0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan52 halaman

Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak 4 Tahun

Laporan ini membahas asuhan kebidanan pada anak pra sekolah berusia 4 tahun dengan deteksi dini tumbuh kembang di Puskesmas Matesih. Deteksi dini tumbuh kembang penting untuk menemukan gangguan perkembangan secara dini sehingga dapat segera ditangani. Laporan ini bertujuan untuk menerapkan pendekatan holistik berdasarkan bukti dalam melakukan asuhan kebidanan pada anak tersebut.

Diunggah oleh

Tajudin Nurr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan52 halaman

Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak 4 Tahun

Laporan ini membahas asuhan kebidanan pada anak pra sekolah berusia 4 tahun dengan deteksi dini tumbuh kembang di Puskesmas Matesih. Deteksi dini tumbuh kembang penting untuk menemukan gangguan perkembangan secara dini sehingga dapat segera ditangani. Laporan ini bertujuan untuk menerapkan pendekatan holistik berdasarkan bukti dalam melakukan asuhan kebidanan pada anak tersebut.

Diunggah oleh

Tajudin Nurr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN ANAK PRA SEKOLAH


PADA AN. A USIA 4 TAHUN DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG
DI PUSKESMAS MATESIH

Disusun Guna Memenuhi Persyaratan Ketuntasan


Praktik Kebidanan Fisiologis Hoistik Kehamilan

Program Studi Profesi Bidan

Disusun oleh :
1. Nindy Agitasari (P27224021225)
2. Novita Rahayu (P27224021226)
3. Nurjihan Prihantini W. (P27224021227)
4. Putri Alawiah (P27224021228)
5. Rahma Hamida (P27224021225)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA
PRODI PROFESI BIDAN JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN 2021
HALAMAN PERSETUJUAN
LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN ANAK PRA SEKOLAH


PADA AN. A USIA 4 TAHUN DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG
DI PUSKESMAS MATESIH
TAHUN 2021

Disusun oleh :

1. Nindy Agitasari (P27224021225)


2. Novita Rahayu (P27224021226)
3. Nurjihan Prihantini W. (P27224021227)
4. Putri Alawiah (P27224021228)
5. Rahma Hamida (P27224021225)
Tanggal Pemberian Asuhan 01 November 2021

Disetujui :

Pembimbing Lapangan
Tanggal :
Di : (Patun, [Link]. Keb)
NIP. 19670605 198911 2001

Pembimbing Institusi
Tanggal :
Di : (KH Endah Widhi Astuti., [Link])
NIP. 19720406 199803 2 002)

KATA PENGATAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan
rahmat, taufik dan hidayah-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan Laporan
Kasus Asu\an Kebidanan pada Anak Pra Sekolah dengan Deteksi Dini Tumbuh
Kembang Pada An A usia 4 tahun di Puskesmas Matesih Karanganyar.
Penyusunan laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas di stase anak pra sekolah
fisiologis.

Tidak lupa pula pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati,
penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dan arahan dalam penyusunan laporan ini.

Penulis sangat berharap laporan ini dapat berguna dalam rangka


menambah wawasan serta pengetahuan terkait dengan kasus yang dibahas.
Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran
sangat diharapkan guna memperbaiki laporan yang akan penulis buat di masa
mendatang. Semoga laporan ini bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih.

Karanganyar, Desember 2021

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa anak-anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang
dimulai dari bayi hingga remaja. Menurut WHO definisi anak adalah dihitung
sejak seseorang didalam kandungan dengan usia 19 tahun. Menurut Undang-
undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pada Bab I Ketentuan
Umum, pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang
belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam
kandungan. Anak merupakan asset bangsa yang akan meneruskan perjuangan
suatu bangsa, sehingga harus diperhatikan pertumbuhan dan perkebangan.
(Depkes RI, 2014).
Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan
perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Pada anak terdapat
rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan
lambat. Perkembangan anak memiliki ciri-ciri yang spesifik yaitu ciri fisik,
kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial (Hidayat, 2009). Periode
penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita, karena pada masa
ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan
perkembangan anak selanjutanya. Proses pertumbuhan dan perkembangan
terbagi dalam beberapa tahapan berdasarkan usia. Salah satu fasenya adalahan
masa prasekolah yaitu anak berusia 3-5 tahun (Wong, et al, 2009). Anak
prasekolah adalah anak yang berusia antara usia 3-6 tahun, serta biasanya
sudah mulai mengikuti program preschool.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hal yang terjadi secara
berkesinambungan selama kehidupan manusia (Wong, Hockenberry, Wilson,
Winkelstein & Schwartz, 2009). Pada masa pra sekolah sedang menjalani
proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, sehingga
membutuhkan stimulasi yang intensif dari orang di sekelilingnya agar
mempunyai kepribadian yang berkualitas dalam masa mendatang .
Perkembangan motoric halus anak prasekolah sudah dapat meniru membuat
garis tegak, miring, lengkung, dan lingkaran. Serta belajar menggunting
dengan berbagai dengan pola (lingkaran, segitiga, gelombang, segi empat, zig-
zag). Sedangkan perkembangan motoric halus anak prasekolah sudah dapaat
memasukan benda kecil kedalam botol (krikil, potongan lidi, biji-bijian).
(Yusuf, 2011)
Menurut profil kesehatan Indonesia tahun 2008, di Indonesia terdapat
19.971.366 dimana sebanyak 27% balita terdapat gangguan perkembangan,
sekitar 4-5% balita mengalami gangguan bicara dan bahasa. Berdasarkan
commited in Improving the Health of Indonesian Children yang dirilis
Pediatric of society oleh ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) diperkirakan
sekitar 5-10% anak usia dibawah 5 tahun diperkirakan mengalami
keterlambantan umum. Keterlembatan perkembangan pada anak dikarenakan
kurangnya orangtua mengenal tanda bahasa (redflag) perkembangan anak,
kurangnya pemeriksaan deteksi dini atau skrining perkembangan pada anak
dan kurangnya keterlibatan langsung orangtua dengan anak atau stimulasi dari
selalin orangtua (IDAI, 2013). Menurut Irmawati (2007), berdasarkan data
dari DKK Semarang tahun 2006 terdapat 388 kasus penyimpang
perkembangan yang dirujuk ke Klinik Tumbuh Kembang RSUP Dr. Kariadi
dengan penemuan terlambat karena deteksi yang tidak teratur. Sebagian besar
kasus yang ditemukan adalah gangguan bicara dan bahasa 56,61 %, autism
13,15%, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas 12,10% serta
keterlambatan duduk atau berdiri 10,09%.
Program deteksi dini dan stimulasi perkembangan merupakan salah satu
program pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk menemukan
penyimpangan perkembangan pada balita maupun anak usia prasekolah secara
dini, menyeluruh dan terkoordinasi diselenggarakan dalam bentuk kemitraan
antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan anggota keluarga laiinya)
masyarakat (kader organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat) dengan
tenaga professional (Depkes, 2007). Pemantauan perkembangan anak meliputi
pemantauan dari aspek fisik, psikologi, dan sosial. Pemantauan tersebut harus
dilakukan secara teratur dan berkesinambungan. Untuk memantau tumbuh
kembang anak, bisa dilakukan dengan menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan yang ada sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan anak. Upaya
kesehatan anak adalah sebagai bagian dari upaya membangun manusia
seutuhnya, dimana untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang
berkualitas di masa yang akan datang. Oleh karena itu, anak perlu disiapkan
agar dapat tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan
kemampuannya (Narendra, 2008).
Tumbuh kembang dikatakan terlambat jika seorang anak tidak mencapai
tahap pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan pada umur yang
semestinya, dengan ketertinggalan dalam populasi yang normal (Varney,
2011). Untuk mengantisipasi adanya keterlambatan tumbuh kembang, maka
perlu dilakukan deteksi dini tumbuh kembang anak agar jika terjadi
keterlambatan maka diagnosa dan pemulihannya dapat dilakukan lebih awal
sehingga tumbuh kembang anak dapat berlangsung seoptimal mungkin.
Deteksi dini tumbuh kembang dapat dilakukan menggunakan buku panduan
SDIDTK maupun lembar DDST II yang memuat indikator-indikator untuk
skrining tumbuh kembang anak sesuai dengan kelompok umurnya. Oleh
karena itu, pada laporan ini akan dibahas mengenai Asu\an Kebidanan pada
Anak Pra Sekolah dengan Deteksi Dini Tumbuh Kembang di Puskesmas
Matesih

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang dapat
diambil adalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan Anak Pra Sekolah dengan
Deteksi Dini Tumbuh Kembang pada An A usia 4 tahun di Puskesmas
Matesih?”

