Bukan Stalker
Prolog
N amanya Caca, anak kelas XII SMA yang hobinya dandan.
Tahunya make up, cat kuku dan cowok ganteng.
Diam-diam jatuh cinta kepada pria berusia 20 tahun.
Namanya Edgar, barista sekaligus pemilik Kafe yang ternyata adalah
sepupu Adam Wijaya, teman sekolahnya.
Dengan terang-terangan Caca mengungkapkan perasaannya kepada
Edgar, sayang, cowok itu menolaknya.
Bukan hanya karena umur Caca yang masih kecil dan masih sekolah.
Tapi Edgar sudah punya kekasih. Caca benar-benar tidak tahu soal itu.
Bukan Caca jika menyerah begitu saja, bahkan dengan tidak tahu
malunya Caca selalu memotret Edgar. Bukan Stalker, karena Caca
mengambil gambar Edgar dengan terang-terangan bahkan di depan
kekasih cowok itu, namanya Alisa.
"Sebelum janur kuning melengkung, siapa pun masih bisa dikejar."
-Caca Eriska Alfiani-
"Belajar yang bener, biar cepet lulus Dek."
-Edgar Bastian-
DhetiAzmi
1. Cara Gebetan Mencintai Kita
S
eorang cewek terlihat sangat sibuk dengan laptop di atas
pangkuannya. Kakinya dibiarkan berselonjor di atas rerumputan,
bibirnya asyik mengunyah permen jelly kesukaannya. Sementara
jari-jari tangannya mengetik sesuatu yang membuatnya harus berpikir
keras.
Cara ampuh agar gebetan mencintai kita.
Setelah kata enter ditekan, deretan kalimat terlihat di layar laptop.
Dengan serius Caca membaca satu per satu artikel yang muncul di sana.
Life : Tips Keramat Agar Gebetan Tergila-gila Sama Kamu
10 Cara Jitu Agar Gebetan Mencintai Kamu
20 Cara PDKT Yang Bikin Gebetan Lengket
Terima Jasa Pelet, Jaran Goyang Agar Si Dia Langsung Mencintai
Kamu Hari Ini Juga.
Alis Caca saling bertautan membaca deretan artikel yang menurutnya
sudah dia lakukan namun tidak membuahkan hasil sama sekali. Apakah
Caca harus menggunakan Jasa Jaran Goyang?
"Hell no! Walaupun gue gak tahu malu, tapi gue itu cewek profesional
dan unik juga antik. Gak banget pake cara pelet-peletan." Caca bergidik
ngeri, membayangkan dukun tua menyembur wajahnya dengan air kumur-
kumur seperti yang pernah dilihatnya di televisi.
"Pelet apaan?"
Caca hampir meloncat dari tempatnya ketika mendengar suara
mendayu cowok kemayu yang entah sejak kapan sudah berada di
sampingnya.
Mereka sedang berada di halaman belakang sekolah, taman yang sering
digunakan murid untuk menghabiskan waktu istirahatnya tanpa uang.
"Ngagetin aja deh lo!" Caca menggeram sebal kemudian kembali fokus
ke layar.
Budi, cowok kemayu itu terkekeh. "Sorry! Abis lo serius banget,
lagi opo sih?"
Budi ikut membaca artikel yang sedang dibaca temannya itu.
"Astaga! Caca sayang, jangan bilang you masih ngebet buat gaet Kak
Edgar!" serunya, heboh.
Caca mendesah. "Gue kan udah bilang, sebelum janur kuning
melengkung, gue gak akan nyerah buat ngejar Bang Edgar."
BukanStalker
Budi memutarkan kedua bola matanya malas mendengar kalimat yang
sudah bosan didengar itu. Entah untuk keberapa kalinya dia mendengar
kalimat yang sama.
"Gue tahu, Ca. Tapi Kak Edgar udah nolak lo, kalo lo lupa. Dia juga udah
punya cewek sekseh yang jauh banget sama lo," sindirnya, memperhatikan
penampilan Caca.
Caca mendengus kesal mendengar kenyataan itu. Namanya Alisa,
primadona kampus yang cukup terkenal di kotanya, menurut banyak
orang, Alisa itu cantik dengan body yang aduhai. Tapi bagi Caca, wanita
sekaligus Rivalnya itu tidak cantik, justru sangat biasa saja. Caca curiga,
Alisa pasti menggunakan susuk sampai bisa membuat Edgar mau
menjadikannya kekasih. Caca masih tidak terima, ia selalu berpikir negatif
jika soal Alisa. Padahal, dari kecantikan dan sikap, Caca jauh di bawah Alisa.
Edgar Bastian namanya, cowok umur 20 tahun yang sedang menunggu
wisudanya di sebuah Universitas ternama. Cowok yang mengambil jurusan
manajemen itu, seorang barista sekaligus pemilik kafe.
"Lo bukannya belain gue, malah belain Mak Lampir."
Budi yang mendengar itu tersenyum tanpa dosa, mengambil jelly yang
masih tersisa banyak di hadapan Caca.
"By the way, Dinda mana Bud?" tanya Caca, tidak mendapati satu
temannya yang selalu menempel jika dia sudah membuka laptop.
Caca ke taman bersama Dinda, cewek itu menumpang Wi-Fi milik Caca
untuk melakukan kebiasaannya. Tentu saja mencari tahu kabar idolanya
yang lebih dikenal dengan sebutan Bias di dunia per-K-Pop-an.
Budi yang asyik mengunyah mengangkat bahu tidak tahu.
"Gak tahu, pas gue sampe sini lo sendiri."
Satu alis Caca terangkat, setelahnya mengedikkan bahu tidak peduli.
"Kebiasaan, udah dapet gratisan ngeloyor pergi," keluh Caca sebal.
Tanpa memedulikan Budi yang asyik mengunyah permen miliknya,
Caca kembali mencari-cari artikel untuk mendapatkan hati Edgar.
**
Caca menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, melemparkan tasnya di atas
lantai dengan malas. Hari ini benar-benar melelahkan. Bukan hanya karena
pelajaran yang membuatnya sakit kepala, tapi juga karena sosok Edgar.
Matanya menengadah, menerawang ke atas langit-langit kamar yang
dihiasi stiker bintang-bintang berwarna merah jambu.
Cewek itu menghela napas, membayangkan kembali kejadian masa lalu.
Di mana Caca menyatakan cinta kepada Edgar di depan banyak orang.
Pertama kali bertemu dengan Edgar di festival sekolah. Pria tampan itu
datang, berbicara dengan Adam dan beberapa temannya. Caca, yang saat
itu sibuk mempromosikan barang jualannya harus terjatuh, menabrak pria
yang ternyata adalah Edgar.
3
DhetiAzmi
Caca bahkan memaksa mencari tahu tentang sosok Edgar dari Adam
dengan tidak tahu malunya.
"Aku suka sama Bang Edgar, mau jadi pacar Caca?"
Cewek polos, genit juga ceria itu dengan terang-terangan berbicara di
depan barista yang baru saja selesai meracik kopi pesanan pelanggan.
Suasana Kafe yang saat itu ramai, mendadak hening mendengar
pengakuan yang sedang Caca lakukan. Bahkan, Amora, Adam, dan beberapa
teman lainnya ada di sana.
Edgar yang juga terkejut mendadak diam, mengerjapkan matanya sekali,
dua kali hingga pria itu tersadar.
"Adek nembak saya?"
Caca yang mendengar pertanyaan itu langsung mengangguk.
"Iya, tapi nembaknya nggak pakai senjata. Melainkan pakai panah cinta.
Bang Edgar mau ‘kan, jadi pacar Caca?" tanya Caca lagi.
Edgar masih terdiam untuk sesaat, kemudian tawanya meledak.
"Kamu lucu," kekehnya, diikuti dengan tawa lain yang menyusul.
Caca mencebikkan bibirnya. "Aku serius. Aku suka sama Bang Edgar."
Edgar masih tertawa, kemudian tersenyum memaklumi sikap Caca yang
menurutnya sangat amat polos. "Maaf ya, Dek, Bang Edgar gak bisa terima
cinta kamu.”
Satu alis Caca terangkat. “Kenapa? Apa karena aku nggak cantik? Nggak
seumuran? Atau─”
Edgar langsung memotong kalimat Caca. “Bukan karena kamu masih
kecil. Kamu juga cantik. Masalahnya, Bang Edgar udah punya pacar.
Mendingan kamu belajar yang bener, biar cepet lulus, Dek."
Pria itu mengusap-usap pucuk rambut Caca, senyumnya masih terlihat
jelas di bibir tipisnya.
Caca? Cewek itu bukan sakit hati. Justru tersipu mendapat perlakuan
manis dari Edgar. Dia melupakan fakta bahwa cowok di depannya itu baru
saja menolak cintanya.
"Gar, kamu masih lama?"
Tiba-tiba seorang wanita cantik datang, berdiri di samping Caca.
Edgar mendongak lalu tersenyum. "Sebentar lagi selesai, kamu mau jalan
sekarang?"
Wanita itu tersenyum, lalu mengangguk. "Hm, katanya mereka udah
nunggu di sana."
Caca yang sedari memperhatikan mereka, berhasil menarik perhatian
wanita di sampingnya.
"Ini siapa? Adik kamu?" tanyanya kepada Edgar, menunjuk Caca.
"Bukan, dia temen adikku. Ca, kenalin. Ini Alisa, pacar Bang Edgar. Lis, ini
Caca."
BukanStalker
Caca yang sadar bahwa wanita di depannya adalah rivalnya pun
menatap Alisa dari atas sampai bawah. Caca berdecih dalam hati, ‘cewek
bergaya sok cantik gini apa bagusnya?’
"Halo, aku Alisa."
Alisa mengulurkan tangannya ke arah Caca. Cewek itu diam memandang
tangan Alisa, lalu menatap wajah Alisa yang tersenyum.
Caca ikut tersenyum, membalas uluran tangan Alisa.
"Aku Caca, calon pacar Bang Edgar," balasnya sembari tersenyum manis.
Setelah mengatakan itu, Caca pergi. Tidak lupa memberikan kecupan
jauh kepada Edgar yang saat itu menganga mendengar pengakuan Caca,
begitu juga dengan Alisa yang terkejut.
Caca masih bisa mendengar tawa Edgar yang menggelegar setelah
kepergiannya, entah apa yang dibicarakan dua orang di depan sana. Yang
jelas, Caca tidak suka.
"Nyebelin! Apa bagusnya coba si Lisa Lisa itu? Dasar telur kutu! Kenapa
juga Bang Edgar pacaran sama dia? Aku gak rela, gak rela, gak rela!”
Caca berteriak, menendang-nendangkan kakinya ke udara. Tangannya
mengacak-acak seprai hingga berantakan. Melampiaskan kemarahannya di
sana.
Tidak lama, setelah itu Caca bangun dengan ekspresi berpikir.
"Ah? Mending gue ke Kafe Bang Edgar ah. Stalk dia, siapa tahu dia butuh
bantuan gue," kekehnya bahagia.
5
DhetiAzmi
[Link] Edgar
S
uasana Kafe di sore hari benar-benar ramai, mungkin karena hari
ini Sabtu yang akan menjelang malam minggu. Entahlah, Caca
tidak peduli sama sekali. Yang terpenting, dia masuk dan
mendapatkan tempat duduk yang strategis dengan meja bar di mana Edgar
melakukan aktivitas meracik kopinya.
Caca masuk, pandangannya menengadah ke sekeliling yang terlihat
sangat penuh. Jangankan untuk mendapatkan letak strategis, tempat duduk
saja tidak ada yang kosong.
Caca mengeluh kesal. "Astaga, ini Kafe apa pasar? Rame bener, gimana
caranya gue bisa mandangin Bang Edgar dari deket kalo gini."
Caca cemberut, marah melihat Edgar sedang tersenyum manis dengan
beberapa pelanggan yang sepertinya sedang memesan kopi. Dan sialnya,
kenapa Kafe ini kebanyakan berisi perempuan? Apa tempat ini khusus
untuk kaum Hawa.
"Aduh!" Caca hampir saja terjatuh ketika seseorang mendorong pintu
masuk, karena kebetulan Caca berdiri tepat di ambang pintu.
Si pendorong juga terkejut, menghampiri Caca yang meringis menahan
sakit di bahunya "Astaga, Caca, ngapain kamu di pintu!” teriak seorang
perempuan panik.
Caca yang mendengar suara familier itu, mendongak. "Ah, Mbak Naya."
Cewek dengan rambut terurai itu berdiri, memberikan cengiran khas
yang membuat kepanikan perempuan bernama Naya berganti dengan
napas lega.
"Ngapain di depan pintu? Kenapa gak masuk? Tumben," Naya bertanya
heran.
Caca terkekeh pelan. "Aku mau masuk, tapi Kafenya penuh," keluhnya.
Naya yang mendengar kalimat Caca menoleh, melihat isi Kafe yang
memang penuh. Naya tidak tahu, karena dia baru saja berkunjung ke Kafe
setelah mengantar anaknya yang bersekolah TK.
"Astaga, gimana bisa Kafe ini penuh." Naya memberi jeda dengan
gelengan kepalanya. "Pesona Edgar emang luar biasa," lanjutnya diakhiri
kekehan geli.
Caca semakin cemberut. "Tahu, kok bisa sih Mbak Naya punya adik
kayak Bang Edgar? Kenapa Bang Edgar bisa ganteng? Kenapa pesona Bang
BukanStalker
Edgar bikin cewek mupeng terus. Kalo gini, saingan Caca bukan cuma Kak
Alisa doang," ujarnya sebal.
Naya tertawa mendengar keluhan Caca. "Kenapa kamu marah sama
Mbak, coba kamu tanya sama Mama dan Papa Mbak sana."
Caca merengut, helaan napas berat keluar dari mulutnya. "Yah, makin
susah buat stalk Bang Edgar kalau gini."
Naya menaikkan kedua alisnya. "Kamu masih belum nyerah buat ngejar
Edgar, Ca?"
Caca menoleh, lalu menggeleng. "Gak akan, Mbak! Pokoknya, sebelum
janur kuning melengkung, sebelum dapat undangan nikah dari Bang Ed,
aku gak akan nyerah!"
Naya menggelengkan kepalanya. "Iya-iya, gimana kamu aja. Tapi,
meskipun di sini posisi kamu sebagai pengejar, jangan pernah ngelakuin
hal yang merugikan diri sendiri, ngerti?" ujar Naya mengingatkan.
Caca mengangguk. "Iya, Mbak, tenang aja. Caca cewek pengejar yang
elegan," balasnya dengan bangga.
Naya memutarkan kedua bola matanya malas, lalu terkekeh. "Ya udah,
Mbak ke belakang dulu."
Caca mengangguk, matanya kembali menelusur ke tempat di mana
Edgar sedang membuat pesanan untuk pelanggan.
Pria tampan yang dibalut apron hitam itu terlihat serius sekali, tangan
kekarnya bermain-main dekat mesin kopi.
"Astaga, kenapa Bang Edgar harus ganteng!? Caca mana bisa nyerah
kalo gini," keluh Caca, kesal sekali.
Caca mendesah, bagaimana caranya dia bisa masuk dan duduk tepat di
meja paling depan. Caca ingin memuaskan diri memandang wajah tampan
Edgar. Gadis itu ingin mengambil gambar Edgar hingga memori ponselnya
penuh.
"Alah, bodo amat! Sekali pun gue gak dapet tempat duduk, gue gak akan
nyerah buat stalk Bang Ed hari ini!" seru Caca penuh semangat.
Akhirnya Caca masuk ke dalam, menyerobot dan sedikit mendorong
beberapa cewek yang juga sedang berdiri di depan meja barista.
"Mbak, Mbak mau pesan kopi atau mau jadi pegawai? Ngapain berdiri
di sini, gak lihat kalau di sana ada tempat duduk," sindir Caca, tajam.
Cewek yang sedari tadi memperhatikan Caca menautkan alisnya
bingung, beberapa dari mereka mendengus kesal.
"Duh, Dek, kita itu lagi lihat cara Mas tampan ini buat kopi," balas salah
satu dari wanita itu.
Caca mendengus. "Alah, bilang aja kalian mau genit-genit sama pacar
gue."
Edgar yang fokus pada pekerjaannya mendongak melihat perdebatan
yang sedang terjadi.
7
DhetiAzmi
Salah satu wanita lain pun menyahut. "Pacar? Gak salah? Yang bener aja
Edgar pacaran sama anak SMP, kayak gak ada yang lebih aja," cibirnya.
Caca melotot, tidak terima dihina seperti itu. Caca langsung maju,
menarik rambut cewek yang memekik kesakitan.
"Enak aja ngatain gue anak SMP! Gue udah SMA, tahu!"
Edgar syok, cowok itu buru-buru keluar dan melerai pertengkaran.
Edgar langsung menarik Caca, mencoba melerai keduanya.
"Lepasin! Kenapa kalo gue masih anak sekolah!? Hah!?"
"Udah, Dek," ujar Edgar mencoba menahan Caca yang masih
mengamuk.
Sementara cewek yang kena jambak memasang wajah kesakitan dan
teraniaya. Caca kesal, ingin sekali mencakar wajah cewek itu. "Lepasin,
Bang, dia ngatain aku!" Caca berontak.
Edgar mendesah lelah. "Udah, jangan berantem di sini, malu sama
pengunjung."
Caca mendengkus, lalu menurut dan diam. Edgar bernapas lega, lalu
meminta maaf kepada cewek yang baru Caca jambak.
"Maafin ya, mungkin dia capek. Jadi ngamuk nggak jelas."
Caca tidak terima Edgar meminta maaf, apalagi ketika melihat ekspresi
cewek yang seolah tersakiti dan menjadi korban itu.
"Dia pacar kamu?"
Edar melirik ke arah Caca dan terkekeh pelan. "Dia adik saya, mohon
maaf ya."
Entah kenapa, Caca benci dengan apa yang Edgar katakan. Kenapa gak
bilang aja sih kalo gue pacarnya, Bang Ed memang senang digoda cewek-
cewek itu ya, batinnya.
Cewek itu tampak terkejut, lalu tersenyum malu-malu. "Ah nggak,
harusnya aku yang minta maaf. Aku gak tahu kalau dia adik kamu."
Caca melotot. "Gue bukammpp-"
Edgar langsung menutup mulut Caca, membiarkan makian itu
menggantung di kerongkongan Caca.
"Iya, mohon maaf sekali lagi. Maaf jika kunjungan ke Kafe ini
terganggu," lanjut Edgar.
Cewek itu tersenyum lalu mengangguk. "Iya."
Edgar menghela napas lega setelah pelanggannya pergi, lalu melirik ke
arah Caca yang kini cemberut.
"Kenapa cemberut?"
Caca masih memasang wajah kesalnya. "Gak tahu!"
"Yaudah," balas Edgar, meninggalkan Caca yang melotot tidak terima.
"Bang Edgar kok gitu!"
Caca berteriak tidak terima, Naya yang baru saja keluar dengan apron
di tubuhnya menghela napas berat. Caca akan selalu meramaikan Kafe
BukanStalker
dengan pekikan kerasnya. Meski begitu, Naya tidak pernah mengusir Caca
yang sering kali membuat ribut dengan beberapa pelanggan.
Yah, Naya cukup prihatin dengan gadis SMA itu. Sampai sekarang, Caca
masih saja mengejar adiknya yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih.
Bukannya Naya melarang Caca untuk mengejar adiknya, hanya saja
Naya kasihan ketika usaha Caca harus berakhir sia-sia pada akhirnya.
Edgar sering kali cuek terhadap Caca, tapi juga sering memberikan
perhatian. Naya hanya takut jika Caca patah hati. Tapi, Naya tidak tahu apa
yang akan terjadi. Karena Tuhan bisa membolak-balikkan hati manusia,
bukan?
9
DhetiAzmi
3. Bang Edgar Free
C
aca sedang asyik bermain laptop, memasukkan beberapa foto
Edgar untuk menjadi koleksi di folder yang diberi nama My_Ed
tidak lupa dengan tanda hati di belakang nama itu.
Teman-teman yang melihat kelakuan Caca mendengus sebal. Dinda
yang duduk di samping Caca menyikut lengannya pelan.
Caca menggeram gemas. "Apaan sih, Din, mau numpang Wi-Fi lagi?"
Dinda cengengesan, lalu menaik-naikkan kedua alisnya. Tentu saja,
lumayan kan dapat Wi-Fi gratis, kapan lagi dia bisa bersenang-senang
dengan puas menikmati wajah idolanya jika bukan di saat seperti ini.
Caca memutarkan kedua bola matanya malas, paham akan kode yang
diberikan Dinda. Dengan malas dia membagi Wi-Fi dengan Dinda yang kini
memasang wajah semringah.
"Ca, mau sampai kapan lo simpen foto Kak Edgar? Kayaknya laptop lo
juga udah muak banget nampung foto tuh cowok," sindir Eka yang tiba-tiba
berdiri di belakang Caca.
Caca mendelik malas. "Gak akan, justru laptop gue bahagia tiap hari
dijejelin foto cogan."
Eka berdecih sinis. "Sayangnya kalo si cogan itu tahu fotonya disimpen
sebanyak itu, dia pasti merinding."
Caca mendongak, dahinya mengerut heran. "Serem kenapa? Gue kan
cuma simpen foto Bang Ed, bukan foto setan, Eka."
"Nah itu dia, karena banyaknya foto dia, lo nyeremin, Ca. Udah kayak
psyco yang ngejar targetnya," lanjut Eka.
Caca berdecak kesal. "Gue emang lagi ngejar Bang Ed, buat jadiin dia
pacar gue, kalo bisa jadi imam gue dan anak-anak gue."
"Ngawur lo! Inget sekolah woi!" sembur Dinda yang baru saja
menyelesaikan tontonannya.
Caca mendelik ke arah Dinda. "Nyaut aja, udah Wi-Fi-nya?"
Dinda cengengesan. "Udah, makasih, baby Caca."
"Tsk! Baik kalau ada maunya doang," sindir Caca.
Dinda terkekeh. "Jangan gitu dong, Ca, lo kan baik. Siapa tahu dengan
sikap lo yang baik gini, Bang Ed suka sama lo," godanya.
Apa pun yang menyangkut Edgar akan membuat Caca sangat bahagia.
Meski yang Dinda ucapkan omong kosong, untuk Caca yang itu serius.
BukanStalker
Entah bodoh atau memang sudah dibutakan oleh cinta, Caca yakin Edgar
akan menyukainya.
"Serius, Din?" tanya Caca, berbinar.
Dinda mengangguk mengiyakan, sementara Eka berdecak jengah.
Beranjak pergi menuju tempat duduknya. "Lo boleh berharap, tapi jangan
ketinggian. Kenapa? Soalnya jatuhnya itu sakit, Ca," ujar Eka mengingatkan.
Caca merengut, ucapan Eka berhasil mengenai ulu hatinya.
Menghantamnya begitu keras sampai dia sadar bahwa yang dia lakukan
masih belum bisa membuat Edgar menyukainya. Terlebih ada kehadiran
Alisa yang masih berstatus sebagai pacar Edgar sampai sekarang.
Ck! Tapi bukan Caca jika menyerah begitu saja. Caca akan terus maju
sampai Edgar mau melihat dirinya.
"Lo tahu pepatah gak, Ka?" tanya Caca.
Eka mengerutkan alisnya, lalu mengedikkan bahu. Sementara Dinda
yang juga mendengar obrolan itu tampak serius mendengarkan.
"Kejarlah mimpi setinggi langit, sekalipun lo jatuh dan terhempas, lo
masih bisa bangkit dan terus mengejar mimpi lo," ucapnya, ngasal.
Eka gemas, langsung menjitak kepala Caca. "Ini beda oneng, kalo mimpi
lo buat ngejar cita-cita sih boleh. Ini ngejar cowok, inget, Ca, lo itu cewek,
tahu!"
"Lah? Emang siapa yang bilang gue cowok, Eka," ujar Caca terus
membela diri.
Eka mendesah pasrah, memijat pelipisnya yang berdenyut "Terserah lo
deh, sekalian aja kalian berdua halu berjamaah."
Dinda yang tertampar oleh kalimat Eka mengerjap. "Kok gue."
Sayang ucapan Dinda tidak direspons karena Eka sudah pergi entah ke
mana. Sementara Caca terkekeh dan menoleh ke arah Dinda.
"Karena lo juga sama halunya. Mimpi dan ngejar Oppa yang jelas-jelas
gak bisa lo gapai," ujar Caca menjelaskan.
Dinda mengerjap, langsung menekuk wajahnya mendengar kenyataan
itu. Caca yang ada di sampingnya masih terkekeh sembari memerhatikan
foto Edgar, menghela napas, Caca menyentuh foto yang ada di depan
matanya.
Caca menghela napas. "Kenapa harus ganteng sih, kalo gini Caca mana
bisa nyerah, Bang," gumamnya nelangsa.
Brak!
"Anjir!"
"Bangke!"
Caca dan Dinda refleks mengumpat ketika meja yang mereka tempati
digebrak cukup keras. Dua cewek itu mendongak dengan wajah syok,
masih terkejut dengan apa yang baru terjadi. Sementara si pembuat
keributan tertawa tanpa dosa.
11
DhetiAzmi
"Sialan lo, Mor, ngapain sih," ujar Dinda marah.
Tentu saja Dinda marah, cewek itu hampir menjatuhkan ponselnya jika
saja tidak buru-buru menangkapnya.
"Tahu, mentang-mentang punya tenaga gede main gebrak-gebrak aja,"
lanjut Caca.
Amora terkekeh melihat dua temannya yang tampak syok. Tersadar,
buru-buru Amora menarik kursi yang tidak jauh dari mereka. Menariknya
dan ikut duduk di samping Caca.
"Ca, gue ada gosip," ucap Amora, tiba-tiba.
"Gosip apaan?" Caca bertanya enggan, matanya masih terus menatap
foto Edgar.
Amora mengatur napasnya. "Gosip yang bakal buat lo teriak histeris
saking bahagianya."
Amora masih sok memberi kode, Caca yang ada di sampingnya
mengerutkan kening. Terusik dan Juga penasaran dengan apa yang Amora
katakan.
"Apaan?"
Amora tersenyum. "Tarik napas dulu."
"Hah?"
"Lo tarik napas dulu, terus buang sampai tiga kali," lanjutnya.
Caca bingung. "Buat apaan?"
Amora berdecak. "Udah ikutin aja."
Caca menggeram gemas, pasrah mengikuti apa yang Amora
perintahkan. Setelah selesai, ia menoleh kembali dengan wajah penasaran.
"Udah, gosipnya apa?"
Amora tersenyum lagi, lalu mendekat ke arah Caca. "Bang Edgar free."
"Hah!?" Caca masih belum paham.
Oh, ingatkan Amora untuk tidak lupa bahwa Caca sangat minim bahasa
Inggris.
Amora menghela napas, lalu menepuk bahu Caca. "Bang Edgar putus
sama Alisa," bisiknya.
Satu detik, dua detik, tiga detik baru Caca bereaksi. Matanya melotot
dengan mulut menganga.
"Serius lo!?" Caca memekik, Amora yang ada di sampingnya langsung
menutup telinga.
"Berisik anjir, gue gak budeg!"
Caca cengengesan, lalu kembali memasang wajah serius. "Lo serius?
Kata siapa? Jangan bohongin gue lo!" cecar Caca.
Amora memutarkan kedua bola matanya malas. "Ngapain gue bohong.
Barusan gue juga tahu dari Adam."
"Serius? Kok putus?" Dinda bertanya, tapi Caca menyimpulkan Dinda
tidak suka mendengar berita itu.
BukanStalker
Caca mendelik ke arah Dinda. "Lo kok kayak gak seneng mereka putus?"
Dinda yang tidak paham, membalas seadanya, "Yaiyalah, mereka kan
pasangan serasi. Ganteng dan can─"
Dinda menggantungkan ucapannya ketika melihat ekspresi temannya.
Caca sudah memasang wajah murka, siap menerkam Dinda. Sementara
Amora melotot memberi kode supaya Dinda diam. Kampret! Keceplosan,
batin Dinda.
Dinda baru sadar, cewek itu cengengesan lalu menggaruk tengkuknya
yang tidak gatal. "Ah, bercanda, Ca," lanjut Dinda, meringis ngeri melihat
kemurkaan Caca.
"Jangan numpang Wi-Fi ke gue lagi!"
Dinda menghela napas, sementara Amora terkikik puas. Caca yang
memasang wajah sebal kembali ceria.
"Jadi, sekarang Bang Ed lajang?"
Amora mengangguk, dan Caca langsung berteriak histeris sambil
berjoget saking bahagianya. Bahkan dia tidak memperdulikan teman-
teman yang memandangnya dengan tatapan aneh.
Caca buru-buru membereskan peralatan belajarnya, memasukkannya
ke dalam tas.
"Mau ke mana lo?" Amora menahan lengan Caca.
Caca mendengus malas. "Ya ke Kafe lah, gue tahu Bang Ed lagi kesepian
dan sedih sekarang. Jadi, gue harus hibur dia."
Amora memutarkan kedua bola matanya malas. "Masih ada pelajaran,
mau bolos lo?"
"Lo izinin gue aja, bilang gue ada acara mendadak," pintanya.
Amora menggeleng. "Ogah! Diem dan ikutin pelajaran sampe habis.
Baru lo boleh pulang."
"Tapi--"
"Siang, anak-anak."
"Siang, Bu!!"
Dan Caca mengumpat dalam hati, niatnya ingin segera bertemu Edgar
harus gagal. Setidaknya ia harus bersabar sampai pelajaran selesai.
"Nyebelin.”
13
DhetiAzmi
4. Kebahagiaan pertama Caca
K abar yang Amora kejutkan kepada Caca membuat Caca langsung
pergi ke Kafe tanpa pulang dan berganti seragam terlebih
dahulu. Hatinya yang tidak sabar untuk bertemu sang pujaan
hati, langsung bergejolak penuh semangat.
"Bang Ed!" Caca berteriak setelah berhasil membuka pintu Kafe.
Beberapa pengunjung yang ada di dalam sana melirik ke arah Caca
dengan kerutan bingung juga heran.
"Ca, kamu ini dateng-dateng teriak, ada apa sih?" Naya yang baru saja
menyelesaikan tugasnya memberikan pesanan pelanggan bertanya heran.
Tentu saja Naya masih bingung dengan sifat Caca yang memiliki hobi
berteriak setiap kali masuk ke dalam Kafe.
Caca menoleh, lalu terkekeh malu. "Maaf, Mbak, refleks."
Naya mendesah sambil menggelengkan kepalanya "Bukan refleks, itu
udah kebiasaan kamu. Ah, baru pulang sekolah?" Naya tersadar saat
melihat Caca yang masih menggunakan seragam sekolah.
Caca mengangguk. "Hm, Bang Ed mana, Mbak?"
"Ada di belakang, kenapa gak ganti baju dulu? Kamu belum pulang ke
rumah?" tanya Naya lagi.
Caca cengengesan. "Belum, Mbak, karena itu gak penting. Ada yang
lebih penting dari pulang dan ganti baju," serunya, antusias.
Naya memicingkan matanya, heran melihat semangat Caca. "Emang ada
apaan?"
Dengan senyum mengembang, Caca mendekati Naya dan berbisik,
"Bang Ed putus sama Alisa."
Naya langsung menoleh ke arah Caca. "Serius kamu!?"
Caca mengangguk semangat, membiarkan Naya terdiam dengan
pikirannya. Naya kembali mengingat sikap Edgar yang baru masuk Kafe,
wajahnya terlihat kusut entah karena apa. Naya tidak percaya, jika itu
karena adiknya putus dengan perempuan yang setengah tahun ini mengisi
hidup adiknya.
"Mbak, kok ngelamun," sahut Caca, melambaikan tangannya di depan
wajah Naya.
Naya mengerjap dan tersadar. "Ah, maaf. Cuma Mbak syok aja, pantes
aja tadi wajah Edgar kelihatan kusut banget."
Bukan iba, Caca justru memberikan binar bahagia dan berteriak, "Yes!"
BukanStalker
Naya melirik. "Kok yes?"
Caca cengengesan. "Kan Mbak tahu, aku lagi ngejar Bang Ed. Setelah ini
kan kesempatan aku buat deket dan dapetin hati Bang Edgar."
Naya menggelengkan kepalanya. "Bahagia di atas penderitaan orang
lain itu namanya."
"Cuma sebentar, karena setelah itu Caca akan bikin Bang Ed bahagia,"
lanjutnya, yakin.
Naya memutarkan kedua bola matanya malas. "Bukan bahagia, yang
ada Edgar gegar otak karena kelakuan kamu."
Caca mencebik mendengar jawaban Naya. "Mbak Naya jahat, ih!"
Naya terkekeh, lalu menepuk-nepuk bahu Caca. "Bercanda, udah sana
ke belakang. Hari ini Edgar kayaknya gak mood jadi barista."
Kedua matanya Caca berbinar. "Boleh?"
Naya mengangguk."Iya, dengan syarat."
Caca menatap Naya serius. "Apa?"
"Jangan buat keributan."
Caca tersenyum dan mengangguk. Dengan langkah seribu, Caca
langsung berlari ke tempat di mana Edgar berada.
Dengan perasaan bahagia yang tidak bisa dibendung, Caca hampir saja
mendobrak pintu jika tidak ingat pesan Naya. Untung dia masih bisa tahan,
menghela napas untuk mengontrol debar di jantungnya.
Pintu terbuka pelan, dari sana Caca langsung mendapati sosok Edgar
yang sibuk mengerjakan sesuatu.
Caca langsung menganga, Edgar benar-benar sangat keren meskipun
dalam posisi di mana cowok itu sedang duduk membaca kertas yang entah
berisi apa. Caca mengulum senyum, dan menutup pintu tanpa suara.
"Halo, Bang."
Terkejut, Edgar langsung mendongak. "Loh? Ca, kenapa ada di sini?"
Caca cengengesan, menarik kursi di depan Edgar tanpa tahu malu. "Mau
ketemu Bang Ed lah, masa mau nyuci baju."
"Siapa tahu aja kamu mau nyuciin baju aku," lanjut Edgar.
Bukannya tersinggung, Caca justru berbinar. "Boleh?"
Edgar yang mencoba fokus kembali menoleh ke arah Caca, mendengus
geli. Tangannya terulur dan menyentil tepat di kening Caca sampai cewek
itu memekik sakit.
"Mikirin apa kamu," ujar Edgar, mencoba menebak pikiran anak SMA
itu.
Caca merengut, mengusap keningnya yang berdenyut nyeri. Detik
berikutnya dia tersenyum. "Emang apa yang aku pikirin? Hayo, Bang Ed tuh
yang negatif," tuduhnya.
Edgar menghela napas, lalu beranjak dari duduknya. "Pulang sekolah
langsung ke sini?"
15
DhetiAzmi
Caca mengangguk semangat. "Iya dong,"
Edgar menggeleng, lalu berjalan mendahului Caca yang masih duduk di
tempat. "Ikut aku."
Caca yang masih loading, segera beranjak setelah punggung Edgar tidak
terlihat. Melangkah cepat untuk mengejar Edgar yang tengah masuk ke
sebuah ruangan.
"Duduk di situ," perintah Edgar.
Caca menurut, dahinya berkerut ketika melihat Edgar menggunakan
apron. "Bang Ed mau masak?"
Edgar tidak menoleh, hanya berdehem menjawab pertanyaan Caca,
"Hm."
"Loh? Emang di Kafe jualan makanan juga ya selain cake?" tanya Caca
penasaran.
Edgar sibuk mengiris bawang, membalas jawaban Caca tanpa menoleh.
"Enggak, ini cuma buat aku makan kalo lagi males beli keluar."
Caca manggut-manggut, detik berikutnya dia memekik. "Jadi, Bang Ed
bisa masak!?"
Edgar mendengus lalu mengangkat bahu. "Gak juga, nanti coba aja sama
kamu."
Caca semakin antusias, matanya terus saja berbinar memerhatikan cara
Edgar yang begitu telaten dalam memasak. Dilihat dari belakang saja
sangat tampan, apalagi dari dekat. Astaga, Caca pasti akan mati kehabisan
napas.
Sembari memikirkan imajinasinya kepada Edgar, tanpa sadar Edgar
sudah duduk di depan Caca sembari membawa dua piring nasi goreng yang
cowok itu buat.
"Makan, jangan ngelamun terus."
Caca tersadar, lalu mengangguk semangat. Tangannya menyendok nasi
goreng buatan Edgar dan langsung melahapnya.
"Enak."
Edgar tersenyum geli, apalagi ketika Caca memejamkan mata
menikmati nasi goreng itu. Tanpa sadar cewek itu begitu semangat
melahap nasi goreng yang masih beruap.
Edgar sedikit terganggu dengan cara makan Caca. "Kamu gak makan
berapa hari sih? Pelan-pelan makannya."
Caca melirik lalu tersenyum dengan mulut penuh "Abhwisnywa
enwak."
"Telen dulu makanannya."
Edgar menghela napas, menggelengkan kepala memandang gadis itu.
Tangannya terulur, membersihkan remahan nasi yang menempel di sudut
bibir Caca.
"Makannya pelan-pelan aja."
BukanStalker
Caca berhenti mengunyah, matanya melotot ketika melihat perlakuan
Edgar barusan. Detik berikutnya Caca tersedak, menepuk dadanya yang
terasa nyeri.
Edgar berdecak, bergegas mengambil air minum dan menyodorkannya
kepada Caca. "Aku bilang pelan-pelan, Ca,"
Caca masih mencoba menetralkan napasnya, kerongkongannya masih
terasa perih meski sudah diberi air.
"Abis aku kaget," jawab Caca, seadanya.
Satu alis Edgar terangkat. "Kaget?"
Caca mengangguk. "Hm, baru kali ini Bang Edgar mau usap-usap pipi
aku."
Edgar diam cukup lama lalu berdecak geli, menyentil kembali kening
Caca.
"Jangan mikir yang aneh-aneh."
Caca menggeleng. "Enggak kok! Tapi kan itu emang kenyataan. Selama
ini mana pernah Bang Ed gitu."
Edgar yang sudah menghabiskan makannya menautkan alis. "Oyah?
Emang dulu aku gimana?"
"Bang Ed itu cuek, sok pura-pura gak lihat, apalagi kalo udah sama
cabenya. Tapi, sekarang kayaknya gak bakal gitu lagi deh. Bang Ed kan
udah putus sama Alisa, jadi sekarang Bang Ed free," jawab Caca panjang
lebar, tanpa sadar ucapannya berhasil membuat Edgar diam.
Caca tersadar, melirik ke arah Edgar yang masih diam. Wajahnya
kembali memperlihatkan kekecewaan. Astaga, mulut, gimana bisa lo
nyeplos gini! Caca merutuki perbuatannya.
Edgar beranjak, mengambil piring bekasnya dan pergi tanpa berbicara
apa pun. Caca yang melihat itu merengut, menepuk bibirnya sembari
memaki diri sendiri.
Momen bahagia yang baru saja terjadi bersama Bang Edgar harus
musnah. Padahal, tadi Caca sudah yakin punya peluang dan bisa
beromantis ria bersama Edgar.
"Habisin makanannya, aku antar pulang."
Dan suara itu berhasil membuat Caca diam, mendongak dan senyumnya
kembali mengembang.
"Iya!"
17
DhetiAzmi
[Link] ini berlipat-lipat
B ahagia. Itulah yang sedang Caca rasakan. Caca merasa sangat
beruntung sekali hari ini. Bukan hanya karena ia telah
mendengar berita bahwa sang pujaan hati putus dari kekasihnya.
Tapi ia juga merasakan perhatian yang diberikan Edgar kepadanya untuk
pertama kalinya.
Mungkin, bagi Edgar itu hal yang biasa saja. Tidak bagi Caca, hari ini
sangat luar biasa. Bahkan dia berkali-kali berterima kasih karena Tuhan
karena sudah mengabulkan doanya.
Tentu saja ia harus senantiasa mengingat hari ini. Setelah tiga bulan dia
mengejar Edgar, tapi hasilnya selalu sama. Edgar tetap menganggap Caca
sebagai pelanggan atau adik. Padahal Caca sudah berusaha mencari
perhatian sampai harus bertengkar dengan pelanggan genit.
Bukan hanya itu saja, bahkan Caca sering kali mengganggu Edgar dan
Alisa ketika mereka sedang bersama. Menyebalkan? Masa bodoh! Caca
hanya ingin membuktikan bahwa dia serius mencintai Edgar.
Orang lain pasti akan menganggapnya bodoh dan tidak tahu malu.
karena mau bagaimanapun, Caca baru saja menginjak remaja. Hati dan
sifatnya masih membara dan labil, mungkin lama kelamaan Caca akan
bosan dan menyerah.
Itu menurut pemikiran Edgar, tapi sayangnya tebakannya melesat. Caca
masih saja mengganggu dan mengejarnya walau Edgar sudah terang-
terangan menolak. Tingkah kekanak-kanakan yang sering kali membuat
Edgar terganggu, lambat laun mulai bisa diterima. Demikian juga dengan
Alisa yang harus menahan sabar ketika kencannya diganggu.
Caca menghela napas kesal, dia masih ada di ruangan Kafe Edgar. Pria
yang katanya akan mengantarnya pulang, sampai sekarang masih belum
memunculkan batang hidungnya.
Edgar menyuruh Caca untuk menunggu di sini sebentar, tapi sampai
sekarang Edgar masih belum kembali. Sudah lima menit berlalu, Caca tidak
suka menunggu. Bukan tidak bisa, tapi tidak sabar untuk pulang bersama
Edgar. Tidak sabar juga untuk mengenalkannya kepada Mama dan
mengatakan bahwa Edgar calon menantu.
Caca terkikik dengan imajinasi gilanya, membayangkan sikap manis
Edgar membuat Caca kembali mengulum senyum dengan rona merah di
kedua pipi.
BukanStalker
"Ish Bang Ed lama, aku samperin aja kali ya?" gumam Caca bermonolog
dengan dirinya sendiri.
Caca mengedikkan bahu, beranjak dari duduknya untuk segera keluar
menyusul Edgar. Menoleh ke sana kemari, tapi sosok Edgar tidak ada di
dalam Kafe.
"Bang Ed kemana sih!? Dia pasti bohong! Katanya mau nganter gue
pulang," rutuknya kesal.
Naya yang memperhatikan Caca menepuk bahu cewek itu pelan. "Nyari
siapa?"
Caca langsung mendongak dan terkejut. "Ih, Mbak Naya ngagetin aja."
Naya terkekeh. "Abis kamu celingak celinguk kayak maling, nyari siapa
emang, Edgar lagi?"
Caca tersenyum. "Kok Mbak tahu?"
Naya memutarkan kedua bola matanya malas. "Emang yang kamu cari
setiap ke Kafe siapa lagi kalo bukan Edgar?"
Caca diam, lalu tersenyum malu. "Mbak Naya bisa aja."
Naya hanya bisa menggeleng melihatnya. "Edgar di garasi samping
Kafe. Katanya mau ngambil mobil dulu, kamu ke sana aja gih."
Caca mengangguk antusias. "Makasih, Mbak, Caca sayang Mbak Naya,"
ujarnya, memeluk lengan Naya sebentar.
Naya terkekeh lalu mengangguk, menghela napas melihat Caca yang
kini sudah menjauh dan keluar dari Kafe.
"Semoga berhasil dapetin hati Edgar ya, Ca," Naya terkekeh pelan
melihat semangat Caca.
**
Caca berjalan sambil menari-nari kecil menuju dimana Edgar ada. Tidak
sabar untuk di antar pulang, dan lagi-lagi Caca tersenyum seperti orang
idiot jika mengingat Edgar.
"Denger dulu penjelasan aku, Gar."
