Faktor Stunting di Puskesmas Mompang
Faktor Stunting di Puskesmas Mompang
OLEH:
PUSKESMAS MOMPANG
MANDAILING NATAL
2020
BAB 1
PENDAHULUAN
Pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)
yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat
menahun pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan yaitu
dari mulai gizi ibu hamil yang kurang (KEK) dan pada masa kehamilan sampai
anak dilahirkan. Keadaan stunting ini dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi
badan menurut umur (TB/U) kurang dari -2 standar deviasi (SD), severely stunted
atau sangat pendek dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut
umur kurang dari -3 standar deviasi (SD) dan dikatakan normal jika nilai z-score
tinggi badan menurut umur (TB/U) lebih dari -2 standar deviasi (SD) berdasarkan
balita pendek menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensinya 20% atau
lebih karena persentase balita pendek di Indonesia masih tinggi dan merupakan
tetangga, prevalensi balita pendek (16%) dan Singapura (4%) (UNSD, 2014).
negara, di antara 117 negara, yang mempunyai tiga masalah gizi yaitu stunting,
1
wasting dan overweight pada balita. Prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan
persentase tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%), prevalensi tersebut mengalami
peningkatan dan diketahui dari jumlah presentase tersebut, 19,2% anak pendek
Faktor yang menyebabkan terjadinya stunting yaitu dimulai pada saat masa
kehamilan dimana gizi ibu yang kurang baik karena pendapatan keluarga yang
rendah sehingga ibu hamil tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan yang di
anjurkan yang menyebabkan ibu hamil mengalami KEK (Kurang Energi Kronis)
dapat dilihat dari buku KIA yaitu ibu hamil dengan LILA < 23,5 cm yang
mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) serta pola asuh yang
kurang baik yaitu masih kurangnya pemberian ASI Eksklusif, MPASI yang terlalu
cepat yaitu umur bayi sebelum 6 bulan yang sudah diberikan makanan atau
minuman selain ASI, pola pemberian makanan yang kurang serta intake makanan
yang kurang baik bisa disebabkan karena pendapatan keluarga yang rendah serta
pengetahuan ibu balita/pengasuh balita yang kurang baik dan dari faktor yang
Natal.
2
1.3 Tujuan Penelitian
3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Stunting
Status gizi adalah keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh derajat
kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan
berdasarkan standar baku WHO dengan BB/U, TB/U dan BB/TB. Stunting
adalah bentuk dari proses pertumbuhan anak yang terhambat. Sampai saat ini
stunting merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian
dan gangguan sistem pembakaran. Pada jangka panjang yaitu pada masa dewasa,
pendek:
perkembangan bahasa.
4
c. Sisi ekonomi: peningkatan health expenditure, peningkatan pembiayaan
berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan
dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang
bisa diukur dengan berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter),
umur tulang dan keseimbangan metabolic (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat
diramalkan, sebagai hasil dari proses pematang (Cintya, Dewi Rizki, 2015).