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk menerapkan asuhan kebidanan anak pra sekolah dengan deteksi dini
tumbuh kembang dengan pendekatan holistik berdasarkan evidence based
midwifery menggunakan manajemen SOAP di Puskesmas Matesih
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pengumpulan data subjektif di
Puskesmas Matesih
b. Mahasiswa dapat melakukan pengumpulan data objektif di
Puskesmas Matesih
c. Mahasiswa dapat melakukan analisa data di Puskesmas Matesih
d. Mahasiswa dapat melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan
sesuai dengan analisis data yang diperoleh berdasarkan evidence
based midwifery di Puskesmas Matesih

D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan dapat berguna untuk menambah referensi wawasan
pengetahuan, dan sekaligus mengembangkan pengetahuan tentang asuhan
kebidanan pada anak dengan deteksi tumbuh kembang berdasarkan
evidence based midwifery.
2. Manfaat Praktis
Diharapkan orang tua atau keluarga dapat mendeteksi dini adanya
gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak agar selanjutnya mendapat
penanganan dengan segera.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. ANAK PRA SEKOLAH
1. Pengertian
Menurut WHO definisi anak adalah dihitung sejak seseorang didalam
kandungan dengan usia 19 tahun. Menurut Undang-undang No. 23 tahun
2002 tentang Perlindungan Anak, pada Bab I Ketentuan Umum, pasal 1
ayat 1, yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia
18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Anak merupakan asset bangsa yang akan meneruskan perjuangan suatu
bangsa, sehingga harus diperhatikan pertumbuhan dan perkebangan.
(Depkes RI, 2014).
Anak prasekolah adalah anak yang berumur antara 3-6 tahun, pada
masa ini anak-anak senang berimajinasi dan percaya bahwa mereka
memiliki kekuatan. Pada usia prasekolah, anak membangun kontrol sistem
tubuh seperti kemampuan ke toilet, berpakaian, dan makan sendiri (Potts &
Mandeleco, 2012). Menurut Montessori (dalam Noorlaila 2010), bawa usia
3-6 tahun anak-anak dapat diajari menulis, membaca, dan belajar mengetik.
Usia prasekolah merupakan kehidupan tahun-tahun awal yang kreatif dan
produktif bagi anak-anak.
Anak diartikan sebagai seseorang yang berusia kurang dari delapan
belas tahun dalam masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik
kebutuhan fisik, psikologi, sosial dan spiritual. Anak merupakan individu
yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai
dari bayi hingga remaja. Perkembangan anak memiliki ciri-ciri yang
spesifik yaitu ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku
sosial (Hidayat, 2009).
Wong (2000) dalam Hidayat (2011), mengemukakan bahwa
pertumbuhan merupakan bertambahnya jumlah dan ukuran sel di seluruh
bagian tubuh yang dapat diukur melalui alat ukur, sedangkan
perkembangan merupakan bertambah sempurnanya fungsi-fungsi alat
tubuh yang dapat dicapai melalui belajar dan bertumbuhnya kematangan.
Menurut Wong (2009) usia anak pra sekolah adalah 3- 5 tahun. Menurut
Hidayat (2011) Pertumbuhan masa pra sekolah pada aspek fisik yaitu berat
badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya kurang lebih 2-3 kg,
kelihatan kurus akan tetapi aktivitas motorik tinggi, di mana system tubuh
sudah mencapai kematangan seperti berjalan, melompat dan lain-lain. Dari
segi tinggi badan anak khususnya pada usia mendekati 5 tahun, terjadi
penambahan usia rata-rata dua kali lipat dari tinggi badan waktu lahir dan
kurang lebih 6-8cm bertambah setiap tahunnya.
2. Prinsip Perumbuhan dan Perkembangan Anak
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta
jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh
sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan
berat. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang
lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan
bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara
simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan,-
perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat
dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem
neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi
tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh. (Kemenkes,
2016).
Hidayat (2011) mengemukaan secara umum pertumbuhan dan
perekmbangan anak mempunyai prinsip dalam prosesnya. Prinsip tersebut
dapat menentukan ciri ataupun pola dari pertumbuhan dan perkembangan
pada anak. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
a. Proses pertumbuhan dan perkembangan sangat bergantung pada aspek
kematangan susunan saraf pada manusia, dimana semakin sempurna
atau kompleks kematangan saraf maka semakin sempurna pula proses
pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi mulai dari proses
konsepsi sampai dewasa.
b. Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap individu adalah sama,
yaitu mencapai proses kematangan, meskipun dalam proses pencapaian
tersebut tidak memiliki kecepatan yang sama antara individu yang satu
dengan yang lainnya.
c. Proses pertumbuhan dan perkembangan memiliki pola khas yang dapat
terjadi mulai dari kepala hingga ke seluruh bagian tubuh atau juga
mulai dari kemampuan yang sederhana hingga mencapai kemampuan
yang lebih kompleks sampai mencapai kesempurnaan dari tahap
pertumbuhan dan perkembangan (Narendra, 2002 dalam Hidayat,
2011).
3. Pola pertumbuhan dan perkembangan
Hidayat (2011) mengemukakan bahwa pola perkembangan dapat
digunakan sebagai indikator untuk mendeteksi perkembangan anak pada
tahap selanjutnya, misalnya anak yang sudah berumur empat tahun
mengalami kesulitan bicara atau mengemukakan sesuatu yang
diinginkannya ataupun dalam perbendaharaan kata mengalami
keterbatasan, maka dapat diramalkan anak tersebut akan mengalami
keterlambatan perkembangan pada seluruh aspek perkembangan. Pada pola
ini tahapan perkembangan terbagi menjadi lima bagian yang tentunya
memiliki prinsip ataupun ciri khusus dalam setiap perkembangannya,
sebagai berikut :
a. Masa pralahir, terjadi pertumbuhan yang sangat cepat pada alat dan
jaringan tubuh.
b. Masa neonatus, proses penyesuaian dengan kehidupan di luar rahim dan
hampir sedikit perubahan aspek pertumbuhan fisik.
c. Masa bayi, terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang
mempengaruhinya serta memiliki kemampuan untuk melindungi dan
menghindar dari hal yang mengancam dirinya.
d. Masa anak, terjadi perkembangan yang cepat dalam aspek sifat, sikap,
minat, dan cara penyesuaian dengan lingkungan, dalam hal ini keluarga
dan teman sebaya.
e. Masa remaja, terjadi perubahan kearah dewasa sehingga kematangan
ditandai dengan tanda-tanda pubertas.
4. Ciri pertumbuhan dan perkembangan anak
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak memiliki
berbagai ciri khas yang membedakan komponen satu dengan yang lain.
Pertumbuhan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Dalam pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalam hal
bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi badan, lingkar
kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain-lain.
b. Dalam pertumbuhan dapat terjadi perubahan proporsi yang dapat
terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari
masa konsepsi hingga dewasa.
c. Pada pertumbuhan dan perkembangan terjadi hilangnya ciri-ciri lama
yang ada selama masa pertumbuhan, seperti hilangnya kelenjar timus,
lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks-refleks tertentu.
d. Dalam pertumbuhan terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti
proses kematangan, seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis,
atau dada.
Perkembangan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Perkembangan selalu melibatkan proses pertumbuhan yang diikuti dari
perubahan fungsi, seperti perkembangan sistem reproduksi akan diikuti
perubahan pada fungsi alat kelamin.
b. Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan hukum tetap, yaitu
perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju kearah kaudal
atau dari proksimal ke bagian distal.
c. Perkembangan memiliki tahapan yang berurutan mulai dari
kemampuan melakukan hal yang sederhana menuju kemampuan
melakukan hal yang sempurna.
d. Perkembangan setiap individu memiliki kecepatan pencapaian
perkembangan yang berbeda.
e. Perkembangan dapat menentukan pertumbuhan tahap selanjutnya,
dimana tahapan perkembangan harus dilewati tahap demi tahap
(Narendra, 2002 dalam Hidayat 2011).
5. Faktor- faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
Menurut Kemenkes (2016). Pada umumnya anak memiliki pola
pertumbuhan dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi
banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
anak. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
1) Ras/etnik atau bangsa.
Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak
memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.
2) Keluarga.
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi,
pendek, gemuk atau kurus.
3) Umur.
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal,
tahun pertama kehidupan dan masa remaja.
4) Jenis kelamin.
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat
daripada laki laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas,
pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.
5) Genetik.
Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi
anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan
genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti
kerdil.
b. Faktor luar (ekstemal).
1) Faktor Prenatal
a) Gizi
Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan
akan mempengaruhi pertumbuhan janin.
b) Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan
kongenital seperti club foot.
c) Toksin/zat kimia
Beberapa obat-obatan seperti Amlnopterin, Thalldomid dapat
menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis.
d) Endokrin
Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali,
hiperplasia adrenal.
e) Radiasi
Paparan radium dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan
kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi
mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongential mata,
kelainan jantung.
f) Infeksi
lnfeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH
(Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks) dapat
menyebabkan kelainan pada janin: katarak, bisu tuli, mikros efali,
retardasi mental dan kelainanjantung kongenital.
g) Kelainan imunologi
Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah
antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap
sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam
peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang
selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan Kem icterus
yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.
h) Anoksia embrio
Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta
menyebabkan pertumbuhan terganggu.
i) Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan
mental pada ibu hamil dan lain-lain.
c. Faktor Persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat
menyebabkan kerusakan jaringan otak.
d. Faktor Pasca Persalinan
1) Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
a) Penyakit kronis/ kelainan kongenital, Tuberkulosis, anemia,
kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan
jasmani.
b) Lingkungan fisis dan kimia.
Lingkungan sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut
hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak
(provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya
sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb,
Mercuri, rokok, dll) mempunyai dampak yang negatif terhadap
pertumbuhan anak.
c) Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang
tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu
merasa tertekan, akan mengalami hambatan di dalam
pertumbuhan dan perkembangannya.
d) Endokrin
Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid akan
menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.

