Modul Regulasi Emosi untuk Orang Tua
Modul Regulasi Emosi untuk Orang Tua
1
DAFTAR ISI
A. Abstraksi 1
B. Daftar Isi 2
C. Pendahuluan 3
D. Landasan Teoritis 7
G. Prosedur Pelatihan
H. Jadwal Pelaksanaan 52
I. Daftar Pustaka 54
2
PENDAHULUAN
3
Traumatic Stress Network, 2009). Mereka lupa bahwa orangtua adalah orang yang
paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan,
peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar mengenal aturan di lingkungan
keluarga dan masyarakat.
Pelaku kekerasan pada anak dapat dikelompokkan menjadi menjadi tiga yaitu
orangtua, keluarga, atau orang yang dekat di lingkungan rumah. Kekerasan terhadap
anak dinamakan child abuse dimana perlakuan ini menjadikan anak tidak berdaya
sehingga memiliki dampak negatif terhadap perkembangan psikologisnya. Adapun
jenis kekerasan pada anak meliputi kekerasan fisik dan kekerasan emosional (Child
Welfare Information Gateway, 2013).
Kekerasan fisik adalah kekerasan yang menyebabkan adanya luka fisik yang
didapatkan seorang anak karena tendangan, pukulan, tinju, tamparan dan sentuhan
lainnya yang menyakitkan (Buss dan Perry, 1992). Sedangkan kekerasan emosional
yaitu kekerasan atau penganiayaan yang menyakiti hati, dan kejiwaan serta
menyebabkan emosi menjadi tidak stabil. Bentuk kekerasan emosional berupa
ejekan, degradasi, perusakan harta benda, penyiksaan atau perusakan terhadap
hewan peliharaan, kritik yang berlebihan, tuntutan yang tidak pantas, pemutusan
komunikasi dan pelabelan atau penghinaan (Nindya & Margaretha, 2012).
Hasil penelitian Muarifah dan Wati di Yogyakarta (2018) menemukan bahwa
23 % anak mengalami kekerasan fisik dan 21 % kekerasan non fisik. Alasan orang tua
melakukan kekerasan terhadap anak adalah untuk pendisiplinan 49 % dan anak
dianggap bandel 30 %.
Berdasarkan preeliminary study yang dilakukan oleh Muarifah dan Wati (2018)
diperoleh hasil bahwa faktor penyebab terjadinya kekerasan orang tua terhadap
anak ialah pengelolaan emosi orangtua, sikap orangtua terhadap pengasuhan, dan
perilaku orangtua saat mengasuh anak. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur
4
dalam regulasi emosi. Chen (2016) mengatakan bahwa regulasi emosi adalah proses
seorang individu dalam mengatur dan mengubah emosi dirinya atau orang lain.
Individu mampu tetap tenang ketika berada di bawah tekanan dengan memiliki
keterampilan regulasi emosi (Reivich & Shatte, 2002). Orang tua perlu dibekali
keterampilan dalam hal meregulasi emosinya sehingga orang tua mampu menilai
emosi yang dirasakan, mengatur emosi, dan mengungkapkan emosi positif dan
negatif secara tepat.
Regulasi emosi mempunyai tiga aspek penting dalam pembentukan perilaku.
Aspek pertama yaitu penilaian emosi. Orang tua dilatih untuk menyadari emosi
negatif yang dirasakannya, mengidentifikasinya, dan menginterpretasikan emosi
negatif sehingga orang tua mampu menyikapi emosi yang muncul dengan tepat.
Aspek kedua yaitu pengaturan emosi. Hal ini dapat dilakukan dengan latihan dan
relaksasi. Menurut Gross dan Thompson (2006) bahwa latihan dan relaksasi
merupakan cara untuk mengatur emosi yang negatif. Aspek ketiga yaitu
pengungkapan emosi. Orang tua diminta untuk mendeskripsikan apa yang ia
pikirkan dan rasakan sehingga ditemukan cara yang tepat untuk mengungkapkan
emosi.
Berdasarkan preliminary study, kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap
anak berangkat dari anggapan bahwa anak nakal, bandel, dan tidak bisa diatur.
Anggapan tersebut mempengaruhi kondisi emosi orang tua sehingga melakukan
kekerasan terhadap anak misalnya mencubit, menjewer, dan membentak. Setelah
melakukan tindak kekerasan orang tua menyesali tindakan tersebut.
Ketidakmampuan orangtua mengelola emosi merupakan salah satu penyebab
mereka melakukan kekerasan terhadap anak.
Pelaku kekerasan perlu mendapatkan pelatihan keterampilan meregulasi
emosi sehingga perilaku kekerasan tersebut tidak terulang. Jika hal ini tidak segera
5
dicarikan jalan keluarnya, maka titik kehancuran suatu bangsa akan terjadi, sehingga
merendahkan martabat manusia (Ginsburg, dkk 1998; Planapl, 1999).
Batasan masalah pada penelitian ini memfokuskan pada pengembangan
modul regulasi emosi untuk menurunkan perilaku kekerasan orang tua terhadap
anak. Pengembangan modul regulasi emosi ini perlu dilakukan mengingat belum
tersedianya modul serupa yang ditujukan khusus untuk orangtua yang melakukan
kekerasan kepada anak usia 2-7 tahun. Peneliti melihat pengembangan modul
regulasi emosi untuk orangtua ini penting dan perlu disegerakan (urgent) sebagai
salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.
Pengembangan modul ini melibatkan responden yang berdomisili di Yogyakarta.
Batasan masalah pada penelitian ini memfokuskan pada pengembangan
modul Regulasi Emosi Untuk Menurunkan Perilaku Kekerasan Orangtua Terhadap
Anak. Penelitian ini melibatkan subjek dari wilayah yang memiliki tingkat kekerasan
terhadap anak relatif tinggi berdasarkan penelitian tahap 1.
6
LANDASAN TEORITIS
A. Regulasi Emosi
1. Definisi Regulasi Emosi
Emosi muncul ketika individu sedang berproses menuju tujuan tertentu.
Emosi ini terlibat dalam perubahan perasaan (sedih, senang, takut), ekspresi
(tersenyum, berteriak, cemberut), dan apa yang dilakukan tubuh dan otak
(berkeringat, detak jantung, aktivitas neuron) (Urry & Gross, 2010). Peka
terhadap pengalaman-pengalaman emosi merupakan syarat bagi seseorang
untuk dapat meregulasi emosinya. Misalnya, seseorang mengenal luaran emosi
dari pengalaman kehilangan, ketidakadilan, keberhasilan, dll. Hal ini berkaitan
dengan kecenderungan individu tersebut dalam bersikap, mengeksrepsikan
emosinya dan implikasinya bagi diri sendiri dan orang lain (Manstead &
Fischer, 2000).
Regulasi emosi merupakan proses intrinsik dan ekstrinsik yang
bertanggungjawab atas monitoring, evaluasi, dan memodifikasi reaksi emosi
untuk mencapai suatu tujuan (Thompson, 1994). Seseorang yang mampu
mengontrol emosi dan usaha tersebut sesuai dengan tujuan dan situasi maka
individu dapat dikatakan memiliki regulasi emosi yang adaptif. Sebaliknya,
individu yang kesulitan mengontrol emosi sesuai dengan tujuan maka disebut
memiliki disregulasi emosi (Morelen, Shaffer & Suveg, 2014).
Regulasi emosi merupakan hal yang berbeda dari coping, regulasi mood,
mekanisme bertahan, dan regulasi rasa (Gross, 1998). Cole, Martin, dan
Dennis (dalam Eisenberg & Spinrad, 2004) mengatakan bahwa regulasi emosi
merupakan perubahan yang diasosisasikan dengan aktivasi emosi. Hal ini
meliputi perubahan emosi itu sendiri dan proses psikologis. Individu dengan
regulasi emosi dapat memilih emosi yang dirasakan, kapan dan bagaimana
7
mengalami emosi tersebut dan bagaimana mengekspresikannya. Proses
regulasi emosi ini sendiri dapat terjadi secara otomatis atau terkontrol, sadar
atau tidak sadar dan berdampak pada satu atau lebih hal dalam proses
generalisasi emosi (Gross, 1998).
Regulasi emosi dalam penelitian ini adalah kemampuan individu untuk
mengontrol emosi dan mengekspresikannya baik secara otomatis/terkontrol,
sadar atau tidak sadar untuk mencapai tujuan.
2. Proses Regulasi Emosi
Gross (2001) menyebutkan lima tingkat proses berdasarkan model proses
regulasi diri. Tahapan terjadinya regulasi emosi diri ini adalah sebagai berikut:
a) Situation selection
Merupakan tahapan dimana individu memilih emosi yang mungkin akan
muncul pada situasi tertentu. Emosi yang dikenal ini merupakan dasar
dari sikap yang akan diambil selanjutnya. Misalnya seseorang cenderung
memilih pergi dengan teman yang menyenangkan semalam sebelum
ujian, daripada belajar di detik-detik terakhir dengan teman yang
pencemas.
b) Situation modification
Pada tahap ini individu mengubah atau memodifikasi situasi di sekitar
untuk mempengaruhi kondisi emosinya. Misal, ketika teman bertanya
mengenai kesiapan untuk menghadapi ujian, individu cenderung meminta
untuk membicarakan hal lain.
c) Attentional deployment
Pada tahap ini individu hanyak fokus terhadap aspek tertentu sehingga
emosinya lebih terpusat. Atau mungkin individu mengalihkan
perhatiannya pada hal lain sama sekali.
d) Cognitive change
Individu mencoba mengubah cara berpikir mengenai situasi yang terjadi
atau melihat situasi tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Dengan
8
mengubah sudut pandang ini individu akan memiliki alternatif emosi
yang lain. Misalnya, ketika makan malam bersama teman individu
mengingat kembali mengenai tes di keesokan harinya. Maka individu
tersebut mencoba menenangkan diri dan membuat keyakinan bahwa tes
tersebut adalah hal yang biasa dan bukan merupakan instrumen untuk
menilai baik burung seorang manusia.
e) Response modulation
Pada tahapan ini individu mengubah perasaan, sikap, perilaku dan
fisiologi setelah respon multisistem sedang berlangung. Misalnya
menyembunyikan rasa malu ketika gagal dalam tes.
3. Faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi
Regulasi diri terdari dua proses yang bekerjasama untuk mengatur
intensitas, durasi dan ekspresi emosi yaitu proses internal dan eksternal
(Morelen dkk, 2014). Dalam proses internal misalnya, terdapat reaksi
fisiologis dan aktifitas kognisi sementara dalam proses eksternal ekspresi
emosi, ekspresi wajah, perilaku. Disregulasi emosi bukan berarti seseorang
tidak memiliki regulasi emosi sama sekali. Disregulasi emosi terjadi ketika
individu mempersepsikan bahwa emosinya telah memuncak sehingga
mengakibatkan perilaku yang tidak sesuai, membingungkan dan mengganggu
tujuannya (Morelen dkk, 2014). Berikut ini merupakan faktor-faktor yang
mempengaruhi regulasi emosi antara lain
a) Pola asuh orangtua Orangtua yang mengasuh dengan disregulasi emosi
(misalnya mendisiplinkan anak dengan bentuk hukuman) akan berpengaruh
terhadap kemampuan anak dalam meregulasi emosinya sendiri (Schwartz,
Thigpen, dan Montgomery, 2006). Semakin tidak mampu seorang
pengasuh meregulasi emosinya (disregulasi emosi) maka semakin tinggi
pula risiko anak mengalami perilaku disruptif (Zachary, Jones, McKee,
Baucom dan Forehand, 2017). Hal ini akan menjadi kondisi resiprokal
dimana orangtua mengekspresikan emosi negatif kemudian ditanggapi
9
dengan negatif oleh anak dan selanjutnya orangtua akan menunjukkan
ekspresi emosi negatif yang lebih tinggi lagi.
b) Usia
Urry & Gross (2010) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa lanjut usia
justru memiliki regulasi emosi yang lebih baik atau meningkat seiring
bertambah usianya. Meskipun secara fisik lansia mengalami degradasi
namun mereka mengalami kesejahteraan (well-being) dalam usia tersebut.
Pada usia ini lansia mendapatkan well-being karena berfokus pada proses
regulasi emosi tertentu untuk menyesuaikan perubahan-perubahan internal
maupun eksternal di sekitarnya. Salah satu hal yang mempengaruhi
baiknya regulasi emosi pada lansia adalah berkurangnya aktivasi amigdala
pada otak dimana bagian ini berfungsi untuk memunculkan emosi negatif.
Jika bagian ini berkurang aktivitasnya maka emosi negatif pun akan
berkurang.
c) Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi kemampuan regulasi
emosi seseorang. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Johnsen dan
Rydstedt (2013) menemukan bahwa individu yang melihat lingkungannya
sebagai tempat yang menyenangkan maka cenderung memiliki regulasi
emosi yang baik dan memiliki emosi positif seperti bahagia.
d) Pengaruh Pandangan dari Luar (Pelatihan)
Regulasi emosi dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (Johnsen &
Rydstedt, 2013). Dalam hal ini aspek yang paling dominan adalah
mengamati keadaan di lingkungan individu kemudian memproduksi
kembali apa yang dilihat ke dalam perilaku. Kondisi tersebut dapat
dikaitkan dengan teori observasional Bandura yang terdiri dari empat
langkah antara lain atensi, retensi, pembentukan perilaku, dan motivasi.
Pelatihan merupakan salah satu upaya untuk mengubah kognitif dan
perilaku seseorang. Dalam pelatihan, individu mendapatkan pemaparan
10
informasi baru sehingga dapat melengkapi pengetahuan yang belum di
dapat sebelumnya. Selain itu, dalam pelatihan individu juga diajak untuk
memunculkan kesadaran tentang issu tertentu kemudian memulai
membentuk kebiasaan baru yang lebih positif.
Pelatihan regulasi emosi menjadi salah satu upaya untuk membangkitkan
kesadaran individu terhadap dinamika emosinya sekaligus melakukan
pembiasaan baru agar lebih terampil dalam mengelola emosi. Dari
pelatihan tersebut kemampuan individu dalam meregulasi emosi dapat
meningkat.
4. Regulasi Emosi pada Pengasuhan
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa disregulasi pada ibu memiliki
hubungan dengan supresi emosi pada anak. Kondisi tersebut dapat
memprediksi disregulasi emosi anak ketika berada pada usia remaja (Morelen
dkk, 2014). Orangtua yang sedang marah cenderung memberikan respon yang
negatif terhadap anaknya dan percaya bahwa anak membutuhkan ketegasan.
Kondisi seperti ini riskan membuat orangtua melakukan kekerasan terhadap
anak untuk merealisasika ketegasan yang diinginkan. Tentunya kekerasan
tersebut akan berdampak lebih jauh pada perkembangan psikologis dan
emosinya (Fabes, Leonard, Kupanoff & Martin, 2001).
Bagaimana orangtua menunjukkan ekspresi emosinya akan berkaitan
dengan bagaimana anak mengobservasi, belajar dan mengalami emosi itu
sendiri. Dari sini akan tercipta dua kategori suasana emosi pengasuhan yaitu
mendukung dan tidak mendukung. Dukungan emosi orangtua yang
mendukung akan membuat anak memahami dengan baik pengalaman
emosinya sendiri. Sedangkan orangtua yang tidak mendukung secara emosi
akan memberi kritikan bahkan mengukum emosi anak (Morelen dkk, 2014).
Penelitian yang dilakukan oleh Zachary dkk (2017) menunjukkan bahwa
semakin tidak mampu seorang pengasuh meregulasi emosinya (disregulasi
emosi) maka semakin tinggi pula risiko anak mengalami perilaku disruptif atau
11
menolak. Hal ini merupakan kondisi resiprokal karena ekspresi emosi
pengasuh atau orangtua akan bertimbal balik dengan respon anak. Ketika anak
menunjukkan perilaku disruptif seperti marah atau merusak properti dan
orangtua merasa tidak mampu untuk mengontrol kondisi tersebut maka
pengasuh atau orangtua akan merespon kembali dengan reaksi emosi yang
lebih besar.
Schwartz, Thigpen, dan Montgomery (2006) mengungkapkan bahwa
orangtua yang mengasuh dengan disregulasi emosi (misalnya mendisiplinkan
anak dengan bentuk hukuman) akan berpengaruh terhadap kemampuan anak
dalam meregulasi emosinya sendiri. Selain itu anak berisiko mengalami
masalah-masalah sosial, perilaku agresif dan tidak bisa berhubungan baik
dengan teman sebayanya.
12
Kekerasan pada Anak
13
fisik maupun non fisik dengan berbagai tujuan seperti membuat jera,
mengancam atau meluapkan emosi. Sedangkan dalam pola asuh
demokratis orangtua memberikan kasih sayang dan kebebasan pada
anak namun dengan aturan dan batasan yang jelas (Santrock, 2002).
Dalam hal ini dapat diasosiasikan bahwa kekerasan yang dilakukan
orangtua untuk mendisiplinkan anak tidak termasuk dalam pola asuh
demokratis.
Pola asuh otoriter atau pengasuhan dengan menggunakan
kekerasan dapat berdampak pada berkembangnya emosi negatif pada
anak (Chen, 2010). Anak yang tumbuh dalam pengasuhan otoriter sering
mendapat perlakukan kasar dan kurang mendapatkan kasih sayang
orangtua. Hal ini dapat menyebabkan anak memiliki perilaku agresif
dan kemampuan koping yang rendah terhadap emosi negatifnya. Pada
dasarnya orangtua yang otoriter menginginkan anak menjadi seperti apa
yang dimaui orangtua. Fataruba, Purwatiningsih dan Wardani (2009)
menemukan bahwa pola asuh berhubungan dengan tingkat kekerasan
pada anak. Dimana orangtua yang melakukan kekerasan pada anak
beranggapan bahwa melarang anak dengan cara memukul merupakan
cara yang paling ampuh.
Persepsi Orangtua terhadap Anak
Persepsi orangtua terhadap perilaku anak dapat mempengaruhi
respon orangtua dan dapat menjadi prediktor atas kekerasan orangtua
terhadap anak (Young, et al., 2018). Penelitian yang dilakukan oleh
Muarifah dan Wati (2018) menunjukkan bahwa salah satu penyebab
orangtua melakukan kekerasan pada anak adalah adanya anggapan
bahwa anak nakal dan tidak bisa diatur. Sementara Young et al (2018)
menemukan bahwa orangtua yang mendeskripsikan anak secara negatif
14
lebih rentan untuk melakukan kekerasan dibandingkan orangtua yang
mendeskripsikan anak secara positif.
Persepsi merupakan salah satu fungsi kognitif yang melibatkan
pemrosesan informasi melalui panca indera (Wade & Tavris, 2007).
Persepsi negatif terhadap anak dimulai ketika orangtua melihat perilaku
anak yang tidak sesuai dengan harapan (Young, et al., 2018). Informasi
tersebut kemudian diproses di dalam otak dan mempengaruhi
munculnya emosi tertentu seperti kemarahan, kesedihan atau
kekecewaan. Emosi tersebut yang menjadi dasar atas kekerasan yang
dilakukan orangtua terhadap anak baik dalam bentuk verbal maupun
non-verbal.
