1.
Pengertian Espor Impor
Pihak yang melakukan ekspor maupun impor dapat dilakukan oleh antar individu
(perseorangan), individu dengan pemerintah, maupun pemerintah suatu negara dengan
pemerintah negara lainya. Orang atau perusahaan yang mengeluarkan barang atau melakukan
kegiatan ekspor disebut dengan eksportir. Lalu pihak yang mendatangkan barang dari luar
disebut importir. Contoh ekspor Indonesia adalah pengiriman minyak sawit atau CPO ke
negara-negara Eropa dan Timur Tengah. Beberapa komoditas andalan ekspor Indonesia
antara lain kopi, karet, rotan, kayu, tekstil, ikan, udang, dan sebagainya Definisi, Prinsip,
Jenis, dan Contohnya Sementara contoh impor adalah pengusaha Indonesia yang
mendatangkan gandum dari Rusia. Indonesia juga rutin mengimpor minyak, kapas,
elektronik, dan sebagainya.
Dalam perdagangan internasional, kegiatan ekspor dan impor diawasi dan diurusi oleh
badan pabenan atau customs. Pabean di Indonesia yakni Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di
bawah Kementerian Keuangan memungut bea atas barang yang keluar dan masuk. Semua
negara tentunya menginginkan ekspor lebih besar dibandingkan impor. Semakin besar
ekspor, maka semakin banyak pula keuntungan yang diperoleh dalam bentuk cadangan
devisa. Baca juga: Apa Itu UKM dan Bagaimana Klasifikasi? Peluang produk masyarakat
Indonesia menembus pasar internasional sangat besar karena didukung oleh letak strategis
sebagai jalur utama perdagangan Internasional.
Yang bukan faktor pendorong terjadinya perdagangan internasional adalah sebagai
berikut: Sistem ekonomi Perbedaan mata uang antarnegara Risiko dan kesulitan pembayaran
lintas negara Kualitas sumber daya yang rendah Ekspor Pengertian ekspor yang merujuk pada
Peraturan Pemeruntah Nomor 10 Tahun 2021, ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang
dari daerah pabean. Daerah pabean adalah suatu daerah milik Republik Indonesia yang terdiri
dari wilayah darat, perairan, dan udara, yang juga mencakup seluruh daerah tertentu yang
berada di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Aktivitas ekspor adalah biasanya terjadi
ketika suatu negara sudah mampu memproduksi barang atau jasa yang jumlahnya besar dan
kebutuhan di dalam negeri sudah mencukupi. Sehingga, kelebihan produksi barang tersebut
bisa dikirim untuk dijual di negara lain. Saat melakukan ekspor, maka negara tersebut akan
menerima pemasukan yang biasa disebut sebagai devisa. Semakin sering suatu negara
melakukan ekspor, maka semakin besar pula keuntungan devisa yang diperoleh.
Di Indonesia, jenis ekspor adalah terbagi menjadi dua yakni ekspor migas dan ekspor
non-migas. Komoditas migas seperti minyak bumi dan gas. Sementara non-migas seperti
hasil-hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, kerajinan, barang industri, dan
mineral hasil tambang. Dikutip dari Buku Ekspor dan Impor (2019) karangan Wahyu Puji,
berikut beberapa faktor yang mempengaruhi ekspor: Keadaan pasar di luar negeri Iklim usaha
yang diciptakan pemerintah Keahlian eksportir merebut pasar luar negeri Ketentuan
perjanjian internasional Untuk Indonesia, komoditas ekspor adalah karet, minyak sawit, gas
alam, batu bara, hasil hutan, hingga produsen garmen dan tekstil.
Impor adalah istilah yang sudah tak asing lagi dalam perdagangan internasional.
Lawan dari impor adalah ekspor (ekspor impor). Apa yang dimaksud dengan impor? Arti
impor merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2021, impor adalah kegiatan
memasukkan barang ke dalam daerah pabean. Pemasukan barang atau jasa dari luar negeri
atau daerah pabean untuk diedarkan ke dalam negeri atau daerah lalu lintas bebas.
Untuk jasa yang diterima dari luar negeri, seperti asuransi, transportasi, tenaga asing
diperhitungkan juga sebagai impor. Sebagaimana penjelasan di atas, aktivitas menjual barang
dari luar negeri ke dalam negeri disebut impor. Sementara itu dikutip dikutip dari Buku
Ekspor dan Impor (2019) karangan Wahyu Puji, impor adalah kegiatan membeli barang atau
jasa dari negara lain. Baca juga: Mengenal Apa Itu Purchase Order atau PO Pada umumnya,
pembelian barang impor adalah barang-barang yang tak bisa diproduksi di dalam negeri.
