WAWASAN TENTANG SEJARAH PEMERINTAHAN, WILAYAH
DAN BUDAYA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
A. SEJARAH NUSA TENGGARA TIMUR
Nusa Tenggara Timur sebelum 20 - 12 -1958
Nama Daerah Nusa Tenggara semula adalah nama pulau-pulau Sunda Kecil ( Kleine
Sunda Eilanden) yang meliputi pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor dan
pulau-pulau lainnya termasuk Rote, Sawu dan Alor. Pada tahun 1954 dengan UU Darurat
No. 9 Tahun 1954 nama Sunda Kecil diganti dengan nama Nusa Tenggara. Nama ini
diberikan oleh Menteri P dan K RI Prof. Mr. Moh Yamin (alm). Nama ini untuk pertama
kali dicetuskan di Kupang Tahun 1953.
Nusa Tenggara Timur pada masa Pemerintahan Hindia Belanda 1904 – 1945
Untuk melaksanakan Pemerintahan di Nusa Tenggara Timur Belanda berpegang pada
Self Bestuur Regelen tahun 1903, 1919, 1927, dan 1938 yang tercantum dalam Indische
Staatsblad 1916 No. 372 menetapkan terbentuknya wilayah pemerintahan "Keresidenan
Timor dan teluknya" (Residentie Timor en onder Hoorig heden) dengan pusatnya di
Kupang. Residentie Tomor terdiri dari 3 Afdeling (Timur ibukota Kupang, Flores ibukota
Ende, Sumba ibukota Bima) dan 15 Order Afdeling
Nusa Tenggara Timur dan Negara Indonesia Timur
Tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan,
semua wilayah jajahan Hindia Belanda dinyatakan bebas, namun pada saat itu bangsa
Hindia Belanda terus berupaya untuk menguasai NTT. Berbagai perjuangan terus
dilakukan oleh para pejuang kita untuk mempertahankan NTT dan mereka melibatkan diri
melalui organisasi Partai Perserikatan Kebangsaan Timor, yang kemudian merubah
namanya menjadi Partai Demokrasi Indonesia di Timor. Para tokoh-tokoh dalam partai
PDI Timor terus berjuang ditingkat Nasional di NTT pada awal kemerdekaan sampai
berdirinya Pemerintah Negara Indonesia Timor, Pemerintah Otonom NTT.
Pada tahun 1946 terlaksananya Konferensi Malino, dimana para pejuang dari NTT
menghadiri Konferensi tersebut dengan membawa tekad yang bulat yaitu "menuntut hak
untuk menentukan nasib sendiri sekarang juga". Para pejuang kita mengikuti kegiatan
dimaksud adalah A.H Koroh, I.H Doko dan Th Oematan. Konferensi yang kedua
dilaksanakan di Denpasar pada tanggal 20 Desember 1946 yang dihadiri oleh : I.H Doko,
pastor Gabriel Manek dan Drs. [Link] Dengan berpegang pada persetujuan Linggar Jati
dan disetujui oleh Presiden RI dan Pemerintah RI, maka utusan-utusan dari Timor ikut
membentuk Negara Indonesia Timor sebagai sarana untuk meletakan dasar pemerintahan
yang berkedaulatan yang meliputi seluruh Indonesia kelak. Ketiga utusan tersebut juga
dilantik menjadi Anggota Parlemen asal NTT yaitu I H Doko, G. Manek, Y.S Amalo dan
B. Sahetapy - Angel, Tuga Sutama dari Anggota Parlemen adalah menyadarkan
masyarakat tentang pentingnya kebebasan. Pada tahun 1949 atas nama menteri dalam
Negeri NIT, I,H. Doko datang ke Kupang dan melantik daerah Timor dan badan
pemerintahan yang terdiri Dewan Raja-Raja dan DPR dengan anggotanya sebanyak 30
orang.
