Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak 4 Tahun
Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak 4 Tahun
Disusun oleh :
1. Nindy Agitasari (P27224021225)
2. Novita Rahayu (P27224021226)
3. Nurjihan Prihantini W. (P27224021227)
4. Putri Alawiah (P27224021228)
5. Rahma Hamida (P27224021225)
Disusun oleh :
Disetujui :
Pembimbing Lapangan
Tanggal :
Di : (Patun, [Link]. Keb)
NIP. 19670605 198911 2001
Pembimbing Institusi
Tanggal :
Di : (KH Endah Widhi Astuti., [Link])
NIP. 19720406 199803 2 002)
KATA PENGATAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan
rahmat, taufik dan hidayah-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan Laporan
Kasus Asu\an Kebidanan pada Anak Pra Sekolah dengan Deteksi Dini Tumbuh
Kembang Pada An A usia 4 tahun di Puskesmas Matesih Karanganyar.
Penyusunan laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas di stase anak pra sekolah
fisiologis.
Tidak lupa pula pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati,
penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dan arahan dalam penyusunan laporan ini.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa anak-anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang
dimulai dari bayi hingga remaja. Menurut WHO definisi anak adalah dihitung
sejak seseorang didalam kandungan dengan usia 19 tahun. Menurut Undang-
undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pada Bab I Ketentuan
Umum, pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang
belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam
kandungan. Anak merupakan asset bangsa yang akan meneruskan perjuangan
suatu bangsa, sehingga harus diperhatikan pertumbuhan dan perkebangan.
(Depkes RI, 2014).
Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan
perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Pada anak terdapat
rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan
lambat. Perkembangan anak memiliki ciri-ciri yang spesifik yaitu ciri fisik,
kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial (Hidayat, 2009). Periode
penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita, karena pada masa
ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan
perkembangan anak selanjutanya. Proses pertumbuhan dan perkembangan
terbagi dalam beberapa tahapan berdasarkan usia. Salah satu fasenya adalahan
masa prasekolah yaitu anak berusia 3-5 tahun (Wong, et al, 2009). Anak
prasekolah adalah anak yang berusia antara usia 3-6 tahun, serta biasanya
sudah mulai mengikuti program preschool.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hal yang terjadi secara
berkesinambungan selama kehidupan manusia (Wong, Hockenberry, Wilson,
Winkelstein & Schwartz, 2009). Pada masa pra sekolah sedang menjalani
proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, sehingga
membutuhkan stimulasi yang intensif dari orang di sekelilingnya agar
mempunyai kepribadian yang berkualitas dalam masa mendatang .
Perkembangan motoric halus anak prasekolah sudah dapat meniru membuat
garis tegak, miring, lengkung, dan lingkaran. Serta belajar menggunting
dengan berbagai dengan pola (lingkaran, segitiga, gelombang, segi empat, zig-
zag). Sedangkan perkembangan motoric halus anak prasekolah sudah dapaat
memasukan benda kecil kedalam botol (krikil, potongan lidi, biji-bijian).
(Yusuf, 2011)
Menurut profil kesehatan Indonesia tahun 2008, di Indonesia terdapat
19.971.366 dimana sebanyak 27% balita terdapat gangguan perkembangan,
sekitar 4-5% balita mengalami gangguan bicara dan bahasa. Berdasarkan
commited in Improving the Health of Indonesian Children yang dirilis
Pediatric of society oleh ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) diperkirakan
sekitar 5-10% anak usia dibawah 5 tahun diperkirakan mengalami
keterlambantan umum. Keterlembatan perkembangan pada anak dikarenakan
kurangnya orangtua mengenal tanda bahasa (redflag) perkembangan anak,
kurangnya pemeriksaan deteksi dini atau skrining perkembangan pada anak
dan kurangnya keterlibatan langsung orangtua dengan anak atau stimulasi dari
selalin orangtua (IDAI, 2013). Menurut Irmawati (2007), berdasarkan data
dari DKK Semarang tahun 2006 terdapat 388 kasus penyimpang
perkembangan yang dirujuk ke Klinik Tumbuh Kembang RSUP Dr. Kariadi
dengan penemuan terlambat karena deteksi yang tidak teratur. Sebagian besar
kasus yang ditemukan adalah gangguan bicara dan bahasa 56,61 %, autism
13,15%, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas 12,10% serta
keterlambatan duduk atau berdiri 10,09%.
