0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan19 halaman

Laporan RDS pada Neonatus: Diagnosis dan Penanganan

Rangkuman singkat dari dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang sindroma gagal nafas Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada bayi baru lahir. 2. RDS disebabkan oleh defisiensi surfaktan yang berperan penting dalam memelihara elastisitas paru-paru. 3. Gejala klinis RDS antara lain takipnea, sianosis, dan retraksi ketika bernafas. Diagnosa didukung dengan pemeriksaan ront

Diunggah oleh

Siti Aisah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan19 halaman

Laporan RDS pada Neonatus: Diagnosis dan Penanganan

Rangkuman singkat dari dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang sindroma gagal nafas Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada bayi baru lahir. 2. RDS disebabkan oleh defisiensi surfaktan yang berperan penting dalam memelihara elastisitas paru-paru. 3. Gejala klinis RDS antara lain takipnea, sianosis, dan retraksi ketika bernafas. Diagnosa didukung dengan pemeriksaan ront

Diunggah oleh

Siti Aisah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN

Judul : Laporan Pendahuluan Respiratory Distress


Syndrom (RDS)
Tempat : Ruang Aster

OLEH:
Nama = Siti Aisah
NIM = I4B021011
Program = Profesi Ners, Jurusan Keperawatan, FIKes,
Unsoed Angkatan 28

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMI KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
DESEMBER 2021
BAB I
PENDAHULUAN

A. Definisi

Sindroma gagal nafas Respiratory Distress Syndrom (RDS ) adalah


istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan
ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan
perkembangan maturitas paru atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam
paru (Suriadidan Yuliani, 2001). Gangguan ini biasanya dikenal dengan
nama Hyaline Membran Desease (HMD) atau penyakit membran hialin
karena pada penyakit ini selalu ditemukan membran hialin yang melapisi
alveoli.

B. Penyebab

Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada RDS yaitu


prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes, seksio sesaria. Respiratory
Distress Syndrome (RDS) didapatkan pada 10% bayi prematur, yang
disebabkan defisiensi surfaktan pada bayi yang lahir dengan masa gestasi
kurang. Surfaktan biasanya didapatkan pada paru yang matur.

C. Faktor Predisposisi

Bayi prematur lahir dengan kondisi paru yang belum siap


sepenuhnya untuk berfungsi sebagai organ pertukaran gas yang efektif.
Hal ini merupakan faktor kritis dalam terjadinya RDS. Ketidaksiapan paru
menjalankan fungsinya tersebut terutama disebabkan oleh kekurangan atau
tidak adanya surfaktan.

D. Patofisiologi

RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan


kurangnya zat yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang
diproduksi selepitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai
dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai maksimal pada
minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10). Peranan
surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak
terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir
ekpirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi
sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis. Hipoksia akan
menyebabkan terjadinya :

1. Oksigenasi jaringan menurun kemudian metabolisme anerobik dengan


penimbunan asam laktat asam organic sehingga terjadi asidosis
metabolic.
2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris menimbulkan
transudasi ke dalam alveoli>terbentuk fibrin>fibrin dan jaringan epitel
yang nekrotik>lapisan membrane hialin. Asidosis dan atelektasis akan
menyebabkan terganggunya jantung, penurunan aliran darah ke paru,
dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang
menyebabkan terjadinya atelektasis. Sel tipe II ini sangat sensitive dan
berkurang pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan
kematangannya dipacu dengan adanya stress intra uterine seperti
hipertensi, IUGR dan kehamilan kembar.

E. Manifestasi klinis
Gejala utama gawat napas / distress respirasi pada neonatus yaitu :

1. Takipnea : laju napas > 60 kali per menit (normal laju napas 40 kali per
menit)
2. Sianosis sentral pada suhu kamar yang menetap atau memburuk pada
48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik
3. Retraksi : cekungan pada sternum dan kosta pada saat inspirasi
4. Grunting : suara merintih saat ekspirasi
5. Pernapasan cuping hidung