Lahirnya Propinsi Nusa Tenggara Timur
Dalam kekuasaan hukum HIT dengan Undang-Undang No. 44 tahun 1950, ketiga pulau
besar yaitu Flores, Sumba, dan Timor dan pulau-pulaunya masing-masing merupakan
daerah otonom. Pada Tahun 1950 berdasarkan peraturan pemerintah No. 21 tahun 1950
maka daerah-daerah Flores, Sumba, Timor, Sumbawa, Lombok dan Bali merupakan satu
Propinsi Administratif dengan nama propinsi Sunda kecil. Nama Sunda kecil kemudian
diganti dengan nama Nusa Tenggara. Pada tahun 1957 setelah berlakunya UU No. 1 tahun
1957 tentang pokok-pokok Pemerintahan Daerah dan dengan UU No. 64 tahun 1958
Propinsi Nusa Tenggara dibagi menjadi tiga daerah Swantantra Tingkat 1, yaiutu masing-
masing Swantantra Tingkat 1 Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Daerah tingkat 1 Nusa Tenggara Timur meliputi bekas daerah pulau Flores, Sumba dan
Timor dan Kepulauannya. Hasil terakhir diketahui bahwa Nusa Tenggara Timur hingga
saat ini memiliki 566 buah pulau yang tersebar diantara 3 (tiga) buah pulau besar yaitu
Flores, Sumba dan Timor yang biasa disapa "Flobamor" Demikian sejarahnya singkat
terbentuknya Propinsi Nusa TenggaraTimur.
Arti Lambang Nusa Tenggara Timur
Lambang Propinsi Nusa Tenggara Timur dapat mempunyai arti sebagai berikut
1. Bintang dilambangkan sebagai ke Tuhanan yang Maha Esa.
2. Komodo dilambangkan sebagai kekayaan Alam khas Nusa Tenggara Timur.
3. Padi dan kapas dilambangkan sebagai kemakmuran yang dimiliki oleh Propinsi Nusa
Tenggara Timur
4. Tombak dilambangkan sebagai Keagungan dan Kejayaan.
5. Pohon beringin dilambangkan sebagai Persatuan dan Kesatuan.
B. LOKASI DAN LUAS WILAYAH
Lokasi
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terletak di selatan katulistiwa pada posisi 80° – 12°
Lintang Selatan dan 118° – 125° Bujur Timur
Batas Wilayah :
- Sebelah Utara : Berbatasan dengan Laut Flores
- Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Samudera Hindia
- Sebelah Barat : Berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara
Barat
- Sebelah Timur : Berbatasan dengan negara Timor Leste,
Provinsi Maluku dan Laut Banda
Berdasarkan letak geografisnya, Kepulauan NTT berada diantara Benua Asia dan Benua
Australia, serta diantara Samudera Indonesia dan Laut Flores. Provinsi NTT merupakan
wilayah kepulauan yang terdiri dari 1.192 pulau, 432 pulau diantaranya sudah mempunyai
nama dan sisanya sampai saat ini belum mempunyai nama. 42 pulau dihuni dan 1.150
pulau tidak dihuni. Diantara 432 pulau yang sudah bernama terdapat 4 pulau besar, yaitu :
- Flores
- Sumba
- Timor, dan
- Alor
Dan pulau-pulau kecil antara lain:
Adonara Babi Lomblen Pura
Pamana Besar Panga Batang Parmahan Rusa
Rusah Samhila Solor Trweng
Pulau Batang Kisu Lapang Pulau dana
Doo Landu Manifon Manuk Pamana
Rajina Rote Sarvu Semau
Pulau Loren Komodo Rinca Sebabi
Sebayur kecil Sebayur besar Serayu besar Untelue
Luas Wilayah (luas darat dan laut, jumlah pulau) :
Luas wilayah daratan Provinsi Nusa Tenggara Timur ± 47.349,90 km2 atau 2,49% luas
Indonesia dan luas wilayah perairan ± 200.000 km2 diluar perairan Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia (ZEEI).
