0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan22 halaman

Model dan Metode Pembelajaran Efektif

Makalah ini membahas tentang model dan metode pembelajaran serta pembelajaran bauran (blended learning). Beberapa poin pembahasan antara lain konsep model pembelajaran, model pembelajaran berdasarkan teori, melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien, pendekatan metode pembelajaran yang tepat, serta pembelajaran bauran.

Diunggah oleh

Nur Aminah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan22 halaman

Model dan Metode Pembelajaran Efektif

Makalah ini membahas tentang model dan metode pembelajaran serta pembelajaran bauran (blended learning). Beberapa poin pembahasan antara lain konsep model pembelajaran, model pembelajaran berdasarkan teori, melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien, pendekatan metode pembelajaran yang tepat, serta pembelajaran bauran.

Diunggah oleh

Nur Aminah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

Model/Bentuk dan Metode Pembelajaran


&
Pembelajaran Bauran (Blended Learning)

Disusun Oleh:
Nuraminah 190604006

Mata Kuliah:
Perencanaan & Peng. Kurikulum (Magang 2)

Dosen Pengampuh:
Witri Ramadani, S. Pd, M. Pd. T

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya
sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah Model/Bentuk dan Metode
Pembelajaran & Pembelajaran Bauran (Blended Learning) ini dalam bentuk maupun isinya
yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam bidang pembelajaran.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Siak, Juli 2021


Penulis

Nuraminah
NIM: 190604006

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar....................................................................................................................i
Daftar Isi...............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................................2
1.3 Tujuan........................................................................................................................2
1.4 Mamfaat.....................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Model Pembelajaran.....................................................................................4
2.2 Model Pembelajaran Berdasarkan Teori....................................................................5
2.3 Melaksanakan Pembelajaran yang Efektif dan Efisien..............................................7
2.4 Pendekatan Metode Pembelajaran yang Tepat....................................................8
2.5 Pembelajaran Blended Learning............................................................................9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................................11
3.2 Saran..........................................................................................................................12
Daftar Pustaka.....................................................................................................................13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan
sebgai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam
tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan
digunakan, termasuk di dalamnya tujuanpengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan
pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.
Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi perancang dan para guru
dalam melaksanakan pembelajaran. Untuk pemilihan model ini sangat dipengaruhi dari
sifat dan materi yang akan diajarakan, juga dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai
dalam pengajaran tersebut serta tingkat kemampuan peseta didik. Di samping itu pula,
setiap model pembelajaran selalu mempunyai tahapan-tahapan (sintaks) oleh peserta didik
dengan bimbingan guru. Antara sintaks yang satu dengan sintaks yang lain juga
mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan ini berlangsungdi antara pembukaan dan
penutup yang harus dipahami oleh guru supaya model-model pembelajaran dapat
dilaksanakan dengan berhasil.
Penggunaan media dalam proses pembelajaran merupakan salah satu upaya
meningkatkan motivasi belajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil
belajar siswa. Sudjana dan Rivai mengatakan bahwa media pengajaran dapat meningkatkan
proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat
meningkatkan hasil belajar.
Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi,
metode atau prosedur. Model pengajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki
oleh strategi, metode atau prosedur. Ciri tersebut yaitu: 1. Rasional teoretik logis yang
disusun oleh para pencipta atau pengembangnya, 2. Landasan pemikiran tentang apa dan
bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai), 3. Tingkah laku
mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil, 4.
Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

