbalik. Jika nilai variabel yang satu semakin besar maka nilai variabel yang lain
akan semakin kecil. Sebaliknya jika nilai salah satu variabel semakin kecil maka nilai
variabel yang lain akan semakin besar.

Komponen I Komponen II Komponen I Komponen II

a c atau a b

naik ↓ ↓ turun turun ↓ ↓ naik

b d b d

Persamaan perbandingan berbalik nilai :

a d
= →ac = bd
b c

4) Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis


Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang dimiliki
seseorangsebagai upaya untuk dapat memecahkan masalah karena belum memiliki
solusi yang tepat untuk diterapkan secara langsung (Suryani et al., 2020). Untuk dapat
menemukan solusi yang tepat dalam mencapai tujuan memecahkan suatu
permasalahan tentunya melibatkan sebuah proses

18
didalamnya. Proses pemecahan masalah tidak akan lepas dari suatu pendekatan atau
strategi untuk memecahkan suatu permasalahan. penggunaan metode, prosedur, dan
strategi yang tepat merupakan hal yang ditekankan dalam pemecahan masalah dalam
proses pembelajaran matematika (Rahmmatiya & Miatun, 2020). Terdapat beberapa
langkah atau tahapan pemecehan masalah menurut para pakar (Raudho et al., 2020).
Salah satunya ialah yang dikemukakan oleh Polya. Adapun tahapan-tahapan
pemecahan masalah berdasarkan langkah polya diantaranya : (1) memahami masalah
(understanding problem). Pada tahapan memahami masalah, siswa perlu
mengidentifikasi apa yang diketahui serta ditanyakan dari permasalahan yang
disajikan. (2) membuat rencana (devising plan). Pada tahap ini, siswa perlu membuat
strategi atau rencana dengan cara mentransformasikan permasalahan dalam bentuk
pemodelan matematika. (3) melaksanakan rencana (carrying out). Pada tahap ini, hal
yang dilakukan bergantung pada apa yang telah direncanakan pada tahap sebelumnya.
(4) memeriksa kembali (looking back). Pada tahap ini hal yang perlu diperhatikan
adalah mengecek kembali hasil yang diperoleh dan membuktikan bahwa jawaban
yang diperoleh sudah tepat yang selanjutnya dibuat kesimpulan (Yuwono et al.,
2018).
Menurut Polya sebagaimana dikutip oleh Hendriana, dkk. (2018) menyatakan
bahwa memecahkan masalah artinya siswa diajak untuk berusaha menemukan suatu
jalan dari tujuanyang tidak begitu mudah untuk dapat ditemukan dalam waktu yang
singkat. Kemudian dalam literatur yang sama, Krulik dan Rudnik menyatakan bahwa
dalam menyelesaikan masalah siswa perlu mengaplikasikan berbagai pengetahuan
dan pemahamannya terdahulu dalam berbagai kondisi yang berbeda. Dengan
demikian, pemecahan masalah merupakan situasi dimana siswa tidak segera dengan
mudahnya dapat menemukan suatu solusi dari masalah. Oleh karena itu, untuk
memecahkan suatu masalah memerlukan perbekalan yang dapat memfasilitasi siswa
untuk menyelesaikan masalah tersebut, yaitu pengetahuan, keterampilan dan
pemahaman siswa yang sebelumnya sudah mereka miliki untuk kemudian
diaplikasikan dalam situasi baru yang belum dikenalnya.