- Luas wilayah berdasarkan Kabupaten/Kota
No Kabupaten/Kota Luas Daerah Presentase
1 Sumba Barat 737,42 1,56
2 Sumba Timur 7.000,50 14,78
3 Kupang 5.898,26 12,46
4 Timor Tengah Selatan 3.947,00 8,34
5 Timor Tengah Utara 2.669,66 5,64
6 Belu 2.445,57 5,16
7 Alor 2.864,60 6,05
8 Lembata 1.266,38 2,67
9 Flores Timur 1.812,85 3,83
10 Sikka 1.731,92 3,66
11 Ende 2.046,62 4,32
12 Ngada 1.620,92 3,42
13 Manggarai 4.188,90 8,85
14 Rote Ndao 1.280,00 2,70
15 Manggarai Barat 2.947,50 6,22
16 Sumba Barat Daya 1.445,32 3,05
17 Sumba Tengah 1.869,18 3,95
18 Nagekeo 1.416,96 2,99
19 Manggarai Timur 2.502,24 5,28
20 Kota Kupang 160,34 0,34
Jumlah 47.349,90 100,00
Sumber : Buku NUSA TENGGARA TIMUR DALAM ANGKA 2009
Sumber : Brosur No. 30 Tahun 1979 – Dit. Agraria Prop. Dati I NTT
- Luas wilayah berdasarkan pulau
No. Pulau Luas Daerah Presentase
1 Sumba 11.040,00 23,30
2 Sabu 421,70 0,90
3 Rote 1.214,30 2,60
4 Semau 261,00 0,60
5 Timor 14.394,90 30,40
6 Alor 2.073,40 3,40
7 Pantar 711,80 1,50
8 Lomblen 1.266,00 2,70
9 Adonara 518,80 1,10
10 Solor 226,20 0,50
11 Flores 14.231,00 30,00
12 Rinca 212,50 0,40
13 Komodo 332,40 0,70
14 Lain-lainnya 445,90 0,90
Jumlah 47.349,90 100,00
Sumber : Brosur No. 30 Tahun 1979, Dit. Agraria Provinsi Dati I NTT
Buku : NUSA TENGGARA TIMUR DALAM ANGKA 2009
- Peta Administrasi wilayah
Gambar 1.1 peta Provinsi Nusa Tenggara Timur
Gambar 1.2 Nusa Tenggara Timur dilihat melalui Google Maps
- Pembagian Kabupaten/Kota di dalam Provinsi
No. Kabupaten/kota Kecamatan Kelurahan Desa
1 Kupang 30 22 218
2 Timor Tengah Selatan 32 12 228
3 Timor Tengah Utara 9 34 140
4 Belu 24 12 196
5 Alor 17 17 158
6 Flores Timur 18 17 209
7 Sikka 21 13 147
8 Ende 20 23 191
9 Ngada 9 16 78
10 Manggarai 9 17 132
11 Sumba Timur 22 16 140
12 Sumba Barat 6 8 45
13 Lembata 9 7 137
14 Rote Ndao 8 7 73
15 Manggarai Barat 7 5 116
16 Nagekeo 7 16 84
17 Sumba Tengah 4 - 43
18 Sumba Barat 8 2 94
19 Manggarai Timur 6 10 104
20 Kota Kupang 4 49 -
Jumlah 270 303 2533
- Posisi Strategis Wilayah
Provinsi Kepulauan yang wilayahnya disatukan Laut Sawu dan Selat Sumba.
1. Wilayah terdepan di Selatan Indonesia yang berbatasan darat dengan Timor
Leste dan berbatasan Laut dengan Australia.
2. Memiliki 5 Pulau terdepan : Pulau Alor, Batek, Dana, Ndana, dan Mengkudu. d.
Mengelilingi Wilayah “Enclave“ Distrik Oekusi, Negara Timor Leste”.
3. Garis pantai mencapai 5.700 Km.
4. Penduduk 4.683.827 jiwa (Terbesar kedua di Wilayah KTI setelah Provinsi
Sulawesi Selatan).
