Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi
Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi
KATA PENGANTAR
M
Modul Tahap Persiapan ini merupakan bagian dari Modul
Penyusunan RDTR Kabupaten/Kota yang di susun sebagai alat
bantu untuk kegiatan Penyusunan RDTR Kabupaten/Kota dan
telah sesuai dengan Peraturan Menteri PU No 20/PRT/M/2018
tentang Pedoman penyusunan RDTR dan Zonasi Kabupaten dan Kota. Dengan
modul ini diharapkan aparat pemerintah Kabupaten/Kota, khususnya yang
menangani bidang penataan ruang dan/atau penyusun RDTR dapat
dimudahkan pekerjaannya. Selain itu diharapkan pula aparat pemerintah
daerah dapat memperkaya pengetahuannya dan memanfaatkan modul ini dalam
pelaksanaan kegiatan Penyusunan RDTR.
Halaman 4-i
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. 1-1
1.2 Maksud dan Tujuan.................................................................................................... 1-2
1.3 Definisi RDTR ............................................................................................................... 1-2
1.4 Masa Berlaku RDTR ................................................................................................... 1-3
1.5 Daftar Istilah ................................................................................................................. 1-3
H a l a m a n 4 - ii
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - iii
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
DAFTAR GAMBAR
H a l a m a n 4 - iv
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
BAB I
PENDAHULUAN
H a l a m a n 1-1
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 1-2
MODUL
Penyusunan RTRW Kabupaten/Kota
RDTR berlaku dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dan ditinjau
kembali setiap 5 (lima) tahun. Peninjauan kembali RDTR dapat dilakukan
lebih dari 1 kali dalam 5 tahun, jika :
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupnya.
2. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
3. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
4. Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan
struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan
penetapan rencana tata ruang.
5. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem
jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung
kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki
hubungan fungsional.
6. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah
yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan
ruang untuk fungsi budidaya.
H a l a m a n 1-3
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 1-4
MODUL
Penyusunan RTRW Kabupaten/Kota
H a l a m a n 1-5
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
22. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas
lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana,
utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di
kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.
23. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan
prasarana dan sarana lingkungan.
24. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian yang
memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan bertempat tinggal yang
layak, sehat, aman, dan nyaman, antara lain berupa jaringan jalan,
jaringan saluran pembuangan air limbah, jaringan saluran pembuangan
air hujan (drainase), dan tempat pembuangan sampah.
25. Sarana adalah fasilitas dalam lingkungan hunian yang berfungsi untuk
mendukung penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial,
budaya, dan ekonomi. sarana perniagaan/perbelanjaan, antara lain
berupa sarana pelayanan umum dan pemerintahan, sarana pendidikan,
sarana kesehatan, sarana peribadatan, sarana rekreasi dan olah raga,
sarana pemakaman, sarana pertamanan dan ruang terbuka hijau, dan
sarana parkir.
26. Utilitas umum adalah kelengkapan penunjang untuk pelayanan
lingkungan hunian, antara lain beripa jaringan air bersih, jaringan
listrik, jaringan telepon, jaringan gas, jaringan transportasi, pemadam
kebakaran, dan sarana penerangan jasa umum.
27. Jaringan adalah keterkaitan antara unsur yang satu dan unsur yang lain.
28. Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh
batasan fisik yang nyata seperti jaringan jalan, sungai, selokan, saluran
irigasi, saluran udara tegangan ekstra tinggi, dan pantai, atau yang
belum nyata seperti rencana jaringan jalan dan rencana jaringan
prasarana lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota.
H a l a m a n 1-6
MODUL
Penyusunan RTRW Kabupaten/Kota
H a l a m a n 1-7
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
38. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disingkat RTH adalah area
memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih
bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara
alamiah maupun yang sengaja ditanam.
39. Ruang Terbuka Non Hijau yang selanjutnya disingkat RTNH adalah
ruang terbuka di bagian wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam
kategori RTH, berupa lahan yang diperkeras atau yang berupa badan
air, maupun kondisi permukaan tertentu yang tidak dapat ditumbuhi
tanaman atau berpori.
40. Saluran Udara Tegangan Rendah yang selanjutnya disingkat SUTR
adalah jaringan distribusi dengan sistem tegangan 220/380 V (dua
ratus dua puluh sampai tiga ratus delapan puluh Volt), dimana jaringan
dapat berbentuk hantaran udara khususnya pada kawasan peruntukan
perumahan.
41. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi yang selanjutnya disingkat
SUTET adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat
penghantar di udara yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik
dari pusat pembangkit ke pusat beban dengan tegangan di atas 278 kV.
42. Saluran Udara Tegangan Tinggi yang selanjutnya disingkat SUTT adalah
saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat penghantar di udara
yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik dari pusat pembangkit
ke pusat beban dengan tegangan di atas 70 kV sampai dengan 278 Kv
H a l a m a n 1-8
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
BAB II
PROSES PENYUSUNAN RDTR
H a l a m a n 2-1
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 2-2
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Gambar 2.5
Contoh RDTR Kawasan Pedesaan yang Direncanakan sebagai Kawasan
Perkotaan
H a l a m a n 2-3
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
PERSIAPAN PENGOLAHAN
PENYUSUNAN
Penetapan lingkup Data dalam bentuk Potensi dan masalah Rumusan tentang
kegiatan data statistik dan pengembangan BWP tujuan, kebijakan,
Kebutuhan tenaga peta Peluang dan tantangan dan strategi
ahli Informasi yang pengembangan pengembangan
Kebutuhan dikumpulkan Kecenderungan wilayah
anggaran kegiatan berupa data perkembangan kabupaten/kota
Perumusan isu-isu tahunan (time Perkiraan kebutuhan Konsep
strategis di series) minimal 5 pengembangan BWP pengembangan
kawasan (lima) tahun Intensitas pemanfaatan wilayah
perencanaan terakhir dengan ruang sesuai dengan daya kabupaten/kota
Identifikasi kedalaman data dukung dan daya tampung
ketersediaan data setingkat teridentifikasinya
pendukung kelurahan. indikasi arahan penanganan
(termasuk peta kawasan dan lingkungan.
dasar)
H a l a m a n 2-4
Proses Penyusunan RDTR
H a l a m a n 2-5
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 2-6
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
pelaksanaan
Perangkat survey data
primer dan data
sekunder
H a l a m a n 2-7
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Proses Penyusunan Peraturan Zonasi
H a l a m a n 2-8
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
BAB III
H a l a m a n 3-1
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
1. penetapan fungsi dan peran BWP dalam wilayah yang lebih luas yang
akan mempengaruhi pada pembentukan jaringan prasarana terutama
lintassub wilayah/lintas kawasan atau yang mengemban fungsi layanan
dengan skala yang lebih luas dari wilayah BWP.
H a l a m a n 3-2
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Keluaran analisis fisik atau lingkungan BWP ini digunakan sebagai bahan
dalam sintesa analisis holistik dalam melihat potensi, masalah, peluang
penataan ruang BWP dalam penyusunan RDTR dan peraturan zonasi.
Analisis sumber daya alam dan fisik/lingkungan wilayah yang perlu
dilakukan mencakup beberapa analisis berikut:
H a l a m a n 3-3
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Analisis klimatologi
Digunakan dalam mengidentifikasi potensi dan permasalahan
pengembangan BWP berdasarkan kesesuaian iklim setempat. Analisis ini
menjadi bahan rekomendasi bagi kesesuaian peruntukan pengembangan
kegiatan budi daya.
Analisis sumber daya alam dan fisik wilayah lainnya (zona budi
daya)
Selain analisis tersebut diatas, perlu juga dilakukan analisis terhadap
sumber daya alam lainnya sesuai dengan karakteristik BWP yang akan
direncanakan, untuk mengetahui pola kewenangan, pola pemanfaatan,
maupun pola kerjasama pemanfaatan sumber daya tersebut.
H a l a m a n 3-4
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 3-5
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 3-6
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Analisis didasarkan pada luas wilayah dan perhitungan penduduk per unit
kegiatan dari sebuah BWP atau perhitungan rasio penduduk terhadap
kapasitas atau skala pelayanan prasarana dan sarana wilayah perencanaan
atau intensitas pemanfaatan ruang terhadap daya dukung prasarana/utilitas
serta analisis daya dukung wilayah. Dalam analisis sumber day
H a l a m a n 3-7
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 3-8
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 3-9
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 3-10
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 3-11
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 3-12
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Intensitas kegiatan di
wilayah perencanaan
Sumber: Lampiran Permen PU No.20/PRT/M/2011
H a l a m a n 3-13
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Kewajiban Masyarakat
H a l a m a n 3-14
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Hak Masyarakat
H a l a m a n 3-15
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
kepada
Menteri ATR/BPN
Pelibatan
Proses pelibatan Pelibatan masyarakat Proses pelibatan
masyarakat
masyarakat secara secara 2 arah. Dialog masyarakat dalam
secara aktif bentuk pengajuan
pasif dengan dilakukan melalui
pemberitaan & konsultasi publik, usulan, keberatan, &
pengumpul an
pemberian informasi workshop, FGD, sanggahan terhadap
kuesioner,
raperda
penataan ruang kotak aduan, seminar, dll
interview, dll
H a l a m a n 3-16
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
BAB IV
MUATAN RDTR DAN
PERATURAN ZONASI
Halaman 4-1
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Halaman 4-2
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
komposisi penduduk yang ada di mana kelompok remaja dan generai muda
menjadi tinggi. Kelompok ini dapat dikatakan menjadi trend sentter gaya
hidup SWK Cibeunying. Gaya hidup ini menjadikan Cibeunying sebagai pusat
mode dimana kegiatan perdagangan pakaian retail menjamur di wilayah ini
baik dalam bentuk mall, Factory Outlet maupun butik.
Dalam mencapai visi Kota Bandung bagi SWK Cibeunying sebagai museum
terbuka, SWK Cibeunying juga memiliki keunggulan dengan masih cukup
banyaknya bangunan-bangunan cagar budaya “heritage” peninggalan
Belanda yang dapat membentuk kawasan-kawasan bersejarah dan menjadi
bukti bahwa Kota Bandung pernah diberi gelar sebagai ”Parijs van Java”.
