0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan42 halaman

Faktor Stunting di Puskesmas Mompang

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada anak di wilayah kerja Puskesmas Mompang kabupaten Mandailing Natal, dengan tujuan mengetahui gambaran stunting dan karakteristik responden berdasarkan pendidikan, riwayat BBLR, dan pola pemberian makan."

Diunggah oleh

AmiImoet
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan42 halaman

Faktor Stunting di Puskesmas Mompang

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada anak di wilayah kerja Puskesmas Mompang kabupaten Mandailing Natal, dengan tujuan mengetahui gambaran stunting dan karakteristik responden berdasarkan pendidikan, riwayat BBLR, dan pola pemberian makan."

Diunggah oleh

AmiImoet
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MINI PROJECT

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN


STUNTING DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS MOMPANG
KABUPATEN MANDAILING NATAL TAHUN 2020

OLEH:

Dr. M. ILHAM HARAHAP


Dr. SOFWAN HADI UMRY
Dr. FHANESYA AYU ADELLA
Dr. DZAKIRAH ZAHRA

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP INDONESIA

PUSKESMAS MOMPANG

MANDAILING NATAL

2020
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks

Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)

yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat

pendek) (Kepmenkes No. 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar

Antropometri Penilaian Status Gizi Anak).

Stunting menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik atau

menahun pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan yaitu

dari mulai gizi ibu hamil yang kurang (KEK) dan pada masa kehamilan sampai

anak dilahirkan. Keadaan stunting ini dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi

badan menurut umur (TB/U) kurang dari -2 standar deviasi (SD), severely stunted

atau sangat pendek dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut

umur kurang dari -3 standar deviasi (SD) dan dikatakan normal jika nilai z-score

tinggi badan menurut umur (TB/U) lebih dari -2 standar deviasi (SD) berdasarkan

standar pertumbuhan menurut WHO (WHO, 2010).

Sekitar 1 dari 4 balita mengalami stunting (UNICEF, 2013), prevalensi

balita pendek menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensinya 20% atau

lebih karena persentase balita pendek di Indonesia masih tinggi dan merupakan

masalah kesehatan yang harus ditanggulangi dibandingkan beberapa negara

tetangga, prevalensi balita pendek (16%) dan Singapura (4%) (UNSD, 2014).

Global Nutrition Report Tahun 2014 menunjukkan Indonesia termasuk dalam 17

negara, di antara 117 negara, yang mempunyai tiga masalah gizi yaitu stunting,

1
wasting dan overweight pada balita. Prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan

Riskesdas 2013 adalah sebesar 37,2%, kemudian jika dibandingkan dengan

persentase tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%), prevalensi tersebut mengalami

peningkatan dan diketahui dari jumlah presentase tersebut, 19,2% anak pendek

dan 18% sangat pendek.

Faktor yang menyebabkan terjadinya stunting yaitu dimulai pada saat masa

kehamilan dimana gizi ibu yang kurang baik karena pendapatan keluarga yang

rendah sehingga ibu hamil tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan yang di

anjurkan yang menyebabkan ibu hamil mengalami KEK (Kurang Energi Kronis)

dapat dilihat dari buku KIA yaitu ibu hamil dengan LILA < 23,5 cm yang

mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) serta pola asuh yang

kurang baik yaitu masih kurangnya pemberian ASI Eksklusif, MPASI yang terlalu

cepat yaitu umur bayi sebelum 6 bulan yang sudah diberikan makanan atau

minuman selain ASI, pola pemberian makanan yang kurang serta intake makanan

yang kurang baik bisa disebabkan karena pendapatan keluarga yang rendah serta

pengetahuan ibu balita/pengasuh balita yang kurang baik dan dari faktor yang

tidak langsung dari segi kebersihan lingkungan yang masih buruk.

Berdasarkan gambaran permasalahan diatas peneliti ingin meneliti faktor-

faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja UPT

Puskesmas Mompang kabupaten mandailing Natal.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, terdapat rumusan

masalah yaitu faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan kejadian

stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Mompang kabupaten mandailing

Natal.
2
1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting

di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Mompang kabupaten mandailing Natal.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran kejadian stunting, karaktristik responden berdasarkan

pendidikan, riwayat BBLR, dan pola pemberian makan.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Bagi Puskesmas Mompang


Sebagai bahan evaluasi dan informasi bagi UPT Puskesmas Mompang

Kabupaten Mandailing Natal terhadap program-program yang telah dilaksanakan

maupun yang masih direncanakan oleh UPT Puskesmas Mompang.

1.4.2 Manfaat Masyarakat

Penelitian ini dapat bermanfaat dan digunakan sebagai bahan informasi

upaya pencegahan stunting pada balita.

1.4.3 Manfaat Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan dan keterampilan serta mengaplikasikan ilmu yang

didapatkan selama perkuliahan dan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan

dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Mompang.

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stunting

2.1.1 Definisi Stunting

Status gizi adalah keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh derajat

kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan

makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri dan dikategorikan

berdasarkan standar baku WHO dengan BB/U, TB/U dan BB/TB. Stunting

adalah bentuk dari proses pertumbuhan anak yang terhambat. Sampai saat ini

stunting merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian

(Picauly dan Toy, 2013).

2.1.2 Dampak Stunting

Dampak jangka pendek yaitu pada masa kanak-kanak, perkembangan

menjadi terhambat, penurunan fungsi kognitif, penurunan fungsi kekebalan tubuh,

dan gangguan sistem pembakaran. Pada jangka panjang yaitu pada masa dewasa,

timbul risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, jantung koroner,

hipertensi, dan obesitas.

Stunting memiliki dampak pada kehidupan balita, WHO

mengklasifikasikan menjadi dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang:

1. Concurrent problems & short-term consequences atau dampak jangka

pendek:

a. Sisi kesehatan: angka kesakitan dan angka kematian meningkat

b. Sisi perkembangan: penurunan fungsi kognitif, motorik, dan

perkembangan bahasa.
4
c. Sisi ekonomi: peningkatan health expenditure, peningkatan pembiayaan

perawatan anak yang sakit

2. Long-term consequences atau dampak jangka panjang:

a. Sisi kesehatan: perawakan dewasa yang pendek, peningkatan obesitas

dan komorbid yang berhubungan, penurunan kesehatan reproduksi

b. Sisi perkembangan: penurunan prestasi belajar, penurunan learning

capacity unachieved potensial

c. Sisi ekonomi: penurunan kapasitas kerja dan produktifitas kerja

2.1.3 Tumbuh Kembang

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya

berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan

perkembangan. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan

dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang

bisa diukur dengan berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter),

umur tulang dan keseimbangan metabolic (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).

Pekermbangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam

struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat

diramalkan, sebagai hasil dari proses pematang (Cintya, Dewi Rizki, 2015).

2.1.4 Indeks Antropometri

Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthoropos artinya

tubuh dan metros artinta ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran tubuh

(Supariasa, 2002). Menurut NHAES (National Health and Nutrition Examination

Survey, antropometri adalah studi tentang pengukuran tubuh manusia dalam

5
dimensi tulang otot dan jaringan adipose atau lemak. Karena tubuh dapat

mengasumsikan berbagai postur, antropometri selalu berkaitan dengan posisi

antomi tubuh. Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi.

