NASKAH RADIO
Judul : Penerapan Teknologi Budidaya Padi Rawa Lebak dengan
Pendekatan PTT Meningkatkan Produksi dan Pendapatan
Petani
Naskah : (1) Bunaiyah Honorita, SP
(2) Johanes A, SP
Durasi : 45 menit
Waktu : Juli 2017
Instansi : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan
Penyiar Assalammualaikum, wr. wb..
Para pendengar radio yang berbahagia, saat ini kita dapat
bertemu kembali pada acara siaran radio pertanian. Pada
kesempatan ini kita akan membahas mengenai “Penerapan
Teknologi Budidaya Padi Rawa Lebak dengan Pendekatan
PTT di Provinsi Sumatera Selatan”. Saat ini bersama kita
telah hadir 2 (dua) orang narasumber yaitu Ibu Bunaiyah
Honorita dan Bapak Johanes A. Beliau adalah Peneliti dan
Penyuluh Pertanian pada Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan. Baik kita sapa beliau
terlebih dahulu. Selamat datang Bapak/Ibu, bagaimana
keadaannya saat ini?
Narasumber 1 & 2 Alhamdullilah dalam keadaan sehat selalu.
Penyiar Apa yang melatarbelakangi Bapak/Ibu mengambil judul materi
kita kali ini?
Narasumber 1 Kabinet Kerja Kementerian Pertanian telah menetapkan
(Bunaiyah Swasembada Berkelanjutan Padi, Jagung, dan Kedelai yang
Honorita) harus dicapai dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun dan
menetapkan upaya khusus (UPSUS) pencapaian
swasembada berkelanjutan padi, jagung dan kedelai, salah
satunya melalui Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman
Terpadu (GP-PTT). Program ini harus didukung oleh semua
pihak yang terkait, dalam proses produksinya. Cara yang
efektif dan efisien untuk meningkatkan produksi padi nasional
secara berkelanjutan adalah meningkatkan produktivitas
melalui ketepatan pemilihan komponen teknologi dengan
memperhatikan kondisi lingkungan biotik, lingkungan abiotik,
serta pengelolaan lahan yang optimal oleh petani termasuk
pemanfaatan sumberdaya setempat yang ada
Penyiar Berbicara tentang PTT, sebenarnya apa yang dimaksud
dengan PTT tersebut? dan mengapa harus memilih teknologi
PTT untuk diterapkan dalam budidaya padi rawa lebak?
Narasumber 2 Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah merupakan
(Johanes A) suatu pendekatan inovatif dan dinamis melalui perakitan
komponen teknologi secara partisipatif bersama petani. PTT
adalah salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas padi
dengan menerapkan teknologi yang spesifik lokasi.
Penyiar Sebelum kita lebih dalam membahas mengenai PTT padi rawa
lebak, bagaimana produktivitas padi di Provinsi Sumatera
Selatan?
Narasumber 1 Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi
(Bunaiyah Sumatera Selatan tahun 2015, tingkat produktivitas padi di
Honorita) Provinsi Sumatera Selatan yaitu 4,526 ton/ha, masih di bawah
rata-rata produktivitas padi nasional yaitu 5,341 ton/ha.
Produktivitas tersebut masih dapat ditingkatkan, salah satunya
adalah dengan penerapan teknologi budidaya padi yang baik .
Penyiar Bagaimana dengan tingkat penerapan budidaya padi rawa
lebak di Provinsi Sumatera Selatan sejauh ini?
Narasumber 2 Penerapan teknologi budidaya padi rawa lebak di Provinsi
(Johanes A) Sumatera Selatan relatif masih cukup sederhana di tingkat
petani. Penggunaan varietas padi yang berulang-ulang, petani
belum menerapkan cara pemupukan dan pengendalian hama
dan penyakit tanaman yang baik dan benar. Perbaikan
teknologi dan sistem budidaya padi dengan pendekatan PTT
melalui peningkatan pengetahuan petani diharapkan dapat
meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya meningkatkan
pendapatan petani. Peningkatan perilaku petani melalui
peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
merupakan salah satu strategi untuk mempercepat transfer
teknologi pertanian kepada pengguna.
Penyiar Bapak/Ibu, agar pendengar dapat lebih paham lagi, apa saja
komponen teknologi PTT padi rawa lebak tersebut yang perlu
untuk diterapkan?
Narasumber 1 Komponen teknologi PTT padi rawa lebak terdiri dari: (1)
(Bunaiyah Varietas unggul baru (VUB); (2) Benih unggul dan berkualitas
Honorita) tinggi; (3) Pengelolaan hara spesifik lokasi; (4) Pengelolaan
air; (5) Cara tanam dengan jajar legowo; (6) Pengendalian
gulma; (7) Pengendalian hama dan penyakit tanaman terpadu;
(8) Penerapan pasca panen.
Penyiar Bapak/Ibu, mohon dijelaskan secara lebih rinci komponen
teknologi dasar tersebut.