Namun demikian, kawasan heritage saat ini keberadaannya terancam akibat
berubah menjadi tempat usaha seperti perdagangan dan jasa, atau yang lebih
Halaman 4-3
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
A. Tujuan
Merupakan nilai dan/atau kualitas terukur yang akan dicapai sesuai dengan
arahan pencapaian sebagaimana ditetapkan dalam RTRW dan merupakan
alasan disusunnya RDTR tersebut, serta apabila diperlukan dapat dilengkapi
konsep pencapaian. Tujuan penataan BWP berisi tema yang akan
direncanakan di BWP.
B. Kebijakan
Halaman 4-4
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
C. Strategi
Isi Substansi
Keterangan
hal yang ingin Cara/materi untuk
substansi
dicapai mencapai
Kebijakan V Terukur
Strategi V V Normatif & Terukur
Halaman 4-5
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Halaman 4-6
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Halaman 4-7
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Halaman 4-8
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Halaman 4-9
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 10
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
BLOK
SUB BWP
BLOK
ILUSTRASI PENDELINIASIAN
H a l a m a n 4 - 11
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 12
CONTOH PETA POLA RUANG SWK CIBEUNYING KOTA BANDUNG
H a l a m a n 4 - 13
BEBERAPA CONTOH NOMENKLATUR ZONA, SUB ZONA, DAN SUB SUBZONA
H a l a m a n 4 - 14
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 15
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
* Dalam hal terdapat jalur kereta api, jalur pelayaran, dan jalur pejalan kaki/sepeda,selain
memuat jaringan pergerakan sebagaimana dimaksud pada angka 1 sampaidengan angka 5,
rencana jaringan pergerakan juga harus memuat rencana jalur keretaapi, jalur pelayaran, dan
jalur pejalan kaki/sepeda.
ROW ROW
Fungsi Jalan Usulan
No Ruas Jalan Eksisting Rencana Program Penanganan
Eksisting Fungsi
(m) (m)
- Pembatasan jalan akses langsung ke jalan
Kolektor Kolektor - Pengaturan kendaraan lambat/berhenti
1 Jl. Dr. Setiabudhi 14,8 – 16,70 18
Primer Primer - Pembatasan parkir
- Penyediaan shelter angkutan umum
Kolektor - Pengaturan kendaraan lambat/berhenti
2 Jl. Sadang Serang Lokal 6.50 – 9 10
Sekunder - Pembatasan parkir
- Penertiban tempat berhenti angkot
3 Jl. Purnawarman Lokal 16.37 Lokal 18 - Sistem buka tutup
- Penyediaan jalur pejalan kaki
4 Jl. Tamansari Lokal 15.27 Kolektor 16 - Penertiban tempat berhenti angkot
H a l a m a n 4 - 16
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
ROW ROW
Fungsi Jalan Usulan
No Ruas Jalan Eksisting Rencana Program Penanganan
Eksisting Fungsi
(m) (m)
Sekunder - Penambahan lebar perkerasan satu arah
- Pelebaran perkerasan jalan
- Pembatasan parkir dengan sistem
5 Jl. Gagak Lokal 3,70 -5.00 Lokal 8 pengaturan jam dan lama parkir
- Sistem buka tutup (pemberlakuan sistem
satu arah pada jam-jam tertentu)
Rencana Pengembangan Jalur Pejalan Kaki
H a l a m a n 4 - 17
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
maupun jalur khusus pejalan kaki yang berada di bawah permukaan tanah.
f. Ruang Pejalan Kaki di Atas Tanah (Elevated)
NOTE:
Pembahasan rencana pengembangan jaringan pergerakan (darat, udara, air) dapat
didetailkan berdasarkan karakter wilayah perencanaan. Contoh: rencana simpul-simpul
transportasi darat (terminal, halte), laut (dermaga, pelabuhan), udara (bandara).
Contoh Peta Rencana Pengembangan Jaringan Jalan, Peta Rencana Pengembangan
Fasilitas Transportasi, dan Peta Rencana Jalur Pejalan Kaki dapat dilihat di bagian
lampiran.
H a l a m a n 4 - 18
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
NOTE:
Contoh Peta Rencana Pengembangan Jaringan Energi/Listrik dapat dilihat di bagian lampiran
H a l a m a n 4 - 19
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
NOTE:
Contoh Peta Rencana Pengembangan Jaringan telekomunikasi dapat dilihat di bagian lampiran
H a l a m a n 4 - 20
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
NOTE: Contoh Peta Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum dapat dilihat di bagian lampiran
5. Rencana Pengembangan Drainase
*Dalam hal kondisi topografi di BWP berpotensi terjadi genangan, maka perlu dibuatkolam
retensi, sistem pemompaan, dan pintu air
H a l a m a n 4 - 21
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
NOTE:
Contoh Peta Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah dapat dilihat di bagian lampiran
Note
Contoh Peta Rencana Pengembangan Jaringan Persampahan dan Peta Rencana Jalur Evakuasi
Bencana dapat dilihat di bagian lampiran
H a l a m a n 4 - 22
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 23
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
c. merupakan Sub BWP yang memiliki nilai penting dari sudut kepentingan
ekonomi, sosial-budaya, pendayagunaan sumber daya alam dan/atau
teknologi tinggi, fungsi dan daya dukung lingkungan hidup, dan/atau
memiliki nilai penting lainnya yang sesuai dengan kepentingan
pembangunan BWP; dan/atau
d. merupakan Sub BWP yang dinilai perlu dikembangkan, diperbaiki,
dilestarikan, dan/atau direvitalisasi agar dapat mencapai standar
tertentu berdasarkan pertimbangan ekonomi, sosial-budaya, dan/atau
lingkungan.
Muatan bagian penetapan sub BWP yang diprioritaskan terdiri dari 2 sub
besar, meliputi
1. Lokasi Sub BWP yang di :prioritaskan penanganannya digambarkan
dalam peta. Lokasi tersebut dapat meliputi seluruh wilayah Sub BWP
yang ditentukan, atau dapat juga meliputi sebagian saja dari wilayah Sub
BWP tersebut. Batas delineasi lokasi Sub BWP yang diprioritaskan
penanganannya ditetapkan dengan mempertimbangkan:
batas fisik, seperti blok dan subblok;
fungsi kawasan, seperti zona dan subzona;
wilayah administratif, seperti RT, RW, desa/kelurahan, dan
kecamatan;
penentuan secara kultural tradisional, seperti kampung, desa adat,
gampong, dan nagari;
kesatuan karakteristik tematik, seperti kawasan kota lama, lingkungan
sentra perindustrian rakyat, kawasan sentra pendidikan, kawasan
perkampungan tertentu, dan kawasan permukiman tradisional; dan
jenis kawasan, seperti kawasan baru yang berkembang cepat,
kawasan terbangun yang memerlukan penataan, kawasan
dilestarikan, kawasan rawan bencana, dan kawasan gabungan atau
campuran.
2. Tema Penanganan
H a l a m a n 4 - 24
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
FUNGSIsebagai
H a l a m a n 4 - 25
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
DASAR PERUMUSAN:
1. rencana pola ruang dan jaringan prasarana
2. ketersediaan sumber daya dan sumber dana pembangunan
3. kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan
4. masukan dan kesepakatan dengan para investor
5. prioritas pengembangan BWP dan pentahapan rencana pelaksanaan
program sesuai dengan RPJP daerah dan RPJM daerah, serta rencana
terpadu dan program investasi infrastruktur jangka menengah
KRITERIA PERUMUSAN:
1. mendukung perwujudan rencana pola ruang dan jaringan prasarana di
BWP serta perwujudan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya
2. mendukung program penataan ruang wilayah kabupaten/kota
3. realistis, objektif, terukur, dan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu
perencanaan
4. konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun
5. terjaganya sinkronisasi antarprogram dalam satu kerangka program
terpadu pengembangan wilayah kabupaten/kota
H a l a m a n 4 - 26
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 27
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 28
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Contoh Arahan Pemanfaatan Ruang
CARA MENGISI TABEL INDIKASI PROGRAM PRIORITAS
Penentuan penamaan substansi program utama Program/kegiatan memiliki status dan fungsi
menjadi tanggung jawab pemerintah Kewenangan pelaksanaan
harus
pusat suatu program/kegiatan
Kegiatan khusus yang diusulkan daerah dan dapat didasarkan dari sumber
Daerah.
memiliki dana yang digunakan
sharing sumber dana dari APBN
selain APBD Pembagian kegiatan yang
Apabila jenis kegiatan tidak terdapat dalam ketentuan menjadi kewenangan
tersebut, maka dapat dimasukkan ke rekening lainnya pemerintah daerah dapat
pihak swasta yang terkait. dilihat lebih detail pada UU
Ketentuan penggunaan sumber dana dapat
didasarkan pada kepentingan dan lingkup
penangananya Pemerintah
H a l a Daerah
m a n 4 - 29
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 30
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 31
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 32
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
a. Fungsi
UU 26/2007 mengatakan bahwa fungsi peraturan zonasi ada 3, yaitu sebagai
perangkat pengendalian pemanfaatan ruang, pedoman pengendalian
pemanfaatan ruang dan sebagai pelengkap dari rencana rinci tata ruang
kabupaten/kota.
1. Peraturan zonasi merupakan salah satu perangkat pengendalian
pemanfaatan ruang
Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan
peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta
pengenaan sanksi (pasal 35)
2. Peraturan zonasi disusun sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan
ruang (pasal 36 ayat 2)
Pelaksanaan rencana rinci tata ruang untuk mengoperasionalkan
rencana umum tata ruang harus tetap memenuhi batasan yang telah
diatur dalam rencana rinci dan peraturan zonasi.
