0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
71 tayangan12 halaman

Proses Produksi di PPCI Pemalang

Dokumen tersebut membahas proses produksi PPCI Perum Perhutani yang mengolah bahan baku getah pinus menjadi produk seperti gondorekeum, terpentin, dan derivatifnya. Proses produksi meliputi pabrik 1 untuk proses melting, scrubbing, dan cooking; pabrik 2 untuk fraksinasi terpentin; serta unit pengolahan air limbah. Dokumen ini menjelaskan tahapan-tahapan proses yang terjadi di setiap unit produksi beserta variabel yang dikendal

Diunggah oleh

Rnzd.04
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
71 tayangan12 halaman

Proses Produksi di PPCI Pemalang

Dokumen tersebut membahas proses produksi PPCI Perum Perhutani yang mengolah bahan baku getah pinus menjadi produk seperti gondorekeum, terpentin, dan derivatifnya. Proses produksi meliputi pabrik 1 untuk proses melting, scrubbing, dan cooking; pabrik 2 untuk fraksinasi terpentin; serta unit pengolahan air limbah. Dokumen ini menjelaskan tahapan-tahapan proses yang terjadi di setiap unit produksi beserta variabel yang dikendal

Diunggah oleh

Rnzd.04
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Pendahuluan

Perhutani Pine Chemical Industry Perum perhutani (PPCI) adalah salah


satu industry kimia milik perhutani yang mengolah bahan baku berupa getah
pinus menjadi produk gondorekeum (gum rosin) , terpentin dan produk
derivatifnya seperti : α-pinene , β-pinene , ð-Carene , ð-Limonene , α-Terpineol ,
dan cineol. Tersedianya bahan baku yang banyak karena dekat dengan daerah
hutan pinus yang ada di sekitar Tegal dan pekalongan karena Getah pinus yang
digunakan sebagai bahan baku didatangkan dari Pekalongan dan sekitarnya.

2. Pembahasan
a. Pabrik 1

Pada pabrik 1 ini terdapar 3 proses yakni melting, scrubbing, dan cooking. Getah
pinus yang berasal dari pekalongan dan sekitarnya bahkan berasal dari luar luar
pulau jawa ditampung pada bak penanpung yang berada di pabrik 1. Selanjutnya
getah tersebut dialirkan secara gravitasi melalui talamg dan di campurkan dengan
asam oksalat sebanyak 4kg yang sudah dilarutkan dengan 100 liter air. Dimana
asam oksalat berfungsi sebagai pengikat kandungan zat besi yang tidak diinginkan
proses karena menurunkan kualitas mutu prodak.

Di dalam melter, terjadi proses melting atau pengenceran getah dengan


menambahkan terpentin sebanyak 30 – 40 % dari feed. Terpentin digunakan untuk
memudahkan proses handling terutama pada saat transfer antar unit proses serta
dalam pemisahan kotoran dan air yang masih terkandung dalam feed. steam dari
boiler diinjeksikan dari bottom melter ke sparger dengan suhu 60 – 80 ℃ dan
tekanan 6 – 7 bar untuk membantu proses pengenceran serta pergolakan getah dan
terpentin agar tercampur rata. Selain itu, melter juga dilengkapi dengan strainer
untuk memisahkan pengotor kasar dari getah, seperti selasar kayu dan pengotor
kasar lainnya. Pengotor atau sampah yang telah terpisah dibuang secara manual
melalui manhole setelah 2 – 3 kali batch untuk ditampung

