0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
96 tayangan28 halaman

Asuhan Kebidanan G2P1A0 dengan Anemia

Asuhan kebidanan pada ibu hamil Ny. K dengan anemia ringan di Ponkesdes Kawengan memberikan asuhan komprehensif meliputi pemeriksaan fisik, pemberian suplemen zat besi, dan edukasi gizi untuk mencegah komplikasi anemia."

Diunggah oleh

Widya Rani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
96 tayangan28 halaman

Asuhan Kebidanan G2P1A0 dengan Anemia

Asuhan kebidanan pada ibu hamil Ny. K dengan anemia ringan di Ponkesdes Kawengan memberikan asuhan komprehensif meliputi pemeriksaan fisik, pemberian suplemen zat besi, dan edukasi gizi untuk mencegah komplikasi anemia."

Diunggah oleh

Widya Rani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY”K” G2P1A0 UK 26-

27 MINGGU
DENGAN ANEMIA RINGAN
DI PONKESDES KAWENGAN

DISUSUN OLEH :
UMMI NURHAYATI
(202110050)

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN


KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2021
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan kebidanan pada Ny”K” G2PIA0 UK 26-27 minggu dengan


Anemia Ringan di Ponkesdes Kawengan Puskesmas Kedewan
Yang telah dilakukan oleh:
Nama : UMMI NURHAYATI
NIM : 202110050
Prodi : Sarjana Terapan Kebidanan
Asuhan kebidanan ini dibuat guna pemenuhan tugas praktik klinik kebidanan, dan
telah disahkan pada:
Hari / tanggal :

Mengetahui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

SITI SHOFIYAH,SST..[Link] MOEDJIATI,SST


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Masa kehamilan adalah sebuah impian yang sangat dinanti dan diharapkan oleh

pasangan suami dan istri. Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal

dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir. Namun

demikian tidak semua hasil kehamilan dan persalinan akan menggembirakan

seorang suami, ibu dan bayi lahir sehat, tetapi ibu hamil bisa menghadapi

kegawatan dengan derajat ringan sampai berat yang dapat memberikan bahaya

terjadinya ketidaknyamanan, ketidakpuasan, kesakitan, kecacatan bahkan kematian

bagi ibu hamil,risiko tinggi, maupun rendah yang mengalami komplikasi dalam

persalinan (Saifuddin, 2012). Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan

kadar hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar <10,5 gr%

pada trimester 2. Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita

tidak hamil terjadi hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Prawiroharjo, 2010).

Menurut WHO (2015) prevalensi anemia di Indonesia sebesar 23%, Berdasarkan

RISKesdas (2013) terdapat 37,1% ibu hamil anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar HB

kurang dari 11,0 gram/dl. Salah satu factoranemia pada ibu hamil adalah kurangnya

asupan zat besi yang dikonsumsi ibu setiap [Link] krena itu tablrt Fe perlu

diberikan kepada ibu hamil sebagai salah satu upayauntuk mencegah dan

menanggulangi anemia akibat kekurangan zat besi, pemberian tablet Fe

dianggap cara yang efisien untuk mencegah anemia pada ibu hamil di Indonesia

( Kemenkes RI, 2014). Menurut World Health Organization (WHO) kebutuhan zat

besi yang besar (1000 mg) selama hamil tidak cukup apabila didapatkan dari

makanan saja, sehingga harus dibantu dengan suplemen tablet besi ( Kemenkes RI,
2014)Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia besi dilakukan melalui

pemberian suplemen zat besi ini diprioritaskan pada ibu [Link] karena itu untuk

mencegah anemia gizi pada ibu hamil dilakukan pemberian 202 suplemen zat besi

dengan dosis pemberian sehari sebanyak 1 tablet (60 mg)elemental iron

0,25 g asam folat) berturut turut minimal selama 90 hari selama masa kehamilan.

(badanPenelitian dan pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, 2013).

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan kebidanan secara komperehensif pada ibu hamil Ny.

“K” dengan anemia ringan di Ponkesdes Kawengan Puskesmas Kedewan

Kec. Kedewan Kab. Bojonegoro.

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Memberikan asuhan kebidanan secara komperehensif pada ibu hamil

Ny. “K” dengan anemia ringan di Ponkesdes Kawengan Puskesmas Kedewan

Kec. Kedewan Kab. Bojonegoro.

1.3.2 Tujuan Khusus

Melaksanakan asuhan kebidanan ibu hamil Trimester II pada Ny. “K”

G1P0A0 dengan anemia ringan di Ponkesdes Kawengan Puskesmas Kedewan

Kec. Kedewan Kab. Bojonegoro.

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis

Menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan, serta bahan

dalam penerapan asuhan kebidanan dalam batas continuity of care

terhadap ibu hamil pada kehamilan dengan Anemia Ringan

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi ibu hamil

Mendapatkan asuhan kebidanan komperehensif dari masa

kehamilan secara continue of care dengan kasus Anemia Ringan

pada kehamilan serta mengetahui secara dini resiko tinggi pada

ibu hamil dan penangganan yang tepat dengan melakukan

antenatal secara teratur.

2. Bagi bidan

Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif pada klien

serta dapat dijadikan acuan untuk memperhatikan mutu

pelayanan.

3. Bagi penulis

Menambah wawasan ,meningkatkan pemahaman, dan menambah

pengalaman nyata tentang asuhan kebidanan secara komprehensif

(continuity of care) pada ibu hamil.