Suara itu berhasil membuat kaki Caca berhenti mendadak. Melangkah
pelan mengikuti suara yang masuk ke dalam indra.
Caca mematung ketika melihat Edgar dan Alisa sedang berada di sana.
Alisa terlihat ingin berbicara dan menjelaskan sesuatu, sementara Edgar
memasang wajah kecewa.
"Gak ada yang perlu kamu jelasin lagi, Sa. Semuanya udah jelas," Edgar
membalas, hendak masuk ke dalam mobil namun Alisa segera
menahannya.
Alisa berteriak gusar, "Gak! Kamu salah paham, Gar! Denger dulu
penjelasan aku."
Edgar terlihat memejamkan mata, menahan emosinya. "Semua udah
jelas, aku lihat sendiri semuanya."
Alisa menggeleng kencang. "Kamu salah paham, Ed, Prins tadi cuma─"
19
DhetiAzmi
"Cuma mau tiup mata kamu yang kelilipan!? Alasan kamu terlalu klise,
Sa. Aku bukan cowok bodoh yang percaya gitu aja sama alasan konyol
kamu!" seru Edgar.
Alisa menggeram, lalu menyibak poninya ke belakang memperlihatkan
luka yang ditutup oleh plester.
"Prins cuma kasih plester di kening aku, Ed. Bukan tiup apa lagi cium
yang kayak kamu tuduh!" teriaknya gusar.
Edgar diam, menyentuh kening Alisa pelan. "Ini─"
"Aku jatuh, Ed, kening aku kebentur meja. Di sana ada Prins dan temen
lainnya juga saat kejadian. Cuma kamu lihat aku sama Prins berdua waktu
itu, karena yang lain lagi sibuk ngerjain tugas," Alisa menjelaskan dengan
isakkan kecil.
Edgar diam, lalu mengelus pelan kening Alisa yang ditutup plester.
Edgar mendesah, lalu memeluk Alisa.
"Maafin aku."
Deg!
Caca membeku, mendadak hatinya dihantam benda tajam yang tidak
kasat mata. Memukulnya terus menerus sampai hatinya memekik sakit
melihat drama yang sedang berlangsung di depan matanya.
Melihat di mana Edgar memeluk Alisa begitu lembut, seolah takut
wanita itu hancur. Dan membiarkan dirinya sendiri hancur karena drama
itu tanpa ada yang merengkuh.
Hatinya sakit, sakit ini berlipat lipat dari sebelumnya. Jika dulu Caca
masih masa bodoh jika Edgar sering cuek terhadapnya. Tapi sekarang, Caca
merasa kebahagiaannya bersama Edgar menggantung di langit dan ditiup
oleh angin sampai kebahagiaan itu hilang tanpa jejak.
Kebahagiaan yang membuat Caca berharap lebih untuk mendapatkan
Cinta Edgar, pupus begitu saja ketika melihat pasangan yang dikatakan
berakhir itu kembali bersama.
Tanpa sadar, Caca meneteskan air matanya. dia menggeleng, Caca tidak
boleh cengeng. Sejak kapan dia pasrah kepada keadaan seperti ini. Caca itu
kuat, ingat motto hidup yang mengatakan tidak akan menyerah sebelum
janur kuning melengkung.
Caca mengangguk meyakini dirinya sendiri, hendak melangkah ke arah
Edgar setelah mengusap air mata yang sempat membasahi pipinya.
Memasang senyum agar tidak ada yang curiga.
Tapi, lagi-lagi Caca harus menghentikan langkahnya.
"Maafin aku, aku antar pulang."
Alisa mengangguk dan tersenyum, masuk ke dalam mobil setelah Edgar
membukakan pintu untuk cewek itu. Lalu Edgar menyusul masuk,
menghidupkan mobil dan meninggalkan Kafe.
BukanStalker
Caca yang bersembunyi dibalik tembok menggigit bibir bawahnya.
Kenapa Edgar meninggalkannya? Bukankah tadi cowok berjanji akan
mengantarnya pulang?
Caca menunduk, mencoba menahan jeritan keras yang hendak
meluncur di mulutnya. Terisak, Caca menggapai tembok untuk menahan
beban tubuhnya yang hampir merosot.
Caca seperti terbang, dan dijatuhkan langsung sampai rasa sakit itu
begitu menusuk dan menyakitkan. Menghantam berkali-kali tanpa peduli
air mata sudah membanjiri pipinya.
"Bang Ed jahat."
21
DhetiAzmi
6. Ini Salah Lo!
C
aca benar-benar sedang patah hati. Bahkan cewek yang kini
duduk di bangku XII itu tidak mau keluar dari kamarnya setelah
pulang dari Kafe. Mami Caca sampai kewalahan membujuk
putrinya untuk keluar kamar.
"Sayang, buka dong pintunya. Ini udah malem loh, kamu gak mau
makan? Mami udah masakin makanan favorit kamu loh," kata Mami terus
membujuk putrinya yang masih tidak mau merespons.
Mami mendesah, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan putrinya. Ini
pertama kalinya Caca pulang dengan kondisi menangis dan langsung
masuk mengurung diri di kamar.
"Ca, jangan bikin Mami cemas dong. Entar kalo Mami ke jedot terus
gegar otak dan gak inget kamu lagi gara-gara kecapekan ketuk pintu kamar,
kamu mau?" tanyanya, mengasal.
Caca yang ada di dalam kamar masih tidak merespons. Gadis itu masih
terisak membayangkan kembali apa yang sudah terjadi. Ia baru saja
dibohongi Edgar, pria itu tidak mengantarnya pulang. Jangankan
mengantar, ingat saja pun tidak.
"Bang Ed jahat, kok bisa-bisanya Caca dilupain. Padahal badan Caca gak
kerempeng, masa segede gini Caca gak kelihatan," isaknya, kembali
menarik tisu dan mengusapnya di kedua pipi lalu hidungnya.
"Ca, bukain dong."
Suara Mami masih terus membujuk di luar pintu. Caca semakin
mengerang. "Caca gak laper, Mi, Caca mau diet!"
Mami yang ada di depan pintu mengerutkan dahinya bingung "Ngapain
kamu diet? Badan kamu udah bagus."
Caca terisak lagi. "Biar kurus, Mi. Badan bagus gak akan bikin Bang Ed
lirik Caca. Caca kudu diet dan jadi kurus, biar Bang Ed bisa lihat Caca,"
teriak Caca, membalas ucapan Maminya.
Mami semakin bingung dengan ucapan putrinya. Ed? Siapa itu? Ah, apa
jangan-jangan dia alasan kenapa Caca menangis dan mengurung diri?
"Duh, nak, kalo kamu kurus yang ada nanti si Ed Ed itu makin gak lirik
kamu loh! Cowok sekarang sukanya yang bohay, Ca. Kalo kamu kerempeng
kayak lidi, yang ada nanti kamu gak bisa napak ke tanah."
BukanStalker
Caca semakin menjerit mendengar sahutan Maminya. Bergegas
membuka pintu yang langsung disambut wajah Maminya. "Mami kok
gitu!?" protes Caca.
Mami terkekeh. "Mami ngomong sesuai kenyataan, Ca."
Caca merengut, hidungnya yang memerah membuat Mami yakin jika
putrinya sedang dalam keadaan tidak baik.
"Makan dulu yuk, kasihan cacing di perut kamu kelaparan," bujuknya.
Caca semakin kesal. "Kok Mami lebih mentingin cacing di perut aku
daripada akunya."
Mami mendengus malas "Barusan Mami cemasin kamu, kamu teriak-
teriak mau diet. Badan kecil pake acara mau diet, mau jadi sapu lidi kamu?"
"Mau jadi cewek yang bisa dilirik gebetan," gerutu Caca, berjalan
mengikuti langkah Maminya.
Mami hanya menggeleng, menyuruh Caca duduk di meja makan.
Memberikan banyak makanan di piring kemudian mendorongnya ke arah
Caca. Hasilnya? Tentu saja Caca langsung melahapnya.
"Katanya mau diet, makan aja udah kayak orang kesetanan," sindir
Mami, memberikan air minum.
Caca tidak merespons, cewek itu sibuk mengunyah dengan wajah
ditekuk. Mood-nya masih tidak baik, tapi perutnya minta diisi.
Ting Tong!
Mami menoleh ketika suara bel pintu berbunyi. Melangkah untuk
segera membuka pintu. Setelah pintu itu terbuka Mami tersenyum,
mempersilahkan tamunya masuk.
"Loh? Katanya Caca ngurung diri di kamar, Mi?" tanya Eka, melihat Caca
makan dengan lahapnya di depan mata.
Ya, tamu Mami adalah teman-teman Caca. Mami sengaja meminta
bantuan mereka untuk membujuk putrinya karena tidak mau keluar
kamar. Eka, Amora, Dinda. Tiga cewek itu datang setelah di telepon Mami
Caca.
Mami terkekeh pelan. "Iya, Mami pikir dia gak kebujuk. Eh, tahunya
keluar juga. Kalian udah makan? Sini ikut makan," ajak Mami Caca.
Eka dan Amora yang kebetulan hobi makan berbinar senang
mendengar tawaran Mami dan ikut duduk dan makan bersama. Sementara
Dinda yang juga ikut makan karena dipaksa hanya bisa menggelengkan
kepala melihat tingkah teman-temannya yang tidak tahu malu.
**
Mereka berkumpul di balkon rumah Caca setelah menyelesaikan makan
malamnya. Caca masih saja menekuk wajah, detik kemudian cewek itu
menangis setelah menceritakan apa yang terjadi kepada ketiga temannya.
23
DhetiAzmi
Eka yang melihat Caca menangis menghela napas malas, sementara
Amora dan Dinda mengusap-usap punggung Caca untuk menenangkan
temannya itu.
"Menurut gue, itu bukan salah Edgar juga deh Ca," Eka membuka suara
saking gemasnya.
Caca mendongak tidak terima. "Gak salah gimana!? Jelas-jelas Bang Ed
jahat, dia udah PHPin gue, udah nyakitin hati gue, tahu!"
Eka memutarkan kedua bola matanya malas. "Iya-iya, mungkin Bang Ed
salah karena udah PHP-in lo buat balik bareng. Tapi, soal sakit hati
kayaknya itu salah lo sendiri."
"Ka," Amora melotot, memberi kode agar Eka diam.
Caca masih terisak. "Maksud lo apa? Kok nyalahin gue?"
Eka menghela napas gusar "Gini deh, gue buat semuanya jelas dan gak
berbelit-belit," Eka memberi jeda kalimatnya. Tiga temannya juga terlihat
serius menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut sadis
Eka.
"Emang selama ini Bang Edgar kasih lo harapan? Bukannya udah jelas-
jelas dia nolak lo ya? Sorry, bukan gue jahat sama lo. Tapi di sini, jelas lo
yang salah Ca. Kenapa? Pertama, lo suka sama cowok yang jelas-jelas udah
punya pacar. Kedua, dia udah nolak lo, tapi lo terus ngejar dia meski dia
udah sering ingetin lo buat berhenti ngejar dia."
"Tapi─”
"Jangan potong ucapan gue dulu, gue gini cuma buat bikin lo sadar dan
mikir. Lo dengan terang-terangan deketin Edgar di depan pacarnya, ngusir
cewek yang suka sama Edgar. Terang-terangan bilang kalo lo di sini
terluka. Lo pernah mikir gak, yang lo lakuin bisa aja bikin orang lain terluka
juga muak!? Contoh, kalo lo jadi Alisa, gimana perasaan lo? Lo lagi asyik
mesra-mesraan sama pacar lo, tiba-tiba ada cewek yang nyerobot dan
hancurin kencan lo? Hah? Lo pernah mikir gak gimana perasaan Edgar
waktu lo usik ketenangan dia? Waktu lo buat ribut? Lo pernah mikir gak
kalo dia muak dan kesel sama lo tapi dia pendem karena gak mau main
kasar dan nyakitin lo?"
Eka bertanya dengan napas menggebu, Amora dan Dinda melotot
mendengar kalimat Eka. Gila, jawaban pedas Eka walau benar tetap saja
akan semakin membuat mood Caca buruk.
"Tapi... Bang Ed gak pernah ngusir gue," ujar Caca masih membela diri.
Eka berdecak. "Lo naif, Ca, lo pikir kalo Edgar ngusir lo, lo bakal pergi?
Gak akan, justru lo terus dateng dan gangguin kesibukan orang."
Caca diam, semua kalimat yang Eka keluarkan berhasil menghantam
ulu hatinya.
"Jadi ini salah gue?"
BukanStalker
"Iyalah, ini 100% salah lo! Lo sakit hati, lo terluka itu salah lo sendiri
yang coba masuk dan hancurin kebahagiaan orang. Gue tahu, lo suka sama
Edgar, tapi cara lo salah, Ca. Lupain motto hidup gila lo itu, apa yang lo
lakuin gak akan buat Edgar mau lirik lo! Justru Edgar makin benci sama lo."
Amora dan Dinda lagi-lagi syok mendengar ucapan pedas Eka.
Sementara Caca masih diam dengan kepala yang tertunduk.
"Eka," desis Dinda, tajam.
Eka mendesah, lalu mendekat ke arah Caca. "Sorry, bukan gue nyalahin
lo. Tapi yang lo lakuin ini salah, Ca. Lo bukan cuma ngancurin hubungan
orang, tapi lo juga ngancurin hati lo sendiri. Lo boleh suka sama cowok, tapi
jangan sampai bikin diri lo jelek di mata orang lain. Karena belum tentu
orang yang lo bela dan cinta setengah mati ikut bales perasaan lo."
Caca mendongak dengan hidung yang memerah, cewek itu mengangguk
paham "Gue salah, ini semua salah gue, gue yang bodoh karena udah
ngejar-ngejar cowok yang jelas-jelas gak suka sama gue. Gue bego, gue gak
tahu diri."
Eka ikut sedih, lalu memeluk Caca diikuti Amora dan Dinda.
"Lo gak perlu nyalahin diri sendiri, yang penting lo harus berubah.
Jangan sedih, karena ada kita di sini," ujar Eka, menyemangati.
Amora mengangguk. "Iya, yang penting sekarang lo udah sadar
kesalahan lo."
"Lo harus berubah, Ca, lo harus buktiin kalo lo cewek kuat. Lo cewek
baik, cinta itu tanpa harus memaksa dan merusak hubungan orang," lanjut
Dinda.
Caca terisak lalu mengangguk. "Iya, gue janji gue bakal berubah."
Mereka semua tersenyum lalu terkekeh pelan. "Bagus," ucap Eka puas.
25
DhetiAzmi
7. Lupakan Dia
M erubah sikap memang tidak semudah membalikkan telapak
tangan. Janji Caca kepada ketiga temannya masih ia pegang.
Caca berniat untuk benar-benar meninggalkan kegilaannya
kepada Edgar. Men-stalking Edgar secara terang-terangan. Membuang
cintanya yang selalu melukai hatinya. cinta? Entahlah, karena Caca masih
belum bisa meyakinkan itu.
Caca hanya berusaha untuk memperbaiki diri, merubah sifat bodohnya
mengenai semua tentang Edgar. Tiga bulan dia sudah bersikap seperti itu,
jika tidak ada hasil untuk apa diteruskan.
Nasihat yang diberikan Eka masih terus membekas di hati dan
pikirannya, kata-kata pedas yang menusuk itu berhasil membuat Caca
tersadar. Bahwa selama ini, dialah perusak kebahagiaan orang lain, dialah
yang merusak hatinya sendiri.
"Mau ikut ke Kafe gak?" Amora bertanya, berdiri di samping Caca yang
masih membereskan peralatan tulisnya.
Hari Jumat seperti biasa mereka akan pulang lebih awal. Caca diam,
mendengar ajakkan Amora mendadak hatinya berdenyut nyeri.
"Emang ada apaan di Kafe?" Bukan Caca yang bertanya,
melainkan Dinda.
"Katanya bakal ada hiburan, ada Band lokal manggung di sana," jawab
Amora.
Dinda mangut-mangut tanpa minat. "Coba aja yang manggung Oppa."
Amora mendengus. "Oppa terus!"
Dinda merengut. "Bodo, syirik."
Amora memutarkan kedua bola matanya malas, lalu kembali melirik ke
arah Caca. Melupakan bahwa cewek itu sedang mencoba menahan diri
untuk melupakan semua tentang Edgar.
"Gue─"
"Udah ikut aja, kalo lo move on dengan cara ngehindar, semua gak akan
berhasil," ujar Eka yang baru saja ikut bergabung memotong ucapan Caca.
Dinda mengangguk menyetujui. "Hm, lo harus bisa Ca. Katanya mau
berubah, berubah itu bukan dengan cara lo menghindari masalah itu, tapi
menghadapinya."
"Tumben lo bijak," sindir Eka.
Dinda menepuk dada bangga. "Gue gitu."
BukanStalker
Amora yang melihat raut wajah muram Caca menepuk bahu cewek itu
pelan. "Kalo lo gak bisa, lo gak perlu maksain diri."
Hanya Amora yang paham apa yang Caca rasakan. Tapi Caca
menggeleng, dia harus berani, Caca tidak boleh lemah. Anggap saja itu
sebagai pembuktian bahwa Caca bisa hidup tanpa mengganggu Edgar lagi.
"Gue ikut."
"Bagus!" Dinda dan Eka bersorak senang.
Amora menatap Caca tidak yakin. "Lo yakin?"
Caca mengangguk. "Tapi, gue gak tahu kuat atau enggak nanti. Kalian
mau terus ingetin gue kan?" tanya Caca, berharap.
Amora, Dinda dan Eka saling pandang. Tersenyum lalu mengangguk.
Caca tersenyum, semoga niat baiknya bisa terkabul. Semoga apa yang
sedang dia usahakan tidak sia-sia meski Caca tahu tidak akan mudah.
"Kafe?" Adam yang sudah berdiri diambang pintu bertanya.
Amora tersenyum lalu mengangguk, Adam melirik Caca. Cowok itu
sudah tahu apa yang terjadi dengan teman kekasihnya itu.
"Mau ke mana?" Kenan yang baru saja datang menyerobot ingin tahu.
Mereka yang ada di sana mendengus malas. "Biasa aja kali, Ken."
Ken terkekeh. "Abis tumben kumpul, mau pada ke mana?"
"Kepo lo," sembur Eka.
"Yeuh, nyolot aja lo bongsor!" balas Kenan tidak mau kalah.
Amora menggeleng melihat perkelahian dua temannya itu. "Mau ke
Kafe, Ken. Mau ikut?"
"Di traktir?" mata Kenan berbinar.
Amora gemas, menjitak belakang kepala Kenan. "Traktir mulu! Kagak,
kita ke Kafe mau lihat Band lokal dari kampus Edgar."
Kenan merengut, mengusap bagian kepala yang dijitak Amora. Cowok
itu mendengus malas. "Ogah ah kalo gitu, mendingan gue main game."
Dengan menyebalkannya Kenan berjalan mendahului setelah
mengatakan itu, semua yang ada di sana menggeram gemas melihat
tingkah Kenan. Tidak dengan Caca yang diam saja, hari ini cewek itu tidak
banyak bicara seperti biasanya.
"Yuk jalan."
**
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah ada di Kafe Edgar. Kafe
yang sangat Caca rindukan, Kafe yang kemarin berhasil membuat hatinya
terluka karena si pemilik.
Suasana terlihat ramai, suara musik sudah beralun di depan sana. Edgar
sang pemilik Kafe juga acara langsung menghampiri ketika melihat
kehadiran Adam dan teman-temannya.
"Dateng juga, Dam?"
Adam mengangguk. "Hm, gue pengen tahu konsep acara lo."
27
DhetiAzmi
Edgar terkekeh. "Biasa aja sih, tapi lumayan bikin Kafe ramai."
Adam manggut-manggut. "Udah dari tadi mulainya?"
Edgar mengangkat bahu. "Lumayan, eh? Ngapain berdiri di sini. Ikut
gue, gue udah sediain tempat duduk buat kalian."
Adam mengangguk diikuti teman-temannya. Caca yang sedari menahan
diri untuk tidak menyapa masih diam di balik tubuh Amora.
Mereka berjalan ke tempat di mana Edgar tunjukan. Ketika Caca ikut
lewat, Edgar langsung menahan tangan Caca.
"Ca, maaf, kemarin aku lupa gak anter kamu pulang. Ada acara
mendadak yang gak bisa aku tinggal," ujar Edgar tiba-tiba.
Caca tersenyum miris acara nganterin Alisa maksudnya? Kata-kata itu
hanya tersimpan di hatinya.
Caca mengangguk. "Gak apa, Caca ngerti kok. Caca nyusul anak-anak
dulu, Bang."
Caca tersenyum, melangkah meninggalkan Edgar yang mengerutkan
kening. Bingung dengan sikap Caca yang tidak heboh seperti biasanya.
Mengangkat bahu, Edgar berjalan ke arah di mana Alisa dan teman-
temannya berada.
Caca yang kini duduk satu kursi bersama Dinda, Eka dan Amora diam-
diam melirik ke arah Edgar yang tertawa bersama Alisa dan teman-
temannya. Miris, itu kata yang cocok untuk dirinya sekarang.
"Ada yang mau menyumbang lagu?"
Pertanyaan seorang vokal Band yang baru saja menyelesaikan lagunya
menggema di ruangan. Mereka saling lirik, bisik-bisik ragu.
"Ca, lo gak mau nyumbang lagu?" Dinda bertanya, menyikut tangan
Caca yang sedari tadi diam saja.
Caca mendongak dengan wajah bingung mendengar pertanyaan Dinda.
Ah, meski Caca terkenal bodoh dalam pelajaran dan juga sangat menyukai
make up. Ada nilai plus dari cewek itu. Caca bisa bernyanyi dan bermain
piano. Tidak semua orang tahu, hanya anak-anak kelas IPA 7 saja yang
tahu.
Semua berawal ketika sebuah praktik pelajaran. Caca maju dan
bernyanyi. Suaranya benar-benar merdu, mereka sempat syok ketika tahu
Caca bisa bernyanyi.
"Gue?" Caca menunjuk dirinya sendiri.
Tiga temannya mengangguk antusias, Caca meringis.
"Ogah ah."
"Ayo dong, Ca, buktiin lo gak seburuk pikiran orang," bujuk Amora.
Caca menggeleng. "Gak mau!"
"Ca─"
"Kak, Caca mau nyumbang lagu nih," ujar Eka yang meskipun tidak
mendapatkan persetujuan langsung, sembari menunjuk Caca.
BukanStalker
Caca melotot, Eka menaik-naikkan kedua alisnya. Sementara Amora
dan Dinda terkekeh geli ketika melihat Caca memberikan ekspresi kaget
dan marah kepada Eka.
Adam yang duduk bersama Juna, Ardi dan Sasa mengerutkan kening
heran. Tidak tahu jika Caca bisa bernyanyi.
Caca maju setelah MC memanggil namanya. Edgar dan yang lain melirik
ke arah panggung di mana cewek berseragam duduk di kursi yang sudah
tersedia. Caca berbisik kepada sang gitaris dan mereka yang ada di sana
mengangguk.
Caca menghela napas, memejamkan matanya ketika alunan musik
mulai terdengar. Berdebar, rasanya Caca masih tidak yakin. Apalagi ketika
melihat Edgar yang juga sedang memperhatikannya. Sakit, itulah yang Caca
rasakan.
Caca melirik ke arah teman-temannya yang mengacungkan kedua
tangannya seolah memberi semangat. Caca merengut lalu tersenyum. Caca
memutuskan menyanyikan lagu karya Hanin Dhiya yang berjudul Selalu
Ada.
Aku pun tak mengerti
Apa yang aku mau
Ada rasa yang hilang
Pergi meninggalkan ruang hatiku
Caca membuka matanya setelah menyanyikan bait itu.
Hadapi kenyataan
Kau memang bukan milikku
Namun di dalam hati
Kau terus hidup dan selalu ada
Mendadak fokus mata Caca mengarah kepada Edgar yang juga sedang
memperhatikannya. Tanpa memutuskan kontak mata, Caca terus
menyanyikan lagu yang baru dia mulai.
Aku ingin mencoba..
Untuk lupakan dia..
Agar tiada penyesalan dalam hatiku..
Mendadak kontak mata mereka terputus ketika Alisa mengajak Edgar
berbicara. Caca tersenyum pahit, lalu mengarahkan matanya ke tempat di
mana teman-temannya ada.
Hadapi kenyataan
Kau memang bukan milikku
Namun di dalam hati
Kau terus hidup dan selalu ada.
Caca memejamkan mata, mencoba mengingat kembali kenangannya
bersama Edgar. Meski Caca tahu, kenangan itu hanya dia yang memiliki.
29
DhetiAzmi
Setidaknya, untuk terakhir kalinya Caca ingin mengingat kebahagiaan itu
walau sebentar.
Aku, ingin mencoba..
Untuk lupakan dia..
Agar tiada penyesalan dalam hatiku
Biarkan semua ini
Menjadi bagian hidupku
Tiada pernah kusesali
Dalam hatiku
Suara itu berhasil menghipnotis semua pengunjung, termasuk Edgar
yang diam di tempat dan terus memperhatikan Caca.
Entah kenapa, mereka merasakan bahwa sang penyanyi begitu
meresapi lagu dan tiap kata dari liriknya.
Sampai bait terakhir, Caca mengambil napas sebanyak-banyaknya.
Tersenyum ketika tepuk tangan menggema di dalam ruangan. Bahkan sang
Vokalis yang sedari tadi bermain gitar tertegun.
"Suara kamu bagus."
Caca terkekeh malu. "Biasa aja."
"Serius, bagus banget! Aku Andra, kamu?"
Caca tersenyum, menerima uluran tangan Andra. "Caca."
Dua orang itu tersenyum ketika memuji satu sama lain. Tanpa sadar,
ada seseorang yang diam di tempatnya. Hatinya bergetar, entah untuk apa.
Rasanya ada hal yang hilang, meskipun ia tak tahu apa. Edgar, cowok itu
masih fokus memperhatikan cewek SMA yang baru saja turun dari atas
panggung.
BukanStalker
[Link] On
B erkat sumbangan lagu yang diusulkan Eka, Caca mulai dekat
dengan Andra. Cowok yang juga satu kampus dengan Edgar itu
tidak henti-hentinya memberi pesan agar Caca mau bergabung
untuk duet bersama Band-nya setelah mereka bertukar nomor kemarin.
Caca tidak lagi memperhatikan Edgar walau diam-diam dia suka melirik
ke arah cowok yang masih mengisi hatinya itu. Namun mulai sekarang,
Caca harus melupakan perasaannya meski tidak mudah.
"Lagi chat sama siapa lo?" Dinda bertanya, heran karena hari ini Caca
sibuk dengan ponselnya.
Caca menoleh, lalu menjulurkan lidahnya. "Kepo."
Dinda merengut, mengintip ponsel Caca sekilas dan menangkap satu
nama.
"Andra?" tanya Dinda.
Caca langsung menjauhkan ponselnya dari Dinda. "Gak sopan lo
ngintipin ponsel orang, bintitan baru nyaho lo!"
Dinda mendengus kesal. "Gak ada hubungannya ngintip ponsel sama
bintitan oneng."
"Ada."
Dinda mendengus, lalu kembali menyibukkan diri dengan bukunya.
Seperti biasa, jika tidak melihat Oppa, Dinda akan membuat sebuah cerita
tentang idolanya.
"Ca, pulang sekolah mau ikut ke Kafe gak?" tanya Amora,
Caca mendongak, seperti dejavu. Caca tersenyum samar. "Emang ada
acara apaan?"
Amora mengangkat bahu. "Gak ada sih, cuma main aja."
"Sendiri?"
Amora menggeleng. "Sama Adam."
Caca memutarkan kedua bola matanya malas. "Terus, lo mau jadiin gue
obat nyamuk di kencan kalian!?" balasnya ketus.
Amora terkekeh pelan. "Ya kan biasanya kalo gue mau ke Kafe, lo pasti
mau ikut walaupun cuma gue sama Adam yang ke sana."
Caca menghela napas berat, semua yang Amora katakan memang benar.
Tapi itu dulu, ketika Caca masih bertekad untuk melanjutkan prinsipnya
mendapatkan Edgar. Caca setiap hari datang ke Kafe demi bertemu dengan
Edgar dan mengganggu cowok yang tengah meracik kopi itu.
31
DhetiAzmi
"Lo mau nyindir gue ya, Mor? Lupa, gue lagi nyoba move on dari Bang
Ed?" Caca mencebikkan bibirnya, sebal.
Amora terkekeh tanpa dosa. "Maaf, maaf, kan siapa tahu aja lo mau
ikut."
"Ogah!"
Dinda yang ada di sebelahnya ikut menggoda. "Cie, yang mau move on
dari pujaan hati."
"Berisik lo berdua."
Amora dan Dinda terbahak kencang mendengar omelan Caca, lalu
mereka mengobrol, menceritakan hal-hal yang mungkin tidak penting tapi
berhasil mengundang tawa.
Caca yang masih patah hati ikut tertawa, melupakan rasa sakitnya
meski sesekali bayangan Edgar terlintas dan membuatnya lagi-lagi
menekuk wajah miris.
"Ca, pulang sekolah mau ikut ke salon gak?" Budi tiba-tiba saja ikut
bergabung.
Caca berpikir, sudah lama juga dia tidak pergi ke salon semenjak
mengejar Edgar. Astaga, pantas saja Edgar tidak meliriknya, wajahnya pasti
punya banyak noda sekarang.
Caca mengangguk. "Boleh deh."
Budi melongo, tidak percaya. "Serius? Tumben mau ikut."
Caca mendengus. "Kan barusan lo yang ajak, cabe."
Budi merengut. "Kan biasanya lo nolak dengan alasan mau bertemu
sang pangeran berapron hitam."
Caca langsung menekuk wajahnya, sementara Amora dan Dinda
terkikik geli.
"Caca lagi patah hati Bud, dia mau move on katanya," ujar Amora
memberi tahu.
Budi melotot. "Serius? Alhamdulillah akhirnya sadar juga ya,"
syukurnya.
Caca semakin kesal dan mencubit tangan Budi sampai si korban
menjerit dramatis.
“Sakit anjer!”
"Rasain."
Mengabaikan ringisan nyeri dari Budi, Amora, Dinda dan Caca tertawa
terpingkal-pingkal.
**
Hari ini Kafe kembali ramai seperti biasanya, pengunjung perempuan
seringkali menghampiri Edgar untuk melihat cara pria itu meracik kopi
untuk pelanggan.
BukanStalker
Naya ikut membantu Edgar jika sedang luang, karena Kafe mereka
masih kekurangan karyawan. Pelanggan yang setiap hari semakin ramai
membuat mereka kewalahan dengan sedikit pegawai.
Adam dan Amora benar-benar datang. Bukan Adam yang mengajaknya.
Tapi ini keinginan Amora yang merindukan Tiramisu di Kafe ini. Makanan
yang menjadi kesukaan Amora sejak Adam mengajaknya ke tempat ini
untuk pertama kalinya.
"Mau pesan apa?" seorang pelayan bertanya.
Amora tersenyum, menyebutkan pesanan yang dia inginkan. Lalu Adam
ikut menyebutkan pesanannya. Setelah pelayan mencatatnya, dia undur
diri untuk mengambil pesanan.
"Kamu yang bayarin ya."
Adam mendengus pelan, kebiasaan Amora akan menanyakan ini "Iya,
Yang, masa iya pacar sendiri gak mau bayarin."
Amora terkekeh lalu tersenyum manis.
Edgar yang sedang meracik kopi menoleh tiba-tiba ketika melihat
kehadiran Amora dan Adam. Dahinya berkerut, matanya menoleh ke sana
kemari mencari seseorang. Tapi apa yang dia cari tidak terlihat sama sekali.
"Mas Ed, kopinya."
Edgar tersadar, dia tersenyum meminta maaf dan memberikan kopi
yang di pesan cewek tadi.
Sembari kembali meracik kopi, Edgar mengedarkan pandangannya ke
setia sudut ruangan, mencari apa yang seringkali terlihat di depan mata.
Hasilnya? Sama saja, orang yang dia cari tidak ada. Sama sekali tidak
terlihat.
"Kamu kenapa, Ed?" Naya bertanya bingung, raut wajah Edgar seperti
sedang kebingungan.
Edgar menoleh lalu menggeleng dengan senyum samar. "Gak apa, cuma
aku bingung."
"Bingung?"
Edgar mengangguk. "Hm, tumben bocah itu gak ke Kafe."
Satu alis Naya terangkat. "Bocah? Maksud kamu Caca?"
Edgar mengangguk. "Hm, siapa lagi bocah yang sering ganggu aku
kerja."
Naya manggut-manggut paham, detik berikutnya Naya melirik ke arah
Edgar dengan ekspresi curiga.
"Tumben kamu nanyain Caca, biasanya kalo ada Caca muka kamu
langsung bete karena digangguin dia terus," Naya bertanya dengan nada
sedikit menyindir.
Edgar mengangkat bahu. "Emang aku sekarang kelihatan kayak
gimana? Kan aku cuma nanya."
33
DhetiAzmi
Naya masih menatap Edgar curiga. "Ya enggak gimana-gimana sih.
Cuman, bukannya bagus ya kalo Caca gak ke sini dan ngerecokin kamu
lagi?"
Edgar langsung menoleh. "Maksud, Mbak?"
Naya mengerutkan dahi, lalu senyum terukir di bibirnya. "Ya kan bagus,
kamu bisa bebas kerja tanpa ada yang gangguin. Gak ada yang nyari ribut
lagi tiap ada pelanggan cewek yang deketin kamu. Atau, gak akan ada lagi
yang gangguin kencan kamu sama Alisa."
Alisa? Ah, Edgar memang memilih mengantar Alisa pulang dan
mendengarkan penjelasan Alisa sampai melupakan janjinya dengan Caca.
Menyelesaikan kesalahpahaman yang membuat Edgar memutuskan Alisa
secara sepihak kemarin.
"Kenapa? Kangen ya?" goda Naya.
Edgar menoleh, lalu tersenyum geli. "Apaan sih, Mbak, aku cuman
tanya. Lagian tumben aja tuh bocah gak ke sini."
"Bener, bukan karena kamu ngerasa kehilangan kan, Ed?"
Edgar melirik Naya malas. "Enggak, Mbak, kalo gini kan Edgar bisa
tenang kerja."
Naya mangut-mangut, masih dengan tatapan yang memicing curiga.
Mulut boleh bicara seperti itu, tapi raut wajah Edgar terlihat tidak rela
mengatakannya. Naya peka.
"Iya, bagus deh. Akhirnya Caca mau move on juga dari kamu ya Ed.
Kasihan juga Mbak sama dia, tiap hari gangguin kamu tapi diabaikan terus.
Lagian, dia juga masih SMA. Masih bisa ketemu cowok-cowok ganteng di
luar sana," sindir Naya, melirik Edgar sebentar.
Edgar berdecak geli. "Cowok mana yang bakal tahan dia gangguin."
Ucapan Edgar berhasil membuat Naya menghentikan langkah, menoleh
lalu tersenyum geli. "Ya siapa tahu aja cowoknya yang gangguin Caca, Ed.
Caca manis kok, lucu dan gemesin. Ah, kalo Mbak punya anak cowok
sepantaran Caca udah Mbak jodohin."
Naya langsung pergi setelah mengatakan itu, membiarkan Edgar
berpikir dengan pikirannya sendiri. Pria itu terdiam, entah kenapa rasanya
Edgar tidak suka mendengar ucapan Naya.
BukanStalker
9. Coba Menikmati Hidup
C
aca benar-benar ikut dengan Budi ke salon. Tempat di mana dia
sering kali menghabiskan waktu luang bersama cowok kemayu
yang sekarang sedang ikut perawatan bersamanya.
Meski begitu, hati Caca tidak merasa nyaman. Bukan karena pijatan di
rambutnya yang sedang dibilas tidak enak. Tapi karena hatinya yang terus
saja menuju dan mengarah kepada cowok yang tidak mungkin mengingat
dirinya.
Tiga bulan ini Caca pergi ke Kafe. Mengganggu Edgar, mengambil foto
Edgar secara diam-diam. Berbicara dengan Edgar meski sering kali Edgar
mendiamkannya.
Caca menghela napas, menatap layar ponsel. Foto Edgar masih setia
menjadi wallpaper ponselnya. Caca memang sedang dalam tahap move on,
tapi hatinya tidak bisa berbohong untuk mengatakan jika dia bisa
melupakan sosok Edgar.
Budi yang ada di samping Caca mengerutkan kening, melirik sekilas ke
arah ponsel Caca. Cowok kemayu itu mendesah malas.
"Katanya mau move on, tapi masih aja lihat foto gebetan," sindir Budi.
Caca mendongak, buru-buru menyembunyikan ponselnya. "Main
ngintip aja lo, dosa tahu!"
"Gak dosa kalo buat nyadarin temen yang katanya mau move on," balas
Budi.
Caca merengut, ucapan Budi lagi-lagi membuat Caca tidak bisa berkata-
kata. Memang benar, tapi mau bagaimana lagi jika pada kenyataannya move
on itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Bud."
Budi yang sedang menikmati pijatan di kepalanya berdehem menjawab
panggilan Caca. "Hm?"
Caca diam sebentar, lalu menarik napas pelan. "Gue bisa move on gak ya
dari Bang Ed?"
Budi mendengus malas. "Kalo lo niat buat move on, lo pasti bisa. Move
on itu jangan setengah-setengah, Ca, kalo lo sanggup lo jalanin aja kayak air.
Jangan dipaksa buat langsung lupain, karena gak akan berhasil. Yang ada lo
makin gak bisa lupain dia."
Caca lagi-lagi diam mendengar penjelasan Budi, menoleh sebentar. "Lo
gini juga, buat lupain Sasa?"
35
DhetiAzmi
Ah, ingatkan cerita yang membuat kelas IPA 7 berdebat saat itu. Budi
mencintai Sasa, cewek yang sampai sekarang masih terus tidak bisa
bersahabat dengan mereka.
Budi mengedikkan bahu. "Gue gak lupain Sasa kok. Karena sampe
sekarang, gue masih suka sama dia. Hanya sekedar suka, karena gue tahu
gak akan bisa jadiin dia milik gue. Jadi gue cukup tahu diri aja, biarin semua
mengalir kayak air."
Caca mengangguk. "Kok nasib kita gini banget ya, Bud," ujarnya miris.
Budi tersenyum kecil. "Kita yang buat nasib kita jadi gini, Ca. Makanya,
mulai sekarang lo coba nikmatin hidup. Jangan ngejar hal yang gak pasti
dan buat hati lo luka cuma karena cinta."
Caca mendesah panjang. "Tapi semuanya gak mudah, Bud. Karena pada
kenyataannya gue udah terlanjur hanyut dan kasih cinta gue buat Bang Ed."
Budi yang baru saja menyelesaikan perawatannya bangkit berdiri. "Lo
yang buat semuanya jadi gak mudah, Ca. Coba deh lo cari kesibukan lain
selain mikirin Bang Edgar, gue yakin semuanya bakal lebih mudah."
Caca mendengus pelan. "Ini gue cari kesibukan main ke salon, tapi tetep
aja bayangan Bang Ed hantuin gue."
Budi memutarkan kedua bola matanya sebal. "Baru juga sehari, mana
bisa langsung lupa."
Caca bangkit, membereskan penampilannya setelah menyelesaikan
perawatan yang lumayan membuat tubuhnya rileks.
Budi menunggu Caca, setelah yakin temannya itu selesai. Budi langsung
menyeret dan menggandeng Caca untuk pergi dari sana.
"Mau ke mana?"
Budi mendelik sebal. "Katanya mau move on!? Kita habisin waktu buat
main dan lupain Bang Edgar sebentar. Lagian besok libur, biar lo besok
tepar dan tidur sepanjang hari supaya gak inget dia lagi."
"Lo pikir gue putri tidur."
Budi terkekeh. "Gak apa-apa jadi putri tidur sehari, sekalian cari cogan
di sini, Ca. Siapa tahu ada yang nyangkut dan bikin lo lupa sama Bang
Edgar."
Caca mendelik malas. "Mana ada cowok yang lebih ganteng dari Bang
Ed."
"Belain aja terus," sindir Budi.
Caca menoleh, lalu terkekeh tanpa dosa. Pasrah ketika Budi menyeret
dan membawanya entah ke mana. Sampai mereka ada di lantai dasar, tiba-
tiba saja seseorang memanggil nama Caca.
"Caca."
Caca dan Budi yang asyik menikmati es krim mereka langsung menoleh
ke belakang di mana banyak sekali orang berkumpul.
Caca terkejut melihat si pemanggil. "Kak Andra?" sahutnya kaget.
BukanStalker
Andra mendesah lega, lalu tersenyum. "Kamu ngapain di sini?"
"Ah? Aku lagi habisin waktu aja di sini, main. Kak Andra sendiri lagi
apa? Kencan ya?" tuduhnya.
Andra terkekeh ringan. "Kencan dari mana, pacar aja gak punya,"
Caca dan Budi saling pandang, menoleh menatap Andra.
"Masa sih? Kak Andra kan ganteng, gak mungkin single," ujar Budi,
memicingkan mata tidak percaya.
Caca mengangguk setuju. "Bener banget, Kak Andra playboy ya?"
Andra melotot tidak terima. "Enak aja, aku tipe cowok setia."
"Ah, masa?" tanya Caca dan Budi berbarengan.
Andra menggeleng pelan. "Terserah kalian kalo gak percaya. Kebetulan
kamu di sini, Ca, mau ya jadi vokal Band aku sebentar?"
Caca mengerutkan dahi. "Maksudnya, Kak?"
Andra menghela napas. "Jadi gini, niatnya aku mau duet sama temen
kampus buat acara di sini. Eh sayangnya dia gak bisa dateng karena ada
urusan mendadak, sementara sebentar lagi band ku dipanggil, gak lucu kan
kita batalin."
"Kan Kak Andra vokalnya, masa gak bisa nyanyi sendiri?" Caca masih
bertanya heran.
Andra menggeleng. "Gak bisa, Ca, karena di sini diutamain vokal
ceweknya. Gimana, mau kan? Please," Andra memohon.
Caca meringis, bingung. Melirik kearah Budi untuk meminta jawaban.
Budi mengangkat bahu, menyikut lengan Caca pelan "Udah terima aja."
"Tapi. . . "
"Caca mau, Kak, bawa aja sana," usul Budi tiba-tiba yang langsung
mendapatkan pelototan tajam dari Caca.
Rasanya dejavu, ini mirip ketika Eka memaksanya bernyanyi di
Kafe. Sialan emang, punya temen kok doyan menjerumuskan.
Budi melambaikan tangannya ketika Caca dibawa oleh Andra. Caca
merengut, wajahnya ditekuk karena kesal. Masalahnya dia masih
menggunakan seragam yang hanya ditutup sweater polos berwarna putih.
Sampai akhirnya Band Andra dipanggil, Caca ikut naik di atas panggung.
Duduk di kursi yang sudah disediakan acara. Andra seperti biasa akan
bermain gitar di samping Caca dengan teman-teman lain di belakangnya.
Ketika suara musik mulai berbunyi, Caca melirik ke arah Budi yang
berdiri paling depan. Dahinya berkerut ketika mata Budi yang seolah
memberi kode sembari menunjuk ke samping kirinya.
Dengan kebingungan, Caca mengikuti kemana Budi menunjuk. Dan
disanalah Caca melihat sosok Edgar. Pria itu berdiri bersama Alisa,
beberapa teman yang sempat Caca lihat di Kafe ikut hadir di sana. Kenapa
mereka bisa ada di sini? Kenapa Bang Edgar ada di sini? batin Caca.
Melupakan bahwa Edgar juga salah satu teman kampus Andra.
