Slave
Slave
Irma Handayani
(1). Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana diamaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf I untuk penggunaan secara
komersial dipidana dengan pidana penjara paling penjara paling lama 1 (satu)
tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).
(2). Setiap orang yang dengan tanpa hak dan atau tanpa izin pencipta atau
pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana
dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, dan huruf f, dan atau huruf h,
untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama
3 (tiga) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah).
(3). Setiap orang yang dengan tanpa hak dan atau tanpa izin pencipta atau
pemegang hak melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana
dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan atau huruf g,
untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama
4 (empat) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp. [Link].00 (satu
miliar rupiah).
(4). Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.
[Link].00 (empat miliar rupiah).
Slave
Irma Handayani
Slave
Irma Handayani
14x20 cm, vi + 204 Halaman;
Diterbitkan melalui:
SALINEL Publisher
Mall Botania 2 Blok O no.4
Batam Centre – Batam
081290712019
Email : salinelpublisher@[Link]
Wattpad : Salinel Publisher
Instagram : [Link]
Facebook : Salinel Publisher
Youtube : Salinel Publisher
Kata Pengantar
Irma Handayani v
Daftar Isi
Kata Pengantar v
Daftar Isi vi
Prolog 1
Chapter 1 - Slave 8
Chapter 2 - Linda 61
Chapter 3 - Sparta 117
Extra Part 194
vi Slave
Prolog
ada periode klasik Yunani Kuno...
P Beberapa prajurit pria pergi ke medan peperangan ketika
para raja tengah gencar memperebutkan lahan kekuasaan
dan pemperluas wilayah, tanpa menghiraukan prajurit yang
nantinya akan kembali pulang atau tidak. Dari beberapa prajurit
tersebut, adalah suami dari istri dan ayah dari anak-anak yang
setia menunggu mereka pulang seusai peperangan.
Jika wajah mereka tak muncul kembali, maka beberapa
hari kemudian keluarga mereka akan menerima jasad yang
tertusuk pedang atau berdarah, bahkan lebih buruk. Para istri
akan menjadi janda dan anak-anak akan menjadi yatim tanpa
kasih sayang Ayah mereka. Pemakaman seorang prajurit biasa
tidaklah seperti bangsawan.
Mayat mereka akan ditumpuk dengan mayat prajurit
lain dan dibakar secara bersamaan, tidak ada nyanyian Dewi,
tidak ada upacara pemakaman, hanya tersisa abu yang belum
dapat dipastikan itu adalah abu dari keluarga mereka. Hanya
keyakinan, yang membuat mereka percaya itu adalah abu dari
orang terkasih dan disemaikan di laut Yunani. Diiringi tangisan
pilu sang istri dan jeritan anak-anak. Kisah kekejaman perang
pun tak berhenti sampai disitu.
Peperangan hanya meninggalkan kisah sedih bagi wanita
biasa dan bahagia bagi para bangsawan jika mereka menang.
Jika kalah dari pertempuran, peperangan yang menumpahkan
darah akan terus berlanjut tanpa henti, bahkan raja akan terus
2 Slave
mengirim ratusan maupun ribuan pasukan yang rela mati di
medan perang.
Haus akan martabat dan kekuasaan.
Beranggapan bahwa Dewa Perang berada dipihak
masing-masing padahal mereka hanya menumpahkan darah dan
membuat Sang Dewa menjadi murka. Ketika Apollo menyinari
sebuah kerajaan, penyusup memasuki kerajaan tersebut dan
membakar habis sebuah kerajaan yang berdiri makmur dengan
penghasilan bumi yang melimpah.
Jeritan kesakitan dan tangisan pilu melantun indah
melihat tempat tinggal hancur terbakar, disaat yang bersamaan
sebuah pasukan dari kubu lawan memasuki kerajaan makmur
itu. Menghabisi para pria dengan pedang runcing mereka,
penjagaan yang lengah membuat kota itu tumbang seketika.
Siang yang penuh pembantaian, darah dan kepala berhamburan
di atas tanah. Tangis anak kecil di tengah pembantaian, mencari
Ibunya yang telah hilang, ketika sang Ayah telah mati dimedan
pertempuran. Kini ia harus rela kehilangan Ibunya yang pergi
entah kemana. Prajurit bertubuh besar membawa pedang tajam
dan perisai di tangan kirinya.
Anak kecil tersebut hanya bisa terduduk di atas tanah
sambil menutup kepalanya, menunggu kematian kah? Bocah
itu sendiri tak mengerti artinya kematian. Ia hanya menghindari
tubrukan dari tubuh besar prajurit yang berlalu lalang dan
membunuh pria dewasa dengan ganas. Bocah itu masih sangat
Irma Handayani 3
kecil, tapi dia selalu bertanya-tanya.
Kenapa hanya para pria yang di bunuh?
Kemana semua wanita terutama Ibunya?
Pembantaian tak berhenti....
Siang berganti malam, namun jeritan itu masih menghiasi
sebuah kerajaan yang telah tumbang dan kalah strategi oleh
lawan. Mayat-mayat berhamburan itu dibakar, memastikan
bahwa mereka tidak akan bangun kembali dan membalas
dendam.
Bocah kecil itu sudah berhenti menangis, menangisi
sang Ibu yang tak kunjung mencarinya. Dengan kedua mata
kepalanya, ia melihat seseorang yang sudah sekarat, dibakar
hidup-hidup oleh seorang prajurit. Ia takut, melihat pria yang
dibakar itu menjulurkan lengan seolah ia meminta pertolongan
dan akhirnya menjerit sakit saat api mulai mengelupas kulit dan
dagingnya.
Bocah itu hanya diam. Air matanya sudah hampir habis
menangisi kejadian yang aneh baginya ini. Hari sudah sangat
gelap, matahari berganti menjadi bulan yang hanya sedikit
menerangi malam pembantaian ini. Tak lama beberapa wanita
dipaksa keluar entah dari mana, mengikuti perkataan prajurit
berwajah sangar dan memegang sebilah pedang. Duduk
bersimpuh di atas tanah sesuai arahan, kedua mata bocah kecil
itu berkaca-kaca. Melihat sang Ibu, ternyata menjadi salah satu
dari tawanan yang semuanya adalah wanita, dari kejauhan,
4 Slave
Ibunya melihatnya juga. Tersenyum kepadanya seolah berkata
untuk tetap di tempatnya terduduk saat ini.
Satu persatu wanita dipanggil dan ketika giliran Ibunya
tiba, ia hampir berdiri namun Ibunya memberikan sebuah isyarat
dari kejauhan padanya untuk tidak bergerak. Ia mendengarkan
dari kejauhan, ucapan prajurit itu sangat jelas di telinganya.
“Menjadi budak atau mati?”
Itu adalah sebuah pertanyaan dan Ibunya memilih mati.
Saat itulah air mata Ibunya menetes ke tanah sambil
menatapnya dengan pandangan nanar.
Tak lama, sebilah pedang berhasil menembus dada
Ibunya. Sontak ia menjerit, namun ia tutupi mulutnya dengan
kedua tangannya. Tubuh Ibunya tumbang, begitupun dengan air
matanya saat mayat Ibunya disingkirkan begitu saja dari sana.
Kenapa Ibunya dibunuh? Ia sama sekali tidak paham dengan
hal itu.
Menjadi Budak atau Mati?
Bocah itu belum mengerti apapun.
Budak?
Ia sama sekali tidak mengerti pengertian Budak. Kenapa
Ibunya dibunuh hanya karena menolak menjadi Budak? Kenapa
Ibunya lebih memilih mati dari pada menjadi seorang Budak?
Apakah pekerjaan Budak itu sangat hina dan begitu rendah serta
mengerikan? Tapi ia melihat ada sebagian wanita yang memilih
Irma Handayani 5
untuk menjadi budak dan tidak dibunuh oleh para prajurit itu.
Dan hal itu membuat para prajurit tertawa dan memperebutkan
wanita tersebut.
Menjijikan...
“Linda... Semuanya akan baik-baik saja.” Seketika ia
mengingat perkataan Ibunya saat kepergian Ayahnya.
Ibunya berkata semuanya akan baik-baik saja. Namun,
Linda masih memikirkan sesuatu....
Apa yang di sebut dengan Budak? Apakah seburuk
itu sehingga Ibunya lebih memilih mati? Sedari lahir, Linda
tidak pernah mengerti tentang apa yang dinamakan Budak.
Tempat kelahirannnya adalah kota yang makmur dan bahagia,
sebelum raja mereka berganti dan memiliki ambisi tinggi untuk
memperluas wilayah. Linda kecil sama sekali tidak paham.
Tentang sistem perbudakan di era Yunani Kuno, jauh
dari kota kelahirannya. Terciptalah sebuah peradaban, di mana
wanita hanyalah makhluk rendah yang akan bekerja sesuai
perintah dan arahan laki-laki. Diperjualbelikan hanya untuk
kesenangan dan tontonan semata. Wanita, bukanlah sebuah
keindahan seperti seni perang yang diagung-agungkan semua
pria.
Sehingga mereka lebih cocok dijadikan seorang budak
yang sangat rendah. Linda yang masih syok dengan kematian
Ibunya, tak sadar jika seorang prajurit tengah mendatangi
dirinya. Begitu menyadari keberadaan Linda yang tak jauh
6 Slave
dari lokasi pembantaian itu. Wajah Linda dihantam keras
dengan benda tumpul dan berhasil membuat kesadarannya
menghilang. Tanpa sadar ia dibawa ke sebuah tempat yang
paling mengerikan di muka bumi. Dimana perbudakan wanita
dimulai, penyimpangan seksual yang aneh dan tempat terendah
bagi wanita. Pembantaian terkeji dan menjunjung tinggi sebuah
karya seni dan peperangan.
Sebuah tempat di mana mimpi buruk Linda dimulai...
Irma Handayani 7
Chapter 1
Slave
B Ketakutan
ukan hanya darah dan
pria keringat...
berotot megangi perisai dan
pedang mereka,ribuan
sebagian gemetar memegang
kekar tombak berdiri
Irma Handayani 9
lawan guna melumpuhkan pertahanan perisai Sparta.
Pertahanan Sparta hanya sebentar, prajurit Arcadia
menerobos seluruh perisai dan membantai seluruh pasukan
pertahanan dalam hitungan detik. Teriakan semangat prajurit
beriringan dengan jeritan kematian, Sparta mungkin memiliki
ribuan prajurit yang siap mati demi memperebutkan kekuasan.
Tapi Arcadia, adalah kota lahirnya sebuah seni tarung yang di
sebut gladiator dan jelas sekali jika prajurit yang ada di sana
memiliki bobot tubuh yang sangat besar.
Komandan Sparta yang melihat pasukan di garis depan
terbantai akhirnya mengarahkan penyerangan, di iringi oleh
regu pemanah yang terus bergantian memanah prajurit Arcadia.
Meskipun beberapa panah tak berpengaruh bagi prajurit
Arcadia, dan hal itu membuat komandan Sparta geram.
Eros... Komandan Sparta dengan wajah rupawan
dan tubuh sempurna layaknya prajurit Yunani lainnya.
Mengarahkan kuda yang ia kendarai mengarah langsung ke
medan pertempuran, kesatria andalan kerajaan Sparta yang
berani dan selalu membawa pulang kemenangan itu adalah
salah satu prajurit kesayangan Raja. Ketika pertempuran usai
Eros selalu membawa kepala-kepala bangsawan dari kubu
lawan jika mereka ikut andil dalam pertempuran.
Memberikannya kepada sang Raja dan membuktikan
betapa loyalnya seorang prajurit muda yang namanya telah
melambung pesat hanya dalam beberapa pertempuran, Eros
10 Slave
memulai peperangan ketika ia masih sangat muda. Ia sangat
menggilai seni bela diri bertarung dan pedang serta perisai.
Wajahnya begitu rupawan seolah ia adalah keturunan Dewa
Yunani, rambut ikal panjang yang sering ia ikat menambah
kesan maskulin betapa Eros sangat gagah perkasa. Otot yang
menyembul menandakan ia selalu bekerja dengan keras di
bawah terik matahari, pandangannya tajam ke arah para prajurit
Arcadia. Memikirkan sebuah siasat saat menyerang mereka
yang bobot tubuhnya lebih besar dari Eros.
Meskipun semua kehebatan yang di miliki pria itu,
sama seperti yang di miliki setiap Dewa yang ada di Yunani,
terdapat sifat haus darah akan kemenangan dalam peperangan.
Dari wajah tampannya, Eros hanya memikirkan kemenangan
yang akan ia bawa pulang dan membuat namanya di agung
agungkan di dalam kerajaan.
Eros mengayuhkan sebuah baja ke arah wajah prajurit
Arcadia, prajurit terbesar yang telah menghabisi para prajurit
Eros di baris depan. Membuat tubuh besar prajurit Arcadia
itu tumbang seketika ke atas tanah, Eros lalu segera turun
dari kudanya. Ia sama sekali belum pernah melawan bangsa
Arcadia, yang ia dengar dari hanya sebuah desas-desus jika
mereka memiliki bobot tubuh yang besar. Dan ternyata benar,
Eros dapat melihat dengan kedua matanya sendiri jika mereka
memang sangat besar. Bahkan dua kali lebih besar dari Eros
sendiri, namun ia pernah sekali mengalahkan prajurit seperti
ini.
Irma Handayani 11
Eros mengeluarkan pedangnya, meski tanpa perisai ia
tetap menyerang prajurit Arcadia di tengah medan pertempuran.
Eros di rundung oleh hantaman, terjatuh ke atas tanah dengan
darah keluar dari sudut bibirnya. Eros mengambil sebuah perisai
yang berserakan guna melindunginya, dari hantaman besi yang
di ayunkan oleh prajurit Arcadia tersebut. Nafasnya memburu
dan keringat makin membuat wajahnya dan tubuhnya basah.