1
Banyak pengajar yang dalam melaksanakan belajar mengajarnya tidak bisa
mencapai tujuan/kompetensi yang ditentukan. Penyebabnya adalah pemebelajaran tidak
sesuai dengan karakteristik siswa. Siswa inginnya “begini pengajar melakukan begitu”
tidak ada sinergitas antara pengajar dan siswa. Karakteristik siswa merupakan salah satu
faktor penyebab efektif dan tidaknya pembelajaran.
Dalam pembelajaran kita mengenal istilah pendekatan pemebelajaran, strategi
pemebelajaran dan metode pemebeljaran. Ketiga istilah itulah yang menjadi fokus
pembahasan dalam makalah ini Karena itu merupakan komponen yang sangat mendukung
untuk memahami karakteristik siswa demi tercapainya tujuan pembelajaran. Proses
pemebelajaran akan berjalan efektif jika pendidik paham dan mengetahui pendekatan
pembelajaran yang berlanjut terhadap pemahaman strategi pembelajaran dan memahami
metode pembelajaran. Ketiga komponen ini merupakan satu kesatuan yang akan
mendukung terhadap pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dan
karakteristik siswa.
Penggunaan media dalam proses pembelajaran merupakan salah satu upaya
meningkatkan motivasi belajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil
belajar siswa. Sudjana dan Rivai mengatakan bahwa media pengajaran dapat meningkatkan
proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat
meningkatkan hasil belajar.
Media pembelajaran merupakan suatu alat atau perantara yang berguna untuk
memudahkan proses belajar mengajar, dalam rangka mengefektifkan komunikasi antara
guru dan siswa. Hal ini sangat membantu guru dalam mengajar dan memudahkan siswa
menerima dan memahami pelajaran. Proses ini membutuhkan guru yang mampu
menyelaraskan antara media pembelajaran dan metode pembelajaran.
Guru sebagai pengembangan media pembelajaran harus mengetahui perbedaan
pendekatan – pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran yang
tepat. Strategi pembelajaran harus dipilih untuk memotivasi, membentuk manusia
seutuhnya, melayani perbedaan individu, mengangkat belajar bermakna, mendorong
terjadinya interaksi, dan memfasilitasi belajar kontekstual. Namun realita yang terjadi saat
ini pada proses pembelajaran adalah guru masih belum bisa mengkondisikan
pembelajarannya Sesuai yang diharapkan oleh siswa maupun kurikulum yang ditentukan.

2
Tidak hanya itu, kadangkala guru belum bisa memahami seperti apa pembelajaran siswa
yang menarik dan membuat siswa mau untuk mengikuti pembelajaran yang hendak
disampaikan oleh guru.
Penulisan dalam makalah ini kami gunakan metode deskriptif kaji pustaka dengan
pendekatan sistem pemebelajaran. Pembelajaran akan berjalan efektif tergantung sitem
yang dijalankannya. Kami menduga bahwa pendekatan pembelajaran strategi dan metode
pemebelajaranlah yang membuat pemebelajaran berjalan efektif. Kami berharap
pembahasan ini akan bermanfaat bagi kelompok kami khususnya dan bagi pembaca pada
umumnya.

1.2 Rumusan Masalah


Dari dua uraian materi di atas dapat kami rumuskan permasalahan yang akan menjadi
pembahasan dalam makalah ini diantaranya:
1. Bagaimana Konsep Model Pembelajaran?
2. Bagaimana Model Pembelajaran Berdasarkan Teori?
3. Bagaimana Melaksanakan Pemebelajaran yang Efektif dan Efisien?
4. Bagaimana Pendekatan Metode Pembelajaran yang Tepat?
5. Bagaimana Pembelajaran Bauran (Blended Learning)

3
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai sehubungan dengan pembuatan makalah ini
adalah sebagai berikut:
1. Menyelesaikan tugas mata kuliah Perencanaan & Peng. Kurikulum (Magang 2) yang
diberikan oleh dosen.
2. Untuk menggambarkan bagaimana konsep model pembelajaran.
3. Untuk menggambarkan bagaimana medel pembelajaran berdasarkan teori.
4. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran yang efektif.
5. Untuk mengetahui pendekatan metode pembelajaran yang tepat.
6. Untuk menggambarkan bagaimana proses pembelajaran bauran (blended learning)

1.4 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini semoga para pembaca dapat mengetahui
mengenai konsep model pembelajaran, model pembelajaran berdasarkan teori, pelaksanaan
pembelajaran yang efektif, mengetahui pendekatan metode pembelajaran yang tepat, dan
mengetahui proses pembelajaran bauran (Blended learning).
1.5

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Model Pembelajaran


Model Pembelajaran adalah sebagai suatu dsain yang menggambakan proses rincian
dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi
perubahan atau perkembangan pada diri siswa.
Istilah “model pembelajaran” berbeda dengan strategi pembelajaran, metode
pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model pembelajaran meliputi suatu model
pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep model pembelajaran lahir dan
berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan dalam setting eksperimen yang
dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Bruce
dan koleganya.
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan
sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran
mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya
tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Arends dalam Trianto, 2010:51).

