0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
619 tayangan24 halaman

Dasar dan Metode Logoterapi Frankl

Makalah ini membahas logoterapi, salah satu jenis psikoterapi yang berfokus pada penemuan makna hidup. Logoterapi dikembangkan oleh Viktor Frankl berdasarkan pengalamannya selama Perang Dunia II. Metode dan konsep dasar logoterapi dijelaskan dalam makalah ini."

Diunggah oleh

Ri Parhusip
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
619 tayangan24 halaman

Dasar dan Metode Logoterapi Frankl

Makalah ini membahas logoterapi, salah satu jenis psikoterapi yang berfokus pada penemuan makna hidup. Logoterapi dikembangkan oleh Viktor Frankl berdasarkan pengalamannya selama Perang Dunia II. Metode dan konsep dasar logoterapi dijelaskan dalam makalah ini."

Diunggah oleh

Ri Parhusip
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH PSIKOTERAPI

LOGOTERAPI

Dosen Pengampu

Nancy Naomi Aritonang,[Link]

Disusun Oleh :

1. Rita Mauli Parhusip (19900013)

2. Revi Yesika Hombing (19900016)

3. Ario Manurung (199900032)

4. Jelita Dwisani Manurung (19900042)

5. Sri Hayati Lumbanbatu (19900048)

6. Elsa Grace Cintya Harianja (19900052)

7. Gratia Adisty Pakpahan (19900057)

8. Partogi Jr. A Sitohang (19900103)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS HKBP NOMENSEN

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga makalah ini
dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih terhadap bantuan
dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun
materinya.

Kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman untuk
para pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca
praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kami yakin masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Medan,11 Desember 2021

Kelompok 7

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................1
DAFTAR ISI...................................................................................................................1

BAB I..............................................................................................................................3

Latar Belakang.............................................................................................................3

Rumusan Masalah.......................................................................................................3

Tujuan..........................................................................................................................4

BAB II.............................................................................................................................5

2.1. Dasar - Dasar Logoterapi....................................................................................5

2.1.1. Sejarah Logoterapi.........................................................................................5

2.1.2. Batasan Umum Logoterapi...........................................................................6

2.1.3. Teori yang Mendasari Logoterapi................................................................8

2.1.4. Kesehatan Mental menurut Logoterapi.......................................................9

2.1.5. Konsep Dasar Logoterapi............................................................................10

2.1.6. Landasan Filosofi dari Logoterapi...............................................................11

2.1.7. Faktor yang Mempengaruhi Kebermaknaan Hidup..................................13

2.1.8. Proses - Proses Penemuan Makna Hidup................................................16

2.2. Metode Logoterapi

2.2.1. Tujuan Logoterapi........................................................................................17

2.2.2. Hubungan Konseli dan Konselor dalam Logoterapi..................................17

2.2.3. Tahapan - Tahapan dalam Logoterapi........................................................18

2.2.4. Teknik Logoterapi........................................................................................19

2.3. Kelebihannya dan Kekurangan Logoterapi........................................................22

BAB IV.........................................................................................................................35

3.1. Kesimpulan........................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................26
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang

Kebutuhan akan bimbingan dan konseling sangat diperlukan individu. Karena individu
merupakan pribadi yang unik yang sedang berkembang menuju kedewasaan. Dampak
modernisasipun menjadi salah satu latar belakang perlunya bimbingan dan konseling, karena
dampak dari modernisasi itu yang dapat memunculkan masalah sosial dan pribadi. Dalam
masalah sosial, salah satu masalah yang muncul adalah berkaitan dengan keluarga.
Individual merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga. Masalah keluarga itu
salah satunya dapat dibantu dengan konseling keluarga. Dalam melakukan konseling
keluarga diperlukan beberapa teori konseling yang dapat mendukung pelaksanaan konseling,
salah satunya yang dibahas dalam makalah ini yaitu logoterapi yang merupakan salah satu
bentuk psikoterapi eksistensial yang didasarkan atas analisis dari eksistensi seseorang.

Pendekatan eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model utama yang lain,
psikoanalisis dan behaviorisme. Pendekatan logoterapi sangat menemukan makna dari
penderitaannya dan juga makna mengenai kehidupan dan cinta. Oleh karena itu, dalam
penerapan logoterapi dalam konseling keluarga pun ditujukan untuk mencapai tujuan
tersebut.

Logoterapi berpandangan bahwa ‘makna hidup’ (the meaning of life) dan ‘hasrat untuk hidup
bermakna’ (the will to meaning) merupakan motif azasi manusia yang dapat dilihat dalam
dimensi spiritual atau ‘noetic’. Jadi, Frankl berpendapat bahwa ada dimensi lain selain
dimensi somatik dan psikis, yaitu dimensi spiritual. Tampaknya Frankl tidak memisahkan
antara fisik, psikis dan spiritual seorang manusia dan menganggapnya merupakan satu
kesatuan yang [Link] dasar spiritual yang muncul dari dalam diri seseorang dapat
terjadi sebagai akibat ketidakmampuannya untuk muncul secara spiritual mengatasi kondisi
fisik dan psikisnya.

II. Rumusan Masalah

✓ Bagaimana sejara terbentuknya Logoterapi?

✓ Apasaja metode - metode dari Logoterapi?

✓ Bagaimana hubungan Logoterapi dengan aliran Psikologi Lainnya?


✓ Apa kekurangan dan kelebihan dari Logoterapi?

✓ Apasaja instrumen penilaian dalam Logoterapi?

III. Tujuan

✓ Untuk mengetahui sejarah terbentuknya Logoterapi

✓ Untuk mengetahui metode - metode yang tercangkup dalam Logoterapi

✓ Untuk mengetahui hubungan Logoterapi dengan aliran Psikologi Lainnya

✓ Untuk mengetes kekurangan dan kelebihan dari Logoterapi

✓ Untuk mengetahui instrumen penilaian dalam Logoterapi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Dasar – Dasar Logoterapi

2.1.1 Sejarah Logoterapi

Viktor Emil Frankl dilahirkan di Wina pada tanggal 26 Maret 1905 dari keluarga Yahudi.
Frankl merupakan anak kedua dari pasangan Gabriel Frankl dan Elsa Frankl. Nilai-nilai dan
kepercayaan atau spiritual Yudaisme berpengaruh kuat atas diri Frankl, khususnya persoalan
mengenai makna hidup. Di tengah suasana kehidupan keluarga yang memperhatikan hal-hal
keagamaan, Frankl menjalani sebagian besar hidup dan pendidikannya, mulai pendidikan
dasar hingga pendidikan tinggi (Koswara, 1992; Bastaman, 2007).

