0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan36 halaman

Proses Saponifikasi dan Asam Basa

Dokumen tersebut membahas tentang saponifikasi, yaitu reaksi antara basa alkali seperti NaOH dengan asam lemak tak jenuh yang menghasilkan gliserol dan sabun. Dilakukan percobaan pembuatan sabun dengan mereaksikan margarin dan larutan NaOH 10%, dengan tujuan mempelajari mekanisme reaksi saponifikasi dan menguji sabun yang dihasilkan dengan larutan CaCl2 dan Pb-asetat.

Diunggah oleh

ita miftahussaidah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan36 halaman

Proses Saponifikasi dan Asam Basa

Dokumen tersebut membahas tentang saponifikasi, yaitu reaksi antara basa alkali seperti NaOH dengan asam lemak tak jenuh yang menghasilkan gliserol dan sabun. Dilakukan percobaan pembuatan sabun dengan mereaksikan margarin dan larutan NaOH 10%, dengan tujuan mempelajari mekanisme reaksi saponifikasi dan menguji sabun yang dihasilkan dengan larutan CaCl2 dan Pb-asetat.

Diunggah oleh

ita miftahussaidah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Asam basa menurut Suante August Arrhenius.

Asam adalah senyawa yang dapat memberikan ion hydrogen ( H +) bila


dilarutkan dalam air. Asam seperti HCL, HNO3, dan HC2H3O2 denga molekul
yang mampu menyumbangkan satu proto kesebuah molekul air disebut asam
monoprotik. Karena penyumbangan proton adalah suatu reaksi yang reversible,
tiap asam haruslam membentuk basa dengan menyumbang  menerima sebuah
proton. Kuat relative asam AH dalam larutan air merupakan suatu ukuran dari
kecendrungan menyubangkan sebuah proton kepada sebuah molekul air.

Sifat-sifat asam: 

1. Korosif, dapat merusak logam dan marmer.


2. Mempunyai rasa asam.
3.  Dapat memerahkan kertas lakmus biru.
4. Dapat menetralkan larutan basa.
5. Dapat berupa zat padat, cairan. Dan gas.

Basa adalah senyawa yang jika dilarutkan kedalam air akan menghasilkan ion
hidroksida (OH-). Dalam air murni terdapat ion H+ dan ion OH- dalam
konsentrasi yang sama yang sangat kecil. Jika konsentrasi H+ lebih tinggi dari
knsentrasi OH- maka larutan itu bersifat asam. Begitu pula sebaliknya Jika
konsentrasi OH- lebih tinggi dari konsentrasi H+, larutan bersifat basa. Larutan air
dari garam-garam dapat bersifat asam , basa atau netral bergantung pada
garamnya.2
Sifat-sifat basa :

1. Bersifat kaustik, dapat merusak kulit.


2. Memiliki rasa pahit dan licin.
3. Membirukan kertas lakmus merah.
4. Dapat menetralkan larutan asam.

Rentang pH indikator

Indikator tidak berubah warna dengan sangat mencolok pada satu pH tertentu
(diberikan oleh harga pKind-nya). Malahan, mereka mengubah sedikit rentang
pH. Dengan mengasumsikan kesetimbangan benar-benar mengarah pada salah
satu sisi, Terjadi perubahan kecil yang berangsur-angsur dari satu warna menjadi
warna yang lain, menempati rentang pH. Secara kasar "aturan ibu jari", perubahan
yang tampak menempati sekitar 1 unit pH pada tiap sisi harga pKind.

Harga yang pasti untuk tiga indikator dapat kita lihat sebagai berikut:
pH rentang
indikator pKind
pH

lakmus 6.5 5–8

jingga metil 3.7 3.1 – 4.4

9.3 8.3 – 10.0

Perubahan warna lakmus terjadi tidak selalu pada rentang pH yang besar, tetapi
lakmus berguna untuk mendeteksi asam dan basa pada lab karena perubahan
warnanya sekitar 7. Jingga metil atau fenolftalein sedikit kurang berguna. Berikut
ini dapat dilihat dengan lebih mudah dalam bentuk diagram.  

1.  Larutan asam    : H+ > 10 -7 M atau PH< 7;


2. Larutan netral    : H+ = 10 -7  M atau PH =7;
3. Larutan basa    : OH - >H+ atau H+  <10 -7 M atau PH> 7 .

B    Alat dan Bahan .

a. Alat :                 

1. Pelat tetes  
2. Pipet tetes            
3. Gelas kimia               
4. Piring              
5. Timbangan analitik           
6. PH meter universal           
7. Mortal             
8. Gelas arloji               
9. Bola penghisap    
10. Aquadest

b. Bahan

1. Bunga sepatu
2. Alkohol
3. NaOH    0,1 M
4. NaCL    5℅
5. N2CO3    5℅
6. Asam borat    2℅
7. HCL    0,05 M
8. Kunyit

C.    Cara Kerja

1. Menimbang bunga sepatu atau kunyit dengan timbangan analitik sebanyak


gr.
2. Memotong bunga tersebut kecil-kecil dengan menggunakan silet..
3. Memasukkan hasil potongan bunga tersebut kedalam gelas plastik .
4. Mencampurkan alcohol sebanyak 5 ml kedalam gelas plastic yang telah
terisi potongan bunga tadi.
5. Mengaduk bunga sepatu yang telah tercampur oleh alkohol
6. Mengambil ekstrak bunga sepatu atau kunyit dengan pipet tetes.
7. Meletakkan ekstrak binga tersebut ke dalam plat tetes.
8. Mencampurkan masing-masing larutan yaiut HCL, NaOH, N2CO3, .
NaCL,  dan Asam borat.
9. Meletakkan PH meter ke plat tetes ke masing masing ekstrak bunga yang
telah tercampur oleh larutan yang berbeda .
10. Mengukur PH dengan PH meter universal
11. Mencatat hasil pengamatan.

D.    Hasil Pengamatan

 Gambar
 Analisis Data

Larutan Wana Warna Perubaha PH Indikator


baku awal indikator n warna
Larutan
Na2CO3   Bening Merah Abu-abu 8      
5% 6 Bunga
Bening Merah Ungu 12 sepatu
  Asam muda 3
borat  2% Bening Merah 7
Hijau
NaOH   Bening  Merah pekat
0,01%
Bening Merah Merah tua
HCL     
0,05%  Kelabu

   NaCl     
5%
Na2CO3   Bening Kuning Merah tua 2            
5% Kuning Merah 5 kunyit
Bening Kuning muda 1
  Asam Kuning Biru 7
borat  2% Bening Kuning Bening 7
Bening
NaOH   Bening 
0,01%
Bening
HCL     
0,05%

   NaCl     
5%
E.    Pembahasan. 

