Dasar dan Metode Logoterapi Frankl
Dasar dan Metode Logoterapi Frankl
LOGOTERAPI
Dosen Pengampu
Disusun Oleh :
FAKULTAS PSIKOLOGI
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga makalah ini
dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih terhadap bantuan
dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun
materinya.
Kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman untuk
para pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca
praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kami yakin masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Kelompok 7
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................1
DAFTAR ISI...................................................................................................................1
BAB I..............................................................................................................................3
Latar Belakang.............................................................................................................3
Rumusan Masalah.......................................................................................................3
Tujuan..........................................................................................................................4
BAB II.............................................................................................................................5
BAB IV.........................................................................................................................35
3.1. Kesimpulan........................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................26
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Kebutuhan akan bimbingan dan konseling sangat diperlukan individu. Karena individu
merupakan pribadi yang unik yang sedang berkembang menuju kedewasaan. Dampak
modernisasipun menjadi salah satu latar belakang perlunya bimbingan dan konseling, karena
dampak dari modernisasi itu yang dapat memunculkan masalah sosial dan pribadi. Dalam
masalah sosial, salah satu masalah yang muncul adalah berkaitan dengan keluarga.
Individual merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga. Masalah keluarga itu
salah satunya dapat dibantu dengan konseling keluarga. Dalam melakukan konseling
keluarga diperlukan beberapa teori konseling yang dapat mendukung pelaksanaan konseling,
salah satunya yang dibahas dalam makalah ini yaitu logoterapi yang merupakan salah satu
bentuk psikoterapi eksistensial yang didasarkan atas analisis dari eksistensi seseorang.
Pendekatan eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model utama yang lain,
psikoanalisis dan behaviorisme. Pendekatan logoterapi sangat menemukan makna dari
penderitaannya dan juga makna mengenai kehidupan dan cinta. Oleh karena itu, dalam
penerapan logoterapi dalam konseling keluarga pun ditujukan untuk mencapai tujuan
tersebut.
Logoterapi berpandangan bahwa ‘makna hidup’ (the meaning of life) dan ‘hasrat untuk hidup
bermakna’ (the will to meaning) merupakan motif azasi manusia yang dapat dilihat dalam
dimensi spiritual atau ‘noetic’. Jadi, Frankl berpendapat bahwa ada dimensi lain selain
dimensi somatik dan psikis, yaitu dimensi spiritual. Tampaknya Frankl tidak memisahkan
antara fisik, psikis dan spiritual seorang manusia dan menganggapnya merupakan satu
kesatuan yang [Link] dasar spiritual yang muncul dari dalam diri seseorang dapat
terjadi sebagai akibat ketidakmampuannya untuk muncul secara spiritual mengatasi kondisi
fisik dan psikisnya.
III. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
Viktor Emil Frankl dilahirkan di Wina pada tanggal 26 Maret 1905 dari keluarga Yahudi.
Frankl merupakan anak kedua dari pasangan Gabriel Frankl dan Elsa Frankl. Nilai-nilai dan
kepercayaan atau spiritual Yudaisme berpengaruh kuat atas diri Frankl, khususnya persoalan
mengenai makna hidup. Di tengah suasana kehidupan keluarga yang memperhatikan hal-hal
keagamaan, Frankl menjalani sebagian besar hidup dan pendidikannya, mulai pendidikan
dasar hingga pendidikan tinggi (Koswara, 1992; Bastaman, 2007).
Viktor E. Frankl (1905-1997) berasal dari kota Vienna, Austria adalah Profesor bidang
neurologi dan psikiatri di The University of Vienna Medical School dan guru besar luar biasa
bidang logoterapi pada U.S. International University. Dia adalah pendiri apa yang biasa
disebut madzhab ketiga psikoterapi dari Wina (setelah psikoanalisis S. Freud dan psikologi
individu Alfred Adler), yaitu aliran logoterapi (Guttmaun, 1996).
Menurut Frankl dalam Bastaman 2007, dari tahun 1942 sampai 1945, Frankl menjadi
tawanan di "kamp konsentrasi maut" Jerman, dimana orang tuanya, saudara laki-lakinya, istri
dan anak-anaknya mati. Pengalaman mengerikan tersebut tidak pernah hilang dari
ingatannya, tetapi dia bisa menggunakan kenangan mengerikan itu secara konstruktif dan
tidak mau kenangan itu memudarkan rasa cinta dan kegairahannya untuk hidup.
