0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
99 tayangan68 halaman

Pendidikan Kesehatan dan Ulkus Diabetik

Skripsi ini membahas pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan pencegahan ulkus diabetik pada pasien diabetes di Puskesmas Tanjung Pinang. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimental dengan pre dan post test untuk 40 responden. Hasilnya menunjukkan pendidikan kesehatan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan responden dalam mencegah komplikasi diabetes.

Diunggah oleh

konco we
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
99 tayangan68 halaman

Pendidikan Kesehatan dan Ulkus Diabetik

Skripsi ini membahas pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan pencegahan ulkus diabetik pada pasien diabetes di Puskesmas Tanjung Pinang. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimental dengan pre dan post test untuk 40 responden. Hasilnya menunjukkan pendidikan kesehatan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan responden dalam mencegah komplikasi diabetes.

Diunggah oleh

konco we
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN


DALAM PENCEGAHAN ULKUS DIABETIK PADA PASIEN
DIABETES MELLITUS DI PUSKESMAS
TANJUNG PINANG

Devia Novianti

[Link].[Link].64

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKKES KEMENKES JAMBI
TAHUN 2021
SKRIPSI

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN


DALAM PENCEGAHAN ULKUS DIABETIK PADA PASIEN
DIABETES MELLITUS DI PUSKESMAS
TANJUNG PINANG

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar


Sarjana Terapan Keperawatan ([Link])

Devia Novianti
[Link].[Link].64

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKKES KEMENKES JAMBI
TAHUN 2021
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Devia Novianti
Nim : PO.71201200064
Program Studi : Sarjana Terapan Keperawatan
Judul Skripsi : “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Dalam Pencegahan
Ulkus Diabetik Pada Pasien Diabetes Mellitus Di Puskesmas Tanjung Pinang”

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tugas akhir skripsi yang saya tulis ini benar-benar hasil
karya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui
sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan
skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Jambi, Oktober 2021

Pembuat Pernyataan

Devia Novianti
NIM.PO71201200064
RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama : Devia Novianti


Tempat/Tanggal Lahir: Jambi, 29 November 1999
Agama : Islam
Nama Bapak : Agus Rudianto
Nama Ibu : Eliana
Alamat : Jln. Pratu Tandu Swito, RT 06, No. 29c Telanaipura
Riwayat Pendidikan : TK Rosana Jambi
SDN 47 Kota Jambi
SMPN 17 Kota Jambi
SMAN 5 Kota Jambi
Poltekkes Kemenkes Jambi Jurusan Keperawatan
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI
Skripsi, Agustus 2021

Devia Novianti, Devianovianti424@[Link]

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN DALAM


PENCEGAHAN ULKUS DIABETIK PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI
PUSKESMAS TANJUNG PINANG

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan


terhadap pengetahuan dalam pencegahan ulkus diabetic pada pasien diabetes mellitus.
Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar
glukosa darah melebihi normal dan gangguan metabolism karbohidrat, lemak dan protein yang
disebabkan oleh kekurangan hormone insulin secara relative maupun absolute dan bila dibiarkan
tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolic akut maupun komplikasi vaskuler jangka
panjang, baik mikroanglopati maupun makroanglopati.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Quasi Eksperimental dengan rancangan pre and post
test. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 responden dengan teknik purposive sampling.
Penelitian ini bertempat di Puskesmas Tanjung Pinang Kota Jambi dengan menggunakan
instrument kuesioner sebanyak 10 item pertanyaan dan menggunakan leaflet. Uji yang digunakan
adalah uji Wilcoxon.
Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value (0.000) < 0.05 berarti bahwa ada pengaruh
pada pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dalam pencegahan ulkus diabetic. Tingkat
pengetahuan responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah 40 orang memiliki
tingkat pengetahuan yang rendah. Setelah diberikan pendidikan kesehatan memperlihatkan
tingkat yang lebih tinggi yaitu 3 orang rendah dan 37 responden memiliki pengetahuan yang
baik.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan atau rekomendasi
penanggung jawab program penyakit kronis pada puskesmas hendaknya menyusun program
yang sesuai agar penderita diabetes mellitus dapat memiliki pengetahuan yang baik tentang
penyakitnya sehingga dapat melakukan manajemen diri yang baik.

Kata Kunci : Pendidikan Kesehatan, Diabetes mellitus, Pengetahuan, Pencegahan Ulkus


APPLIED NURSING UNDERGRADUATE STUDY
PROGRAM, DEPARTEMENT OF NURSING
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI
Thesis, August 2021

Devia Novianti, Devianovianti424@[Link]

THE EFFECT OF HEALTH EDUCATION ON KNOWLEDGE IN PREVENTION OF


DIABETIC ULCUS IN DIABETES MELLITUS PATIENTS IN TANJUNG PINANG
PUSKESMAS

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine the effect of health education on knowledge
in the prevention of diabetic ulcers in patients with diabetes mellitus.
Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by blood glucose levels
exceeding normal and disturbances of carbohydrate, fat and protein metabolism caused by a
relative or absolute deficiency of the hormone insulin and if left uncontrolled, acute metabolic
complications and long-term vascular complications can occur. , both microanglopathy and
macroanglopathy.
This study uses a Quasi Experimental approach with a pre and post test design. The
sample in this study was 40 respondents with purposive sampling technique. This study took
place at the Tanjung Pinang Health Center, Jambi City, using a questionnaire instrument as many
as 10 questions and using leaflets. The test used is the Wilcoxon test.
The results showed that the p-value (0.000) < 0.05 means that there is an effect on health
education on knowledge in preventing diabetic ulcers. The level of knowledge of respondents
before being given health education was 40 people who had a low level of knowledge. After
being given health education, it showed a higher level, namely 3 low people and 37 respondents
had good knowledge.
The results of this study are expected to be a consideration or recommendation for the
person in charge of the chronic disease program at the puskesmas should develop an appropriate
program so that people with diabetes mellitus can have good knowledge about their disease so
that they can carry out good self-management.

Keywords: Health Education, Diabetes mellitus, Knowledge, Ulcer Prevention


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan Skripsi ini. Penulisan Skripsi ini dilakukan dalam rangka
memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Terapan Keperawatan pada Program
Studi Diploma IV Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Jambi. Skripsi ini terwujud atas
bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu
persatu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Rusmimpong, [Link], [Link] selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes
Jambi.
2. Ibu Gusti Lestari Handayani, [Link], [Link] selaku ketua Jurusan Keperawatan
Poltekkes Kemenkes Jambi beserta Staf pendidikan.
3. Bapak Daryanto, [Link], [Link] selaku Pembimbing Utama yang telah membimbing
saya dan telah banyak memberikan ilmu kepada saya
4. Ibu Ns. Yellyanda, [Link], [Link] selaku Pembimbing Pendamping yang telah
membimbing saya dan telah banyak mengajarkan saya ilmu
5. Ibu Abbasiah, SKM, [Link] selaku Penguji Utama yang telah banyak membantu dan
memberikan saran yang terbaik kepada saya
6. Ibu Ns. Loriza Sativa Yani, [Link] selaku Pembimbing Akademi saya yang telah
banyak membantu saya pada masa perkuliahan ini
7. Teruntuk kedua orang tua saya dan seluruh keluarga saya terima kasih telah
membantu saya dalam hal apapun, doa kalian akan terus menyertaiku
8. Teruntuk sahabat seperjuanganku Kenia, Silvi, Sheren dan akhmad terima kasih
banyak telah membantu, mendukung dan mensupport saya selama perkuliahan yang
tidak akan pernah saya lupakan
Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala
kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Tugas Akhir ini membawa manfaat
bagi pengembangan ilmu.
Jambi, 29 Juli 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman Judul.........................................................................................................
Kata Pengantar.......................................................................................................i
Daftar Isi.................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................
A. Latar Belakang.........................................................................................
B. Rumusan Masalah....................................................................................
C. Tujuan Penelitian.....................................................................................
D. Manfaat Penelitian...................................................................................
E. Ruang Lingkup.........................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................
A. Konsep Penyakit Diabetes Mellitus.........................................................
1. Definisi...............................................................................................
2. Patofisiologi.......................................................................................
3. Etiologi...............................................................................................
4. Klasifikasi..........................................................................................
5. Manifestasi Klinis..............................................................................
6. Komplikasi.........................................................................................
7. Kriteria Diagnostik.............................................................................
B. Konsep Penyakit Ulkus Diabetik.............................................................
1. Definisi...............................................................................................
2. Etiologi...............................................................................................
3. Patofisiologi.......................................................................................
4. Diagnosis............................................................................................
5. Pencegahan.........................................................................................
C. Konsep Pengetahuan................................................................................
1. Definisi...............................................................................................
2. Pentingnya Pengetahuan....................................................................
3. Tingkatan Pengetahuan......................................................................
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi.....................................................
5. Konsep pengetahuan pencegahan ulkus diabetic...............................
D. Konsep Pendidikan Kesehatan.................................................................
1. Definisi...............................................................................................
2. Tujuan................................................................................................
3. Metode................................................................................................
4. Ruang lingkup....................................................................................
E. Kerangka Teori.........................................................................................

ii
BAB III METODOLOGI PENELITIAN..............................................................
A. Kerangka Konsep.....................................................................................
B. Definisi operasional.................................................................................
C. Hipotesis penelitian..................................................................................
D. Desain penelitian......................................................................................
E. Lokasi dan Tempat penelitian..................................................................
F. Populasi dan sampel.................................................................................
G. Pengumpulan data....................................................................................
H. Instrument penelitian................................................................................
I. Pengolahan Dan Analisa data...................................................................
J. Etika penelitian.........................................................................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian...................................................
B. Hasil Penelitian....................................................................................
C. Pembahasan.........................................................................................
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN..............................................................
A. Kesimpulan..........................................................................................
B. Saran ...................................................................................................

LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh

kadar glukosa darah melebihi normal dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan

protein yang disebabkan oleh kekurangan hormone insulin secara relative maupun

absolute dan bila dibiarkan tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolic akut

maupun komplikasi vaskuler jangka panjang, baik mikroanglopati maupun

makroanglopati (Hasdianah, 2018).

Penyakit diabetes mellitus menjadi salah satu ancaman kesehatan global dengan

jumlah penderita yang meroket setiap tahunnya. Tercatat di data WHO (World Health

Organization) memprediksi kenaikan jumlah penderita DM di Indonesia dari 8,4 juta di

tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030 (Perkeni, 2019). Berdasarkan hasil

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi DM

di Indonesia dari 5,7% tahun 2007 menjadi 6,9% tahun 2013. Untuk provinsi Jambi

prevalensi DM berdasarkan Riskesdas 2013 adalah 6,9% dan 2018 menjadi 8,5%.

Kenaikan jumlah penderita DM memiliki pengaruh besar pada peningkatan

komplikasi pada pasien diabetes mellitus. Salah satu komplikasi yang menimbulkan

permasalahan adalah luka pada kaki yang menyebabkan infeksi atau ulkus diabetic.

Strategi pencegahan ulkus diabetic dengan edukasi kepada pasien, perawatan kulit, kuku

kaki dan penggunaan alas kaki yang dapat melindungi kulit. Kaki harus dibersihkan

secara teliti dan dikeringkan dengan handuk kering setiap kali mandi dan dianjurkan

menggunakan kaos kaki setiap saat yang cocok secara teliti (Hasdianah, 2018).

1
Berdasarkan hasil penelitian Juwitaningtyas (2014), munculnya luka kaki diabetic

ditandai dengan adanya luka terbuka pada permukaan kulit sehingga mengakibatkan

infeksi sebagai akibat dari masuknya kuman atau bakteri pada permukaan luka. Masalah

lain yang memicu timbulnya luka diabetic yaitu trauma kaki (kaki lecet), kekurangan

latihan fisik, pengetahuan tentang penyakit DM yang kurang dan kadar glukosa yang

tidak terkontrol.

Perawat memiliki peran untuk melakukan pencegahan dini terhadap komplikasi

diabetes mellitus dengan cara memberikan pendidikan kesehatan terhadap tingkat

pengetahuan tentang pentingnya mengetahui, memahami dan mencegah komplikasi

penyakit diabetes mellitus. Pendidikan kesehatan adalah upaya untuk memberikan

informasi dan keterampilan yang berkaitan dengan kesehatan pada individu, kelompok,

dan masyarakat (Induniasih & Ratna, 2019).

Pendidikan kesehatan mengacu pada setiap gabungan pengalaman belajar yang

dipolakan untuk memudahkan penyesuaian-penyesuaian perilaku secara sukarela yang

memperbaiki kesehatan individu. Nilai pendidikan mengikuti tingkat pengetahuan yang

diperoleh dan daya upaya pendidikan orang dengan tingkat pengetahuan yang masih

rendah. Tujuan pendidikan kesehatan adalah untuk mengubah perilaku individu atau

masyarakat di bidang kesehatan (Induniasih & Ratna, 2019).

Kurang pengetahuan atau kesadaran pasien sehingga menjadi salah satu faktor

yang berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian ulkus diabetic dan tingkat

pengetahuan penderita DM tentang ulkus diabetik dikategorikan kurang baik 34%, hal

tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya informasi mengenai ulkus diabetic. Dalam

2
penatalaksanaan DM dikenal 4 pilar untuk meningkatkan pengetahuan dalam pencegahan

ulkus diabetic yaitu edukasi, nutrisi, aktivitas fisik, dan medikasi (Perkeni, 2019).

Pendidikan kesehatan pada penderita diabetes mellitus memiliki peranan yang

penting untuk mengubah perilaku dengan meningkatkan pengetahuan penderita tentang

penyakitnya agar mencapai keadaan sehat serta kualitas hidup yang lebih baik.

Pendidikan kesehatan pada pasien diabetes mellitus juga diperlukan karena

penatalaksanaan memerlukan penanganan yang khusus untuk menghindari komplikasi

diabetic jangka panjang (Damayanti, 2015).

Dampak yang terjadi jika kurangnya edukasi atau pendidikan kesehatan terhadap

pencegahan ulkus diabetic merupakan masalah yang rumit dan tidak terkelola dengan

maksimal, sehingga berdampak pada masalah kaki diabetic. Kaki diabetic yang tidak

terkelola akan mudah mengalami masalah lebih lanjut seperti luka dan bahkan dapat

menjadi ulkus gangren.

Berdasarkan hasil penelitian Ayu & Damayanti (2015) ada pengaruh pendidikan

kesehatan terhadap tingkat pengetahuan pasien DM dalam pencegahan ulkus kaki di

Poliklinik RSUD panembahan Senopati Bantul dan berdasarkan hasil penelitian

Juwitaningtyas (2014) Tingkat pengetahuan penderita DM dalam melakukan pencegahan

luka kaki diabetik sesudah mendapatkan pendidikan kesehatan sebagian besar mengalami

peningkatan, sehingga terdapat pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap

peningkatan pengetahuan penderita DM dalam melakukan pencegahan luka kaki diabetic.

3
Berdasarkan hasil data dari dinas kesehatan kota Jambi jumlah keseluruhan

penderita DM pada tahun 2020 sebanyak 7.179 orang. Dari data tersebut diketahui bahwa

20 puskesmas di kota jambi yaitu puskesmas simpang IV sipin, puskemas putri ayu dan

urutan ketiga di puskesmas Tanjung Pinang yang memiliki jumlah penderita diabetes

terbanyak tahun 2020.

Peneliti melakukan survey pendahuluan pada tanggal 15 Maret 2021 dengan

melakukan wawancara terhadap 10 orang responden di puskesmas tersebut, responden

tidak memenuhi kriteria yang akan diteliti karena jumlah responden yang berobat atau

control ulang pada saat itu hanya sedikit dan responden kurang kooperatif sedangkan saat

dilakukan survey di puskesmas tanjung pinang responden memenuhi kriteria yaitu

responden kooperatif, banyaknya responden penyakit DM dengan ulkus diabetic, karena

salah satu penerapan yang akan dilakukan pemberian pendidikan kesehatan dalam

pencegahan ulkus diabetik dilakukan menggunakan metode penyebaran leaflet dan

kuesioner.

Berdasarkan uraian permasalahan yang muncul maka peneliti tertarik untuk

meneliti tentang “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Dalam

Pencegahan Ulkus Diabetik Pada Pada Pasien Diabetes Mellitus di Puskemas Tanjung

Pinang”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang penulis tetapkan

adalah diketahuinya Apakah ada Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan

dalam pencegahan ulkus diabetic pada pasien diabetes mellitus?

4
C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Diketahuinya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dalam

pencegahan ulkus diabetic pada pasien diabetes mellitus

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya pengetahuan pencegahan ulkus diabetic sebelum diberikan

pendidikan kesehatan

b. Diketahuinya pengetahuan pencegahan ulkus diabetic setelah diberikan

pendidikan kesehatan

c. Diketahuinya perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan

kesehatan

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi Pendidikan Poltekkes Kemenkes Jambi

Dapat dijadikan sebagai sumber bacaan dan pengembangan ilmu keperawatan

khususnya pada area keperawatan penyakit tidak menular dengan memberikan

pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dalam pencegahan ulkus diabetic pada

pasien diabetes mellitus.

2. Bagi Instansi Rumah Sakit

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dan menambah referensi untuk

memberikan gambaran tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pencegahan

ulkus diabetic pada pasien diabetes mellitus.

5
3. Bagi Peneliti Lain

Selain bahan masukan untuk penelitian selanjutnya untuk pemberian pendidikan

kesehatan terhadap pencegahan ulkus diabetic pada pasien diabetes mellitus

4. Responden

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih baik bagi

pasien diabetes mellitus dalam pencegahan ulkus diabetik

E. Ruang Lingkup

Penelitian ini Quasi Eksperimental dengan rancangan pre and post test. Tujuan

penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap

pengetahuan dalam pencegahan ulkus diabetic pada pasien diabetes mellitus di

puskesmas tanjung pinang.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Penyakit Diabetes Mellitus

1. Definisi

Diabetes mellitus (DM) atau kencing manis adalah suatu penyakit yang

disebabkan oleh peningkatan kadar gula dalam darah (hiperglikemi) akibat

kekurangan hormone insulin baik absolut maupun relative. Absolut berarti tidak ada

insulin sama sekali sedangkan relative berarti berarti jumlahnya cukup atau daya

kerjanya kurang (Manurung, 2018).

Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolism kronis yang ditandai dengan

tingginya kadar gula darah sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Hal tersebut

disebabkan oleh gangguan atau difisiensi produk insulin oleh sel beta langerhas

kelenjar pancreas atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel tubuh terhadap

insulin (Masriadi, 2019).

2. Patofisiologi

Menurut Masriadi (2019) patofisiologi diabetes mellitus adalah :

Makanan memegang peranan dalam peningkatan kadar gula darah. Makanan yang

dikonsumsi akan dicerna di dalam saluran cerna (usus) dan kemudian akan diubah

menjadi suatu bentuk gula yang disebut glukosa. Gula diserap oleh dinding usus dan

kemudian beredar di dalam aliran darah. Inilah, sebabnya, sesudah makan akan

terdapat kenaikan kadar gula dalam darah dan gula tersebut akan di distribusikan ke

sel tubuh.

7
Pancreas akan memproduksi insulin yang bertugas mengedarkan glukosa ke

dalam sel tubuh. Insulin adalah hormone kecil yang terletak di sebelah belakang

lambung. Produksi insulin dipengaruhi oleh tingginya kadar gula darah. Semakin

tinggi gula darah semakin tinggi pula insulin yang di produksi. Insulin akan ikut

aliran darah menuju sel untuk memasukkan gula dan zat makanan lain ke dalam sel.