 Larutan HCL mengubah warna indicator ekstrak bunga sepatu menjaid


merah  tua dan PH nya 3 sehingga larutan tersebut merupakan Asam Kuat.
 Larutan NaCL mengubah warna indicator ekstrak bunga sepatu menjaid
bening dan PH nya 7 sehingga larutan tersebut merupakan Netral.
 Larutan asam borat mengubah warna indicator ekstrak bunga sepatu
menjaid bening dan PH nya 7 sehingga larutan tersebut merupakan Netral
Larutan NaOH mengubah warna indicator ekstrak bunga sepatu menjaid
biru dan PH nya 12 sehingga larutan tersebut merupakan Basa. 
 Larutan Na2CO3 mengubah warna indicator ekstrak bunga sepatu menjaid
biru tua  dan PH nya 8 sehingga larutan tersebut merupakan Basa Kuat.
Larutan HCL mengubah warna indicator ekstrak kunyit menjaid bening
dan PH nya 7 sehingga larutan tersebut merupakan Netral. 
 Larutan NaCL mengubah warna indicator ekstrak kunyit menjaid bening
dan PH nya 7 sehingga larutan tersebut merupakan Netral 
 Larutan asam borat mengubah warna indicator ekstrak kunyit menjaid 
merah dan PH nya 5 sehingga larutan tersebut merupakan Asam. 
 Larutan NaOH mengubah warna indicator ekstrak kunyit menjaid merah
tua dan PH nya 1sehingga larutan tersebut merupakan Asam Kuat. 
 Larutan Na2CO3 mengubah warna indicator ekstrak kunyit menjaid merah
tua dan PH nya 2 sehingga larutan tersebut merupakan Asam Kuat.

Larutan HCL, NaOH, N2CO3, . NaCL, dan Asam borat mengubah indicator
warna ekstrak bunga sepatu dan ekstrak kunyit dari warna asalnya berubah
menjadi berbaai warna seperti merah tua, merah , merah muda, biru tua , biru,
ungu, dan bening. 
 Warna merah menandakan bahwa larutan tersebut asam, merah muda asam lemah
dan merah tua berarti asam kuat begitu juga warna biru berarti basa, biru muda
berarti basa lemah dan biru tua berarti basa kuatsedangkan warna bening berarti
netral PH asam berkisar 1-6, PH netral adalah 7, sedangkan PH basa berkisar 8-
14.

Dengan menggunakan indkator yang berbeda maka warna PH dan keadaan asam /
basa pun berbeda walaupun larutan yang digunakan sama. Dengan penggunaan
larutan yang berbeda juga dapat mempengaruhi warna PH dan keadaan asam
/basa dengan indicator yang sama.
 F .    Kesimpulan.

Larutan yang berbeda membuat warna PH dan keadaan asam /basa pada indicator
ekstrak kunyit / bunga sepaatu berbeda.

Indicator yang berbeda membuat warna PH dan keadaan asam/basanya berbeda


walaupun larutan yang digunakan sakalipun sama.
Konsentrasi H+ merupakan salah satu ukuran untuk menetukan keasaman atau
kebasaan suatu larutan dalam air, sehingga diperoleh sebagai berikut.

1. Larutan asam    : H+ > 10 -7 M atau PH< 7;


2. Larutan netral    : H+ = 10 -7  M atau PH =7;
3. Larutan basa    : OH - >H+ atau H+  <10 -7 M atau PH> 7

Warna asam menandakan asam, warna biru menadakan basa dan warana
bening menandakan netral.