Di kamp itulah, Frankl mengalami dan menyaksikan para tahanan disiksa, diteror dan
dibunuh secara kejam. Frankl berusaha turut meringankan penderitaan sesama tahanan
dengan membesarkan hati mereka yang putus asa dan membantu menunjukkan hikmah dan
arti hidup, walaupun dalam keadaan menderita. Frankl melihat bahwa tahanan yang tetap
menunjukkan sikap tabah dan mampu bertahan itu adalah mereka yang berhasil
mengembangkan dalam diri mereka tentang harapan akan kebebasan. Harapan bertemu
kembali dengan keluarganya, serta meyakini akan pertolongan Tuhan dengan berbuat
kebajikan, berhasil menemukan dan mengembangkan makna dari penderitaan mereka
(meaning in suffering). Frankl banyak belajar tentang makna hidup, dan lebih spesifik lagi
makna penderitaan (Bastaman, 2007).
Perang Dunia II berakhir dan semua tawanan yang masih tersisa di bebaskan, Frankl
kembali ke Wina sebagai kepala bagian neurologi dan psikiatri di Poliklinik Hospital dan
mengajar kembali di The University of Vienna Medical School. Selanjutnya Frankl
menyebarluaskan pandangannya tentang logoterapi melalui artikel, buku dan ceramah-
ceramah. Ia juga aktif melakukan kunjungan kunjungan ke berbagai universitas di seluruh
dunia sebagai dosen tamu atau pembicara dalam bidang logoterapi (Bastaman, 2007).
Logoterapi merupakan sebuah aliran psikologi atau psikiatri modern yang menjadikan
makna hidup sebagai tema sentralnya. Dikelompokkan ke dalam aliran eksistensial atau
psikologi humanistik. Frankl yang pada awalnya merupakan pengikut Freud dan Adler,
membelot dari ajaran para seniornya tersebut (Morgan, 2012). Hal ini disebabkan oleh
pengalamannya dengan para pasien yang membuatnya sadar adanya perubahan sindroma
repressed sex dan sexually frustrated dari ajaran Freud menjadi repressed meaning dan
existential frustrated. Begitupun dengan ajaran Adler dari feeling inferiority menjadi feeling
of meaningless dan emptyness. Berbagai perubahan paradigma ini, kemudian menurut Frankl
memerlukan suatu pendekatan baru, yaitu logoterapi (Barnes, 2000; Frankl dalam Bastaman,
2007).
Logoterapi berasal dari kata "Logos" yang dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning)
dan juga rohani berarti (spiritual), kata "Terapi" berarti penyembuhan atau pengobatan.
Secara umum logoterapi dapat digambarkan sebagai corak psikologi atau psikiatri yang
mengakui adanya dimensi spiritual pada manusia disamping dimensi ragawi dan kejiwaan,
serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup
bermakna (the will to meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf
kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakan (Frankl dalam Bastaman 2007).
Logoterapi bertujuan membantu pasien menemukan makna hidup. Namun Frankl
menyatakan bahwa spirituality atau kerohanian dalam logoterapi tidak mengandung konotasi
agama, bahkan ajaran logoterapi bersifat sekuler (Tomy, 2014).
Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna dalam hidup seseorang
merupakan motivator utama orang tersebut. Oleh sebab itu Viktor Frankl dalam Bastaman
2007 menyebutnya sebagai keinginan untuk mencari makna hidup, yang sangat berbeda
dengan pleasure principle (prinsip kesenangan atau lazim dikenal dengan keinginan untuk
mencari kesenangan) yang merupakan dasar dari aliran psikoanalisis Freud dan juga berbeda
dengan will (keinginan untuk mencari kekuasaan), dasar dari aliran psikologi Adler yang
power memusatkan perhatian pada striving for superiority (perjuangan untuk mencari
keunggulan).
Orang yang hidupnya terus menerus mencari kenikmatan, akan gagal mendapatkannya
karena ia memusatkannya pada hal-hal tersebut. Orang itu akan mengeluh bahwa hidupnya
tidak mempunyai arti yang disebabkan oleh aktivitasnya yang tidak mengandung nilai-nilai
yang luhur. Jadi yang penting bukanlah aktivitas yang dikerjakannya, melainkan bagaimana
caranya ia melakukan aktivitas itu, yaitu sejauh mana ia dapat menyatakan keunikan dirinya
dalam aktivitasnya itu (Guttmaun, 1996).