1.5 Ruang Lingkup


1.51 Sasaran

Sasaran dalam asuhan continuity of care ini adalah Ny. “K” dengan

anemia ringan di Ponkesdes Kawengan Puskesmas Kedewan Kec. Kedewan

Kab. Bojonegoro yang dilakukan sesuai standart Asuhan Kebidanan.

1.5.2 Tempat

Asuhan kebidanan komprehensif di lakukan di Ponkesdes Kawengan

Puskesmas Kedewan Kec. Kedewan Kab. Bojonegoro

Waktu

Waktu yang di perlukan untuk penyelesaian asuhan kebidanan ini pada

tanggal 11 April 2021.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anemia

2.1.1 Definisi Anemia

Anemia adalah jumlah hemoglobin dalam darah kurang dari 12 gr/100 ml

( Prawiroharjo,2006).Anemia adalah penurunan jumlah sel sel darah merah dalam

sirkulasi,abnormalitas kandungan hemoglobin sel darah merah atau keduanya

(Corwin,2009). Secara fungsional Anemia didefinisikan sebagai penurunan

jumlah massa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya

untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan [Link]

praktis anemia ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin,hematokrit atau

hitung eritrosit dan yang sering dipakai adalah hemoglobin lalu hematokrit

( Sudoyo,2009). Kriteria anemia menurut WHO ( dikutip dari Hoffbrand AV,et

al,2001)

Tabel 2.1 Kriteria Anemia menurut WHO

Kelompok Kriteria Anemia ( Hb)

Laki laki dewasa < 13 gr/dl

Wanita dewasa tidak hamil < 12 gr/dl

Wanita hamil ≤ 11 gr/dl

Sumber : Hoffbrand AV,2001

2.1.2 Anemia pada Kehamilan

Kehamilan adalah masa rawan pada perkembangan janin yang dikandung

wanita. Kehamilan merupakan urutan kejadian yang secara normal terdiri atas

pembuahan, implantasi, pertumbuhan embrio, pertumbuhan janin dan lahirnya

bayi (Yongky,2004). Pada kehamilan kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga


memicu peningkatan produksi eritropoietin sehingga volume plasma bertambah

dan sel darah merah (eritrosit) meningkat tetapi peningkatan volume plasma

terjadi dalam proporsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatan

eritrosit [Link] 2 sehingga terjadi penurunan konsentrasi

hemoglobin (hb) akibat hemodilusi (Sarwono,2010). Peningkatan volume plasma

darah terjadi lebih dulu dibandingkan produksi sel darah merah sehingga

menyebabkan penurunan kadar Hb dan hematokrit pada trimester I dan II

sedangkan pembentukan sel darah merah terjadi pada pertengahan akhir

kehamilan sehingga konsentrasi mulai meningkat pada trimester III kehamilan

( Darlina,2003).

2.1.3 Tanda dan gejala Anemia

Gejala dan tanda yang umum pada anemia adalah rasa lemah,lesu,cepat

lelah, telinga mendenging, mata berkunang kunang, kaki terasa dingin, sesak

nafas dan dispepsia. Muka tampak pucat dapat dilihat pada konjungtiva,mukosa

mulut,telapak tangan dan jaringan di bawah kuku. Sindrom anemia bersifat tidak

spesifik karena juga bisa diakibatkan oleh penyakit lain selain anemia dan tidak

sensitif karena timbul setelah penurunan hemoglobin yang berat (Hb< 7 gr/dl)

(Sudoyo,2009).Gejala anemia pada kehamilan ibu hamil merasa cepat lelah,

sering pusing, palpitasi, mata berkunang kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan

turun (anoreksia) konsentrasi hilang,nafas pendek (pada anemia parah), keluhan

mual muntah lebih hebat pada hamil muda, perubahan jaringan epitel kuku,

gangguan sistem neurumuskular, lesu, lemah, lelah, disphagia dan pembesaran

kelenjar [Link] diakibatkan karena kurang masuknya unsur zat besi dalam

makanan,karena gangguan reabsopsi,gangguan pencernaan atau karena banyaknya


zat besi yang keluar dari badan seperti pada perdarahan( Sudoyo,2009). Pada

dasarnya anemia disebabkan oleh a. Gangguan pembentukan eritrosit oleh

sumsum tulang yang disebabkan karena kekurangan bahan esensial pembentuk

eritrosit yang terbagi menjadi anemia defisiensi besi, anemia defisiensi asam folat

dan anemia defisiensi vitamin B12. Diakibatkan juga gangguan penggunaan

(utilisasi ) besi yaitu anemia akibat penyakit kronik dan anemia sideroblastik.

Disebabkan juga karena kerusakan sumsum tulang antara lain anemia aplastik,

anemia [Link] 3 mieoplastik, anemia pada keganasan

hematologi, anemia diseritropoetik dan anemia pada sindrom mielodisplastik.

Kehilangan darah juga bisa menjadi penyebab anemia. b. Proses penghancuran

eritrosit dalam tubuh sebelum waktunya (hemolisis) c. Anemia dengan penyebab

tidak diketahui atau dengan patogenesis yang komplek.

2.1.4 Dampak Anemia

Keluhan lemah,letih,lesu karena anemia adalah keluhan fisik yang nyata

dan dirasakan oleh penderita anemia( Tristiyanti,2006). Muka tampak

pucat,kehilangan selera makan,apatis, sulit berkonsentrasi serta mudah terserang

penyakit(Harli,1999).Karena menderita kekurangan darah, tenaga menjadi

berkurang dan menjadi cepat lelah bila bekerja. Pada penderita anemia, jumlah

hemoglobin yang berfungsi sebagai alat pengangkut oksigen berkurang sehingga

jatah oksigen untuk otot juga berkurang karena itu berakibat otot membatasi

produksi energi sehinngga orang yang menderita anemia akan cepat lelah bila

bekerja (Wijanto,2002).

