IGBT
IGBT
SKRIPSI
PRASETYA WIDODO
0806366226
UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM SARJANA EKSTENSI
DEPOK
JULI 2010
RANCANG BANGUN INVERTER 3 FASA DENGAN INSULATED
GATE BIPOLAR TRANSISTOR (IGBT) MENGGUNAKAN
METODE NATURAL PWM BERBASIS MIKROKONTROLER
AT90PWM3
SKRIPSI
PRASETYA WIDODO
0806366226
UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
DEPOK
JULI 2010
i Universitas Indonesia
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
NPM : 0806366226
Tanda Tangan :
ii Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dilakukan
dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Teknik
Jurusan Elektro pada Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Saya menyadari
bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan
sampai pada penyusunan skripsi ini, saya mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Dr. Ir. Feri Yusivar [Link], dan Ir. Aries Subiantoro [Link] selaku dosen
pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk
mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini;
(2) Orang tua tercinta, istri, kakak-kakak dan keluarga besar yang telah memberikan
bantuan dukungan material dan moral;
(3) Staf Departemen Teknik Elektro UI
(4) Teman-teman yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini
Koh Liang sekeluarga, Andri, Dannie, Suryo, Friedolin, Setiadi, rekan-rekan di
bidang TNK PTKMR BATAN dan yang lainnya tidak bisa saya sebutkan satu per
satu.
Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua
pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat dunia akherat
(Prasetya Widodo)
NPM. 0806366226
iv Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan,
mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat, dan memublikasikan skripsi saya tanpa meminta izin dari saya selama
tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak
Cipta.
Dibuat di : Depok
Pada tanggal : 7 Juli 2010
Yang menyatakan
( Prasetya Widodo)
v Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
Prasetya Widodo Dosen Pembimbing
NPM : 0806366226 Ir. Aries Subiantoro [Link]
Departemen Teknik Elektro
RANCANG BANGUN INVERTER 3 FASA DENGAN INSULATED
GATE BIPOLAR TRANSISTOR (IGBT) MENGGUNAKAN
METODE NATURAL PWM BERBASIS MIKROKONTROLER
AT90PWM3
ABSTRAK
vi Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
Prasetya Widodo The lecturer of consultant
NPM : 0806366226 Ir. Aries Subiantoro [Link]
Electrical Engineering Department
3 PHASE INVERTER DESIGN WITH INSULATED GATE BIPOLAR
TRANSISTOR (IGBT ) USING NATURAL PWM METHOD USING
BASED ON AT90PWM3 MICROCONTROLLER
ABSTRAC
Along with the development of portable devices and solar cell devices, and so we
need an inverter device which has high efficiency so power wastage can be
minimized. One way to improve the efficiency of the inverter is to use a good
semiconductor switches so that switching losses can be minimized. Insulated Gate
Bipolar Transistor (IGBT) is a switching device which has high switching speed,
and high input impedance so the controller circuit can control it easily.
furthermore the IGBT’s impedance when conduct (RON) is small. So that IGBT is
suitable to operate at large currents, up to hundreds
hundreds of amperes, without the power
losses significantly. Control switch in the inverter can be performed using Natural
PWM (Sinusoidal PWM). The advantage of this method is simple and flexible
means of amplitude and frequency of its output can be set and low harmonic
distortion at the output voltage. AT90PWM3 microcontroller is one of the
microcontroller that can generate three pieces of SPWM at once. so that it suitable
for switch controller application in three phase inverter.
inverter. One type of inverter is a 3
phase PWM (Pulse Width Modulation) inverter. PWM inverter operating
advantage are low harmonic distortion in output voltage when compared with
other types of inverters. Natural PWM method can be used to generate sinusoidal
PWM is needed for PWM inverter operation. By using the IGBT as the
semiconductor switches in the PWM inverter is expected to increase the efficiency
of the inverter.
