Al-Insyirah Midwifery
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Sciences)
[Link]
Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019
p-ISSN: 2338-2139
e-ISSN: 2622-3457
HUBUNGAN PERILAKU ORANG TUA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA
BALITA DI PUSKESMAS REJOSARI KOTA PEKANBARU TAHUN 2018
Penti Dora Yanti(1), Afritayeni(2), Nur Fani Amanda(3)
(1)
Akademi Kebidanan Helvetia Pekanbaru
pentidorayanti@[Link]
(2)
Akademi Kebidanan Helvetia Pekanbaru
afritayeni86@[Link]
(3)
Akademi Kebidanan Helvetia Pekanbaru
nurfaniamanda1997@[Link]
ABSTRAK
Menurut World Health Organization (WHO), diare merupakan penyebab kematian sebanyak 4%
dari semua kematian dan 5% dari angka kesakitan di seluruh dunia, sekitar 2,2 juta orang di dunia
meninggal dikarenakan diare, populasi terbesar terjadi pada balita terutama di negara
berkembang. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Puskesmas Rejosari adalah
Puskesmas yang menempati urutan tertinggi untuk kasus penyakit diare pada Balita. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui hubungan perilaku orang tua dengan kejadian diare pada balita.
Desain penelitian yang digunakan adalah analitik kuantitatif. Populasi penelitian adalah orang tua
yang membawa balitanya berobat ke Puskesmas Rejosari yang berjumlah 220 orang. Teknik
sampel yang digunakan adalah accidental sampling, yaitu sebanyak 142 orang. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah data primer dengan menyebarkan kuisioner dan diolah
secara univariat dan bivariat. Hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar responden
(59%) berperilaku positif diantaranya memiliki balita yang tidak mengalami diare. Berdasarkan
pengolahan data chi-square dengan nilai P value = 0,001 < 0,05 hal ini menunjukkan ada
hubungan yang bermakna antara variabel perilaku orang tua dengan kejadian diare pada balita.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan serta pemahaman tentang
pentingnya cara mencegah diare pada balita dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) di rumah tangga.
Kata kunci : Perilaku, Orang Tua, Diare pada Balita
ABSTRACT
According to the World Health Organization (WHO), diarrhea is the cause of death by
as much as 4% of all deaths and 5% of worldwide morbidity, about 2.2 million people worldwide
diarrhea, the largest population occurs in toddlers, especially in developing countries. Based on
data from Pekanbaru City Health Office, Rejosari Community Health Center is the highest health
center for diarrhea case in under fives. The purpose of this study to determine the relationship of
parental behavior with the incidence of diarrhea in infants. The research design used is
quantitative analytic. The population of this research is parents who bring their children to
Rejosari health center which is 220 people. The sample technique used is accidental sampling,
which is 142 people. Data collection techniques used are primary data by distributing
questionnaires and processed in univariate and bivariate. The result of univariate analysis
showed that most of the respondents (59%) had positive behaviors including having children
Al-Insyirah Midwifery / Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
without diarrhea. Based on chi-square data processing with P value = 0.001 <0.05 this shows
there is a meaningful relationship between parental behavioral variable with the incidence of
diarrhea in infants. The results of this study are expected to increase knowledge, insight and
understanding of the importance of how to prevent diarrhea in infants and apply Clean and
Healthy Behavior (PHBS) in the household.
Keywords: Behavior, Parents, Diarrhea in Toddlers
PENDAHULUAN kekurangan air untuk minum, memasak
Kesehatan adalah keadaan dan membersihkan. Sumber air yang
sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial terkontaminasi kotoran manusia tersebut
yang memungkinkan setiap orang hidup dapat berasal dari air limbah rumah
produktif secara sosial dan ekonomis. tangga, septi tangki dan jamban.
Pemeliharaan kesehatan adalah upaya Penyakit diare dapat menyebar dari
penanggulangan dan pencegahan orang ke orang, dan dapat diperburuk
gangguan kesehatan yang memerlukan oleh kebersihan yang rendah. Makanan
pemeriksaan, pengobatan dan perawatan adalah penyebab utama diare bila diolah
(Irianto, dkk, 2015). atau disimpan dalam kondisi yang tidak
Salah satu penyakit yang terkait higienis dan air dapat mengkontaminasi
dengan tingkat derajat kesehatan antara makanan selama pengolahannya.
lain adalah diare. Penyakit diare sering Makanan dan minuman yang dapat
menyerang bayi dan balita, bila tidak terkontaminasi mikroorganisme yang
diatasi lebih lanjut akan menyebabkan dibawa oleh serangga atau oleh tangan
kehilangan cairan (dehidrasi) yang yang kotor (Nuraeni, 2012).