2.2 Model pembelajaran Berdasarkan Teori


1. Model Interaksi Sosial
Model ini didasari oleh teori belajar Gestalt (field theory). Model ini
menitikberatkan hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat (learning
to life together). Pokok Pandangan Gestala adalah objek atau peristiwa tertentu akan
dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan. Makna suatu
objek/peristiwa adalah terletak pada keseluruhan bentuk (gestalt) dan bukan bagian-
bagiannya. Pembelajaran akan lebih bermakna bila materi diberikan secara utuh bukan
bagian-bagian. Adapun model interaksi sosial ini mencakup strategi pembelajaran
sebagai berikut:

5
a. Kerja kelompok, bertujuan mengembangkan keterampilan berperan serta dalam
proses bermasyarakat dengan cara mengembangkan hubungan interpersonal dan
discovery skills dalam bidang akademik.
b. Pertemuan kelas, bertujuan mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri
maupun terhadap kelompok.
c. Pemecahan masalah sosial atau inquiry social bertujuan untuk mengambangkan
kemampuan memecahkan masalah-masalah sosial dengan cara berpikir logis.
d. Model laboratorium, bertujuan untuk mengembangkan kesadaran pribadi dan
keluwesan dalam kelompok.
e. Bermain peran, bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik
menemukan nilai-nilai sosial dan pribadi melalui situasi tiruan.
f. Simulasi sosial, bertujuan untuk membantu siswa mengalami berbagai kenyataan
sosial serta menguji reaksi mereka.
2. Model Pemrosesan Informasi
Model ini berdasarkan Teori Belajar Kognitif (Piaget) dan berorientai pada
kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya.
Pemrosesan informasi merujuk pada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari
lingkungan: mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep dan
menggunakan simbol verbal dan visual. Dipelopori oleh Robert Gagna (1985),
asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
perkembangan yang merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Motivasi, fase awal
memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan
dalam mencapai tujuan tertentu. Adapun model Proses Informasi ini meliputi beberapa
strategi pembelajaran, diantaranya:
a. Mengajar induktif, yaitu untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan
membentuk teori.
b. Latihan inquiry, yaitu untuk mencari dan menemukan informasi yang memang
diperlukan.
c. Inquiry keilmuan, bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian dalam disiplin
ilmu, dan diharapkan akan memperoleh pengalaman dalam domai-domain disiplin
ilmu lainnya.

6
d. Pembentukan konsep, bertujuan untuk mengembangkan intelegensi umum,
terutama berpikir logis, aspek sosial dan moral.
e. Model pengembangan, bertujuan untuk mengembangkan intelegensi umum,
terutama berfikir logis, aspek sosial, dan moral.
f. Advanced Organizer Model, bertuuan untuk mengembangkan kemampuan
memproses informasi yang efisien untuk menyerap dan menghubungkan satuan
ilmu pengetahuan secara bermakna.
3. Model Personal
Model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi terhadap
pengembangan diri individu. Perhatian utamanya pada emosional siswa untuk
mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Model ini
menjadikan pribadi siswa yang mampu membentuk hubungan harmonis serta mampu
memproses informasi secara efektif. Model ini juga berorientasi pada individu dan
perkembangan keakuan. Menurut teori ini, guru harus berupaya menciptakan kondisi
kelas yang kondusif, agar siswa merasa bebas dalam belajar dan mengembangkan
dirinya, baik emosional maupun intelektual. Implikasi teori humanistik dalam
pendidikan adalah sebagai berikut:
a. Bertingkal laku dan belajar adalah hasil pengamatan.
b. TL yang ada, dapat dilaksanakan sekarang (learning to do).
c. Semua individu memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri.
d. Sebagian besar TL individu adalah hasil dari konsepsinya sendiri.
e. Mengajar adalah bukan hal penting, tapi belajar siswa adalah sangat penting (learn
how to learn).
4. Model Modifikasi Tingkah Laku
Model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu bertujuan
mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan
membentuk TL dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement). Model ini lebih
menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perilaku yang tidak dapat
diamati. Karakteristik model ini adalah dalam hal penjabaran tugas-tugas yang harus
dipelajari siswa lebih efisien dan berurutan. Ada empat fase dalam model modifikasi
tingkah laku ini, yaitu fase mesin pengajaran (CAI dan CBI), penggunaan media,

