PELAJARAN II
BAGIAN II
E. Yesus Mewartakan Kerajaan Allah Dengan Tindakan
Kerajaan Allah berarti Allah yang memerintah sebagai raja, maka itu manusia harus bersikap
pasrah kepada Allah.
Tindakan merupakan perbuatan. Tidak omong doang,
Kompetensi Inti
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran
agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,
santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi
dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta
cinta tanah air.
3. Memahami pengetahuan faktual dan konseptual
dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan
rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan
Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual
dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam
karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan
anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan
perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
Kompetensi Dasar
1.4 Menerima karya keselamatan Allah melalui kata-kata,
tindakan, dan pribadi Yesus Kristus.
2.4 Menunjukkan kepercayaannya akan karya
keselamatan Allah melalui kata-kata, tindakan, dan
pribadi Yesus Kristus.
3.4 Memahami karya keselamatan Allah melalui kata-kata,
tindakan, dan pribadi Yesus Kristus.
4.4 Melaksanakan karya keselamatan Allah melalui kata-kata,
tindakan, dan pribadi Yesus Kristus.
Indikator
Peserta didik dapat :
1. Menyebutkan beberapa tindakan atau mukjizat yang dilakukan
Yesus.
2. Menjelaskan hubungan tindakan Yesus dengan kata-kata-Nya.
3. Menjelaskan peranan tindakan Yesus dalam menghadirkan Kerajaan
Allah.
4. Menyebutkan contoh-contoh tindakan menghadirkan
Kerajaan Allah dalam situasi sekarang.
5. Menunjukkan cara agar perbuatan orang sesuai dengan perintah
Allah.
Bahan Kajian
1. Tindakan atau Mukjizat Yesus.
2. Hubungankata-katadantindakanYesus:Kata-
kataYesusmenjelaskan perbuatanNya, sedangkan
perbuatanNya menyempurnakan kata- kata atau
ajaranNya.
3. Hubungan tindakan Yesus dengan kehadiran Kerajaan Allah.
4. Contoh-contoh tindakan menghadirkan Kerajaan Allah
dalam situasi sekarang.
Sumber Belajar
1. Kitab Suci: Yohanes 4:1-42.
2. Kitab Suci: Yak 2:26.
3. Kisah Ignatius Joseph Kasimo.
4. Komkat KWI. Menjadi Sahabat Yesus. Pendidikan
Agama Katolik untuk SD kelas VI. Yogyakarta: Kanisius,
2010.
5. Komkat KWI. Seri Murid-Murid Yesus. Pendidikan
Agama Katolik untuk SD kelas VI. Yogyakarta: Kanisius,
2006.
6. Evangelii Nuntiandi art. 142.
7. KWI, Iman Katolik. Buku informasi dan referensi.
Yogyakarta: Kanisius, 1996.
8. John Wijngaards, Persaudaraan Bersama Yesus, terj. A.
Widyamartaya, Yogyakarta: Kanisius, 1993.
9. . Yesus Sang Pembebas, terj. A.
Widyamartaya, Yogyakarta: Kanisius, 1994.
10. Pengalaman hidup peserta didik dan guru.
Pendekatan
Kateketis dan Saintifik.
Metode
Observasi, diskusi, cerita, informasi, refleksi.
Waktu
35 menit x 4 Jam Tatap Muka
(Jika dilaksanakan lebih dari 4 JTM, waktu pembelajaran
diatur oleh guru yang bersangkutan).
Pemikiran Dasar
Dalam Suratnya Yakobus menegaskan serta mengingatkan kita bahwa, Jika iman
itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. p a d a
kesempatan ini saya hendak membuka pelajaran ini dengan
sebuah cerita.
Ada seorang nelayan yang diperkirakan telah hilang di laut, tenggelam karena suatu
badai, berhasil diselamatkan oleh sebuah kapal. Seorang wartawan mewawancarai
nelayan itu :
“Apakah Anda ketakutan di luar sana, sendirian, dingin, dan basah?” tanya si
wartawan.