Viktor E. Frankl (1905-1997) berasal dari kota Vienna, Austria adalah Profesor bidang
neurologi dan psikiatri di The University of Vienna Medical School dan guru besar luar biasa
bidang logoterapi pada U.S. International University. Dia adalah pendiri apa yang biasa
disebut madzhab ketiga psikoterapi dari Wina (setelah psikoanalisis S. Freud dan psikologi
individu Alfred Adler), yaitu aliran logoterapi (Guttmaun, 1996).

Menurut Frankl dalam Bastaman 2007, dari tahun 1942 sampai 1945, Frankl menjadi
tawanan di "kamp konsentrasi maut" Jerman, dimana orang tuanya, saudara laki-lakinya, istri
dan anak-anaknya mati. Pengalaman mengerikan tersebut tidak pernah hilang dari
ingatannya, tetapi dia bisa menggunakan kenangan mengerikan itu secara konstruktif dan
tidak mau kenangan itu memudarkan rasa cinta dan kegairahannya untuk hidup.

Di kamp itulah, Frankl mengalami dan menyaksikan para tahanan disiksa, diteror dan
dibunuh secara kejam. Frankl berusaha turut meringankan penderitaan sesama tahanan
dengan membesarkan hati mereka yang putus asa dan membantu menunjukkan hikmah dan
arti hidup, walaupun dalam keadaan menderita. Frankl melihat bahwa tahanan yang tetap
menunjukkan sikap tabah dan mampu bertahan itu adalah mereka yang berhasil
mengembangkan dalam diri mereka tentang harapan akan kebebasan. Harapan bertemu
kembali dengan keluarganya, serta meyakini akan pertolongan Tuhan dengan berbuat
kebajikan, berhasil menemukan dan mengembangkan makna dari penderitaan mereka
(meaning in suffering). Frankl banyak belajar tentang makna hidup, dan lebih spesifik lagi
makna penderitaan (Bastaman, 2007).
Perang Dunia II berakhir dan semua tawanan yang masih tersisa di bebaskan, Frankl
kembali ke Wina sebagai kepala bagian neurologi dan psikiatri di Poliklinik Hospital dan
mengajar kembali di The University of Vienna Medical School. Selanjutnya Frankl
menyebarluaskan pandangannya tentang logoterapi melalui artikel, buku dan ceramah-
ceramah. Ia juga aktif melakukan kunjungan kunjungan ke berbagai universitas di seluruh
dunia sebagai dosen tamu atau pembicara dalam bidang logoterapi (Bastaman, 2007).

2.1.2 Batasan umum Logoterapi

Logoterapi merupakan sebuah aliran psikologi atau psikiatri modern yang menjadikan
makna hidup sebagai tema sentralnya. Dikelompokkan ke dalam aliran eksistensial atau
psikologi humanistik. Frankl yang pada awalnya merupakan pengikut Freud dan Adler,
membelot dari ajaran para seniornya tersebut (Morgan, 2012). Hal ini disebabkan oleh
pengalamannya dengan para pasien yang membuatnya sadar adanya perubahan sindroma
repressed sex dan sexually frustrated dari ajaran Freud menjadi repressed meaning dan
existential frustrated. Begitupun dengan ajaran Adler dari feeling inferiority menjadi feeling
of meaningless dan emptyness. Berbagai perubahan paradigma ini, kemudian menurut Frankl
memerlukan suatu pendekatan baru, yaitu logoterapi (Barnes, 2000; Frankl dalam Bastaman,
2007).

Logoterapi berasal dari kata "Logos" yang dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning)
dan juga rohani berarti (spiritual), kata "Terapi" berarti penyembuhan atau pengobatan.
Secara umum logoterapi dapat digambarkan sebagai corak psikologi atau psikiatri yang
mengakui adanya dimensi spiritual pada manusia disamping dimensi ragawi dan kejiwaan,
serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup
bermakna (the will to meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf
kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakan (Frankl dalam Bastaman 2007).
Logoterapi bertujuan membantu pasien menemukan makna hidup. Namun Frankl
menyatakan bahwa spirituality atau kerohanian dalam logoterapi tidak mengandung konotasi
agama, bahkan ajaran logoterapi bersifat sekuler (Tomy, 2014).

Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna dalam hidup seseorang
merupakan motivator utama orang tersebut. Oleh sebab itu Viktor Frankl dalam Bastaman
2007 menyebutnya sebagai keinginan untuk mencari makna hidup, yang sangat berbeda
dengan pleasure principle (prinsip kesenangan atau lazim dikenal dengan keinginan untuk
mencari kesenangan) yang merupakan dasar dari aliran psikoanalisis Freud dan juga berbeda
dengan will (keinginan untuk mencari kekuasaan), dasar dari aliran psikologi Adler yang
power memusatkan perhatian pada striving for superiority (perjuangan untuk mencari
keunggulan).

Orang yang hidupnya terus menerus mencari kenikmatan, akan gagal mendapatkannya
karena ia memusatkannya pada hal-hal tersebut. Orang itu akan mengeluh bahwa hidupnya
tidak mempunyai arti yang disebabkan oleh aktivitasnya yang tidak mengandung nilai-nilai
yang luhur. Jadi yang penting bukanlah aktivitas yang dikerjakannya, melainkan bagaimana
caranya ia melakukan aktivitas itu, yaitu sejauh mana ia dapat menyatakan keunikan dirinya
dalam aktivitasnya itu (Guttmaun, 1996).

Frankl menekankan bahwa kematian atau ketidakkekalan hidup tidak membuat hidup itu
tidak bermakna. Ketidakkekalan hidup lebih terkait dengan sikap bertanggung jawab, karena
segala sesuatunya tergantung dari kemampuan kita untuk mewujudkan kemungkinan-
kemungkinan yang pada dasarnya bersifat tidak kekal. Logoterapi tidak menyikapi setiap
penderitaan (termasuk kematian) secara pesimistis, tetapi secara aktif (Tomy, 2014).

Dari pernyataan itu, Frankl dalam Bastaman 2007, menekankan sikap optimis dalam
menjalani kehidupan dan mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan dan aspek negatif yang
tidak dapat diubah menjadi sesuatu yang positif. Karena manusia mempunyai kapasitas untuk
melakukan hal itu dan mampu mengambil sikap yang tepat terhadap apa yang sedang
dialaminya.