Program deteksi dini dan stimulasi perkembangan merupakan salah satu
program pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk menemukan
penyimpangan perkembangan pada balita maupun anak usia prasekolah secara
dini, menyeluruh dan terkoordinasi diselenggarakan dalam bentuk kemitraan
antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan anggota keluarga laiinya)
masyarakat (kader organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat) dengan
tenaga professional (Depkes, 2007). Pemantauan perkembangan anak meliputi
pemantauan dari aspek fisik, psikologi, dan sosial. Pemantauan tersebut harus
dilakukan secara teratur dan berkesinambungan. Untuk memantau tumbuh
kembang anak, bisa dilakukan dengan menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan yang ada sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan anak. Upaya
kesehatan anak adalah sebagai bagian dari upaya membangun manusia
seutuhnya, dimana untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang
berkualitas di masa yang akan datang. Oleh karena itu, anak perlu disiapkan
agar dapat tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan
kemampuannya (Narendra, 2008).
Tumbuh kembang dikatakan terlambat jika seorang anak tidak mencapai
tahap pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan pada umur yang
semestinya, dengan ketertinggalan dalam populasi yang normal (Varney,
2011). Untuk mengantisipasi adanya keterlambatan tumbuh kembang, maka
perlu dilakukan deteksi dini tumbuh kembang anak agar jika terjadi
keterlambatan maka diagnosa dan pemulihannya dapat dilakukan lebih awal
sehingga tumbuh kembang anak dapat berlangsung seoptimal mungkin.
Deteksi dini tumbuh kembang dapat dilakukan menggunakan buku panduan
SDIDTK maupun lembar DDST II yang memuat indikator-indikator untuk
skrining tumbuh kembang anak sesuai dengan kelompok umurnya. Oleh
karena itu, pada laporan ini akan dibahas mengenai Asu\an Kebidanan pada
Anak Pra Sekolah dengan Deteksi Dini Tumbuh Kembang di Puskesmas
Matesih
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang dapat
diambil adalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan Anak Pra Sekolah dengan
Deteksi Dini Tumbuh Kembang pada An A usia 4 tahun di Puskesmas
Matesih?”
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk menerapkan asuhan kebidanan anak pra sekolah dengan deteksi dini
tumbuh kembang dengan pendekatan holistik berdasarkan evidence based
midwifery menggunakan manajemen SOAP di Puskesmas Matesih
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pengumpulan data subjektif di
Puskesmas Matesih
b. Mahasiswa dapat melakukan pengumpulan data objektif di
Puskesmas Matesih
c. Mahasiswa dapat melakukan analisa data di Puskesmas Matesih
d. Mahasiswa dapat melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan
sesuai dengan analisis data yang diperoleh berdasarkan evidence
based midwifery di Puskesmas Matesih
D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan dapat berguna untuk menambah referensi wawasan
pengetahuan, dan sekaligus mengembangkan pengetahuan tentang asuhan
kebidanan pada anak dengan deteksi tumbuh kembang berdasarkan
evidence based midwifery.
2. Manfaat Praktis
Diharapkan orang tua atau keluarga dapat mendeteksi dini adanya
gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak agar selanjutnya mendapat
penanganan dengan segera.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. ANAK PRA SEKOLAH
1. Pengertian
Menurut WHO definisi anak adalah dihitung sejak seseorang didalam
kandungan dengan usia 19 tahun. Menurut Undang-undang No. 23 tahun
2002 tentang Perlindungan Anak, pada Bab I Ketentuan Umum, pasal 1
ayat 1, yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia
18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Anak merupakan asset bangsa yang akan meneruskan perjuangan suatu
bangsa, sehingga harus diperhatikan pertumbuhan dan perkebangan.
