LAPORAN PENDAHULUAN
STASE KEPERAWATAN JIWA
“ISOLASI SOSIAL”
Dosen Pembimbing : Ns. Faisal Kholid Fahdi, [Link]
Disusun Oleh:
Yossy Wulandari (I1031171032)
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2020/2021
1. DEFINISI
Isolasi sosial adalah kesendirian yang dialami oleh individu dan dianggap
timbul karena orang lain serta sebagai suatu keadaan negatif atau mengancam
(Keliat, 2019).
Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi
akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku
maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam dalam hubungan sosial (Depkes
RI, 2000).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang
karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Farida, 2012).
2. Etiologi, Faktor Predisposisi dan Presipitasi
Penyebab isolasi sosial menurut Keliat, 2019 yaitu:
Sulit berhubungan/berinteraksi dengan orang lain
Tidak mampu berhubungan/berinteraksi yang memuaskan
Perasaan malu
Perasaan tidak berharga
Pengalaman ditolak, dikucilkan, dan dihina.
a) Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan isolasi sosial menurut Damaiyanti dan
Iskandar (2012) adalah:
1) Faktor perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu
dengan sukses. Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan
pengalaman bagi individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian, dan kehangatan dari
ibu/pengasuh pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat
menghambat terbentuknya rasa percaya diri dan dapat mengembangkan
tingkah laku curiga pada orang lain maupun lingkungan di kemudian hari.
Komunikasi yang hangat sangat penting dalam masa ini, agar anak tidak
merasa diperlakukan sebagai objek.
2) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan faktor
pendukung terjadinya gangguan [Link] juga disebabkan oleh
karena norma-norma yang salah yang dianut oleh satu keluarga, seperti
anggota tidak produktif diasingkan dari lingkungan sosial.
3) Faktor biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung yang menyebabkan
terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang jelas
mempengaruhi adalah otak .Insiden tertinggi skizofrenia ditemukan pada
keluarga yang anggota keluarganya ada yang menderita skizofrenia.
Klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial
terdapat kelainan pada struktur otak seperti atropi, pembesaran ventrikel,
penurunan berat volume otak serta perubahan struktur limbik.
b) Faktor Presipitasi
Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh faktor internal
maupun eksternal meliputi:
1) Stresor sosial budaya
Stresor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan seperti
perceraian, berpisah dengan orang yang dicintai, kesepian karena ditinggal
jauh, dirawat di rumah sakit atau dipenjara.
2) Stresor psikologi
Tingkat kecemasan yang berat akan menyebabkan menurunnya
kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain.
3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala isolasi sosial menurut Keliat (2019), yaitu:
a. Mayor
Subjektif:
Ingin sendiri
Merasa tidak nyaman ditempat umum
Merasa berbeda dengan orang lain
Objektif:
Menarik diri
Menolak melakukan interaksi
Afek datar
Afek sedih
Afek tumpul
Tidak ada kontak mata
Tidak bergairah atau lesu
b. Minor
Subjektif:
Menolak berinteraksi dengan orang lain
Merasa sendirian
Merasa tidak diterima
Tidak mempunyai sahabat
Objektif:
Menunjukan permusuhan
Tindakan berulang
Tindakan tidak berarti
4. A. Pengkajian Keperawatan yang dikaji
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan
menganalisa sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut
(Yosep & Sutini, 2014). Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa
berupa faktor presipitasi, penilaian stressor, sumber koping yang dimiliki klien.
Setiap melakukan pengajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi
pengkajian meliputi :
a. Identitas Klien
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tanggal
MRS, informan, tanggal pengkajian, no rumah klien dan alamt klien.
b. Keluhan Utama
Keluhan biasanya berupa menyendiri (menghindar dari orang lain) komunikasi
kurang atau tidak ada, berdiam diri dikamar, menolak interaksi dengan orang
lain, tidak melakukan kegiatan sehari-hari, dependen.
c. Faktor Predisposisi
Kehilangan, perpisahan, penolakan, orang tua, harapan orang tua yang tidak
realistis, kegagalan/frustasi berulang, tekanan dari kelompok sebaya;
perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba-tiba misalnya harus
dioperasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, PHK, perasaan malu
karena sesuatu yang terjadi (korban perkosaan, dipenjara tiba-tiba) perlakuan
orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri
yang berlangsung lama.
d. Aspek Fisik/Biologis
Hasil pengukuran tanda vita (TD, nadi, suhu, pernafasan, TB, BB) dan keluhan
fisik yang dialami oleh klien.
e. Aspek Psikososial
1) Genogram yang menggambarkan tiga generasi.