Tabel 2.1 Indeks Antropometri

Kategori Ambang Batas (Z-


Indeks
Status Gizi score)
Berat Badan menurut Umur Gizi Buruk < -3 SD
(BB/U) Gizi Kurang - 3 SD sampai dengan -2
Anak Umur 0-60 bulan SD
Gizi Baik - 2 SD sampai dengan 2
SD
Gizi Lebih > 2 SD
Panjang Badan menurut Umur Sangat < - 3 SD
(PB/U) atau Tinggi Badan menurut Pendek
Umur (TB/U) Pendek - 3SD sampai dengan - 2
SD
Anak Umur 0-60 Bulan
Normal - 2 SD sampai dengan 2
SD
Tinggi > 2 SD
Berat Badan menurut Panjang Sangat Kurus < - 3 SD
Badan (BB/PB) atau Berat Badan Kurus - 3SD sampai dengan - 2
menurut Tinggi Badan (BB/TB) SD
Anak umur 0-60 Bulan Normal - 2 SD sampai dengan 2
SD
Gemuk > 2 SD
Indeks Massa Tubuh menurut Sangat Kurus < - 3 SD
Umur (IMT/U) Kurus - 3SD sampai dengan - 2
Anak Umur 0-60 Bulan SD
Normal - 2 SD sampai dengan 2
SD
Gemuk > 2 SD
Indeks Massa Tubuh menurut Sangat Kurus < - 3 SD
Umur (IMT/U) Kurus - 3SD sampai dengan - 2
Anak Umur 5-18 Tahun SD
Normal - 2 SD sampai dengan 1
SD
Gemuk > 1 SD sampai dengan 2
SD
Obesitas > 2 SD
Sumber: Kemenkes, 2011

6
Tabel 2.2 Standar Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak Laki-Laki 0
Bulan – 60 Bulan/1-5 Tahun
Bln ˗ 3 ˗ 2 ˗ 1 Median 1 SD 2 SD 3 SD
Th : Bln
SD SD SD
0:0 0 44,2 46,1 48,0 49,9 51,8 53,7 55,6
0:1 1 48,9 50,8 52,8 54,7 56,7 58,6 60,6
0:2 2 52,4 54,4 56,4 58,4 60,4 62,4 64,4
0:3 3 55,3 57,3 59,4 61,4 63,5 65,5 67,6
0:4 4 57,6 59,7 61,8 63,9 66,0 68,0 70,1
0:5 5 58,6 61,7 63,8 65,9 68,0 70,1 72,2
0:6 6 61,2 63,3 65,5 67,6 69,9 71,9 74,0
0:7 7 62,7 64,8 67,0 69,2 71,3 73,5 75,7
0:8 8 64,0 65,2 68,4 70,5 72,8 75,0 77,2
0:9 9 65,2 67,5 69,7 72, 0 74,2 76,5 78,7
0 : 10 10 66,4 68,7 71,0 73,3 75,6 77,9 80,1
0 : 11 11 67,6 69,9 72,2 74,5 76,9 79,2 81,5
1:0 12 68,6 71,0 73,4 75,7 78,1 80,5 82,9
1:1 13 69,6 72,1 74,5 76,9 79,3 81,8 84,2
1:2 14 70,6 73,1 75,6 78,0 80,5 83,0 85,5
1:3 15 71,6 74,1 76,8 79,1 81,7 84,2 86,7
1:4 16 72,5 75,0 77,6 80,2 82,8 85,4 88,0
1:5 17 73,3 76,0 78,6 81,2 83,9 86,5 89,2
1:6 18 74,2 76,9 79,6 82,3 85,0 87,7 90,4
1:7 19 75,0 77,7 80,5 83,2 86,0 88,8 91,5
1:8 20 75,8 78,6 81,4 84,2 87,0 89,8 92,6
1:9 21 76,5 79,4 82,3 85,1 88,0 90,5 93,8
1 : 10 22 77,2 80,2 83,1 86,0 89,0 91,9 94,9
1 : 11 23 78,0 81,0 83,9 86,9 89,9 92,9 95,9
2:0 24 78,0 81,7 84,1 87,1 90,2 93,2 96,3
2:1 25 78,6 81,7 84,9 88,0 91,1 94,2 97,3
2:2 26 79,3 82,5 85,6 88,8 92,0 95,2 98,3
2:3 27 79,9 83,1 86,4 89,6 92,9 96,1 99,3
2:4 28 80,5 83,8 87,1 90,4 93,7 97,0 100,3
2:5 29 81,1 84,5 87,8 91,2 94,5 97,9 101,2
2:6 30 81,7 85,1 88,5 91,9 95,3 98,7 102,1
2:7 31 82,3 85,7 89,2 92,7 96,1 99,6 103,0
2:8 32 82,8 86,4 89,9 93,4 96,9 100,4 103,9
2:9 33 83,4 86,9 90,5 94,1 97,6 101,2 104,8

7
Lanjutan Tabel 2.2 Standar Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak Laki-Laki 0
Bulan – 60 Bulan/1-5 Tahun
Bln ˗ 3 ˗ 2 ˗ 1 Median 1 SD 2 SD 3 SD
Th : Bln
SD SD SD
2 : 10 34 83,9 87,5 91,1 94,8 98,4 102,0 105,6
2 : 11 35 84,4 88,1 91,8 95,4 99,1 102,7 106,4
3:0 36 85,0 88,7 92,4 96,1 99,8 103,5 107,2
3:1 37 85,5 89,2 93,0 96,7 100,5 104,2 108,0
3:2 38 86,0 89,8 93,6 97,4 101,2 105,0 108,8
3:3 39 86,5 90,3 94,2 98,0 101,8 105,7 109,5
3:4 40 87,0 90,8 94,7 98,6 102,5 106,4 110,3
3:5 41 87,5 91,4 95,3 99,2 103,2 107,1 111,0
3:6 42 88,0 91,9 95,9 99,9 103,8 107,8 111,7
3:7 43 88,4 92,4 96,4 100,4 104,5 108,5 112,5
3:8 44 88,9 93,0 97,0 101,0 105,1 109,1 113,2
3:9 45 89,4 93,5 97,5 101,6 105,7 109,8 113,9
3 : 10 46 89,9 94,0 98,1 102,2 106,3 110,4 114,6
3 : 11 47 90,3 94,4 98,6 102,8 106,9 111,1 115,2
4:0 48 90,7 94,9 99,1 103,3 107,5 111,7 115,9
4:1 49 91,2 95,4 99,7 103,9 108,1 112,4 116,6
4:2 50 91,6 95,9 100,2 104,4 108,7 113,0 117,3
4:3 51 92,1 96,4 100,7 105,0 109,3 113,6 117,9
4:4 52 92,5 96,9 101,2 105,6 109,9 114,2 118,6
4:5 53 93,0 97,4 101,7 106,1 110,5 114,9 119,2
4:6 54 93,4 97,8 102,3 106,7 111,1 115,5 119,9
4:7 55 93,9 98,3 102,8 107,2 111,7 116,1 120,6
4:8 56 94,3 98,8 103,3 107,8 112,3 116,7 121,2
4:9 57 94,7 99,3 103,8 108,3 112,8 117,4 121,9
4 : 10 58 95,2 99,7 104,3 108,9 113,4 118,0 122,6
4 : 11 59 95,4 100,2 104,8 109,4 114,0 118,6 123,2
5:0 60 96,1 100,7 105,3 110,0 114,6 119,2 123,9
Sumber: Kementrian Kesehatan RI, 2011