5. Secara geneologis unik, terdiri dari puluhan suku dan bahasa daerah
C. KEBUDAYAAN NUSA TENGGARA TIMUR
Pengertian Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut
culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa
diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan dapat didefinisikan
sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang
digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya,
serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya.
Salah Satu Contoh Kebudayaan Indonesia
Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh
daerah di Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda. Berikut
adalah salah satu contoh kebudayaan yang berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur.
1. Upacara Adat
Upacara Adat Reba diselenggarakan khususnya di beberapa daerah di Kabupaten
Ngada, NTT. Reba merupakan upacara adat yang bertujuan untuk melakukan
penghormatan dan ucapan rasa terima kasih terhadap jasa para [Link]
ini diadakan setiap tahun baru tepatnya di bulan Januari atau Februari dengan
hidangan utama berupa ubi. Bagi warga Ngada ubi diagungkan sebagai sumber
makanan yang tidak pernah habis disediakan oleh bumi. Selama upacara
diselenggarakan tarian dengan penari menggenggam pedang panjang (sau) dan
tongkat warna-warni yang di bagian ujungnya dihiasi bulu kambing warna putih
(tuba). Sebagai pengiring tarian adalah alat musik bergesek berdawai tunggal yang
terbuat dari tempurung kelapa atau labu hutan. Upacara adat Reba biasanya
diselenggarakan selama tiga sampai empat hari. Sebelum upacara tari-tarian dan
nyanyian diadakan misa inkulturasi di gereja yang dipimpin seorang pater atau romo.
Upacara ini memang memadukan unsur adat dengan agama.
2. Rumah Adat
Rumah temukung termasuk dalam kategori rumah panggung. Rumah yang bentuknya
empat persegi panjang ini bagian-bagiannya ada yang bermakna filosofis dan ada
yang non-filosofis (fungsional belaka). Bagian-bagian itu adalah: atap, bangngu
(balok lok bubungan), tiang-tiang gela yang berfungsi sebagai penopang bangngu,
dinding, pintu, tangga, dan kelaga (balai-balai). Untuk lebih jelasnya, berikut ini
bagian-bagian itu akan diuraikan satu-persatu.
3. Atap
Atap rumah temukung menyerupai perahu yang terbalik. Oleh karena itu, Orang Sabu
menyebut atap rumah temukung sebagai “atap perahu terbalik”. Bentuk atap yang
menyerupai perahu terbalik ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan mereka yang
selalu berhubungan dengan laut (tidak dapat dipisahkan dari laut). Dalam kehidupan
sehari-hari, perahu tidak hanya sekedar sebagai alat transportasi ke dan dari pulau-
pulau yang ada di sekitarnya, tetapi juga sebagai alat untuk mencari ikan dan
sekaligus sebagai tempat berlindung di lautan. Mengingat bahwa perahu demikian
berartinya bagi Orang Sabu, maka ketika mereka membuat rumah, atapnya dibuat
menyerupai perahu (perahu yang terbalik). Ini adalah simbol bahwa kehidupan
mereka tidak lepas dari laut. Malahan, bukan atap rumah saja, menyebut suatu
kampung atau kumpulan kampung pun dengan istilah ree kowa (kampung perahu).
4. Balok Lok Bubungan
Istilah lain yang sering digunakan oleh Orang Sabu untuk menyebut balok lok
bubungan adalah “bangngu”. Bangngu sangat erat kaitannya dengan atap karena
ukuran atap ditentukan oleh bagian ini. Bentuk bangngu pada tipe rumah temukung
dan rumah biasa dapat dibagi menjadi dua, yaitu: ammu ae roukoko (bangngu yang
sama ukurannya dengan badan rumah) dan ammu iki (bangngu yang ukurannya 3/5
dari panjang badan rumah)2). Bangngu ini dipasangi kayu-kayu yang posisinya
menurun ke arah samping kiri dan kanan sampai ke tepi tiris, sehingga bentuknya
menyerupai segi tiga. Kayu-kayu tersebut oleh mereka disebut worena (usuk besar).