2.1.5 Pencegahan Anemia pada Ibu hamil.


Pemberian suplemen Fe (tablet tambah darah) dosis rendah 30 mg pada

trimester III ibu hamil non anemik Hb > 11 gr/dl,sedangkan untuk ibu hamil

dengan anemia defisiensi besi dapat diberikan suplemen sulfat 325 mg 1-2 kali

[Link] yang disebabkan oleh defisiensi asam folat dapat diberikan asam

folat 1 mg/hari atau untuk dosis pencegahan dapat diberikan 0,4 mg/hari. dan bisa

juga diberi vitamin B12 100-200 mcg/hari (Budiarti,2009). Program pemerintah

saat ini untuk setiap ibu hamil mendapatkan tablet besi 90 tablet selama masa

[Link] besi yang diberikan mengandung FeSO4 320 mg (Zat besi

60 mg ) dan asam folat 0,25 mg. Setiap bulan diberikan 30 tablet. Dalam

mengatur pola makan dan membuat menu yang memenuhi kebutuhan juga perlu

dilakukan terutama mengonsumsi buah dan sayur yang banyak mengandung

[Link] 4 vitamin c dan lain lain yang dapat meningkatkan

penyerapan zat besi ( Mei,2009).Serta menghindari makanan dan minuman yang

menghambat penyerapan zat besi seperti teh dan kopi. Pencegahan dan

penanggulangan anemia antara lain dengan meningkatkan konsumsi zat besi dari

makanan seperti pangan hewani(daging,hati,ikan dan telur), pangan nabati

(sayuran hijau,buah buahan, kacang kacangan,padi padian), buah yang masih

segar dan banyak mengandung vitamin c membantu penyerapan zat besi. Bahan

makanan yang mengandung zat inhibitor dihindari karena mengandung tanning

yang akan mengurangi penyerapan zat besi seperti teh. Anemia juga bisa dicegah

dengan suplemen zat besi yang dapat memperbaiki Hb dengan cepat dan

Fortifikasi zat besi yaitu penambahan suatu zat gizi ke dalam bahan pangan untuk

meningkatkan kualitas pangan. .(Wirahadikusumah,1999).

2.1.6 Faktor Faktor yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil.
1. Sosial Ekonomi

Status Ekonomi kemungkinan besar merupakan pembentuk gaya hidup

[Link] keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang

anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik primer

maupun sekunder ( Soetjiningsih,1997). Keadaan perekonomian ibu hamil yang

rendah akan mempengaruhi biaya daya beli dan tingkat konsumsi ibu akan

makanan yang membantu penyerapan zat besi ,sehingga akan berpengaruh

terhadap tingkat kecukupan gizi ibu hamil ( Pujiati,2001).

2. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu proses perubahan perilaku menuju kedewasaan

dan penyempurnaan hidup, Pada ibu hamil yang berpendidikan tinggi dapat

menyeimbangkan pola makannya,jika pola makannya tercukupi maka ibu

hamil dapat terhindar dari anemia ( Jamludin,2004). Ibu hamil dengan

pendidikan rendah yaitu tidak sekolah,tidak tamat SD dan tamat SD sebanyak

66,15 % menderita anemia dan merupakan prevalensi terbesar dibandingkan

dengan [Link] 5 kategori pendidikan sedang atau tinggi

( Wijianto,2002).Menurut Arisman(2004) faktor pendidikan juga berpengaruh

saat pemberian tablet besi .Efek samping dari tablet besi yang dapat

mengganggu seperti mual muntah sehingga orang cenderung menolak tablet

yang [Link] tersebut karena ketidaktahuan bahwa selama

kehamilan mereka memerlukan tambahan zat besi.

3. Pengetahuan
Penyakit anemia banyak ditemukan karena kemiskinan dan kurangnya

pengetahuan tentang makanan sehat. Pada waktu hamil banyak makanan yang

ditabukan atau dipantang karena kurangnya pengertian tentang makanan sehat

yang bergizi sehingga anemia semakin parah (Manuaba,2010). Pengetahuan

tentang gizi dan kesehatan yang yang meningkat akan memberikan dampak

mengkonsumsi beragam jenis makanan sehingga dapat memenuhi kecukupan gizi

dan mempertahankan kesehatan individu (Suhardjo,1989).

4. Umur

Ibu Menurut Depkes (2001) kadar Hb 7.0 – 10,0 gr/dl banyak ditemukan pada

kelompok umur < 20 tahun 46%) dan kelompok umur 35 tahun atau lebih (48%).

