PROPOSAL TERAPI BERMAIN ANAK USIA 4 TAHUN
PRAKLINIK
Dosen Pembimbing : Siti Indatul L, [Link].,
Oleh:
SRI AGUSTIN HIDAYATI
NIM: 202103033
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA SEHAT PPNI
MOJOKERTO
2021
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Hospitalisasi merupakan suatu proses yang berencana atau darurat mengharuskan
anak untuk tinggal di Rumah Sakit menjalani terapi dan perawatan sampai
pemulangannya kembali ke rumah. Selama proses tersebut anak dan orang tua dapat
mengalami berbagai kejadian yang sangat traumatic dan penuh stress.
Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulasi bagi perkembangan anak secara
optimal. Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas bermain ini tetap
dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak. Pada saat dirawat di rumah
sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti
marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari
hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada
dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas
dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan anak
akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi
melalui kesenangannya melakukan permainan. Bermain sangat penting bagi mental,
emosional, dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan
bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2009).
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian teori bermain?
2. Apa saja fungsi terapi bermain?
3. Apa tujuan dari terapi bermain?
4. Apa saja prinsip-prinsip dalam bermain?
5. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi bermain?
6. Bagaiman klasifikasi tahapan usia dan jenis permainan dalam terapi bermain?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian tori bermain
2. Mengetahui fungsi terapi bermain
3. Mengetahui tujuan dari terapi bermain
4. Mengetahui prinsip-prinsip dalam bermain
5. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi bermain
6. Mengetahui klasifikasi tahapan usia dalam dan jenis permainan dalam terapi bermain
BAB II
KONSEP TEORI BERMAIN PADA ANAK USIA 6 – 12 TAHUN
A. KONSEP TEORI BERMAIN
1. PENGERTIAN
Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan
bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak akan
berkata-kata, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan melakukan apa yang dapat
dilakukan dan mengenal waktu, jarak, serta suara (Wong, 2000)
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginannya sendiri dan
memperoleh kesenangan (Foster, 1989)
Bermain adalah cara ilmiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam dirinya
yang tidak disadarinya (Miller dan Keong, 1983).
Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan aspek terpenting
dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif utuk menurunkan
stress pada anak, dan penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak
(Champbell dan Glaser, 1995)
2. FUNGSI
a. Perkembangan Sensori - Motorik
Memperbaiki keterampilan motorik kasar dan halus serta koordinasi
Meningkatkan perkembangan semua indra
Memberikan pelampiasan kelebihan energi
b. Perkembangan yang intelektual
Memberikan sumber – sumber yang beraneka ragam untuk pembelajaran
Eksplorasi dan manipulasi bentuk, ukuran, tekstur, warna.
Kesempatan untuk mempraktikan dan memperluas keterampilan berbahasa
c. Perkembangan Sosial
Anak belajar berinteraksi dengan orang lain dan mempelajari peran dalam
kelompok
Mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah yang terkait
dengan hubungan tersebut
d. Perkembangan kreativitas
Memberikan saluran ekspresif untuk ide dan minat kreatif
Memungkinkan fantasi dan imajinasi
Meningkatkan perkembangan bakat dan minat khusus
e. Perkembangan Kesadaran Diri
Anak akan mengembangkan kemampuannnya dalam mengatur tingkah laku
Belajar mengenal kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain
Anak akan belajar mengerti akan dampak tingkah lakunya terhadap orang lain
f. Bermain sebagai Terapi
Meminimalkan dampak hospitalisasi sehingga melalui bermain anak dapat
mengekpresikan perasaannya.
3. TUJUAN
a. Untuk melanjutkan tumbuh kembang yg normal pada saat sakit.
Pada saat sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan
perkembangannya.
b. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya.
Permainan adalah media yang sangat efektif untuk mengsekspresikan berbagai
perasaan yang tidak menyenangkan.
c. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah.
Permainan akan menstimulasi daya pikir, imajinasi, dan fantasinya untuk
mencipakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya.
d. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stres karena sakit dan di rawat di RS.