Eros lelah dengan serangan brutal tersebut. Tak lama ia
menyayat paha prajurit Arcadia, membuatnya kesakitan dan
Eros tak menyayangkan kesempatan itu. Sebilah pedang milik
Eros di lesatkan tepat di jantung prajurit Arcadia. Tak hanya
itu, Eros menarik pedangnya lalu menggorok lehernya. Hingga
prajurit itu akhirnya tumbang dengan tubuh telungkup tepat di
depan Eros berdiri.
Prajurit Arcadia yang paling besar dan telah menghabisi
prajuritnya kini telah tumbang. Eros kembali menunggangi
kudanya dan kembali memimpin pasukan. Siang berdarah
itu berlangsung hanya sebentar, Arcadia kekurangan prajurit
dan sudah di pastikan Sparta memenagkan pertempuran.
Prajurit Sparta bersorak, ia menyisakan seorang prajurit untuk
menyampaikan pesan kepada kerajaan Arcadia jika tanah itu
sudah menjadi milik Sparta.
Eros dan pasukannya kembali ke perkemahan di pesisir
pantai, melewati Lord Darrius yang tak lain adalah seorang
pangeran dari kerajaan yang di tinggali oleh Eros.
12 Slave
“Kerja bagus Eros! Mengapa tidak dari awal kau berdiri
di tepat garis depan?” ujar Darrius saat Eros mulai mendekat
melewatinya.
“Mengapa bukan seorang pangeran yang bertarung?
Sehingga prajurit mereka dapat melihat bahwa bangsawan tidak
hanya duduk di singgasana mereka,” balas Eros lalu melewati
Lord Darrius dan pengawalnya begitu saja.
Darrius hanya tersenyum menanggapi hal tersebut.
Sebenarnya Darrius sama seperti Eros, seorang prajurit yang
tak kenal takut dan haus akan kemenangan. Tapi semua prajurit
lebih menyukai Eros dengan sifat rendah hati yang dimiliki
pria itu sehingga Eros memimpin pasukannya sendiri. Hanya
perbedaan nasib yang dimiliki Eros dan Darrius. Darrius yang
terlahir dari seorang Ratu dan Raja,dan Eros yang hanya seorang
prajurit biasa yang selalu melayani Sang Raja kapanpun.
Darrius tumbuh dan belajar seni bertarung sama seperti
Eros, tidak ada yang berbeda dalam urusan peperangan. Namun
Eros tidur di sebuah gua dan tikar seorang prajurit, tapi Darrius
tidur di sebuah ranjang dengan alas lembut dan selimut yang
terbuat dari satin yang nyaman. Ditemani wanita penghibur
yang ada di sekitar kerajaan, meskipun sama halnya dengan
Eros yang kapan saja bisa tidur dengan budak yang ia mau.
Tapi, Eros lebih memilih menunggu seseorang.
Ia memegangi sebuah intan ketika telah tiba di pinggiran
pantai, bentuk dan warna yang indah. Benda tersebut dapat
Irma Handayani 13
ia bawa pulang atas kemenangan yang ia raih. Sparta adalah
tempat di mana seluruh rakyatnya begitu makmur, wilayah
yang luas dan hasil bumi melimpah. Namun siapa sangka,
kota yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi tersebut
sangat menggilai perperangan guna memeperluas wilayah dan
kekuasaan. Mengabaikan kedudukan wanita yang harusnya di
lindungi.
Disebuah kota yang masih dalam wilayah kekuasaan
Sparta, wanita memiliki dua kedudukan. Menjadi seorang
budak, atau seorang permaisuri dan tentu saja permaisuri di sini
adalah seorang Putri atau Ratu, tapi bukan Ratu seperti pada
umumnya. Wanita yang menjadi Ratu di sebuah kerajaan ini
hanyalah sebagai boneka, yang dikendalikan oleh para suami
dan Raja mereka.
Ratu hanyalah satu, tapi selir seorang raja bisa lebih
dari satu karena kaum wanita sangat banyak keberadaannya
dari pada kaum laki-laki yang sibuk dalam berperang. Jadi,
mayoritas pekerjaan wanita yang ada di sana adalah sebagai
wanita penghibur. Perbedaan seorang ratu, selir dan budak
hanyalah dari nilai kasta, tapi pada dasarnya adalah sama,
wanita hanyalah boneka dan alat pemuas nafsu semata.
Bagi kaum pria, wanita tidak ada gunanya di medan
perang. Jadi, ketika seseorang membuat cetusan untuk kaum
wanita untuk di jadikan budak. Maka hal itu benar-benar terjadi,
wanita yang dulunya di anggap tidak berguna bagi tatanan
14 Slave
sosial di masyarakat, kini berubah menjadi penghibur karena
kemolekan tubuh mereka tentunya.
Budak dari kalangan bawah setiap pagi membantu sang
Ratu untuk di percantik, dari segi wajah dan penampilan serta
gaya bahasa dan tubuh harus benar-benar sempurna. Terkadang
Linda berpikir, lebih baik menjadi Budak sepertinya dari pada
menjadi seorang Ratu, itu lebih buruk. Seperti saat ini, Linda
membantu menyisir rambut Ratu sementara budak yang lain
sibuk mengurus wajah dan pakaian Ratu. Sementara sang Raja
terus berbicara tanpa henti kepada Ratu untuk mempercantik
penampilannya. Sampai wanita cantik itu meneteskan air
mata, karena ucapan sang Raja yang terbilang kasar dan sangat
merendahkan. Namun begitu sadar Linda melihatnya, Ratu
segera mengelap air matanya.
“Kau sungguh beruntung,” ucap Ratu kepadanya, Linda
sedikit terkejut. Pasalnya, semenjak kecil ia berada di Sparta,
budak sepertinya di larang bicara oleh kalangan bangsawan.
Linda bahkan sempat merasa canggung saat menata rambut
Ratu.
“Aku hanya seorang budak, My Lady. Bagaimana
aku bisa beruntung,” balas Linda, dengan nada yang pelan.
Tak ingin membuat Raja murka karena berbicara dengan
permaisurinya, walaupun sesungguhnya Raja memiliki banyak
selir dan Ratu adalah satu-satunya wanita yang dilambangkan
menjadi pasangannya. Itu hanyalah sebuah simbol pernikahan.
Irma Handayani 15
Hanya kalimat itu yang bisa di ucapkan seorang Ratu
kepada Linda, sebelum akhirnya wanita cantik dengan wajah
khas Yunani itu pergi mengikuti perintah sang Raja. Linda tidak
mengerti, baginya semua wanita di sini sama saja. Tidak ada
kehidupan wanita di sini yang bahagia, dia adalah budak dan
tentunya, jauh dari kata mewah seperti kehidupan Ratu yang
tidur di ranjang empuk dan makanan enak.
Budak seperti Linda setiap malam harus menunggu para
prajurit pulang untuk dipuaskan dan pada pagi hari dia sebagai
dayang Sang Ratu. Jadi Linda berpikir, wanita di sini hanya
sebagai alat. Linda usia dewasa sangat cantik, kecantikannya
seperti Dewi Aphrodite yang melambangkan cinta, kecantikan
dan seksualitas.
Wajah mungil yang memiliki rahang tirus dan hidung
mancung, serta bibir mungil dan netra indah sebiru laut.
Dipercantik dengan rambut pirang yang sedikit bergelombang
di ujungnya, tubuhnya terbilang mungil dan kurus, khas wanita
Yunani yang memiliki standar kecantikan tinggi. Karena di kota
ini, jika wanita tidak cantik maka wanita tersebut tidak berguna
dan sebagian besar akan di buang dari peradaban ini.
Saat malam hari Linda menunggu di sebuah gua dengan
obor di genggamannya. Ia menelusuri gua seraya memegangi
ujung dressnya agar tidak menyusahkan telapak kakinya untuk
berjalan. Gua ini seperti sebuah labirin, hanya Linda yang
sering berpergian kemari sedari kecil karena dia memang
16 Slave
sangat menyukai kesendiriannya.
Saat di ujung lorong, Linda menaruh obornya di sisi
gua dan keluar dari sana. Ia tersenyum lebar, berlarian ke arah
tepi pantai dengan ombak deras dan di bawah sinar rembulan.
Sepertinya Dewi Yunani memperlihatkan keindahannya malam
ini. Linda memeluk tubuh seseorang... yang juga membalas
pelukannya dan memberinya ciuman pertemuan setelah satu
bulan lamanya berpisah.
Eros...
Kesatria Sparta yang gagah dan perkasa, selalu menjadi
andalan Raja ketika perang berlangsung karena Eros akan
selalu membawa kemenangan. Tapi tentu saja, seperti prajurit
yang lain. Eros hanyalah pelayan Raja, yang selalu siap mati di
medan pertempuran kapanpun.
“Aku merindukanmu,” ujar Eros, jemari Eros yang kasar
membelai wajah mulus Linda. Mulai dari pelipis dan rahang
mungilnya, mengecup leher Linda yang terbuka lebar membuat
gadis itu menutup kedua matanya sambil merangkul pundak
kekasihnya.
“Aku juga merindukanmu,” balas Linda, saat Eros
menatap Linda dengan begitu intens sambil memeluk pinggul
rampingnya.
Linda menyentuh rahang Eros, merasakan brewok yang
mulai tumbuh di rahang tegas itu. Sebulan lamanya pria itu
tak pernah bercukur, dan Linda sangat mengerti akan hal itu.
Irma Handayani 17
Eros selalu mementingkan peperangannya guna membuat Raja
bangga padanya, mengabaikan hal-hal kecil termasuk brewok
yang membuat tampilannya lebih maskulin.
“Aku membawakanmu sesuatu.” Eros mengambil
sesuatu dari dalam sakunya.
Kedua mata Linda di buat berbinar dengan sebuah
mutiara yang di kaitkan dengan tali hitam sehingga menyerupai
kalung.
“Mutiara dari Arkadia adalah yang paling indah di muka
bumi ini, aku yakin jika kau yang memakainya, maka akan
menambah nilai kecantikan mutiara ini,” ujar Eros, pandangan
pria itu sangat tajam namun terbesit sebuah kalimat yang puitis,
Linda selalu menahan nafas jika berhadapan dengan pria itu.
Semenjak kali pertama ia bertemu dengan Eros di kota ini.
“Terimakasih.” Wajah Linda merona, bahkan di kegelapan
yang hanya di terangi oleh cahaya rembulan. Selama ini, mereka
bertemu dengan bersembunyi seperti ini. Karena Raja tidak
memperbolehkan para budak dan prajuritnya berhubungan
selain hanya untuk memuaskan hasrat, tapi kali pertama Linda
memadu kasih dengan Eros. Timbul rasa ketertarikan pada
pria itu, di mana ketika semua prajurit akan bersikap kasar
dan merendahkan para budak. Eros malah memperlihatkan sisi
kelembutannya terhadap Linda.
Sehingga membuat Linda terbuai dan merasa menjadi
wanita yang spesial bagi pria, karena tentu saja seorang budak
18 Slave
tidak pernah merasakan hal seperti itu di sini. Eros, pria bertubuh
kekar dan prajurit perang yang kuat. Wajah khas Yunani yang
tampan dan sudah pasti di gemari kaum hawa. Namun tubuh
besar dan lengan kasarnya sama sekali tidak melambangkan
sisi kelembutan dari Eros.
Linda menutup kedua matanya, bersandar di bahu tegap
Eros saat lengan besar pria itu merangkul tubuh mungilnya.
Semilir angin menerpa rambut Linda, Eros dapat menghirup
aroma wangi yang menguar dari rambut gadis itu. Beralaskan
tikar, kedua sepasang anak manusia itu beradu kasih di bawah
sinar rembulan, membiarkan kulit telanjang mereka di terpa
angin dingin.
Bersama Eros, setidaknya Linda merasakan menjadi
wanita yang dihargai oleh lelaki. Tidak hanya dalam
berhubungan seks, Eros adalah pria yang gentle dan tahu
bagaimana memanjakan wanita. Ketika semua prajurit pulang
dari peperangan dan menikmati sentuhan para budak di dalam
gua, Eros lebih memilih mendatangi kekasihnya meskipun
dalam kegelapan.
“Jika ada yang tahu, mereka akan memenggal kepalaku,”
ucap Linda tiba-tiba, memecah keheningan dan kenyamanan
dengan kalimat yang sedikit mengganggu kebersamaan mereka.
Semua orang di kota ini tahu, bahwa hubungan antara seorang
pria dan budak adalah terlarang. Budak di izinkan menikah
ketika sudah tidak layak untuk di jadikan pemuas nafsu.
Irma Handayani 19
Eros dan Linda mempertahankan hubungan mereka
secara diam-diam, membuat labirin mereka sendiri di balik
gelapnya gua. Tanpa ada seorangpun yang tahu, tanpa ada
siapapun yang membuntuti mereka. Ini semua telah terjadi
bertahun-tahun lamanya, saat Eros dan Linda masih remaja.
Dan kala itu, Eros selalu menolong Linda ketika gadis itu siap
dijadikan budak oleh Raja.
“Mereka juga akan memenggal kepalaku,” balas Eros,
Linda tersenyum. Mengecup jemari berurat Eros yang bermain
di wajah mulusnya.
“Kau sangat loyal pada Raja,” tukas Linda, Eros pun tak
menyangkal hal itu. Linda berbeda darinya, karena Eros lahir di
kota ini sementara Linda tidak. Jadi, segala kengerian seksual
dan peperangan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Eros.
Sementara Linda, gadis itu masih sangat kecil sewaktu ia di
bawa kemari secara paksa oleh kesatria perang. Di siksa, di
cambuk, bahkan gadis sekecil itu sudah di ajarkan bagaimana
caranya menjadi pelayan kerajaan.
Bagi Eros, perang adalah hidupnya. Menaklukan lawan
dan membawa pulang kepala Raja-Raja yang berhasil ia
taklukan prajuritnya, membawa kepala itu kepada Rajanya
sendiri agar membuktikan dirinya adalah prajurit yang setia
kepada kerajaan. Semua pria di Yunani seperti itu, mengagung
agungkan peperangan dan mengabaikan sesuatu yang lebih
penting dari itu semua, Cinta...