F. Pengkajian
1. Riwayat maternal: Menderita penyakit seperti diabetes mellitus,
Kondisi seperti perdarahan placenta, Tipe dan lamanya persalinan,
Stress fetal atau intrapartus
2. Status infant saat lahir: Prematur, umur kehamilan, Apgar score,
apakah terjadi aspiksia, Bayi prematur yang lahir melalui operasi
caesar
3. Cardiovaskular: Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan
hipoksemia berat, Murmur sistolik, Denyut jantung dalam batas
normal
4. Integumen: Pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi peripheral,
Pitting edema pada tangan dan kaki, Mottling
5. Neurologis: Immobilitas, kelemahan, flaciditas, Penurunan suhu tubuh,
Pulmonary: Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit, mungkin
80 ± 100 x ), Nafas grunting, Nasal flaring, Retraksi intercostal,
suprasternal, atau substernal, Cyanosis (sentral kemudian diikuti
sirkumoral) berhubungan dengan persentase desaturasi hemoglobin,
Penurunan suara nafas, crakles, episode apnea
6. Status Behavioral: Lethargy
7. Study Diagnostik: Seri rontqen dada, untuk melihat densitas atelektasis
dan elevasidiaphragma dengan overdistensi duktus alveolar,
Bronchogram udara, untuk menentukan ventilasi jalan nafas.
8. Data laboratorium: Profil paru, untuk menentukan maturitas paru,
dengan bahan cairanamnion (untuk janin yang mempunyai predisposisi
RDS), Lecitin/Sphingomielin (L/S) ratio 2 : 1 atau lebih
mengindikasikan maturitas paru, Phospatidyglicerol : meningkat saat
usia gestasi 35 minggu, Tingkat phosphatidylinositol, Analisa Gas
Darah, PaO2 kurang dari 50 mmHg, PaCO2 kurang dari60 mmHg,
saturasi oksigen 92% ± 94%, pH 7,31 ± 7,45-, Level pottasium,
meningkat sebagai hasil dari release potassium darisel alveolar yang
rusak .
G. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Klasifikasi Skor Downe
Pemeriksaan 0 1 2
Frekuensi <60/menit 60-80/menit >80/menit
napas
Retraksi Tidak ada Retraksi ringan Retraksi berat
sianosis Tidak ada Sianosis hilang Sianosis menetap
setelah pemberian walaupun diberi
O2 O2
Suara napas Kedua paru Kedua paru menuun Tidak ada suara
baik napas
Merintih Tidak ada Dapat didengar Dapat didengar
dengan stetoskop tanpa alat bantu

Pemeriksaan Penunjang pada Neonatus yang mengalami Distress


Pernafasan:
1. kegunaan kultur darah: menunjukkan keadaan Pemeriksaan
bakteriemia.
2. Analisis gas darah: menilai derajat hipoksemia dan keseimbangan asam
basa
3. Glukosa darah: menilai keadaan hipoglikemia, karena hipoglikemia
dapat menyebabkan atau memperberat takipnea
4. Rontgen toraks: mengetahui etiologi distress nafas
5. Darah rutin dan hitung jenis: leukositosis menunjukkan adanya infeksi,
neutropenia menunjukkan infeksi bakteri, trombositopenia
menunjukkan adanya sepsis
6. Pulse oximetry: menilai hipoksia dan kebutuhan tambahan oksigen

H. Klasifikasi

Komplikasi jangka pendek (akut) dapat terjadi :


1. Ruptur alveoli : bila dicurigai terjadi kebocoran udara ( pneumothorak,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel ), pada
bayi dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinis
hipotensi, apnea,atau bradikardi atau adanya asidosis yang menetap.
2. Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang
memburuk dan adanya perubahan jumlah leukosit dan
thrombositopenia. Infeksi dapat timbul karena tindakan invasif seperti
pemasangan jarum vena, kateter, dan alat-alat respirasi.
3. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular : perdarahan
intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi
terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik.
4. PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan
komplikasi bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi
surfaktannya.
Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh toksisitas oksigen,
tekanan yang tinggi dalam paru, memberatnya penyakit dan kurangnya
oksigen yang menuju ke otak dan organ lain. Komplikasi jangka panjang
yang sering terjadi:

1. Bronchopulmonary Dysplasia (BPD)


BPD merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan pemakaian
oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan
dengan tingginya volume dan tekanan yangdigunakan pada waktu
menggunakan ventilasi mekanik, adanya infeksi,inflamasi, dan
defisiensi vitamin. Insiden BPD meningkat dengan menurunnya masa
gestasi.
2. Retinopathy prematur
Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 10-70% bayi yang
berhubungan dengan masa gestasi, adanya hipoxia, komplikasi
intrakranial, dan adanya infeksi.