Pengendalian Emosi Orangtua
Pengendalian emosi orangtua berkaitan erat dengan persepsi
orangtua terhadap anak. Telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika
orangtua melihat perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan maka
informasi tersebut diproses lebih lanjut di otak. Salah satu area otak
yang terlibat dalam emosi adalah hipotalamus di mana hipotalamus
merupakan salah satu bagian yang termasuk dalam sistem limbik (Wade
& Tavris, 2007). Sistem limbik berkaitan dengan munculnya perasaan
marah dan takut. Kontrol emosi atau regulasi emosi dikelola oleh
struktur otak yang bernama amygdala. Struktur amygdala ini
bertanggungjawab atas respon emosional awal terhadap informasi
sensorik.
Hal di atas menjelaskan bagaimana proses munculnya emosi
marah pada orangtua dimulai dari persepsi negatif karena melihat
stimulus berupa perilaku anak. Jika persepsi yang dimiliki negatif, maka
beberapa struktur dalam otak akan mendukung persepsi tersebut secara
negatif pula. Misalnya orangtua mempunya persepsi bahwa anak nakal
15
maka persepsi ini akan diproses dalam hipotalamus menjadi emosi
negatif dan berpengaruh terhadap kontrol diri pada amygdala. Bunch,
Iratzoqui dan Watts (2018) mengatakan bahwa rendahnya kontrol diri
berhubungan dengan tingginya tingkat kekerasan pada anak.
Penelitian Muarifah dan Wati (2018) mengungkapkan bahwa 90%
orangtua berpendapat bahwa kekerasan seharusnya tidak dilakukan pada
anak. Namun dari data yang terkumpul didapatkan informasi bahwa
orangtua tetap melakukan kekerasan pada anak baik secara verbal atau
non verbal. Hal ini dapat diartikan bahwa tindakan kekerasan yang
dilakukan orangtua merupakan respon emosional terhadap informasi
sensoris yang diterima.
b. Faktor Eksternal
Status Ekonomi Keluarga
Currie dan Wisdom (2010) melalui penelitiannya menemukan
bahwa kekerasan yang dilakukan pada anak mempunyai hubungan
dengan tingkat pendapatan dan tingkat pendidikan orangtua. Anak yang
memiliki orangtua dengan tingkat pendapatan dan tingkat pendidikan
rendah lebih rentan mendapat kekerasan dibandingkan anak yang
berasal dari keluarga menengah ke atas. Hal ini berkaitan dengan jenis
pekerjaan yang dimiliki orangtua. Hal tersebut senada dengan penelitian
Sampasa-Kanyinga, Nilsen, dan Colman (2018) yang menemukan
bahwa orangtua yang tidak puas dengan pekerjaan, memiliki posisi
pekerjaan yang tidak aman dan memiliki persepsi atas rendahnya
dukungan sosial akan rentan melakukan kekerasan pada anak.
Pengaruh Lingkungan
Lingkungan disebutkan sebagai salah satu faktor adanya
kekerasan (Fitriana, Pratiwi dan Sutanto, 2015). Lingkungan dengan
tingkat kekerasan tinggi akan membangun perspektif pada masyarakat
16
bahwa melakukan kekerasan untuk membuat anak patuh adalah hal yang
wajar. Individu yang tinggal di lingkungan dimana banyak terjadi
kekerasan maka individu tersebut rentan melakukan atau mengalami
kekerasan itu sendiri.
Individu secara langsung maupun tidak langsung terpengaruh
ketika melihat orang lain melakukan kekerasan serupa. Selain itu,
individu akan menganggap kekerasan menjadi hal yang wajar untuk
dilakukan, Misalnya di Kecamatan Gedongtengen memiliki tingkat
kekerasan paling tinggi dibandingkan tiga kecamatan lain yang terlibat
dalam penelitian pendahuluan.
Hal tersebut dapat dikaji lebih dalam dengan melihat lingkungan
dan kondisi di Kecamatan tersebut. Kecamatan ini terdiri dari kelurahan
yaitu Kelurahan Sosromenduran dan Kelurahan Pringgokusuman. Di
sekitar tempat strategi ini terdapat beberapa lokalisasi seperti Pasar
Kembang dan Bong Suwung. Pratama (2016) menemukan bahwa di
sekitar Bong Suwung tersebut tinggal preman-preman dan gali-gali yang
identik dengan kekerasan. Hal ini disebabkan karena tempat ini
merupakan lokalisasi prostitusi kelas menengah ke bawah sehingga
konsumen atau pemakai merupakan buruh dan kuli.
Tingkat Pendidikan Orangtua
Orangtua yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi cenderung
mengetahui lebih banyak informasi tentang pengasuhan sehingga
orangtua lebih mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dan tidak
pada anak. Seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh Currie dan
Wisdom (2010) menemukan bahwa tingkat pendidikan mempunyai
korelasi negatif dengan tingkat kekerasan pada anak. Terlebih jika
dikaitkan dengan peran ibu sebagai pengasuh dan tempat pendidikan
utama bagi anak. Ibu yang memiliki pendidikan lebih tinggi mampu
17
memberikan stimulus dan perlakuan yang lebih baik pada anak
dibandingkan ibu yang memiliki pendidikan lebih rendah.
Penelitian yang dilakukan oleh Ajdukovic, Rajter, dan Rezo
(2018) menemukan bahwa ibu dengan pendidikan rendah memiliki
tingkat stress yang lebih tinggi dibandingkan ibu dengan pendidikan
tinggi. Stress tersebut berkaitan dengan besarnya pendapatan yang
diterima, relasi dengan orang lain dan dukungan sosial yang diterima.
Kondisi tersebut membuat ibu dengan pendidikan rendah rentan untuk
melakukan kekerasan pada anak.
3. Dampak Kekerasan pada Anak
Anak yang mengalami kekerasan berarti mendapatkan trauma di masa
paling kritis dalam perjalanan hidupnya yaitu masa dimana ia membangun
persepsi tentang dirinya, orang lain dan dunia. Trauma ini merupakan luka
yang berdampak buruk bagi anak tersebut dalam jangka waktu yang panjang
hingga ia dewasa (Sweeney, 1995). Lane dkk (2011) mengatakan bahwa
kekerasan pada anak dapat diasosiasikan dengan keadaan cidera atau bahkan
kematian. Banyak anak yang kehilangan nyawa karena perilaku kekerasan ini.
Ibu yang menggunakan kekerasan verbal dalam pengasuhan dapat
berimplikasi pada masalah perilaku dan emosi anak. Secara psikologis, anak
yang tumbuh dengan kekerasan verbal cenderung mengalami kesulitan dalam
penyesuaian diri, menyalahkan diri sendiri dan emosi labil (Moore & Pepler,
2006). Perkataan atau opini negatif akan terinalisasi oleh anak sehingga anak
menganggap bahwa pendapat tersebut adalah benar dan melihat dirinya
sebagai sosok yang negatif. Hal ini dapat semakin merendahkan harga diri
pada anak tersebut (Mackowicz, 2013).
18
KUALIFIKASI TRAINER DAN CO-TRAINER
1. Kualifikasi Trainer
a. Psikolog atau Mahasiswa/i Magister Profesi Psikologi
b. Memiliki pengalaman sebagai trainer pelatihan dengan tema Parenting
c. Memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang Psikologi Keluarga dan
Parenting
2. Kualifikasi Co-Trainer
a. Mahasiswa/i psikologi
b. Memiliki pengalaman sebagai co-trainer dalam pelatihan
PERSYARATAN PESERTA
Modul ini ditujukan bagi orang tua yang memiliki anak berusia 2-7 tahun,
pernah melakukan kekerasan terhadap anak, dan belum pernah mengikuti pelatihan
sejenis sebelumnya.
PETUNJUK UMUM
1. Waktu pelaksanaan
Pelatihan ini terdiri dari 6 sesi yang dibagi dalam 2 hari. Alokasi waktu untuk
masing-masing hari adalah 4-5 jam.
2. Tata tertib
a. Kehadiran
Peserta diwajibkan datang tepat waktu karena keterlibatan dalam proses sejak
awal kegiatan akan membantu efektifitas pelatihan. Peserta juga diwajibkan
untuk mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir kegiatan, sehingga tidak ada
sesi kegiatan yang tertinggal
b. Peserta disarankan mengenakan baju yang nyaman dipakai agar dapat
bergerak secara leluasa
c. Peserta yang berpartisipasi dalam pelatihan ini dalam keadaan sehat
3. Tempat yang direkomendasikan untuk digunakan adalah tempat yang nyaman,
hening, kedap suara dan bertemperatur sejuk supaya peserta lebih terkondisikan.