Keluaran dari melter filter dialirkan ke scrubber untuk proses pembersihan


getah dari ion besi/logam dan pengotor halus lainnya. Di dalam scrubber terjadi
proses pencucian secara agitasi/pengadukan selama 10 – 25 menit bersamaan
dengan penambahan hot water sebanyak ± 700 kg dengan suhu 40 – 50 ℃. .
Penambahan hot water bertujuan untuk melarutkan kotoran-kotoran halus yang
masih terikut. Setelah diaduk, larutan getah diendapkan selama 60 menit (min. 30
menit) untuk proses sedimentasi. Setelah diendapkan, terbentuk dua lapisan yang
berbeda, yaitu air + kotoran dan minyak (campuran getah + terpentin). Blowdown
air melalui bottom scrubber terlebih dahulu dan minyak dipompakan menuju
filter. Pada proses ini, dilakukan pengujian sampel larutan getah pada melter
untuk mengetahui warna Soft Rosin (produk dari proses scrubbing). Apabila hasil
uji warna Soft Rosin > 4.8, maka produk tersebut akan di-blending atau dicampur
dengan Soft Rosin yang memiliki warna lebih bagus agar mencapai warna ≤ 4.8.
Sebelum memasuki Soft Rosin Storage Tank, produk akan dialirkan ke scrubber
filter yang memiliki ukuran 150 mesh atau 0.0039 inch untuk menyaring pengotor
yang masih terkandung dalam Soft Rosin

Blowdown air dan kotoran yang mengendap di Soft Rosin Storage Tank
sebelum Soft Rosin dialirkan te tangki pemasak. Sebelum ke tangki pemasak, Soft
Rosin dialirkan menuju filter bag, untuk menyaring kotoran halus berukuran 10
mikron, lakukan pencucian filter bag setelah selesai transfer. Proses pemasakan
dilakukan menggunakan steam distillation untuk menghasilkan top product
berupa Terpentin (TO) dan bottom product berupa Gondorukem (GO). Terdapat 2
aliran steam yang digunakam yaitu open steam dan closed steam. Open steam
akan dialirkan melalui vertical tube dari atas ke bawah, dengan tekanan yang
tinggi, steam akan di-spray melalui sparger untuk menciptakan pergolakan di
dalam alat pemasak sehingga panas akan lebih terdistribusi secara merata ke
seluruh bagian bejana. Sedangkan, close steam dialirkan pada koil di dalam alat
pemasak, sebagai pemanas. Proses perpindahan panas yang terjadi antara close
steam dan produk yaitu convection heat transfer.

Top product yang dihasilkan dari proses pemasakan berupa campuran uap
air dan terpentin, yang akan dialirkan menuju two stage condenser. Keluaran dari
kondensor ini akan masuk ke dalam separator. Di dalam separator terjadi
pemisahan antara air dan terpentin secara gravitasi sesuai dengan perbedaan
densitas masing-masing cairan. Di mana densitas terpentin < air dan juga bersifat
non-polar sehingga akan berada pada permukaan vessel, sedangkan air berada
pada lapisan bawah.

b. Pabrik 2 (Aci)

Pabrik Fraksinasi Terpetin (PFT) bertujuan untuk memisahkan komponen


produk α-pinene, β-pinene, ð-Carene, ð-Limonene dengan metode pemisahan
distilasi vakum menggunakan packing bed dan koil sebagai pemanas. Unit
produksi fraksinasi terpentin ini memiliki kapasitas pengolahan 7.500 ton
terpentin/tahun. Pabrik ini memiliki 6 kolom distilasi, dikarenakan ketinggian
masing-masing kolom α-pinene dan ð-Carene mencapai 50 meter maka untuk
kedua kolom tersebut dibagi menjadi dua bagian setinggi 25 meter agar
memperoleh purity yang diinginkan. Saat ini hanya 4 kolom yang beroperasi pada
pabrik 2, yaitu kolom C-2001 B & A yang merupakan satu kesatuan untuk
pemisahan α-pinene begitupun dengan kolom C-2002 A & B untuk pemisahan ð-
Carene dengan temperatur ±70℃ dan bersifat kontinyu.