Bila umur ibu terlampau muda (< 20 tahun) tidak atau belum siap untuk

memperhatikan lingkungan yang diperlukan untuk pertumbuhan janin,sedangkan

ibu hamil di atas 30 tahun lebih cenderung mengalami anemia disebabkan

cadangan zat besi yang mulai menurun (Rohadi,1997).Umur ibu hamil yang

semakin tua atau semakin muda akan berpengaruh terhadap kebutuhan gizi yang

[Link] ibu hamil diatas 30 tahun perlu energi yang besar karena fungsi

organ semakin melemah dan diharuskan bekerja [Link] 6

maksimal maka memerlukan tambahan energi yang cukup guna mendukung

kehamilan yang sedang berlangsung (Kristiyanasari,2010). Umur ibu untuk

mengalami suatu kehamilan dan persalinan yang baik adalah 20-35 tahun. Wanita

yang berumur kurang dari 20 tahun atau terlalu muda, perkembangan organ organ

reproduksi belum maksimal, kematangan emosi dan kejiwaan yang kurang serta

fungsi fisiologis organ reproduksi yang belum optimal sehingga lebih sering

terjadi komplikasi yang tidak diinginkan selama kehamilan. Sebaliknya pada


umur ibu yang terlalu tua telah terjadi kemunduran fungsi fisiologis organ

reproduksi secara umum sehingga lebih sering terjadi akibat ang merugikanbagi

bayi dan ibu hamil. Wintrobe (1987) menyatakan bahwa usia ibu dapat

mempengaruhi timbulnya anemia, yaitu semakin rendah usia ibu hamil maka

semakin rendah kadar hemoglobinnya. Kehamilan pada masa remaja akan

meningkatkan resiko kematian 2-4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan perempuan

yang hamil pada usia 20-30 [Link] usia 15-19 tahun sistem hormonal belum

stabil sehingga proses kehamilan menjadi tidak stabil,mudah terjadi

anemia,perdarahan,abortus atau kematian janin. .........

5. Paritas ( Jumlah persalinan )

Paritas atau jumlah kelahiran berhubungan dengan [Link] adalah jumlah

janin dengan berat badan lebih dari 500 gram yang pernah dilahirkan,hidup

maupun mati. Jumlah persalinan menunjukkan hubungan sebab akibat dengan

kejadian anemia pada ibu hamil. Ibu yang sering melahirkan mempunyai resiko

mengalami anemia pada kehamilan berikutnya bila tidak memperhatikan

kebutuhan nutrisi ,karena selama hamil zat zat gizi akan berbagi untuk ibu dan

janin yang [Link] yang semakin sering melahirkan maka akan

semakin besar resiko kehilangan darah yang berdampak pada penurunan kadar

Hb. Setiap kali wanita melahirkan jumlah zat besi yang hilang diperkirakan

sebesar 250 mg (Wikjosastro,2005).Badan Koordinasi Keluarga Berencana

Nasional [Link] 7 (BKKBN) menganjurkan agar kesehatan ibu

selama hamil dapat optimal dalam mnyongsong persalinanya maka jumlah

persalinan yang telah dialami tidak lebih dari dua kali.

6. Infeksi dan penyakit


Zat besi merupakan unsur penting dalam mempertahankan daya tahan tubuh agar

tidak mudah terserang [Link] dengan kadar kadar Hb < 10 g/dl memiliki

kadar sel darah putih ( untuk melawan bakteri yang rendah [Link] dapat

terkena anemia karena meningkatnya kebutuhan tubuh akibat kondisi fisiologis

(hamil,kehilangan darah karena kecelakaan,paska bedah atau menstruasi,penyakit

kronis atau penyakit infeksi ( infeksi cacing tambang,malaria,TBC). Ibu yang

hamil sangat peka terhadap infeksi dan penyakit [Link] dapat

mengakibatkan abortus, pertumbuhan janin terhambat, bayi mati dalam

kandungan, serta cacat bawaan. Penyakit infeksi biasanya tidak diketahui saat

kehamilannya dan baru diketahui setelah bayi lahir dengan kecacatan .Pada

kondisi terinfeksi penyakit,ibu yang hamil akan kekurangan banyak cairan tubuh

serat zat gizi lainnya ( Bahar,2006).Penyakit menular dapat mempengaruhi

kesehatan janin apabila plasenta rusak oleh bakteri atau virus penyebab

penyakit,walaupun janin tidak langsung menderita penyakit,demam bisa

menyebabkan keguguran. Penyakit menular yang disebabkan virus dapat

menimbulkan cacat pada janin sedangkan penyakit tidak menular dapat

menimbulkan komplikasi kehamilan dan meningkatkan kematian janin 30%

(Bahar,2006).

7. Usia Kehamilan

Pada ibu hamil kebutuhan zat gizi akan terus meningkat seiring dengan

bertambahnya usia [Link] (2003) meningkatnya anemia dengan

bertambahnya umur kehamilan disebabkan terjadinya perubahan fisiologis pada

kehamilan yang dimulai pada minggu ke 6 dengan bertambahnya volume plasma

dan mencapai puncaknya pada minggu ke 26 sehingga terjadi penurunan kadar


[Link] hamil [Link] 8 cenderung terkena anemia pada trimester

3 karena pada masa ini janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri

sebagi pesrsediaan bulan pertama setelah [Link] zat besi ibu hamil akan

meningkat 6 kali lebih besar pada trimester terakhir dibandingkan wanita yang

tidak hamil (Sin sin,2008). Ibu hamil dianggap anemia jika kadar hemoglobin

dibawah 11 gr/dl atau hematokrit kurang dari 33 %.Dalam praktik

rutin,konsentrasi hb< 11 g/dl pada akhir trimester pertama dan 10 g/dl pada

trimester kedua dan ketiga diusulkan menjadi batas bawah untuk mencari

penyebab anemia dalam [Link] nilai ini kurang lebih sama dengan nilai

hb terendah pada ibu hamil yang mendapat suplementasi besi yaitu 11 g/dl pada

trimester pertama dan 10,5 g/dl pada trimester kedua dan ketiga (Sarwono,2010).

