0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan18 halaman

Sistem Irigasi Hantap Ciherang

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai irigasi, termasuk definisi, sistem, daerah, jaringan, operasi, pemeliharaan, masyarakat petani dan kelembagaan yang terkait."

Diunggah oleh

Peter Tukiman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan18 halaman

Sistem Irigasi Hantap Ciherang

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai irigasi, termasuk definisi, sistem, daerah, jaringan, operasi, pemeliharaan, masyarakat petani dan kelembagaan yang terkait."

Diunggah oleh

Peter Tukiman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Irigasi
Irigasi berasal dari istilah irrigate dalam bahasa Belanda atau irrigation
dalam bahasa Inggris. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
No. 12/PRT/M/2015 Tahun (2015) tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan
Irigasi, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan irigasi adalah usaha
penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian
yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah,
irigasi pompa, dan irigasi tambak. Irigasi berfungsi untuk mendukung produktivitas
usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan
nasional dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani, yang diwujudkan
melalui keberlanjutan sistem irigasi. Istilah dan definisi lain yang berkaitan dengan
irigasi diambil dari Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No.
12/PRT/M/2015 Tahun (2015) tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan
Irigasi.

2.1.1 Sistem Irigasi


Sistem irigasi didefinisikan sebagai suatu set elemen-elemen fisik sosial
yang digunakan untuk mendapatkan air dari sumber air terkonsentrasi alami,
memfasilitasi dan mengendalikan gerakan air dari sumber terkonsentrasi alami,
memfasilitasi dan mengendalikan gerakan air dari suatu sumber ke lahan atau lahan
lain yang diusahakan untuk produksi pertanian. Sistem irigasi meliputi prasarana
irigasi, air irigasi, manajemen irigasi, kelembagaan pengelolaan irigasi dan sumber
daya manusia.

5 Institut Teknologi Nasional


6

2.1.2 Daerah Irigasi


Daerah irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan
irigasi.

2.1.3 Jaringan Irigasi


Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya
yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian,
pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi. Jaringan dibagi menjadi 3
bagian yaitu:
1. Jaringan Irigasi Primer
Jaringan irigasi primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri
dari bangunan utama, saluran induk/primer, saluran pembuangannya,
bangunan bagi, bangunan bagi sadap, bangunan sadap, dan bangunan
pelengkapnya.
2. Jaringan Irigasi Sekunder
Jaringan irigasi sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang
terdiri dari saluran sekunder, saluran pembuangannya, bangunan bagi,
bangunan bagi-sadap, bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya.
3. Jaringan Irigasi Tersier
Jaringan irigasi tersier adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai
prasarana pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri dari saluran
tersier, saluran kuarter dan saluran pembuang, boks tersier, boks kuarter, serta
bangunan pelengkapnya.

2.1.4 Operasi Jaringan Irigasi


Operasi jaringan irigasi merupakan upaya pengaturan air irigasi dan
pembuangannya, termasuk kegiatan membuka menutup pintu bangunan irigasi,
menyusun rencana tata tanam, menyusun sistem golongan, menyusun rencana
pembagian air, melaksanakan kalibrasi pintu/bangunan, mengumpulkan data,
memantau, dan mengevaluasi.