Penyempurnaan rencana rinci tata ruang berdasarkan aspirasi
masyarakat harus tetap mematuhi batasan yang telah diatur dalam
rencana rinci dan peraturan zonasi (penjelasan ps.14 ayat 1)
3. Peraturan zonasi yang melengkapi rencana rinci tata ruang
kabupaten/kota. Menjadi salah satu dasar dalam pengendalian
pemanfaatan ruang sehingga pemanfaatan ruang dapat dilakukan sesuai
dengan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang
(penjelasan umum angka 6)
Literatur lain juga menyebutkan fungsi yang mirip dengan apa yang
disebutkan oleh UU 26/2007 sebagai berikut:
1. Sebagai instrumen pengendalian pembangunan
Peraturan zonasi yang lengkap dapat menjadi rujukan untuk
perizinan, penerapan insentif/ disinsentif, dan
penertibanpemanfaatan ruang
2. Sebagai pedoman penyusunan rencana operasional
H a l a m a n 4 - 33
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 34
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
b. Manfaat
Manfaat peraturan zonasi adalah:
Meminimalkan penggunaan lahan yang tidak sesuai
Meningkatkan pelayanan terhadap fasiitas yang bersifat publik
Menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat
Mendorong pengembangan ekomoni
Kelebihan dari peraturan zonasi adalah Certain (pasti), predictable, legitimate,
accountable. Hanya saja, kekurangannya adalah tidak ada yang dapat
meramalkan keadaan di masa depan secara rinci, sehingga banyak permintaan
REZONING (karena itu, amandemen Peraturan Zonasi menjadi penting).
H a l a m a n 4 - 35
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 36
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Gambar 4.3 Kedudukan Peraturan Zonasi dalam Sistem Rencana Tata Ruang
H a l a m a n 4 - 37
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
A. Data Sekunder
• Kebijakan terkait dengan tata ruang (kawasan yang di dorong atau
dikendalikan perkembangannya) Teknik Pengaturan zonasi
• Standar-standar terkait pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang
– Standar perencanaan
– Standar design
• Peraturan sektoral:
– KKOP,
– Fasilitas pejalan kaki, jaringan jalan, menara,
– kawasan industri,
– perumahan dan permukiman,
– cagar budaya,
– pariwisata,
– Bangunan
H a l a m a n 4 - 38
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
– Lingkungan
• Proses dan prosedur pembangunan (perizinan dll)
• Studi-studi terkait karakteristik kawasan
B. Data Primer
• Konflik pemanfaatan ruang
• Dampak suatu kegiatan dalam suatu zona/Sub Zona
• Persepsi dan preferensi stakholder
• Observasi teknis pemanfaatan ruang (Intensitas, tata bangunan, obyek
khusus pemanfaatan ruang dll)
Tata Cara Mengkaji Dampak Kegitan Pada Suatu Jenis Guna Lahan
1. Kajian dampak suatu kegiatan yang berlokasi pada zona tertentu sangat
penting dalam merumuskan aturan dasar dan teknik pengaturan zonasi.
2. Diperlukan tenaga ahli perencana/penyusun peraturan zonasi yang bukan
fresh graduated, namun harus yang sudah mempunyai jam terbang tinggi.
3. Perlengkapan:
Peta Kerja
Kamera.
Form survei.
Dll
Peta foto udara akan sangat membantu untuk mengidentifikasi
karakter lingkungan.
H a l a m a n 4 - 39
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Observasi Lapangan
H a l a m a n 4 - 40
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Form Identifikasi Guna Lahan dan Kegiatan Pelatihan Zoning Regulation, Semarang 13-17 Oktober 2008
Hari/tanggal : ______________________________________________
Lokasi Survai : ______________________________________________
Form Identifikasi Guna Lahan dan Kegiatan Pelatihan Zoning Regulation, Surabaya 1-5 Desember 2008
Hari/tanggal :
Lokasi Survai :
H a l a m a n 4 - 41
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Form Identifikasi Guna Lahan dan Kegiatan Pelatihan Zoning Regulation, Semarang 13-17 Oktober 2008
Hari/tanggal : Rabu/15 Oktober 2008
Lokasi Survai : Jalan Pandanaran, Sub-blok P3
Form Identifikasi Guna Lahan dan Kegiatan Pelatihan Zoning Regulation, Semarang 13-17 Oktober 2008
Hari/tanggal : Rabu/15 Oktober 2008
Lokasi Survai : Jalan Pandanaran, Sub-blok P5
1 Hunian Jl. Pandanaran No. 01 1. Rumah deret a. Warung on street parking compatible dengan fungsi dominan
_________________ Perkiraan Luas Persil (m²) : 30x60 b. Warnet macet perlu penyediaan tempat parkir
_________________ Jumlah Lantai Bangunan : 1-2 lt c. Praktek Dokter kumuh perlu perbaikan drainase
KDB : 85% d. Industri Mie perlu pembatasan jenis kegiatan
KLB : _______ aksesoris agar tidak menimbulkan
Kapasitas Parkir di Persil :- eksternalitas negatif
Koefisien Lantai Basement (KLB) :-
Form Identifikasi Guna Lahan dan Kegiatan Pelatihan Zoning Regulation, Semarang 13-17 Oktober 2008
Hari/tanggal : Rabu/15 Oktober 2008
Lokasi Survai : Jalan Pandanaran, Sub-blok P4
1 Campuran Jl. Pandanaran No. 01 1. Rumah deret a. Warung kumuh compatible dengan fungsi dominan
_________________ Perkiraan Luas Persil (m²) : 135x30 b. Warnet bau perlu penyediaan tempat parkir
_________________ Jumlah Lantai Bangunan : 1 lt c. Kost-an perlu perbaikan drainase
KDB : 85% d. laundry perlu pembatasan jenis kegiatan
KLB : _______ e. Pendukung kegiatan aksesoris agar tidak menimbulkan
Kapasitas Parkir di Persil :- industri eksternalitas negatif
Koefisien Lantai Basement (KLB) :-
H a l a m a n 4 - 42
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 43
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 44
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 45
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
ZONA ZONA
No No
Kegiatan Kegiatan
A Perumahan C Perkantoran
1 Rumah Tunggal 1 Kantor Pemerintahan Pusat
2 Rumah Kopel 2 Kantor Pemerintahan Provinsi
3 Rumah Deret 3 Kantor Pemerintahan Kabupaten
4 Rumah Susun 4 Kantor Kecamatan
5 Asrama 5 Kantor Kelurahan
6 Rumah Kost 6 Polda
7 Panti Jompo 7 Polrestabes
8 Panti Asuhan 8 Polsek
9 Guest House 9 Kodam
10 Paviliun 10 Koramil
11 Rumah Dinas 11 Kantor swasta
12 Apartemen / Rumah Susun D Industri
13 Rumah Adat 1 Makanan/Minuman
B Perdagangan dan jasa 2 Tekstil
1 Ruko 3 Pengolahan Pertanian
2 Warung 4 Pakan Ternak
3 Toko 5 Penyamakan Kulit
4 Pasar Tradisional 6 Pengolahan Daging
5 Pasar Lingkungan 7 Pakaian jadi
6 Penyaluran Grosir 8 Pengemasan Barang
7 Pusat Perbelanjaan 9 Kayu
8 Supermarket 10 Publikasi dan Percetakan
9 Mall 11 Mesin dan Peralatan
10 Plaza 12 Mesin Perkantoran
11 Bahan Bangunan dan Perkakas 13 Mesin dan perlengkapan elektronik
12 Makanan dan Minuman 14 Peralatan medis dan instrumen
13 Peralatan Rumah Tangga 15 Alat-alat kendaraan bermotor
14 Hewan Peliharaan 16 Furniture dan manufaktur
15 Alat dan Bahan Farmasi 17 Daur ulang
16 Pakaian dan Aksesoris 18 Polutan
17 Peralatan dan Pasokan Pertanian 19 Non polutan
18 Tanaman E Sarana Pelayanan Umum
19 Kendaraan Bermotor dan Perlengkapannya Pendidikan
20 Jasa Bangunan 1 TK
21 Jasa Lembaga Keuangan 2 SD
22 Jasa Komunikasi 3 SMP
23 Jasa Pemakaman 4 SMU/SMK
24 Pusat Riset dan Pengembangan IPTEK 5 Perguruan tinggi/Akademi
25 Perawatan/ Perbaikan/ Renovasi Barang Kesehatan
H a l a m a n 4 - 46
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
ZONA ZONA
No No
Kegiatan Kegiatan
27 SPBU 1 RS tipe C
28 Pertamini 2 RS Bersalin
29 Jasa Penyediaan Ruang Pertemuan 3 Puskesmas Rawat Inap
30 Jasa Penyediaan Makanan dan Minuman 4 RS Gawat Darurat
31 Jasa Travel dan Pengiriman Barang 5 Laboratorium kesehatan
32 Jasa Pemasaran Properti 6 Puskesmas
33 Jasa Perkantoran/ Bisnis lainnya 7 Puskesmas Pembantu
34 Taman Hiburan 8 Posyandu
35 Taman Perkemahan 9 Balai Pengobatan
36 Bisnis Lapangan Olahraga 10 Pos Kesehatan
37 Studio Keterampilan 11 Dokter umum
38 Panti Pijat 12 Dokter spesialis
39 Hiburan dewasa lainnya 13 Bidan
40 Teater 14 Poliklinik
41 Bioskop Olahraga/ Rekreasi
42 Restoran 1 Lapangan OR
43 Penginapan hotel 2 Gelanggang OR
44 Penginapan losmen 3 Gedung OR
45 Cottage 4 Stadion
46 Salon Peribadatan
47 Laundry 1 Masjid
48 Penitipan Anak 2 Gereja
F RTH 3 Pura
1 Hutan Kota 4 Vihara
2 Jalur hijau dan pulau jalan 5 Kelenteng
3 Taman kota 6 Langgar/mushola
4 TPU Bina Sosial
5 Sempadan / Penyangga 1 Gedung Pertemuan Lingkungan
6 Pekarangan Gedung Pertemuan Kota
G Ruang Terbuka Non Hijau 2 Gedung serba guna
1 Lapangan 3 Balai pertemuan dan Pameran
2 Plaza 4 Pusat informasi lingkungan
3 Tempat Parkir 5 Lembaga sosial/organisasi
4 Taman bermain dan rekreasi Transportasi
5 Trotoar 1 Terminal tipe C
H Peruntukan Lainnya 2 Stasiun Kereta
1 Hortikultura 3 Dry Port / Gudang Peti Kemas
2 Kolam 4 Lapangan parkir umum
3 Perkebunan agrobisnis
4 Lapangan penggembalaan
Pemerahan susu
6 Kandang hewan
7 Pengambilan air tanah
8 Wisata alam
9 Wisata buatan
10 Wisata budaya
I Peruntukan Khusus
1 TPS
2 Daur ulang sampah
3 Pengolahan sampah/limbah
4 Penimbunan barang bekas
5 Rumah pompa
6 Pembangkit listrik
7 Pengolahan Air Bersih
8 Pengolahan Limbah
H a l a m a n 4 - 47
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Definisi :
Sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh batasan fisik yang
nyata (seperti jaringan jalan, sungai, selokan, saluran irigasi, saluran udara
tegangan (ekstra) tinggi, pantai, dan lain-lain), maupun yang belum nyata
(rencana jaringan jalan dan rencana jaringan prasarana lain yang sejenis sesuai
dengan rencana kota). Blok peruntukan dibatasi oleh batasan fisik yang nyata
maupun yang belum nyata.