8
Tabel 2.3 Standar Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak Perempuan 0
Bulan – 60 Bulan/1-5 Tahun

˗ 3 ˗ 2 ˗ 1
Th : Bln Bln Median 1 SD 2 SD 3 SD
SD SD SD
0:0 0 45,4 45,4 47,3 49,1 51,0 52,9 54,7
0:1 1 47,8 49,8 51,7 53,7 55,6 57,6 59,5
0:2 2 51,0 53,0 55,0 57,1 59,1 61,1 63,2
0:3 3 53,5 55,6 57,7 59,8 61,9 64,0 66,1
0:4 4 55,6 57,8 59,9 62,1 64,3 66,4 68,6
0:5 5 57,4 59,6 61,8 64,0 66,2 68,5 70,7
0:6 6 58,9 61,2 63,5 65,7 68,0 70,3 72,5
0:7 7 60,3 62,7 65,0 67,3 69,6 71,9 74,2
0:8 8 61,7 64,6 66,4 68,7 71,1 73,5 75,8
0:9 9 62,9 65,3 67,7 70,1 72,6 75,0 77,4
0 : 10 10 64,1 66,3 69,0 71,5 73,9 76,4 78,9
0 : 11 11 65,2 67,7 70,3 72,8 75,3 77,8 80,3
1:0 12 66,3 68,9 71,4 74,0 76,6 79,2 81,7
1:1 13 67,3 70,0 72,6 75,2 77,8 80,5 83,1
1:2 14 68,3 71,0 73,7 76,4 79,1 81,7 84,4
1:3 15 69,3 72,0 74,8 77,5 80,2 83,0 85,7
1:4 16 70,2 73,0 75,8 78,6 81,4 84,2 87,0
1:5 17 71,1 74,0 76,8 79,7 82,5 85,4 88,2
1:6 18 72,0 74,9 77,8 80,7 83,6 86,5 89,4
1:7 19 72,8 75,8 78,8 81,7 84,7 87,6 90,6
1:8 20 73,7 76,7 79,7 82,7 85,7 88,7 91,7
1:9 21 74,5 77,3 80,6 83,7 86,7 88,8 92,9
1 : 10 22 75,2 78,4 81,5 84,6 87,7 90,8 94,0
1 : 11 23 76,0 79,2 82,3 85,5 88,7 91,9 95,0
2:0 24 76,7 80,0 83,2 86,4 89,6 92,9 96,1
2:1 25 76,8 80,0 83,3 86,6 89,9 93,1 96,4
2:2 26 77,5 80,8 84,1 87,4 90,8 94,1 97,4
2:3 27 78,1 81,5 84,9 88,3 91,7 95,0 98,4
2:4 28 78,8 82,2 85,7 89,1 92,5 96,0 99,4
2:5 29 79,5 82,9 86,4 89,9 93,4 96,9 100,3
2:6 30 80,1 83,6 87,1 90,7 94,2 97,7 101,3
2:7 31 80,7 84,3 87,9 91,4 95,0 98,6 102,2
2:8 32 81,3 84,9 88,6 92,2 95,8 99,4 103,1
2:9 33 81,9 85,6 89,3 92,9 96,6 100,3 103,9
2 : 10 34 82,5 86,2 89,9 93,6 97,4 101,1 104,8
2 : 11 35 83,1 86,8 90,6 94,4 98,1 101,9 105,6
3:0 36 83,6 87,4 91,2 95,1 98,9 102,7 106,5
3:1 37 84,2 88,0 91,9 95,7 99,6 103,4 107,3
3:2 38 84,7 88,6 92,5 96,4 100,3 104,2 108,1
3:3 39 85,3 89,2 93,1 97,1 101,0 105,0 108,9
3:4 40 85,8 89,8 93,8 97,7 101,7 105,7 109,7

9
Lanjutan Tabel 2.3 Standar Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak Perempuan 0
Bulan – 60 Bulan/1-5 Tahun

˗ 3 ˗ 2 ˗ 1
Th : Bln Bln Median 1 SD 2 SD 3 SD
SD SD SD
3:5 41 86,3 90,4 94,4 98,4 102,4 106,4 110,5
3:6 42 86,8 90,9 95,0 99,0 103,1 107,2 111,2
3:7 43 87,4 91,5 95,6 99,7 103,8 107,9 112,0
3:8 44 87,9 92,0 96,2 100,3 104,5 108,6 112,7
3:9 45 88,4 92,5 96,7 100,9 105,1 109,3 113,5
3 : 10 46 88,9 93,1 97,3 101,5 105,8 110,0 114,2
3 : 11 47 89,3 93,6 97,9 102,1 106,4 110,7 114,9
4:0 48 89,8 94,1 98,4 102,7 107,0 111,3 115,7
4:1 49 90,3 94,6 99,0 103,3 107,7 112,0 116,4
4:2 50 90,7 95,1 99,5 103,9 108,3 112,7 117,1
4:3 51 91,2 95,6 100,1 104,5 108,9 113,3 117,7
4:4 52 91,7 96,1 100,6 105,0 109,5 114,0 118,4
4:5 53 92,1 96,6 101,1 105,6 110,1 114,6 119,1
4:6 54 92,6 97,1 101,6 106,2 110,7 115,2 119,8
4:7 55 93,0 97,6 102,2 106,7 111,3 115,9 120,4
4:8 56 93,4 98,1 102,7 107,3 111,9 116,3 121,1
4:9 57 93,9 98,5 103,2 107,8 112,5 117,1 121,8
4 : 10 58 94,5 99,0 103,7 108,4 113,0 117,7 122,4
4 : 11 59 94,7 99,5 104,2 108,9 113,6 118,3 123,1
5:0 60 95,2 99,9 104,7 109,4 114,2 118,9 123,7
Sumber: Kementrian Kesehatan RI, 2011

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan

pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan

pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif

kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek.

Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang

relatif lama. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka indeks ini menggambarkan

status gizi di masa lalu. Beaton dan Bengoa (1973) menyatakan bahwa indeks

TB/U disamping memberikan gambaran status gizi di masa lampau, juga lebih

erat kaitannya dengan status sosial – ekonomi (Supariasa, 2008).

10
Tabel 2.4 Keuntungan dan Kelemahan Indeks Antropometri TB/U

Keuntungan Indeks Antropometri Kelemahan Indeks Antropometri


TB/U TB/U
1. Baik untuk menilai status gizi masa 1. Tinggi badan tidak cepat naik
Lalu bahkan tidak mungkin turun
2. Ukuran panjang murah dan mudah 2. Pengukuran relatif sulit dilakukan
dibawa. karena anak harus berdiri tegak,
sehingga diperlukan dua orang
untuk melakukan pengukuran
tinggi badan
Sumber: Supariasa, 2008

2.2 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stunting

Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah jenis

kelamin balita, gizi ibu hamil yang dapat dilihat dari KMS ibu hamil yang

mengalami KEK (Kurang Energi Kronis), riwayat BBLR, karakteristik

keluarga mulai dari pendidikan orang tua/pengasuh, pekerjaan orang tua,

pendapatan keluarga, pola asuh yang meliputi ASI Eksklusif, pola

pemberian makanan, inteks makanan/asupan makanan, pelayanan kesehatan

yang meliputi status imunisasi, penyakit infeksi (diare dan ISPA),

kebersihan lingkungan meliputi sanitasi lingkungan (personal hygiene).

2.2.1 Karakteristik Balita

[Link] Jenis Kelamin Balita

Studi kohort di Ethiopia menunjukkan bayi dengan jenis kelamin laki-laki

memiliki risiko dua kali lipat menjadi stunting dibandingkan bayi perempuan

pada usia 6-12 bulan (Medhin, 2010). Anak laki-laki lebih berisiko mengalami

stunting dan atau underweight dibandingkan anak perempuan. Beberapa

penelitian di sub-Sahara Afrika menunjukkan bahwa anak laki-laki prasekolah

lebih berisiko stunting daripada anak perempuan. Dalam hal ini tidak diketahui

11
apa alasan dan penyebabnya (Lesiapeto, et al., 2010). Dalam sua penelitian yang

dilakukan di tiga negara berbeda, yaitu Libya (Taguru et al 2008), serta

Bangladesh dan Indonesia (Semba et al, 2008), menunjukkan bahwa prevalensi

stunting lebih besar pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.