2.1.3 Teori yang Mendasari Logoterapi

Terdapat beberapa teori yang mendasari timbulnya pendekatan psikoterapi dengan teknik
Logoterapi, antara lain (Mcleod, 2003):

1. Eksistensialisme.

Logoterapi merupakan salah satu teknik psikoterapi eksistensial, dimana tujuan teknik
psikoterapi yang menggunakan filosofi eksistensialisme ini adalah untuk mengungkapkan
makna dasar keberadaan yang mendasari kehidupan manusia sehari-hari guna mencapai
kehidupan autentik yang lebih baik. Pendekatan filosofi eksistensialisme ini menyatakan
bahwa :
 Manusia eksis dalam waktu, yang maksudnya adalah kejadian yang terjadi pada masa
kini akibat adanya suatu sumber dimasa lalu dan hingga masa yang akan datang
dengan berbagai kemungkinan.
 Manusia berusaha untuk eksis, maksudnya adalah eksistensi manusia dalam dunia
diungkapkan melalui dirinya sendiri (pikiran, perasaan, tingkah laku, kesadaran)
dalam hubungannya dengan organisasi ruang yang ada di sekitarnya.
 Kecemasan, ketakutan dan perhatian yang terpusatkan pada suatu kejadian merupakan
konsekuensi dari sikap menyayangi terhadap seseorang dan dunia disekitarnya.

Dari pendekatan filosofi eksistensialisme ini dapat diambil kesimpulan. bahwa


keberadaan manusia. di dunia mensyaratkan kemampuan bertanggungjawab terhadap
tindakannya, sehingga dengan demikian manusia tersebut bersedia untuk ditempatkan dalam
ruang yang telah ditentukan dalam berbagai kemungkinan kondisi yang ada (Mcleod, 2003).

2. Stoicisisme (tenang/sabar/tabah)

Sikap ketabahan/sabar/tenang juga harus dimiliki, karena tidak ada masalah. yang tidak
ada dalam dunia ini. Kita selalu dapat menentukan sikap menolong diri sendiri. Manusia yang
berpendirian dan berkeyakinan selalu dapat berubah tetapi juga tergantung pada penafsiran
mereka terhadap masalah. Bahkan dalam alam kematian dan penderitaan, dengan
menujukkan keteguhan hati kita dapat memposisikan diri dalam situasi yang bermakna.

3. Pengalaman Pribadi Frankl (dalam studinya sebagai Psikiater)

"Ini adalah pelajaran, Selama tiga tahun saya menghabiskan waktu untuk belajar di
Auschwitz dan Dachau, hal lain sama keadaanya, untuk melestarikan suasana belajar yang
berorientasi kepada suatu tugas dimasa mendatang, atau menjadi manusia yang berharga,
menanti masa depan, untuk sebuah makna yang harus diwujudkan dimasa mendatang".
Logoterapi merupakan perolehan ide-ide oleh Frankl dan improfisasi bahwa tidak semua
yang nyata berkaitan dengan pengalamannya dalam mempelajari atau makna dari kehidupan.

2.1.4 Kesehatan Mental menurut Logoterapi

Menurut Frankl dalam Bastaman 2007, penyebab utama gangguan mental yang diderita
seseorang adalah kegagalan manusia modern memperoleh arti kehidupan. Kehidupan modern
telah mengabaikan keinginan manusia untuk mencari arti atau dasar hidup yang
sesungguhnya. Frankl percaya bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa lebih
efektif membantu seseorang untuk bertahan hidup, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun,
selain kesadaran bahwa hidupnya memiliki makna (Tomy, 2014).

Kesehatan mental seseorang didasarkan pada ketegangan dengan tingkatan tertentu yaitu
tingkatan ketegangan yang sudah dicapainya dan tingkatan yang masih harus dicapainya, atau
kesenjangan diantara kondisi seseorang pada saat tertentu dengan kondisi yang seharusnya
dicapai. Salah jika kita beranggapan bahwa yang dibutuhkan manusia untuk mencapai
kesehatan mental adalah keseimbangan, atau yang dalam ilmu biologi disebut dengan istilah
homeostatis, yaitu sebuah kondisi tanpa tekanan. Melainkan upaya dan perjuangan untuk
meraih sasaran yang bermakna, sebuah tugas yang dipilih dengan bebas. Yang dibutuhkan
manusia bukan menghilangkan tekanan dengan ongkos apapun, melainkan panggilan untuk
mencari makna hidup yang potensial yang harus dia penuhi. Dinamakan Frankl sebagai
noodinamik, yaitu dinamika eksistensi atau kehidupan yang terletak diantara dua kutub
medan ketegangan; kutub pertama mewakili makna yang harus dipenuhi manusia, sedangkan
kutub lain mewakili orang yang harus memenuhi makna tersebut. Jadi, jika para terapis ingin
memperkuat kesehatan mental pasien mereka, mereka tidak boleh ragu-ragu untuk
menciptakan sejumlah ketegangan yang logis dengan mengajak si pasien untuk meninjau
kembali makna hidupnya (Bastaman, 2007).

Frankl juga mengakui peran agama dalam kesehatan mental, meskipun menurutnya
hubungan antar agama dan kesehatan mental tidak merupakan hubungan kausalitas langsung.
Tujuan psikoterapi pada umumnya adalah mengembangkan kehidupan dengan mental yang
sehat (mental health), sedangkan tujuan akhir agama adalah mengembangkan keimanan
(faith) dan penyelamatan rohani (spiritual salvation). Walaupun keduanya mempunyai tujuan
yang berbeda, yang satu berdimensi psikologis dan yang lain berdimensi spiritual, tetapi
keduanya mungkin berkaitan dalam hal akibat sampingnya. Seorang beriman belum tentu
sehat mentalnya, danorang yang sehat mentalnya belum tentu beriman (Bastaman, 2007).

2.1.5 Konsep Dasar Logoterapi

Logoterapi memandang manusia sebagai makhluk bebas yang berusaha untuk merubah
kehidupannya berdasarkan keinginan untuk mewujudkan makna yang dimilikinya menjadi
kenyataan.