Batas Blok Peruntukan yang nyata :
• jaringan jalan,
• sungai,
• selokan,
• saluran irigasi,
• saluran udara tegangan (ekstra) tinggi,
• garis pantai, dll.
Batas blok peruntukan yang belum nyata :
• rencana jaringan jalan,
• rencana jaringan prasarana lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota,
dan rencana sektoral lainnya.
Blok peruntukan perlu diberi nomor blok memudahkan referensi. Nomor
blok peruntukan dapat didasarkan pada kode pos (berdasarkan
kelurahan/desa) diikuti dengan 3 digit nomor blok
H a l a m a n 4 - 48
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 49
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
PERATURAN Zoning Text/ Aturan Dasar = aturan pada setiap jenis zona [definisi zona,
Statement kualitas lokal minimum zona, ketentuan pemanfaatan ruang,
ZONASI
Intensitas, tata bangunan, prasarana minimal, khusus, standar]
Zoning Map
[dimana zoning text/
statement akan Zona dan Kode
diterapkan]
Blok
H a l a m a n 4 - 50
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 51
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
1
KETENTUAN KEGIATAN DAN
PENGGUNAAN LAHAN
Ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan dirumuskan
berdasarkan ketentuan maupun standar yang terkait
dengan pemanfaatan ruang, ketentuan dalam peraturan
bangunan setempat dan ketentuan khusus bagi unsur
bangunan/komponen yang dikembangkan
SIMBOL DESKRIPSI
Þ Pemanfaatan diperbolehkan/diizinkan.
Þ Kegiatan dan penggunaan lahan yang termasuk dalam klasifikasi I memiliki
I
sifat sesuai dengan peruntukan ruang yang direncanakan.
Þ Pemerintah kabupaten/kota tidak dapat melakukan peninjauan atau
pembahasan atau tindakan lain terhadap kegiatan dan penggunaan
lahan yang termasuk dalam klasifikasi I.
B
Full block
H a l a m a n 4 - 52
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 53
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Pengisian isian tabel ketentuan teknis didasarkan pada daftar kegiatan yang
terdapat pada zona/sub zona/sub sub zona yang ada contoh :
1. daftar kegiatan dari zona kesehatan yaitu posyandu di dalam kotak zona
permukiman rendah diperbolehkan/diijinkan (I)
2. Daftar kegiatan dari zona perdagangan yaitu pasar di dalam kotak zona
permukiman tinggi diijinkan bersyarat harus melalui kajian lingkungan
dan amdal (B)
KEGIATAN VS ZONA
Fokus pada apakah suatu kegiatan perlu diatur /dikendalikaatau tidak.
Dampak kegiatan dalam suatu zona Skala pelayanan
Penentuan I, T, B dan X untuk kegiatan dan penggunaan lahan pada suatu zonasi
didasarkan pada hal-hal dibawah ini, meliputi :
H a l a m a n 4 - 54
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Besar
Tidak
Tidak Tidak
Tidak
2)
2) Kebutuhan
Kebutuhan Informasi:
Informasi:
Apakah kegiatan Ya
Ya Apakah kegiatan
KUALITAS
KUALITAS LOKAL
LOKAL
Jenis Kegiatan kompatibel dengan sesuai dengan kualitas
MINIMUM
MINIMUM ZONA
ZONA YANG
YANG
karakter zona/subzona? (lokal) minimum?
DITETAPKAN
DITETAPKAN
Ya
Ya
1)
1) Kebutuhan
Kebutuhan Informasi:
Informasi:
KODE
KODE dan
dan DEFINISI
DEFINISI ZONA
ZONA
Ada
Ada
Apakah dampak
Apakah dampak terkait/ Tidak terkait persyaratan/dampak Tidak
Tidak
Tidak
disebabkan oleh jumlah lingkungan (berkurangnya
kegiatan, waktu operasi, luasan/ kinerja infrastruktur, utilitas,
intensitas dan sejenisnya? keselamatan), keterbatasan
ruang?
kajian/penelitian
Perlu kajian/penelitian
Ya
Ya
lanjut
lebih lanjut
Perlu
lebih
Tidak
Tidak
Dampat dapat diantisipasti
Ya
Ya dengan ketentuan Bersyarat?
Diizinkan dengan
Syarat (B)
Apakah dampak
terkait persyaratan/dampak Tidak
Tidak Tidak
Tidak
lingkungan (berkurangnya Dampat dapat diantisipasti
kinerja infrastruktur, utilitas, dengan ketentuan Terbatas?
keselamatan), keterbatasan
ruang?
Ya
Ya
Ya
Ya
Diizinkan dengan
Terbatas (T)
Ya
Ya Diizinkan dengan
Terbatas sekaligus
Bersyarat (BT)
H a l a m a n 4 - 55
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Contoh Klasifikasi Zona, Sub zona, Definisi dan Kualitas Yang Diharapkan
Zona Kode Sub Zona Kode Definisi Kualitas Yang Diharapkan
Lindung
Perlindungan LB Perlindungan LB Zona resapan air dimana bercurah hujan Zona perlindungan yang mampu
Kawasan kawasan tinggi, berstruktur tanah yang mudah memberikan perlindungan secara efektif
bawahannya meresapkan air dan mempunyai geomorfologi terhadap kawasan sekitar dan bawahannya
yang mampu meresapkan air hujan secara sebagai pengatur tata air, pencegah banjir
besar-besaran, yang ditetapkan dengan fungsi dan erosi serta memelihara kesuburan
utama melindungi kelestarian lingkungan tanah. Pada zona ini tidak diperkenankan
hidup yang mencakup sumber daya alam dan adanya kegiatan budidaya untuk hunian,
sumber daya buatan. namun diperkenankan adanya prasarana
dan/atau sarana vital dengan KDB
maksimum 2%.
Lindung setempat PS Zona sepanjang jalan tol, jaringan jalan, rel Zona perlindungan sempadan
Sempadan tol PS-1 kereta, sungai serta sekeliling dana buatan dan danau/waduk, sempadan sungai dan
Sempadan PS-2 mata air yang ditetapkan dengan fungsi utama sempadan mata air yang terjaga dan
jaringan jalan melindungi fungsi utama dari jalan tol, terlindungi sehingga tidak menganggu
Sempadan rel KA PS-3 jaringan jalan, rel kereta, sungai serta fungsi kualitas danau buatan/waduk,
Perlindungan Sempadan sungai PS-4 sekeliling dana buatan dan mata air agar tidak sungai, mata air, rel KA, tol, dan SUTET dan
PS
Setempat Sempadan SUTET PS-55 terganggu. memenuhi aspek kesehatan dan
Sempadan sekitar PS-6 keselamatan. Pada zona ini tidak
danau buatan diperkenankan adanya kegiatan/
Sempadan mata PS-7 bangunan/bangun-bangunan yang
air mengganggu fungsi, struktur dan langgam
cagar budaya. Penyesuaian penggunaan
Lindung Buatan SC Cagar budaya SC Zona di sekitar atau di sekeliling bangunan Zona yang pemanfaatan ruangnya mampu
cagar budaya yang diperlukan untuk memberikan perlindungan yang efektif
pelestarian kawasan tertentu dan/atau terhadap keberlangsungan fungsi dan
bangunan tertentu yang berumur sekurang- warisan budaya kota. Pada zona ini
kurangnya 50 diperkenankan sepanjang penggunaan
(lima puluh) tahun, serta dianggap bangunan dengan syarat tetap
mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu enjaga/mempertahankan struktur dan
pengetahuan dan kebudayaan. langgam bangunan.