8. Kepatuhan Minum Tablet Besi. Ibu Hamil yang kurang patuh mengkonsumsi

tablet Fe mempunyai resiko 2,429 kali lebih besar untuk mengalami anemia

dibanding yang mematuhi konsumsi Fe ( Djamilus dan Herlina,2008). Kepatuhan

mengkonsumsi tablet Fe diukur dari ketepatan jumlah Fe yang

dikonsumsi,ketepatan cara mengkonsumsi tablet Fe,frekuensi konsumsi per

[Link] besi merupakan cara efektif karena kandungan besinya yang

dilengkapi asam folat yang sekaligus dapat mencegah anemia karena kekurangan

asam folat (Depkes,2009). Sejak tahun 1985 secara nasional penanggulanngan

anemia gizi besi pada ibu hamil dilakukan dengan program pendidikan gizi yang

disertai dengan distribusi tablet Fe,90 tablet selama masa [Link]

diberikan pada trimester kedua. Pada perkembangannya pelaksanaan program

pemberian tablet besi ditemukan berbagai macam kendala salah satunya adalah

kepatuhan ibu hamil yang masih rendah dalam minum tablet zat besi yang
[Link] ibu hamil minum tablet besi merupakan salah satu faktor

penting dalam peningkatan kadar hemoglobin ibu hamil ( Hamidah,2009).

Suplementasi zat besi dipandang sebagai cara [Link] 9 yang

efektif untuk meningkatkan asupan zat besi dan setelahnya, nutrisi lain yang

berkaitan dengan anemia. Suplementasi besi mungkin adalah pilihan terbaik yang

tersedia untuk secara efektif menangani Anemia ( Mora,J.2002). Konsumsi tablet

besi sangat berpengaruh terhadap terjadinya anemia khususnya pada trimester II,

III dan masa nifas. Ini disebabkan karena kebutuhan zat besi pada masa ini lebih

besar dibandingkan trimester I dan menunjukkan pentingnya pemberian tablet

besi untuk mencegah terjadinya anemia pada kehamilan dan nifas

( Notobroto,2003). Perkiraan jumlah zat besi yang diperlukan selama hamil 1040

mg. Sebanyak 300 mg Fe diberikan ke janin dengan rincian 50-75 mg untuk

pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah sel darah merah, 200 mg

hilang ketika [Link] Fe selama kehamilan trimester I relatif

sedikit yaitu 0,8 mg sehari yang kemudian meningkat tajam selama trimester III

yaitu 6,3 mg sehari. Jumlah sebanyak itu tidak mungkin tercukupi hanya melalui

makanan (Arisman,2004). 9. Status Gizi Status gizi ibu sebelum dan selama hamil

dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang [Link] status gizi

ibu normal pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan

melahirkan bayi yang [Link] ibu hamil memerlukan semua tambahan zat

gizi,namun serigkali terjadi kekurangan energi protein dan beberapa mineral

seperti zat besi dan [Link] mengalami kekurangan zat besi akan mengalami

[Link] mempertahankan kondisi yang baik pada ibu hamil dapat

diupayakan dengan pengaturan konsumsi makan,pemantauan berat


badan,pemeriksaan kadar Hb,dan pengukuran LILA ( lingkar Lengan Atas)

sebelum dan saat hamil ( Zulhaida,2003).Gizi kurang pada ibu hamil dapat

menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain anemia,perdarahan,berat

badan ibu tidak bertambah secara normal dan mudah terkena infeksi.