I. Tata Laksana
Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi,dkk (2003)
tindakan untuk mengatasi masalah kegawatan pernafasan meliputi :
1. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.
2. Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3. Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat.
5. Mencegah hipotermia.
6. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.

Penatalaksanaan secara umum :


1. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling
sering dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa
5 %.
• Pantau selalu tanda vital
• Jaga patensi jalan nafas
• Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
2. Jika bayi mengalami apneu
• Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
• Lakukan penilaian lanjut
3. Bila terjadi kejang potong kejang segera periksa kadar gula darah
4. Pemberian nutrisi adekuat
Setelah menajemen umum, segera dilakukan menajemen lanjut
sesuai dengan kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan
nafas.
Menajemen spesifik atau menajemen lanjut:
a. Gangguan nafas ringan
Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas
ringan padawaktu lahir tanpa gejala-gejala lain disebut “Transient
Tacypnea of the Newborn´ (TTN). Terutama terjadi setelah bedah sesar.
Biasanya kondisi tersebut akan membaik dan sembuh sendiri tanpa
pengobatan. Meskipundemikian, pada beberapa kasus. Gangguan napas
ringan merupakan tanda awaldari infeksi sistemik.
b. Gangguan nafas sedang
1. Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal, bila
masih sesak dapat diberikan O2 4-5 liter/menit dengan sungkup
2. Bayi jangan diberi minum.
3. Jika ada tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan
gentamisin) untuk terapi kemungkinan besar sepsis.
- Suhu aksiler <> 39ÛC
- Air ketuban bercampur meconium
- Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga infeksi berat atau
ketuban pecah dini (> 18 jam)

4. Bila suhu aksiler 34- 36,5 ÛC atau 37,5-39ÛC tangani untuk


masalah suhu abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam
- Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada
perbaikan, berikan antibiotika untuk terapi kemungkinan
besar seposis
- Jika suhu normal, teruskan amati bayi.
5. Apabila suhu kembali abnormal ulangi tahapan tersebut diatas.
6. Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi setelah
2 jam
7. Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda
perburukan setelah 2 jam, terapi untuk kemungkinan besar sepsis
8. Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi
o2 secara bertahap. Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap
2 jam. Jika tidak dapat menyusu, berikan ASI peras dengan
memakai salah satu cara pemberian minum
9. Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan.
Bila bayikembali tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3
hari, minumbaik dan tak ada alasan bayi tatap tinggal di Rumah
Sakit bayi dapat dipulangkan
c. Gangguan nafas ringan
1. Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya.
2. Bila dalam pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul
gejala sepsis lainnya. Terapi untuk kemungkinan kesar sepsis dan
tangani gangguan napas sedang dan dan segera dirujuk di rumah
sakit rujukan.
3. Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak berikan ASI
peras dengan menggunakan salah satu cara alternatif pemberian
minuman.
4. Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan
gangguan [Link] pemberian O2 jika frekuensi napas
antara 30-60 kali/menit.
d. Penatalaksanaan medis:
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS
adalah:
1. Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
2. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan
menurunkan caiaran paru
3. Fenobarbital
4. Vitamin E menurunkan produksi radikal bebas oksigen
5. Metilksantin (teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan
untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan
dalam pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen ( derifat
dari sumber alami misalnya manusia, didapat dari cairan amnion atau
paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan).
J. Pathway
K. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
a. Gangguan pertukaran gas b.d imaturitas paru dan
neuromuskular,defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan alveolar.
b. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hilangnya fungsi
jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal, peningkatan resistensi jalan
nafas
c. Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan dengan
ketidaksamaannafas bayi dan ventilator, tidak berfungsinya ventilator
dan posisi bantuanventilator yang kurang tepat.
d. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan menghisap, penurunan motilitas usus.
e. Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairansensible dan insensible
f. Koping keluarga inefektif berhubungan dengan ansietas, perasaan
bersalah, dan perpisahan dengan bayi sebagai akibat situasi krisis
g. Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b.d belum
terbentuknyalapisan lemak pada kulit.
L. Rencana asuhan keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas b.d imaturitas paru dan neuromuscular.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan pola nafas efektif.
- Jalan nafas bersih
- Frekuensi jantung 100-140 x/i
- Pernapasan 40-60 x/i
- Takipneu atau apneu tidak ada
- Sianosis tidak ada
Intervensi :
1. Posisikan untuk pertukaran udara yang optimal; tempatkan pada
posisi telentang dengan leher sedikit ekstensi dan hidung
menghadap keatas dalam posisi mengendus
R: untuk mencegah adanya penyempitan jalan nafas.
2. Hindari hiperekstensi leher
R: karena akan mengurangi diameter trakea.
3. Observasi adanya penyimpangan dari fungsi yang diinginkan ,
kenali tanda-tanda distres misalnya: mengorok, pernafasan cuping
hidung, apnea.
R: memastikan posisi sesuai dengan yang diinginkan dan mencegah
terjadinya distres [Link]
4. Penghisapan
R: menghilangkan mukus yang terakumulasi dari nasofaring,
trakea, dan selang endotrakeal.
5. Penghisapan selang endotrakeal sebelum pemberian surfaktan
R : memastikan bahwa jalan napas bersih
6. Hindari penghisapan sedikitnya 1 jam setelah pemberian surfaktan
R : meningkatkan absorpsi ke dalam alvelolar
7. Observasi peningkatan pengembangan dada setelah pemberian
surfaktan.
R : menilai fungsi pemberian surfaktan.
8. Turunkan pengaturan, ventilator, khususnya tekanan inspirasi
puncak dan oksigen
R : mencegah hipoksemia dan distensi paru yang berlebihan.
b. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hilangnya
fungsi jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal, peningkatan
resistensi jalan nafas ditandai dengan: dispneu , perubahan pola
nafas, penggunaan otot pernafasan, batuk dengan atau tanpa
sputum, cyanosis.
Tujuan :Pasien dapat mempertahankan jalan nafas dengan bunyi nafas
yang jernih
- Pasien bebas dari dispneu.
- Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan.
- Memperlihatkan tingkah laku mempertahankan jalan nafas