Selama insulin cukup jumlah dan normal kerjanya, maka sesudah makan gula di

dalam darah akan lancar masuk ke sel hingga kadar gula turun kembali ke batas

kadar sebelum makan.

Kadar gula di dalam darah selalu fluktuatif bergantung pada asupan makanan.

Kadar paling tinggi tercapai pada 1 jam setelah makan. Satu jam setelah makan, gula

di dalam darah akan mencapai kadar paling tinggi, normalnya tidak akan melebihi

180 mg/dl. Ginjal sebagai tempat membuat urine hanya dapat menahan gula yang

melebihi kadar tersebut dan kelebihan gula akan keluar bersama urine, maka jadilah

kencing manis.

3. Etiologi

Menurut Hasdianah (2018), etiologi diabetes mellitus yaitu :

a. Pola Makan

Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang

dibutuhkan oleh tubuh dapat memacu timbulnya diabetes mellitus. Konsumsi

makan yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan sekresi insulin dalam jumlah

yang memadai dapat menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan

pastinya akan menyebabkan diabetes mellitus.

8
b. Obesitas (kegemukan)

Orang gemuk dengan berat badan lebih dari 90 kg cenderung memiliki

peluang lebih besar untuk terkena penyakit diabetes mellitus. Sembilan dari

sepuluh orang gemuk berpotensi untuk terserang diabetes mellitus.

c. Faktor genetis

Diabetes mellitus dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Gen

penyebab diabetes mellitus akan dibawa oleh anak jika orang tuanya menderita

diabetes mellitus. Pewarisan gen ini dapat sampai ke cucunya bahkan cicit

walaupun resikonya sangat kecil.

d. Bahan-bahan kimia dan obat-obatan

Bahan-bahan kimia dapat mengiritasi pancreas yang menyebabkan radang

pancreas, radang pada pancreas akan mengakibatkan fungsi pancreas menurun

sehingga tidak ada sekresi hormone-hormon untuk proses metabolism tubuh

termasuk insulin. Segala jenis residu obat yang terakumulasi dalam waktu yang

lama dapat mengiritasi pancreas.

e. Penyakit dan infeksi pada pancreas

Infeksi mikroorganisme dan virus pada pankread juga dapat menyebabkan

radang pancreas yang otomatis akan menyebabkan fungsi pancreas turun

sehingga tidak ada sekresi hormone-hormon untuk proses metabolism tubuh

temasuk insulin. Penyakit seperti kolesterol tinggi dan dyslipidemia dapat

meningkatkan risiko terkena diabetes mellitus.

9
f. Pola hidup

Pola hidup juga sangat mempengaruhi faktor penyebab diabetes mellitus.

Jika orang malas berolahraga memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit

diabetes mellitus karena olahraga berfungsi untuk membakar kalori yang

berlebihan di dalam tubuh. Kalori yang tertimbun di dalam tubuh merupakan

faktor utama penyebab diabetes mellitus selain disfungsi pancreas.

g. Kadar kartikosteroid yang tinggi

h. Kehamilan diabetes gestasional

i. Obat-obatan yang dapat merusak pancreas

j. Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin.

4. Klasifikasi

Menurut Wahyuningsih (2013), menyatakan bahwa klasifikasi diabetes mellitus

antara lain :

a. Diabetes mellitus Tipe I

Diabetes mellitus tipe I adalah dimana sel betha dalam kelenjar pulau

langehans dihancurkan oleh reaksi autoimun dalam tubuh. Sebagai akibatnya

adalah sangat rendahnya produksi insulin ( di bawah 10% produksi insulin

normal). Pada tahap ini, insulin tidak lagi sanggup untuk menurunkan kadar gula

dalam darah dengan cepat saat seseorang mengkonsumsi makanan. Bahkan kadar

gula akan semakin tinggi sebagai akibat dari hilangnya fungsi untuk

menghentikan produksi glukogen, saat kadar gula darah tinggi. Apabila gula

darah mencapai kadar di atas 80mg/dl, sebagian dari glukosa akan dikeluarkan

10
bersamaan dengan urin. Beberapa gejala yang umum terdapat pada penderita

diabetes mellitus tipe I antara lain : polyuria (sering buang air kecil), polydipsia

(selalu merasa haus), polifagia (selalu merasa lapar), dan penurunan berat badan.

b. Diabetes mellitus Tipe II

Diabetes mellitus adalah diabetes yang umum ditemui. Pada penderita

diabetes mellitus tipe II ini, pancreas masih dapat memproduksi insulin, bahkan

dalam beberapa kasus insulin yang diproduksi hamper sama dengan layaknya

orang normal. Yang menjadi masalah adalah saat insulin tersebut tidak sanggup

untuk memberikan efek atau reaksi terhadap sel bethaakan berkurang dan

penderita diabetes mellitus tipe I, yakni dengan injeksi insulin.

c. Diabetes mellitus Gestasional (GDM)

Diabetes mellitus gestasional adalah intoleransi glukosa yang terjadi pada

saat kehamilan. Diabetes ni terjadi pada perempuan yang tidak menderita

diabetes sebelum kehamilannya. Hiperglikemi terjadi selama kehamilan akibat

sekresi hormone-hormon plasenta. Sesudah melahirkan bayi, kadar glukosa darah

pada yang menderita diabetes gestasional akan kembali normal. Anak-anak dari

ibu GDM memiliki risiko lebih besar mengalami obesitas dan diabetes pada usia

dewasa muda.

5. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis diabetes mellitus dikaitkan dengan konsekuensi metabolic

defisiensi insulin. Orang dengan defisiensi insulin tidak dapat mempertahakan kadar

glukosa plasma puasa yang normal, atau toleransi glukosa setelah mengkonsumsi.

11
karbohidrat. Hiperglikemia berat dan melebihi ambang ginjal akan menimbulkan

glikosuria. Glikosuria akan mengakibatkan diuresis osmotic yang meningkatkan

pengeluaran urine (polyuria) dan timbul rasa haus (polydipsia). Karena glukosa

hilang bersama urine, maka orang mengalami keseimbangan kalori negative dan

berat badan berkurang. Rasa lapar yang semakin besar (polifagia) mungkin akan

timbul sebagai akibat kehilangan kalori. Pasien mengeluh lelah dan mengantuk.

Diabetes tipe I sering memperlihatkan gejala yang eksplosif dengan polydipsia,

polyuria, turunnya berat badan, polifagia, lemah. Orang dapat menjadi sakit berat

dan timbul ketoasidosis, serta dapat meninggal apabila tidak mendapatkan

pengobatan segera. Terapi insulin biasanya diperlukan untuk mengontrol metabolism

dan umumnya penderita peka terhadap insulin. Sebaliknya, orang dengan diabetes

tipe 2 mungkin sama sekali tidak memperlihatkan gejala apa-apa dan diagnosis

hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan darah di laboraturium dan melakukan tes

toleransi glukosa. Pada hiperglikemia yang lebih berat, orang tersebut mungkin

menderita polydipsia, polyuria dan [Link] mereka tidak mengalami

ketoasidosis karena orang tersebut tidak defisiensi insulin secara absolut namun

[Link] insulin tetap disekresi dan masih cukup untuk menghambat

ketoasidosis. Apabila hiperglikemia berat dan pasien tidak merespon terhadap diet,

atau terhadap obat hipoglikemik oral, mungkin diperlukan terapi insulin untuk

menormalkan kadar glukosa (Masriadi, 2019).

12
6. Komplikasi

Menurut kardiyudiani (2018), komplikasi diabetes mellitus adalah :

a. Penyakit jantung dan pembuluh darah

Diabetes mellitus meningkatkan risiko berbagai masalah kardiovaskular,

termasuk penyakit arteri coroner dengan nyeri dada (angina), serangan jantung

stroke, penyempitan arteri (aterosklerosis) dan tekanan darah tinggi.

b. Kerusakan saraf (neuropati)

Kelebihan darah dapat melukai dinding pembuluh darah kecil (kapiler)

terutama di kaki. Ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, rasa terbakar atau

rasa sakit yang biasanya dimulai dari ujung jari kaki dan secara bertahap

menyebar ke tubuh bagian atas. Gula darah yang tidak terontrol pada akhirnya

dapat menyebabkan mati rasa di bagian tubuh yang terkena. Kerusakan pada

saraf yang mengontrol pencernaan dapat menyebabkan masalah dengan mual,

muntah, diare atau sembelit.

c. Kerusakan ginjal (nefropati)

Ginjal mengandung jutaan kluster pembuluh darah kecil yang menyaring

limbah dari [Link] dapat merusak system penyaringan tersebut,

kerusakan parah dapat merusak system penyaringan tersebut, kerusakan parah

dapat menyebabkan gagal ginjal atau penyakit ginjal tahap akhir yang ireversibel,

yang akhirnya memerlukan dialysis atau transplantasi ginjal.

13
d. Kerusakan mata

Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina (diabetic retinopathy),

berpotensi menyebabkan kebutaan. Diabetes juga meningkatkan risiko kondisi

penglihatan serius lainnya, seperti katarak dan glukoma.

e. Kerusakan kaki

Kerusakan saraf di kaki atau aliran darah yang buruk ke kaki

meningkatkan risiko berbagai komplikasi [Link] tidak diobati, luka dan lecet

bisa menjadi infeksi serius. Kerusakan parah mungkin menyebabkan

dilakukannya amputasi kaki.

f. Gangguan pendengaran

Masalah pendengaran lebih sering terjadi pada penderita diabetes.

g. Gangguan kulit

Diabetes dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap masalah kulit,

termasuk infeksi bakteri dan jamur.

h. Penyakit Alzheimer

Diabetes tipe II dapat meningkatkan risiko penyakit [Link]

buruk kendali gula darah, semakin besar risikonya.

7. Kriteria Diagnostik

Menurut Hasdianah (2018) diagnostic diabetes mellitus antara lain :

1. Kadar gula darah sewaktu > 200 mg/dL

2. Kadar gula darah puasa > 126 mg/dL

14
3. Kadar gula darah plasma > 200 mh/dL pasa 2 jam sesudah beban glukosa 75

gram pada tes toleransi glukosa oral.