19
5) Validitas Perangkat Pembelajaran
Azwar (2010) mengatakan bahwa validitas adalah sejauh mana ketepatan dan
kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Menurut Sukadji
(2000) validitas adalah derajat yang menyatakan suatu tes mengukur apa yang
seharusnya diukur. Menurut Nursalam (2013) validitas adalah suatu ukuran yang
menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Kevalidan ditentukan
dari rata-rata penilaian validator terhadap perangkat pembelajaran. Dari beberapa
pendapat ahli dapat disimpulkan bahwa validitas adalah suatu derajat ketepatan
instrumen yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu instrumen. Untuk memperoleh
validitas perangkat pembelajaran diperlukan pengujian yang disebut uji validitas atau
validasi. Uji validitas adalah suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi
(content) dari suatu instrumen dengan tujuan untuk mengukur ketepatan instrumen
yang digunakan dalam suatu penelitian (Sugiyono, 2012). Pengujian validitas yang
digunakan peneliti adalah pengujian validitas konstruksi (pengujian validitas dari segi
susunan) yang dilakukan dengan menggunakan pendapat para ahli.
Menurut Azwar (2010), penilaian valid tidaknya suatu perangkat pembelajaran
oleh para ahli meliputi tiga aspek, yaitu:
1) Aspek format yang berkaitan dengan kejelasan petunjuk pengerjaan dan
kesesuaian format sebagai lembar kerja
2) Aspek isi (materi) yang berkaitan dengan kesesuaian materi dengan bahan ajar
dan keserasian warna, tulisan serta gambar pada bahan ajar
3) Aspek bahasa yang berkaitan dengan kebakuan bahasa dan kemudahan
peserta didik dalam memahami bahasa yang digunakan.
Suatu bahan ajar dinyatakan valid jika ketiga aspek ini telah dinilai valid oleh
para ahli. Jadi dapat disimpulkan bahwa aspek yang mempengaruhi validitas
perangkat pembelajaran adalah aspek format, aspek isi, dan aspek bahasa. Kevalidan
perangkat pembelajaran ditentukan dari rata-rata skor yang diisi atau dinilai oleh
validator terhadap perangkat pembelajaran yakni silabus, RPP dan LKPD pada

20
lembar validasi. Lembar validasi silabus, RPP dan LKPD menggunakan skala Likert.
Adapun keterangan skala Likert pada skala penilaian dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 1 Kategori penilaian skala Likert
Kategori Skor
Sangat tidak sesuai 1
Tidak sesuai 2
Sesuai 3
Sangat sesuai 4
(Sumber: Asyti dan Zul, 2015)

6) Praktikalitas Perangkat Pembelajaran


Menurut Maizora (2011) praktis adalah jika pengguna tidak kesulitan baik dari
segi penyajian materi maupun penggunaan materi pembelajaran. Salirawati (2012)
mengatakan bahwa kepraktisan LKPD meliputi aspek tampilan, penggunaan bahasa
dan pemaparan materi. Aspek tampilan meliputi penggunaan warna, gambar atau
ilustrasi dan menyediakan ruang yang cukup untuk memberi keleluasaan pada peserta
didik untuk menuliskan jawaban atau menggambar pada LKPD. Aspek penggunaan
bahasa meliputi menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan peserta
didik dan menggunakan struktur kalimat yang jelas. Aspek pemaparan materi
meliputi tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik
dan dapat digunakan untuk semua peserta didik, baik yang lamban maupun yang
cepat. Analisis kepraktisan perangkat pembelajaran yang dihasilkan dapat dilihat dari
respon peserta didik sebagai pengguna. Pada penelitian ini, angket respon peserta
didik yang digunakan untuk melihat praktikalitas perangkat pembelajaran adalah
skala Guttman (dalam Sugiyono, 2012) yang terdiri dari dua jawaban, yaitu ya dan
tidak. Angket respos peserta didik berisi beberapa pernyataan yang terdiri dari
pernyataan positif dan negatif. Nilai pada skala Guttman dapat dilihat pada tabel
berikut.

21
Tabel Nilai pada skala Guttman
Pernyataan
Positif Negatif
1 0
Nilai
0 1
(Sumber: Sugiyono, 2012)

I. PENELITIAN RELEVAN
Penelitian yang akan dikembangkan juga didukung oleh penelitian-penelitian
terdahulu yang relevan dengan kemampuan yang diteliti dan pendekatan
pembelajaran yang digunakan peneliti sebagai gambaran dalam melaksanakan
penelitian pengembangan perangkat pembelajaran matematika berbasis pendekatan
Realistic Mathematic Education (RME) pada materi perbandingan kelas VII
SMP/MTs. Adapun penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai
berikut :
Penelitian yang dilakukan oleh Putri Fadillah (2018), dengan judul “Perangkat
Pembelajaran Matematika Berbasis Realistic Mathematic Education (RME) Untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Pada Siswa Kelas VII SMP”. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran berbasis Realistic
Mathematic Education (RME) pada materi perbandingan memenuhi kriteria valid
berdasarkan skor rata-rata RPP yaitu 4,50 dari skor maksimal 5,00 dengan kriteria
sangat valid. Skor rata-rata LKPD yaitu 4,52 dari skor maksimal 5,00 dengan kriteria
sangat baik. Dan kualitas kepraktisan perangkat pembelajaran memenuhi kriteria
praktis berdasarkan skor rata-rata angket respon siswa 4,88 dari maksimal 5,00
dengan kriteria sangat baik.
Selain itu Syahrina Anisa Pulungan dan Ismi Nurul Aninda (2020) dengan judul
“Pengembangan Perangkat Pembelajaran Melalui Pendekatan RME Untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah”. Hasil penelitian menunjukkan