mengakibatkan kematian (Rahman, dkk, Menurut WHO (World Health
2016). Kehilangan cairan tidak harus Orgaization) diare merupakan gejala
banyak baru menyebabkan kematian. infeksi yang disebabkan oleh berbagai
Kehilangan cairan tubuh sebanyak 10 % miroorganisme seperti bakteri, virus dan
saja sudah membahayakan jiwa parasit, yang sebagian besar melalui air
(Susilaningrum, dkk, 2013) yang terkontaminasi oleh tinja. Infeksi
Banyak faktor risiko yang diduga ini lebih sering terjadi ketika ada
menyebabkan terjadinya penyakit diare kekurangan air untuk minum, memasak
pada bayi dan balita, salah satu faktor dan membersihkan. Sumber air yang
risiko yang sering di teliti adalah faktor terkontaminasi kotoran manusia tersebut
lingkungan yang meliputi Sarana Air dapat berasal dari air limbah rumah
Bersih (SAB), sanitasi, jamban, Saluran tangga, septi tangki dan jamban.
Pembungan Air Limbah (SPAL), Penyakit diare dapat menyebar dari
kualitas bakterologi air dan kondisi orang ke orang, dan dapat diperburuk
rumah. Kualitas air minum yang buruk oleh kebersihan yang rendah. Makanan
menyebabkan terjadinya kasus diare adalah penyebab utama diare bila diolah
(Rahman, dkk, 2016). atau disimpan dalam kondisi yang tidak
Menurut WHO (World Health higienis dan air dapat mengkontaminasi
Orgaization) diare merupakan gejala makanan selama pengolahannya.
infeksi yang disebabkan oleh berbagai Makanan dan minuman yang dapat
miroorganisme seperti bakteri, virus dan terkontaminasi mikroorganisme yang
parasit, yang sebagian besar melalui air dibawa oleh serangga atau oleh tangan
yang terkontaminasi oleh tinja. Infeksi yang kotor (Nuraeni, 2012).
ini lebih sering terjadi ketika ada
136 | S T I K e s A l - I n s y i r a h P e k a n b a r u
Al-Insyirah Midwifery / Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Insiden dan periode prevalence 18 dari 33 Propinsi dengan insiden 5,2%
diare untuk seluruh kelompok umur di (DEPKES RI, 2013).
Indonesia adalah 3,5 persen dan 6,7 Faktor keluarga baik sosial
persen insiden diare pada balita. Lima ekonomi keluarga maupun jumlah balita
provinsi dengan insiden maupun period dalam keluarga juga dapat memengaruhi
prevalen diare tertinggi pada balita terjadinya diare pada balita. Karena diare
adalah Aceh 10,2%, Papua 9,6%, DKI merupakan penyakit yang berbasis
Jakarta 8,9%, Sulawesi Selatan 8,1%, lingkungan, maka faktor lingkungan
Banten 8,0%, dan Riau berada di urutan berperan sangat besar terhadap kejadian
18 dari 33 Propinsi dengan insiden 5,2% diare yang tidak boleh diabaikan. Faktor
(DEPKES RI, 2013). risiko yang mempengaruhi kejadian
Berdasarkan RISKESDAS 2013, diare yaitu lingkungan (sarana air bersih,
penyakit diare di Indonesia menjadi jamban keluarga, kepadatan hunian
penyebab meningkatnya morbiditas dan rumah, sarana pembuangan limbah dan
mortalitas, yaitu dengan insiden diare pengolahan sampah), faktor ibu
sebesar 6,7%. Diare juga menjadi (perilaku, pendidikan, pengetahuan) dan
permasalahan di beberapa Povinsi salah faktor balita (ASI ekslusif, imunisasi
satunya Provinsi Riau, data Riskesdas campak, dan status gizi), serta faktor
2013 membuktikan bahwa prevalensi keluarga (jumlah balita dalam keluarga
diare nasional sebesar 3,5 % dan dan sosial ekonomi keluarga) (Nuraeni,
besarnya prevalensi Riau yaitu 5,2 % 2012).