20 Slave
Eros mungkin tidak menyadari hal sekecil itu, tapi kelak,
ia akan menyadari bahwa Linda akan mengajarinya arti cinta
yang sesungguhnya.
“Jika kita menemukan kota seperti kota kelahiranku dulu,
mungkin kita bisa hidup bahagia selamanya,” tukas Linda,
perkataan gadis itu seperti khayalan bagi Eros, tapi bagi Linda,
itu adalah sebuah cita-cita.
Eros yang terlalu memikirkan peperangan dan Linda yang
berandai-andai memiliki sebuah keluarga bahagia bersama pria
itu. Terkadang manusia, memiliki dua sisi berbeda. Sisi yang
pertama hanya memikirkan duniawi, dan sisi yang lainnya
memikirkan hidup tenang. Itu seperti dua kubu yang tidak bisa
saling bertemu atau berlawanan.
“Aku memiliki sebuah mimpi bisa berdiri di samping sang
Raja, menjadi kesatria perangnya atau menjadi penasehatnya”
kata Eros, wajahnya menatap langit malam yang terang bertabur
bintang. Seolah membayangkan sesuatu yang selalu ia impikan
sejak kecil. Sementara Linda, hanya bisa menahan rasa sesak
di dadanya. Pikirnya, Eros tidak egois, pria itu hanya memiliki
sebuah cita-cita besar sama seperti dirinya.
Linda beranjak bangun dari tubuh Eros yang nyaman,
berbalik lalu berhadapan dengan pria itu. Deru nafas panas
Eros berada tepat di wajah Linda, ingin sekali Linda mengecup
bibir itu sekali lagi dan tak melepaskannya hingga kapanpun.
“Aku akan mendukung apapun keputusanmu,” ujar
Irma Handayani 21
Linda, lalu mengecup bibir Eros dan di balas oleh pria itu.
Kecupan ringan berubah menjadi ciuman panas dan liar di
malam yang dingin. Mengabaikan angin dingin yang bertiup
kencang seiring kencangnya ombak pantai, meski hawa dingin
menerpa, tak mampu mendinginkan suhu tubuh yang panas
akan gairah tersebut.
Tanpa sadar ada seseorang yang mengawasi di balik
rimbunnya hutan di atas gunung.
Linda kembali ke dalam istana, malam ini adalahperayaan
kepulangan pangeran Darrius dari medan pertempuran. Putra
satu-satunya dari Raja dan Ratu yang pertama itu baru saja
memenangkan pertempuran pertamanya. Darrius, wajahnya
tampan tapi tidak dengan ambisinya.
Darrius lebih berambisi dalam peperangan dari sang
Raja, dan lebih gila dala urusan seksual. Itu sebabnya Linda
lebih memilih menghilang saat Darrius berada di dalam istana.
Pria itu bisa menghancurkan bahkan membunuh para budak
saat melakukan hubungan intim. Pesta besar di mulai malam
ini, para penari yang juga seorang budak di tampilkan guna
menghibur para bangsawan.
Minunan anggur dan makanan hasil bumi yang melimpah
di sajikan oleh para wanita budak yang juga siap melayani
para bangsawan. Semua pelayan adalah wanita, karena semua
wanita adalah budak, begitu sistem yang mereka miliki. Linda
tidak begitu menyukai keramaian, hingga ia lebih memilih
22 Slave
berada bersama budak-budak lain yang menyiapkan makanan
di bagian belakang istana.
Ia memegangi ujung dressnya yang menyapu lantai, gaun
itu tidak terpasang dengan benar. Karena buru-buru, Linda tidak
begitu memperhatikan bagian gaunnya. Namun saat Linda
hendak memasuki sebuah ruangan dapur istana, langkahnya
terhenti ketika melihat seseorang yang muncul di balik pilar
besar masih mengenakan jubah perangnya.
Linda menegak salivanya sendiri, ini bukan momen yang
bagus pikirnya. Di sini sangat sepi, hanya ada Linda dan dia.
Dalam hati Linda berharap tidak akan terjadi sesuatu hal yang
buruk, pria itu berjalan ke arah Linda, dan benar dugaan gadis
itu, ini bukan sesuatu yang bagus.
“Lord Darrius...,” sapa Linda seramah mungkin sambil
menunduk, meski kini wajahnya sedikit takut berhadapan
dengan Darrius. Dari raut wajah dan tubuh besar pria itu, ada
aura mengerikan yang seolah mampu membunuh siapapun
termasuk seorang budak.
“Linda,” kata Darrius, suaranya besar dengan intonasi
nada yang berat dan menekan. Linda menahan dadanya yang
berdetak lebih kencang dari biasanya. Darrius memegang dagu
Linda, membuat Linda terdongak dan menatap langsung wajah
Darrius.
“Malam ini aku ingin kau menemaniku,” ujar Darrius,
tubuh Linda semakin bergetar. Ia takut dan ngeri kepada Darrius
Irma Handayani 23
yang selalu menjadi omongan para budak, bahwa Darrius
sangat kasar di atas ranjang.
“Maafkan aku, tapi aku sibuk di dapur. Kupikir budak
lain dapat menggantikanku, My Lord,” tukas Linda, mencoba
menolak sehalus mungkin.
“Shh... shh... aku tidak menerima penolakan Linda.”
Nada bicara pria itu terdengar sangat formal seperti bangsawan
lainnya, tapi tidak dengan wajah itu. Meski tampan, Darrius
sangat mengerikan, kengeriannyalah yang dapat membuat
prajurit lawan kalah dan memohon ampunannya, begitupun
dengan sang budak.
“Aarrgghhh....”
Linda menjerit pilu, saat beberapa cambukan mendarat
di punggung mulusnya. Ia pikir, pangeran Darrius akan
mengajak beberapa budak untuk bercinta, karena Darrius suka
melakukan itu. Tapi sepertinya malam ini hanya dirinya yang
menjadi pemuas nafsu Lord Darrius yang gemar menyiksa
budak-budak di atas ranjangnya. Nafas Linda berderu, dadanya
naik turun seiring keringatnya yang mulai bercucuran dan
Darrius menyukai pemandangan yang ada di bawahnya,
kedua tangan gadis itu terikat ke setiap sisi ranjang. Dengan
tubuh telanjangnya yang mulus terekspos begitu saja, Darrius
membuang cambuknya ke atas lantai. Linda dapat melihat
ekspresi ngeri dari wajah Darrius yang telah puas menyiksa
tubuhnya.
24 Slave
Kedua tangan Darrius meremas pinggul Linda dan sedikit
menariknya, sehingga membuat ikatan di kedua pergelangan
tangan Linda semakin membuat. Linda meringis, sedikit
mengeluarkan desahan pilu. Namun desahan itu bagi Darrius
adalah desahan kenikmatan, Darrius sama sekali tidak mengerti
wanita, yang ia pikirkan hanyalah menyiksa wanita, dan ia pikir
semua wanita terutama budak menyukai kekerasan dalam seks.
Tapi tidak bagi Linda, semenjak dirinya di ajarkan
menjadi seorang budak, atau lebih tepatnya di paksa. Linda
sama sekali tidak menyukai kekerasan berhubungan intim,
mungkin ia menyukai kombinasi dalam berhubungan intim,
tapi tentunya dengan orang yang ia cintai. Belakangan ini,
Linda merasa Darrius selalu melirik ke arah Linda. Linda tidak
mengerti apa maksudnya itu, tapi ia harap Darriustidak memiliki
ketertarikan terhadapnya. Meski beberapa budak menggilai
Darrius karena sisi maskulin pria itu dan tentu saja karena tahta
yang di milikinya. Menjadi permaisuri dari seorang pangeran
adalah impian setiap budak demi status sosial yang lebih layak.
Tapi menurut Linda, menjadi seorang Ratu atau
permaisuri adalah seperti sebuah neraka meski bergelimang
harta. Seorang Ratu harus mengikuti setiap perkataan Raja
atau suaminya, jika Raja sudah bosan, atau jika seorang Ratu
melakukan kesalahan. Ratu akan di buang dan kembali menjadi
budak serta kehilangan seluruh harta dan tahtanya, dan Linda
pikir itu semua tidak ada bedanya.
Irma Handayani 25
Atau lebih buruk lagi, karena Linda pernah melihat
dengan kedua matanya sendiri. Seorang Ratu yang berasal dari
kalangan budak, berselingkuh dengan prajurit dan hal tersebut
di ketahui oleh Raja. Raja menjadi murka dan menghukum mati
Ratu tersebut dengan cara di gantung, di saksikan oleh seluruh
rakyat di kota itu dan itu adalah hal yang paling mengerikan
yang pernah Linda lihat. Itu adalah Ratu ke dua setelah Ibu
Darrius, dan Linda sangat mengingat wanita itu dulunya adalah
budak yang Linda kenal dengan baik.
Dari semua cerita yang pernah Linda dengar itulah,
Linda lebih memilih menjadi seorang budak yang bebas meski
ia tetap harus menyembunyikan hubungannya dengan Eros.
Linda menatap langit-langit kamar, kamar ini sangat indah.
Sangat luas dari tempat tidurnya di bagian belakang istana dan
hanya di terangi cahaya obor. Di sini, bunga bertaburan dan
wangi bunga mengharumkan kamar yang memiliki banyak
lukisan Darrius.
Setelah sesi adegan percintaan Darrius yang ekstrim,
meskipun Linda tidak dapat berkata itu adalah kegiatan
bercinta. Linda hanya menutup tubuhnya dengan selimut satin
yang sangat lembut di kulit mulusnya, berwarna maron dan
sangat kontras di kulit putih Linda. Darrius tertidur di samping
Linda dan memeluk perut rata Linda.
Linda semakin takut jika seperti ini, berharap semoga
saja yang ia takutkan selama hidupnya tak akan terjadi. Ia
26 Slave
ingin bersama Eros selamanya, tapi pria itu selalu sibuk
dengan peperangan dan begitulah semua pria di Yunani. Linda
berusaha mengerti, namun ia takut akan Darrius. Seperti saat
ini, biasanya. Setelah melakukan seks Darrius akan menyuruh
semua budak keluar dari kamarnya, karena ia tidak suka tidur
dengan para budak. Tapi kali ini, ia merangkul Linda dengan
erat. Pria itu tidak dalam keadaan mabuk, karena Linda sangat
mengetahui Darrius, pria itu tidak pernah mabuk dan selalu
terlihat seperti pria yang tangguh, tak jauh berbeda dari Eros.
Linda sama sekali tidak terbuai dengan segala kemewahan
yang ada di kamar Darrius, buah-buahan serta makanan mewah
yang tertata rapi di meja. Belum lagi ukiran dan isi kamar yang
menjunjung nilai seni tinggi dan kental dengan tema Dewa dan
Dewi Yunani. Linda hanya ingin menjadi wanita sejati. Yang
di perlakukan baik oleh suami dan anak-anaknya kelak, meski
ia tahu itu hanya sebuah perandaian jika ia terus berada di kota
ini.
Pagi sekali Linda bangun, Darriustidak ada di sebelahnya.
Ia melirik ke arah sebuah patung tempat biasa Darrius menaruh
jubah kerajaannya, tapi jubah itu tidak ada. Menandakan bahwa
pemiliknya telah pergi dari kamar.
Linda lalu buru-buru memakai kembali pakaiannya,
sebelum Darrius datang dan kembali membuatnya takut. Tapi
Linda tidak menemukan pakaiannya, seingatnya, semalam
Darrius membuangnya ke atas lantai tepat di samping ranjang.
Irma Handayani 27
Tapi sekarang, ranjang telah bersih dan tidak ada apapun.
Linda menoleh ke kanan dan kiri, mencari pakaiannya
yang tak kunjung ia lihat. Sementara ia hanya menutupi
tubuhnya dengan selimut yang sangat licin di tubuhnya yang
mulus.
“Linda,” ujar seseorang, yang tak lain adalah sahabat
Linda. Seorang budak dan pelayan kerajaan sepertinya.
Celine, gadis itu membawakan Linda sebuah gaun
lengkap dengan perhiasan. Celine berkata bahwa itu semua
adalah pemberian dari Lord Darrius khusus untuknya.
“Aku bahkan tidak pantas mengenakan pakaian ini,
ini seperti seragam bangsawan,” protes Linda, tapi Celine
hanya menyampaikan pesan Darrius. Dan mereka berdua tahu
kalau mereka menentang kemauan pria itu akan berujung
cambukan atau hukuman dari algojo dan Linda juga tidak ingin
mempersulit hidup sahabatnya sendiri.
Meskipun ia malu untuk mengenakan pakaian bangsawan
itu karena statusnya yang hanya seorang budak. “Cepatlah
pakai Linda! Kau pasti tidak akan percaya apa yang ada di
luar,” tukas Celine, pagi ini Linda semakin di buat bingung.
“Eros mengikuti prostitusi, hari ini klien wanita berasal
dari pusat Sparta,” ujar Celine, Linda menahan nafasnya.
“Kenapa dia mau? Aku pikir Eros sudah tidak lagi seperti
itu,” balas Linda, suaranya bergetar menahan air matanya.
“Lord Darrius yang memberi perintah.” Seketika tubuh
28 Slave
Linda lemas, tidak ada yang bisa membantah jika Darrius telah
berkata demikian.
Sistem prostitusi di kota ini tidak hanya di tujukan untuk
pria, namun wanitapun bisa membeli prajurit manapun yang
ia mau. Tentu dengan harga yang tidak murah meski hanya
sebentar, para prajurit dengan tubuh kekar dan tampan akan
di pertontonkan layaknya pasar menjual sebuah dagangan. Si
pembeli memilih dan terjadilah sistem penukaran kepuasan dan
emas yang tidak sedikit.