7
pengajaran berprograma (linier dan branching) Operant Conditioning, dan Operant
Reinforcement. Implementasi dari model ini adalah: meningkatkan ketelitian
pengucapan pada anak, guru selalu perhatian terhadap tingkah laku belajar siswa,
modifilasi TL anak yang kemampuan belajarnya rendah dengan reward, dan penerapan
prinsip pembelajaran individu terhadap pembelajaran klasikal.
5. Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Model pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep pembelajaran yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata
peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, maka pembelajaran menjadi lebih aktif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan serta lebih bermakna.
Pada pengembangan setiap komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat
dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
a. Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih
bermakna dengan apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan
mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang harus akan
dimilikinya.
b. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang diajarkan.
c. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyan-
pertanyaan.
d. Menciptakan masyarakat belajar, sepeti melalui kelompok diskusi, tanya jawab dll.
e. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model
bahkan media yang sebenarnya.
f. Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran
yang telah dilakukan.
g. Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya
pada setiap siswa.

2.3 Melaksanakan Pembelajaran yang Efektif dan Efisien

8
Yang namanya pemebelajaran, tentu tidak akan terlepas dari belajar dan mengajar.
Belajar dilakukan oleh peserta didik beserta guru dan mengajar dilakukan oleh guru atau
pengajar. Supaya lebih jelas kami kutif definisi belajar dan mengajar dari beberapa ahli
sebagai berikut:.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan (syah 2010: 87).
Sedangkan menurut skiner belajar adalah a proses of progressive behavior adaptation
yang artinya suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara
progresif. mengajar yaitu: proses membimbing dan membantu peserta didik dalam
menjalani proses perubahanya sendiri, yakni proses belajar untuk meraih kecakapan
cipta,rasa, dan karsa yang menyeluruh dan utuh.(syah 2010: 178).
Sedanngkan efektif adalah pengerjaan sesuatu yang benar (majalah talenta 2010: 6).
Jadi belajar dan mengajar yang efektif adalah proses perubahan dan bimbingan perubahan
secara benar. Yang menjadi permasalahan disini adalah benar yang dimaksudm, apa yang
indikatornya? Asumsi kami benar yang dimaksud disini yaitu sesuai dengan apa yang
direncanakan atau tepatnya sesuai dengan tujuan.
Yang dimaksud efisiensi usaha belajar yaitu prestasi belajar yang didapat dengan cara
yang benar dan usaha yang hemat dan minim. Prestasinya sama namun caranya berbeda
atau dengan bahasa lain sukses sama-sama dengan cara berbeda-beda. Sebagai contoh ada
seorang siswa “a” yang intelegensinya tinggi belajarnya giat dan full day sudah pasti dia
akan berprestasi, namun tidak mustahil untuk saat ini seorang siswa “b” dengan tingkat
intelegen yang rendah belajarnya hanya setengah bahkan seperempat dari anak “a” tetapi
bisa mendapatkan prestasi atau hasil yang sama. Apa penyebabnya? Inililah yang dimaksud
dengan belajar efektif. Hasil dari efektifitas akan menimbulkan efisien. Belajar yang tidak
terlalu lama namun belajar dengan cara dan pendekatan yang benar itulah usaha belajar
efisien. Bagaimana cara dan pendekatan yanng benar itu? Pada sub bab laian akan
dijelaskan didepan.
Selanjutnya, yang dimaksud efisiensi hasil belajar yaitu prestasi belajar didapat
berbeda meskipun dengan cara dan usaha yang sama. Efisiensi hasil belajar ini berbanding
terbalik dengan efisiensi usaha belajar. Dalam hal ini seseorang yang lagi belajar
mendapatkan hasil yang berbeda lebih baik dari pada yang lainnya meskipun cara dan