JUDUL i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
UCAPAN TERIMA KASIH iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
SEMINAR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS v
ABSTRAK vi
ABSTRAC vii
DAFTAR ISI viii
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR TABEL x
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tujuan Seminar 2
1.3. Batasan Masalah 2
1.4. Sistematika Penulisan 2
BAB 2 DASAR TEORI
2.1. Inverter 3
2.1.1. Pulse Width Modulation (PWM) 3
2.1.2. Inverter Tiga Fasa Pulse Width Modulation (PWM) 8
2.2. IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) 10
2.2.1. Rumus-Rumus IGBT 12
2.3. Natural PWM 12
2.4. Power Stage Controller (PSC) 13
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM INVERTER
3.1. Blok Diagram Rancangan Inverter 16
3.2. Rancangan Inverter 16
3.2.1. Hardware 16
[Link]. IGBT(Insulated Gate Bipolar Transistor) 16
Halaman
Lampiran1 Datasheet modul IGBT 7MBP75NA060-01 36
Lampiran1 Datasheet microcontroller AVR AT90PWM3 39
Salah satu jenis inverter yaitu inverter PWM (Pulse Width Modulation) 3 fasa.
Keuntungan operasi inverter PWM yaitu rendahnya distorsi harmonik pada
tegangan keluaran jika dibandingkan dengan jenis inverter lainnya. Metode
natural PWM dapat digunakan untuk membangkitkan sinusoidal PWM yang
dibutuhkan untuk operasi inverter PWM. Kelebihan metode natural PWM yaitu
1 Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
2
1.2 TUJUAN
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk merancang sebuah perangkat inverter PWM
3 fasa dengan menggunakan perangkat switching IGBT dengan kendali natural
PWM berbasis mikrokontroler AVR AT90PWM3.
Batasan masalah pada skripsi ini yaitu perancangan perangkat inverter PWM 3
fasa dengan menggunakan perangkat switching IGBT dengan metode kendali
natural PWM berbasis mikrokontroler AVR AT90PWM3 tanpa ditambahkan
harmonik dalam frekuensi dasarnya .
Sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : Bab satu berisi latar
belakang penulisan skripsi, tujuan penulisan skripsi, pembatasan pembahasan
masalah serta sistematika dalam penulisan skripsi. Bab dua membahas mengenai
teori singkat mengenai inverter, IGBT, metode natural PWM serta fitur PSC
(Power Stage Controller). Bab tiga mengulas mengenai perancangan inverter.
Dalam bab ini dijelaskan mengenai bagian-bagian dari inverter yang dirancang
dalam skripsi ini baik hardware maupun software. Selain itu dijelaskan pula
alasan penggunaan komponen-komponen yang ada seperti IGBT, mikrokontroler
dan lainnya. . Bab empat membahas mengenai pengujian sistem yang telah di
realisasikan yang meliputi pengujian keluaran PSC, pengujian driver dan
pengujian parameter sistem. Terakhir pada bab lima disajikan kesimpulan dari
penulisan skripsi ini.
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
BAB 2
DASAR TEORI
2.1 Inverter
Inverter adalah rangkaian yang mengubah dc menjadi ac. Atau lebih tepatnya
inverter memindahkan tegangan dari sumber dc ke beban ac. Inverter digunakan
pada aplikasi seperti adjustable-speed ac motor drives, uninterruptible power
supplies (UPS), dan aplikasi AC(Alternating Current) yang dijalankan dari
baterai.
a. Bipolar Switching
Prinsip Sinusoidal Bipolar PWM di tampilkan pada Gambar 2.2. Ketika nilai
referensi sinus lebih besar dari carrier segitiga,maka outputnya adalah +Vdc dan
ketika referensi sinus kurang dari carrier segitiga maka outputnya adalah –Vdc:
= +
>
= −
<
3 Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
4
Tipe PWM seperti ini disebut bipolar karena outputnya bergantian antara plus
supply tegangan dc dan minus supply tegangan dc.
Gambar 2.2 : Bipolar PWM. (a) referensi sinusoidal dan carrier segitiga.