tubuh dan metros artinta ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran tubuh
5
dimensi tulang otot dan jaringan adipose atau lemak. Karena tubuh dapat
antomi tubuh. Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi.
6
Tabel 2.2 Standar Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak Laki-Laki 0
Bulan – 60 Bulan/1-5 Tahun
Bln ˗ 3 ˗ 2 ˗ 1 Median 1 SD 2 SD 3 SD
Th : Bln
SD SD SD
0:0 0 44,2 46,1 48,0 49,9 51,8 53,7 55,6
0:1 1 48,9 50,8 52,8 54,7 56,7 58,6 60,6
0:2 2 52,4 54,4 56,4 58,4 60,4 62,4 64,4
0:3 3 55,3 57,3 59,4 61,4 63,5 65,5 67,6
0:4 4 57,6 59,7 61,8 63,9 66,0 68,0 70,1
0:5 5 58,6 61,7 63,8 65,9 68,0 70,1 72,2
0:6 6 61,2 63,3 65,5 67,6 69,9 71,9 74,0
0:7 7 62,7 64,8 67,0 69,2 71,3 73,5 75,7
0:8 8 64,0 65,2 68,4 70,5 72,8 75,0 77,2
0:9 9 65,2 67,5 69,7 72, 0 74,2 76,5 78,7
0 : 10 10 66,4 68,7 71,0 73,3 75,6 77,9 80,1
0 : 11 11 67,6 69,9 72,2 74,5 76,9 79,2 81,5
1:0 12 68,6 71,0 73,4 75,7 78,1 80,5 82,9
1:1 13 69,6 72,1 74,5 76,9 79,3 81,8 84,2
1:2 14 70,6 73,1 75,6 78,0 80,5 83,0 85,5
1:3 15 71,6 74,1 76,8 79,1 81,7 84,2 86,7
1:4 16 72,5 75,0 77,6 80,2 82,8 85,4 88,0
1:5 17 73,3 76,0 78,6 81,2 83,9 86,5 89,2
1:6 18 74,2 76,9 79,6 82,3 85,0 87,7 90,4
1:7 19 75,0 77,7 80,5 83,2 86,0 88,8 91,5
1:8 20 75,8 78,6 81,4 84,2 87,0 89,8 92,6
1:9 21 76,5 79,4 82,3 85,1 88,0 90,5 93,8
1 : 10 22 77,2 80,2 83,1 86,0 89,0 91,9 94,9
1 : 11 23 78,0 81,0 83,9 86,9 89,9 92,9 95,9
2:0 24 78,0 81,7 84,1 87,1 90,2 93,2 96,3
2:1 25 78,6 81,7 84,9 88,0 91,1 94,2 97,3
2:2 26 79,3 82,5 85,6 88,8 92,0 95,2 98,3
2:3 27 79,9 83,1 86,4 89,6 92,9 96,1 99,3
2:4 28 80,5 83,8 87,1 90,4 93,7 97,0 100,3
2:5 29 81,1 84,5 87,8 91,2 94,5 97,9 101,2
2:6 30 81,7 85,1 88,5 91,9 95,3 98,7 102,1
2:7 31 82,3 85,7 89,2 92,7 96,1 99,6 103,0
2:8 32 82,8 86,4 89,9 93,4 96,9 100,4 103,9
2:9 33 83,4 86,9 90,5 94,1 97,6 101,2 104,8
7
Lanjutan Tabel 2.2 Standar Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak Laki-Laki 0
Bulan – 60 Bulan/1-5 Tahun
Bln ˗ 3 ˗ 2 ˗ 1 Median 1 SD 2 SD 3 SD
Th : Bln
SD SD SD
2 : 10 34 83,9 87,5 91,1 94,8 98,4 102,0 105,6
2 : 11 35 84,4 88,1 91,8 95,4 99,1 102,7 106,4
3:0 36 85,0 88,7 92,4 96,1 99,8 103,5 107,2
3:1 37 85,5 89,2 93,0 96,7 100,5 104,2 108,0
3:2 38 86,0 89,8 93,6 97,4 101,2 105,0 108,8
3:3 39 86,5 90,3 94,2 98,0 101,8 105,7 109,5
3:4 40 87,0 90,8 94,7 98,6 102,5 106,4 110,3
3:5 41 87,5 91,4 95,3 99,2 103,2 107,1 111,0
3:6 42 88,0 91,9 95,9 99,9 103,8 107,8 111,7
3:7 43 88,4 92,4 96,4 100,4 104,5 108,5 112,5
3:8 44 88,9 93,0 97,0 101,0 105,1 109,1 113,2
3:9 45 89,4 93,5 97,5 101,6 105,7 109,8 113,9
3 : 10 46 89,9 94,0 98,1 102,2 106,3 110,4 114,6
3 : 11 47 90,3 94,4 98,6 102,8 106,9 111,1 115,2
4:0 48 90,7 94,9 99,1 103,3 107,5 111,7 115,9
4:1 49 91,2 95,4 99,7 103,9 108,1 112,4 116,6
4:2 50 91,6 95,9 100,2 104,4 108,7 113,0 117,3
4:3 51 92,1 96,4 100,7 105,0 109,3 113,6 117,9
4:4 52 92,5 96,9 101,2 105,6 109,9 114,2 118,6
4:5 53 93,0 97,4 101,7 106,1 110,5 114,9 119,2
4:6 54 93,4 97,8 102,3 106,7 111,1 115,5 119,9
4:7 55 93,9 98,3 102,8 107,2 111,7 116,1 120,6
4:8 56 94,3 98,8 103,3 107,8 112,3 116,7 121,2
4:9 57 94,7 99,3 103,8 108,3 112,8 117,4 121,9
4 : 10 58 95,2 99,7 104,3 108,9 113,4 118,0 122,6
4 : 11 59 95,4 100,2 104,8 109,4 114,0 118,6 123,2
5:0 60 96,1 100,7 105,3 110,0 114,6 119,2 123,9
Sumber: Kementrian Kesehatan RI, 2011