Dalam sebuah rumah, baik temukung maupun rumah biasa, jumlahnya selalu ganjil.
Sebutan untuk jumlah worena dalam sebuah rumah sesuai dengan bahasa deret hitung
mereka. Jadi, jika jumlah worenanya ada tiga buah, maka disebut “wo tallu”; jika ada
lima buah disebut “wo pidu”; jika ada tujuh buah disebut “wo heo”; dan seterusnya.
Di atas worena dipasangi kayu-kayu yang arahnya melintang. Kayu-kayu ini oleh
Orang Sabu disebut “reng” atau “badu”. Jumlah badu yang ada dibagian depan rumah
selalu ganjil (9, 11, dan 21), sedangkan yang ada di bagian belakang rumah selalu
genap (10,12, dan 22). Ganjil dan genapnya jumlah badu mengandung makna
tersendiri. Ganjil merupakan simbol: kiri, belakang, adik, dan perempuan. Sedangkan,
genap merupakan simbol: kanan, depan, kakak, dan laki-laki. Artinya, dalam struktur
sosial masyarakat Sabu seorang kakak laki-laki mempunyai kedudukan dan peranan
yang penting, baik dalam keluarganya maupun masyarakatnya.
Tiang-tiang Rumah Temukung/Gela (Tiang Penopang Bangngu)
Jumlah gela ada dua buah. Satu ada di ujung kiri dan satunya lagi ada di ujung kanan
bangngu. Di antara kedua gela itu ada ruang terbuka (kosong). Orang Sabu menyebut
ruang itu “roa ammu”. Gela biasanya terbuat dari kayu kola, kayu merah, kayu jati,
kayu pohon lontar, kayu pohon kelapa, ajumaddi (kayu hitam) dan aju bahhi (kayu
besi). Kayu lainnya dianggap kurang baik. Selain gela yang berfungsi sebagai
penopang bangngu ada tiang-tiang yang fungsinya untuk menopang atap secara
keseluruhan. Jumlahnya sekitar 8--10 buah. Tiang-tiang yang jenis kayunya sama
dengan gela dibentuk bulat dengan panjang kurang lebih 3 sampai 4 meter. Ujungnya
dibentuk runcing, sedangkan pangkalnya dipotong rata. Ujungnya yang runcing itu
dimasukkan pada lubang yang dibuat pada kebie (balok penindas), sedangkan
pangkalnya ditanamkan dalam tanah. Tiang-tiang tersebut ada yang ditanamkan dalam
tanah (geri) dan ada yang ditumpukan di atas balok (tiang-tiang yang terdapat di gela).
Di antara tiang-tiang itu ada dua tiang yang oleh Orang Sabu dianggap sebagai “tarru”
(tiang utama), yaitu “tarru duru” (tiang laki-laki/tiang haluan) dan “tarru wui” (tiang
perempuan/tiang buritan). Agar kedua tiang utama itu, satu dengan lainnya tidak
kelihatan, maka dibuatkan dinding pemisah. Ini penting karena menurut mereka tarru
duru tidak boleh “terlihat“ oleh taru wui. Sementara itu, tiang-tiang lainnya, seperti
tiang-tiang penyangga loteng dan tiang penyangga balok-balok lainnya diberi nama
menurut pembagian utama dalam rumah temukung, yaitu duru dan wui. Sedangkan,
tiang penyangga yang melebar ke tiris, dinamakan hubu (moncong). Tiang moncong
itu sendiri ada yang disebut “moncong duru” dan “moncong wui”. Ujung duru
maupun wui dibuat agak melengkung. Bentuk seperti ini oleh mereka disebut
“tebakka”. Fungsinya sebagai “jalan nafas” rumah. Lepas dari masalah pemasangan
dan penamaan dari berbagai tiang yang terdapat pada rumah temukung, yang jelas
bahwa pembulatan dan peruncingan tiang tidak hanya sekedar bagian dari teknologi
tradisional yang mereka terapkan dalam pembuatan sebuah rumah temungkus. Akan
tetapi, ada makna simbolik yang mengacu pada pandangan tentang alam semesta yang
bersifat dikotomis.