19
BLUE PRINT PELATIHAN REGULASI EMOSI
Strategi Definisi Operasional Nama Sesi Tujuan Indikator Pencapaian
Membuka wacana dan “Kenali dan Kelola [Link] pengertian emosi, 1. Peserta mampu
Psikoedukasi
forum diskusi antarpeserta Emosi” jenis-jensi emosi dan perilaku menyebutkan jenis-jenis
pelatihan dan trainer kekerasan emosi dan mengidentifikasi
[Link] tentang kaitan antara perilaku apa yang termasuk
emosi dengan munculnya dalam kekerasan pada anak
perilaku kekerasan 2. Peserta mampu mengaitkan
[Link] faktor yang antara emosi negatif dan
mempengaruhi munculnya terjadinya perilaku kekerasan
perilaku kekerasan pada anak
[Link] pentingnya memiliki 3. Peserta berpartisipasi
keterampilan mengelola emosi secara antusias dalam
mengikuti pelatihan
20
4. Memberikan pemahaman pada anak
tentang bagaimana cara 2. Peserta menunjukkan
melakukan komunikasi positif kesungguhan untuk
dengan anak memperbaiki cara
5. Memberikan pemahaman komunikasi dan cara
tentang pengaruh cara merespon anak
berkomunikasi terhadap respon
anak
Mengenali dan memilih ”Mari Berkenalan 1. Mengidentifikasi jenis-jenis 1. Peserta sadar dan mampu
Situation selection
situasi yang menimbulkan dengan Emosi” emosi mengidentifikasi situasi
emosi positif 2. Mengidentifikasi perubahan- yang biasanya memicu
perubahan yang terjadi ketika emosi negatif
mengalami berbagai jenis emosi
(seperti perubahan fisik, kognitif,
perilaku)
3. Memahami faktor-faktor yang
menyebabkan munculnya emosi
negatif
Mengubah situasi yang “Apa yang Aku 1. Mengidentifikasi hal atau 1. Peserta mampu
Situation
dapat menimbulkan emosi dan Dia Suka” kegiatan yang disukai untuk menyebutkan hal yang
21
modification negatif menjadi situasi membantu mengubah situasi disukai
yang lebih menyenangkan yang berpotensi memunculkan 2. Peserta mampu melakukan
melalui modifikasi emosi negatif menjadi situasi simulasi berpasangan untuk
aktivitas yang lebih positif memanfaatkan hal yang
Mengalihkan perhatian 2. Memanfaatkan hal atau kegiatan disukai sebagai aktivitas
Attentional
dari hal yang yang disukai untuk mengubah pengalih
deployment
menimbulkan emosi situasi atau mengalihkan
negatif perhatian dari hal yang memicu
emosi negatif
Mengubah pikiran negatif “Think Positive!” 1. Mengenal karakter-karakter 1. Peserta mampu membuat
Cognitive change
menjadi pikiran positif khas/perilaku anak yang sering alternatif-alternatif pikiran
memicu perasaan tidak positif dari persepsi
menyenangkan pada orang tua negatifnya terhadap anak
2. Membuat alternatif pikiran- 2. Peserta mampu
pikiran positif dari perilaku yang menyebutkan kelebihan-
dimunculkan oleh anak sehingga kelebihan yang dimilki anak
berdampak pada perlakuan yang
lebih positif kepada anak
Melakukan aktivitas “Relaksasi Otot 1. Peserta bersama-sama ikut serta 1. Peserta mengikuti praktik
Response
adaptif sebagai respon dan Relaksasi dalam mempraktekkan teknik relaksasi dengan sungguh-
22
modulation perubahan (fisik, Kesadaran Emosi” relaksasi yang sudah disampaikan sungguh
psikologis, perilaku) oleh trainer 2. Peserta merasa nyaman
karena munculnya emosi 2. Peserta merasa nyaman dengan setelah melakukan relaksasi
negatif dirinya dan meredakan
ketegangan otot-otot
23
RAPPORT BUILDING
“BLOW WIND BLOW”
A. Pengantar
Sesi rapport building dilakukan untuk memulai hubungan dan komunikasi
yang baik antara trainer dan sesama peserta pelatihan. Sesi rapport building ini
dapat dianalogikan sebagai membangun pondasi sebuah bangunan dimana pondasi
bangunan yang kuat dapat menjadi dasar pijakan dari material yang disusun di
atasnya. Begitu pula jika hubungan dan komunikasi yang baik terjalin di antara
person yang terlibat dalam pelatihan, maka materi yang akan disampaikan selama
pelatihan akan diproses dengan baik. Pada umumnya para peserta belum saling
mengenal di awal sesi pelatihan. Untuk itu, trainer diharapkan dapat mengajak
seluruh peserta untuk terlibat aktif dalam sesi rapport building ini sehingga
performa peserta dapat seimbang (tidak terlalu dominan dan tidak terlalu pasif).
Keseimbangan performa peserta tersebut akan mendukung dinamika kelompok
selama pelatihan.
B. Tujuan
Sesi Rapport Building ini dilakukan dengan tujuan:
1. Mencairkan suasana
2. Membangun hubungan dan komunikasi yang baik antar peserta pelatihan dan
trainer
3. Mengenal nama satu sama lain serta kondisi emosi nya
4. Memberikan persiapan mental pada peserta pelatihan untuk mengikuti
rangkaian kegiatan
C. Prosedur Aktivitas
1. Trainer meminta semua peserta untuk berdiri membentuk lingkaran
2. Trainer meminta peserta untuk menyanyikan lagu balonku (boleh diganti
dengan lagu pilihan trainer/ peserta). Masing-masing peserta hanya
menyanyikan lagu perkata, lalu disambung ke peserta sampingnya sampai lagu
selesai. Lagu diawali dengan kata “balonku” dan diakhiri dengan kata “erat”.
24
3. Peserta yang mendapatkan kata “erat” terakhir dipersilakan berdiri di tengah
lingkaran.
4. Trainer memberi tugas kepada peserta yang berdiri di tengah lingkaran untuk
menyebutkan identitas diri (misal nama, asal, hobi, dll) dan menyebutkan
kondisi perasaan saai itu. Setelanjutnya peserta tersebut diminta untuk
menyebutkan ciri-ciri salah satu peserta lain yang ada di lingkaran. Sambil
berkata, “Blow Wind Blow angin bertiup ke arah yang memakai sepatu
hitam!”, peserta yang berdiri di tengah lingkaran melemparkan bola kepada
peserta lain yang memiliki ciri yang disebutkan tadi. Maka teman yang
memakai sepatu hitam tersebut mendapat giliran untuk maju ke tengah
lingkaran, menyebutkan identitas dan melakukan proses yang sama.
5. Begitu selanjutnya sampai semua peserta mendapatkan giliran.
6. Trainer mengajak peserta untuk mendiskusikan makna dari aktivitas Blow Wind
Blow. Makna aktivitas ini antara lain memahami kondisi emosi diri dan orang
lain, saling mengenal agar terjalin komunikasi yang baik, memberikan
perhatian pada orang lain di sekeliling kita.
D. Waktu
Waktu yang dibutuhkan untuk sesi ini adalah 15 menit.
E. Perlengkapan yang Dibutuhkan
1. Musik atau lagu yang disiapkan
2. Bola plastik
25
SESI I
“MARI BERKENALAN DENGAN EMOSI”
A. Pengantar
Sesi Mari Berkenalan dengan Emosi ini mengajak peserta untuk
mengenali berbagai macam emosi. Masyarakat pada umumnya akan
mengasosiasikan kata “emosi” dengan ekspresi negatif seperti marah, berang,
meledak-ledak, dsb. Padahal emosi merupakan sebuah kata yang general untuk
menyebutkan berbagai macam perasaan yang dialami oleh seseorang. Emosi
dapat berupa emosi positif maupun emosi negatif. Perasaan bahagia, haru, dan
bangga pun juga merupakan bagian dari emosi yang kurang dikenal
dibandingkan marah, mengamuk, dsb.
Peserta pelatihan tentunya telah memiliki berbagai pengalaman emosional
selama mengasuh putra-putrinya. Di sesi ini, trainer membantu peserta untuk
mengidentifikasi emosi apa saja yang pernah dialami tersebut. Mengenal dan
peka terhadap pengalaman-pengalaman emosi tersebut merupakan syarat bagi
seseorang untuk dapat meregulasi atau mengelola emosinya.
Apabila peserta telah mengetahui jenis-jenis emosi, gejala-gejala serta
dampak munculnya emosi negatif terhadap pengasuhan diharapkan peserta lebih
waspada jika hal-hal tersebut terjadi di kemudian hari. Menurut strategi regulasi
emosi Gross (1989) tahapan mengenali situasi-situasi yang berpotensi
menimbulkan emosi negatif ini termasuk dalam strategi situation selection,
karena dengan mengenali situasi tersebut orangtua mempunyai kesempatan untuk
mempersiapkan diri dan melakukan perlakuan antisipatif agar emosi negatif tidak
muncul.
B. Tujuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta diharapkan mampu
1. Mengidentifikasi jenis-jenis emosi berdasarkan pengalaman yang dimiliki
selama mengasuh anak
26
2. Mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi ketika mengalami
berbagai jenis emosi (seperti perubahan fisik, kognitif, perilaku)
3. Mengaitkan antara munculnya emosi negatif dengan perilaku negatif
(kekerasan) terhadap anak dalam pengasuhan
4. Mengidentifikasi faktor yang memicu munculnya emosi negatif hingga
menyebabkan perilaku kekerasan terhadap anak
C. Prosedur Aktivitas
Pada sesi ini pendekatan yang digunakan adalah refleksi dan diskusi terarah.
Trainer bertugas melemparkan pertanyaan-pertanyaan pemantik untuk menggali
pengalaman emosi para peserta.
1. Trainer mengawali sesi dengan memberikan pertanyaan kepada peserta.
Kalimat yang dikatakan misalnya, “Nah, di sesi ini kita akan berkenalan
dengan emosi. Apa yang Bapak/Ibu pikirkan ketika mendengar kata “emosi”?
Mari kita dengar pendapat dari anggota kelompok ini satu persatu!”.
2. Trainer mendorong para peserta untuk mengutarakan jawaban masing-masing
dan mempersilakan untuk saling berkomentar atas jawaban-jawaban tersebut.
Jika peserta sudah selesai menjelaskan tentang kata “emosi” maka trainer
membantu untuk membuat kesimpulan atas pengertian emosi berdasarkan
jawaban yang sudah diutarakan.
3. Trainer melemparkan pertanyaan berikutnya mengenai pengalaman emosi
yang pernah dirasakan peserta. Kalimat yang dikatakan misalnya, “Baik. Kita
telah berdiskusi mengenai kata “emosi”. Selanjutnya, mari kita saling
bercerita mengenai pengalaman emosional yang pernah Bapak/Ibu rasakan.
Pernah kah Bapak/Ibu merasa sangat emosional? Situasi dan kondisi seperti
apa pada saat itu yang membuat Bapak/Ibu merasa sangat emosional?”.