Frankl menekankan bahwa kematian atau ketidakkekalan hidup tidak membuat hidup itu
tidak bermakna. Ketidakkekalan hidup lebih terkait dengan sikap bertanggung jawab, karena
segala sesuatunya tergantung dari kemampuan kita untuk mewujudkan kemungkinan-
kemungkinan yang pada dasarnya bersifat tidak kekal. Logoterapi tidak menyikapi setiap
penderitaan (termasuk kematian) secara pesimistis, tetapi secara aktif (Tomy, 2014).
Dari pernyataan itu, Frankl dalam Bastaman 2007, menekankan sikap optimis dalam
menjalani kehidupan dan mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan dan aspek negatif yang
tidak dapat diubah menjadi sesuatu yang positif. Karena manusia mempunyai kapasitas untuk
melakukan hal itu dan mampu mengambil sikap yang tepat terhadap apa yang sedang
dialaminya.
Terdapat beberapa teori yang mendasari timbulnya pendekatan psikoterapi dengan teknik
Logoterapi, antara lain (Mcleod, 2003):
1. Eksistensialisme.
Logoterapi merupakan salah satu teknik psikoterapi eksistensial, dimana tujuan teknik
psikoterapi yang menggunakan filosofi eksistensialisme ini adalah untuk mengungkapkan
makna dasar keberadaan yang mendasari kehidupan manusia sehari-hari guna mencapai
kehidupan autentik yang lebih baik. Pendekatan filosofi eksistensialisme ini menyatakan
bahwa :
Manusia eksis dalam waktu, yang maksudnya adalah kejadian yang terjadi pada masa
kini akibat adanya suatu sumber dimasa lalu dan hingga masa yang akan datang
dengan berbagai kemungkinan.
Manusia berusaha untuk eksis, maksudnya adalah eksistensi manusia dalam dunia
diungkapkan melalui dirinya sendiri (pikiran, perasaan, tingkah laku, kesadaran)
dalam hubungannya dengan organisasi ruang yang ada di sekitarnya.
Kecemasan, ketakutan dan perhatian yang terpusatkan pada suatu kejadian merupakan
konsekuensi dari sikap menyayangi terhadap seseorang dan dunia disekitarnya.
2. Stoicisisme (tenang/sabar/tabah)
Sikap ketabahan/sabar/tenang juga harus dimiliki, karena tidak ada masalah. yang tidak
ada dalam dunia ini. Kita selalu dapat menentukan sikap menolong diri sendiri. Manusia yang
berpendirian dan berkeyakinan selalu dapat berubah tetapi juga tergantung pada penafsiran
mereka terhadap masalah. Bahkan dalam alam kematian dan penderitaan, dengan
menujukkan keteguhan hati kita dapat memposisikan diri dalam situasi yang bermakna.
"Ini adalah pelajaran, Selama tiga tahun saya menghabiskan waktu untuk belajar di
Auschwitz dan Dachau, hal lain sama keadaanya, untuk melestarikan suasana belajar yang
berorientasi kepada suatu tugas dimasa mendatang, atau menjadi manusia yang berharga,
menanti masa depan, untuk sebuah makna yang harus diwujudkan dimasa mendatang".
Logoterapi merupakan perolehan ide-ide oleh Frankl dan improfisasi bahwa tidak semua
yang nyata berkaitan dengan pengalamannya dalam mempelajari atau makna dari kehidupan.
Menurut Frankl dalam Bastaman 2007, penyebab utama gangguan mental yang diderita
seseorang adalah kegagalan manusia modern memperoleh arti kehidupan. Kehidupan modern
telah mengabaikan keinginan manusia untuk mencari arti atau dasar hidup yang
sesungguhnya. Frankl percaya bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa lebih
efektif membantu seseorang untuk bertahan hidup, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun,
selain kesadaran bahwa hidupnya memiliki makna (Tomy, 2014).