SAPONIFIKASI

Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis antara basa-basa


alkali dengan asam lemak yang akan menghasilkan
gliserol dan garam yang disebut sebagai sabun. Asam
lemak yang digunakan yaitu asam lemak tak jenuh, karena
memiliki paling sedikit satu ikatan ganda diantara
atom-atom karbon penyusunnya dan bersifat kurang stabil
sehingga sangat mudah bereaksi dengan unsure lain. basa
alkali yang digunakan yaitu basa-basa yang menghasilkan
garam basa lemah seperti Naoh, Koh, Nh4oh, k2co3 dan
lainnya. Sabun, menjadi produk berasal dari garam asam
karboksilat yang tinggi .Pada percobaan ini akan
mencoba membuat sabun dengan bahan dasar margarine dan
larutan NaoH, dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme
reaksi saponifikasi antatra trigliserida dengan basa
alkali menghasilkan gliserol dan sabun dan prinsipnya
yaitu berdasarkan reaksi pengendapan pada pengujian
sabun yaitu antara sabun dengan padatan Cacl2 dan sabun
dengan padatan Pb-asetat. Mula-mula membuat larutan
naoh dengan kadar 10%. Disini membutuhkan padatan Naoh
(Naoh umum digunakan karena naoh merupakan basa lemah
yang nantinya akan menghasilkan garam natrium dalam
sabun yang memiliki konsistensi keras agar mudah diuji
nantinya) yang timbang dengan neraca teknis seberat
yang dibutuhkan dengan kaca arloji agar tidak ada
reaksi terjadi yang dapat mengurangi kadar padatan
Naoh, misalnya, jika menggunakan kertas timbang,
padatan Naoh akan bereaksi apalagi Naoh itu sangat
higrokopis yang artinya, dapat menyerap air di udara
sehingga dapat merubah bentuk padatan Naoh menjadi
mencair, jika hal itu terjadi saat menggunakan kertas
timbang maka kertas timbang yang digunakan akan robek
jadi akan menyulitkan saat menimbang. Karena sifat Naoh
itu juga, setelah penimbangan Naoh ditutup dengan
plastic wrap. Setelah itu, siapkan air suling yang
sudah dididihkan, gunanya untuk menghilangkan gas Co2
dalam air, jika co2 masih dibiarkan dalam air dan
langsung dicampurkan dengan Naoh maka akan terjadi
reaksi pada naoh-nya. Naoh yang bereaksi dengan CO2
akan berubah menjadi natrium karbonat yang hasilnya
akan menyebabkan pengendapan, hal itu dapat menghambat
proses saponifikasi nantinya. Setelah air dididihkan,
air suling tersebut harus diamkan dulu pada suhu kamar,
mengembalikan suhunya kembali. Lebih baik tidak
langsung mencampurkan Naoh dengan kondisi suhu yang
tinggi karena padatan naoh yang dimasukan dalam air
akan mengalami reaksi eksoterm yaitu reaksi pelepasan
kalor atau panas yang bisa dibilang sangat tinggi, oleh
karena itu dihindari agar gelas kimia yang dipakai
tidak pecah. Saat suhu sudah mulai normal,padatan naoh
mulai dimasukan dan diaduk hingga padatan naoh larut
sepenuhnya, setelah itu tutup dengan plastic wrap agar
tidak bereaksi lagi dengan udara-udara bebas diluarnya.
Langkah selanjutnya mulai dengan pembuatan sabun dengan
bahan dasar margarine dengan larutan naoh 10% tadi.
Margarine ditimbang dengan seperlunya dan dimasukan
kedalam cawan porselen kemudian masukan larutan naoh
10% dan dipanaskan dengan api kecil agar mudah untuk
mengendalikan suhu yang akan terjadi. Campuran
margarine dan larutan naoh tadi diaduk secara konsisten
dan searah agar tidak merusak struktur antara ikatan
yang mungkin telah terjadi antara trigliserida dengan
Naoh. Dengan mempergunakan thermometer, atur pada suhu
55’C, dimana suhu itu ditambahkannya etanol yang
diteteskan sedikit demi sedikit. etanol diteteskan
sedikit agar tidak terjadi percepatan reaksi yang
menyebabkan pergolakan yang tinggi karena etanol disini
berguna sebagai katalis untuk mempercepat reaksi. Dalam
reaksinya, etanol dijadikan sebagai medium pereaksi
disebabkan struktur dasarnya, yaitu lemak merupakan
senyawa organic yang nonpolar sementara Naoh adalah
senyawa anorganik yang polar. Nonpolar dan polar tidak
dapat saling bercampur oleh karena itu dibutuhkan
etanol yang bersifat semipolar. Bersifat polar karena
memiliki gugus Oh- dan bersifat non polar karena CH+.
Dengan etanol, naoh dapat terlarut dan bercampur dengan
lemak. Campuran larutan diaduk searah agar etanol yang
diberikan dapat tersebar dipermukaan larutan. Hingga
suhu antara 70-80’C, pemanasan dihentikan. Untuk suhu
tersebut merupakan jarak terdekat titik didih etanol
sebagai mediumnya jika suhu terus dinaikan dan
menyebabkan panas yang berlebihan maka akibatnya ikatan
sabun yang terbentuk akan terlepas kembali. Setelah
itu, campuran larutan itu ditutup dengan plastik wrap
dan didinginkan dengan es batu untuk mempercepat
pengendapan yang harus terjadi.
Jika sabun telah terbentuk dengan campuran asam lemak
dan basa alkali lemah maka untuk mengujinya digunakan
air suling paling sederhana dan padatan Cacl2 dan pb-
asetat. Untuk pengujian pertama digunakan air suling
yang paling umum dan paling sering ditemui. Sabun tadi
sedikit dimasukan dalam tabung reaksi dan tambahkan air
suling dan kocok dengan kuat, maka akan terjadi busa.
Hal ini disebabkan karena air merupakan senyawa polar
dan sabun alkalinya bersifat non polar sehingga ada
gaya tarik menarik yang mengakibatkan gumpalan-gumpalan
berbentuk koloid yaitu busa. Sedangkan dengan padatan
cacl2 dan pb-asetat yang perlakukannya sama dengan
pengujian air suling. Akan timbul sebuah endapan, hal
ini disebabkan karena kekurangan utama sabun yaitu akan
mengendap dalam air sadah. Air sadah yaitu air yang
mengandung logam-logam seperti ca2+, mg2+ ,fe2+ dan
lain sebagainya. Sedangkan padatan pb-asetat dengan
Cacl2 dapat meningkatkan kesadahan air.
Sabun yang telah terbentuk dari garam-garam logam
alkali termasuk dalam senyawa umum yang disebut
surfaktan, yaitu senyawa yang dapat menurunkan tegangan
permukaan air. Surfaktan mengandung sutu ujung
hidrofobik ( satu rantai karbin atau lebih) dan suatu
ujung hidrofili. surfaktan menurunkan tegangan
permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan hidrogen
pada permukaan. Mereka melakukan hal ini dengan menaruh
kepala-kepala hidrofiliknya yang bersifat larut dalam
air pada permukaan air dengan ekor-ekor hidrofobiknya
yang sifatnya larut dalam zat-zat non polar terentang
menjauh pada permukaan air.
Sabun sangat bermanfaat dengan kemampuannya mengemulsi
kotoran berminyak sehingga dapt dibuang dengan
pembilasan. Lemak tidak larut dalam air tetapi ketika
sabun ditambahkan, kumpulan molekul ion karboksilat
yang hidrofilik berada di sisi luar dan rantai
hidrokarbon yang hidrofobik berada di sisi dalam.
Hasilnya, bola kecil yang disebut misel. Misel-misel
ini tidak bergabung karena misel-misel tersebut
bermuatan negatif akibat ion karboksilat di permukaan
tolak menolak. Ketika misel berhubungan dengan lemak,
rantai hidrokarbon yang ada di dalam inti misel akan
mengepung lemak tersebut, dan misel menata ulang dengan
ion karboksilat hidrofilik di sisi luar, dengan cara
demikian lemak teremulsi di dalamnya. Dengan cara ini,
lemak dihilangkan dari objek dan menjadi tersuspensi di
dalam air pembersih. Suspensi inidapat dipisahkan
dengan membuang air pembersih meninggalkan objek.
Fenomena tersebut tidak lepas dari gaya tarik menarik
molekul. Lemak dapat menempel pada sabun karena adanya
bantuan air yang memiliki gaya tarik dipol-dipol) yang
menginduksi awan elektron ( suatu ion yang terdiri dari
elektron-elektron yang mengelilinginya, air yang
memiliki struktur molekul H2O memiliki elektron bebas
berjumlah 2 pasang elektron pada atom O ), itu yang
menyebabkan larutan minyak nonpolar dapat larut dalam
sabun yang juga non polar. Dengan sabun lemak yang
menempel akan terlarut bersama sabun dengan bantuan
air. Secara strukturnya, sabun di satu sisi memiliki
rantai hidrokarbon yang larut dalam minyak dan disisi
lain memiliki polar oksigen larut dalam air. Jadi sabun
bisa berinteraksi dengan air sekaligus dengan minyak.
BAB I

PENDAHULUAN

Dalam kemajuan jaman yang sangat pesat ini, kita sebagai masyarakat yang
terlibat di dalamnya harus peka dan mengerti akan fenomena-fenomena kimia
sederhana yang terjadi di sekitar kita karena hal tersebut dapat menjadi batu
loncatan untuk menciptakan kreasi dan inovasi di masa mendatang. Banyak
orang awam kurang memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal kecil atau bahkan
tidak peduli akan fenomena yang sering terjadi dalam keseharian mereka. Salah
satu contoh sederhana yang dapat kita tinjau ialah mencuci tangan. Banyak di
antara kita yang tidak mengerti bagaimana sabun dalam media air dapat
membersihkan tangan kita dari minyak yang menempel di tangan.

Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari


reaksi saponifikasi. Istilah saponifikasi dalam literatur berarti “soap making”.
Akar kata “sapo” dalam bahasa Latin yang artinya soap / sabun. Pengertian
Saponifikasi (saponification) adalah reaksi yang terjadi ketika minyak / lemak
dicampur dengan larutan alkali. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini,
yaitu Sabun dan Gliserin.
BAB II
REAKSI SAPONIFIKASI (ESTERIFIKASI)

A. Pengertian Saponifikasi dan Detergen

Kata saponifikasi atau saponify berarti membuat sabun (Latin sapon, =


sabun dan –fy adalah akhiran yang berarti membuat). Bangsa Romawi kuno
mulai membuat sabun sejak 2300 tahun yang lalu dengan memanaskan
campuran lemak hewan dengan abu kayu. Pada abad 16 dan 17 di Eropa sabun
hanya digunakan dalam bidang pengobatan. Barulah menjelang abad 19
penggunaan sabun meluas.

Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari


reaksi saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya
basa lemah (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol.
Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat. Hidrolisis
ester dalam suasana basa bisa disebut juga saponifikasi.

Ada dua metode yang digunakan dalam esterifikasi yaitu proses batch dan
proses kontinyu. Proses esterifikasi berlangsung dibawah tekanan pada suhu 200-
250°C. Pada reaksi kesetimbangan, air dipindahkan secara kontinyu untuk
menghasilkan ester. Henkel telah mengembangkan esterifikasi countercurrent
kontinyu menggunakan kolom reaksi dodel plate. Teknologi ini didasarkan pada
prinsip reaksi esterifikasi dengan absorpsi simultan superheated metanol vapor
dan desorpsi metanolwater mixture. Gambar 4 memperlihatkan proses kontinyu
esterifikasi Henkel asam lemak. Reaksi ini menggunakan tekanan sekitar 1000
Kpa dan suhu 240 °C. Keuntungan dari proses ini adalah kelebihan metanol dapat
dijaga secara nyata pada rasio yang rendah yaitu 1,5 : 1 molar metanol : asam
lemak dibandingkan proses batch dimana rasionya 3-4 : 1 molar. Metil ester yang
melalui proses distilasi tidak memerlukan proses pemurnian. Kelebihan metanol
di rectified dan digunakan kembali. Esterifikasi proses kontinyu lebih baik
daripada proses batch. Dengan hasil yang sama, proses kontinyu membutuhkan
waktu yang lebih singkat dengan kelebihan metanol yang lebih rendah. Proses
esterifikasi merupakan proses yang cenderung digunakan dalam produksi ester
dari asam lemak spesifik Laju reaksi esterifikasi sangat dipengaruhi oleh struktur
molekul reaktan dan radikal yang terbentuk dalam senyawa antara. Data tentang
laju reaksi serta mekanismenya disusun berdasarkan karakter kinetiknya,
sedangkan data tentang perkembangan reaksi dinyatakan sebagai konstanta
kesetimbangan. Secara umum laju reaksi esterifikasi mempunyai sifat sebagai
berikut:

1. Alkohol primer bereaksi paling cepat, disusul alkohol sekunder, dan paling
lambat alkohol tersier

2. Ikatan rangkap memperlambat reaksi

3. Asam aromatik (benzoat dan p-toluat) bereaksi lambat, tetapi mempunyai


batas konversi yang tinggi

4. Makin panjang rantai alkohol, cenderung mempercepat reaksi atau tidak


terlalu berpengaruh terhadap laju reaksi.

Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun pada


umumnya hanya NaOH dan KOH, namun kadang juga menggunakan NH4OH.
Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan
dengan sabun yang dibuat dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat
(NaOH, KOH) mempunyai nilai pH antara 9,0 sampai 10,8 sedangkan sabun yang
terbuat dari alkali lemah (NH4OH) akan mempunyai nilai pH yang lebih rendah
yaitu 8,0 sampai 9,5.
Sabun merupakan garam dari asam lemah, larutannya agak basa karena
adanya hidrolisis parsial.

Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk


membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi.
Dibanding dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain
mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan
air.

Sabun juga memiliki sifat, yaitu sebagai berikut :

a. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan
dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.

b. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa
ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan
buih setelah garam Mg atau Ca dalam air mengendap. CH 3(CH2)16COONa +
CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2.

c. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia


koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci
kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai
gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hydrogen
CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka
ait) dan larut dalam zat organik sedangkan COONa + sebagai kepala yang
bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.

B. Bahan Baku Pembuatan Sabun dan Detergen

 Bahan Pembuatan Sabun


Secara teknik, sabun adalah hasil reaksi kimia antara fatty acid dan alkali.
Fatty acid adalah lemak yang diperoleh dari lemak hewani atau nabati. Ada
beberapa jenis minyak yang dipakai dalam pembuatan sabun, antara lain :
Minyak zaitun (olive oil), minyak kelapa (coconut oil), minyak sawit (palm oil),
minyak kedelai (soy bean oil) dan lain – lain. Masing – masing mempunyai
karakter dan fungsi yang berlainan. Secara sederhana dapat dirumuskan sebagai
berikut : Fatti Acid ( oils) + Base ( Natrium Hydroxide / Lye) = A Salt (soap)

Bahan baku yang digunakan didasarkan pada beberapa kriteria, antara lain
faktor manusia dan keamanan lingkungan, biaya, kecocokan dengan bahan-
bahan additive yang lain, serta wujud dan spesifikasi khusus dari produk jadinya.
Sedangkan proses produksi aktual dilapangan bisa saja bervariasi dari satu pabrik
dengan pabrik yang lain, namun tahap-tahap utama pembuatan semua produk
tersebut adalah tetap sama.