[Link] Riwayat Berat Badan Lahir Rendah

Berat badan adalah hasil keseluruhan jaringan-jaringan tulang, otot, lemak,

cairan tubuh dan lainnya. Berat badan merupakan ukuran antropometri yang

terpenting dipakai pada setia pemeriksaan kesehatan anak padasetiap kelompok

umur. Selain itu, berat badan digunakan sebagai indikator tunggal yang terbaik

pada saat ini untuk keadaan gizi dan keadaan tumbuh kembang (Narendra &

Suyitno, 2002). Di Indonesia, alat yang digunakan memenuhi syarat untuk

melakukan penimbangan pada balita adalah dacin (Supariasa, 2002)

Berdasarkan klasifikasi masa kehamilan maka bayi BBLR dapat dibagi

menjadi tiga kategori yaitu BBLR prematur, bayi kecil untuk masa kehamilan

(KMK), dan Kombinasi prematur dan bayi kecil masa kehamilan (Departemen

Kesehatan Republik Indonesia, 2011).

1. BBLR Prematur

BBLR prematur adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan kurang

dari 37 minggu dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Bila bayi yang

lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badannya

kurang dari seharusnya desebut dengan dismatur kurang bulan kecil untuk

masa kehamilan. Karakteristik Universitas Sumatera Utara bayi BBLR

prematur adalah berat lahir kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang atau

sama dengan 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang

12
dari 33 cm. Semakin awal bayi lahir, semakin belum sempurna perkembangan

organorgan tubuhnya, dan semakin rendah berat badanya saat lahir dan

semakin tinggi risikonya mengalami berbagai komplikasi berbahaya.

2. Bayi Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK)

Bayi kecil untuk masa kehamilan merupakan bayi BBLR yang diakibatkan

karena gangguan pertumbuhan intranutrien. Bayi kecil masa kehamilan adalah

bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir kurang dari 10th. Bayi kecil

masa kehamilan bisa terjadi tanpa penyebab patologis atau penyebab sekunder

persentil untuk berat sebenarnya dengan umur kehamilan. Istilah bayi kecil

untuk masa kehamilan dapat didefinisikan sebagai bayi yang lahir dengan

berat badan kurang dari 2500 gram dengan usia kehamilan lebih atau sama

dengan 37 minggu. Istilah yang banyak digunakan dengan bayi kecil untuk

masa kehamilan diantaranya pseudoprematuritas, dismaturitas, fetal

malnutrisi, chronic fetal distress.

2.3 Pola Asuh

2.3.1 Pola Pemberian Makan

Pola makan pada balita sangat berperan penting dalam proses

pertumbuhan pada balita, karena dalam makanan banyak mengandung gizi. Gizi

menjadi bagian yang sangat penting dalam pertumbuhan. Gizi didalamnya

memiliki keterkaitan yang sangat erat hubungannya dengan kesehatan dan

kecerdasan. Jika pola makan tidak tercapai dengan baik pada balita maka

pertumbuhan balita akan terganggu, tubuh kurus, pendek bahkan bisa terjadi gizi

buruk pada balita. Stunting sangat erat kaitannya dengan pola pemberian makanan

terutama pada 2 tahun pertama kehidupan, pola pemberian makanan dapat

13
mempengaruhi kualitas konsumsi makanan balita, sehingga dapat mempengaruhi

status gizi balita. Pemberian ASI yang kurang dari 6 bulan dan MP-ASI terlalu

dini dapat meningkatkan risiko stunting karena saluran pencernaan bayi belum

sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi seperti diare dan ISPA.

Pola pemberian makanan anak balita terdiri dari tingkat asupan makanan dan

frekuensi pemberian makanan, hal ini sesuai dengan penelitian Wanda Lestari

(2014) pola pemberian makan.

Frekuensi konsumsi pangan per hari merupakan salah satu aspek dalam

kebiasaan makan. Frekuensi konsumsi pangan pada anak, ada yang terikat pada

pola pemberian makanan 3 kali per hari tetapi banyak pula yang mengkonsumsi

pangan antara 5 sampai 7 kali per hari atau lebih. Frekuensi pola pemberian

makanan yang ideal menurut Suryansyah (2012) adalah 3 kali sehari dengan jam

makan yang teratur seperti pola jam 8, jam 12 dan jam 18.

2.3.2 Asupan Energi

Gizi yang baik dan kesehatan adaah bagian penting dari kualitas hidup

yang baik (Aora, 2009). Menurut Ramli, et al (2009) gizi yang cukup diperlukan

untuk menjamin pertumbuhan optimal dan pengembangan bayi dan anak.

Kebutuhan gizi sehari-hari digunakan untuk menjalankan dan menjaga fungsi

normal tubuh dapat dilakukan dengan memilih dan mengasup amakanan yang

baik (kualitas dan kuantitasnya) (Almatsier, 2001). Kebutuhan energi yang harus

dipenuhi asupannya oleh balita di Indonesia telah di tetapkan pada tabel berikut

ini:

14
Tabel 2.6 Kebutuhan Energi Balita Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi
(AKG) 2004 Rata-Rata Per Hari

No. Kelompok Umur Energi (Kkal)


1. 0-6 bulan 550
2. 7-12 bulan 650
3. 1-3 tahun 1000
4. 4-6 tahun 1550
Sumber: Kementrian Kesehatan RI, 2011

Kebutuhan energi bayi dan balita relatif besar dibandingkan dengan orang

dewasa, sebab pada usia tersebut pertumbuhannya masih sangat pesat.

Kecukupannya semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia. Menurut

Suharjo (2003), makanan merupakan sumber energi untuk menunjang semua

aktivitas manusia. Adanya pembakaran karbohidrat, protein, dan lemak

mengasilkan energi pada tubuh manusia, maka dari itu manusia tercukupi

energinya dibutuhkan makanan yang masuk kedalam tubuh secara adekuat.

Kecukupan total makanan yang dikonsumsi merupakan penentu utama

pertumbuhan, hal ini karena sebagian nutrisi dapat didistribusikan secara luas di

berbagai jenis makanan. Makanan yang memadai dari segi kuantitas sangat

penting akrena energy (Kkal) yang disediakan didalamnya dan berbagai jenis

makanan dapat menajdi subtitusi satu sama lain untuk menghasilkan energi.

2.3.3 Protein

Protein merupakan zat pengatur dalam tubuh manusia. Pada balita protein

dibutuhkan untuk pemeliharaan jaringan, perubahan komposisi tubuh dan untuk

sintesis jaringan baru. Selain itu protein juga dapat membentuk antibodu untuk

menjaga daya tahan tubuh terhadap infeksi dan bahan-bahan asing yang masuk ke

dalam tubuh (Almatsier, 2001). Perkiraan kebutuhan protein dalam pertumbuhan

berskisar 1 sampai dengan 4 gr/kg pertambahan jaringan.

15
Evaluasi asupan protein anak harus berdasarkan:

1. Tingkat pertumbuhan

2. Kualitas protein dari makanan yang diasup

3. Kombinasi makanan yang menyediakan adam amno komplementer

ketika dikonsumsi bersamaan

4. Asupan vitamin, mineral dan energi yang adekuat

Semua komponen tersebut penting dalam sintesis protein (Trahms&Pipes, 2000).

Tabel 2.7 Kebutuhan Protein Balita Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi


(AKG) 2004 Rata-Rata Per Hari

No. Kelompok Umur Protein (gr)


1. 0-6 bulan 10
2. 7-12 bulan 16
3. 1-3 tahun 25
4. 4-6 tahun 39
Sumber: http//[Link]
Menurut WHO, kebutuhan protein adalah sebesar 10%-15% dari

kebutuhan energi total (Almatsier, 2005). Asupan protein yang adekuat telah

menjadi perhatian dan kontroversi di komunitas gizi internasional untuk 50

terakhir tahun. Protein sering dikonsumsi dalam hubungannya dengan energi dan

zink. Zat gizi tersebut untuk fungsi normal dari hampir semua sel dan proses

metabolism, dnegan demikian difisit dalam zat gizi tersebut memiliki banyak efek

klinis. Di sub-Sahara 38% anak stunting dan 9% wasting, walaupun penyebab dari

kelainan antropometri adalah multifaktorial, namun beberapa anak-anak di daerah

tersebut hidup dengan diet asupan protein yang tidak memadai (Asiss, 2004).