(Depkes RI, 2014).
Anak prasekolah adalah anak yang berumur antara 3-6 tahun, pada
masa ini anak-anak senang berimajinasi dan percaya bahwa mereka
memiliki kekuatan. Pada usia prasekolah, anak membangun kontrol sistem
tubuh seperti kemampuan ke toilet, berpakaian, dan makan sendiri (Potts &
Mandeleco, 2012). Menurut Montessori (dalam Noorlaila 2010), bawa usia
3-6 tahun anak-anak dapat diajari menulis, membaca, dan belajar mengetik.
Usia prasekolah merupakan kehidupan tahun-tahun awal yang kreatif dan
produktif bagi anak-anak.
Anak diartikan sebagai seseorang yang berusia kurang dari delapan
belas tahun dalam masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik
kebutuhan fisik, psikologi, sosial dan spiritual. Anak merupakan individu
yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai
dari bayi hingga remaja. Perkembangan anak memiliki ciri-ciri yang
spesifik yaitu ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku
sosial (Hidayat, 2009).
Wong (2000) dalam Hidayat (2011), mengemukakan bahwa
pertumbuhan merupakan bertambahnya jumlah dan ukuran sel di seluruh
bagian tubuh yang dapat diukur melalui alat ukur, sedangkan
perkembangan merupakan bertambah sempurnanya fungsi-fungsi alat
tubuh yang dapat dicapai melalui belajar dan bertumbuhnya kematangan.
Menurut Wong (2009) usia anak pra sekolah adalah 3- 5 tahun. Menurut
Hidayat (2011) Pertumbuhan masa pra sekolah pada aspek fisik yaitu berat
badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya kurang lebih 2-3 kg,
kelihatan kurus akan tetapi aktivitas motorik tinggi, di mana system tubuh
sudah mencapai kematangan seperti berjalan, melompat dan lain-lain. Dari
segi tinggi badan anak khususnya pada usia mendekati 5 tahun, terjadi
penambahan usia rata-rata dua kali lipat dari tinggi badan waktu lahir dan
kurang lebih 6-8cm bertambah setiap tahunnya.
2. Prinsip Perumbuhan dan Perkembangan Anak
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta
jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh
sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan
berat. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang
lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan
bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara
simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan,-
perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat
dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem
neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi
tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh. (Kemenkes,
2016).
Hidayat (2011) mengemukaan secara umum pertumbuhan dan
perekmbangan anak mempunyai prinsip dalam prosesnya. Prinsip tersebut
dapat menentukan ciri ataupun pola dari pertumbuhan dan perkembangan
pada anak. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
a. Proses pertumbuhan dan perkembangan sangat bergantung pada aspek
kematangan susunan saraf pada manusia, dimana semakin sempurna
atau kompleks kematangan saraf maka semakin sempurna pula proses
pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi mulai dari proses
konsepsi sampai dewasa.
b. Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap individu adalah sama,
yaitu mencapai proses kematangan, meskipun dalam proses pencapaian
tersebut tidak memiliki kecepatan yang sama antara individu yang satu
dengan yang lainnya.
c. Proses pertumbuhan dan perkembangan memiliki pola khas yang dapat
terjadi mulai dari kepala hingga ke seluruh bagian tubuh atau juga
mulai dari kemampuan yang sederhana hingga mencapai kemampuan
yang lebih kompleks sampai mencapai kesempurnaan dari tahap
pertumbuhan dan perkembangan (Narendra, 2002 dalam Hidayat,
2011).
