0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan14 halaman

Pool Terapi 2

Diunggah oleh

Fikri Alhamdi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan14 halaman

Pool Terapi 2

Diunggah oleh

Fikri Alhamdi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ISSN 2716-487X (Online)

Journal of Physical Activity (JPA) 1 (1) 2020 34-47

Available online to [Link]

APOPI
ASOSIASI PRODI OLAHRAGA PERGURUAN TINGGI PGRI

Pengaruh aktivitas akuatik halliwick terhadap keterampilan renang


dasar pada anak tunagrahita
The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of
people with intellectual disabilities

Habibulloh Mustofa a, Luthfie Lufthansa b, Laila Nur Rohmah c


Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, Rekreasi, IKIP Budi Utomo, Malang
a,b,c

email: a habibmustofa889@[Link], b luthfie@[Link], c laila@[Link]

Article Info: ABSTRAK


Article history: Manfaat olahraga air atau Aktivitas akuatik sangat bermanfaat baik hanya
Received 9 January 2020 sebagai kegiatan rekreasi maupun terapi, bahkan untuk meningkatkan
Revised 22 January 2020 keterampilan olahraga prestasi. Baik untuk anak non-disabilitas maupun
Accepted 24 January 2020
penyandang disabilitas. Masih sangat jarang penelitian pengembangan Aktivitas
akuatik adaptif yang dikembangkan oleh peneliti Indonesia. Halliwick Concept
Kata Kunci:
adalah merupakan konsep pengembangan program yang berkaitan dengan
aktivitas akuatik halliwick
olahraga air atau Aktivitas akuatik untuk penyandang disabilitas. Penelitian ini
keterampilan renang
tunagrahita bertujuan untuk mengetahui pengaruh Halliwick Concept terhadap keterampilan
renang dasar pada anak tunagrahita. Penelitian ini menggunakan metode
Keywords:
eksperimental. Analisis data menggunakan Wilcoxon Matched Pair Signed Rank
halliwick aquatic activities
Test. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh antara Aktivitas akuatik
basic swimming skills
intellectual disabilities Halliwick Concept terhadap keterampilan renang dasar pada anak tunagrahita.
Dimana skor koefisien p < 0,05 untuk ketujuh variabel kriteria keterampilan
renang yang ditetapkan Lone Star Adapted Aquatics Assessment (LSAA).
APA style in citing this ABSTRACT
article:
The benefits of water sports or aquatic activities are very useful both as recreational and
Mustofa, H., Lufthansa, L.,
& Rohmah, L. N. (2020).
therapeutic activities, even to improve sports skills achievement. Both for non-disabled
The effects of halliwick’s children and people with disabilities. It is still very rare research on the development of
aquatic activities on basic adaptive aquatic activities developed by Indonesian researchers. The Halliwick Concept
swimming skills of people is a concept of developing programs related to water sports or aquatic activities for people
with intellectual with disabilities. This study aims to determine the effect of the Halliwick Concept on
disabilities. Journal of basic swimming skills in mentally disabled children. This research uses an experimental
Physical Activity (JPA), method. Data analysis uses the Wilcoxon Matched Pair Signed Rank Test. The results
1(1), 34-47.
showed that there was an influence between the Halliwick Concept aquatic activity on
basic swimming skills in mentally disabled children. Where the coefficient score p <0.05
for the seven variable swimming skills criteria set by Lone Star Adapted Aquatics
Assessment.
2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
1. Pendahuluan
Pembinaan dan pengembangan olahraga untuk penyandang disabilitas sangat
penting dilakukan dan seharusnya terus disempurnakan. Karena dengan olahraga
dapat menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian dan harga diri para
penyandang disbilitas. Olahraga tidak hanya untuk kesehatan dan rekreasi, akan
tetapi juga untuk prestasi. Apalagi kini olahraga prestasi tidak hanya untuk atlet

The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
35

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)