(b) Output +Vdc ketika
> dan –Vdc ketika
< [1]
Universitas Indonesia
b. Unipolar Switching
Untuk PWM pada pola unipolar switching, output digeser dari high ke nol atau
dari low ke nol. sekali siklus pola unipolar switching melakukan kendali saklar
sebagai berikut :
Perlu dicatat bahwa pasangan saklar (S1,S4) dan (S2,S3) adalah komplementer,
ketika salah satu saklar dalam pasangan terbuka maka yang lainnya tertutup.
Tegangan va dan vb pada Gambar 2.3 bergantian antara +Vdc dan nol. Tegangan
output vo = vab = va – vb
Gambar 2.3 : (a) Full bridge converter untuk unipolar PWM. (b) Sinyal referensi dan sinyal
carrier. (c) Tegangan jembatan va dan vb. (d) Tegangan output[1]
Universitas Indonesia
Pada pola unipolar switching yang lain,satu pasang saklar beroperasi pada
frekuensi carrier sementara pasangan lainnya beroperasi pada frekuensi referensi,
sehingga disini terdapat dua saklar frekuensi tinggi dan dua saklar frekuensi
rendah. Pola switching-nya yaitu:
Dimana gelombang sinus dan segitiga seperti yang ditampilkan pada Gambar 2.4.
kemungkinan lain, S2 dan S3 menjadi saklar frekuensi tinggi, dan S1 dan S4
menjadi saklar frekuensi rendah.
Gambar 2.4 : Unipolar PWM dengan saklar frekuensi tinggi dan saklar frekuensi rendah. (a)
Sinyal referensi dan sinyal control. (b) va (gambar 2.1). (c) vb. (d) Output va – vb.[1]
Universitas Indonesia
#$% #'()*'
!" = =
#& #
(2-1)
Meningkatkan frekuensi carrier (meningkatkan mf) akan meningkatkan
frekuensi dimana harmonik itu terjadi. Kerugian dari switching frekuensi tinggi
adalah loss yang lebih tinggi pada saklar-saklar yang digunakan
untukimplementasi inverter
2. Perbandingan modulasi amplitudo ma : didefinisikan sebagai perbandingan
amplitudo sinyal referensi dan sinyal carrier :
/ = !
(2-3)
Amplitudo frekuensi dasar dari output PWM dikendalikan oleh ma. Hal ini
penting pada kasus tegangan supply dc yang tidak diregulasi karena nilai ma
dapat diatur untuk mengimbangi variasi pada tegangan supply dc, sehingga
menghasilkan output amplitudo yang konstan. Selain itu, ma bisa divariasi
untuk merubah amplitudo output. Jika ma lebih besar dari 1, amplitude output
meningkat sesuai dengan ma, tetapi tidak linier.
Universitas Indonesia
3. Saklar : Saklar pada rangkaian jembatan penuh (full bridge) harus bisa
membawa arus pada salah satu arah PWM. Saklar tidak bisa ON atau OFF
dengan seketika. Karena itu perlu disediakan waktu switching pada kendali
saklar.
4. Tegangan Referensi : Tegangan referensi sinusoidal harus dibangkitkan dalam
rangkaian kontrol inverter atau diambil dari referensi luar.[1]
Pada kasus six step three phase inverter saklar pada Gambar 2.5 dikendalikan
secara berpasangan (S1,S4),(S2,S5),dan (S3,S6). Ketika satu saklar tertutup maka
saklar pasangannya akan terbuka. Setiap pasangan saklar membutuhkan
gelombang referensi sinusoidal secara terpisah. Ketiga referensi sinusoid terpisah
1200 untuk menghasilkan output 3 phasa yang seimbang. gelombang carrier
Universitas Indonesia
segitiga dan ketiga gelombang referensi diperlihatkan pada gambar Gambar 2.6.