9
usahanya sama. Sebagai contoh disatu kelas terdapat 30 siswa, cara waktu dan tempat
belajarnya sama namun pasti akan ada yang lebih diantara yang 30 siswa tadi. Ini
dikarenakan guru atau siswa tadi memiliki penedekatan yang benar untuk mendapatkan
hasil dari belajarnya.
Di atas telah dibahas bagaimana belajar yang efektif. Pembahasan itu berguna bagi
pengajar maupun bagi siswa. Bagi pengajar mengetahui cara belajar efektif berguna
sebagai referensi harus bagaimana mereka memandang parasiswanya dan menjalankan
proses belajar mengajarnya. Lalu, bagaimana mengajar yang efektif? Pada susbab ini akan
kami kupas sedikit tentanng mengajar yang efekif menurut John W. Santrock.
Mengajar merupakan hal yang kompleks karena murid-murid itu bervariasi sehingga
tidak akan ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Namun
setidaknya seorang guru harus memahami dan mennguasai beragam perspektif dan strategi
juga mengaplikasikannya secara fleksibel.( santrock 2008 : 7). Hal ini membutuhkan dua
hal utama yaitu : 1) pengetahuan dan keahlian profesional, dan 2) komitmen dan motivasi.
1) Pengetahuan dan keahlian profesional
Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan
mengajar yang baik. Memahami strategi pengajaran yang baik dan didukung oleh
metode penetapan tujuan, rancangan pengajaran dan manajemen kelas. Mereka tahu
bagaimana memotivasi, berkomuikasi, dan berhubungan secara efektif dengan murid-
muridnya dengan berbagai karakter dan beragam latar belakang kultural. Sengaja
pemabahsan mengenai belajar yang efektif didahulukan karena untuk mengajar yang
efektif terlebih dahulu harus mengetahui belajar yang efektif.
2) Komitmen dan Motivasi
Menjadi guru yang efektif juga membutuhkan komitmen dan motivasi. Aspek ini
mencakup sikap yang baikdan perhatian kepada murid.( santrock 2008: 12). Komitmen
dan motivasi akan lahir jika seseorang memiliki landasan dalam bekerjanya. Bagi
seorang muslim, komitmen dan motivasi itu lahir jika mengajar dijadikan sebagai
pengabdian bentuk ibadah kepada allah SWT. Ibadah tentu berlandaskan ketauhidan.
Inti dari katauhidan adalah keikhlasan dan keikhlasanlah yang akan membuat seseorang
komitmen. Tidak ada tujuan lain selain mengharap ridla Allah SWT.

10
Dengan keikhlasan sikap guru tidak akan bergantung kepada apapun, entah itu
gajih ataupun jabatan akademik guru. Dengan keikhlasan juga sikap dan keperibadian
seorang guru akan terbentuk. Guru harus memiliki kompetensi kepribadian mantap,
stabil, dewasa, arif, dan dapat menjadi teladan.( Ruswandi dkk 2010 : 35).

2.4 Pendekatan Metode Pembelajaran yang Tepat


Jelang dimulainya tahun ajaran baru 2021/2022 perlu ada adaptasi dan pendekatan
yang berbada cara mengajar guru dalam metode pembelajaran via daring (online) ketika
masih banyak sekolah atau kampus belum bisa dibuka akibat pandemi Covid-19.
Proses pembelajaran jarak jauh sangat tidak efektif, karena tidak bisa menjangkau
semuanya, penjelasan guru atau dosen tidak bisa panjang lebar dan juga proses komunikasi
dan metodologi belajarnya juga tidak bisa seluas seperti yang sebelumnya. Oleh karena itu,
menghadapi situasi seperti sekarang harus ada perubahan pendekatan dan cara mengajar
untuk guru atau dosen. Hal itu dikarenakan karena banyak guru atau dosen yang tidak siap
dengan belajar jarak jauh.
Pendekatan pemebelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu
proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat
dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan
(2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach).
Akhir-akhir ini pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pendekatan
pembelajaran yang banyak dibicarakan orang. CTL merupakan strategi yang melibatkan
siswa secara penuh dalam proses pembelajaran. Siswa didorong untuk beraktivitas
mempelajari materi pembelajaran sesuai dengan topik yang akan dipelajarinya. Belajar
dengan konteks CTL bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar
adalah proses berpengalaman secara langsung. Melalui proses berpengalaman itu
diharapkan perkembangan siswa terjadi secara utuh, yang berkembang tidak hanya asfek