‘non-disabilitas’ tapi juga penyandang disabilitas, terbukti dengan adanya ajang


olahraga paralympic. Dan renang adalah merupakan salah satu cabang olahraga yang
ada di paralympic tersebut.
Menurut Susan Meredith dalam Larasati (2017), berenang adalah sebuah
kemampuan yang sangat berharga untuk diajarkan pada anak. Selain membantu
mereka tetap aman, berenang juga merupakan bentuk latihan serba guna yang dapat
mereka lakukan setiap saat. Berenang juga merupakan kegiatan yang santai, seru,
bersifat terapi, dan tentu saja menyenangkan. Berdasarkan Center for Disease Control
and Prevention (CDCP) (2016), berenang adalah aktivitas rekreasional paling populer
untuk anak dan remaja termasuk juga anak dan remaja dengan disabilitas. Penelitian
menunjukkan bahwa stimulasi dini dalam air dapat membawa banyak manfaat bagi
disabilitias (Aleksandrovic, Jorgic, Block & Jovanovic, 2016). Akan tetapi beberapa
anak cacat mungkin mengalami ketakutan ekstrem yang terkait dengan belajar
keterampilan berenang. Misalnya, mereka mungkin takut merendam wajah mereka,
mengambang di punggung mereka, merasa aman sambil kesulitan memegang
pelampung perangkat, tetap seimbang, dan / atau merasa takut di sekitar anak-anak
yang mereka tidak tahu (Conatser, 2018). Anak-anak penyandang disabilitas
menghadapi berbagai bentuk pengucilan dan itu dapat mempengaruhi kesempatan
untuk berkembang seperti anak-anak pada umumnya. Anak-anak penyandang
disabilitas seringkali dianggap rendah, dan ini menyebabkan anak-anak tersebut
menjadi lebih rentan (Susanto, 2018).
Menurut WHO (World Healths Organisation) dalam Aini (2017), disabilitas
adalah istilah umum, yang mencakup pelemahan/ketidakmampuan (impairments),
keterbatasan aktivitas (activity limitations), dan keterhambatan partisipasi
(participation restrictions). Gangguan/pelemahan (impairments) adalah masalah dalam
fungsi atau struktur tubuh; keterbatasan aktivitas (activity limitations) adalah
kesulitan yang dihadapi oleh seseorang dalam melaksanakan tugas atau tindakan;
sedangkan keterhambatan partisipasi (participation restrictions) adalah masalah yang
dialami oleh individu yang terlibat dalam situasi kehidupan. Dengan demikian
disabilitas bukan hanya masalah kesehatan. Ini adalah fenomena yang kompleks,
mencerminkan interaksi antara fitur tubuh seseorang dan fitur masyarakat di mana
ia tinggal. Rehabilitation Services Administration (RSA-911) yang digunakan dalam
program rehabilitasi kejuruan, secara konsisten mengelompokkan penyandang
disabilitas dalam 3 (tiga) kategori besar: (1) sensorik / komunikatif (misalnya:
gangguan penglihatan/kebutaan dan pendengara/tuli), (2) fisik (misalnya: arthritis,
spinal cord injury), (3) mental (misalnya: emotional disabilities, developmental,
neurological, and learning disabilities) (Stahl, 2015). Dalam penelitian ini akan dibatasi
pada salah satu dari mental disabilitas, yakni tunagrahita atau mental retardation.
Effendi dalam Usti (2013) menyatakan seseorang dikategorikan tunagrahita
apabila memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya atau dibawah
normal, sehingga untuk melihat perkembangannya memerlukan bantuan atau
layanan secara spesifik termasuk dalam pendidikannya. Ingatan dan perhatian anak
tunagrahita lemah, tidak mampu memperhatikan sesuatu hal dengan serius dan
The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
36