Narasumber 1 1. VUB memiliki potensi hasil tinggi, tahan rendaman (cepat
(Bunaiyah memanjang, berkecambah dalam kondisi tergenang), tahan hama
Honorita) & penyakit tertentu, tahan kekeringan dan berumur genjah, dan
Narasumber 2 disukai petani.
(Johanes A) 2. Benih bermutu adalah benih berlabel dengan tingkat kemurnian
dan daya tumbuh yang tinggi. Pada umumnya benih bermutu
dapat diperoleh dari benih berlabel yang sudah lulus proses
sertifikasi. Benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat
dengan akar yang banyak sehingga pertumbuhannya akan lebih
cepat dan merata serta lebih tahan terhadap serangan hama dan
penyakit.
3. Pengelolaan hara spesifik lokasi, dalam hal ini
penggunaan N dalam bentuk pupuk urea tablet/granul yang
sifatnya slow release. Pemberian P dan K didasarkan pada
status hara tanah atau berdasarkan uji tanah dengan PUTR
(Perangkat Uji Tanah Rawa)
4. Pada pengelolaan air, air harus dikelola secara benar agar
tidak tergenang lama bila hujan datang, tetapi tidak
kekeringan bila musim kemarau. Sarana dan prasarana
pendukung seperti pintu-pintu air, saluran kemalir, dan lain-
lain perlu dibuat dan dirawat dengan baik.
5. Cara tanam padi, dapat ditanam dengan sistem jajar
legowo 2:1 dan 4:1.
6. Pengendalian gulma dilakukan terutama pada lahan rawa
lebak dangkal.
7. Pengendalian hama dan penyakit terpadu, jika dilakukan
secara kimiawi tentu hal ini merupakan alternatif terakhir
yang kita pilih.
8. Penerapan pasca panen dapat dilakukan menggunakan alat
perontok gabah dengan mesin maupun alat pengering buatan akan
membantu petani di dalam mengatasi tenaga kerja yang langka.
Penyiar Bapak/Ibu, bisa disebutkan apa saja VUB padi spesifik lahan
rawa lebak?
Narasumber 2 VUB padi spesifik lahan rawa lebak diantaranya varietas
(Johanes A) Inpara, Banyuasin, Batanghari, Indragiri, Lalan, Martapura,
Musi, Sei Lilin, Mekongga dan masih banyak lagi.
Penyiar Bagaimana penerapan budidaya padi rawa lebak dengan
pendekatan PTT tersebut di Provinsi Sumatera Selatan?
Narasumber 1 Hasil penelitian sistem usahatani di lahan rawa lebak di Kab.
(Bunaiyah OKI dengan penerapan teknologi PTT (dengan komponen
Honorita) teknologi varietas unggul Banyuasin dan pemupukan spesifik
lokasi) memberikan hasil ± 6,51 ton/ha GKG dengan
pendapatan petani mencapai Rp. 4.368.000. Pengkajian
demplot PTT padi di lokasi lebak Prima Tani dengan perbaikan
teknologi budidaya berupa varietas, pemupukan berimbang,
dan pemeliharaan tanaman terdapat kenaikan produksi
sebesar 26,10% dari 4,92 ton/h menjadi 6,20 ton/ha pada
varietas Mekongga dan 11,78% dari 4,92 ton/ha menjadi 5,50
ton/ha pada varietas IR 64. Selain itu pengkajian di lahan
rawa lebak di Kab. OI dengan varietas Ciherang, Inpara 3,
Batang Piaman memberikan hasil 5,17 ton/ha; 6,46 ton/ha;
dan 7,05 ton/ha. Pada tahun 2016, hasil demplot padi rawa
lebak pada kegiatan Pendampingan Kawasan Padi di Kab.
OKI dengan perbaikan teknologi berupa varietas, sistem
tanam legowo 2:1 dan pemupukan berimbang memberikan
hasil 4,7 ton/ha sedangkan di tingkat petani 3,5 ton/ha.
Produksi padi dengan menggunakan teknologi lebih tinggi
34,29% dibandingkan dengan cara petani. Meskipun pada
saat penanaman, tanaman padi mengalami kekeringan karena
dalam waktu yang cukup lama tidak turun hujan. Penerapan
teknologi yang sama di Kab. OI memberikan hasil 7,8 ton/ha
GKP sedangkan di tingkat petani 3,0 ton/ha GKP.
Penyiar Baik Bapak/Ibu, nampaknya waktu yang tersedia telah cukup,
untuk itu saya ucapkan banyak terimakasih atas kesediaan
Bapak/Ibu narasumber telah hadir di studio dan
menyampaikan materi yang sangat menarik, berkaitan dengan
teknologi budidaya padi rawa lebak dengan pendekatan PTT
dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani di
Sumatera Selatan.
Narasumber 1 Terimakasih kembali, mudah-mudahan ada manfaatnya bagi
dan 2 masyarakat pertanian.
Penyiar Baik, para pendengar yang setia sampai disini perjumpaan kita
pada acara siaran pedesaan, sampai berjumpa di lain
kesempatan.
Wassalam.