2.3.4 Karbohidrat atau Hidrat Arang

Karbohidrat adalah sakarida, yang tergabung dalam berbagai tingkat

kompleksitas untuk membentuk gula sederhana, serta unit yang lebih besar

seperti olisakarida dan polisakarida. Fungsi utamanya adalah sebagai sumber


16
energi dalam bentuk glukosa. Beberapa karbohidrat tidak dapat dicerna disebut

non glikemik, dan terdiri dari atas polisakarida nonpati (non starch

polysaccharide, NSP) yang merupakan bagian dari serat makanan dan berperan

dalam fungsi usus. Fungsi karbohidrat yaitu sebagai sumber energi, sebagai

sparing acion dari protein, untuk membentuk volume makanan.

2.3.5 Lemak

Lemak meliputi beraneka ragam zat yang larut dalam lipid, sebagian besar

merupakan trigliserida atau triasilhliserol (TAG). Produk turunannya, seperti

fosfolipid atau sterol (yang paling terkenal adalah kolestrol) juga termasuk dalam

kelompok ini. TAG dipecah untuk menghasilkan energi dan menyusun cadangan

energi utama bagi tubuh, dalam jaringan adipose. Asam lemak spesisfik yang

terdapat dalam TAG penting bagi struktur dan fungsi membran sel, dan harus

diperoleh dari diet, asam lemak in disebut asam lemak esensial.

2.3.6 Zink

Sumber utama zink adalah daging, unggas, telur, ikan, susu, keju, hati,

gandum, ragi, selada, roti, dan kacang-kacangan. Sedangkan fungsi zink di

antaranya adalah untuk meningkatkan keaktifan enzim dan meningkatkan laju

pertumbuhan. Zink berperan dalam sintesis protein dan merupakan komponen

enzim tertentu sehingga defisiensi zink dapat menyebabkan kekerdilan (stunted)

dan mempengaruhi perkemabngan seksual serta gangguan kesembuhan luka.

Gizi seimbang menjadi kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia.

Bukan hanya untuk orang dewasa namun juga bagi pertumbuhan anak-anak.

Mereka semua membutuhkan tersedianya gizi seimbang dan memadai baik itu

protein, karbohidrat, maupun lemak.


17
Gambar 2.2 Tumpeng Gizi Seimbang (TGS) Panduan Sehari – Hari
Sumber: Kemenkes RI

Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 (empat) Pilar yang pada

dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat

gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan

secara teratur. Empat Pilar tesebut adalah sebagai berikut:

1) Mengonsumsi makanan beragam. Mengonsumsi makanan beragam

juga harus memperhatikan porsi dan proporsinya.

2) Membiasakan perilaku hidup bersih.

3) Melakukan aktivitas fisik.

4) Mempertahankan dan memantau Berat Badan (BB) normal.

Merujuk pada anjuran perbandingan komposisi energi dari karbohidrat, protein dan lemak
di Amerika Serikat (IOM, 2005) dan menyelaraskan dengan Pedoman Gizi Seimbang
Indonesia (Kemenkes 2005) serta perhitungan hasil konsumsi pangan Riskesdas 2010
(Hardinsyah 2012), maka anjuran kecukupan lemak dalam konteks AMDR bagi penduduk
Indonesia dibagi ke dalam tiga (3) kelompok penduduk. Kontribusi energi dari lemak
sebaiknya sekitar 35% pada anak usia 1-3 tahun, 30% pada usia 4-18 tahun dan 25% pada
orang dewasa. Perbaikan menu dengan komposisi energi asam lemak ini sangat penting
agar upaya pencegahan penyakit kronik degeneratif sedini mungkin dapat tercapai
(Bredbenner et al. 2009 dan WHO 2010).

18
Tabel 2.8 Anjuran Proporsi Energi dari Lemak, Karbohidrat dan
Protein Menurut Kelompok Umur
Zat Gizi Persen Terhadap Total Energi (%)
Makro
Bayi, 0 – 11 Anak 1 – 3 Anak, 4 – 8 Dewasa
Bulan Tahun Tahun
Protein 5 15 (5 – 20) 15 (10 – 30) 15 (10 – 30)
Lemak 55 35 (30 – 40) 30 (25 – 35) 25 (20 – 30)
Karbohidrat 40 50 (45 – 65) 55 (45 – 65) 60 (45 – 65)
Sumber:Kemenkes, 2005

Riwayat KEK Selama Kehamilan pada Ibu Balita

KEK merupakan gambaran status gizi ibu hamil di masa lalu,

kekurangan gizi kronis pada masa anak-anak baik disertai sakit yang

berulang, akan menyebabkan bentuk tubuh yang pendek (stunting) dan

kurus (wasting) pada saat dewasa. Ibu yang memiliki postur tubuh seperti

ini berisiko mengalami gangguan pada masa kehamilan dan melahirkan

bayi BBLR (Soetjiningsih, 2009 dalam Nursari Abdul Syukur, 2016)

1. Penyebab KEK (Kurang Energi Kronis)

Penyebab utama terjadinya KEK pada ibu hamil yaitu sejak sebelum hamil ibu sudah
mengalami kekurangan energi, karena kebutuhan orang hamil lebih tinggi dari ibu yang
tidak dalam keadaan hamil. Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi,
karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama hamil.
Penyebab dari KEK dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

a. Penyebab Langsung

Peyebab langsung terdiri dari asupan makanan atau pola konsumsi dan infeksi.

b. Penyebab Tidak Langsung

Penyebab tidak langsung dari KEK banyak, maka penyakit ini

disebut penyakit dengan causa multi factorial dan antara hubungan

menggambarkan interaksi antara faktor dan menuju titik pusat

kekurangan energi kronis.

19
2. Pencegahan KEK (Kurang Energi Kronis)

Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya KEK, antara lain :

a. Meningkatkan konsumsi makanan bergizi, yaitu :

1) Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan

makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan

makanan nabati (sayur berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe).

2) Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung

vitamin C sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat

besi dalam usus.

b. Menambah pemasukan zat besi dalam tubuh dengan meminum tablet

penambah darah.

c. Guna mencegah terjadinya resiko KEK pada ibu hamil sebelum

kehamilan (WUS) sudah harus mempunyai gizi yang baik, misalnya

dengan LILA tidak kurang dari 23.5 cm. Beberapa kriteria ibu KEK

adalah berat badan ibu sebelum hamil <42 kg, tinggi badan ibu <145

cm, berat badan ibu pada kehamilan trimester III <45 kg, Indeks

Masa Tubuh (IMT) sebelum hamil < 17,00 dan ibu menderita

anemia (Hb <11 gr%)

20
BAB 3

KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan

antara konsep-konsep atau variabel-variabel yang akan diamati (diukur)

melalui penelitian yang dimaksud (Notoatmodjo, 2012). Berdasarkan

tinjauan pustaka yang telah diuraikan dan kerangka teori yang telah

disajikan di bab sebelumnya, dapat diketahui bahwa masalah malnutrisi

kronis pada balita merupakan masalah yang rumit dan disebabkan oleh

multifaktor penyebab. Adanya ketidakterjangkauan peneliti untuk

mengetahui semua faktor penyebab terjadinya stunting pada balita

sehingga ada beberapa faktor risiko yang terdapat pada kerangka teori

dihilangkan, maka untuk penelitian ini dibuat kerangka konseptual

penelitian yaitu:

1. Variabel bebas (independen): riwayat BBLR, pola pemberian

makan, riwayat pendidikan,.