Umpan terpentin hasil cooking pabrik 1 dialirkan dari tangki terpentin T-


2001, sebelum masuk ke kolom dilakukan preheat dengan suhu 130-140℃,
kemudian masuk ke kolom C-2001 B & A dengan pemanas Thermal Oil Heater
(TOH). Top produk dari kolom C-2001 B dialirkan lebih lanjut ke C-2001 A,
kemudian bottom produk C-2001 A dijadikan sebagai refluks pada kolom C-2001
B sedangkan top produk berupa α-pinene dengan fasa uap didingankan di
kondensor kemudian disimpan pada tangki penyimpanan α-pinene. Sedangkan
untuk bottom produk kolom C-2001 B dialirkan masuk ke kolom C-2002 A
sebagai umpan produk ð-Carene, dengan proses yang sama seperti pemisahan
pada kolom α-pinene, residu yang dihasilkan pada kolom ini berupa minyak
merah yang masih memiliki nilai keekonomisan, namun saat ini belum ada
permintaan pada produk tersebut sehingga masih disimpan dalam tangki.

Terdapat variabel yang harus dikendalikan oleh sistem pengendali proses pada
pabrik 2, yaitu:

1. Komposisi produk atas, tujuan pengendalian tersebut untuk memperoleh


produk ats dengan kemurnian yang sesuai dengan standar mutu yang telah
ditetapkan dengan cara mengatur laju aliran refluks produk atas.
2. Tekanan kolom distilasi, tujuannya untuk menjaga agar tekanan kolom
distilasi tetap berada pada kondisi vakum dengan cara menyalakan pompa
vakum hingga tekanan kolom distilasi menjadi vakum.

c. Waste Water Treatment (WTP) (ari)

Unit ini bertugas menghasilkan air bersih yang memenuhi persyaratan sebagai air
proses yang bebas dari zat kimia yang mengganggu proses industri, termasuk air
untuk ketel uap yang menghasilkan energi panas untuk proses produksi. Dalam
kegiatan suatu industri, dibutuhkan air untuk keperluan air minum, mandi dan cuci
(MCK), maka air yang digunakan juga harus diproses seperti halnya air untuk
keperluan rumah tangga. Secara umum proses pengolahan air proses pada plant ini
melalui tahap-tahap sebagai berikut:
 Penyediaan Air Pemadam Kebakaran
Air untuk pemadam kebakaran dipompa dari sumur deep well menuju water pond
dengan kapasitas 240 m². Proses air pemadam dilakukan melalui pengendapan dan
penambahan chlorine pada water pond sebagai desinfektan. Setelah pengotor-
pengotor mengendap, air didistribusikan menuju hydrant-hydrant di pabrik.

 Penyediaan Air Umpan Boiler


Softener merupakan suatu alat yang digunakan untuk menghilangkan garam -
garam yang dapat menyebabkan terjadinya kesadahan air meningkat seperti Kalsium
(Ca) dan Magnesium (Mg). Sistem penghilangan garam garam penyebab kesadahan
air tersebut dilakukan dengan sistem pertukaran ion atau ion exchanger dan ion yang
bertukar adalah ion positif. Alat ini berbentuk bejana silinder tegak yang didalamnya
berisii : bahan penukar ion, yaitu Na2R atau yang biasa disebut dengan resin atau
zeolit. Resin dipakai untuk mengikat garam garam seperti garam Ca dan Mg yang
dapat menyebabkan kesadahan air. Apabila garam garam tersebut tidak diikat, dapat
menyebabkan terbentuknya kerak di dalam ketel uap sehingga dapat menurunkan
efisiensi dari ketel tersebut.
Setelah dari softener tank, air selanjutnya diproses kembali dengan
penyaringan menggunakan membran reversible osmosis. Pada proses pemisahan
menggunakan RO, membran akan mengalami perubahan karena memampat dan
menyumbat (fouling). Fouling membran dapat diakibatkan oleh zat-zat dalam air
baku seperti kerak, pengendapan koloid, oksida logam, bahan organic dan silika. Oleh
sebab itu cairan yang masuk ke proses reverse osmosis harus terbebas dari partikel-
partikel besar agar tidak merusak membran. Sebelum masuk proses reverse osmosis,
perlu penambahan chemical berupa chlorine scavanger karena air umpan membran
RO mengandung chlorine yang bisa merusak membran dan antiscalant serta
antifoulant untuk mencegah kerak dan gumpalan yang timbul pada membran RO.