8
Tabel 2.3 Standar Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak Perempuan 0
Bulan – 60 Bulan/1-5 Tahun
˗ 3 ˗ 2 ˗ 1
Th : Bln Bln Median 1 SD 2 SD 3 SD
SD SD SD
0:0 0 45,4 45,4 47,3 49,1 51,0 52,9 54,7
0:1 1 47,8 49,8 51,7 53,7 55,6 57,6 59,5
0:2 2 51,0 53,0 55,0 57,1 59,1 61,1 63,2
0:3 3 53,5 55,6 57,7 59,8 61,9 64,0 66,1
0:4 4 55,6 57,8 59,9 62,1 64,3 66,4 68,6
0:5 5 57,4 59,6 61,8 64,0 66,2 68,5 70,7
0:6 6 58,9 61,2 63,5 65,7 68,0 70,3 72,5
0:7 7 60,3 62,7 65,0 67,3 69,6 71,9 74,2
0:8 8 61,7 64,6 66,4 68,7 71,1 73,5 75,8
0:9 9 62,9 65,3 67,7 70,1 72,6 75,0 77,4
0 : 10 10 64,1 66,3 69,0 71,5 73,9 76,4 78,9
0 : 11 11 65,2 67,7 70,3 72,8 75,3 77,8 80,3
1:0 12 66,3 68,9 71,4 74,0 76,6 79,2 81,7
1:1 13 67,3 70,0 72,6 75,2 77,8 80,5 83,1
1:2 14 68,3 71,0 73,7 76,4 79,1 81,7 84,4
1:3 15 69,3 72,0 74,8 77,5 80,2 83,0 85,7
1:4 16 70,2 73,0 75,8 78,6 81,4 84,2 87,0
1:5 17 71,1 74,0 76,8 79,7 82,5 85,4 88,2
1:6 18 72,0 74,9 77,8 80,7 83,6 86,5 89,4
1:7 19 72,8 75,8 78,8 81,7 84,7 87,6 90,6
1:8 20 73,7 76,7 79,7 82,7 85,7 88,7 91,7
1:9 21 74,5 77,3 80,6 83,7 86,7 88,8 92,9
1 : 10 22 75,2 78,4 81,5 84,6 87,7 90,8 94,0
1 : 11 23 76,0 79,2 82,3 85,5 88,7 91,9 95,0
2:0 24 76,7 80,0 83,2 86,4 89,6 92,9 96,1
2:1 25 76,8 80,0 83,3 86,6 89,9 93,1 96,4
2:2 26 77,5 80,8 84,1 87,4 90,8 94,1 97,4
2:3 27 78,1 81,5 84,9 88,3 91,7 95,0 98,4
2:4 28 78,8 82,2 85,7 89,1 92,5 96,0 99,4
2:5 29 79,5 82,9 86,4 89,9 93,4 96,9 100,3
2:6 30 80,1 83,6 87,1 90,7 94,2 97,7 101,3
2:7 31 80,7 84,3 87,9 91,4 95,0 98,6 102,2
2:8 32 81,3 84,9 88,6 92,2 95,8 99,4 103,1
2:9 33 81,9 85,6 89,3 92,9 96,6 100,3 103,9
2 : 10 34 82,5 86,2 89,9 93,6 97,4 101,1 104,8
2 : 11 35 83,1 86,8 90,6 94,4 98,1 101,9 105,6
3:0 36 83,6 87,4 91,2 95,1 98,9 102,7 106,5
3:1 37 84,2 88,0 91,9 95,7 99,6 103,4 107,3
3:2 38 84,7 88,6 92,5 96,4 100,3 104,2 108,1
3:3 39 85,3 89,2 93,1 97,1 101,0 105,0 108,9
3:4 40 85,8 89,8 93,8 97,7 101,7 105,7 109,7
9
Lanjutan Tabel 2.3 Standar Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Anak Perempuan 0
Bulan – 60 Bulan/1-5 Tahun
˗ 3 ˗ 2 ˗ 1
Th : Bln Bln Median 1 SD 2 SD 3 SD
SD SD SD
3:5 41 86,3 90,4 94,4 98,4 102,4 106,4 110,5
3:6 42 86,8 90,9 95,0 99,0 103,1 107,2 111,2
3:7 43 87,4 91,5 95,6 99,7 103,8 107,9 112,0
3:8 44 87,9 92,0 96,2 100,3 104,5 108,6 112,7
3:9 45 88,4 92,5 96,7 100,9 105,1 109,3 113,5
3 : 10 46 88,9 93,1 97,3 101,5 105,8 110,0 114,2
3 : 11 47 89,3 93,6 97,9 102,1 106,4 110,7 114,9
4:0 48 89,8 94,1 98,4 102,7 107,0 111,3 115,7
4:1 49 90,3 94,6 99,0 103,3 107,7 112,0 116,4
4:2 50 90,7 95,1 99,5 103,9 108,3 112,7 117,1
4:3 51 91,2 95,6 100,1 104,5 108,9 113,3 117,7
4:4 52 91,7 96,1 100,6 105,0 109,5 114,0 118,4
4:5 53 92,1 96,6 101,1 105,6 110,1 114,6 119,1
4:6 54 92,6 97,1 101,6 106,2 110,7 115,2 119,8
4:7 55 93,0 97,6 102,2 106,7 111,3 115,9 120,4
4:8 56 93,4 98,1 102,7 107,3 111,9 116,3 121,1
4:9 57 93,9 98,5 103,2 107,8 112,5 117,1 121,8
4 : 10 58 94,5 99,0 103,7 108,4 113,0 117,7 122,4
4 : 11 59 94,7 99,5 104,2 108,9 113,6 118,3 123,1
5:0 60 95,2 99,9 104,7 109,4 114,2 118,9 123,7
Sumber: Kementrian Kesehatan RI, 2011
pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan
pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif
kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek.
Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang
status gizi di masa lalu. Beaton dan Bengoa (1973) menyatakan bahwa indeks
TB/U disamping memberikan gambaran status gizi di masa lampau, juga lebih
10
Tabel 2.4 Keuntungan dan Kelemahan Indeks Antropometri TB/U
kelamin balita, gizi ibu hamil yang dapat dilihat dari KMS ibu hamil yang
memiliki risiko dua kali lipat menjadi stunting dibandingkan bayi perempuan
pada usia 6-12 bulan (Medhin, 2010). Anak laki-laki lebih berisiko mengalami
lebih berisiko stunting daripada anak perempuan. Dalam hal ini tidak diketahui
11
apa alasan dan penyebabnya (Lesiapeto, et al., 2010). Dalam sua penelitian yang
stunting lebih besar pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.
cairan tubuh dan lainnya. Berat badan merupakan ukuran antropometri yang
umur. Selain itu, berat badan digunakan sebagai indikator tunggal yang terbaik
pada saat ini untuk keadaan gizi dan keadaan tumbuh kembang (Narendra &
menjadi tiga kategori yaitu BBLR prematur, bayi kecil untuk masa kehamilan
(KMK), dan Kombinasi prematur dan bayi kecil masa kehamilan (Departemen
1. BBLR Prematur
BBLR prematur adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan kurang
dari 37 minggu dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Bila bayi yang
lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badannya
kurang dari seharusnya desebut dengan dismatur kurang bulan kecil untuk
prematur adalah berat lahir kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang atau
sama dengan 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang
12
dari 33 cm. Semakin awal bayi lahir, semakin belum sempurna perkembangan
organorgan tubuhnya, dan semakin rendah berat badanya saat lahir dan
Bayi kecil untuk masa kehamilan merupakan bayi BBLR yang diakibatkan
bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir kurang dari 10th. Bayi kecil
masa kehamilan bisa terjadi tanpa penyebab patologis atau penyebab sekunder
persentil untuk berat sebenarnya dengan umur kehamilan. Istilah bayi kecil
untuk masa kehamilan dapat didefinisikan sebagai bayi yang lahir dengan
berat badan kurang dari 2500 gram dengan usia kehamilan lebih atau sama
dengan 37 minggu. Istilah yang banyak digunakan dengan bayi kecil untuk
pertumbuhan pada balita, karena dalam makanan banyak mengandung gizi. Gizi
kecerdasan. Jika pola makan tidak tercapai dengan baik pada balita maka
pertumbuhan balita akan terganggu, tubuh kurus, pendek bahkan bisa terjadi gizi
buruk pada balita. Stunting sangat erat kaitannya dengan pola pemberian makanan
13
mempengaruhi kualitas konsumsi makanan balita, sehingga dapat mempengaruhi
status gizi balita. Pemberian ASI yang kurang dari 6 bulan dan MP-ASI terlalu
dini dapat meningkatkan risiko stunting karena saluran pencernaan bayi belum
sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi seperti diare dan ISPA.
Pola pemberian makanan anak balita terdiri dari tingkat asupan makanan dan
frekuensi pemberian makanan, hal ini sesuai dengan penelitian Wanda Lestari
Frekuensi konsumsi pangan per hari merupakan salah satu aspek dalam
kebiasaan makan. Frekuensi konsumsi pangan pada anak, ada yang terikat pada
pola pemberian makanan 3 kali per hari tetapi banyak pula yang mengkonsumsi
pangan antara 5 sampai 7 kali per hari atau lebih. Frekuensi pola pemberian
makanan yang ideal menurut Suryansyah (2012) adalah 3 kali sehari dengan jam
makan yang teratur seperti pola jam 8, jam 12 dan jam 18.