11
kognitif saja, tetapi aspek afektif dan psikomotor juga. Belajar CTL diharapkan siswa dapat
menemukan sendiri materi yang dipelajarinya.
Sedangkan Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara atau pola yang khas
dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan
sumberdaya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri pembelajaran.
(Gintings, Abdorrakhman. 2008. h: 42)
Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru, sehingga
dalam menjalankan fungsinya, metode merupakan alat untuk mencapai tujuan
pembelajaran. (Siregar, Evelin dan Hartini Nara. 2010. h: 80). Jadi, Metode pembelajaran
adalah suatu cara yang dilakukan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebelum
menentukan metode pembelajaran yang dapat digunakan, ada beberapa pertimbangan yang
harus diperhatikan.
1. Pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai
Pertimbangan ini merupakan pertimbangan pertama yang harus diperhatikan.
Semakin kompleks tujuan yang ingin dicapai maka semakin rumit juga metode
pembelajaran yang harus dibuat, metode dibuat sebagai cara untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
2. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran
Materi atau pengalaman belajar merupakan pertimbangan kedua yang harus
diperhatikan.
3. Pertimbangan dari sudut siswa
Siswa adalah subjek yang akan kita ajar. Keadaan siswa yang berbeda-beda
membuat kita untuk merancang metode yang yang sesuai dengan siswa tersebut.

2.5 Pembelajaran Blended Learning


Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan melalui penggunan media
berbasis teknologi adalah model blended learning. Menurut Driscol (2002) Blended
learning merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan atau menggabungkan berbagai
teknologi berbasis web, untuk mencapai tujuan pendidikan. Thorne (2013) mendefinisikan
blended learningsebagai campuran dariteknologi e-learning danmultimedia, seperti video
streaming, virtual class, animasi teks online yang dikombinasikan dengan bentuk-bentuk

12
tradisional pelatihan di kelas. Sementara Graham (2005) menyebutkan blended
learningsecara lebih sederhana sebagai pembelajaran yang mengkombinasikan antara
pembelajaran online dengan face-to-face (pembelajaran tatap muka).
Dengan pelaksanaan blended learnin gini, pembelajaran berlangsung lebih
bermakna karena keragaman sumber belajar yang mungkin diperoleh. Sedangkan Driscoll
(2002) menyebutkan empat konsep mengenai pembelajaran blended learning yaitu:
a. Blended learning merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan atau
menggabungkan berbagai teknologi berbasis web, untuk mencapai tujuan pendidikan.
b. Blended learning merupakan kombinasi dari berbagai pendekatan pembelajaran (seperti
behaviorisme, konstruktivisme, kognitivis-me) untuk menghasilkan suatu pencapaian
pembelajaran yang optimal dengan atau tanpa teknologi pembelajaran.
c. Blended learning juga merupakan kombinasi banyak format teknologi pembelajaran,
seperti video tape, CD-ROM, web-based training, film) dengan pembelajaran tatap
muka.
d. Blended learning menggabungkan teknologi pembelajaran dengan perintah tugas kerja
aktual untuk menciptakan pengaruh yang baik pada pembelajaran dan tugas.
Pembelajaran online mahasiswa atau peserta didik dituntut untuk memahami materi
dalam waktu yang sangat singkat, karna jika mahasiswa atau peserta didik tidak paham
materi, meskipun managemen waktunya bagus, tetapi nanti tugasnya tidak sesuai dengan
harapan dosen. Maka dari itu mahasiswa atau peserta didik harus pandai – pandai
memanagemen waktu berapa lama mahasiswa atau peserta didik harus memahami materi
yang diberikan oleh dosen.
Mahasiswa atau peserta didik juga harus pandai – pandai dalam membagi waktu
untuk menyelesaikan tugas – tugas yang telah diberikan oleh dosen untuk tugas yang satu
dengan tugas yang lainnya, sehingga semua tugas yang diberikan oleh dosen bisa
terselesaikan sebelum meper dengan deadline tugas tersebut. Berikut adalah beberapa cara
metode penggunaan blended learning dalam pembelajaran:
1. Tetapkan manajemen waktu
Atur waktu belajar dengan teratur. Kerjakan dengan fokus tugas yang dibebankan
guru atau dosen. Hal ini lebih mudah dijalani jika pihak sekolah atau universitas
memberikan batasan jadwal akses daring kepada murid-muridnya. Hal ini akan berbeda