e) Sosio-ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan,
kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan
menghambat pertumbuhan anak.
f) Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat
mempengaruhi tumbuh kembang anak.
g) Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi dalam
keluarga, misalnya penyediaan alat main, sosialisasi anak,
keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan
anak.
h) Obat-obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat
pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat
perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan
terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.
6. Aspek-aspek perkembangan yang dipantau.
a. Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubu yang melibatkan
otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
b. Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan
dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan
bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi
memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu,
menjimpit, menulis, dan sebagainya.
c. Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan
dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara,
berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya.
d. Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan
selesai bermain}, berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi
dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya.
7. Periode Tumbuh Kembang Anak.
Menurut Kemenkes (2016). Tumbuh-Kembang anak berlangsung
secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan yang dimulai sejak
konsepsi sampai [Link] kembang anak terbagi dalam beberapa
periode. Berdasarkan beberapa kepustakaan, maka periode tumbuh
kembang anak adalah sebagai berikut:
a. Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan).
b. Masa bayi (infancy) umur 0 - 11 bulan.
Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi
perubahan sirkulasi darah, serta mulainya berfungsi organ-organ.
c. Masa neonatal dibagi menjadi 2 periode:
1) Masa neonatal dini,umur 0 - 7 hari.
2) Masa neonatal lanjut, umur 8 - 28 hari.
Hal yang paling penting agar bayi lahir tumbuh dan berkembang
menjadi anak sehat adalah:
a) Bayi lahir ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, di sarana
kesehatan yang memadai.
b) Untuk mengantisipasi risiko buruk pada bayi saat dilahirkan,
jangan terlambat pergi kesarana kesehatan bila dirasakan sudah
saatnya untuk melahirkan.
c) Saat melahirkan sebaiknya didampingi oleh keluarga yang dapat
menenangkan perasaan ibu.
d) Sambutlah kelahiran anak dengan perasaan penuh suka cita dan
penuh rasa syukur. Lingkungan yang seperti ini sangat membantu
jiwa ibu dan bayi yang dilahirkannya.
e) Berikan ASI sesegera mungkin. Perhatikan refleks menghisap
diperhatikan oleh karena berhubungan dengan masalah pemberian
ASI.
d. Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan.
Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat dan proses
pematangan berlangsung secara terus menerus terutama meningkatnya
fungsi sistem saraf.
Seorang bayi sangat bergantung pada orang tua dan keluarga
sebagai unit pertama yang dikenalnya. Beruntunglah bayi yang
mempunyai orang tua yang hidup rukun, bahagia dan memberikan
yang terbaik untuk anak. Pada masa ini, kebutuhan akan pemeliharaan
kesehatan bayi, mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan penuh,
diperkenalkan kepada makanan pendamping ASI sesuai umurnya,
diberikan imunisasi sesuai jadwal, mendapat pola asuh yang sesuai.
Masa bayi adalah masa dimana kontak erat antara ibu dan anak
terjalin, sehingga dalam masa ini, pengaruh ibu dalam mendidik anak
sangat besar.
e. Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur 12-59 bulan).
Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat
kemajuan dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus)
serta fungsi ekskresi.
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa
balita. Pertumbuhan dasar yang berlangsung pada masa balita akan
mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Setelah
lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan
perkembangan sel-sel otak masih berlangsung; dan terjadi pertumbuhan
serabut serabut syaraf dan cabang-cabangnya, sehingga terbentuk
jaringan syaraf dan otak yang kompleks. Jumlah dan pengaturan
hubungan- hubungan antar sel syaraf ini akan sangat mempengaruhi
segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal
huruf, hingga bersosialisasi.

Pada masa balita, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa,


kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat
cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya.
Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk
pada masa ini, sehingga setiap kelalnan/penyimpangan sekecll apapun
apablla tidak dideteksl apalagi tidak ditangani dengan baik, akan

mengurangi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari.


f. Masa anak prasekolah (anak umur 60 - 72 bulan).

Pada masa ini, pertumbuhan berlangsung dengan stabil. Terjadi


perkembangan dengan aktivitas jasmani yang bertambah dan
meningkatnya ketrampilan dan proses berfikir.

Memasuki masa prasekolah, anak mulai menunjukkan


keinginannya, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya.

Pada masa ini, selain lingkungan di dalam rumah maka


lingkungan di luar rumah mulai diperkenalkan. Anak mulai senang
bermain di luar rumah. Anak mulai berteman, bahkan banyak keluarga
yang menghabiskan sebagian besar waktu anak bermain di luar rumah
dengan cara membawa anak ke taman-taman bermain, taman-taman
kota, atau ke tempat-tempat yang menyediakan fasilitas permainan
untuk anak.

Sepatutnya lingkungan-lingkungan tersebut menciptakan suasana


bermain yang bersahabat untuk anak (child friendly environment).
Semakin banyak taman kota atau taman bermain dibangun untuk
anak, semakin baik untuk menunjang kebutuhan anak.

Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah, untuk itu panca
indra dan sistim reseptor penerima rangsangan serta proses memori
harus sudah siap sehingga anak mampu belajar dengan baik. Perlu
diperhatikan bahwa proses belajar pada masa ini adalah dengan cara
bermain.

*Orang tua dan keluarga diharapkan dapat memantau pertumbuhan


dan perkembangan anaknya, agar dapat dllakukan intervensl dini bila
anak mengalami kelainan atau gangguan.

8. Deteksi Tumbuh Kembang Anak


Jenis Deteksi Tumbuh Kembang Yang Harus
Dilakukan
Umur Anak
Deteksi Dini Deteksi Dini Deteksi Dini
Penyimpangan Mental
Penyimpangan Penyimpangan
Emosional (dilakukan
Pertumbuhan Perkembangan
atas indikasi)
BB/TB LK KPSP TDD TDL KMPE M-CHAT GPPH
0 bulan

3 bulan
6 bulan
9 bulan
12 bulan
15 bulan
18 bulan
21 bulan
24 bulan
30 bulan
36 bulan
42 bulan
48 bulan
54 bulan
60 bulan
66 bulan
72 bulan

a. Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan


1) BB
Macam-macam Penimbangan Berat Badan (BB)
a) Timbangan bayi digunakan untuk menimbang anak sampai
umur 2 tahun atau selama anak masih bisa berbaring/duduk
tenang.
b) Menggunakan timbangan dacin.
Pastikan dacin masih layak digunakan, perikasa dan letakkan
banul geser pada angka nol. Jika ujung kedua paku dacin tidak
dalam posisi lurus, maka timbangan tidak layak digu- nakan
dan harus dikalibrasi
c) Menggunakan timbangan injak (timbangan digital).
2) TB
Macam-macam Pengukuran Panjang Badan (PB) atau Tinggi Badan
(TB):
a) Pengukuran Panjang Badan untuk anak 0 – 2 bulan Cara
mengukur dengan posisi berbaring
b) Pengukuran Tinggi Badan untuk anak 24 - 72 Bulan Cara
mengukur dengan posisi berdiri

3) Lingkar kepala Anak (LKA)


Tujuan untuk mengetahui lingkaran kepala anak dalam batas normal
atau diluar batas normal. Jadwal pengukuran disesuaikan dengan
umur anak. Umur 0 - 11 bulan, pengukuran dilakukan setiap tiga
bulan. Pada anak yang lebih besar, umur 12 – 72 bulan, pengukuran
dilakukan setiap enam bulan. Pengukuran dan penilaian lingkar
kepala anak dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.

b. Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan


1) KPSP
Skrining pemeriksaan perkembangan anak menggunakan kuesioner pra
skrining perkembangan (KPSP). Tujuan untuk mengetahui
perkembangan anak normal atau ada penyimpangan.
Skrining/pemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK dan
petugas PAUD terlatih. Jadwal skrining/pemeriksaan KPSP rutin
adalah : setiap 3 bulan pada anak < 24 bulan dan tiap 6 bulan pada anak
usia 24 - 72 tahun (umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54,
60, 66 dan 72 bulan). Apabila orang tua datang dengan keluhan
anaknya mempunyai masalah tumbuh kembang, sedangkan umur anak
bukan umur skrining maka pemeriksaan menggunakan KPSP untuk
umur skrining yang lebih muda dan dianjurkan untuk kembali sesuai
dengan waktu pemeriksaan umurnya.
a) Alat/instrument yang digunakan adalah:
i. Formulir KPSP menurut umur.
Formulir ini berisi 9 -10 pertanyaan tentang kemampuan
perkembangan yang telah dicapai anak. Sasaran KPSP anak
umur 0-72 bulan.
ii. Alat bantu pemeriksaan berupa: pensil, kertas, bola sebesar bola
tenis, kerincingan, kubus berukuran sisi 2,5 Cm sebanyak 6
buah, kismis, kacang tanah, potongan biskuit kecil berukuran
0.5 - 1 Cm.
b) Cara menggunakan KPSP
i. Pada waktu pemeriksaan/skrining, anak harus dibawa.
ii. Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal bulan dan
tahun anak lahir. Bila umur anak lebih 16 hari dibulatkan
menjadi 1 bulan.
iii. Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai
dengan umur anak. KPSP terdiri ada 2 macam pertanyaan,
yaitu:
- Pertanyaan yang dijawab oleh ibu/pengasuh anak,
contoh: "Dapatkah bayi makan kue sendiri ?"
- Perintah kepada ibu/pengasuh anak atau petugas
melaksanakan tugas yang tertulis pada KPSP. Contoh:
"Pada posisi bayi anda telentang, tariklah bayi pada
pergelangan tangannya secara perlahan-lahan ke
posisi duduk''.
iv. Jelaskan kepada orangtua agar tidak ragu-ragu atau takut
menjawab, oleh karena itu pastikan ibu/pengasuh anak
mengerti apa yang ditanyakan kepadanya.
v. Tanyakan pertanyaan tersebut secara berturutan, satu persatu.
Setiap pertanyaan hanya ada 1 jawaban, Ya atau Tidak. Catat
jawaban tersebut pada formulir.

vi. Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/pengasuh


anak menjawab pertanyaan terdahulu.
vii. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
c) Interpretasi menggunakan KPSP
a) Hitunglah berapa jumlah jawaban Ya.
- Jawaban Ya, bila ibu/pengasuh menjawab: anak bisa atau
pemah atau sering atau kadang-kadang melakukannya.
- Jawaban Tidak, bila ibu/pengasuh menjawab: anak belum
pernah melakukan atau tidak pemah atau ibu/pengasuh anak
tidak tahu.
- Jumlah jawaban 'Ya' = 9 atau 10, perkembangan anak sesuai
dengan tahap perkembangannya (S).
- Jumlah jawaban 'Ya' = 7 atau 8, perkembangan anak
meragukan (M).
- Jumlah jawaban 'Ya' = 6 atau kurang, kemungkinan ada
penyimpangan (P).
- Untuk jawaban 'Tidak', perlu dirinci jumlah jawaban 'Tidak'
menurut jenis keterlambatan (gerak kasar, gerak halus, bicara
dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian).
b) Intervensi
- Bila perkembangan anak sesuai umur (S), lakukan tindakan
berikut:
- Beri pujian kepada ibu karena telah mengasuh anaknya dengan
baik
- Teruskan pola asuh anak sesuai dengan tahap perkembangan
anak
- Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering
mungkin, sesuai dengan umur dan kesiapan anak.
- lkutkan anak pada kegiatan penimbangan dan pelayanan
kesehatan di posyandu secara teratur sebulan 1 kali dan setiap
ada kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB). Jika anak sudah
memasuki usia prasekolah (36-72 bulan), anak dapat
diikutkan pada kegiatan di Pusat Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD), Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak.
- Lakukan pemeriksaan/skrining rutin menggunakan KPSP setiap 3
bulan pada anak berumur kurang dari 24 bulan dan setiap 6
bulan pada anak umur 24 sampai 72 buIan.
- Bila perkembangan anak meragukan (M), lakukan tindakan
berikut:
* Beri petunjuk pada ibu agar melakukan stimulasi
perkembangan pada anak lebih sering lagi, setiap saat dan
sesering mungkin.
* Ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi
perkembangan anak untuk mengatasi
penyimpangan/mengejar ketertinggalannya.
* Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari
kemungkinan adanya penyakit yang menyebabkan
penyimpangan perkembangannya dan lakukan
pengobatan.
* Lakukan penilaian ulang KPSP 2 minggu kemudian
dengan menggunakan daftar KPSP yang sesuai dengan
umur anak.
* Jika hasil KPSP ulang jawaban 'Ya' tetap 7 atau 8 maka
kemungkinan ada penyimpangan (P).
* Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P),
lakukan tindakan berikut: Merujuk ke Rumah Sakit
dengan menuliskan jenis dan jumlah penyimpangan
perkembangan (gerak kasar, gerak halus, bicara & bahasa,
sosialisasi dan kemandirian).
4) Tes daya dengar (TDD)
1) Tujuan tes daya dengar adalah menemukan gangguan
pendengaran sejak dini, agar dapat segera ditindaklanjuti untuk
meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak.
2) Jadwal TDD adalah setiap 3 bulan pada bayi umur kurang dari 12
bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 12 bulan keatas. Tes ini
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PAUD dan
petugas terlatih lainnya. Tenaga kesehatan mempunyai kewajiban
memvalidasi hasil pemeriksaan tenaga lainnya.
3) Alat/sarana yang diperlukan adalah
lnstrumen TDD menurut umur anak.
4) Cara melakukan TDD
a) Tanyakan tanggal, bulan dan tahun anak lahir, hitung umur anak
dalam buIan.
b) Pilih daftar pertanyaan TDD yang sesuai dengan umur anak.
c) Pada anak umur kurang dari 24 bulan:
- Semua pertanyaan harus dijawab oleh orang tua/pengasuh
anak. Katakan pada Ibu/pengasuh untuk tidak usah ragu-
ragu atau takut menjawab, karena tidak untuk mencari
siapa yang salah.
- Bacakan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring,
satu persatu, berurutan.
- Tunggu jawaban dari orangtua/pengasuh anak.
- Jawaban YA jika menurut orang tua/pengasuh, anak dapat
melakukannya dalam satu bulan terakhir.
- Jawaban TIDAK jika menurut orang tua/pengasuh anak
tidak pernah, tidak tahu atau tak dapat melakukannya
dalam satu bulan terakhir.
d) Pada anak umur 24 bulan atau lebih:
- Pertanyaan-pertanyaan berupa perintah melalui
orangtua/pengasuh untuk dikerjakan oleh anak.
- Amati kemampuan anak dalam melakukan perintah
orangtua/pengasuh.
- Jawaban YA jika anak dapat melakukan perintah
orangtua/pengasuh.
- Jawaban TIDAK jika anak tidak dapat atau tidak mau
melakukan perintah orangtua/pengasuh.
5) Interpretasi
a) Bila ada satu atau lebih jawaban TIDAK, kemungkinan anak
mengalami gangguan pendengaran.
b) Catat dalam Buku KIA atau register SDIDTK, atau
status/catatan medik anak.
6) Intervensi
a) Tindak lanjut sesuai dengan buku pedoman yang ada.
b) Rujuk ke RS bila tidak dapat ditanggulangi
5) Tes daya lihat (TDL)
1 Tujuan tes daya lihat adalah mendeteksi secara dini
kelainan daya lihat agar segera dapat dilakukan tindakan
lanjutan sehingga kesempatan untuk memperoleh
ketajaman daya lihat menjadi lebih besar
2
Jadwal tes daya lihat dilakukan setiap 6 bulan pada anak
usia prasekolah umur 36 sampai 72 bulan. Tes ini
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan.
3 Alat/sarana yang diperlukan adalah:
a) Ruangan yang bersih, tenang dengan penyinaran yang baik
b) Dua buah kursi, 1 untuk anak dan 1 untuk pemeriksa
c) Poster “E” untuk digantung dan kartu “E” untuk dipegang anak
4 Alat petunjuk
c. Deteksi dini Penyimpangan Mental Emosional
1) Kuesioner masalah perilaku (KMPE)
Tujuannya adalah mendeteksi secara dini adanya
penyimpangan/masalah perilaku emosional pada anak pra sekolah.
Jadwal deteksi dini masalah perilaku emosional adalah rutin setiap 6
bulan pada anak umur 36 bulan sampai 72 bulan. Jadwal ini sesuai
dengan jadwal pelayanan SDIDTK.
a) Alat yang digunakan adalah Kuesioner Masalah Perilaku
Emosional (KMPE) yang terdiri dari 14 pertanyaan untuk
mengenali problem perilaku emosional anak umur 36 bulan
sampai 72 bulan.
b) Cara melakukan :
- Tanyakan setiap pertanyaan dengan lambat, jelas dan
nyaring, satu persatu perilaku yang tertulis pada
- KMPE kepada orang tua/pengasuh anak.
Catat jawaban YA, kemudian hitung jumlah jawaban YA.
- lnterpretasi :
Bila ada jawaban YA, maka kemungkinan anak mengalami
masalah perilaku emosional.
- lntervensi :
Bila jawaban YA hanya 1 (satu) :
- Lakukan konseling kepada orang tua menggunakan Buku
Pedoman Pola Asuh Yang Mendukung Perkembangan
- Anak.
- Lakukan evaluasi setelah 3 bulan, bila tidak ada perubahan
rujuk ke Rumah Sakit yang memberi pelayanan rujukan
tumbuh kembang atau memiliki fasilitas pelayanan
kesehatan jiwa.
Bila jawaban YA ditemukan 2 (dua) atau lebih :
- Rujuk ke Rumah Sakit yang memberi pelayanan rujukan
tumbuh kembang atau memiliki fasilitas pelayanan
kesehatan jiwa. Rujukan harus disertai informasi mengenai
jumlah dan masalah mental emosional yang ditemukan.
2) Deteksi dini autis pada anak prasekolah
Tujuannya adalah mendeteksi secara dini adanya autis pada anak
umur 18 bulan sampai 36 bulan. Dilaksanakan atas indikasi atau bila
ada keluhan dari ibu/pengasuh atau ada kecurigaan tenaga
kesehatan, kader kesehatan, petugas PAUD, pengelola TPA dan guru
TK. Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan di
bawah ini:
a. Keterlambatan berbicara.
[Link] komunikasi/ interaksi sosial.
[Link] yang berulang-ulang.
• Alat yang digunakan adalah M-CHAT (Modified-Checklist for
Autism in Toddlers)
• Ada 23 pertanyaan yang dijawab oleh orang tua/pengasuh anak.
• Pertanyaan diajukan secara berurutan, satu persatu. Jelaskan
kepada orangtua untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
Cara menggunakan M-CHAT

- Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu


persatu perilaku yang tetulis pada M-CHAT kepada orang tua
atau pengasuh anak. Lakukan pengamatan kemampuan anak
sesuai dengan tugas pada Modified-Checklist for Autism in
Toddlers (M-CHAT)
- Catat jawaban orang tua/pengasuh anak dan kesimpulan hasil
pengamatan kemampuan anak, YA atau TIDAK. Teliti kembali
apakah semua pertanyaan telah dijawab.

Interpretasi:

- Enam pertanyaan No. 2, 7, 9, 13, 14, dan 15 adalah pertanyaan


penting (crirical item) jika dijawab tidak berarti pasien mempunyai
risiko ringgi autism.
- Jawaban tidak pada dua atau lebih critical item atau tiga pernyaan lain
yang dijawab tidak sesuai (misalnya seharusnya dijawab ya, orang tua
menjawab tidak) maka anak tersebut mempunyai risiko autism. Jika
perilaku itu jarang dikerjakan (misal anda melihat satu atau 2 kali) ,
mohon dijawab anak tersebut tidak melakukannya.
Intervensi:
Bila anak memiliki risiko tinggi autism atau risiko autism, Rujuk ke
Rumah Sakit yang memberi layanan rujukan tumbuh kembang anak.

3) Deteksi dini gangguan pemusatan dan perhatian hoperaktifitas


(GPPH) pada anak.
Tujuannya adalah mengetahui secara dini anak adanya Gangguan
Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada anak umur 36
bulan ke atas. Dilaksanakan atas indikasi bila ada keluhan dari orang
tua/pengasuh anak atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader
kesehatan, BKB, petugas PAUD, pengelola TPA dan guru TK.
Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan di
bawah ini:
- Anak tidak bisa duduk tenang
- Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal lelah
- Perubahan suasana hati yang mendadak/impulsive
1) Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini Gangguan
Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas/GPPH (Abbreviated
Conners Ratting Scale), Formulir ini terdiri 10 pertanyaan yang
ditanyakan kepada orang tua/pengasuh anak/guru TK dan
pertanyaan yang perlu pengamatan pemeriksa.
2) Cara menggunakan formulir deteksi dini GPPH:
a) Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu
persatu perilaku yang tertulis pada formulir deteksi dini GPPH.
Jelaskan kepada orangtua/pengasuh anak untuk tidak ragu-ragu
atau takut menjawab.
b) Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan
pertanyaan pada formulir deteksi dini GPPH.
c) Keadaan yang ditanyakan/diamati ada pada anak dimanapun
anak berada, misal ketika di rumah, sekolah, pasar, toko,
dll);setiap saat dan ketika anak dengan siapa saja.
d) Catat jawaban dan hasil pengamatan perilaku anak selama
dilakukan pemeriksaan.
e) Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
3) Interpretasi
Beri nilai pada masing-masing jawaban sesuai dengan "bobot nilai"
berikut ini, dan jumlahkan nilai masing-masing jawaban menjadi
nilai total
a) Nilai 0: jika keadaan tersebut tidak ditemukan pada anak.
b) Nilai 1:jika keadaan tersebut kadang-kadang ditemukan pada
anak.
c) Nilai 2: jika keadaan tersebut sering ditemukan pada anak.
d) Nilai 3: jika keadaan tersebut selalu ada pada anak.

Bila nilai total 13 atau lebih anak kemungkinan dengan GPPH.

4) Intervensi
a. Anak dengan kemungkinan GPPH perlu dirujuk ke Rumah
Sakit yang member pelayanan rujukan tumbuh kembang atau
memiliki fasilitas kesehatan jiwa untuk konsultasi dan lebih
lanjut.
b. Bila nilai total kurang dari 13 tetapi anda ragu-ragu, jadwalkan
pemeriksaan ulang 1 bulan kemudian. Ajukan pertanyaan
kepada orang-orang terdekat dengan anak (orang tua, pengasuh,
nenek, guru, dsb).

9. Stimulasi Perkembangan Anak Usia Prasekolah


Berbagai stimulasi perkembangan yang dapat dilakukan oleh ibu kepada
anak usia prasekolah (Depkes, 2012).
a. Motorik Kasar
1) Mendorong anak untuk berlari, melompat dengan satu kaki,
bermain bola, lompat jauh, berjalan diatas papan sempit, berayun
dan memanjat
2) Mengajak anak bermain lomba karung. Mengajarkan anak
bagaimana melompat bersama teman-temannya
3) Mengajak anak bermain engklek di lantai atau di halaman.
4) Mengajarkan anak bermain lompat tali dengan teman sebayanya.
Ajarkan bagaimana cara melompati tali yang tidak terlau tinggi
b. Motorik Halus
1) Mengajak anak bermain puzzle, menggambar, memotong,
menempel, menghitung, mengelompokan gambar.
2) Mengajarkan anak konsep separuh atau satu. Ajak anak untuk
menggambar kemudian menggunting sebuah bentuk menjadi dua
bagian. Ajarkan bagaimana menyatukan kedua bentuk tersebut.
3) Mengajarkan pada anak untuk melengkapi gambar
4) Mengajarkan untuk mencocokkan dan menghitung. Bua kartu 1-10,
kemudian minta anak untuk menghitung benda-benda kecil di
sekitarnya (misalnya kacang atau biji-bijian) dan menaruhnya
sesuai dengan jumlah yang tertulis pada kartu.
5) Membandingkan ukuran besar kecil, berat atau ringan, sedikit atau
banyak, dengan permainan menyusun gelas berisi air
6) Meggunting dengan gunting yang tumpul. Ajarkan anak untuk
menggunting kertas untuk dibuat rumbai-rumbai, orang, binatang,
dan lain-lain.
7) Berkebun bersama seperti menanam biji dan ajarkan anak untuk
menyirami tanaman.
8) Melakukan percobaan ilmiah dengan memasukkan benda-benda ke
dalam air dan diskusikan apakah benda tersebut akan mengapung,
melayang atau tenggelam.
c. Bahasa
a) Mendorong anak agar bersedia bercerita mengenai apapun yang
didengar dan dilihatnya
b) Memperkenalkan simbol dan huruf dengan menempelkan nama
benda-benda
c) Membantu dan mendampingi anak memilih acara televisi yang
sesuai dengan usianya dan batasi waktu menonton maksimal 2
jam dalam sehari.
d) Mengajak anak melihat dan membaca majalah
e) Mengenalkan anak pada angka dengan media kartu yang
bertuliskan angka-angka.
f) Memperkenalkan anak pada musim seperti hujan dan musim
kemarau serta membicarakan efeknya bagi lingkungan,
binatang, dan alam sekitar.
g) Mengunjungi perpustakaan dan mengajak anak untuk
meminjam buku yang menarik.
h) Membuat buku kegiatan keluarga dengan menempelkan foto
anggota keluarga dan tempat yang pernah dikunjungi.
i) Bercerita tentang masa kecil kita sebagai orang tua dan meminta
anak menceritakan juga masa kecilnya.
j) Melengkapi kalimat dengan melanjutkan kalimat tentang apa
yang telah dilakukannya.
k) Melibatkan anak dalam pekerjaan dapur, meminta anak untuk
memotong sayuran, menyiapkan makanan, dan membersihkan
meja makan. Motivasi anak untuk menceritakan kegiatan yang
sedang dilakukannya dan jelaskan bahwa membantu orang lain
itu menyenangkan.
d. Personal Sosial
a) Mendorong anak agar bermain bersama teman sebaya
b) Memberi tugas rutin pada anak seperti kegiatan di dalam rumah
c) Melatih kemandirian dengan meberi kesempatan pada anak
untuk mengunjungi tetangga, teman atau saudara tanpa ditemani
dan minta anak untuk menceritakan kunjungannya.
d) Menggambar orang dan menceritakan apa yang sedang
digambar
e) Membuat boneka dari kertas dan memainkannya
f) Melatih anak mengikuti aturan permainan dengan mengikuti
perintah dalam permainan, “Berjalan 3 langkah besar ke depan
kemudian mundur 5 langkah jinjitt”.
g) Mengajak anak memainkan permainan jual bel dengan mebuat
uang dari kertas
h) Mengajak teman-teman dari anak untuk bermain bersama di
rumah.
10. Pathway tumbuh kembang
B. MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN
• Metode Pendokumentasian sesuai Standar Asuhan Kebidanan
KEPMENKES NO.938/MENKES/SK/VIII/2007
Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses
pengambilan keputusan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan
wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat
kebidanan. Mulai dari pengkajian, perumusan diagnose dan atau masalah
kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan
kebidanan.
e. STANDAR I (Pengkajian)
Bidan mengumpulkan informasi yang akurat, relevandan lengkap
dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Kriteria pengkajian adalah data tetap akurat dan lengkap, terdiri dari
data subjektif dan objektif serta pemeriksaan penunjang.
f. STANDAR II (Perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan)
Bidan dapat menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian,
menginteprestasikannya secara akurat dan logis untuk menegakkan
diagnosa dan masalah kebidanan yang [Link] ditetapkan
sesuai dengan nomenklatur kebidanan, masalah dirumuskan sesuai
dengan kondisi klien, dan dapat diselesaikan dengan asuhan kebidanan
secara mandiri, kolaborasi, dan rujukan.
g. STANDAR III (Perencanaan)
Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa dan
masalah yang ditegakkan. Rencana tindakan disusun berdasarkan
prioritas masalah dan kondisi klien, melibatkan klien dan atau
keluarga, mempertimbangkan kondisi psikologi, sosial budaya klien
atau keluarga, memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan
kebutuhan klien berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa
asuhan yang diberikan bermanfaat bagi klien, pertimbangan kebijakan
dan peraturan yang berlaku, sumber daya serta fasilitas yang ada.