Dengan mengadakan pemeriksaan kadar glukosa darah. Secara enzimatik

dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood),

vena ataupun kapiler dapat dipergunakan dengan memperhatikan angka-angka

kriteria diagnostic yang berbeda sesuai pembukuan WHO.

B. Konsep Penyakit Ulkus Diabetik

1. Definisi

Ulkus kaki diabetes (UKD) merupakan salah satu komplikasi kronik diabetes

mellitus tipe 2 yang sering ditemui. UKD adalah penyakit pada kaki penderita

diabetes dengan karakteristik adalah neuropati sensorik, motoric, otonom atau

gangguan pembuluh darah tungkai. UKD merupakan salah satu penyebab penderita

diabetes dirawat dirumah sakit. Ulkus kaki diabetes dapat berkembang secara cepat,

dengan kerusakan jaringan yang cepat dengan adanya infeksi apabila lambat untuk

penyembuhannya (Manurung, 2018).

2. Etiologi

Menurut Manurung (2018), penyebab ulkus kaki diabetes adalah :

Faktor patofisiologi yang terlibat dalam perkembangan ulkus kaki diabetes adalah

neuropati, insufisiensi arterial, abnormalitas musculoskeletal, dan lemahnya wound

healing. Mikroorganisme pathogen juga terlibat pada mekanisme ulkus kaki

diabetes.

15
Faktor risiko ulkus diabetes dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu,

perubahan patofisiologi, deformitas anatomi, dan pengaruh lingkungan. Perubahan

patofisiologi pada level biomolekuler mengakibatkan timbulnya neuropati sensori

saraf peripheral, penyakit vaskuler ferifer, dan kompromisasi system imun yang

mengakibatkan gangguan pada proses wound healing. Neuropati motoric dan

neuropati carcot adalah penyebab utama pada deformitas kaki penderita diabetes.

Kombinasi dari 3 faktor risiko diatas memicu sebuah pathway timbulnya ulkus

kaki diabetes. Pathway ulkus diabetes dapat tersusun dari sejumlah komponen

penyebab seperti neuropati feriperal, trauma kaki, deformitas kaki, iskemi tungkai

bawah, edema kaki, dan pembentukan kalus. Akan tetapi, pada hasil sebuah

penelitian tiga serangkai faktor utama yaitu neuropati, trauma kaki minor, dan

deformitas kaki ditemukan lebih besar dari 63%. Faktor pertama pada perkembangan

ulkus kaki diabetic yaitu neuropati sensori perifer yang menyebabkan intensifitas

nyeri. Komponen akhir adalah kegagalan wound healing yang berhubungan dengan

penurunan suplai darah area luka dan ekspresi abnormal growth faktor serta sitoksin

lain yang terlibat dalam proses healing.

3. Patofisiologi

Menurut Decroli (2019), patofisiologi ulkus kaki diabetic adalah :

Faktor yang berperan pada pathogenesis ulkus kaki diabetic meliputi

hiperglikemia kronik, neuropati perifer, keterbatasan sendi dan deformitas.

Perubahan fisiologis yang di induksi oleh “hiperglikemia jaringan” ekstremitas

16
bawah termasuk penurunan potensial pertukaran oksigen dengan membatasi proses

pertukaran atau melalui induksi kerusakan pada system saraf otonom yang

menyebabkan shunting darah yang kaya oksigen menjadi permukaan kulit. System

saraf dirusak oleh keadaan hiperglikemia melalui berbagai cara sehingga lebih

mudah terjadi cedera pada saraf. Sedikitnya ada 3 mekanisme kerusakan saraf yang

disebabkan oleh hiperglikemia, yaitu efek metabolic, kondisi mekanik, dan efek

kompresi kompartemen tungkai bawah. Penurunan kadar oksigen jaringan, yang

digabung dengan fungsi saraf sensorik dan motoric yang terganggu bisa

menyebabkan ulkus kaki diabetic.

Kerusakan saraf pada diabetes mengenai serat motoric, sensorik, dan otonom.

Neuropati motoric menyebabkan kelemahan otot, atrofi dan paresis. Neuropati

motoric menyebabkan hilangnya sensasi nyeri, tekanan dan panas protektif.

Neuropati otonom yang menyebabkan vasodilatasi dan pengurangan keringat juga

bisa menyebabkan kehilangan integritas kulit, yang membentuk lokasi ideal untuk

invasi mikrobal.

Keterbatasan mobilitas sendi pada sendi subtalar dan metatarsal sangat sering

terjadi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 berhubungan dengan glikosilasi kolagen

yang menyebabkan penebalan struktur periartikuler, seperti tendon, ligament, dan

kapsul sendi. Hilangnya sensasi karena neuropati pada sendi menyebabkan atropati

kronik, progresik, dan destruktif. Glikosilasi kolagen ikut memperburuk penurunan

fungsi tendon Achilles pada pasien diabetes mellitus tipe 2 sehingga pergerakkan

tendon Achilles menyebabkan deformitas. Pada keadaan di atas bila kaki mendapat

17
tekanan yang tinggi maka memudahkan terjadinya ulserasi pada pasien diabetes

mellitus tipe 2.

Ulkus kaki diabetes juga dapat terjadi oleh karena adanya gangguan pada aliran

darah pembuluh darah tungkai yang merupakan manifestasi dari penyakit arteri

perifer. Penyakit arteri perifer pembuluh darah tungkai didasari oleh hiperglikemia

kronik, kerusakan endotel dan terbentuknya plak aterosklerosis.

4. Diagnosis

Menurut Decroli (2019), diagnosis ulkus diabetic adalah :

Deteksi dini kelainan pada kaki penderita diabetes mellitus tipe 2, khususnya pada

pasien dengan resiko tinggi, membantu untuk menentukan intervensi awal dan

mengurangi potensi perawatan dirumah sakit atau amputasi. Deteksi dini itu meliputi

identifikasi riwayat keluhan kaki dan pemeriksaan fisik. Anamnesis secara rinci

meliputi riwayat ulkus sebelumnya, riwayat amputasi, riwayat trauma, dan

anamnesis mengenai penyakit yang mendasarinya serta kebiasaan merokok.

Pemeriksaan fisik yang penting adalah penilaian adanya neuropati tungkai, kelainan

anatomi tungkai dan kelainan vaskuler tungkai serta tanda-tanda infeksi.

5. Pencegahan

Menurut Hasdianah (2018), pencegahan ulkus diabetic yaitu :

Strategi pencegahan pada ulkus diabetic meliputi edukasi kepada pasien,

perawatan kulit, kuku, kaki dan penggunaan alas kaki yang dapat melindungi. Sepatu

dan sandal dengan bantalan yang lembut dapat mengurangi resiko terjadinya

18
kerusakan jaringan akibat tekanan langsung yang dapat memberi beban pada telapak

kaki. Kaki harus dibersihkan secara teliti dan dikeringkan dengan handuk kering

setiap kali mandi.

Pencegahan ulkus diabetic dapat dilakukan dalam beberapa tingkatan antara lain:

a. Tingkat 0

Pencegahan meliputi edukasi kepada pasien tentang alas kaki khusus dan

pelengkap alas kaki yang dianjurkan. Sepatu dan sandal yang dibuat secara

khusus dapat mengurangi tekanan yang terjadi. Bila pada kaki terdapat tulang

yang menonjol atau adanya deformitas, biasanya tidak dapat hanya di atasi

dengan penggunaan alas kaki buatan umumnya memerlukan tindakan

pemotongan dengan pembenahan deformitas.

b. Tingkat I

Memerlukan debridemen jaringan nekrotik atau jaringan yang infeksius,

perawatan local luka dan pengurangan beban.

c. Tingkat II

Memerlukan debridemen, antibiotic yang sesuai dengana hasil kultur,

perawatan local luka dan teknik pengurangan beban yang lebih.

d. Tingkat III

Memerlukan debridemen jaringan yang sudah menjadi gangrene, amputasi

sebagian dan imobilisasi yang berat.

19
C. KONSEP PENGETAHUAN

1. Definisi

Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melalukan

pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra

manusia, yakni : indera pengelihatan, pendengar, pencium rasa dan raba. Sebagian

besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata telinga (Notoatmodjo, 2014).

2. Pentingnya pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang (Over Behaviour). Dari pengalaman dan penelitian

ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada

perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2014)

Menurut Notoatmodjo (2014), sebelum orang mengadopsi perilaku baru

(berperilaku baru didalam diri seseorang) terjadi proses berurutan yakni :

a. Awareness (kesadaran) dimana orangtersebut menyadari dalam arti

mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulasi (objek).

b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulasi atau objek tertentu. Disini sikap

subjek sudah mulai timbul.

c. Evaluation (menimang-nimang) terhadap baik dan tidaknya stimulasi tersebut

bagi dirinya.

d. Trial, sikap dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu dengan apa

yang di kehendaki oleh stimulus.

20
Adaption, dimana subjuk telah berperilaku baru dengan pengetahuan,

kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Apabila penerimaan prilaku baru atau

adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari pengetahuan,

kesadaran, dan sikap yang posesif, maka perilaku tersebut akan sifat yang

langgeng. Sebaliknya, apa bila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan

kesadaran akan tidak berlangsung lama. Jadi, pentingnya pengetahuan disini

adalah dapat menjadi dasar dalam mengubah perilaku sehingga perilaku itu

langgeng.

