0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan14 halaman

Asuhan Keperawatan Risiko Bunuh Diri

Laporan ini membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan resiko bunuh diri. Resiko bunuh diri merupakan kondisi dimana seseorang memiliki potensi mencederai diri sendiri sehingga mengancam kehidupannya. Diagnosa yang diangkat adalah risiko bunuh diri, harga diri rendah kronik, dan risiko perilaku kekerasan pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Intervensi keperawatan direncanakan untuk menangani ket
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan14 halaman

Asuhan Keperawatan Risiko Bunuh Diri

Laporan ini membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan resiko bunuh diri. Resiko bunuh diri merupakan kondisi dimana seseorang memiliki potensi mencederai diri sendiri sehingga mengancam kehidupannya. Diagnosa yang diangkat adalah risiko bunuh diri, harga diri rendah kronik, dan risiko perilaku kekerasan pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Intervensi keperawatan direncanakan untuk menangani ket
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

GANGGUAN RESIKO BUNUH DIRI


UPTD RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI BALI
15 NOVEMBER – 4 DESEMBER 2021

OLEH :

Ni Luh Kade Novita Wahyuningrum

219012704

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI
DENPASAR
2021
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN RESIKO BUNUH DIRI

I. Masalah utama (Resiko Bunuh Diri)


A. Definisi Resiko Bunuh Diri
Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk
mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang
tinggi dan berkepanjangan, dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme
koping yang digunakan dalam mengatasi masalah (Nanda, 2012). Pada kondisi ini
pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun tidak
disertai ancaman dan percobaan bunuh diri. Pasien umumnya mengungkapkan
perasaan seperti rasa bersalah/sedih/marah/putus asa/tidak berdaya. Pasien juga
mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan harga
diri rendah. Kondisi tersebut menyebabkan pasien beresiko melakukan hal yang
mengancam nyawa seperti keinginan bunuh diri. Risiko bunuh diri merupakan
resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat mengancam kehidupan. Ancaman
bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, berisi keinginan untuk mati disertai
dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk
melaksanakan rencana tersebut. Secara aktif pasien telah memikirkan rencana
bunuh diri, namun tidak disertai dengan percobaan bunuh diri.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Resiko bunuh diri
merupakan suatu kondisi dimana seseorang memiliki potensi mencelakai dirinya
sehingga menyebabkan ancaman pada kehidupannya. Walaupun dalam kondisi ini
pasien belum pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat harus dilakukan.
Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan pasien untuk melaksanakan rencana
bunuh dirinya.
B. Manifestasi klinis Resiko Bunuh Diri
Adapun tanda gejala dari resiko bunuh diri, yaitu :
1. Mempunyai ide untuk bunuh diri
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan putus asa
4. Impulsif
5. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya sangat patuh)
6. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
7. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis
obat mematikan)
8. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah dan
mengasingkan diri)
9. Kesehatan mental (secara klinis klien terlihat sebagai orang yang depresi,
psikosis, dan menyalahgunaan alkohol)
10. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronik atau terminal)
11. Penggangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, dan mengalami
kegagalan dalam karier)
12. Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun
13. Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan)
14. Konflik interpersonal
15. Latar belakang keluarga
16. Orientasi seksual
17. Sumber-sumber personal
18. Sumber-sumber sosial
19. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil

C. Klasifikasi Resiko Bunuh Diri


Menurut Durkheim, bunuh diri dibagi menjadi 3 jenis,yaitu :
1) Bunuh diri egoistik (faktor dalam diri seseorang) : Individu tidak mampu
berinteraksi dengan masyarakat ini disebabkan oleh kondisi kebudayaan atau
karena masyarakat yang menjadikan individu itu seolah-olah tidak
berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat menerangkan
mengapa mereka tidak menikah lebih rentan untuk melakukan percobaan
bunuh diri dibandingkan mereka yang menikah.
2) Bunuh diri altruistik (terkait kehormatan seseorang) : Individu terkait pada
tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk bunuh diri karena
identifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa kelompok tersebut
sangat mengharapkannya
3) Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan) : hal ini terjadi apabila
terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara individu dan masyarakat
sehingga individu tersebut meninggalkan norma-norma kelakuan yang biasa.
Individu kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat atau kelompoknya
tidak memberikan kepuasaan padanya karena tidak ada pengaturan atau
pengawasan terhadap kebutuhan-kebutuhannya