22
bahwa perangkat pembelajaran melalui pendekatan RME adalah valid, praktif, dan
efektif. Dan kemampuan pemecahan masalah siswa telah terjadi peningkatan.
Relevansi penelitian ini dengan penelitian yang akan dikembangkan peneliti adalah
sama-sama menggunakan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME).

J. KERANGKA BERPIKIR
Matematika merupakan sebuah ilmu pasti yang menjadi dasar dari ilmu lain,
sehingga matematika itu saling berkaitan dengan ilmu lainnya. Matematika
merupakan suatu perhitungan angka-angka yang tidak akan pernah lepas dari
kehidupan sehari-hari. Matematika juga dikatakan ilmu abstrak karena objek atau
symbol-simbol dalam matematika tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Belajar
matematika hakikatnya adalah belajar konsep, struktur konsep, mencari hubungan
antarkonsep dan strukturnya. Dalam pembelajaran matematika, siswa juga
memperoleh pengalaman dengan menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang
telah dimiliki untuk diterapkan dalam memecahkan masalah yang bersifat tidak rutin.
Dengan demikian, setiap guru dan yang terkait dengan masalah pengembangan
pendidikan seharusnya berusaha dan mampu melakukan perbaikan dan
pengembangan pembelajaran matematika dalam upaya meningkatkan kemampuan
peserta didik, yakni kemampuan pemecahan masalah
matematis. Kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kemampuan yang
harus dimiliki oleh siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika sesuai
dengan kurikulum 2013. Selain itu sejalan dengan tuntutan kurikulum 2013 yang
menekankan pembelajaran berpusat pada siswa dan sifat pembelajaran yang
kontekstual, maka dapat diwujudkan dengan menerapkan pendekatan yang sesuai
dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yaitu pendekatan berbasis
Realistic Mathematic Education (RME). Realistic Mathematic Education (RME)
merupakan suatu pembelajaran yang bertujuan memotivasi siswa untuk memahami
konsep matematika dengan mengaitkan konsep dan permasalahan dalam kehidupan
sehari-hari. RME dapat dikatakan strategi yang sama-sama mengajak siswa untuk

23
lebih aktif dan kreatif dalam berpikir serta mengajak siswa untuk mengemukakan
gagasan dalam menyelesaikan suatu persoalan matematik. Untuk mendukung proses
pembelajaran yang aktif dan kreatif serta menumbuhkembangkan kemampuan
pemecahan masalah matematis siswa, maka guru harus memberikan fasilitas yang
mencukupi untuk digunakan siswa pada proses pembelajaran. Salah satunya adalah
mengembangkan perangkat pembelajaran, perangkat pembelajaran yang akan
dikembangkan ini berupa RPP dan LKPD yang sesuai dengan pendekatan Realistic
Mathematic Education (RME). Perangkat pembelajaran ini diharapkan mampu
membantu siswa agar aktif dan menumbuhkembangkan kemampuan pemecahan
masalah matematis sehingga tercapailah tujuan pembelajaran matematika yang sesuai
dengan kurikulum 2013. Namun sebelum digunakan secara optimal di kelas,
perangkat pembelajaran yang dikembangkan akan melalui tahap pengujian oleh para
ahli terlebih dahulu untuk mengukur kevalidan dan kepraktisan dari perangkat
pembelajaran tersebut.

K. METODE PENELITIAN
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau dengan uji coba di Provinsi Riau
dan waktu penelitian dilaksanakan pada ajaran 2021/2022
2. Model Pengembangan
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan atau research &
development (R & D). Penelitian dan pengembangan yaitu merupakan suatu metode
yang digunakan untuk mendapatkan suatu hasil produk tertentu, serta menguji
keefektifan dari produk tersebut (Sugiyono , 2011). Menurut Sugiyono (2014) R&D
adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan
menguji keefektifan produk tersebut. Model pengembangan yang akan digunakan
dalam penelitian ini adalah model 4-D. Model 4-D terdiri atas 4 tahap, yaitu
Pendefinisian (Define), perancangan (Design), pengembangan (Develop), dan

24
penyebaran (Disseminate) (Thiagarajan, 1974: 5). Penggunaan model 4-D dalam
penelitian ini karena rangkaian kegiatannya yang sistematis dan sederhana kemudian
juga sudah banyak digunakan dalam berbagai penelitian pengembangan perangkat
pembelajaran.