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)
lama, perhatian anak tunagrahita akan sering berpindah pada persoalan lain dalam
waktu sekejap, apalagi dalam hal memperhatikan pelajaran, anak tunagrahita cepat
merasa bosan. Menurut Widiastuti dan Winaya (2019) secara garis besar anak
tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi tunagrahita ringan IQ nya (50-70),
tunagrahita sedang IQ nya (30-50), tunagrahita berat dan sangat berat IQ nya
kurang dari 30. AAMD menyebutkan ketiga kategori tersebut dengan ‘mampu
didik’, ‘mampu latih’ dan ‘mampu semangat’.
Dalam Yilmaz, et al. (2009) menyebut bahwa efek terapi renang dan latihan
akuatik pada kebugaran fisik dan kesehatan (well-being) telah diperkenalkan untuk
para penyandang cacat (Brosur dan Datillo, 1996; Lepore, 2000; McHugh, 1995; Ruoti
dkk., 1994). Selain itu, latihan air sangat direkomendasikan untuk anak-anak, secara
umum, sebagai rekreasi aktivitas olahraga (Sherrill, 2006). Dalam Hall (2013)
menyebutkan bahwa keuntungan dari aktivitas akuatik, baik bagi fisik dan
psikologis, didokumentasikan dengan baik. Schilling (1993) mengemukakan bahwa
manfaat dari olahraga air dan / atau aktivitas akuatik berlipat ganda dan baik untuk
fisik hingga psikologis. Schilling menguraikan pengalaman para penyandang cacat,
aktivitas akuatik, sebagian besar mempengaruhi mobilitas, dalam kaitannya
meningkatkan pergerakan dan fleksibilitas. Salah satu dari program aktivitas akuatik
untuk tunagrahita atau disabilitas adalah Halliwick Aquatic Therapy. Konsep
Halliwick berfokus pada prinsip-prinsip biofisik dari kontrol motorik dalam air,
khususnya mengembangkan rasa keseimbangan (equilibrioception) dan stabilitas
inti. The Halliwick Ten-Point-Program menerapkan konsep dalam program progresif
penyesuaian mental, pelepasan, dan pengembangan kontrol motorik, dengan
penekanan pada kontrol rotasi, dan menerapkan program ini untuk mengajar orang-
orang cacat fisik mengontrol kontrol, berenang, dan kemandirian. Halliwick Aquatic
Therapy (juga dikenal sebagai Water Specific Therapy, WST), mengimplementasikan
konsep dalam terapi air khusus pasien untuk aplikasi dalam rehabilitasi cedera dan
kecacatan (Ainslie, 2012). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas
aktivitas akuatik Halliwick terhadap keterampilan renang anak penyandang
tunagrahita.
Keterampilan renang dalam penelitian ini diukur dengan indikator Lone Star
Adapted Aquatics Assesment atau sering disebut dengan LSAA. LSAA tidak hanya
memuat tentang kurikulum, namun inventori asesmen. Terdapat 7 level asesmen, 2
diantara nya adalah asesmen untuk penempatan dan asesmen keamanan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Halliwick Concept telah terbukti
memiliki manfaat dan diterapkan untuk terapi pasien, misalnya pada penyandang
penyakit Parkinson (Zotz, dkk, 2013). Sementara itu Vaščáková dan Kudláček (2015)
meneliti pengaruh Halliwick Concept terhadap kemampuan motorik pada anak
penyandang cacat. Sedangkan Mohammed (2017) meneliti pengaruhnya terhadap
kemampuan motorik untuk anak penyandang Spectrum Disorder Autism. Dari
beberapa penelitian tersebut Halliwick digunakan lebih sebagai terapi air
untukpeningkatan kemampuan motorik penyandang sakit dan disabilitas. Belum

The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
37

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)

ada yang meneliti mengenai kemampuan berenang dasar untuk tunagrahita (mental
retardation).
2. Metode
Perserta penelitian terdiri dari 10 anak tunagrahita ringan (grup A) dan 7 anak
tunagrahita sedang (grup B). Jumlah keseluruhan 17 anak laki-laki dari SMP LB BCG
IDAYU MALANG di Kota Malang. Grup A adalah kategori tunagrahita ringan
dengan rata-rata usia 12,65 tahun dan IQ Skor rata-rata 59,94, sedangkan Grup B
adalah kategori tunagrahita sedang dengan rata-rata usia 14,17 tahun dan IQ Skor
rata-rata 44,15. Sementara tinggi badan rata-rata pada grup A adalah 125,25 dan
Grup B sama dengan 131,94. Untuk berat badan rata-rata pada grup A adalah 28,68
kg dan grup B rata-rata 32,47 kg.
Tabel 1. Data Partisipan Penelitian
Tunagrahita Tunagrahita Mann-Whitney U
Ringan (Grup A) Sedang (Grup B) Test
Rata-Rata SD Rata-Rata SD U p
Usia (Tahun, Bulan) 12,65 1,06 14,17 0,63 8 0,008
Berat Badan (Kg) 28,68 1,81 32,47 1,32 2 0,001
Tinggi (Cm) 125,25 2,94 131,94 1,31 1 0,001
IQ Skor 59,94 3,39 44,15 2,02 0 0,001
Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dari 7 variabel terikat yang
digunakan untuk pengukuran pre-test dan post-test untuk mengetahui efek dari
latihan air 10 minggu dengan penerapan program Halliwick. Pengukuran
keterampilan renang dalam penelitian ini menggunakan LSAA asesmen idikator
yang terdiri dari 7 level, yakni (1) Pengenalan Air, (2) Penyesuaian Air, (3)
Keterampilan Air Awal (beginning aquatic skills), (4) Keterampilan Air Awal Lanjut
(advanced beginning aquatic skills), (5) Low-Intermediate Aquatic Skills, (6) High-
Intermediate Aquatic Skills, (7) Advanced Aquatic Skills.
Prosedur dan deskripsi program treatment: Semua subjek (n = 17)
berpartisipasi dalam air 10 minggu program latihan berenang dengan penerapan
Halliwick Concept, untuk dua kali seminggu, 40 menit setiap sesi. Pre-test
dilaksanakan sebelum treatment dilaksanakan. Post-test dilakukan pada kedua
kelompok, pada akhir setelah treatment 10 minggu selesai dilaksanakan. Sesi
pelatihan diselenggarakan di bawah arahan dari tiga spesialis terapi fisik dan tiga
pelatih renang.
Analisis data menggunakan Software SPSS. Mann-Whitney U Test digunakan
untuk membandingkan antar grup, sementara Wilcoxon Matched Pair Signed Rank Test
digunakan untuk analisis dalam grup.
3. Hasil dan Pembahasan
Ada 10 poin yang ditawarkan dalam Halliwick Concept, yakni:
(1) Mental Adjusment; ketika di dalam air ‘perenang’ harus belajar melakukan
penyesuaian dengan lingkungan ‘baru’, serta merespon dengan tepat situasi dan
The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
38