H a l a m a n 4 - 56
MODU L
PenyusunanRencanaDetailTataRuang(RDTR)Kabupaten/Kota
ContohKetentuanKegiataandanPemanfaatanLahan
Perlindungan Lindung RTH
Zona Perlindungan Setempat RTH Publik
Kawasan Buatan Privat
RTH RTH kawasan
Sempadan
No Perlindungan Sempadan Sempadan Sempadan Sempadan Sempadan RTH Taman unit RTH RTH hutan kawasan perlindungan
Sub Zona Sempadan tol sekitar danau Cagar budaya
Kawasan Bawahannya jaringan jalan rel KA sungai SUTET mata air lingkungan permakaman kota pelestarian plasma nutfah
buatan
alam eks. Situ
Kegiatan LB PS 1 PS 2 PS.3 PS 4 PS 5 PS 6 PS7 SC RTH1.1 RTH1.2 RTH1.3 RTH1.4 RTH1.5 RTH2
Perumahan
Rumah Tunggal - - - - - - - - - - - - - - -
Rumah Kopel - - - - - - - - - - - - - - -
Rumah Deret - - - - - - - - - - - - - - -
Townhouse - - - - - - - - - - - - - - -
Rusun Rendah - - - - - - - - - - - - - - -
Rusun Sedang - - - - - - - - - - - - - - -
1 Rusun Tinggi (Apartemen) - - - - - - - - - - - - - - -
Asrama - - - - - - - - - - - - - - -
Rumah sewa/kost - - - - - - - - - - - - - - -
Panti jompo - - - - - - - - - - - - - - -
Panti asuhan - - - - - - - - - - - - - - -
Guest House - - - - - - - - - - - - - - -
Paviliun - - - - - - - - - - - - - - -
Rumah Dinas - - - - - - - - - - - - - - -
Perdagangan
Warung B B B B B B B B I - - - - - T
Toko B - - - - - - - I - - - - - T
Pertokoan - - - - - - - - I - - - - - -
Pasar Tradisional B - - - - - - - - - - - - - -
Pasar Lingkungan B - - - - - - - - - - - - - -
2
Penyaluran Grosir - - - - - - - - - - - - - - -
Pusat Perbelanjaan - - - - - - - - - - - - - - -
Supermarket - - - - - - - - - - - - - - -
Mall - - - - - - - - - - - - - - -
Plaza - - - - - - - - - - - - - - -
Shopping Center - - - - - - - - - - - - - - -
Jasa
Jasa Bangunan - - - - - - - - - - - - - - -
Lembaga Keuangan - - - - - - - - I - - - - - -
Jasa Komunikasi - - - - - - - - I - - - - - -
Jasa Pemakaman I I I I I I I I - - - - - - -
Pusat Riset dan Pengembangan B - - - - - - - I - - - - - -
IPTEK
Perawatan/ perbaikan/ renovasi
3 - - - - - - - - - - - - - - -
barang
Bengkel - - - - - - - - - - - - - - -
SPBU - - - - - - - - - - - - - - -
Penyediaan ruang pertemuan - - - - - - - - T - - - - - -
Penyediaan Makanan dan mIniman - - - - - - - - I - - - - - -
Travel dan Pengiriman Barang - - - - - - - - - - - - - - -
Pemasaran Properti - - - - - - - - B - - - - - -
Perkantoran/ Bsinis Lainnya - - - - - - - - - - - - - - -
Hiburan/ Rekreasi
Taman hiburan I - - - - - - - I - - - - - I
Taman Perkemahan I - - - - - - - I - - - - - I
Bisnis Lapangan Olah Raga B B B B B B B B I - - - - - B
Studio Keterampilan B - - - - - - - I - - - - - B
Panti pijat - - - - - - - - - - - - - - -
4
Teater - - - - - - - - B - - - - - -
Bioskop - - - - - - - - - - - - - - -
Kebun Binatang I I I I I I I I B - - - - - I
Resort B - - - - - - - B - - - - - B
Restauran B - - - - - - - B - - - - - B
Klub malam dan Bar - - - - - - - - - - - - - - -
Ha l aman 4 - 57
MODU L
PenyusunanRencanaDetailTataRuang(RDTR)Kabupaten/Kota
Perlindungan Lindung RTH
Zona Perlindungan Setempat RTH Publik
Kawasan Buatan Privat
RTH RTH kawasan
Sempadan
No Perlindungan Sempadan Sempadan Sempadan Sempadan Sempadan RTH Taman unit RTH RTH hutan kawasan perlindungan
Sub Zona Sempadan tol sekitar danau Cagar budaya
Kawasan Bawahannya jaringan jalan rel KA sungai SUTET mata air lingkungan permakaman kota pelestarian plasma nutfah
buatan
alam eks. Situ
Kegiatan LB PS 1 PS 2 PS.3 PS 4 PS 5 PS 6 PS7 SC RTH1.1 RTH1.2 RTH1.3 RTH1.4 RTH1.5 RTH2
Hiburan dewasa Lainnya - - - - - - - - - - - - - - -
Industri
Industri besar dengan limbah/ - - - - - - - - - - - - - - -
gangguan lingk.
Industri besar tanpa limbah/
- - - - - - - - - - - - - - -
gangguan lingk.
5 Industri kecil dengan limbah/ - - - - - - - - - - - - - - -
gangguan lingk.
Industri kecil tanpa limbah/ - - - - - - - - - - - - - - -
gangguan lingk.
Industri Pergudangan - - - - - - - - - - - - - - -
Industri Bahari - - - - - - - - - - - - - - -
Pertambangan*
Minyak bumi, bitumen cair, lilin
- - - - - - - - - - - - - - -
bumi, gas alam
Bitumen padat, aspal - - - - - - - - - - - - - - -
Antrasit, batubara - - - - - - - - - - - - - - -
Uranium, radium, thotium - - - - - - - - - - - - - - -
Nikel, kobalt - - - - - - - - - - - - - - -
Timah - - - - - - - - - - - - - - -
Besi, mangan, molibden, khrom, - - - - - - - - - - - - - - -
wolfram,
vanadium, titan - - - - - - - - - - - - - - -
Bauksit,tembaga, timbal, seng - - - - - - - - - - - - - - -
Emas, platina, perak, air raksa, intan - - - - - - - - - - - - - - -
Arsin, antimon, bismut - - - - - - - - - - - - - - -
6
Yutrium, rhutenium, cerium - - - - - - - - - - - - - - -
Berilium, korundum,zirkon,kristal - - - - - - - - - - - - - - -
kwarsa
Kriolit, fluorpar, barit - - - - - - - - - - - - - - -
Yodium, brom, khlor, belerang - - - - - - - - - - - - - - -
Nitrat-nitrat, pospat, garam batu - - - - - - - - - - - - - - -
Asbe, talk, mika, grafit, magnesit - - - - - - - - - - - - - - -
Yarosit, leusit, tawas, oker - - - - - - - - - - - - - - -
Batu permata - - - - - - - - - - - - - - -
Pasir kwarsa, kaolin, dkk - - - - - - - - - - - - - - -
Batu apung, tras, obsidian, dkk - - - - - - - - - - - - - - -
Marmer, batu tulis - - - - - - - - - - - - - - -
Batu kapur, dolomit, kalsit - - - - - - - - - - - - - - -
Granit, andesit, basal, trakhit, dkk - - - - - - - - - - - - - - -
Pemerintahan dan Keamanan
Kantor pemerintah pusat/nasional - - - - - - - - - - - - - - -
Kantor Propinsi - - - - - - - - - - - - - - -
Kantor kota/kabupaten - - - - - - - - - - - - - - -
Kantor Kecamatan - - - - - - - - - - - - - - -
Kantor Kelurahan - - - - - - - - - - - - - - -
Polda - - - - - - - - - - - - - - -
Polwil - - - - - - - - - - - - - - -
Polres/ Polresta - - - - - - - - - - - - - - -
7
Polsek/ Polsekta - - - - - - - - - - - - - - -
TNI AD - - - - - - - - - - - - - - -
Dephankam - - - - - - - - - - - - - - -
Kodam - - - - - - - - - - - - - - -
Kodim - - - - - - - - - - - - - - -
Koramil - - - - - - - - - - - - - - -
Korem - - - - - - - - - - - - - - -
TNI AU - - - - - - - - - - - - - - -
TNI AL - - - - - - - - - - - - - - -
Fasilitas Pendidikan
8
TK - - - - - - - - - - - - - - -
Ha l aman 4 - 58
MODU L
PenyusunanRencanaDetailTataRuang(RDTR)Kabupaten/Kota
Perlindungan Lindung RTH
Zona Perlindungan Setempat RTH Publik
Kawasan Buatan Privat
RTH RTH kawasan
Sempadan
No Perlindungan Sempadan Sempadan Sempadan Sempadan Sempadan RTH Taman unit RTH RTH hutan kawasan perlindungan
Sub Zona Sempadan tol sekitar danau Cagar budaya
Kawasan Bawahannya jaringan jalan rel KA sungai SUTET mata air lingkungan permakaman kota pelestarian plasma nutfah
buatan
alam eks. Situ
Kegiatan LB PS 1 PS 2 PS.3 PS 4 PS 5 PS 6 PS7 SC RTH1.1 RTH1.2 RTH1.3 RTH1.4 RTH1.5 RTH2
SD/MI - - - - - - - - - - - - - - -
SLTP/MTS - - - - - - - - - - - - - - -
SMU/MA/SMAK - - - - - - - - - - - - - - -
Akademi/ perguruan tinggi - - - - - - - - - - - - - - -
Perpustakaan - - - - - - - - - - - - - - -
Fasilitas Kesehatan
RS tipe A - - - - - - - - - - - - - - -
RS tipe B - - - - - - - - - - - - - - -
RS tipe C - - - - - - - - - - - - - - -
RS tipe D - - - - - - - - - - - - - - -
RS Gawat Darurat - - - - - - - - - - - - - - -
RS Bersalin - - - - - - - - - - - - - - -
Laboratorium kesehatan - - - - - - - - - - - - - - -
Puskesmas - - - - - - - - - T T T T T -
9
Puskesmas Pembantu - - - - - - - - - T T T T T -
Balai Pengobatan - - - - - - - - - T T T T T -
Pos Kesehatan - - - - - - - - - T T T T T -
Posyandu - - - - - - - - - T T T T T -
Dokter umum - - - - - - - - - T T T T T -
Dokter spesialis - - - - - - - - - T T T T T -
Bidan - - - - - - - - - T T T T T -
Klinik/ Poliklinik - - - - - - - - - T T T T T -
Klinik dan/atau RS Hewan - - - - - - - - - T T T T T -
Fasilitas OR/ Rekreasi
Tempat bermain lingkungan I I I I I I I I I - - - - - I
Tempat bermain lokal I I I I I I I I I - - - - - I
Taman I I I I I I I I I - - - - - I
Lapangan OR B B B B B B B B I - - - - - B
Gelanggang Remaja - I I I I I I I - - - - - - -
10 Gedung OR - I I I I I I I - - - - - - B
Museum - - - - - - - - - - - - - - -