Dalam pelaksanaannya logoterapi memiliki tiga konsep utama, yaitu :


1. Makna ada pada setiap situasi hidup, baik dalam penderitaan atau kebahagiaan.
Makna hidup merupakan sesuatu yang dianggap penting, dan memberikan nilai
khusus bagi seseorang. Bila seseorang berhasil menemukan dan memenuhi makna
hidupnya, maka kehidupan akan menjadi lebih berarti dan berharga. Dan pada
akhirnya akan menimbulkan penghayatan bahagia (happiness) sebagai akibat
sampingnya (Bastaman, 2007).
2. Kebebasan berkehendak, yaitu setiap manusia memiliki kebebasan yang tak terbatas
dalam menemukan makna hidupnya. Makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan
itu sendiri melalui karya-bakti, keyakinan atas harapan dan kebenaran serta
penghayatan atas keindahan, iman dan cinta kasih.
3. Manusia memiliki kemampuan dalam mengambil sikap terhadap penderitaan dan
peristiwa tragis yang terjadi. Apabila keadaan tragis tersebut tidak dapat diubah, maka
sebaiknya manusia mengambil sikap yang tepat agar tidak terhanyut dalam
menghadapi keadaan tersebut (Bastaman, 2007). Ketiga konsep tersebut berkaitan
dengan eksistensi manusia, pada logoterapi ditandai dengan kerohanian (spirituality),
kebebasan (freedom) dan tanggung jawab (responsibility).

2.1.6 Landasan Filosofi dari Logoterapi

Logoterapi memiliki tiga pilar yang menjadi landasan filosofisnya, yaitu kebebasan
berkeinginan, keinginan akan makna dan makna hidup (Sjolie, 2002; Haditabardkk., 2013;
Tomy, 2014).

1. Kebebasan berkeinginan (The Freedom of Will)

Tema khas yang selalu ada dalam literatur eksistensial (termasuk logoterapi) adalah bahwa
orang itu bebas untuk menentukan pilihan di antara alternatifalternatif yang ada, dan oleh
karenanya mengambil peranan yang besar dalam menentukan nasibnya sendiri (Wong,
2011).Pandangan logoterapi, manusia memiliki kebebasan yang luas, tetapi sifatnya terbatas,
karena manusia adalah makhluk yang serba terbatas. Terdapatdua hal yang membatasi
kebebasan ini.

1) Pertama, kebebasan manusia bukan merupakan kebebasan dari kondisikondisi


(biologis, psikologis dan sosiologis), melainkan kebebasan untuk menentukan sikap
terhadap kondisi-kondisi tersebut. Frankl sendiri berpendapat bahwa manusia bisa
menentukan sendiri apakah dia akan menyerah atau mengatasi kondisi yang
dihadapinya. Manusia tidak sekedar hidup tetapi dia selalu memutuskan bentuk hidup
yang akan [Link] inilah yang menyebabkan manusia disebut “the
self determining being” yang menunjukkan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk
menentukan apa yang dianggap penting dan baik bagi dirinya.
2) Kedua, kebebasan harus disertai tanggung jawab (responsibility). Tanpa tanggung
jawab, kebebasan mudah sekali berkembang menjadi kesewenang-wenangan.
Logoterapi berusaha membuat pasien menyadari secara penuh tanggung jawab dirinya
dan memberi kesempatan untuk memilih, untuk apa, kepada apa, atau kepada siapa
harus bertanggung jawab. Penunjukan kebebasan dalam pandangan Frankl berpuncak
pada kebebasan berkeinginan sehingga ia menggunakannya sebagai landasan pertama
logoterapi(Koswara, 1992)

2. Keinginan akan makna (The Will to Meaning)

Upaya manusia untuk mencari makna hidup merupakan motivator utama hidupnya.
Makna hidup ini merupakan sesuatu yang unik dan khusus, artinya ia hanya bisa dipenuhi
oleh yang bersangkutan; hanya dengan cara itulah ia bisa memiliki arti yang bisa memuaskan
keinginan orang tersebut untuk mencari makna hidup (Wong, 2011). Keinginan untuk
mencari makna hidup, sangat berbeda dengan pleasure principle (prinsip kesenangan atau
lazim dikenal dengan keinginan untuk mencari kesenangan) yang merupakan dasar dari aliran
psikoanalisis Freud dan juga berbeda dengan will to power (keinginan untuk mencari
kekuasaan), dasar dari aliran psikologi Adler yang memusatkan perhatian pada striving for
superiority (perjuangan untuk mencari keunggulan) (Sjolie, 2002).

Terhadap kedua pendapat ini, Frankl dalam Bastaman 2007 memberitanggapan bahwa
kesenangan sama sekali bukan tujuan, melainkan “akibat samping” (by product) dari
tercapainya suatu tujuan. Kekuasaan adalah sarana atau alat untuk mencapai tujuan dan
bukan tujuan itu sendiri. Frankl sengaja menyebut “the will to meaning” dan bukan “the drive
to meaning”, karena makna dan nilai-nilai hidup tidak mendorong (to push, to drive), tetapi
seakanakan menarik (to pull) dan menawarkan (to offer) kepada manusia
untukmemenuhinya. Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk
memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat
dengan makna.

3. Makna hidup (The Meaning of Life)


Yang dimaksud dengan makna oleh logoterapi adalah makna yang terkandung dan
tersembunyi dalam setiap situasi yang dihadapi seseorang sepanjang hidup mereka.

Arti dari makna hidup menurut Frankl dalam Bastaman 2007 adalah makna tersendiri
dari sebuah situasi yang konkrit. Lebih mengartikan makna hidup sebagai kesadaran akan
adanya suatu kesempatan atau kemungkinan yang dilatar belakangi oleh realitas atau dalam
kalimat yang sederhana menyadari apa yang bisa dilakukan di dalam situasi tertentu.
Kepadahidup hanya bisa menjawab dengan bertanggung jawab. Karena itu, logoterapi
menganggap sikap bertanggung jawab sebagai esensi dasar kehidupan manusia.

Dengan menyatakan bahwa manusia bertanggung jawab dan harus mewujudkan berbagai
potensi makna hidup, Frankl ingin menekankan bahwa makna hidup yang sebenarnya harus
ditemukan di dalam dunia dan bukan didalam batin atau jiwa orang tersebut. Dia membuat
istilah khusus untuk menggambarkannya, yaitu ”transendensi diri” dalam keberadaan
manusia” (the self transcendence of human existence) (Tomy, 2014).