(DEPKES RI, 2013). Dapat Menurut penelitian Andreas A.N,
interpretasikan data ini menunjukkan (2013) yang meneliti tentang
bahwa dampak diare yang terjadi pada “Hubungan Perilaku Ibu dalam
balita selain kematian adalah dehidrasi, Mengasuh Balita dengan Kejadian
terganggunya pertumbuhan (gagal Diare”, dari hasil penelitian dapat
tumbuh), dan merupakan penyebab diketahui bahwa dari 17 ibu dengan
utama kekurangan gizi pada anak di perilaku mengasuh balita yang buruk
bawah lima tahun. Perilaku yang dapat didapatkan 12 balita (70,6%) mengalami
menyebabkan diare diantaranya tidak diare dan 5 balita (29,4%) tidak
memberikan Air Susu Ibu (ASI) pada mengalami diare. Sedangkan dari 43 ibu
awal kehidupan bayi dan tidak dengan perilaku mengasuh balita yang
diteruskan sampai usia dua tahun, baik didapatkan 13 balita (30,2%)
pengunaan susu dengan botol yang tidak mengalami diare dan 30 balita (69,8%)
bersih, menyimpan makanan pada suhu tidak mengalami diare. Didapatkan nilai
kamar, menggunakan air minum yang p sebesar 0,010 dimana nilai p >α (0,05),
sudah tercemar, tidak mencuci tangan sehingga ada hubungan yang bermakna
dengan benar, serta pembungan tinja atau segnifikan antara perilaku ibu dalam
yang tidak benar. mengasuh balita dengan kejadian diare.
Insiden dan periode prevalence Kemudian data Kesehatan
diare untuk seluruh kelompok umur di Provinsi Riau tahun 2015 cakupan
Indonesia adalah 3,5 persen dan 6,7 penemuan kasus diare tahun 2015.
persen insiden diare pada balita. Lima Cakupan tertinggi pada kabupaten
provinsi dengan insiden maupun period Rokan Hilir sebesar 138%, diikuti oleh
prevalen diare tertinggi pada balita Kabupaten Pelelawan sebesar
adalah Aceh 10,2%, Papua 9,6%, DKI 126,9%,Kota Dumai sebesar 124,1%
Jakarta 8,9%, Sulawesi Selatan 8,1%, Sedangkan untuk cakupan penemuan
Banten 8,0%, dan Riau berada di urutan dan penanganan diare yang terendah
137 | S T I K e s A l - I n s y i r a h P e k a n b a r u
Al-Insyirah Midwifery / Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Kabupaten Kampar 70,4%, Kabupaten dilakukan secara univariat dan bivariat
Kuantan Singingi sebesar 41,9%, dan dengan menggunakan uji chi square.
diikuti Kota Pekanbaru (36,1%) (Dinkes,
2016). HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan masalah tersebut
1. HASIL
peneliti tertarik melakukan survey yang
peneliti lakukan di Puskesmas Rejosari
Pekanbaru Pada tanggal 15 dan 17 Hasil distribusi frekuensi
Februari 2018, ditemukan 10 ibu yang karakteristik responden dapat dilihat
datang ke Puskesmas Rejosari. Hasil pada tabel 1. berikut ini:
wawancara ibu balita yang mengetahui
pengertian diare ada 5 orang, ibu balita Tabel 1. Distribusi Frekuensi
yang cuci tangan sebelum dan sesudah Karakteristik Responden di
merawat anaknya misal memberikan Puskesmas Rejosari Kota Pekanbaru
ASI ada 3 orang, ibu yang mencuci botol tahun 2018.
susu (dodot) ada 2 orang.
N Karakteristi Frekuens Persentas
o k i (n) e
METODE PENELITIAN Umur
1 < 20 tahun 1 7%
Jenis penelitian yang digunakan 2 20-35 tahun 123 85,4 %
dalam penelitian ini menggunakan 3 >35 tahun 20 13,5 %
analitik kuantitatif dengan Total 144 100 %
Pendidikan
menggunakan pendekatan cross 1 SD 7 4,9 %
sectional yaitu untuk mengetahui adanya 2 SMP 33 22,9 %
hubungan antara Perilaku Orangtua 3 SMK 1 0,7%
dengan Diare Pada Balita. 4 SMA 92 63,9 %
Pada studi kasus cross sectional, 5 D3 3 2,1 %
6 D4 1 0,7 %
tiap subjek penelitian hanya diobservasi 7 S1 7 4,9 %
sekali saja dan pengukuran dilakukan Total 144 100 %
terhadap status karakter atau variabel Pekerjaan
subjek pada saat pemeriksaan, dimana 1 Bekerja 18 13,4%
variabel-variabel yang termasuk faktor 2 Tidak 125 86,6 %
risiko dan variabel-variabel yang Bekerja
Total 144 100 %
termasuk efek diobservasi sekaligus
Berdasarkan tabel 1. didapatkan
pada waktu yang sama (Notoatmodjo,
bahwa mayoritas responden berumur 20-
2012).