Stadion - - - - - - - - - - - - - - -
Gedung Olah Seni - - - - - - - - - - - - - - -
Bioskop - - - - - - - - - - - - - - -
Teater - - - - - - - - B - - - - - -
Kafe - - - - - - - - B - - - - - -
Fasilitas Peribadatan
Langgar B B B B B B B B I - - - - - B
Masjid B B B B B B B B I - - - - - B
11
Gereja B B B B B B B B I - - - - - B
Pura B B B B B B B B I - - - - - B
Kelenteng B B B B B B B B I - - - - - B
Bina Sosial
Gedung Pertemuan Lingkungan - - - - - - - - B - - - - - -
Gedung serba guna - - - - - - - - B - - - - - -
Gedung Pertemuan Kota - - - - - - - - B - - - - - -
12
Balai pertemuan dan Pameran - - - - - - - - B - - - - - -
Pusat informasi lingkungan - - - - - - - - B - - - - - B
Lembaga sosial/organisasi
- - - - - - - - B - - - - - -
kemasyarakatan
Persampahan
TPS - - - - - - - - B - - - - - -
TPA - - - - - - - - - - - - - - -
13 Pengolahan sampah/limbah - - - - - - - - B - - - - - -
Daur ulang - - - - - - - - B - - - - - -
Penimbunan barang rongsokan - - - - - - - - - - - - - - -
Pembongkaran kendaraan bermotor - - - - - - - - - - - - - - -
Komunikasi
14
Telepon Umum I I I I I I I I I I I I I I I
Ha l aman 4 - 59
MODU L
PenyusunanRencanaDetailTataRuang(RDTR)Kabupaten/Kota
Perlindungan Lindung RTH
Zona Perlindungan Setempat RTH Publik
Kawasan Buatan Privat
RTH RTH kawasan
Sempadan
No Perlindungan Sempadan Sempadan Sempadan Sempadan Sempadan RTH Taman unit RTH RTH hutan kawasan perlindungan
Sub Zona Sempadan tol sekitar danau Cagar budaya
Kawasan Bawahannya jaringan jalan rel KA sungai SUTET mata air lingkungan permakaman kota pelestarian plasma nutfah
buatan
alam eks. Situ
Kegiatan LB PS 1 PS 2 PS.3 PS 4 PS 5 PS 6 PS7 SC RTH1.1 RTH1.2 RTH1.3 RTH1.4 RTH1.5 RTH2
Pusat transisi/ pemancar I I I I I I I I I I I I I I I
telekomunikasi
Pertanian
Sawah I I I I I I I I I - - - - - I
Ladang I I I I I I I I I - - - - - I
Kebun I I I I I I I I I B B B B B I
Hortikultur dan rumah kaca I I I I I I I I I B B B B B I
15
Pembibitan I I I I I I I I I I I I I I I
Pengolahan hasil pertanian I I I I I I I I I I I I I I I
Pergudangan hasil panen I I I I I I I I I I I I I I I
Penjualan tanaman yg I I I I I I I I I - - - - - I
dikembangbiakan
Perikanan
Tambak I - - - - - - - I I I I I I I
16
Kolam I - - - - - - - B B B B B B B
Tempat Pelelangan Ikan I B B B B B B B B B B B B B I
Peternakan
Lapangan penggembalaan I I I I I I I I I I I I I I I
17
Pemerahan susu B B B B B B B B B B B B B B B
Kandang hewan B B B B B B B B B B B B B B I
Transportasi
Terminal tipe A - - - - - - - - - - - - - - -
Terminal tipe B - - - - - - - - - - - - - - -
Terminal tipe C - - - - - - - - B - - - - - -
18 Stasiun - - - - - - - - B - - - - - -
Pelabuhan - - - - - - - - B B B B B B -
Bandar udara umum - - - - - - - - - - - - - - -
Bandar udara khusus - - - - - - - - - - - - - - -
Lapangan parkir umum - B B B B B B B B - - - - - B
Hutan
Hutan Rakyat I I I I I I I I I I I I I I I
19 Hutan Produksi terbatas I I I I I I I I I I I I I I I
Hutan Produksi tetap I I I I I I I I I I I I I I I
Hutan konservasi I I I I I I I I I I I I I I I
RTH
Hutan Kota I I I I I I I I I I I I I I I
Jalur hijau dan pulau jalan I I I I I I I I I - - - - - I
20 Taman kota I I I I I I I I I - - - - - I
TPU I I I I I I I I I - - - - - I
Pekarangan I I I I I I I I I - - - - - I
Sempadan / Penyangga I I I I I I I I I - - - - - I
Campuran
Rumah toko (ruko) - - - - - - - - - - - - - - -
21
Rumah kantor (rukan) - - - - - - - - - - - - - - -
Kondotel - - - - - - - - - - - - - - -
Ha l aman 4 - 60
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
2
KETENTUAN INTENSITAS PEMANFAATAN
RUANG
Ketentuan pemanfaatan ruang merupakan tingkat
alokasi dan distribusi lahan pada lokasi prioritas. Terdiri dari
2 ketentuan meliputi ketentuan wajib dan ketentuan lain
intensitas ruang
H a l a m a n 4 - 61
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 62
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
air hujan ke tanah. Nilai KDB dapat dihitung melalui debit infiltrasi air
pada suatu daerah sebagai berikut:
dimana :
�� = ����/����
OS = luas kawasan yang harus dilestarikan
Iinf = intensitas infiltrasi (l/detik)
H a l a m a n 4 - 63
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 64
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 65
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 66
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 67
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Dimana :
KDH = Koefisien Dasar Hijau
KDB = Koefisien Dasar Bangunan
H a l a m a n 4 - 68
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Contoh Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang Zona Lindung
KDB Maksimum KLB Maksimum
Sub Fungsi Jalan Fungsi Jalan KDH
No Kode
Kode Lokal, Lokal, Minimum
Arteri Kolektor Arteri Kolektor
lingkungan lingkungan
A L Kawasan Lindung
1 PB Perlindungan terhadap kawasan bawahannya
PS 1 sempadan sungai 2% 2% 2% 0.02 0.02 0.02 98%
PS 2 sempadan danau/situ 2% 2% 2% 0.02 0.02 0.02 98%
2 PS Perlindungan setempat PS 3 penyangga kawasan bandara 2% 2% 2% 0.02 0.02 0.02 98%
PS 4 sempadan jalan tol dan kereta api 2% 2% 2% 0.02 0.02 0.02 98%
PS 5 sempadan SUTET dan SUTT 2% 2% 2% 0.02 0.02 0.02 98%
RTH 1.1 Taman Lingkungan 2% 2% 2% 0.02 0.02 0.02 98%
RTH 1.2 Pemakaman 2% 2% 2%
3 RTH Ruang Terbuka Hijau RTH 1.3 Hutan kota 2% 2% 2%
RTH 1.4 Pelestarian alam 2% 2% 2%
RTH 1.5 [Link] 2% 2% 2%
4 SC Pelestarian alam dan cagar budaya - - -
B Kawasan Budidaya
R1 perumahan bangunan tinggi 25% 20% - 4,0 2,4 1,5 60%
R2 perumahan bangunan sedang 25% 25% 25% 1,25 1,25 1,25 60%
1 R Perumahan R3 perumahan bangunan rendah
R3.1 kepadatan bangunan tinggi 60% 70% 80% 1,2 1,4 1,6 30%
R3.2 kepadatan bangunan sedang 50% 60% 60% 1,2 1,2 1,2 40%
R3.3 kepadatan bangunan rendah 40% 50% 60% 1,2 1,2 1,2 50%
2 KT Perkantoran (luas >=5000 m kuadrat) 40% 50% 50% 1,6 1,5 1,2 50%
K Perdagangan dan Jasa
3
K Perdagangan K2.1 grosir 70% 70% - 2,0 - - 20%
H a l a m a n 4 - 69
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
KDB Maksimum KLB Maksimum
Sub Fungsi Jalan Fungsi Jalan KDH
No Kode
Kode Lokal, Lokal, Minimum
Arteri Kolektor Arteri Kolektor
lingkungan lingkungan
70% 70% - 2,0 1,8 - 20%
K2.2 eceran aglomerasi (pusat belanja/mall)
K2.3 eceran aglomerasi (linear) 70% 70% - 1,5 0,9 - 20%
K2.4 eceran tunggal/toko 70% 70% 70% 1,0 0,9 0,6 20%
K2.5 pusat pelayanan kota 70% 70% - 2,8 2,1 1,4 20%
K2.6 subpusat pelayanan kota 70% 70% 70% 2,8 2,1 1,4 20%
KJ1 jasa dengan luas >10000 m kuadrat 25% 40% 50% 2,0 1,6 1,5 30%
KJ2 jasa dengan luas >5000 m kuadrat 25% 40% 50% 2,0 1,6 1,5 30%
KJ3 jasa dengan luas 1000-5000 m kuadrat 50% 50% 50% 1,5 1,5 1,2 20%
KJ Jasa
KJ4 jasa dengan luas 200-1000 m kuadrat 60% 60% 60% 1,2 1,2 1,2 20%
KJ5 pusat pelayanan kota 50% 50% - 4,0 3,0 2,0 20%
KJ6 subpusat pelayanan kota 50% 50% 50% 3,0 2,5 2,0 20%
I1 industri besar >100 pekerja 40% - - 1,2 - - 30%
I2 industri menengah 20-99 pekerja 40% 40% - 1,2 0,8 - 20%
4 I Industri dan Pergudangan
I3 industri kecil 5-19 pekerja - 60% 60% - 1,2 1,2 10%
I4 industri rumah tangga 1-4 pekerja - 60% 60% - 1,2 1,2 10%
H a l a m a n 4 - 70
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
3
KETENTUAN TATA BANGUNAN
Perhitungan ketentuan tata bangunan hanya tinggi
maksimum yang sudah terdapat pada ketentuan
intensitas ruang yaitu ketentian tinggi maksimum.
Sedangkan perhitungan lainnya berdasarkan pedoman
yang ada atau aturan yang sudah ada (Pergub/Perda).
Komponen-komponen tata bangunan antara lain
sebagai berikut.
Hal yang diatur oleh ketentuan tata bangunan setidaknya ada 3, yaitu garis
sempadan jalan, garis sempadan bangunan dan jarak bebas bangunan. Garis
sempadan jalan adalah garis yang membatasi Ruang Milik Jalan (Rumija) yang
tidak boleh dilanggar oleh batas kavling. Garis sempadan bangunan adalah garis
yang membatasi ruang bebas antara bangunan dengan garis sempadan jalan.
Jarak bebas bangunan adalah garis yang membatasi ruang bebas bangunan ke
samping dan ke belakang. Lebar jarak bebas tersebut ditentukan berdasarkan
perhitungan sisa ruang kavling setelah dikurangi tapak bangunan.