Kendali saklarnya adalah sebagai berikut :
Gambar 2.6 : (a) gelombang carrier dan gelombang referensi untuk operasi PWM. (b) bentuk
output-arus untuk beban R-L. [1]
Universitas Indonesia
Struktur IGBT sebenarnya mirip dengan konstruksi MOSFET, hanya pada IGBT
terdapat penambahan layer p+ pada bagian drain struktur MOSFET. Seperti
MOSFET daya tegangan positif antara gate dan emitter akan menghasilkan aliran
arus melewati IGBT sehingga IGBT ON. Ketika IGBT ON pembawa positif
(positive carriers) disuntikkan dari layer p+ ke layer dasar tipe n, dengan
demikian akan mempercepat modulasi daya konduksi. Hal ini memungkinkan
IGBT untuk memiliki resistansi ON yang jauh lebih rendah dari pada MOSFET.
Resistansi layer dasar tipe n pada IGBT menjadi sangat kecil karena pengaruh
diode pn yang terbentuk oleh hubungan tambahan layer p+ dan layer dasar tipe n
ketika di lihat dari sisi drain. Seperti pada rangkaian ekivalen IGBT pada Gambar
2.8. IGBT adalah sebuah monolithic cascade pnp bipolar transistor dan MOSFET
yang terhubung secara darlington.
Universitas Indonesia
Input dari IGBT adalah terminal Gate dari MOSFET, sedang terminal Source dari
MOSFET terhubung ke terminal Basis dari BJT. Dengan demikian, arus drain
keluar dan dari MOSFET akan menjadi arus basis dari BJT. Karena besarnya
tahanan masuk dari MOSFET, maka terminal input IGBT hanya akan menarik
arus yang kecil dari sumber. Di pihak lain, arus drain sebagai arus output dari
MOSFET akan cukup besar untuk membuat BJT mencapai keadaan saturasi.
Dengan gabungan sifat kedua elemen tersebut, IGBT mempunyai perilaku yang
cukup ideal sebagai sebuah saklar elektronik. Di satu pihak IGBT tidak terlalu
membebani sumber, di pihak lain mampu menghasilkan arus yang besar bagi
beban listrik yang dikendalikannya. Selain itu, kecepatan switching IGBT juga
lebih tinggi dibandingkan transistor bipolar, meskipun lebih rendah dari MOSFET
yang setara. Di lain pihak, terminal output IGBT mempunyai sifat yang
menyerupai terminal output (kolektor-emitter) transistor bipolar. Dengan kata
lain, pada saat keadaan menghantar, nilai tahanan menghantar (Ron) dari IGBT
sangat kecil, menyerupai Ron pada transistor bipolar. Dengan demikian bila
tegangan jatuh serta lesapan dayanya pada saat keadaan menghantar juga kecil.
Dengan sifat-sifat seperti ini, IGBT akan sesuai untuk dioperasikan pada arus
yang besar, hingga ratusan ampere, tanpa terjadi kerugian daya yang cukup
berarti.
Universitas Indonesia
Dari persamaan di atas dapat dikatakan bahwa temperatur maksimum yang bisa
56789 :5;
<=6;
dibuang ( ), sama dengan panas maksimal yang disebabkan oleh
conduction loss ( >? ∙ A> ). Jika switching loss diabaikan maka besar IC adalah
56789 :5;
A> = < ∙ G;HIJ
(2-5)
=6;
:P±√PS :T$
menggunakan persamaan kuadrat O = N
dengan U = B>? ;
56789 :5;
V = >?K% dan W = −
<=6;
diperoleh persamaan
S ]6789 ^];
:LG;HXYZI M±[LG;HXYZI M :TL<;HIJ M\: `
_=6;
A> = NL<;HIJ M
(2-8)
IC pada persamaan 2-11 menunjukkan arus dc kontinyu (ketika IGBT fully ON)
yang menyebabkan die memanas sampai temperatur junction maksimum
Universitas Indonesia
Gambar 2.9. Sinyal referensi sinusoidal dan carrier segitiga serta sinyal PWM yang dihasilkan
Prinsip kerja SPWM adalah mengatur lebar pulsa mengikuti pola gelombang
sinusoida. Sinyal sinus dengan frekuensi fm dan amplitudo maksimum Am sebagai
referensi digunakan untuk memodulasi sinyal carrier yaitu sinyal segitiga dengan
frekuensi fc dan amplitudo maksimum Ac. Sebagai gelombang carrier, frekuensi
sinyal segitiga harus lebih tinggi dari pada gelombang pemodulasi (sinyal sinus).