Tindakan :Independen.
1. Catat perubahan dalam bernafas dan pola nafasnya
R: Penggunaan otot-otot interkostal/abdominal/leher dapat
meningkatkanusaha dalam bernafas
2. Observasi dari penurunan pengembangan dada dan peningkatan
fremitus
R: Pengembangan dada dapat menjadi batas dari akumulasi cairan
danadanya cairan dapat meningkatkan fremitus
3. Catat karakteristik dari suara nafas
R:Suara nafas terjadi karena adanya aliran udara melewati batang
tracheo branchial dan juga karena adanya cairan, mukus atau
sumbatan lain darisaluran nafas
4. Catat karakteristik dari batuk
R: Karakteristik batuk dapat merubah ketergantungan pada
penyebab dan etiologi dari jalan nafas. Adanya sputum dapat dalam
jumlah yang banyak,tebal dan purulente.
5. Pertahankan posisi tubuh/posisi kepala dan gunakan jalan nafas
tambahan bila perlu
R:Pemeliharaan jalan nafas bagian nafas dengan paten
6. Kaji kemampuan batuk, latihan nafas dalam, perubahan posisi dan
lakukansuction bila ada indikasi
R:Penimbunan sekret mengganggu ventilasi dan predisposisi
perkembangan atelektasis dan infeksi paru.
7. Peningkatan oral intake jika memungkinkan
R:Peningkatan cairan per oral dapat mengencerkan sputum
8. Kolaboratif
9. Berikan oksigen, cairan IV; tempatkan di kamar humidifier sesuai
indikasi
R:Mengeluarkan sekret dan meningkatkan transport oksigeni.
10. Berikan therapi aerosol, ultrasonik nabulasasi
R:Dapat berfungsi sebagai bronchodilatasi dan mengeluarkan
sekret
11. Berikan fisiotherapi dada misalnya: postural drainase, perkusi
dada/vibrasi jika ada indikasi
R:Meningkatkan drainase sekret paru, peningkatan efisiensi
penggunaan otot-otot pernafasan
12. Berikan bronchodilator misalnya : aminofilin, albuteal dan
mukolitik
R: Diberikan untuk mengurangi bronchospasme, menurunkan
viskositassekret dan meningkatkan ventilasi
c. Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan dengan
ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator, tidak berfungsinya
ventilator dan posisi bantuan ventilator yang kurang tepat
Tindakan : Independen
1. Kaji status pernafasan, catat peningkatan respirasi atau perubahan
pola nafas