5. Kelaga (Balai-balai)
Orang Sabu menyebut lantai rumah temukung sebagai kelaga (balai-balai). Kelaga
terbagi dalam tiga bagian, yaitu: kelaga rai (balai-balai tanah), kelaga ae (balai-balai
besar) dan kelaga dammu (balai-balai loteng). Bagian-bagian tersebut sangat erat
kaitannya dengan kepercayaan mereka tentang dunia. Menurut mereka “dunia” terbagi
dalam tiga bagian, yaitu: rai dida-liru bala (dunia para dewa), rai wawa (dunia
manusia), dan rai menata (dunia para arwah). Kelaga rai terdapat di sepanjang sisi
bagian depan atau bagian kanan rumah3). Kelaga yang ketinggiannya dari permukaan
tanah sekitar 0,50--0,75 meter ini terbagi dalam dua bagian, yaitu: kelaga rai duru dan
kelaga rai wui. Kelaga rai duru adalah kelaga yang berada di bagian kiri rumah yang
disimbolkan sebagai “laki-laki”. Oleh karena itu, kelaga ini hanya untuk menerima
tamu laki-laki. Sedangkan, kelaga rai wui adalah bagian kelaga yang disimbolkan
sebagai “perempuan”. Kelaga ini disamping untuk menerima tamu perempuan, juga
digunakan untuk bekerja (menganyam atau menenun). Kelaga ae yang merupakan
balai-balai besar terletak di atas balok-balok utama. Kelaga yang ketinggiannya
sekitar 1,00--1,50 meter dari permukaan tanah ini juga terbagi atas dua bagian: duru
(laki-laki) dan wui (perempuan). Di dalam kelaga ae ini ada empat balok utama (ae)
yang menopang kelaga dammu (balai-balai loteng). Kelaga ini biasanya digunakan
sebagai tempat makan bagi para anggota rumah maupun tamu. Dan, sama seperti
kelaga rai, kaum laki-laki akan makan di bagian duru, sedangkan kaum perempuan
akan makan di bagian wui. Kelaga dammu (balai-balai loteng) terletak di bagian wui
rumah. Kelaga ini tertutup dengan tabir yang terbuat dari ketangan rohe (daun kelapa),
sehingga terlindung dari pengelihatan orang-orang yang duduk di bagian “lelaki”.
Kelaga ini digunakan untuk menaruh barang yang berkaitan dengan “urusan”
perempuan (benang, alat ikat, tenun dan lain sebagainya). Hanya kaum perempuan,
termasuk Inna Ammu (isteri kepala rumah), yang boleh memasukinya. Kekhususan
inilah yang kemudian membuahkan ungkapan bahwa kelaga dammu adalah
wewenang kaum perempuan. Selain ketiga kelaga tersebut di atas, ada sebuah kelaga
lagi yang dinamakan kelaga ruuhu (balai-balai rusuk). Kelaga ini letaknya sejajar
dengan bagian tengah rumah temukung. Diantara kelaga dan ruang tengah diberi
dinding (sekat), sehingga tidak terlihat dari bagian wui maupun duru rumah. Kelaga
ruuhu ini pada bagian wui-nya digunakan untuk melakukan kegiatan memasak serta
menyimpan alat-alat dapur. Tempat tersebut, oleh orang Sabu, disebut “koppo”.
6. Pintu
Orang Sabu menyebut pintu rumah temukung sebagai kelai. Bentuknya segi empat.
Secara keseluruhan, jumlah pintu rumah temukung ada empat, yaitu: kelai duru (pintu
anjungan), kelai wui (pintu buritan), kelai koppo (pintu kamar), dan kelai dammu
(pintu loteng). Ukuran setiap pintu bergantung dari ukuran rumah itu sendiri.