Trainer kembali mendorong peserta untuk menceritakan pengalaman
emosinya. Bisa disampaikan kepada peserta untuk saling terbuka dan tidak
malu dalam menceritakan pengalamannya. “Pendapat dan pengalaman
27
Bapak/Ibu akan kita jaga bersama kerahasiaannya. Oleh karena itu, silakan
Bapak/Ibu merasa bebas untuk bercerita di sini.”
4. Trainer merangkum jawaban peserta atas pertanyaan di nomor 3 dan
mengonfirmasi kembali kepada peserta yang bersangkutan. Kalimat yang
dikatakan misalnya, “Menurut apa yang saya dengar, Ibu A pernah merasa
sangat emosional ketika anak kembali dari bermain dengan baju berlumuran
lumpur padahal sudah mandi....... Benar begitu, Ibu?”. Konfirmasi dilakukan
pada beberapa peserta yang lain hingga dirasa cukup mewakili.
5. Trainer melemparkan pertanyaan berikutnya mengenai perubahan yang terjadi
saat mengalami situasi yang emosional. Kalimat yang dikatakan misalnya,
“Terima kasih Bapak/Ibu telah saling berbagi pengalaman emosional
tersebut. Selanjutnya saya ingin tahu, perubahan apa saja yang Bapak/Ibu
rasakan ketika merasa sangat emosional? Apakah ada perubahan fisik seperti
jantung berdebar, wajah memerah, atau yang lain? Atau kah ada perubahan
perilaku seperti melakukan hal yang tidak biasa terhadap anak? Mungkin ada
yang ingin memulai bercerita terlebih dahulu? Silakan...”. Trainer
memberikan waktu hingga seluruh peserta mendapat giliran untuk bercerita.
6. Trainer merangkum jawaban peserta atas pertanyaan di nomor 5 dan
mengonfirmasi kembali kepada peserta yang bersangkutan. Kalimat yang
dikatakan misalnya, “Menurut apa yang saya dengar, Bapak B merasa
jantung berdebar dan sesak napas ketika merasa sangat emosional. Selain itu
nada meninggi ketika menyampaikan perintah kepada anak.... Benar begitu,
Bapak?”. Konfirmasi dilakukan pada beberapa peserta yang lain hingga dirasa
cukup mewakili.
7. Trainer menyampaikan pertanyaan terakhir tentang keterkaitan antara
perasaan emosional terhadap perubahan perilaku yang mengarah pada
kekerasan terhadap anak. Kalimat yang dikatakan misalnya, “Berdasarkan
cerita pengalaman emosional Bapak/Ibu tadi, bagaimana Bapak/Ibu dapat
mengaitkan kondisi atau situasi emosional dengan perubahan perilaku
28
terhadap anak yang mengarah pada kekerasan?” Pada bagian ini trainer
hanya menunjuk 1 atau 2 peserta saja untuk menjawab sebagai perwakilan,
kemudian trainer menyimpulkan pendapat tersebut.
8. Setelah semua pertanyaan terjawab dan disimpulkan oleh trainer maka sesi
Mari Berkenalan dengan Emosi ini ditutup. “Terima kasih Bapak/Ibu yang
telah mengikuti sesi I ini dengan antusias. Selanjutnya kami mohon Bapak/Ibu
dapat menuliskan apa yang dirasakan atau dipikirkan ketika mengikuti sesi ini
di jurnal refleksi yang akan dibagikan oleh teman-teman tim.” Peserta diberi
waktu 15 menit untuk menulis dan istirahat.
D. Waktu
Waktu yang dibutuhkan dalam aktivitas ini adalah 60 menit.
E. Perlengkapan
1. Kursi sebanyak jumlah peserta yang disusun melingkar atau Letter U
2. Jurnal Refleksi
3. Lembar Observasi
4. Pulpen
29
SESI II
“KENALI DAN KELOLA EMOSI KITA”
A. Pengantar
Mengelola emosi merupakan sebuah proses yang melibatkan pemantauan,
evaluasi, dan memodifikasi reaksi emosi. Seseorang yang mampu mengelola
emosi sehingga menimbulkan reaksi yang bernilai positif maka individu dapat
dikatakan memiliki regulasi emosi yang adaptif. Sebaliknya, individu yang
kesulitan mengelola emosi sehingga menimbulkan reaksi yang bernilai negatif
maka individu tersebut memiliki disregulasi emosi.
Pada sesi ini trainer akan memaparkan materi mengenai apa itu emosi dan
bagaimana mengelola emosi. Pemaparan materi ini dilakukan untuk membuka
wacana bagi peserta serta menindaklanjuti hasil diskusi di sesi sebelumnya (Mari
Berkenalan dengan Emosi), hal ini biasa disebut dengan psikoedukasi bagi
peserta. Jika di sesi sebelumnya orangtua menyebutkan bahwa emosi hanya
berkaitan dengan ekspresi-ekspresi negatif maka di sesi ini akan disampaikan
bahwa emosi merupakan satu kata yang umum mencakup perasaan-perasaan
positif maupun negatif sehingga perlu bagi orang tua untuk menyadari emosi
yang muncul ketika mengasuh anak.
B. Tujuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta diharapkan mampu
1. Memahami pengertian emosi dan perilaku kekerasan
2. Memahami tentang jenis-jenis emosi dan bentuk-bentuk
2. Memahami tentang kaitan antara emosi dengan munculnya perilaku kekerasan
4. Memahami faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku kekerasan
[Link] pentingnya memiliki keterampilan mengelola emosi untuk
mencegah perilaku kekerasan terhadap anak
30
C. Prosedur Aktivitas
1. Fasilitator membantu trainer menyiapkan media yang dibutuhkan berupa
visualisasi dan audio presentasi. Selain itu juga memastikan seluruh peserta
membawa jurnal refleksinya masing-masing.
2. Trainer mengondisikan peserta untuk fokus pada sesi ini dan me-recall sedikit
apa yang sudah dilalui di sesi sebelumnya. Kalimat yang dikatakan misalnya,
“Baiklah Bapak/Ibu setelah kita saling bercerita mengenai pengalaman-
pengalaman tentang emosi yang dirasakan pada sesi sebelumnya, sekarang
kita akan melanjutkan proses pelatihan kita. Bahasan pada sesi sebelumnya
berkaitan dengan pengertian, gejala dan dampak perubahan dari emosi yang
pernah Bapak/Ibu alami, maka di sesi ini kita akan belajar lebih lanjut tentang
hal itu. Namun untuk mengawali sesi ini mari terlebih dahulu kita simak video
berikut ini....”
3. Trainer memutarkan video orangtua yang memukuli seorang anak, kemudian
memberikan kesempatan pada peserta untuk menyaksikannya hingga selesai.
Kemudian, trainer membantu peserta untuk merefleksikan apa yang sudah
dilihat dengan pertanyaan, “Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah melihat
video tersebut? Apa yang mungkin dirasakan oleh para pemeran di video
tersebut? Menurut Bapak/Ibu, apakah kejadian seperti itu bisa dicegah?”
Trainer memberikan kesempatan pada peserta untuk menyampaikan
pendapatnya.
4. Setelah peserta selesai memberikan jawaban, trainer mulai memaparkan materi
yang sudah disiapkan.
5. Setelah trainer selesai memaparkan materi, peserta disilakan bertanya dan
berdiskusi.
6. Trainer menutup sesi “Emosi pun Bisa Diatur” dengan meminta para peserta
untuk menuliskan rangkuman dan refleksi materi yang telah didiskusikan.
“Untuk menutup sesi ini, silakan Bapak/Ibu mengisi jurnal refleksi terkait
31
dengan aktivitas yang sudah kita lakukan tadi. Refleksi bisa berupa perasaan,
pikiran atau pun kesan.”
D. Waktu
Waktu yang dibutuhkan dalam sesi ini adalah 60 menit.
E. Perlengkapan
1. Power point materi Pengelolaan Emosi
2. LCD dan proyektor
3. Pointer
3. Sound System
4. Jurnal refleksi
6. Lembar Observasi
5. Pulpen
32
SESI III
“APA YANG AKU DAN DIA SUKA”
A. Pengantar
Mengenali kesukaan adalah salah satu langkah dalam mengelola emosi,
karena individu dapat menggunakan hal-hal yang disukai tersebut untuk
mengatasi situasi yang tidak menyenangkan. Gross (1998) mengatakan bahwa
situasi yang mungkin memunculkan emosi negatif dapat diubah sesuai dengan
keinginan kita sehingga tercipta suasana yang lebih positif. Langkah tersebut
dinamakan sebagai “situation modificiation” yaitu memodifikasi situasi agar
orangtua dan anak dapat lebih kooperatif.
Pada sesi sebelumnya peserta telah diajak untuk mengenali emosi dan
situasi seperti apa saja yang dapat memunculkan emosi negatif. Pada sesi ini
peserta akan diajak untuk mengingat dan sadar atas kekuatan yang mereka miliki
untuk mengasuh anak: aktivitas yang disukai orangtua dan anak. Sebagai contoh
seorang ibu tahu betul bahwa jika terlalu lama di dalam rumah anak akan merasa
bosan, dan sebenarnya begitu pula yang ibu rasakan. Ketika anak mulai
menunjukkan perilaku yang dapat memicu kemarahan atau situasi berubah
menjadi tidak menyenangkan, maka ibu segera mengajak anak untuk naik sepeda
keluar rumah atau memberi makan hewan peliharaan di belakang rumah. Pada
contoh tersebut ibu berusaha untuk mengubah situasi yang tidak menyenangkan
menjadi lebih menyenangkan sehingga perasaan yang muncul dalam diri anak
dan ibu pun menjadi lebih positif.