2. Variabel terikat (dependen): kejadian stunting.

21
BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan desain cross

sectional. Desain peneliti cross sectional (potong lintang) adalah mencakup

semua jenis penelitian yang pengukuran variabel-variabelnya dilakukan hanya

satu kali atau pada saat itu (Dr. Hasmi, 2016). Dalam penelitian ini untuk

mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting di Wilayah

Kerja UPT Puskesmas Mompang.

Populasi/Sampel

Faktor Risiko (+) Faktor Risiko (-)

Efek (+) Efek (-) Efek (+) Efek (-)

Gambar 4.1 Skema Rancangan Penelitian Cross Sectional

4.2 Populasi dan Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau subyek

yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya (Wiratna, 2012). Populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang berkunjung pada posyandu di

22
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Mompang yaitu sejumlah 225 balita

4.2.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh

populasi yang digunakan untuk penelitian (Wiratna, 2012). Besar sampel yang

akan diambil berdasarkan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

N = Besar Sampel

P = Estimator Proporsi Populasi (0,5)

Q = 1-p (100% ˗ p) atau 0,5

Zα² = 1,96

D = Toleransi kesalahan yang dipilih (d=0,05) (Lemeshow (1990)

Dimasukkan kedalam rumus:

n= N x Za² x p x q

d² (N-1 + Za² x px q

n= 225 x (1,96)²x 0,5 x 0,5

0,05² x 225 – 1 + 1,96² x (0,5)²

n= 216,09

3,3729

n= 64

23
Jadi, besar sampel dari penelitian ini sebesar 64 balita. Namun, dalam penelitian

ini terdapat beberapa kriteria sebagai berikut:

1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Balita usia 12 bulan sampai 60 bulan atau 1 tahun sampai 5 tahun.

2) Bertempat tinggal di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Mompang yang telah

di diagnosis stunting melalui rekap PSG (Pemantauan Status Gizi)

petugas serta KMS.

3) Orang tua/keluarga bersedia menjadi subyek penelitian dengan

menandatangani lembar persetujuan.

2. Kriteria Eksklusi

1) Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah responden yang sedang tidak

ada ditempat pada saat penelitian berlangsung.

4.3 Teknik Sampling

Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Teknik pengambilan

sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik probability sampling yaitu

teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap

unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi sampel. Jenis probability sampling

yang digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini adalah simple

random sampling. Simple random sampling adalah pengambilan sampel dengan

cara acak tanpa memperhatian strata yang ada dalam anggota populasi. Cara ini

dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.

24
4.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
4.4.1 Variabel Penelitian

1. Variabel Independen (Bebas)

Variabel independen dalam penelitian ini adalah karakteristik balita (jenis

kelamin, riwayat BBLR), pola asuh (pola pemberian makan, riwayat ASI

eksklusif), karakteristik orang tua (pendidikan, pekerjaan, pendapatan

keluarga).

2. Variabel Dependen (Terikat)

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian stunting.

4.4.2 Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk

melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau

fenomena. Definisi operasional ditentukkan berdasarkan ditentukkan parameter

yang dijadikan ukuran dalam penelitian.

25
No. Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Data Hasil Ukur
Tabel 4.3 Definisi Operasional Variabel Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting
Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Data Hasil Ukur
No.
1 2 3 4 5 6
Variabel Terikat
1. Stunting Tinggi badan balita menurut umur Diukur dengan indeks KMS balita Nominal 1=Stunting, jika
(TB/U) kurang dari -2 standar antropometri TB/U rentang (< -2 SD).
deviasi (SD) sehingga lebih yang dilihat 2= Normal (≥ -2
pendek daripada tinggi yang menggunakan KMS SD)
seharusnya. balita (WHO, 2005)
Variabel Bebas
1. Riwayat Berat balita pada saat dilahirkan Dilihat menggunakan KMS balita Nominal 1=BBLR (BBLR
BBLR yang dilihat menggunakan KMS KMS balita. <2500 gram)
balita. 1= BBLR, jika berat 2=Normal (BBL
lahir <2500 gram ≥ 2500 gram)
2= Normal, jika berat (Depkes RI,
lahir ≥ 2500 gram 2005)

26
Lanjutan Tabel 4.3 Definisi Operasional Variabel Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting
No. Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Data Hasil Ukur
teratur seperti jam 8, 8, jam 12, dan
jam 12, jam 18, jam 18. Serta
variasi makan buah variasi makanan
dan sayur. buah dan sayuran.
(Suryansyah,
2012)
2. Pendidikan Jenjang pendidikan formal terakhir1. Pendidikan dasar Kueioner Nominal 1=Rendah (tamat
yang dicapai oleh ibu balita dan (tamat SD SD, tamat SMP
responden pada saat penelitian. sederajat, tamat sederajat)
SMP sederajat) 2=Tinggi (tamat
2. Pendidikan SMA dan
menengah (SMA Perguruan Tinggi)
sederajat)
3. Pendidikan tinggi
(tamat PT atau
Perguruan Tinggi)
(UU RI tentang Sistem
Pendidikan Nasional
No. 20 Tahun 2003)
3. Pekerjaan Pekerjaan yang menggunakan Pekerjaan yang Kuesioner Nominal 1= Tidak Bekerja
waktu terbanyak responden atau memberikan 2= Bekerja
pekerjaan yang memberikan penghasilan. (Kemenkes, 2010
penghasilan terbesar 1. Tidak bekerja, jika dalam Paramitha
tidak mendapatkan Anisa, FKM UI,
penghasilan. 2012)
2. Bekerja, jika
mendapatkan

27
4.5 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan

data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuisioner

merupakan suatu daftar tertulis yang memuat pertanyaan-pertanyaan peneliti

mengenai suatu hal tertentu untuk mengumpulkan data-data melalui proses

wawancara. (Sugiyono, 2008).

Sedangkan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Kuesioner

Kuesioner yang digunakan berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan

ditanyakan kepada ibu balita. Pertanyaan kuesioner meliputi data tentang ,

riwayat BBLR, pendidikan, dan pola pemberian makanan.

4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.6.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di 23 posyandu balita Wilayah Kerja UPT

Puskesmas Mompang, meliputi 12 desa yang terdiri dari Desa Mompang Julu ,

Desa Mompang Jae , Desa Kampung Baru , Desa Suka Ramai, Desa Rumbio ,

Desa Simanondong, Desa Baringin Jaya, Desa Sopo Sorik, Desa Torbanoraja,

Desa Tanjung Mompang, Desa Jambur, Desa Huta Dame .

4.6.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan 5 Oktober sampai dengan bulan

9Oktober2020

28
4.7 Prosedur Pengumpulan Data

4.7.1 Sumber Data

Pada dasarnya, penelitian merupakan proses penarikan kesimpulan dari

data yang telah dikumpulkan. Tanpa adanya kata, maka hasil penelitian tidak akan

terwujud dan penelitian tidak akan berjalan. Menurut sumbernya, data dibedakan

menjadi dua jenis, yaitu:

1. Data Primer

Data yang diperoleh secara langsung dari responden yang berkaitan

dengan sampel penelitian dengan menggunakan instrumen/alat ukur

kuesioner. Data primer dalam penelitian ini yaitu pendidikan, pekerjaan,

riwayat BBLR, ASI Eksklusif, dan pola pemberian makan.

2. Data Sekunder

Data ini merupakan data penunjang kelengkapan data primer. Data

sekunder diperoleh dari Puskesmas Mompang dan berbagai sumber lainnya.

Data sekunder dalam penelitian ini yaitu identitas balita stunting serta jenis

kelamin balita.

3. Teknik Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara secara

langsung kepada responden menggunakan alat ukur kuesioner.

29
4.8 Teknik Pengolahan dan Teknik Analisis Data

4.8.1 Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan tahap sebagai berikut:

1. Penyuntingan Data (Editing)

Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan terhadap semua item pertanyaan

dalam kuesioner. Editing dilakukan pada saat pengumpulan data atau setelah

data terkumpul dengan memeriksa jumlah kuesioner, kelengkapan identitas,

lembar kuesioner, kelengkapan isian kuesioner, serta kejelasan jawaban.