Institut Teknologi Nasional


7

2.1.5 Pemeliharaan Jaringan Irigasi


Pemeliharaan jaringan irigasi merupakan upaya menjaga dan mengamankan
jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar
pelaksanaan operasi jaringan irigasi dan mempertahankan kelestariannya.
Pemeliharaan jaringan terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
1. Pengamanan Jaringan Irigasi
Pengamanan jaringan irigasi merupakan upaya untuk mencegah dan
menanggulangi terjadinya kerusakan jaringan irigasi yang disebabkan oleh
daya rusak air, hewan, atau oleh manusia guna mempertahankan fungsi
jaringan irigasi.
2. Pemeliharaan Rutin
Merupakan kegiatan perawatan dalam rangka mempertahankan
kondisi Jaringan Irigasi yang dilaksanakan secara terus menerus tanpa ada
bagian konstruksi yang diubah atau diganti.
3. Pemeliharaan Berkala
Pemeliharaan berkala merupakan kegiatan perawatan dan perbaikan
yang dilaksanakan secara berkala yang direncanakan dan dilaksanakan oleh
dinas yang membidangi Irigasi dan dapat bekerja sama dengan P3A/GP3A /
IP3A secara swakelola berdasarkan kemampuan lembaga tersebut dan dapat
pula dilaksanakan secara kontraktual.
4. Penanggulangan/Penanganan Darurat
Perbaikan darurat dilakukan akibat bencana alam dan atau kerusakan
berat akibat terjadinya kejadian luar biasa (seperti Pengrusakan/penjebolan
tanggul, Longsoran tebing yang menutup Jaringan, tanggul putus dll) dan
penanggulangan segera dengan konstruksi tidak permanen, agar jaringan
irigasi tetap berfungsi.
Keberhasilan kegiatan pemeliharaan dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu:
1. Terpenuhinya kapasitas saluran sesuai dengan kapasitas rencana.
2. Terjaganya kondisi bangunan dan saluran :

Institut Teknologi Nasional


8

a. Kondisi baik jika tingkat kerusakan < 10 % dari kondisi awal bangunan
dan saluran, diperlukan pemeliharaan rutin.
b. Kondisi rusak ringan jika tingkat kerusakan 10 – 20 % dari kondisi awal
bangunan dan saluran, diperlukan pemeliharaan berkala yang bersifat
perawatan.
c. Kondisi rusak sedang jika tingkat kerusakan 21 – 40 % dari kondisi awal
bangunan dan saluran, diperlukan pemeliharaan berkala yang bersifat
perbaikan.
d. Kondisi rusak berat jika tingkat kerusakan > 40 % dari kondisi awal
bangunan dan saluran, diperlukan pemeliharaan berkala yang bersifat
perbaikan berat atau penggantian.
3. Meminimalkan biaya rehabilitasi jaringan irigasi
4. Tercapainya umur rencana jaringan irigasi

2.1.6 Masyarakat Petani


Masyarakat petani adalah kelompok masyarakat yang bergerak dalam
bidang pertanian, baik yang telah tergabung dalam organisasi perkumpulan petani
pemakai air maupun petani lainnya yang belum tergabung dalam organisasi
perkumpulan petani pemakai air. Masyarakat petani terbagi menjadi 3 kelembagaan
yaitu:
1. Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)
Perkumpulan Petani Pemakai Air yang selanjutnya disebut P3A
adalah kelembagaan pengelolaan irigasi yang menjadi wadah petani pemakai
air dalam suatu daerah layanan/petak tersier atau desa yang dibentuk secara
demokratis oleh petani pemakai air termasuk lembaga lokal pengelola irigasi.
2. Gabungan Petani Pemakai Air (GP3A)

Gabungan Petani Pemakai Air yang selanjutnya disebut GP3A adalah


kelembagaan sejumlah P3A yang bersepakat bekerja sama memanfaatkan air
irigasi dan jaringan irigasi pada daerah layanan blok sekunder, gabungan
beberapa blok sekunder, atau satu daerah irigasi.
Institut Teknologi Nasional
9

3. Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A)

Induk perkumpulan petani pemakai air yang selanjutnya disebut IP3A


adalah kelembagaan sejumlah GP3A yang bersepakat bekerja sama untuk
memanfaatkan air irigasi dan jaringan irigasi pada daerah layanan blok primer,
gabungan beberapa blok primer, atau satu daerah irigasi.