B. Tujuan:
Setelah mengikuti sesi ini peserta diharapkan mampu
1. Mengidentifikasi hal atau kegiatan yang disukai untuk membantu mengubah
situasi yang berpotensi memunculkan emosi negatif menjadi situasi yang
lebih positif
2. Memanfaatkan hal atau kegiatan yang disukai untuk mengubah situasi atau
mengalihkan perhatian dari hal yang memicu emosi negatif
33
C. Prosedur Aktivitas
1. Trainer kembali mengondisikan peserta untuk mengikuti sesi “Apa yang
Aku dan Dia Suka”. Sesi ini diawali dengan aktivitas self-reflection yaitu
peserta diminta untuk menuliskan hal-hal atau aktivitas yang disukai pada
lembar aktivitas yang dibagikan oleh fasilitator. Pada sesi ini pula trainer
mengajak peserta untuk melakukan simulasi berpasangan dengan
membayangkan situasi yang sebenarnya.
2. Kalimat dan instruksi yang dikatakan misalnya, “Untuk memulai sesi ini,
saya ingin mengajak Bapak/Ibu untuk sejenak merenung dan mengingat
pengalaman-pengalaman sebelumnya. Saya yakin Bapak/Ibu yang ada sini
masing-masing memiliki hal atau aktivitas yang disukai. Saya pun yakin
Bapak/Ibu tahu apa yang disukai oleh putra-putri Bapak/Ibu sekalian.
Silakan Bapak/Ibu tulis hasil refleksi tersebut pada lembar aktivitas yang
telah diterima dalam waktu 5 menit.”
3. Trainer memberitahukan peserta bahwa 5 menit telah berlalu dan saatnya
mengembalikan fokus pada trainer dan kelompok. Trainer mulai menggali
satu persatu apa yang sudah ditulis oleh para peserta (apabila
memungkinkan, jika tidak bisa dipilih sesuai kebutuhan). Kalimat yang
dikatakan misalnya, “Mengingat-ingat tentang diri sendiri dan anak adalah
aktivitas yang menyenangkan, bukan? Sekarang saya ingin Bapak A, Ibu C,
dan Ibu D untuk menceritakan apa yang sudah ditulis di lembar aktivitas.”
4. Setelah peserta selesai menceritakan pengalamannya, trainer memberi
instruksi selanjutnya yaitu peserta diminta membayangkan situasi yang
biasanya memicu munculnya emosi negatif dan menyusun kalimat untuk
mengajak anak mengubah situasi berdasarkan hal atau aktivitas yang disukai
tadi. Kalimat yang dikatakan misalnya, “Dapat kah Bapak/Ibu
membayangkan situasi dengan anak yang biasanya membuat marah?
34
Sekarang mari kita berlatih berbicara menggunakan hal yang kita sukai tadi
untuk mengajak anak mengubah situasi yang tidak menyenangkan tersebut!”
5. Trainer meminta peserta untuk berpasang-pasangan dan melakukan simulasi
secara bergantian. Sebelumnya trainer memberikan contoh kasus dengan
melibatkan tim training atau peserta sebagai anak. Kemudian peserta
diberikan waktu selama 10 menit untuk melakukan simulasi secara
bergantian.
6. Setelah melakukan simulasi selama 10 menit, trainer meminta para peserta
untuk duduk kembali. Trainer kemudian mempersilakan peserta untuk
menceritakan pengalaman simulasi tersebut dan saling memberikan masukan
pada pasangannya.
7. Sebelum menutup sesi ini trainer menyimpulkan aktivitas yang sudah
dilakukan dan berpesan pada peserta untuk menerapkannya di rumah.
Trainer kemudian meminta peserta untuk merefleksikan pengalamannya di
sesi ini dan menuliskannya di jurnal refleksi.
D. Waktu
Waktu yang dibutuhkan untuk aktivitas ini adalah 60 menit.
E. Perlengkapan
1. Lembar kerja sesi III
2. Jurnal refleksi
3. Lembar Observasi
4. Pulpen
5. Buku Tugas
35
SESI IV
“MENJADI ORANG TUA PROAKTIF, BERKOMUNIKASI DENGAN POSITIF”
A. Pengantar
Orang tua selalu mempunyai pilihan dalam mengambil sikap, apakah ia
akan bersikap reaktif atau proaktif. Orang tua yang reaktif cenderung melakukan
suatu tindakan tanpa berpikir panjang, biasanya juga tidak terlintas akan dampak
jangka panjang atau perilakunya tersebut. Karakteristik khas yang ada pada orang
tua reaktif antara lain mudah tersinggung, menyalahkan orang lain, mudah marah,
mudah mengeluh, dst. Hal yang paling khas pada orang tua yang reaktif ini adalah
munculnya penyesalan ketika ia sudah terlanjur melakukan hal buruk pada
anaknya. Namun, orang tua juga memiliki pilihan untuk bersikap proaktif yaitu
sikap dalam memberi respon terhadap apa yang terjadi berdasarkan nilai-nilai
kebenaran. Orang tua yang proaktif selalu mempunyai waktu untuk
mempertimbangkan alasan dan dampak dari perilakunya, dengan alasan dan
pertimbangan tersebut umumnya orang tua yang proaktif terhindar dari penyesalan
atas apa yang ia lakukan pada anak. Oleh karena itu, mengenal karakteristik
reaktif/proaktif serta mengetahui bagaimana mengimplementasikannya pada
pengasuhan menjadi hal yang krusial.
Komunikasi merupakan elemen yang tak kalah penting dalam pengasuhan.
Cara berkomunikasi dengan anak juga turut menentukan bagaimana anak
memberikan respon pada orang tua. Anak menggunakan bahasa verbal dan non
verbal sesuai dengan apa yang ia amati dari lingkungannya. Kemampuan anak
untuk meniru apa yang ia lihat atau dengar dijelaskan melalui teori-teori
modelling. Jika orang tua melakukan kesalahan dalam berkomunikasi dengan anak
maka bukan tidak mungkin anak menangkap makna yang tidak semestinya. Oleh
karena itu orang tua perlu mengetahui bagaimana melakukan komunikasi yang
positif pada anak. Hal ini bertujuan membangun hubungan sosial yang hangat
antara anak dan orang tua sehingga meningkatkan kecerdasan emosinya.
36
B. Tujuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta diharapkan dapat
37
SESI V
“THINK POSITIVE!”
A. Pengantar
Pikiran atau persepsi orang tua terhadap anak menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi bagaimana orang tua memperlakukan anak. Orang tua yang
mempunyai persepsi positif terhadap perilaku-perilaku anak cenderung menyikapi
perilaku tersebut lebih positif dibandingkan orang tua yang mempunyai persepsi
negatif. Sama hal nya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muarifah, Wati
dan Puspitasari (2018) salah satu penyebab orangtua melakukan kekerasan pada
anak adalah adanya anggapan bahwa anak nakal dan tidak bisa diatur. Menurut
literature persepsi negatif ini mulai muncul ketika orangtua melihat bahwa
perilaku anak tidak sesuai dengan harapan, dengan begitu serta merta orang tua
menyebut anak tidak menurut, bandel, nakal, dst. Informasi tersebut kemudian
diproses di dalam otak dan mempengaruhi munculnya emosi tertentu seperti
kemarahan, kesedihan atau kekecewaan. Emosi tersebut yang menjadi dasar atas
kekerasan yang dilakukan orangtua terhadap anak baik dalam bentuk verbal
maupun non-verbal.
Sesi ini mengajak peserta untuk mengenal karakter-karakter khas/perilaku
anak yang sering memicu perasaan tidak menyenangkan. Kemudian peserta diajak
untuk menganalisis perilaku tersebut dan mencoba mencari alternatif pikiran yang
lebih positif. Sebagai contoh, seorang ayah baru saja selesai mengecat tembok.
Saat itu tembok sudah sangat bersih dengan cat yang baru. Namun 5 menit
kemudian anak balita nya datang dengan crayon lalu mencoret-coret kembali
tembok tersebut. Ayah merasa akan marah, namun alih-alih menyebut anaknya
nakal ia memilih untuk berpikir “namanya juga anak-anak, kalau anak remaja pasti
sudah ku minta bantu mengecat dari tadi.” Dengan memiliki alternatif pikiran yang
positif maka ayah lebih memaklumi perilaku anak sehingga memunculkan
perilaku yang lebih positif.
38
B. Tujuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta diharapkan mampu
1. Mengenal karakter-karakter khas/perilaku anak yang sering memicu perasaan
tidak menyenangkan pada orang tua
2. Membuat alternatif pikiran-pikiran positif dari perilaku yang dimunculkan oleh
anak sehingga berdampak pada perlakuan yang lebih positif kepada anak
C. Prosedur Aktivitas
39
4. Setelah waktu habis, trainer mengajak peserta untuk saling berbagi tentang
jawaban masing-masing. Trainer mengonfirmasi jawaban-jawaban peserta
dengan teknik paraphrasing. Setelah dirasa cukup maka trainer dapat
menutup sesi dengan merangkum hasil diskusi para peserta, serta
menambahkan bahwa setiap anak pasti memiliki hal positif yang disukai
orang tua, sehingga orang tua mempunyai kesempatan untuk berpikir lebih
positif mengenai perilaku-perilaku anak.
5. Trainer mengingatkan peserta untuk kembali merefleksikan pengalaman dan
perasaan saat mengikuti sesi di jurnal refleksi.
D. Waktu
Waktu untuk melakukan sesi ini adalah 60 menit.