“Ya,”jawab si nelayan.
“Apa yang Anda lakukan dilaut selama jam-jam yang menakutkan itu?”
“Berdoa.” Jawab nelayan itu.
“Berdoa? Anda berdoa apa?” Tanya sang wartawan.
“Tentu saja mendoakan apa yang bisa saya doakan. Jika memang Tuhan memberikan
saya kesempatan untuk hidup maka saya pasti selamat, kalau pun tidak saya tetap
bersyukur!”
“Dan Anda percaya Tuhan akan menyelamatkan Anda?”
“Ya!
“Oh, kenyataannya Tuhan memang menyelamatkan Anda. O ya, apakah Anda hanya
berdoa?” tanya wartawan itu lagi. Si nelayan yang sudah merasa bosan pun
menjawab, “Hanya orang bodoh yang hanya berdoa tanpa berusaha. Tentu saja saya
berteriak-teriak, memanfaatkan barang-barang yang masih tersisa di perahu untuk
menarik perhatian kapal yang lewat. Kalau saya hanya mendoakan apa yang
sebenarnya bisa saya lakukan tapi tidak berusaha melakukan apa yang saya doakan,
mungkin saya tidak akan berada di sini sekarang.”
Dari cerita di atas tampak bahwa iman dan perbuatan harus setara dan sejalan. Orang
Kristen mengaku bahwa mereka beriman, mereka mengaku dirinya sebagai orang
Kristen. Namun itu hanya dimulut saja. Pada kenyataannya, tidak banyak orang
Kristen yang mengaku dirinya beriman melewati perbuatan dan tindakannya. Dimana
ada iman disitu pula ada perbuatan! Banyak orang Kristen ingin dibenarkan oleh
Allah, tapi mereka tidak melakukan suatu hal yang menunjukkan bahwa mereka layak
untuk dibenarkan Allah. Tanpa perbuatan, maka iman kita mati! sehingga orang
mengatakan bahwa berdoa dan bekerja harus seiring sejalan, sama seperti guru Agung
kita melakukan semua pekerjaannya dengan berdoa dan bekerja.
Melalui perkataan Yakobus hendak menegaskan apa yang telah dilakukan oleh Yesus
Sang Guru. Yesus bukan hanya mengajar dan menyampaikan kata-kata, tetapi lebih
dari itu, Yesus menyempurnakan kata-kata-Nya melalui tindakan yang nyata. Yesus
menyatakan kasih serta kehendak Allah, melalui kata-kata dan tindakan. Yesus
melakukan aneka mukjizat untuk menyempurnakan kasih serta kehendak Allah
bagi manusia. Apa yang Yesus katakan, sungguh terbukti di dalam tindakan
kasih-Nya kepada orang-orang yang Ia jumpai. Bahkan sebagai konsekuensi
atas pengajaran-Nya, Yesus berani menderita, memanggul salib hingga wafat.
Dengan demikian, Yesus berani mempertanggungjawabkan dan menempuh resiko
atas kebenaran yang Ia katakan dan Ia lakukan. Contoh nyata seorang guru adalah
orang yang harus di teladani, jika seorang guru agama hanya berbicara kepada anak
muridnya mengenai hal memberi contohnya, dan guru tersebut setelah menyampaikan
penjelasan dan tidak menjalankannya berarti tidak lebih dari seorang penipu. Sebab suatu
perkataan kalau tidak disertakan dengan bukti berarti sama dengan kebohongan. Apakah
hal ini sama dengan Yesus sang Guru kita?
Kegiatan Pembelajaran
Doa Pembuka
Langkah Pertama
Mendalami Arti Pengajaran dan Keteladanan di dalam Masyarakat
1. Mendalami Pengalaman Pribadi Peserta Didik Tentang Keteladanan.
Guru mengajak peserta didik untuk menggali pengalaman hidup
mengenai tokoh-tokoh yang patut menjadi teladan, bukan hanya karena
nasehat dan kata-kata, tetapi juga karena tokoh tersebut mampu
menunjukkannya dalam tindakan nyata.
Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
mengungkapkan pengalamannya.
2. Mendalami Kisah Keteladanan
Guru mengajak peserta didik untuk menyimak kisah keteladanan Daniel
Mananta
Presenter sekaligus Model, Daniel Mananta mengungkapkan jika saat ini dirinya tengah sibuk
membangun tempat ibadah berupa gereja di daerah Flores, Nusa Tenggara Timur. Dia
mengaku, pembangunan Gereja tersebut merupakan bentuk rasa syukur dia kepada Tuhan.
"Sekitar 3 sampai 4 tahun lalu, saya ada masalah di pita suara yang membuat saya ngga bisa
ngomong. Sebagai presenter dan suara saya ilang, jelas lumayan stres. Dari situ akhirnya
operasi. Ketika suara saya balik, saya bersyukur," ucap Daniel, saat ditemui usai mengisi
acara ulang tahun IRadio ke-14 tahun, di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (30/3/2015).
Menurutnya, proses pembangunan gereja yang dinamakan Chapel 8 itu, sudah berlangsung
sejak dua tahun lalu. Dia juga mengaku, jika pembangunan gereja tersebut awalnya berasal
dari dana pribadi dia sendiri.
Awalnya passion saya sendiri. Tapi saya perlu bantuan temen-temen. Terus saya undang
Sandra dewi, Olga lidya, Delon juga bantuin. Mereka sangat bantu banget kumpulin dana. Ini
saatnya anak muda memberikan aksi lebih. Apapun itu agamnya," ungkapnya.
Pemilik usaha 'Damn, I Love Indonesia' itu mengungkapkan alasan dia membangun gereja di
daerah Flores, NTT.
"Waktu itu saya lagi jalan-jalan ke Flores, lalu ada gereja yang sudah hancur. Saat lagi misa
saya lihat ada pastur hampir kejatuhan kayu dari atap. Di situ saya tersentuh dan akhirnya
bangun gereja di sana," tandasnya.
Daniel mengatakan, saat ini pembangun gereja Chapel 8 sudah mencapai 98 persen.
Rencananya, pada 23 Mei nanti, dia terbang ke Flores untuk melakukan Misa bersama di
gereja yang telah dia dirikan tersebut.
3. Mendalami Nilai-Nilai Keteladanan Daniel Mananta
Guru mengajak peserta didik di dalam Tanya jawab spontan, untuk mendalami kisah
di atas dengan beberapa pertanyaan, misalnya:
a. Siapakah Daniel Mananta menurut kisah di atas?
b. Sebutkan sikap-sikap serta tindakan Daniel Mananta yang pantas kita
teladani?
c. Adakah keluarga atau kenalan kita yang memiliki sikap serta tindakan
yang dapat kita teladani? Sebutkan dan lengkapi dengan penjelasan!
4. Rangkuman
Guru bersama peserta didik dapat membuat rangkuman sebagai peneguhan
dari pendalaman kisah di atas, Daniel mananta adalah seorang Kristen katolik
yang pekerjaannya adalah seorang model, pembawa acara. Dari kisahnya mau
memberikan kita pelajara bahwa beriman saja tidak cukup melainkan harus di
buktikan dengan aksinyata atau tidakan. Dia tergerak hari untuk membaangun
rumah Tuhan karena telah rusak. Dengan demikian kita dalam melakukan
tindakan yang baik jangan memandang siapa yang kita bantu, tetapi lakukan
niat baikmu dengan tulus. Contoh seorang temanmu membutuhkan bullpen untu
tulis dan ia meminta kepadamu, jika kamu memiliki kelebihan bullpen berilah
jangan krena dia anak orang tak berpunya maka kamu tdak memberikan. Jangan
kalian ketika ditanya pak guru agama siapa yang suka membantu sesame, semua
menjawab saya. Bahkan megancungkan tangan, tetapi dalam pelaksanaan tidak
pernah, maka mulai sekarang kita haru selalu bertindak baik.
