0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan5 halaman

Model Pembelajaran Project Based Learning

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Project Based Learning (PJBL) adalah model pembelajaran yang mengorganisasi kelas dalam proyek dan membuat siswa membangun pengetahuan melalui berbagai bentuk representasi. 2. PJBL melibatkan siswa secara aktif dalam mengeksplorasi masalah dunia nyata dan memperoleh pengetahuan mendalam. 3. Karakteristik PJBL adalah melibatkan siswa secara langsung

Diunggah oleh

Syafia Ramadhani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan5 halaman

Model Pembelajaran Project Based Learning

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Project Based Learning (PJBL) adalah model pembelajaran yang mengorganisasi kelas dalam proyek dan membuat siswa membangun pengetahuan melalui berbagai bentuk representasi. 2. PJBL melibatkan siswa secara aktif dalam mengeksplorasi masalah dunia nyata dan memperoleh pengetahuan mendalam. 3. Karakteristik PJBL adalah melibatkan siswa secara langsung

Diunggah oleh

Syafia Ramadhani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROJECT BASED LEARNING( PJBL)

 Pengertian Project Based Learning (PJBL)

 Menurut Armstrong dan Thomas (2011: 1)


Project Based Learning (PJBL) adalah model pembelajaran yang mengorganisasi kelas dalam sebuah
proyek.
 Menurut NYC Departement of Education (2011: 8)
Project Based Learning (PJBL) merupakan strategi pembelajaran agar anak harus membangun
pengetahuan konten mereka sendiri dan mendemonstrasikan pemahaman baru melalui berbagai bentuk
representasi.
 Menurut George Lucas Educational Foundation (2018: 1)
Project Based Learning (PJBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang dinamis anak secara aktif
mengeksplorasi masalah di dunia nyata, memberikan tantangan, dan memperoleh pengetahuan yang lebih
mendalam.
 Menurut Grant & Owen (2010: 34)
Project Based Learning (PJBL) merupakan pembelajaran yang berpusat pada anak untuk melakukan suatu
investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Anak secara kontruktif melakukan pendalaman
pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pernyataan yang berbobot,
nyata dan relevan
 Menurut Kemendikbud (2013: 56)
Anak melakukan eksplorasi, penilaian, interprestasi dan informasi untuk menghasilkan berbagai hasil
bentuk hasil belajar. Pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media serta didasari
dengan masalah adalah langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru
berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata.

Pendekatan proyek dikembangkan pertama kali oleh Lilian Katz. Kegiatan pembelajaran melalui pendekatan
proyek melibatkan proses kesatuan hati (heart) dan pikiran (minds) diantara anggota kelompok. Dengan
demikian, hasil pengamatan yang bervariasi dapat disatukan dalam proses penyelidikan yang akhirnya
menghasilkan suatu karya yang berarti.

Pembelajaran ini menghubungkan anak dengan masalah yang dihadapi dan yang dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Bertitik tolak dari masalah yang diinventaris, dan diakhiri dengan strategi pemecahan masalah
tersebut, anak secara berkesinambungan mempelajari materi ajar dan kompetensi dengan terstruktur. Pada
pembelajaran berbasis proyek, pemecahan masalah dituangkan dalam produk nyata yang dihasilkan sebagai
sebuah karya penciptaan anak. Pada pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran juga fokus pada
penyelidikan atau inkuiri dan inventigasi yang dilakukan oleh anak.

Project based learning memiliki proses pembelajaran yang secara langsung melibatkan anak untuk
menghasilkan suatu hasil. Anak bekerja secara nyata, seolah-olah ada di dunia nyata yang dapat menghasilkan
produk secara realistis. Pada dasarnya model pembelajaran ini lebih mengembangkan ketrampilan
memecahkan masalah dalam mengerjakan sebuah proyek yang dapat menghasilkan sesuatu.
Model pembelajaran ini merupakan salah satu strategi yang dapat dipilih untuk mengembangkan prinsip
pembelajaran pendidikan pada anak usia dini yaitu bermain sambil belajar. Model ini menjadikan anak pusat
dalam pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini.