2.1.7 Faktor yang Mempengaruhi Kebermaknaan Hidup

Logoterapi sebagai filsafat manusia dalam beberapa hal banyak kesamaan dan
kesejalanan dengan pandangan filsafat yang lain. Pandangan Logoterapi terhadap Manusia
adalah sebagai berikut (Bastaman, 2007) :

 Manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-
psiko-sosiokultural-spiritual.
 Manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawi dan
kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak
mengandung konotasi keagamaan karena dimensi ini dimiliki manusia tanpa
memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl
menggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak
disalahpahami sebagai konsep agama.
 Dengan adanya dimensi noetic ini manusia mampu melakukan selfdetachment, yakni
dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai
dirinya sendiri.
 Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa
berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu
mengolah lingkungan fisik di sekitarnya
Tiga nilai berikut yang dapat menjadi sumber makna hidup seseorang (Tomy, 2014)
adalah :

1. Nilai-nilai kreatif/daya cipta. (Creative Values)

Nilai-nilai ini diwujudkan dalam aktivitas kreatif dan produktif. Makna dari kegiatan
berkarya lebih terletak pada sikap dan cara kerja yang tercerminkan keterlibatan pribadi
(dedikasi, cinta kerja dan kesungguhan) pada pekerjaannya. Melalui kegiatan berkarya,
bekerja dan melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung
jawab dapat menemukan arti dan menghayati kehidupan secara bermakna.

2. Nilai penghayatan (Experential Values)

Nilai ini dilakukan dengan mengambil sesuatu yang bermakna dari lingkungan luar dan
mendalaminya. Mendalami nilai-nilai penghayatan berarti mencoba memahami, meyakini
dan menghayati berbagai nilai yang ada dalam kehidupan, seperti kebenaran, keindahan,
kasih sayang, kebajikan dan keimanan dapat memberikan arti pada kehidupan seseorang.

3. Nilai bersikap (Attitudinal Values)

Mengambil sikap yang tepat atau sikap yang diberikan individu terhadap kondisiyang tidak
dapat dapat diubah atau peristiwa tragis yang telah terjadi dan tidak dapat dihindari lagi.
Dalam hal ini, yang dapat diubah adalah sikap, bukan peristiwa tragisnya. Dengan
mengambil sikap tepat, maka beban pengalaman tragis itu berkurang, bahkan dapat
menimbulkan makna yang lebih berarti (Schulenberg dkk, 2010).

Selain ketiga sumber makna hidup diatas, H.D. Bastaman menambahkan sumber
maknahidup yang keempat yaitu Nilai Penghargaan (Hopeful values). Harapan adalah
keyakinan akan terjadinya hal-hal yang baik atau membawa perubahan yang baik dikemudian
hari. Adanya keyakinan seperti ini mengandung tujuan mengarahkan seseorang untuk
menemukan makna hidup (Bastaman, 2007). Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas,
perlu diungkapkan mengenai karakteristik makna hidup (Frankl dalam Bastaman, 2007),
yaitu :

1. Makna hidup itu sifatnya “unik” dan “personal”.Artinya, apa yang dianggap berarti oleh
seseorang belum tentu berarti bagi orang lain. Bahkan mungkin, apa yang dianggap penting
dan bermakna saat ini belum tentu sama bermaknanya bagi orang itu pada saat yang lain.
2. Makna hidup adalah “spesifik” dan “nyata”. Artinya makna hidup bukan sesuatu yang
khayal, melainkan makna hidup dapat ditemukan pada segala kondisi. Makna hidup juga
tidak perlu sesuatu yang serbaabstrak ataupun idealis, melainkan dapat ditemukan dalam
pengalamanpengalaman yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

3. Makna hidup memberikan pedoman dan arah pada kegiatan yang dilakukan.

4. Makna hidup diakui sebagai sesuatu yang bersifat mutlak, sempurna dan paripurna. Yang
disebut dengan The Ultimate Meaning of Life.

Menurut Frankl dalam Koeswara, 1992, seseorang yang tidak menemukan makna hidup
akan mengalami sindroma ketidakbermaknaan (syndrom of meaninglessness). Sindroma ini
terdiri dari dua tahapan yaitu kevakuman eksistensi (existential vacum) dan neurosis
noogenik.

Kevakuman eksistensial terjadi ketika hasrat akan makna hidup tidak terpenuhi.
Gejala-gejala yang ditimbulkan dari kevakuman eksistensial ini antara lain perasaan hampa,
bosan, kehilangan inisiatif dan kekosongan dalam hidup. Fenomena ini merupakan fenomena
yang menonjol pada masyarakat modern saat ini. Hal ini dikarenakan pola masyarakat
modern yang sudah terlalu jauh meninggalkan hal-hal yang bersifat religi dan moralitas. Hal
ini juga diakui para terapis yang berada di barat bahwa mereka sering menghadapi pasien
dengan keluhan-keluhan yang menyangkut permasalahan yang terkait makna hidup seperti
merasa tidak berguna dan perasaan hampa (Bastaman, 2007).

Frankl dalam Bastaman 2007 menekankan bahwa kevakuman eksistensialis bukanlah sebuah
penyakit dalam pengertian klinis. Frankl menyimpulkan bahwa frustasi eksistensi adalah
sebuah penderitaan batin ketika pemenuhan akan hasrat untuk mempunyai hidup yang
bermakna terhambat. Frankl menyatakan bahwa kevakuman eksistensial tersebut
bermanifestasi dalam bentuk neurosis kolektif, neurosis hari Minggu, neurosis pengangguran
dan pensiunan, dan penyakit eksekutif. Beberapa bentuk manifestasi ini gejalanya sama yaitu
kebosanan dan kehampaan, namun terdapat pada kondisi, individu dan waktu tertentu.

Neurosis noogenik merupakan sebuah simptomatologi yang berakar kevakuman


eksistensialis. Frankl menerangkan bahwa neurosis ini terjadi apabila kevakuman
eksistensialis disertai dengan simptom-simptom klinis. Disini permasalahan patologis
tersebut berakar pada dimensi spiritual dan noologis yang berbeda dengan neurosis
somatogenik (neurosis yang berakar pada fisiologis) maupun neurosis psikogenik (neurosis
yang berakar pada permasalahan psikologis). Menurut Frankl neurosis noogenik itu sendiri
dapat timbul dengan berbagai neurosis klinis seperti depresi, hiperseksualitas, alkoholisme,
narkoba, dan kejahatan (Bastaman, 2007).