II. Proses terjadinya Resiko Bunuh Diri


A. Proses terjadinya Resiko Bunuh Diri
1. Faktor Predisposisi
Seseorang dapat mengalami resiko bunuh diri akibat gangguan afektif,
penyalahgunaan zat, dan juga skizofrenia. Kebribadian seseorang seperti
antipasti, impulsive, dan depresi juga erat hubungannya dengan besarnya
resiko bunuh diri. Pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial,
kejadiankejadian negative dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan atau
bahkan perceraian. Kekuatan dukungan sosial sangat penting dalam
menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui
penyebab masalah,respon seseorang dalam menghadapi masalah tersebut.
2. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami
oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang
[Link] lain yang dapat menjadi pencetusnya adalah melihat atau
membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun
percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal tersebut
menjadi sangat rentan.

B. Mekanisme Koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping
yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization,
regression, dan magical thinking. Mekanisme pertahankan diri yang ada
seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping alternative. Perilaku bunuh
diri menunjukan kegagalan mekanisme koping. Ancaman bunuh diri mungkin
menunjukan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar dapat mengatasi
masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan koping dan mekanisme
adaptif pada seseorang.

C. Rentang respon Resiko bunuh diri

Respon Adaptif Dekstrutif diri tidak langung Respon


Peningkatan diri Maladaptif
Beresiko destruktif Pencederaan diri

Keterangan :
Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping. Ancaman bunuh
diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar
dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan koping dan
mekanisme adaptif pada diri seseorang.
1. Peningkatan diri. Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri
secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai
contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda
mengenai loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerjanya
2. Beresiko destruktif. Seseorang memiliki kecendrungan atau beresiko
mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi
yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah
bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah
melakukan pekerjaan secara optimal
3. Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap yang kurang
tepat (maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk
mempertahankan diri. Misalnya, karena pandangan pimpinan terhadap
kerjanya yang tidak royal maka seseorang menjadi tidak masuk kantor atau
bekerja seenaknya dan tidak optimal
4. Pencederaan diri. Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau
pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada
5. Bunuh diri. Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang

D. Penatalaksanaan
Pada kasus keinginan bunuh diri harus diperiksa, apakah orang mengisolasi
dirinya sendiri waktu kejadian sehingga ia tidak ditemukan atau melakukan
tindakan agar tidak ditemukan. Pada kasus bunuh diri membutuhkan obat
penenang saat mereka bertindak kekerasan pada diri mereka dan orang lain dan
pasien juga lebih membutuhkan terapi kejiwaan melalui komunikasi terapeutik

III. Pohon Masalah


Risiko mencederai diri sendiri, orang lain
dan lingkungan.

Risiko bunuh diri

Harga diri rendah

Masalah Keperawatan Yang Perlu Dikaji


1. Risiko Perilaku Kekerasan pada diri sendiri, orang lain, lingkungan dan verbal
2. Risiko Bunuh Diri
3. Harga Diri Rendah Kronik
IV. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang diangkat berdasarkan pohon masalah adalah :
1. Risiko Bunuh diri
2. Harga Diri Rendah Kronik
3. Risiko Perilaku Kekerasan pada diri sendiri, orang lain, lingkungan dan verbal
V. Intervensi Keperawatan