2.1.7 Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia


Kelembagaan dan sumber daya manusia diatur sebagai berikut:
1. Kebutuhan Tenaga Pelaksana Operasi dan Pemeliharaan
a. Kepala Ranting/pengamat/UPTD/cabang dinas/korwil : 1 orang + 5 staff
per 5.000 – 7.500 Ha.
b. Mantri / Juru pengairan : 1 orang per 750 – 1.500 Ha.
c. Petugas Operasi Bendung (POB) : 1 orang per bendung, dapat ditambah
beberapa pekerja untuk bendung besar.
d. Petugas Pintu Air (PPA) : 1 orang per 3 – 5 bangunan sadap dan bangunan
bagi pada saluran berjarak antara 2 - 3 km atau daerah layanan 150 sd. 500
ha.
2. Persyaratan Petugas Operasi dan Pemeliharaan
Persyaratan untuk petugas menurut Permen PUPR No. 12 Tahun 2015 dapat
dilihat pada Tabel 2.1 .
Tabel 2.1 Persyaratan Petugas Operasi dan Pemeliharaan
Pendidikan
Jabatan Kompetensi Fasilitas
Minimal
Kepala Ranting
Pengamat Mobil Pick
Mampu melaksanakan Sarjana Muda,
Up Rumah
UPTD Tupoksi untuk areal irigasi D3 Teknik
Dinas Alat
Cabang Dinas 5.000 - 7.000 Ha Sipil
Komunikasi
Korwil
Juru Mampu melaksanakan Sepeda Motor
STM
Tupoksi untuk areal irigasi Alat
Mantri Pengairan Bangunan
750 - 1.500 Ha Komunikasi
Sepeda Motor
Petugas Operasi Mampu melaksanakan
ST, SMP Alat
Bendung Tupoksi
Komunikasi
Institut Teknologi Nasional
10

Tabel 2.2 Persyaratan Petugas Operasi dan Pemeliharaan (Lanjutan)


Pendidikan
Jabatan Kompetensi Fasilitas
Minimal
Petugas Pintu Air
Pekerja Sepeda Motor
Mampu melaksanakan
SD Alat
Tupoksi
Pekarya Saluran Komunikasi
(Sumber : Lamp 1 Permen PUPR No. 12 Tahun 2015)
3. Tugas Pokok dan Fungsi
Petugas dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi
memliki tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) yang berbeda-beda sesuai dengan
jabatan. Berikut adalah Tupoksi dari masing-masing jabatan petugas operasi
dan pemeliharaan jaringan irigasi.
A. Kepala Ranting/ Pengamat/ UPTD/ Cabang Dinas/ Korwil
1) Mempersiapkan penyusunan RTTG dan RTTD sesuai usulan petani
P3A/GP3A/IP3A
2) Menetapkan besarnya faktor-k untuk pembagian air jika debit sungai
menurun
3) Rapat di kantor ranting/pengamat/UPTD/cabang dinas/korwil setiap
minggu untuk mengetahui permasalahan operasi, hadir para mantri /
juru pengairan, petugas pintu air (PPA), petugas operasi bendung serta
P3A/GP3A/IP3A.
4) Menghadiri rapat di kecamatan dan dinas PSDA kabupaten.
5) Membina P3A/GP3A/IP3A untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan
Operasi
6) Membantu proses pengajuan bantuan biaya operasi yang diajukan
P3A/GP3A/IP3A.
7) Membuat laporan kegiatan operasi ke Dinas.
B. Juru/ Mantri Pengairan
1) Membantu kepala ranting/pengamat/UPTD/cabang dinas/korwil
untuk tugas-tugas yang berkaitan dengan operasi.

Institut Teknologi Nasional


11

a) Melaksanakan instruksi dari ranting/pengamat/UPTD/cabang


dinas/korwil tentang pemberian air pada tiap bangunan pengatur;
b) Memberi instruksi kepada PPA untuk mengatur pintu air sesuai
debit yang ditetapkan;
c) Memberi saran kepada Petani tentang awal tanam & jenis
tanaman;
d) Pengaturan Giliran;
e) Mengisi papan operasi/ eksploitasi
2) Membuat laporan operasi :
a) Pengumpulan Data Debit
b) Pengumpulan Data Tanaman & Kerusakan Tanaman;
c) Pengumpulan Data Curah Hujan (sesuai kebutuhan daerah);
d) Menyusun Data Mutasi Baku Sawah (sesuai kebutuhan daerah);
e) Mengumpulkan data Usulan Rencana Tata Tanam;
f) Melaporkan kejadian banjir kepada Rantig/ Pengamat;
g) Melaporkan jika terjadi kekurangan air yang kritis kepada
Pengamat;
C. Staf Kepala Ranting/ Pengamat/ UPTD/ Cabang Dinas/ Korwil
1) Membantu kepala ranting/pengamat/UPTD/cabang dinas/korwil
dalam pelaksanaan operasi jaringan irigasi.
D. Petugas Operasi Bendung
1) Melaksanakan pengaturan pintu penguras bendung terhadap banjir
yang datang
2) Melaksanakan pengurasan kantong lumpur
3) Membuka/menutup pintu pengambilan utama, sesuai debit dan jadwal
yang direncanakan.
4) Mencatat besarnya debit yang mengalir / atau masuk ke saluran induk
pada blangko operasi.
5) Mencatat elevasi muka air banjir
E. Petugas Pintu Air