Sabun dibuat dari lemak [hewan], minyak[nabati] atau asam lemak (fatty
acid) yang direaksikan dengan basa anorganik yang bersifat water soluble,
biasanya digunakan caustic soda/soda api (NaOH) atau KOH (kalium hidroksida)
juga alternative yang sering juga dipakai, tergantung spesifik sabun yang
diinginkan. Sabun hasil reaksi dengan sodium hidroksida (NaOH) biasanya lebih
keras dibandingkan dengan penggunaan Potasium Hidroksida (KOH).

 Bahan-bahan dalam Pembuatan Sabun Mandi

1. Minyak atau Lemak : Hampir semua minyak atau lemak alami bisa dibuat
menjadi sabun. Cari yang mudah saja seperti minyak kelapa, minyak
sawit, minyak zaitun, minyak jagung, dan minyak kedelai.
2. NaOH atau KOH : untuk mengubah minyak atau lemak menjadi sabun.
Bisa beli di took bahan kimia, ambil yang teknis saja.
3. Air : sebagai katalis atau pelarut. Pilih air sulingan atau air minum
kemasan. Air dari pam tidak bagus, banyak mengandung mineral.
4. Essensial dan Fragrance Oils : sebagai pengharum
5. Pewarna : untuk mewarnai sabun. Bisa juga memakai pewarna makanan.
6. Zat aditif : rempah, herbal, ttalk, tepung kanji atau maizena dapat
ditambahkan pada saat “trace”.

 Bahan-bahan dalam Pembuatan Detergen

Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut:

a. Surfaktan

Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang


mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak).
Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat
melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Secara garis besar,
terdapat empat kategori surfaktan yaitu:

Anionik : Alkyl Benzene Sulfonate (ABS), Linier Alkyl Benzene Sulfonate


(LAS), dan Alpha Olein Sulfonate (AOS)

Kationik : Garam Ammonium

Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle

Amphoterik : Acyl Ethylenediamines

b. Builder

Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari


surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.
Fosfat : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)

Asetat : Nitril Tri Acetate (NTA) dan Ethylene Diamine Tetra Acetate
(EDTA)

Silikat : Zeolit

Sitrat : Asam Sitrat

c. Filler

Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai


kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh
Sodium sulfat.

d. Aditif

Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih


menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan
langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud
komersialisasi produk. Contoh : Enzim, Boraks, Sodium klorida, Carboxy Methyl
Cellulose (CMC).
Diagram Alir Bahan antara surfaktan asli berasas lemak/minyak

Bahan pembuatan detergen yang menggunakan bahan non organik yaitu :


1. Posfat

 Garam posfat digunakan sebagai pembina (builder) dalam detergen


dimana ia memberikan perlembutan air (water softening), kealkalian dan
penghilangan kotoran serta penyebaran (dispersion).

 Juga sebagai bahan bantu pada proses terbaik semasa pembuatan


detergen seperti penyerapan surfaktan cair dan pengikatan air bebas.

 Fosfat yang paling lazim digunakan dalam aplikasi detergen adalah garam
sodium dan potassium pirofosfat dan tripolifosfat.

2. Sodium Karbonat

 Seperti fosfat, sodium karbonat juga merupakan ingredien detergen


multifungsi. Diantaranya adalah untuk kekerasan air (melalui
pemendakan), sumber kealkalian, pemukal (filler), pembawa dan bahan
bantu pengaglomeratan (agglomeration) untuk serbuk.
 Dalam detergen semburan kering tradisional, fungsi utama sodium
karbonat adalah sebagai pemukal, sumber kealkalian dan pembina.

3. Peluntur Oksigen (oxygen bleaches)

 Tiga peluntur oksigen terpenting dalam aplikasi detergen ialah sodium


perborat monohidrat, sodium perborat tetrahidrat dan sodium karbonat
peroksida.

 Sebatian ini sangat penting dalam formulasi detergen tahan warna (color-
safe) dan formulasi peluntur dimana kereaktifan dengan enzim dan lain-
lain ingredien perlu di minimalkan.

 Faedah utama ingredien peluntur berasaskan oksigen ialah membantu


menangglkan kotoran degil (stain), penjagan keputihan dan kawalan
bintik dan lapisan pada gelas dalam aplikasi basuhan pinggan mangkuk.

 Tabel di bawah merumuskan atribut utama setiap jenis ingredien


peluntur.

Tabel Sifat-sifat Ingredien Peluntur Detergen


Sifat-sifat Sodium Sodium Sodium Karbonat
Perborat Perborat Peroksida Terstabil
Tetrahidrat Monohidrat
Oksigen aktif (%) 10.1 15 11.5
Ketumpatan 52 38 60
3
pukal(lb/ft )
Aplikasi proses Tambahan Tambahan Tambahan selepas
selepas selepas

 Resep Sabun Mandi

1. Sabun mandi cair: 340 g Minyak sawit, 170 g Minyak kelapa, 50 gram minyak
zaitun,122 gram KOH Kalium hidroksida 250 g air,10 cc fragrance +
pewarna, dan prosesnya pada suhu ruangan.
2. Sabun mandi padat : 250 minyak sawit, 140 minyak kelapa, 100 gram minyak
jagung, 75,5 gram NaOH ditambah 210 mL air, 10 cc fragrance ditambah
pewarna, dan dilakukan pada suhu ruangan.

C. Proses Pembuatan Sabun dan Detergen

1. Proses Pembuatan Sabun

Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun,
dan air. Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lemak.
Untuk mempermudah penjelasan, mari kita tinjau minyak goreng sebagai contoh.
Minyak goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak
jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam miristat, asam
palmitat, asam laurat, dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak
goreng adalah asam oleat, asam linoleat, dan asam linolena. Asam lemak tidak
lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih
dari 6)