Docket (2002: 241) menyatakan bahwa suatu program yang dapat dilakukan untuk mengembangkan strategi
bermain dan berpusat pada anak yaitu dengan pendekatan proyek. Pada pembelajaran proyek, anak-anak
dilibatkan dalam memilih topik-topik pembelajaran yang menarik perhatian dan ingin diketahui lebih dalam
dapat dilakukan secara individu maupun kelompok.

Menurut Katz dan Chard (Nurhalimah, 2012: 56) pembelajaran berbasis proyek adalah in depth investigation
of topic worth learning more about. The investigation is usually undertaken by a small group of children
within a class, sometimes by a whole class, and occasionally an individual child. Pernyataan tersebut
diartikan pembelajaran berbasis proyek merupakan suatu metode pembelajaran yang mendalami suatu topik
tertentu yang dipelajari oleh anak secara individu maupun kelompok.

Pembelajaran berbasis proyek merupakan salah satu bentuk dari experiental education. Pendidikan
eksperiental biasanya dideskripsikan sebagai praktek pembelajaran berbasis penemuan (inquiry) yang
didukung oleh beberapa teori seperti teori learning by doing oleh John Dewey dan teori Outward Bound oleh
Hann (Efstratia, 2014: 77).

Gagasan inti dari pembelajaran berbasis proyek adalah bahwa masalah dunia nyata menarik minat anak dan
memprovokasi pemikiran serius ketika anak memperoleh dan menerapkan pengetahuan baru dalam konteks
pemecahan masalah (Efstratia, 2014: 55).

Berdasarkan beberapa definisi para ahli, dapat ditarik kesimpulan bahwa ;


Project Based Learning (PJBL) adalah model pembelajaran yang terpusat pada anak untuk membangun dan
mengaplikasikan konsep dari proyek yang dihasilkan dengan mengeksplorasi dan memecahkan masalah di
dunia nyata secara mandiri. Keterhubungan antar kurikulum atau kurikulum terintegrasi memungkinkan anak
menghubungkan antar materi dan kompetensi pembelajaran, dengan demikian pembelajaran dapat lebih
bermakna, dan teridentifikasi manfaat mempelajari sesuatu. Pembelajaran ini jika didukung lingkungan
pembelajaran kolaboratif, dapat memaksimalkan potensi anak. Didukung dengan visualisasi tingkat tinggi dan
penggunaan media visual dapat meningkatkan pemahaman anak.

Konsep pembelajaran ini selanjutnya dipandang sebagai konsep pembelajaran yang sangat sesuai dengan
tuntutan belajar pada abad ke-21 yang mengharuskan anak senantiasa mengembangkan kemampuan berfikir,
kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan melaksanakan penelitian sebagai kemampuan yang
diperlukan dalam konteks dunia yang cepat berubah.

Prinsip Model Project Based Learning

Adapun prinsip pendekatan proyek antara lain :


1. Knowledge
fakta-fakta, informasi, cerita, konsep, dan banyak unsur dari pikiran.
2. Skills
ketrampilan berbeda dengan pengetahuan. Pengetahuan harus dapat menjadi suatu ketrampilan.
3. Disposition
kebiasaan berpikir yang digabungan dengan hati.
4. Kemampuan prososial, motivasi, peduli, dan empati kepada anak lain berkembang dengan baik melalui
mengamati (observing) dan meniru (modelling), bawaan dari lahir untuk memaknai pengalaman, bertanya,
mencari jawaban, tidak bisa diajarkan melalui instruksi, harus diwujudkan dalam tingkah laku, diekspresikan
dan digunakan dan disposisi yang hilang, tidak akan bisa kembali lagi.
5. Feelings
dipelajari melalui pengalaman, tidak dapat dipelajari melalui instruksi, paksaan, atau doktrinasi, memberi
kesempatan untuk terlibat aktif, menentukan pilihan, dan mengambil keputusan.

Karakteristik Model Project Based Learning


Model pembelajaran merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar, hal ini karena tidak semua
karakteristik dari model pembelajaran tersebut cocok dengan karakteristik yang dimiliki anak.

Diffily dan Sassman (dalam Abidin, 2014 : 168) menjelaskan bahwa model Project Based Learning memiliki
tujuh karakteristik sebagai berikut :
1. Melibatkan anak secara langsung dalam pembelajaran.
2. Menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata.
3. Dilaksanakan dengan berbasis penelitian.
4. Melibatkan berbagai sumber penelitian.
5. Bersatu dengan pengetahuan dan ketrampilan.
6. Dilakukan dari waktu ke waktu.
7. Diakhiri dengan sebuah produk tertentu.