37
DhetiAzmi
Caca langsung membuang wajah ketika manik matanya bertemu
dengan Edgar. Jangan lihat, jangan!
"Ca," bisik Andra.
Caca tersadar, dan mulai menyanyikan lagu milik Dewa yang berjudul
Pupus.
Aku tak mengerti
Apa yang kurasa
Rindu yang tak pernah
Begitu hebatnya,
Aku mencintaimu
Lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu,
Caca memejamkan mata, mengambil napas dan mencoba menetralkan
getaran di hatinya.
Aku persembahkan
Hidupku untukmu,
Telah ku relakan
Hatiku padamu,
Namun kau masih bisu
Diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara
Dan Caca tidak bisa untuk tidak melirik ke arah Edgar yang sialnya juga
sedang menatapnya.
Baru kusadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku
Caca langsung membuang wajahnya untuk mengarah kepada penonton.
Caca mencoba menyadarkan dirinya sendiri bahwa dia sedang move on.
Semoga waktu akan mengilhami
Sisi hatimu yang beku
Semoga akan datang keajaiban
Hingga akhirnya kaupun mau
Caca melirik ke arah Andra yang tersenyum kepadanya sembari terus
memainkan gitarnya. Tanpa sadar Caca ikut tersenyum.
Aku mencintaimu
Lebih dari yang kau tau
Meski kau takkan pernah tau
Baru kusadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku
Seluruh hatiku
BukanStalker
Sampai lagu selesai dan tepuk tangan menggema, Caca kembali
menoleh karena penasaran. Dan yang membuat Caca terkejut, Edgar masih
terus memperhatikannya. Entah mungkin itu halusinasi atau memang
benar-benar nyata. Caca melihat cara pandangan Edgar kepadanya sedikit
berbeda.
Wajahnya mengeras, seperti sedang menahan amarah, tapi tatapannya
terlihat sedikit sendu.
‘Ah, mungkin cuma perasaan gue.’
39
DhetiAzmi
10. Pulang?
S etelah selesai menyanyikan lagu, Caca tidak langsung pulang. Dia
ditahan oleh Budi dan Andra yang memintanya untuk menikmati
beberapa Band yang bernyanyi di atas panggung.
Caca sudah mencoba menolak dengan alasan ia belum meminta izin
kepada Mami. Sayangnya Budi yang kenal dengan Mami Caca langsung
menelpon perempuan yang sudah melahirkan Caca itu dan meminta izin
bahwa Caca akan pulang terlambat.
Sebenarnya, Caca dapat dengan mudah saja meminta izin. Hanya saja
posisinya sedang tidak baik. Ini demi misi move on yang sudah diniatkan,
demi menyelamatkan hati yang sering kali berdenyut nyeri ketika matanya
menangkap kemesraan Edgar dengan Alisa.
Astaga, kenapa Budi tidak peka dengan situasi seperti ini. Cowok
kemayu itu malah asyik berteriak dan bernyanyi mengikuti alunan lagu
yang sedang berlangsung.
Sekali Caca berbisik, mengatakan bahwa ia tidak nyaman berada di
tempat ini karena Edgar, bisa saja dia tidak tahan dan kembali menerjang
untuk memisahkan dua pasangan yang sok manis itu.
Tapi apa yang Budi katakan?
"Kalo lo ngehindar, berarti lo gak niat move on!"
Sial! Caca jadi merasa tertantang, dia memang sedang dalam
tahap move on. Tapi jika setiap hari harus disuguhi wajah Edgar, bagaimana
bisa Caca lupa.
"Ca, kok diem aja?"
Posisi Caca yang kebetulan ada di antara Andra dan Budi mengerjap,
mendongak menatap Andra yang terlihat bingung.
"Kamu gak mood sama musiknya ya?" Andra kembali bertanya.
Caca terkejut, cewek itu langsung menggeleng. "Enggak kok, cuma aku
masih asing aja berdiri di sini."
Meskipun jawaban Caca tidak jujur, tapi apa yang dia katakan adalah
kenyataan. Caca memang tidak terbiasa berdiri di tengah kerumunan
seperti ini. Kenapa? Rasanya sesak, apalagi ketika tubuhnya harus
bertabrakan dengan orang lain. Caca risih.
Satu alis Andra terangkat. "Kamu belum pernah nonton gini?"
Caca tersenyum kikuk, kenapa juga Andra harus bertanya. "Pernah sih,
dan aku kapok. Rasanya pengap."
Andra manggut-manggut. "Mau keluar?"
BukanStalker
"Boleh?"
Andra terkekeh. "Ya boleh, siapa yang larang kamu buat keluar dari
tempat ini?"
Caca mendelik ke arah Budi. "Dia."
Andra tertawa pelan. "Udah keluar aja, kebetulan aku juga mau beli
minum."
Caca mengangguk, menyikut lengan Budi agar cowok kemayu itu
tersadar dari kegilaannya bernyanyi.
"Apa sih, Ca?" Budi terusik.
Caca memutarkan kedua bola matanya malas "Gue mau balik."
"Kok balik? Gak asyik lo ah!"
Caca mendengus. "Kak Andra juga mau balik, lo gak mau balik?"
Mendadak Budi diam, melirik Caca dengan mata yang memicing. Detik
berikutnya Budi tersenyum lalu mengangguk.
"Yaudah sana balik sama Kak Andra, gue masih mau di sini," suruh
Budi.
"Bener?"
Budi mengangguk "Iya, sana. Lumayan lo bisa pdkt sama Kak Andra.
Siapa tahu lupa sama Bang Edgar."
Caca berdecih pelan, lalu menoleh ke arah Andra untuk memberi
isyarat bahwa Budi mengizinkan. Andra mengangguk, lalu keluar dari
kerumunan bersama Caca. Ya ampun, untuk apa juga Caca harus meminta
izin kepada cowok kemayu itu.
"Mau ke mana?"
Andra kembali bertanya ketika langkahnya tidak searah dengan cewek
berseragam di sampingnya.
Dengan raut bingung Caca menjawab, "Aku mau pulang, Kak."
"Lah? Kok pulang? Gak mau beli minum dulu?"
Caca menggeleng. "Gak deh, Kak."
Andra manggut-manggut. "Terus, pulang sama siapa?"
Caca yang terusik dengan rentetan pertanyaan dari Andra menjawab
seadanya, "Naik taksi, mungkin."
"Kok mungkin? Udah tunggu di sini, aku beli minum dulu. Nanti
pulangnya aku anter."
Caca menggeleng sungkan. "Enggak usah, Kak, ngerepotin."
"Gak apa, kamu tunggu sebentar di sini. Ah, atau ikut beli minum aja?
Sekalian kita makan dulu," usul Andra lagi,
Lagi-lagi Caca menggeleng "Aduh, gak deh, Kak. Gak enak aku."
"Santai aja, anggap aja ini ucapan terima kasih aku karena kamu udah
mau jadi vokal band aku hari ini," lanjut Andra.
"Tapi . . ."
"Pulang?"
41
DhetiAzmi
Tiba-tiba seseorang menggenggam tangan Caca, menarik cewek itu.
Caca terkejut, sempat meringis ketika keningnya beradu dengan otot
tubuh orang yang baru saja menariknya. Caca hendak mengumpat,
mendongak dan syok ketika mendapati pria yang mati-matian dijauhinya.
"B─Bang Ed?" Caca tergagap.
Edgar menatap Caca sebentar dengan senyum samar, lalu menoleh ke
arah Andra.
"Dia balik bareng sama gue aja, kebetulan kita mau ke Kafe dulu," ucap
Edgar, membuat keputusan sepihak.
Caca syok, entah dia harus bereaksi seperti apa. Menangis karena
bahagia atau berjoget karena tidak percaya.
"Ah, yaudah kalo gitu," balas Andra, mengerti.
Edgar memberi senyum tipis kepada Andra, lalu merangkul Caca dan
menyeretnya dari sana. Caca? Cewek itu seolah telah kehilangan rohnya.
Rasanya melayang, kakinya seolah tidak berpijak di atas lantai.
Masih tidak percaya jika akhirnya Edgar mau mengajaknya pulang
bersama, bahkan merangkulnya seperti ini. Astaga, mimpi apa Caca
semalam.
Bahkan sampai ke parkiran di mana mobil Edgar ada, Caca masih
melongo. Bahkan ketika Edgar membukakan pintu mobil untuk Caca.
Cewek itu masih tidak sadar, mendongak menatap Edgar yang tengah
membukakan pintu mobil.
Duk!
"Aduh," Caca memekik sakit, mengusap belakang kepalanya yang
terbentur pintu mobil.
Edgar yang juga terkejut buru-buru membantu. "Astaga, makanya
jangan ngelamun."
Caca masih meringis, rasanya sakit. Sakit? Jadi, ini bukan mimpi? Ini
nyata kalo Bang Edgar sama gue!?
"Ca?"
Caca mengerjap, menoleh menatap Edgar. "Ah, ya?"
"Masih sakit?"
Caca menyentuh belakang kepalanya yang disentuh Edgar. "Ah? Enggak
kok," balasnya, malu-malu.
Edgar menggeleng perlahan. "Lagian kamu mikirin apa sampe gak bisa
lihat pintu mobil."
"Lihat wajah Bang Ed," balas Caca, cepat.
Satu alis Edgar terangkat. "Hah?"
Caca tersenyum malu lagi, melupakan niatnya yang sedang move on.
"Ya, Caca syok aja karena Bang Ed mau nganter Caca pulang pake acara
rangkul-rangkul juga," jawabnya jujur.
BukanStalker
Edgar terdiam, lalu terkekeh. Tangannya terulur menyentil kening Caca,
cewek itu memekik dramatis.
"Sakit."
"Lagian kamu mikir apa emang? Kebetulan aku mau pulang juga.
Anggap aja ini permintaan maaf dari aku yang lupa nganterin kamu
kemarin," lanjut Edgar.
Caca terdiam, kenapa rasanya Caca kesal ya? Apa lagi mengingat alasan
Edgar tidak jadi mengantarnya pulang karena Alisa. Ah, soal Alisa,
bukannya tadi Edgar sedang bersama Alisa.
"Alisa?"
"Ah? Dia ada acara sama temennya, aku gak bisa ikut karena harus balik
ke Kafe."
Caca mengangguk-angguk paham, memasang seatbelt setelah duduk
nyaman di samping kemudi.
"Anter aku ke halte deket pertigaan ya, Kak," ucap Caca tiba-tiba.
Edgar menoleh sebentar. "Kenapa? Gak mau ikut ke Kafe?"
Caca menggeleng samar. "Gak deh, udah sore. Lagian aku belum pulang
juga ke rumah, gak enak sama Mami."
Edgar mengangguk-angguk paham, dan setelah itu tidak ada
pembicaraan lagi. Caca yang biasanya akan berbicara tanpa jeda kali ini
memilih untuk membisu.
Caca sendiri tidak tahu perasaan excited barusan hilang entah ke mana
ketika mendengar alasan Edgar mengantarnya. Rasanya Caca benci, Edgar
masih bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Edgar masih sama seperti
dulu, masih tidak menganggap bahwa Caca mencintainya.
Edgar? Pria itu entah kenapa merasa tidak nyaman dengan keadaan
seperti ini. Cowok yang sangat menyukai sepi itu mendadak tidak senang
dengan suasana ini.
Ia sedikit terusik karena Caca tidak bawel seperti biasanya. Diam-diam
Edgar melirik ke arah Caca yang sedang memainkan ponselnya.
Pesan masuk yang berhasil Edgar tangkap dengan matanya mendadak
membuat hatinya kesal dan tidak tenang. Sampai Caca memekik ketika
menyadari tempat yang harusnya dituju nyaris terlewati.
"Bang, haltenya!”
43
DhetiAzmi
11. Mencoba merelakan
E dgar Benar-benar mengantarkan Caca sampai gerbang
rumahnya. Tidak mulus, karena Edgar sering kali salah arah.
Bagaimana tidak, jelas saja Edgar selalu salah karena dia sama
sekali tidak tahu alamat rumah Caca.
Caca yang awalnya minta diturunkan di Halte mendadak merelakan
Edgar yang memaksa ingin mengantarnya sampai rumah. Caca pikir Edgar
tahu alamat rumahnya, melihat entah berapa kali Edgar membawa mobil
ke arah yang salah membuat Caca yakin cowok ini tidak tahu, sampai
akhirnya Caca menunjukkan jalan ke arah rumahnya.
Entah apa yang terjadi, Edgar mendadak ingin mengantarkan Caca ke
rumahnya dengan alasan sudah hampir malam. Meski begitu, di sepanjang
perjalanan tidak ada yang memulai obrolan. Caca diam, begitu juga dengan
Edgar. Caca tidak ingin diam, hanya saja dia tidak tahu bagaimana cara
memulai obrolan dengan Edgar. Karena Caca takut, apa yang keluar dari
mulut Edgar menyakiti hatinya lagi.
"Makasih, mau mampir?" tanya Caca setelah keluar dari mobil Edgar.
Hanya dibatasi jendela mobil yang terbuka, Edgar menggeleng. "Aku
buru-buru mau ke Kafe."
Caca mengangguk saja, melambaikan tangan ketika mobil Edgar pergi
dengan membunyikan klakson sebagai tanda pamit. Sebelum pergi, Edgar
sempat melihat-lihat rumah Caca meski hanya sebentar. Hal itu membuat
kening Caca bertautan bingung.
Cewek itu menghela napas, membuka pagar rumah yang tidak terkunci.
Ia berjalan gontai melewati halaman.
"Kamu habis dari mana?"
Caca mendongak, dan mendapati Mami sedang duduk di ruang TV
dengan masker putih menempel di wajahnya. Caca mendesah, berjalan ke
arah Mami dan duduk di samping wanita paruh baya itu.
Caca tidak menjawab pertanyaan Mami, cewek itu justru memberikan
pertanyaan yang membuat Mami mengerut kening. "Mami pernah move
on nggak?"
Tidak paham, Mami menjawab, "Kamu itu ngomong apa sih nak?
Dateng-dateng nanya Mami pernah move on nggak? Sekalipun Mami move
on, mau move on dari siapa? Papi kamu?" tanya Mami dengan gerakan
terbatas karena masker yang mulai mengering.
BukanStalker
Caca mengerang. "Ya kan Mami pasti pernah muda, gak mungkin Mami
sama Papi ketemu terus langsung nikah gitu aja."
"Loh? Emang kenapa? Banyak kok yang kayak gitu," balas Mami santai.
Caca memutarkan kedua bola matanya malas. "Masalahnya, tampang
Mami gak ada tampang Siti Nurbayanya."
Mami menoleh. "Lah? Emang apa hubungannya?"
Caca mendesah gemas. "Emang Mami sama Papi dulu dijodohin?"
Mami menggeleng. "Gak lah, Mami gak suka main jodoh-jodohan."
Caca gemas, kenapa kalimatnya sulit sekali dimengerti maminya.
"Terus, waktu muda, sebelum Mami ketemu sama Papi, Mami pernah
suka sama seseorang nggak? Tapi, cinta Mami gak dibales dan Mami move
on, pernah gak?" cecar Caca tanpa jeda.
Mami menatap anaknya heran, lalu memicing curiga. "Oh, jadi kamu
kemarin ngurung diri seharian karena patah hati cintanya bertepuk
sebelah tangan?"
Bukan mendapatkan jawaban, Mami justru menyindir Caca. Mengungkit
kejadian yang membuat hatinya kesal. Caca merengut. "Mami!!!"
Mami terkekeh sembari menahan maskernya, mengelus kepala Caca
yang kini mengembungkan pipi dengan melipatkan kedua tangannya di
dada.
"Hm, Mami pernah kok ngerasain patah hati."
Caca mendongak spontan. "Mami serius?"
Mami tersenyum, lalu mengangguk. "Hm, Mami pernah ngerasain di
posisi kamu. Mencintai orang yang gak mencintai kita. Terlebih, Mami
mencintai orang yang juga sahabat Mami sendiri. Kamu tahu gak rasanya
jadi Mami? Setiap hari disuguhi kemesraan mereka di depan mata,
didengarkan curhatan asmara mereka."
Caca diam, mengangguk paham. Apa yang Mami rasakan jauh lebih
sakit daripada apa yang sedang terjadi kepadanya.
Mami tersenyum, matanya menerawang mengingat masa lalu. "Apa
yang bisa Mami lakuin selain tersenyum dan mencoba mendengarkan
cerita dan keluhannya soal pacarnya."
Caca merengut. "Kenapa Mami gak bilang aja kalo Mami cinta dia?
Terus, rebut dia dari pacarnya."
Mami terkekeh lalu menggeleng. "Apa dengan Mami bilang cinta
semuanya bakal beres? Gak nak, karena semuanya akan semakin
mempersulit keadaan. Mami bukan hanya menyakiti pacarnya, tapi bisa
saja Mami juga meregangkan persahabatan itu."
Caca mengangguk setuju. "Terus, setelah itu?"
"Mami mencoba merelakan, karena pada kenyataannya cinta itu gak
bisa dipaksakan, Sayang. Tapi, Mami bersyukur, karena setelah itu Mami
bertemu dengan Papi kamu. Pria baik yang sering kali buat Mami gemes
45
DhetiAzmi
karena wajah datarnya. Setiap kali mami cerita, Papi kamu selalu diam."
lanjut Mami, kesal.
Caca terkekeh, setuju dengan ucapan Maminya. Papi Caca itu
tipe Hot Daddy yang menakutkan. Auranya mencekam, selalu menjawab
pertanyaan, merespons sesuatu dengan singkat dan jelas. Tapi, Papinya
punya sisi hangat dan romantis jika sudah menyangkut Mami dan
keluarganya.
Mami menoleh ke arah Caca. "Kamu lagi patah hati sama si Ed-Ed itu
ya?"
Caca mengerjap. "Kok Mami tahu?"
Mami mendelik. "Kan kamu yang teriak-teriak di kamar nyebut-nyebut
nama Ed itu."
Caca ber oh dan mengangguk-angguk, sebelum tangan Mami
menggenggam tangan Caca "Jangan memaksakan perasaan, Nak. Karena
Mami tahu bagaimana rasa sakitnya, cinta itu gak bisa dipaksakan.
Sekalipun kamu berteriak bilang cinta, kalo dia gak punya perasaan yang
sama, hasilnya akan tetap sama juga."
Caca menunduk. "Caca paham, Mi. Makanya sekarang Caca lagi
belajar move on, buat lupain dia."
Mami tersenyum. "Move on itu bukan cara kamu lupain dia, Sayang.
Tapi relain dia, relain dia sama pilihannya. Dan kamu belajar untuk gak
berporos disekelilingnya, sekali-kali kamu harus lihat di sekeliling kamu
juga. Karena dengan itu, semuanya akan berjalan seadanya. Lambat laun,
kamu bisa menerima dan lupa."
Caca mengangguk, mendongak lalu memeluk Maminya. “Makasih Mami,
Caca sayang Mami."
Mami terkekeh dan membalas pelukan Caca. Tidak lama suara
seseorang membuat pelukan keduanya terlepas.
"Ada gosip apa?"
Caca menoleh, membelalak mendapati seorang cowok yang tengah
berdiri dengan kaus santai. "Bang Ge!" teriaknya.
Gerlan namanya, kakak kandung Caca. Cowok itu tersenyum. “Halo
Baby."
Caca langsung turun dari atas sofa, berlari ke arah cowok itu dan
menabraknya. Memeluk erat membuat Gerlan terkekeh, mengangkat tubuh
Caca dan menggendongnya seperti koala.
Ah, jangan lupakan jika Caca punya satu kakak laki-laki yang sedang
kuliah di Singapura. Pria tampan yang selalu memanjakan Caca itu, begitu
menyayangi adik satu-satunya. Jadi, jangan heran jika sekarang Caca
bertingkah seperti anak kecil walau umurnya sudah tidak layak untuk
bersikap seperti itu.
"Bang Ge kapan pulang?"
BukanStalker
Gerlan menggeleng gemas. "Sore tadi kan Bang Ge chat kamu, tapi cuma
di read doang. Jahat, kamu udah lupa sama Abang mu ini?"
Caca diam, lalu berpikir sebentar. Ah, dia lupa jika tadi sedang ada di
dalam mobil Edgar. Caca menoleh ke arah Gerlan lalu terkekeh. "Maaf,
Bang, Caca sibuk."
Gerlan berdecih. "Sibuk ngapain? Nyalon?"
Caca cengengesan, turun dari atas gendongan Gerlan.
"Bang Ge udah sampe dari tadi?"
Gerlan mengangguk. "Udah dari siang, terus tidur karena capek."
Caca mengangguk, lalu kembali memeluk Gerlan. "Caca kangen sama
Bang Ge.”
"Sama, Bang Ge juga kangen sama kamu, baby Caca."
Mami yang melihat keakuran anak-anaknya tersenyum. Ah, betapa
bersyukur dia memiliki dua anak seperti mereka.
"Ini kan satnight, kamu gak mau ngajakin Bang Ge keluar gitu? Jalan-
jalan sekalian buat ngisi liburan," ucap Gerlan tiba-tiba.
Caca terdiam, berpikir sebentar. Mendadak wajahnya ceria.
"Gimana kalo kita ke Kafe aja, Bang, disana cake-nya enak-enak!"
Satu alis Gerlan terangkat. "Seriously?"
Caca mengangguk semangat. "Beneran!"
Gerlan manggut-manggut. "Oke, Bang Ge mandi dulu."
Caca mengangguk semangat, dan dia melupakan satu hal. Kafe yang
dikunjungi nanti adalah Kafe milik Edgar. Cowok yang belakangan ini
mengganggu hatinya.
47
DhetiAzmi
12. Jangan Kejar Orang Lain
C aca benar-benar tidak sadar tujuannya membawa Gerlan.
Sepanjang perjalanan menuju Kafe, Caca melupakan sosok cowok
yang belakangan ini membuat hatinya merana. Kehadiran Gerlan
yang sudah lama tidak bersamanya untuk sementara menghapus sosok
Edgar dari pikirannya.
Bukannya tidak ada tujuan lain, mungkin itu hanya ucapan refleks saja
ketika Gerlan meminta untuk ditemani keluar. Karena pada kenyataannya,
memang Kafe Edgar lah yang selama tiga bulan ini selalu Caca kunjungi.
Caca sampai lupa, banyak tempat yang lebih menarik daripada duduk
sembari memakan cake di Kafe.
"Ini tempatnya?" Gerlan bertanya ketika mobil yang dia bawa berhenti
di sebuah Kafe yang sudah sangat ramai.
Caca mengangguk semangat. "Iya, yuk masuk!"
Gerlan tersenyum lalu mengangguk, keluar dari mobil berbarengan
dengan Caca di sebelahnya. Melangkah masuk beriringan, sifat manja Caca
semakin terlihat kentara. Caca masuk sambil menggandeng sebelah tangan
Gerlan.
Ketika kakinya sampai di depan pintu Kafe, Caca tertegun. Matanya
langsung menangkap sosok pria yang sibuk di meja barista tengah
membuat kopi sembari memasang senyum ke arah beberapa cewek yang
memperhatikannya membuat kopi.
Caca meringis, ia baru tersadar kalau dirinya salah masuk tempat.
Bukan karena Kopi yang tidak bisa diminumnya., tetapi karena Kafe ini
milik pria yang mati-matian dia jauhi di dalam pikiran juga hatinya.
Gerlan yang berdiri diambang pintu bersama Caca mengerutkan kening,
menunduk menatap adiknya. "Kenapa? Gak jadi masuk?"
Caca mengerjap, tersadar dari lamunannya. Ck, apa boleh buat? Ia sudah
terlanjur sampai di tempat ini. Lagi pula, Gerlan belum pernah mencicipi
kopi dan cake di Kafe ini. Sekelebat ucapan Budi kembali terdengar.
Kalo lo ngehindar, berarti lo gak niat move on!
Caca menghela napas, batinnya sedang berdebat sekarang.
"Baby, jadi masuk atau cari tempat lain? Lagian kayaknya ramai banget
di sini," Gerlan kembali melemparkan pertanyaan.
Caca langsung menggeleng kencang. "Gak usah, kita udah jauh-jauh ke
sini. Kalo nyari lagi, lama di jalan. Ini malam minggu, semua tempat pasti
ramai," balas Caca malas.
BukanStalker
Gerlan mengangguk saja, matanya kembali menengadah ke sekeliling.
"Tapi tempatnya ramai, kita mau duduk di mana?"
Caca ikut mengedarkan pandangannya ke sekeliling Kafe. Matanya
berbinar ketika mendapati kursi kosong. Meski kursi itu berada di pojok,
dan sangat jauh ke tempat di mana Edgar berdiri. Caca tidak peduli, dengan
ini dia bisa belajar menghindari Edgar.
"Ada, yuk."
Caca langsung menyeret tangan Gerlan, masuk ke dalam Kafe dan
duduk di tempat yang masih tersedia. Tempat duduk di pojok dekat jendela
itu cukup nyaman untuk melihat pemandangan malam.
Setelah duduk, Caca langsung membuka menu.
"Bang Ge, mau pesan apa?"
Gerlan mendengus lalu mencubit hidung Caca. "Gayanya kayak yang
mau bayarin aja."
Caca cengengesan. "Aku baik loh, Bang, nawarin. Kalo masalah bayar,
masa iya nyuruh adeknya yang bayar."
"Sekali-kali dong, masa Bang Ge terus yang jajanin kamu."
Caca menggeleng kencang. "Gak! Lagian, uang jajan yang di kasih Mami
gedean punya bang Gerlan daripada Caca."
Gerlan lagi-lagi mendengus. "Karena Bang Gerlan hidup mandiri di
negri orang. Nah kamu, enak satu rumah sama Mami."
"Tapi Mami kasihnya gak banyak."
Gerlan kembali mencubit hidung Caca. "Bisanya nyalahin Mami, kamu
aja yang boros."
"Sakit, Bang."
Gerlan terkekeh, masih mencubit hidung Caca. "Biarin, biar hidung
kamu makin mancung."
"Bang Gerlan!" rajuk Caca, kesal.
Gerlan tertawa, lalu suara seseorang berhasil membuat keduanya
mendongak.
"Mau pesan apa?"
Gerlan menaikkan satu alisnya menatap pria yang berdiri di samping
meja dengan apron hitam di tubuhnya. Sementara Caca membelalak, syok
melihat siapa yang sedang menanyakan pesanan.
Untuk pertama kalinya, Edgar turun menanyakan pesanan kepada
pelanggan. Karena biasanya yang menanyakan pesanan adalah pegawai
lain atau Naya.
"Pegawai di sini?" Gerlan bertanya kepada Caca.
Caca bingung, posisinya benar-benar tidak bagus sekarang. "Ah? Anu . . .
itu . . ."
"Mau pesan apa? Mohon untuk segera pesan karena pelanggan lain
menunggu."
49
DhetiAzmi
Gerlan yang memang tidak peduli, mengangguk saja. Ia mulai membuka
buku menu dan memilih apa yang ingin dia coba. Sementara Caca
menunduk di tempatnya, tidak berani mendongak melihat wajah Edgar.
"Saya pesan Americano sama cheesecake. Baby, mau pesan apa?"
Caca langsung mendongak ke arah Gerlan, tangannya meremas celana
jeans yang digunakan.
"Umh, anu . . . samain sama Bang Ge aja," cicit Caca.
Edgar masih setia berdiri, menatap keduanya dengan wajah datar.
"Kamu serius? Emang bisa minum kopi?"
Ah?
Caca tersadar lalu meringis. Gerlan yang bingung dengan sifat diam
adiknya menggeleng, mendongak ke arah Edgar.
"Ditambah susu cokelat sama Red Velvet ya, Mas," lanjut Gerlan
akhirnya.
Edgar menulis tanpa minat, berdehem dan langsung meninggalkan
meja mereka. Gerlan bingung, lalu berbisik ke arah Caca yang sedang
menghela napas lega.
"Dek, dia orangnya dingin gitu ya? Bang Ge takut banget lihatnya," ujar
Gerlan, merinding dengan sikap dingin Edgar barusan.
Caca tersenyum kaku, bingung harus menjawab apa. Karena biasanya
Edgar akan sopan kepada pelanggan. Caca mendesah, ini pasti karena
kehadiran Caca yang mengganggu Edgar. Edgar pasti muak melihat dirinya
yang terus-terusan masuk ke Kafe.
"Baby?"
Caca mengerjap, langsung beranjak dari duduknya. "Caca mau ke toilet
bentar ya, Bang, kebelet," ujarnya berbohong.
Gerlan mendesah, lalu mengangguk. Membiarkan Caca pergi. Tentu saja
bukan karena dia kebelet, tapi Caca mencoba menghindari dari pertanyaan
Gerlan. Caca takut, Gerlan akan tahu bahwa dia ada sesuatu dengan Edgar.
Caca menghela napas lega setelah mencuci tangannya. Keluar dari toilet
sembari melihat jam di tangannya. Berjalan untuk kembali ke tempat di
mana Gerlan ada, tapi langkahnya mendadak terhenti ketika ia mendengar
seseorang berbicara.
"Pacar kamu?"
Caca langsung membalikkan tubuhnya, terkejut melihat Edgar yang
sedang bersandar di tembok pintu masuk.
"Bang Ed, ngapain di situ?"
Edgar menaikkan satu alisnya. "Ini Kafe aku."
Suara dingin itu berhasil membuat Caca mematung sebentar, kemudian
memaksakan diri untuk tersenyum meskipun dengan jelas Edgar
melemparkan kebencian kepadanya.
"Ah? Maaf."
BukanStalker
Edgar diam saja, mendekat ke arah Caca. "Jadi itu alasan kamu nolak
aku anter pulang tadi?"
Satu alis Caca terangkat, tidak paham. Bukannya tadi dia pulang di antar
Edgar, apa tadi yang mengantarnya hantu kembaran Edgar? Caca
menggeleng kencang, mana ada! Mengerjap, Caca ingat jika tadi sempat
minta di antar di halte.
"Ah? Caca gak paham maksud Bang Ed. Caca duluan, Bang, gak enak
Bang Ge nunggu."
Caca buru-buru pamit, dia tidak ingin kembali terbawa suasana. Ia tidak
ingin hatinya kembali tersakiti karena ucapan Edgar. Sayangnya, niatnya
tidak semulus itu ketika Edgar menarik tangan Caca untuk mendekat.
Caca syok, melotot ketika wajahnya berhadapan dengan wajah Edgar.
Mata tajam itu begitu menusuk, hati Caca berdebar takut dan ia merasa
amat terkejut. Sampai bisikkan di telinganya berhasil membuat Caca
membisu.
"Jangan pernah berani ngejar orang lain."
51
DhetiAzmi
13. Baby Manja
C aca duduk kembali ke tempatnya, bingung sedang melandanya
sekarang. Tidak paham apa yang dimaksud Edgar. Jangan pernah
mengejar orang lain? Apa maksudnya itu?!
"Dek, kamu kenapa?" tegur Gerlan yang heran dengan sikap diam
mendadak adiknya.
Caca mendongak, lalu tersenyum sembari mengibaskan tangannya di
udara. "Gak ada."
Gerlan menatap Caca penuh selidik. "Wajah kamu gak bisa bohongin
Bang Ge loh, baby."
Caca menelan ludah. "Bener. Gak ada apa-apa."
Gerlan mendesah, pasrah ketika Caca tidak mau mengatakan apa pun.
"Oke, tapi kalo ada apa-apa bilang Bang Gerlan ya."
Caca mendongak, tersenyum lalu mengangguk. Gerlan ikut tersenyum,
mengusap gemas rambut adiknya yang kini duduk di sampingnya.
Seseorang yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Caca dan Gerlan
menggeram, bahkan dia mengabaikan panggilan dari seorang wanita di
sampingnya.
"Hey!"
Cowok itu terperanjat kaget ketika seseorang menepuk bahunya
dengan cukup keras. Ia menoleh lalu berdecak kesal kepada si pelaku yang
menepuk bahunya.
"Ck, apaan sih, Mbak," Edgar menggeram tertahan.
Naya yang sedari tadi memanggil Edgar tapi tidak mendapatkan
respons mendengus sebal mendapat balasan ketus adiknya. "Astaga anak
ini, Mbak panggil kamu berkali-kali tapi gak ada sahutan."
Edgar mendesah, kembali fokus meracik kopinya. "Ada apaan?" tanya
Edgar, ketus.
Satu alis Naya terangkat, bingung dengan sikap Edgar yang mendadak
ketus seperti itu. Tidak mau ambil pusing, Naya kembali menanyakan apa
yang tadi menggantung. "Kopinya udah jadi belum? Pelanggan udah
nungguin tuh. Tumben banget bikin satu kopi aja kamu lama.”
"Iya, ini sebentar lagi selesai."
Tidak lama kemudian Edgar memberikan secangkir kopi ke hadapan
Naya. Naya melirik tajam, mengambil secangkir kopi yang diberikan Edgar
dan bergegas membawanya ke tempat pemesan.
BukanStalker
Memejamkan mata, Edgar menggeleng cepat. Mencoba memfokuskan
diri ke dalam pekerjaannya. Astaga, kenapa dia harus peduli dengan dua
orang di sana? Kenapa juga Edgar tidak terima dengan sikap sok akrab yang
dilakukan cowok itu kepada Caca.
Cemburu?
Edgar kembali menggeleng, tidak. Dia tidak cemburu. Hanya saja dia
sedikit cemas. Bagaimana jika cowok yang bersama Caca itu orang jahat?
Memanfaatkan Caca yang notabene anak SMA yang masih polos dan bodoh?
Iya, dia hanya sedikit cemas saja. Takut Caca mencari pelarian karena lelah
dengan penolakan yang dilakukan Edgar.
"Mas, Vanilla Latte-nya sudah jadi?"
Edgar mengerjap lalu mendongak. "Ah? Sebentar ya," balas Edgar
tersenyum ramah.
Cewek yang bertanya barusan ikut tersenyum, mengangguk dan
memperhatikan Edgar yang kembali meracik kopi.
Sementara Caca yang baru saja menerima pesanannya tersenyum
penuh semangat, Gerlan yang melihat respons adiknya terkekeh geli.
"Cie, pacar baru ya?" pertanyaan seseorang berhasil membuat
keduanya mendongak.
"Mbak Naya!" Caca terkejut, tidak sadar yang membawa pesanannya
adalah Naya.
Naya terkekeh pelan. "Kaget banget, mentang-mentang udah punya
pacar baru, sekarang kamu jarang ke sini ya. Sampe Mbak Naya aja nggak
kelihatan."
Caca mengerjap, keningnya mengerut mendengar ucapan Naya.
"Maksudnya, Mbak?"
Naya ikut bingung, lalu melirik Gerlan yang memperhatikan interaksi
Caca dan Naya. "Ini pacar kamu kan?" Naya menunjuk ke arah Gerlan.
Caca melirik Gerlan lalu tertawa. "Apaan deh, Mbak, bukan. Ini abang
Caca."
"Abang?"
Caca mengangguk. "Iya, Caca kan pernah bilang kalo Caca punya abang
yang kuliah di Singapura. Ini dia lagi pulang liburan."
Naya diam sebentar, mengingat-ingat ucapan Caca. Setelah ingat, Naya
menepuk dahinya pelan.
"Oh, Mbak kira pacar kamu. Habis beda banget, abang kamu ganteng
sementara adiknya kayak─"
Caca merengut sebal mendengar godaan Naya yang menggantung.
Melihat respons itu, baik Gerlan dan Naya tertawa. Edgar yang diam-diam
melirik ketiga orang yang sedang tertawa akrab dengan ekor matanya
berdecak, lalu kembali meracik kopi.
"Yaudah Mbak tinggal dulu ya, selamat menikmati."
53
DhetiAzmi
Caca dan Gerlan mengangguk, mengucapkan kata terima kasih kepada
Naya yang dibalas dengan senyum kecilnya.
"Kamu sering ke sini?" tanya Gerlan di sela-sela mencicipi Americano
pesanannya.
Caca mengangguk. "Hm, soalnya ini Kafe punya sepupu temen sekolah
Caca."
Gerlan mengangguk-angguk mengerti, kembali melanjutkan makannya.
Begitu juga dengan Caca yang asyik menikmati red velvet kesukaannya.
"Gerlan?"
Gerlan menoleh ke belakang, Caca ikut mendongak. Gerlan yang tadinya
bingung, langsung melotot.
"Oi, Dra."
Pria yang dipanggil tersenyum, menghampiri Gerlan lalu memeluknya
bak teman lama. Caca yang masih bingung menaikkan satu alisnya,
pasalnya pria yang akrab dengan Abangnya itu adalah Andra.
"Anjir ternyata bener lo. Udah berapa abad kita nggak ketemu," ujar
Andra bertos ria dengan Gerlan.
Gerlan terkekeh. "Ah, berlebihan lo."
Andra manggut-manggut. "Sama siapa ke sini?"
Andra yang tidak menyadari keberadaan Caca bertanya, Gerlan
menunjuk cewek yang sedang merengut duduk di sampingnya dengan
dagu.
"Noh, adek gue."
Andra refleks menoleh, terkejut mendapati siapa yang duduk di sana.
"Caca."
"Apa!? Baru kelihatan, hah?" tanya Caca sebal, tidak terima ketika
Andra tidak melihat keberadaannya di sekitar Gerlan.
Astaga, apa tubuh Caca sekecil itu sampai tidak terlihat? Apa itu juga
alasan Edgar tidak pernah meliriknya karena Caca memang tak terlihat?
Andra terkekeh, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat wajah
kesal Caca. Detik berikutnya pria itu mengerjap, melirik Gerlan dengan
dramatis.
"Adik lo? Baby Manja?"
Gerlan mengangguk setelah menyesap kopinya "Hm, siapa lagi? Adik
gue cuma satu."
Andra syok, menatap Caca tidak percaya. Tentu saja tidak percaya, jika
selama ini Caca adalah adik dari temannya, Gerlan. Anak yang dulu ketika
duduk di kursi SD itu selalu merengek ketika keinginannya belum
terpenuhi.
Gadis kecil manja yang sering Gerlan panggil Baby itu begitu lengket
dengan Andra dulu. Ketika Andra main ke rumah Gerlan, Caca akan
BukanStalker
langsung lengket Andra. Alasannya sederhana, Andra selalu menuruti
kemauan Caca ketika Gerlan tidak bisa mengabulkannya.
"Astaga." Andra masih tidak percaya.
Caca yang bingung mengerutkan keningnya. "Ada apaan sih? Kalian kok
bisa saling kenal? Terus, kenapa wajah Kak Andra kaget gitu lihat aku
kayak lihat hantu."
Gerlan dan Andra saling pandang, tidak lama tawa mereka pun
meledak. Caca semakin kebingungan, ia terheran kenapa dua orang itu
tertawa tanpa alasan.
Gerlan menghentikan tawanya ketika mendapati wajah kesal Caca. "Ca,
kamu bener gak inget sama dia?"
Caca melirik ke arah Andra yang masih terkekeh. "Dia? Kak Andra,"
jawab Caca, seadanya.
"Tahu dia siapa?"
Caca menggeleng, pada kenyataannya memang tidak tahu. Andra
sendiri sudah duduk di kursi kosong sebelah Caca.
Gerlan menghela napas. "Ini Andra, temen Bang Ge waktu jaman SMP.
Masa kamu lupa? Dulu kamu lengket banget sama Andra, sampe nangis
waktu Andra pamit pulang."
Caca terdiam, kerutan di dahinya semakin dalam seolah sedang berpikir
keras. Mengingat kembali tahun itu, detik berikutnya kedua bola matanya
membulat dengan sempurna.
"Jadi...." Caca menatap Andra syok, tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Andra yang melihat ekspresi Caca gemas, langsung menarik kedua pipi
Caca. "Apa? Teganya gak inget sama aku. Padahal dulu ke mana-mana
minta dianter, udah gede lupa."
"Aduh, aduh," Caca mengaduh kesakitan, mencoba melepaskan tangan
Andra dari pipinya tapi gagal.
"Mana Caca tahu, lagian dulu Kak Andra rambutnya item. Sekarang jadi
ada blonde-blondenya kayak bule," kata Caca membela diri.
Andra semakin mencubit pipi Caca. "Alasan, bilang aja nggak ingat,"
"Ih! Serius!"
Caca memekik dengan kedua bibirnya dimanyunkan, membuat Andra
semakin gemas. Sudah lama dia tidak bertemu dengan si Manja ini.
Mungkin hampir 8 tahun. Saking gemasnya, Andra langsung memeluk Caca
dengan erat.
"Aduh, sesak," Caca mengaduh, sementara Gerlan tertawa melihatnya.
Andra tidak peduli, dia terus memeluk Caca. Caca yang tadinya
mengaduh kini tertawa bersama Andra dan Gerlan.
Diam-diam seseorang yang sedari tadi memperhatikan, menatap kesal
tiga orang yang kini sedang tertawa. Edgar mengeratkan rahangnya entah
55
DhetiAzmi
untuk alasan apa. Udara di dalam Kafe mendadak panas walau sudah
difasilitasi dengan AC.
BukanStalker
14. Makasih
D etik demi detik sudah berlalu, jarum jam sudah berpindah dari
posisi awalnya dan akan terus berjalan sampai dayanya habis.
Caca, Gerlan dan Andra masih asyik bercengkrama di kursi.
Bahkan suasana Kafe yang semakin malam bukan sepi malah semakin
ramai.
Sudah setengah jam mereka di sana, cake yang dipesan sudah tandas
selain krim-krim sisa yang menempel di atas piring kecil.
"Bang, Caca mau ke belakang sebentar. Cuci tangan. Lengket," ujar Caca,
meminta izin. Memperlihatkan jarinya yang berlepotan krim.
Hal itu sudah menjadi hobi Caca ketika memakan cake. Cewek itu tidak
akan langsung memotongnya dengan sendok, tapi mencolek krim terlebih
dahulu lalu dan mencicipinya.
Gerlan mengangguk. "Jangan lama-lama, kita mau jalan-jalan lagi,"
ingatnya.
Caca mengangguk patuh, kemudian melangkah pergi meninggalkan dua
cowok yang kembali bercengkrama menceritakan masa lalu mereka.
Sesampainya di toilet, Caca harus menunggu terlebih dahulu karena ada
beberapa orang yang sedang menggunakannya. Setelah mereka pergi, Caca
masuk dan membasuh tangannya. Gadis itu menatap dirinya di cermin
sebentar, lalu mengambil tisu untuk menyeka air yang membasahi kedua
tangannya.
"Eh? Anak SMA itu masih ngintilin Edgar ya."
Suara seseorang dibalik bilik toilet terdengar, orang itu sedang
berbicara bersama cewek yang sedang bersebelahan dengan Caca, Caca
menghentikan gerakannya untuk mendengar pertanyaan itu.
"Gak tahu gue, tapi bagus deh kalo gak deketin lagi. Muak gue sama itu
bocah," balasnya, sebal.
"Loh? Bukannya dia adik Edgar?"
"Bukan, Edgar gak punya adik. Dia cuma punya Kakak cewek yang
sering ikut bantu di sini juga," balasnya cuek, memainkan ponsel tanpa
melihat bahwa cewek yang sedang mereka obrolkan berada di sana.
"Hah? Terus, kemarin kok Edgar bilang adiknya?" pertanyaan kembali
terdengar menusuk indra Caca.
Caca ingin keluar, tapi kakinya mendadak terasa berat. Entah kenapa
telinganya ingin terus mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan soal
dirinya.
57
DhetiAzmi
"Yaela, lo bego banget sih! Edgar ngelakuin itu demi Kafenya. Gue yakin,
bocah itu bakal buat keributan kalo gak dilerai. Gue udah denger, tuh bocah
ngejar-ngejar Edgar sampe ribut sama pelanggan cewek yang deketin
Edgar. Sampe pacarnya Alisa aja ikutan bete. Cuma kayaknya dipendem aja.