Kesehatan mental seseorang didasarkan pada ketegangan dengan tingkatan tertentu yaitu
tingkatan ketegangan yang sudah dicapainya dan tingkatan yang masih harus dicapainya, atau
kesenjangan diantara kondisi seseorang pada saat tertentu dengan kondisi yang seharusnya
dicapai. Salah jika kita beranggapan bahwa yang dibutuhkan manusia untuk mencapai
kesehatan mental adalah keseimbangan, atau yang dalam ilmu biologi disebut dengan istilah
homeostatis, yaitu sebuah kondisi tanpa tekanan. Melainkan upaya dan perjuangan untuk
meraih sasaran yang bermakna, sebuah tugas yang dipilih dengan bebas. Yang dibutuhkan
manusia bukan menghilangkan tekanan dengan ongkos apapun, melainkan panggilan untuk
mencari makna hidup yang potensial yang harus dia penuhi. Dinamakan Frankl sebagai
noodinamik, yaitu dinamika eksistensi atau kehidupan yang terletak diantara dua kutub
medan ketegangan; kutub pertama mewakili makna yang harus dipenuhi manusia, sedangkan
kutub lain mewakili orang yang harus memenuhi makna tersebut. Jadi, jika para terapis ingin
memperkuat kesehatan mental pasien mereka, mereka tidak boleh ragu-ragu untuk
menciptakan sejumlah ketegangan yang logis dengan mengajak si pasien untuk meninjau
kembali makna hidupnya (Bastaman, 2007).
Frankl juga mengakui peran agama dalam kesehatan mental, meskipun menurutnya
hubungan antar agama dan kesehatan mental tidak merupakan hubungan kausalitas langsung.
Tujuan psikoterapi pada umumnya adalah mengembangkan kehidupan dengan mental yang
sehat (mental health), sedangkan tujuan akhir agama adalah mengembangkan keimanan
(faith) dan penyelamatan rohani (spiritual salvation). Walaupun keduanya mempunyai tujuan
yang berbeda, yang satu berdimensi psikologis dan yang lain berdimensi spiritual, tetapi
keduanya mungkin berkaitan dalam hal akibat sampingnya. Seorang beriman belum tentu
sehat mentalnya, danorang yang sehat mentalnya belum tentu beriman (Bastaman, 2007).
Logoterapi memandang manusia sebagai makhluk bebas yang berusaha untuk merubah
kehidupannya berdasarkan keinginan untuk mewujudkan makna yang dimilikinya menjadi
kenyataan.
Logoterapi memiliki tiga pilar yang menjadi landasan filosofisnya, yaitu kebebasan
berkeinginan, keinginan akan makna dan makna hidup (Sjolie, 2002; Haditabardkk., 2013;
Tomy, 2014).
Tema khas yang selalu ada dalam literatur eksistensial (termasuk logoterapi) adalah bahwa
orang itu bebas untuk menentukan pilihan di antara alternatifalternatif yang ada, dan oleh
karenanya mengambil peranan yang besar dalam menentukan nasibnya sendiri (Wong,
2011).Pandangan logoterapi, manusia memiliki kebebasan yang luas, tetapi sifatnya terbatas,
karena manusia adalah makhluk yang serba terbatas. Terdapatdua hal yang membatasi
kebebasan ini.
Upaya manusia untuk mencari makna hidup merupakan motivator utama hidupnya.
Makna hidup ini merupakan sesuatu yang unik dan khusus, artinya ia hanya bisa dipenuhi
oleh yang bersangkutan; hanya dengan cara itulah ia bisa memiliki arti yang bisa memuaskan
keinginan orang tersebut untuk mencari makna hidup (Wong, 2011). Keinginan untuk
mencari makna hidup, sangat berbeda dengan pleasure principle (prinsip kesenangan atau
lazim dikenal dengan keinginan untuk mencari kesenangan) yang merupakan dasar dari aliran
psikoanalisis Freud dan juga berbeda dengan will to power (keinginan untuk mencari
kekuasaan), dasar dari aliran psikologi Adler yang memusatkan perhatian pada striving for
superiority (perjuangan untuk mencari keunggulan) (Sjolie, 2002).