3. Pola pertumbuhan dan perkembangan
Hidayat (2011) mengemukakan bahwa pola perkembangan dapat
digunakan sebagai indikator untuk mendeteksi perkembangan anak pada
tahap selanjutnya, misalnya anak yang sudah berumur empat tahun
mengalami kesulitan bicara atau mengemukakan sesuatu yang
diinginkannya ataupun dalam perbendaharaan kata mengalami
keterbatasan, maka dapat diramalkan anak tersebut akan mengalami
keterlambatan perkembangan pada seluruh aspek perkembangan. Pada pola
ini tahapan perkembangan terbagi menjadi lima bagian yang tentunya
memiliki prinsip ataupun ciri khusus dalam setiap perkembangannya,
sebagai berikut :
a. Masa pralahir, terjadi pertumbuhan yang sangat cepat pada alat dan
jaringan tubuh.
b. Masa neonatus, proses penyesuaian dengan kehidupan di luar rahim dan
hampir sedikit perubahan aspek pertumbuhan fisik.
c. Masa bayi, terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang
mempengaruhinya serta memiliki kemampuan untuk melindungi dan
menghindar dari hal yang mengancam dirinya.
d. Masa anak, terjadi perkembangan yang cepat dalam aspek sifat, sikap,
minat, dan cara penyesuaian dengan lingkungan, dalam hal ini keluarga
dan teman sebaya.
e. Masa remaja, terjadi perubahan kearah dewasa sehingga kematangan
ditandai dengan tanda-tanda pubertas.
4. Ciri pertumbuhan dan perkembangan anak
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak memiliki
berbagai ciri khas yang membedakan komponen satu dengan yang lain.
Pertumbuhan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Dalam pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalam hal
bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi badan, lingkar
kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain-lain.
b. Dalam pertumbuhan dapat terjadi perubahan proporsi yang dapat
terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari
masa konsepsi hingga dewasa.
c. Pada pertumbuhan dan perkembangan terjadi hilangnya ciri-ciri lama
yang ada selama masa pertumbuhan, seperti hilangnya kelenjar timus,
lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks-refleks tertentu.
d. Dalam pertumbuhan terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti
proses kematangan, seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis,
atau dada.
Perkembangan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Perkembangan selalu melibatkan proses pertumbuhan yang diikuti dari
perubahan fungsi, seperti perkembangan sistem reproduksi akan diikuti
perubahan pada fungsi alat kelamin.
b. Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan hukum tetap, yaitu
perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju kearah kaudal
atau dari proksimal ke bagian distal.
c. Perkembangan memiliki tahapan yang berurutan mulai dari
kemampuan melakukan hal yang sederhana menuju kemampuan
melakukan hal yang sempurna.
d. Perkembangan setiap individu memiliki kecepatan pencapaian
perkembangan yang berbeda.
e. Perkembangan dapat menentukan pertumbuhan tahap selanjutnya,
dimana tahapan perkembangan harus dilewati tahap demi tahap
(Narendra, 2002 dalam Hidayat 2011).
5. Faktor- faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
Menurut Kemenkes (2016). Pada umumnya anak memiliki pola
pertumbuhan dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi
banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
anak. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
1) Ras/etnik atau bangsa.
Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak
memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.
2) Keluarga.
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi,
pendek, gemuk atau kurus.
3) Umur.
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal,
tahun pertama kehidupan dan masa remaja.
4) Jenis kelamin.
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat
daripada laki laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas,
pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.
5) Genetik.
Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi
anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan
genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti
kerdil.
b. Faktor luar (ekstemal).
1) Faktor Prenatal
a) Gizi
Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan
akan mempengaruhi pertumbuhan janin.
b) Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan
kongenital seperti club foot.
c) Toksin/zat kimia
Beberapa obat-obatan seperti Amlnopterin, Thalldomid dapat
menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis.
d) Endokrin
Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali,
hiperplasia adrenal.
e) Radiasi
Paparan radium dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan
kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi
mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongential mata,
kelainan jantung.
f) Infeksi
lnfeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH
(Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks) dapat
menyebabkan kelainan pada janin: katarak, bisu tuli, mikros efali,
retardasi mental dan kelainanjantung kongenital.
g) Kelainan imunologi
Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah
antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap
sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam
peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang
selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan Kem icterus
yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.
h) Anoksia embrio
Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta
menyebabkan pertumbuhan terganggu.
i) Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan
mental pada ibu hamil dan lain-lain.
c. Faktor Persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat
menyebabkan kerusakan jaringan otak.
d. Faktor Pasca Persalinan
1) Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
a) Penyakit kronis/ kelainan kongenital, Tuberkulosis, anemia,
kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan
jasmani.
b) Lingkungan fisis dan kimia.