Muatan dalam ketentuan tata bangunan antara lain :
a. Tinggi Bangunan Maksimum/Minimum
Tinggi bangunan ditetapkan dengan mempertimbangkan keselamatan, risiko
kebakaran, teknologi, estetika, dan prasarana.
b. GSB Minimum
Besarnya tambahan lebar garis sempadan bangunan akan sangat bergantung
pada luas kavling, lebar rumija serta tingkat kepadatan lalu-lintas pada
persimpangan jalan, seperti pada contoh di dibawah ini.
Secara sederhana, GSB minimum dapat ditetapkan berdasarkan
pertimbangan sebagai berikut:
untuk ruang milik jalan (rumija) < 8m, GSB minimum = ½ rumija
untukk ruang milik jalan >= 8m, GSB minimum = ½ rumija + 1 m
c. aturan lain yang dianggap perlu (tampilan bangunan, ...)
H a l a m a n 4 - 71
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 72
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 73
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
3. TAMPILAN BANGUNAN
Ditetapkan dengan mempertimbangkan warna bangunan, bahan bangunan,
tekstur bangunan, muka bangunan, gaya bangunan, keindahan bangunan,
serta keserasian bangunan dengan lingkungan sekitarnya. Maka dapat
dikatakan tampilan bangunan merupakan estetika bangunan.
4. ATURAN LAINNYA
Aturan lainnya didasarkan pada karakteristik wilayah perencanaan. Apabila
kententuan ini diperlukan maka dapat diatur seusai karakteristik
wilayahnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah dasar pertimbangan yang
ada harus sesuai dengan pedoman yang ada. Misalnya Garis Sempadan
Sungai khusus berada di pinggir sungai. Dasar pertimbangan dapat diambil
berdasarkan Permen PU no. 39/PRT/1989 tentang pembagaian wilayah
sungai atau PP Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai, dan Permen PU No.
17 Tahun 2011 tentang Garis Sempadan Jaringan Irigasi, Berikut contoh
ketentuan masa bangunan.
Jarak bebas
Jumlah Tampilan
Zona Sub Zona samping/
Lantai Bangunan
Belakang
maksimum
(meter)
H a l a m a n 4 - 74
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Jarak bebas
Jumlah Tampilan
Zona Sub Zona samping/
Lantai Bangunan
Belakang
maksimum
(meter)
H a l a m a n 4 - 75
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
4
KETENTUAN PRASARANA DAN SARANA
MINIMAL
Diatur dalam peraturan zonasi dapat berupa prasarana
parkir, aksesibilitas untuk difabel, jalur pedestrian, jalur
sepeda, bongkar muat, dimensi jaringan jalan,
kelengkapan jalan, dan kelengkapan prasarana lainnya
yang diperlukan
Ketentuan prasarana dan sarana minimal ditetapkan sesuai dengan
ketentuan yang diterbitkan oleh instansi yang memiliki kewenangan.
Misalnya pada permukiman, pemenuhan prasarana dan sarana minimal
berdasarkan kriteria PSU yang ada pada Kementerian Perumahan Rakyat.
Berikut ini adalah contoh tabel kententuan prasana dan sarana minimal.
H a l a m a n 4 - 76
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
5
KETENTUAN PELAKSANAAN
Ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan dirumuskan
berdasarkan ketentuan maupun standar yang terkait
dengan pemanfaatan ruang. Ketentuan dalam peraturan
bangunan setempat dan ketentuan khusus bagi unsur
bangunan/komponen yang dikembangkan.
H a l a m a n 4 - 77
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
B. MEKANISME PERIJINAN
Perizinan pemanfaatan ruang dimaksudkan sebagai upaya penertiban
pemanfaatan ruang sehingga setiap pemanfaatan ruang harus dilakukan
sesuai dengan Rencana Tata Ruang (RTRW Kota atau RDTR
Kota/Kawasan). Dalam Undang-Undang 26/2007 tentang Penataan
Ruang disebutkan bahwa izin yang dimaksud sebagai instrumen
pengendalian pemanfaatan ruang adalah izin pemanfaatan ruang, yaitu
izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pemanfaatan ruang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 1 ayat 32). Izin
yang dimaksud adalah:
amplop ruang
kualitas ruang
Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, baik
yang dilengkapi dengan izin maupun yang tidak memiliki izin, dikenai
sanksi adminstratif, sanksi pidana penjara, dan/atau sanksi pidana
denda. Izin pemanfaatan ruang tersebut diatur dan diterbitkan oleh
Pemerintah sesuai dengan kewenangannya masing-masing.
Dalam melaksanakan suatu kegiatan pembangunan berupa kegiatan fisik
di suatu persil tertentu, selain izin pemanfaatan ruang diperlukan juga
izin terkait bangunan atau yang dikenal dengan IMB (Izin Mendirikan
Bangunan). Izin ini diperlukan agar bangunan tersebut memenuhi
standar kesehatan dan keamanan. Konsepsi perizinan selengkapnya
adalah seperti dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
H a l a m a n 4 - 78
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 79
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
D. ARAHAN SANKSI
Pengenaan sanksi merupakan tindakan penertiban yang dilakukan
terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata
ruang dan peraturan zonasi. Arahan pengenaan sanksi terhadap
pelanggaran pemanfaatan ruang mengacu pada UU Nomor 26 Tahun
2007. Pengenaan sanksi ini ini merupakan dari bagian penertiban
pelanggaran penataan ruang. Ketentuan pidana tersebut terbagi atas:
1. Tidak mentaati rencana pemanfaatan ruang yang telah ditetapkan
Mengakibatkan perubahan fungsi ruang, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Mengakibatkan kerugian terhadap harta benda atau kerusakan
barang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 8
(delapan) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00
(satu miliar lima ratus juta rupiah).
Mengakibatkan kematian orang, pelaku dipidana dengan
pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda
paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang
dari pejabat yang berwenang
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan
denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).
Mengakibatkan perubahan fungsi ruang, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Mengakibatkan kerugian terhadap harta benda atau kerusakan
barang, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan denda paling banyak Rp [Link],00
(satu miliar lima ratus juta rupiah).
Mengakibatkan kematian orang, pelaku dipidana dengan
H a l a m a n 4 - 80
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 81
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
1
KETENTUAN TAMBAHAN
Pertimbangan ketentuan tambahan adalah aturan yang
berkaitan dengan zona tersebut. Hal ini bisa berbentuk
aturan ataupun anjuran tergantung pada karakteristik
wilayah perencanaannya sesuai dengan pedoman yang ada
H a l a m a n 4 - 82
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 83
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
2
KETENTUAN KHUSUS
Komponen ketentuan khusus didapat dari zona dan kegiatan
serta mempertimbangkan kawasan yang merupakan rawan
bencana. Aturan tersebut diambil melalui pertimbangan dari
pedoman yang ada. Berikut ini adalah contoh penulisan
ketentuan khusus
Ketentuan Teknis
Kualitas Lokal
Pemanfaatan Ruang
Minimum
(Intensitas, tata Bangunan)
Dapat
diterapkan secara Tidak
KETENTUAN KHUSUS
langsung, berdasarkan
kondisi setampat?
Kondisi
Setempat
Ya
Dilaksanakan
H a l a m a n 4 - 84
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Kegiatan Pelestarian
Kondisi
Aturan Wajib Aturan Anjuran
Dipertahankan dan
Baik
dirawat
Diperbaiki dengan Pengembangan dengan
Sedang penyesuaian
penyesiaian
Diganti dengan
Buruk
penyesuaian
H a l a m a n 4 - 85
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 86
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 87
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
3
STANDAR TEKNIS
Tujuan standar teknis adalah memberikan kemudahan
dalam menerapkan ketentuan teknis yang diberlakukan di
setiap zona. Berikut daftar-daftar standar teknis yang sering
digunakan dalam penyusunan dokumen RDTR
H a l a m a n 4 - 88
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
15. SNI 03-2453-2002, Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan
Untuk Lahan Pekarangan.
16. SNI 03-7565-2002, Spesifikasi Bahan Bangunan Untuk Pencegahan
Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah Dan Gedung.
17. SNI 03-6967-2003, Sistem Jaringan Dan Geometri Jalan Perumahan -
Persyaratan Umum.
18. SNI 03-6981-2004, Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan
Sederhana Tidak Bersusun Di Daerah Perkotaan.
H a l a m a n 4 - 89
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
4
KETENTUAN PENGATURAN ZONASI
Ketentuan Pengaturan Zonasi berfungsi untuk memberikan
fleksibilitas dalam penerapan peraturan zonasi dasar serta
memberikan pilihan penanganan pada lokasi tertentu sesuai
dengan karakteristik, tujuan pengembangan dan permasalahan
yang dihadapi pada zona tertentu, sehingga sasaran pengendalian
pemanfaatan ruang dapat dicapai secara lebih efektif
H a l a m a n 4 - 90
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Sebagai contoh, notasi “b” utuk zona rawan banjir, sehingga zona R-4 yang
diberi notasi “b” memiliki penanganan yang berbeda dengan zona R-4 tanpa
notasi “b”. Penetapan zona ini harus didasarkan pada analisis risiko dan
kerentanan terlebih dahulu.
Tidak Diizinkan
Permohonan izin
[Evaluasi kondisi tidak
lapangan] tidak
ya
ya
Memenuhi ketentuan
tata bangunan, prasarana
Apakah memenuhi minimum dan standar?
ketentuan teknis [Intensitas, tata tidak
bangunan dll] dan Ketentuan
Teknik Pengaturan Zonasi
ya
ya
Diperkenankan
Memenuhi
penerapan teknik Diizinkan
kriteria?
Pengaturan Zonasi
tidak
Diizinkan, Namun
ketentuan penerapan teknik
Pengaturan Zonasi
tidak diberlakukan
H a l a m a n 4 - 91
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 92
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
zoning
• Kondisi kontekstual kawasan (resapan air, banjir, dll Mis:
Floodplain Zoning
• Keterbatan sumberdaya dalam mewujudkan rencana, persoalan
sosial dan ekonomi masyarakat mis: Upzoning, Spot zoning
• Ada aturan lain yang mempunyai kekuatan hukum pada suatu
kawasan Overlay zoning (Mis: Aturan Cagar Budaya, KKOP,
Wisata, dll)
• Antisipasi perkembangan di masa mendatang Mis: Contract
zoning
• Pembiayaan pembangunan terkait penyediaan infrastruktur
Mis: negotiated development, TDR, Fiscal zoning.