Institut Teknologi Nasional


12

1) Membuka dan menutup pintu air sehingga debit air yang mengalir
sesuai dengan perintah Juru/Mantri Pengairan.

2.2 Kegiatan Operasi Jaringan Irigasi


Kegiatan operasi jaringan irigasi secara rinci meliputi:
1. Pekerjaan pengumpulan data (data debit, data curah hujan, data luas tanam, dll)
2. Pekerjaan kalibrasi alat pengukur debit
3. Pekerjaan membuat Rencana Penyediaan Air Tahunan, Pembagian dan
Pemberian Air Tahunan, Rencana Tata Tanam Tahunan, Rencana Pengeringan.
4. Pekerjaan melaksanakan pembagian dan pemberian air (termasuk pekerjaan:
membuat laporan permintaan air, mengisi papan operasi, mengatur bukaan
pintu).
5. Pekerjaan mengatur pintu-pintu air pada bendung berkaitan dengan datangnya
debit sungai banjir.
6. Pekerjaan mengatur pintu kantong lumpur untuk menguras endapan lumpur.
7. Koordinasi antar instansi terkait.
8. Monitoring dan Evaluasi kegiatan Operasi Jaringan Irigasi.

2.2.1 Perencanaan Operasi Jaringan Irigasi


Perencanaan operasi jaringan irigasi disusun oleh instansi terkait dengan
bantuan P3A untuk menunjang operasi jaringan irigasi agar lebih efektif.
Perencanaan ini disusun sesuai dengan kondisi di lapangan Perencanaan operasi
jaringan irigasi meliputi:
1. Perencanaan Penyediaan Air Tahunan
2. Perencanaan Tata Tanam Tahunan
3. Rapat Komisi Irigasi Untuk Menyusun Rencana Tata Tanam Tahunan
4. SK Bupati/Walikota atau Gubernur Tentang Rencana Tata Tanam Tahunan
5. Perencanaan Pembagian dan Pemberian Air Tahunan
6. Perencanaan Pembagian dan Pemberian Air pada Jaringan Sekunder dan
Primer.

Institut Teknologi Nasional


13

2.2.2 Pelaksanaan Operasi Jaringan Irigasi


Berdasarkan SK bupati/walikota atau gubernur tentang Rencana Tata
Tanam Tahunan yang dilengkapi dengan Rencana Pembagian dan Pemberian Air,
maka pelaksanaan kegiatan operasi dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Laporan keadaan air dan tanaman.
2. Penentuan Kebutuhan Air di Pintu Pengambilan
3. Pencatatan Debit Saluran
4. Penetapan Pembagian Air pada Jaringan Sekunder dan Primer.
5. Pencatatan Debit Sungai pada Bangunan Pengambilan
6. Perhitungan faktor K (faktor perbandingan antara debit yang tersedia dan debit
yang dibuthkan)
7. Pencatatan Realisasi Luas Tanam Per Daerah Irigasi
8. Pencatatan Realisasi Luas Tanam Per Kabupaten/Kota
9. Pengoperasian Bangunan Pengatur Irigasi