Gizi yang baik dan kesehatan adaah bagian penting dari kualitas hidup
yang baik (Aora, 2009). Menurut Ramli, et al (2009) gizi yang cukup diperlukan
normal tubuh dapat dilakukan dengan memilih dan mengasup amakanan yang
baik (kualitas dan kuantitasnya) (Almatsier, 2001). Kebutuhan energi yang harus
dipenuhi asupannya oleh balita di Indonesia telah di tetapkan pada tabel berikut
ini:
14
Tabel 2.6 Kebutuhan Energi Balita Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi
(AKG) 2004 Rata-Rata Per Hari
Kebutuhan energi bayi dan balita relatif besar dibandingkan dengan orang
mengasilkan energi pada tubuh manusia, maka dari itu manusia tercukupi
pertumbuhan, hal ini karena sebagian nutrisi dapat didistribusikan secara luas di
berbagai jenis makanan. Makanan yang memadai dari segi kuantitas sangat
penting akrena energy (Kkal) yang disediakan didalamnya dan berbagai jenis
makanan dapat menajdi subtitusi satu sama lain untuk menghasilkan energi.
2.3.3 Protein
Protein merupakan zat pengatur dalam tubuh manusia. Pada balita protein
sintesis jaringan baru. Selain itu protein juga dapat membentuk antibodu untuk
menjaga daya tahan tubuh terhadap infeksi dan bahan-bahan asing yang masuk ke
15
Evaluasi asupan protein anak harus berdasarkan:
1. Tingkat pertumbuhan
kebutuhan energi total (Almatsier, 2005). Asupan protein yang adekuat telah
terakhir tahun. Protein sering dikonsumsi dalam hubungannya dengan energi dan
zink. Zat gizi tersebut untuk fungsi normal dari hampir semua sel dan proses
metabolism, dnegan demikian difisit dalam zat gizi tersebut memiliki banyak efek
klinis. Di sub-Sahara 38% anak stunting dan 9% wasting, walaupun penyebab dari
tersebut hidup dengan diet asupan protein yang tidak memadai (Asiss, 2004).
kompleksitas untuk membentuk gula sederhana, serta unit yang lebih besar
non glikemik, dan terdiri dari atas polisakarida nonpati (non starch
polysaccharide, NSP) yang merupakan bagian dari serat makanan dan berperan
dalam fungsi usus. Fungsi karbohidrat yaitu sebagai sumber energi, sebagai
2.3.5 Lemak
Lemak meliputi beraneka ragam zat yang larut dalam lipid, sebagian besar
fosfolipid atau sterol (yang paling terkenal adalah kolestrol) juga termasuk dalam
kelompok ini. TAG dipecah untuk menghasilkan energi dan menyusun cadangan
energi utama bagi tubuh, dalam jaringan adipose. Asam lemak spesisfik yang
terdapat dalam TAG penting bagi struktur dan fungsi membran sel, dan harus
2.3.6 Zink
Sumber utama zink adalah daging, unggas, telur, ikan, susu, keju, hati,
Bukan hanya untuk orang dewasa namun juga bagi pertumbuhan anak-anak.
Mereka semua membutuhkan tersedianya gizi seimbang dan memadai baik itu
gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan
Merujuk pada anjuran perbandingan komposisi energi dari karbohidrat, protein dan lemak
di Amerika Serikat (IOM, 2005) dan menyelaraskan dengan Pedoman Gizi Seimbang
Indonesia (Kemenkes 2005) serta perhitungan hasil konsumsi pangan Riskesdas 2010
(Hardinsyah 2012), maka anjuran kecukupan lemak dalam konteks AMDR bagi penduduk
Indonesia dibagi ke dalam tiga (3) kelompok penduduk. Kontribusi energi dari lemak
sebaiknya sekitar 35% pada anak usia 1-3 tahun, 30% pada usia 4-18 tahun dan 25% pada
orang dewasa. Perbaikan menu dengan komposisi energi asam lemak ini sangat penting
agar upaya pencegahan penyakit kronik degeneratif sedini mungkin dapat tercapai
(Bredbenner et al. 2009 dan WHO 2010).
18
Tabel 2.8 Anjuran Proporsi Energi dari Lemak, Karbohidrat dan
Protein Menurut Kelompok Umur
Zat Gizi Persen Terhadap Total Energi (%)
Makro
Bayi, 0 – 11 Anak 1 – 3 Anak, 4 – 8 Dewasa
Bulan Tahun Tahun
Protein 5 15 (5 – 20) 15 (10 – 30) 15 (10 – 30)
Lemak 55 35 (30 – 40) 30 (25 – 35) 25 (20 – 30)
Karbohidrat 40 50 (45 – 65) 55 (45 – 65) 60 (45 – 65)
Sumber:Kemenkes, 2005
kekurangan gizi kronis pada masa anak-anak baik disertai sakit yang
kurus (wasting) pada saat dewasa. Ibu yang memiliki postur tubuh seperti
Penyebab utama terjadinya KEK pada ibu hamil yaitu sejak sebelum hamil ibu sudah
mengalami kekurangan energi, karena kebutuhan orang hamil lebih tinggi dari ibu yang
tidak dalam keadaan hamil. Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi,
karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama hamil.