Langkah kedua
Menyadari Bahwa Keteladanan Lebih Utama dari Sekedar Nasehat
atau Kata-Kata
Guru memberi kesempatan secukupnya kepada peserta didik untuk
menanggapi atau mengajukan pertanyaan mengenai kisah tersebut di
atas.
1. Menemukan Ungkapan dan Peribahasa yang Menekankan bahwa
Keteladanan Lebih Utama daripada
Kata-Kata.
Guru mengajak peserta didik untuk menemukan berbagai ungkapan atau
peribahasa yang menekankan nilai keteladanan, bukan karena kata-kata
atau nasehat, melainkan karena tindakan serta perbuatan nyata yang
selaras dengan kata-kata.
No. Ungkapan/Peribahasa Ar
1 ti bicara
Jangan “Omdo” (omong doang) Jangan hanya
. Sedikit bicara, banyak
2. Talk less do more
bekerja
Orang banyak bicara,
3. Tong kosong nyaring bunyinya
tapi tiada buktinya
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
2. Menemukan Pemimpin dan Tokoh-Tokoh yang Patut Menjadi teladan
Selanjutnya, Guru mengajak peserta didik untuk menemukan
pemimpin atau tokoh di masyarakat yang pantas disebut sebagai
teladan.
No. Nama Nilai Keteladanan
1. I. J Kasimo Tegas, sederhana
Cerdas, sederhana,
2. Rm. Mangunwidjaja memperjuangkan kaum
miskin
Berjuang memajukan
3. R. A Kartini
perempuan Indonesia
4.
5.
6.
7.
8.
3. Rangkuman
Berdasarkan tanggapan serta pertanyaan dari peserta didik,
guru menegaskan hal-hal pokok, misalnya:
Masyarakat lebih percaya kepada orang yang menunjukkan
keteladanan daripada orang yang hanya banyak bicara serta
nasehat. Kata-kata atau nasehat seseorang akan lebih dihargai jika
disertai tindakan yang sesuai.
Terdapat banyak ungkapan yang menunjukkan bahwa
tindakan keteladanan lebih dihargai daripada kepandaian berbicara.
Seperti: Tong kosong nyaring bunyinya, sedikit bicara banyak bekerja,
satunya kata dan perbuatan, dan sebagainya.
Masih cukup banyak pemimpin di dalam masyarakat yang mampu
menunjukkan keteladanan.
Langkah Ketiga
Yesus Mewartakan Kerajaan Allah Melalui Perbuatan Nyata
Setelah peserta didik menyadari pentingnya keteladanan, tokoh- tokoh yang
pantas disebut sebagai teladan, guru mengajak peserta didik untuk mengenal
Yesus sebagai tokoh yang bukan hanya mengajar, tetapi juga bertindak dan
berjuang untuk melakukan apa yang diajarkan-Nya, bahkan sampai rela mati
disalib.
1. Menemukan Kisah-Kisah Yesus yang Mewartakan
Kerajaan Allah Melalui Perbuatan.
a. Yesus dan Zakheus (lukas 19:1-10).
b. Orang Samaria yang murah hati (lukas 10:25-37).
c. Yesus memberi makan lima ribu orang (Matius 14:15-22).
d. Yesus wafat (Matius 27:35-54).
e. Dan aneka mukjizat Yesus yang lain.
[Link] Kisah Yesus
Guru mengajak peserta didik untuk secara khusus menyimak kisah
Yesus pada Yohanes 4:46-54
Yesus menyembuhkan anak pegawai istana
4:46 Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air
menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya
sedang sakit. 4:47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea
ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan
menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. 4:48 Maka kata
Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat kamu tidak
percaya." 4:49 Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah
sebelum anakku mati." 4:50 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!"
Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.