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)
tugasnya. Sebagai contoh, belajar mengendalikan nafas mungkin mulai hanya
sebagai keterampilan khusus meniup di permukaan air, tetapi yang kemudian
dikombinasikan dengan keterampilan lain. Misalnya: duduk di bawah dari
kolam dan melepaskan udara melalui mulut dan atau hidung.

Gambar 1. Mental Adjustment

(2) Dis-engagement; ini adalah proses yang berkelanjutan di mana "perenang"


menjadi mandiri secara fisik dan mental. Misalnya, "perenang" yang takut air
pada awalnya akan membutuhkan banyak dukungan: fisik, visual, dan verbal.
Tapi ketika dia menjadi lebih percaya diri, sedikit demi sedikit bantuan dari
instruktur akan dikurangi sehingga dia mendapatkan kebebasan dalam air.

Gambar 2. Dis-Engagement

(3) Transversal Rotation Control; ini adalah kemampuan untuk mengendalikan


gerakan sekitar sumbu frontal-transversal tubuh. Misalnya dalam posisi vertikal
bergerak maju sambil menghembuskan nafas do permukaan air, atau dengan
mempertahankan posisi berdiri tanpa kehilangan keseimbangan, atau berpindah
dari posisi mengambang kembali ke posisi berdiri.

Gambar 3. Transversal Rotation Control

(4) Sagittal Rotation Control; ini adalah kemampuan untuk mengendalikan gerakan
lateral di sekitar sumbu sagital-transversal. Contoh: dalam posisi vertikal untuk
meletakkan telinga di atas air, atau gerakan untuk mentransfer berat badan ke
kanan dan ke kiri, bergantian.

The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
39

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)

Example: Limiting lateral movement of


body when reaching for an abject to the
side

Gambar 4. Sagittal Rotation Control

(5) Longitudinal Rotation Control; Ini adalah kemampuan untuk mengendalikan


gerakan di sekitar sumbu sagital-frontal. Apakah dalam posisi vertikal atau
melayang secara horizontal. Sebagai contoh: dalam posisi vertikal, memutar di
tempat yang sama, atau mengambang di pronasi, dengan wajah di dalam air,
kemudian memutar ke posisi telentang.

Rotation around a longitudinal axis Example: Stopping rotation of


the trunk caused by the head
turn
Gambar 5. Longitudinal Rotation Control

(6) Combine Rotation Control; Ini adalah kemampuan untuk mengendalikan gerakan
ketika setiap rotasi digabungkan dengan gerakan yang lain. Misalnya: dari posisi
duduk di bibir dari kolam, lalu memasuki air yang bergulir secara transversal
dan secara longitudinal melayang di atas kembali (terlentang), atau kembali ke
posisi stabil, sambil mengambang di belakang, setelah kehilangan keseimbangan
ke depan.

Combining several rotation at once When falling forwards from vertical position to
reach back floats
Gambar 6. Combine Rotation Control

(7) Upthrust; gaya apung, sifat yang dimiliki air sehingga membuat semua perenang
dapat mengapung. MacMillan menyebutnya pembalikan mental, untuk
"perenang" harus membalikkan pemikirannya dan menyadari bahwa tubuhnya

The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
40

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)
mengapung karena adanya gaya apung air dan tidak tenggelam karena gravitasi.
Kegiatan menyelam memberikan pengalaman bahwa tubuh akan mudah
mengapung karena sangat sulit mempertahankan tubuh untuk tetap di bawah air.

When triying to pick up something from the pool floor, the swimmer will find that he/she will
comeback to the surface with very litle or no effort

Gambar 7. Upthrust

(8) Balance in Stillness; Ini adalah kemampuan untuk tetap diam di air dan dengan
bergantung kepada fisik dan kontrol keseimbangan mental. Mengambang
adalah balance in stillness. Ketika dalam keseimbangan, kegiatan lain dapat
dilakukan dengan lebih mudah.