Sedangkan Thomas (2011: 29) menyatakan bahwa Project based learning memiliki karakteristik yang
membedakan dengan dengan model pembelajaran yang lain. Karakteristik tersebut antara lain :
a. Centrality
pada Project Based Learning, proyek menjadi pusat dalam pembelajaran.
b. Driving question
Project Based Learning difokuskan pada pernyataan atau masalah yang mengarahkan anak untuk mencari
solusi dengan konsep atau prinsip ilmu pengetahuan yang sesuai.
c. Constructive Investigation
Pada Project Based Learning, anak membangun pengetahuannya dengan melakukan investigasi secara
mandiri (guru sebagai fasilitator).
d. Autonomy
Project Based Learning menuntut student centered, anak sebagai problem solver dari masalah yang
dibahas.
e. Realisme
Kegiatan anak difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktivitas ini
mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap professional.

Berdasarkan pendapat para ahli peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik dari model Project Based Learning
yaitu :
1. melibatkan anak secara langsung dalam pembelajaran,
2. adanya penelitian pada prosesnya,
3. dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dan minat anak,
4. diakhiri dengan sebuah produk.

Sintaks Project based learning

Start with the essential Desain a plan for the


Create a schedule
question project

]]]]]]]]] ]]]]]]]]]
]]]]]]]]] ]]]]]]]]]
Evaluate the Monitor the students and
]]]]]]]]] Assess the outcome ]]]]]]]]]
experience the progress of the project
]]]]]]]]] ]]]]]]]]]
]]]] ]]]]

Langkah - langkah Project Based Learning sebagaimana yang dikembangkan oleh The George Lucas Education
(2018: 134) terdiri dari :
1. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start with the essential question)
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan pada
anak dalam melakukan suatu aktivitas. Topik penugasan sesuai dengan dunia nyata yang relevan untuk
anak. Dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam.
2. Mendesain Perencanaan Proyek (Desain a plan for the project)
Perencanaan dilakukan secara kelaboratif antara guru dan anak. Dengan demikian anak diharapkan akan
merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang perencanaan bermain, pemilihan
aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintregasikan
berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu
penyelesaian proyek.
3. Menyusun Jadwal (Create a schedule)
Guru dan anak secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada
tahap ini antara lain :
a. Membuat timeline (alokasi waktu) untuk menyelesaikan proyek
b. Membuat deadline (batas waktu akhir) menyelesaikan proyek
c. Membawa anak agar merencanakan cara yang baru.
d. Membimbing anak ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan meminta
anak untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
4. Memonitor Anak dan Kemajuan Proyek (Monitor the students and the progress of the project)
Guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas anak selama menyelesaikan proyek.
Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi anak pada setiap proses. Dengan kata lain guru berperan
menjadi mentor bagi aktivitas anak. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang
dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
5. Menguji Hasil (Assess the outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam
mengevaluasi kemajuan masing- masing anak, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang
sudah dicapai anak, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
6. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the experience)
Pada akhir pembelajaran, guru dan anak melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah
dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik kelompok dan secara individu.
7. Peran Guru (Teacher reaction)
Peran guru dalam pembelajaran merupakan hal-hal yang dilakukan guru selama kegiatan pembelajaran
berlangsung. Adapun peran guru dalam model Project Based Learning adalah :
a. Pengamat
Guru sebagai pengamat yaitu mengamati setiap aktivitas yang dilakukan oleh anak baik itu ketika proses
pembelajaran berlangsung ataupun ketika anak berada di lingkungan sekolah.
b. Pembimbing
Guru sebagai pembimbing yaitu membimbing anak selama kegiatan pembelajaran. Apakah anak
mengalami kesulitan-kesulitan atau hambatan dalam melakukannya. Jika ditemukan kesulitan pada
anak, maka disini tugas guru untuk membimbing anak tersebut.
c. Fasilitator
Guru berperan fasilitator yaitu guru memfasilitasi kebutuhan anak selama kegiatan pembelajaran.
8. Support System / Fasilitas
Model pembelajaran Project Based Learning bebas dilaksanakan di dalam ruang kelas maupun di luar kelas.
pembelajaran Project Based Learning menggunakan peralatan yang menunjang dalam pembuatan proyek
pembelajaran.
Project Based Learning yang dilaksanakan di dalam ruang kelas pada umumnya tidak menggunakan meja
dan kursi seperti kelas lainnya, melainkan menggunakan alas duduk seperti karpet, hal ini bertujuan agar
lebih memudahkan anak dalam bergerak bebas menyusun proyek yang telah ditentukan. Akan tetapi, pada
beberapa sudut ruang juga disediakan meja dan kursi kecil yang sesuai dengan ukuran anak, hal ini untuk
memudahkan jika anak membutuhkan meja dan kursi sebagai tempat dalam menyelesaikan proyek
mereka. Anak bebas memilih peralatan yang mereka gunakan dalam menyelesaikan proyek.