Define Design Develop Disseminate

Gambar 1. Langkah-langkah 4D menurut Thiagarajan.


3. Prosedur Pengembangan Produk
Penelitian akan dilaksanakan pada Semester Genap Tahun Ajaran 2020/2021
melalui tiga tahap yaitu:
1). Tahap pendefenisian (define)
Tahap define merupakan tahap untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-
syarat yang dibutuhkan dalam pengembangan pembelajaran. Penetapan syarat-syarat
yang dibutuhkan dilakukan dengan memperhatikan serta menyesuaikan kebutuhan
pembelajaran matematika bagi siswa. Tahap define meliputi 5 langkah pokok yaitu
analisis awal-akhir (front-end analysis), analisis siswa (learner analysis), analisis
konsep (concept analysis), analisis tugas (task analysis), dan spesifikasi tujuan
pembelajaran (specifying instructional objectives).
a. Analisis awal-akhir (front-end analysis)
“Front-end analysis is the study of the basic problem facing the teacher trainer”.
Analisis awal-akhir bertujuan untuk menetapkan masalah dasar yang di hadapi dalam
perangkat pembelajaran matematika. Pada langkah ini peneliti akan melakukan
wawancara kepada guru bidang studi matematika. Dengan langkah ini akan
didapatkan gambaran fakta, harapan dan alternatif penyelesaian masalah dasar yang
akan memudahkan dalam menentukan dan memilih media pembelajaran matematika
yang akan di kembangkan.
b. Analisis siswa (learner analysis)

25
Analisis siswa merupakan telaah tentang karakteristik siswa yang sesuai dengan
pengembangan perangkat pembelajaran. Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan
gambaran karakteristik siswa antara lain : (1) tingkat kemampuan dan intelektualnya;
(2) latar belakang pengalaman; (3) perkembangan kognitif; (4) motivasi belajar; (5)
dan keterampilan-keterampilan yang dimiliki individu atau sosial yang berkaitan
dengan topik pembelajaran, media, format, dan bahasa yang dipilih dan dapat
dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Analisis ini
digunakan sebagai acuan dalam merancang perangkat pembelajaran yang akan
dikembangkan. Analisis siswa dilakukan dengan cara mengamati kegiatan
pembelajaran dikelas dan melakukan wawancara kepada beberapa siswa untuk
menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran matematika dikelas.
c. Analisis konsep (concept analysis)
Analisis konsep merupakan satu langkah penting untuk memenuhi prinsip dalam
membangun konsep atas materi-materi yang digunakan sebagai sarana pencapaian
kompetensi dasar dan standar kompetensi. Pada analisis konsep ini, peneliti bertujuan
untuk memahami dan mengkonstruksi secara matematis konsep pada materi
perbandingan yang akan dipelajari siswa, sehingga siswa dapat menemukan dan
membangun pengetahuannya sendiri. Materi yang dipilih dalam pengembangan
perangkat pembelajaran ini adalah materi perbandingan. Secara garis besar, materi
perbandingan terdiri atas : (1) Perbandingan senilai; (2) Perbandingan berbalik nilai.
d. Analisis tugas (task analysis)
Analisis tugas adalah prosedur yang dilakukan untuk mengembangkan perangkat
pembelajaran berdasarkan Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), dan
Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) yang sesuai dengan kurikulum 2013 pada
materi perbandingan. Pada penelitian ini, penelitian mengembangkan perangkat
pembelajaran pada KD 3.8 yaitu membedakan perbandingan senilai dan berbalik nilai
dengan menggunakan tabel data, grafik, dan persamaan. Dan KD 4.8 yaitu
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbandingan senilai dan berbalik
nilai.