Setelah disaring menggunkan membran RO, air perlu diproses melalui


mixbed tank yang merupakan unit penghilang kandungan mineral pada air. Unit ini
terdiri dari penukar kation (cation exchanger) dan penukar anion (anion exchanger).
Penukar kation-anion berisi campuran resin kation dan anion untuk pengolahan air
akhir. Semua penukar ion dioperasikan dengan aliran air yang kontinyu.

d. Cooling Tower

Air dari sumur deep well di pompa ke bak penampungan ter pond kemudian
ditampung di water process tank dan dialirkan ke cooling tower. Di unit proses di
PPCI Pemalang air pendingin digunakan sebagai media pendingin pada kondensor,
pendingin flacker, dan cooler.. Dari cooling tower air didinginkan dengan
mengontakkan udara hingga suhu air 28°C selanjutnya ditampung di bak air
pendingin dan disirkulasikan lagi ke unit proses.

e. Unit Penyedia Steam dan Hot Oil

 Unit Penyedia Steam


Steam dihasilkan dari sebuah alat yang bernama boiler. Pada unit ini
terdapat 2 alat boiler dengan jenis fire tube yang memilik kapasitas masing-
masing adalah 4 ton/jam. Umpan yang digunakan pada boiler adalah air
demin yang dihasilkan dari unit Water Treatment Process. Air demin
ditampung pada demin tank lalu dialirkan menuju deaerator vessel untuk
menghilangkan udara yang terkandung didalamnya. Di dalam udara yang
terlarut terdapat oksigen yang dapat menyebabkan korosi pada boiler. Oleh
sebab itu udara terlarut dalam air demin harus dihilangkan menggunakan
steam. Bahan bakar yang digunakan boiler pada saat operasi adalah marine
fuel oil (MFO) karena harganya lebih ekonomis dan dapat bekerja optimal.
Sedangkan pada saat start up menggunakan bahan bakar gas untuk
mempermudah penyalaan api.
Untuk menghindari akumulasi ion-ion terlarut pada boiler, setiap satu jam
sekali dilakukan blowdown. Steam yang dihasilkan berupa superheated steam
dengan temperatur 185°C dan tekanan 8 bar. Kemudian steam akan
didistribusikan untuk keperluan proses pabrik melalui steam distribution
header.
Berikut adalah fungsi steam di pabrik PPCI:
- Untuk kebutuhan utilitas
a. Media pemanas untuk deaerator, yaitu untuk menghilangkan
kandungan oksigen terlarut dalam air umpan boiler.
b. Media pemanas bahan bakar MFO yang dipanaskan hingga mencapai
flash point agar mudah terbakar
c. Proses atomizing untuk membuat kabut minyak bakar agar minyak
bakar lebih mudah berkontak dengan oksigen sehingga menjadi lebih
mudah terbakar.
- Untuk kebutuhan proses
a. Pada proses melting
b. Pada proses cooking
c. Pada perpipaan
 Unit Penyedia Hot Oil
Di pabrik PPCI sebagai media pemanas untuk keperluan proses selain
menggunakan steam terdapat juga hot oil. Hot oil diproduksi melalui Thermal
Hot Oil (TOH) dengan cara memanaskan fluida tersebut, prinsipnya sama
seperti boiler namun yang membedakan hanyalah fluida yang dipanaskan.
Terdapat 2 unit TOH dengan kapasitas yang berbeda yaitu TOH 2 MW dan 3
MW. TOH dengan kapasitas 2 MW menghasilkan fluida pemanas untuk
keperluan media pemanas untuk reaksi esterifikasi pada reaktor di unit
Gliserol Rosin Ester (GRE) Plant 3. Sedangkan TOH dengan kapasitas 3 MW
menghasilkan fluida pemanas dalam proses distilasi di unit kolom fraksinasi
terpentin (Plant 2) dan unit kolom fraksinasi terpeniol (Plant 4).
Thermal Oil Heater (TOH) menggunakan bahan bakar MFO yang telah
dipanaskan pad MFO daily tank dengan kapasitas 5,5 m3 menggunakan steam
yang mengalir di dalam koil dengan sistem kendali otomatis pada tekanan 3,6
bar. Setelah itu, MFO memasuki filter sebanyak 3 buah, dimana pada filter
pertama dan kedua memiliki ukuran 20 micron yang digunakan secara
bergiliran untuk menyaring kotoran kasar, sedangkan filter ketiga memiliki
ukuran 10 micron untuk menyaring kotoran yang lebih halus. MFO kemudian
dipompakan menuju TOH. Di dalam TOH, hot oil dialirkan melalui koil dan
mengalami proses pemanasan secara langsung oleh burner. Burner ini
menggunakan bahan bakar gas pada proses start up dan apabila sudah stabil
dapat diswitch ke MFO untuk proses operasi serta digunakan solar pada
proses menjelang shut down. Hot oil yang dihasilkan dari TOH memiliki suhu
mencapai 260 °C dan ditampung pada hot oil distribution header sebelum
dialirkan menuju ke unit produksi.