3. Tingkatan pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2014), pengetahuan yng dicakup dalam domain kognitif

mempunyi 6 tingkatan, yaitu :

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengigat

kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik, dan seluruh bahan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini

adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain :

Menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan, dan sebagainya

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan mejelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut

21
secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramaikan, dam

sebagainya terhadap objek yang telah di pelajari. Misalnya dapat menjelaskan

mengapa harus makan makanan yang bergizi.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah di pelajari pada situasi atau kondisi yang rill (sebenarnya). Aplikasi

disini dapat di artikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,

metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan hasil

penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah

(problem solving cylcle) didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus

yang diberikan.

d. Analisis (analysis)

Aanalisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek

ke dalam komponen - komponen tetapi masih di dalam suatu struktur

organisasi tersebutdan masih ada kaitannya satu sama lain, Kemampuan

analisis ini dapat dilihat dari pemggunaan kata-kata kerja : dapat

mengambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,

mengelompokkan, dan sebagainya.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

22
Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuam untuk menyusun formulasi

baru formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dan

merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau pernilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini

berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-

kriteria yang ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang diukur dari

subjek penelitian atau responde. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita

ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2014) faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

dibagi menjadi 6 faktor yaitu :

a. Pengalaman

b. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman dari pengalaman pribadi

maupun dari pengalaman orang lain. Pengalaman ini merupakan suatu cara

untuk memperoleh kebenaran suatu pengetahuan.

c. Ekonomi (pendapatan)

Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan sekunder,

keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih tercukupi bila dibandingkan

23
keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi

pemenuhan kebutuhan sekunder.

d. Lingkungan sosial ekonomi

Manusia adalah makhluk sosial dimana di dalalam kehidupan saling

berinteraksi satu dengan yang lainnya. Individu yang dapat beriteraksi lebih

banyak lebih baik, maka akan lebih besar ia terpapar informasi.

e. Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam pemberian respon

terhadap sesuatu yang datangnya dari luar. Orang yang berpindidikan tinggi

akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang

dan akan berpikir sejauh mana keuntungan yang akan mereka dapatkan.

f. Paparan media massa atau informasi

Melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik berbagai informasi

dapat diterima oleh masyarakat sehingga seseorang yang lebih sering terpapar

media massa (TV, radio, majalah dan lain-lain) akan memperoleh informasi

yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak pernah terpapar

informasi media massa.

g. Akses layanan kesehatan atau fasilitas kesehatan

Mudah atau sulitnya dalam mengakses layanan kesehatan tentunya akan

berpengaruh terhadap pengetahuan khususnya dalam hal kesehatan.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian

atau responden.

24
5. Konsep pengetahuan pencegahan ulkus diabetic

Manurung (2018), menyatakan bahwa :

Kaki diabetic merupakan tukak yang timbul pada penderita diabetes mellitus yang

disebabkan karena angiopati diabetic, neuropati diabetic atau akibat trauma. Ulkus

kaki diabetes dapat berkembang secara cepat, dengan kerusakan jaringan yang cepat

dan sering disertai infeksi.

Dengan perawatan kaki yang tepat dan perubahan posisi yang sering pasien dapat

menjaga kesehatan kulit dengan mencegah penekanan di satu titik. Berikut program

perawatan kaki yang harus dilakukan :

a. Pemeriksaan dan perawatan kaki diabetes secara mandiri

1) Cara melakukan pemeriksaan kaki diabetes (inspeksi)

2) Area pemeriksaan kaki

3) Perawatan (mencuci dan membersihkan kaki)

4) Perawatan kuku kaki

b. Pemilihan alas kaki yang baik

1) Pakai alas kaki sepatu atau sandal untuk melindungi kaki agar tidak terjadi luka

2) Selalu periksa sepatu dan kaos kaki dari benda asing atau benda tajam

3) Jangan menggunakan kaos kaki yang ketat

c. Senam kaki diabetes

Senam kaki diabetes adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh

pasien diabetes mellitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu

melancarkan peredaran darah bagian kaki.

25
D. KONSEP PENDIDIKAN KESEHATAN

1. Definisi

Pendidikan kesehatan adalah sebagai proses yang mencakup dimensi dan

kegiatan-kegiatan intelektual, psikologi, dan sosial yang diperlukan untuk

meningkatkan kemampuan individu dalam mengambil keputusan secara sadar dan

yang mempengaruhi kesejahteraan diri, keluarga, dan masyarakat (Induniasih &

Ratna, 2019).

2. Tujuan Pendidikan kesehatan

Menurut Induniasih & Ratna (2019) tujuan pendidikan kesehatan antara lain :

a. Menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di masyrakat. Oleh

karena itu, pendidik kesehatan harus bertanggung jawab mengarahkan cara-

cara hidup sehat sehingga menjadi kebiasaan hidup masyarakat sehari-hari.

b. Menolong individu agar mampu secara mandiri atau berkelompok

mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup sehat.

c. Mendorong perkembangan dan penggunaan secara tepat sarana pelayanan

kesehatan yang telah ada. Kadang kala pemanfaatan sarana pelayanan yang

ada dilakukan secara berlebihan dan bahkan justru sebaliknya, seperti saat

kondisi sakit tetapi tidak menggunakan sarana kesehatan yang ada dengan

semestinya.

26
3. Metode dalam Pendidikan Kesehatan

Menurut Notoadmodjo (2014), metode pendidikan kesehatan pada hakikatnya

adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada

masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan

tersebut masyarakat, kelompok dan individu dapat memperoleh pengetahuan tentang

kesehatan yang lebih baik. Dengan kata lain, dengan adanya pendidikan tersebut

diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan sikap sasaran.

Suatu proses pendidikan kesehatan yang menuju tercapainya tujuan pendidikan

yakni perubahan sikap dipengaruhi oleh banyak faktor yang mempengaruhi suatu

proses metode materi atau pesannya, pendidik atau petugas yang melakukannya.

Metode pendidikan kesehatan berupa :

a. Metode pendidikan individual, metode ini merupakan metode untuk

mengubah perilaku individu yang disesuaikan dengan kebutuhan dan

kemampuan individu tersebut. Contohnya, bimbingan dan penyuluhan

wawancara

b. Metode pendidikan kelompok

1) Kelompok besar

(a)Ceramah, dilakukan kepada sasaran dengan memberikan informasi

secara lisan dari narasumber disertai tanya jawab setelahnya.

(b) Diskusi, dilakukan untuk membahas sebuah isu dengan dipandu oleh

ahli di bidang tersebut.

(c) Demonstrasi, lebih mengutamakan pada peningkatan kemampuan skill

yang dilakukan dengan menggunakan alat peraga.

27
2) Kelompok kecil

(a)Metode diskusi kelompok kecil merupakan diskusi 5-15 peserta yang

dipimpin oleh 1 orang membahas suatu topic

(b)Metode curah pendapat digunakan untuk mencari solusi dari semua

peserta diskusi dan sekaligus mengevaluasi pendapat bersama.

(c)Metode panel melibatkan minimal 3 orang panelis yang dihadirkan

dengan sasaran menyangkut topic yang sudah ditentukan

(d) Metode bermain peran digunakan untuk menggambarkan perilaku dari

pihak-pihak yang terkait dengan isu tertentu.

Menurut Nurmala [Link] (2018) Jenis alat peraga (media) dalam pemberian

kesehatan antara lain :

a. Media lihat (visual aids)

Media lihat memiliki fungsi menstimulasi indera lihat pada saat penyampaian

materi (pesan) kesehatan yang diberikan. Alat ini ada 2 bentuk yaitu :

1) Alat peraga (media) proyeksi, misalnya lembar transparan (slide), film strip,

video/film (elektronik).

2) Alat peraga (media) non proyeksi, misalnya poster, leaflet, peta penyebaran

penyakit, bola dunia dan boneka tangan.

3) Alat peraga (media) dengar (audio aids)

Alat peraga (media) dengar berfungsi membantu stimulus indera

pendengaran saat proses penyampaian materi pendidikan kesehatan.

Contohnya siaran radio, pita suara

28
4. Metode dalam Pendidikan Kesehatan

Menurut Notoadmodjo (2014), metode pendidikan kesehatan pada hakikatnya

adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada

masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan

tersebut masyarakat, kelompok dan individu dapat memperoleh pengetahuan tentang

kesehatan yang lebih baik. Dengan kata lain, dengan adanya pendidikan tersebut

diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan sikap sasaran.

Suatu proses pendidikan kesehatan yang menuju tercapainya tujuan pendidikan

yakni perubahan sikap dipengaruhi oleh banyak faktor yang mempengaruhi suatu

proses metode materi atau pesannya, pendidik atau petugas yang melakukannya.

Metode pendidikan kesehatan berupa :

a. Metode pendidikan individual, metode ini merupakan metode untuk

mengubah perilaku individu yang disesuaikan dengan kebutuhan dan

kemampuan individu tersebut. Contohnya, bimbingan dan penyuluhan

wawancara

b. Metode pendidikan kelompok

1) Kelompok besar

(a) Ceramah, dilakukan kepada sasaran dengan memberikan informasi

secara lisan dari narasumber disertai tanya jawab setelahnya.

(b) Diskusi, dilakukan untuk membahas sebuah isu dengan dipandu

oleh ahli di bidang tersebut.

(c) Demonstrasi, lebih mengutamakan pada peningkatan kemampuan

skill yang dilakukan dengan menggunakan alat peraga.

29
2) Kelompok kecil

(a) Metode diskusi kelompok kecil merupakan diskusi 5-15 peserta

yang dipimpin oleh 1 orang membahas suatu topic

(b) Metode curah pendapat digunakan untuk mencari solusi dari semua

peserta diskusi dan sekaligus mengevaluasi pendapat bersama.

(c) Metode panel melibatkan minimal 3 orang panelis yang dihadirkan

dengan sasaran menyangkut topic yang sudah ditentukan

(d) Metode bermain peran digunakan untuk menggambarkan perilaku

dari pihak-pihak yang terkait dengan isu tertentu.

Menurut Nurmala [Link] (2018) Jenis alat peraga (media) dalam pemberian

kesehatan antara lain :

a. Media lihat (visual aids)

Media lihat memiliki fungsi menstimulasi indera lihat pada saat

penyampaian materi (pesan) kesehatan yang diberikan. Alat ini ada 2 bentuk

yaitu :

1) Alat peraga (media) proyeksi, misalnya lembar transparan (slide), film

strip, video/film (elektronik).