13
jika penyedia layanan pendidikan memberikan fleksibilitas penuh kepada pelajar. Para
siswa mesti mengatur sendiri jadwal belajar mereka.
2. Persiapkan teknologi yang dibutuhkan
Para murid harus mengetahui peralatan-peralatan apa saja yang dibutuhkan untuk
melakukan pembelajaran jarak jauh. Tidak semua sekolah sudah menyediakan layanan
belajar daring yang memadai, oleh karenanya beberapa platform belajar daring dapat
menjadi alternatif. Demikian juga perkakas teknologi seperti komputer, gawai pintar,
atau tablet menjadi penting, dan terutama juga jaringan internet yang laik.
3. Belajarlah dengan serius
Kesalahan yang sering dilakukan siswa, sebagaimana dilansir dari Psychology
Today adalah tidak fokus ketika melakukan remote learning. Selama melakukan
pembelajaran di internet, terdapat banyak sekali distraksi yang mengganggu proses
pembelajaran. Godaan untuk menonton video, mengakses media sosial, hingga
membaca-baca konten berita secara impulsif seringkali dilakukan tanpa rencana
sebelumnya.
4. Jaga komunikasi dengan pengajar dan teman kelas
Bagi yang belum terbiasa melakukan remote learning, ia harus menyesuaikan diri
untuk terus visible dan berkomunikasi tanggap dengan pengajar atau teman kelas lain.
Jika dibutuhkan, perlu juga diadakan grup khusus untuk membahas tugas yang
dibebankan pengajar. Kendati tidak harus dilakukan dengan tatap muka, komunikasi
mesti terjalin dengan baik untuk menghindari kesalah pahaman.
Mahasiswa atau peserta didik harus sadar bahwa pembelajaran tatap muka dan
online itu berbeda. Maka dari segi penugasan dan pendekatan pula harus berbeda. Guru
atau dosen perlu kreatif dalam memberi penugasan kepada siswa selama belajar daring. Dia
memberi contoh bagaimana jika dalam penugasan mahasiswa atau peserta didik diberikan
persoalan yang jawabannya dapat dicari dengan mudah di internet atau hanya menyalin
maka tidak akan terjadi proses pembelajaran. Selain mahasiswa atau peserta didik harus
beradaptasi dan berubah, ini juga perlu dilakukan antara guru sehingga tidak setiap guru
memberi tugas agar tidak terjadi penumpukan.