Struktur Asam Laurat

Sabun dapat dibuat melalui proses batch atau kontinu Pada proses batch,
lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH) berlebih dalam
sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam garam ditambahkan untuk
mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengaundung garam, gliserol dan
kelebihan alkali dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan.
Endapan sabun gubal yang bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian
dimurnikan dengan air dan diendapkan dengan garam berkali-kali. Akhirnya
endapan direbus dengan air secukupnya untuk mendapatkan campuran halus yang
lama-kelamaan membentuk lapisan yang homogen dan mengapung. Sabun ini
dapat dijual langsung tanpa pengolahan lebih lanjut, yaitu sebagai sabun industri
yang murah. Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti pasir atau batu apung
dalam pembuatan sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan untuk mengubah
sabun gubal menjadi sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun
cuci, sabun cair dan sabun apung (dengan melarutkan udara di dalamnya).
Pada proses kontinu, yaitu yang biasa dilakukan sekarang, lemak atau
minyak hidrolisis dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis
seperti sabun seng. Lemak atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu
ujung reaktor besar. Asam lemak dan gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari
ujung yang berlawanan dengan cara penyulingan. Asam-asam ini kemudian
dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun.
Masalah tersebut dipecahkan dengan beberapa cara. Misalnya dengan
mengurangi ion-ion kalsium dan magnesium dan menggantinya dengan ion-ion
natrium, atau yang dikenal dengan air lunak. (soft water). Selain itu bisa juga
dengan menambahkan fosfat pada sabun, karena fosfat membentuk komplek
dengan ion-ion logam, larut dalam air, sehingga mencegah ion-ion tersebut
membentuk garam taklarut dengan sabun. Namun penggunaan fosfet harus
dibatasi, karena jika ikut mengalir dalam danau atau sungai fosfat yang juga
berfungsi sebagai pupuk akan merangsang tumbuhnya tanaman sedemikian besar
sehingga tanaman menghabiskan oksigen terlarut dalam air dan menyebabkan
ikan-ikan mati. Cara lain misalnya dengan mengganti gugus ionik karboksilat
pada sabun dengan gugus sulfat atau sulfonat. Cara inilah yang mendasari
terbentuknya detergen.
 Proses Pembuatan Sabun Mandi
1. Siapkan Cetakan bisa apa saja. Bisa loyang yang diminyaki, baki plastik
yang dialasi plastik tipis atau pipa PVC yang diminyaki. Siapkan cetakan
yang
cukup untuk menampung semua hasil pembuatan sabun. Untuk cetakan
anda bisa
menggunakan kayu atau karton yang dilapisi plastik tipis, bahkan pipa
PVC bisa
dipakai. Jika menggunakan pipa PVC tutup bagian bawah dengan plastik
yang
diikat dengan karet gelang, semprotkan minyak ke dalamnya, tuangkan
hasil
sabun. Setelah mengeras buka tutupnya, dorong lalu potong akan
menghasilkan
sabun yang bulat
2. Timbang air dan NaOH / KOH. Sesuai dengan resep. Larutkan NaOH /
KOH ke dalam air sejuk / dingin (Jangan menggunakan wadah aluminium.
Gunakan stainless steel, gelas pyrex atau plastik-poliproplen). Jangan
menuangkan air ke
NaOH / KOH. Tuangkan NaOH / KOH ke dalam air sedikit demi sedikit.
Aduk higga larut. Pertama-tama larutan akan panas dan berwarna
keputihan.
Setelah larut semuanya, simpan di tempat aman untuk didinginkan sampai
suhu
ruangan. Akan didapatkan larutan yang jernih.
3. Timbang minyak sesuai dengan resep.
4. Tuangkan minyak yang sudah ditimbang ke dalam blender.
5. Hati- hati tuangkan larutan NaOH atau KOH ke dalam minyak
6. Pasang cover blender, taruh kain di atas cover tadi untuk menghindari
cipratan dan proses pada putaran terendah. Hindari jangan sampai
menciprat ke muka
atau badan anda. Hentikan blender dan periksa sabun untuk melihat tahap
“trace”. “Trace” adalah kondisi dimana sabun sudah terbentuk dan
merupakan akhir dari proses pengadukan. Tandanya adalah ketika
campuran sabun mulai mengental. Apabila di sentuh dengan sendok, maka
beberap detik bekas sendok tadi masih membekas, itulah mengapa
dinamakan “trace”.
7. Pada saat “trace” tadi anda bisa menambahkan pengaharum, pewarna atau
aditif. Aduk beberapa detik kemudian hentikan putaran blender
8. Tuang hasil sabun ini ke dalam cetakan. Tutup dengan kain untuk insulasi.
Simpan sabun dalam cetakan tadi selama satu hingga dua hari. Kemudian
keluarkan dari cetakan, potong sesuai selera. Simpan sekurang-kurangnya
3 minggu sebelum dipakai.
 Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan sabun mandi adalah :
1. Botol plastik untuk wadah
2. Timbangan dapur dengan skala terkecil 1 atau 5 gram
3. Cetakan
4. Blender dengan tutupnya
Pada perkembangan selanjutnya bentuk sabun menjadi bermacam-macam,
yaitu:
1. Sabun cair
o Dibuat dari minyak kelapa
o Alkali yang digunakan KOH
o Bentuk cair dan tidak mengental dalam suhu kamar
2. Sabun lunak
o Dibuat dari minyak kelapa, minyak kelapa sawit atau minyak
tumbuhan yang tidak jernih
o Alkali yang dipakai KOH
o Bentuk pasta dan mudah larut dalam air
3. Sabun keras
o Dibuat dari lemak netral yang padat atau dari minyak yang
dikeraskan dengan proses hidrogenasi
o Alkali yang dipakai NaOH
o Sukar larut dalam air
Wanita sangat menginginkan menggunakan sabun dalam bentuk cair,
sebab bentuk cair memberikan busa yang cukup banyak. Sabun yang banyak
mengandung busa, terutama pada sabun cair yang terbuat dari minyak kelapa atau
kopra ini biasanya menyebabkan rangsangan dan memungkinkan penyebab
dermatitis bila dipakai. Oleh karena itulah penggunaanya diganti dengan minyak
zaitun dan minyak kacang kedele atau minyak yang lain yang dapat menghasilkan
sabun lebih lembut dan baik. Tetapi para pemakai kurang menyukainya sebab
sabun ini kelarutannya rendah dan tidak memberikan busa yang banyak.
Dengan perkembangan yang cukup pesat dalam dunia industri
dimungkinkan adanya penambahan bahan-bahan lain kedalam sabun sehingga
menghasilkan sabun dengan sifat dan kegunaan baru. Bahan-bahan yang
ditambahkan misalnya:
1. Sabun kesehatan
o TCC (Trichorlo Carbanilide)
o Hypo allergenic blend, untuk membersihkan lemak dan jerawat
o Asam salisilat sebagai fungisida
o Sulfur, untuk mencegah dan mengobati penyakit kulit
2. Sabun kecantikan
 Parfum, sebagai pewangi dan aroma terapi
 Vitamin E untuk mencegah penuaan dini
 Pelembab
 Hidroquinon untuk memutihkan dan mencerahkan kulit
1. Shampoo
 Diethanolamine (HOCH2CH2NHCH2CH2OH) untuk mempertahankan pH
 Lanolin sebagai conditioner
 Protein untuk memberi nutrisi pada rambut