2) Alat peraga (media) non proyeksi, misalnya poster, leaflet, peta

penyebaran penyakit, bola dunia dan boneka tangan.

30
3) Alat peraga (media) dengar (audio aids)

Alat peraga (media) dengar berfungsi membantu stimulus indera

pendengaran saat proses penyampaian materi pendidikan kesehatan.

Contohnya siaran radio, pita suara

31
E. KERANGKA TEORI

Faktor Risiko DM :
Pencegahan ulkus diabetic
1. Usia :
2. Jenis Kelamin
3. Keturunan 1. Aktifitas Fisik
4. Obesitas 2. Edukasi
5. Aktifitas Fisik (Pendidikan
6. Pola Makan Kesehatan)

(Hasdianah, 2018) (Hasdianah, 2018)

Metode Pendkes :

- Ceramah
- Diskusi
- Demonstrasi
dll

(Notoatmodjo, 2014)

1. Media Cetak
- Leaflet
2. Media
Elektronik
- Film/video

(Nurmala [Link], 2014)

32
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka teoritis jenis penelitian yang

digunakan yaitu dengan melakukan penelitian variable bebas (pengaruh pendidikan

kesehatan) dan variable terikat (pengetahuan pencegahan ulkus diabetic) dengan alasan

ingin mengetahui hubungan pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan

pencegahan ulkus diabetic pada penderita diabetes mellitus.

Pendidikan Kesehatan Pencegahan Ulkus

Diabetes Mellitus

33
B. Definisi Operasional

Berdasarkan kerangka konsep, peneliti menetapkan variable-variabel penelitian

tersebut pada penelitian ini sebagai berikut :

Table 3.1

No Variable Definisi Alat Cara Ukur Skala Hasil


. Operasional Ukur Ukur Ukur
1. Independent : Pendidikan Leaflet Memberikan
kesehatan adalah pendidikan
Pendidikan metode pemberian kesehatan
Kesehatan informasi tentang dengan
pencegahan ulkus menggunaka
diabetic tentang n media
pengertian, leaflet
penyebab,
pencegahan dan
penanganan
2. Dependent : Pengetahuan adalah Kuesione Wawaancara Rasio 0 – 100
semua informasi r dan
Pengetahuan yang diketahui memberikan
pencegahan responden terkait kuesioner
ulkus diabetic pencegahan ulkus
diabetic yang diukur
sebelum dan
sesudah diberikan
pendidikan
kesehatan
menggunakan
kuesioner
pengetahuan
sebanyak 10 item.

C. Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh antara pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dalam

pencegahan ulkus diabetic pada pasien diabetes mellitus di Puskesmas Tanjung Pinang

Kota Jambi 2021.

34
Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan

berdistribusi normal atau tidak. Dalam pengujian suatu data dikatakan berdistribusi

normal apabila :

Jika sig > 0,05 maka data berdistribusi normal

Jika sig < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal

H0 = data berdistribusi normal

H1 = data tidak berdistribusi normal

Dari data uji normalitas dengan menggunakan dapat dilihat bahwa :

Table 3.2 Uji Normalitas Pretest dan Postest

Kolmogorov-smirnov Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
Pre .225 40 .000 .876 40 .000
Post .225 40 .000 .859 40 .000
Lilliefors Signification Correction

Dalam pengujian, suatu data dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikan lebih

dari 0,05 (sig./p-value > 0,05). Dari perhitungan analisis data :

a. Pretest

1) Kolmogorov smirnov p-value = 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak, menunjukkan data

berdistribusi tidak normal.

2) Shapiro – Wilk = 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak, menunjukkan data berdistribusi

tidak normal.

b. Posttest

1) Kolmogrov smirnov p-value = 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak, menunjukkan data

berdistribusi tidak normal.

35
2) Shapiro – Wilk p – value = 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak, menunjukkan data

berdistribusi tidak normal.

D. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan desain penelitian pre

eksperimen one group pre and post test design. Penelitian dengan memberikan

pendidikan kesehatan kepada responden yang dikelompokkan menjadi satu kelompok.

Peneliti bermaksud mengidentifikasi ada atau tidaknya pengaruh antara variable

independen dengan variable dependen dalam satu waktu menggunakan alat ukur

kuesioner.

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Tanjung Pinang Kota Jambi pada tanggal

18 – 22 Juni 2021.

F. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes mellitus yang

merupakan cakupan wilayah kerja Puskesmas Tanjung Pinang Kota Jambi Tahun

2021. Dalam hal ini jumlah populasi diestimasikan berdasarkan jumlah pasien

diabetes mellitus yang berkunjung ke Puskesmas Tanjung Pinang Kota Jambi Tahun

2021 yang berjumlah 625 pasien diabetes mellitus.

36
2. Sampel

Adapun sampel dalam penelitian ini adalah sebagian penderita diabetes mellitus

yang berkunjung ke Puskesmas Tanjung Pinang Kota Jambi Tahun 2021. Besar

sampel di hitung dengan rumus perhitungan :

n: Z2 1-α/2 x P (1-P) x N

d2 (N-1) + Z2 1-α/2 x P x (1-P)

n: 1,962 x 0,5 x (1-0,5) x 625

0,052 (625-1) + 1,962 x 0,5 x (1-0,5)

n : 600

15

n ; 40 responden

Keterangan :

n = Besar sampel

N = Besar populasi = 625

Z2 = Standar deviasi dengan derajat kepercayaan 95% = 1,96

D = Besar toleransi penyimpangan 5% = 0,05

P = Proporsi perkiraan jumlah maksimal (0,5)

37
a. Kriteria inklusi

1) Penderita diabetes mellitus yang tidak memiliki ulkus diabetic

2) Klien yang mampu berkomunikasi dengan baik

3) Bersedia menjadi responden

4) Kesadaran kompos mentis

b. Kriteria ekslusi

1) Klien yang bukan penderita diabetes mellitus

2) Klien yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik

3) Klien tidak sadar

G. Pengumpulan data

1. Data primer

Data primer yaitu data yang didapat secara langsung atau melalui wawancara

dengan menggunakan kuesioner sebanyak 10 item untuk mendapatkan data tentang

pengetahuan pasien diabetes mellitus terkait pencegahan ulkus diabetic.

2. Data sekunder

Data sekunder merupakan data penunjang penelitian yang diperoleh dari

Puskesmas Tanjung Pinang Kota Jambi, meliputi jumlah pasien diabetes mellitus di

Puskesmas Tanjung Pinang.

38
H. Instrument Penelitian

1. Kuesioner

Instrument penelitian menggunakan kuesioner sebanyak 10 item soal dengan

membahas mengenai penyakit diabetes mellitus sampai dengan pencegahan ulkus

diabetic. Instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner yang

disampaikan secara langsung oleh peneliti kepada responden dalam bentuk

pertanyaan tertutup terstruktur, yang tersusun sedemikian rupa hingga mempermudah

responden mengisi dan menjawab pertanyaan di dalam kuesioner. Kuesioner berisi

identitas responden, jenis kelamin, umur, alamat dan lama menderita diabetes

mellitus.

Skor nilai :

Nilai = benar x 100

Jumlah soal

2. Validitas dan Reabilitas

Validitas berguna untuk menunjukkan apakah alat ukur berupa kuesioner benar-

benar bisa mengukur apa yang akan diukur. Sedangkan reabilitas dilakukan guna

menunjukkan apakah sebuah instrument dapat dipercaya dan digunakan. Uji validitas

dilakukan di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi.

Uji validitas alat ukur dilakukan dengan menggunakan uji korelasi. Cara

mengukur korelasi antara variable dengan skor total variable menggunakan rumus

teknik Person Product Moment (r), dengan ketentuan jika r hitung > r table, maka

dinyatakan valid atau sebaliknya. Nilai r hitung untuk responden 15 orang yaitu

39
0,0441. Jika nilai r – hitung > 0,0441 dinyatakan valid, sedangkan jika nilai r-hitung

< 0,0441 dinyatakan tidak valid.

Kuesioner yang telah dibuat dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas data

terhadap 15 penderita diabetes mellitus di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi.

Pemilihan tempat uji validitas dilakukan berdasarkan kemudahan akses dan urutan

kedua penderita diabetes mellitus terbanyak di Puskesmas Kota Jambi.

Adapun hasil perhitungan uji validitas data kuesioner terhadap variable

pengetahuan, dimana r-hitung terendah 0,707 dan nilai r-hitung tertinggi adalah 0,809

dan r-tabel 0,0441 menyatakan bahwa semua variable validitas adalah valid.

I. Pengolahan Dan Analisa Data

1. Pengolahan data

Setelah data yang telah ditetapkan melalui wawancara dengan menggunakan

kuesioner dan seluruh responden terkumpul, selanjutnya dengan bantuan fasilitas

computer data tersebut diolah melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

a. Editing

Kegiatan ini untuk melakukan koreksi jawaban yang telah didapat, jika terdapat

kesalahan maka harus dilengkapi.

b. Skoring

Teknik skoring dilakukan dengan memberi penilaian pada tiap-tiap jawaban yang

telah diisi oleh responden maupun peneliti.

Pengetahuan :

40
Benar = 1

Salah = 0

c. Coding

Coding adalah teknik pengkodean pada variable penelitian yang memiliki

tujuan untuk membuat penelitian lebih mudah dalam melakukan analisis data dan

mempercepat proses meng-entry data yaitu dengan cara memberikan kode di tiap

jawaban yang telah dijawab responden. Jawaban yang berbentuk huruf diganti

dengan bentuk angka guna mempermudah di saat analisis data.