4. PRINSIP – PRINSIP BERMAIN
Menurut Soetjiningsih (1995) bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar
aktifitas bermain bisa menjadi stimulus yang efektif :
a. Perlu ekstra energi
Bermain memerlukan energi yang cukup sehingga anak memerlukan nutrisi yang
memadai. Asupan atau intake yang kurang dapat menurunkan gairah anak. Anak
yang sehat memerlukan aktifitas bermain yang bervariasi, baik bermain aktif
maupun bermain pasif. Pada anak yang sakit keinginan untuk bermain umumnya
menurun karena energi yang ada dugunakan untuk mengatasi penyakitnya.
b. Waktu yang cukup
Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain sehingga stimulus yang
diberikan dapat optimal. Selain itu, anak akan mempunyai kesempatan yang cukup
untuk mengenal alat-alat permainannya.
c. Alat permainan
Alat permainan yang digunakan harus disesuaikan dengan usia dan tahap
perkembangan anak. Orang tua hendaknya memperhatikan hal ini sehingga
alat permainan yang diberikan dapat berfungsi dengan benar dan mempunyai unsur
edukatif bagi anak.
d. Ruang untuk bermain
Aktifitas bermain dapat dilakukan di mana saja, di ruang tamu, di halaman, bahkan
di ruang tidur. Diperlukan suatu ruangan atau tempat khusus untuk bermain bila
memungkinkan, di mana ruangan tersebut sekaligus juga dapat menjadi tempat
untuk menyimpan permainannya.
e. Pengetahuan cara bermain
Anak belajar bermain dari mencoba-coba sendiri, meniru teman-temannya, atau
diberitahu oleh orang tuanya. Cara yang terahkir adalah yang terbaik karena anak
lebih terarah dan berkembang pengetahuannya dalam menggunakan alat permainan
tersebut. Orang tua yang tidak pernah mengetahui cara bermain dari alat permainan
yang diberikan, umumnya membuat hubungannya dengan anak cenderung menjadi
kurang hangat.
f. Teman bermain
Dalam bermain, anak memerlukan teman, bisa teman sebaya, saudara, atau orang
tuanya. Ada saat-saat tertentu di mana anak bermain sendiri agar dapat menemukan
kebutuhannya sendiri. Bermain yang dilakukan bersama orang tuanya akan
mengakrabkan hubungan dan sekaligus memberikan kesempatan kepada orang tua
untuk mengetahui setiap kelainan yang dialami oleh anaknya. Teman diperlukan
untuk mengembangkan sosialisasi anak dan membantu anak dalam memahami
perbedaan.
5. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERMAIN
a. Tahap perkembangan anak
Aktivitas bermain yang tepat harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan
perkembangan anak. Orang tua dan Perawat harus mengetahui dan memberikan
jenis permainan yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan
anak.
b. Status kesehatan anak
Aktivitas bermain memerlukan energi maka Perawat harus mengetahui kondisi
anak pada saat sakit dan jeli memilihkan permainan yang dapat dilakukan anak
sesuai dengan prinsip bermain pada anak yang sedang dirawat di RS.
c. Jenis kelamin
Pada dasarnya dalam melakukan aktifitas bermain tidak membedakan jenis
kelamin laki-laki atau perempuan namun ada pendapat yang diyakini bahwa
permainan adalah salah satu alat mengenal identitas dirinya. Hal ini
dilatarbelakangi oleh alasan adanya tuntutan perilaku yang berbeda antara laki –
laki dan perempuan dan hal ini dipelajari melalui media permainan.
d. Lingkungan yang mendukung
Lingkungan yang cukup luas untuk bermain memungkinkan anak mempunyai
cukup ruang untuk bermain.
e. Alat dan jenis permainan yg cocok
Pilih alat bermain sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Alat permainan
harus aman bagi anak.
6. KLASIFIKASI BERMAIN
a. Menurut isi permainan
Sosial affective play
Inti permainan ini adalah hubungan interpersonal yang menyenangkan antara
anak dengan orang lain (contoh: ciluk-baa, berbicara sambil tersenyum dan
tertawa).