E. Perlengkapan
1. Lembar kerja Sesi IVa
2. Lembar kerja Sesi IV b
3. Jurnal refleksi
4. Lembar observasi
5. Pulpen
40
SESI VI
“RELAKSASI OTOT DAN RELAKSASI KESADARAN EMOSIONAL”
A. Pengantar
Strategi regulasi emosi terakhir menurut Gross adalah response modulation
yang merupakan usaha untuk mengubah perasaan, sikap, perilaku dan fisiologi
setelah respon emosional terjadi (misalnya marah, benci, berang, dsb). Relaksasi
dapat dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengubah perasaan dan fisiologi
ini. Ketika orang tua merasa marah, benci, meledak-ledak maka sebenarnya
terjadi ketegangan-ketegangan dalam individu tersebut. Jacobson, seorang
psikolog dari Chicago yang mengembangkan metode fisiologis melawan
ketegangan dan kecemasan, berpendapat bahwa ketegangan termasuk ketegangan
mental didasarkan pada kontraksi otot.
Hal di atas menjadi dasar bahwa orang tua yang dilatih untuk merelaks-kan
otot dapat menerapkannya ketika mengalami ketegangan-ketegangan yang
berkaitan dengan emosi negatif sehingga ketegangan-ketegangan menurun dan
kondisi emosi menjadi lebih positif. Berkaitan dengan hal tersebut, relaksasi juga
memiliki fungsi lain seperti mengurangi denyut jantung, ketegangan otot,
tekanan darah dan kecemasan. Oleh karena itu orang tua perlu dilatih untuk
melakukan relaksasi agar dapat diterapkan selama mendampingi dan mengasuh
anak.
B. Tujuan:
Dengan mengikuti sesi ini diharapkan
1. Peserta bersama-sama ikut serta dalam mempraktekkan teknik relaksasi yang
sudah disampaikan oleh trainer
2. Peserta merasa nyaman dengan dirinya dan meredakan ketegangan otot-otot
41
C. Prosedur Aktivitas
Sebelum masuk pada sesi relaksasi trainer memberikan aktivitas ice breaker
terlebih dahulu untuk mengumpulkan fokus peserta. Aktivitas ice breaker dapat
berupa “tepuk konsentrasi”, “bos berkata” atau ice breaker lainnya. Setelah
melakukan ice breaker, trainer menyampaikan sekilas tentang apa itu relaksasi
dan manfaat relaksasi. Video cotoh aktivitas relaksasi ditampilkan agar peserta
memiliki gambaran apa yang akan dilakukan dalam sesi ini. Langkah selanjutnya
adalah memulai aktivitas relaksasi dari relaksasi otot kemudian relaksasi
kesadaran emosional
1. “Relaksasi Otot”
Katakan : Relaksasi yang pertama kita lakukan adalah relaksasi otot.
Sekarang cobalah untuk duduk dengan rileks dan senyaman mungkin untuk
melakukan relaksasi ini.
Instruksi:
Tutup mata anda dan dengarkan apa yang akan saya katakan pada
Anda. Saya akan membuat Anda menyadari sensasi-sensasi tertentu pada
badan anda, dan kemudian menunjukkan pada anda bagaimana cara untuk
mengurangi sensasi itu.
42
Sekarang lentikkan pergelangan tangan Anda, sehingga jari-jari
mengarah ke langit-langit. Pelajarilah ketegangan tersebut beberapa saat
(10 detik). Biarkan tangan anda kembali keposisi istirahat dan perhatikan
perbedaan antara ketegangan dengan relaksasi (10 detik). Lakukan sekali
lagi. Selanjutnya lemaskanlah biarkan tangan anda lemas lurus lagi, terus
lemaskan dan terus lemaskan, biarkan sensasinya beberapa saat (10 detik).
Sekarang kita tujukan pada daerah bahu. Gerakkan kedua bahu, bawa
keduanya hingga akan menyentuh telinga, rasakan ketegangan dibahu dan
leher anda. Lebih kuat lagi dekatkan bahu ke telinga, tahan beberapa saat
(10 detik), rasakan ketegangan di bahu dan leher anda. Sekarang rileks.
Biarkan bahu kembali keposisi istirahat. Lemaskan semua ketegangan, lebih
lemaskan lagi ketegangannya, lebih lanjut lagi. Biarkan beberapa saat anda
mengenali sensasi yang muncul saat tegang dan rileks (10 detik).
Sekarang kita akan menuju otot-otot wajah. Sekarang kerutkanlah
dahi dan alis. Kerutkanlah keduanya sampai anda merasa dahi anda sangat
berkerut, otot-ototnya tegang, tahan beberapa saat (10 detik). Dan sekarang
rileks (10 detik). Lakuakan sekali lagi.
Sekarang tutup mata anda sekuatnya. Tutup mata anda dengan kuat,
sehingga anda merasakan ketegangan disekitar mata dan otot-otot yang
menggerakkan mata, pertahankan beberapa saat (10 detik). Dan sekarang
lepaskan. Biarkan otot-otot anda rileks. Rasakan perbedaan antara
ketegangan dan relaksasi (10 detik). Sekali lagi, tutup mata anda dengan
kuat dan pelajari ketegangannya, pertahankan (5 detik). Sekarang lepaskan
dan rileks.
Kerucutkan kedua bibir anda. Yah seperti itu, yang kuat lagi, rasakan
ketegangangnya di sekitar bibir, tahan beberapa saat (10 detik). Sekarang
rileks lemaskan otot-otot sekitar mulut, dan biarkan pipi dan otot lain
istirahat dengan nyaman (10 detik). Lakukan sekali lagi, moncongkan kedua
43
bibir anda sekuatnya, tekan terus bibir anda tahan beberapa saat (10 detik),
rasakan ketegangan otot-ototnya. Sekarang lemaskanlah dan biarkan otot-
otot yang tandi tegang rileks, dan lebih rileks, lebih rileks lagi biarkan
beberapa saat (10 detik) rasakan perbedaan kontras antar ketegangan dan
relaksasi otot.
Sekarang anda memperhatikan berapa banyak otot-otot yang telah
lemas. Dibagian yang telah kita tegangkan. Tangan anda, lengan bawah,
bahu atas, bahua bawah dan otot-otot wajah. Anda bisa merasakan
sensasinya dari saat anda tegangkan dengan saat anda rileks.
Sekarang otot-otot punggung anda. Lengkungkan punggung anda,
dengan membusungkan dada dan perut, sehingga anda merasakan
ketegangan di punggung terutama punggung atas. Perhatikan ketegangan,
pertahankan beberapa saar (10 detik), dan sekarang rileks. Biarkan badan
anda beristirahat di tempat anda Perhatikan perbedaan antara ketegangan
dan relaksasi. Biarkan otot-otot tersebut lemas (10 detik). Lakukan sekali
lagi.
Sekarang ambil nafas panjang. Isi paru-paru anda. Tahan, tahan dan
perhatikan ketegangan di bagian dada dan turun ke perut. Tahan beberapa
saat, perhatikan ketegangan yang anda rasakan dan sekarang rileks.
Lepaskan dan keluarkan nafas dan lanjutkan bernafas seperti biasa.
Perhatikan sekali lagi perbedaan ketegangan dan relaksasi (10 detik).
Lakukanlah sekali lagi, tarik nafas panjang dan tahan.
Sekarang luruskan kedua telapak kaki. Luruskan sehingga anda dapat
merasakan ketegangan di paha. Luruskan lebih lanjut tahan beberapa saat
(5 detik). Dan sekarang rileks. Biarkan kaki anda rileks dan perhatikan beda
antara ketegangan dan rilaksasi relatif yang anda rasakan (10 detik).
Lakukanlah sekali lagi.
Bila anda menegangkan otot-otot anda, anda juga telah
melemaskannya. Anda telah memperhatikan perbedaan antara ketegangan
44
dan relaksasi otot. Anda dapat mengenal apakah ada ketegangan di otot-otot
anda. Dan apabila ada anda dapat berkonsentrasi pada bagian tersebut,
perintahkan otot-otot tadi untuk lemas, untuk rileks. Apabila anda berfikir
untuk melemaskan otot tadi sebenarnya anda dapat melakukannya walaupun
sedikit.
Sekarang saat anda duduk atau berbaring, saya akan mengulang
berbagai kelompok otot yang telah dilemaskan. Perhatikan apakah masih
ada ketegangan pada otot-otot. Apabila ada cobalah berkonsentrasi pada
otot-otot tersebut dan perintahkan untuk rileks, untuk lemas (5detik).
Lemaskan otot-otot di bagian bawah anda. Lemaskan dibagian badan anda
sebelah bawah (5 detik). Punggung atas, dada dan bahu (5 detik). Pantat dan
pinggul (5 detik). Lemaskan lengan atas, bawah, dan tangan sampai ujung
jari-jari anda (5 detik). Biarkan semua otot di tenggorokan dan leher lemas
(5 detik). Lemaskan rahang dan otot-otot wajah anda ( 5detik). Biarkan
semua otot di badan anda menjadi lemas. Sekarang duduk dan berbaring
dengan tenang mata tertutup untuk beberapa menit (2 menit).
Sekarang saya akan menghitung dari lima sampai satu. Bila saya
mencapai angka satu, bukalah mata Anda.. Lima,....., empat....., tiga......
dua..... dan satu.....
Tanyakan : bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah mengikuti relaksasi
otot tadi? Apakah Bapak/Ibu merasa ketegangan di dalam tubuh berkurang?
45
Instruksi :
Mari kita mulai relaksasi kesadaran emosional. Duduk atau berbaring, dan
buat diri Anda nyaman. Mulailah untuk merilekskan tubuh Anda dengan
fokus untuk beberapa saat pada pernapasan Anda. Ambil napas hirup udara
yang ada diluar dengan hidung, tahan ... dan hembuskan lewat mulut. Lebih
dalam lagi ...tahan... dan keluarkan dari mulut. Tarik napas lagi, dan saat
Anda mengeluarkan napas, Anda melepaskan ketegangan dalam tubuh Anda.
Tarik napas lagi ... dan menghembuskan napas, dan lepaskan ketegangan
anda. Lanjutkan bernapas perlahan, memungkinkan napas Anda untuk lebih
santai, lebih nyaman.