f. Unit Penyedia Udara Tekan (Afi)

Penyedia udara tekan pada pabrik PPCI diproduksi menggunakan


instrument air system yang berguna sebagai pemasok kebutuhan udara bertekanan
untuk membuka atau menutup valve di unit operasi secara otomatis. Kompresor
merupakan peralatan yang digunakan untuk mentransfer udara dari atmosfer ke
unit selanjutnya. Udara bebas dihisap oleh kompresor kemudian difiltrasi agar
udara terpisah dengan debu dan partikel-partikel lain yang dapat merusak
peralatan proses. Udara tersebut kemudian dikompresi agar mengurangi
kandungan air. Kompresor yang dipakai pada proses ini memiliki kapasitas
sebesar 600 Nm3/jam sebanyak 2 unit. Udara yang telah dikompres akan dialirkan
menuju plant air receiver dengan kapasitas 6 Nm3 untuk mengakumulasi
banyaknya udara yang telah diproduksi. Didalam plant air receiver juga dilakukan
kondensasi untuk memisahkan uap air yang terikut pada udara bertekanan.
Selanjutnya, udara bertekanan akan dilewatkan pada unit prefilter untuk
menghilangkan pengotor. Unit prefilter ini memiliki kapasitas sebesar 1548
m3/jam. Kemudian, udara dikeringkan menggunakan unit dry package yang
berkapasitas 800 Nm3/jam, lalu disimpan pada instrument air accumulator yang
berkapasitas 4 Nm4. Di dalam instrument air accumulator juga dilakukan drain
untuk membuang air yang terakumulasi. Setelah itu, udara bertekanan siap
dikirimkan unit produksi melalui instrument air header untuk didistribusikan.