Tahu sendiri Alisa baiknya kayak gimana," jelasnya, tanpa mengalihkan
matanya di layar ponsel.
"Astaga, jadi anak SMA kemarin yang lagi rame itu─jadi dia yang ngejar-
ngejar Edgar sampe gak tahu malunya gangguin hubungan Edgar sama
Alisa?" tanyanya, tidak percaya.
"Hm, bukan gak tahu malu. Tapi muka tembok, udah ditolak masih aja
ngejar. Dan gilanya, dia nekat buat terus deketin Edgar padahal Edgar
udah jelas punya pacar."
Caca mencengkram ujung bajunya. Lalu apa bedanya dengan mereka
yang genit dan menggoda Edgar? Tidak tahan, cewek itu langsung keluar
dari toilet dalam keadaan tertunduk. Rasanya panas, ngilu di dalam hatinya
semakin membelit dan berakhir dengan rasa sakit.
Segitu buruknya Caca dulu? Memang, Caca sadar dia tidak tahu malu.
Tapi Caca terang-terangan, tidak main belakang dan melakukan hal licik.
Dan melupakan jika hal itu akan membuat banyak orang memandang
rendah dirinya. Tanpa sadar air mata menetes di kedua pipinya, Caca buru-
buru mengusapnya.
Buru-buru ia pergi dari tempat mengerikan ini. Namun, langkahnya
terhenti ketika tanpa sengaja dia bertemu dengan Naya yang tampak
sedang kesulitan.
Caca penasaran. Setelah menghapus air matanya, ia berjalan mendekati
cewek itu. "Ada apa, Mbak?"
Naya terkejut, membalikkan tubuhnya. "Astaga, Ca, ngagetin aja."
Kedua alis Caca saling bertaut. "Kenapa? Kok kayak panik gitu?"
tanyanya, heran.
Naya mengangguk. "Iya, Kafe makin lama makin ramai. Mana satu
pegawai shift malam gak bisa masuk karena kecelakaan. Mbak kewalahan."
Caca terdiam sebentar, iba melihat raut wajah Naya. Menarik napas,
Caca tersenyum. "Caca bisa bantu kok, Mbak Naya. Kan Caca udah sering
bantuin di sini, jadi gak usah cemas."
Naya terkejut, menatap Caca tidak percaya. Memang, Caca sering kali
membantu di Kafe walau dengan alasan Edgar. Tapi sekarang?
"Tapi kamu kan lagi sama Abang kamu."
Caca menggeleng pelan. "Gampang, Caca bilang dulu. Kayaknya Bang
Gerlan juga mau pergi sama Kak Andra. Mbak Naya tunggu di sini sebentar,
Caca izin dulu."
Naya mengangguk sungkan, walau tidak enak. Tapi ini genting, dia tidak
bisa menolak.
BukanStalker
Caca sudah ada di meja di mana Gerlan dan Andra masih asyik
berbincang.
"Bang."
Gerlan mendongak. "Udah?"
Caca mengangguk, pelan. Gerlan Lalu beranjak dari atas duduknya
diikuti Andra. "Yaudah yuk."
"Bang."
Gerlan yang bersiap hendak pergi menghentikan gerakannya.
"Ada apa?"
Caca meringis pelan. "Bang Ge mainnya sama Kak Andra aja ya. Caca
gak bisa ikut kayaknya."
Satu alis Gerlan terangkat. "Kenapa?"
Astaga, bagaimana Caca mengatakannya? Jika dia izin membantu jadi
pelayan Kafe, Gerlan pasti tidak mengizinkannya.
"Ada temen aku mau ke kesini, kayaknya aku mau di sini dulu. Gak apa-
apa kan, Bang?" bohong Caca, berharap alasannya diterima.
Gerlan menatap Caca serius, mau tidak mau Caca menunduk takut-
takut. Gerlan memang baik, tapi jika sudah marah, pria itu lebih
mengerikan daripada Papinya.
Menghela napas berat, Gerlan menjawab, "Yaudah, kalo mau pulang
telepon, nanti Bang Ge jemput."
Caca mendongak, senyumnya mengembang. Mengangguk cepat,
rasanya lega sekali.
"Siap Bos!"
Gerlan tersenyum, lalu melangkah pergi. Andra yang sedari tadi diam
mengusap pucuk rambut Caca. "Jangan nakal ya, Baby Manja."
"Ish!" balas Caca, sebal yang diakhiri gelak tawa Andra. Pria itu
menyusul Gerlan.
Caca tersenyum, buru-buru melangkah ke belakang. Di mana Naya
sedang menunggunya dengan raut wajah panik.
"Gimana?"
Caca diam, lalu tersenyum. "Beres!"
Naya bernapas lega, buru-buru memberikan apron kepada Caca. Caca
tersenyum ketika Naya memakaikannya.
"Siap?"
"Siap!"
Dua orang itu terkekeh sembari mengepalkan kedua tangan mereka ke
udara seolah saling memberi semangat satu sama lain. Berjalan keluar dan
berpencar untuk melakukan tugasnya masing-masing.
Naya menuju showcase kue, sementara Caca berjalan ke meja pelanggan
untuk mencatatkan pesanan. Pegawai lain sama sibuknya, bahkan terlihat
dari raut wajah mereka yang kelelahan.
59
DhetiAzmi
"Mbak, Tiramisu dua, Vanilla cake satu sama cokelat cake satu," Caca
membacakan pesanan kepada Naya yang mengangguk paham dan mulai
menyiapkan apa yang Caca minta.
"Ca, kamu anterin dulu pesanan ini ke nomor 11 ya. Ambil Coffee sama
Vanilla Latte-nya di Edgar," pinta Naya, memberikan nampan
berisi cake yang sudah ditata rapi.
Mendengar nama Edgar, hatinya kembali berdenyut. Menggeleng, ia
membisikkan dalam hati untuk menyemangati diri sendiri, move on Ca!
Semangat!
Setelah itu Caca berjalan ke tempat di mana Edgar sedang meracik kopi.
Bahkan ada beberapa wanita di depan sana sedang memperhatikan cowok
itu.
"Bang, Coffee sama Vanilla Latte-nya udah jadi?"
Edgar yang fokus meracik kopi mendadak terkejut mendengar suara
familier yang sedari tadi mengganggunya, menoleh dan syok mendapati
Caca sudah berdiri di sampingnya.
"Kamu─ngapain di sini?"
Caca menghela napas, mencoba menahan sikapnya. Kenapa Edgar
begitu terkejut? Segitu tidak maukah melihat dirinya?
"Caca cuma bantuin doang kok, udah bilang Mbak Naya juga. Tenang
aja, Caca gak akan gangguin kerjaan Bang Edgar," balas Caca, meyakinkan.
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Edgar masih diam, lalu memberikan apa yang Caca minta tadi di atas
nampan yang cewek itu bawa tanpa mengatakan apa pun. Caca
menegarkan diri, hendak pergi untuk segera memberikan pesanan itu.
Sebelum Caca berlalu, tiba-tiba pinggangnya ditarik. Hampir saja isi
nampan itu tumpah jika Caca tidak kuat untuk menahannya.
Edgar, cowok itulah pelakunya. Ia menarik pinggang Caca dan
mendekatkan dirinya ke arah Caca sembari berbisik, "Makasih."
Tuhan! Apa dosa Caca? Kenapa niat move on harus sesulit ini! Caca
mengangguk kikuk tanpa menoleh ke arah Edgar yang tersenyum kecil.
Wajahnya memanas, senyum itu akhirnya kembali mengembang di bibir
Caca tanpa disadari.
BukanStalker
15. Terakhir Kali
A pa Yang Edgar lakukan sepertinya berhasil mematahkan tekad
besar Caca yang ingin move on dari pria tampan yang sedang
fokus meracik kopi.
Ucapan terima kasih yang tidak biasa itu, berhasil menggelitik dan
memberikan rasa senang teramat dalam untuk seorang Caca.
Astaga, jangan katakan bahwa Caca gadis bodoh dan tidak
tegas. Karena bagaimanapun, Caca memang masih mengharapkan Edgar
walau sudah susah payah mengubur harapan itu. Alasannya? Karena Edgar
sama sekali tidak memperhatikannya.
Jangankan untuk memperhatikan, melirik saja pria itu enggan. Tapi
hari ini, hari yang paling luar biasa untuk Caca. Edgar bukan hanya
mengatakan terima kasih, tapi juga membuat hati Caca mengapung
bahagia.
Cowok itu perhatian, bahkan menyuruh Caca untuk istirahat dan
membuatkannya milkshake yang meredakan rasa haus di
tenggorokan. Siapa yang tidak baper apabila diperakukan seperti
itu? Siapa yang tidak senang gebetan yang mati-matian ia kejar membalas
perhatiannya?
"Capek?"
Caca hampir saja menyemburkan cairan dingin yang sedang ia
sesap. Menoleh ke samping, ia mendapati Edgar yang ikut duduk tengah
memperhatikannya.
Caca gugup, tingkah malu-malunya kembali lagi setelah beberapa hari
berhasil ia kubur. Caca tersenyum, menggeleng. "Sedikit."
Edgar ikut tersenyum. "Maaf buat kamu repot harus bantuin Kafe."
Caca kembali menggeleng. "Enggak apa-apa, lumayan seru
kok." apalagi melihat sikap manis Bang Ed,tambahnya dalam hati sambil
menggigit-gigit sedotan.
Satu alis Edgar terangkat. "Seru? Gak capek?"
"Enggak, justru Caca seneng bisa bantuin Bang Ed sama Mbak Naya."
Edgar terkekeh, mengusap pucuk kepala Caca gemas. "Ada-ada
aja, harusnya aku yang seneng karena kamu udah mau bantuin kesulitan di
Kafe."
Caca menunduk malu, apa yang baru saja Edgar lakukan berhasil
membuat kedua pipinya memerah. Astaga, kenapa Bang Ed sebaik
61
DhetiAzmi
ini? Apa ini yang namanya hukum karma? Yang dikejar justru mulai
mengejar? Jika ia, Caca sangat bangga dan bahagia.
"Ngomong-ngomong yang tadi pacar kamu?" tanya Edgar tiba-tiba.
Caca mendongak, satu alisnya terangkat. "Pacar?"
Edgar mengangguk lagi. "Hm, yang tadi duduk sama kamu. Dia juga
panggil kamu Baby," lanjutnya, datar.
Caca diam, mencerna apa yang sedang Edgar
maksud. Baby? Mendadak ia terkekeh, geli ketika tahu bahwa Edgar
mengira Gerlan pacarnya. Eh? Tapi kenapa Edgar bertanya? Apa pria itu
cemburu?
"Kok malah senyum-senyum? Aku lagi tanya loh Ca."
Caca terkekeh, mengibaskan tangannya di udara "Abis lucu, masa Bang
Ed ngira Abangku pacar aku."
Satu alis Edgar terangkat. "Abang?"
Caca mengangguk. "Iya, yang tadi itu abang alias kakak kandung
aku, namanya Gerlan. Dia lagi libur kuliah, makanya minta aku temenin
main."
Edgar diam, entah kenapa hatinya mendadak lega. Kekesalan yang dari
tadi menggerogoti hilang ketika Caca menjelaskan kenyataan itu.
"Eh? Masa abang sendiri panggil adiknya Baby?" Edgar kembali
bertanya, tidak percaya.
Caca mengangguk lagi. "Iya, udah kebiasaan dari kecil sih. Aku kan
dulu manja banget, jadi sampe sekarang manggil gitu terus."
Edgar manggut-manggut. "Gak kaget sih."
"Apa!?"
Edgar terkejut, lalu terkekeh melihat wajah merengut Caca.
"Bercanda, jangan diambil hati. Tapi, kamu emang manja sih."
Caca menekuk wajahnya. "Bang Ed, ih!"
Edgar tertawa geli, ketika ia hendak membuka mulutnya, suara Naya
menginterupsi.
"Ed, ada yang pesan kopi."
Edgar mengangguk, lalu bangkit dari duduknya. Sebelum pergi, Edgar
sempat mencubit pipi Caca sebentar.
"Aku balik kerja dulu ya."
Caca mengangguk sembari mengulum senyum, wajahnya sudah merah
dan terasa panas. Astaga, apa ini yang namanya kasmaran? Caca tidak
tahu rasanya sampai menggelitik ke dalam perut.
"Cie, yang gagal move on," goda Naya.
Caca mendongak lalu tersenyum malu. "Ih, apa sih, Mbak."
Naya terkekeh, seolah mengingat sesuatu. Naya berjalan menghampiri
Caca.
BukanStalker
"Ca, Kafe lagi rame nih. Kamu mau sumbang lagu buat hibur pelanggan
gak? Tenang aja, Mbak bayar kok," ujar Naya, tiba-tiba.
Caca bingung, dahinya mengerut dalam. "Maksudnya, Mbak?"
Naya menghela napas. "Suara kamu kan bagus, kamu mau kan nyanyi
lagi kayak kemarin itu? Mbak bakal bayar kok, kamu gak usah cemas."
Caca tidak enak, bukan karena Naya ingin membayarnya untuk
bernyanyi walau Caca ikhlas. Tapi, Caca tidak pede apa lagi harus sendiri
berada di atas panggung.
"Tapi... "
"Mbak mohon, mau... Ya?"
Melihat wajah memelas Naya, Caca jadi tidak tega. Apa lagi selama ini
Naya selalu baik kepadanya. Menghela napas, akhirnya Caca mengalah.
"Yaudah."
"Yes!" Naya bersorak seperti anak kecil.
"Tapi Caca cuma bisa main piano, Mbak."
Naya mengibaskan tangannya seolah semuanya baik-baik
saja. "Tenang, semua alat musik lengkap di sini. Mau, ya?"
Caca menghela napas lalu mengangguk. "Yaudah."
Naya berbinar senang, langsung menggandeng tangan Caca untuk ikut
keluar. Di perjalanan, langkah keduanya terhenti mendengar dua orang
yang sedang berbicara di depan sana. Mereka tak lain adalah Edgar dan
Alisa.
"Katanya Caca gak ganggu kamu lagi, kok dia masih ada di
sini? Bahkan, kayaknya kamu udah mulai perhatian sama anak itu," ujar
Alisa,
Posisi Edgar yang sedang membelakangi Caca dan Naya terlihat
mengibaskan tangannya. "Apaan sih, Sa, justru aku bersyukur dia ada di
sini."
Mendengar itu, Caca tersenyum dengan rona merah di wajahnya. Naya
yang ada di sampingnya ikut tersenyum kecil.
"Bersyukur? Kamu sekarang udah mulai suka sama dia?" Alisa
bertanya penuh selidik.
"Maksud kamu?"
Alisa menghela napas. "Maksud aku, aku harus bilang ini karma kamu
karena kamu tolak dia terus? Sekarang kamu jadi suka sama dia gitu?"
Edgar terdiam, cukup lama. Sepertinya pria itu sedang berpikir. Caca
sendiri menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdebar menunggu
jawaban Edgar. Begitu juga dengan Alisa yang sedang menuntut jawaban
kepada pria yang setia dengan apron hitamnya.
Bukannya menjawab, Edgar justru terkekeh. Alisa mengerutkan
keningnya bingung, Caca dan Naya sendiri saling pandang heran melihat
tingkah Edgar.
63
DhetiAzmi
"Kok kamu malah ketawa?" Alisa merengut sebal.
Edgar masih saja tertawa, setelah tawanya sedikit lega. Pria itu
menjawab, jawaban yang mungkin akan membangkitkan tekad move
on Caca kembali.
"Gak usah ngaco kamu, mana ada aku suka sama Caca. Aku perhatian
sama dia karena dia udah bantuin aku di Kafe. Kamu pikir deh, kalo gak
ada Caca gimana hancurnya Kafe yang kekurangan pegawai ini. Sekali-kali
aku manjain dia, anggap aja ungkapan terima kasih dari aku."
Berhasil! Jawaban Edgar berhasil membuat hati Caca merasakan perih.
Luka yang sempat tertutup karena sikap manis Edgar, kembali menganga.
dan dilakukan oleh cowok yang sama.
Harapan-harapan yang sempat singgah di dalam hati dan
pikirannya, kembali hancur dengan kenyataan itu. Edgar hanya terpaksa
berlaku manis seperti itu, harusnya Caca sadar. Seharusnya Caca bisa
mengerti bukan malah terbawa perasaan dan kembali terluka.
Naya yang juga terkejut menoleh ke arah Caca, mengusap bahu Caca
pelan mencoba memberi semangat. Iba, Naya benar-benar kasihan
melihat Caca seperti ini. Bukan salah Caca, ini salah adiknya yang seolah
memberi harapan kepada cewek yang jelas-jelas
mengharapkannya. Padahal Naya tahu, jika Caca sudah mulai menjaga
jarak.
"Kamu gak apa-apa Ca? Kalo gak bisa nyanyi, gak udah dipaksain ya."
Naya peka, ia sangat paham dengan apa yang Caca rasakan. Ia pasti
sakit hati, Naya bisa mengerti.
Caca mencoba menegarkan dirinya, menggeleng pelan. Caca menoleh,
memasang senyum yang jelas Naya tahu itu senyum dipaksakan.
"Caca baik-baik aja, seenggaknya Caca bernyanyi untuk terakhir
kalinya di sini," balasnya, pelan.
Naya terdiam, memandang punggung rapuh Caca yang sudah
menjauh. Berjalan ke atas panggung, tangannya terkepal melihat
kemesraan Edgar dan Alisa di sana. Giginya gemeretak menahan sakit,
mencoba menegarkan diri. Berharap air matanya tidak mengalir.
Caca memejamkan mata, tekad bulat sudah tertanam di hatinya. Mulai
hari ini, tidak akan ada lagi nama Edgar di hatinya. Walau sulit, Caca akan
bertahan untuk move on tanpa peduli dengan apa yang akan Edgar lakukan
lagi nantinya.
BukanStalker
16. Melupakanmu
S
eorang cewek tengah duduk manis di atas kursi berhadapan
dengan sebuah Piano besar berwarna hitam. Nada masih belum
terdengar, ia terlihat menghela napas berkali-kali di sana.
Caca, cewek itu memejamkan matanya. Mengambil napas banyak sudah
ia lakukan, berharap rasa sesak di dadanya akan hilang. Tangannya
gemetaran, kenyataan yang baru saja dia terima berhasil melemparnya ke
dalam sudut yang paling gelap.
Bruk!
"Aduh."
Edgar meringis pelan ketika dengan sengaja seseorang menabrak
bahunya, pria itu menoleh ke belakang dan mendapati Naya di sana.
Wajah wanita itu mengeras seperti sedang marah, mata tajamnya
menusuk seolah muak melihat lawannya.
"Apaan sih, Mbak, main tabrak aja, sakit tahu!" kesal Edgar, mengusap
bahunya.
Alisa yang masih di sana mengerutkan kening, tersenyum kepada Naya
dengan sapaan sopan. Sayang Naya tidak menghiraukan, wanita itu
menatap tajam Edgar.
"Itu gak seberapa buat kamu yang udah nyakitin hati orang," balas Naya
ketus.
Edgar bingung. "Maksud Mbak apaan sih? Nyakitin siapa?"
Naya memutarkan kedua bola matanya malas. Tidak, lebih tepatnya
gemas dengan sifat lamban adiknya itu.
"Astaga, sumpah aku gak nyangka. Gimana bisa aku punya adik yang
lamban kayak kamu, Ed. Kamu bener-bener keterlaluan, gak tahu diri dan
bajingan!" Naya mencak-mencak, meninggalkan Edgar dan Naya dengan
perasaan marah.
Alisa yang bingung bertanya. "Mbak Naya kenapa? Kok marah banget
kayaknya?"
Edgar yang tidak tahu, menggeleng. "Gak tahu, mungkin capek kali
ngurusin Kafe."
Alisa manggut-manggut paham, Edgar sendiri tidak peduli. Mereka
kembali melanjutkan percakapan yang sempat tertunda sebelum akhirnya
suara dentingan piano terdengar membuat keduanya berhenti dan
menoleh ke arah panggung.
65
DhetiAzmi
Caca sudah mulai menekan-nekan not yang ada di sana. Jari lentiknya
mulai fokus mengikuti nada lagu yang sedang dimainkan. Caca masih
mencoba menegarkan diri, tangannya masih lesu dan gemetaran ketika
kalimat Edgar melintas di pikirannya. Dan sebuah lagu dari Hanin Dhiya
yang berjudul Yang terbaik, menjadi pilihan Caca untuk dimainkan.
Berakhir semua mimpi
Miliki dirimu
Disaat harus mengalah
Tuk merelakanmu pergi
Naya terdiam di ujung sana, wajahnya terlihat ikut terluka. Tidak enak
dan juga iba.
Sesungguhnya kusesali
Mengapa terjadi
Dikala cinta Terlanjur
Berlabuh di dalam hatiku
Edgar yang tahu bahwa Caca yang sedang bernyanyi di atas sana,
mengerutkan kening. Edgar tidak tahu bahwa Caca akan mengisi panggung
malam ini.
Caca menarik napas dalam-dalam, fokusnya mulai bisa ia kuasai. Tapi,
di setiap lirik yang ia nyanyikan selalu membuat hatinya berdenyut perih.
Kadang ku tak mengerti
Akan artinya cinta
Jika harus berakhir
Menangis dan terluka
Biarlah kujalani
Bila memang ini semua
Yang terbaik untuk kita..
Berdua..
Edgar terdiam, bukan karena lagu yang Caca mainkan sangat
mendalami. Tapi tatapan mata Caca yang fokus ke arahnya ketika
bernyanyi. Entah kenapa, Edgar melihat luka di sepasang mata itu. Luka
yang begitu dalam dan menyesakkan. Tapi, kenapa harus mengarah
kepadanya?
Tegarkan hatiku
Hapuskan air mata
Disaat harus mengalah
Tuk melupakanmu selamanya
Caca tidak tahan, rasanya benar-benar menyakitkan. Apa lagi ketika
melihat Edgar yang sedang duduk bersama Alisa.
Jika harus berakhir
Menangis dan terluka
BukanStalker
Biarlah kujalani
Bila memang ini semua
Yang terbaik untuk kita
Berdua
Tanpa sadar, air matanya mengalir. Caca menangis, menahan isakannya
keluar. Sikap manis Edgar yang baru saja mengapungkan hatinya, harus
hancur di waktu yang sama.
Rona merah malu yang menggelitik hati, kini tersisa dengan air mata
yang dengan kurang ajarnya keluar tanpa permisi.
Apa cinta memang sesulit itu? Apakah semuanya harus serumit ini?
Caca sudah terjatuh, jatuh ke dalam sosok Edgar. Walau Caca mencoba tahu
diri untuk tahu bahwa Edgar sudah memiliki kekasih.
Tapi apa yang terjadi? Ketika Caca menarik jarak, Edgar justru
mendekat. Harapan-harapan kecil yang di inginkan tumbuh begitu saja
melihat perhatian kecil dari Edgar yang sialnya hanya sandiwara.
Caca terlalu terbawa perasaan? Caca mengakui itu, tapi ia tidak tahu
jika perasaan itu benar-benar meleburkan semua pertahanannya.
Sekarang, bukan kebahagiaan yang mengisi hatinya. Tapi luka, luka yang
diberikan oleh pria yang sama. Edgar, Caca mengucapkan kata itu di dalam
hatinya berkali-kali.
Kekecewaan, sakit hati, benci, marah. Semuanya sedang Caca rasakan.
Kadang ku tak mengerti
Akan artinya cinta
Jika harus berakhir
Menangis dan terluka
Biarlah kujalani
Bila memang ini semua
Yang terbaik untuk kita
Berdua..
Lirik terakhir dengan alunan piano, berhasil Caca selesaikan dengan
sukses. Napasnya naik turun, gadis itu memejamkan mata. Berharap cairan
bening itu tidak lagi turun di kedua pipinya.
Buru-buru Caca mengusap air matanya ketika indranya menangkap
suara tepuk tangan. Lelah? Caca sangat lelah. Bukan karena fisiknya, tapi
hatinya.
Caca bangkit, tersenyum ke arah penonton. Mereka yang bertepuk
tangan bersorak, seolah senang dengan apa yang baru saja Caca mainkan.
Tidak dengan Edgar, cowok itu terdiam di tempatnya. Ia tidak suka, sangat
tidak suka melihat apa yang Caca lakukan.
Lagu itu begitu menusuk, dan Edgar harus merasakan sesaknya. Belum
lagi senyum yang Caca tebarkan, Edgar tahu itu senyum palsu. Tapi
67
DhetiAzmi
kenapa? Kenapa Caca terlihat begitu sedih? Bukankah tadi cewek itu baik-
baik saja?
Caca turun dari atas panggung, Naya yang melihat itu sigap dan
langsung menghampiri Caca.
"Kamu baik-baik aja?"
Caca mendongak, senyum masih menghiasi bibirnya. "Caca baik, Mbak,
gak usah cemas."
Naya menggeleng cepat. "Gimana Mbak gak cemas, kalo Mbak tahu apa
yang bikin mood kamu buruk. Mbak lihat kamu nangis di sana, kamu masih
ngelak kalo semuanya baik?"
Caca terdiam, senyumnya mendadak pudar. Menggigit bibirnya, ia
tertunduk dalam. Naya menghela napas, memeluk tubuh rapuh Caca.
Mencoba mengalirkan semangat kepada cewek itu.
"Mbak tahu kalo kamu terluka, Mbak tahu kamu sakit hati. Mbak minta
maaf atas nama Edgar, Mbak gak tahu kalo dia lamban begitu."
Caca menggeleng di pelukan Naya, tidak ada suara yang keluar dari
mulutnya. Naya mengusap-usap rambut dan bahu Caca.
"Kamu kuat, kamu harus kuat ya, Ca. Jangan rubah sifat ceria kamu
cuma karena Edgar. Bukan Mbak gak mau kamu cinta sama Edgar. Tapi
kamu harus tahu, cinta itu juga harus bisa membahagiakan hati kamu,
bukan cuma nyakitin kamu. Mbak gak mau kamu terus-terusan terluka
karena Edgar, Ca. Kamu harus tahu, di luar sana masih banyak orang yang
sayang kamu. Termasuk Mbak, Mbak gak bisa lakuin apa pun selain bilang
kayak gini demi kebaikan kamu," ujar Naya menjelaskan.
Caca mengangguk, melepaskan pelukannya. Wajahnya murung, cewek
itu mendesah lelah.
"Caca paham kok, Mbak. Makasih, Mbak, mau nerima Caca, maaf kalo
Caca selama ini repotin Mbak Naya," balas Caca, tersenyum.
Naya menggeleng. "Kamu gak pernah repotin Mbak meski bawel dan
berisik. Justru kamu selalu bantuin Mbak di Kafe."
Caca tersenyum. "Caca seneng kok bantu-bantu, anggap aja rasa maaf
Caca selama ini suka bikin gaduh di Kafe."
Naya menghela napas. "Kamu bener, gak akan ke sini lagi?" tanya Naya,
mengingat ucapan Caca.
Caca terdiam, lalu tersenyum. "Gak selamanya kok, Mbak, Caca akan
main ke sini kalo luang."
Naya mendesah, mengangguk paham. Caca perlu memulihkan hatinya.
"Ah, buat bayaran nyanyi kamu..."
"Gak usah! Caca ikhlas kok, Mbak, makasih udah izinin Caca nyanyi di
Kafe," kata Caca langsung memotong ucapan Naya.
Naya tidak enak. "Tapi..."
BukanStalker
Caca menggeleng. "Gak apa-apa, Mbak. Caca pamit dulu, mau telepon
Bang Gege terus pulang."
"Gak mau Mbak anter pulangnya?"
Caca menggeleng lagi. "Gak usah, Bang Gege janji jemput kok."
Naya menghela napas, lalu mengangguk mengerti. Membiarkan Caca
pergi.
Caca sudah mengambil barang-barangnya di belakang Kafe. Melangkah
untuk segera pergi meninggalkan tempat yang memberikan banyak
kenangan belakangan ini. Tapi, Caca bertekad untuk tidak berkunjung ke
tempat ini lagi sebelum hatinya membaik. Karena kenangan menyakitkan
selalu membuat hatinya perih.
Tidak ada lagi yang mamanya Edgar, mulai sekarang Caca akan
menghapusnya. Jika tidak bisa, Caca cukup menguburnya dan tidak ingin
kembali menampakkan nama pria itu di dalam hatinya.
"Pulang? Mau aku anter?"
Tiba-tiba suara seseorang membuat Caca membeku, suara familier itu
berhasil membuat cewek itu menggeleng tanpa menoleh.
"Gak usah, Caca lagi nunggu jemputan," balas Caca, seadanya.
"Bener? Gak mau aku anter nih? Udah malem loh," lanjut Edgar lagi.
Caca mengangguk. "Gak usah, makasih."
Edgar bingung, kenapa Caca bersikap seperti ini. Biasanya Caca akan
heboh, paling tidak tersenyum malu dengan rona merah di kedua pipinya.
Tapi kali ini, jangankan melihat dua hal itu, melihatnya saja Caca tidak.
Gemas, Edgar ingin bertanya. Tapi, sebelum pertanyaan itu keluar.
Suara kendaraan yang entah sejak kapan sudah berhenti di depan mereka
membuat Edgar terkejut.
"Yuk pulang."
Caca mendongak, bukan Gerlan yang menjemput. Tapi Andra, dan pria
itu menjemputnya dengan sebuah motor, bukan mobil milik Gerlan.
"Loh? Kok Kak Andra yang jemput? Bang Gege mana?" tanya Caca
kebingungan.
Andra terkekeh pelan. "Gege kamu lagi di-stalk sama cewek-cewek.
Udah ah, nih pake helmnya."
Andra memberikan satu helm kepada Caca, tapi Caca belum
mengambilnya.
"Tapi . . ."
Satu alis Andra terangkat. "Kenapa? Takut naik motor?"
Caca menggeleng cepat. "Bukan itu, kok!" elaknya langsung. Caca hanya
merasa tidak enak.
Andra menghela napas, turun dari atas motor. Menghampiri Caca dan
memakaikan helm itu di kepala cewek yang terkejut dalam diamnya.
69
DhetiAzmi
"Gak usah khawatir, aku gak bakal ngebut kok. Lagian, aku masih inget
kamu nangis gara-gara dibawa ngebut."
Kenangan itu berhasil membuat Caca melotot dan mencubit tangan
Andra yang kemudian memekik perih.
"Apaan sih, jangan bahas masa lalu!" amuk Caca malu.
Andra tertawa sembari mengusap tangannya yang dicubit Caca. Sadar
Caca tidak sendiri, Andra menoleh ke arah pria tinggi yang sedari tadi diam
di sana.
"Eh, Ed, mau balik juga?" tanya Andra.
"Hm," Edgar hanya berdehem, sementara Caca masih tidak menoleh ke
arah pria itu.
Andra manggut-manggut. "Yaudah, gue balik dulu. Yuk, baby," ajak
Andra diakhiri kekehan kecil ketika Caca menepuk bahunya kesal.
Akhirnya Caca pulang bersama Andra dengan motor besarnya, daripada
harus berdiri lama dengan Edgar di tempat itu.
Ketika suara motor Andra menyala dan hendak melesat dari tempat itu.
Caca sempat melirik Edgar dengan ekor matanya karena penasaran. Tidak
tahu apa arti ekspresi Edgar di sana, Caca tidak akan peduli lagi. Pria itu
masih diam memandang kepergian Caca sampai punggung itu hilang.
Tangannya terkepal kuat, Edgar tidak suka diabaikan apalagi melihat
kedekatan Caca dengan Andra dan gadis itu mengabaikan kehadirannya.
BukanStalker
17. Tidak Rela
E dgar tidak mengerti, kenapa Naya seharian ini seakan sedang
memusuhinya. Ia merasa jika semalam kakak perempuannya itu
baik-baik saja. Tidak, sebelum Caca mulai bernyanyi, Naya
sempat memprotes dan memaki Edgar dengan alasan yang tidak jelas.
Tidak menghiraukan sikap Naya, Edgar tidak ingin terlalu
memikirkannya. Mungkin wanita itu lelah harus membagi waktunya
dengan menjaga Kafe. Itulah alasan paling masuk akal kenapa Naya marah
bagi Edgar.
Pria itu menghela napas, matanya melihat ke sudut ruangan yang sudah
terisi pengunjung. Jam menunjukkan pukul satu siang.
Helaan napas berat kembali terdengar. Matanya fokus ke depan pintu
masuk. Tapi orang yang sedari tadi ia tunggu tidak kunjung datang.
Edgar berdecak lidah, membuka ponsel untuk mengurangi rasa
bosannya. Setiap suara pintu terbuka masuk ke dalam indra, Edgar buru-
buru menengok. Sayang, bukan orang yang sedang ia tunggu yang datang.
Alisa, wanita itulah yang akhirnya datang. Ia menghampiri Edgar yang
lagi-lagi menghela napas gusar di tempatnya.
"Kenapa? Muka kamu kusut banget," Alisa bertanya, duduk setelah
mengambil kursi yang tidak jauh dari tempatnya berhadapan dengan meja
barista.
Edgar mendongak, tersenyum kecil lalu menggeleng. "Mau kopi?"
tawarnya.
Alisa menggeleng. "No! Aku lagi diet."
Edgar berdecak pelan, diakhiri kekehan geli keduanya. Edgar tahu jika
Alisa sangat menjaga pola makannya, apa lagi belakangan ini Alisa didapuk
menjadi model sebuah brand fashion. Siapa sangka wanita cantik dengan
tubuhnya yang indah itu harus menghindari banyak makanan dalam
kesehariannya.
"By the way, aku ke sini bukan tanpa alasan lho."
Satu alis Edgar terangkat. "Mau apa? Mau ngajak aku main? Gak bisa,
aku harus nunggu Kafe."
Alisa merengut, memukul tangan Edgar. "Belum ngajak udah ditolak,
nyebelin!"
Edgar terkekeh, mengusap pucuk rambut Alisa pelan. "Kamu tahu kan
aku kayak gimana?"
71
DhetiAzmi
Alisa mendengus, melipatkan kedua tangannya di dada. Ia hendak
membuka mulut ketika tiba-tiba Naya datang membawa beberapa potong
cake.
"Silakan."
Kedua alis Alisa bertautan. "Aku gak pesan, Mbak."
Naya mengangguk paham. "Iya, ini gratis dari Mbak buat kamu."
Alisa diam, melirik ke arah Edgar. Pria itu mengangkat bahu, mencoba
menjelaskan kepada Naya.
"Gak usah, Mbak, Alisa lagi--"
"Masa pemberian ditolak? Dosa loh, Sa," lanjut Naya, memotong ucapan
Alisa.
Alisa meringis pelan, sementara Edgar bingung dengan tingkah Naya.
Ketika Alisa hendak membuka mulut lagi, tiba-tiba suara ponsel berbunyi.
Alisa buru-buru merogohnya di dalam tas. Menghela napas lega, Alisa buru-
buru beranjak dari duduknya sebelum menerima panggilan itu.
"Alisa pergi dulu ya, ada telepon dari manajer. Maaf, Mbak, duluan."
Alisa langsung pergi, meninggalkan Edgar dan Naya yang kebingungan.
Tidak lama terdengar dengusan dari mulut Naya. "Seenggaknya di
makan dulu sedikit, gak sopan banget. Ah, jadi kangen Caca yang selalu mau
kalo nyicipin kue," ucap Naya, mengambil kembali potongan kue tak
tersentuh itu.
Mendengar nama Caca, satu alisnya refleks terangkat. Menatap Naya
dengan tatapan bingung. "Kenapa gak minta Caca aja buat nyicipin kue,
Mbak."
Naya melirik Edgar malas. "Dia gak akan ke sini."
Edgar semakin tidak paham. "Kenapa? Tumben. Coba Mbak telepon,
yakin deh Caca pasti bakal ke sini."
Naya menghela napas berat, lalu membalikkan tubuhnya menghadap
Edgar. "Edgar adikku yang tampan, kamu kok jadi cowok lamban banget.
Mbak yakin deh, kamu pasti gak peka sama lagu yang Caca nyanyiin
semalem, kan?" tuduhnya curiga.
Kerutan di kening Edgar semakin dalam. Memang ada apa dengan lagu
yang dibawakan Caca? Bukankah itu memang sudah hobi Caca untuk
bernyanyi? Meski Edgar akui, ia sempat merasakan keanehan dengan
tingkah Caca di panggung sampai cewek itu menolaknya pulang.
"Edgar, kamu denger gak?"
Edgar mengerjap ketika suara Naya masuk ke dalam indra,
membuyarkan lamunannya tentang sikap Caca. Mengingat penolakan
semalam, entah kenapa hatinya kembali memanas.
"Kayaknya gak ada deh, Mbak."
BukanStalker
Naya melongo, lalu mendesah gusar. "Astaga, kenapa juga aku nanya hal
begini. Jelas jawabannya anak ini gak akan peka," gumam Naya,
bermonolog dengan dirinya sendiri.
Edgar yang bingung bertanya. "Mbak kenapa? Komat-kamit sendiri."
Naya menggeram gemas, lalu mencubit lengan Edgar hingga si
empunya memekik perih.
"Mulai sekarang, gak usah tanya-tanya Caca lagi. Anak itu gak akan
pernah ke sini lagi."
"Kenapa?"
Naya memutar kedua bola matanya gemas. "Gak usah tanya alasannya
deh, Gar, kamu juga pasti gak paham."
Edgar menggeleng, ia jelas tidak paham kenapa cewek yang sedari tadi
ia tunggu itu tidak menampakkan dirinya.
"Aku gak paham, makanya aku tanya, Mbak. Tahu sendiri aku gak
pernah peka, jadi, langsung aja deh kasih tahu alasannya. Aku yakin Mbak
tahu sesuatu," Edgar kembali menyahut, meminta jawaban yang jelas.
Naya menggeram gemas, mau tidak mau ia menjelaskan. "Caca gak akan
ke Kafe lagi, sekalipun Mbak maksa dia ke sini. Kenapa? Karena manusia itu
punya batas kesabaran. Sekalipun Caca kelihatan gak peduli sekitarnya.
Tapi, hati punya rasa. Rasa di mana akan lelah dan akhirnya menyerah."
Alis Edgar saling bertautan, masih tidak paham dengan penjelasan
Naya. Naya yang menangkap ekspresi itu mendesah pasrah, memijat
pelipisnya.
"Caca mau move on dari kamu, Caca nyerah buat dapetin kamu, Edgar.
Semalem, itu lagu terakhir Caca. Yah, itu emang lebih baik sih. Daripada
ngejar-ngejar orang yang gak peka dan gak peduli sama dia. Mungkin itu
satu-satunya cara Caca buat nyelametin hatinya yang udah hancur. Caca
nyerah buat ngejar kamu, sekarang Caca gak akan ganggu kamu lagi, Gar,"
jelas Naya,
Edgar diam, termenung. Penjelasan yang Naya berikan, entah kenapa
berbanding balik dengan hatinya. Harusnya Edgar senang jika Caca tidak
lagi mengganggunya, harusnya Edgar bisa bernapas lega. Tapi hatinya
berkhianat, mendadak Edgar tidak terima dan tidak rela mendengar Caca
menyerah mengejarnya.
Edgar buru-buru mengambil ponsel di dalam saku celananya. Ketika
satu nama tertera di layar, Edgar masih sempat mendengar Naya berbicara
sebelum wanita itu berlalu dari hadapannya.
"Caca gak akan angkat telepon kamu."
Edgar masa bodoh, ia langsung menyentuh tombol hijau di layar ponsel.
Memanggil kontak cewek itu yang ia namakan 'Bocah', berbeda dari kontak
lainnya.
73
DhetiAzmi
Ketika panggilannya terhubung, Edgar bernapas lega. Tapi, kelegaan itu
tidak bertahan lama ketika panggilannya masih tidak kunjung dijawab.
Hingga Edgar kembali mengulang panggilan itu, dan berakhir dengan suara
operator.
Edgar menggeram, ponsel di atas tangannya dicengkram. Napasnya
naik turun, mendadak hatinya kesal dan tidak tenang. Ucapan Naya
membuat Edgar berpikir berkali-kali. Biasanya Caca akan langsung
menerima teleponnya dalam satu detik sambungan. Sekarang, berkali-kali
Edgar hubungi. Caca tidak menerima panggilannya.
Caca benar-benar mulai menghindarinya.
Edgar mendengkus gusar, buru-buru beranjak dari tempatnya.
Membuka apron hitam yang melekat di tubuhnya.
"Titip Kafe, aku keluar dulu," ujar Edgar kepada Naya.
Edgar langsung pergi, tidak membiarkan protes keluar dari mulut
wanita yang siap mengeluarkan sumpah serapah kepada adiknya karena
harus menunggu Kafe.
Pria itu berjalan ke garasi di mana mobilnya terparkir. Menghidupkan
mesin, dan langsung tancap gas.
"Gak akan aku biarin kamu nyerah dan lupain aku, Bocah."
BukanStalker
18. Ikut Aku!
E dgar tidak tahu, akan membawa ke mana kendaraan yang sedang
ditumpanginya. Tidak tentu arah, banyak pertanyaan yang terus
saja berputar di kepalanya. Tentang Caca yang mulai
menghindarinya, tentang Caca yang ingin menyerah untuk
mendapatkannya.
Tidak rela, Edgar sangat tidak rela mendengar penjelasan Naya.
Kenapa? Alasan apa sampai membuat cewek itu menyerah dan
memilih move on darinya. Edgar sadar, sangat sadar jika selama ini ia sudah
menolak Caca. Tapi, bukankah Caca tidak mempermasalahkan hal itu?
Bukankah Caca akan tetap mengikutinya meski tahu itu akan mengganggu
dirinya?
Edgar menggeram, ia tidak tahu jika Caca akan menyerah seperti ini.
Terlebih, mengingat sikap Caca semalam yang masih malu-malu
kepadanya. Kenapa bocah itu berubah sesingkat itu. Apa Edgar sudah
melakukan kesalahan sampai membuat bocah yang tidak pernah menyerah
mengganggunya itu menjauhinya.
Astaga, kenapa Edgar terdengar sangat egois sekarang. Mengharapkan
bocah yang jelas-jelas sudah ia tolak. Tidak ada yang salah dengan itu, Caca
tidak salah pada akhirnya ingin menyerah. Hanya saja, Edgar tidak rela,
sangat tidak rela.
Walau Edgar dengan jelas mengusir dan menolak Caca dulu, pada
kenyataannya, semakin lama Edgar terbiasa dengan kehadiran Caca di
sekitarnya. Celoteh, tingkah laku yang selalu membuat ulah dan ribut di
Kafe, wajah merajuk ketika Edgar menolak keinginannya, suara cempreng
yang selalu mengusik ketenangannya, semua mengalir dan diterima begitu
saja oleh Edgar tanpa sadar.
Sampai Edgar terbiasa dengan semua tentang Caca di sekitarnya. Dan
ketika kebiasaan itu hilang, Edgar terusik dan merasa tidak nyaman.
Edgar mendengus gusar, jika saja ini bukan hari libur. Ia pasti sudah
mengunjungi sebuah SMA di mana Caca belajar untuk segera menemui
bocah itu.
Terlalu sibuk dengan pikirannya, tanpa sadar mobil yang ia kendarai
berhenti di seberang rumah Caca, di mana rumah dengan gerbang
berwarna hitam itu pernah sekali ia kunjungi dulu.
Edgar membuka seatbelt-nya hendak segera turun. Tapi gerakannya
terhenti ketika ia mengingat sesuatu. Alasan, ya, alasan apa yang akan ia
75
DhetiAzmi
gunakan ketika mengunjungi rumah Caca. Tidak mungkin Edgar
mengatakan teman bocah itu, mengingat usia mereka yang terpaut cukup
jauh.