Terhadap kedua pendapat ini, Frankl dalam Bastaman 2007 memberitanggapan bahwa
kesenangan sama sekali bukan tujuan, melainkan “akibat samping” (by product) dari
tercapainya suatu tujuan. Kekuasaan adalah sarana atau alat untuk mencapai tujuan dan
bukan tujuan itu sendiri. Frankl sengaja menyebut “the will to meaning” dan bukan “the drive
to meaning”, karena makna dan nilai-nilai hidup tidak mendorong (to push, to drive), tetapi
seakanakan menarik (to pull) dan menawarkan (to offer) kepada manusia
untukmemenuhinya. Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk
memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat
dengan makna.
Arti dari makna hidup menurut Frankl dalam Bastaman 2007 adalah makna tersendiri
dari sebuah situasi yang konkrit. Lebih mengartikan makna hidup sebagai kesadaran akan
adanya suatu kesempatan atau kemungkinan yang dilatar belakangi oleh realitas atau dalam
kalimat yang sederhana menyadari apa yang bisa dilakukan di dalam situasi tertentu.
Kepadahidup hanya bisa menjawab dengan bertanggung jawab. Karena itu, logoterapi
menganggap sikap bertanggung jawab sebagai esensi dasar kehidupan manusia.
Dengan menyatakan bahwa manusia bertanggung jawab dan harus mewujudkan berbagai
potensi makna hidup, Frankl ingin menekankan bahwa makna hidup yang sebenarnya harus
ditemukan di dalam dunia dan bukan didalam batin atau jiwa orang tersebut. Dia membuat
istilah khusus untuk menggambarkannya, yaitu ”transendensi diri” dalam keberadaan
manusia” (the self transcendence of human existence) (Tomy, 2014).
Logoterapi sebagai filsafat manusia dalam beberapa hal banyak kesamaan dan
kesejalanan dengan pandangan filsafat yang lain. Pandangan Logoterapi terhadap Manusia
adalah sebagai berikut (Bastaman, 2007) :
Manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-
psiko-sosiokultural-spiritual.
Manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawi dan
kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak
mengandung konotasi keagamaan karena dimensi ini dimiliki manusia tanpa
memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl
menggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak
disalahpahami sebagai konsep agama.
Dengan adanya dimensi noetic ini manusia mampu melakukan selfdetachment, yakni
dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai
dirinya sendiri.
Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa
berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu
mengolah lingkungan fisik di sekitarnya
Tiga nilai berikut yang dapat menjadi sumber makna hidup seseorang (Tomy, 2014)
adalah :
Nilai-nilai ini diwujudkan dalam aktivitas kreatif dan produktif. Makna dari kegiatan
berkarya lebih terletak pada sikap dan cara kerja yang tercerminkan keterlibatan pribadi
(dedikasi, cinta kerja dan kesungguhan) pada pekerjaannya. Melalui kegiatan berkarya,
bekerja dan melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung
jawab dapat menemukan arti dan menghayati kehidupan secara bermakna.
Nilai ini dilakukan dengan mengambil sesuatu yang bermakna dari lingkungan luar dan
mendalaminya. Mendalami nilai-nilai penghayatan berarti mencoba memahami, meyakini
dan menghayati berbagai nilai yang ada dalam kehidupan, seperti kebenaran, keindahan,
kasih sayang, kebajikan dan keimanan dapat memberikan arti pada kehidupan seseorang.
Mengambil sikap yang tepat atau sikap yang diberikan individu terhadap kondisiyang tidak
dapat dapat diubah atau peristiwa tragis yang telah terjadi dan tidak dapat dihindari lagi.
Dalam hal ini, yang dapat diubah adalah sikap, bukan peristiwa tragisnya. Dengan
mengambil sikap tepat, maka beban pengalaman tragis itu berkurang, bahkan dapat
menimbulkan makna yang lebih berarti (Schulenberg dkk, 2010).
Selain ketiga sumber makna hidup diatas, H.D. Bastaman menambahkan sumber
maknahidup yang keempat yaitu Nilai Penghargaan (Hopeful values). Harapan adalah
keyakinan akan terjadinya hal-hal yang baik atau membawa perubahan yang baik dikemudian
hari. Adanya keyakinan seperti ini mengandung tujuan mengarahkan seseorang untuk
menemukan makna hidup (Bastaman, 2007). Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas,
perlu diungkapkan mengenai karakteristik makna hidup (Frankl dalam Bastaman, 2007),
yaitu :
1. Makna hidup itu sifatnya “unik” dan “personal”.Artinya, apa yang dianggap berarti oleh
seseorang belum tentu berarti bagi orang lain. Bahkan mungkin, apa yang dianggap penting
dan bermakna saat ini belum tentu sama bermaknanya bagi orang itu pada saat yang lain.