R: Takipneu adalah mekanisme kompensasi untuk hipoksemia dan


peningkatan usaha nafas
2. Catat ada tidaknya suara nafas dan adanya bunyi nafas tambahan
seperti crakles, dan wheezing
R: Suara nafas mungkin tidak sama atau tidak ada ditemukan.
Crakles terjadi karena peningkatan cairan di permukaan jaringan
yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas membran alveoli
± kapiler. Wheezingterjadi karena bronchokontriksi atau adanya
mukus pada jalan nafas
3. Kaji adanya cyanosis
R: Selalu berarti bila diberikan oksigen (desaturasi 5 gr dari Hb)
sebelumcyanosis muncul. Tanda cyanosis dapat dinilai pada mulut,
bibir yangindikasi adanya hipoksemia sistemik, cyanosis perifer
seperti pada kukudan ekstremitas adalah vasokontriksi.
4. Observasi adanya somnolen, confusion, apatis, dan
ketidakmampuan beristirahat
R:Hipoksemia dapat menyebabkan iritabilitas dari miokardiume.
5. Berikan istirahat yang cukup dan nyaman
R: Menyimpan tenaga pasien, mengurangi penggunaan oksigen
6. Kolaboratif : Berikan humidifier oksigen dengan masker CPAP jika
ada indikasi
R:Memaksimalkan pertukaran oksigen secara terus menerus
dengantekanan yang sesuai
7. Berikan pencegahan IPPB
R:Peningkatan ekspansi paru meningkatkan oksigenasih.
8. Review X-ray dada
R:Memperlihatkan kongesti paru yang progresif
9. Berikan obat-obat jika ada indikasi seperti steroids, antibiotik,
bronchodilator dan ekspektorant
R:Untuk mencegah ARDS
d. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidak mampuan menghisap, penurunan motilitas usus.
Tujuan : Mempertahankan dan mendukung intake nutrisi
Intervensi Rasional
1. Berikan infus D 10% W sekitar 65 ± 80 ml/kg bb/ hari
R: Untuk menggantikan kalori yang tidak didapat secara oral
2. Pasang selang nasogastrik atau orogastrik untuk dapat
memasukkanmakanan jika diindikasikan atau untuk mengevaluasi
isi lambung
R: Pilihan ini dilakukan jika masukan sudah tidak mungkin
dilakukan
3. Cek lokasi selang NGT dengan cara : Aspirasi isi lambung,
Injeksikan sejumlah udara dan auskultasi masuknya udara pada
lambung, Letakkan ujung selang di air, bila masuk lambung, selang
tidak akan memproduksi gelembung
R: Untuk mencegah masuknya makanan ke saluran pernafasan
4. Berikan makanan sesuai dengan prosedur berikut : Elevasikan
kepala bayi. Berikan ASI atau susu formula dengan prinsip
gravitasi dengan ketinggian 6± 8 inchi dari kepala bayi. Berikan
makanan dengan suhu ruangan. Tengkurapkan bayi setelah makan
sekitar 1 jam.
R: Memberikan makanan tanpa menurunkan tingkat energi bayi
5. Berikan TPN jika diindikasikan
R: TPN merupakan metode alternatif untuk mempertahankan
nutrisi jika bowel sounds tidak ada dan infants berada pada stadium
akut.

e. Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan


kehilangan cairan sensible dan insensible
Tujuan : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
Intervensi Rasional
1. Pertahankan pemberian infus Dex 10% W 60 ± 100 ml/kg bb/hari
R: Penggantian cairan secara adekuat untuk
mencegahketidakseimbangan
2. Tingkatkan cairan infus 10 ml/kg/hari, tergantung dari urine output,
penggunaan pemanas dan jumlah feedings
R: Mempertahankan asupan cairan sesuai kebutuhan pasien.
3. Takipnea dan penggunaan pemanas tubuh akan meningkatkan
kebutuhan cairan. Pertahankan tetesan infus secara stabil, gunakan
infusion pumpUntuk mencegah kelebihan atau kekurangan cairan.
R: Kelebihan cairan dapat menjadi keadaan fatal
4. Monitor intake cairan dan output dengan cara: Timbang berat
badan bayi setiap 8 jam. Timbang popok bayi untuk menentukan
urine output. Tentukan jumlah BAB. Monitor jumlah asupan cairan
infus setiap hari
R: Catatan intake dan output cairan penting untuk menentukan
ketidak seimbangan cairan sebagai dasar untuk penggantian
cairane.
5. Lakukan pemeriksaan sodium dan potassium setiap 12 atau 24 jam
R: Peningkatan tingkat sodium dan potassium mengindikasikan
terjadinya dehidrasi dan potensial ketidakseimbangan elektrolit
h. Koping keluarga inefektif berhubungan dengan ansietas, perasaan
bersalah,dan perpisahan dengan bayi sebagai akibat situasi krisis
Tujuan : Meminimalkan kecemasan dan rasa bersalah, dan mendukung
bounding antara orangtua dan infant.
Intervensi Rasional
1. Kaji respon verbal dan non verbal orangtua terhadap kecemasan
dan penggunaan koping mekanisme
R: Hal ini akan membantu mengidentifikasi dan membangun
strategikoping yang efektif
2. Bantu orangtua mengungkapkan perasaannya secara verbal tentang
kondisi sakit anaknya, perawatan yang lama pada unit intensive,
prosedur dan pengobatan infant.
R: Membuat orangtua bebas mengekpresikan perasaannya sehingga
membantu menjalin rasa saling percaya, serta mengurangi tingkat
kecemasan
3. Berikan informasi yang akurat dan konsisten tentang kondisi
perkembangan infant
R: Informasi dapat mengurangi kecemasand.
4. Bila mungkin, anjurkan orangtua untuk mengunjungi dan ikut
terlibatdalam perawatan anaknya
R: Memfasilitasi proses bounding
5. Rujuk pasien pada perawat keluarga atau komunitas
R: Rujukan untuk mempertahankan informasi yang adekuat,
sertamembantu orangtua menghadapi keadaan sakit kronis pada
anaknya.
i. Resiko tinggi gangguan termoregulasi: hipotermi b.d belum
terbentuknya lapisan lemak pada kulit
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
diharapkan suhu tubuh tetap normal.
Kriteria Evaluas
- Suhu 37 °C
- Bayi tidak kedinginan
Intervensi dan Rasional :
1. Tempatkan bayi pada tempat yang hangat
R : Mencegah terjadinya hipotermi
2. Atur suhu incubator
R : Menjaga kestabilan suhu tubuh
3. Pantau suhu tubuh setiap 2 jam
R : Memonitor perkembangan suhu tubuh bayi
DAFTAR PUSTAKA

Bennete M.J. 2013. Pediatric Pneumonia. [Link]


967822-overview. (29 September 2014 pukul 15.50 WIB)
Bradley J.S., Byington C.L., Shah S.S, Alverson B., et al. 2011. The Management
of Community-Acquired Pneumonia in Infants and Children Older
than 3 Months of Age: Clinical Practice Guidelines by the Pediatric
Infectious Diseases Society and the Infectious Diseases Society of
America. Clin Infect Dis 53 (7): 617-630
Dahlan, Zul. 2007. Pneumonia : Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi 2 Jilid 4.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2012. Panduan Pelayanan Medis Ilmu Kesehatan
Anak. Jakarta : Penerbit IDAI
Said M. Pneumonia Dalam: Rahajoe NN. Supriyatno B Setyanto DB. penyunting
Buku ajar respirologi anak: Edisi I cetakan 2. Jakarta Badan Penerbit
IDAL: 2010.
Ilten F. Senocak F. Zorlu P. Tezic T. Cardiovascular change in Children With
Pneumoni. Turk J Pediatr. 2003;45:306-10.
World Health Organization (WHO). Pelayanan kesehatan anak di rumah sakit,
pedoman bagi rumah sakit rujukan tingkat pertama di kabupaten/kota,
Jakarta: WHO, 2009. 2. Pudjladi AH. Hegar B. Hardyastuti S, Idris
NS, Gandaputra EP. Harmoniati ED, penyunting Pedoman pelayanan
medis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta: Badan Pener bit
IDAI: 2011.

Anda mungkin juga menyukai