Lingkungan sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut
hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak
(provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya
sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb,
Mercuri, rokok, dll) mempunyai dampak yang negatif terhadap
pertumbuhan anak.
c) Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang
tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu
merasa tertekan, akan mengalami hambatan di dalam
pertumbuhan dan perkembangannya.
d) Endokrin
Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid akan
menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.
e) Sosio-ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan,
kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan
menghambat pertumbuhan anak.
f) Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat
mempengaruhi tumbuh kembang anak.
g) Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi dalam
keluarga, misalnya penyediaan alat main, sosialisasi anak,
keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan
anak.
h) Obat-obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat
pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat
perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan
terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.
6. Aspek-aspek perkembangan yang dipantau.
a. Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubu yang melibatkan
otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
b. Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan
dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan
bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi
memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu,
menjimpit, menulis, dan sebagainya.
c. Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan
dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara,
berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya.
d. Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan
selesai bermain}, berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi
dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya.
7. Periode Tumbuh Kembang Anak.
Menurut Kemenkes (2016). Tumbuh-Kembang anak berlangsung
secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan yang dimulai sejak
konsepsi sampai [Link] kembang anak terbagi dalam beberapa
periode. Berdasarkan beberapa kepustakaan, maka periode tumbuh
kembang anak adalah sebagai berikut:
a. Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan).
b. Masa bayi (infancy) umur 0 - 11 bulan.
Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi
perubahan sirkulasi darah, serta mulainya berfungsi organ-organ.
c. Masa neonatal dibagi menjadi 2 periode:
1) Masa neonatal dini,umur 0 - 7 hari.
2) Masa neonatal lanjut, umur 8 - 28 hari.
Hal yang paling penting agar bayi lahir tumbuh dan berkembang
menjadi anak sehat adalah:
a) Bayi lahir ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, di sarana
kesehatan yang memadai.
b) Untuk mengantisipasi risiko buruk pada bayi saat dilahirkan,
jangan terlambat pergi kesarana kesehatan bila dirasakan sudah
saatnya untuk melahirkan.
c) Saat melahirkan sebaiknya didampingi oleh keluarga yang dapat
menenangkan perasaan ibu.
d) Sambutlah kelahiran anak dengan perasaan penuh suka cita dan
penuh rasa syukur. Lingkungan yang seperti ini sangat membantu
jiwa ibu dan bayi yang dilahirkannya.
e) Berikan ASI sesegera mungkin. Perhatikan refleks menghisap
diperhatikan oleh karena berhubungan dengan masalah pemberian
ASI.
d. Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan.
Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat dan proses
pematangan berlangsung secara terus menerus terutama meningkatnya
fungsi sistem saraf.
Seorang bayi sangat bergantung pada orang tua dan keluarga
sebagai unit pertama yang dikenalnya. Beruntunglah bayi yang
mempunyai orang tua yang hidup rukun, bahagia dan memberikan
yang terbaik untuk anak. Pada masa ini, kebutuhan akan pemeliharaan
kesehatan bayi, mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan penuh,
diperkenalkan kepada makanan pendamping ASI sesuai umurnya,
diberikan imunisasi sesuai jadwal, mendapat pola asuh yang sesuai.
Masa bayi adalah masa dimana kontak erat antara ibu dan anak
terjalin, sehingga dalam masa ini, pengaruh ibu dalam mendidik anak
sangat besar.
e. Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur 12-59 bulan).
Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat
kemajuan dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus)
serta fungsi ekskresi.