Meskipun demikian, pada umumnya berukuran: panjang sekitar 1,30-1,75 meter dan
lebar 0,70-0,90 meter. Di masa lalu pintu terbuat dari anyaman daun lontar. Namun,
dewasa ini jarang ditemukan karena sebagian besar sudah menggunakan kayu.
Berdasarkan cara membuka dan atau menutupnya, pintu rumah temukung dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu: kelai ketode (pintu tolak gantung), kelai nyaka (pintu
tolak) dan kelai moda (pintu putar). Kelai ketode adalah pintu yang dibuka dengan
cara ditolak ke atas dan hanya terdapat di bagian loteng rumah (kelaga dammu).
Kemudian, kelai moda adalah pintu yang cara buku-tutupnya dengan memutarnya.
Sedangkan, kelai nyaka dibuka dengan cara mendorong ke sisi kiri maupun kanan.
Pintu ini terdapat pada anjungan dan wui (buritan) rumah.
7. Tangga
Tangga rumah temukung berbentuk segi empat. Jumlah anak tangganya bergantung
tinggi-rendahnya tangga (pada umumnya berketinggian sekitar 0,50–0,60 meter).
Tangga ini kebanyakan digunakan untuk naik ke loteng (kelaga dammu) atau untuk
naik ke balai-balai besar, khususnya jika panjang balai-balai tanah tidak mencapai
daerah pintu. Meskipun demikian, ada juga yang tidak menggunakan tangga untuk
naik ke balai-balai besar (kelaga ae) karena di bawah pintu anjungan sudah ada balai-
balai tanah sebagai tempat berpijak.
8. Dinding
Posisi dinding tegak lurus (menempel pada ujung kelaga ae). Ujung dinding bagian
bawah lebih rendah sedikit dari kelaga ae, sedangkan ujung dinding bagian atas
berakhir di bawah kabie. Dinding tersebut didirikan mengelilingi bagian tengah rumah
(mengelilingi kelaga ae dan kelaga ruuhu). Untuk bagian atas (dammu) hanya disekat
dengan ketangga robe (tutup gesek) yang dibuat dari daun kelapa. Letaknya yang ada
di tengah-tengah atap sekaligus berfungsi sebagai tabir (pembatas antara loteng dan
ruang atap duru (anjungan). Tabir ini juga berfungsi sebagai pemisah antara atap duru
dan wui. Motif hiasan yang terdapat dalam tabir biasanya berupa meander atau
tanaman menjalar.
9. Tarian
Tari Perang, tari yang menunjukkan sifat-sifat keperkasaan dan kepandaian
mempermainkan senjata. Senjata yang dipakai berupa cambuk dan perisai. Tari
Gareng Lameng, dipertunjukkan pada upacara khitanan. Tari ini berupa ucapan
selamat serta mohon berkat kepada Tuhan agar yang dikhitan sehat lahir batin dan
sukses dalam hidupnya.
- Lagu
Lagu daerah yang berasal dari propinsi NTT : Anak Kambing Saya, Oras,
LoroMalirin, Sonbilo, Tebe Onana, Ofalangga, Do Hawu, Bolelebo, Lewo Ro
Piring Sina, Bengu Re Le Kaju, Aku Retang, Gaila Ruma Radha, Desaku,
Flobaroma, Potong Bebek Angsa.
- Alat Musik
Sasando, Gong, Tambur, Juk Dawan, Gitar Lio merupakan nama-nama alat musik
yang berasal dari NTT. Salah satu musik yang banyak di kenal masyarakat umum
di Indonesia tentang alat musik yang ada di Nusa Tenggara adalah Sasando. Alat
musik ini adalah sebuah alat instrument petik musik. Asal dari Instrument musik
dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.
10. Pakaian Adat
Seni tenun di Nusa Tenggara Timur konon sudah ada pada masa sebelum
ditemukannya serat kapas, pada masa itu masyarakat Suku Rote menenun dengan
menggunakan bahan serat dari sejenis pohon palem seperti lontar dan gewang.