Perbandingan antara amplitudo gelombang sinusoida (Am) dengan gelombang
segitiga (Ac) disebut indek modulasi amplitudo (ma)
Masing-masing PSC bisa dianggap sebagai generator PWM dengan dua output
yang komplementer. PSC mempunyai 2 input yang bisa menghentikan atau
memicu ulang gelombang sehingga memungkinkan PSC dapat berjalan sendiri
tanpa membutuhkan tambahan embedded software. Misalnya pada deteksi arus.
Arus bisa diawasi dengan sebuah komparator yang bisa memicu PSC untuk
membangkitkan gelombang jika arus maksimum tercapai.
Universitas Indonesia
Sumber clock PSC bisa berupa fast clock seperti output dari PLL(Phase Lock
Loop) 64 MHz sehingga PSC dapat membangkitkan PWM berkecepatan tinggi
dengan resolusi yang tinggi. Atau PSC juga bisa diberikan clock yang lebih
lambat seperti PLL intermediate output atau dengan clock dari CPU (CLKio).
Selain itu PSC juga mempunyai prescaller untuk membangkitkan sinyal dengan
frekuensi yang sangat rendah.
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Pada bab ini akan disajikan perancangan alat, berupa perangkat keras untuk
mewujudkan sebuah perangkat inverter untuk mengubah tegangan dari sumber dc
menjadi tegangan ac :
16 Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
17
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
18
Catu daya untuk rangkaian driver IGBT berjumlah 4 buah yaitu 3 rangkaian
driver IGBT lengan atas, dan satu untuk rangkaian driver IGBT lengan bawah.
Sedangkan catu daya untuk rangkaian alarm digabungkan dengan catu daya untuk
mikrokontroler karena sama-sama membutuhkan tegangan +5Vdc, seperti yang di
perlihatkan pada gambar 3.4.
Gambar 3.4 : skematik catu daya untuk minimum system mikrokontroler AT90PWM3.
Gambar 3.5 : rangkaian catu daya untuk driver IGBT dan mikrokontroler AT90PWM3.
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
19
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
20
[Link]. Driver
Rangkaian driver merupakan antarmuka antara mikrokontroler dengan IGBT.
Pada rangkaian driver digunakan optocoupler yang berfungsi untuk memisahkan
mikrokontroler yang merupakan perangkat tegangan rendah (low voltage) dengan
IPM (Integrated Power Module) yang merupakan perangkat tegangan tinggi (high
voltage). Untuk masing-masing IGBT mempunyai satu rangkaian driver sendiri-
sendiri. Skematik rangkaian driver diperlihatkan pada Gambar 3.9. Dari gambar
tersebut terlihat output rangkaian ini tersambung ke IPM yaitu ke kaki-kaki Vin
IGBT, Vcc dan GND. Rangkaian driver U, V, dan W mempunyai Vcc serta GND
yang terpisah (floating). Sedangkan Vcc serta GND rangkaian driver X, Y, dan Z
digabungkan menjadi satu. Kaki anoda optocoupler terhubung ke kaki output
mikrokontroler dan kaki katoda optocoupler terhubung ke GND rangkaian
mikrokontroler. Spesifikasi optocoupler yang digunakan yaitu TLP 759 untuk
antarmuka kendali dan TLP521 untuk antarmuka alarm.
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
21
3.2.2. Software
Program kendali IGBT pada rancang bangun inverter ini dibuat dengan
menggunakan bahasa C dengan menggunakan kompiler AVR Studio GCC. Dalam
rancang bangun inverter ini algoritma yang digunakan yaitu Natural PWM
Algorithm. Algoritma natural PWM menggunakan sinus tabel untuk
membangkitan gelombang sinus. Nilai input frekuensi dimasukkan ke integrator
kemudian nilai integerator dimasukkan ke dalam sinus tabel. Selanjutnya nilai
sinus tabel dikalikan dengan nilai input amplitudo. Hasilnya kemudian
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
22
Pada skripsi ini sebuah sinus tabel digunakan untuk membangkitkan 3 buah
gelombang sinus yang masing-masing memiliki pergeseran fasa sebesar 120
derajat. Ilustrasi aplikasi sinus tabel untuk membangkitkan gelombang sinus
diperlihatkan pada Gambar 3.12.