Penyebab dari KEK dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Penyebab Langsung
Peyebab langsung terdiri dari asupan makanan atau pola konsumsi dan infeksi.
19
2. Pencegahan KEK (Kurang Energi Kronis)
penambah darah.
dengan LILA tidak kurang dari 23.5 cm. Beberapa kriteria ibu KEK
adalah berat badan ibu sebelum hamil <42 kg, tinggi badan ibu <145
cm, berat badan ibu pada kehamilan trimester III <45 kg, Indeks
Masa Tubuh (IMT) sebelum hamil < 17,00 dan ibu menderita
20
BAB 3
KERANGKA KONSEP
tinjauan pustaka yang telah diuraikan dan kerangka teori yang telah
kronis pada balita merupakan masalah yang rumit dan disebabkan oleh
sehingga ada beberapa faktor risiko yang terdapat pada kerangka teori
penelitian yaitu:
21
BAB 4
METODE PENELITIAN
satu kali atau pada saat itu (Dr. Hasmi, 2016). Dalam penelitian ini untuk
Populasi/Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang berkunjung pada posyandu di
22
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Mompang yaitu sejumlah 225 balita
4.2.2 Sampel
populasi yang digunakan untuk penelitian (Wiratna, 2012). Besar sampel yang
Keterangan:
N = Besar Sampel
Zα² = 1,96
n= N x Za² x p x q
d² (N-1 + Za² x px q
n= 216,09
3,3729
n= 64
23
Jadi, besar sampel dari penelitian ini sebesar 64 balita. Namun, dalam penelitian
1. Kriteria Inklusi
2. Kriteria Eksklusi
1) Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah responden yang sedang tidak
teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap
unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi sampel. Jenis probability sampling
yang digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini adalah simple
cara acak tanpa memperhatian strata yang ada dalam anggota populasi. Cara ini
24
4.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
4.4.1 Variabel Penelitian
kelamin, riwayat BBLR), pola asuh (pola pemberian makan, riwayat ASI
keluarga).
melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau
25
No. Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Data Hasil Ukur
Tabel 4.3 Definisi Operasional Variabel Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting
Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Data Hasil Ukur
No.
1 2 3 4 5 6
Variabel Terikat
1. Stunting Tinggi badan balita menurut umur Diukur dengan indeks KMS balita Nominal 1=Stunting, jika
(TB/U) kurang dari -2 standar antropometri TB/U rentang (< -2 SD).
deviasi (SD) sehingga lebih yang dilihat 2= Normal (≥ -2
pendek daripada tinggi yang menggunakan KMS SD)
seharusnya. balita (WHO, 2005)
Variabel Bebas
1. Riwayat Berat balita pada saat dilahirkan Dilihat menggunakan KMS balita Nominal 1=BBLR (BBLR
BBLR yang dilihat menggunakan KMS KMS balita. <2500 gram)
balita. 1= BBLR, jika berat 2=Normal (BBL
lahir <2500 gram ≥ 2500 gram)
2= Normal, jika berat (Depkes RI,
lahir ≥ 2500 gram 2005)
26
Lanjutan Tabel 4.3 Definisi Operasional Variabel Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting
No. Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Data Hasil Ukur
teratur seperti jam 8, 8, jam 12, dan
jam 12, jam 18, jam 18. Serta
variasi makan buah variasi makanan
dan sayur. buah dan sayuran.