Mendesah gusar, Edgar mengambil ponsel di saku celananya. Mencari
nama orang yang hari ini berhasil menghancurkan moodnya. Menarik
napas, matanya membulat ketika indranya mendapati orang yang sedari
tadi mengusiknya berdiri di depan pintu rumah.
Caca, cewek itu menghentikan langkahnya. Dahinya berkerut, menatap
benda persegi di satu tangannya. Edgar tidak bisa melihat dengan jelas raut
wajah Caca, tapi Edgar yakin jika Caca sedang melihat panggilan masuk
darinya.
Sudut bibirnya melengkung, berharap bocah itu menerima
panggilannya. Sayang, semua tidak sepikiran. Caca tidak menerima
panggilan masuk darinya. Cewek itu justru langsung memasukkan benda
persegi itu ke dalam tas kecil yang menggantung di bahunya.
Edgar diam, tidak percaya jika Caca benar-benar mengabaikannya.
Hendak turun, lagi-lagi gerakannya terhenti ketika melihat seorang pria
yang sangat ia kenal keluar dari rumah itu.
Andra, pria itu sedang berdiri di sana. Mengusap pucuk rambut Caca
dengan tawa di wajahnya. Sementara si empunya mengerucutkan bibirnya
sebal.
Edgar mencengkeram ponsel di tangannya, giginya bergemeletuk
menahan marah. Mendadak hatinya panas, amarah menguasainya melihat
pemandangan di hadapannya.
"Jadi ini, alasan kamu menjauh?" Edgar bertanya pada dirinya sendiri,
manik matanya tidak lepas dari dua orang yang kini duduk di atas motor
yang Edgar tahu milik Andra.
Sampai motor itu melaju dan menjauh dari pandangannya, Edgar tetap
diam. Tidak ada niatan sedikitpun untuk mengejar dua orang itu.
Menggeram gusar, Edgar melesatkan mobilnya menjauh dari sana.
**
Edgar menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. Memijat keningnya yang
mulai berdenyut. Ia tidak habis pikir, kenapa ia bisa semarah ini hanya
karena Caca. Banyak pertanyaan tentang bocah itu.
Menghela napas gusar, Edgar keluar dari ruangan. Mengambil apron
dan bersiap kembali bekerja menjadi seorang barista.
Ya, Edgar memilih untuk kembali ke Kafe setelah melihat kejadian itu.
Bahkan Naya dibuatnya heran dengan wajah Edgar yang masam.
"Edgar."
Pekikkan itu berhasil membuat pria yang sedari tadi asyik dengan
lamunannya mengerjap. Menoleh ke arah suara.
"Alisa? Kenapa ada di sini lagi?"
BukanStalker
Alisa mendengus gusar, wanita itu duduk di depan meja barista sembari
melipatkan tangannya. Seorang pria yang sedari tadi ada di samping Alisa
ikut duduk.
"Kamu kenapa? Dipanggil berkali-kali gak nyahut. Lagi ada pikiran?"
Alisa bertanya, mengabaikan pertanyaan Edgar.
Edgar terdiam, lalu tersenyum kecil. "Gak ada,"
Alisa mengerucutkan bibirnya sebal, ia tahu jika Edgar sedang
berbohong. "Bohong banget,"
Edgar mendelik jengah, lalu bertanya, "Ada apa tuan putri ke sini lagi?
Bukannya tadi ada urusan, ya?"
Alisa yang sempat memasang wajah masam kini memasang senyum
malu. "Iya, dan urusannya ada di sini sekarang."
Alisa tersenyum senang, menggandeng satu tangan pria yang duduk di
sampingnya. Edgar melirik, lalu mendengus geli. Pria itu Prins, teman
sekaligus kekasih baru Alisa.
Kekasih Alisa?
Ya, setelah insiden pertengkaran itu terjadi. Alisa memang sempat
menjelaskan dan meminta maaf kepada Edgar. Edgar memaafkannya, tapi
mereka tidak bisa melanjutkan hubungan itu. Kenapa? Karena Edgar
merasa dirinya tidak lagi sejalan dengan Alisa.
Edgar pria sibuk, begitu juga dengan Alisa. Mereka bahkan jarang
bertemu setelah Edgar membuka dan bekerja di sebuah Kafe. Bukan hanya
itu, tanpa sadar Alisa dekat dengan Prins yang selalu menemaninya di saat
Edgar tidak ada. Dan Edgar memaklumi itu, Edgar juga berpikir jika Prins
lebih pantas untuk Alisa. Saat itu, mereka memutuskan untuk berteman
seperti dulu.
Sebenarnya Edgar pria egois, ia tidak akan menerima dan melepaskan
orang yang ia cintai begitu saja. Tapi dengan Alisa, entah kenapa Edgar
melepaskannya meski dibuat emosi dan bertengkar terlebih dahulu. Di
dalam hatinya yang paling dalam, karena ada seseorang yang berhasil
merebut perhatiannya diam-diam.
"Kamu ke sini bukan mau buat aku cemburukan, Sa?" tanya Edgar,
penuh selidik.
Prins terkekeh, sementara Alisa mendengus sebal. "Emang kamu bisa
cemburu ya Ed? Aku bilang jadian sama Prins aja dengan dinginnya kamu
bilang, selamat ya," decihnya.
Edgar terkekeh geli mendengar keluhan Alisa. "Mau pesan apa?" Edgar
bertanya,
"Aku Vanilla Latte, Prins Americano," Alisa menjawab.
Edgar tersenyum lalu mengangguk, beranjak membuat pesanan untuk
dua orang itu.
77
DhetiAzmi
"By the way, tumben aku gak lihat kesayangan kamu Ed," ujar Alisa tiba-
tiba.
Gerakan Edgar tiba-tiba berhenti, beberapa detik setelah mencerna
ucapan Alisa. Edgar mulai kembali bergerak, melanjutkan acara membuat
kopinya.
Edgar tidak menjawab, mood-nya kembali memburuk mendengar
pertanyaan itu. Alisa yang tidak kunjung dapat jawaban dari Edgar
menaikkan satu alisnya, bingung.
Ketika Alisa hendak kembali bertanya, tiba-tiba suara lain menyela.
"Ada pacar, kok malah mesra-mesraan sama cowok lain," sindirnya,
tajam.
Tiga orang di sana menoleh, bingung mendengar sindiran dari seorang
wanita yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Edgar.
Edgar yang paham maksud Kakak wanitanya itu, menghembuskan
napas. "Apaan sih, Mbak, Alisa kan emang pacar Prins,"
"Hah?"
Hanya itu yang keluar dari mulut Naya setelah mencerna apa yang baru
saja keluar dari mulut adiknya. Edgar menggelengkan kepalanya,
sementara Alisa terkekeh ketika tahu alasan Naya menyindir seperti itu.
"Mbak Naya pasti mikir aku sama Edgar masih pacaran, kan?" tanyanya.
Naya mengangguk tanpa beban, Alisa terkekeh geli sementara Prins di
sebelahnya menggeleng pelan.
"Bukannya kalian emang masih pacaran?"
Alisa menggeleng. "Enggak, kita udah putus, Mbak. Dan di samping aku
ini pacar aku," balasnya tersenyum.
Naya manggut-manggut paham, sementara Edgar hanya mendengus
geli melihat reaksi Kakaknya.
"Tapi, kenapa wajah Edgar suram gitu? Apa jangan-jangan, dia cemburu
ya, lihat kalian di sini," tanyanya lagi, tanpa dosa.
Edgar mendelik kesal, sementara Alisa dan Prins terkekeh kecil. Alisa
mengibaskan tangannya di udara.
"Kayaknya bukan, Mbak."
Naya kembali melirik ke arah Edgar, lalu beralih kembali ke arah Alisa
"Terus, kenapa pria ini mood-nya buruk?"
Alisa melirik Edgar sekilas, lalu tersenyum. "Kayaknya dia galau, gara-
gara kesayangannya gak ada di sini."
Naya diam, kerutan di dahinya semakin dalam mencerna ucapan Naya.
Sepersekian detik, tiba-tiba Naya menunjuk pintu masuk dan menjawab,
"Maksudnya Caca?"
Tiga orang itu langsung membalikkan tubuhnya ke arah yang ditunjuk
Naya, termasuk Edgar yang kini diam di tempatnya.
BukanStalker
"Kok ke sini sih? Katanya mau ngajak ke Kafe," seorang cewek
mengeluh, mengerucutkan bibirnya kesal di ambang pintu.
"Ini juga Kafe, bukannya kamu seneng kalo ke sini?" tanya lawannya,
bingung.
Caca, gadis itu menghela napas gusar. "Tapi gak ke sini juga, Kak!"
Suara mengeluh itu terdengar sampai meja barista, Empat orang yang
ada di sana saling pandang, lalu melirik ke arah Edgar yang masih fokus
menatap ke arah dua orang di depan sana.
"Pantes gak datang, ternyata di gaet orang." Alisa manggut-manggut
tanpa dosa. Sementara Prins yang memang tidak tahu mendengarkan saja
dengan raut bingung.
Mendengar sindiran Alisa, Naya gemas ingin ikut memanasi adik laki-
lakinya itu. "Ck, sekali move on dapet gebetan."
Edgar masih diam di tempatnya, tapi kedua tangannya mengepal erat di
bawah meja.
"Yah, kayaknya gak jadi masuk," ujar Alisa lagi, ketika melihat dua
orang itu berbalik hendak keluar.
Naya melirik Edgar, senyum sinis terukir di bibirnya. "Biarin, mungkin
mereka mau nyari tempat kencan yang lebih romantis daripada di sini."
Edgar sudah tidak bisa menahan emosinya, masih dengan apron yang
melekat di tubuhnya. Pria itu beranjak, melangkah cepat dan langsung
menarik tangan cewek yang baru saja hendak keluar. Caca, cewek itu
membelalak, terkejut.
"Ikut aku."
79
DhetiAzmi
19. Itu Nggak Akan Terjadi
S
uasana di dalam Kafe mendadak hening, pria yang baru saja
menarik paksa seorang bocah SMA sudah hilang dari
pandangan. Andra, pria yang sedari tadi bersama cewek yang di
ambil paksa itu diam. Tidak lama senyum tipis terukir di bibirnya, tanpa
beban berjalan ke arah tiga orang yang sepertinya terkejut dengan apa
yang baru saja mereka lihat.
Andra menarik kursi, bergabung dengan Alisa dan Prins yang kini
menoleh dengan raut wajah heran, begitu juga dengan Naya.
"Espresso satu."
Naya mengerjap, mengangguk dan memanggil seorang pegawai yang
biasa menggantikan membuat kopi jika Edgar tidak ada.
Suasana Kafe kembali normal, pelanggan di sana kembali mengobrol
meski tidak jarang suara bisik-bisik menyapa indra ketika pemandangan
seorang Edgar menarik paksa seseorang di depan mata mereka.
Edgar terkenal dengan image pria lembut, tampan dan ramah juga
murah senyum. Untuk pertama kalinya mereka melihat Edgar dengan
ekspresi mengerikan seperti tadi.
Begitu juga dengan tiga orang yang memandang seorang pria yang kini
sedang menyesap kopi setelah meniup uapnya.
"Dra, kok kamu santai banget? Gebetan kamu barusan di tarik pria lain,
lho," Alisa bertanya, alisnya saling bertautan.
Andra mendongkak, tersenyum dengan tangan mengulur menyimpan
gelas yang ia genggam.
"Kenapa?"
"Kok malah balik tanya?"
Andra terkekeh pelan, tangannya bermain-main di pegangan gelas.
"Ya kenapa aku harus panik? Lagi pula, sepertinya mereka butuh waktu
buat bicara," balasnya enteng.
Naya dan Alisa mengerutkan kening, bingung mendengar jawaban
Andra.
"Maksud kamu?" Naya angkat bicara.
Andra menghela napas, lalu menghembuskannya perlahan. "Aku tahu
ada sesuatu di antara Caca sama Edgar. Entah apa itu, tapi kayaknya cukup
serius."
"Sesuatu seperti apa?" Naya masih bertanya walau tahu jawabannya.
BukanStalker
Andra mendongkak, kedua alisnya terangkat. Jeda beberapa saat
sebelum ia menjawab, "Hubungan serius, mungkin."
Alisa dan Prins mangut-mangut, berbeda dengan Naya yang
menggelengkan kepalanya.
"Kok kamu bisa nyimpulin gitu, Dra? Tahu dari mana mereka punya
hubungan?" Naya masih mencoba menginterogasi pria yang kini tengah
menyesap kopinya.
"Udah kentara, bahkan waktu pertama kalinya aku ketemu sama
Caca. Aku udah ngerasain ada sesuatu sama dua orang itu, terlebih waktu
itu Caca nyanyi lagu yang siapa pun pasti paham kalo dia lagi sakit
hati. Dan di lain tempat, Edgar terus menatap Caca dengan ekspresi gak
terbaca. Tapi aku yakin, ada sesuatu."
Andra tidak bohong, saat itu Caca bernyanyi sambil memperhatikan
Edgar. Tanpa sadar, Andra ikut melihat ke mana arah pandangan Caca
ketika menyanyikan lagu yang berhasil membuatnya tersentuh. Dan di sana
ada Edgar, teman kampus juga teman baiknya.
Kecurigaan Andra semakin kentara ketika Edgar menarik Caca pulang
selesai bernyanyi di sebuah Mal.
Naya mangut-mangut "Kok bisa kamu tahu? Sementara si tersangka gak
peka sama sekali," balas Naya, heran kepada adik laki-lakinya itu.
Tentu saja Naya heran, bagaimana bisa pria itu tidak peka dengan
sekelilingnya, sementara orang yang sekali tatap saja sudah paham apa
yang terjadi.
"Mungkin dia masih bingung."
**
Caca tidak paham dengan situasi saat ini, mendadak ia harus bertemu
dan duduk berdua di dalam sebuah ruangan yang menjadi kenangan
manisnya dulu. Lebih parahnya, ia harus berhadapan dengan jarak cukup
dekat bersama pria yang ia tekadkan untuk menjauh.
"Ada apa bawa aku ke sini? Bang Ed mau ngomong sesuatu?" Caca
bertanya setenang mungkin, mencoba menahan debaran yang belakangan
ini berusaha dibunuhnya supaya tidak muncul kembali. Debaran yang
pada akhirnya hanya akan membuatnya sakit hati.
Edgar masih terdiam, matanya terus menatap ke arah Caca yang kini
menduduk. Membiarkan sepasang sepatu miliknya menjadi pemandangan.
Tidak ada respons, Caca semakin gelisah. Dia sudah muak dengan
posisi seperti ini. Caca sudah lelah dengan perasaan yang terus saja di tarik
ulur. Caca tidak mau lagi berharap, Caca sudah bertekad untuk menutup
hatinya dari cinta Edgar.
Caca menghela napas lelah. "Kalo gak ada yang mau diomongin, Caca
permisi keluar," lanjutnya, tanpa menatap ke arah Edgar.
81
DhetiAzmi
Cewek itu bergegas untuk pergi, namun sebuah tangan besar menahan
salah satu pergelangan tangannya untuk bertahan di tempat.
Caca terkejut, mendongak menatap Edgar yang tidak melepaskan
pandangannya dari gadis itu. Ketika manik mata keduanya bertemu, Caca
terdiam. Sepasang mata cerah itu berhasil membuat sesuatu di dalam
dirinya berdenyut nyeri.
"Ada apa lagi? Caca ada urusan, bisa Bang Ed lepasin? Caca mau keluar
kalo gak ada sesuatu yang mau Bang Ed omongin," jelas Caca, mencoba
mengontrol sesuatu yang bisa saja menggagalkan niatnya untuk move on.
"Kenapa?"
Bukan jawaban yang Caca dapat, tapi pertanyaan singkat yang
membuat kedua alisnya saling bertaut.
"Hm?" Caca mendongkak, raut wajahnya terlihat bingung.
Edgar masih bertahan di posisinya. "Kenapa kamu jauhin aku?"
Caca mengedipkan matanya berkali-kali, tidak paham. Tentu saja Caca
tidak paham, menjauhinya? Caca sadar ia sedang menarik jarak dengan
Edgar. Tapi Caca tidak paham jika hal itu berpengaruh bagi Edgar. Caca
sudah lelah berharap dan sakit hati.
"Aku gak jauhin Bang Ed," jawab Caca, yakin.
Edgar menggeleng. "Jangan bohong, kamu dengan jelas jauhin aku."
Caca masih bertekad pada pendiriannya. "Aku gak jauhin Bang Ed."
"Kamu jauhin aku, Bocah! Kamu tiba-tiba diam waktu aku tanya. Nolak
aku antar pulang, gak datang ke Kafe dan buat ribut di tempat aku. Dan
kamu mengabaikan telpon dariku!" jelas Edgar dengan nada penuh
penekanan.
Caca terkejut, apa yang Edgar katakan berhasil membuatnya diam. Apa
segitu kentara ia menjauhi pria ini? Tapi... Sejak kapan apa yang ia lakukan
berpengaruh bagi Edgar? Bukankah Edgar tidak pernah
memperdulikannya? Harusnya pria itu senang ia tidak datang dan
mengganggunya seperti biasa.
Caca menarik napas, mencoba menahan semua kata-kata yang ingin
meluncur dan mengungkapkan semua rasa sakit hatinya.
"Kenapa kalo Caca lakuin itu? Sejak kapan penolakan, dan kedatangan
aku Bang Ed peduliin? Aku mau gimana pun, semua gak ada urusannya
sama Bang Ed," jawab Caca, tegas.
Edgar menggertakkan giginya. "Semua itu urusan aku, kamu yang
pertama datang dan ganggu hidup aku. Bilang cinta dan akan terus ngejar
aku. Sekarang, kenapa kamu jauhin aku dan mengabaikan kehadiran aku!"
Caca mendengus, mulai terpancing dengan ucapan Edgar. "Buat aku
kayak orang bodoh karena terlalu cinta dan berharap sama Bang Ed? Buat
aku kayak cewek gak punya rasa malu dengan terus-terusan ngejar cowok
BukanStalker
yang jelas-jelas udah nolak aku!?" caca berteriak, mengeluarkan semua
keluhan yang selama ini ia pendam.
Edgar diam, ketika ia hendak membuka mulutnya. Caca kembali
berbicara melanjutkan kalimatnya yang sempat terjeda karena marah.
"Aku emang pernah bilang bahwa aku bakal terus ngejar Bang Ed
sebelum janur kuning melengkung! Aku terus kejar Bang Ed walau tahu
kalo Bang Ed udah punya pacar! Tapi itu dulu, sebelum aku bisa ngerasain
gimana rasanya patah hati. Gimana rasanya jadi orang gak tahu diri dengan
terus ngejar pria yang udah nolak aku dan punya pacar. Gimana rasanya
jadi orang yang dihina oleh orang lain!"
"Kenapa kamu harus peduli dengan ucapan orang lain? Sejak kapan
kamu peduli dengan pandangan orang?" Edgar bertanya, nadanya datar.
Caca tersenyum kecut. "Karena pada akhirnya, kepercayaan diri itu
nyakitin hati juga. Apa yang bisa aku lakuin saat aku sadar bahwa apa yang
aku lakuin akhirnya gak bisa digapai? Terus berdiri dan mengharapkan
sesuatu yang gak pasti sampai ngelukain hati?" Caca menggeleng, memberi
jeda di kalimatnya.
"Aku gak sesabar itu, walau aku terkenal dengan cewek SMA gak tahu
malu. Aku masih punya hati, dan pada akhirnya aku lebih nyelametin hati
aku dari rasa sakit yang terus-terusan aku rasain karena cinta sama Bang
Ed. Buat apa aku ngejar Bang Ed kalo Bang Ed aja gak peduli dan lihat
keberadaan aku. Bang Ed gak pernah peka sama perasaan aku!"
Napas Caca naik turun, air mata yang mati-matian ia tahan akhirnya
turun. Edgar terdiam, mendadak hatinya berdenyut melihat tangisan Caca.
"Ca . . ."
"Udah cukup, Bang, Caca mohon. Gak ada yang aku mau selain biarin
aku jalan dengan pilihan aku sendiri. Aku gak akan ngejar Bang Ed lagi, aku
gak akan gangguin Bang Ed dan buat keributan di Kafe lagi. Caca juga akan
nyerah dan berhenti cinta sama Bang Ed."
"Kamu gak bisa ngelakuin itu, Ca," seru Edgar, mengeratkan rahangnya.
Caca tersenyum paksa, mengusap air mata yang membanjiri pipinya.
"Aku bisa. Karena mulai sekarang, Caca akan move on dan mulai hidup
tanpa ada Bang Ed lagi," balasnya, yakin.
Beranjak dari tempat duduk, Caca langsung melangkah untuk keluar
dari ruangan menyesakkan itu. Sebelum Caca benar-benar keluar dari sana,
Edgar sempat menahan dan berbisik di telinganya.
"Itu gak akan terjadi, karena hidup kamu adalah aku. Mungkin, mulai
hari ini kamu yang harus siapin mental dengan apa yang akan terjadi."
Caca mengabaikannya, buru-buru keluar meninggalkan Edgar yang
diam di tempatnya dengan ekspresi tidak terbaca.
83
DhetiAzmi
20. Ada Yang Nggak Beres
S
etelah kejadian di mana Caca mengungkapkan semua isi hatinya
kepada Edgar, cewek itu mulai merasa sedikit lega. Lega karena
tidak perlu lagi bersandiwara dan main kucing-kucingan jika
harus bertemu dengan Edgar. Pria itu pasti sudah paham, kenapa Caca
menjauhinya.
Ya, Caca benar-benar serius untuk melupakan Edgar. Menjauhi pria
yang cukup lama ia kejar demi mendapatkan cintanya. Sayang, Caca tidak
sekuat itu untuk bertahan mengejar sosok Edgar yang lagi-lagi
memberikannya luka.
Caca menghembuskan napas lelah, mengusap rambutnya yang basah
dengan handuk kecil. Pembicaraannya dengan Edgar semalam kembali
terdengar. Caca heran, kenapa Edgar tidak terima ketika Caca
menjauhinya? Bukankah pria itu harusnya senang, karena tidak ada lagi
bocah pengganggu di hidupnya?
Caca menggelengkan kepalanya, melihat wajahnya di depan cermin.
Berdecak ketika mendapati kantung mata yang menghitam di bawah kedua
matanya. Ya, semalam Caca lagi-lagi menangis. Dan lagi-lagi semua terjadi
karena orang yang sama.
Cewek itu mendesah lelah, mengambil seragam dan mulai
mengenakannya. Hari ini ia harus kembali sekolah, rasanya benar-benar
malas. Caca ingin sekali bolos, tapi Mami tidak akan mengizinkannya.
Terlebih, ada Gerlan di rumah. Kakak laki-lakinya itu pasti akan
memaksanya sekolah jika tahu adiknya malas.
Dengan penampilan yang sudah rapi, Caca keluar dari kamar. Turun ke
lantai bawah untuk melakukan rutinitas pagi, sarapan bersama dengan
keluarganya. Sampai kakinya di ruang makan, tubuh Caca mendadak kaku.
Matanya membelalak, mulutnya menganga ketika melihat ada penghuni
lain di ruang makan.
Orang yang semalam berhasil membuat Caca menangis, orang yang
berhasil membuat Caca marah dan terluka. Edgar, pria itu duduk manis di
antara Papi dan Gerlan, sementara Maminya terlihat sedang menyiapkan
makanan.
"Pagi, Ca."
BukanStalker
Suara bariton itu langsung menyadarkan keterkejutannya, Caca
mengerjap. Menoleh ke arah Edgar yang kini memasang senyum menawan.
Senyum akrab yang sering kali dilemparkan kepada pelanggannya di Kafe.
Caca masih tidak bergerak di tempatnya, sampai suara Mami
menginterupsi.
"Ngapain berdiri di situ? Sini sarapan bareng," ajak Mami.
Dengan ekspresi linglung, Caca mengangguk dan berjalan ke meja
makan. Duduk berhadapan tepat di depan Edgar.
Mami mulai sibuk menyiapkan nasi goreng di atas piring untuk Caca,
sementara Edgar dengan santainya mengunyah nasi goreng itu.
"Yang banyak makannya ya, Nak Ed," ucap Mami.
Edgar mendongkak lalu tersenyum. "Iya, Mi."
Caca makin melongo, Mi? Mami? Sejak kapan Edgar memanggil orang
tuanya dengan akrab begitu? Banyak pertanyaan yang Caca pikirkan,
sampai ketika matanya tidak sengaja bertemu dengan manik mata Edgar,
Caca bisa melihat senyum kecil di bibir pria itu. Bukan senyum ramah
seperti yang ditujunkan kepada keluarganya, tapi senyum miring yang
memiliki banyak maksud.
Ada yang gak beres!
Sementara Gerlan yang sempat memandang curiga ke arah Edgar,
mengabaikan rasa penasarannya dan kembali melanjutkan sarapannya.
**
Caca benar-benar tidak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Hari
ini ia sudah berjanji akan pergi sekolah bersama Andra. Sayangnya
semuanya harus gagal. Tentu saja sebabnya karena pria yang fokus
menyetir dan kini duduk di sampingnya.
Caca gemas, ingin tahu apa maksud dari kelakuan Edgar hari ini.
Tentang kenapa pria itu tiba-tiba ada di rumahnya, memanggil kedua orang
tuanya dengan sebutan akrab. Bahkan, pria itu memaksa ingin
mengantarnya sekolah dan mengabaikan kehadiran Andra di sana.
Tentu saja Caca heran, sejak kapan Edgar berperilaku seperti ini? Dulu,
jangankan menjemput atau bermain ke rumahnya. Bertemu saja harus Caca
yang menemuinya dengan tidak tahu malu. Dan, bukankah semuanya
sudah berakhir mengingat kejadian pertengkaran semalam.
"Apa yang Bang Ed lakuin?" tanya Caca tiba-tiba.
Edgar menoleh sebentar, lalu kembali fokus menyetir. "Hm?"
Caca menghela napas. "Apa yang Bang Ed lakuin hari ini? Sadar gak,
Bang Ed lagi apa sekarang?"
Edgar mengangguk tanpa menoleh. "Sadar, kan sekarang aku mau
nganter kamu ke sekolah."
85
DhetiAzmi
Caca menggeram gemas. "Bukan itu! Maksud aku, kenapa Bang Ed
mendadak jadi aneh gini? Tiba-tiba datang ke rumah aku, ikut sarapan
sama keluarga aku tanpa aku tahu."
"Gak boleh?"
Caca gelagapan, terkejut mendengar kalimatnya dijawab dengan
pertanyaan seperti itu.
"Bu-bukannya gak boleh, cuma aneh aja. Tumben banget Bang Ed
datang ke rumah aku, bahkan mau nganterin aku sekolah. Dan lagi, Bang Ed
kelihatan akrab sama Mami aku," jawab Caca cepat.
Edgar terkekeh sebentar, kekehan yang jarang sekali Caca lihat.
"Kenapa? Salah, kalo aku mau akrab sama mertua sendiri?"
Caca langsung mendelik, terkejut. "Hah!?"
Edgar ikut melirik ke arah Caca, mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?
Ada yang salah sama jawabanku?"
"Jangan ngaco!" Caca hampir berteriak, entah kenapa dadanya
mendadak panas.
Edgar menaikkan satu alisnya. "Ngaco gimana? Gak ada yang aneh kok."
Caca menggeleng cepat. "Jelas aneh dong! Apa maksudnya deket sama
mertua? Bang Ed lagi ngelindur ya? Yang lagi aku tanyain itu Mami, jadi
Bang Ed baru aja bilang Mamiku mertua."
"Terus? Anehnya di mana?"
Caca memicingkan matanya. "Kalo Bang Ed sebut Mamiku mertua,
berarti Bang Ed lagi deketin anak Mami. Jangan-jangan, Bang Ed lagi
deketin Bang Gege ya!?" tebaknya dengan nada menuduh.
Edgar menginjak rem mendadak, hampir saja kening Caca membentur.
"Kamu gila ya!? Apa maksudnya aku deketin abang kamu!?" tanyanya,
Edgar melotot horor.
Kembali melanjutkan perjalanannya , Edgar mendesah mendengar
pertanyaan menuduh yang tidak masuk akal itu.
Caca memanyunkan bibirnya. "Lagian ngapain juga Bang Ed panggil
Mami mertua. Anak mami itu cuma dua, aku sama Bang Gege. Kalo bukan
Bang Gege, siapa? Jangan-jangan Bang Ed mau gebet Mamiku ya?"
tuduhnya lagi, tidak percaya.
Edgar memejamkan mata sebentar, lalu menghela napas. Menghentikan
mobilnya dan menepi. Melirik ke arah Caca yang menaikkan kedua alisnya.
Ekspresi curiganya masih tampak jelas di sana.
"Kamu."
"Huh!?"
"Aku deketin kamu, bukan Mami apa lagi abang kamu," jelas Edgar,
menekan kata-katanya.
Caca melongo, lalu mengerjapkan matanya berkali-kali. "Bang Ed gak
salah ngomong kan?"
BukanStalker
Edgar mendengus geli. "Sejak kapan aku ngomong tanpa dipikir."
Caca menggeleng cepat. "Gak boleh!"
Satu alis Edgar terangkat. "Apa?"
Lagi-lagi Caca menggeleng. "Gak boleh! Bang Ed jangan bikin Caca baper
lagi ya! Aku ini lagi move on! Ah? Enggak, udah move on dari Bang Edgar."
Edgar memicingkan matanya, tidak percaya. "Yakin?"
Tatapan tajam itu berhasil membuat Caca gelagapan, menggelengkan
wajahnya cepat-cepat. Caca langsung mengangguk tanpa berani melihat
Edgar.
"Yakin!"
Edgar diam, detik berikutnya mengangguk-angguk paham. "Oke,
sekarang kamu turun, udah sampe."
Caca mengerjap, mendongak menatap sekeliling yang benar saja sudah
berada di depan gerbang sekolah yang masih terbuka. Beberapa murid
mulai masuk ke dalam sekolah. Astaga, sejak kapan mobil Edgar menepi di
depan sekolahnya.
"Ah? Ma-makasih," gumam Caca, buru-buru.
Edgar mengangguk, sebelum Caca keluar dari dalam mobil Edgar. Pria
itu sempat menahan tangan Caca, dan memberikan ciuman tepat di pipi
cewek yang mematung tanpa pergerakan, bahkan napasnya saja tidak
terdengar.
"Semangat belajarnya, Bocah.”
87
DhetiAzmi
21. Stalker
H ari Ini kondisi Caca benar-benar mengkhawatirkan. Cewek
bawel yang setiap hari akan memekik ketika mendengar gosip
yang sedang hangat diperbincangkan, atau soal
diskon make up dan fashion yang tengah eksis di kalangan anak muda.
Setengah hari ini, pekerjaannya hanya melamun sembari memandang
kosong papan tulis. Dinda yang menjadi teman satu kursinya tidak henti
mengerutkan kening karena bingung. Kondisi Caca yang seperti ini benar-
benar menyeramkan.
Tentu saja menyeramkan ketika orang yang biasanya bawel mendadak
diam tanpa kata. Banyak tuduhan aneh yang di keluarkan teman-temannya,
Budi berkata bahwa Caca kerasukan roh hantu pendiam. Sementara Kenan
juga ikut mencurigai jika Caca sedang sakit gigi atau sariawan. Selebihnya,
mereka menyimpulkan bahwa itu efek dari patah hati.
Ya, semua teman Caca tahu dengan apa yang terjadi kepada teman
mereka. Cewek manis yang tengah move on dari gebetan tampannya, Edgar.
"Ca, jangan diem terus dong! Serem, tahu!" Dinda mulai mengeluh
merasakan atmosfer di sekitarnya yang mendadak mencekam.
Budi yang duduk di belakang Caca mengangguk setuju "Bener tuh,
sadar Ca! Kita gak maksa lo move on kok, pelan-pelan aja. Kalo diem gini,
nanti setan pada nempel terus lo kerasukan gimana?"
Kenan yang hendak ke kantin menggelengkan kepalanya melihat Caca
"Astaga, ternyata cinta itu bikin urat-urat mendadak kaku ya," ujarnya, sok
tahu.
Budi mengerutkan kening. "Maksudnya?"
Kenan mengangkat bahu sok keren "Itu buktinya, Caca mendadak beku
gara-gara cinta. Gue curiga, jangan-jangan...."
Kenan menggantungkan kalimatnya, ekspresi wajahnya mendadak
panik. Budi ikut merinding dan cemas, sementara Dinda mengerutkan satu
alisnya penasaran.
"Apaan Ken?" Budi bertanya, penasaran.
"Jangan-jangan...."
"Jangan-jangan?"
Masih dengan ekspresi panik, Kenan menarik napas panjang. "Jangan-
jangan, Caca sakit gigi sampai giginya dicabut. Makanya dia jadi kaku,
karena malu giginya ompong!" serunya, dramatis.
BukanStalker
Budi membelalak, Dinda menganga mendengar jawaban Kenan. Tidak
lama pekikkan nyeri terdengar, Kenan meringis mengusap bahunya yang
baru saja terkena pukulan.
"Jangan ngomong sembarangan lo," ujar Eka, melototi Kenan.
Kenan meringis, mengusap satu bahunya yang terkena pukulan keras si
cewek bongsor. "Sakit, badak!"
Eka melotot tidak terima. "Apa!?"
Kenan mengerjap, ekspresi kesalnya berubah mendadak. Cowok itu
cengengesan seperti orang idiot.
"Enggak kok, Eka. Abang Ken mau ke kantin dulu, permisi."
Kenan buru-buru lari sebelum cewek bongsor itu murka dan menghajar
wajah tampannya. Eka mendengkus, menatap Kenan kesal.
"Lo kenapa sih, Ca? Ada masalah apa lagi? Kok diem terus dari tadi?"
Amora ikut bergabung, bertanya karena penasaran.
Tidak ada respons sama sekali, Caca tetap diam dengan tatapan kosong.
Otaknya seakan membeku, ia tidak bisa mencerna apa yang teman-
temannya katakan.
Eka kesal, menggebrak meja yang di isi Caca. Terkejut, Dinda, Amora
dan Budi mengerjap mendengar kerasnya suara yang dibuat Eka. Berbeda
dengan Caca yang sepertinya tidak terganggu sama sekali.
Eka menggeleng tidak percaya. "Astaga, seriously! Nih anak kayaknya
harus dibawa ke dukun deh!"
Budi mengangguk setuju. "Bener tuh! Pasti ada arwah penasaran yang
nempelin tubuh Caca!"
Dinda dan Amora mendelik ke arah Budi yang kini merengut tidak
paham. Tidak lama, helaan napas terdengar. Caca, cewek itu bergerak
dengan napas berat.
"Bikin pusing aja," ujar Caca, tiba-tiba.
Empat orang yang sedari tadi mencoba mengajak Caca berbicara
mengerutkan kening.
"Kenapa, Ca?" Dinda bertanya terlebih dahulu.
Caca mengerjap, menoleh ke sampingnya. Dinda, Amora, Eka dan Budi
sedang berkumpul di sana. Caca mengedipkan matanya beberapa kali,
ekspresinya tampak bingung. "Kalian ngapain di sini?"
Mereka menganga, tidak percaya jika Caca tidak menyadari kehadiran
mereka yang sedari tadi ada di sekitarnya.
"Astaga Caca! Lo gak sadar dari tadi kita ada di sini? Nanya ini itu sama
lo?" Dinda bertanya, frustasi.
Caca menggeleng tanpa dosa. "Emang, kalian nanya apa?"
Eka memejamkan matanya, Budi menepuk kening, sementara Amora
meringis mendengar pertanyaan yang Caca lontarkan. Dinda sendiri
menganga, kesal.
89
DhetiAzmi
"Lo dari tadi gak denger kita ngajak lo ngobrol?" tanya Budi.
Caca menggeleng, raut wajahnya jelas kebingungan melihat raut wajah
teman-temannya.
Amora menghela napas. "Lo lagi ngelamunin apa? Soal Kak Edgar lagi?"
Pertanyaan Amora berhasil membuat Caca diam, dan mereka yakin apa
yang sedang terjadi kepada Caca memang soal Edgar.
"Ada lagi? Bukannya lo udah niat mau move on ya? Kenapa sekarang
jadi gini lagi? Jangan bilang, lo plin plan lagi!" Eka menuduh, mengingat
Caca pernah gagal satu kali.
Caca menghela napas, apa yang Edgar lakukan tadi pagi kembali
berputar di kepalanya. "Gue niat banget move on! Bahkan, gue udah narik
jarak dan nutup hati gue. Tapi... Gimana kalo orang yang mau lo lupain itu
muncul di sekitar lo?"
"Maksud lo?" Dinda mulai serius.
Caca lagi-lagi membuang napas berat, memijat pelipisnya yang mulai
berdenyut.
"Gue gak tahu! Kenapa sih, di saat lo serius mau lupain orang, eh orang
itu muncul dan bersikap seolah-olah gak terjadi apa-apa. Bahkan
mendadak bersikap manis," Caca kembali mengeluh.
Eka menaikkan satu alisnya. "Maksud lo? Bang Ed muncul terus
bersikap manis sama lo kayak kemarin?"
Caca mengangguk, baru saja ia hendak menambahi bahwa sikap Edgar
jauh lebih parah daripada sebelumnya, mendadak Dinda berteriak.
"Jangan tertipu! Itu palsu! Lo gak sadar, kalo dia lagi maenin lu lagi, Ca!"
Budi mengangguk setuju. "Bener tuh! Cowok itu di mana-mana sama
aja! Giliran dideketin menjauh, giliran dijauhin ngedeketin. Please, Ca,
jangan tergoda!"
Eka mendelik. "Lo juga cowok, gebleg!"
Budi mengerjap, lalu menggeleng. "Gue gak termasuk cowok-cowok
yang suka tarik ulur hati cewek, tahu!"
Empat cewek yang ada di sana memutarkan kedua bola matanya malas,
siapa juga yang mau dengan Budi yang kesehariannya mengobrolkan soal
kecantikan. Mencintai Sasa yang jelas tidak mungkin mau, mengingat sifat
liciknya.
Mereka kembali menginterogasi Caca, meyakinkan temannya itu agar
tidak mundur dan lengah dengan apa yang Edgar lakukan kepadanya.
Bahkan mereka memberikan tips yang tidak masuk akal, seperti menyuruh
Caca untuk pura-pura sakit agar Edgar tidak mau mengganggunya.
caca pusing, apa yang teman-temannya katakan tidak semudah apa
yang ia bayangkan. Sikap Edgar benar-benar jauh lebih membahayakan
daripada sebelumnya. Apa ini yang Edgar rasakan ketika Caca
mengganggunya dulu? Tapi Caca tidak sampai mencium Edgar, kok!
BukanStalker
Caca mengerjap ketika ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk
terlihat di sana. Dengan kerutan di dahinya, Caca membuka pesan itu tanpa
melihat siapa pengirimnya.
Bang Ed
Jangan terlalu dipikirin , bawa santai aja. Apa yang dikasih tahu teman
kamu gak akan berpengaruh sama aku. Ingat, kamu cuma tinggal siapin
mental kamu dari gangguan orang dewasa ini, sayang.
Caca melotot, hendak menjerit tapi suaranya seperti tertahan di
tenggorokan. Astaga, bagaimana pria ini tahu apa yang sedang terjadi
kepadanya.
"Jadi Stalker serem ternyata."
91
DhetiAzmi
22. Dia Kenapa?
H al menyeramkan yang Caca rasakan tidak cukup dari sebuah
pesan masuk saja. Setelah bel pulang berbunyi, Caca dan semua
teman-temannya yang terlibat berjalan menuju Aula untuk
melakukan latihan drama.
Tidak ada yang aneh, mereka mengobrol seperti biasanya. Eka yang
akhir-akhir ini sering kali dibuat mengamuk oleh Ardi. Atau kemesraan
Amora dan Adam yang tidak segan untuk di pertontonkan. Atau, kelakuan
absurd Kenan dan Budi yang selalu berhasil membuat semua orang
tertawa. Dan lagi, soal Sasa yang masih memonopoli Juna di ikuti dua
temannya yang lain. Sementara Dinda enggan menanggapi, hidupnya hanya
untuk men-stalk Oppa.
"Lo serius udah move on, Ca?"
Caca yang asyik mengunyah permen karet menoleh ke arah Dinda.
"Apa?"
Dinda tidak menjawab, menatap Caca penuh selidik lalu mengangguk.
Seolah sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Kayaknya gue gak perlu cemas lagi. Gak disangka, lo gampang
banget move on," lanjutnya.
Caca mengerutkan kening. "Maksudnya apaan sih, Din?"
Caca sama sekali tidak paham, melirik heran ke arah cewek yang asyik
dengan ponselnya.
"Gak ada maksud apa-apa."
"Hah?"
"Maksudnya.... Kita semua gak nyangka, ternyata lo bukan tipe cewek
yang menye-menye. Biasanya, orang yang mau move on itu lama banget.
Kadang ada yang sampe bertahun-tahun. Tapi, lihat kondisi lo sekarang,
kayaknya lo udah baik-baik aja," Budi ikut menimpali, entah sejak kapan
cowok kemayu itu berdiri di antara mereka.
Caca diam sebentar, lalu kembali berpikir tentang kalimat Budi.
Memang, perasaannya tidak sehampa kemarin. Caca juga tidak paham,
jika move on itu mudah jika di bawa santai. Tidak perlu buru-buru dan
kembali memikirkan hal menyakitkan itu.
"Tapi..... Kayaknya gak semulus pikiran kita deh," tiba-tiba suara Amora
menginterupsi.
BukanStalker
Semua yang asyik mengobrol tadi mendadak berhenti melangkah,
melirik ke arah Amora yang berdiri dengan Adam dengan pandangan
bingung.
"Kenapa?" Dinda bertanya.
Amora melihat mereka, lalu berakhir ke arah Caca yang mengerutkan
kening bingung. Amora meringis, tersenyum hambar. Lalu menunjuk ke
arah lain dengan dagunya.
"Tuh."
Kompak, mereka semua menoleh ke arah yang di maksud Amora.
Terkejut? Ya, semua yang ada di sana terkejut. Bahkan Caca tampak syok di
tempatnya. Cewek itu melotot, wajahnya mendadak pucat.
"Serius!? Itu Kak Edgar," Budi memekik.
Pria yang baru saja di teriaki itu tersenyum, berjalan dengan gagahnya
ke tempat di mana mereka berdiri. Bahkan Caca tidak bergerak sama
sekali, napasnya saja tidak terdengar.
"Napas woi!" Dinda menyikut tangan Caca sampai cewek itu mengerjap.
Napas berat terdengar dari mulut Caca, tidak lama. Detik berikutnya ia
mendongak ketika mendengar suara bariton Edgar.
"Sudah mau pulang?"
Mereka semua mengangguk, sementara Caca masih diam tidak
bergerak. Edgar tersenyum, lalu melirik ke arah Caca yang kini meringis
menahan keterkejutannya.
"Tumben ke sini, ada apa?" Adam bertanya, nada suaranya terdengar
mencibir.
Edgar mengangkat bahu. "Mau jemput pacar pulang."
Berhasil!
Jawaban Edgar berhasil membuat semua yang ada di sana melotot.
Terkejut? Tentu saja, sejak kapan Edgar memiliki pacar anak sekolah?
Bahkan, Caca saja dianggap anak kecil oleh pria itu.
"Serius? Bukannya Alisa itu anak kampus, bukan SMA?" Eka menyindir,
siapa tahu pria itu sedang bermain-main lagi dengan temannya.