1) Variable pendidikan terakhir dikategorikan menjadi empat :

SD diberi kode 1

SMP diberi kode 2

SMA diberi kode 3

Perguruan Tinggi diberi kode 4

2) Variable umur dikategorikan menjadi tiga :

Umur 26 – 44 tahun diberi kode 1

Umur 45 – 60 tahun diberi kode 2

Umur > 60 tahun diberi kode 3

3) Variable jenis kelamin dikategorikan menjadi dua :

Laki-laki diberi kode 1

Perempuan diberi kode 2

4) Variable pengetahuan dikategorikan menjadi dua :

Salah 1

Benar 0

41
d. Tabulating

Kegiatan ini untuk melakukan pengkodingan hasil penelitian,

pengkodingan dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam pengelompokkan

data sesuai dengan variable yang diteliti.

e. Entry data

Entry data adalah proses menginput data hasil penelitian ke dalam variable

sheet melalui bantuan computer.

f. Cleaning

Kegiatan ini untuk melakukan pengecekan kembali data yang telah

dimasukkan berguna untuk melihat kesalahan kode dan menghindari

kemungkinan adanya data yang hilang serta mengecek kembali konsistensi data.

2. Analisa data

a. Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk menyederhanakan dan memudahkan

interpretasi data ke dalam bentuk penyajian baik untuk textuler maupun bentuk

tabular dari tampilan distribusi frekuensi responden menurut variable yang diteliti

meliputi data umur, jenis kelamin, dan pendidikan terakhir.

b. Analisa Bivariat

Analisa ini bertujuan untuk membuktikan ada tidaknya pengaruh yang bermakna

antara variable independen dan variable dependen. Analisa yang digunakan pada

penelitian ini adalah Uji Wilcoxon, yang artinya “apakah ada pengaruh

pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dalam pencegahan ulkus diabetic

42
pada pasien diabetes mellitus”. Uji Wilcoxon digunakan untuk data yang

berdistribusi tidak normal.

J. Etika Penelitian

Dalam pengambilan data harus memperhatikan etika-etika yang ada didalam

penelitian yaitu :

1. Informed Consent :

Saat pengambilan sampel terlebih dahulu peneliti meminta izin kepada

responden secara lisan dan tertulis dengan menandatangani lembar

persetujuan jika setuju menjadi responden, dan jika responden tidak bersedia

maka peneliti harus menghormati haknya.

2. Anonymity

Peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar

pengumpulan data, melainkan hanya menuliskan kode pada lembar

pengumpulan data.

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Peneliti menjamin kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan, hanya

kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian. Semua

data yang terkumpul akan kembali koleksi pribadi dan tidak akan

disebarluaskan kepada orang lain tanpa seizin responden.

4. Justice (keadilan)

Peneliti menekankan prinsip keadilan yaitu memberikan jaminan yang

diberikan kepada responden agar diperlakukan secara adil dan baik sebelum,

43
selama, dan sesudah keikutsertaan. Dalam penelitian tanpa adanya

diskriminasi apabila ternyata mereka tidak bersedia atau drop out sebagai

responden.

5. Self determinan

Peneliti menjamin bahwa penelitian akan dilakukan secara manusiawi,

responden memiliki hak memutuskan untuk bersedia atau tidak menjadi

responden, ataupun tanpa adanya sanksi apapun yang akan berakibat terhadap

kondisinya.

44
BAB IV
HASIL PENELITIAN

Pada bab ini disajikan gambaran pengetahuan terhadap pencegahan ulkus diabetic

terhadap penderita diabetes mellitus di Puskesmas Tanjung Pinang Kota Jambi Tahun 2021,

serta hasil penelitian diinterprestasikan dan akan dibandingkan dengan teori yang telah ada

pada penelitian sebelumnya. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18 – 22 Juni 2021

dengan jumlah responden sebanyak 40 orang.

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Tanjung Pinang terletak di Jalan Taruma Negara, Tanjung Sari.

Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi. Puskesmas Tanjung pinang Kota Jambi berdiri

Tahun 1974, dengan nama Puskesmas Inpres 5/74. Puskesmas Tanjung Pinang berada

bersama 1 Puskesmas lainnya dalam Kecamatan Jambi Timur. Keberadaannya strategis

dengan wilayah kerja yang luas dan jumlah penduduk yang banyak. Puskesmas Tanjung

Pinang mencangkup 5 Kelurahan yaitu, Kelurahan Tanjung Pinang, Kasang, Kasang

Jaya, Rajawali, dan Sijenjang.

Puskesmas Tanjung Pinang dengan sarana dan prasarana Puskesmas rawat jalan

yang cukup lengkap seperti : alat dan ruang IGD, poli umum, poli gigi, poli KIA, KB,

imunisasi, laboraturium sederhana, konsultasi gizi dan kesling serta apotik dan gudang

obat yang cukup. Selain itu Puskesmas juga punya 2 buah mobil Puskesmas keliling dan

6 buah sepeda motor.

45
B. Hasil Penelitian

1. Gambaran Karakteristik Responden

a. Jenis Kelamin

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dari tabel

berikut :

Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Penderita
Diabetes Mellitus di Puskesmas Tanjung Kota Jambi Tahun 2021.

Jenis Kelamin F %
Laki-laki 12 30.0
Perempuan 28 70.0
Total 40 100.0

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa sebagian besar responden perempuan

sebanyak 28 orang (70.0) dan laki-laki sebanyak 12 orang (30.0)

b. Umur

Karakteristik umur responden dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Pada Penderita
Diabetes Mellitus di Puskesmas Tanjung Pinang Kota Jambi Tahun 2021.

Umur F %
26 – 44 Tahun 2 5.0
45 – 60 Tahun 14 35.0
>60 Tahun 24 60.0
Total 40 100.0

Tabel 4.2 menunjukan responden untuk data umur 26 – 44 tahun sebanyak

2 orang (5.0) umur 45 – 60 tahun sebanyak 14 orang (35.0) dan umur >60

tahun sebanyak 24 orang (60.0).

46
c. Pendidikan Terakhir

Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir dapat dilihat dari

tabel berikut :

Tabel 4.3
Distribusi Freakuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Pada Penderita Diabetes Mellitus di Puskesmas Tanjung Pinang Kota
Jambi Tahun 2021

Pendidikan Terakhir F %
SD 26 65.0
SMP 8 20.0
SMA 6 25.0
Total 40 100.0

Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa mayoritas responden

berpendidikan terakhir SD sebanyak 26 orang (65.0) dan SMP berjumlah 8

orang (20.0%) sedangkan SMA sebanyak 6 orang (25.0%)

2. Gambaran Pengetahuan Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan

Pendidikan Kesehatan Tentang Pencegahan Ulkus Diabetik

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui distribusi frekuensi sebelum

dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Perbedaan Pengetahuan


Sebelum dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Dalam Pencegahan
Ulkus Diabetik

Pengetahuan N Mean SD SE Median Max Min


Sebelum diberikan 40 23,8 0,925 0,146 20,0 4 1
pendidikan kesehatan
Setelah diberikan 40 85,8 0,781 0,123 90,0 10 7
pendidikan kesehatan

47
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat nilai rata-rata pengetahuan sebelum

diberikan pendidikan kesehatan yaitu 23,8 dan setelah diberikan pendidikan

kesehatan nilai rata-rata pengetahuan meningkat menjadi 85,8. Dengn demikian

dapat dilihat terjadinya peningkatan skor rata-rata pengetahuan responden setelah

diberikan pendidikan kesehatan.

Hasil uji statistic Wilcoxon dalam penelitian ini dipakai untuk menjawab

rumusan masalah “apakah terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap

pengetahuan dalam pencegahan ulkus diabetic pada pasien Diabetes mellitus. Jika

data tidak normal maka dasar pengambilan keputusan dalam Uji Wilcoxon.

Jika nilai [Link]. (2-tailed) lebih kecil dari < 0,05, maka Ha diterima.

Jika nilai [Link]. (2-tailed) lebih besar dari > 0.05 , maka Ha ditolak.

Hasil Uji Wilcoxon

Dari hasil uji statistic dikatakan data diterima jika nilai [Link] < 0,05. Dapat

dilihat bahwa pada hasil uji Wilcoxon memiliki Sig adalah 0.000 sehingga hipotesis

diterima. Maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap

pengetahuan dalam pencegahan ulkus diabetic pada pasien diabetes mellitus.

48
C. Pembahasan

1. Pengetahuan responden sebelum dan sesudah diberikan intervensi pendidikan

kesehatan

Berdasarkan hasil penelitian pengetahuan nilai rata-rata yang didapatkan

responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan dengan nilai 23,8 dan setelah

diberikan pendidikan kesehatan nilai rata-rata pengetahuan meningkat menjadi

85,8. Dengn demikian dapat dilihat terjadinya peningkatan skor rata-rata

pengetahuan responden setelah diberikan pendidikan kesehatan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan responden adalah

tingkat pendidikan terakhir, responden dalam penelitian ini memiliki tingkat

pendidikan terakhir yang bervariasi dengan tingkat tertinggi SMA (pendidikan

menengah). Dalam penelitian Cannonier (2011) ditemukan bahwa semakin tinggi

pendidikan seseorang semakin tinggi pula pengetahuan tentang kesehatan yang

dimiliki. Namun menurut penelitian Cantaro (2016) yang mengemukakan bahwa

tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang diabetes

mellitus yang memiliki pendidikan terakhir SMA sederajat, namun terlihat

pengetahuan yang lebih tinggi pada jenjang pendidikan terakhir sarjana.

Dalam penelitian Mutoharoh (2017) dalam hal ini gambaran pengetahuan

responden setelah diberikan pendidikan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa

faktor, terutama terkait kemampuan seseorang untuk belajar. Seseorang

49
mempunyai kemampuan yang berbeda tergantung pada faktor fisik dan kognitif,

tingkat perkembangan, kesehatan fisik dan proses intelektual.