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa
balita. Pertumbuhan dasar yang berlangsung pada masa balita akan
mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Setelah
lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan
perkembangan sel-sel otak masih berlangsung; dan terjadi pertumbuhan
serabut serabut syaraf dan cabang-cabangnya, sehingga terbentuk
jaringan syaraf dan otak yang kompleks. Jumlah dan pengaturan
hubungan- hubungan antar sel syaraf ini akan sangat mempengaruhi
segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal
huruf, hingga bersosialisasi.
Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah, untuk itu panca
indra dan sistim reseptor penerima rangsangan serta proses memori
harus sudah siap sehingga anak mampu belajar dengan baik. Perlu
diperhatikan bahwa proses belajar pada masa ini adalah dengan cara
bermain.
3 bulan
6 bulan
9 bulan
12 bulan
15 bulan
18 bulan
21 bulan
24 bulan
30 bulan
36 bulan
42 bulan
48 bulan
54 bulan
60 bulan
66 bulan
72 bulan
Interpretasi:
4) Intervensi
a. Anak dengan kemungkinan GPPH perlu dirujuk ke Rumah
Sakit yang member pelayanan rujukan tumbuh kembang atau
memiliki fasilitas kesehatan jiwa untuk konsultasi dan lebih
lanjut.
b. Bila nilai total kurang dari 13 tetapi anda ragu-ragu, jadwalkan
pemeriksaan ulang 1 bulan kemudian. Ajukan pertanyaan
kepada orang-orang terdekat dengan anak (orang tua, pengasuh,
nenek, guru, dsb).
h. STANDAR IV (Implementasi)
Bidan melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif,
efektif, dan aman berdasarkan evidence based dalam bentuk upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Asuhan
dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.
i. STANDAR V (Evaluasi)
Bidan melakukan evaluasi secara sistimatis dan
berkesinambungan untuk melihat keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan sesuai dengan perubahan perkembangan kondisi klien.
j. STANDAR VI (Pencatatan asuhan kebidanan)
Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat,
singkat dan jelas mengenai keadaan atau kelainan yang ditemukan dan
dilakukan pada saat dalam memberikan asuhan kebidanan.
Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan
asuhan pada formulir yang tersedia (rekam medis, KMS, status pasien,
buku KIA) dan ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP.
1) S adalah data subjektif, mencatat hasil anamnesa
2) O adalah data obektif, mencatat hasil pemeriksaan
3) A adalah hasil analisa, mencatat dignosa dan masalah kebidanan
4) P adalah penatalaksanaan, yaitu bidan mampu mencatat seluruh
perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti
tindakan antisipasi, tindakan segera, tindakan secara komprehensif,
penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi atau follow up
dan rujukan.
• Konsep Dasar Teori Evidence Based Midwifery (EBM) pada Asuhan
Kebidanan Persalinan
a. Pengertian Evidence Based Midwifery
Evidence Based Midwifery (EBM) didirikan oleh RCM dalam
rangka untuk membantu mengembangkan kuat profesional dan ilmiah
dasar untuk pertumbuhan tubuh bidan berorientasi akademis. RCM
Bidan Jurnal telah dipublikasikan dalam satu bentuk sejak 1887 dan
telah lama berisi bukti yang telah menyumbang untuk kebidanan
pengetahuan dan praktek. Pada awal abad ini, peningkatan jumlah bidan
terlibat dalam penelitian, dan dalam membuka kedua atas dan
mengeksploitasi baru kesempatan untuk kemajuan akademik. Sebuah
kebutuhan yang berkembang diakui untuk platform yang paling ketat
dilakukan dan melaporkan penelitian. Ada juga keinginan untuk ini
ditulis oleh dan untuk bidan. EBM secara resmi diluncurkan sebagai
sebuah jurnal mandiri untuk penelitian murni bukti pada konferensi
tahunan di RCM Harrogate, Inggris pada tahun 2003.
b. Prinsip-Prinsip Dasar
• Semua keputusan praktis harus dibuat berdasarkan studi
penelitian, dipilih dan ditafsirkan menurut beberapa
karakteristik norma tertentu (penelitian kuantitatif).