Barang-barang yang dihasilkan dari bahan tenunan tersebut antara lain kain yang
disebut lafe tei, kemudian dipakai menjadi busana sehari-hari. Setelah serat kapas
masuk ke Nusantara, masyarakat Rote beralih menenun kapas. Tetapi, ada yang masih
tersisa dari lafe tei hingga sekarang, yaitu topi khas Rote yaitu ti’i langga, yaitu
penutup kepala yang berbentuk mirip dengan topi sombrero dari Meksiko. Ti’langga
merupakan aksesoris dari pakaian tradisional untuk pria Rote. Tetapi pada saat-saat
tertentu, misalnya pada saat menarikan tarian tradisonal foti, perempuan
menggunakan penutup kapala ini. Ti’i langga terbuat dari daun lontar yang
dikeringkan. Karena sifat alami daun lontar yang makin lama makin kering, maka ti’i
langga pun akan berubah warna dari kekuningan menjadi makin cokelat. Bagian yang
meruncing pada topi tersebut makin lama tidak akan tegak, tetapi cenderung miring
dan sulit untuk ditegakan kembali. Konon hal tersebut melambangkan difat asli orang
Rote yang cenderung keras. Selain itu, ti’i langga juga merupakan simbol kepercayaan
diri dan wibawa pemakainya. Selain itu, bagi pria, baju adat rote berupa kemeja
berlengan panjang berwarna putih polos. Tubuh bagain bawah ditutupi oleh sarung
tenun berwarna gelap, kain ini menjuntai hingga menutupi setengah betis. Motif dari
kain ini bermacam-macam, bisa berupa binatang, tumbuhan yang ada tersebar di di
kawasan Nusa Tenggara Timur. Dari motif yang nampak dari kain tenun tersebut
dapat dilihat daerah asal pembuatan kain tenun tersebut. Sebagai aksesoris sehelai
kain tenun berukuran kecil diselempangkan di bagian bahu. Motifnya serasi dengan
kain tenun pada sarungnya. Selain itu, sebilah golok juga diselipkan di pinggang
depan. Untuk wanita, biasanya mengenakan baju kebaya pendek dan bagain
bawahnya mengenakan kain tenun. Salah satu motif yang sering digunakan untuk
menghiasi pakaian adat ini adalah motif pohon tengkorak. Sebagai pelengkap, sehelai
selendang menempel pada bahunya. Rambut dianggul dan memakai hiasan berbentuk
bulan sabit dengan tiga buah bintang. Hiasan tersebut disebut bulak molik. Bulan
molik artinya bulan baru. Hiasan ini terbuat biasanya terbuat dari emas, perak,
kuningan, atau perunggu yang ditempa dan dipipihkan, kemudian dibentuk
sedemikian rupa hingga menyerupai bulan sabit. Selain itu, Aksesoris lainnya adalah
gelang, anting, kalung susun (habas), dan pending. Kalung susun atau habas terbuat
dari emas atau perak yang merupakan warisan turun-temurun dari sebuah keluarga
suku Rote. Selain habas, aksesoris lainnya adalah pending. Pending merupakan
perhiasan yang terbuat dari kuningan, tembaga, perak dan emas dan biasa dipakai di
bagian pinggang. Motif yang sering muncul sebagai hiasan pending adalah motif
bunga atau hewan unggas.
11. Makanan Khas
- Se'i Babi
Se'i adalah makanan khas Nusa Tenggara Timur yang cukup banyak ditemukan di
jalan-jalan. Se'i adalah daging yang dimasak dengan cara diasap, dicampur dengan
garam, dan rempah-rempah.
- Catemak Jagung
Catemak jagung adalah makanan penutup yang terbuat dari jagung, labu lilin, dan
kacang hijau yang dimasak dengan bumbu masak penyedap rasa. Tidak seperti
warnanya yang manis seperti kolak, catemak rasanya asin.
- Lawar Sarden
Lawar adalah sambal khas Nusa Tenggara Timur. Lawar sarden terbuat dari cabai,
bawang, garam, dan sarden mentah.