Orang atau lembaga yang mendatangkan barang impor disebut dengan importir. Salah satu
alasan mengimpor barang adalah karena mendapatkan keuntungan. Keuntungan diperoleh
karena harga barang impor yang dijual bisa lebih murah ketimbang barang atau jasa yang
sama yang diproduksi di dalam negeri. Jenis-jenis barang dari impor adalah barang konsumsi
atau barang jadi, barang modal, bahan baku, dan bahan penolong. Ada beberapa alasan
melakukan impor adalah antara lain: Negara yang mengimpor tidak bisa memproduksi
barang tersebut karena ketiadaan bahan baku, keterampilan, dan sebagainya. Negara
pengimpor bisa saja memproduksi barang itu sendiri, namun biayanya lebih mahal yang
nantinya akan membuat harga barang yang dijual lebih mahal Negara pengimpor sudah bisa
menghasilkan sendiri, namun tak cukup untuk memenuhi permintaan di dalam negeri.
Beberapa produk tersebut tidak dibuat Indonesia, produk tersebut masuk ke Indonesia
melalui kegiatan perdagangan Internasional. Perdagangan internasional merupakan kegiatan
jual beli barang/jasa antara satu negara dengan negara lainnya. Dalam perdagangan
internasional, setiap negara yang terlibat mengharapkan keuntungan. Tujuan dilakukannyan
perdagangan internasional adalah untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan tersebut.
Misalnya dalam penjualan barang barang elektronik, Indonesia memperoleh keuntungan
berupa terpenuhinya kebutuhan masyarakat terhadap barang tersebut, sedangkan bagi negara
produsen mendapat keuntungan berupa devisa dari penjualan barang tersebut. Perdagangan
internasional diwujudkan melalui ekspor impor. Ekspor adalah kegiatan menjual barang/jasa
ke luar negeri, sedangkan impor adalah kegiatan membeli barang/jasa dari luar negeri.
Kegiatan ekspor dan impor akan memperluas lapangan kerja, menghasilkan devisa negara
dan keuntungan lainnya dibidang politik, pertahanan dan sosial budaya.
[Link] Kegiatan Ekspor Impor
Negara kita kaya akan komoditas yang dibutuhkan oleh negara lain. Keuntungan
sebagai negara kepulauan dan beriklim tropis yang dimiliki Indonesia, yakni melimpahnya
hasil alam yang tidak dimiliki negara empat musim. Berikut contoh kegiatan ekspor
Indonesia:
1. Kelapa Sawit dan Produknya
Sawit merupakan tumbuhan industri potensial penghasil minyak untuk memasak,
minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Sawit Indonesia mendominasi pasar dunia
dengan produksi 31 juta ton per tahun, berasal dari tanah Kalimantan, Sulawesi, pantai timur
Sumatera, Jawa, dan Aceh.
Saat ini, sektor sawit menyumbang lebih dari US$ 18 miliar sebagai komoditas ekspor
terbesar di Indonesia. Selain pasar-pasar tradisional di Cina, Eropa dan Bangladesh,
pemerintah menetapkan kebijakan untuk menjual produk sawit kepada pasar nontradisional.
Terkait isu black campaign oleh Amerika Serikat terhadap produk biodiesel yang
menggunakan sawit dari Indonesia dan rencana negara Uni Eropa menghentikan program
biodiesel dari kelapa sawit pada 2020, Indonesia mulai membidik pasar Afrika, Timur
Tengah, dan Brunei Darussalam.
2. Tekstil dan Produk Tekstil
Secara teknis, industri tekstil dibagi menjadi tiga sektor utama, yaitu hulu, menengah,
dan hilir. Pembagian sektor tersebut didasarkan pada proses produksinya, mulai dari
pembuatan serat (hulu), penenunan dan pencelupan (menengah), dan pengolahan pakaian jadi
(hilir). Industri tekstil dan produk tekstil menjadi salah satu yang menjanjikan, baik di dalam
maupun luar negeri.
Pada tahun 2017, pertumbuhan ekspor tekstil mencapai US$ 12,3 miliar dengan target
kapasitas produksi 1.638.000 ton per tahun. Menanggapi tingginya permintaan pasar tersebut,
teknologi yang lebih canggih kemudian dikembangkan dengan digitalisasi mesin untuk
menambah percepatan efisiensi serta merekrut operator mesin garmen hingga 424.261 tenaga
kerja.
3. Karet dan Produknya
Tanaman karet mulai dibudidayakan di Indonesia pada tahun 1876. Produksi karet
alam di Indonesia mencapai 3,2 juta ton per tahun, terbesar di dunia kedua setelah Thailand.
Produksi karet alam di Indonesia mencapai 3,2 juta ton per tahun, terbesar di dunia kedua
setelah Thailand.
Hasil olahan tanaman karet yang diekspor dapat berupa getah karet (lateks), lembaran
karet (sheet), bongkahan, karet remah (crump rubber), maupun produk turunannya, yakni ban
dan komponen. Negara target ekspor produksi karet Indonesia di antaranya adalah Jepang,
Korea Selatan, Vietnam, Singapura, Brasilia, Jerman, India, Belanda, Turki, Argentina,
Prancis, Spanyol, Belgia, Italia, Taiwan, Austraila.