Budi mengangguk, menimpali. "Bener tuh! Kak Ed gak salah alamat
kan?"
"Kayaknya emang salah alamat, siapa tahu Kak Ed cuma mampir
sebentar sebelum ke kampus jemput pacarnya," Dinda ikut berbicara.
Mereka semua mengangguk, hendak pergi dan mengabaikan kehadiran
Edgar. Sebelum suara Adam berhasil membuat langkah mereka kembali
berhenti.
"Loh? Bukannya Alisa sama Bang Ed udah putus?"
Pertanyaan itu berhasil membuat mereka melirik dan lagi-lagi
menampilkan ekspresi terkejut mereka. Begitu juga dengan Caca yang
membelalak, tanpa kata.
93
DhetiAzmi
"Hah? Serius? Kapan?" Amora mulai mencecar banyak pertanyaan.
Edgar terkekeh mendengarnya, sebelum menjawab pertanyaan Amora.
Edgar melirik ke arah Caca dengan senyum yang mencurigakan.
"Udah lama, waktu ada gosip kita putus. Aku sama Alisa emang udah
putus," jawabnya santai.
Amora mengerutkan dahi. "Bukanya kalian balikan?"
Edgar menaikkan satu alisnya, terkekeh lalu menggeleng. "Siapa yang
bilang?"
Amora mendadak gelagapan, ia sendiri tidak tahu. Hanya menebak
ketika mendengar cerita Caca dan rasa patah hatinya dulu.
Edgar tersenyum lagi. "Aku gak balikan sama Alisa. Waktu itu, emang
aku sempat ketemu dan jelasin apa penyebab kita salah paham dan
akhirnya akhirin hubungan. Tapi, rasanya aku gak bisa buat kembali lagi
sama Alisa."
"Kenapa?" Dinda penasaran, bertanya tanpa peduli yang lainnya
melirik.
Edgar mengangkat bahu. "Bukannya kertas yang udah diremas, gak
akan kembali mulus walau coba buat diperbaiki. Mungkin itu alasannya.
Aku gak suka, ketika ada sesuatu yang akhirnya membuat rusak hubungan.
Walau mencoba kembali, pasti rasanya gak akan sama."
"Cuma karena itu?" Amora bertanya heran.
Tentu saja ia heran, hanya karena salah paham Edgar bisa langsung
memutuskan dan melupakan semua yang sudah mereka rangkai?
Bukannya salah paham itu sudah biasa dalam hubungan? Bumbu cinta,
mungkin.
Edgar mengangguk. "Tapi, sepertinya alasan itu gak logis. Karena
sepertinya, ada orang lain yang berhasil masuk dan mengusik zona
amanku," lantunya, melirik ke arah Caca yang sedari tadi membisu.
Mendadak tubuh Caca menegang, kenapa ucapan Edgar terdengar
menyindir. Dan, sejak kapan Alisa dan Edgar putus? Karena yang ia lihat,
malam itu hubungannya dengan Edgar masih baik-baik saja. Bahkan,
mereka terlihat sangat mesra dan mengatakan kalimat yang berhasil
membuat Caca sakit hati.
Tapi, apa maksudnya orang yang mengusik zona aman barusan? Apa
Edgar benar-benar sedang menyindirnya. Atau, mungkin hanya perasaan
Caca saja.
Gak! Gak! Ini cuma perasaan gue aja. Lagian, sejak kapan gue berhasil
ngusik Bang Ed. Karena yang gue tahu, Bang Ed gak pernah peduliin
kehadiran gue.
Mereka yang tahu maksud Edgar satu per satu membubarkan diri.
Beranjak dari sana untuk segera masuk ke dalam Aula. Sementara Caca
BukanStalker
yang sadar sekeliling mendongkak, bingung kenapa teman-temannya
mendadak membubarkan diri.
"Lo harus kuat! Jangan lemah," Eka berbisik di belakang Caca.
"Inget! Pria punya sejuta alasan yang bisa bikin hati salah paham," Budi
ikut memberi wejangan. Lalu mereka pergi meninggalkan Caca dan Edgar
berdua.
Sayangnya, yang Budi katakan berhasil membuat Caca ingin
mengumpat. Kenapa cowok kemayu itu tidak sadar, bahwa dirinya juga
seorang laki-laki.
"Mau pulang?"
"Huh?"
Caca refleks menoleh, tatapannya seperti orang ling lung. Edgar
menaikkan kedua alisnya, tidak ingin mengulangi pertanyaannya lagi. Caca
yang paham mencoba berekspresi biasa saja.
"Ah? Enggak. Aku ada latihan drama hari ini," lanjutnya, melirik ke arah
lain.
Edgar diam, lalu mengangguk paham. Menghela napas, pria itu
menunduk dan mendekat ke arah Caca.
Detik berikutnya hal mengejutkan kembali terjadi, Edgar mencium
kening Caca. Cewek itu melotot, tubuhnya mendadak kaku.
"Kalo mau pulang, hubungin aku. Nanti aku jemput," ucapnya.
Setelah mengatakan itu, Edgar pergi begitu saja. Mengabaikan reaksi
Caca yang hampir terkena serangan jantung.
"Astaga? Dia kenapa sih?" tanya Caca pada dirinya sendiri.
95
DhetiAzmi
23. Bersikap Biasa Aja
S
ikap Edgar yang mendadak berubah, berhasil membuat Caca
kehilangan kesadarannya. Bukan pingsan atau tidak sadar diri,
melainkan cewek itu berpikir keras dengan apa yang belakangan
ini terjadi di hidupnya. Sampai Caca tidak fokus pada latihan dramanya,
untung saja ia hanya berperan sebagai dayang di sini. Jika sebagai pemeran
utama? Hancur sudah.
Hidup yang berawal dari dirinya yang menjadi seorang stalker. Dan
dengan tidak tahu dirinya mengejar Edgar yang jelas sudah memiliki
kekasih. Bahkan, Caca dengan muka tebalnya ikut duduk ketika Edgar dan
Alisa berdua dan mengganggu percakapan mesra mereka.
Sampai satu per satu luka ia dapatkan dari kelakuannya itu. Caca sadar,
bahwa apa yang ia lakukan akan sia-sia. Pada akhirnya, cinta itu tidak bisa
dipaksakan sekeras apa pun ia bertahan untuk mengejar cinta Edgar.
Bukankah terlihat seperti Obsesi jika Caca terus saja egois seperti itu.
Dan, ketika ia ingin melupakan semuanya. Melupakan cintanya kepada
Edgar, menghapus sosok yang sudah berkali-kali melukainya tanpa sadar.
Kenapa pria itu justru mengejarnya? Muncul lagi dengan sikap yang
berbeda.
Sifat yang dulu terlihat dingin dan tidak peduli, kenapa sekarang
mendadak hangat dan seolah memberikan Caca harapan yang berhasil
membuat hatinya berharap lagi dan lagi dengan cinta itu.
Bukan hanya itu, kenyataan bahwa Edgar sudah putus dengan Alisa saja
membuat Caca lagi-lagi berpikir cukup keras. Mereka putus tepat ketika
Caca mendapatkan luka untuk pertama kalinya dari sosok Edgar.
Kenapa mereka putus? Bukankah waktu itu Edgar mengantarkan Alisa
pulang setelah berdrama ria? Bahkan Edgar sampai melupakan Caca yang
sudah dijanjikan untuk pulang bersama dengan alasan ada keperluan yang
penting.
Lantas, bukankah Alisa orang yang sangat penting? Lalu, kenapa
mereka putus. Belum lagi kata-kata Edgar yang belakangan ini membuat
Caca mati-matian mengabaikan harapan itu. Caca tidak ingin, semua itu
kembali melukai hatinya.
"Argh! Pusing gue! Kenapa jadi kayak gini sih!" ujar Caca memaki
sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Kenapa lagi, Ca?"
BukanStalker
Budi ikut pusing melihat Caca yang tidak berhenti mengumpat dan
melamun. Bahkan tidak jarang rambut yang biasanya di usap sedemikian
rupa agar tidak berantakan, kini mengembang seperti adonan kue.
"Gara-gara Edgar lagi?" Eka ikut menimpali, membuka minuman kaleng
yang sudah disediakan oleh Adam.
Caca menghela napas berat, mendengar nama Edgar mendadak
kepalanya menjadi pusing.
"Menurut kalian, gue harus gimana sih? Gue mati-matian move on dan
jauhin Bang Ed. Tapi, kenapa sekarang dia jadi deketin gue. Bahkan, gak
jarang dia mendadak cium pipi sama kening gue. Lo pikir deh, gimana gue
gak baper coba!" amuknya, sebal.
Budi dan Eka saling pandang, mangut-mangut paham dengan emosi
Caca barusan. Eka terlihat berpikir, sementara Budi asyik menyisiri rambut
Caca yang berantakan.
"Mungkin, ini yang disebut karma," ujar Eka lagi.
Caca menaikkan satu alisnya, lalu mendengus sebal. "Karma karena
Bang Ed udah nyia-nyiain gue? Dan baru merasa kehilangan pas gue pergi
dan akhirnya dia ngejar gue setelah dia sadar sama perasaannya? Gitu?
Jadi, maksud lo Bang Ed ini suka sama gue?" cerocos Caca, bosan dengan
kesimpulan seperti itu.
Eka mengangkat bahu. "Kan bisa aja,"
Caca memutarkan kedua bola matanya malas. "Gak mungkin! Gue gak
mau berpikir kayak gitu, sama aja gue berharap lagi. Lagian, banyak cewek
yang suka sama Bang Ed. Jauh lebih kece dan bohay dari gue."
"Kan lo juga bohay, Ca," celetuk Budi yang mendapatkan delikan tajam
dari Caca.
Eka membuang napas. "Terus, lo maunya gimana? Bukannya lo harus
seneng karena Bang Ed mendadak perhatian sekarang sama lo. Bukannya
lo ngarepin ini dari dulu?"
Caca diam, lalu helaan napas berat kembali terdengar. "Iya, gue gak
munafik. Gue seneng sama sikap Bang Ed, entah kenapa harapan yang gue
agungkan dulu sekarang kejadian. Lihat Bang Ed perhatian, nyamperin gue.
Senyumin gue. Tapi, semuanya gak mudah setelah gue ngerasain luka itu.
Gue gak mau berharap lagi, karena pada akhirnya harapan itu lagi-lagi
nyakitin gue. Gue capek, gue gak mau ngerasain itu lagi. Rasanya gak enak,
sakit banget."
Budi merengut, lalu memeluk kepala Caca ke pelukannya. Caca bahkan
sudah tidak peduli lagi, cewek itu diam saja ketika Budi menepuk-nepuk
pucuk rambutnya. Sementara Eka yang melihat itu mendesah, tidak lama
cewek bongsor itu memanggil cowok yang sedari tadi asyik dengan
kekasihnya.
"Adam!"
97
DhetiAzmi
Si empunya yang dipanggil menoleh bersamaan dengan Amora yang
sedari tadi di sampingnya. Satu alisnya terangkat ketika Eka mengangkat
tangannya dan memberi kode agar cowok itu menghampiri.
"Ada apa?"
"Lo jelasin deh, emang sejak kapan Edgar putus sama Alisa?" tanya Eka,
tanpa basa-basi.
Adam yang tidak paham mengerutkan kening. "Kayaknya, waktu gosip
mereka putus saat itu mereka emang udah putus."
"Yakin? Gak ada drama balikan kayak di sinetron gitu?" tanya Eka lagi,
Adam mengangkat bahu. "Mana gue tahu, tapi kayaknya enggak sih."
"Yakin?" Amora ikut bertanya ketika sadar dengan pertanyaan Eka. Apa
lagi ketika melihat penampilan Caca.
Adam mengangguk. "Hm, tapi gak tahu. Lagian, aku gak mau ikut
campur urusan orang. Bang Ed juga udah dewasa, jadi dia tahu yang mana
yang baik dan buruk. Daripada kepoin urusan orang, mendingan kepoin
kamu, Yang." goda Adam, mencolek dagu Amora.
Amora mendesis malu, sementara Eka dan Budi memutarkan kedua
bola matanya malas.
"Najis banget lo Adam, mual gue dengernya." sindir Eka, bergidik.
Adam mengangkat bahu"Kenapa? Lo iri ya gak ada yang gombalin?"
"Najis!"
Adam terkekeh, lalu menoleh ke kanan-kiri, setelah mendapatkan apa
yang dicari, cowok itu berteriak.
"Ardi! Istri lo galau nih, minta di gombalin!"
Eka melotot, lalu menoleh ke tempat di mana Ardi sedang sibuk
mengobrol dengan teman-temannya.
"Bangke lo, Adam!"
Adam terbahak kencang, Eka menggeram dan memberi injakkan cukup
keras di kaki Adam. Dengan sigap, Eka berlari secepat kilat sebelum Ardi
menghampirinya. Sayangnya, cowok itu justru mengejar Eka yang kini
melemparkan umpatan kasar.
Adam yang hampir terjungkal karena kelakuan Eka, meringis menahan
nyeri di sebelah kakinya. Amora yang melihat itu menggelengkan
kepalanya, tidak ada niat untuk membantu. Cewek pendek itu menghela
napas, lalu duduk di samping Caca.
"Lo kenapa lagi? Jangan terlalu di pikirin, lo ikutin kata hati lo aja, Ca.
Kalo lo masih cinta sama Bang Ed, kasih dia kesempatan sekali lagi. Tapi,
kalo lo masih takut dan gak percaya. Lo boleh kok bersikap biasa aja. Coba
untuk kembali mendekat sama Bang Ed pelan-pelan sebagai teman. Biar lo
juga tahu, seserius apa Bang Ed sama lo. Karena gue juga gak terima kalo
sampe Bang Ed mainin hati lo lagi," Amora memberi nasihat.
BukanStalker
Caca terdiam, mencerna apa yang Amora katakan. Sebelum suara Adam
kembali memecah keheningan di antara mereka.
"Edgar nunggu tuh di luar, Ca."
Caca membelalak, mendongkak menatap arah yang ditunjuk oleh Adam.
Pria itu sudah berdiri di sana dengan pakaian yang sama. Menatap Caca
dengan senyum menawan di bibirnya.
Aish, gimana bisa gue bersikap biasa aja kalo kayak gitu!
99
DhetiAzmi
24. Boncel, Item
T idak bisa menolak, kedatangan Edgar yang mendadak membuat
Caca gelagapan. Beberapa kali menata perasaan yang sedang
berantakan karena pria yang sama. Pria yang kembali mengusik
setelah berhasil disingkirkan untuk beberapa saat di dalam hati dan
pikirannya.
Caca tidak tahu harus berbuat apa sekarang, menolak ajakkan Edgar
dengan alasan yang di buat-buat? Caca ingin sekali melakukan itu.
Sayangnya, Caca bukan cewek yang masa bodoh. Mau bagaimana pun,
Edgar datang ke Sekolah demi menjemputnya. Dan itu, untuk kedua
kalinya.
Kenapa Edgar melakukan itu?
"Bang," Caca membuka suaranya, pertanyaan yang semakin lama
mengganggu pikirannya tidak bisa ditahan lagi.
Edgar yang sedang fokus menyetir, menoleh sebentar. "Hm?"
Caca gugup, tidak tahu harus mulai dari mana.
"Bang Ed gak perlu ngelakuin ini," ucap Caca tiba-tiba.
Edgar mengerutkan kening. "Maksud kamu apa?"
Caca melirik sebentar, lalu menghela napas. "Bang Ed gak perlu
bersikap kayak gini sama aku. Aku gak apa-apa, kok! Lagian, aku ngejauh
dari Bang Ed bukan karena Bang Ed, tapi karena mau aku sendiri. Jadi,
Bang Ed gak usah cemas dan ngerasa gak enak sampai harus datang jemput
dan antar aku pulang kayak gini."
Edgar terdiam, bahkan Caca beberapa kali melirik ke arah Edgar saat
penjelasannya tidak mendapatkan respons dari pria di sampingnya. Caca
menggigit bibir bawahnya, apa Edgar marah sekarang?
"Dan kamu juga gak perlu cemas karena aku mau antar jemput kamu.
Karena, itu emang mau aku," balasnya, bersuara setelah beberapa menit
terdiam.
Caca meringis, kenapa kata-katanya harus dikembalikan seperti itu.
"Bukan itu masalahnya, Bang. Bang Ed tahu sendiri aku suka sama Bang Ed,
Bang Ed tahu aku ini cuma pengganggu di hidup Bang Ed. Karena itu,
gimana bisa aku lupain Bang Ed kalo Bang Ed bersikap kayak gini terus.
Aku gak mau jadi perusak di hidup Bang Ed... Aku takut kalo akhirnya aku
berharap lagi."
Edgar masih fokus menyetir, tapi pendengarannya fokus
mendengarkan keluhan Caca.
BukanStalker
"Tapi kamu udah masuk dan merusak hidup aku."
Caca mendongkak, menoleh ke arah Edgar yang sama sekali tidak
menatapnya. Caca mendadak sakit hati, lalu menunduk lagi.
"Iya, aku tahu. Aku minta maaf kalo aku udah ngerusak hidup Bang Ed.
Bahkan, aku gak tahu kalo Bang Ed sama Alisa putus. Maafin aku, Bang.
Karena itu, biarin aku memperbaiki semuanya. Pergi dari hidup Bang Ed,
biar Bang Ed nyaman dan gak merasa diganggu lagi sama."
"Gak perlu."
Edgar langsung memotong kalimat Caca. Caca yang sedari tadi
menunduk refleks menoleh. Tepat ketika Caca terkejut dengan kalimat
Edgar, mobil yang mereka tumpangi berhenti dan menepi.
Kedua tangan Edgar masih bertahan di setir mobil. Menarik napas, pria
itu menoleh ke arah Caca yang juga sedang menatapnya.
"Teruslah berharap."
Caca mengerutkan dahinya. "Huh?"
Edgar tidak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan
semuanya. Lagi-lagi pria itu menarik menghela napas berat, menatap Caca
yang sedang memasang wajah bingung.
"Kamu gak perlu ngejauhin aku, dan kamu gak perlu takut untuk
berharap lagi. Aku tahu, mungkin sikap aku yang mendadak kayak gini
bikin kamu bingung dan cemas. Tapi, kamu gak perlu banyak bertanya,"
ujar Edgar, menjelaskan.
Tangannya terulur, lalu menyentuh kening Caca. Mengelus kerutan di
sana dengan Ibu jarinya.
"Jangan terlalu banyak mikir, kasihan kening kamu ngerut terus. Aku
gak jamin muka kamu awet muda kalo kayak gini terus," lanjutnya, gemas.
Caca yang paham maksud Edgar melotot, lalu menepis tangan Edgar
cukup keras. "Apaan sih! Emang ngaruh ya merubah ekspresi sama awet
muda!?" amuknya, Caca paling sensitif jika soal kecantikan wajahnya. Oh
ayolah, Caca sudah menghabiskan tabungannya demi merawat wajah
mulusnya.
Edgar terkekeh, lalu mencubit pipi Caca saking gemasnya. "Ngambek,
hm?"
Caca merengut dan kembali menepis tangan Edgar. "Berisik."
Edgar semakin tertawa melihat wajah kesal Caca, pria itu
membuka seat beltnya lalu mendekat ke arah Caca. Caca yang masih dalam
tahap sebalnya mendadak melotot ketika Edgar mendekat.
"Mau apa!?" tanyanya, hampir berteriak.
Jarak wajah Caca dengan Edgar cukup dekat. Edgar yang melihat raut
terkejut Caca mengulum bibir menahan senyum, tidak lama suara 'klik'
terdengar.
"Buka seat belt," jawabnya polos.
101
DhetiAzmi
Edgar menarik tubuhnya setelah itu, sementara Caca masih syok di
kursinya. Pria yang sedari tadi menahan senyumnya mendadak tertawa,
lalu mengacak-acak rambut Caca.
"Mikir apa kamu? Ayok turun, kita udah sampai," kekehnya, membuka
pintu mobil.
Caca yang masih tidak bergerak akhirnya mengerjap, lalu melihat
sekelilingnya.
Kafe? Sejak kapan?
Tok tok!
Edgar mengetuk kaca di samping Caca, cewek itu terkesiap dan
langsung menoleh mendapati wajah Edgar di sana yang menyuruhnya
untuk segera keluar dari mobil.
Caca meringis, buru-buru melepaskan seat belt yang masih menempel
di tubuhnya. Membereskan rambutnya yang berantakan karena ulah Edgar.
Caca mendesis pelan, lalu memukul kepalanya sendiri. Astaga! Apa yang
lo pikirin sih Ca! Gila gila! Otak gak waras, harus dicuci ini, bikin malu aja.
Akhirnya Caca keluar dari dalam mobil setelah memaki dirinya sendiri.
Kejadian barusan berhasil membuat wajahnya memerah. Bukan hanya
karena malu, tapi juga hampir jantungan dengan kelakuan Edgar barusan.
Caca langsung berlari mengejar Edgar yang sedang menunggunya di
pintu Kafe. Pria itu terlihat sedang berbicara dengan beberapa wanita,
sepertinya pelanggan. Ya, pelanggan yang berakhir dengan menggoda
Edgar.
Caca merengut, memutarkan kedua bola matanya malas. Ck, sampai
kapan Edgar dikelilingi wanita genit seperti itu? Caca yang sempat masa
bodoh pada akhirnya gemas juga, ingin menyingkirkan wanita-wanita itu.
"Bang Ed, kalo Bang Ed bawa aku ke sini cuma buat mamerin diri
sendiri karena dikelilingi banyak cewek, mending aku balik deh," ucap Caca
ketika sudah sampai di depan Edgar.
Edgar yang sedang mengobrol langsung menoleh, dan tersenyum
melihat Caca yang memasang wajah kesalnya. Edgar mendekat, lalu
merangkul bahu Caca dan menariknya masuk.
"Maaf, kita masuk dulu ya. Kayaknya dia ngambek, aku gak mau kena
cerocos bawelnya," kekeh Edgar kepada para wanita yang tadi sempat
mengobrol.
Caca mendelik tajam ke arah Edgar yang memasang wajah polosnya.
Pria itu mengangkat bahu dan mengabaikan tatapan tajam Caca.
"Ih, siapa sih bocah SMA itu? Ganggu aja!" bisik salah seorang wanita
itu.
"Tahu, sok cantik!"
BukanStalker
"Loh, itu bukannya cewek yang suka buat keributan di Kafe kan? Yang
dulu juga suka banget gangguin hubungan Edgar sama Alisa," bisik yang
lainnya.
Caca yang mendengar bisikkan itu mendadak tidak enak, lagi-lagi
kejadian dulu membuat hatinya mencelos perih.
"Eh masa? Denger-denger Alisa sama Edgar putus, jangan-jangan bocah
itu yang bikin hubungan mereka ancur?"
"Bisa jadi. Tapi, bagus sih. Alisa kan bukan lawan kita karena cantik
banget. Kalo cuma bocah SMA itu sih, kayaknya mudah buat disingkirin."
"Bener banget, lagian mana mau Edgar sama bocah boncel, item dan
kanak-kanakan kayak gitu," sambung yang lainnya.
Mendengar itu Caca melotot tidak terima, hendak melangkah dan
menjambak rambut wanita yang menghinanya barusan. Edgar yang sedari
tadi di sampingnya dan mendengar bisikan itu dengan sigap menahan Caca
dan terus merangkul cewek itu untuk segera masuk ke dalam.
"Boncel, item," bisik Edgar, menggoda sembari menahan tawanya.
Caca melotot dan langsung memberikan pukulan keras di bahu Edgar.
Edgar memekik, lalu mendesis mengusap bahunya yang terasa nyeri.
Mengabaikan Caca yang melirik ke belakang dan mengacungkan jari tengah
ke arah wanita-wanita itu.
103
DhetiAzmi
25. Kanibal Karena Kamu
K ehadiran caca kembali ke Kafe menjadi kebahagiaan tersendiri
bagi beberapa orang. Karyawan Kafe sangat senang karena
cewek SMA yang selalu menjadi mood Kafe kembali. Begitu juga
dengan Naya, wanita itu tersenyum melihat kembali sosok Caca.
Bahkan kedatangan Caca langsung dikerumuni oleh karyawan Kafe.
Mereka bertanya, kenapa Caca tidak main lagi ke Kafe. Kenapa cewek itu
hilang. Bahkan beberapa karyawan menceritakan jika mereka risi ketika
pelanggan wanita selalu menggoda dan menanyakan Edgar.
"Tenang, sekarang aku pasti bakal kasih tahu cewek-cewek ganjen itu,"
ujar Caca.
Semua karyawan mengangguk semangat, mereka sangat senang.
Edgar yang melihat keakraban Caca dengan karyawannya tersenyum.
Memakai apron hitam dengan perasaan lega. Melihat senyum Caca lagi,
rasanya sangat menyenangkan.
Naya yang sedari tadi memperhatikan Edgar terkekeh geli dan
menyikut lengan adiknya pelan.
"Akhirnya, peka juga ya?"
Sindiran halus Naya membuat Edgar menoleh, lalu tersenyum.
"Dari dulu juga aku udah peka, Mbak," balasnya, geli.
Naya menaikkan satu alisnya. "Yakin peka? Bahkan kamu tetep aja
kayak masa bodoh saat Caca nyanyiin beberapa lagu yang jelas ngarah ke
kamu."
Edgar tersenyum lagi. "Kalo soal lagu, aku emang kurang paham. Ku
pikir Caca emang suka nyanyi lagu melow."
"Nyanyi melow setiap kali naik panggung? Kamu yakin? Bilang aja gak
peka."
Edgar berjalan ke arah meja mesin pembuat kopi. "Bukan gak peka sih
sebenernya. Cuma masih bingung,"
"Bingung?"
Edgar mengangguk. "Iya, bingung. Mbak bayangin aja. Aku gak suka tipe
cewek yang berisik, ribet apa lagi anak kecil. Aku gak pernah kepikiran jalin
hubungan sama anak SMA. Bukan karena umur mereka masih labil, tapi
kadang juga mereka terlalu manja dan aku gak mau sifat itu mengganggu
pekerjaanku."
"Sekarang?"
BukanStalker
Pertanyaan itu membuat pandangan Edgar menerawang, menatap Caca
yang sedang membantu karyawan memberikan pesanan.
"Sekarang, kayaknya udah gak berlaku. Semua hal yang aku benci,
mendadak jadi aku sukai. Gak termasuk semua. Aku cuma jatuh sama
semua yang dilakuin bocah itu. Penolakan yang aku kasih buat dia dulu,
justru semakin menarik aku untuk mengerti kalo dia cewek yang berbeda."
Naya mengangguk menyetujui, ikut memandang Caca "Kamu bener.
Pertama kali Mbak lihat Caca, dia kayak anak yang berisik. Yah, walau
memang seperti itu kenyataannya. Caca berisik, heboh dan selalu berlaku
sesukanya. Tapi, sifat uniknya itu tanpa sadar bikin orang-orang di
sekelilingnya nyaman."
Edgar terkekeh, mulai membuat kopi pesanan pelanggan. "Dan itu
alasan, tanpa sadar aku udah nyaman sama sifat dia yang selalu
membebani aku. Beban yang membuat aku lelah mendadak karena
sikapnya. Tapi, saat dia gak ada. Rasanya semuanya hambar, kenyamanku
hilang. Justru aku semakin terbebani."
Naya terkekeh, memukul bahu Edgar. "Kepincut juga sama Caca ya Ed."
Edgar meringis, mengusap bahunya. Pukulan Naya cukup keras. Bahkan
wanita itu memukulnya dengan ekspresi bahagia.
"Eh, terus. Kalian udah jadian belum?"
Edgar melirik sebentar, lalu menggeleng. Naya melotot, tidak terima.
"Jadi, selama ini kamu ngapain? Ngegantungin perasaan Caca? Inget, Ed,
cinta juga butuh status. Bukan cuma karena kamu mulai nyaman, kamu
masa bodoh sama hal itu. Cewek itu sensitif loh. Jangan buat Caca bertanya-
tanya soal kedekatannya sama kamu. Tahu sendiri, anak itu mau move
on dari kamu."
Edgar terdiam, lalu mengangguk paham. "Aku tahu apa yang harus aku
lakuin."
Naya tersenyum, mengusap lengan Edgar. "Mbak cuma doain yang
terbaik buat kalian. Jangan buat hati dia terluka lagi. Karena selama ini,
tanpa kamu sadari, dia udah terluka terlalu banyak."
Naya meninggalkan Edgar setelah mengatakan itu. Naya tidak akan
diam walau tahu adiknya menyukai Caca. Karena Naya sendiri tahu rasanya
jadi Caca. Ia tidak ingin membuat anak itu kembali terluka oleh pria yang
sama walau tahu pria itu adiknya.
Edgar tidak meresponsnya, pria itu tetap diam dengan banyak hal yang
berputar di kepalanya. Semua perkataan Naya membuat Edgar termenung.
Menoleh lagi ke arah cewek yang kini terkekeh bersama pelanggan Kafe.
Senyum Edgar kembali mengembang. Caca seperti sebuah kebahagiaan
untuknya dan semua orang. Banyak yang nyaman berteman dengan bocah
berisik itu. Tanpa cewek itu sadari, dia selalu menebar kebahagiaan untuk
orang lain dengan sifat ceria dan konyolnya.
105
DhetiAzmi
"Edgar."
Edgar terkesiap, mendongak menatap seorang wanita yang entah sejak
kapan sudah berdiri di depannya.
"Ya?"
Wanita itu tersenyum. "Aku mau pesan Vanilla Latte. Aku panggil dari
tadi kamu ngelamun terus. Lagi mikirin apa sih sampe senyum-senyum
gitu?"
Edgar mengangkat kedua alisnya, kembali memberikan senyum ramah.
Melirik ke arah Caca yang juga sedang melihat ke arahnya. Ekspresi Caca
terlihat tidak bersahabat. Bahkan cewek SMA itu memicingkan matanya.
Edgar tertawa geli, wanita yang tadi bertanya mengerutkan kening
bingung.
"Kenapa? Kok ketawa?"
Edgar menoleh, lalu mengibaskan kedua tangannya.
"Gak apa-apa, cuma lucu aja," jawabnya.
Wanita itu masih menampilkan ekspresi bingung, tapi kedua pipinya
merona melihat Edgar tertawa. Wanita itu pikir Edgar mengatakan lucu
kepadanya.
Mengabaikan raut malu-malu wanita di depannya. Edgar masih saja
terkekeh geli melihat raut wajah Caca yang seolah hendak menerjang
wanita di depannya, sepertinya cewek itu menahannya mengingat dia
sedang tahap menjauhinya.
"Ini pesanannya, Mbak."
Wanita itu mengerjap, tersenyum malu menerima secangkir Vanilla
Latte pesanannya. Mengangguk dan mengucapkan kata terima kasih lalu
pergi dengan senyum senang.
Edgar yang diam-diam melirik ke arah Caca kembali terkekeh ketika
melihat mata Caca yang menyipit tajam ke tempat wanita tadi. Gemas,
Edgar menghampiri Caca yang entah sedang mengatakan apa karena
bibirnya terus saja bergerak mengatakan sesuatu.
"Kenapa kumat kamit sendiri?" tanya Edgar tiba-tiba.
Caca yang tidak sadar kehadiran Edgar mengerjap. Mendongkak,
ekspresinya kembali terlihat masam mengingat Edgar tertawa dengan
wanita tadi.
"Nyoba ilmu!" desisnya, tajam.
Edgar mengulum senyum, ekspresi cemburu Caca benar-benar
menggemaskan.
"Ilmu apa? Ilmu buat bikin aku cinta sama kamu?"
Caca mendelik lagi, kini lebih tajam dan kesal. "Ilmu buat musnahin
semut-semut genit!"
BukanStalker
Edgar terbahak, jawaban konyol disertai raut kesal Caca menjadi
hiburan tersendiri untuknya. Caca yang melihat itu tidak terima, menginjak
kaki Edgar sampai membuat pria itu memekik mengangkat satu kakinya.
"Sakit, Ca."
Caca mendesis. "Rasain! Lagian ngapain pake acara ketawa segala. Gak
ada yang lucu ya, Bang Ed!"
Edgar yang meringis menahan sakit juga tidak bisa menahan kekehan
gelinya.
"Ada kok, kalo gak ada gak mungkin aku ketawa," balasnya.
"Apa?"
"Kamu."
Caca terdiam, mengerjap berkali-kali. "Aku? Lucu? Maksud Bang Ed aku
ini badut!?"
Edgar menggeleng dengan kekehan renyah. "Enggak, bukan. Kamu
emang lucu, gemesin. Saking gemesnya aku pengen gigit kamu."
Caca melotot horor. "Bang Ed kanibal!?"
Pertanyaan konyol itu membuat Ed menghela napas, benar-benar
gemas. Pria itu lalu mendekat, menggigit pipi Caca.
"Sakit!" pekiknya.
"Iya, aku kanibal karena kamu," ujarnya. Pergi meninggalkan Caca yang
meringis mengusap pipinya.
Kalimat ambigu Edgar membuat Caca menunduk, pipinya merona.
Mendadak cewek itu tersenyum. Menggigit bibir bawahnya berharap tidak
berteriak saking bahagianya.
107
DhetiAzmi
26. Aku Butuh Bukti
C
aca merentangkan tangannya, duduk di atas kursi dengan napas
lelah. Kafe Edgar selalu ramai seperti biasanya. Bahkan Caca yang
hanya sedikit membantu saja sudah sangat lelah. Apa lagi mereka
para pegawai yang masih aktif melayani pelanggan.
"Capek?"
Caca terkesiap. Terkejut ketika rasa dingin menempel di sebelah
pipinya. Caca menoleh, Edgar sudah berdiri dengan senyum manisnya.
Menyodorkan segelas Milkshake rasa strawberry kepada Caca.
Caca membalas senyum itu, menerima gelas yang disodorkan Edgar.
"Makasih."
Edgar mengangguk. Menarik kursi, Edgar duduk di samping Caca.
"Kok ikut duduk?" Caca bertanya heran.
Edgar menaikkan satu alisnya. "Kenapa?"
"Gak jaga? Kalo nanti ada yang pesan kopi gimana?" tanya Caca lagi,
menyesap milkshake.
Edgar mengangkat bahu. "Tenang aja, udah ada yang gantiin. Lagian,
aku lebih pilih jagain orang yang lagi duduk di sampingku sekarang."
Caca menghentikan pergerakan bibirnya di sedotan. Melirik Edgar
dengan ekor matanya, pria itu sedang tersenyum menggoda.
Caca mengulum senyum. "Apaan sih," ujarnya, malu.
Edgar terkekeh melihat raut malu Caca. "Lucu,"
Edgar mencubit pipi Caca sampai membuat Caca memekik perih.
Menepis tangan Edgar pelan.
"Sakit," desisnya.
Edgar terkekeh, mengacak-acak rambut Caca. "Maaf, soalnya kamu lucu
banget."
"Baru tahu?" tanya Caca, sinis.
"Hm. Saking lucunya aku pengen angkat kamu."
Satu alis Caca terangkat, kalimat ambigu Edgar membuat matanya
mengerjap tidak paham.
"Angkat?"
Edgar mengangguk. "Hm, angkat kamu terus lemparin ke sungai."
Edgar tertawa, wajah Caca langsung berubah masam. Mendengus
sembari menggigit sedotan. Edgar masih saja tertawa. Sampai pria itu
menghentikan tawanya diakhiri helaan napas lelah. Edgar beranjak.
BukanStalker
"Tunggu bentar, jangan ke mana-mana," perintahnya.
Caca yang memang tidak ingin beranjak mengangguk saja. Menikmati
milkshake-nya dengan senyum kecil. Melupakan niat Move On yang sudah
berjalan.
"Yuk."
Caca mengerjap, mendongkak mendapati Edgar yang sudah rapi dan
tidak memakai apron lagi.
"Ke mana?"
"Kencan."
"Huh?"
Edgar menghela napas, menarik kedua pipi Caca. "Kencan, Baby Caca."
"Apa!?"
Edgar mendelik gemas. Menarik hidung Caca sampai cewek itu
memekik sakit.
"Aduh.. Aduh! Sakit Bang Ed ngapain sih!" kesal Caca, mengusap ujung
hidungnya yang memerah.
Edgar mendengkus. "Abis jawaban kamu dari tadi Hah? Huh? Hah huh
terus."
Caca meringis sakit. "Ya abis tiba-tiba Bang Ed bilang gitu. Siapa yang
gak syok coba?"
Edgar menaikkan satu alisnya. "Kenapa? Aneh banget kayaknya denger
aku ngomong gitu."
"Iyalah aneh! Sejak kapan Bang Ed suka ngajakin aku main keluar. Apa
lagi tadi bilang apa? Kencan? Pasti bercanda," lanjut Caca, tidak percaya.
Edgar mendesah, berlutut di depan Caca yang masih setia duduk.
"Kenapa? Kan aku udah bilang bakal berubah. Aku serius sama kata-
kataku. Mungkin dulu kebiasaan aku buruk. Tapi sekarang aku mau
tunjukin ke kamu kalo aku serius, Ca."
Kalimat lembut dan tulus itu membuat manik mata Caca terkunci di
sepasang manik mata Caca. Mencari kebohongan di sana walau Caca tidak
tahu. Apa benar Edgar tulus.
"Ck, lama. Yuk, kencan. Aku ngajak kamu pulang bareng bukan buat jadi
pelayan Kafe. Tapi gara-gara ramai jadi ditunda sebentar. Jadi, sekarang
kita kencan. Mau?" tanya Edgar, beranjak berdiri. Mengulurkan satu
tangannya ke arah Caca.
Caca menatap uluran tangan itu, lalu tersenyum dengan anggukan kecil.
Menerima tangan Edgar, Caca bangkit dari duduknya.
"Eh? Tapi.. Aku kan masih pake seragam sekolah," ujar Caca, baru sadar.
"Kita ganti dulu, mau aku antar ke rumah dulu?" tanya Edgar.
Caca berpikir. Jika ia pulang, pasti tidak izinkan keluar mengingat di
rumah ada Gerland yang selalu posesif kepadanya.
"Umh, gak usah deh. Antar beli baju aja," jawab Caca akhirnya.
109
DhetiAzmi
Edgar menatap Caca. "Yakin? Gak perlu izin dulu?"
Caca menggeleng cepat. "Gak usah. Nanti aku telepon Mama aja."
Edgar manggut-manggut, mengajak Caca keluar dari Kafe setelah
berpamitan kepada Naya. Caca sendiri sudah tidak mempedulikan move
on nya. Kapan lagi ia bisa diajak kencan oleh Edgar?
**
Edgar membawa Caca ke sebuah Mal untuk membeli sepasang pakaian
ganti. Membeli dress selutut. Edgar membayarnya. Pria itu langsung
memberikan kartu debitnya kepada kasir ketika Caca hendak
membayarnya.
"Kok dibayar?" tanya Caca, tidak terima.
Satu alis Edgar terangkat. "Kenapa? Kalo gak dibayar nyolong dong?"
tanya Edgar, memasukkan kembali kartu itu ke dalam dompet setelah
melunasi pembayaran.
Edgar berjalan beriringan dengan Caca di sampingnya. Caca berdecak.
"Bukan gitu, Bang Ed. Kan aku yang beli baju, ya aku yang harus bayar,"
lanjut, Caca. Masih mempermasalahkan soal biaya.
Edgar terkekeh geli. "Kan aku yang ngajak kencan. Jadi semua
kebutuhan kamu aku tanggung."
Caca mendelik, menatap Edgar tidak percaya. "Serius?"
Edgar mengangguk. "Hm. Beli apa yang mau kamu beli, aku yang bayar."
Caca memicingkan matanya, mendengus malas. "Beda ya kalo jalan
sama cowok dewasa dan udah kerja. Berasa punya gadun," gumam Caca
yang bisa di dengar jelas oleh Edgar.
"Kok nyamain aku kayak gadun? Orang ganteng gini dibilang gadun?
Yang ada ceweknya yang aku gaduin," balasnya.
"Puji aja terus diri sendiri," sindir Caca.
"Kenapa? Itu kan kenyataan. Kamu juga suka aku karena aku ganteng
kan? Ngaku?" tuduh Edgar, menunjuk hidung Caca.
Caca berdesis. "Gak tahu! Pede!"
Edgar terkekeh geli. "Cie, sekarang aja bilang gitu. Dulu pas ngejar-
ngejar. Kamu sering banget bilang gini 'Bang Ed ganteng' 'Mau ya jadi
pacarku?'"
Caca meringis, menunduk malu mengingat kelakuannya dulu.
"Hayo? Masih belum ngaku? Aku kasih tahu lagi, bahkan dulu juga kamu
sering."
"Hust! Diem! Gak usah ngomongin masa lalu, aku gak hidup di masa
itu," kelas Caca, membekap mulut Edgar.
Edgar menarik kedua tangan Caca yang membekap mulutnya. "Masa
lalu apa? Perasaan baru kemarin deh kamu kayak gitu."
BukanStalker
Caca mendesis sebal, Edgar mengungkit lagi kelakuan konyolnya dulu.
Caca sendiri tidak habis pikir, kenapa dulu ia begitu terobsesi sampai
mengejar Edgar seperti itu.
Mengingat kejadian memalukan itu. Hati Caca kembali mencelos ketika
bayangan luka yang sempat ia tutup terlihat lagi.
Edgar yang menyadari perubahan raut wajah Caca menunduk.
Menelisik apa yang sedang cewek itu pikirkan.
"Maafin aku,"
Caca yang dari tadi menunduk mengangkat kepalanya mendengar
kalimat itu. Mendongak menatap wajah Edgar yang cukup dekat. Bahkan
mereka melupakan jika sekarang sedang ada di tempat umum.
"Apa?"
Edgar tersenyum menggenggam kedua tangan Caca. "Aku tahu, pasti
kamu ingat luka itu lagi. Maafin aku yang dulu gak peka sama kamu. Bukan
gak peka, aku cuma masih bingung sama perasaanku. Aku tahu, mungkin
alasan itu sedikit konyol. Tapi jujur aja, aku bukan pria yang mudah jatuh
cinta sama orang lain."
Caca tertegun mendengar penjelasan Edgar. Mata tegas itu mendadak
menyendu.
"Karena itu, biarin aku hapus luka yang pernah aku buat di hati kamu.
Kasih aku kesempatan buat memperbaiki semua itu. Mungkin semuanya
gak mudah. Aku tahu, sangat. Tapi, izinkan aku buat bahagiain kamu, Ca.
Aku bener suka dan udah jatuh cinta sama kamu. Mau kasih aku
kesempatan itu?" tanya Edgar, serius.
Caca terdiam, tidak bisa bohong jika hatinya berdebar keras. Tapi,
masih ada keraguan di dalam hatinya. Meski begitu, Caca masih mencintai
Edgar.
"Aku butuh bukti," ucap Caca tiba-tiba.
Edgar menatap Caca, lalu mengangguk mengerti.
"Bakal aku buktiin."
111
DhetiAzmi
27. Bukti
E dgar serius dengan ucapannya. Saat Caca dengan gugupnya
meminta bukti kepada Edgar bahwa pria itu memang serius
kepadanya. Serius dengan kalimat mencintainya. Serius meminta
kesempatan untuk menyembuhkan luka di hati akibat Edgar.
Caca sendiri masih bimbang dengan perasaannya. Meski pada
kenyataannya Caca masih mencintai Edgar dan masih memiliki sedikit
harapan kepada pria itu. Tidak bisa dipungkiri, di dalam hatinya masih
terbesit rasa takut. Takut jika ia kembali jatuh dan terluka karena
harapannya.
Caca yang masih SMA dan masih memiliki perasaan yang labil.