35 tahun sebanyak 123 (85,4%), yang
Penelitian ini dilaksanakan di
berpendidikan SMA 92 (63,9%) dan
Puskesmas Rejosari Kota Pekanbaru
tidak bekerja sebanyak 125 (86,6%).
yang dimulai pada bulan Januari – Juli
2018. Populasi dalam penelitian ini
adalah orangtua yang membawa
balitanya umur 1-5 tahun yang datang
berobat di Puskesmas Rejosari yang
berjumlah 220 orang pada bulan
September 2017-Febuari 2018. Teknik
yang digunakan adalah aksidental
sampling dengan jumlah sampel
sebanyak 142 responden. Analisis data
138 | S T I K e s A l - I n s y i r a h P e k a n b a r u
Al-Insyirah Midwifery / Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Perilaku Tabel 3. Distribusi Frekuensi
Orang Tua tentang Diare di Kejadian Diare pada Balita di
Puskesmas Rejosari Tahun 2018 Puskesmas Rejosari Tahun 2018.
Kejadian Diare Frekuensi (%)
No
No Perilaku Frekuensi (%) (n)
(n) 1 Diare 33 27,1%
1 Negatif 59 41,0% 2 Tidak diare 105 72,9%
2 Positif 85 59,0%
Total 144 100%
Total 144 100%
Berdasarkan tabel 2. dapat dilihat bahwa Berdasarkan tabel 3. dapat dilihat bahwa
mayoritas responden di puskesmas mayoritas balita responden di Puskesmas
Rejosari tahun 2018 berperilaku Positif Rejosari Tahun 2018 tidak diare yaitu
sebanyak 85 orang (59,0%). sebanyak 105 balita responden (72,9%).
Tabel 4. Hubungan Perilaku Orang Tua Dengan Kejadian Diare Pada Balita di
Puskesmas Rejosari Tahun 2018
Diare P
No Perilaku Diare Tidak Diare Total Value
n % n % N %
1 Negatif 38 26,4% 21 14,6% 59 41% 0,001
2 Positif 1 0,7% 84 58,3% 85 59%
Total 39 27,1% 105 72,9% 144 100%
Berdasarkan tabel 4. menunjukkan analisa chi-square didapatkan hasil P
bahwa 85 orang responden (59%) Value < α (0,001<0,05) hal ini
berperilaku positif 84 responden (58,3%) menunjukkan ada hubungan yang
memiliki balita yang tidak menderita bermakna antara kedua variabel.
diare. Berdasarkan hasil analisa chi- Perilaku merupakan salah satu
square didapatkan hasil P Value yaitu aktifitas dari manusia itu sendiri yang
0,001 sedangkan taraf signifikan (α) merupakan reaksi atau respon seseorang
yang digunakan adalah 0,05. Hal ini terhadap stimulus dan rangsangan dari
menunjukkan P Value < α (0,001<0,05) luar baik yang diamati langsung maupun
jadi Ha diterima, sehingga ada hubungan yang tidak dapat diamati (Notoatmodjo,
bermakna antara perilaku orang tua 2012). , Berdasarkan data yang telah
dengan kejadian diare pada balita di didapatkan dari penelitian yang
Puskesmas Rejosari Kota Pekanbaru. dilakukan dapat dilihat bahwa perilaku
orang tua dengan kejadian diare di
2. PEMBAHASAN Puskesmas Rejosari masuk dalam
Berdasarkan penelitian yang kategori positif, namun apabila tidak
dilakukan di Puskesmas Rejosari Kota dipantau secara terus menerus akan
Pekanbaru tahun 2018 pada 144 cenderung kian memburuk.
responden didapatkan hasil dari 85 orang
reponden (59%) berperilaku positif, 84 Hal ini sejalan dengan penelitian
orang (58,3%) diantaranya memiliki Nugraha (2014), yang berjudul
balita yang tidak menderita diare. “Hubungan Perilaku Ibu Dalam
Sedangkan dari 59 orang (41%) yang Pencegahan Diare dengan Kejadian
berperilaku negatif, 38 orang (26,4%) Diare Pada Balita di Puskesmas
diantaranya memiliki balita yang pernah Kalikajar I Kabupaten Wonosobo”
mengalami diare. Berdasarkan hasil didapatkan hasil penelitian bahwa
139 | S T I K e s A l - I n s y i r a h P e k a n b a r u
Al-Insyirah Midwifery / Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
mayoritas responden berperilaku positif hindari tempat penyimpanan dan
sebanyak 41 orang (53,9%) dan minuman dari binatang yang dapat
berperilaku Negatif sebanyak 35 orang menyebabkan diare, merebus air minum
(46,1%). hingga mendidih agar kuman yang
Menurut asumsi peneliti adanya terdapat diair mati, dan menerapkan
hubungan perilaku orang tua dengan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)
kejadian diare pada balita karena rata- dalam rumah tangga.