Sense of pleasure play
Permainan ini sifatnya memberikan kesenangan pada anak (contoh: main air dan
pasir).
Skiil play
Permainan yang sifatnya meningkatkan keterampilan pada anak, khususnya
motorik kasar dan halus (misal: naik sepeda, memindahkan benda).
Dramatik Role play
Pada permainan ini, anak memainkan peran sebagai orang lain melalui
permainanny. (misal: dokter dan perawat).
Games
Permainan yang menggunakan alat tertentu yang menggunakan perhitungan /
skor (Contoh : ular tangga, congklak).
Un occupied behaviour
Anak tidak memainkan alat permainan tertentu, tapi situasi atau objek yang ada
disekelilingnya, yang digunakan sebagai alat permainan (Contoh: jinjit-jinjit,
bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja dsb).
b. Menurut karakter sosial
Onlooker play
Anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain, tanpa ada inisiatif
untuk ikut berpartisifasi dalam permainan (Contoh: Congklak/Dakon).
Solitary play
Anak tampak berada dalam kelompok permainan, tetapi anak bermain sendiri
dengan alat permainan yang dimilikinya dan alat permainan tersebut berbeda
dengan alat permainan temannya dan tidak ada kerja sama. Dilakukan oleh anak
toddler
Parallel play
Anak menggunakan alat permaianan yang sama, tetapi antara satu anak dengan
anak lain tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara anak satu dengan
lainya tidak ada sosialisasi. Dilakukan anak usia toddler atau preschool
Associative play
Permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan anak lain,
tetapi tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin dan tujuan permaianan tidak jelas
(Contoh: bermain boneka, masak-masak).
Cooperative play
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada permainan jenis ini,
dan punya tujuan serta pemimpin (Contoh: main sepak bola).
c. Menurut Usia (tahap perkembangan)
1) Bayi usia 0 – 3 bulan
Interaksi sosial yang menyenangkan antara bayi dengan orang tua atau
orang dewasa disekitarnya, misal : mainan gantung dengan warna cerah dan
bunyi yang menarik
Ajak bayi berbicara, berikan kesempaatan untuk mendengar pembicaraan,
nyanyian dan musik
2) Bayi usia 4-6 bulan
Stimulus penglihatan : nonton TV, bercermin
Stimulus pendengaran : memanggil nama
Stimulus taktil : berikan mainan yang dapat digenggam, bermain sambil
mandi
3) Bayi usia 7-9 bulan
Stimulus penglihatan : memainkan kaca dan membiarkan anak bermain
dengan kaca serta berbicara sendiri
Stimulus pendengaran : memanggil nama anak, mengulangi kata-kata yang
diucapkan seperti mama, papa
Stimulus taktil : membiarkan anak bermain pada air mengalir
Kinetik : melatih anak untuk berdiri, merangkak.
4) Umur 10-12 bln
Stimulus penglihatan : memperlihatkan gambar terang dalam buku.
Stimulus pendengaran : membunyikan suara binatang tiruang, menunjukkan
tubuh dan menyebutnya.
Stimulus taktil : membiarkan anak merasakan dingin dan hangat,
membiarkan anak merasakan angin.
Kinetik : memberikan anak mainan besar yang dapat ditarik atau
didorong, seperti sepeda atau kereta.