Orang yang mengalami kehampaan dan kekosongan hidup mungkin lari kepada
alkohol dan narkoba dalam rangka mengisi kekosongan hidup tersebut. Kasus alkoholik dan
narkoba yang berakar pada permasalahan kevakuman eksistensialis inilah disebut dengan
neurosis noogenik (Koeswara, 1992).

2.1.8 Proses- proses Penemuan makna Hidup

Bastaman (1996) membagi proses penemuan makna hidup berdasarkan urutan yang
dialami. Agar lebih jelas Bastaman menjabarkan proses penemuan makna hidup ke dalam
sebuah skema, yaitu:

Pengalaman Tragis

Penghayatan Tak Bermakna

Penemuan Makna dan Tujuan Hidup

Keterikatan Diri

Kegiatan Terarah dan Pemenuhan Makna Hidup

Pengubahan Sikap

Hidup Bermakna

Happiness

2.2 Metode Logoterapi


2.2.1 Tujuan Logoterapi

Menurut Frankl dalam Ni Ketut (2017), Logoterapi bertujuan agar dalam masalah
yang dihadapi klien dia bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta.
Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah
tersebut.

Tujuan utama logoterapi adalah meraih hidup bermakna dan mampu mengatasi secara
efektif berbagai kendala dan hambatan pribadi. Hal ini diperoleh dengan jalan menyadari dan
memahamai serta merealisasikan berbagai potensi dan sumber daya spiritual yang dimiliki
setiap orang yang sejauh ini mungkin terhambat dan terabaikan. Apabila seseorang tidak
mengerti potensi-potensinya, maka tugas utama orang tersebut adalah menemukannya
(Tomy, dalam Ni Ketut (2017)). Ada pun tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:

1. Memahami adanya potensi dan sumber daya spiritual yang secara universal ada pada
setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
2. Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan
diabaikan bahkan terlupakan;
3. Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk
mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar
mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.

2.2.2 Intervensi Klinis dari Logoterapi


Metode penanganan atau teknik-teknik terapi yang dikembangkan oleh logoterapi,
digunakan untuk mengatasi gangguan-gangguan neurosis somatogenik, neurosis psikogenik,
dan neurosis noogenik. Untuk somatogenik, yakni gangguan perasaan yang berkaitan dengan
ragawi, logoterapi menggunakan medical ministry, sedangkan untuk neurosis psikogenik
yang bersumber dari hambatan-hambatan psikis digunakan teknik paradoxical intention dan
dereflection. Pelaksanaan logoterapi bermanfaat untuk mengatasi fobia, kecemasan,
gangguan obsesi kompulsif dan pelayanan medis lainnya. Morgan, 2012 menyebutkan
penggunaan logoterapi pada kasus-kasus geriatri sangat bermanfaat sebagai terapi tambahan
untuk mengurangi gangguan memori yang telah terjadi.
Teknik logoterapi pada remaja dengan Kanker fase terminal ditemukan sangat
bermanfaat dalam mengurangi penderitaan dan dalam menemukan makna hidup. Kondisi
emosional dan intervensi spiritual dalam perawatan paliatif, logoterapi menunjukkan potensi
secara efektif meningkatkan kualitas hidup dan mencegah kekosongan eksistensial yang
disebabkan oleh penyakit terminal pada pasien remaja dengan beban tekanan yang serius
(Kyung-Ah dkk, dalam Ni Ketut (2017)).

2.2.3 Tahapan-tahapan Logoterapi


Proses konseling pada umumnya mencakup tahap-tahap : perkenalan, pengungkapan
dan penjajakan masalah, pembahasan bersama, evaluasi dan penyimpulan, serta pengubahan
sikap dan perilaku. Biasanya setelah masa konseling berakhir masih dilanjutkan pemantauan
atas upaya perubahan perilaku dan klien dapat melakukan konsultasi lanjutan jika diperlukan
(Tomy, 2014).
Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi
pada makna hidup (meaning oriented). Relasi yang dibangun antara konselor dengan konseli
adalah encounter, yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan
keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami dan menerima
sepenuhnya satu sama lain (Tomy, 2014).
Ada empat tahap utama didalam proses logoterapi diantaranya adalah (Tomy, 2014) :
1. Mengambil jarak terhadap gejala (distance from symptom), membantu menyadarkan
penderita bahwa gejala tidak sama (identik) dengan dirinya, tetapi merupakan suatu
kondisi yang dapat dikendalikan oleh penderita.
2. Modifikasi sikap (modification of attitude), membantu penderita mendapatkan
pandangan baru terhadap diri sendiri serta kondisi yang dialaminya, sehingga
penderita dapat menentukan sikap baru dalam menentukan arah dan tujuan hidupnya.
3. Pengurangan gejala (reducing symptoms), upaya menerapkan teknik-teknik logoterapi
dalam menghilangkan gejala secara keseluruhan atau sekurang- kurangnya
mengurangi dan mengendalikan gejala yang dirasakan penderita. Perubahan pada
sikap selanjutnya memberikan umpan balik positif yang membantu seseorang untuk
lebih terbuka dan menemukan makna baru pada situasi.
4. Orientasi terhadap makna (orientation toword meaning), membahas bersama nilai-
nilai dan makna hidup yang secara potensial ada dalam kehidupan pasien, terapis
dalam hal ini berperan untuk membantu pasien memperdalam, memperluas nilai-nilai
yang dimiliki pasien dan menjabarkannya menjadi tujuan yang konkret dalam
kehidupan pasien.
Terapis dalam membahas makna hidup ini menggunakan “Socratic dialogue”, yaitu suatu
pembicaraan yang membantu pasien dalam menemukan makna hidupnya dengan
menggunakan kemampuan fantasi, mimpi, pasien sendiri untuk menjadi suatu tujuan konkret
dalam kehidupan pasien.