Diagram Alir Proses Pembuatan Sabun


D. Reaksi-Reaksi Kimia pada Proses Saponifikasi

Atau

Seperti yang kita ketahui, air adalah substansi kimia dengan rumus kimia
H2O, yaitu molekul yang tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara
kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan
tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and
temperatur 273,15 K (0 °C). Air sering disebut sebagai pelarut universal karena
air melarutkan banyak zat kimia. Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh
dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya
intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air.
Diagram Alir Mekanisme reaksi pada proses Saponifikasi

Mekanisme reaksi Pensulfonatan

E. Manfaat Saponifikasi dan Detergen

Sabun yang banyak dijumpai di pasaran meskipun meski disebut sabun,


sebenarnya adalah detergent, bahan dasar yang di pakai adalah Sodium Lauryl
Sulfate ( SLS), Sodium Laureth Sulfate (SLES) merupakan bahan dasar pembuatan
detergent , SLS berfungsi sebagai surfactant ( surface active agent) atau agen
pembersih. Karena bersifat pembersih, maka lemak – lemak yang berfungsi
untuk melindungi kulit juga ikut larut, sehingga kulit menjadi kering dan
berakibat pada iritasi.

Sabun mandi komersial pada umumnya mengandung banyak senyawa


kimia seperti kandungan petroleum, synthetic chemical, dan petrochemical
(chemicals harmful) yang dapat merusak kulit dan lingkungan. Produsen sabun
mandi komersial mencampur larutan kimia. Ini dilakukan agar mereka dapat
menghasilkan sabun dengan biaya yang serendah mungkin dan dapat
menghasilkan sabun sebanyak mungkin dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Salah satu manfaat dari proses saponifikasi adalah mensintesis sabun


(ester) dengan merubah asam karboksilat dengan air.

Ada sesuatu yang sangat mengagumkan dari sabun; manfaatnya sebagai


pembersih serba guna, Tapi pastikan sabun yang digunakan adalah sabun
berbahan alami sehingga khasiatnya dapat dirasakan bagi kulit dan juga
kebersihan rumah. Berikut 10 manfaat sabun bagi rumah tangga, yaitu :

1. Pembersih kulit.

Anda mungkin akan kagum dengan kandungan emolien yang terdapat pada
sabun alami jika dibandingkan dengan sabun produksi pabrik yang dijual di
pasaran. Emolien dapat melembutkan dan membersihkan kotoran yang melekat
pada kulit. Sabun produksi pabrik pada umumnya tidak lagi mengandung gliserin
(zat yang juga dapat melembutkan kulit), mengandung beberapa bahan sintetis
dan beracun sehingga dapat membuat kulit kering.

2. Membunuh kuman.

Sabun berbahan alami dapat membunuh kuman. Kita dianjurkan untuk


mencuci tangan dengan sabun dan air untuk membasmi kuman khususnya
sebelum makan.

3. Pembasmi serangga.

Selama berabad-abad, sabun juga telah digunakan sebagai pestisida, zat


pembunuh hama pada tanaman. Zat yang terdapat pada sabun merusak sel
membran serangga, mematikannya dengan membuat mereka dehidrasi. Hanya
saja pastikan untuk tidak menggunakan lebih dari 2 sendok makan sabun ke
dalam 3,8 liter air karena terlalu banyak sabun juga dapat mematikan tumbuhan.

4. Anti kutu pada hewan peliharaan.

Sabun dan air bekerja sangat baik untuk membasmi kutu pada hewan
peliharaan di mana kutu akan luruh bersama air setelah bulu hewan disabuni.
Pastikan juga untuk menyisir bagian kepala hewan saat disabuni karena kutu
akan berpindah ke bagian tersebut yang jarang terkena sabun.

5. Pembersih lantai kayu.

Sayangnya, kebanyakan sabun terbuat dari detergen daripada bahan alami.


Pilih sabun buatan tangan alami dan masih mengandung banyak emolien. Sabun
dengan kandungan emolien sangat sempurna untuk membersihkan lantai kayu
rumah dan membuatnya lebih mengkilap.

6. Pelicin karat.

Gosokkan sabun pada mur dan baut yang berkarat untuk membuatnya
kembali berfungsi dengan baik. Atau jika ada pintu yang engselnya berderit,
Anda bisa menggunakan sabun untuk melicinkan engsel dan meredam bunyinya.

7. Pembersih bahan kulit.

Sabun kuda/pelana merupakan bahan jaman dulu yang dapat digunakan


untuk membersihkan bahan-bahan kulit. Cara membuatnya: 56 gr minyak
jojoba , 56 gram minyak zaitun, 28 gr parutan/irisan sabun atau sabun cair, 84
gram air, dan 28 gram alkohol. Panaskan minyak jojoba, zaitun, dan sabun
dengan suhu medium. Setelah semuanya mencair, angkat dari kompor dan
tambahkan air serta alkohol, lalu segera aduk hingga semua bahan tercampur
rata. Produk ini biasanya akan bertahan sekitar 6 bulan jika diletakkan di dalam
toples dengan tutup yang rapat.

8. Pencuci pakaian.

Hampir setiap cucian baju dicuci dengan menggunakan detergen. Jika Anda
memiliki kualitas air rumah yang baik, lebih baik gunakan sabun batangan
berbahan alami untuk mencuci pakaian (bukan yang mengandung detergen).
Namun jika airnya tidak bagus, silakan memakai detergen. Pada dasarnya, sabun
sangat baik untuk menyingkirkan kotoran pada pakaian.

9. Pembersih kaca.

Kebanyakan di antara kita membersihkan kaca jendela untuk yang pertama


kali dengan meggunakan cuka dan lantas menjadi kesal dengan hasilnya yang
buruk. Padahal, sejak dulu sabun dengan cuka dan air diketahui cukup ampuh
untuk membersihkan kaca. Untuk jendela baru, bersihkan terlebih dulu dengan
sabun. Setelah itu, membersihkannya dengan cuka saja pun sudah cukup.