Bayangkan sebuah tempat di mana Anda merasa aman sebagai anak, atau
tempat Anda merasa aman sekarang. Di mana Anda akan pergi saat Anda
butuh istirahat? Apakah Anda memiliki ruangan favorit, atau kursi, atau di
luar ruangan? Pikirkan tempat Anda merasa aman sebelumnya, dan
bayangkan ini dalam pikiran Anda. Bayangkan semua rincian dari tempat
yang menurut anda aman.
(Jeda) Sekarang bahwa Anda memiliki tempat yang aman dan tetap dalam
pikiran Anda, gambar ini dapat berfungsi sebagai zona aman Anda sepanjang
relaksasi kesadaran emosional. Perhatikan bagaimana perasaan Anda
sekarang. Rasakan perasaan aman. Bagaimana rasanya menjadi aman?
Bagaimana perut Anda rasakan ketika Anda merasa aman? Bagaimana
dengan otot-otot Anda? Wajah Anda? Dimana dalam tubuh Anda apakah
Anda merasa perasaan keselamatan? Perhatikan tubuh Anda saat Anda
memiliki perasaan ini sekarang. Jika Anda perlu istirahat selama relaksasi
kesadaran emosional, mental Anda dapat kembali ke tempat ini dengan
membayangkan zona aman Anda. Anda dapat melakukannya setiap kali
Anda perlu.
46
Emosi mungkin dialami di satu tempat dalam tubuh Anda, atau beberapa.
Bila Anda mengalami setiap perasaan yang saya sebutkan selama relaksasi
kesadaran emosional, perhatikan di mana dalam tubuh Anda Anda merasakan
sesuatu. Juga perhatikan apa yang Anda rasakan. Sebagai contoh, Anda
mungkin mengalami perasaan berat, sesak, kesemutan, nyeri, kenyamanan,
kehangatan ringan, atau membara. Perhatikan tubuh Anda secara keseluruhan
dan bagian-bagian individu dari tubuh Anda. Anda mungkin melihat
perubahan ketegangan otot (rahang terkatup atau rahang rileks, terasa ketat
atau longgar, dll). Anda mungkin memperhatikan perubahan dalam cara
wajah, perut, kepala, dada, tenggorokan, atau daerah lain yang dirasakan.
Dengan setiap emosi saya menyebutkan, saya akan memandu Anda untuk
mengalami sensasi fisik yang terkait. Setiap kali, hanya melihat bagaimana
tubuh Anda merasa, apa rasanya, dan di mana sensasi berada. Ingat bahwa
jika Anda perlu istirahat kapan saja, Anda secara mental dapat kembali ke
zona aman Anda. Sekarang mari kita mulai proses sensorik mengalami emosi
dan untuk berhubungan dengan perasaan dengan relaksasi kesadaran
emosional.
47
marah yang terletak? Rasakan sensasi fisik kemarahan selama beberapa
saat.
48
"tertarik" merasa seperti dalam tubuh Anda? Dimana dalam tubuh Anda
adalah perasaan berbunga berada? Rasakan sensasi fisik yang menarik
untuk beberapa saat.
(Jeda) (Sekarang bayangkan rasa malu). Pikirkan suatu waktu ketika Anda
merasa malu, dan biarkan diri Anda mengalami perasaan ini lagi sekarang.
Apa artinya "malu" merasa seperti di tubuh Anda? Dimana dalam tubuh
Anda adalah rasa malu berada? Rasakan sensasi fisik malu untuk beberapa
saat.
(Jeda) Bayangkan perasaan hiburan. Pikirkan saat Anda merasa geli, dan
biarkan diri Anda mengalami perasaan ini lagi sekarang. Apa artinya
"hiburan" merasa seperti di tubuh Anda? Dimana dalam tubuh Anda adalah
perasaan hiburan berada? Rasakan sensasi fisik dari hiburan selama
beberapa saat.
Perhatikan bagaimana tubuh Anda terasa. Dimana dalam tubuh Anda yang
Anda merasakan sesuatu? Apakah ini bercerita tentang emosi yang Anda
alami?
49
Apakah tubuh Anda merasa benar sekarang cara itu ketika Anda
membayangkan emosi tertentu beberapa saat yang lalu? Jika demikian, yang
mana?
(Jeda) Perhatikan bahwa semua emosi, baik positif maupun negatif, dapat
memberikan tujuan yang bermanfaat. Tidak apa-apa untuk dirasa. Hal yang
biasa dan wajar untuk memiliki emosi. Ketika Anda selaras dengan tubuh
Anda, Anda dapat memungkinkan tubuh Anda untuk berbicara kepada Anda,
dan mencari tahu apa yang tubuh Anda kepada Anda. Tubuh Anda akan
membiarkan Anda tahu mana situasi positif, dan mana yang Anda mungkin
ingin berubah.
Anda akan mengalami baik perasaan positif dan negatif. Dari waktu ke
waktu, Anda sengaja dapat membantu diri Anda merasa nyaman dengan
membayangkan emosi positif dan perasaan fisik yang menyertainya.
Mari kita lakukan itu sekarang. Bayangkan lagi rasa bahagia. Dimana
dalam tubuh Anda perasaan ini berada? Anda dapat mengalami perasaan ini
sekarang. Rasakan sensasi dalam tubuh Anda yang menyertai kebahagiaan.
Biarkan sensasi untuk membangun, dan tumbuh ... merasakan sensasi positif
dari kebahagiaan.
50
waspada, Anda dapat kembali ke kegiatan biasa, perasaan senang dan
tenang.
51
JADWAL PELAKSANAAN PELATIHAN
Hari ke 1
52
Hari ke 2
53
DAFTAR PUSTAKA
Fabes, R.A., Leonard, S.A., Kupanoff, K., & Martin, C.L. (2001). Parental coping
with children’s negative emotions: Relations with children’s emotional and
social responding. Society for Research in Child Development, 72(3), 907-920
Fitriana, Y., Pratiwi, K., & Sutanto, A.V. (2015). Faktor-faktor yang berhubungan
dengan perilaku orangtua dalam melakukan kekerasan verbal terhadap anak
usia pra-sekolah. Jurnal Psikologi Undip, 14(1), 81-93
Fosco, G.M. & Grych, J.H. (2012). Capturing the family context of emotion
regulation: A family sistems model comparison approach. Journal of Family
Issues, 34(4), 557-578
54
Gross, J.J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review.
Review of General Psychology, 2(3), 271-299
Gross, J.J. (2001). Emotion regulation in adulthood: Timing is everything. Current
Directions in Psychological Sciences, 10(6), 214-219
Hawker, D.S.J. and Boulton, M.J. (2000) Twenty Years' Research on Peer
Victimization and Psychosocial Maladjustment A Meta-Analytic Review of
Cross-Sectional Studies. Journal of Child Psychology and Psychiatry and
Allied Disciplines, 41, 441-455.
Lane, W., Merritt, M.H.B., & Dubowitz, H. (2011). Child abuse and Neglect.
Scandinavian Journal of Surgery 100, 264-272
Mackowics, J. (2013). Verbal abuse in upbringing as the cause of low self-esteem in
children. European Scientific Journal, 2, 474-478
Morelen, D., Shaffer, A., & Suveg, C. (2016). Maternal emotion regulation: Links to
emotion parenting and child emotion regulation. Journal of Family Issues,
37(13), 1891-1916
Muarifah, A. (2014). Hubungan kecemasan dan agresivitas. Humanitas: Indonesian
Psychological Journal, 2(2), 102-112.
Nansel, T. R., Craig, W., Overpeck, M. D., Saluja, G., & Ruan, W. [Link] Health
Behavior in School-Aged Children Bullying Analyses Working Group.
55
(2004). Cross-nationalconsistency in the relationship between bullying
behaviors and psychosocial adjustment. Archives of Pediatrics & Adolescent
Medicine,158, 730–736.
Nindya, P.N. & Margaretha, R. (2012). Hubungan antara kekerasan emosional pada
anak terhadap kecederungan kenakalan remaja. Jurnal Psikologi Klinis dan
Kesehatan Mental, 1(2), 1-9
Reivich, K. & Shatte, A. (2002). The Resilience Factor: 7 Keys To Finding Your
Inner Strength And Overcome Life’s Hurdles. New York: Broadway Books
Schwartz, J.P., Thigpen, S.E., & Montgomery, J.K. (2006). Examination of parenting
styles of processing emotions and differentiation of self. The Family Journal:
Counseling and Therapy for Couples and Families, 14(1), 41-48
Salmivalli, C., Kärnä, A., & Poskiparta, E. (2009). From peer putdowns to peer
support:A theoretical model and how it translated into a national anti-bullying
program. In .Shimerson, S. Swearer & D. Espelage (Eds.), The handbook of bu
The National Child Traumatic Stress, Network, Physical Abuse Collaborative Group.
(2009). Child physical abuse fact sheet. Los Angeles, CA & Durhma, NC;
National Center for Child Traumatic Stress.
56
Urry, H.L. & Gross, J.J. (2010). Emotion regulation in older age. Current Directions
in Psychological Science, 19(6), 352-357
Vinny, P.E. (2014). Modul Pelatihan Relaksasi. Universitas Mercu Buana
Yogyakarta Indonesia.
Wyatt, R.C. & Seid, E.L. (2000). Instructor’s Manual for Cognitive Behavioral
Therapy with Donald Meichenbaum. [Link]
Zachary, C., Jones, D.J., McKee, L.G., Baucom, D.H., & Forehand, R.L. (2017). The
role of emotion regulation and socialization in behavioral parent traning: A
proof-of-concept study. Behavior Modification, 1-23
Zuravin, S. J., and Greif, G. (1989). Normative and child-maltreating AFDC mothers.
Social Casework: Contemp. Soc. Work, 74: 76–84.
57