Terkadang mengikuti kemauannya sesuka hati tanpa berpikir bahwa yang
ia lakukan akan menjadi bumerang sendiri. Seperti mencintai Edgar yang
akhirnya melukai dirinya.
Tapi Pria itu berhasil menepis semua keraguan di hati Caca walau tidak
sepenuhnya. Tapi, Edgar sudah memberi bukti.
Kemarin Edgar mengajak Caca kencan ke sebuah taman bermain.
Melakukan apa yang Caca mau tanpa protes sedikit pun. Bahkan Edgar
selalu mengabulkan apa pun yang Caca inginkan.
Bukan hanya itu, demi membuktikan keseriusannya kepada Caca. Edgar
mengantar jemput cewek itu ke sekolah setiap hari, Caca tahu Edgar pria
yang sibuk. Ketika Caca mengatakan untuk tidak mengantarkannya setiap
hari. Edgar menolak dengan tegas dan mengatakan.
"Ini salah satu bukti kalo aku serius sama kamu."
Caca bisa apa selain menunduk dengan rona merah di wajahnya.
Bahkan Edgar tidak segan-segan memanggilnya 'Baby' di depan banyak
orang. Status? Mereka masih dalam tahap tanpa status. Caca masih ingin
melihat bukti yang Edgar berikan kepadanya.
"Ca, ada Edgar di depan."
Caca yang sedang melamun, mengerjap. Menatap udang goreng yang
sedang ia masak. Masak? Ya, Caca sedang memasak. Bukan masakannya,
tapi masakan Mami yang di titip sebentar karena wanita paruh baya itu
sedang keluar sebentar.
"Kenapa gak di ajak masuk aja, Mi?" tanya Caca, melepaskan apronnya.
BukanStalker
Mami yang baru saja datang dengan dua ikat sayur hijau menggeleng.
"Gak tahu, katanya dia nunggu kamu aja. Ajak masuk gih, suruh makan
siang bareng."
Caca mengangguk, hari ini weekend. Kenapa Edgar ke rumahnya di saat
libur seperti ini. Bukan tidak boleh, hanya saja suasana Kafe pasti sedang
ramai.
"Bang Ed."
Edgar yang menatap lurus ke depan langsung membalikkan tubuhnya
ketika namanya dipanggil. Pria itu tersenyum.
"Kamu lagi apa?" tanya Edgar.
"Bantuin Mami masak makan siang," balas Caca. Padahal ia hanya
mengaduk-aduk saja.
Edgar menatap Caca tidak percaya. "Bantuin? Sejak kapan?"
"Apa?"
"Sejak kapan kamu berkutat sama masakan? Aku gak salah denger
'kan?" Edgar kembali bertanya, wajahnya masih menampilkan ekspresi
terkejut.
Caca cemberut. "Aneh banget ya denger aku bantuin masak? Aku kan
cewek, harus bisa masak buat masa depan."
Edgar menaikkan satu alisnya. "Gak perlu, kamu cukup jadi obat lelah
aku aja. Biar masak jadi urusan ART nanti."
"Huh?"
"Kenapa?"
"Maksudnya apaan tadi? Kok kalimatnya ambigu banget."
Edgar mengangkat bahu. "Ada yang salah? Kan masa depan kamu sama
aku."
Blush!
Wajah Caca memerah sampai ke telinga. Cewek itu meringis malu,
memukul bahu Edgar pelan.
"Apaan sih!"
Edgar terkekeh, Caca benar-benar menggemaskan.
"Aku serius, Baby."
Caca mendesis sebal, mencoba mengabaikan godaan Edgar yang
membuat jantungnya berdebar semakin keras.
"Jangan gombal terus. Bang Ed mau ngapain hari libur ke rumah?
Emang di Kafe gak sibuk?" Caca mengalihkan pembicaraan.
Edgar menghela napas. "Kafe lumayan ramai sih. Aku keluar sebentar
buat beli bahan coffee. Sekalian mampir ke rumah, mau lihat kamu ada di
rumah apa enggak."
Caca menatap Edgar bingung. "Hah? Emang kenapa kalo aku gak ada?"
"Kenapa malah balik tanya? Bukannya udah jelas ya. Kalo kamu gak
ada, pasti kamu keluar sama orang lain. Aku gak rela, Ca," balasnya.
113
DhetiAzmi
"Gak rela?"
"Hm. Aku gak rela lihat kamu jalan sama cowok lain."
Lagi, Edgar berhasil membuat hati Caca melambung tinggi. "Ih! Bang Ed
gombal terus."
"Apa? Aku serius loh."
"Ca! Suruh Edgarnya masuk, makan siang bareng."
Teriakan Mami berhasil membuat dua orang itu mengerjap.
"Ah, aku lupa. Bang Ed mau masuk? Mami ngajak makan siang," ajak
Caca.
Edgar menggeleng. "Kayaknya aku balik aja. Kafe pasti lagi heboh
karena si pemiliknya hilang kelamaan."
"Terus, kalo tahu Kafe bakal heboh kenapa harus ke rumah segala?
Perasaan arah Kafe sama rumah beda deh."
Edgar mendengus, mencubit pipi Caca. "Kan aku udah bilang, aku cuma
mau lihat kamu. Dan sekarang, aku udah lihat."
"Sakit," Caca meringis, menepis tangan Edgar yang masih bertahan di
kedua pipinya sampai terlepas.
"Terus, kalo udah lihat?"
Edgar mengangkat bahu. "Ya aku balik lagi."
Caca mendesis sembari mengusap kedua pipinya yang memerah. "Ish,
kurang kerjaan."
"Kerjaanku kan buat perhatian sama kamu, Sayang."
Caca menggigit bibir bawahnya, malu. Belakangan ini Edgar dengan
terang-terangan berbicara gombal. Meski terdengar terlalu berlebihan.
Tapi hati Caca selalu dibuat luluh hanya dengan kalimat sederhana itu.
"Gombal aja terus!"
Edgar terkekeh, mengusap pucuk rambut Caca pelan. "Aku ke Kafe
dulu, Baby."
Caca merengut, masih dengan rona merah di wajahnya. Mengangguk
dan membiarkan pria yang menjadi cinta pertamanya itu pergi
meninggalkannya setelah berpamitan.
Cewek itu tersenyum, tangannya terulur untuk mengelus kepalanya
yang baru Edgar sentuh. Terkekeh pelan, Caca masuk dengan senyum yang
terus mengembang di wajahnya. Entahlah, Caca benar-benar bahagia
sekarang. Edgar sudah berhasil mengembalikan kepercayaannya dan
membuang rasa takut akan terluka.
**
Malam ini Caca dibuat sebal oleh pria yang tadi siang baru saja
memberikan kebahagiaan kepadanya. Edgar, pria itu belum ada kabar
setelah melihatnya siang tadi. Caca sudah mencoba menghubunginya, tapi
tidak ada respons sama sekali. Apa Edgar sesibuk itu? Biasanya pria itu
akan selalu menerima panggilannya sesibuk apa pun.
BukanStalker
Astaga, kenapa ia bersikap seperti bocah sekarang. Padahal Caca harus
paham, posisi Edgar bukan seorang anak remaja. Edgar seorang pengusaha
Kafe sekaligus barista yang pasti akan selalu sibuk, apalagi di hari libur.
Menghela napas, Caca membantingkan tubuhnya ke atas kasur.
Mengubur wajahnya di atas bantal. Kesal, Caca sangat kesal. Pikiran negatif
tentang Edgar berkeliaran di kepalanya.
"Jangan-jangan Bang Ed lagi asyik ngerumpi sama cewek-cewek gatel di
Kafe." Caca menegakkan tubuhnya, hatinya kembali kesal dengan imajinasi
yang ia buat.
Perasaannya tidak tenang dan mendadak mendidih mengingat
beberapa wanita yang suka sekali mengganggu dan menggoda Edgar di
Kafe. Tapi tunggu, kenapa Caca harus semarah itu? Edgar masih belum
memiliki status apapun dengannya.
Namun, bukankah Edgar sedang membuktikan keseriusannya
mencintai Caca? Bukankah Edgar sedang mencoba meluluhkan kembali
hatinya meski sudah luluh? Tapi... Apa Edgar serius? Bagaimana jika Edgar
menyerah karena Caca masih terus saja bersikap jual mahal?
"Argh! Kenapa jadi rumit gini, sih!" desisnya, sebal.
Sejujurnya ini bukan keinginan Caca untuk menggantung Edgar lebih
lama. Ini semua solusi yang diberikan teman-temannya. Caca harus
bersikap jual mahal, agar ia tahu di mana batas kemampuan Edgar
bertahan dan serius akan semua ucapannya. Walau tidak tahan, Caca terus
bertahan sampai sekarang untuk tidak menyerahkan hatinya dengan
mudah.
Drt!
Caca menoleh, menatap benda persegi yang menyala di atas meja.
Beranjak, Caca mengambil ponselnya. Terkejut ketika nama pria yang
sedari tadi mengusik pikirannya terlihat di sana.
"Halo?"
"Kamu belum tidur?"
Caca mendengkus, walau senang mendapat panggilan dari Edgar. Di sisi
hatinya yang lain ia kesal mengingat jika Edgar sibuk dengan wanita lain.
"Kalo aku tidur gak mungkin panggilan Bang Ed aku angkat."
Caca bisa mendengar Edgar terkekeh di sana. "Maaf. Tadi Kafe bener-
bener ramai. Ada temen kampus yang buat party di Kafe."
"Yakin?"
"Apa?"
Caca mendengus. "Yakin sama ucapan Bang Ed? Bukan karena sibuk
ngobrol sama cewek-cewek genit di Kafe dan tebar pesona 'kan?"
"Kamu tahu aku kayak gimana. Soal cewek yang suka godain aku, itu
emang setiap hari ada."
"Yaudah sana godain lagi! Ngapain telepon aku!" kesalnya.
115
DhetiAzmi
Edgar terkekeh lagi di sana. "Cie.. Cemburu nih,"
Caca mendesis. "Aku gak cemburu ya! Sana godain mereka lagi!"
Tut!
Caca menggeram sebal, mencengkeram ponselnya kuat-kuat. Ketika
tangannya melayang, hendak melemparkan ponselnya ke atas kasur.
Sebuah panggilan kembali masuk membuat Caca mengurungkan niatnya
dan melihat si pemanggil yang sama.
"Apa lagi!?"
"Kok dimatiin?"
"Kenapa? Suka-suka aku, dong. Katanya mau godain cewek-cewek gatel
itu. Sana godain, ngapain telepon aku lagi."
"Ngambek terus, idih. Kan kamu yang tanya, ya aku jawab kalo yang
godain aku emang ada. Tapi, aku gak godain balik.. Sayang. Dapetin hati
yang satu ini aja susah, ngapain godain yang lain."
Caca mengulum bibirnya, penjelasan Edgar membuat rasa kesalnya
hilang dengan rasa malu. Caca masih belum terbiasa dan malu-malu ketika
mendengar kalimat Edgar yang seperti itu.
"Bohong!" ketus Caca, tapi bibirnya tidak bisa menahan senyum.
"Aku serius, Baby."
Runtuh sudah senyum di tahan di bibir Caca. Kini senyum itu semakin
lebar di ikuti kekehan geli saking bahagianya.
"Bang Ed lagi apa?"
"Umh, lagi lihat lampu."
"Huh?"
"Lagi lihat lampu kamar,"
Caca semakin tidak paham. "Ngapain lampu kamar sendiri dilihat?"
"Siapa yang lihatin lampu kamar sendiri? Aku lagi lihat lampu kamar
orang yang lagi aku telepon sekarang,"
"Huh?"
"Lihat jendela."
Caca mengerjap, beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah jendela.
Satu tangannya yang bebas langsung membuka tirai kamar. Membelalak,
Caca terkejut melihat Edgar yang sedang tersenyum di bawah sana.
"Bang Ed ngapain di sana?"
"Lihat kamu," Edgar tersenyum, menatap Caca.
"Ngapain? Kenapa gak langsung masuk aja?"
Edgar mengangkat bahu. "Takut ganggu kamu, ini udah malam."
"Kalo tahu ini udah malam kenapa gak pulang? Bang Ed juga pasti capek
baru balik dari Kafe," balas Caca, membuka jendelanya.
Edgar menggeleng. "Gak apa, karena obat lelahku itu kamu."
Caca tersenyum, wajahnya merona. "Apaan sih!"
BukanStalker
Edgar terkekeh di sana. "Udah malam, mendingan kamu cepet tidur
besok sekolah. Besok aku gak bisa antar kamu sekolah, gak apa?"
Dua orang itu masih berbicara lewat telepon meski bisa melihat wajah
masing-masing.
Caca menggeleng, ia paham. "Gak apa, Bang Ed istirahat aja."
"Hm, tapi pulang sekolah aku jemput."
"Gak usah, aku..."
"Jangan nolak. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat, besok."
"Ke mana?"
Edgar tersenyum. "Rahasia,"
Caca merengut. Edgar terkekeh di bawah sana.
"Jangan cemberut terus, besok kamu juga tahu. Sekarang cepet masuk,
tidur."
Caca tersenyum lalu mengangguk. "Iya."
"Good night, Baby."
Caca mengulum senyum, menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya
membalas dengan suara mencicit.
"Iya.,"
Caca langsung masuk, menutup jendela dan tirai. Membalikkan
tubuhnya dengan ponsel yang ia genggam. Edgar yang ada di bawah sana
terkekeh, menggeleng setelah memutuskan panggilannya dan memasukkan
benda persegi itu ke dalam saku celana.
Edgar masuk ke dalam mobil dan melesakkan mobilnya menjauh dari
kediaman Caca. Mendengar mesin mobil yang sudah menjauh. Caca
kembali membalikkan tubuhnya, membuka tirai kamar kemudian menatap
kepergian mobil Edgar.
"Good night, Bang Ed," ucapnya, tersenyum.
117
DhetiAzmi
28. Dejavu Yang Sama
H ari ini, hari yang paling indah untuk Caca. Hari Senin yang akan
menjadi alasan beberapa orang mengeluh karena kesal harus
bertemu kembali dengan aktivitas menyesakkan setelah sehari
berlibur. Hari yang membuat beberapa orang malas melakukan upacara
bendera dengan cuaca terik.
Bahkan, Caca bangun dua jam lebih cepat dari biasanya. Ya, Caca
bangun ketika matahari masih malu menampakkan diri untuk menyinari
sang surya. Cewek yang biasanya masih memeluk guling, kini sudah berdiri
di depan cermin.
Merapikan seragam yang sudah rapi berulang kali. Merapikan rambut
berkali-kali dengan gaya yang berbeda dan berakhir dengan kuncir kuda.
Tentu saja dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Tentu saja ini hari spesial untuk Caca. Hari yang mungkin akan menjadi
hal istimewa. Dan semua itu bersangkutan dengan sosok Edgar yang
kembali mencairkan perasaannya. Perasaan bimbang akan pengakuan
cinta Edgar kini meleleh dengan semua perilaku dan sikap Edgar yang
sudah pria itu buktikan kepadanya. Dan hari ini, Edgar akan menunjukkan
sesuatu yang Caca sendiri tidak tahu apa.
Caca tidak peduli. Edgar bilang itu rahasia.
"Kira-kira Bang Ed mau bawa aku ke mana ya? Apa mau ngajak aku
bolos dan pergi ke tempat yang romantis?" tanya Caca, menatap dirinya di
depan cermin.
Caca tersenyum, lalu terkekeh geli sendiri membayangkan
imajinasinya. Caca benar-benar tidak sabar. Saking semangatnya, Caca
melupakan perkataan Edgar yang tidak bisa mengantarnya ke sekolah hari
ini.
Menarik napas dalam-dalam. Caca mengangguk merasa persiapannya
sudah selesai. Mengambil tas selempangnya, cewek itu bergegas keluar dari
kamar.
"Pagi... Mami..." Caca menyapa dengan suara ceria.
Mami, yang sedang menyiapkan sarapan terkejut. Hampir saja pisau
yang ia genggam terjatuh.
"Ca?"
Caca menaikkan kedua alisnya, tersenyum mendekati sang Mami.
"Mami mau buat apa? Mau Caca bantu?"
BukanStalker
Mami masih memberikan tatapan syok dan tidak percaya kepada Caca.
Sampai pertanyaan putrinya mengembalikan kesadarannya.
"Mami gak salah lihat, kan? Ini kamu.. Ca?" tanya Mami, menunjuk Caca
menggunakan pisau tanpa sadar.
Caca terkejut dan meringis. Menjauhkan pisau yang menunjuk tepat ke
arah wajahnya.
"Ih... Mami ngapain nodong pisau gitu!"
Refleks Mami Caca terkejut. Menatap pisau di tangannya lalu
mendongak menatap Caca dengan cengiran.
"Maaf, refleks. Habis kamu ngagetin Mami aja sih." balas Mami.
Caca mendengus. "Ngagetin apa? Emang aku hantu."
Mami mengangguk, menyetujui ucapan putrinya tanpa dosa. "Hm, Mami
pikir kamu replikanya. Soalnya aneh banget, tumben kamu bangun sepagi
ini. Bahkan udah rapi gitu. Kamu sehat kan, Nak?"
"Ih... Kok Mami nanya gitu, sih. Mami pikir Caca lagi sakit? Jelas lah Caca
sehat."
"Mi... Lihat sepatu yang kemarin Gege simpan di...."
Gerlan yang baru saja masuk ke dapur menghentikan kalimatnya ketika
melihat sosok lain selain Maminya.
"Loh? Ca? Ngapain pagi-pagi di dapur? Kamu lagi ngelindur?" tanya
Gerlan, terheran-heran.
Caca memutarkan kedua bola matanya malas. "Kenapa? Kok pada aneh
banget lihat aku jam segini ada di dapur."
"Tuh denger, Abang kamu aja aneh yang gak lihat kamu tiap hari di
rumah. Apa lagi Mami, hampir serangan jantung."
Caca mendengus malas. "Mami lebay,"
"Lah? Mami gak lebay, itu kenyataan kok."
"Kenapa pagi buta gini pada ribut.... Loh? Ca, kamu mau ke mana pagi-
pagi begini? Maraton?"
Dan satu penghuni lain muncul. Ia, Papi Caca. Pria paruh baya itu
memberi respons yang sama dengan Mami dan Kakaknya. Melihat itu Caca
lagi-lagi mendengus dan mengerucutkan bibirnya sebal. Seaneh itu kan
melihat dirinya bangun di pagi buta? Jawabannya jelas saja 'Ya'. Karena
Caca sangat sulit sekali untuk di bangunkan. Melihat sosoknya yang berdiri
dengan pakaian rapi di pagi buta tentu saja mendapatkan pertanyaan dan
pandangan heran penghuni rumah.
**
Melalui tatapan heran dan berbagai pertanyaan aneh oleh penghuni
rumah, kini Caca duduk di dalam kelas yang sudah ramai penghuni. Mereka
sedang mengobrol dan bercanda di sana sembari menunggu bel untuk
segera berkumpul di lapangan melakukan upacara bendera. Saking
119
DhetiAzmi
asyiknya, mereka melupakan sosok cewek yang kini duduk dengan wajah
masam.
Cewek yang bangun lebih awal dari biasanya sampai dicap aneh oleh
penghuni rumah mendadak kehilangan selera hidupnya. Terdengar
berlebihan memang, tapi itu memang kenyataan.
Senyum yang tidak henti mengembang di bibir tipisnya mendadak
luntur, tergantikan dengan wajah masam dan sebal setengah mati. Bukan
karena Caca mendapatkan pertanyaan dan tatapan aneh dari keluarganya.
Melainkan sosok yang menciptakan senyum dan kehebohan itu sendiri
yang membuat semangat Caca hilang seketika.
Ya, siapa lagi jika bukan Edgar.
Caca sudah bersemangat sampai tidak bisa tidur semalam dan berakhir
dengan berdandan di pagi buta. Demi menyambut sosok yang ia tunggu
dan berakhir dengan tidak datangnya sosok itu.
Hari ini Edgar tidak menjemput Caca. Entah apa alasannya, Caca
mencoba menghubungi ponsel pria itu. Sayangnya, justru suara operator
yang membalas. Kesal? Jangan ditanya. Bahkan Caca nekat ingin pergi ke
Kafe jika suara bel sekolah tidak menyadarkannya.
"Ca, lo kenapa? Dari tadi gue perhatiin lo cemberut terus." Amora
bertanya, heran.
Eka mendengus. "Pasti soal Edgar lagi."
Timpalan Eka yang tepat sasaran itu berhasil membuat mood Caca
semakin memburuk.
"Kenapa lagi? Bukannya kemarin lo pamer di telepon kalo Edgar ke
rumah lo dan janjiin lo sesuatu?" timpal Dinda.
"Pasti Edgar ingkar janji."
Eka kembali menimpali dengan telak dan menusuk hati Caca. Caca
menghela napas kasar, berjalan terlebih dahulu dan mengabaikan
pertanyaan teman-temannya. Melihat itu, baik Amora, Dinda dan Eka
paham apa yang sedang terjadi dengan cewek penyuka makeup itu.
Caca menggeram dalam hati. Antara kesal, sedih dan marah bercampur
menjadi satu. Banyak pertanyaan yang datang di dalam pikirannya. Alasan
Edgar tidak menjemputnya, memberi pesan saja tidak. Bahkan nomor
teleponnya tidak aktif.
Menggeleng gusar, Caca mencoba berpikir positif.
Jangan mikir yang enggak-enggak dulu, Ca. Mungkin Bang Ed sibuk di
Kafe. Bisa jadi mungkin Bang Ed masih tidur gara-gara semalam maksain
datang ke rumah? Siapa tahu juga Bang Ed lagi nyiapin sesuatu buat kamu.
Caca membatin, menyemangati dirinya sendiri. Di tengah teriknya
matahari, Caca mengabaikan rasa panas yang mulai membakar kulitnya.
Cewek yang biasanya akan mundur tukar tempat ke belakang untuk
BukanStalker
berteduh di saat upacara berlangsung kini tetap berdiri mematung di
barisan paling depan.
Sampai upacara bendera itu berakhir, Caca masih tidak bisa fokus. Ia
kembali mengecek ponselnya, berharap ada panggilan atau pesan masuk
dari pria yang belakangan ini membuatnya dilema.
Tapi, semua hanya sebuah harapan saja. Karena apa yang Caca inginkan
sama sekali tidak terwujud. Tidak ada pesan, apa lagi panggilan masuk ke
dalam ponselnya. Membuang napas berat, Caca menunduk sedih dan
memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Dinda yang melihat itu menggeleng. Ia tidak tahu lagi apa yang sedang
terjadi dengan Caca sekarang. Padahal, temannya itu baru saja mengabari
kebahagiaannya. Tidak lama, sekarang mendadak Caca terlihat suram.
Ketika Dinda hendak bertanya saking penasarannya, seorang wanita paruh
baya masuk di sambut sapaan para murid.
**
Caca sama sekali tidak fokus mengikuti pelajaran hari ini. Bahkan Caca
lebih sering menghabiskan waktu dengan melihat layar ponselnya. Tidak
sepi, karena beberapa kali pesan masuk atau notifikasi muncul di layar
ponsel cewek itu. Sayangnya, yang Caca tunggu tidak kunjung muncul.
Mencoba mengabaikan pikiran negatifnya. Caca ikut berbaur
mengobrol dan bermain dengan teman-temannya yang sedang bercanda
dan tertawa. Tapi, lagi-lagi Caca tidak bisa fokus. Ia lebih banyak melamun
sampai Amora harus memanggil Caca berkali-kali agar cewek itu
mendengar dan tersadar.
"Ca?"
"Ca."
"Caca!"
Caca mengerjap, menoleh ke arah Amora yang memasang wajah tidak
percaya karena panggilannya lama di respons.
"Eh? Apa?"
"Lo kenapa? Ngelamun terus dari tadi."
Caca tersenyum paksa. "Eh? Gue gak apa kok," elaknya.
Eka yang tahu betul apa yang terjadi dengan Caca mendengus. "Bilang
aja ini masalah Edgar."
"Kenapa lagi sih? Ceritalah, jangan dipendam sendiri." Dinda ikut
menimpali.
"Paling dia dikhianati lagi sama tuh cowok," lanjut Eka, sarkasme.
Amora menatap Eka tajam. "Eka, jangan gitu."
Eka hanya mengangkat bahu tidak peduli. Caca yang mendengarnya
terdiam. Mengkhianatinya? Apa Edgar setega itu sampai kembali
mengkhianatinya? Bukankah Edgar yang meminta kesempatan untuk
membuktikan rasa cintanya kepada Caca? Atau, jangan-jangan Edgar
121
DhetiAzmi
menyerah kepada Caca karena ia terlalu lama menggantung perasaan
Edgar?
Menggelengkan kepala, Caca buru-buru mengambil ponselnya. Mencari
kontak Edgar dan langsung menekan tombol panggil.
Menarik napas lega, Caca tersenyum ketika mendengar suara deringan
samar dan bukan suara operator. Nomor Edgar sudah aktif. Tapi...
Panggilannya sama sekali tidak dijawab.
Tumben Bang Ed gak angkat teleponku. Apa dia lagi sibuk? Caca
membatin. Mencoba kembali menghubungi nomor yang sama dan berakhir
dengan hasil yang sama. Edgar tidak menerima panggilannya.
"Kalo segitu cemasnya, mending lo samperin ke Kafenya biar jelas," Eka
berkomentar, menyadarkan Caca yang terdiam dengan banyak
pertanyaannya.
Ya, apa yang Eka katakan memang benar. Caca tidak bisa diam dan
menunggu seperti ini. Karena itu, setelah pelajaran hari ini berakhir. Caca
langsung pergi menemui Edgar di Kafe. Berharap pria itu ada di sana.
Hingga kakinya menginjak halaman Kafe. Langkahnya mendadak
berhenti, jantungnya berdebar cukup keras. Dejavu yang dulu pernah ia
rasakan kini kembali terjadi. Di dalam sana, Caca melihat Edgar sedang
berhadapan dengan Alisa. Dua orang itu terlihat senang, mereka bahkan
melemparkan tawa dan sesekali Edgar mencubit pipi Alisa.
Caca menahan napasnya, mendadak tubuhnya gemetar. Rasa yang tidak
asing kembali menyelusup ke dalam hatinya. Rasa menusuk dan perih itu
muncul tanpa bisa dicegah.
Mengambil ponsel di dalam saku seragamnya, Caca menekan tombol
panggil dengan nama Edgar. Pandangannya masih fokus ke arah dua orang
yang sedang tertawa di dalam sana.
Caca bisa melihat Edgar mengalihkan perhatiannya ke atas meja.
Mengambil benda persegi itu, melihat panggilan masuk yang sedang Caca
lakukan. Di dalam hati kecil Caca, Caca berharap Edgar menerima
panggilannya.
Sayangnya, Edgar hanya melihatnya saja lalu kembali menyimpannya di
atas meja. Mengabaikan panggilan darinya dan lebih memilih kembali
mengobrol dengan Alisa.
Hancur sudah!
Caca mundur dengan satu tangan meremas ponselnya cukup kuat.
Menarik napas berkali-kali agar teratur. Mencoba menahan rasa perih di
dalam hatinya. Caca membalikkan tubuhnya dengan tetesan air mata yang
mulai keluar. Pergi dari sana dengan perasaan berantakan.
BukanStalker
29. Pemandangan Menyesakkan
P atah hati mungkin sudah menjadi hal lumrah dalam urusan cinta.
Karena luka itu adalah bumbu dari sebuah asmara yang tidak
bisa ditolak ketika hubungan hancur atau kandas di tengah jalan.
Berakhir begitu saja dan melupakan harapan kecil yang menginginkan
selamanya.
Semuanya tidak ada yang tahu. Perasaan seseorang mudah berubah
walau baru saja pasangan mengatakan bahwa dia mencintai sepenuh jiwa.
Tapi semua itu tidak berlaku selamanya. Kata-kata cinta yang manis
mendadak akan terasa pahit dan hambar ketika kembali mengingatnya
walau kenangan itu manis dan menyenangkan.
Semua akan terasa berbeda. Rasa manis itu akan hilang hanya dengan
satu luka yang menutupi semua cinta yang sempat terjalin oleh sebuah
pengkhianatan.
Sekarang Caca sedang merasakan rasa pahit itu walau dalam kasusnya
tidak ada status hubungan apa pun. Rasa hambar yang sempat ingin ia
lupakan. Rasa perih yang ingin ia lenyapkan dan memilih lembaran baru
yang berbeda. Niat yang sempat tertanam keras dalam hati meleleh ketika
orang yang memberi alasan itu kembali dan meminta kesempatan.
Ketika hati lebih diutamakan, Caca tidak bisa menolak meski dengan
keras logika sudah mengingatkan berulang kali dengan luka yang sempat
tergores di dalam hatinya.
Caca tidak gampangan. Buktinya ia bertahan dengan logikanya walau
hati berteriak ingin menarik pria yang masih menjadi penghuni hatinya itu.
Caca masih ingat luka perih yang diberikan Edgar dulu.
Meyakinkan hati untuk tidak jatuh dalam pelukan Edgar dengan
mudah. Semua tidak sejalan dengan yang diinginkan, apalagi ketika Edgar
memberikannya beberapa bukti manis dan kata-kata yang membuat
hatinya melambung tinggi.
Sayang, terlalu menikmati rasa manis dan indahnya melayang. Caca
lagi-lagi harus terjatuh dengan luka yang sama. Dan luka itu kembali
digores oleh orang yang sama.
Caca menangis sesenggukan di dalam kamarnya. Bahkan sampah tisu
bekas berserakan di mana-mana dan sudah memenuhi hampir seluruh
sudut ruangan. Kedua mata cewek itu sembab. Hidungnya merah dengan
wajah yang berantakan.
123
DhetiAzmi
Kilas bayangan di mana Edgar memberikan perhatian dan sikap manis
kepadanya terganti dengan penampakan lain yang kembali memberi
denyutan nyeri di dalam hati. Ya, bayangan di mana Edgar tersenyum
bahagia bersama wanita yang kini sudah menjadi mantan kekasihnya.
Kenapa mereka bisa bersama? Apa mereka memilih kembali menjalin
hubungan? Lalu, bagaimana dengan dirinya? Bukankah Edgar mengatakan
bahwa pria itu akan memberi bukti bahwa Edgar serius mencintai Caca?
Apa Edgar menyerah dan lebih memilih kembali dengan Alisa?
"Maaf, Ca. Aku gak bisa nunggu lama. Ini hati, bukan jemuran pakaian
yang dengan santai kamu gantung tanpa mempedulikan jemuran itu
kehujanan atau kepanasan."
Caca menggeleng kencang. "Tapi aku gak akan biarin jemuranku
kehujanan. Aku pasti angkatin biar cepat kering."
Edgar menggeleng. "Maaf, tapi aku udah lelah. Aku lebih pilih Alisa lagi
daripada harus nunggu kamu yang enggak pasti."
Setelah mengatakan itu Edgar pergi sembari menggandeng tangan
Alisa. Membelakangi Caca yang mematung di tempatnya.
"Huaaaaaaa!!" Caca berteriak. Menangisi imajinasi yang ia buat sendiri.
Mami yang sedang asyik menonton televisi dengan maskernya
terperanjat ketika suara teriakan putrinya menggelegar di dalam ruangan.
Dengan langkah terburu-buru, Mami menaiki anak tangga untuk
melihat apa yang sedang terjadi dengan anak gadisnya itu.
"Ca? Kamu kenapa?" Mami berteriak di balik pintu, mengetuk pintu
kamar Caca beberapa kali.
Tidak ada respons, justru suara tangis di dalam sana semakin kencang
dan mengejutkan.
"Aduh, ada apa lagi deh sama ini anak. Kamu kenapa lagi, Ca? Kalo
nangis jangan kenceng-kenceng, berisik. Gak enak sama tetangga loh."
Mendengar kalimat itu Caca menatap tajam ke arah pintu sekilas.
"Mami berisik ah! Jangan ganggu Caca! Caca lagi pengen sendiri!"
"Mami gak ada niat buat ganggu kamu, kok. Mami cuma mau kasih tahu,
kalo nangis jangan kenceng-kenceng, berisik. Masker Mami retak nih gara-
gara kamu," balas Mami. Satu tangan mengusap masker di wajahnya.
Caca menggeram, dengan langkah kesal ia turun dari atas kasur.
Berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan tidak santai.
"Mami kok gitu? Mami gak lihat anaknya lagi nangis? Caca lagi sedih,
Mi! Caca patah hati. Bukannya dihibur kok malah disalahin, sih," cecar Caca,
tidak terima.
Mami yang melihat itu menggelengkan kepalanya dengan napas lelah.
"Ya ampun, Ca. Jangan berlebihan deh. Mami tebak, kamu pasti nangis-
nangis kayak gini gara-gara Edgar 'kan?"
Caca menautkan kedua alisnya. "Kok Mami tahu?"
BukanStalker
Mami memutarkan kedua bola matanya malas. "Galau kamu gak jauh-
jauh dari si ganteng itu."
"Mami masih bisa muji dia walau tahu anaknya di buat patah hati?"
tanya Caca, tidak percaya.
Mami mengangkat bahu. "Kan kenyataan Edgar ganteng. Soal patah hati
kamu, Mami gak mau ikut campur. Semua keputusan ada di tangan kamu.
Kamu yang ngerasain dan yang putusin semuanya, yang penting yakin
sama hati kamu. Udah ah, Mami mau nonton drama lagi. Inget, nangisnya
jangan kenceng-kenceng," peringatnya.
Caca menganga. Bahkan ketika Mami sudah menghilang dari
pandangannya, Caca baru berteriak dramatis.
"Mami Jahat!"
**
Caca tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Caca ingin melupakan
rasa sakit hatinya. Caca ingin pergi ke suatu tempat, tapi tidak ada satu pun
yang bisa diajak pergi.
Gerlan sudah kembali ke negeri orang untuk melanjutkan kuliahnya
mengingat liburannya sudah berakhir. Andra tidak bisa karena sedang ada
jam kampus. Amora tidak bisa karena sedang menemani Adam. Budi yang
biasanya menjadi satu-satu tempat penghilang rasa galaunya ikut tidak
bisa menemani karena sedang sibuk menemani Sasa. Ya, hubungan Sasa
dan Budi mulai membaik setelah kejadian di mana kedok Sasa terbongkar
oleh Juna.
Caca mendengus gusar. Sampai akhirnya ia menghubungi Dinda yang
kebetulan sedang berkumpul dengan Eka di sebuah taman. Tempat di mana
banyak orang bermain dan berkumpul di sana.
Dengan penampilan yang apa adanya, Caca akhirnya pergi ke tempat di
mana Dinda dan Eka sedang mengobrol sembari menikmati jus buah yang
mereka pesan di abang-abang kaki lima di sana.
"Mata lo kenapa? Habis begadang?" Eka bertanya tanpa basa-basi
ketika Caca sampai di hadapan mereka.
Mendengar pertanyaan barusan mendadak membuat wajah Caca
semakin suram. Dalam hitungan detik, cewek itu menangis kencang yang
berhasil membuat Dinda dan Eka terkejut dan saling pandang.
Dinda berdiri, refleks memeluk Caca untuk menenangkannya. "Loh?
Kenapa malah nangis? Kenapa?"
"Huaaaa!!!"
Caca tidak menjawab. Cewek itu justru menjerit semakin kencang
sampai membuat orang yang lalu lalang di sekitar mereka menoleh dan
memberikan pandangan yang berbeda.
"Lo sih Ka, kalo ngomong asal ceplos aja," Dinda menyalahi Eka. Masih
memeluk Caca yang menangis.
125
DhetiAzmi
Eka yang tidak paham ikut berdiri karena tidak paham. Hanya karena
kalimat barusan Caca menangis seperti ini? Ah, apa dirinya sudah
keterlaluan kali ini sampai membuat cewek bawel itu menjerit mengerikan.
"Gue kan cuma nanya, gak nyubit. Ca, kenapa deh lo ah. Jangan nangis
gitu, malu di lihatin orang lain tuh," ujar Eka, mengingatkan.
"Bodo amat! Biar mereka lihat, biar mereka denger sekalian. Mereka
bener-bener jahat sama gue!" teriak Caca lagi.
Dinda meringis mendengar teriakan yang menusuk indra itu. "Aduh,
sabar-sabar. Mending lo cerita deh, kenapa? Mendadak nangis gini kita jadi
bingung 'kan."
"Tahu deh, mending lo tenang dulu dan ceritain pelan-pelan. Jangan
datang-datang jerit sambil mewek begini. Mereka yang lihat pasti mikir gue
sama Dinda udah bully lo."
"Biarin aja. Lagian mereka juga gak akan peduli gue dibully," pekik
Caca, kembali menangis kencang.
Eka berdecak. "Aduh! Mereka-mereka. Sebenernya lo lagi ngomongin
siapa sih," desisnya, sebal.
Caca masih menangis di pelukan Dinda tanpa merespons ucapan Eka.
Sepasang mata yang hampir buram tertutup air mata itu menatap lurus ke
depan. Di sana, tidak jauh dari tempat di mana Caca berdiri. Edgar sedang
berdiri bersama Alisa. Dua orang itu mendadak kembali membuat suasana
hati Caca kacau seketika.
Pemandangan di mana Edgar membeli banyak balon berbentuk hati
dan bunga mawar merah lalu memberikannya kepada Alisa yang
tersenyum lebar di membuat air mata Caca keluar tanpa permisi. Hingga ia
tidak bisa menahannya dan menjerit kencang. Kenapa Caca harus melihat
dua orang yang membuat mood buruknya semakin menjadi.
Kenapa Edgar bersama Alisa? Di tempat ini dan memberikan barang
romantis. Bukankah Edgar berjanji akan mengajaknya ke suatu tempat?
Bukankah Edgar ingin menunjukkan sesuatu kepadanya? Apa ini yang
Edgar maksud? Apa Edgar ingin memberi tahu bahwa dirinya menyerah
dan kembali dengan Alisa. Apa Edgar selama ini mempermainkannya?
Caca tidak tahu! Yang ia tahu hanya satu. Hatinya terluka dan terluka
semakin dalam. Caca ingin pergi, tapi tidak sanggup. Hanya bisa berdiri
mematung menikmati pemandangan menyesakkan di depan matanya.
BukanStalker
30. Tidak Ada Gunanya
C
aca mengamuk dan semakin meraung di taman. Eka dan Dinda
yang sedang bersama cewek hitam manis itu kewalahan
menenangkan isak tangis temannya yang semakin histeris. Apa
lagi ketika banyak pasang mata menatap seolah mereka sudah melakukan
bullying kepada cewek pendek itu.
Dinda masih mencoba menenangkan. Tapi sayangnya Eka selalu bisa
membuat Caca semakin menjerit. Eka selalu saja memberikan kata-kata
bijak ditambah dengan ejekan dan sindiran pedas.
"Lo jangan nangis terus, Ca. Suara lo itu gak enak didenger. Kayak ban
bocor, tahu!"
"Ca, bibir lo pecah-pecah tuh."
"Gila mata lo kok makin tebel gitu. Jangan nangis terus, nanti makin
mirip kayak kuda nil."
Begitu seterusnya. Eka bukan menghibur, melainkan membuat Caca
semakin histeris dan menangis. Sampai akhirnya mereka pasrah dan
menyeret cewek yang masih menangis pergi dari taman.
"Lo kenapa lagi deh, Ca. Soal Edgar lagi?" akhirnya Dinda bertanya
ketika Caca mulai tenang.
Mereka sedang berada di Kafe sekarang. Bukan Kafe milik Edgar, tapi
Kafe bubble Tea yang sering Eka kunjungi.
Mendengar nama Edgar disebut kembali membuat Caca menekuk
bibirnya. Hatinya kembali berdenyut perih. Melihat perubahan ekspresi
Caca, Dinda meringis. Sepertinya memang benar. Berbeda dengan Eka yang
mendengus malas.
"Nangis lagi gue sembur muka lo pake minuman gue, Ca," ancam Eka.
Cewek bongsor itu sepertinya sudah lelah mendengar rengekan temannya
itu.
Dinda melototi Eka. Sementara si empunya hanya mengangkat bahu
tidak peduli dan melanjutkan meminum bubble kesukaannya.
Caca menarik napas dalam-dalam. Menunduk semakin dalam,
mendadak ia sakit hati kembali. Bukan, bukan karena kalimat Eka barusan.
Karena ini soal hatinya yang terluka. Luka yang diberikan pria bernama
Edgar.
Tidak ada gunanya, tidak ada untungnya. Dirinya menangis kencang di
taman agar Edgar mendengarnya, lalu menghampirinya. Karena itu tidak
127
DhetiAzmi
terjadi. Menangis dan menjerit sampai lelah dan suara serak pun tidak akan
membuahkan hasil. Rasa sakit itu masih terus saja menusuk ke dalam hati.
Apa yang harus Caca lakukan? Bercerita kepada teman-temannya? Dan
kembali mendapat ceramahan panjang dengan cibiran. Karena ini bukan
pertama kalinya mereka melihat dirinya menangis dan patah hati oleh
orang yang sama. Semua temannya juga selalu memberinya semangat dan
menyuruhnya untuk move on dari Edgar.
Tapi, hatinya lagi-lagi lemah dan terjatuh pada pesona dan perhatian
Edgar yang tidak Caca sangka hanya sesaat.
"Ca, lo gak apa kan?" Dinda kembali bertanya ketika Caca tidak
merespons sama sekali.
Caca mendongak. Cewek itu tersenyum. Senyum yang dua temannya
tahu hanya sebuah paksaan. Caca menggeleng pelan, bibirnya masih
memaksakan senyum.
"Gue gak apakok. Maaf kalo gue udah mengacau sore kalian. Makasih
juga udah nemenin gue yang nangis-nangis gak jelas."
Dinda menggeleng kencang. "Lo ngomong apa sih, Ca. Kita temen,
semua yang kita lakuin ke lo itu wajar."
"Tahu, pake acara bilang makasih segala. Tumben banget," Eka ikut
menyahut dengan nada malas.
Dinda lagi-lagi melotot mendengar kalimat Eka barusan. Sementara
yang di tatap terlihat masa bodoh. Caca sendiri hanya tersenyum. Tidak,
Caca sama sekali tidak tersinggung dengan kalimat sarkasme Eka barusan.
Caca sudah kebal. Apa lagi dengan patah hatinya ini.
"Gak apa, gue cuma mau bilang makasih aja. Gue tahu gue udah
ngerepotin kalian tadi, pake acara nangis kenceng di depan umum sampe
kalian harus nyeret gue dari sana," ujar Caca, pelan.
"Nah itu gak gratis, Ca. Sebagai balasannya, lo mau cerita? Kenapa lo
nangis sampe kejer gitu?" tanya Dinda, penasaran walau tahu
penyebabnya.
Caca menggeleng. "Gue gak apa, Din. Gue balik duluan ya,"
Caca langsung beranjak. Melangkah pergi meninggalkan dua temannya
yang memanggil nama Caca berulang kali. Caca tidak merespons, lebih
tepatnya tidak ingin. Caca lelah, Caca sedang ingin sendiri.
**
Caca mengurung diri di dalam kamar. Bahkan cewek itu enggan keluar
ketika Mami memanggilnya turun untuk makan malam. Caca beralasan
sudah kenyang karena makan di luar, padahal itu bohong.
Caca sama sekali tidak peduli, pada kenyataannya ia tidak sedang tidak
nafsu makan. Jika cewek lain akan melarikan diri ke dalam makanan atau
camilan saat patah hati. Tidak dengan Caca. Cewek itu akan menyendiri
dan enggan menyentuh makanan apa pun.
BukanStalker
Caca menggenggam ponselnya. Matanya terus memandang layar mati di
benda persegi itu. Hatinya masih berharap, berharap Edgar
menghubunginya. Tidak, pesan saja sudah cukup untuk Caca. Tapi, sampai
sekarang... Edgar masih belum menghubunginya.