2.2.4 Teknik Logoterapi


Untuk memudahkan pemahaman terhadap teknik logoterapi perlu dijelaskan dahulu
suatu fenomena psikologi klinis yang disebut Anticipatory Anxienty, yakni kecemasan yang
ditimbulkan oleh antisipasi individu atas suatu situasi dan atau gejala yang ditakutinya
(Frankl’s dalam Wong 2002; Marshall 2011).
Frankl mencatat bahwa pola reaksi atau respon yang biasa digunakan individu untuk
mengatasi kecemasan antisipatori adalah dengan pola reaksi : fight from fear, menghindari
atau lari dari obyek yang ditakuti dan situasi yang menjadi sumber kecemasan; fight against
obsession, mencurahkan seluruh daya dan upaya untuk mengendalikan, menahan dan
melawan pikiran tentang sesuatu atau keinginan untuk melakukan sesuatu yang sifatnya
memaksa (suatu dorongan yang kuat) dan aneh dalam dirinya; fight for something, melawan
untuk sesuatu hasrat yang berlebihan (misal : kepuasan) yang dalam kenyataan sering disertai
kecenderungan kuat untuk selalu menanti dengan penuh harapan saat sesuatu (kepuasan) itu
terjadi pada dirinya. Dalam logoterapi fenomena itu disebut hyperreflection (terlalu
memperhatikan kesenangan sendiri) dan hyperintention (selalu menghasrati sesuatu) yang
semuanya diluar kewajaran.
Logoterapi mengembangkan teknik-teknik sebagai berikut:
[Link] Intention.
Teknik Paradoxicial Intention pada dasarnya memanfaatkan kemampuan insani dalam
mengambil jarak (self detachment) dan kemampuan mengambil sikap (to take a stand)
terhadap keadaan diri sendiri dan lingkungannya. Selain itu, teknik ini memanfaatkan salah
satu kualitas insani lainnya, yaitu rasa humor. Dalam menerapkan teknik Paradoxicial
Intention penderita dibantu untuk menyadari pola keluhannya, mengambil jarak pada
keluhannya itu dan menanggapinya sendiri secara humoristis. Teknik Paradoxicial Intention
ini berusaha mengubah sikap penderita yang semula serba takut menjadi ”akrab” dengan
obyek yang justru ditakutinya dengan memandang segi-segi humor dari keluhannya. Menurut
Frankl dalam Guttmaun, 1996 mengatakan bahwa kesuksesan dari Paradoxical Intention
mencapai keberhasilan antara 80-90% dari kasus.
Dalam kasus-kasus fobia, teknik paradoksikal intention ini berusaha mengubah sikap
penderita yang semula serba takut menjadi akrab dengan obyek yang justru ditakutinya.
Sedangkan pada kasus-kasus obsesi dan kompulsi, yang biasanya penderita menahan dan
mengendalikan secara ketat dorongan-dorongannya agar tidak muncul, penderita justru
diminta untuk secara sengaja mengharapkan (bahkan memacu) agar dorongan-dorongannya
itu benar-benar mencetus.
Paradoxical intention bisa juga diterapkan kepada penderita insomnia. Rasa takut tidak bisa
tidur memicu keinginan berlebihan untuk tidur, yang malah membuat pasien tidak bisa tidur.
Untuk mengatasi ketakutan ini biasanya Frankl menganjurkan si pasien untuk mencoba tidak
tidur, tetapi melakukan yang sebaliknya, artinya berusaha sedapat mungkin untuk tetap
bangun.
Menurut Frankl’s dalam Marshall (2011), tindakan logoterapi paradoxical intention dalam
mengatasi kecemasan harus memperhatikan sebagai berikut :
 Mampu mengetahui penyebab dan mengeksplorasi masalah kecemasan
 Mampu melawan kecemasan
 Saat melakukan tindakan harus disertai dengan rasa humor dan kreatif
 Tidak menegangkan atau harus relaks bisa dengan cara teknik relaksasi
2. Dereflection.
Teknik Dereflection pada dasarnya memanfaatkan kemampuan transendensi diri (self
transcendence) yang ada dalam diri setiap orang dalam transendensi diri ini seseorang
berupaya untuk keluar dan membebaskan diri dari kondisinya (berusaha untuk tidak lagi
terlalu memperhatikan keluhan-keluhannya). Selanjutnya, ia lebih mencurahkan perhatiannya
kepada hal-hal lain yang lebih positif, lebih bermanfaat, lebih bermakna dan berguna
baginya, lalu memutuskan untuk merealisasikannya. Dengan teknik Dereflection diharapkan
mampu mengubah sikap yang semula terlalu memperhatikan (kesenangan) diri sendiri (self
concerned), sekarang melakukan komitmen untuk melakukan sesuatu yang penting baginya
(self commited). Dereflekction tampaknya sangat bermanfaat dalam konseling bagi klien
dengan preokupasi somatic, gangguan tidur dan digunakan secara spesifik pada gangguan
seksual seperti impotensi dan frigiditas.
3. Medical Ministry (Bimbingan Rohani)
Dalam hidup ini sering ditemukan berbagai krisis dan peristiwa tragis yang tak
terhindarkan lagi, sekalipun upaya-upaya mengatasinya secara maksimal telah dilakukan
(baik menggunakan teknik Paradoxicial Intention dan Dereflection). Penyakit yang tak
tersembuhkan, kelainan bawaan, kemandulan, kematian, dosa dan kesalahan, kecelakaan
yang menyebabkan kecacatan, merupakan contoh peristiwa-peristiwa tragis yang dapat
dialami oleh siapa pun (Guttmaun, 1996).
Mengingat kondisi-kondisi serupa itu tidak dapat dihindari, maka Logoterapi sebagai
”terapi melalui makna” (sekarang mottonya ”sehat melalui makna”) atau ”terapi berwawasan
spiritual” mengarahkan para penderita untuk berusaha mengembangkan sikap (attitude) yang
tepat dan positif terhadap keadaan yang tidak terhindarkan itu. Bimbingan rohani menurut
Frankl tidak berurusan dengan penyelamatan jiwa (soul salvation) yang merupakan tugas
para rohaniawan, tetapi berurusan dengan kesehatan rohani. Roh manusia akan tetap sehat
selama ia tetap sadar akan tanggungjawabnya dalam merealisasi nilai-nilai, termasuk nilai-
nilai bersikap yang ditemui individu. Melalui bimbingan rohani individu didorong ke arah
merealisasi nilai-nilai bersikap, menunjukkan sikap positif terhadap penderitaannya, sehingga
ia bisa menemukan makna dari penderitaannya itu.
4. Modification of Attitudes
Teknik logoterapi ini digunakan untuk noogenic neurosis, depresi dan kecanduan obat
untuk mempromosikan dalam meningkatkan makna hidup. Modification of attitudes juga bisa
digunakan untuk yang mengatasi masalah koping dan masalah pasien yang berbicara terus
menerus (kacau) tanpa tujuan dan yang mempunyai perilaku yang negatif.
5. Appealling Tehnique
Merupakan suatu teknik yang menggunakan gabungan antara paradoksikal intension
dan derefleksi, yang didasarkan pada kekuatan sugesti terapis untuk menuntun pasien
menemukan makna hidupnya. Teknik ini digunakan pada kasus-kasus dimana pasien tidak
mampu lagi menemukan sendiri makna hidupnya seperti pada pasien yang terlalu muda
usianya atau terlalu tua. Dalam metode ini terapis membantu penderita neurosis noogenik
dimana mereka mengalami kehampaan hidup untuk menemukan makna hidupnya sendiri dan
mampu menetapkan tujuan hidupnya secara jelas. Makna hidup ini harus mereka temukan
sendiri dan tak dapat ditentukan oleh siapapun, termasuk oleh logoterapi. Fungsi logoterapi
hanya sekedar membantu membuka cakrawala pandangan penderita terhadap berbagai nilai
sebagai sumber makna hidup, yaitu nilai kreatif, nilai penghayatan dan nilai bersikap.
Disamping itu logoterapi menyadarkan mereka terhadap tanggung jawab pribadi untuk keluar
dari kondisi kehampaan hidup dalam proses penemuan makna hidup ini para konselor/terapis
lebih berperan sebagai rekan yang turut berperan serta.
6. Socratic Dialogue
Socratic Dialogue adalah suatu bentuk percakapan antara terapis dan klien dimana
terapis menggunakan pertanyaan ataupun kalimat-kalimat pertanyaan kepada klien dalam
usahanya untuk membantu agar klien dapat menemukan sendiri jawaban terhadap
permasalahan yang dihadapi saat ini. Dalam Socratic Dialogue, terapis memberikan
pertanyaan-pertanyaan dengan sedemikian rupa sehingga klien menjadi sadar akan impian-
impian mereka yang ter-represi, harapan-haarapan bawah sadar dan hasrat yang terpendam
(self discovery). Teknik yang paling utama dalam logoterapi, seperti paradoksikal intension
dan derefleksi juga dilaksanakan dengan menggunakan teknik interview socratic dialogue.
7. Family Logoterapi
Logoterapi untuk membantu keluarga klien menemukan arti dari peluang di dalam
keluarga melalui Sosial Skills Training (SST), Socratic dialogue dan Existential reflection.
Menurut E. Lukas 1998, Family logoterapi berarti memusatkan kepada terapi keluarga untuk
membantu keluarga memfokuskan pada makna arti dari rintangan, sebagai akibatnya anggota
keluarga yang bermasalah menyadari tentang makna hidup anggota keluarganya bermasalah.