5) Anak usia Toddler (> 1-3 tahun)
Banyak bergerak, mulai mengembangkan diri untuk otonomi, rasa ingin
tahu yang besar
Solitary play atau parallel play
Jenis mainan : sepeda, alat memasak, boneka, buku gambar
6) Anak usia pra sekolah (3-6 tahun)
Associative play, dramatic play, skill play
Sudah dapat bermain kelompok
Jenis mainan : mobil-mobilan, berenang
7) Anak usia sekolah (6-12 tahun)
Bermain dalam kelompok dengan jenis kelamin yang sama, belajar
independen, kooperatif, bersaing, menerima orang lain
Cooperative play
Jenis mainan : mobil-mobilan, alat memasak, olahraga bersama, alat
gambar, pekerjaan tangan, mengumpulkan perangko
8) Anak usia remaja (13-18 tahun)
Anak bermain dalam kelompok
Jenis mainan : main musik, momputer, sepak bola
B. BERMAIN DI RUMAH SAKIT
Perawatan di Rumah Sakit merupakan pengalaman yang penuh dengan stress, baik
bagi anak maupun orang tua. Untuk itu, anak memerlukan media yang dapat
mengeskpresikan perasaan tersebut dan mampu bekerja sama degan petugas kesehatan
selama dalam masa perawatan. Aktivitas bermain yang dilakukan perawat pada anak di RS
akan memberikan keuntungan sebagai berikut :
1. Meningkatkan hubungan klien dan perawat
2. Aktivitas beramain yang terpogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak
3. Permainan di RS membantu anak mengekspresikan perasaannya.
4. Permainan yang terapeutik akan membentuk tingkah laku yang positif.
Prinsip – prinsip bermain di rumah sakit :
1. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan sederhana.
2. Relatif aman dan terhindar dari infeksi silang.
3. Sesuai dengan kelompok usia.
4. Peramainan tidak boleh bertentangan dengan terapi yang sedang dijalankan.
5. Perlu partisipasi orang tua dan keluarga.
Tekhnik Bermain di Rumah Sakit :
1. Berikan alat permainan untuk merangsang anak bermain sesuai dengan umur
perkembangannya
2. Berikan cukup waktu dalam bermain dan menghindari interupsi
3. Berikan permainan yang bersifat mengurangi sifat emosi anak
4. Tentukan kapan anak boleh keluar atau turun dari tempat tidur sesuai dengan kondisi
anak.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bermain tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak, karena bagi anak bermain
sama saja bekerja bagi orang dewasa. Bermain pada anak mempunyai fungsi yaitu untuk
perkembangan sensorik, motorik, intelektual, sosial, kreatifitas, kesadaran diri, moral
sekaligus terapi anak saat sakit.
Tujuan bermain adalah melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal,
mengekspresikan dan mengalihkan keinginan fantasi. Dan idenya mengembangkan
kreatifitas dan kemampuan memecahkan masalah dan membantu anak untuk beradaptasi
secara efektif terhadap stress karena sakit dan di rawat di Rumah Sakit.
B. SARAN
Terapi bermain dapat menjadi obat bagi anak-anak yang sakit. Jadi sebaiknya di
RS juga disediakan fasilitas bermain bagi anak-anak yang di rawat di rumah sakit.
Mensosialisasikan terapi bermain pada orang tua sehingga orang tua dapat menerapkan
terapi di rumah dan di rumah sakit.
SATUAN ACARA BERMAIN
Pokok Bahasan : Terapi bermain pada anak dengan hospitalisasi di RS
Sub Pokok Bahasan : Bermain mewarnai dan melipat kertas.
Sasaran : Anak usia 6 – 12 tahun
Pelaksana : Mahasiswa
Waktu Pelaksanaannya : Senin, 1 November 2021
Tempat : Ruang keperawatan anak
1. LATAR BELAKANG
Definisi bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh
kepuasan atau kesenangan. Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual,
emosional dan sosial. Bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan
bermain anak – anak akan berkomunikasi, belajar beradaptasi dengan lingkungannya,
melakukan apa yang dapat dilakukannya, serta dapat mengenal waktu, jarak, dan suara.
( WONG 2008 )
Konsep Hospitalisasi merupakan keadaan dimana orang sakit berada pada lingkungan RS
untuk mendapatkan pertolongan dalam perawatan atau pengobatan sehingga dapat
mengatasi atau meringankan penyakitnya. Tetapi pada umumnya hospitalisasi dapat
menimbulkan ketegangan dan ketakutan serta gangguan emosi dan tingkah laku yang
mempengaruhi kesembuhan dan perjalanan penyakit anak selama di rawat di RS. Stressor
yang mempengaruhi permasalahan di atas timbul sebagai akibat dari dampak perpisahan,
pembatasan aktifitas, perlukaan tubuh dan nyeri, dimana stresor tidak dapat
diadaptasikan. Untuk itu anak memerlukan media yang dapat mengekspresikan perasaan
tersebut dan mampu bekerjasama dengan petugas kesehatan selama masa perawatan.