2.2.3 Monitoring dan Evaluasi


Kegiatan monitoring dan evaluasi dibagi menjadi 3 kegiatan yaitu
1. Monitoring Pelaksanaan Operasi
Monitoring pelaksanaan operasi dilakukan dengan menggunakan
daftar simak Bagan Alir Blangko Operasi. Blangko tersebut harus dikondisikan
dengan kewenangan pengelolaan daerah irigasi yang bersangkutan yaitu DI
kewenangan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah
kabupaten/kota.
2. Kalibrasi Alat Ukur
Tata cara kalibrasi harus dilakukan sesuai dengan petunjuk
pelaksanaan tata cara kalibrasi. Kalibrasi harus dilakukan setiap ada
perubahan/perbaikan dari alat ukur atau minimal lima tahun sekali. Apabila
terjadi kerusakan alat ukur pada jaringan irigasi teknis maka sambil menunggu
perbaikan, pengukuran debit pada alat ukur yang rusak dapat dilakukan antara
lain sebagai berikut :

Institut Teknologi Nasional


14

a Pengukuran debit dengan metode pelampung


b Dibuat lubang pintu ukur yang proporsional dengan pintu ukur yang masih
berfungsi
3. Evaluasi Kinerja Sistem Irigasi
Evaluasi kinerja sistem irigasi dimaksudkan untuk mengetahui
kondisi kinerja sistem irigasi yang meliputi:
a Prasarana fisik
b Produktivitas tanaman
c Sarana penunjang
d Organisasi personalia
e Dokumentasi
f Kondisi kelembagaan P3A
Evaluasi ini dilaksanakan setiap tahun dengan menggunakan formulir 1 (untuk
DI utuh dalam 1 kabupaten/kota) dan 2 (untuk DI lintas kabupaten/kota) Indeks
Kinerja Sistem Irigasi dengan nilai :
a 80-100 : kinerja sangat baik
b 70-79 : kinerja baik
c 55-69 : kinerja kurang dan perlu perhatian
d < 55 : kinerja jelek dan perlu perhatian
e maksimal 100, minimal 55 dan optimum 77,5
Formulir tersebut harus dikondisikan dengan kewenangan pengelolaan daerah
irigasi yang bersangkutan yaitu DI kewenangan pemerintah pusat, pemerintah
provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.

2.3 Kegiatan Pemeliharaan Jaringan Irigasi


Pemeliharaan jaringan irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan
jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar
pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya melalui kegiatan
perawatan, perbaikan, pencegahan dan pengamanan yang harus dilakukan secara
terus menerus.

Institut Teknologi Nasional


15

2.3.1 Inventarisasi Jaringan Irigasi


Inventarisasi jaringan irigasi dilakukan untuk mendapatkan data jumlah,
dimensi, jenis, kondisi dan fungsi seluruh asset irigasi serta data ketersediaan air,
nilai asset jaringan irigasi dan areal pelayanan pada setiap daerah
[Link] jaringan irigasi dilaksanakan setiap tahun mengacu pada
ketentuan/pedoman yang berlaku. Untuk kegiatan pemeliharaan dari inventarisasi
tersebut yang sangat diperlukan adalah data kondisi jaringan irigasi yang meliputi
data kerusakan dan pengaruhnya terhadap areal pelayanan.

2.3.2 Perencanaan Pemeliharaan Jaringan Irigasi


Perencanaan pemeliharaan dibuat oleh Dinas/pengelola irigasi bersama
perkumpulan petani pemakai air berdasarkan rencana prioritas hasil inventarisasi
jaringan [Link] rencana pemeliharaan terdapat pembagian tugas, antara P3A
dengan pemerintah diantaranya bagian mana bisa ditangani P3A dan bagian mana
yang ditangani pemerintah melalui Nota Kesepakatan kerjasama O&P. Penyusunan
rencana pemeliharaan meliputi :
1. Inspeksi Rutin
2. Penelusuran Jaringan Irigasi
3. Identifikasi dan Analisis Tingkat Kerusakan
4. Pengukuran dan Pembuatan Detail Desain Perbaikan Jaringan Irigasi
5. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
6. Penyusunan Program/Rencana Kerja

2.3.3 Pelaksanaan Pemeliharaan Jaringan Irigasi


Pelaksanaan pemeliharaan dilakukan berdasarkan detail desain dan
rencana kerja yang telah disusun oleh Dinas/Pengelola irigasi bersama
perkumpulan petani pemakai air. Adapun waktu pelaksanaannya menyesuaikan
dengan jadwal pengaturan air dan masa pengeringan yang telah disepakati bersama
dan ditetapkan oleh Bupati/Walikota/Gubernur sesuai kewenangannya.