2.2.5 Kelebihan dan Kekurangan Logoterapi


Logoterapi mengajarkan bahwa setiap kehidupan individu mempunyai maksud,
tujuan, makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup kita tidak lagi
kosong jika kita menemukan suatu sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi
kita.
Ada beberapa klien yang tidak dapat menunjukan makna hidupnya sehingga timbul
suatu kebosanan merupakan ketidakmampuan seseorang untuk membangkitkan minat apatis,
perasaan tanpa makna, hampa, gersang, merasa kehilangan tujuan hidup, meragukan
kehidupan. Sehingga menyulitkan konselor untuk melakukan terapi kepada klien tersebut.
Untuk logoterapi, dapat menyulitkan untuk menguji reliabilitas dan validitasnya dengan riset
empiris. Hal ini karena fakta bahwa adalah nyaris tidak mungkin untuk mengukur sejumlah
persepsi abstrak misalnya isolasi eksistensial, kehendak tentang eksistensi, dan ketakutan
atas kematian. Pasien yang tidak terbiasa untuk menggunakan pemikiran abstrak dapat
mengalami lebih banyak kesulitan untuk mengapresiasi dan mengasimilasi ideal filosofis
yang dibutuhkan untuk progresi ke arah kesejahteraan
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Salah satu terapi untuk mengatasi gangguan jiwa adalah dengan psikoterapi.
Psikoterapi telah menjadi bagian dari terapi pada pasien psikiatri. Pengalaman klinis dan
penelitian secara empiris telah menunjukkan bahwa psikoterapi cukup efektif dan ekonomis.
Keuntungan psikoterapi adalah efikasi yang mirip dengan terapi medikamentosa, terapi
tambahan untuk banyak jenis gangguan, mengatasi gejala perilaku dan hubungan
interpersonal, terapi pilihan untuk beberapa gangguan psikiatri, menurunkan biaya perawatan
rumah sakit.
Terdapat berbagai macam jenis psikoterapi, salah satunya adalah dengan teknik
Logoterapi. Logoterapi adalah aliran psikologi atau psikiatri yang mengakui adanya demensi
kerohanian disamping dimensi ragawi kejiwaan dan lingkungan social budaya, serta
beranggapan bahwa kehendak untuk hidup bermakna (the Will to the Meaning) merupakan
dambaan utama manusia untuk meraih kehidupan yang dihayati bermakna (The Meaningfull
Life).
Logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar
filosofis yang satu dengan lainya rat hubun ganya dan saling menunjang yaitu: Kebebasan
berkehendak (The Freedom of will), kehendak hidup bermakna (The Will to Meaning) dan
makna hidup (The Meaning of Life). Tujuan dari Logoterapi adalah membangkitkan
"kemampuan untuk bermakna" dalam individu yang bersifat khusus dan pribadi bagi masing-
masing orang. Teknik yang digunakan dalam Logoterapi antara lain Paradoxicial Intention,
Dereflection, Medical Ministry, Modification of Attitudes, Appealing Tehnique, Socratic
Dialogue dan Family Logoterapi
Dengan logoterapi, klien yang menghadapi kesukaran menakutkan atau berada dalam
kondisi yang tidak memungkinkan beraktifitas dan berkreativitas dibantu untuk menemukan
makna hidupnya dengan cara bagaimana menghadapi kondisi tersebut dan bagaimana a
mengatasi penderitaannya. Dengan cara ini klien dibantu untuk menggunakan kejengkelan
dan penderitaannya sehari-hari sebagai alat untuk menemukan tujuan hidupnya. Pemilihan
logoterapi dipertimbangkan sebagai terapi pilihan yang diberikan pada penderita yang
memiliki tingkat spiritual yang baik serta memiliki nilai-nilai sebagai pedoman hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA
Diniari,N.(2017). Logoterapi Sebuah Pendekatan untuk Hidup [Link]. Fakultas
[Link] Udayana. Diakses :
[Link]
[Link]

Anda mungkin juga menyukai