(Suryansyah,
2012)
2. Pendidikan Jenjang pendidikan formal terakhir1. Pendidikan dasar Kueioner Nominal 1=Rendah (tamat
yang dicapai oleh ibu balita dan (tamat SD SD, tamat SMP
responden pada saat penelitian. sederajat, tamat sederajat)
SMP sederajat) 2=Tinggi (tamat
2. Pendidikan SMA dan
menengah (SMA Perguruan Tinggi)
sederajat)
3. Pendidikan tinggi
(tamat PT atau
Perguruan Tinggi)
(UU RI tentang Sistem
Pendidikan Nasional
No. 20 Tahun 2003)
3. Pekerjaan Pekerjaan yang menggunakan Pekerjaan yang Kuesioner Nominal 1= Tidak Bekerja
waktu terbanyak responden atau memberikan 2= Bekerja
pekerjaan yang memberikan penghasilan. (Kemenkes, 2010
penghasilan terbesar 1. Tidak bekerja, jika dalam Paramitha
tidak mendapatkan Anisa, FKM UI,
penghasilan. 2012)
2. Bekerja, jika
mendapatkan
27
4.5 Instrumen Penelitian
data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuisioner
1. Kuesioner
Puskesmas Mompang, meliputi 12 desa yang terdiri dari Desa Mompang Julu ,
Desa Mompang Jae , Desa Kampung Baru , Desa Suka Ramai, Desa Rumbio ,
Desa Simanondong, Desa Baringin Jaya, Desa Sopo Sorik, Desa Torbanoraja,
Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan 5 Oktober sampai dengan bulan
9Oktober2020
28
4.7 Prosedur Pengumpulan Data
data yang telah dikumpulkan. Tanpa adanya kata, maka hasil penelitian tidak akan
terwujud dan penelitian tidak akan berjalan. Menurut sumbernya, data dibedakan
1. Data Primer
2. Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini yaitu identitas balita stunting serta jenis
kelamin balita.
29
4.8 Teknik Pengolahan dan Teknik Analisis Data
Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan tahap sebagai berikut:
dalam kuesioner. Editing dilakukan pada saat pengumpulan data atau setelah
2. Pengkodean (Coding)
4. Pentabulasian (Tabulating)
skor atau kodenya. Dalam penelitian ini peneliti melakukan tabulasi data
30
4.8.2 Teknik Analisis Data
menggunakan program aplikasi pengolah data statistik 16.0. analisis data pada
1. Analisis Univariat
sebagai berikut :
responden yang akan diteliti agar subyek mengerti maksut dan tujuan dari
penelitian.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
peneliti..
31
BAB 5
Natal, Sumatera Utara 22976, mencakup 12 (dua belas ) desa yaitu Desa
Mompang Julu , Desa Mompang Jae , Desa Kampung Baru , Desa Suka Ramai,
Desa Rumbio , Desa Simanondong, Desa Baringin Jaya, Desa Sopo Sorik, Desa
berdasarkan jenis kelamin balita, umur balita, pekerjaan, pendidikan, riwayat ASI
Berdasarkan tabel 5.1 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar balita
berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 138 orang (50,2%) sedangkan balita
32
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
dengan variabel bebas (pendidikan, pola pemberian makan, dan riwayat BBLR)
responden balita dengan pola pemberian makan < 3 kali sehari sebanyak 44 balita
(68,75%).
Berdasarkan tabel 5.11 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar balita
34
5.3 Pembahasan
terjadinya stunting adalah pendidikan, pola asuh makan, dan riwayat BBLR.
1. Riwayat BBLR
Berat lahir pada khususnya sangat terkait dengan kematian janin, neonatal
dan postnatal; morbiditas bayi dan anak; dan pertumbuhan dan pengembangan
jangka panjang. Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) didefiniskan oleh
WHO yaitu berat lahir <2500 gr. BBLR dapat disebabkan oleh durasi
2. Pendidikan
dengan pendidikan yang tinggi pada orang tua akan memahami pentingnya
peranan orang tua dalam pertumbuhan anak. Selain itu, dengan pendidikan
yang baik, diperkirakan memiliki pengetahuan gizi yang baik pula. Ibu
dengan pengetahuan gizi yang baik akan tahu bagaimana mengolah makanan,
mengatur menu makanan, serta menjaga mutu dan kebersihan makanan dengan
dan saudaa lain, balita yang mengalami stunting dengan pendidikan orang tua
yang tinggi terjadi karena pola asuh yang kurang baik seperti pola pemberian
balita dengan pola pemberian makan <3 kali sehari memiliki risiko 1,52
kali lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan pola
balita, karena dalam makanan banyak mengandung gizi. Gizi menjadi bagian yang
sangat penting dalam pertumbuhan. Gizi didalamnya memiliki keterkaitan yang sangat
erat hubungannya dengan kesehatan dan kecerdasan. Jika pola makan tidak tercapai
dengan baik pada balita maka pertumbuhan balita akan terganggu, tubuh kurus,
pendek bahkan bisa terjadi gizi buruk pada balita. Stunting sangat erat kaitannya
dengan pola pemberian makanan terutama pada 2 tahun pertama kehidupan, pola
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara
pola pemberian makan dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas
Mompang kabupaten Mandailing Natal. Dari hasil wawancara dengan ibu balita
bahwa pola pemberian makan yang kurang disebabkan anak tidak mau makan karena
bosan dengan olahan makanan yang dibuat oleh ibu balita, sebagian. balita alergi
dengan protein hewani seperti ayam potong, telur ayam negeri serta ibu balita akan
seperti chiki, mie instan, es krim, dan kerupuk yang mengandung banyak minyak
sehingga balita pun banyak yang batuk selain itu sebagaian besar responden memiliki
pendapatan <UMK sebesar 56% sehingga daya beli untuk pemenuhan gizi keluarga
juga kurang dibandingkan balita dengan pola makan yang baik, pendapatan keluarga
≥UMK akan dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan dapat mencegah terjadinya
stunting.