Hari/ Perencanaan
No Diagnosa
Tgl/ Intervensi Rasional
Diagnosa Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi
Jam
1 Risiko Bunuh 1. Klien dapat Setelah …x interaksi 1.1. Kenalkan diri pada klien Pembinaan hubungan saling percaya
Diri membina klien menunjukan 1.2. Tanggapi pembicaraan klien merupakan dasar dari terjadinya
hubungan saling tanda-tanda percaya dengan sabar dan tidak komunikasi terbuka sehingga
percaya terhadap perawat : menyangkal mempermudah dalam informasi dan
1. Menjawab salam 1.3. Bicara tegas, jelas dan jujur masalah pada klien
2. Kontak mata 1.4. Bersifat hangat dan bersahabat
3. Menerima perawat 1.5. Temani klien saat keinginan
4. Berjabat tangan mencidrai diri meningkat
1.6. Jauhkan klien dari benda-benda
yang membahayakan (seperti :
pisau, silet, gunting, tali, kaca,
dll.)
2. Klien dapat Setelah …x interaksi 2.1. Dengan keluhan keluhan yang Mampu mengekspresikan perasaan
mengekspresikan klien mampu : klien rasakan merupakan hal yang perlu dilakukan
perasaannya 1. Menceritakan 2.2. Besikap empati untuk karena dengan mengeksprsikan
penderitaan secara meningkatkan ungkapan perasaan klien mampu mengenali
terbuka dan keraguan, ketakutan dan masalah yang di hadapi
konstruktif dengan keprihatinan
orang lain 2.3. Beri dorongan pada klien untuk
mengungkapkan mengapa dan
bagaimana harapan karena
harapan adalah hal yang
terpenting dalam kehidupan
2.4. Beri klien waktu dan kesempatan
untuk menceritakan arti
pederitaan kematian dan sekarat
2.5. Beri dorongan pada klien untuk
mengekspresikan tentang
mengapa harapan tidak pasti dan
dalam hal-hal dimana harapan
mempunyai kegagalan
3. Klien dapat Setelah …x interaksi 3.1. Bantu klien untuk memahami
meningkatkan klien mampu : bahwa ia dapat mengatasi aspek-
harga diri 1. Mengenang dan aspek keputusasaan dan
meninjau kembali memisahkan dari aspek harapan
kehidupan secara 3.2. Kaji dan kerahkan sumber-sumber
positif internal individu (outonomi,
2. Mempertimbangkan mandiri, rasional pemikiran
nilai-nilai dan arti kognitif, fleksibilitas dan
kehidupan spiritualitas
3. Mengekspresikan 3.3. Bantu klien mengidentifikasi
perasaan-perasaan sumber-sumber harapan (misal :
yang optimis hubungan antar sesam, keyakinan,
tentang yang ada hak-hak untuk diselesaikan)
3.4. Bantu klien mengembangkan
tujuan-tujuan realitas jangka
panjang ke jangka pendek (beralih
dari yang sederhana ke yang lebih
kompleks, dapat menggunakan
suatu poster tujuan untuk
menandakan jenis dan waktu
untuk pencapaian tujuan-tujuan
spesifik)
4. Klien Setelah …x interaksi 4.1. Ajarkan klien untuk Dukungan sosial merupakan support
menggunakan klien mampu : mengantisipasi pengalaman yang system yang diperlukan oleh klien
dukungan sosial 1. Mengekspresikan dia senang melakukan setiap hari untuk membantu meningkatkan
perasaan tentang (misal: berjalan, membaca buku kepercayaan diri dan meningkatkan
hubungan yang favorit, dan menulis surat) kemampuan dalam berfikir positif
positif dengan 4.2. Bantu klien untuk mengenali hal-
orang terdekat hal dicintai, yang ia saying dan
2. Mengekspresikan pentingnya terhadap kehidupan
percaya diri dengan orang lain disamping tentang
hasil yang kegagalan dalam kesehatan
diinginkan 4.3. Beri dorongan pada klien untuk
3. Mengekspresikan berbagi perhatian pada orang lain
percaya diri dengan yang mempunyai masalah dan
diri dan orang lain penyakit yang sama dan telah
4. Menetapkan tujuan- mempunyai pengalaman positif
tujuan yang realistis daam mengatasi hal tersebut
dengan koping yang efektif
5. Klien Setelah …x interaksi 5.1. Kaji dan kerahkan sumber-sumber Dukungan sosial dibutuhkan sebagai
menggunakan klien mendapatkan : eksternal individu (orang terdekat, penuntun klien untuk kearah yang
dukungan sosial 1. Sumber tersedia tim pelayanan kesehatan, klompok lebih positif dan terarah baik dalam
(keluarga, pendukung, agama yang masyarakat maupun agama
lingkungan dan dianutnya)
masyarakat) 5.2. Kaji sistem pendukung keyakinan
2. Keyakinan makin (nilai, pengalaman masa lalu,
meningkat aktifitas keagamaan, kepercayaan
agama).
Lakukan rujukan selesai indikasi
(misal: konseling dan pemuka
agama)
VI. Tindakan Keperawatan (SP)
Strategi Pelaksanaan
PASIEN
SP1.
1. Mengidentifikasi benda-benda yang dapat membahayakan klien
2. mengamankan benda-benda yang dapat membahayakan klien
3. melakukan kontak treatment
4. mengajarkan cara-cara mengendalikan dorongan bunuh diri
5. melatih cara mengendalikan dorongan bunuh diri