• Diperlukan keahlian klinis dari tenaga kesehatan.
• Dalam bingkai sistem pelayanan kesehatan yang berlaku.
• Dilaksanakan berdasarkan pilihan klien atau pasien.
c. Langkah-Langkah dalam Penerapan Evidence Based Midwifery
1) Penerapan evidence based medicine-practice dimulai dari pasien,
masalah klinis atau pertanyaan yang timbul terkait perawatan yang
diberikan pada klien
2) Merumuskan pertanyaan klinis (rumusan masalah) yang mungkin,
termasuk pertanyaan kritis dari kasus atau masalah ke dalam
kategori, misal: desain studi dan tingkatan evidence.
3) Melacak atau mencari sumber bukti terbaik yang tersedia secara
sistematis untuk menjawab pertanyaan.
4) Penilaian kritis (critical appraisal) akan bukti ilmiah yang telah
didapat untuk validitas internal atau kebenaran bukti, (meliputi:
kesalahan sistematis sebagai akibat dari bias seleksi, bias informasi
dan faktor perancu; aspek kuantitatif dari diagnosis dan pengobatan;
ukuran efek dan aspek presisi; hasil klinis; validitas eksternal atau
generalisasi), dan kegunaan dalam praktrk klinis.
5) Penerapan hasil dalam praktek pada klien, dengan membuat
keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan hasil studi
tersebut, dan atau mengintegrasikan bukti tersebut dengan
pengalaman klinis dan faktor pasien atau klien dalam menentukan
keputusan tersebut.
6) Evaluasi kinerja, yaitu melakukan evaluasi atas tindakan yang telah
dilakukan pada klien.
Untuk menggunakan hasil penelitian atau bukti sebagai referensi
dalam memberikan perawatan pada klien, diperlukan suatu tinjauan
sistematis atau review sistematis (evidence review atau systematic
review) dari hasil penelitian-penelitian serupa. Tinjauan sistematis ini
dapat kita lakukan sendiri atau menggunakan tinjauan sistematis yang
sudah disusun dan dipublikasikan oleh seorang penulis (peneliti,
akademisi, praktisi) yang ahli dibidangnya untuk memberikan rencana
terperinci dan berulang tentang pencarian literatur dan evaluasi dari
bukti-bukti tersebut.
Penilaian untuk menilai kualitas bukti berdasarkan US Preventive
Services Task Force (USPSTF), dikategorikan menjadi:
a. Tingkat I: bukti yang diperoleh berasal dari hasil penelitian yang
dirancang dengan metode randomized controlled trial.
b. Tingkat II-1: bukti yang diperoleh berasal dari hasil penelitian yang
dirancang dengan metode controlled trials without randomization.
c. Tingkat II-2: bukti yang diperoleh berasal dari hasil penelitian yang
dirancang dengan metode studi kohort atau kasus control rancangan
studi analitik, yang dilakukan pada lebih dari satu kelompok
penelitian.
d. Tingkat II-3: bukti diperoleh dari beberapa rancangan penelitian
time series design dengan atau tanpa intervensi. Hasil yang dramatis
dalam uji terkontrol dapat juga dianggap sebagai jenis bukti.
e. Tingkat III: pendapat otoritas atau ahli yang dihormati, berdasarkan
pengalaman klinis, penelitian deskriptif, atau laporan komite ahli.
Penerapan evidence based medicine-practice dalam
pelayanan kebidanan (evidence based midwifery) khususnya dalam
asuhan persalinan, diantaranya sebagai pertimbangan dalam
melaksanakan pemeriksaan ibu bersalin, menjalankan program
antenatal care (standar asuhan persalinan, standar kunjungan),
mengatasi keluhan/ atau ketidaknyamanan yang dialami selama
persalinan, pemenuhan kebutuhan dasar ibu persalinan, dan
penatalaksanaan penyulit atau komplikasi persalinan.