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
23
Mulai
Inisialisasi PSC_load(PWM0,
theta,theta2,theta3,dead_time,MAX_theta, PWM0+DeadTime, PWM2,
MAX_theta2,MAX_theta3,MAX_theta4,sin PWM2+DeadTime, PWM1,
us tabel, PORT,PSC, PWM1+DeadTime)
Write to
Set nilai awal
pscout0;pscout1;pscout3
SPWM
Set nilai
amplitudo,nilai
omega_t
Duty_cycle(theta,amplitudo)
PWM=duty_cycle(theta,amplitudo)
Sinus_tabel(MAX_theta4-theta)
Tidak
Ya
Vmxsin=(Vmxsin x
Tidak amplitudo)/MAX_sin
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
24
Dari Gambar 2.12 dapat dijelaskan, sinus tabel yang digunakan dalam skripsi ini
mempunyai panjang 120 step. Untuk menghemat memory maka sinus tabel dibuat
dengan nilai sin(θ) dari 0 sampai dengan π/2. Untuk menghasilkan satu
gelombang sinus utuh, gelombang sinus dibagi menjadi 4 kuadran yaitu :
a. Kuadran 1 : untuk θ antara 0 sampai dengan π/2
b. Kuadran 2 : untuk θ antara π/2 sampai dengan π
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
BAB 4
PENGUJIAN
Pada bab 4 akan dibahas tentang pengujian dan analisa hasil dari sistem
inverter yang telah di rancang dan direalisasikan. Pengujian yang dilakukan yaitu:
1. Pengujian keluaran sinusoidal PWM dari PSC0, PSC1 dan PSC2.
2. Pengujian sinyal keluaran driver U, V, W, X, Y dan Z
3. Pengujian parameter amplitudo dan frekuensi
4.1. Pengujian Keluaran Sinusoidal PWM dari PSC0, PSC1 dan PSC2
Gambar 4.2 : Keluaran sinusoidal PWM kaki pin PSCOUT00 dan PSCOUT01.
25 Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
26
Dari gambar 4.2 tampak frekuensi carrier-nya adalah 3 KHz. Sedang frekuensi
SPWM-nya adalah:
Nilai time/div = 4 ms
Panjang 1 gelombang = 5 kotak
Periode gelombang = 5 x 4ms = 20ms
Frekuensi gelombang = 1/20ms = 0.005kHz = 50 Hz
Gambar 4.3 : Keluaran sinusoidal PWM kaki pin PSCOUT10 dan PSCOUT11.
Gambar 4.4 : Keluaran sinusoidal PWM kaki pin PSCOUT20 dan PSCOUT21.
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
27
Pada Gambar 4.4 ditunjukkan hasil keluaran sinusoidal PWM dari PSC2.
Keluaran gelombang SPWM dari PSC2 mempunyai frekuensi yang sama dengan
keluaran gelombang SPWM dari PSC0 dan PSC1. Selain itu masing-masing
keluaran gelombang SPWM dari PSC0, PSC1 dan PSC2 berbeda fasa 1200. Hal
ini dibuktikan pada Gambar 4.5 dan Gambar 4.6.
Gambar 4.5 : Keluaran sinusoidal PWM dari PSC0 vs Keluaran sinusoidal PWM dari PSC1.
Gambar 4.6 : Keluaran sinusoidal PWM dari PSC1 vs Keluaran sinusoidal PWM dari PSC2.
Pin U, V, dan W merupakan lengan gate IGBT bagian atas dimana masing-
masing pin tersebut floating (terpisah), sedangkan pin X, Y dan Z merupakan
lengan gate IGBT bagian bawah, ketiga pin ini mempunyai Vcc dan GND yang
sama. Jadi U dan X, V dan Y, serta W dan Z merupakan pasangan-pasangan
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
28
Hasil pengujian sinyal pada pin U dan X ditunjukkan pada Gambar 4.7.