Manfaat Pembelajaran Project Based Learning


Beragam penelitian telah menunjukkan pengaruh positif dari pembelajaran berbasis proyek terhadap hasil
belajar anak (Tamim & Grant, 2010). Melalui pembelajaran proyek, anak akan mampu untuk menguasai
pengetahuan baru. Kemampuan berpikir kritis, Ketrampilan presentasi, Ketrampilan berkomunikasi, dan
Ketrampilan bekerja secara efektif dalam kelompok juga akan meningkat. Di samping itu, anak akan menilai
bahwa proyek mereka sesuai dengan konteks kehidupan nyata.
Masitoh, dkk (2011: 200) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat digunakan untuk
mengembangkan kemampuan anak dalam bersosialisasi, bekerjasama, tolong menolong, disiplin dan aspek
moral anak. Bersosialisasi dengan anak yang lain dalam satu kelompok untuk mengadakan hubungan yang
dapat menimbulkan kecenderungan berfikir, merasakan, bertindak lebih kepada tujuan kelompok daripada
diri sendiri untuk mencapai tujuan bersama dengan cara bekerjasama, saling tolong menolong dalam
pemenuhan kebutuhan dalam rangka mewujudkan tujuan kelompok, berempati dan saling menghargai antara
satu dengan yang lainnya. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Hanney dan Savin Baden bahwa aktivitas
anak berpusat pada rangkaian yang rumit dari interaksi antar anggota kelompok selama kegiatan
pembelajaran berbasis proyek akan mengasah beragam Ketrampilan seperti komunikasi, perencanaan, dan
kerjasama (Harmer & Stokes, 2014: 78). diperoleh melalui pembelajaran berbasis proyek (Rachmawati, 2010:
61) antara lain:
1. Memberikan pengalaman kepada anak dalam mengatur dan mendistribusikan kegiatan.
2. Belajar bertanggung jawab terhadap pekerjaan masing-masing
3. Memupuk semangat gotong royong dan kerjasama diantara anak yang terlibat
4. Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam melaksanakan
pekerjaan dengan cermat
5. Mampu mengeksplorasi bakat, minat dan kemampuan anak
6. Memberikan peluang kepada setiap anak baik individual maupun kelompok untuk mengembangkan
kemampuan yang telah dimiliki.
Kelebihan Dan Kekurangan Project Based Learning

 Kelebihan Project Based Learning


1. Meningkatkan motivasi belajar anak untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan
pekerjaan penting, dan mereka perlu untuk dihargai.
2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
3. Membuat anak menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks
4. Meningkatkan kolaborasi
5. Mendorong anak untuk mengembangkan dan mempraktikkan ketrampilan komunikasi
6. Meningkatkan ketrampilan Anak dalam mengelola sumber.
7. Memberikan pengalaman kepada anak dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan
sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
8. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan anak secara kompleks dan dirancang untuk
berkembang sesuai dunia nyata.
9. Melibatkan para anak untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki,
kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata.

 Kelemahan Project Based Learning


1. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan proyek.
2. Membutuhkan biaya yang cukup banyak.
3. Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
4. Anak yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
5. Ada kemungkinan anak yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
6. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan anak tidak bisa
memahami topik secara keseluruhan.

Anda mungkin juga menyukai