BAB III
TINJAUAN KASUS
PENGKAJIAN DATA
I. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas
Nama bayi : An.A
Umur : 4 tahun
Tanggal / jam lahir : 26 Oktober 2017 / 14.50 WIB
Jenis kelamin : Laki-laki
Nama Ibu : Ny. M Nama Suami : Tn. G
Umur : 27 tahun Umur : 30 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indo Suku/bangsa : Jawa/Indo
Pendidikan : SD Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Ngasinan 01/11 Karang Bangun
2. Alasan datang/keluhan
Ibu mengatakan ingin mengetahui tumbuh kembang anaknya.
3. Riwayat Kehamilan
Ibu mengatakan ini kelahiran anak yang pertama.
Prenatal : Ibu mengatakan selama hamil tidak pernah menderita
penyakit kronis ataupun menular, ibu makan seperti biasa porsi 3x
sehari dan melakukan kunjungan kehamilan sebanyak 9x pada bidan,
janin bergerak aktif, serta mendapat imunisasi 5x TT.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
a) Jantung : Tidak pernah nyeri tekan pada
dada bagian kiri dan dada
tidak berdebar-debar.
b) Ginjal : Tidak pernah nyeri tekan pada
pinggang dan tidak pernah
sakit saat BAK
c) Asma : Tidak pernah sesak nafas.
d) TBC : Tidak pernah batuk dalam
waktu lebih dari 2 minggu.
e) Hepatitis : Tidak pernah terlihat kuning
pada mata,kuku dan kulit.
f) Diabetes Melitus : Tidak mudah lapar,haus dan
tidak sering BAK saat malam
hari.
g) Hipertensi : Tekanan darahnya tidak
pernah lebih dari 140/90
mmHg.
BAB IV
PEMBAHASAN
Methods Man
Kemampuan ibu dalam
menstimulasi Pengalaman ibu dengan
perkembangan anaknya anak pertama
Lingkungan keluarga
yang belum paham
Masih minimnya untuk menstimulasi
pengetahuan ibu tentang perkembangan anak
pertumbuhan dan
perkembangan anak
Material Environmen
t
BAB V
PENUTUP
Pada tahap akhir pembuatan Laporan Asuhan Kebidanan anak pra sekolah
pada an. A Normal di Puskesmas Matesih
A. Kesimpulan
Dalam pelayanan bagi anak Prasekolah saat ini, telah menerapkan
layanan tumbuh kembang dengan menggunakan metode Stimulasi
Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). yang sudah di
sepakati dan terdapat pada buku KIA tahun 2016.
B. Saran
menyarankan kepada Puskesmas Matesih sebagai pemegang kebijakan
melalui bidan desa untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan petugas pelaksana dalam pelaksanaan stimulasi deteksi
dini tumbuh kembang balita dan anak prasekolah diantaranya dengan
menyelenggarakan kegiatan penyuluhan kesehatan, pembinaan,
pembimbingan dan pelatihan mengenai cara pelaksanaan kegiatan,
tugas dan peran petugas pelaksana.
DAFTAR PUSTAKA
Adriana D., 2011. Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain Anak. Jakarta: Salemba
Medika
Axton, Sharon & Fugate, Terry. (2014). Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik
Ed.3. Diterjemahkan Oleh IDAI. Jakarta: EGC.
Betz, Cecily L., Sowden, Linda A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi
5. Jakarta: EGC.
Depkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan
pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.
Endah PN, Daroham, dan Mutiatikum. (2009). Penyakit ISPA Hasil Riskesdas di
Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan Supplement 2009: 50-55
Narendra, M.S, dkk. 2002. Buku Ajar I Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Edisi
Pertama IDAI. Jakarta : Sagung Seto
Potts & Mandleco. 2012. Pediatric Nursing; Caring for Children and Their
Families. 3rd ed. Clifton Park. New York.
Wong, D, dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Volume 1. Penerbit Buku
Kedokteran EGC : Jakarta