Institut Teknologi Nasional


16

2.3.4 Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan


Pemantauan dan evaluasi pada pemeliharaan jaringan irigasi dilakukan
untuk kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan sendiri secara swakelola ataupun
dikontrakkan, baik untuk jenis pengamanan jaringan irigasi, pemeliharaan rutin,
pemeliharaan berkala dan penanggulangan/perbaikan darurat.

2.4 Biaya Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi (AKNOP)


Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan (AKNOP)
merupakan perencanaan pembiayaan pengelolaan jaringan irigasi primer dan
sekunder didasarkan atas kebutuhan aktual pembiayaan operasi dan pemeliharaan
tiap bangunan dan tiap ruas saluran untuk mempertahankan kondisi dan fungsi
jaringan irigasi berdasarkan penelusuran jaringan dengan memperhatikan
kontribusi perkumpulan petani pemakai air.
Rencana kegiatan Operasi dan Pemeliharaan dalam AKNOP berbasis
kinerja dan berbasis outcome dalam indikator kegiatan dan pelaksana kegiatan
dinyatakan dalam suatu matriks pendanaan operasi dan pemeliharaan. Matriks
pendanaan operasi dan pemeliharaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Biaya langsung adalah semua biaya yang disediakan dan akan digunakan
langsung untuk komponen-komponen Daerah Irigasi, antara lain:
a. Biaya personil, bahan dan alat
b. Biaya pemeliharaan
c. Biaya perbaikan
d. Biaya pemeriksaan dan pemantauan
2. Biaya tak langsung adalah biaya yang disediakan dan akan digunakan untuk
kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan operasi dan pemeliharaan
Daerah Irigasi, antara lain:
a. Biaya untuk kegiatan masyarakat Daerah Irigasi
b. Biaya pengawasan kegiatan perbaikan
c. Biaya untuk pelatihan personil pemantau

Institut Teknologi Nasional


17

Pembiayaan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi juga mencakup


pembiayaan kantor dan administrasi. Pembiayaan kantor dan administrasi meliputi:
1. Gaji/Upah/Honorer Profesi
Kegiatan operasi dan pemeliharaan dilaksanakan oleh pegawai negeri
sipil, pekerja dan tenaga profesional. Pelaksana kegiatan operasi dan
pemeliharaan ini mendapatkan imbalan kerja atas jasa/kerja yang dilakukan
2. Operasional Kantor
Operasional kantor dalam mendukung pelaksanaan operasi dan
pemeliharaan meliputi:
a. Bahan Alat Tulis Kantor
b. Prasarana Kantor
c. Operasional Kantor
3. Sarana Pelaksana Operasi dan Pemeliharaan
Sarana pelaksanaan operasi dan pemeliharaan yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan yaitu:
a. Kendaraan Operasi dan Pemeliharaan
b. Perangkat Komputer dan Software
c. Komunikasi (komunikasi HT/jaringan internet)
d. Perlengkapan Survai dan Operasi
4. Kegiatan Pendukung Operasi dan Pemeliharaan
Kegiatan pendukung operasi dan pemeliharaan dilakukan dengan
melakukan aktivitas sebagai berikut:
a. Pemetaan dan Skema Jaringan Irigasi
b. Penelitian - Satuan Kebutuhan Air - Awal Tanam
c. Buku Puma Laksana dan Buku Pedoman
5. Pemberdayaan P3A/GP3A/IP3A
Masyarakat petani dapat berperan serta dalam operasi dan
pemeliharaan jaringan irigasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya
yang disalurkan melalui P3A/GP3A/IP3A. Partisipasi P3A/GP3A/IP3A dapat
diwujudkan dalam:

Institut Teknologi Nasional


18

a. Rapat Koordinasi Evaluasi Kebutuhan P3A/GP3A/IP3A


b. Pendampingan P3A/GP3A/IP3A
c. Fasilitasi Rapat
d. Fasilitasi Dokumen
e. Studi Lapang
f. Pelatihan

2.4.1 Biaya Operasi Jaringan Irigasi


Biaya operasi jaringan irigasi merupakan biaya yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan operasi jaringan irigasi dimulai dari rencana alokasi air dalam
DAS sampai pelaksanaan operasi.
1. Biaya perencanaan operasi jaringan irigasi
Biaya yang dibutuhkan untuk perencanaan operasi jaringan irigasi adalah
sebagai berikut:
a. Biaya rencana alokasi air dan sosialisasi hak guna air
b. Biaya perencanaan tata tanam
c. Biaya penyediaan air tahunan
2. Biaya pelaksanaan operasi jaringan irigasi
Biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan operasi jaringan irigasi adalah
sebagai berikut:
a. Biaya pengadaan formulir pelaksanaan operasi
b. Biaya kordinasi pembagian air irigasi
c. Biaya pengoperasian bangunan pengatur/bangunan utama
d. Biaya penanggulangan kekeringan suplesi pompa
e. Biaya penanggulangan banjir pompa genangan
3. Biaya monitoring dan evaluasi
Biaya yang dibutuhkan untuk monitoring dan evaluasi jaringan irigasi adalah
sebagai berikut:
a. Biaya kordinasi monitoring dan evaluasi
b. Biaya kalibrasi bangunan ukur

Institut Teknologi Nasional


19

2.4.2 Biaya Pemeliharaan Jaringan Irigasi


Biaya pemeliharaan jaringan irigasi merupakan biaya yang harus
dikeluarkan untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi. Biaya
tersebut meliputi biaya inventarisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan,
evaluasi, dan pelaporan.
1. Biaya inventarisasi jaringan irigasi
2. Biaya perencanaan pemeliharaan jaringan irigasi
Biaya yang dibutuhkan untuk perencanaan pemeliharaan jaringan
irigasi adalah sebagai berikut:
a. Biaya inspeksi rutin
b. Biaya penelusuran jaringan irigasi
c. Biaya identifikasi dan analisis tingkat kerusakan
d. Biaya pengukuran dan pembuatan detail desain perbaikan jaringan irigasi
3. Biaya pelaksanaan pemeliharaan jaringan irigasi
Biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pemeliharaan jaringan irigasi adalah
sebagai berikut:
a. Biaya persiapan pelaksanaan pemeliharaan
b. Biaya pengamanan jaringan irigasi
c. Biaya pemeliharaan rutin
d. Biaya pemeliharaan berkala
e. Biaya penanggulangan/perbaikan darurat
4. Biaya pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pemeliharaan jaringan irigasi

2.5 Jaringan Irigasi Ciherang


Jaringan Irigasi Ciherang memiliki beberapa saluran irigasi. Saluran
tersebut berupa saluran primer dan saluran sekunder. Saluran pada Jaringan Irigasi
Ciherang dapat dilihat pada Tabel 2.3, selain saluran jaringan irigasi ciherang juga
memiliki bangunan air yang dapat dilihat pada Tabel 2.4.

Institut Teknologi Nasional


20

Tabel 2.3 Saluran Irigasi Ciherang


Nama Saluran Panjang (Km) Luas (Ha)
Saluran Induk/Primer 7,853 651,00
Saluran Sekunder Hantap 3,522 124,72
Saluran Sekunder Cisalak 2,800 192,96
Saluran Sekunder Tanjung 1,024 209,69
Saluran Sekunder Bj. Kunci 0,291 160,50
Saluran Sekunder Ranca Tungku 0,622 254,90
Saluran Ranca Mulya 1,542 182,00
Saluran Sekunder Baleendah 6,584 460,00
Jumlah 24,238 2235,77
(Sumber : SUP Ciwidey Cirasea)