Untuk memproduksi N2, maka udara bertekanan dari instrument air


accumulator perlu dialirkan menuju N2 generator. Pada N2 generator terjadi
proses pemisahan gas nitrogen dari udara bertekanan menggunakan teknoloogi
pressure swing adsorption. Kandungan nitrogen yang dihasilkan adalah sebesar
99% N2. Kemudian N2 akan ditampung pada N2 tank sebelum dialirkan menuju
ke unit proses.

g. Wastewater Treatment (WWTP) Jedi


Sesuai dengan sebutannya Waste Water Treatment yang berarti
pengolahan limbah cair. Pada unit ini limbah cair yang berasal dari
pabrik akan diolah untuk menghasilkan air yang tidak merusak
lingkungan. Pada proses pengolahan ini sendiri terdapat beberapa
tahap untuk menghasilkan air dengan standar yang ditetapkan, yaitu :
- Bak Equalisasi A dan B
Bentuk dari bak Equalisasi ini sendiri yang segi empat, dan dibagi
menjadi dua yaitu Bak Equalisasi A dan Bak Equalisasi B. Pada
Bak Equalisasi A akan dilakukan penampungan limbah cair dari
setiap pabrik PPCI Pemalang yang berfungsi untuk
menyeragamkan limbah cair yang ditampung. Proses
penyeragaman ini tentu saja mempunyai fungsi khusu, yaitu agar
dapat memudahkan dalam penentuan reagen yang akan digunakan.
Kemudian, pada bak equalisasi B akan dilakukan pengontrolan pH
dari limbah cair sebelum masuk ke proses selanjutnya.
Pengontrolan pH ini dilakukan dengan menambahkan zat kimia,
seperti penambahan caustic jika limbah terlalu asam atau
penambahan asam jika limbah cair terlalu basa. pH dari limbah cair
ini akan sangat menmpengaruhi pertumbuhan daei bakteri yang
akan digunakan pada proses selanjutnya. Saat limbah terlalu asam,
maka bakteri yang digunakan akan lebih cepat mati sedangkan jika
limbah cair terlalu basa, sifat tersebut dapat menghambat kerja dari
bakteri itu sendiri.

- Tangki Produk Limbah


Pada tangkI produk limbah ini limbah cair dari bak
Equalisasi A dialirkan yang kemudian akan dilakukan penetralan.
Proses penetralan dilakukan dengan menambahkan 6kg PAC dan
2-3kg kapur. Lalu dilakukan proses pencampuran dilanjutkan
dengan pengendepan yang akan berlangsung selama kurang lebih
4-5 jam. Setelah proses yang cukup lama, kemudian limbah akan
dialirkan ke bak Equalisasi B. dari bak Equalisasi B akan
dilanjutkan ke Bak Aerasi dengan jumlah tranfer kurang lebih
mencapai 7m3/hari.

- Bak Aerasi
Bak aerasi merupakan salah satu proses pada unit WWTP
dengan melakukan penambahan oksigen yang bekerja sebagai
sumber energi bagi bakteri agar dapat melakukam dekomposisi zat
organic yang terdapat didalam limbah cair tersebut. Proses
dekomposisi ini dapat menurunkan parameter COD dan BOD.
Jumlah COD yang terkandung didalam bak ini sendiri sebesar
2000-3000 ppm. Pada bak aerasi ini bakteri akan diberi makan
dengan 1 kg gula yang dilarutkan pada SP36 900 gram, dan urea
sebanyak 1,5kg setiap hari.

- Tangki pengndapan bakteri


Air yang telah diproses pada bak aerasi akan dialirkan pada tangka
ini dengan metode gravitasi. Selain itu bakteri yang tersisa akan
dikembalikan lagi dengan jangka waktu kurang lebih 1 jam sekali.
- Final Lagoon
Pada tahap terakhir ini air yang telah diproses akan ditampung dan
dilakukan pemurnian biologis secara alami dan disesuaikan dengan
derajat pengolahan yang ditentukan. Air limbah akan dialirkan
Kembali lagi ke bak aerasi jika COD yang terkandung masih
melebihi derajat yang diinginkan. proses ini dapat dilakukan
berulang kali sampai kandungan COD telah mencapai derajat
pengolahan yang ditentukan yaitu kurang dari 250. Angka ini
menunjukan abahwa air yang telah diproses dapat dialirkan ke
lingkungan sekitar.
-

3. Kesimpulan

Anda mungkin juga menyukai