2. Makna hidup adalah “spesifik” dan “nyata”. Artinya makna hidup bukan sesuatu yang
khayal, melainkan makna hidup dapat ditemukan pada segala kondisi. Makna hidup juga
tidak perlu sesuatu yang serbaabstrak ataupun idealis, melainkan dapat ditemukan dalam
pengalamanpengalaman yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
3. Makna hidup memberikan pedoman dan arah pada kegiatan yang dilakukan.
4. Makna hidup diakui sebagai sesuatu yang bersifat mutlak, sempurna dan paripurna. Yang
disebut dengan The Ultimate Meaning of Life.
Menurut Frankl dalam Koeswara, 1992, seseorang yang tidak menemukan makna hidup
akan mengalami sindroma ketidakbermaknaan (syndrom of meaninglessness). Sindroma ini
terdiri dari dua tahapan yaitu kevakuman eksistensi (existential vacum) dan neurosis
noogenik.
Kevakuman eksistensial terjadi ketika hasrat akan makna hidup tidak terpenuhi.
Gejala-gejala yang ditimbulkan dari kevakuman eksistensial ini antara lain perasaan hampa,
bosan, kehilangan inisiatif dan kekosongan dalam hidup. Fenomena ini merupakan fenomena
yang menonjol pada masyarakat modern saat ini. Hal ini dikarenakan pola masyarakat
modern yang sudah terlalu jauh meninggalkan hal-hal yang bersifat religi dan moralitas. Hal
ini juga diakui para terapis yang berada di barat bahwa mereka sering menghadapi pasien
dengan keluhan-keluhan yang menyangkut permasalahan yang terkait makna hidup seperti
merasa tidak berguna dan perasaan hampa (Bastaman, 2007).
Frankl dalam Bastaman 2007 menekankan bahwa kevakuman eksistensialis bukanlah sebuah
penyakit dalam pengertian klinis. Frankl menyimpulkan bahwa frustasi eksistensi adalah
sebuah penderitaan batin ketika pemenuhan akan hasrat untuk mempunyai hidup yang
bermakna terhambat. Frankl menyatakan bahwa kevakuman eksistensial tersebut
bermanifestasi dalam bentuk neurosis kolektif, neurosis hari Minggu, neurosis pengangguran
dan pensiunan, dan penyakit eksekutif. Beberapa bentuk manifestasi ini gejalanya sama yaitu
kebosanan dan kehampaan, namun terdapat pada kondisi, individu dan waktu tertentu.
Orang yang mengalami kehampaan dan kekosongan hidup mungkin lari kepada
alkohol dan narkoba dalam rangka mengisi kekosongan hidup tersebut. Kasus alkoholik dan
narkoba yang berakar pada permasalahan kevakuman eksistensialis inilah disebut dengan
neurosis noogenik (Koeswara, 1992).
Bastaman (1996) membagi proses penemuan makna hidup berdasarkan urutan yang
dialami. Agar lebih jelas Bastaman menjabarkan proses penemuan makna hidup ke dalam
sebuah skema, yaitu:
Pengalaman Tragis
Keterikatan Diri
Pengubahan Sikap
Hidup Bermakna
Happiness
Menurut Frankl dalam Ni Ketut (2017), Logoterapi bertujuan agar dalam masalah
yang dihadapi klien dia bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta.
Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah
tersebut.
Tujuan utama logoterapi adalah meraih hidup bermakna dan mampu mengatasi secara
efektif berbagai kendala dan hambatan pribadi. Hal ini diperoleh dengan jalan menyadari dan
memahamai serta merealisasikan berbagai potensi dan sumber daya spiritual yang dimiliki
setiap orang yang sejauh ini mungkin terhambat dan terabaikan. Apabila seseorang tidak
mengerti potensi-potensinya, maka tugas utama orang tersebut adalah menemukannya
(Tomy, dalam Ni Ketut (2017)). Ada pun tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:
1. Memahami adanya potensi dan sumber daya spiritual yang secara universal ada pada
setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
2. Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan
diabaikan bahkan terlupakan;
3. Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk
mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar
mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.