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
29
Dari gambar keluaran sinusoidal PWM pada keluaran optocoupler tampak bentuk
gelombangnya sedikit berbeda dengan bentuk gelombang keluaran dari pin PSC
mikrokontroler, Hal ini dikarenakan adanya switching time dispersion dari
optocoupler sebesar 0,25 sampai 0,8 µs. Switching time dispersion merupakan
selisih antara tundaan waktu propagasi dari L ke H dan tundaan waktu propagasi
dari H ke L.
Agar menghasilkan bentuk sinyal yang terbaik maka dilakukan pengujian dengan
memasukkan parameter yang berbeda pada program. Perubahan nilai amplitudo
akan menghasilkan perubahan panjang ton dan toff. Sedangkan untuk frekuensi
ditentukan oleh besarnya update nilai . Nilai untuk siklus gelombang SPWM
berikutnya dihitung dengan rumus
·
⁄
berikut Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 menunjukan hasil pengujian nilai
dan k
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
30
k
Perioda Frekuensi Resolusi
16 157 8ms 125 Hz 11,09
32 157 20ms 50 Hz 20,31
64 157 40ms 25 Hz 34,75
128 157 80ms 12.5 Hz 53,89
16 314 4ms 250 Hz 5,81
32 314 8ms 125 Hz 11,09
64 314 20ms 50 Hz 20,31
128 314 40ms 25 Hz 34,75
16 471 2ms 500 Hz 3,94
32 471 6ms 166,7 Hz 7,63
64 471 10ms 100 Hz 14,35
128 471 30ms 33.3 Hz 25,6
k
Perioda Frekuensi Resolusi
16 157 8ms 125 Hz 11,09
16 314 4ms 250 Hz 5,81
16 471 2ms 500 Hz 3,94
32 157 20ms 50 Hz 20,31
32 314 8ms 125 Hz 11,09
32 471 6ms 166,7 Hz 7,63
64 157 40ms 25 Hz 34,75
64 314 20ms 50 Hz 20,31
64 471 10ms 100 Hz 14,35
128 157 80ms 12.5 Hz 53,89
128 314 40ms 25 Hz 34,75
128 471 30ms 33.3 Hz 25,6
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
31
Dari Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa semakin tinggi nilai k maka nilai resolusi
gelombangnya akan semakin baik, namun nilai frekuensi maksimalnya rendah.
sebaliknya dari Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa semakin tinggi nilai
maka
frekuensinya akan semakin tinggi namun resolusinya akan semakin buruk.
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
BAB 5
KESIMPULAN
32 Universitas Indonesia
33
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
DAFTAR PUSTAKA
Application note Atmel(2005). “AVR494 : AC Induction Motor Control Using the constant
V/f Principle and Natural PWM Algorithm”.[Link]
34
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
LAMPIRAN
DATASHEET IC MIKROKONTROLER AVR AT90PWM3
36
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
Features
• High Performance, Low Power AVR ® 8-bit Microcontroller
• Advanced RISC Architecture
– 129 Powerful Instructions - Most Single Clock Cycle Execution
– 32 x 8 General Purpose Working Registers
– Fully Static Operation
– Up to 1 MIPS throughput per MHz
– On-chip 2-cycle Multiplier
• Data and Non-Volatile Program Memory
– 8K Bytes Flash of In-System Programmable Program Memory 8-bit
• Endurance: 10,000 Write/Erase Cycles
– Optional Boot Code Section with Independent Lock Bits Microcontroller
• In-System Programming by On-chip Boot Program
• True Read-While-Write Operation
with 8K Bytes
•
– 512 Bytes of In-System Programmable EEPROM