Langkah kaki mungil berlari keluar dari istana, menuju
pekarangan luas rerumputan yang rapi dan dihiasi patung Dewa
Yunani serta air mancur yang diukir indah. Netra indah sebiru
laut itu memandang sekitar pekarangan yang biasanya sepi
dan hanya diisi oleh penjaga, namun seketika berubah menjadi
ramai seperti pasar.
Terlihat seperti pasar pada umumnya, namun yang
diperjual belikan bukanlah barang-barang ataupun buah
buahan, melainkan manusia. Berdiri layaknya patung siap
dipilih untuk memuaskan hasrat mereka yang memiliki banyak
emas dan harta untuk ditukarkan.
Kejadian seperti ini sudahtidak asingbagi Linda semenjak
ia datang ke kota ini, tidak hanya wanita yang dijajakan, namun
juga pria. Dan kebanyakan pembeli pria adalah golongan
bangsawan wanita dari luar kota, yang memiliki harta berlimpah
dan juga haus akan tubuh kekar para prajurit.
Irma Handayani 29
Linda berjalan kesana kemari, mencari seseorang yang
dikatakan oleh temannya telah mengikuti penjualan pasar
ini. Melewati setiap prajurit yang berdiri tegap dengan tubuh
kekarnya, dan para bangsawan wanita yang kebanyakan sudah
berumur itu memegangi lengan otot dan perut kekar mereka,
memastikan otot-otot itu kuat dan dapat memuaskan mereka di
atas ranjang.
Linda mengenakan jubah kerajaan pemberian Lord
Darrius, membuatnya sedikit merasa aneh karena sebelumnya
ia hanya memakai gaun biasa yang diperuntukan untuk budak
kerajaan. Ditambah dengan aksesoris yang mempercantik
tampilannya, Linda adalah gadis yang cantik, seluruh temannya
selalu berkata jika Dewi Afrodit telah menitipkan sedikit
kecantikan yang di milikinya kepada Linda.
Kedua iris mata sebiru laut, serta hidung mancung dan
bibir tipis. Ditambah dengan garis wajah khas wanita Yunani,
kecantikan Linda memang tidak tertandingi meski oleh Ratu
dan selir kerajaan sekalipun. Dengan gaun dan jubah kerajaan
berwarna biru terang itu, kecantikan Linda semakin terpancar.
Para bangsawan itu sampai melihat Linda dengan
terheran, mungkin mereka bertanya-tanya, Linda berasal dari
kalangan bangsawan kota mana? Karena mereka sama sekali
tidak pernah melihat seorang Ratu secantik itu. Linda hanya
menundukan pandangan, biasanya ditempat seperti ini ia hanya
penyaji makanan dan minuman. Tapi sekarang, seolah ia berdiri
30 Slave
sejajar dengan para bangsawan lainnya yang ingin membeli
seorang prajurit.
Ya, jika Linda memiliki banyak uang. Ia akan membeli
Eros beserta hidup pria itu dan menjauh dari kota ini. Andai
hidup semudah itu, cantik saja tidak cukup untuk bisa bertahan
di negeri ini. Kembali ke prinsip awal, karena wanita hanyalah
budak. Langkahnya akhirnya terhenti, ketika melihat Eros
berdiri dengan dikerumuni janda bangsawan kota Sparta.
Berdiri layaknya patung Dewa Yunani, dan di belakang pria
itu terdapat patung Dewa Ares, Dewa Perang yang otot tubuh
kekarnya sudah tidak di ragukan lagi.
Linda melihat terdapat kemiripan antara Eros dan
patung Dewa Ares tersebut. Linda menegak salivanya sendiri,
menyadari bahwa ia telah jatuh cinta dengan pria keturunan
Dewa itu. Berdiri sama persis seperti patung Dewa Ares, seolah
Eros adalah wujud nyata dari patung yang ada di belakangnya.
Pandangan pria itu tajam, menyesuaikan alis matanya yang
juga sangat sempurna. Benar-benar pahatan indah yang pernah
Dewa ciptakan untuk Linda.
Setidaknya, begitulah harapan Linda... Berharap Eros
dilahirkan oleh Dewa ke bumi ini hanya untuk Linda. Lengan
besar Eros disentuh oleh wanita-wanita yang mengerubuninya,
sebagian lagi menyentuh rahang kokoh yang terdapat sedikit
brewok tipis. Wajah Linda sedikit merona, ia cemburu tentu
saja, namun ia harus sadar diri, tinggal di kota ini, hal yang
Irma Handayani 31
seperti itu adalah hal yang lumrah terjadi.
Dan setiap orang harus rela berbagi miliknya dengan
yang lain..
Sama seperti halnya Eros, berbagi kekasihnya dengan
kesatria lain jika gadis itu dibutuhkan. Linda terlalu banyak
memikirkan hal lain sekaligus mengagumi Eros disaat yang
bersamaan. Sampai ia akhirnya sadar, bahwa Eros telah dibawa
oleh seorang wanita paruh baya. Wanita itu bisa jadi adalah
wanita paling kaya yang mengerubuni Eros, terlihat mereka
sedang beradu argumen sambil memamerkan harta benda yang
mereka kenakan. Kalung, gelang bahkan cincin dan anting,
serta tak lupa bahan dari gaun yang mereka kenakan, pasti
terbuat dari sutra yang membutuhkan proses yang lama.
Dada Linda terasa diremas, berbagi Eros dengan orang
lain meskipun hanya sebentar dan itupun karena sistem barter,
bukanlah hal yang bisa ia terima. Hatinya terasa perih melihat
wanita bangsawan dengan emas berlimpah yang dikenakan
itu, kini menggandeng lengan besar Eros, lengan hangat
yang biasanya merangkul tubuh Linda dan Linda juga suka
menggandeng lengan itu ketika berjalan di pinggiran pantai
bersamanya.
“Linda?” panggilan seseorang tiba-tiba membawa
Linda kembali ke dunia, ia menoleh dan mendapati Darrius
di sampingnya. Mengenakan jubah kerajaan seperti biasa,
yang membuatnya selalu tampan dan berwibawa, meskipun di
32 Slave
balik wajah dermawan sekaligus dingin itu tersimpan segala
kengerian.
“Ahh, Lord Darrius.” Linda sedikit membungkuk,
sekilas mengusap air matanya yang ternyata sudah membasahi
pipinya. Mengingat Eros makin membuat perih di hatinya.
“Kemarilah Linda! Maaf aku meninggalkanmu tadi pagi, kau
suka pemberianku?” tanya Darrius, pria itu jarang tersenyum.
Namun semenjak semalam, Darrius seolah berusaha lembut
kepada Linda. Dan itu membuat Linda terasa aneh, Darrius
bahkan telah menjual Eros kepada bangsawan Yunani pagi ini.
“Uhm... apakah ini tidak terlalu berlebihan My Lord?”
tanya Linda, tentu dengan nada pertanyaan yang ramah, ia tidak
ingin di rajam oleh eksekutor karena berkata dengan nada kasar
apalagi kepada Darrius. Darrius yang agung, begitulah rakyat
menyebutnya.
“Oh, tentu saja tidak. Bahkan semua perhiasan itu tidak
ada tandingannya dengan kecantikanmu,” balas Darrius,
menyentuh dagu Linda agar menatapnya. Kecantikan Linda
benar-benar bagai Dewi Yunani, Darrius pasti akan sangat
bangga memiliki istri secantik Linda. Dan tentunya Linda
dapat menghasilkan anak-anak yang cantik juga untuknya
kelak. Darrius menarik lengan Linda dengan lembut, kemudian
menaruh jemari lentik Linda di lengannya.
Mereka berjalan mengelilingi pasar, Pasar Perdagangan
Prajurit, begitu Darrius menyebutnya. Darrius menjelaskan
Irma Handayani 33
tatanan kerajaan beserta sistem perbudakan yang memisahkan
antara prajurit dan budak wanita. Persamaan antara keduanya
adalah mereka ditakdirkan untuk menjadi pelayan, melayani
segala kebutuhan kerajaan dan memperjuangkan kehendak
Raja. Sebab itulah, prajurit dan budak sejatinya adalah sama,
Budak...
Darrius berjalan seiringan dengan Linda, mereka terlihat
seperti sepasang Raja dan Ratu, sangat serasi. Meski serasi
pada kenyataannya, Darrius dan Linda memiliki hati yang
berbeda, Linda sangat baik sesuai dengan wajahnya yang
cantik dan tutur katanya yang sopan. Tapi Darrius, di balik sifat
kebangsawanannya yang berwibawa. Terdapat hati yang jahat.
Seperti halnya pria yang hanya mementingkan kerajaan
dan tahta, Darrius sama seperti Raja-Raja sebelumnya. Ingin
memiliki seorang istri, dan juga selir serta budak. Dan seorang
istri, hanya menjadi lambang kerajaan. Memenuhi kebutuhan
suami dan melahirkan anak-anaknya. Darrius tersenyum
miring, ada sesuatu yang memang ia persiapkan untuk Linda.
Dan entah mengapa Linda merasa Darrius memang tidak sebaik
Eros.
Mungkin Dewi Yunani telah memberi sebuah isyarat
kepada Linda tentang perasaannya itu. Linda berlari memegang
ujung gaunnya menuju sebuah gua...
Berlari dengan tubuh lunglai dan wajah sedihnya, jemari
Linda bergetar memegangi obor yang terus mengecil karena
34 Slave
sapuan angin saat gadis itu terus berlari. Menelusuri sebuah
labirin gelap dan tanah yang lembab. Meskipun ia sangat
hafal jalan keluar gua ini, namun tubuh Linda terus membentur
dinding gua saat belokan.
Linda merasa tubuhnya mulai melemas tapi ia berusaha
tetap berjalan tertatih menapaki lorong gua, memegangi dinding
gua guna menahan bobot tubuhnya sendiri yang hampir luluh
seiring perasaannya yang tak menentu. Perasaannya cemas,
khawatir dan takut. Berharap yang ia takutkan selama hidupnya
tak akan terjadi kelak.
Sampai Linda menemukan sebuah titik terang, cahaya
dari gerhana bulan yang menerangi bibir pantai masuk melalui
jalan keluar gua. Nafas Linda tersengal saat ia telah tiba di ujung
gua, saat cahaya bulan mulai menyinari wajah cantik yang
sedang gundah tersebut. Linda berjalan dengan bertelanjang
kaki ke pinggiran pantai.
Duduk memeluk lututnya sendiri sambil tertunduk lesu,
menunduk meratapi nasibnya sebagai seorang budak. Menjadi
seorang budak di Sparta, tidaklah mudah. Mengabaikan gaun
pemberian Darrius yang telah sobek di bagian ujungnya dan
kotor di beberapa titik. Linda cantik akhirnya mengangkat
kepalanya, menatap indahnya rembulan selagi angin meniup
rambut pirangnya yang sedikit bergelombang.
Dadanya naik turun, ketika emosi dan kesedihan mulai
memainkan perasaannya. Tapi saat Linda melihat bulan yang
Irma Handayani 35
menerangi malamnya ini, ia sadar, bahwa ia tidak sendiri. Linda
percaya, Dewi Yunani sedang menguji kehidupannya. Agar
semua orang percaya dan berpegang teguh pada keyakinannya.
Itu yang sering di katakan oleh Ibunya saat Linda kecil.
Setidaknya, hal itu dapat membuatnya sedikit tenang dan
tegar.
“Linda,” seru seseorang dari kejauhan.
Tanpa Linda menoleh ia sudah yakin bahwa pemilik
suara itu adalah orang yang sama, yang menemaninya selama
beberapa tahun semenjak Linda menginjakan kaki di kota ini.
Linda menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya
secara perlahan. Ia harus mengatakan hal ini kepada Eros,
memberi pengertian kepada pria itu dan semoga saja Eros
menyetujui keinginannya.
Ayolah Linda, jadilah gadis yang kuat. Batin Linda
menyemangati.
Ia kemudian berdiri, memasang wajah percaya diri
lalu berlarian ke arah Eros. Menghambur di pelukan pria itu
sementara Linda mengendus aroma tubuh Eros.
“Ada apa?” tanya Eros heran.
Tiba-tiba Linda menjauhinya setelah pelukan singkat
yang diberikan gadis itu. Linda menggeleng, ia baru teringat
bahwa Eros baru saja selesai melakukan tugasnya dengan janda
bangsawan yang pagi ini membelinya. Terbukti dari aroma
parfum mewah yang tak pernah Eros pakai sebelumnya, karena
36 Slave
wangi Eros begitu natural, dan aroma itu adalah aroma parfum
khas bangsawan.
“Tidak apa-apa. Sebenarnya, aku memanggilmu kemari
untuk berbicara sesuatu,” ujar Linda, seraya memainkan jari
jarinya dan Eros melihat sesuatu yang aneh dari kekasihnya itu.
Eros tersenyum seraya mengernyitkan dahi melihat
Linda, senyum yang sangat manis yang dimiliki seorang
prajurit Yunani.
“Kau sangat lucu Linda, katakanlah! Aku menunggu.”
Eros menarik pinggul Linda untuk mendekat ke arahnya, namun
Linda sedikit risih mengingat Eros pagi ini telah melayani
seorang wanita penikmat seks.
“Eros, aku serius...” tukas Linda, dan akhirnya Eros
menyerah menggoda gadis itu dan membiarkan Linda berbicara
terlebih dahulu.
“Aku akan memberimu sebuah penawaran, namun
sebelum aku memberitahumu tentang penawaran tersebut.
Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Linda, wajah gadis itu
terlihat serius, dan Eros makin merasa aneh dengan tingkah
laku Linda yang tidak seperti biasanya ini.
Biasanya, Linda adalah gadis yang periang dengan gairah
menggebu ketika bertemu dengannya. Namun saat ini, seperti
ada sesuatu yang mengganjal di hati Linda, itu yang Eros lihat.
Eros mengangguk.
“Apa kau mencintaku, Eros?” tanya Linda.