• Kekhususan Kawasan, KEK dll mis: special Zoning dll.
3. Persyaratan Penetapan :
• Tidak harus semua jenis Teknik Pengaturan Zonasi diterapkan.
• Penetapan kawasan yang dikenakan teknik pengaturan zonasi pada
saat penetapan perda, buka berdasarkan kebutuhan pasar.
• Tidak seluruh bagian kota/kabupaten diterapkan teknik pengaturan
zonasi yang artinya seluruh bagian kota menjadi fleksibel
4. Jenis Teknis Pengaturan Zonasi
A. Bonus/incentive zoning
Incentive Zoning merupakan suatu bentuk mekanisme kerjasama
antara Pemerintah Kota dengan pengembang (swasta) dalam
mengembangkan kawasan/daerah yang berhubungan dengan
kepentingan publik.
Izin peningkatan intensitas dan kepadatan bangunan (tinggi
bangunan, luas lantai) yang diberikan kepada pengembang dengan
imbalan penyediaan fasilitas publik (atau ruang terbuka hijau) sesuai
dengan ketentuan yang berlaku
Contoh fasilitas publik yang dapat disediakan oleh pengembang:
H a l a m a n 4 - 93
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 94
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
zoning yang diterapkan pada pusat bisnis (CBD), berupa insentif yang
pemberian KLB sebesar 1 sampai 4 apabila menyediakan ruang
terbuka hijau yang sebanding pada lantai dasar bangunan di blok yang
sama. Akan tetapi, pemberian insentif ini juga berdampak pada
rendahnya kualitas ruang terbuka yang dikembangkan.
Benefit/Incentive
Total Maximum lot coverage* Maximum Required
Incentive # building height parking
Village Industrial 3&4 Other Districts
1 +5% n/a +10% +5’ -10%
2 +10% +5% +15% +7’ -20%
3+ +15% +10% +20% +10’ -25%
H a l a m a n 4 - 95
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 96
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
Sinar matahari
Kebisingan
Getaran
Kapasitas infrastruktur dll.
Konsepnya dibuat pada awal tahun 1970an oleh The Bucks County,
Pennsylvania Planning Commission untuk memberi izin standar
fleksibel bagi zoning hunian dalam melindungi ciri-ciri alam (Frank
1982: 21; Kendig 1980). Terdapat pihak (komunitas) yang
menolak penggunaan performance zoning sebagai mekanisme
perencanaannya, dengan alasan:
performance zoning merepresentasikan perubahan besar,
rata-rata warga menolak perubahan peruntukan guna
lahannya,
dalam hal ini, adanya kontroversi dan perselisihan dihindari
oleh institusi perencanaan (Kendig, 1982: 24),
Persoalan lain yang dihadapi dalam menggunakan performance
zoning:
pemkot kurang waktu untuk memonitor dan kesulitan
penyelenggaraan,
pihak developer menanggung pembengkakan biaya akibat
batasan-batasan pada mekanisme performance zoning (Long
Beach)
diperlukan edukasi bagi masyarakat developer (San Antonio).
Empat standar performance zoning yang digunakan untuk menjamin
kualitas lingkungan yaitu:
Rasio ruang terbuka, untuk mengukur jumlah ruang terbuka
terhadap keseluruhan area
Rasio permukaan kedap air, untuk mengukur jumlah ruang
yang ditutupi oleh jalan, trotoar, bebatuan, lahan parkir, dan
bangunan terhadap keseluruhan area
H a l a m a n 4 - 97
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 98
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 99
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
F. Inclusionary zoning
Inclusionary zoning merupakan suatu ketentuan yang secara spesifik
memperbolehkan adanya unit-unit rumah dengan berbagai tipe dan
ukuran kepadatan, dengan tujuan untuk menghilangkan unsur
diskriminasi.
G. Contract zoning
Ketentuan ini dihasilkan melalui kesepakatan antara pemilik properti
dan komisi perencana (Dinas Tata Kota atau TKPRD/BKPRD) atau
lembaga legislatif (DPRD) yang dituangkan dalam bentruk kontrak
berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Melekat pada
orangnya, bukan pada propertinya. Menggunakan hukum perdata
H. Negotiated development
Pembangunan dilakukan berdasarkan negosiasi antarstakeholder
I. TDR (Transfer of Development Right)
TDR adalah suatu inovasi dan adaptasi dari mekanisme pengendali
rancang kota yang berhasil bagi beberapa kota. TDR merupakan suatu
perangkat implementasi yang mendorong pengalihan secara sukarela
dari pembangunan pada suatu tempat/kawasan yang ingin
dipertahankan/dilindungi, yang disebut sebagai sending areas (area
pengirim), menuju tempat/kawasan yang diharapkan untuk
berkembang, yang disebut sebagai receiving areas (area penerima).
Hak-hak atas tanah (merujuk pada Undang-undang Agraria):
Hak-hak atas tanah memberi wewenang untuk mempergunakan tanah
yang bersangkutan, demikian pula tubuh bumi dan air serta ruang
yang ada di atasnya, sekedar diperlukan untuk kepentingan yang
langsung berhubungan dengan penggunaan tanah itu dalam batas-
batas menurut Undang-undang ini dan peraturan-peraturan hukum
lain yang lebih tinggi. (Pasal 4)
Peluang/Hak Membangun (merujuk pada UU Penataan Ruang, UU
Lingkungan Hidup, UU ttg Bangunan) : peluang/hak untuk mengubah
lahan dari penggunaan/intensitas saat ini menjadi
H a l a m a n 4 - 100
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 101
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 102
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
rantai pembangunan.
Dengan menggunakan TDR pemkot dapat memperoleh pembangunan
yang diinginkan dengan preservasi bangunan yang bernilai dengan
memberikan kelonggaran dari peraturan, juga memungkinkan bagi
developer yang menyetujui pengurangan penggunaan hak
membangunnya dalam lahan tertentu untuk ditransfer kelebihan
haknya ke lahan lain yang ingin dikembangkannya. Lahan lain
tersebut dapat saja bersebelahan atau tidak dengan lahan awalnya;
beberapa kota memperbolehkan mentransfer dalam distrik yang
sama.
Dengan TDR, pemilik dari lahan yang berada pada lingkungan yang
sensitif, lahan pertanian dan sending area penting lainnya menerima
kompensasi dari hasil penjualan hak membangun yang dapat
dialihkan (transferable development rights) milik mereka, atau TDRs,
sebagai imbalan atas pembatasan lahan mereka dari kemungkinan
pembangunan di masa yang akan datang.
Pada program ini diharuskan adanya area pengirim dan penerima.
– Pada area penerima yang telah tumbuh sprawl sebelumnya,
mungkin telah terlambat untuk menjamin suksesnya program
TDR.
– Selain itu, penghuni di dalam area penerima dapat saja
mengajukan keberatan atas peningkatan intensitas yang
ditimbulkan oleh suatu program TDR.
Pemanfaatan TDR Saat Ini di Indonesia :
Peraturan Menteri PU No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman
Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).
• Disebut sebagai Sistem Pengalihan Nilai Koefisien Lantai
Bangunan, yaitu hak pemilik bangunan yang dapat dialihkan
kepada pihak atau lahan lain, yang dihitung berdasarkan
pengalihan nilai KLB, yaitu selisih antara KLB aturan dan KLB
H a l a m a n 4 - 103
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
terbangun,
• Maksimum KLB yg dapat dialihkan umumnya sebesar 10%.
• Pengalihan dimungkinkan dalam satu daerah perencanaan yang
sama dan terpadu, serta yg bersangkutan telah memanfaatkan min
60% KLB dari yg sudah ditetapkan.
• Pengalihan terdiri atas 1) hak pembangunan bawah tanah; 2) hak
pembangunan layang (air right development)
Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 01 Tahun 2014
tentang RDTR dan Peraturan Zonasi DKI Jakarta
• Merupakan salah satu Teknik Pengaturan Zonasi yg disebut
sebagai pengalihan hak membangun
• Diterapkan pada suatu persil/sub zona ke persil/sub zona lain
sesuai kesepakatan bersama dan diarahkan pada lokasi: a.
kawasan terpadu kompak dengan pengembangan konsep TOD; b.
pusat kegiatan primer dan pusat kegiatan sekunder; dan c.
kawasan yang memiliki panduan rancang kota.
• hak membangun yang dapat dialihkan berupa luas lantai dari
selisih batasan KLB yang ditetapkan dalam PZ dengan KLB yang
telah digunakan dalam kaveling
Peraturan Daerah Kota Bandung No. 10 Tahun 2015 tentang
RDTR dan Peraturan Zonasi Kota Bandung Tahun 2015-2035
• Merupakan salah satu Teknik Pengaturan Zonasi yg disebut
sebagai pengalihan hak membangun
• Pengalihan Hak Membangun diarahkan pada a) Pusat Pelayanan
Kota (PPK) dan Subpusat Pelayanan Kota (SPK); b) Kawasan Cagar
Budaya dan/atau Bangunan Cagar Budaya; dan c) kawasan yang
memiliki RTBL dan/atau panduan rancang kota
• pengalihan hak membangun berupa luas lantai dari satu persil ke
persil lain dengan zona yang sama dalam satu batas administrasi
kelurahan
• Hak membangun yang dapat dialihkan berupa luas lantai dari
H a l a m a n 4 - 104
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 105
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 106
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 107
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 108
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Dasar Hukum Penyusunan RDTR
1.2 Tinjauan Terhadap RTRW Kabupaten/Kota
1.3 Tinjauan Kebijakan dan Strategi RTRW Kabupaten/Kota
1.4 Tujuan RDTR
H a l a m a n 4 - 109
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
SISTEMATIKA
LAPORAN AKHIR PZ
(apabila RDTR tidak disusun atau telah ditetapkan sebagai Perda sebelum keluarnya pedoman ini)
H a l a m a n 4 - 110
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
LAMPIRAN
CONTOH PETA RENCANA SISTEM JARINGAN JALAN DI SWK CIBEUNYING
H a l a m a n 4 - 111
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 112
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 113
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 114
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 115
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 116
MODUL
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten/Kota
H a l a m a n 4 - 117