2. Pengkodean (Coding)

Pengkodean merupakan pemberian kode atau angka pada variabel yang

diteliti untuk memudahkan pengolahan data. Dalam penelitian ini

menggunakan coding sebagai berikut:

3. Memasukkan Data (Entry Data)

Memasukkan data yang telah diperoleh menggunakan fasilitas computer.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan program SPSS 16.0.

4. Pentabulasian (Tabulating)

Kegiatan pentabulasian dalam penelitian ini meliputi, pengelompokkan

data sesuai dengan tujuan penelitian, kemudian dimasukkan kedalam tabel-

tabel yang telah ditentukkan, berdasarkan kueisoner yang telah ditentukan

skor atau kodenya. Dalam penelitian ini peneliti melakukan tabulasi data

menggunakan program aplikasi data statistik SPSS 16.0.

30
4.8.2 Teknik Analisis Data

Data yang telah diperoleh dari penelitian ini kemudian dianalisisdengan

menggunakan program aplikasi pengolah data statistik 16.0. analisis data pada

penelitian ini adalah:

1. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi,

baik variabel bebas, variabel terikat, maupun deskripsi karakteristik

responden. Variabel independen atau variabel bebas dalam penelitian ini

adalah karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin balita, riwayat

BBLR, pola pemberian makan, pendidikan.

4.9 Etika Penelitian

Menurut Hidayat (2007) etika penelitian sangat penting karena penelitian

berhubungan langsung dengan manusia, sehingga perlu memperhatikan hal-hal

sebagai berikut :

1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)

Informed consent merupakan lembar persetujuan yang diberikan kepada

responden yang akan diteliti agar subyek mengerti maksut dan tujuan dari

penelitian.

2. Anonimity (Tanpa Nama)

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan nama

responden dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh

peneliti..

31
BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Mompang berlokasi di Jl. Trans Sumatera Bukittinggi - Padang

Sidempuan No.50, Mompang Jae, Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing

Natal, Sumatera Utara 22976, mencakup 12 (dua belas ) desa yaitu Desa

Mompang Julu , Desa Mompang Jae , Desa Kampung Baru , Desa Suka Ramai,

Desa Rumbio , Desa Simanondong, Desa Baringin Jaya, Desa Sopo Sorik, Desa

Torbanoraja, Desa Tanjung Mompang, Desa Jambur, Desa Huta Dame .

5.2 Hasil Penelitian

5.2.1 Data Umum

Data umum akan menyakikan karakteristik responden penelitian

berdasarkan jenis kelamin balita, umur balita, pekerjaan, pendidikan, riwayat ASI

ekslusif, riwayat BBLR, pendapatan keluarga dan pola pemberian makan,

gambaran kejadian stunting.

1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis


Kelamin Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mompang kabupaten
Mandailing Natal
No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
1. Laki-laki 138 50,2
2. Perempuan 137 49,8
Total 275 100,0
Sumber: data primer hasil penelitian tahun 2020

Berdasarkan tabel 5.1 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar balita

berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 138 orang (50,2%) sedangkan balita

dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 137 balita (49,8%).

32
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat


Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Mompang kabupaten
Mandailing Natal
No. Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)
1. Tamat SD 18 28,12
2. Tamat SMP/MTs/Sederajat 10 15,62
3. Tamat SMA/SMK/MA/Sederajat 28 43,75
4. Tamat PT 8 12,6
Total 64 100,0
Sumber: data primer hasil penelitian tahun 2020

Berdasarkan tabel 5.4 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besarn

responden memiliki tingkat pendidikan tamat SMA/SMK/MA/sederajat yaitu

sebanyak 28 orang (43,75%). Sedangkan sebagaian kecil responden memiliki

tingkat pendidikan tamat PT (perguruan tunggi) yaitu sebanyak 8 orang (12,6%).

5.2.2 Data Khusus

Data khusus akan menyajikan data karakteristik responden yang terkait

dengan variabel bebas (pendidikan, pola pemberian makan, dan riwayat BBLR)

dan variabel terikat (kejadian stunting).

1. Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Pendidikan

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori


Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Mompang kabupaten
Mandailing Natal Tahun 2020
No. Kategori Pendidikan Jumlah Persentase (%)
1. Pendidikan Rendah 26 40,75
2. Pendidikan Tinggi 38 59,25
Total 275 100,0
Sumber: data primer hasil penelitian tahun 2020
Berdasarkan tabel 5.5 diatas, dapat diketahui bahwa sebagaian besar

responden memiliki kategori pendidikan tinggi yaitu sebanyak 38 orang (59,25%).

2. Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Pola Pemberian Makan

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan


Kategori Riwayat ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas
Mompang kabupaten Mandailing Natal Tahun 2020
33
No Pola Pemberian Makan Jumlah Persentase(%)
1 Kurang 44 68,75
2 Baik 22 31,25
Total 64 100,0
Sumber: data primer hasil penelitian tahun 2020

Berdasarkan tabel 5.8 diatas, dapat diketahui bahwa sebagaian besar

responden balita dengan pola pemberian makan < 3 kali sehari sebanyak 44 balita

(68,75%).

3. Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Riwayat BBLR

Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori


Riwayat BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Mompang kabupaten
Mandailing Natal Tahun 2020
No Riwayat BBLR Jumlah Persentase (%)
1 BBLR 143 67,1
2 Normal 121 32,9
Total 264 100,0
Sumber: data primer hasil penelitian tahun 2020
Berdasarkan tabel 5.10 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar balita

dengan riwayat BBLR sebanyak 43 balita (67,1%).

4. Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Kejadian Stunting

Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan


Kategori Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas
Klecorejo Kabupaten Madiun Tahun 2018
No Stunting Jumlah Persentase (%)
1 Stunting 26 40,6
2 Normal 38 59,4
Total 264 100,0
Sumber: data primer hasil penelitian tahun 2020

Berdasarkan tabel 5.11 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar balita

tidak mengalami stunting yaitu sebanyak 38 balita (59,4%).

34
5.3 Pembahasan

Berdasarkan analisis, variabel yang terbukti merupakan faktor risiko

terjadinya stunting adalah pendidikan, pola asuh makan, dan riwayat BBLR.

1. Riwayat BBLR

Berat lahir pada khususnya sangat terkait dengan kematian janin, neonatal

dan postnatal; morbiditas bayi dan anak; dan pertumbuhan dan pengembangan

jangka panjang. Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) didefiniskan oleh

WHO yaitu berat lahir <2500 gr. BBLR dapat disebabkan oleh durasi

kehamilan dan laju pertumbuhan janin.

2. Pendidikan

Pendidikan orang tua berpengaru terhadap pengasuhan anak, karena

dengan pendidikan yang tinggi pada orang tua akan memahami pentingnya

peranan orang tua dalam pertumbuhan anak. Selain itu, dengan pendidikan

yang baik, diperkirakan memiliki pengetahuan gizi yang baik pula. Ibu

dengan pengetahuan gizi yang baik akan tahu bagaimana mengolah makanan,

mengatur menu makanan, serta menjaga mutu dan kebersihan makanan dengan

baik (Soekiman, 2008).

Dari hasil wawancara pengasuhan banyak yang diserahkan kepada nenek

dan saudaa lain, balita yang mengalami stunting dengan pendidikan orang tua

yang tinggi terjadi karena pola asuh yang kurang baik seperti pola pemberian

makan yang kurang yaitu sebesar 58,2%.

3. Pola Pemberian Makan

balita dengan pola pemberian makan <3 kali sehari memiliki risiko 1,52

kali lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan pola

pemberian makan ≥3 kali sehari.