4:51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya
dengan kabar, bahwa anaknya hidup. 4:52 Ia bertanya kepada mereka pukul
berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu
demamnya hilang." 4:53 Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah
Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu iapun percaya, ia dan seluruh
keluarganya. 4:54 Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang
dari Yudea ke Galilea.
3. Menggali Makna Pewartaan Yesus Melalui Tindakan, Makna
Serta Harapan Yesus terhadap Masyarakat Atas Tindakannya
a. Diskusi Kelompok
Guru mengajak peserta didik membentuk kelompok diskusi. Masing-
masing kelompok terdiri dari 3-5 peserta didik, untuk
mendalami kisah tersebut di atas, dengan mengajukan beberapa
pertanyaan, misalnya:
1) Mengapa pegawai istana datang kepada Yesus?
2) Apa jawaban Yesus kepada pegawai Istana?
3) Apa yang terjadi setelah mereka telah melintasi setengah perjalanan ke
kapernaum?
4) Apa yang menyebabkan anak dari pegawai istana mengalami
kesembuhan.
b. Pleno
Setelah diskusi selesai, selanjutnya guru memberi kesempatan
kepada masing-masing kelompok diskusi untuk menyampaikan hasil
diskusinya, secara lisan. Sementara guru mencatat hal-hal pokok,
untuk kemudian dirangkai sebagai rangkuman.
c. Rangkuman
Iman tanpa perbuatan adalah mati, sebab jika pegawai tersebut ia
mengetahui bahwa anakya sedang sakit namun dia hanya berangapan
bahwa Yesus bisa meyembuhkan anaknya tanpa sebuah perjuangan untuk
bertemuh Yesus maka tetap saja anaknya tidak sembuh, akan tetapi berkat
iman dari bapaknya dan perjuangan untuk bertemu Yesus maka anak itu
menjadi sembuh. Dari hal ini kita ketahui bersama bawa yesus tidak saja
mengatakan tentang kuasa allah semata melainkan menunjukan bukti nyata
lewat mukjizat penyembuhan. Dengan demikian kita kalau mengalami
kesulitan yang harus kita lakukan adalah berdoa dan mencari jalan keluar
dari permasalahan yang kita hadapi, contoh ketika kamu sakit, kamu tetap
berdoa memohonkan penyembuhan akan tetapi jangan lupa untuk ke
dokter, atau mebeli obat dan sebagainya demi kesembuhan kamu.
Langkah Keempat
Membangun Niat untuk Menjaga Keselarasan Kata-Kata dengan
Perbuatan Nyata.
1. Refleksi
Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
merenungkan sekaligus merangkai kata-kata yang
mencerminkan niat untuk selalu berkata dan berbuat yang baik dan
benar, sebagai bukti kepercayaan kepada Tuhan Yesus, baik di
rumah, di sekolah, di dalam Gereja maupun di masyarakat,
misalnya dengan mengisi tabel berikut:
Perbuatan yang Akan Saya
No. Lingkungan
Laksanakan
1. Rumah
2. Sekolah
3. Gereja
4. Masyarakat
5.
2. Aksi Nyata
Peserta didik diberi kesempatan untuk menuangkan niat hasil
refleksinya, dalam bentuk doa permohonan.
Penutup
Doa
Guru dapat mengakhiri Rangkaian pelajaran tersebut dengan
meminta salah seorang peserta didik untuk menutup pelajaran
dengan doa yang telah disusunnya, atau dengan doa berikut:
Ya Yesus,Engkau hadir di dunia ini bukan hanya untuk mewartakan Kerajaan
Allah dengan kata-kata, melainkan menyempurnakannya dengan tindakan nyata,
baik melalui berbagai mukjizat maupun tindakan yang bijak untuk
menyelamatkan semua orang. Tanamkanlah di dalam diri kami, untuk selalu
mengatakan kebenaran, sekaligus mewujudkannya di dalam sikap dan perbuatan
nyata. Karena Kristus Tuhan kami, yang hidup kini dan sepanjang segala masa.
Amin.