Salah satu merek dagang Indonesia yang terkenal di pasar luar negeri adalah GT
Radial, yaitu produsen ban mobil yang memulai ekspansi produknya di negara Timur
Tengah, Asia, dan Amerika pada tahun 1983. Label dalam negeri lain sebagai pengekspor
produk ban adalah Achiless, dengan pasar terbesar di Timur Tengah, Asia Pasifik, Eropa, dan
Amerika.
4. Kakao dan Olahannya
Tanaman ini banyak dijumpai di negara-negara tropis. Per tahun 2013, Indonesia
menempati urutan ketiga sebagai negara penghasil kakao terbesar di dunia, sedangkan Pantai
Gading mendominasi kegiatan ekspor kakao dunia sebanyak 30%. Indonesia menghasilkan
700 ribu ton kakao per tahun yang berasal dari Sulawesi dan Sumatera. Biji kakao asli banyak
diekspor ke Malaysia, Amerika Serikat, dan Singapura.
Hasil olahan kakao yang diekspor berupa mentega kakao sebanyak 114 ribu ton per
tahun ke Eropa dan Amerika Serikat. Olahan lainnya, seperti bubuk kakao, diekspor ke Asia,
Timur Tengah, Rusia, dan Amerika Latin sebanyak 58 ribu ton per tahun.
Merek dagang Indonesia produsen cokelat yang terkenal hingga menjual produknya
ke luar negeri adalah Silver Queen, Chunky Bar, dan Ceres. Diproduksi oleh Petra Foods,
hasil cokelat Indonesia mampu bersaing dengan perusahaan cokelat terbesar di Amerika
Serikat, yaitu M&M.
5. Biji Kopi
Tidak diragukan lagi hasil alam dari Indonesia menjadi primadona dari segi
keragaman dan kualitas. Termasuk daya saing biji kopi asli dalam negeri di perdagangan
dunia. Varietas yang dominan dibudidayakan di Indonesia adalah jenis Arabika dan Robusta.
Selain itu, Indonesia terkenal dengan jenis kopi khas, di antaranya kopi luwak yang
diekstraksi dari hasil fermentasi biji kopi di dalam perut hewan luwak, kopi yang berasal dari
daerah seperti Toraja, Aceh, dan Mandailing. Biji kopi pilihan banyak berasal dari Pulau
Sumatera.
Indonesia mampu menghasilkan 800 kilogram biji kopi per hektar, menempati urutan
ketiga setelah Brasilia dan Vietnam. Pasar kopi Indonesia terbesar adalah Amerika Serikat
sebanyak 23%, kemudian Jepang, Jerman, Italia, dan Malaysia.
6. Produk Hasil Hutan (kayu lapis, bubur kayu, kertas)
Larangan ekspor kayu bulat dari Indonesia selama 16 tahun membuat negara ini
terkenal sebagai penghasil kayu ilegal. Meskipun begitu, pemanfaatan hutan di Indonesia
cukup signifikan, terbukti dengan predikat pengekspor kayu terbesar di dunia. Sejak
peluncuran lisensi Foreign Law Enforcement Governance and Trade (FLEGT) pada
November 2016 lalu, para pelaku ekspor kayu mampu melakukan perdagangan secara legal
hingga ke Uni Eropa. Volume ekspor naik hingga 11 persen, mencapai angka US$ 12 miliar
pada akhir tahun 2017.
Potensi sumber daya alam hutan Indonesia sangat beragam, mulai jadi berbagai jenis
kayu untuk keperluan mabel, olahan kayu lapis, proses pembentukan dan penyambungan
kayu, industri kertas dan bubur kayu, kayu gergaji, dan veneer. Negara pembeli hasil hutan
Indonesia berupa kayu lapis, di antaranya Thailand, Singapura, Cina, Jepang, Korea Selatan,
Taiwan, Hongkong. Sedangkan ekspor kayu mentah banyak dikirim ke Jepang, Thailand, dan
Singapura.
7. Batu Bara dan Energi Geothermal
Meski tidak lagi sebanyak dulu, Kalimantan masih menghasilkan batu bara dengan
jumlah setara 281 juta ton minyak bumi per tahun. Jumlah tersebut mampu menutupi 7,2%
kebutuhan dunia saat ini. India dan Cina merupakan negara pengimpor terbesar hasil batu
bara dari Indonesia.
Ada hal menarik lain yang belum disadari potensinya oleh pemerintah untuk dijadikan
komoditas ekspor yang menjanjikan. Yakni energi geothermal untuk keperluan pembangkit
listrik. Indonesia tercatat sebagai negara lima besar penghasil listrik dari energi panas bumi,
di urutan ketiga dengan 1,197 Megawatt elektrikal, bersanding dengan Amerika Serikat dan
Filipina di urutan atas.
Sebanyak 40% sumber panas bumi berada di bawah tanah Indonesia sehingga sangat
besar kemungkinan untuk dikembangkan menjadi energi terbarukan yang mampu bersaing di
pasar internasional dan konsumsi dalam negeri. Hambatan terbesar dalam adanya undang-
undang perlindungan daerah hutan lindung dan area konservasi, karena aktivitas geothermal
dikategorikan sebagai aktivitas pertambangan, tertera dalam Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2003.