14
15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional yakni melaksanakan
pemebelajaran sesusai dengan kompetensi dan karakteristik siswa seorang guru dituntut
dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan
pendektan, strategi dan metode ssehingga menghasilkan berbagai model pembelajaran yang
efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan.
Dan dalam pembelajaran daring ini mahasiswa atau peserta didik perlu
memanajemen waktu dan meminimalisir gangguan. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam memanajemen waktu dan meminimalisir gangguan tersebut, di
antaranya seperti waktu pengumpulan tugas, pemilihan tugas yang bisa dikerjakan terlebih
dahulu, dan waktu memahami materi yang diberikan oleh dosen.
Pembelajaran online mahasiswa atau peserta didik dituntut untuk memahami materi
dalam waktu yang sangat singkat, karna jika mahasiswa atau peserta didik tidak paham
materi, meskipun managemen waktunya bagus, tetapi nanti tugasnya tidak sesuai dengan
harapan dosen. Maka dari itu mahasiswa atau peserta didik harus pandai – pandai
memanagemen waktu berapa lama mahasiswa atau peserta didik harus memahami materi
yang diberikan oleh dosen.
Mahasiswa atau peserta didik juga harus pandai – pandai dalam membagi waktu
untuk menyelesaikan tugas – tugas yang telah diberikan oleh dosen untuk tugas yang satu
dengan tugas yang lainnya, sehingga semua tugas yang diberikan oleh dosen bisa
terselesaikan sebelum meper dengan deadline tugas tersebut. Berikut adalah beberapa cara
metode penggunaan blended learning dalam pembelajaran:
1. Tetapkan manajemen waktu
Atur waktu belajar dengan teratur. Kerjakan dengan fokus tugas yang dibebankan
guru atau dosen. Hal ini lebih mudah dijalani jika pihak sekolah atau universitas
memberikan batasan jadwal akses daring kepada murid-muridnya. Hal ini akan berbeda

16
jika penyedia layanan pendidikan memberikan fleksibilitas penuh kepada pelajar. Para
siswa mesti mengatur sendiri jadwal belajar mereka.
2. Persiapkan teknologi yang dibutuhkan
Para murid harus mengetahui peralatan-peralatan apa saja yang dibutuhkan untuk
melakukan pembelajaran jarak jauh. Tidak semua sekolah sudah menyediakan layanan
belajar daring yang memadai, oleh karenanya beberapa platform belajar daring dapat
menjadi alternatif. Demikian juga perkakas teknologi seperti komputer, gawai pintar,
atau tablet menjadi penting, dan terutama juga jaringan internet yang laik.
3. Belajarlah dengan serius
Kesalahan yang sering dilakukan siswa, sebagaimana dilansir dari Psychology
Today adalah tidak fokus ketika melakukan remote learning. Selama melakukan
pembelajaran di internet, terdapat banyak sekali distraksi yang mengganggu proses
pembelajaran. Godaan untuk menonton video, mengakses media sosial, hingga
membaca-baca konten berita secara impulsif seringkali dilakukan tanpa rencana
sebelumnya.
4. Jaga komunikasi dengan pengajar dan teman kelas
Bagi yang belum terbiasa melakukan remote learning, ia harus menyesuaikan diri
untuk terus visible dan berkomunikasi tanggap dengan pengajar atau teman kelas lain.
Jika dibutuhkan, perlu juga diadakan grup khusus untuk membahas tugas yang
dibebankan pengajar. Kendati tidak harus dilakukan dengan tatap muka, komunikasi
mesti terjalin dengan baik untuk menghindari kesalah pahaman.
Mahasiswa atau peserta didik harus sadar bahwa pembelajaran tatap muka dan
online itu berbeda. Maka dari segi penugasan dan pendekatan pula harus berbeda. Guru
atau dosen perlu kreatif dalam memberi penugasan kepada siswa selama belajar daring. Dia
memberi contoh bagaimana jika dalam penugasan mahasiswa atau peserta didik diberikan
persoalan yang jawabannya dapat dicari dengan mudah di internet atau hanya menyalin
maka tidak akan terjadi proses pembelajaran. Selain mahasiswa atau peserta didik harus
beradaptasi dan berubah, ini juga perlu dilakukan antara guru sehingga tidak setiap guru
memberi tugas agar tidak terjadi penumpukan.

17
3.2 Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan baru tentang
Strategi Pembelajaran Online Dimasa Pandemi Covid-19, khususnya tentang bagaimana
cara mengembangkan suatu strategi pembelajaran. Diharapkan calon pendidik dapat lebih
mengerti tentang strategi pembelajaran apa yang cocok dan efektif untuk diterapkan.
Diharapkan calon pendidik dapat menjadikan sebagai suatu acuan dalam menerapkan suatu
strategi pembelajaran.

18
DAFTAR ISI

19

Anda mungkin juga menyukai