Tabel 2.4 Bangunan Air Ciherang


Bangunan Jumlah
Bendung 1
Bangunan bagi Sadap 6
Bangunan Sadap 27
Bangunan Ukur 2
Bangunan Pelengkap 37
(Sumber : SUP Ciwidey Cirasea)

Kondisi jaringan irigasi dapat diketahui dari hasil penelusuran jaringan


irigasi tersebut. Data penelusuran jaringan irigasi didapat Penulis dari insatansi
terkait. Nilai indeks kondisi jaringan Ciherang dilihat pada Tabel 2.5. Nilai indeks
tersebut dapat menggambarkan kondisi kinerja jaringan irigasi Ciherang dengan
cara melihat kategori kondisi kinerja menurut nilai indeks kinerja yang telah
dihitung. Kategori kondisi kinerja jaringan irigasi menurut PERMEN PUPR No. 12
Tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel 2.6.

Institut Teknologi Nasional


21

Tabel 2.5 Indeks Kondisi Jaringan Irigasi Ciherang

Indeks Kondisi Jaringan


No Uraian
Irigasi Ciherang (%)
1 Prasarana Fisik 24,39
2 Produktivitas Tanam 12,40
3 Sarana Penunjang 7,81
4 Organisasi Personalia 8,70
5 Dokumentasi 2,80
6 P3A, GP3A, IP3A 4,08
(Sumber : SUP Ciwidey Cisarea)
Tabel 2.6 Nilai Indeks Kinerja Sistem Irigasi
No Nilai Indeks Kategori
1 80 - 100 Kinerja Sangat Baik
2 70 - 79 Kinerja Baik
3 55 - 69 Kinerja Kurang dan Perlu Perhatian
4 < 55 Kinerja Jelek dan Perlu Perhatian
(Sumber : Peraturan Menteri PUPR 12 Tahun 2015)

Daerah Irigasi Ciherang termasuk wilayah kerja dari Satuan Unit


Pelayanan Cirasea Ciwidey pengelolaannya oleh Propinsi yaitu BPSDA (Balai
Pengelola Sumber Daya Air). Operasi dan Pemeliharaan Daerah Irigasi Ciherang
dikelola oleh personil yang ditunjukkan pada Tabel 2.7.

Tabel 2.7 Daftar Personil OP Ciherang

Jumlah Ketersediaan
Pegawai Keterangan
(Org)
Pengamat 1 PNS
Staff 8 1 PNS
Mantri 1 Non PNS
POB 2 Non PNS
PPA 14 Non PNS
(Sumber: SUP Ciwidey Cirasea)

Institut Teknologi Nasional


22

2.6 Studi Terdahulu


Studi terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan
kajian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam penulisan
kajian ini. Penulis mengangkat beberapa studi terdahulu sebagai referensi dalam
memperkaya bahan kajian penulis. Studi terdahulu terkait yang pernah dilakukan
adalah sebagai berikut:
1. Domingus Savio Da Cruz,
Penelitian yang dilakukan Dominguz Savio Da Cruz, (2018) tentang “Kajian
Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Cihea Kabupaten Cianjur” memiliki
tujuan untuk menilai kinerja jaringan irigasi dan perhitungan biaya Angka
Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan (AKNOP). Penelitian ini
dilakukan dengan melaksanakan survei kondisi lapangan lalu dibandingkan
dengan peraturan yang berlaku. Hasil penelitian tersebut menunjukkan
kesimpulan bahwa pelaksanaan OP belum optimal karena kekurangan personil,
dana, dan sarana penunjang, selain itu kondisi kinerja Jaringan Irigasi Cihea
masih menunjukkan kondisi yang baik.
2. Ludiana
Penelitian yang dilakukan Ludiana, (2015) tentang “Evaluasi Kinerja Jaringan
Irigasi Bendungan Tilong Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang”
dilakukan dengan melakukan tinjauan tingkat efisiensi penyaluran air irigasi,
efektifitas lahan rencana dan kinerja. Hasil penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan kesimpulan bahwa kinerja Jaringan Irigasi Fatukanutu kurang
baik.

Institut Teknologi Nasional

Anda mungkin juga menyukai