h. STANDAR IV (Implementasi)
Bidan melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif,
efektif, dan aman berdasarkan evidence based dalam bentuk upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Asuhan
dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.
i. STANDAR V (Evaluasi)
Bidan melakukan evaluasi secara sistimatis dan
berkesinambungan untuk melihat keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan sesuai dengan perubahan perkembangan kondisi klien.
j. STANDAR VI (Pencatatan asuhan kebidanan)
Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat,
singkat dan jelas mengenai keadaan atau kelainan yang ditemukan dan
dilakukan pada saat dalam memberikan asuhan kebidanan.
Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan
asuhan pada formulir yang tersedia (rekam medis, KMS, status pasien,
buku KIA) dan ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP.
1) S  adalah data subjektif, mencatat hasil anamnesa
2) O adalah data obektif, mencatat hasil pemeriksaan
3) A  adalah hasil analisa, mencatat dignosa dan masalah kebidanan
4) P adalah penatalaksanaan, yaitu bidan mampu mencatat seluruh
perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti
tindakan antisipasi, tindakan segera, tindakan secara komprehensif,
penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi atau follow up
dan rujukan.
• Konsep Dasar Teori Evidence Based Midwifery (EBM) pada Asuhan
Kebidanan Persalinan
a. Pengertian Evidence Based Midwifery
Evidence Based Midwifery (EBM) didirikan oleh RCM dalam
rangka untuk membantu mengembangkan kuat profesional dan ilmiah
dasar untuk pertumbuhan tubuh bidan berorientasi akademis. RCM
Bidan Jurnal telah dipublikasikan dalam satu bentuk sejak 1887 dan
telah lama berisi bukti yang telah menyumbang untuk kebidanan
pengetahuan dan praktek. Pada awal abad ini, peningkatan jumlah bidan
terlibat dalam penelitian, dan dalam membuka kedua atas dan
mengeksploitasi baru kesempatan untuk kemajuan akademik. Sebuah
kebutuhan yang berkembang diakui untuk platform yang paling ketat
dilakukan dan melaporkan penelitian. Ada juga keinginan untuk ini
ditulis oleh dan untuk bidan. EBM secara resmi diluncurkan sebagai
sebuah jurnal mandiri untuk penelitian murni bukti pada konferensi
tahunan di RCM Harrogate, Inggris pada tahun 2003.
b. Prinsip-Prinsip Dasar
• Semua keputusan praktis harus dibuat berdasarkan studi
penelitian, dipilih dan ditafsirkan menurut beberapa
karakteristik norma tertentu (penelitian kuantitatif).
• Diperlukan keahlian klinis dari tenaga kesehatan.
• Dalam bingkai sistem pelayanan kesehatan yang berlaku.
• Dilaksanakan berdasarkan pilihan klien atau pasien.
c. Langkah-Langkah dalam Penerapan Evidence Based Midwifery
1) Penerapan evidence based medicine-practice dimulai dari pasien,
masalah klinis atau pertanyaan yang timbul terkait perawatan yang
diberikan pada klien
2) Merumuskan pertanyaan klinis (rumusan masalah) yang mungkin,
termasuk pertanyaan kritis dari kasus atau masalah ke dalam
kategori, misal: desain studi dan tingkatan evidence.
3) Melacak atau mencari sumber bukti terbaik yang tersedia secara
sistematis untuk menjawab pertanyaan.
4) Penilaian kritis (critical appraisal) akan bukti ilmiah yang telah
didapat untuk validitas internal atau kebenaran bukti, (meliputi:
kesalahan sistematis sebagai akibat dari bias seleksi, bias informasi
dan faktor perancu; aspek kuantitatif dari diagnosis dan pengobatan;
ukuran efek dan aspek presisi; hasil klinis; validitas eksternal atau
generalisasi), dan kegunaan dalam praktrk klinis.
5) Penerapan hasil dalam praktek pada klien, dengan membuat
keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan hasil studi
tersebut, dan atau mengintegrasikan bukti tersebut dengan
pengalaman klinis dan faktor pasien atau klien dalam menentukan
keputusan tersebut.
6) Evaluasi kinerja, yaitu melakukan evaluasi atas tindakan yang telah
dilakukan pada klien.
Untuk menggunakan hasil penelitian atau bukti sebagai referensi
dalam memberikan perawatan pada klien, diperlukan suatu tinjauan
sistematis atau review sistematis (evidence review atau systematic
review) dari hasil penelitian-penelitian serupa. Tinjauan sistematis ini
dapat kita lakukan sendiri atau menggunakan tinjauan sistematis yang
sudah disusun dan dipublikasikan oleh seorang penulis (peneliti,
akademisi, praktisi) yang ahli dibidangnya untuk memberikan rencana
terperinci dan berulang tentang pencarian literatur dan evaluasi dari
bukti-bukti tersebut.
Penilaian untuk menilai kualitas bukti berdasarkan US Preventive
Services Task Force (USPSTF), dikategorikan menjadi:
a. Tingkat I: bukti yang diperoleh berasal dari hasil penelitian yang
dirancang dengan metode randomized controlled trial.
b. Tingkat II-1: bukti yang diperoleh berasal dari hasil penelitian yang
dirancang dengan metode controlled trials without randomization.
c. Tingkat II-2: bukti yang diperoleh berasal dari hasil penelitian yang
dirancang dengan metode studi kohort atau kasus control rancangan
studi analitik, yang dilakukan pada lebih dari satu kelompok
penelitian.
d. Tingkat II-3: bukti diperoleh dari beberapa rancangan penelitian
time series design dengan atau tanpa intervensi. Hasil yang dramatis
dalam uji terkontrol dapat juga dianggap sebagai jenis bukti.
e. Tingkat III: pendapat otoritas atau ahli yang dihormati, berdasarkan
pengalaman klinis, penelitian deskriptif, atau laporan komite ahli.
Penerapan evidence based medicine-practice dalam
pelayanan kebidanan (evidence based midwifery) khususnya dalam
asuhan persalinan, diantaranya sebagai pertimbangan dalam
melaksanakan pemeriksaan ibu bersalin, menjalankan program
antenatal care (standar asuhan persalinan, standar kunjungan),
mengatasi keluhan/ atau ketidaknyamanan yang dialami selama
persalinan, pemenuhan kebutuhan dasar ibu persalinan, dan
penatalaksanaan penyulit atau komplikasi persalinan.
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN FISIOLOGIS ANAK PRASEKOLAH PADA An. A