Drt!
Caca terkesiap, wajahnya langsung terkejut ketika ponselnya bergetar
dengan lampu yang kelap-kelip di layar. Menatap, Caca langsung memberi
senyum masam. Menertawai dirinya sendiri ketika ada panggilan masuk.
Bukan dari orang yang ia tunggu, melainkan dari temannya, Amora.
"Iya, Ra?"
"Lo baik, Ca?"
Pertanyaan Amora membuat Caca yakin jika temannya itu tahu apa
yang sedang terjadi kepada dirinya. Entah Eka atau Dinda yang memberi
tahu.
"Gue baik kok, Mor."
"Yakin? Gue denger lo habis nangis," Amora menjawab tidak yakin
dengan ucapan Caca.
Caca tahu Amora bukan orang yang mudah di bohongi. Amora lebih
peka jika soal temannya.
"Gue gak apa, Mor. Gak usah di dengerin yang Dinda atau Eka bilang."
"Gue gak dengerin mereka, Kok. Gue punya insting sendiri. Gue yakin
sekarang lo lagi ngurung diri di kamar sambil ngelamun."
Tebakan Amora tepat sekali, Caca sempat terkejut.
"Kok lo tahu?"
Amora terkekeh bangga di sana. "Jangan remehkan insting cantik cewek
petinju samsak kayak gue ya, Ca."
Caca berdecih. "Sombong,"
Amora tertawa di sana. "Keluar, yuk. Sekalian kita cari hiburan. Siapa
tahu rasa sedih lo hilang."
Caca menautkan kedua alisnya. "Tumben, emang gak jalan sama
Adam?"
"Emang gue harus jalan terus tiap malam sama Adam?"
"Kan biasanya kalian lengket terus kayak lem."
Amora mendengkus di sana. "Ya enggak, lah. Adam juga punya
kesibukan. Gimana, mau gak?"
Caca berpikir. "Tapi...."
"Jangan tapi-tapian. Gue nunggu di bawah sama anak-anak nih."
Caca mengerjapkan matanya. "Hah?"
"Yaela, telat banget lo. Kita lagi di bawah nih."
Masih dengan ekspresi bingung, Caca beranjak dari atas kasur. Berjalan
keluar kamar. Dengan ponsel yang masih di dengan dan di tempel di
129
DhetiAzmi
telinga, Caca melotot melihat siapa yang sedang ada di ruang keluarga
bersama Mami dan Papinya.
Di sana ada Amora, Eka, Dinda, Budi. Bahkan Kenan ikut hadir di sana,
cowok itu sedang asyik memakan camilan. Amora tersenyum, melambaikan
tangannya.
"Akhirnya anak perawan Mami keluar juga. Puas ngurung dirinya?"
Sindiran Mami berhasil membuat Caca merengut sebal. Mematikan
ponsel, Caca tersenyum melihat teman-temannya. Mendadak ia tersentuh.
Ketika kakinya hendak melangkah turun, getaran ponsel kembali terasa
di telapak tangannya.
Sebuah pesan masuk. Pesan dari satu nama familier itu membuat
tangannya gemetar, jantung Caca berdebar tidak karuan. Dengan gerakan
lambat, Caca membuka pesan masuk barusan.
Bang Ed😘
Maaf aku baru bisa kasih kabar. Aku lagi sibuk urus Kafe, belakangan ini
banyak pelanggan. Kamu lagi apa?
Caca tersenyum masam melihat pesan itu. Sibuk urus Kafe, huh?
Pelanggan? Mantan maksudnya? Menghela napas berat, hatinya mendadak
sakit ketika bayangan di mana Edgar dan Alisa berdua.
Menggenggam erat ponsel di tangannya. Caca mengetik balasan.
Balasan yang tidak pernah Caca kirim sebelumnya.
"Oh. Sorry ganggu."
Setelah menekan kata send Caca langsung menghapus pesan itu. Lalu
mencari nama si pengirim pesan di kontak dan langsung menekan
kata deleted di sana.
Terhapus. Bukan hanya pesan, tapi kontak Edgar ikut di hapus. Caca
menarik napas dalam-dalam. Masuk ke dalam kamar untuk mengganti
pakaiannya. Melemparkan ponsel ke atas kasur sembarangan.
Tidak ada gunanya ia menangisi pria seperti Edgar. Caca sudah pernah
merasakan luka ini. Dan ia yakin bisa segera melupakannya. Lebih baik ia
pergi keluar bersama teman-temannya yang jelas tidak akan pernah
mengkhianatinya.
Caca pergi tanpa tahu ponsel di atas kasur bergetar berkali-kali. Nomor
tanpa nama itu terus memanggil berkali-kali di sana.
BukanStalker
31. Perfect
P ergi bersama dengan teman saat mood buruk dan dalam keadaan
hati terluka tidak membuat semuanya menjadi baik-baik saja.
Mencoba menghilangkan rasa sakit dan sedih yang sedang
mengisi relung hati, tidak semudah ketika mengeluarkan kata-kata atau
berniat. ketika menjalankannya, semuanya benar-benar sulit. Itu yang
sedang Caca rasakan sekarang.
Caca memang bermaksud melupakan segalanya. Melupakan tentang
Edgar, tentang kesempatan keduanya. Tentang perhatikan dan berakhir
dengan kebohongan yang membuat Caca harus kembali merasa terluka.
Tidak, lebih tepatnya membuka luka lama yang sempat ia tutup rapat-
rapat.
Pasrah, Caca tidak bisa melakukan apapun sekarang. Ingin kembali ke
rumah pun tidak akan membuat keadaan semakin baik. Mungkin, akan
semakin buruk karena ia harus kembali teringat akan sosok Edgar walau
sekarang ia masih terus memikirkan pria itu.
Tidak naif. Pada kenyataannya melupakan Edgar tidak semudah yang ia
niatkan.
"Ca."
Panggilan itu berhasil membuat Caca terkesiap. Menyadarkan dirinya
pada bayangan Edgar.
"Hm?" Caca menoleh. Wajahnya masih berekspresi tanpa minat.
"Masih kepikiran Bang Ed?"
Entah sengaja atau memang hanya sekedar bertanya. Kali ini bukan Eka
yang selalu memberikan pertanyaan menyakitkan. Tapi Amora. Mendadak
Amora melemparkan pertanyaan yang sudah sangat jelas jawabannya.
"Kok lo kasih pertanyaan konyol gitu, Mor?" Budi balik bertanya.
Amora menatap Budi tidak paham. "Kenapa?"
Budi memutarkan kedua bola matanya malas. "Ck. Lo masih nanya
juga? Bukannya pertanyaan yang lo tanyain barusan udah jelas banget
jawabannya ya?"
"Kok lo ngegas sih, Bud? Amora kan cuma tanya," Eka menimpali.
"Kenapa? Gue cuma kasih tahu. Menurut lo pantes gak Amora nanya
pertanyaan yang jelas udah bisa dia jawab sendiri?"
"Ya suka-suka dia lah. Dia kan juga punya mulut."
131
DhetiAzmi
Budi berdecih sinis. "Ia, terus aja lo bela. Lo emang selalu kayak gitu.
Selalu ngomong sesuai mulut lo tanpa mikir perasaan orang lain."
Eka melotot mendengar sindiran barusan. "Maksud lo apaan!?"
"Pikir aja sama lo sendiri."
Amora terkejut, ia tidak menyangka pertanyaannya akan memancing
perkelahian.
"Eh? Udah-udah, kok kalian malah berantem. Maaf kalo kalimat gue gak
peka sama keadaan, serius gue cuma nanya. Gue khawatir Caca gak nyaman
di ajak keluar gini," ucap Amora, menengahi.
Amora menatap Caca khawatir. Cewek itu bahkan diam saja.
"Ca, maafin gue ya kalo pertanyaan gue barusan buat lo gak nyaman."
Caca tersenyum tipis. "Gak apa kok, Mor. Harusnya gue yang minta
maaf sama kalian. Karena gue kalian berantem. Gara-gara gue kalian gak
nikmatin acaranya. Padahal niat kalian buat bikin gue lupain rasa sedih
gue."
"Udah tahu tapi diem aja. Ngerepotin." Eka menimpali dengan nada
ketus.
Budi melotot ke arah Eka. Termasuk yang lainnya. Tidak dengan Kenan
yang sedang asyik menggoda penjual kacang rebus. Tidak lebih tepatnya
cowok absurd itu sedang menawar harga kacang yang jelas tidak pantas
untuk di tawar.
"Eka." Dinda mengingatkan agar satu temannya itu diam.
Eka mengangkat bahu, melengos memainkan ponselnya. Caca
tersenyum kecut. Mendadak pertanyaan Eka masuk ke dalam hatinya.
Biasanya Caca akan mengabaikannya, tapi kali ini mendadak ia tersindir.
Kata merepotkan yang Eka lemparkan membuat Caca mulai berpikir.
Sadar diri akan apa yang sudah ia lakukan. Selama ini Caca selalu saja
merepotkan teman-temannya. Bahkan mereka setia datang dan menghibur
dirinya yang sayangnya harus kembali di lukai oleh dirinya sendiri.
Caca beranjak. "Kayaknya gue balik aja, ya."
Amora ikut berdiri, mereka sedang nongkrong di taman yang sempat
dikunjungi sore tadi bersama Eka dan Dinda.
"Kok balik? Lo tersinggung sama ucapan Eka? Maafin dia, Ca. Tahu
sendiri si bongsor emang gitu."
Caca menggeleng. "Enggak, bukan. Gue cuma gak enak badan
aja. Mood gue juga kayaknya buruk banget."
"Justru itu kita ajak lo kesini, Ca. Biar mood lo bagus lagi." Dinda
membalas.
Caca tersenyum. "Makasih buat perhatian kalian. Tapi serius, gue
gak mood sekarang. Kayaknya gue mau balik aja."
"Tapi...."
"Gak apa, gue duluan ya."
BukanStalker
"Eh? Ca!" Amora memanggil.
Caca tidak menghiraukan. Cewek itu terus melangkah. Caca tidak ingin
merepotkan siapapun lagi. Caca sudah terlalu egois karena harus
melibatkan teman-temannya dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang
walau pada kenyataannya merekalah yang datang sendiri. Caca tahu,
semua temannya peduli kepadanya.
Memejamkan mata lalu membukanya. Caca membuang napas dan
meneruskan melangkah menjauh dari sana. Namun, tiba-tiba langkahnya
mendadak berhenti saat sepasang matanya menangkap sepasang sepatu
yang berdiri tepat di depannya tanpa pergerakan.
Mengerutkan kening, Caca mendongak. Terdiam, rasa perih dan
menusuk itu kembali ia rasakan di dalam hatinya. Di depannya, Edgar
sedang berdiri.
"Gak angkat teleponku?"
Caca mengerjapkan matanya beberapa kali. Menggeleng cepat. Ia tahu
sekarang Edgar yang berdiri di depannya hanya sebuah ilusi. Bagaimana
mungkin pria itu mendadak berdiri di depannya dengan senyum lembut
seperti itu. Lagi pula, Edgar sudah bersama Alisa lagi 'kan?
"Ca?"
Caca mengerjap lagi. Mendadak lamunannya buyar. Bahkan saking
tidak percayanya, Caca mencubit satu tangannya yang langsung di respons
pekikan perih.
"Aduh." Caca meringis. Mengumpat karena mencubit dirinya terlalu
keras.
Edgar yang terkejut mendekat. Menarik satu tangan Caca yang barusan
di kibas-kibaskan oleh cewek itu.
"Kenapa? Sakit? Di mana?"
Sentuhan lembut di punggung tangan Caca langsung menjalar ke dalam
relung hati. Denyutan nyeri itu terasa lagi. Tanpa sadar Caca bergumam.
"Hatiku yang sakit, Bang," bisiknya pelan.
Edgar yang mendengar samar mendongak. "Hm?"
Caca terkesiap, merutuki mulut yang bisa-bisanya mengeluarkan kata-
kata itu. Ketika Caca hendak membuka mulut menjawab, seorang cewek
mendadak muncul di belakang tubuh Ed.
"Edgar."
Caca mematung, yang muncul barusan adalah Alisa. Terkejut, Caca
langsung menarik tangannya dari genggaman Edgar buru-buru.
Edgar menoleh. "Hm?"
Alisa menghela napas. "Ayok cepetan, aku ada acara lain nih."
"Sabar dong Sa."
133
DhetiAzmi
Alisa mengerucutkan bibirnya sebal. Caca yang merasa terasingkan dan
tidak dianggap perlahan mundur. Menatap lurus ke punggung Edgar yang
mulai membelakanginya.
Lihatlah, bahkan Edgar langsung pergi tanpa mempedulikan dirinya
yang jelas ada di depan mata. Apa selama ini ternyata pembuktiannya
hanya omong kosong? Kenapa Edgar seolah bersikap tidak ada yang terjadi
di antara mereka?
"Ca, mau ke mana?"
Suara seseorang menyadarkan Caca. Caca menoleh. Barusan Alisa yang
bertanya dengan ekspresi bingung.
Caca mengumpat melihat ekspresi itu. Kenapa cewek itu tidak peka?
Sedang menertawakan dirinya karena tahu Edgar sudah mengabaikan
Caca? Atau, Alisa balas dendam karena dulu kencannya dengan Edgar
sering Caca ganggu?
"Umh, aku... Mau pulang," balas Caca. Pada akhirnya menelan semua
umpatan yang ingin ia lontarkan kepada Alisa.
"Kok pulang?"
"Umh.. Itu... " Caca mencoba mencari alasan.
Alisa mendadak mengeluarkan senyum miringnya. Caca mengepalkan
tangannya kuat-kuat. Ketika ia hendak membuka mulut lagi untuk segera
pergi sebelum emosinya membludak, Alisa menarik tangannya terlebih
dahulu.
"Eh?"
"Udah jangan banyak komplain, ikut aja."
Caca kebingungan. Antara kesal dan heran. Kesal karena Alisa bersikap
memaksanya dan heran akan di bawa pergi ke mana dirinya.
Ketika Alisa menghentikan langkahnya. Caca mengikutinya.
Mengerutkan kening, Caca mendongak untuk mengikuti ke mana arah
pandangan wanita di depannya.
Terdiam. Di sana, ada Edgar sedang duduk di sebuah kursi taman
dengan gitar di pangkuannya. Tempat yang sudah dihiasi berbagai macam
hiasan. Seperti bunga, balon bentuk hati dan lampu yang berkelap-kelip
penuh warna.
Apa ini? Apa Alisa baru aja pamer kalo Bang Ed mau kasih kejutan
romantis buat dia di depan gue? Caca membatin. Mendadak menarik
kesimpulan seperti itu sebelum suara berat Edgar terdengar.
"Tes." Edgar mengetuk mic di depannya dengan jari telunjuk. Pria itu
berdehem, banyak orang yang mendadak berhenti dan melihat apa yang
sedang dilakukan pria itu.
"Sebelum memulai semuanya. Saya ingin mengatakan sesuatu.
Sebelumnya, saya ingin meminta maaf kepada orang yang selama ini
membuat saya menggila. Tapi, saya ingin dia tahu. Bahwa yang saya
BukanStalker
lakukan serius. Saya sangat mencintainya walau umurnya jauh dibawah
saya dan masih labil."
"Wuuuuu!!"
Yang menonton berteriak ramai. Bahkan di sana Amora dan Dinda
cekikan. Begitu juga dengan Budi yang terlihat ikut heboh. Sementara Eka
merespons dengan gaya cool tidak berminat seperti biasa. Bahkan Adam,
Juna dan Ardi ada di sana. Sementara sosok Kenan masih sibuk dengan
kacang rebusnya.
Caca melongo, mencerna kalimat Edgar yang sedang menatap ke
arahnya. Kenapa kalimatnya seolah menunjukkan kepada dirinya?
"Gadis yang selama ini mengganggu hidup saya yang mendadak mengisi
hati saya tanpa sadar. Gadis ceroboh dan bawel yang mendadak saya sukai
sikapnya. Gadis SMA yang masih menggantung status dan pernyataan cinta
saya. Di sini, saya akan menunjukkan keseriusan saya. Perfect. Saya
persembahkan lagu ini untuk orang yang sangat cintai." Edgar tersenyum,
senyum tulus dengan tatapan mata lurus mengarah kepada satu sosok
yakni Caca.
Satu hal yang Caca simpulkan sekarang. Bahwa Edgar baru saja
menyindir dirinya.
Gitar mulai dipetik oleh jari-jari kekar itu. Suara dari alunan senar gitar
mulai terdengar di sana.
I found a love for me
Darling just dive right in
And follow my lead
Edgar masih menyempatkan senyum kepada Caca ketika lirik lagu
selesai dinyanyikan.
Well I found a girl beautiful and sweet
I never knew you were the someone waiting for me
Caca tersenyum malu, mendadak sakit hatinya hilang entah kemana.
'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
Ya, terkadang Edgar bersikap labil hanya karena cinta yang tidak ia
ketahui sebelumnya. Edgar tidak mudah untuk jatuh cinta, apalagi secara
mendadak kepada cewek SMA yang menggunakan switer merah jambu di
depan sana.
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song..
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight..
135
DhetiAzmi
Adam menggelengkan kepalanya. Berbeda reaksi dengan semua
temannya yang kagum dengan apa yang Edgar. Bahkan suara pria itu cukup
merdu.
Tentu saja Adam tidak akan terkesima mengingat Edgar adalah
sepupunya. Seumur hidupnya, baru kali ini Adam melihat Edgar bersikap
berlebihan dalam cinta.
"Sok romantis," desisnya. Melupakan jati dirinya sendiri yang akan
bersikap sama seperti Edgar dengan kekasihnya, Amora.
Well I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
Mereka semua memekik, bahkan Budi memeluk lengan Dinda dengan
gaya kemayunya.
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry love, to carry children of our own
We are still kids, but we're so in love
Mendadak Edgar menyimpan gitarnya. Alunan dari suara itu terhenti.
Pria itu beranjak, lalu melangkah. Mendekat ke tempat di mana Caca
berdiri kaku.
Fighting against all odds
I know we'll be alright this time
Caca berdiri dengan gerakan gugup ketika Edgar sudah ada di dekatnya.
Dengan satu tangan yang masih memegang mic untuk bernyanyi tanpa
menggunakan iringan musik. Edgar terus melanjutkan.
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes
Edgar menggenggam satu tangan Caca. Lalu menghentikan lagunya.
Menyimpan mic yang ia genggam di saku celananya lalu menggapai satu
tangan Caca yang lain. Kini, kedua tangan Caca sudah berada di genggaman
tangan besar Edgar.
Edgar tersenyum, Caca menunduk malu.
"Maaf aku terlambat. Maaf udah bikin kamu nunggu seharian dan galau
karena aku."
Caca mendongak. "Siapa yang galau," balasnya jutek. Berbeda jauh
dengan wajahnya yang memerah.
Edgar terkekeh. "Hm, aku tahu kamu cewek kuat. Meski tetep nangis
cuma gara-gara lihat aku sama Alisa dan nyimpulin sesuatu sendiri."
"Aku gak nangis, sok tahu! Lagian, siapa yang gak akan mikir negatif
lihat cowok yang jalan berdua terus haha hihi sama mantan," dengusnya.
Caca membuang muka, tapi senyumnya tidak bisa dihindari. Sementara
Edgar kembali terkekeh. Ya, semua ini rencana Edgar. Seharian Edgar
BukanStalker
menyiapkan semua ini untuk Caca dan meminta bantuan teman-temannya
dan Alisa yang lebih direpotkan.
Edgar tidak tahu harus kepada siapa lagi meminta bantuan. Edgar tidak
terlalu dekat dengan wanita kecuali Alisa yang berstatus sebagai mantan
kekasih juga sahabatnya sekarang.
"Maaf, aku cuma mau kasih hadiah spesial buat kamu. Aku gak tahu ini
romantis atau alay di mata kamu. Karena aku belum pernah kayak gini
sebelumnya. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu sekarang. Bahkan di
depan banyak orang, aku bilang kalo aku cinta sama kamu, Ca. Aku serius,"
ucapnya tegas.
Caca mendongak, kalimat itu bagai air dingin menyegarkan hati Caca
yang seharian ini panas akibat cemburu dan rasa sakit hati yang ia buat
sendiri karena kesalahpahaman.
Sebenarnya, Caca juga terkejut dengan apa yang Edgar lakukan
sekarang. Sejauh ini Caca menjadi stalker Edgar. Edgar bukan tipe cowok
yang berlebihan seperti ini. Edgar itu cuek dan bersikap seadanya.
Tapi kali ini, Caca bisa melihat sosok Edgar yang berbeda. Dan itu
semua demi dirinya.
"Tapi kamu sama Alisa . . ." Caca melirik ke arah Alisa yang menaikkan
kedua alisnya.
Edgar tersenyum. "Aku sama Alisa gak ada hubungan apa pun. Alisa
seharian ini cuma bantuin aku buat nyiapin ini. Lagi pula, Alisa juga udah
punya pacar. Dan aku, udah jatuh cinta sama orang lain."
Caca menatap Edgar yang sedang menatapnya. Menunduk, sikap
malunya mendadak keluar. Banyak wanita yang iri melihat itu. Tapi tidak
dengan temannya yang tahu sifat Caca. Seperti Eka yang kini mendengus
geli.
"Jadi? Be my girl, I'll be your man?" tanya Edgar, masih menggenggam
kedua tangan Caca.
Caca mendongak sekali lagi sebelum akhirnya menunduk dengan
anggukan kecil. Karena sudah cukup pembuktian Edgar untuk
membuktikan cinta kepadanya.
"Gak mau ngegantung lagi, hm?"
Caca mencebik. "Mengacaukan suasana."
Edgar terkekeh geli. Dengan cepat pria itu langsung memeluk cewek
yang hanya setinggi bahunya.
"Makasih, makasih udah kasih aku kesempatan lagi," ucap Edgar,
mengecup pucuk kepala Caca di pelukannya.
Caca tersenyum di dada Edgar lalu mengangguk kecil sebelum suara
desahan Alisa terdengar.
"Sampai kapan kalian mau pelukan?"
137
DhetiAzmi
Edgar dan Caca langsung melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah
Alisa. Caca tersenyum malu sementara Edgar terkekeh geli.
Alisa menggeleng. "Baru kali ini aku lihat sisi ribet dan alay kamu, Gar.
Jadi, udah kelarkan? Kembaliin hapeku. Kasian Pras pasti nungguin."
Edgar tersadar, mengambil ponsel di saku celananya lalu
memberikannya kepada Alisa. Ya, seharian ini Edgar memonopoli Alisa
agar membantu rencananya. Bahkan pria itu menyita ponsel Alisa yang
setiap jam bergetar dari kekasihnya.
Alisa meraih ponselnya dengan sebal dan membuka banyak pesan
masuk. "Sialan kamu, Gar, Pras ngambek 'kan," kesalnya.
"Ya kamu tinggal bujuk aja sana," balas Edgar.
Alisa menatap Edgar tajam. "Dasar gak tahu terima kasih, huh."
Alisa melangkah pergi dengan ponsel yang menempel di telinganya
setelah menekan nama kekasihnya. Sementara Edgar tersenyum, menatap
Caca lagi. Saling pandang sebelum akhirnya mereka terkekeh bersamaan.
"Cie . . ."
Teman-teman Caca datang, berteriak heboh di sana. Caca hanya
tersenyum malu sementara Edgar terkekeh geli.
"Peje dong Bang," ujar Amora.
"Traktir di Kafe aja udah," lanjut Budi.
"Makan sepuasnya, aku mau red velvet," usul Dinda.
Juna menatap kekasihnya. "Kenapa harus nunggu mereka jadian buat
makan red velvet? Aku bisa beliin kok."
"Makan gratis kan enak, Jun," timpal Amora.
"Tiap hari aku kasih gratis juga masih belum puas?" tanya Adam di
samping Amora.
"Kamu pamrih, Dam?"
Adam gelagapan, pertanyaan barusan membuat Adam menciut.
"Bu...bukan gitu, Yank."
"Bilang aja gak ikhlas kasih aku jajan,"
"Enggak bukan."
Eka yang melihat itu berdecih. "Alay,"
Melotot, Eka langsung menoleh ketika ada tangan yang merangkul di
sampingnya.
"Kenapa? Mau juga? Nanti gue kasih yang lebih romantis dari ini. Mau di
mana? Di danau? Di taman? Di gunung?"
Eka menggeram, yang merangkulnya adalah Ardi. Menepis tangan Ardi,
Eka berkata, "Bacot!"
"Ah, Tsundere terus lo mah."
"Sinting."
"Eka."
BukanStalker
Kenan yang hilang kembali muncul dengan kacang rebus di kantong
Kresek.
"Akhirnya si abah kasih harga miring setelah gue bantu jualan,"
ucapnya dengan bangga.
Mereka yang melihat itu saling pandang lalu tertawa bersamaan. Caca
dan Edgar saling pandang lalu melemparkan senyum. Ah, sepertinya
tugasnya untuk Stalker Edgar sudah berakhir. Karena sekarang, si target
sudah menjadi miliknya.
Karena sekarang, Caca bisa mencari tahu apa yang ingin ia tahu tanpa
harus menjadi stalker seperti sebelumnya. Edgar sudah menjadi
kekasihnya sekarang. Ya, pria dewasa itu sudah resmi mengubah statusnya.
Sudah cukup, Caca akan segera menutup kisah dan rasa patah hatinya
sekarang. Dia sudah bahagia. Walau di depan nanti akan ada banyak
halangan, Caca akan menghadapinya asal berdua bersama Edgar.
139
DhetiAzmi
Epilog
H ubungan Caca dengan Edgar sudah membaik. Setelah drama
cemburu Caca kepada mantan kekasih Edgar. Dan kesalah
pahamannya soal kesimpulan jika Edgar kembali lagi dengan
Alisa terjawab sudah. Caca menggalau dan terharu sendiri. Cukup terkejut
melihat Edgar menyiapkan momen romantis yang sering dibayangkan oleh
Caca ketika menonton drama korea.
Dan kisah itu terjadi di hidup Caca. Cowok yang dulu dikejarnya. Cowok
yang dulu sulit sekali untuk digapainya. Cowok yang dikagumi sampai
memenuhi memori ponsel demi menyimpan semua foto-fotonya.
Sekarang, perjalanan cinta untuk mendapatkan hati Edgar yang sempat
membuat Caca menyerah, sudah berakhir. Bukan untuk melupakan, tapi
untuk memulai lembar awal kisah roman masa remajanya.
Dan hubungannya akan di mulai dari awal lagi. tentu saja dengan dua
hati yang saling menyayangi. Dan sekarang, Caca tidak perlu lagi
mengambil selca Edgar sendiri. Caca bisa berfoto bersama dan
memamerkannya dengan bangga.
Cintanya sudah terbalas, dan Caca sudah bahagia hanya dengan itu.
Memang bukan stalker, karena Caca melakukan semua hal yang disukainya
secara terang-terangan.
BukanStalker
Extra part 1
C
aca masih tidak berubah. Walau sekarang bocah yang duduk di
kelas 3 SMA itu sudah berstatus sebagai pacar Edgar, cowok
tampan yang masih diminati banyak cewek walau tahu cowok itu
sudah ada yang punya.
Caca masih jadi cewek pencemburu. Bar-bar jika ada cewek yang
dengan terang-terangan mendekati Edgar di depan mata. Caca juga dengan
blak-blakan akan mengatakan jika dirinya kekasih Edgar kepada beberapa
cewek yang menganggap Caca sebagai adik Edgar.
“Kesel aku!”
Edgar yang sedang menulis beberapa keperluan untuk Kafe melirik ke
arah Caca yang baru saja masuk ke dalam ruang office khusus owner. Dan
Edgar ada di sana. cowok itu mengabaikan Caca yang mengomel sendiri
setelah melempar asal tasnya.
“Bang, kok bisa sih?”
Edgar yang tadi fokus ke dalam sebuah catatan akhirnya mendongak
mendengar pertanyaan tidak jelas Caca.
“Apa?”
Caca mendengus, melipatkan kedua tangannya di dada sembari
menatap Edgar. “Kok bisa Bang Ed tampan?”
Dahi Edgar mengerut. Pertanyaan aneh Caca kembali membuatnya
terkekeh geli. “Kenapa kasih pertanyaan gak jelas begitu?”
“Nggak jelas gimana? Udah jelas gini. Kenapa Bang Ed tampan terus?
Capek aku lihat cewek-cewek yang naksir sama kamu,” Caca mengomel
lagi, dia tidak suka jika kekasihnya terus digodai.
“Sabar. Resiko punya pacar tampan emang gini,” balas Edgar,
membanggakan dirinya.
Caca mendengus. “Nggak enak ternyata.”
“Apanya?”
Caca melirik ke arah Edgar. “Nggak enak punya pacar tampan.”
“Eh?”
“Iya nggak enak. Tiap hari harus ribut terus sama cewek-cewek. berasa
lagi jadi benteng pertahanan demi menahan Zombie masuk.”
Edgar tertawa. Edgar sendiri tidak percaya jika akhirnya dia akan jatuh
cinta kepada bocah yang dulu sering kali mengganggu dan merecoki
hidupnya.
141
DhetiAzmi
Bocah merepotkan yang dengan sabar Edgar harus melerai ketika Caca
mulai bertengkar dengan beberapa cewek yang terang-terangan
menggodanya.
Awalnya memang seperti itu. Tapi ketika Caca mulai menghilang dan
menjauhinya. Edgar merasa tidak nyaman. Edgar tidak sadar, ternyata
sosok Caca yang selama ini menempeli hidupnya sudah menjadi kebiasaan
yang ketika sesuatu itu hilang. Edgar tidak nyaman dan gelisah. Edgar baru
menyadari jika dirinya jatuh cinta kepada anak SMA yang bahkan tidak
pernah masuk ke dalam tipenya.
Walau begitu, Edgar tidak menyesal. Caca anak yang periang. Manis dan
selalu membuat hari Edgar berwarna walau kadang ocehannya tidak
mudah dimengerti.
“Jadi kamu nyesel pacaran sama aku?” tanya Edgar, menggoda. Cowok
itu kembali fokus mencatat keperluan yang akan dibeli untuk Kafe.
Caca langsung mendelik ke arah Edgar. “Iya, nyeselku sampai berani
ngejar-ngejar Bang Ed buat demi dapat cintanya.”
“Sekarang udah dapet ‘kan?”
Caca mengulum senyum. Tidak bisa berkata-kata ketika mendengar
pertanyaan menggoda Edgar.
“Iya, dapet. Setelah jungkir balik buat move on” balas Caca, mendengus.
Edgar terkekeh. “Sayangnya nggak bisa move on ya.”
Caca mendesis. “Gimana bisa move on kalau di kejar-kejar terus.”
“Kamu duluan yang ngejar aku.”
“Tapi Bang Ed yang nolak aku. Terus lebih pilih Alisa juga. Giliran aku
move on baru dikejar.”
“Tapi sekarang aku pilih kamu.”
Caca menggembungkan pipinya. “Kalau inget waktu itu. Caca kesel
banget. Bang Ed bahkan lupa nganter Caca pulang cuma gara-gara ada
Alisa.”
Edgar mengerjap. Mendengus mendengar sindiran Caca yang sudah
sering kali diproteskan oleh cewek itu kepadanya.
“Kenapa? Kenapa Bang Ed lebih peduli sama Alisa daripada sama
hatiku? Ck, ujungnya sekarang malah pilih aku. Nggak tahu apa betapa sakit
hatinya aku,” lanjut Caca, masih mengomel tentang masa lalu yang sudah
berkali-kali Edgar jelaskan.
“Akhirnya aku balik sendirian. Padahal udah seneng banget mau di
anter pulang. Eh Bang Ed malah asyik pelukan sama cewek itu.”
Edgar membuang napas berat. Menyimpan pulpennya di atas kertas.
Lalu bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Caca yang sedang
duduk di atas Sofa panjang.
Edgar duduk di samping Caca yang langsung membuat cewek itu diam.
“Masih mau ngomel?”
BukanStalker
Caca mengerjap. “Ap─apa?”
“Udah selesai ngomelnya?” tanya Edgar lagi.
Caca mengerjap, melihat wajah serius Edgar yang super dekat
membuatnya meneguk ludah. Dengan cepat Caca membuang
pandangannya ke arah lain.
Ini nggak baik. Wajah ganteng Bang Edgar nggak baik buat hati
gue,batin Caca.
“Kenapa diem?” suara rendah Edgar kembali membuat hati Caca
berdenyut-denyut.
Tangan besar cowok itu terulur, menarik dagu Caca agar menatap ke
arahnya. Caca meneguk ludah, jantungnya seakan ingin meloncat dari
tempatnya.
“Masih mau ngomel, hm?”
Caca mengerjap-ngerjapkan matanya melihat wajah serius Edgar.
Matanya yang tajam membuat mulutnya mengatup dan terasa kelu untuk
membuka mulut. Dengan cepat Caca menggeleng.
Edgar mendengus geli. Melepaskan tangannya dari dagu Caca yang
masih diam dengan tangan yang meremas kerah bajunya.
“Masih idup, masih idup,” ujar Caca kepada dirinya sendiri.
Edgar terkekeh geli. Mengacak-acak rambut Caca pelan. Edgar baru
menyadari jika kekasihnya ini memang sangat menggemaskan. Semua
tingkah lakunya selalu saja membuat dirinya merasa geli.
Caca memang bawel. Tapi jika Edgar sudah memberikan jurus jitunya
seperti itu. Cewek itu akan langsung diam dan jinak seperti anak kucing
yang menggemaskan.
Edgar kembali ke kurisnya. Mengambil kertas yang sudah dicatatnya
tadi. Merapikan meja, Edgar mengambil tas lalu kunci mobil.
“Ayo,” ajak Edgar kepada Caca yang masih menenangkan hatinya.
Caca mendongak. “Ke mana?”
Edgar tersenyum. “Kencan.”
143
DhetiAzmi
Extra Part II
C aca mengambek lagi. Dia pikir, Edgar benar-benar akan
membawanya pergi berkencan. Ya, kencan seperti di drama korea
yang sering dia tonton bersama Dinda. Pergi ke tempat yang
indah, taman bermain atau Timezone. Melakukan hal menyenangkan
seharian.
Dugaan-dugaan tidak sesuai ekspektasi itu mendadak membuatnya
sebal. Edgar tidak membawa Caca ke tempat apa yang dikhayalkan cewek
itu. Melainkan ke sebuah kebun kopi.
Caca menggembungkan pipinya sebal. Melipatkan kedua tangannya
menunggu Edgar yang sedang mengobrol dengan pria paruh baya yang
Caca tahu pemilik kebun.
Ini bukan pertama kalinya Caca dibawa ke kebun kopi. Edgar memang
sering membeli biji kopi di tempat ini. Bukan hanya kebun kopi. Di sini juga
menjual biji kopi yang siap diolah dan kopi yang sudah jadi seperti kopi
sachet tanpa gula.
“Kenapa cemberut terus?” tanya Edgar, mendekati Caca setelah selesai
memberikan nota pesanan Kopi.
Caca mendengus. “Pakai tanya kenapa. Peka dong, Bang.”
“Peka yang kaya gimana?”
Caca berdecak. “Peka, peka sama hatiku. Bilangnya kencan, kenapa
malah dibawa ke kebun Kopi.”
“Loh? Ini juga sama kencan kok.”
“Kencan ngapain? Beli Kopi? Aish.”
Edgar menatap Caca yang memasang raut kesal. Cowok itu terkekeh
geli. “Sama aja ah. Enak kencan di sini, adem, tenang─”
“Banyak nyamuk.”
“Itu tandanya darah kamu manis. Kayak orangnya," Goda Edgar.
Caca melirik Edgar tajam. Tapi tidak bisa menyembunyikan rona merah
dan senyum malunya. “Receh ah, Bang.”
“Eh? Kok receh, serius.” Edgar masih menggoda Caca sampai wajah
manisnya merona begitu jelas.
“Ih, apa sih. Gombal.”
“Gombal sama pacar sendiri.”
“Bohong, Bang Ed pasti sering gombalin cewek lain,” sembur Caca, tidak
percaya.
BukanStalker
“Kapan aku godain cewek lain hayo? Ngelirik aja langsung tuh mata
mau keluar,” balas Edgar.
Caca menggembungkan pipinya. “Habis Bang Ed nyebelin.”
“Kok jadi aku lagi?”
“Emang─”
“Mas Edgar. Ini kopinya, taruh di mana?” tanya seorang cowok
membawa sekarung biji kopi di satu bahunya.
“Ke mobil ya, Bang.”
Cowok itu mengangguk. Berlalu untuk menyimpan stok kopi di Kafe.
“Aku bayar dulu. Jangan ngambek terus,” ujar Edgar, menarik hidung
Caca gemas.
Caca meringis. “Sakit ih!”
Edgar terkekeh. Beranjak untuk menyelesaikan pembayaran. Caca
mendengus malas, masih mengusap hidungnya yang berdenyut-denyut
perih. Mengambil cermin, Caca melihat ujung hidungnya yang sedikit
memerah.
“Duh, merah kan,” omel Caca sebal.
“Edgar.”
Caca menoleh mendengar nama Edgar dipanggil dengan mendayu khas
cewek penggoda.
“Eh, Tjania,” balas Edgar, tersenyum sopan.
Caca menggembungkan pipinya kesal. Tjania, anak pemilik kebun Kopi.
Cewek itu sering kali mencuri-curi waktu untuk menggoda Edgar saat
Edgar sedang membeli kopi di tempat ini. Dan herannya, cewek itu selalu
tahu kapan Edgar berkunjung untuk membeli biji kopi.
“Baru belanja lagi?” tanya Tjania, tersenyum anggun.
Caca menggeram. Kesal Edgar juga menyahuti pertanyaan basa-basi
cewek genit itu.
Edgar mengangguk. “Iya,stoknya di Kafe habis.”
Tjania mengangguk malu. “Kamu sendiri ke sininya?”
Caca yang mendengar ada maksud lain dari pertanyaan Tjania langsung
beranjak. Mengambil langkah lebar menuju Edgar yang sedang berdiri
saling berhadapan dengan Tjania.
“Bang, udah belum?” tanya Caca, langsung mengalungkan tangannya di
satu tangan Edgar.
Caca bisa melihat wajah Tjania yang terlihat tidak suka dengan
kehadirannya. Sementara Edgar hanya tersenyum kecil.
“Udah beres.”
Caca mengangguk, melirik Tjania sinis. “Yaudah pulang Yuk, aku capek.”
“Loh kok pulang? Jangan dulu pulang dong, Ed. Ngopi dulu di sini, aku─”
“Mau nyobain kopi buatan kamu,” sambung Caca, menatap Tjania sinis.
145
DhetiAzmi
Tjania terkejut mendengar respons Caca. Tentu saja Caca sudah tidak
bisa sabar. Alasan klasik cewek ini sudah membuatnya jengah.
“Kak, kalau mau nyobain kopi buatan Bang Ed ke Kafe. Di sana paket
lengkap rasa apa aja ada,” lanjut Caca, sarkastik.
Edgar terkekeh geli, menatap maaf kepada Tjania. “Maaf ya, Tjania. Caca
emang gini. Tapi ada benernya juga, kalau mau coba kopi langsung ke Kafe
aja ya.”
Edgar tahu Caca sedang kesal sekarang. Sudah sering dia melihat
tingkah Caca blak-blakan seperti ini kepada cewek yang sering mengobrol
dengannya.
Jika dulu, Edgar akan kesal. Tapi sekarang, dia mendadak merasa gemas
kepada kekasihnya. Tidak tahu kenapa, cemburu Caca sesuatu yang lucu
dan menggemaskan.
Tjania meringis malu. “Ah gitu. Yaudah, kapan-kapan nanti aku mampir
ke Kafe kamu. Kamu ada di sana ‘kan? Takutnya nanti aku ke sana, kamu
nggak ada.”
Edgar terkekeh ramah. “Tenang aja, kalau gak ada halangan aku selalu
di Kafe.”
“Yaps. Kecuali ada kencan sama aku pacarnya. Bang Ed gak akan ada
ada di Kafe, Kak Tjania yang cantik.” Sahut Caca, menekan nama Tjania
dengan kesal.
Tjania menatap Caca kesal. Begitu juga dengan Caca yang menatap
remeh Tjania seakan mengatakan. Lo udah kalah sebelum mulai perang!
Nyet!
Edgar yang tahu situasi sudah tidak baik, memutuskan untuk segera
pergi daripada keadaan semakin tidak membaik.
“Yaudah Tjania, kita pamit dulu ya.”
Tjania langsung merubah raut kesalnya menjadi senyum manis. “Iya,
hati-hati ya, Edgar.”
Edgar mengangguk, menyeret Caca untuk segera pergi. Sementara Caca
yang masih belum puas mengutarkan kekesalannya berteriak sebelum
benar-benar pergi.
“Kak Tjania juga hati-hati! Gak usah sok rayu-rayu pacar orang!”
Edgar langsung membekap mulut Caca yang memberontak tidak
terima. Edgar membuang napas berat. Tidak bisa berkata-kata lagi dengan
semua tingkah tiba-tiba Caca.
“Ngapain bekap mulut Caca segala sih, Bang!” kesal Caca setelah
menutup pintu mobil dari dalam.
Edgar yang baru memutar kunci mobil mendesah. “Jangan gitu. Gak
sopan.”
“Lebih gak sopan mana sama cewek genit kayak gitu? Udah tahu ada
pacarnya, sok-sokan tebar pesona,” balas Caca, marah.
BukanStalker
“Biarin aja. Lagian aku gak peduli,” balas Edgar, mencoba
menenangkan.
“Bohong! Buktinya tadi Bang Ed senyum-senyum,” balas Caca sebal.
“Itu cuma formalitas aja, Ca. Nggak mungkin kan aku ngobrol sambil
manyun.”
“Manyun aja. Biar dia sadar diri.”
Edgar menggeleng. Caca masih ngambek melihat dirinya di dekati
cewek-cewek. Padahal, sekalipun Caca tidak melerai. Edgar sungguh tidak
tertarik. Walaupun mungkin mereka lebih cantik dari Caca, Edgar tidak
peduli.
Karena Caca saja sudah cukup mengisi penuh hidupnya dengan semua
tingkah manja dan kecemburuannya yang menggelikan.
“Udah jangan marah dong, Sayang.”
Caca langsung terdiam, mengulum senyum mendengar panggilan
sayang Edgar. “Apa sih. Aku masih marah.”
“Jangan marah, nanti manisnya ilang” bujuk Edgar, terkekeh.
“Hmp.”
“Yaudah, gimana kalau kita kencan?”
“Kencan ke kebun kopi lagi? Atau ke kebun karet?” tukas Caca,
menyindir.
Edgar tertawa sembari menyetir mobilnya. “Nggak akan. Ke tempat
yang kamu mau.”
Caca langsung menoleh. “Serius?”
Edgar mengangguk. “Iya, Ca.”
“Yeay!” seru Caca, bahagia.
Edgar hanya terkekeh melihat tawa senang Caca. Yah, sekali-kali.
Karena selama ini dia sibuk di Kafe. Hari ini, biarkan dia meluangkan waktu
untuk kekasihnya. Karena mau bagaimanapun, Caca anak SMA, dan ia
menginginkan sesuatu yang bisa membuatnya bahagia.
147
DhetiAzmi
CATATAN PENULIS
Saya DhetiAzmi seorang ibu rumah tangga dua anak yang sedang
berjuang mencari kebahagiaan hidup. Untuk kalian, terima kasih
sudah mendukung karya-karya saya. Terima kasih semua suportnya.
I love u :*