[Link] 10 Status gizi ibu hamil tercermin pada ukuran

antropometrinya. Ukuran antropometri ibu hamil yang ibu hamil yang paling

sering digunakan adalah kenaikan berat badan ibu hamil dan ukuran Lingkar

Lengan Atas ( LILA) ( Siega-Riz et al,2009). Status Gizi buruk sebelum dan

selama kehamilan akan menyebabkan bayi berat lahir rendah,terhambatnya

perkembangan otak janin,anemia pada bayi baru lahir,bayi baru lahir terinfeksi

dan abortus (Supariasa et al,2002). Menurut Depkes pengukuran Lingkar Lengan

atas adalah suatu cara untuk mengetahui resiko Kurang Energi Kronis

.Pengukuran Lingkar Lengan Atas dapat digunakan untuk penapisan status gizi

Kurang Energi Kronis (KEK). 10. Konsumsi Zat Gizi Pola konsumsi makanan

sehari hari yang sesuai dengan kebutuhan gizi individu untuk hidup sehat dan

produtif adalah gizi [Link] orang harus mengkonsumsi minimal satu

jenis bahan makanan dari tiap tiap golongan bahan makanan (sumber karbohidrat,

hewani, nabati, sayur, buah) dalam sehari dengan jumlah yang mencukupi

( Darlina, 2003).Angka Kecukupan Energi adalah rata rata konsumsi energi dari

pangan yang seimbang dengan pengeluaran energi pada kelompok umur,jenis

kelamin,ukuran tubuh ( berat) dan tingkat kegiatan fisik agar hidup sehat dan

dapat melakukan kegiatan sosial dan ekonomi yang baik. Angka Kecukupan

Energi pada ibu hamil juga digunakan untuk pertumbuhan janin dan cadangan

energi .Ibu hamil di Indonesia masih kurang dalam mengkonsumsi pangan


pokok,pangan hewani, dan buah sehubungan berakibat tidak terpenuhinyan

kebutuhan energi,protein dan berbagai mineral yang penting bagi kehamilan

seperti Fe,I dan Zn serta Vitamin terutama vitamin C ( Hardinsyah,2004). Angka

Kecukupan Protein merupakan rata rata konsumsi protein untuk menyeimbangkan

protein yang hilang ditambah sejumlah tertentu agar mencapai hampir semua

populasi sehat (97,5%) di suatu kelompok umur,jenis kelamin dan ukuran tubuh

tertentu pada [Link] 11 tingkat aktifitas sedang (Setiawan dan

Rahayuningsih,2004).Penyerapan besi dalam tubuh akan menurun bila konsumsi

vitamin c yang rendah dan makanan sumber fitat tinggi. Jenis besi(heme dan non

heme) akan sangat mempengaruhi penyerapan besi dan interaksinya dengan

mineral lain khususnya seng.(Kartona dan Soekatri,2004). 11. Lingkungan. Dari

ketiga lingkungan (fisik,biologis dan sosial ekonomi) yang dapat mempengaruhi

kejadian anemia pada ibu hamil adalah faktor sosial [Link] sosial

berupa dukungan dari keluarga dan komunitas akan mempengaruhi kejadian

[Link] keluarga mendukung intake makanan nutrisi yang cukup dan

memotivasi dalam memeriksakan kehamilannya secara rutin maka kecil

kemungkinan terjadi anemia pada ibu hamil (Manuaba,2007). Kesehatan

seseorang dipengaruhi oleh lingkungan hidup atau lingkungan tempat

[Link] berpengaruh pada terjadinya penyakit karena adanya interaksi

antara manusia dengan lingkungan [Link] epidemiologi

menggambarkan secara jelas peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan

wabah,Bahwa lingkungan berpengaruh terhadap terjadinya penyakit sudah lama

diperkirakan orang,Sarana sanitasi dasar yang berkaitan langsung dengan masalah

kesehatan meliputi penyediaan air ,sumber air, jamban dan pembuangan sampah
( Slamet ,2009). Penyakit menular yang disebabkan oleh air secara

langsungdiantaramasyarakat seringkali dinyatakan sebagai penyakit bawaan air

atau Water Borne [Link] penyakit ini hanya dapat menyebar apabila

mikroba penyebab dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat

untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Sedangkan jenis mikroba yang dapat

menyebar lewat air ini banyak macamnya, mulai dari virus, bakteri, protozoa dan

[Link] yang banyak pada daerah pantai sebagian besar dari limbah

keluarga yang biasa disebut dengan sampah. Pengaruhnya [Link]

12 terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu efek yang

langsung dan tidak langsung. Efek langsung adalah efek yang disebabkan karena

kontak langsung dengan limbah tersebut. Misalnya limbah beracun, limbah yang

korosif terhadap tubuh, yang karsinogenik, dll. Selain itu ada pula limbah yang

mengandung kuman patogen sehingga dapat menimbulkan [Link] ini

dapat brasal dari limbah keluarga selain limbah [Link] itu pengaruh tidak

langsung dapat dirasakan masyarakat akibat proses pembusukan, pembakaran dan

pembuangan limbah. Pengaruhnya terhadap kesehatan dapat terjadi karena

tercemarnya air tanah, tanah dan udara. Efek tidak langsung lainnya berupa

penyakit bawaan vektor yang berkembang biak dalam limbah (Lumenta, 1990).

BAB 3
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY”K” UK 26-27 MINGGU
DENGAN ANEMIA RINGAN
DI PONKESDES KAWENGAN

PENGKAJIAN
Tanggal : 11 April 2021 Pukul : 09.00 WIB

Identitas

Nama : Ny “K” Umur : 32 tahun

Umur : 28 tahun Agama : Islam

Agama : Islam Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Pendidikan : SMA

Pendidikan : SMA Pekerjaan : Wiraswasta

Pekerjaan : IRT Penghasilan : 3.000.000,00

Penghasilan : Rp. - Alamat : Ds. Kawengan

Alamat : Ds. Kawengan Rt. 04/1 Kec.

Rt. 04/1 Kec. Kedewan

Kedewan

Nama : Tn “M”
1. Prolog

Pasien datang ke Polindes tanggal 11 April 2021 pukul 09.00 WIB diantarkan oleh

suaminya. Hamil anak pertama dengan HPHT 11/9/2020, HPL 22/6/2021, UK 26-27

Minggu, mengeluh badan lemas, pusing dan mual-mual. Tidak memiliki riwayat

alergi dan penyakit menular. Pada kehamilan trimester II ini ibu sudah periksa 2 kali

di Ponkesdes Kawengan. BB sebelum hamil : 44 kg, TB : 150 cm. Lila : 26 cm. Pada

tanggal 25 Nopember 2020 ibu sudah melakukan ANC terpadu di puskesmas dengan

hasil Hb : 10,2 gr/dl, Albumin : negatif, Reduksi : negatif, Golongan darah : A, PPIA:

Nonreaktif ,GDA: 82, HIV-HbsAg: Non reaktif, pemeriksaan gigi baik, ROT: 10

(negatif), MAP: 83,3 (negatif), IMT: 18,3.

2. Data Subyektif

Ibu mengatakan badan lemas, malas makan, minum sedikit, pusing dan mual muntah.

Ibu jarang minum obat Tambah darah.