Irma Handayani 37
“Kau adalah hal terindah yang pernah aku miliki,” balas
pria itu mantab, membuat keyakinan Linda semakin besar
begitu rasa kasihnya terhadap Eros dan kini saatnya Linda
membuktikan hal itu kepada Eros.
“Kalaubegitu,maukahkaupergidarikota ini?Bersamaku,
hanya kita berdua.” Kedua mata Linda berkaca-kaca.
Namun, Eros sontak terdiam, ia ingin memastikan Linda
hanya bercanda tapi ketika ia menatap secara intens wajah
cantik itu. Eros menyadari, Linda benar-benar serius dengan
ucapannya.
“Linda, apa yang terjadi padamu?” tanya Eros,
memegangi bahu ringkih itu.
“Kau lihat gaun ini? Lord Darrius memberikan gaun
ini sebagai hadiah, pagi ini, ketika aku terbangun di atas
ranjangnya,” ujar Linda, gadis itu ingin melihat reaksi Eros
saat mengetahui Linda baru saja tidur dengan satu-satunya pria
yang akan menerima seluruh tahta kerajaan ini.
Dan hal itu membuat hati Linda terasa perih, mengetahui
Eros selalu memaklumi dan menerima status Linda yang
seorang budak kerajaan. Eros selalu mengesampingkan seksual
diatas apapun, karena Eros terbiasa akan hal itu, dan karena
pria itu lahir di bumi yang tidak Linda inginkan.
Eros hanya diam, tidak menanggapi. Pikirnya, seorang
Raja sekali pun jika memberi sesuatu yang berharga kepada
budaknya, itu tidak berarti apapun, melainkan hanya pemberian
38 Slave
atau sebagai ucapan terimakasih.
“Itu hanya gaun Linda.” Kalimat pertama yang
dikeluarkan Eros berhasil menjawab penawaran yang Linda
buat, bahwa pria itu secara tidak langsung menolaknya. Seketika
angin dingin membuat tubuh Linda membeku, ditambah dengan
pernyataan Eros barusan.
“Lord Darrius bisa saja mengambil kebebasanku Eros,
apa kau sama sekali tidak mengerti maksudku?” cecar Linda,
Eros mengusap kasar wajahnya.
“Linda, dengarkan aku! Aku tidak akan mungkin
meninggalkan pasukan yang telah aku pimpin selama beberapa
tahun terakhir, dan peperangan Sparta adalah mimpiku sejak
kecil.” Eros memegang bahu Linda dengan keras, seolah
menyadarkan Linda dimana mereka berdua berteduh dan
tinggal. Mengingatkan Linda, ia harus berterimakasih kepada
kerajaan yang telah memberinya makan dan minum.
“Besok Sparta akan menyerang Argos, seharusnya kau
mendukungku dalam peperangan Linda. Bukan menarikku dari
barisan pasukan demi hal sepele yang belum tentu terjadi, aku
tidak ingin kalah dalam pertempuran ini. Sparta adalah bagian
dari belasan bahkan puluhan kerajaan, dan aku ingin menjadi
salah satu prajurit yang paling dikenal di seluruh Sparta Linda,
apa kau mengerti kataku?!”
Linda terdiam. Eros berkata panjang lebar seolah dia
bukanlah Eros yang lembut yang pernah Linda miliki selama
Irma Handayani 39
hidupnya.
Pria itu penuh dengan ambisi, terkadang Linda berpikir
bahwa dirinya tidak sanggup untuk memenuhi segala ambisi
Eros dan pergi saja dari kehidupan pria itu, meski ia sangat
mencintai Eros. Dan Linda mulai berpikir, Linda tak bisa lagi
mendampingi Eros dari kegelapan malam dan menunggunya
pulang dari medan pertempuran.
Harapan Linda hancur begitu saja...
❍❍❍
40 Slave
berdiri di garis paling belakang dan mengamati prajuritnya.
Saat semua prajurit bersiap, Eros memimpin pasukannya
keluar dari gerbang kerajaan. Ribuan pria yang siap mati itu
telah mengenakan seragam perang serta menenteng perisai.
Prajurit dengan barisan rapi itu adalah pimpinan Eros, seperti
ambisi yang selalu ia agung-agungkan. Eros ingin semua
pertempuran ia menangkan dengan kerja keras dan disiplin,
memiliki prajurit yang terlatih namun juga menjunjung tinggi
kewibawaan dan patuh terhadap kerajaannya. Eros ingin
semua yang ia miliki selalu tampil sempurna dan membawa
kebanggaan saat ia pulang.
Namun, saat Eros mendongak melihat ke arah balkon
istana. Wajahnya berubah...
Banyak anggota istana di atas sana dan juga pelayan
kerajaan yang tak lain adalah budak kerajaan, berkumpul
mengenakan busana resmi kerajaan tapi bukan itu yang
membuat Eros menjadi heran. Itu adalah yang biasa terjadi
jika ada sebuah perayaan. Dan Eros terus memikirkan sebuah
perayaan untuk memperingati apa? Karena ia melihat wajah
yang paling cantik di seluruh kerajaan ini, mengenakan jubah
bangsawan. Sangat cantik dan sangat pantas ia kenakan,
seperti Dewi Yunani yang turun dari singgasananya. Linda
mengulurkan sebelah tangannya, tepat ketika Lord Darrius
berlutut di hadapan gadis itu.
Seketika dunia Eros terasa runtuh detik itu juga...
Irma Handayani 41
Lord Darrius, melingkarkan sebuah cincin di jari manis
milik Linda dan gadis itu hanya diam, ketika jari manisnya
telah dikelilingi oleh sebuah logam mulia disaat gadis itu telah
memiliki seorang kekasih. Dan sayangnya, kekasih hatinya itu
melihat secara langsung hal itu dengan kedua matanya sendiri.
Dari kejauhan Eros melihat hal itu terjadi begitu saja,
seolah tanpa ada raut wajah bersalah Linda hanya diam ketika
cincin itu menjadi simbol pertunangan, terlebih lagi, pria itu
adalah Lord Darrius. Dan baru Eros sadari, ucapan Linda
semalam beserta rengekan gadis itu ternyata bukanlah sebuah
bualan semata.
Wajah Linda memang terlihat datar, yang berarti ia
memang tidak dapat melakukan apapun selain mengikuti
alur kehidupannya. Meskipun dalam hati ia menangis akan
ketakutannya selama ini telah menjadi kenyataan, hidup
menjadi budak dan kini selangkah lagi ia akan menjadi seorang
permaisuri. Permaisuri yang hanya dijadikan sebuah boneka
oleh Darrius.
Lord Darrius, pria yang akan menjadi suaminya itu
tersenyum kepadanya. Bukan senyuman cinta yang seperti
Eros berikan kepadanya, namun senyuman kemenangan akan
ambisinya yang telah tercapai. Darrius telah mencapai semua
yang diinginkannya, pasukan hebat yang dipimpin oleh Eros,
dan sekarang seorang calon istri yang paling cantik yang ada
di Yunani.
42 Slave
Linda hanya diam saat Darrius memeluk tubuhnya dan
diiringi sorak-sorai pada budak yang sudah pasti iri dengan
Linda. Pagi ini, Linda terbangun di kamarnya dan mendapat
panggilan dari Lord Darrius. Disaksikan oleh sang Raja dan
Ratu serta beberapa selir, Lord Darrius melamar Linda untuk
menjadi istrinya.
Perasaan Linda pagi itu benar-benar terkejut, hal yang
paling ia hindari adalah menjadi seorang istri bangsawan, kini
terjadi juga. Melihat pandangan pilu Ratu terhadap Linda,
makin membuat perasaan Linda tak karuan. Di sisi lain ia
harusnya berterimakasih kepada Raja yang telah bersedia
anaknya menikahi seorang budak, tapi menjadi seorang istri di
negeri ini, tidaklah lebih baik dari pada seorang budak.
Linda tahu konsekuensi yang akan ia dapat jika menolak
Lord Darrius, pandangan pria itu seolah ia akan membunuh
Linda detik itu juga jika Linda menolaknya mentah-mentah di
depan seluruh selir Ayahnya. Ia lebih baik menebas leher Linda
dengan pedangnya, dari pada menanggung malu hanya karena
seorang budak menolak keinginannya.
Dan lamaran itu adalah sebuah perintah dari Darrius,
bukan permintaan. Hingga pada akhirnya, Linda bersedia
menerima Darrius sebagai suaminya. Semua orang turut
bahagia akan kabar tersebut, Raja sangat bangga memiliki
menantu seperti Linda yang kecantikannya melebihi apapun di
Sparta. Linda seperti sebuah aset berharga bagi Darrius, dan
Irma Handayani 43
ia akan menjaga dan menyimpan Linda layaknya sebuah harta
yang tidak boleh seorang pun menyentuhnya.
Seperti sebuah patung Dewi dengan seluruhnya terbuat
dari emas murni yang sangat cantik, dipajang dan diperlihatkan
kepada seluruh bangsawan dan kerajaan-kerajaan yang ada di
penjuru Sparta. Dipoles dan dibersihkan dengan lembut, tanpa
ada seorang pun yang boleh menyentuhnya.
Itulah perumpamaan Darrius kepada Linda, bahwa gadis
itu hanyalah sebuah patung tidak dapat bergerak jika bukan
Darrius yang menggerakannya, walaupun sangat indah. Dan
hanya menjadi tontonan orang-orang, agar mereka mengakui
kebesaran seorang Darrius, yang dapat menaklukan hati seorang
gadis paling cantik di kerajaan ini.
Hari itu juga, Darrius memutuskan pertunangan mereka
berlangsung. Di hari yang sama ketika Eros akan membawa
pulang kemenangan melawan Argos, semua ini seperti hadiah
yang diterima Darrius dalam satu waktu. Ia mendapatkan
Linda, dan juga mendapatkan kebanggaan dari Sparta jika Eros
memenangkan pertempuran itu.
Para budak memberi taburan bunga kepada Lord Darrius
dan Linda yang tengah berbahagia, meskipun di sini hanya
Darrius yang memiliki kebahagiaan tersebut, sementara Linda
tidak. Ia menatap nanar ke bawah sana. Di balik kerumunan
prajurit yang akan pergi berperang, terdapat seorang prajurit
yang Linda yakini melihat pertunangannya barusan dengan
44 Slave
Darrius.
Di balik netra kebiruan Linda yang sangat indah, ia ingin
sekali menumpahkan air mata yang menggenang semenjak
Eros menolak untuk pergi bersamanya. Linda hanya menatap
Eros dari jarak jauh dengan pandangan datar, pria itu tidak lagi
bisa menolongnya dari ikatan Darrius. Dan itu semua adalah
kesalahan Eros.
Dada Eros bergemuruh meski wajahnya seolah memelas
menatap Linda, seolah Eros ingin mengulangi malam tadi dan
mungkin semua ini tidak akan terjadi. Ambisinya mengalahkan
cintanya kepada Linda, dan bodohnya ia tidak mempercayai
perkataan gadis yang seharusnya ia lindungi itu. Sekarang,
Eros harus merelakan gadis itu, menikah dengan pria lain tanpa
bisa Eros sentuh lagi.
Lengan kekar serta berurat melemparkan sebuah tombak
tepat di jantung prajurit Argos, menancap sempurna dan
membuat tubuh prajurit tersebut limbung terjatuh ke atas tanah.
Sparta menyerang Argos dengan brutal, suara pedang dan
perisai diiringi jeritan prajurit yang tengah berperang di bawah
terik sinar matahari. Seolah Dewa Apollo memberikan restunya
kepada Sparta untuk membantai Argos.
Setidaknya itulah yang ada di pikirian Eros...
Ia membantai pasukan Argos dengan membabi buta,
seolah dia adalah Dewa Perang dan akan memenangkan
pertempuran ini. Amarah masih mengalir di urat nadinya,
Irma Handayani 45
hingga membuat jantungnya berdetak kencang dan dadanya
menjadi bergemuruh. Mengingat peristiwa pagi ini, masih
sangat segar di ingatan Eros, dan tidak akan pernah ia lupakan
seumur hidupnya.
Eros berteriak kencang, menebas leher pasukan Argos
tanpa ampun dan membiarkan mereka sekarat dengan leher
yang menganga. Terkadang, Eros bisa menjadi sangat kasar
jika emosi melanda dirinya. Dan terkadang, pasukan Eros lupa
jika komandan mereka adalah prajurit paling ganas yang pernah
mereka temui.
Eros membantai setengah dari pasukan Argos, saat
Sparta lagi-lagi memenangkan pertempuran dan menyebabkan
semua prajurit Argos bergelempangan di atas tanah tandus. Eros
berjalan paling depan mendahului pasukannya sendiri, menuju
istana Argos dan berniat menemui pemimpinnya. Pasukan Eros
dapat melihat hal yang tak biasa dari komandannya.
Dari desas-desus yang beredar, dari cara Eros menatap
seorang budak wanita yang telah menjadi tunangan Lord
Darrius. Mereka kini yakin, ada hubungan tersembunyi antara
budak tersebut dengan Eros. Dan sekarang Eros meluapkan
kemarahannya itu lewat pertempuran ini, mungkin hal itu
sangat berguna untuk menang, tapi mereka terlihat ketakutan
menyaksikan sifat asli dari Eros.
Eros yang biasanya tegas dan bijaksana dalam memimpin
pasukan, berubah menjadi singa liar yang haus akan membunuh.
46 Slave
Saat Eros memasuki sebuah kerajaan Argos, ia menyuruh
pasukannya untuk menjarah tempat tersebut. Membuat para
bangsawan yang ada di sana berlari ketakutan, Eros menuju
ruang penyimpanan harta karun milik Argos. Seorang prajurit
mengendap mendekatinya, meskipun ia sedang sibuk memilih
jarahan, namun Eros masih mendengar langkah kaki yang
hampir sama sekali tidak terdengar.
“My Lord,” seru prajurit yang selalu setia mendampingi
Eros di setiap pertempuran.
“Atticus,” balas Eros masih membelakangi Atticus
memilah-milah harta jarahannya. Seketika pandangan Eros
tertuju pada sebuah mutiara yang indah.