26
e. Spesifikasi Tujuan Pembelajaran (specifying instructional objectives).
Spesifikasi tujuan pembelajaran merupakan perubahan perilaku yang diharapkan
setelah belajar dengan kata kerja operasional. Hal ini berguna untuk merangkum hasil
dari analisis konsep dan analisis tugas untuk menentukan perilaku objek penelitian.
Kemudian objek tersebut digunakan untuk menyusun tes dan merancangkan
perangkat pembelajaran yang diintegrasikan kedalam materi perangkat pembelajaran
yang akan digunakan oleh peneliti. Spesifikasi tujuan pembelajaran dilakukan dengan
cara merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) dan tujuan pembelajaran
sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) pada materi perbandingan. Spesifikasi tujuan
pembelajaran akan tercantum pada produk yang dihasilkan yaitu perangkat
pembelajaran.
2). Tahap Perancangan (Design)
Tahap perancangan ini bertujuan untuk menyiapkan prototype perangkat
pembelajaran (Trianto, 2014). Pada tahap ini akan dilakukan rancangan perangkat
pembelajaran yang dikembangkan dengan pendekatan Realistic Mathematic
Education (RME) pada materi perbandingan. Pada penelitian ini, perangkat
pembelajaran yang akan dibuat berupa silabus, RPP dan LKPD. Pada tahap ini akan
dirancang silabus, RPP dan LKPD sesuai dengan saran dan masukan dari dosen
pembimbing. RPP dan LKPD akan dibuat sebanyak 6 lembar.
3). Tahap Pengembangan (Develop)
Tahap pengembangan adalah tahap untuk menghasil produk pengembangan
berupa silabus, RPP, LKPD yang dan praktis. Tahap dilakukan dengan dua langkah,
yaitu validasi, dan uji coba.
a. Validasi
Validasi akan dilakukan oleh validator yang kompeten untuk memberikan
penilaian dan saran pada perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu tiga
orang dosen Pendidikan Matematika. Validator menilai kesesuaian perangkat
pembelajaran dengan Kurikulum 2013 dan pedoman pengembangan perangkat

27
pembelajaran. Validasi perangkat pembelajaran dilakukan melalui lembar validasi
perangkat. Perangkat pembelajaran yang akan divalidasi adalah RPP dan LKPD.
b. Uji Coba Produk
Merupakan uji coba rancangan produk pada sasaran objek yang sesungguhnya.
Setelah produk melewati revisi dan telah memenuhi kriteria valid. Selanjutnya produk
yang berupa LKPD akan diuji cobakan pada kelompok kecil dan kelompok besar. Uji
coba kelompok ini bertujuan untuk mengetahui apakah produk yang dikembangan
memenuhi kriteria valid dan praktis dalam kegiatan pembelajaran.
1. Uji coba kelompok kecil
Pada uji coba kelompok kecil, peneliti melakukan uji coba LKPD kepada 10
orang siswa dengan kemampuan yang heterogen. Pada uji coba kelompok kecil ini,
peneliti melakukan uji coba LKPD untuk melihat keterbacaan enam LKPD mengenai
materi perbandingan yang telah dikembangkan. Siswa diminta untuk memberikan
respon mengenai penjabaran materi, tampilan, penggunaan LKPD dan sikap yang
diharapkan dari siswa setelah menggunakan LKPD yang dikembangkan pada saat
belajar. Respon siswa diperoleh melalui angket respon siswa.
2. Uji coba kelompok besar
Uji coba kelompok besar tidak dilakukan karena berhubungan dengan pembatasan
pembelajaran pada masa pandemic Covid-19.
4) Tahap Pendiseminasian (disseminate)
Tahap pendiseminasian merupakan tahap penggunaan perangkat pembelajaran yang
telah dikembangkan pada skala yang lebih besar, misalnya dikelas lain, disekolah lain
atau oleh guru matematika yang berbeda. Pada penelitian ini, peneliti tidak sampai
pada tahap disseminate karena terbatasan biaya, tenaga dan waktu.

5) Subjek Uji Coba


Subjek uji coba pada penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VII SMP/MTs di
Pekanbaru. Subjek uji coba terdiri dari dua yaitu subjek uji coba kelompok kecil dan
subjek uji coba kelompok besar. Subjek uji coba kelompok kecil adalah 10 orang

28
siswa kelas VII SMP/MTs dengan latar belakang yang berbeda dan kemampuan yang
heterogen. Untuk subjek uji coba kelompok besar tidak ada karena untuk uji coba
kelompok besar tidak dilakukan karena sehubungan dengan keterbatasan
pembelajaran di masa pandemic Covid-19.