3. Data Obyektif

a. Pemeriksaan fisik umum

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Composmentis

TTV : TD :110/70 mmHg S : 36,6°C

N :82 x/menit RR : 22x/menit

BB Sekarang : 50 Kg

Kenaikan BB : 6 Kg

Hb : 10,2 gr/dl

LILA : 23,5 CM

b. Pemeriksaan fisik khusus

(inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi)


Muka : simetris, pucat dan terlihat lemas.

Mata : konjungtiva putih, sclera putih, palpebrae tidak odema

Dada : simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada bunyi wheezing dan

ronchi.

Mamae : terdapat hiperpigmentasi areola mamae, puting susu menonjol,

kolostrum belum keluar

Abdomen : TFU (15 cm), letak kepala, tidak ada bekas jahitan operasi, linea

nigra (+).

DJJ : 144 x /menit

Ekstremitas atas : simetris, tidak odeme.

Ekstremitas bawah : tidak odeme, simetris, reflek patella +/+

Kesimpulan : Ny “K” G2P1A0 UK 26-27 minggu, keadaan umum ibu baik,keadaan

umum janin baik dengan Anemia ringan.

4. Analisa Data

G2P1A0 UK 26-27 Minggu Kehamilan dengan Anemia ringan.

5. Penatalaksanaan

Tanggal : 11 April 2021

Waktu : 09.00 WIB

Tempat : Ponkesdes Kawengan

1. Menginformasikan kepada ibu hasil pemeriksaan saat ini, ibu mengetahui


hasil pemeriksaan.

Mengingatkan ibu bahaya anemia pada kehamilan, ibu mengerti

Menganjurkan ibu untuk mengatur pola makan, memakan banyak sayuran


dan buah-buahan, mengurangi makanan yang manis dan mengurangi
konsumsi karbohidrat seperti nasi, ibu bersedia.

Mengingatkan ibu untuk mengonsumsi makanan yang tinggi zat besi untuk
meningkat kadar Hb (ibu bersedia).
Memberitahu ibu untuk mengatur pola istirahat, istirahat secara teratur, ibu
mengerti.

Mengingatkan ibu tanda-tanda persalinan yaitu adanya mulas yang teratur,


keluar lendir darah dan keluar air-air, ibu mengerti

Mengingatkan ibu tanda-tanda bahaya kehamilan trimester III yaitu sakit


kepala yang hebat, penglohatan kabur, bengkak pada wajah kaki dan
tangan, nyeri perut yang hebat, gerakan janin berkurang, keluar cairan
pervaginam (darah atau air ketuban), ibu mengetahui tanda-tanda bahaya
kehamilan

Mengingatkan ibu untuk menjaga personal hygiene seperti mandi 2 x/hari,


mengganti pakaian minimal 2x/ hari dan mengganti pakaian dalam apabila
basah, serta cebok dengan cara yang benar yaitu membersihkan dari depan
ke belakang, ibu mengerti.

Memberi ibu tablet Fe dengan dosis 2x1 per hari dan Vitamin C.

10. Mengingatkan ibu untuk kunjungan ulang ke Puskesmas tanggal 11 Mei


2021.
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini akan dijelaskan tentang kesesuaian antara teori dan kenyataan yang

terjadi pada kasus yang diambil dan teori yang mendukung di antara fakta dan kenyataan

serta ditambahnya opini yang luas dari peneliti sebagai pendamping klien yang melaksanakan

asuhan kebidanan secara komprehensif mulai dari asuhan kebidanan pada ibu hamil,

persalinan, nifas, bayi baru lahir dan keluarga berencana pada Ny.”K” Kehamilan dengan

Anemia Ringan di Ponkesdes Kawengan Puskesmas Kedewan Kab. Bojonegoro Tahun 2021

A. Data Subjektif

Berdasarkan data diatas sesuai dengan keluhan pasien Ny “K”, dengan anemia ringan.

Menurut penulis keluhan tersebut merupakan keluhan yang dalam batas normal yang di

alami pada ibu hamil. Ny “K“ mengeluhkan badan lemas dan mudah pusing. Berdasarkan

pengakuan Ny. “K” ini, penulis mengkategorikan anemia yang dialaminya sebagai anemia

defisiensi besi. Pengkategorian ini penulis dapatkan berdasarkan tinjauan teori yang

menyatakan bahwa anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya

mineral Fe (Prawirohardjo, 2010). Anemia defisiensi zat besi pada wanita bisa disebabkan

oleh penurunan asupan atau penyerapan zat besi, termasuk defisiensi nutrisi dan gangguan

pencernaan, seperti diare atau hiperemesis (Frase, 2009). Pemenuhan kebutuhan zat besi

dapat diperoleh dari konsumsi makanan seperti hati, daging, telur, beras, sayuran hijau

(bayam, kangkung, daun papaya, dan daun singkong) (Yanti, 2010).

B. Data Obyektif

Hasil pemeriksaan pada tanggal 11 April 2021 jam 09.00 WIB dengan hasil TD :

110/70 mmHg, inspeksi muka terlihat pucat dan mata conjungtiva pucat, UK : 26

minggu,TFU : 15 cm, Hb 10,2 mg/dl. Dari hasil pemeriksaan didapatkan konjungtiva

pucat, keadaan yang dialami ibu kemungkinan disebabkan karena kurangnya kadar
haemoglobin dalam darah,sehingga badan terasa lemah dan mudah pusing, Penyebab

utama anemia dalam kehamilan adalah defisiensi mikronutrien (vitamins A and B12,

riboflavin, and asam folat), penyakit yang disebabkan parasit dan bakteri, infeksi seperti

malaria, cacing, HIV dan kelainan bawaan sejak lahir pada sel darah merah bawaan seperti

thalassemia (Melku, et al., 2014). 20%-80% Anemia kehamilan disebabkan defisiensi zat

besi (Breymann,2015). Hal ini terjadi karena kemiskinan sehingga asupan gizi sangat

kurang, ketidaksetaraan gender, dan kurangnya pengetahuan tentang pola makan yang

berkualitas untuk kesehatan kehamilannya (Rismawati & Rohmatin, 2018).