rata balita yang terkena diare orang
tuanya berpendidikan SD-SMA. Hal ini SIMPULAN
dibuktikan dengan hasil penelitian yaitu Berdasarkan hasil penelitian yang
responden berperilaku negatif dan telah dilakukan di Puskesmas Rejosari
memiliki balita yang pernah mengalami Kota Pekanbaru untuk mengetahui
diare rata-rata berpendidikan SD-SMA, Hubungan Perilaku Orangtua dengan
ini menunjukkan dengan pendidikan Kejadian Diare pada Balita di Puskesmas
orang tua yang baik berpengaruh Rejosari Kota Pekanbaru dapat di
terhadap perilakunya, semakin baik simpulkan bahwa Adanya hubungan
pendidikan orang tua maka semakin baik yang bermakna antara Perilaku Orangtua
pula dalam pola mengasuh balita dengan Diare pada Balita dengan p value
sehingga balita terhindar dari penyakit 0,001.
salah satunya diare, perilaku orang tua Diharapkan kepada para
berkaitan dengan meningkatkan status Orangtua Penelitian ini dapat
kesehatan balita, perilaku orang tua yang menambah pengetahuan, wawasan serta
positif dapat mencegah balita terkena pemahaman tentang pentingnya cara
penyakit diare seperti mengajarkan cuci mencegah diare pada balita dan
tangan pada balita sebelum dan setelah menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan
makan, setelah BAB/BAK, mencuci Sehat (PHBS) di rumah tangga.
tangan setelah membersihkan kotoran
balita, memantau makanan dan jajanan
yang dimakan oleh balita, memcuci UCAPAN TERIMKASIH
botol susu sebelum memberikan susu Peneliti mengucapkan terima
pada anak, hindari tempat penyimpanan kasih yang sebesar-besarnya kepada
dan minuman dari binatang yang dapat semua pihak yaitu Yayasan dan Direktur
menyebabkan diare, merebus air minum Akbid Helvetia Pekanbaru, Kepala
hingga mendidih agar kuman yang Puskesmas Rejosari Kota Pekanbaru,
terdapat diair mati, dan menerapkan Tim Revewer Jurnal Endurance dan
PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) semua pihak yang telah terlibat dan
dalam rumah tangga. membantu dalam penyelesaian jurnal ini
Perilaku orang tua berkaitan karena saya sebagai peneliti tidak
dengan meningkatkan status kesehatan terlepas dari segala kekurangan dan
balita, perilaku orang tua yang positif kekhilafan.
dapat mencegah balita terkena penyakit
diare seperti mengajarkan cuci tangan DAFTAR PUSTAKA
pada balita sebelum dan setelah makan, Andreas, (2013). Hubungan Perilaku
setelah BAB/BAK, mencuci tangan Ibu Dalam Mengasuh Balita
setelah membersihkan kotoran balita, Dengan Kejadian Diare. Jurnal
memantau makanan dan jajanan yang Ilmiah Keperawatan SAI
dimakan oleh balita, mencuci botol susu [Link] 9 No 2.
sebelum memberikan susu pada anak,
140 | S T I K e s A l - I n s y i r a h P e k a n b a r u
Al-Insyirah Midwifery / Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
DEPKES RI. (2013). Riset Kesehatan
Dasar (RISKESDAS) 2013.
Laporan Nasional 2013, 1–384.
[Link] Desember 2013
Dinkes. (2016). Profil Kesehatan
Provinsi Riau 2015, 1–138.
Irianto, K. (2015). Kesehatan
Reproduksi (Pertama). Bandung:
CV Alvabeta.
Notoatmodjo, S. (2012). Promosi
Kesehatan Dan Prilaku Kesehatan.
jakarta: Reneka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2014). Metologi
Penelitian Kesehatan (Revisi).
jakarta: Rineka Cipta.
Nuraeni. (2012). Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Kejadian
Diare Di Desa Solor Kecamatan
Cermee Bondowoso. Universitas
Indonesia.
Rahman, H. F., Widoyo, S., Siswanto,
H., & Biantoro. (2016). Faktor-
Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kejadian Diare Di Desa Solor
Kecamatan Cermee Bondowoso.
NurseLine Journal, 1(1).
Susilaningrum rekawati, N., & Utami, S.
(2013). Asuhan Keperawatan Bayi
Dan Anak. (A. Suslia, Ed.) (Kedua).
jakarta selatan: Salemba Medika.
141 | S T I K e s A l - I n s y i r a h P e k a n b a r u