“Lord Darrius menyampaikan pesan agar semua pasukan
cepat kembali ke kerajaan, karena akan ada pernikahan...”
Atticus berucap pelan, takut membangunkan banteng pemarah
itu lagi. Eros hanya diam, tanpa ia harus bertanya ia sudah tau
itu pernikahan siapa. Rambut gondrong dan pirang milik Eros
ia biarkan terurai begitu saja.
Menyibakan helaian yang membatasi pandangannya
dengan jemari kekarnya, Eros tidak lagi perduli dengan
tampilannya. Jika ambisi dan amarahnya hanya membuat gadis
itu membuat keputusan secara terpaksa, dan Eros akui itu
semua adalah kesalahannya.
“Ya, perintahkan pasukan untuk kembali!”
“Aku akan menyusul nanti,” ujar Eros, memegang
Irma Handayani 47
mutiara tersebut menggunakan dua jarinya.
Sekilas terpikir oleh Eros untuk membawa mutiara
tersebut seperti yang selalu ia lakukan dulu. Tapi kini ia sadar,
tidak akan ada lagi gadis yang akan mengenakan mutiara ini
di kalung atau sebagai hiasan di rambut yang indah. Gadis itu
kelak akan memiliki harta benda yang lebih bernilai dari pada
yang ia bawa untuk mempercantik tampilannya.
Eros meletakan kembali sebulir mutiara yang bernilai
tinggi tersebut, meninggalkan ruang harta dengan tanpa
membawa barang jarahan seperti yang biasa ia lakukan.
Kembali ke kerajaan seperti perintah Lord Darrius, pria yang
akan menjadi suami dari gadis yang telah ia jaga selama ini.
Lord Darrius...
Satu-satunya pewaris kerajaan yang berdiri sejak lama,
kerajaan dari sebagian kecil wilayah Sparta. Satu-satunya
pangeran yang memiliki ambisi besar dalam kekuasaan
wilayah, jatuh cinta pada seorang budak seperti Linda. Hal itu
adalah wajar bagi Eros, karena Linda adalah gadis yang paling
cantik yang pernah ia temui di Sparta.
Eros berjalan seorang diri, tanpa pasukan yang biasa ia
pimpin. Punggung kekarnya terlihat lesu, tak seperti biasa ia
terlihat gagah dan berani serta menunjukan sikap bijaksananya
dalam memimpin. Seorang prajurit kekar seperti Eros ternyata
memiliki hati yang rapuh, ia sudah bersama Linda semenjak
gadis itu masih sangat belia ketika pindah ke kotanya.
48 Slave
Menjaga gadis itu hingga gadis itu menyatakan
perasaannya kepada Eros, gadis yang sangat periang meski di
dalam hatinya masih menyimpan duka mendalam atas kematian
kedua orang tuanya dulu. Gadis cantik yang membuat Eros
selalu bersemangat untuk pulang dari peperangannya, untuk
membawakan gadis itu cinderamata yang indah.
Kini telah berpindah tangan kepada seorang pria yang
sama sekali tidak mengerti rasa kasih sayang dan hanya haus
akan kekuasaan. Entah bagaimana jadinya nanti Linda bersama
dengan Darrius, Darrius memiliki sifat yang sama dengan Ayah
dan Raja-Raja sebelumnya. Memiliki banyak selir dan budak,
dan Eros merasa Linda tidak akan siap untuk itu.
Keringat dan sedikit cipratan darah membanjiri tubuh
kecoklatan Eros, pakaian perang yang terbuka di bagian dada
itu meperlihatkan peluh yang berjatuhan dari rahang tegasnya.
Berjalan di bawah terik sinar matahari dan lautan pasir,
membiarkan rambut gondrongnya tertiup oleh sapuan angin
gurun.
Selama hidupnya, Eros tak pernah sesedih ini.
Sejak kecil ia terbiasa akan peperangan yang telah
merenggut paksa Ayahnya, dan Ibunya yang menjadi budak
di kerajaan sama seperti Linda. Ia telah terbiasa dengan segala
budaya yang ada di Yunani, tapi entah kali ini, Linda berbeda
dari yang ia harapkan. Kekhawatiran gadis itu semalam yang
membuat Eros tak dapat berpikir jernih.
Irma Handayani 49
Raut wajah yang takut, seolah Linda tidak ingin
pernikahan itu terjadi. Meski akhirnya ia harus dengan terpaksa.
Linda telah memberi peringatan kepada Eros, namun Eros
sendiri yang menampik hal itu hingga mengorbankan hidup
Linda untuk selamanya. Kini baru Eros sadari, rengekan Linda
semalam bukan bualan semata.
Rengekan Linda adalah hal terakhir yang Eros lihat, dan
hal itu yang membuat tubuh besar Eros seakan tak mampu
berdiri.
Melihat sebuah kerajaan yang begitu makmur dari
kejauhan, dan Eros membayangkan gadis itu kelak akan
memimpin kerajaan tersebut bersama Darrius. Menggantikan
posisi Ratu dan Raja jika usia mereka sudah habis. Pernikahan
yang begitu cepat terlaksana, seolah Darrius tak ingin
kehilangan gadis yang paling cantik di seluruh Sparta. Dengan
dada bergemuruh, Eros membayangkan hal tersebut. Linda
akhirnya bahagia, tanpa menjadi budak yang selalu melayani
kerajaan. Dilayani sebagai permaisuri dan diperlakukan bak
barang yang paling antik.
Meskipun di balik itu semua Eros tidak akan pernah
tahu segala tekanan yang akan diterima Linda sebagai istri
Darrius. Kedua netra biru menatap ke luar jendela, pantulan
sinar matahari membuat kedua mata itu terlihat sangat indah.
Hari yang cerah dengan langit biru, warna yang senada dengan
air laut. Memperlihatkan keindahan yang ada di Bumi Sparta,
50 Slave
ditambah dengan burung-burung beterbangan dengan indahnya.
Linda sering melihat keindahan seperti ini, setiap hari.
Tapi iniadalahharipernikahannyadengan Darrius,Linda sempat
mengira hari ini akan dihiasi oleh awan mendung dan hujan
badai serta kilat. Seperti hatinya yang tidak rela dipersunting
meski oleh seorang pangeran sekalipun. Tapi hari ini, seolah
para Dewa dan Dewi turut bahagia diatas penderitaan Linda.
Gadis paling cantik yang ada di salah satu kerajaan milik
Sparta, rambut pirang bergelombang ditata seindah mungkin.
Dihiasi oleh aksesoris serta bunga yang cantik, secantik calon
mempelai wanita yang mengenakannya. Anting yang terbuat
dari mutiara, seketika membuat Linda teringat akan sesuatu
yang pernah diberikan Eros untuknya. Linda memegangi benda
yang mengalung indah di lehernya.
Namun seorang perias kerajaan menyuruhnya untuk
melepaskan kalung tersebut dan diganti dengan kalung yang
lebih mewah lagi dari Lord Darrius, awalnya Linda sempat
menolak. Namun sang perias tetap bersikeras dan berkata
Lord Darrius akan murka jika ia menolak. Dan lagi-lagi, hal
itu membuat Linda tersadar, betapa lemahnya derajat seorang
wanita.
Linda melepas kalung tersebut, menatapnya sebentar,
meski sebentar dapat membuat hatinya teriris. Linda lalu
menaruhnya dalam sebuah laci, meninggalkannya di situ.
Seolah ia meninggalkan pemiliknya dan menyembunyikannya
Irma Handayani 51
di tempat terdalam, sangat dalam sampai tak ada seorang
pun yang mengetahuinya. Dan mungkin begitulah Linda
menjabarkan Eros dalam hidupnya.
Eros bagai kalung mutiara yang Linda simpan di bagian
terdalam di hatinya dan menyembunyikan pria itu dari Lord
Darrius. Hanya sebuah mutiara dengan warna indah, dipadukan
dengan tali berwarna hitam meski hal itu tidak mengurangi nilai
keindahan dari mutiara tersebut. Tidak terlihat mewah seperti
kalung yang disediakan oleh Lord Darrius, tapi sangat berharga.
Berharga karena meskipun hanya satu buah mutiara, ia dapat
mempercantik tampilan Linda, tak kalah dengan segenggam
mutiara yang sekarang Linda kenakan.
Linda berdiri dari kursi rias dibantu oleh beberapa
pelayan kerajaan. Gaun satin berwarna putih menjuntai indah,
sangat halus di kulit mulus Linda. Terbuka di bagian belakang
punggung dan memiliki belahan dada rendah. Hari ini, Lord
Darrius benar-benar menunjukan pesona kecantikan Linda yang
sebenarnya ke seluruh dunia. Tak perduli apapun latar belakang
Linda dan dari mana ia berasal. Nyatanya, Dewi Yunani telah
memberikan sedikit kecantikan kepada Linda, gadis yang
akan menjadi istri Lord Darrius. Linda cantik berdiri di depan
cermin, tak menyangka yang berdiri di sana adalah dirinya.
Saat Tandu kerajaan menuju pusat istana, dipikul oleh
empat orang membawa mempelai wanita yang kini tengah
merutuki nasibnya sebentar lagi. Segala perhiasan yang gadis
52 Slave
itu kenakan sebenarnya menyulitkan dirinya untuk bergerak,
namun ini adalah hari pernikahan. Bangsawan Sparta dari
kerajaan lain turut menghadiri pesta rakyat yang akan digelar
selama berhari-hari. Tentu Linda akan mengenakan pakaian
seperti ini di setiap harinya nanti.
Ketika tandu kerajaan yang Linda naiki melewati seluruh
rakyat yang juga ingin melihat calon Putri mereka, semua
merasa takjub dan bersorak. Memuja kecantikan Linda saat ia
tersenyum kepada ribuan orang yang ada di bagian luar istana,
meskipun Linda hanya mencoba ramah di saat hatinya terasa
sakit.
Dan tiba saatnya ia menuju ke dalam bagian pusat istana,
di mana golongan bangsawan menunggu. Linda mendengar
bisikan-bisikan saat ia memasuki istana, entah itu bisikan
memuja kecantikannya atau sekedar berbisik bahwa Linda
hanya berasal dari golongan budak Sparta. Sebagian dari
mereka mengagumi kecantikan Linda yang sering dijadikan
bahan omongan bahwa calon mempelai Darrius sangat
cantik. Dan memang benar kenyataannya. Dan sebagian lagi
mencibir bahwa Linda hanya beruntung dipersunting oleh
Lord Darrius, dan beruntung memiliki wajah cantik sehingga
dapat meluluhkan hati Darrius yang keras. Padahal, Linda ragu
Darrius memiliki hati.
Linda berjalan tepat di antara orang-orang bangsawan itu.
Menuju Darrius yang sudah gagah dengan jubah bangsawannya
Irma Handayani 53
beserta anggota keluarga kerajaan. Tak hanya wajah cantik
yang dimiliki oleh Linda, tubuh tinggi dan langsing itu sangat
pas dengan gaun yang ia kenakan saat ini. Beberapa orang
sempat berpikir bahwa mereka sedang melihat Dewi Afrodit
yang berjalan disana, dan mereka menyadari, kecantikan Linda
memang tiada tara.
Menggenggam bunga, di dalam hati ada kegugupan
tersendiri. Gugup karena harus bersanding dengan seorang
pangeran yang terkenal dengan kesadisan dan kekejamannya
dalam memerintah. Serta gugup karena ia tidak rela menikah
dengan Darrius saat ada seseorang yang kecewa di luar sana,
Linda tertunduk lesu. Saat telah berada di depan Darrius, pria
itu malah menarik dagunya agar menatap ke arahnya langsung.
Linda menegak salivanya sendiri, ia belum menjadi istri
Darrius. Tapi pria itu sudah menunjukan sikap otoriter dan tak
ingin ditentang, terbukti saat ini. Saat Linda menatapnya, wajah
pria itu datar namun tatapannya menohok bagi Linda.
Seolah Linda adalah boneka dan harus patuh pada setiap
perintahnya. Setelah resmi menyandang gelar sebagai seorang
Putri kerajaan, Darrius langsung membawa Linda berkeliling
dan memperkenalkan istrinya yang cantik itu kepada seluruh
bangsawan Sparta. Menggengam jemari Linda dengan kuat
dan sesekali meremasnya, jika gadis itu tak mengindahkan
perkataannya. Dan semua ketakutan Linda kini jadi kenyataan,
ia benar-benar menjadi sebuah boneka bagi Darrius. Diajak
kesana kemari dan dipertontonkan keindahannya.
54 Slave
Seketika tubuh Linda menjadi lemah, bukan karena ia
tak selera dengan makanan yang disajikan hari ini. Tapi lemah
karena ia muak dengan Darrius, ini baru permulaan, selanjutnya
Linda tidak dapat berpikir, apa ia sanggup. Seharian menjadi
boneka Darrius, akhirnya pria itu meninggalkan Linda sendiri
dan lebih memilih mabuk bersama beberapa budak kerajaan.
Dan itu membuat hati Linda sedikit perih meskipun ia tak
mencintai pria itu, tapi Linda berada di posisi sebagai Putri
tidak memiliki harga bagi pangerannya.
Linda duduk bagai patung, tidak penting dan tidak
berharga. Seorang diri, ia ingin sekali keluar dari keramaian
ini mencari udara segar. Tapi ia tahu, itu akan membuat Darrius
murka. Berjam-jam seperti itu, mendengar suara tawa para
bangsawan yang seolah meremehkan dirinya. Linda akhirnya
tidak tahan dan berdiri dari duduknya, memegang ujung
dressnya dan berjalan entah kemana.