Hasil penelitian Mutoharoh (2017) pada usia lanjut terjadi perubahan –

perubahan yang dapat mempengaruhi proses belajar saat pendidikan kesehatan,

diantaranya perubahan fisik dan fisiologis. Perubahan fisik degenerative dapat

menyebabkan penurunan fungsi sensori yaitu pendengaran, penglihatan, perasaan

dan kemampuan merespon. Perubahan – perubahan tersebut dapat mempengaruhi

kemampuan belajar lansia saat pendidikan kesehatan, namun sebuah penelitian

menunjukkan bahwa lansia dapat belajar dan mengingat secara efektif jika proses

belajar dilakukan secara tepat dan materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan

dan kemampuannya.

2. Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan

Dari hasil uji statistic dikatakan data diterima jika nilai [Link] < 0,05.

Dapat dilihat bahwa pada hasil uji Wilcoxon memiliki Sig adalah 0.000 sehingga

hipotesis diterima. Maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh pendidikan

kesehatan terhadap pengetahuan dalam pencegahan ulkus diabetic pada pasien

diabetes mellitus.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang

melakukan penginderaan baik melalui indra pengindraan, indra penglihatan atau

pengindraan lainnya. Pengetahuan juga merupakan segala sesuatu yang diketahui

seseorang berdasarkan pengalaman pribadi manusia itu sendiri dan dialaminya

secara langsung (Mubarak, 2011).

50
Tingkat pengetahuan yang bervariasi ini dapat dipengaruhi oleh 2 faktor

yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu karakteristik orang

yang bersangkutan yang terdiri dari pendidikan, pekerjaan dan umur. Sedangkan

faktor eksternal meliputi faktor lingkungan dan sosial budaya.

Usia merupakan salah satu sifat karakteristik tentang seseorang yang

sangat utama. Umur mempunyai hubungan dengan tingkat keterpaparan, besarnya

resiko serta sifat resistensi. Perbedaan pengalaman terhadap masalah kesehatan,

penyakit, dan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh usia individu tersebut.

Semakin tua umur seseorang semakin matang perkembangan mentalnya dan juga

berpengaruh pada tingkat pengetahuan yang diperolehnya. Akan tetapi menjelang

lansia kemampuan mengingat dan menerima suatu pengetahuan berkurang. Pada

penelitian ini mayoritas pasien pada usia > 60 tahun sehingga kemampuan

mengingat lebih menurun.

Pengalaman pasien dapat diperoleh dari lamanya pasien mengalami suatu

penyakit. Jenis kelamin dapat menunjukkan pola aktivitas yang terkait dengan

gender. Tingkat pendidikan berpengaruh mudah tidaknya seseotang dalam

menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh dan pada umumnya

semakin tinggi pendidikan seseoang semakin baik pengetahuannya. Pada

penelitian ini mayoritas berpendidikan tamat SD dengan jumlah 26 orang (65.0).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutandi

dan Puspitasary (2016) dengan judul “Tingkat Pengetahuan Pasien tentang Ulkus

Diabetikdi Ruang Dahlia RSUD Pasar Rebo” didapatkan hasilnya bahwa

presentase pasien yang memiliki pengetahuan baik dengan 21 responden (53,8%).

51
Dan sejalan dengan penelitian Nurholipah (2013) tentang hubungan tingkat

pengetahuan tentang luka diabetic dengan tindakan pencegahan luka pada pasien

diabetes mellitus di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat dengan

tingkat pengetahuan responden buruk sebanyak 25 responden (51%), pencegahan

luka baik sebanyak 2 responden (4,1%) sebelum diberikan pendidikan kesehatan.

Hal ini sejalan dengan penelitian Mutaharoh (2017) bahwa pendidikan

kesehatan meningkat tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus, dan

pendidikan kesehatan merupakan program yang bisa diimplementasikan untuk

segala usia, laki-laki maupun perempuan, serta seluruh jenjang pendidikan

terakhir penderita diabetes mellitus.

Untuk meningkatkan pengetahuan pasien diabetes mellitus, perawat di

Puskesmas Tanjung Pinang Kota Jambi hendaknya meningkatkan pengetahuan

pasien dengan cara melakukan pendidikan kesehatan. Pasien diabetes mellitus

perlu melakukan pencegahan ulkus dengan cara melakukan perawatan kaki.

3. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini telah diusahakan sesuai dengan prosedur ilmiah, namun demikian

masih memiliki keterbatasan yaitu :

a. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat ukur, terdapat

kemungkinan responden memberikan jawaban yang tidak menunjukkan

keadaan yan sebenarnya.

b. Usia responden mayoritas usia lansia sehingga banyak kesulitan

berkonsentrasi saat diberikan pendidikan kesehatan

52
c. Hubungan peneliti sebagai educator yang belum terbangun menjadikan

interaksi dalam pendidikan kesehatan kurang hidup.

d. Terdapat beberapa kendala saat mengisi kuesioner diantaranya responden

kurang trbiasa dalam hal membaca dan menulis, dan beberapa responden

mengaku memiliki gangguan penglihatan. Hal tersebut membuat waktu

pengisian kuesioner menjadi memanjang karena setiap pertanyaan harus

dibacakan satu persatu sevara perlahan dan menunggu setiap responden

memahaminya.

53
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap

pengetahuan dalam pencegahan ulkus diabetic pada pasien diabetes mellitus di

Puskesmas Tanjung pinang Kota Jambi dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Hasil uji statistic Wilcoxon menunjukkan nilai p-value (0.000) < 0.05 berarti

bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dalam

pencegahan ulkus diabetic pada pasien diabetes mellitus di Puskesmas Tanjung

Pinang Kota Jambi.

2. Rata-rata pengetahuan responden tentang pencegahan ulkus diabetic sebelum

diberikan pendidikan kesehatan yaitu 23,8 dan setelah diberikan pendidikan

kesehatan meningkat menjadi 85,8.

B. Saran

1. Bagi pelayanan kesehatan

Bagi pelayanan kesehatan lebih meningkatkan program promosi kesehatan

terutama bidang pendidikan kesehatan, dan semakin memperhatikan tingkat

pengetahuan masyarakat terutama dalam bidang kesehatan.

2. Bagi peneliti selanjutnya

54
Bagi peneliti selanjutnya melakukan penelitian pengaruh pendidikan kesehatan

diabetes mellitus terhadap aspek-aspek lain yang berhubungan dengan pengetahuan

kesehatan agar tercapai kualitas hidup yang lebih baik bagi penderita diabetes

mellitus.

Melakukan penelitian pengaruh pendidikan kesehatan yang sesuai untuk

penduduk dengan setiap karakteristik khusus yang dimiliki agar dapat diterima secara

maksimal oleh responden penelitian.

3. Bagi masyarakat

Masyarakat menjadi lebih proaktif dalam mencari pengetahuan tentang

penyakitnya, dan lebih rajin mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan

4. Bagi pasien

Diharapkan setelah mendapat informasi tentang pencegahan ulkus diabetic

khususnya untuk penderita diabetes mellitus dapat memahami informasi yang sudah

disampaikan, sehingga dapat merubah sikap dan pengetahuan yang sesuai dengan

informasi yang sudah didapatkan melalui pendidikan kesehatan yang telah diberikan.

55
DAFTAR PUSTAKA

Damayanti Santi (2015) Diabetes Mellitus dan Penatalaksanaan Keperawatan.


Yogyakarta: Nuha Medika

Decroli, E., 2019. Diabetes Mellitus Tipe 2. Padang : Pusat Penerbitan Bagian Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas kedokteran Universitas Andalas

Fitriani. S. 2011. Promosi Kesehatan. Ed 1. Yogyakarta : Graha Ilmu

Hasdianah. (2018). Mengenal Diabetes Mellitus pada orang dewasa dan anak-anak
dengan solusi herbal. Yogyakarta : Nuhamedika

Induniasih dan Wahyu Ratna. (2019). Promosi Kesehatan : Pendidikan Kesehatan dalam
Keperawatan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press

Juwitaningtiyas,. & Firma Ayu. (2014). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap


Peningkatan Pengetahuan Dan Sikap Penderita Diabetes mellitus Dalam
Pencegahan Luka Kaki Diabetik Di Desa Mranggen Polokarto Sukaharjo.
([Link] Diakses pada tanggal 09 Februari 2021).

Kardiyudiani, dkk. (2018). Keperawatan Medikal Bedah I. Yogyakarta : Penerbit Buku


[Link] BARU

Manurung, N. (2018). Keperawatan Medikal Bedah konsep, Mind Mapping dan NANDA
NIC NOC. Jakarta : TIM

Masriadi. 2019. Epidemiologi Penyakit Menular. Depok : Rajawali Pers

Masturoh, I., dan N. Anggita. 2018. Metodologi penelitian kesehatan. Kementerian


Kesehatan RI. Jakarta
Mubarak, W. 2011. Promosi kesehatan Masyarakat Untuk kebidanan. Jakarta. Salemba
Medika
Mutoharoh,. 2017. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Tingkat pengetahuan
tentang penyakit Diabetes mellitus Pada Penderita Diabetes mellitus Tipe 2 di

56
desa Ngadiwarno Sukorejo Kendal.
([Link]
[Link]) diakses pada tanggal 25 juni 2021)

Ni, Mirah, Ayu & Damayanti (2015)0. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Tingkat
Pengetahuan Pasien DM tipe 2 dalam pencegahan ulkus diabetic di poliklinik
RSUD panembahan senopati bantul.
([Link] Diakses
pada tanggal 09 Februari 2021

Notoatmodjo, S. 2014. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta


PERKENI, 2019. Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 dewasa di
Indonesia. PERKENI, Jakarta

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian RI tahun 2018.
([Link]
riskesdas-2018_1274.pdf) Diakses pada tanggal 09 Februari 2021.

Wahyuningsih R. (2013). Penatalaksanaan Diet pada Pasien. 1st ed. Yohyakarta : Graha
Ilmu

Zama, M, Sahla & Sainudin (2019). Hubungan Kepatuhan Pengobatan Dengan Kadar Gula
Darah Sewaktu Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II.
([Link] Diakses pada
tanggal 08 Februari 2021

57
DOKUMENTASI

58
59

Anda mungkin juga menyukai