Swimmer maintaining a back float position in rough water

Gambar 8. Balance in Stillness

(9) Turbulence Gliding; Sambil mengambang di belakang, "perenang" dipindahkan


melalui air oleh instruktur tanpa kontak fisik. Ini mungkin ketika instruktur
menciptakan turbulensi di bawah bahu "perenang" saat dia berjalan ke belakang.
"Perenang" harus mengendalikan rotasi yang tidak diinginkan dan tidak
membuat gerakan mendorong.
the swimmer glides trough the water as a result
of the turbulence created by instructor’s hand
and/or by the instructors movements

Gambar 9. Turbulence Gliding

(10) Simple Progressions and Basic Stroke; Ini adalah gerakan dorong dasar yang bisa
dibuat dengan lengan, kaki. Misalnya: secara horizontal (terlentang) posisi
mengambang, membuka dan menutup kaki atau bahkan gerakan mendayung
dengan tangan.

The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
41

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)

Clapping the hands on the tighs causes propulsion trough the water

Gambar 10. Simple Progressions and Basic Stroke


Gerakan renang dasar membutuhkan koordinasi dan lebih rumit, karena
mereka melibatkan mengangkat tangan keluar dari air dan meluncur. Misalnya:
dalam posisi mengambang di punggung dengan lengan di samping tubuh,
menuntun mereka pada bahu dan menjaga mereka supaya tetap diatas permukaan
air, lalu pindahkan ke sisi tubuh, meluncur, dan mulai gerakan lagi. (Garcia, dkk,
2012).
Pengukuran keterampilan renang dalam penelitian ini menggunakan LSAA
(Lone Star Adapted Aquatics Assesment) indikator yang terdiri dari 7 level (Apache,
2005), yakni
(1) Pengenalan Air;
 Duduk di tepi kolam renang
 Duduk di tepi kolam renang dengan kaki di dalam air
 Duduk di tepi kolam renang dengan kaki di dalam air sambil digerak-
gerakkan memercikkan air.
 Berjalan di dalam air dengan bantuan, dari kolam dangkal menuju ke ujung
kolam rendam.
 Menggerak-gerakkan tangan dalam air kolam rendam.
 Mulai membasahi wajah dengan air kolam.
 Berani membasahi kepala dengan air
 Berjalan dalam kolam kemudian keluar kolam dengan bantuan.
(2) Penyesuaian Air;
 Berjalan ke kolam rendam tanpa bantuan,
 Duduk dalam kolam rendam atau sambil berjalan,
 Menendang air sambil duduk berendam kolam,
 Menggerakkan kaki dalam air tanpa bantuan sambil duduk,
 Menyentuhkan dagu pada air,
 Menyentuhkan telinga ke air,
 Menghembuskan nafas di permukaan air,
 Menyiramkan air dari atas kepala,
 Berjalan-jalan di sisi dangkal kolam selama 3 menit,
 Berjalan keluar kolam tanpa bantuan,
(3) Keterampilan Air Awal (beginning aquatic skills),
 Duduk di kolam rendam dan meraih objek,
 Memasukkan muka ke dalam air sementara mata tetap terbuka,
 Tengkurap dengan tangan dan lutut di dasar kolam rendam (posisi aligator),

The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
42

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)
 Memasukkan muka ke air dengan posisi aligator, sambil menahan nafas
selama 10 detik,
 Menggerak-gerakkan kaki sementara posisi tubuh tetap dalam posisi aligator,
 Sambil mempertahankan posisi aligator, lalu meraih suatu obyek/benda,
 Bergerak mengitari kolam rendam sementara tetap berada di posisi aligator,
 Mengapung posisi tengkurap dengan bantuan selama 2 menit,
 Mengapung posisi telentang dengan bantuan selama 2 menit,
 Memanjat keluar kolam rendam tanpa bantuan,

(4) Keterampilan Air Awal Lanjut (advanced beginning aquatic skills),


 Berjalan pada kedalaman air sedada tanpa bantuan,
 Mengambil dengan tangan sebuah obyek, kedalaman air sedada,
 Berjalan melintasi kolam tanpa bantuan,
 Mencelupkan muka pada air, sambil menahan nafas 10 detik,
 Menenggelamkan kepala selama 15 detik,
 Mengapung tengkurap selama 20 detik tanpa bantuan,
 Melayang telentang 20 detik tanpa bantuan,
 Berdiri pada kedalaman air sedada, sambil menggerakkan mengayuhkan
tangan, selama 30 detik,
 Memegang sisi kolam dan menggerak-gerakkan kaki selama 30 detik,
 Memanjat keluar dari kolam dengan tangga tanpa bantuan,