Sampai tiba di ruangan yang sepi, akhirnya ia menemukan
kedamaian. Linda bersandar di dinding sambil menutup
kedua matanya, dunia ini terlalu bising untuknya. Linda ingin
kesunyian seperti berada di pinggir pantai, tapi ia sadar hal itu
tidak akan terjadi lagi. Tapi tiba-tiba, telinga Linda mendengar
suara erangan. Memecah kesunyian dan ketentramannya yang
hanya sebentar, saat Linda mencari asal suara. Ia mengendap,
mengintip ke sebuah ruangan terbuka dan mendapati dua orang
tengah bercinta.
Irma Handayani 55
Itu adalah hal yang biasa terjadi di Sparta, tapi bagaimana
jika itu adalah pria yang baru saja ia nikahi hari ini? Tubuh
ringkih itu terduduk di atas meja dengan kedua kaki terbuka
lebar, gaun tersingkap memberikan akses kepada seseorang
untuk menjamah tubuhnya. Desahan seksi ketika pinggulnya
diremas oleh jemari kekar, mendongak menikmati setiap
sentuhan pria yang paling berpengaruh di kerajaan ini. Kedua
matanya terpejam meski sang pria berusaha membuat kedua
matanya tetap terbuka.
Agar si pria dapat melihat wajah yang tengah dilanda
gairah itu. “Ahh... master...” wanita itu mendesah. Desahan
yang diiringi geraman sang pria, mengalun indah dan
menggema di ruangan yang sangat terbuka. Tanpa sadar ada
seorang gadis yang bersandar di balik dinding besar melihat
perbuatan mereka.
Dengan pandangan kosong, Linda bersandar dengan lesu.
Di balik dinding besar itu, terdapat dua orang anak manusia
yang tengah memadu kasih. Dengan gairah menggebu dan
nafas berat, keringat berjatuhan dan sudah pasti tubuh mereka
sangat panas meski hari sudah malam. Di tengah-tengah
perayaan pernikahan, Darrius memadu kasih dengan budak lain.
Dan Linda sadar, ini hanya permulaan dari kesengsaraannya
menikahi pria itu.
Linda dapat mendengar dengan jelas, suara ketika Darrius
menyetubuhi budak wanita itu. Mendengar kecupan bibir yang
56 Slave
saling beradu, dan mendengar wanita itu menyebutkan nama
Lord Darrius seolah ia telah sampai pada klimaksnya. Jantung
Linda terasa tertusuk oleh belati. Tak tahan berlama-lama
berada di sana, akhirnya Linda berlari seraya menjinjing ujung
dressnya keluar dari istana. Ia tak ingin menjatuhkan air matanya
demi Darrius, karena Linda sama sekali tidak mencintai pria
itu. Namun harga dirinya sebagai seorang istri, dan sebagai
seorang Putri di kerajaan ini sama sekali tidak memiliki arti.
Linda hanyalah sebuah patung cantik bagi Darrius.
Linda keluar dari istana melalui gerbang belakang,
menghindari keramaian di luar sana ketika semua rakyat tengah
berpesta minuman dan seks bebas. Itu sudah menjadi kebiasaan
jika sebuah perayaan digelar secara besar-besaran. Linda
berlari entah kemana, mungkin setelah ini Darrius akan murka
jika mengetahui permaisurinya telah hilang.
Permaisuri yang cantik dan terlihat polos, tidak akan
pernah tunduk pada Darrius yang agung sekalipun. Permaisuri
yang terlihat lemah, tidak akan pernah menuruti segala perintah
Darrius. Karena pada dasarnya, Darrius memang memilikinya,
memiliki tubuhnya dan juga hidupnya. Tapi Darrius tidak bisa
merenggut paksa hati dan perasan Linda semudah itu.
Linda berlari tak tahu arah jalan, namun ia baru sadar
kedua kakinya menuntunya ke sebuah tempat yang biasa ia
tuju kala seorang diri. Sebuah labirin yang ada di dalam gua,
menuntunnya kembali ke sebuah pantai dengan ombak dan
Irma Handayani 57
angin yang segar. Membuat nafas Linda yang tadinya terasa
sesak, kini menjadi segar.
Linda menarik nafas dalam-dalam lalu
menghembuskannya perlahan, udara segar di malam hari di
pinggir pantai selalu ia rindukan. Mengabaikan fakta bahwa
dirinya kini telah menjadi seorang putri sekaligus istri Lord
Darrius yang terkenal dengan kebuasannya. Linda merasa lebih
tenang berada di sini, ia berdiri menikmati angin dingin yang
menerpa rambutnya.
Cukup lama ia berdiri di sana, sampai siluet seseorang
berhasil mengejutkan Linda. Tubuh besar yang selalu
bertelanjang dada, keluar dari pepohonan.
Lagi-lagi, Linda harus menahan jantungnya agar tak
berdegub keras. Hari ini penuh dengan kejutan, dan pria yang
kini ada di hadapannya itu selalu memberinya kejutan. Linda
terdiam, sementara pria itu menatapnya datar. Mungkin terkejut,
karena seorang permaisuri seperti Linda berjalan sendirian ke
dalam gua tanpa dikawal oleh pengawal dari kerajaan.
“Sepertinya aku menemukan mutiara yang tersesat,” ucap
Eros, berjalan perlahan mengelilingi Linda. Sementara Linda
masih terdiam ketika deru nafas Eros menggelitik di sekitar
tengkuk leher dan wajahnya. “Apa aku harus menunduk juga di
hadapanmu Tuan Putri? Kenapa di malam pernikahanmu yang
mewah ini, kau malah pergi dan mengabaikan sentuhan Darrius
di kulit mulusmu serta ranjang yang empuk itu?” cecar Eros,
pernyataan pria itu barusan sangat menusuk jantung Linda.
Pertama, Darrius malah bercinta dengan wanita lain,
58 Slave
mengabaikan dirinya yang sudah berstatus menjadi istri Darrius.
Kedua, pernyataan Eros seolah menyudutkan Linda. Seolah
berkata, bahwa di sini Linda adalah orang yang jahat. Yang
rela meninggalkan kekasihnya demi kehidupan mewah dan tak
lagi menjadi budak kerajaan, seolah Linda lebih memilih Lord
Darrius yang berkuasa dan mengabaikan Eros yang perkasa.
Eros tiba-tiba berhenti di depan Linda, wajahnya sangat
dekat dengan Linda. Seolah ingin mengecup bibir Linda,
seperti yang biasa mereka lakukan dulu ketika bertemu di sini.
Tapi tidak, Eros hanya mempermainkan Linda yang berpikir
akan menciumnya malam ini juga. Mengetahui bahwa gadis itu
masih menginginkan dirinya.
“Apa yang kau lakukan di sini Putri?” tanya Eros, dengan
penekanan di akhir kalimat. Seolah mengingatkan Linda bahwa
kini dia adalah seorang Putri dan tidak seharusnya berada di
sini.
“Aku butuh pelepasan...” rintih Linda, suaranya tercekat.
Seperti orang yang menahan tangis namun lebih pilu, dan Eros
yang mendengarnya seolah ada sesuatu yang membuatnya tak
tega melihat Linda.
Eros tahu Linda tersakiti, Eros tahu Linda sedih dan gadis
itu tidak ingin pernikahan ini terjadi. Dan Eros sadar, itu semua
adalah kesalahannya yang tidak pernah mendengarkan keluh
kesah gadis itu. Namun, saat ini Eros masih dalam egonya yang
tinggi. Meskipun ia tahu menjadi seorang permaisuri atau istri
Raja itu tidak sebebas menjadi seorang budak.
Eros masih tidak dapat menerima kenyataan bahwa gadis
Irma Handayani 59
yang ada di hadapannya saat ini, gadis yang ia jaga sedari
kecil, gadis yang paling cantik di seluruh Sparta, serta gadis
yang selalu menyukai sentuhannya, kini menjadi istri pria lain.
Membayangkan bagaimana Darrius memperlakukan Linda
dengan buruk, menyakiti Linda di atas ranjang dan melecehkan
gadis yang rapuh itu. Membuat Eros menahan amarahnya.
“Aku hanya butuh pelepasan,” kata Linda lagi,
mengulangi kalimatnya tadi yang Linda rasa tak didengar oleh
Eros. Karena Eros terlalu hanyut dalam khayalannya sendiri
yang akhirnya membuat hatinya menjadi kalut.
“Oh, kau butuh pelepasan?” tanya Eros bertanya balik
pada Linda, wanita itu mengangguk.
Nafas Eros makin menderu, melihat gadis itu dengan
polosnya mengangguk. Seperti Eros melihat Linda ketika gadis
itu masih sangat kecil, sangat polos dan tidak mengerti apapun.
Sampai pihak kerajaan mengambil Linda untuk dijadikan
budak. Kini, peristiwa itu kembali terulang. Darrius mengambil
Linda lagi darinya untuk dijadikan istri. Meskipun kehidupan
Linda akan lebih baik, nyatanya ia tidak rela membiarkan Linda
menjadi boneka Darrius.
“Aku akan memberimu pelepasan yang tidak akan pernah
kau lupakan tuan Putri,” ujar Eros, lalu mengecup bibir Linda
dengan sangat bergairah. Bibir dari istri Lord Darrius.
60 Slave
Chapter 2
Linda
arrius berteriak memanggil para penjaga, wajahnya
D memerah dan urat-urat di lehernya tercetak dengan jelas
saat ia memaki penjaga yang dirasa tidak becus menjaga Linda.
Gadis itu baru saja menjadi istrinya, namun belum sehari
menyandang gelar sebagai istri Darrius, Linda menghilang
tanpa pamit terlebih dahulu padanya.
Darrius menggetarkan gigi dan mengepalkan kedua
tangan, semua penjaga istana tahu bagaimana sifat Darrius
jika ia sedang murka. Darrius bisa saja membunuh siapapun
di hadapannya, atau membawa penjaga yang lalai ke dalam
kandang singa. Semua penjaga istana termasuk para budak
wanita berlarian mencari Linda, meskipun di tengah pesta yang
begitu meriah. Dan semua rakyat di luar sana tengah menikmati
kekayaan alam mereka yang sangat melimpah.
Wajah Darrius nampak datar, berusaha menahan
amarahnya yang siap meledak jika Linda sudah ditemukan. Ia
akan meremukan gadis itu dan mencambuknya puluhan kali.
Darrius tidak menanggung malu, ketika semua bangsawan
merasa aneh dengan pernikahan Darrius, ketika mempelai
wanita hilang di tengah-tengah pesta meriah seperti ini. Tapi
Darrius menahan rasa kesalnya, karena sebagai seorang
pangeran sekaligus suami, ia sama sekali tidak dihargai oleh
Linda. Dan mungkin inilah yang dikatakan Linda tempo hari,
gadis itu tidak akan pernah tunduk kepada Darrius meski ia
memiliki tubuh dan hidup gadis itu sekalipun.
62 Slave
Wajah Darrius bertambah merah mengingatnya,
ingin rasanya ia melemparkan gadis pembangkang itu ke
dalam kandang singa agar gadis itu tahu arti dari ketakutan
sesungguhnya. Tapi Darrius, tidak akan rela tubuh mulus dan
wajah cantik itu tergores sedikitpun kecuali karenanya. Tidak
akan...
Desas-desus akhirnya terdengar di telinga Darrius, semua
bangsawan dari penjuru Sparta berbisik tentang istri Darrius
yang tidak bisa diatur dan patuh terhadap suami. Tapi Darrius
tidak perduli perkataan orang lain, hati dan mentalnya terbuat
dari batu. Tidak ada yang bisa merobohkannya sekalipun
ucapan pedas. Tapi, yang membuatnya benar-benar marah kali
ini, adalah gadis itu. Linda, gadis yang tidak bisa ia taklukan
meski sudah ia nikahi sekalipun.
Dan ini baru permulaan...
Dengan wajah kesal, Darrius meninggalkan pesta besar
itu. Masih menggunakan jubah kerajaan, ia meninggalkan
tempat yang kini telah dipenuhi oleh bisikan para bangsawan
karena Linda. Darrius menuju kamarnya, menunggu semua
penjaga yang sedang mencari Linda. Setelah gadis itu
ditemukan, Darrius akan menumpahkan segala kekesalannya.
❍❍❍
Irma Handayani 63
dan sebagian pasir itu mengotori kulit mulusnya. Gadis itu
mendesah panjang, ketika brewok tipis Eros menggelitik leher
jenjangnya dan sesekali mengecupnya, sampai Linda tak sadar
jika ia meremas rambut gondrong milik Eros.
“Eros, hentikan! Aku harus kembali,” ucap Linda seraya
mendesah, usai adegan percintaan mereka, Eros tak henti
hentinya memainkan tubuh Linda. Membuat tubuhnya kembali
panas dan sesuatu dalam dirinya berdenyut, Linda memang
tidak bisa menghindari segala sentuhan Eros yang sangat intens
dan menggairahkan.
Tak lama, Eros menghentikan kegiatannya dan
menghentikan sentuhannya di setiap jengkal kulit mulus Linda.
Bagi Linda, sentuhan Eros adalah sebuah siksaan ketika dirinya
terus dilanda gairah dan ingin Eros selalu berada di dalamnya,
maka dari itu, Eros menghentikan siksaan tersebut dan menatap
kedua netra yang terlihat sangat bergairah di bawahnya.
“Kau sangat cantik Linda...,” ucap Eros, menatap wajah
cantik itu disinari oleh cahaya rembulan dan pantulan indah
yang ditimbulkan di kedua mata Linda, sangat indah.
“Kau lebihindah ketikasaat bergairahseperti ini,suaramu,
desahan yang mengalun indah..., bahkan aku suka wajahmu
saat terbakar gairah dan saat kau mencapai pelepasanmu.” Eros
tak henti-hentinya memuji keindahan gadis yang sudah seperti
seorang Dewi ini.
Kecantikan Linda, membuat semua pria rela menunggu
64 Slave
dan mendapatkan tubuh dan hatinya. Seperti Eros saat ini,
seperti orang bodoh yang selalu menunggu Linda kapanpun
gadis itu memiliki kesempatan, seperti sekarang ini.
“Apa sekarang aku terlihat seperti orang bodoh yang
selalu menunggumu Linda?” tanya Eros, Linda masih terdiam.