C. Analisa Data

Analisa pada Ny”K” adalah G2P1A0 UK 26 minggu kehamilan dengan Anemia

Ringan. Menurut penulis kehamilan dikatakan anemia ringan apabila Hb dibawah ≤ 11

mg/dl. Hal ini sesuai teori Sarwono Ibu hamil dianggap anemia jika kadar hemoglobin

dibawah 11 gr/dl atau hematokrit kurang dari 33 %.Dalam praktik rutin,konsentrasi hb<

11 g/dl pada akhir trimester pertama dan 10 g/dl pada trimester kedua dan ketiga diusulkan

menjadi batas bawah untuk mencari penyebab anemia dalam [Link] nilai ini

kurang lebih sama dengan nilai hb terendah pada ibu hamil yang mendapat suplementasi

besi yaitu 11 g/dl pada trimester pertama dan 10,5 g/dl pada trimester kedua dan ketiga.

D. Penatalaksanaan

Berdasarkan diagnose tersebut peneliti Peneliti melakukan penatalaksanaandengan

Menganjurkan ibu, agar menambah porsi makan (nasi, lauk, sayur,buah dan susu ) karena

semakin besar usia kehamilan maka semakin banyakkebutuhan nutrisi untuk ibu dan janin.

Memberitahu ibu agar istirahat yang cukup, tidak melakukan pekerjaan rumahyang berat

serta rutin mengkonsumsi tablet Fe 2x1 tablet per hari.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Asuhan kebidanan pada Ny. “K” telah dilakukan menggunakan dokumentasi SOAP

maka dapat disimpulkan jika Asuhan kebidanan ibu hamil trimester II Ny.“K” kehamilan

dengan Anemia Ringan

5.2 Saran

1. Bagi Bidan

Diharapkan bidan dapat meningkatkan asuhan kebidanan secara continuity of care

dalam melakukan pelayanan yang berkualitas bagi kesehatan ibu, anak dan masyarakat

dengan cara pendampingan ke ibu hamil dengan cara ANC terpadu.

2. Bagi Ibu Hamil

Diharapkan ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan secara dini, yaitu

melakukan pemeriksaan ANC secara rutin dari awal kehamilan sampai penggunaan

akseptor KB, dan diharapkan ibu mengikuti setiap program kegiatan ibu hamil yang

dilakukan oleh tenaga kesehatan atau bidan didaerah tersebut.

3. Bagi Institusi

Diharapkan institusi kesehatan dapat menerapkan pendidikan asuhan kebidanan

secara continuity of care dengan tepat dalam proses belajar mengajar dan memberikan

pembekalan tentang Anemia serta resiko yang bisa terjadi pada masa kehamilan dan

melakukan pendampingan pada mahasiswa tentang asuhan pada ibu hamil, persalinan,

nifas, BBL, neonatus, dan KB, serta memperbanyak referensi tentang Anemia pada ibu

hamil dan penatalaksanaannya


4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan dapat menerapkan asuhan kebidanan komprehensif yang bisa dilakukan

dari trimester pertama agar lebih baik lagi dan menambah wawasan, meningkatkan

pemahaman, dan menambah pengalaman nyata tentang asuhan kebidanan secara

komprehensif (continuity of care) pada ibu hamil, bersalin, nifas, neonatus, dan

kontrasepsi dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan pada kasus Anemia,

dan menjadi bahan refrensi atau rujukan bagi peneliti selanjutnya dalam kasus Anemia

serta melakukan screening (deteksi awal) pada awal kehamilan di semua ibu hamil untuk

melakukan kunjungan awal pada trimester I kehamilan.


TINJAUAN PUSTAKA

Ai Yeyeh Rukiah, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan II Persalinan Edisi Revisi. Penerbit Buku
Kesehatan
Ari Sulistyawati. 2009. Asuhan kebidanan pada masa kehamilan. Jakarta Salemba medika.
Elizabeth Siwi Walyani,. 2015. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Yogyakarta :Pustaka
Baru
Sarwono Prawirohardjo. 2009. Buku Acuan Pelayanan Maternal dan Neonatal. PT. Bina
Pustaka. Jakarta.
Sarwono Prawirohardjo. 2014. Ilmu Kebidanan. [Link] pustaka sarwono :Jakarta
Sarwono Prawirohardjo. 2009. Buku Acuan Pelayanan Maternal dan Neonatal. PT. Bina
Pustaka. Jakarta.
Sarwono Prawirohardjo. 2014. Ilmu Kebidanan. [Link] pustaka sarwono :Jakarta
Kemenkes RI. 2016 Modul midwife
Toni Harsono,. 2013. Permasalahan Kehamilan Yang Sering [Link]: Platinum.
Yuniar Safitri, 2016. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Motivasi terhadap kemandirian
ibu nifas dalam perawatan diri selama early postpartum
[Link]
[Link]
Yuliani Digi. 2018. Buku Ajar Aplikasi Asuhan Kehamilan Ter-update. Penerbit Buku
Kesehatan

Anda mungkin juga menyukai