6) Jenis dan Sumber Data


a. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang diperoleh dalam bentuk pernyataan. Data
kualitatif pada penelitian ini adalah berupa kritikan dan masukan dari dosen
pembimbing, dosen ahli, dan guru bidang studi matematika mengenai perangkat
pembelajaran yang dikembangkan. Data kualitatif diperoleh dari konsultasi, diskusi,
wawancara, penilaian para ahli, maupun uji coba kelompok kecil dan kelompok
besar.
b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang diperoleh dalam bentuk angka. Data kuantitatif
pada penelitian ini menunjukan kualitas dari perangkat pembelajaran yang
dikembangkan. Data kuantitatif berasal dari hasil penilaian dosen ahli dan guru
bidang studi matematika dalam aspek kevalidan perangkat pembelajaran dan hasil
angket respon peserta didik mengenai kepraktisan pada LKPD yang dikembangkan.

7) Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar penilaian perangkat
pembelajaran dan angket respon peserta didik. Berikut adalah instrumen
pengumpulan data :
a. Lembar penilaian perangkat pembelajaran
Lembar penilaian perangkat pembelajaran digunakan untuk menilai kevalidan
perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu Silabus, RPP dan LKPD. Lembar
penilaian perangkat pembelajaran ini akan diisi dan dinilai oleh validator. Aspek yang
dinilai dari silabus adalah komponen-komponen berupa identitas sekolah, mata

29
pelajaran, kelas/semester, materi pokok, kompetensi inti, kompetensi dasar, proses
pembelajaran, penilaian, waktu, dan sumber belajar. Aspek yang dinilai dari RPP
adalah komponen-komponen berupa identitas sekolah, perumusan indicator
pencapaian kompetensi, perumusan tujuan pembelajaran, pemilihan materi ajar,
sumber ajar, bahan ajar, dan model pembelajaran serta penilaian. Aspek yang dinilai
dari LKPD adalah komponen-komponen berupa pendekatan pembelajaran, kejelasan
konsep, kegiatan, keterlaksanaan, penilaian dan bahasan yang jelas dan menarik.
b. Angket respon peserta didik
Angket ialah lembar yang berisi sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan
untuk memperoleh informasi dari peserta didik. Angket ini digunakan untuk
mengetahui respon peserta didik dan kepraktisan dalam penggunaan LKPD yang
dikembangkan. Aspek yang terdapat pada angket respon siswa adalah kejelasan
bahasa dan kalimat, kegiatan, daya tarik, manfaat dari LKPD yang dapat dirasakan
langsung oleh peserta didik serta keterkaitan LKPD dan kesesuaian isi.
.
8) Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan pekerjaan yang penting dalam sebuah penelitian.
Kesimpulan yang tepat akan diperoleh dari teknik pengumpulan data yang tepat.
Berikut ini adalah teknik pengumpulan data yang akan digunakan peneliti :
f. Validasi Silabus, RPP dan LKPD
Validasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pernyataan tertulis dengan menggunakan skala Likert yang
terdiri dari 4 alternatif jawaban berupa 1, 2, 3 dan 4 untuk tidak sesuai, kurang sesuai,
sesuai dan sangat sesuai kepada validator. Validator akan menilai kesesuaian silabus,
RPP dan LKPD yang telah dikembangkan dengan acuan Kurikulum 2013 dan
pedoman pengembangan perangkat pembelajaran.
g. Angket Peserta Didik
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pernyatan tertulis kepada guru dan peserta didik. Angket respon

30
peserta didik digunakan untuk memperoleh data terhadap penggunaan LKPD dengan
Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) pada materi perbandingan.
9) Teknik Analisis Data
1) Analisis Data Kualitatif
Data kualitatif dianalisis secara deskriptif kualitatif. Saran atau masukan dari
validator digunakan sebagai bahan perbaikan pada tahap revisi perangkat
pembelajaran.
2) Analisis Data Kuantitatif
a. Hasil Lembar Validasi Silabus, RPP dan LKPD
Analisis data hasil penilaian validator dilakukan untuk menilai kevalidan silabus,
RPP dan LKPD yang dikembangkan. Analisis data dari lembar validasi menggunakan
rumus sebagai berikut:
n

∑ xi
P= i=1 ×100 %
k
(diadaptasi dari Prilyana dkk, 2016)
Keterangan:
P : persentase nilai
n