(5) Low-Intermediate Aquatic Skills,


 Melayang telentang selama 1 menit tanpa bantuan,
 Meluncur tengkurap dan menggerak-gerakkan kaki minimal 12 meter,
 Meluncur tengkurap dan menggerak-gerakkan kaki sambil mengayuhkan
kedua tangan 5 kali kayuhan.
 Melayang telentang dan menggerakkan kaki minimal 12 meter,
 Melayang telentang dan menggerakkan kaki dengan kayuhan gaya
punggung, 12 meter,
 Meluncur di dalam air sejauh 3 meter,
 Memegang tepi kolam sembari menggerakkan kaki sementara kepala keluar
masuk air untuk mengambil nafas dan mengeluarkan nafas, 1 menit,
 Keluar kolam dengam cara menarik diri melalui tepian kolam,

(6) High-Intermediate Aquatic Skills,


 Melayang telentang selama 2 menit,
 Mengapung tengkurap selama 2 menit,
 Memutar tubuh dari posisi telentang ke posisi tengkurap selama 2 menit,
 Meluncur ke dalam air dengan kayuhan tangan sejauh 4,5 meter,
 Menyelam ke dalam air dengan gerakkan kaki sejauh 4,5 meter,
 Berenang dengan ritme pernafasan sepanajng kolam bolak balik,
 Berenang dengan gaya punggung melintasi panjang kolam bolak balik,

The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
43

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)

(7) Advanced Aquatic Skills


 Memutar tubuh dari posisi telentang ke tengkurap di dalam air selama 3
menit,
 Berenang dengan ritme pernafasan 3 kali panjang kolam,
 Berenang gaya punggung 3 kali panjang kolam,
 Menyelam dengan berlutut,
 Menyelam dengan gerakan lengan dan kaki 8 meter,
 Meloncat dari pinggir kolam kemudian meluncur ke dalam kolam,

Berikut ini adalah hasil analisis data yang didapat dengan menggunakan
Wilcoxon Pair Signed Rank Test:
Tabel 2. Hasil Analisis Data
Grup Pre-Test Post-Test Wilcoxon Paired Test
Rata-Rata SD Rata-Rata SD z p
Level 1. Pengenalan Air
Grup A 72,7 6,43 74,9 6,06 -2,84 0,004
Grup B 63,1 5,33 65,6 5,38 -2,41 0,016
Level 2. Penyesuaian Air
Grup A 70,8 6,1 73 5,67 -2,87 0,004
Grup B 60,86 5,39 63,14 5,08 -2,40 0,016
Level 3 Keterampilan Air Awal (beginning aquatic skills)
Grup A 68,7 5,88 71,4 5,79 -2,82 0,005
Grup B 58,7 5,28 61,57 6,07 -2,41 0,016
Level 4 Keterampilan Air Awal Lanjut (advanced beginning aquatic skills)
Grup A 63,2 4,89 65,6 4,88 -2,83 0,005
Grup B 56,6 3,25 56,7 5,12 -2,47 0,015
Level 5 Low-Intermediate Aquatic Skills,
Grup A 47,3 3,68 48,5 3,68 -2,76 0,006
Grup B 42,6 2,99 43,8 2,67 -2,25 0,024
Level 6 High-Intermediate Aquatic Skills
Grup A 43,6 3,06 45,1 2,92 -2,71 0,007
Grup B 41,1 1,86 42,1 2,19 -2,33 0,02
Level 7 Advanced Aquatic Skills
Grup A 40,3 2,21 42,4 2,17 -3,05 0,002
Grup B 34,5 1,71 35,8 1,57 -2,26 0,024
Dari hasil analisis data pada tabel 2, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara
umum anak tunagrahita ringan (grup A) dan anak tunagrahita sedang (grup B)
mengalami peningkatan keterampilan renang pada ketujuh variabel terikat. Hal ini
ditunjukkan dengan skor p pada masing-masih level indikator penilaian
memperlihatkan skor p < 0,05. Pada level 1 pengenalan air, skor p adalah 0,004 pada
grup A dan 0,016 pada grup B. Kemudian pada level 2 penyesuaian air, skor p
menunjukkan angka 0,004 pada grup A dan 0,016 pada grup B. Level 3 keterampilan
air awal (beginning aquatic skills) menunjukkan skor p adalah 0,005 pada grup A dan
The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
44