Endurance: 100,000 Write/Erase Cycles
In-System
– 512 Bytes Internal SRAM Programmable
– Programming Lock for Flash Program and EEPROM Data Security
• On Chip Debug Interface (debugWIRE) Flash
• Peripheral Features
– Two or three 12-bit High Speed PSC (Power Stage Controllers) with 4-bit
Resolution Enhancement
• Non Overlapping Inverted PWM Output Pins With Flexible Dead-Time
AT90PWM2
• Variable PWM duty Cycle and Frequency
• Synchronous Update of all PWM Registers
AT90PWM3
• Auto Stop Function for Event Driven PFC Implementation
• Less than 25 Hz Step Width at 150 kHz Output Frequency
• PSC2 with four Output Pins and Output Matrix
– One 8-bit General purpose Timer/Counter with Separate Prescaler and Capture
Mode AT90PWM2B
– One 16-bit General purpose Timer/Counter with Separate Prescaler, Compare
Mode and Capture Mode AT90PWM3B
– Programmable Serial USART
• Standard UART mode
• 16/17 bit Biphase Mode for DALI Communications
– Master/Slave SPI Serial Interface
– 10-bit ADC
• Up To 11 Single Ended Channels and 2 Fully Differential ADC Channel Pairs
• Programmable Gain (5x, 10x, 20x, 40x on Differential Channels)
• Internal Reference Voltage
– 10-bit DAC
– Two or three Analog Comparator with Resistor-Array to Adjust Comparison
Voltage
– 4 External Interrupts
– Programmable Watchdog Timer with Separate On-Chip Oscillator
• Special Microcontroller Features
– Low Power Idle, Noise Reduction, and Power Down Modes
– Power On Reset and Programmable Brown Out Detection
– Flag Array in Bit-programmable I/O Space (4 bytes)
4317I–AVR–01/08
3. Pin Configurations
Figure 3-1. SOIC 24-pin Package
AT90PWM2/2B
SOIC24
AT90PWM3/3B
SOIC 32
3
4317I–AVR–01/08
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
Figure 3-3. QFN32 (7*7 mm) Package.
AT90PWM3/3B QFN 32
PB6 (ADC7/PSCOUT11/ICP1B)
PD0 (PSCOUT00/XCK/SS_A)
PB7 (ADC4/PSCOUT01/SCK)
PC0(INT3/PSCOUT10)
PD1(PSCIN0/CLKO)
PE0 (RESET/OCD)
PB5 (ADC6/INT2)
PC7 (D2A)
32
31
30
29
28
27
26
25
(PSCIN2/OC1A/MISO_A) PD2 1 24 PB4 (AMP0+)
(TXD/DALI/OC0A/SS/MOSI_A) PD3 2 23 PB3 (AMP0-)
(PSCIN1/OC1B) PC1 3 22 PC6 (ADC10/ACMP1)
VCC 4 21 AREF
GND 5 20 AGND
(T0/PSCOUT22) PC2 6 19 AVCC
(T1/PSCOUT23) PC3 7 18 PC5 (ADC9/AMP1+)
(MISO/PSCOUT20) PB0 8 17 PC4 (ADC8/AMP1-)
10
11
12
13
14
15
16
9 (MOSI/PSCOUT21) PB1
(OC0B/XTAL1) PE1
(ADC0/XTAL2) PE2
(ADC1/RXD/DALI/ICP1_A/SCK_A) PD4
(ADC2/ACMP2 ) PD5
(ADC3/ACMPM/INT0) PD6
(ACMP0) PD7
(ADC5/INT1) PB2
:
Table 3-1. Pin out description
S024 Pin SO32 Pin QFN32 Pin
Number Number Number Mnemonic Type Name, Function & Alternate Function
4 AT90PWM2/3/2B/3B
4317I–AVR–01/08
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
AT90PWM2/3/2B/3B
Analog Power Supply: This is the power supply voltage for analog
17 23 19 AVCC Power part
For a normal use this pin must be connected.
PSCOUT01 output
24 32 28 PB7 I/O ADC4 (Analog Input Channel 4)
SCK (SPI Clock)
5
4317I–AVR–01/08
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
LAMPIRAN
DATASHEET MODUL IGBT 7MBP75JB060-01
35
Universitas Indonesia
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010
Rancang bangun..., Prasetya Widodo, FT UI, 2010