USIA 4 TAHUN DI PUSKESMAS MATESIH
KABUPATEN KARANGANYAR

Tempat Praktek : Puskesmas Matesih


Tanggal,jam : 01 November 2021 Jam : 10.00 WIB
Oleh : Mahasiswa PKL Matesih

PENGKAJIAN DATA
I. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas
Nama bayi                        : An.A
Umur                               : 4 tahun
Tanggal / jam lahir           : 26 Oktober 2017 / 14.50 WIB
Jenis kelamin                    : Laki-laki
Nama Ibu : Ny. M Nama Suami : Tn. G
Umur : 27 tahun Umur : 30 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indo Suku/bangsa : Jawa/Indo
Pendidikan : SD Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Ngasinan 01/11 Karang Bangun
2. Alasan datang/keluhan
Ibu mengatakan ingin mengetahui tumbuh kembang anaknya.
3. Riwayat Kehamilan
Ibu mengatakan ini kelahiran anak yang pertama.
Prenatal        : Ibu mengatakan selama hamil tidak pernah menderita
penyakit kronis ataupun menular, ibu makan seperti biasa porsi 3x
sehari dan melakukan kunjungan  kehamilan sebanyak 9x pada bidan,
janin bergerak aktif, serta mendapat imunisasi 5x TT.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
a) Jantung : Tidak pernah nyeri tekan pada
dada bagian kiri dan dada
tidak berdebar-debar.
b) Ginjal : Tidak pernah nyeri tekan pada
pinggang dan tidak pernah
sakit saat BAK
c) Asma : Tidak pernah sesak nafas.
d) TBC : Tidak pernah batuk dalam
waktu lebih dari 2 minggu.
e) Hepatitis : Tidak pernah terlihat kuning
pada mata,kuku dan kulit.
f) Diabetes Melitus : Tidak mudah lapar,haus dan
tidak sering BAK saat malam
hari.
g) Hipertensi : Tekanan darahnya tidak
pernah lebih dari 140/90
mmHg.

5. Riwayat Persalinan yang lalu


a. Keadaan Ibu
1) Tanggal/ jamPersalinan : 26-10–2017 / jam 14.50 WIB
2) Masa kehamilan : 40+5 minggu
3) Tempat bersalin : PMB
4) Penolong : Bidan
5) Jenis persalinan : Spontan
6) Penyulit Persalinan : Tidak ada
7) Ketuban pecah : Jam 13.30 WIB, warna jernih, bau
khas
b. Riwayat Keadaan Bayi Saat Lahir
1) Jenis Kelamin : Laki-laki
2) Berat Badan : 2800 gram
3) Panjang Badan : 48 cm
4) Lingkar Kepala : 31 cm
5) Lingkar Dada : 32 cm
6) Keadaan Umum : baik
6. Riwayat Imunisasi
Usia Tanggal Keterangan
No Jenis
Pemberian Pemberian
1 Hb0 0-7 hari 28-10–2017 Sudah
2 BCG + Polio 1 1 bulan 10–12–2017 Sudah
3 DPT 1 + Polio 2 2 bulan 12–02–2018 Sudah
4 DPT2 + Polio 3 3 bulan 23–03–2018 Sudah
5 DPT3 + Polio 4 4 bulan 25–04–2018 Sudah
6 Campak 9 bulan 15–09–2018 Sudah
7 Booster Penta 18 Bulan 05-04-2019 Sudah
8 Booster Campak 24 Bulan 05-10-2019 Sudah

7. Data Sosial dan Budaya


a. Pandangan keluarga terhadap kesehatan : Baik
b. Keadaan Lingkungan : Sehat
c. Pengasuhan anak oleh : orang tua
d. Hubungan dengan anggota keluarga           : Anak kandung
8. Pola Kebutuhan sehari – hari
A. Nutrisi
1) Makan dan Minum
Frekuensi makan pokok 3 kali
Komposisi 1 piring
Nasi
Lauk 1 potong (sedang / besar),
jenisnya
Sayuran Secukupnya
Keluhan: Semua masuk
Frekuensi 3-4 gelas; jenis air teh
Keluhan: Tidak ada pantangan
b. Eliminasi
1) BAK
Frekuensi perhari 4 – 5 kali
Warna Kuning jernih
Keluhan Tidak ada keluhan
Konsistensi Jernih
2) BAB
Frekuensi perhari 1 kali/ hari
Warna Khas
Konsistensi Lembek
Keluhan Tidak ada
C. Personal Hygine
Mandi 2 kali/ hari
Keramas 2 hari sekali
Gosok Gigi 2 kali/ hari
Ganti Pakaian 2 kali / hari
celana dalam 2 kali / hari
Kebiasaan memakai alas kaki Dengan sandal
D. Aktivitas Bermain dengan teman
sebayanya
Keluhan Tidak ada

II. DATA OBJEKTIF


1. Keadaan umum : Baik, composmentis
2. Pemeriksaan umum
PB                   : 103 cm
BB                   :  16 Kg
LILA                : 17 Cm
LK                   : 51 Cm
LD                   : 52 Cm
Vital sign       
Nadi : 88x/menit               Suhu : 37oC                    
Respirasi : 26x/menit
3. Pemeriksaan fisik
Kepala : rambut hitam, bersih, tidak rontok, tidak ada
benjolan
Muka : tidak ada odema, tidak pucat,
Mata : simetris, tidak ada secret, sclera putih, konjungtiva
merah muda
Hidung : bersih, tidak ada polip,tidak ada pernafasan cuping
Mulut : mukosa lembab
Telinga : simetris, bersih, tidak ada serumen,
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tiroid dan
vena jugularis
Dada               : simetris, tidak ada tarikan dinding  dada ke dalam,
tidak ada wezzing
Abdomen        : tidak ada luka, tidak ada kelainan.
Genetalia         : jumlah testis ada dua, terdapat lubang uretra, tidak
ada kelainan, anus berlubang
Ektremitas Atas ; jari tangan tidak ada kelainan, tidak terdapat
Polidaktili/sidaktili, tidak ada odema, tidak
terdapat turgor kulit, kuku bersih tidak pucat
Ektremitas Bawah : simetris, jari-jari lengkap, tidak oedema
4. Pemeriksaan penunjang/data perkembangan anak (jika ada)
a. Motorik halus   
Anak dapat melakukan kegiatan yang menggunakan motorik
halus seperti membuat lingkaran menggambar orang, dll.
b.  Motorik kasar   
Anak dapat melakukan kegiatan yang menggunakan motorik
kasar seperti melompat dengan 1 kaki dan berdiri dengan 1 kaki
selama beberapa detik.
c. Bahasa              
Anak memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
d. Personal social 
Anak memiliki hubungan sosial yang baik dengan lingkungannya
seperti berinteraksi (bermain) dengan teman sebaya.
III. ANALISA
Anak Balita Sehat usia 4 tahun
IV. PELAKSANAAN
Tanggal 01 November 2020 Jam 10. 15 WIB
1. Melakukan pendekatan terapeutik pada klien dan keluarga.
Rasionalisasi : Dengan pendekatan terapeutik akan tercipta
hubungan saling percaya dan terjalin kerjasama yang baik antara
nakes dan klien.
Hasil : Ibu merasa nyaman dan lebih percaya diri
2. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan
Rasionalisasi : Agar ibu tidak khawatir mengenai keadaannya
Hasil : ibu mengerti kondisinya dalam keadaan baik.
3. Memberikan KIE tentang gizi seimbang yang harus diberikan pada
Balita
Rasionalisasi : agar kebutuhan gizi anak yang dibutuhkan dapat
terpenuh dengan baik
Hasil : ibu memahami mengenai gizi seimbang yang akan
diberikan kepada anaknya untuk memenuhi kebutuhan gizi pda
Balita
4. Memberikan KIE tentang stimulasi tumbuuh kembang anak usia 4
tahun (minta anak untuk menceritakan apa yang dilakukan,
dengarkana naka ketika bercerita, jika anak gagap ajari anak bicara
pelan – pelan, awasi anak ketika bermain, ajari anak mulai
melibatkan diri dalam kegiatan bersama, ajarkan anak tentang
perbedaan jenis kelamin, latih anak untuk tidur terpisah dari orang
tua atau anak yang berbeda jenis kelamin, biasakan anak untuk
berkata jujur, berterima kasih daan meminta maaf, figur ayah
sebagai contoh bagi anak laki – laki dan figur ibu sebagai contoh
anak perempuan, kembangkan kreativitas anak dan kemampuasn
bergaul)
Rasionalisasi : agar perkembangan anak dapat terpantau dengan
baik apakah sudah sesuai atau belum
Hasil : ibu memahami tentang bagaimana stimulasi yang akan
dilakukan untuk memnatau perkembangan anaknya.
5. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang Jika ada
keluhan atau masalah
Rasionalisasi : agar perkembangan anak dapat terpantau dengan
baik
Hasil : ibu memahami dan bersedia melakukan kunjungan ulang.

BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, setiap individu akan


mengalami siklus yang berbeda pada kehidupan manusia. Peristiwa tersebut dapat
secara cepat maupun lambat tergantung dari individu atau lingkungan. Anak yang
mendapatkan stimulasi yang terarah dan teratur cenderung berkembang lebih
optimal (IDAI, 2008).
Menurut Wong (2009) usia anak pra sekolah adalah 3- 5 tahun, sementara
Kemenkes (2018) mengelompokan anak pra-sekolah berada pada rentang 5 – 6
tahun. An. A yang datang ke puskesmas bersama ibunya berusia 4 tahun artinya
berada pada rentang usia anak pra – sekolah menurut pengelompokan wong. Pada
An. A telah dilakukan pengkajian data subjektif dan objektif mengenai
pertumbuhan dan perkembangan anak. Melalui metode fishbone, ditemukan
beberapa akar permasalahan di antaranya:

Methods Man
Kemampuan ibu dalam
menstimulasi Pengalaman ibu dengan
perkembangan anaknya anak pertama

Faktor pendidikan orang


tua
Pertumbuhan dan perkembangann

Lingkungan keluarga
yang belum paham
Masih minimnya untuk menstimulasi
pengetahuan ibu tentang perkembangan anak
pertumbuhan dan
perkembangan anak

Material Environmen
t

Kurniawan et all (2016) melakukan penelitian dengan judul Sistem


Monitoring Perkembangan Anak Berbasis Denver Development Screening Test
(DDST / Denver II) hasil penelitian menunjukan bahwa pemantauan tumbuh
kembang secara manual (papper) maupun aplikasi berbasis DDST II didapatkan
hasil yang akurat terhadap pemantauan tumbuh kembang. pemantauan tumbuh
kembang yang dilakukan oleh ibu dari An. A ke petugas kesehatan merupakan
suatu bentuk sikap kepedulian yang tinggi. Menurut William K. Frankenburg &
Dodds (1967) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa DDST II
merefleksikan persentase kelompok anak usia tertentu yang dapat menampilkan
tugas perkembangan tertentu, untuk kemudian dibandingkan dengan
perkembangan anak yang seusia. DDST menilai 4 sektor perkembangan, yaitu:
1. Personal Sosial (penyesuain diri di masyarakat dan kebutuhan pribadi). 2.
Motorik Halus - Adaptif (koordinasi mata- tangan, kemampuan memainkan dan
menggunakan benda - benda kecil, serta pemecahan masalah). 3. Bahasa
(mendengar, mengerti dan menggunakan bahasa). 4. Motorik Kasar, yaitu duduk,
berjalan, dan melakukan gerakan umum otot besar. Berdasarkan pengukuran
DDST II An. A berada dalam kelompok normal dan dapat mencapai keterampilan
yang ada pada seusianya.
Adapun jenis permainan yang dapat diberikan pada anak prasekolah untuk
menstimulasi tumbuh kembangnya adalah alat permainan edukatif (APE).
Menurut Soebachman (2012) salah satu ciri dan fungsi APE adalah melatih
konsep dasar dengan mengenal bentuk, warna, besaran, juga melatih motorik
halus hal ini bertujuan untuk membuat anak terbiasa menghasilkan suatu karya,
misalnya lewat permainan rancang bangun. Salah satu contoh APE bagi anak
adalah permainan puzzle, anak diminta untuk menyusun potongan-potongannya
agar menjadi utuh.
Berdasarkan hasil pengukuran berat badan An. A 16 kg dan tinggi
badannya adalah 103 cm. Mengacu pada tabel baku rujuan status gizi anak
perempuan dan anak laki – laki usia 0 – 69 bulan menurut berat badan dan umur
(BB/U) WHO / NCBS rentang nilai An. A berada dalam batas normal. Menurut
Hidayat (2011), pertumbuhan masa pra sekolah pada aspek fisik yaitu berat badan
mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya kurang lebih 2-3 kg, kelihatan kurus
akan tetapi aktivitas motorik tinggi, di mana system tubuh sudah mencapai
kematangan seperti berjalan, melompat dan lain-lain. Dari segi tinggi badan anak
khususnya pada usia mendekati 5 tahun, terjadi penambahan usia rata-rata dua
kali lipat dari tinggi badan waktu lahir dan kurang lebih 6-8cm bertambah setiap
tahunnya.
Dalam penatalaksanaan ibu An. A telah diberikan edukasi untuk tetap
menstimualsi serta mengawasi perkembangan anakanya dirumah. Sedini mungkin
pemantauan perkembangan dapat dilakuakn oleh orang tua. Diketahui bahwa usia
An. K merupakan masa Golden Age. Pada saat ini pertumbuhan dan
perkembangan mengalami peningkatan yang pesat. Golden age merupakan
masa yang sangat penting untuk memperhatikan tumbuh kembang anak
secara cermat agar sedini mungkin dapat terdeteksi apabila terjadi
kelainan. Selain itu, penanganan kelainan yang sesuai pada masa golden age
dapat meminimalisasi disfungsi tumbuh kembang anak sehingga mencegah
terjadinya disfungsi permanen (dr. atien, nur chamidah ).

BAB V
PENUTUP

Pada tahap akhir pembuatan Laporan Asuhan Kebidanan anak pra sekolah
pada an. A Normal di Puskesmas Matesih
A. Kesimpulan
Dalam pelayanan bagi anak Prasekolah saat ini, telah menerapkan
layanan tumbuh kembang dengan menggunakan metode Stimulasi
Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). yang sudah di
sepakati dan terdapat pada buku KIA tahun 2016.
B. Saran
menyarankan kepada Puskesmas Matesih sebagai pemegang kebijakan
melalui bidan desa untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan petugas pelaksana dalam pelaksanaan stimulasi deteksi
dini tumbuh kembang balita dan anak prasekolah diantaranya dengan
menyelenggarakan kegiatan penyuluhan kesehatan, pembinaan,
pembimbingan dan pelatihan mengenai cara pelaksanaan kegiatan,
tugas dan peran petugas pelaksana.

DAFTAR PUSTAKA

Adriana D., 2011. Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain Anak. Jakarta: Salemba
Medika

Axton, Sharon & Fugate, Terry. (2014). Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik
Ed.3. Diterjemahkan Oleh IDAI. Jakarta: EGC.
Betz, Cecily L., Sowden, Linda A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi
5. Jakarta: EGC.

Departemen Kesehatan RI. 2009. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).


Jakarta: Depkes RI

Depkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan
pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.

Depkes. (2014). Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi Dini dan Intervensi


Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.
Jakarta : Depkes RI

Endah PN, Daroham, dan Mutiatikum. (2009). Penyakit ISPA Hasil Riskesdas di
Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan Supplement 2009: 50-55

Hidayat, A.A. (2011). Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan


[Link] : Salemba Medika

IDAI. 2013. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia: Asuhan Nutrisi


Pediatrik. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia

Irianto K. (2014). Ilmu Kesehatan Anak (Pediatri). Bandung: Alfabeta.

Irmawati. (2007). Analisis Hubungan fungsi manajemen pelaksanaan kegiatan


stimulasi deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) dengan
cakupan SDIDTK Balita dan Anak Pra Sekolah di Puskesmas Kota
Semarang. Universitas Diponegoro Semarang.

Kementerian Kesehatan RI. (2012). Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran


Pernapasan Akut. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan

Koteles,Ferenc.2018. Inhaled peppermint,rosemary and eucalyptus essential oils


do notchcange spirometry in healty individuals. Physiology and Beaviour
Vol 194: 319-323
[Link].2016. Sistem Monitoring Perkembangan Anak Berbasis Denver
Development Screening Test (ddst/Denver II). Teknoin Vol.22 No.4
Desember : 305-314.

Lissiman,Elizabeth. 2014. Garlic for the common cold. Cohrane Database of


Systematic Review [Link] 11

Narendra, M.S, dkk. 2002. Buku Ajar I Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Edisi
Pertama IDAI. Jakarta : Sagung Seto

Patmonodewo. (2010). Permainan Edukatif. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Potts & Mandleco. 2012. Pediatric Nursing; Caring for Children and Their
Families. 3rd ed. Clifton Park. New York.

Profil Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Dinkes Republik Indonesia

Santrock, John W. (2011). Perkembangan Anak Edisi 7 Jilid 2. (Terjemahan:


Sarah Genis B) Jakarta: Erlangga.

Syamsuardi.(2012). Penggunaan Alat Permainan Edukatif (APE) di Taman


Kanak-Kanak Paud Polewali Kecamatan Tanete Rattang Barat Kabupaten
Bone. Publikasi, Volume II No. 1

Suwariyah, Puji (2013). Test Perkembangan Bayi/Anak Menggunakan DDST.


Jakarta : TIM

Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak


Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC

Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Epidemologi, Penularan, Pencegahan, dan


Pemberantasannya. Erlangga. Jakarta

Wong, D, dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Volume 1. Penerbit Buku
Kedokteran EGC : Jakarta

Yusuf, S. (2011). Psikologi perkembangan anak dan remaja: Remaja Rosdakarya.

Anda mungkin juga menyukai