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)
0,016 pada grup B. Level 4 keterampilan air awal lanjut (advanced beginning aquatic
skills) menunjukkan skor p sama dengan 0,005 pada grup A dan 0,015 pada grup B.
Kemudian untuk level 5 Low-Intermediate Aquatic Skills, skor p menunjukkan 0,006
pada grup A dan 0,024 pada grup B. Selanjutnya skor p sama dengan 0,007 pada
grup A dan 0,020 pada grup B pada level 6 yakni High-Intermediate Aquatic Skills.
Level 7 Advanced Aquatic Skills menunjukkan skor p sama dengan 0,002 pada grup A
dan 0,024 pada grup B. Maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas akuatik Halliwick
Concept mempunyai pengaruh terhadap keterampilan renang dasar pada anak
tunagrahita.
Ada beberapa penelitian yang menunjukkan ada manfaat aktivitas akuatik
terhadap penyandang disabilitas. Salah satunya adalah penelitian Ergun, et al.
(2009), yang menyebutkan bahwa ada pengaruh aktivitas akuatik terhadap
kesehatan fisik pada tunagrahita. Hal ini selaras dengan penyataan Skinner &
Thomson (2008) bahwa penerapan Halliwick Concept, penekanan diberikan pada efek
dari sifat fisik air. Sifat-sifat yang sangat penting adalah (1) kepadatan; (2) daya
apung; (3) tekanan hidrostatik; dan (4) turbulensi dan perampingan. Manfaat terapi
akuatik meliputi peningkatan fungsi sistem kardiovaskular, pernapasan, ginjal, dan
kekebalan tubuh; mobilitas yang lebih besar; peningkatan kekuatan otot,
peregangan, dan pereda nyeri; dan peningkatan gaya berjalan. Vaščáková &
Kudláček (2015) menyatakan mereka mengkonfirmasi bahwa Aktivitas akuatik
Konsep Halliwick adalah konsep olahraga air adaptif yang tepat untuk terapi,
bahkan untuk pembelajaran peningkatan keterampilan olahraga air. Dengan
Halliwick Concept, siswa mengalami kemajuan yang luar biasa dalam 10 jam dalam
hal relaksasi dan keberanian dalam air (Roi, 2017). Aktivitas akuatik sangat
bermanfaat untuk penyandang disabilitas. Jika penyandang disabilitas dapat
berpartisipasi dalam program latihan air jangka panjang untuk menjaga kesehatan
dan kebugaran, ada kemungkinan bahwa program-program ini akan memiliki efek
positif pada kebugaran fisik terkait kesehatan mereka, lemak darah, dan fungsi
kekebalan tubuh (Kim, 2018).
Mengenai pembinaan olahraga adaptif, penelitian Utomo (2016)
menyimpulkan pembinaan olahraga adaptif secara proposional akan membawa
calon-calon atlet paralympic bisa berkiprah di tingkat nasional, ASEAN, benua Asia
bahkan sampai ke jenjang Paralympic Games tingkat dunia. Namun masih ada
beberapa hambatan dalam meningkatkan pembinaan olahraga adaptif ini, yakni (1)
tidak adanya sarana utama yaitu kolam renang di lingkungan sekolah, (2) siswa
tunagrahita dalam pembinaan olahraga renang memiliki sedikit permasalahan atau
hambatan yaitu mood siswa serta dalam penyampaian intruksi atau materi pelatih
harus mengulang-ulang beberapa kali (Wibowo & Sopingi, 2018).
4. Simpulan
Ada pengaruh antara Aktivitas akuatik Halliwick Concept terhadap
keterampilan renang dasar pada anak tunagrahita. Dimana variabel keterampilan
renang dasar diukur dengan kriteria LSAA (Lone Star Adapted Aquatics Assesment)
The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
45

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)

yang terdiri dari 7 tingkat criteria keterampilan renang. Dan dari ke tujuh kriteria
keterampilan renang yang disyaratkan oleh LSAA yaitu (1) pengenalan air, (2)
penyesuaian air, (3) keterampilan air awal (beginning aquatic skills), (4) keterampilan
air awal lanjut (advanced beginning aquatic skills), (5) Low-Intermediate Aquatic Skills, (6)
High-Intermediate Aquatic Skills, (7) Advanced Aquatic Skills, aktivitas akuatik Halliwick
Concept yang telah dilaksanakan selama 10 minggu pada anak tunagrahita ringan
dan sedang, menunjukkan ada peningkatan keterampilan renang mereka.
Manfaat aktivitas akuatik pada umumnya dan Halliwick Concept pada
khususnya telah dibuktikan banyak penelitian sangat bermanfaat bagi penyandang
disabilitas. Hanya saja penelitian-penelitian tersebut kebanyakan dilakukan oleh
peneliti luar negeri. Sementara masih jarang peneliti-peneliti di Indonesia yang
melakukannya.
5. Referensi
Aleksandrovic, M., Jorgic, B., Block, M., & Jovanovic, L. (2016). The effects of aquatic
activities on physical fitness and aquatic skills in children with autism
spectrum disorders: A systematic review. Facta Universitatis, Series: Physical
Education and Sport, 351-362.

Al-Karimah, N.F. (2018). Subjective Well-Being Pada Penyandang Tunadaksa. Jurnal:


Psikosains Psikosains, 13(1), 57-64.

Apache, R. R., Hisey, P., & Blanchard, L. (2005). An Adapted Aquatic Assesment
Inventory and Curriculum. Palaestra, Spring, 21(2), 32-37.