2) Konsep diri
a) Citra tubuh
Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak
menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi.
b) Identitas diri
Ketidakpastian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan tidak
mampu mengambil keputusan.
c) Peran
Berubah atau terhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit, proses
menua, putus sekolah, PHK.
d) Ideal diri
Mengungkapkan keputusan karena penyakitnya mengungkapkan
keinginan yang terlalu tinggi.
e) Harga diri
Perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri,
rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial,
merendahkan martabat, mencederai diri dan kurang percaya diri.
f) Status mental
Kontak mata klien kurang/tidak dapat mempertahankan kontak mata,
kurang dapat memulai pembicaraan, klien suka menyendiri dan kurang
mampu berhubungan dengan orang lain, adanya perasaan keputusan
dan kurang berharga dalam hidup.
g) Kebutuhan persiapan pulang
Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan.
Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan wc,
membersihkan dan merapikan pakaian.
Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi.
Klien dapat melakukan istirahat dan tidur, dapat beraktivitas didalam
dan diluar rumah.
Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar.
h) Mekanisme koping
Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakannya
pada orang lain (lebih sering menggunakan koping menarik diri).
i) Aspek medik
Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT,
psikomotor, therapy okopasional, TAK, dan rehabilitas.
B. Pohon Masalah
5. Diagnosa Keperawatan
Ada beberapa diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan isolasi sosial
(Damaiyanti & Iskandar, 2012) yaitu :
a. Isolasi sosial
b. Harga Diri Rendah Kronik
c. Resiko Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi
6. Rencana Tindakan Keperawatan
Menurut Damiyanti & Iskandar (2012) setelah dibuat perumusan masalah dan
diagnosis keperawatan ditegakkan dapat melakukan rencana keperawatan untuk
diagnosa keperawatan :
a. Diagnosa : Isolasi Sosial
Tujuan :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
2) Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
3) Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
4) Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap
5) Klien dapat mengungkapkan perasannya setelah berhubungan dengan orang
lain
6) Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga mampu
mengembangkan kemmapuan klien untuk berhubungan dengan orang lain.
Intervensi:
1) Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi
terapeutik.
2) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
3) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab
menarik diri atau tidak mau bergaul.
4) Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri tanda-tanda serta
penyebab yang muncul.
5) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan
orang lain.
6) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan kerugian tidak berhubungan
dengan orang lain.
7) Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang
lain.
8) Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.
9) Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan.
10) Dorong klien untuk mengungkapkan perasannya bila berhubungan dengan
orang lain.
11) Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan
orang lain.
12) Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain.
Strategi Pelaksanaan :
1) Sp 1p :
a) Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien.
b) Berdiskusi dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang
lain.
c) Berdiskusi dengan klien tentang kerugian beriteraksi dengan orang lain.
d) Mengajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang.
e) Menganjurkan klien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang
dengan orang lain dalam kegiatan harian.
2) Sp 2p :
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.
b) Memberikan kesempatan kepada klien mempratikkan cara berkenalan
dengan satu orang.
c) Membantu klien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang
dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.
3) Sp 3p :
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.
b) Memberikan kesempatan kepada klien mempratikkan cara berkenalan
dengan dua orang atau lebih.
c) Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
4) Sp 1 K : Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
pasien. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami
klien beserta proses terjadinya. Menjelaskan cara-cara merawat klien dengan
isolasi sosial.
5) Sp 2 K : Melatih keluarga mempratikkan cara merawat klien dengan isolasi
sosial. Melatih keluarga mempratikkan cara merawat langsung kepada klien
isolasi sosial.
6) Sp 3 K : Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas jadwal aktivitas
dirumah termasuk minum obat (discharge planning). Menjelaskan follow up
klien setelah pulang.
b. Diagnosa: Harga Diri Rendah Kronik
Tujuan :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
3) Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
4) Klien dapat (menetapkan) kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
5) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit.
6) Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
Intervensi :
1) Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapakn prinsip kounikasi
terapeutik.
2) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
3) Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi nilai negatif.
4) Utamakan memberi pujian yang realistik.
5) Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama
sakit.
6) Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaan.
7) Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari.
8) Tingkatkan kegiatan yang sesuai dengan toleransi kondisi klien.
9) Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
10) Beri kesempatan kepada klien untuk mencoba kegiatan yang telah
direncanakan.
11) Beri pujian atas keberhasilan klien
12) Diskusikan pelaksanna dirumah.
13) Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan
harga diri rendah kronik.
14) Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
15) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan dirumah.
Strategi Pelaksanaan :
1) Sp 1p :
a) Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
b) Membantu klien menilai kemampuan klien yang masih dapat digunakan.
c) Membantu klien memilih atau menetapkan kegiatan yang akan dilatih
sesuai dengan kemampuan klien.
d) Melatih klien sesuai dengan kemampuan yang dipilh.
e) Memberikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan klien.
f) Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
2) Sp 2p :
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
b) Melatih klien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan
klien.
c) Menganjurkan klien masukkan dalam jadwal kegiatan harian.
3) Sp 1 K:
a) Mandiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien
dirumah.
b) Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami
klien beserta proses terjadinya.
c) Menjelaskan cara-cara merawat klien dengan harga diri rendah.
d) Mendemonstrasikan cara merawat klien dengan harga diri rendah.
e) Memberi kesempatan kepada keluarga untuk mempratikkan cara merawat
klien dengan harga diri rendah.
4) Sp 2 K : Melatih keluarga mempratikkan cara merawat langsung kepada klien
harga diri rendah.
5) Sp 3 K :
a) Membuat perencanaan pulang bersama keluarga dan membuat jadwal
aktifitas dirumah termasuk minum obat (discharge planning).
b) Menjelaskan follow up klien setelah pulang.
c. Diagnosa : Resiko Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi
Tujuan :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya .
2) Klien dapat mengenali halusinasinya.
3) Klien dapat mengontrol halusinasinya.
4) Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasi.
5) Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.
Intervensi :
1) Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutik.
2) Adakah kontak sering dan singkat secara bertahap.
3) Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya; bicara dan tertawa
tanpa stimulus, memandang kekiri atau ke kanan atau kedepan seolaholah ada
teman bicara.
4) Bantu klien mengenali halusinasinya.
5) Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah
atau takut, sedih, senang) beri kesempatan mengungkapkan perasaannya.
6) Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi
(tidur, marah, menyibukkan diri, dll).
7) Diskusikan cara baru untuk memutus atau mengontrol halusinasi.
8) Bantu klien memilih dan melatih cara memutus halusinasi secara bertahap.
9) Anjurkan klien untuk memberi tahu keluarga jika mengalami halusinasi.
10) Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung/pada saat kunjungan
rumah).
11) Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi manfaat obat.
12) Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya.
13) Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat
yang dirasakan.
14) Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi.
15) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip benar.
Strategi Pelaksanaan :
1) Sp 1p :
a) Mengidentifikasi jenis halusinasi klien.
b) Mengidentifikasi isi halusinnasi klien.
c) Mengidentifikasi waktu halusinasi klien.
d) Mengidentifikasi frekuensi halusinasi klien.
e) Mengidentifikasi situasi yang dapat menimbulkan halusinasi klien.
f) Mengidentifikasi respon klien terhadap halusinasi klien.
g) Mengajarkan klien menghardik halusinasi.
h) Menganjurkan ke dalam kegiatan harian.
2) Sp 2p :
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
b) Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap
dengan orang lain.
c) Menganjurkan klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.
3) Sp 3p :
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
b) Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara melakukan kegiatan.
c) Menganjurkan klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.
4) Sp 4p :
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
b) Memberikan penkes tentang penggunaan obat secara teratur.
c) Menganjurkan klien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian klien.
5) Sp 1 K :
a) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien.
b) Memberikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis
halusinasi yang dialami klien, tanda dan gejala halusinasi, serta proses
terjadinya halusinasi.
c) Menjelaskan cara merawat klie dengan halusinasi.
6) Sp 2 K :
a) Melatih keluarga mempratikkan cara merawat klien dengan halusinasi.
b) Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada klien
halusinasi.
7) Sp 3 K :
a) Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas ddirumah termasuk minum
obat (discharge planning).
b) Menjelaskan pollow up klien setelah pulang.
7. Referensi Laporan Pendahuluan
Yosep & Sutini. 2014. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.
Damaiyanti dan Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika
Aditama.
Farida Kusumawati & Yudi Hartono. 2012. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.
Jakarta: Salemba Medika.
Keliat BA, et all. 2019. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Depkes RI. 2000. Standar Pedoman Keperawatan Jiwa. Jakarta