Hospitalisasi selama kanak kanak adalah pengalaman yang memiliki efek yang lama, kira
– kira satu dari tiga anak pernah mengalami hospitalisasi. ( Foster and Humberger ,
1998 ).
Faktor – faktor yang mempengaruhi hospitalisasi pada anak :
a. Anxietas
b. Gangguan kontak sosial
c. Nyeri
d. Prosedur yang menyakitkan
e. Takut akan cacat atau mati
f. Berpisah dengan orangtua.
Fungsi bermain :
Merangsang perkembangan : sensorik motorik, kognitif, sosial, kreatifitas, kesadaran diri,
moral dan bermain sebagai terapi.
Konsep mewarnai :
Menurut Femi Olivia dalam bukunya Gembira Bermain corat – coret mewarnai
merupakan suatu bentuk kegiatan kreativitas dimana anak diajak untuk memberikan satu
atau beberapa goresan warna pada suatu bentuk atau pola gambar sehingga terciptalah
suatu kreasi seni.
Konsep melipat kertas:
Dr Sumanto, (2006) melipat atau origami adalah suatu teknik berkarya seni/ kerajinan
tangan yang umumnya dibuat dari bahan kertas dengan tujuan untuk menghasilkan aneka
bentuk main, hiasan, benda fungsional, alat peraga dan kreasi lainnya.
2. TUJUAN :
a. Tujuan intruksional umum
Setelah dilakukan terapi bermain selama 30 menit diharapkan anak dapat terstimulasi
kemampuan motorik dan kreatifitasnya.
b. Tujuan instruksional khusus
1. Anak dapat melakukan interaksi dan bersosialisasi dengan teman sesamanya.
2. Menurunkan perasaan hospitalisasi.
3. Dapat beradaptasi dengan efektif terhadap stress karena penyakit dan di rawat.
4. Meningkatkan latihan konsentrasi
5. Mengurangi rasa takut dengan tenaga kesehatan
6. Melanjutkan perkembangan motorik, kognitif, sensorik, sosial, kreatifitas,
kesadaran diri, moral dan bermain sebagai terapi.
3. SASARAN
Yang menjadi sasaran dalam terapi bermain saat ini adalah anak usia 6 – 12 tahun ( usia
sekolah )
Keadaan umum : baik, kooperatif dan tidak berpenyakit menular.
Menyetujui / bersedia
Tidak ada gangguan pada fungsi motorik ektremitas atas yang menganggu pergerakan.
4. PRINSIP BERMAIN
a. Tidak banyak mengeluarkan energi, singkat dan sederhana.
b. Mempertimbangkan keamanan
c. Kelompok umur yang sama
d. Melibatkan orangtua
e. Tidak bertentangan dengan pengobatan.
5. PROSES SELEKSI
a. Merekrut anak yang berusia sekolah
b. Identifikasi anak yang termasuk kriteria anggota bermain.
c. Membuat kontrak dengan anak dan orangtua yang menyetujui untuk bermain :
1. Mendahului dengan ajakan bermain
2. Setelah anak menyetujui bermain, baru dilaksanakan terapi bermain di ruang yang
telah ditentukan / tempat tidur.
6. SARANA DAN MEDIA
Sarana : ruangan tempat bermain dan atau di tempat tidur.
Media :
o kertas manila/karton yang sudah di beri pola
o lem
o pensil gambar/ crayon
o jam pengukur waktu
o reward/hadiah.
7. MATERI
Mewarnai dan melipat kertas adalah kegiatan bermain bagi anak-anak usia sekolah.
Kegiatan ini dimulai dengan mewarnai gambar yang ada di kertas manila/karton berpola
sesuai kreasi masing-masing anak. Kemudian dilanjutkan dengan melipat kertas berpola
menjadi sebuah bentuk bangun ruang. Dengan harapan gambar tersebut tersusun rapi
sesuai urutan. Setiap anak mengerjakan satu bangun ruang. Anak yang menyelesaikan
paling cepat akan mendapatkan hadiah.