SP 2.
1. Mengevaluasi kegiatan yang lalu ( SP 1 ).
2. Mengidentifikasi aspek positif klien
3. Mendorong klien untuk berfikir positif tentang diri
4. Mendorong klien untuk menghargai diri sebagi individu yang berharga

SP 3.
1. Mengevaluasi kegiatan yang lalu ( SP 1 dan SP 2 ).
2. Mengidentifikasi pola koping yang biasa diterapkan klien
3. Menilai pola koping yang biasa dilakukan
4. Mengidentifikasi pola koping yang konstruktif
5. Mendorong klien memilih pola koping yang konstruktif
6. Menganjurkan klien menerapkan pola koping konstruktif dalam kegiatan harian

SP 4.
1. Mengevaluasi kegiatan yang lalu ( SP 1, 2 & 3 ).
2. Membuat rencana masa depan realistis bersama klien
3. Mengidentifikasi cara mencapai rencana masa depan yang realistis
4. Memberi dorongan klien melakukan kegiatan dalam rangka meraih masa depan yang
realistis
5. Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

KELUARGA
SP 1.
1. Mediskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien
2. Menjelaskan pengertian tanda dan gejala risiko bunuh diri dan jenis prilaku bunuh diri yang
dialami klien beserta proses terjadinya
3. Menjelaskan cara-cara merawat klien risiko bunuh diri

SP 2.
1. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat klien dengan risiko bunuh diri
2. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat langsung kepada klien risiko bunuh diri

SP 3.
1. Membatu keluarga membuat jadwal aktifitas di rumah termasuk minum obat (discharge
planning)
2. Menjelaskan follow up klien setelah pulang

VII. Evaluasi Keperawatan


a. Klien akan mampu membina hubungan saling percaya
b. Klien akan memahami cara menghardik
c. Klien akan dapat mengontrol halusinasi
d. Klien akan memahami program terapi yang diberikan
e. Klien akan mengungkapkan tidak adanya halusinasi
DAFTAR PUSTAKA

Alfianto, A.G. 2021. Buku Praktikum:Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. Surabaya:


Literasi Nusantara
Damaiyanti & Iskandar . 2014. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Revika Aditama
Herman, [Link] Ajar Asuhan Keperawatan [Link];Medical Book
Surya Direja, Ade Herman. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta :
Nuha Medika.
Warsono. [Link] keperawatan jiwa tersedia pada
[Link] diakses pada tanggal 11
November 2021

Anda mungkin juga menyukai