35
Pola makan pada balita sangat berperan penting dalam proses pertumbuhan pada

balita, karena dalam makanan banyak mengandung gizi. Gizi menjadi bagian yang

sangat penting dalam pertumbuhan. Gizi didalamnya memiliki keterkaitan yang sangat

erat hubungannya dengan kesehatan dan kecerdasan. Jika pola makan tidak tercapai

dengan baik pada balita maka pertumbuhan balita akan terganggu, tubuh kurus,

pendek bahkan bisa terjadi gizi buruk pada balita. Stunting sangat erat kaitannya

dengan pola pemberian makanan terutama pada 2 tahun pertama kehidupan, pola

pemberian makanan dapat mempengaruhi kualitas konsumsi makanan balita, sehingga

dapat mempengaruhi status gizi balita (Cintya, 2015)

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara

pola pemberian makan dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas

Mompang kabupaten Mandailing Natal. Dari hasil wawancara dengan ibu balita

bahwa pola pemberian makan yang kurang disebabkan anak tidak mau makan karena

bosan dengan olahan makanan yang dibuat oleh ibu balita, sebagian. balita alergi

dengan protein hewani seperti ayam potong, telur ayam negeri serta ibu balita akan

memberikan snak ringan yang banyak mengandung MSG (Monosidium Glutamat)

seperti chiki, mie instan, es krim, dan kerupuk yang mengandung banyak minyak

sehingga balita pun banyak yang batuk selain itu sebagaian besar responden memiliki

pendapatan <UMK sebesar 56% sehingga daya beli untuk pemenuhan gizi keluarga

juga kurang dibandingkan balita dengan pola makan yang baik, pendapatan keluarga

≥UMK akan dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan dapat mencegah terjadinya

stunting.

36
BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal

yaitu sebagai berikut:

1. Kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Mompang kabupaten

Mandailing Natal sebesar 26 balita (40,6%).

2. Kejadian stunting berdasarkan riwayat BBLR pada balita di wilayah kerja UPT

puskesmas Mompang Kabupaten Mandailing Natal sebesar 43 balita (67,1%)

3. Kejadian stunting berdasarkan kategori pola pemberian makan yang kurang baik pada

balita di wilayah kerja UPT puskesmas Mompang Kabupaten Mandailing Natal

sebesar 44 balita (68,75%)

4. Kejadian stunting berdasarkan kategori pendidikan orang tua balita di wilayah kerja

UPT puskesmas Mompang Kabupaten Mandailing Natal yang rendah sebesar 26

(40,75%)

6.2 Saran

1. Bagi Instansi Kesehatan

Petugas diharapkan lebih meningkatkan pemanatauan secara rutin terhadap

pelaksanaan pemberian bantuan PMT yang sudah diberikan kepada masyarakat serta

pemberian edukasi terhadap ibu hamil saat berkunjung ke Puskesmas agar mau

mengkonsumsi PMT yang sudah diberikan, edukasi pada WUS tentang gizi agar

dapat mempersiapkan gizi selama kehamilan dengan baik agar tidak terjadi KEK

37
selama kehamilan serta pelatihan kader posyandu balita tentang dampak stunting agar

kader lebih terampil dan dapat menyebar luaskan informasi tentang stunting.

2. Bagi Masyarakat

Diharapkan masyarakat terutama WUS mengetahui dan mempersiapkan gizi sebelum

kehamilan dan ibu hamil agar mengkonsumsi PMT (Pemberian Makanan Tambahan)

ibu hamil dengan baik yang telah diberikan secara rutin oleh petugas keesehatan.

38
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Fitri Respati, dkk. 2015. Buku Pintar Asuhan Keperawatan Bayi dan
Balita. Yogyakarta: Cakrawala Ilmu.

Arifin, D. Z., Irdasari, S. Y., & Handayana, S. (2012). Analisis Sebaran dan Faktor
Risiko Stunting pada Balita di Kabupaten Purwakarta. Dipetik melalui
[Link] Diakses pada hari Sabtu, 10 Maret 2018 pukul
19.23 WIB.

Barasi, Mary E. 2009. At a Glance Ilmu Gizi. Jakarta: Erlangga.

Candra Ardian, dkk. 2016. Determinan kejadian stunting pada bayi usia 6 bulan.
Semarang. Dipetik melalui [Link] Diakses pada hari
Senin, 19 Maret 2018 pukul 01.09 WIB.

Cintya, Dewi Rizki, dkk. 2015. Teori&Konsep Tumbuh Kembang Bayi, Toodler;
Anak dan Usia [Link]: Nuha Medika.

Dekkers, dkk, 2012. Relatif Validity of a Short Qualitative Food Frequency


Questionnaire for Use in Food Consumption Serveys. European Journal of
Public Health. Dipetik melalui [Link] Diakses pada hari
Minggu, 24 Maret 2018 pada pukul 13.21 WIB.

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat


Universitas Indonesia. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT.
Rajagrafindo Persada.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011.

Desyanti Chamilia, dkk. 2017. Hubungan Riwayat Penyakit Diare dan Praktik
Higiene dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Wilayah
Kerja Puskesmas Simolawang, Surabaya. Surabya. Dipetik melalui [Link]
[Link]. Diakses pada hari Senin, 19 Maret 2018 pukul 00.58 WIB.

Erni Purwani &Mariyam. 2013. Pola Pemberian Makan Dengan Status Gizi Anak
Usia 1 Sampai 5 Tahun Di Kabunan Taman Pemalang. Fakultas Ilmu
Keperawatan Dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Semarang,
[Link] Mundu Raya No. 8a, 50174, Semarang. jurnal keperawatan anak.
Vol.1 No.1 mei 2013. Halaman 30-36.

Hasmi.2016. Metode Penelitian Epidemiologi, Jakarta: Trans Info Media.

39
Hayati, Aslis Wirda.2009. Buku Saku Gizi Bayi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. 2016. Dipetik melalui
[Link]. Diakses pada hari Minggu, 11 Maret 2018 pada pukul
07.21 WIB.

Jauhari, Ahmad. 2015. Dasar-Dasar Ilmu Gizi Karbohidrat Protein Lemak Vitamin.
Yogyakarta: Jaya Ilmu.

Kade Ayu Ida, dkk. 2016. Pengaruh Konsumsi Protein dan Seng Serta Riwayat
Penyakit Infeksi Terhadap Kejadian Stunting pada Anak Balita Umur 24-59
Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Penida II. Bali: Fakultas Kedokteran.
Dipetik melalui. Diakses pada hari Minggu, 18 Maret 2018 pukul 23.34 WIB.

Kemenkes RI. 2010. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :


1995/Menkes/Skxii/2010 Tentang Standart Antropometri Penilaian Status Gizi
Anak. Diakses Pada 23 April 2018.

Kementerian RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta : Kementerian Kesehatan


RI.
Moehji, Sjahmien. 2017. Dasar-Dasar Ilmu Gizi 2. Jakarta: Pustaka Kemang,
Kelompok Penerbit Papas, Anggota Ikapi.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka
Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT Rineka


Cipta.

Proverawati, Atikah, dkk. 2010. Imunisasi dan Vaksin. Yogyakarta: Nuha Offset

Ranuh, I.G.N, dkk.2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Jakarta: Satgas Imunisasi-


Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Rr Ngasisyah Dewi, dkk 2016. Hubungan Tinggi Badan Orang Tua dengan Kejadian
Stunting. Yogyakarta: Universitas Respasti. Dipetik melalui
http//[Link]. Diakses pada hari Senin 19 Maret 2018 pukul 06.41
WIB.

Trihono, dkk. 2015. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya. Jakarta:
Lembaga Penerbit Balitbangkes. Dipetik melalui [Link] Diakses
pada hari Minggu, 18 Maret 2018, pukul 10.51 WIB.

40

Anda mungkin juga menyukai