8. SUSUNAN ACARA
Permainan mewarnai dan melipat kertas dilakukan dalam waktu kurang lebih 30
menit dengan susunan acara sebagai berikut :
WAKTU KEGIATAN PERAWAT KEGIATAN PESERTA
Pembukaan 1. Mengucapkan salam 1. Membalas salam
(5 menit) 2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan penjelasan
3. Menjelaskan tujuan dan 3. Mendengarkan penjelasan
peraturan kegiatan
4. Menjelaskan media yang akan 4. Mendengarkan penjelasan
dijadikan media permainan
Permainan 1. Mengumpulkan klien yang 1. Ikut berkumpul
(20 menit) telah diseleksi
2. Meminta kepada setiap klien 2. Memperkenalkan diri dan
untuk menyebutkan nama bersalaman dengan
masing-masing dan bersalaman peserta lain
dengan semua peserta lain
3. Menjelaskan kembali tentang 3. Mendengarkan penjelasan
permainan beserta alat-alatnya
dan hadiah yang akan
diberikan 4. Bersiap - siap memulai
4. Membagikan peralatan kegiatan
mewarnai dan kertas manila 5. Memulai kegiatan
5. Meminta klien untuk memulai
permainan 6. Menyelesaikan kegiatan
6. Catat waktu yang tercepat dan
berikan hadiah kepada klien
Penutup 1. Memberikan kesimpulan 1. Mendengarkan
(5 menit) permainan
2. Mengucapkan salam penutup 2. Menjawab salam
9. SKEMA TERAPI BERMAIN
a. Deskripsi tugas Terapis
Leader
Memimpin jalannya acara bermain
Membuka perkenalan
Membuat dan mengatur setting tempat dan waktu
Memberikan reward / hadiah
Menutup kegiatan bermain
Fasilitator
Mendampingi / membantu peserta dalam bermain
Observer
Mengobservasi jalannya acara permainan
Memberikan sekilas penilaian
Memberikan kritik dan saran setelah acara selesai
Mengevaluasi dan memberikan feedback pada leader
b. Setting Tempat
KETERANGAN :
Leader
Peserta
Fasilitator
Observer
10. EVALUASI
Yang dievaluasi dalam kegiatan ini adalah:
A. Persiapan
Kesiapan alat-alat permainan dan ruangan untuk bermain
Kesiapan peserta dalam mengikuti permainan
Ketepatan waktu
B. Proses
Kemampuan leader memimpin permainan
Kemampuan fasilitator dalam memfasilitasi anak
Respon anak selama bermain (kontak mata, kehadiran penuh, antusiasme anak
selama bermain)
C. Hasil
Kesan –kesan anak setelah melakukan terapi bermain.
DAFTAR PUSTAKA
Foster and Humsberger, 1998, Family Centered Nursing Care of Children. WB sauders Company,
Philadelpia USA.
Wong, Donna L. 2000. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik (Wong’s Essentials of Pediatric
Nursing). Terjemahan oleh Andry Hartono. Jakarta: EGC.
Supartini, Y. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak, Cetakan 1, Jakarta : EGC.
KASUS
An.B dibawa ke Rumah sakit dikarenakan sudah 2 hari mengalami demam tinggi sejak
tgl 26 Oktober 2021 dan mengalami mual , saat dirumah orang tuanya memberikan
obat pereda panas pada An.B namunnamun masi demam. Demam yang dialaminya
biasanya reda kadang- kadang reda kadang- kadang kembali demam, setelah masuk ke
UGD dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan setelah itu dokter mendiagnosa
bahwa An. Di diagnosa DHF saat di UGD telah dilakukan tindakan keperawatan dan
dilakukan lab . Dokter juga menganjurkan untuk An.A opname dirumah sakit, orang tua
An.B setuju untuk dilakukan opname apada anaknya. Saat dilakukan tindakan
keperawatan oleh perawat, An.B menolak dan menangis hingga kemudian perawat