∑ x i : jumlah skor dari penilaian validator


i=1

n : banyaknya validator
k : jumlah skor tertinggi

Kriteria uji kevalidan yang digunakan diambil dari Prilyana dkk yang dimodifikasi
dan disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Kriteria Uji Kevalidan Perangkat Pembelajaran


Persen Kriteria Kevalidan Keterangan

31
tase
80−100 Sangat Sesuai Tidak Revisi
66−79 Sesuai Tidak Revisi
56−65 Cukup Sesuai Revisi
40−55 Kurang Sesuai Revisi
0−39 Tidak Sesuai Revisi
(Sumber: Modifikasi dari Prilyana dkk)

Apabila persentase yang diperoleh dari hasil analisis data hasil uji kevalidan RPP
dan LKPD menunjukkan lebih atau sama dengan 66 % maka RPP dan LKPD
dinyatakan valid dan LKPD dapat diuji cobakan pada peserta didik berdasarkan RPP.
Namun, apabila persentase yang diperoleh dari hasil analisis data hasil uji kevalidan
RPP menunjukkan kurang dari 66 % maka RPP dan LKPD dinyatakan tidak valid
maka diperbaiki berdasarkan komentar/saran dari validator.

[Link] Hasil Angket Respon Guru dan Peserta Didik


Data kepraktisan perangkat pembelajaran diperoleh dari angket respon guru dan
peserta didik. Analisis data hasil respon guru dan peserta didik dilakukan untuk
menilai kepraktisan silabus, RPP dan LKPD yang dikembangkan. Analisis data hasil
respon peserta didik dilakukan untuk menilai kepraktisan LKPD yang dikembangkan.
Analisis data hasil dari angket respon guru dan peserta didik menggunakan rumus
sebagai berikut:
n

∑ xi
P= i=1 ×100 %
k
(diadaptasi dari Prilyana dkk, 2016)
Keterangan:
P : persentase nilai
n

∑ x i : jumlah skor dari penilaian peserta didik


i=1

32
n : banyaknya peserta didik
k : jumlah skor tertinggi

Kriteria uji kepraktisan yang digunakan diambil dari Prilyana dkk yang dimodifikasi
dan disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Kriteria Uji Ke Praktisan

Persentase Kriteria Kepraktisan Keterangan


80−100 Sangat Positif Tidak Revisi
66−79 Positif Tidak Revisi
56−65 Cukup Positif Revisi
40−55 Kurang Positif Revisi
0−39 Tidak Positif Revisi
(Sumber: Modifikasi dari Prilyana dkk)

i. Revisi Produk

Silabus, RPP dan LKPD yang telah diuji coba kemudian direvisi kembali sesuai
dengan saran sehingga diperoleh produk yang memenuhi kriteria valid dan praktis.

33
L. DAFTAR PUSTAKA

Pemerintah Indonesia. 2003. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang


Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran RI Tahun 2003 No. 20.
Sekretariat Negara. Jakarta.
Holisin, Iis. "Pembelajaran Matematika Realistik (PMR)." Didaktis: Jurnal
Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan 7.3 (2016).
Kunandar. 2011. Guru Profesional (Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan dan Sukses dalam Sertifikasi Guru). Jakarta: Raja Grafindo
Persada
[Link] dan Pembelajaran. Bandung. Alfabeta
Permendikbud No 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar
dan Menengah. Kemendikbud RI. Jakarta.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan
Hadi, Sutarto. 2018. Pendidikan Matematika Realistik: Teori, Pengembangan
dan Implementasinya. Depok: RajaGrafindo Persada
Magdalena, Maria. 2018. Perangkat Pembelajaran Matematika Berbasis
Realistic Mathematic Educations Untuk Siswa Kelas V Sekolah Dasar
Jurnal Education and Development. Vol.3 No.1. Januari 2018
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif - Progresif, (Jakarta:
kencana Prenada media group, 2010), hlm.189
Mahmudah, Siti. 2017. Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
Tematik Berbasis Scientific Tema Kayanya Negeriku Subtema 2

34
Pembelajaran 1 Di SD Negeri Mandirancan. Jurnal Didaktika. 2(1):
216-226. FKIP-UMP. Purwokerto.
Sa’dun Akbar. 2013. Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
______. 2012. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
Wahyudin. 2013. Hakikat, Sejarah,dan Filsafat Matematika. Mandiri.
Bandung.
M. LAMPIRAN

35

Anda mungkin juga menyukai