10. Pembersih serba guna.

Sabun adalah alkalin dan dikombinasikan dengan beberapa mineral seperti


baking soda, borak, atau washing soda yang sangat ampuh untuk beragam
pekerjan bersih-bersih.

BAB III

KESIMPULAN

Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari


reaksi saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya
basa lemah (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol.
Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat. Hidrolisis
ester dalam suasana basa bisa disebut juga saponifikasi.

Pada perkembangan selanjutnya bentuk sabun menjadi bermacam-macam,


yaitu:
Sabun cair
Sabun lunak
Sabun keras
Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun,
dan air. Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lem.
Sabun merupakan garam dari asam lemah, larutannya agak basa karena adanya
hidrolisis parsial.

Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk


membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi.
Dibanding dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain
mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan
air.

Diposkan oleh Chemical_UINbdg di 02:39

Label: kimia industri

1 komentar:

1.

Cinta Nisa15 Januari 2010 18:50

Beli jojoba oil nya dimana ya?

BalasHapus

Tambahkan komentar
Muat yang lain...

Posting Lebih Baru Beranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Pengikut

Arsip Blog

 ▼  2009 (5)
o ►  Juli (2)
o ▼  Juni (3)
 BAB I PENDAHULUAN Dulu margarin sering diiklanka...
 pembuatan margarine
 Safonifikasi

Mengenai Saya

Chemical_UINbdg

Lihat profil lengkapku

[Link]

Fungsi ethanol pada proses pembentukan sabun adalah memfasilitasi reaksi


NaOH dan asam lemak. Perlu kita ketahui NaOH dan asam lemah dapat larut
dalam etanol (meskipun tingkat kelarutannya rendah). Setelah kedua pereaksi
berada pada fasa yang sama, maka reaksi dapat berlangsung lebih mudah.

Ethanol (ethyl alcohol), berfungsi sebagai pelarut pada proses pembuatan


sabun transparan karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak.
Kenapa harus Alkohol 96%?
Fungsi alkohol 96% adalah untuk membuat sabun transparan menjadi bening /
clear

Natrium Klorida dikenal juga sebagai garam, garam dapur, garam meja.
Merupakan senyawa ionik dengan rumus NaCl. NaCl adalah garam yang paling
bertanggung jawab atas salinitas dari laut dan dari cairan extrakulikuler dari
multiser banyak organisme sebagai bahan utama dalam garam yang dapat
dimakan ini, biasanya digunakan sebagai bumbu makan dan makanan pengawet.
Dalam pembuatan sabun cair fungsinya sebagai pengental sabun yang masih
berupa air.

 Natrium Klorida (NaCl)Fungsi : Sebagai bahan pembentuk kristal [Link]-


sifat :Berat Molekul : 58,5 kg/kmolTitik Lebur : 800,4
0
C (760 mmHg)Titik Didih : 1412
0
C (760 mmHg)Densitas : 2,163 gr/m

 
R-COOH + NaOH

R-COO-Na + H
2
O
  Neat soap
yang terbentuk pada mixer (M-01) dipompakan ke dalam mixer (M-02).
Kemudian zat aditif separti EDTA yang berfungsi sebagai zat antioksidanuntuk
memperlambat teroksidasinya produk dan juga sebagai pencegahkontaminasi
logam dalam
neat soap
, TiO
2
yang berfungsi sebagai bahan pembentuk kristal sabun dan gliserin berfungsi
sebagai pelembab, dipompakan kedalam mixer (M-02) dari tangki bahan baku (T-
04). Pada mixer (M-02) pencampuran antara
 Neat Soap
dangan zat – zat ditif tidak menghasilkan [Link] antara bahan –
bahan aditif ini dengan sabun dilakukan pada suhuoperasi 85
0
C.
 Neat soap
yang sudah terbentuk kemudian diipanaskan secara bertahap pada dua buah
evaporator (V-01,V-02) untuk mengurangi kandungan air dengansuhu 100
0
C dan 110
0
C. Pemanasan harus dilakukan secara bertahap agar 
neat  soap
yang terbentuk tidak menghasilkan kerak sabun dan warnanya putihmengkilat dan
tidak kekuningan – kuningan (Basiron, 2004).
 Neat soap
yang kandungan airnya sudah berkurang antara 10-15%,kemudian dipompakan
kedalam
vacum spray chamber 
(VSC-01). Pada
VacumSpray Chamber 
, kandungan air pada
neat soap
juga dikurangi tetapi dalamkondisi vacum. Sehingga dihasilkan
neat soap
yang moisturenya (kandunganairnya) memenuhi standar pasar. Uap air dari
neat soap
akan dihisapmenggunakan ejector (E-01) dan kemudian akan dikondensasikan
oleh condenser dan ditransfer ke dalam
cooling tower 
.
 Neat soap
dari VSC di-
 plodd 
-kan pada
 plodder 
(PL-01) dan dipotong- potong untuk dibentuk menjadi
noodle-noodle
.
Universitas Sumatera Utara
 
Dalam perancangan ini akan dihasilkan
noodle soap
dalam
toilet soap
 yang dengan spesifikasinya adalah sebagai berikut:a.
 
TMF (
total fatty matter 
) 70-80%TMF adalah jumlah sodium palmitat yang terbentuk  b.
 
 NaC1 0,06%c.
 
Kandungan air 11-13%d.
 
Free caustic 0,05%e.
 
EDTA 0,1%f.
 
TIO2 0,2%(Sumber :
 Advances In Oil Palm Research
, 2000)Kemudian
noodle-noodle soap
tersebut di-packing kedalam karung plastik dan karung kertas dan siap untuk
disimpan digudang penyimpanan produk akhir (G-02) untuk selanjutnya dijual ke
pabrik pengolahan sabun selanjutnya.
2.8.
 
Penentuan Kapasitas
Prarancangan pembuatan
noodle soap
dari asam palmitat dan natriumhidroksida dengan proses netralisasi direncanakan
berproduksi pada tahun 2015dengan kapasitas produksi 4.500 ton/tahun.
Universitas Sumatera Utara
untuk analisis kandungan COD dalam limbah, menggunakan larutan buffer (penyangga)
asam basa, dan larutan asam sulfat.
- larutan buffer lain dalam analisis kandungan zat dalam limbah.
- untuk mengawetkan makanan, sehingga ada makanan yang diasamkan.
- untuk membantu pelarutan bahan baku industri.
- untuk membersihkan kotoran yang melekat di mesin (sabun/detergen).

Anda mungkin juga menyukai