36
BAB 6
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal
1. Kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Mompang kabupaten
2. Kejadian stunting berdasarkan riwayat BBLR pada balita di wilayah kerja UPT
3. Kejadian stunting berdasarkan kategori pola pemberian makan yang kurang baik pada
4. Kejadian stunting berdasarkan kategori pendidikan orang tua balita di wilayah kerja
(40,75%)
6.2 Saran
pelaksanaan pemberian bantuan PMT yang sudah diberikan kepada masyarakat serta
pemberian edukasi terhadap ibu hamil saat berkunjung ke Puskesmas agar mau
mengkonsumsi PMT yang sudah diberikan, edukasi pada WUS tentang gizi agar
dapat mempersiapkan gizi selama kehamilan dengan baik agar tidak terjadi KEK
37
selama kehamilan serta pelatihan kader posyandu balita tentang dampak stunting agar
kader lebih terampil dan dapat menyebar luaskan informasi tentang stunting.
2. Bagi Masyarakat
kehamilan dan ibu hamil agar mengkonsumsi PMT (Pemberian Makanan Tambahan)
ibu hamil dengan baik yang telah diberikan secara rutin oleh petugas keesehatan.
38
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Fitri Respati, dkk. 2015. Buku Pintar Asuhan Keperawatan Bayi dan
Balita. Yogyakarta: Cakrawala Ilmu.
Arifin, D. Z., Irdasari, S. Y., & Handayana, S. (2012). Analisis Sebaran dan Faktor
Risiko Stunting pada Balita di Kabupaten Purwakarta. Dipetik melalui
[Link] Diakses pada hari Sabtu, 10 Maret 2018 pukul
19.23 WIB.
Candra Ardian, dkk. 2016. Determinan kejadian stunting pada bayi usia 6 bulan.
Semarang. Dipetik melalui [Link] Diakses pada hari
Senin, 19 Maret 2018 pukul 01.09 WIB.
Cintya, Dewi Rizki, dkk. 2015. Teori&Konsep Tumbuh Kembang Bayi, Toodler;
Anak dan Usia [Link]: Nuha Medika.
Desyanti Chamilia, dkk. 2017. Hubungan Riwayat Penyakit Diare dan Praktik
Higiene dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Wilayah
Kerja Puskesmas Simolawang, Surabaya. Surabya. Dipetik melalui [Link]
[Link]. Diakses pada hari Senin, 19 Maret 2018 pukul 00.58 WIB.
Erni Purwani &Mariyam. 2013. Pola Pemberian Makan Dengan Status Gizi Anak
Usia 1 Sampai 5 Tahun Di Kabunan Taman Pemalang. Fakultas Ilmu
Keperawatan Dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Semarang,
[Link] Mundu Raya No. 8a, 50174, Semarang. jurnal keperawatan anak.
Vol.1 No.1 mei 2013. Halaman 30-36.
39
Hayati, Aslis Wirda.2009. Buku Saku Gizi Bayi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. 2016. Dipetik melalui
[Link]. Diakses pada hari Minggu, 11 Maret 2018 pada pukul
07.21 WIB.
Jauhari, Ahmad. 2015. Dasar-Dasar Ilmu Gizi Karbohidrat Protein Lemak Vitamin.
Yogyakarta: Jaya Ilmu.
Kade Ayu Ida, dkk. 2016. Pengaruh Konsumsi Protein dan Seng Serta Riwayat
Penyakit Infeksi Terhadap Kejadian Stunting pada Anak Balita Umur 24-59
Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Penida II. Bali: Fakultas Kedokteran.
Dipetik melalui. Diakses pada hari Minggu, 18 Maret 2018 pukul 23.34 WIB.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka
Cipta.
Proverawati, Atikah, dkk. 2010. Imunisasi dan Vaksin. Yogyakarta: Nuha Offset
Rr Ngasisyah Dewi, dkk 2016. Hubungan Tinggi Badan Orang Tua dengan Kejadian
Stunting. Yogyakarta: Universitas Respasti. Dipetik melalui
http//[Link]. Diakses pada hari Senin 19 Maret 2018 pukul 06.41
WIB.
Trihono, dkk. 2015. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya. Jakarta:
Lembaga Penerbit Balitbangkes. Dipetik melalui [Link] Diakses
pada hari Minggu, 18 Maret 2018, pukul 10.51 WIB.
40