Centers for Disease Control and Prevention. (2016). Healthy swimming fast facts.
Retrieved from [Link]/healthywater/swimming/fast_facts.html.

Conatser, P., James, E., & Karabulut, U. (2018). Adapted Aquatics for Children with
Severe Motor Impairments. International Journal of Aquatic Research and
Education, 10(3), 5.

Garcia, Mauricio, K., Silva, M. A., Oliveira, S., Joares, E. C., Bissoloti, R. R., &
Battistella, L. R.(2012). The Halliwick Concept, inclusion and participation through
aquatic functional activities. Acta Fisiatr, 19(3):142-50.

Hall, J. G. (2013). Aquatic strategies and techniques and their benefit on children with
autism.

Kim, K. H., Lee, B. A., & Oh, D. J. (2018). Effects of aquatic exercise on health-related
physical fitness, blood fat, and immune functions of children with disabilities.
Journal of exercise rehabilitation, 14(2), 289.

Larasati, N. S. (2017). Pembelajaran Renang untuk Anak Attention Deficit


Hyperactivity Disorder (Adhd) Di SLB E Prayuwana Yogyakarta. Widia
Ortodidaktika, 6(3), 220-227.

Mohamed, S. E. (2017). Effect of Aquatic Exercises Approach (Halliwick-Therapy) on

The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
46

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)
Motor Skills for Children with Autism Spectrum Disorders. Ovidius University
Annals, Series Physical Education and Sport Science, Movement and Health, 17(2),
20-27.

Roj, K., Planinšec, J., & Schmidt, M. (2016). Effect of swimming Activities on the
Development of swimming skills in student with Physical Disability–Case
study. The New Educational Review, 46(1), 221-230.

Stahl, J. (2015). Disability Status, Disability Type, and Training as Predictors of Job
Placement.

Susanto, B. H., & Noormiyanto, F. (2018). Pelatihan Renang Keselamatan Bagi Anak
Penyandang Disabiltas. MATAPPA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2),
91-96.

Tafuri, D., Di Palma, D., Ascione, A., & Cassese, F. P. (2019). Experimentation of a
special didactics proposal for youth disabled in swimming. ITALIAN
JOURNAL OF EDUCATIONAL RESEARCH, (22), 307-324.

Usti, A. (2013). Meningkatkan Kemampuan Mengenal Angka Melalui Bermain


Pancing Angka Bagi Anak Tunagrahita Ringan. Jurnal Ilmiah Pendidikan
Khusus, 1(1), 478-488.

Utomo. (2016). Pendidikan Jasmani Adaptif bagi Anak Berkebutuhan Khusus


Berwawasan Kebangsaan. Dipresentasikan pada Seminar Internasional Pendidikan
Berbasis Nilai-Nilai Kebangsaan, Universitas Lambung Mangurat Banjarmasin, 8
Oktober 2016.

Vaščáková, T., Kudláček, M., & Barrett, U. (2015). Halliwick Concept of Swimming
and its Influence on Motoric Competencies of Children with Severe
Disabilities. European Journal of Adapted Physical Activity, 8(2).

Wibowo, R. T., & Sopingi, S. (2019). Pembinaan Olahraga Renang bagi Siswa
Berprestasi dalam Cabang Olahraga Renang di SLB. Jurnal
ORTOPEDAGOGIA, 4(2), 104-108.

Widiastuti, N. L. G. K., & Winaya, I. M. A. (2019). Prinsip Khusus dan Jenis Layanan
Pendidikan Bagi Anak Tunagrahita. Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP), 9(2), 116-
126.

Yılmaz, I., Ergu, N., Konukman, F., Agbuğa, B., Zorba, E., & Cimen, Z. (2009). The
effects of water exercises and swimming on physical fitness of children with
mental retardation. Journal of Human Kinetics, 21, 105-111.

Yılmaz, I., Ergu, N., Konukman, F., Agbuğa, B., Zorba, E., & Cimen, Z. (2009). The
effects of water exercises and swimming on physical fitness of children with
mental retardation. Journal of Human Kinetics, 21, 105-111.

The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.
47

Mustofa, H., Lufthansa, L., & Rohmah, L. N./JPA 1 (1) 2020 34-47 ISSN 2716-487X (Online)

Zotz, T. G. G., Souza, E. A., Israel, V. L., & Loureiro, A. P. C. (2013). Aquatic physical
therapy for Parkinson’s disease. Advances in Parkinson's Disease, 2(04), 102.

The effects of halliwick’s aquatic activities on basic swimming skills of people with intellectual disabilities
© 2020 Journal of Physical Activity (JPA). Copyrights. All rights reserved.

Anda mungkin juga menyukai