Entah apa yang ia lakukan sekarang, menyetubuhi istri Darrius.
Jika seseorang mengetahui hal ini, ia pasti akan dicambuk, atau
terlebih dihukum mati oleh Darrius.
“Apa yang terjadi pada kita Eros?” Linda berbisik,
akhirnya bibir manis itu mengeluarkan suaranya. Juga menatap
Eros, pria tampan yang sangat ia kagumi.
Setidaknya ia kagumi sampai ambisi Eros menghalangi
cintanya...
“Apa permintaan maaf masih berlaku sampai detik ini?”
tanya Eros, Linda menggeleng lemah. Tentu hal itu tidak akan
mengubah apapun, tidak akan mengubah status Linda kembali
menjadi budak yang bebas menjalin hubungan dengan Eros,
meskipun dalam diam. Tidak akan mengubah pemikiran dan
ambisi Darrius yang ingin memiliki istri cantik seperti Linda.
Linda pun sadar, dirinya tidak bisa begitu saja lari dengan
Eros dari kerajaan ini atau dari Negeri Sparta sekalipun. Itu
akan membuat Darrius murka dan malah akan mengumpulkan
semua pasukannya mencari mereka berdua meski ke ujung
dunia dan mungkin Darrius akan membuat sebuah sayembara
untuk menemukan dirinya dan Eros, dan memberikan tebusan
Irma Handayani 65
mahal untuk kepala mereka berdua.
Tidak ada pilihan bagi Linda dan Eros...
Linda tidak percaya akan jodoh, ia hanya percaya pada
cinta. Meskipun orang yang ia cintai bukanlah orang yang akan
ia lihat di setiap paginya nanti. Karena sekarang telah Linda
lalui sendiri, ia mencintai seseorang tapi seseorang itu bukanlah
orang yang ia nikahi. Jadi, Linda tidak percaya pada jodoh.
“Aku tidak akan memaafkanmu, dan aku juga tidak akan
menyalahkanmu Eros...”
“....kau dengan segala ambisimu, dan aku hanyalah
wanita yang lemah” tukas Linda, kedua mata mereka masih
menatap satu sama lain.
Perbedaan mereka berdua yang memisahkan mereka,
budaya dan ketentuan di kerajaan ini. Serta orang ketiga yang
memiliki kekuasaan penuh.
“Kau tidak perlu menyesali semuanya Eros, kau adalah
prajurit yang baik. Kau memiliki banyak pasukan yang selalu
menunggu perintahmu, maka kejarlah semua keinginanmu,”
kata Linda mencoba memberi pengertian, karena ia sadar,
sekarang adalah kata yang terlambat untuk mengulang
kesalahan.
“Mereka tidak menunggu perintahku, mereka hanya
menunggu perintah Raja untuk berperang,” balas Eros.
“Apa Raja ada di medan perang? Apa Raja memberikan
perintah untuk menyerang dan melemparkan tombak serta
66 Slave
panah?” tanya Linda, Eros menggeleng.
“Tentu tidak.”
“Kau adalah Dewa Perang bagi kerajaan ini Eros, kau
adalah prajurit yang paling dibutuhkan oleh Sparta.” Linda
mencoba mendukung Eros dan melupakan kesalahan yang telah
diperbuat oleh pria itu padanya. Meskipun dalam hati Linda,
Eros adalah Dewa Cinta baginya karena pria itu begitu lembut
terhadap wanita dan sentuhan pria itu didasari oleh cinta.
❍❍❍
Plak!
Linda mengepalkan jemarinya, menahan perih di
punggung yang saat ini mungkin sudah sangat merah. Kedua
tangan Linda terikat di tepi ranjang serta berbaring secara
telungkup, menerima setiap cambukan yang diberikan oleh
Darrius. Pria itu begitu murka saat Linda pulang ke istana
dengan gaun pernikahan yang kotor dan rusak.
Darrius terus bertanya tentang keberadaan Linda selama
perayaan berlangsung, namun hingga detik ini, Linda masih
tidak mau membuka mulutnya. Jika berkata bahwa ia pergi
bercinta dengan prajurit Darrius, akan membawa mereka berdua
ke tiang gantung. Jadi Linda putuskan untuk diam, karena pada
dasarnya, ia sama sekali tidak ingin berbicara apapun, terutama
setelah pernikahan ini.
Plak!
Irma Handayani 67
Hanya ada jeritan pilu yang keluar dari bibir Linda,
meski Linda tahu Darrius tidak akan berhenti sampai dia
mendapatkan sebuah jawaban, Linda tetap tak bergeming.
Bahkan saat Darrius menjambak rambutnya yang sudah sangat
berantakan, Linda hanya diam tak menjawab pertanyaan
Darrius. Sudah Linda katakan pada Darrius, pria itu mungkin
memiliki tubuh serta hidupnya, tapi tidak dengan hati Linda.
Darrius bisa memimpin ratusan bahkan ribuan prajurit yang
selalu mengikuti perkataannya, namun Darrius tidak akan
pernah bisa membuat Linda menjadi seorang istri yang tunduk
kepadanya. Linda, akan menjadi seorang istri pembangkang.
Hingga Darrius jenuh dan akhirnya melepaskan dirinya.
Setidaknya hanya itu yang bisa Linda harapkan saat
ini. Wajah Linda dipenuhi oleh peluh, air matanya mengalir
bercampurdengan keringat. Linda menahan suara dan jeritannya
meski air matanya terus mengalir menahan sakit, ia tidak ingin
Darrius menang karena bangga telah menyakiti istrinya sendiri.
Walaupun Linda sadari, Darrius akan selalu menang karena dia
memiliki segalanya.
“Masih tidak mau bicara?!” Darrius menjambak kasar
rambut Linda, wajah gadis itu benar-benar kacau. Linda yang
lemah hanya bisa menarik nafas terus-menerus guna mengisi
paru-parunya yang kian menyempit, seraya menutup kedua
matanya. Semalam penuh Darrius tidak berhenti menyiksa
tubuhnya, Linda bahkan sempat berpikir agar para Dewa cepat
menjemput ajalnya. “Jika kau mencoba kabur, hingga ke ujung
68 Slave
duniapun akan kucari!” Cecar Darrius, menghempaskan kepala
Linda ke atas ranjang. Ia kesal, karena tak kunjung mendapat
jawaban dari gadis itu. Darrius berpikir keras, jika Linda
mencoba untuk kabur, mengapa gadis itu kembali lagi? Dan
mengapa pakaian gadis itu sangat kotor oleh pasir.
Darrius keluar, membiarkan Linda dalam kondisi
masih terikat dan telungkup di atas ranjang. Darrius mencari
seorang mata-mata kerajaan, menyuruh dua orang penjaga
untuk mengawal Linda kemanapun gadis itu pergi. Darrius
ingin, semalam adalah hal terakhir yang Linda lakukan untuk
menentangnya, karena setelah ini, ia tidak akan menjamin
keselamatan Linda jika gadis itu kembali berulah.
❍❍❍
Irma Handayani 69
menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Wajah cantik
Linda benar-benar membuat Celine merasa iba, gadis itu hanya
bisa menutup mata meski ia masih dalam kesadaran penuh.
“Linda, apa yang kau pikirkan? Kau kabur dari Darrius,
apa kau mencoba untuk bunuh diri? Ini gila Linda,” tukas
Celine, ia mendengar desas-desus di acara pernikahan semalam.
Bahwa sahabatnya itu hilang entah kemana dan hal itu membuat
Darrius murka.
“Kau pasti tidak akan percaya, aku bertemu dengan Eros
semalam,” gumam Linda dengan santainya, meski suaranya
masih terdengar pilu.
“Kau gila Linda, kau ingin mati?” balas Celine, Linda
hanya tersenyum ketika bagian pinggir bibirnya terlihat lebam
karena tamparan Darrius.
“Linda, dengarkan aku... Darrius membuat penjagaan
ketat terhadapmu, dan aku harap kau bisa menjaga dirimu
agar tidak berbuat yang tidak-tidak Linda, karena aku perduli
padamu,” ujar Celine, seketika Linda membuka kedua matanya
perlahan. Melihat Celine yang duduk di pinggiran ranjang
terlihat khawatir padanya.
Linda menyentuh lengan Celine, terasa halus dan lembut.
Ia tersenyum kearah Celine, “Tenanglah saudariku, jika kelak
aku mati, maka aku telah mendapat kebebasan,” kata Linda,
gadis itu terlihat putus asa dan Celine dapat melihat dari netra
kebiruan yang mulai meredup milik Linda. Tidak sesegar dan
70 Slave
secantik biasanya, kini Linda terlihat tidak semangat untuk
hidup.
Meskipun Celine sangat mengerti arti dari ucapan Linda,
seluruh penjuru Yunani tahu, bahwa kematian adalah sebuah
kebebasan untuk para budak seperti mereka. Semua budak tahu,
bahwa kebebasan adalah ketika mereka tidak lagi bernafas dan
hidup di kerajaan ini. Celine mengambil jemari-jemari Linda,
lalu mengecupnya sesaat.
“Apa sekarang kau menjalani hubungan gelap dengan
Eros selagi menjadi istri dari Darrius?” tanya Celine, kini
mereka berdua tengah di dalam sebuah bak mandi. Celine
membantu Linda menyeka punggung Linda yang memerah
sementara Linda berendam di air hangat.
Linda hanya tersenyum, katakanlah ia gila. Mencari
mati ketika ia memiliki seorang suami yang tempramental
sementara ia bercinta dengan pria lain. “Kau tidak tahu apa
yang aku rasakan Celine?” balas Linda, rambut pirangnya
digelung keatas, memberikan akses kepada Celine agar dapat
leluasa menyeka punggungnya.
“Aku paham, dan aku hanya berdoa untuk kebaikanmu
Linda...” kata Celine.
“Lagipula, apa yang akan Darrius lakukan lagi padaku?
Dia sudah cukup menghancurkan tubuhku serta hidupku,”
tambah Linda, kalimatnya terdengar putus asa.
“Tidak bisakah kau menerima takdir Linda? Relakan
Irma Handayani 71
Eros, lebih baik kau menjadi seorang istri yang patuh kepada
Darrius, sama seperti sang Ratu,” ujar Celine, ia masih khawatir
dengan hidup Linda.
“Dan membiarkan Darrius menang atas diriku?
Membiarkan dia memiliki banyak selir dan budak untuk digilir?
Jika ini terus dibiarkan, maka selamanya peradaban seperti ini
akan terus berlanjut Celine,” jelas Linda, sejak pertama kali ia
menginjakan kaki di kerajaan ini. Linda memang tidak pernah
setuju dengan sistem perbudakan yang ada. “Dan lagi, Darrius
bebas memilih wanita sebagai pemuas nafsunya. Termasuk
malam pernikahan itu.”
Deg.
Celine terdiam.
“Linda, maafkan aku. Malam itu Lord Darrius menarikku
dan memaksaku, aku tidak mungkin berani melawannya—”
“Tidak perlu meminta maaf Celine, aku mengerti,”
potong Linda.
Celine terdiam, dia adalah gadis yang menemani Darrius
saat pesta pernikahan Linda malam itu. Dan tentu saja itu bukan
berdasarkan kemauannya, karena tidak ada seorangpun yang
dapat membantah keinginan Lord Darrius.
❍❍❍
72 Slave
cerah serta bersinar di hari yang juga sangat cerah. Langit biru
dan laut yang biru sangat kontras, sebiru kedua netra yang
tengah menatap tubuh kekar pada kesatria di bawah sana yang
sedang berlatih.
Tubuh kekar mereka, peluh membasahi otot dan kulit
kecoklatan yang mengkilap di bawah terik sinar matahari.
Seketika mengingatkan Linda kepada seorang pria yang dulu
sangat ia idamkan, bahkan hingga saat ini. Meskipun Linda
mencoba menampik hal tersebut karena kekecewaannya kepada
pria itu, nyatanya pesona Eros masih terbayang di kepala Linda.
Linda melihat ke bawah sana, mencari seorang pria yang
paling tampan dan berkharisma dari semua pria yang ada di
sana. Namun Eros tak kunjung terlihat, malah seorang pria yang
ia benci setengah mati muncul dan bergabung dengan mereka.
Lord Darrius, pria itu pasti hanya ingin melihat perkelahian
kecil antara prajuritnya. Seperti gladiator, yang diadu di antara
ribuan penonton.
Linda sedikit khawatir terhadap Eros, karena sebentar
lagi. Demi merayakan kemenangan Sparta dalam menaklukan
wilayah lain, Lord Darrius akan mengadakan gladiator yang
resmi diadakan oleh sang [Link] Darrius berhak menentukan
beberapa prajutit yang siap mati di medan pertempuran guna
menghibur rakyat Sparta.
Linda berlari keluar dari kamar, mencari Eros sebelum
Darrius memutuskan pria itu menjadi gladiatornya karena Eros
Irma Handayani 73
adalah prajurit paling kuat di kerajaan ini. Namun, langkah
Linda terhenti saat menyadari ada dua pengawal di samping
kamarnya. Ia menghela nafas kasar, penjagaan yang dilakukan
Darrius benar-benar sangat berlebihan.
Siapa yang butuh pengawal? Tidak ada seorangpun yang
berniat membunuh atau mencelakai Linda. Karena dia hanyalah
cinderella, gadis miskin yang hanya beruntung dapat menikahi
Darrius. Tidak ada yang berharga dari dirinya, jika Linda mati
pun tidak ada yang perduli. Darrius dapat menikah lagi dan
Linda akan dikremasi secara kerajaan seperti yang lain.
Ya, setidaknya itu yang ada di pikiran Linda...
Seketika sebuahide terbesit di kepala Linda, ia menunggu,
saat pelayan masuk ke dalam kamarnya lalu meminta pelayan
tersebut untuk meminta bantuan kedua penjaga. Sehingga
dengan sedikit bujukan, kedua penjaga itu akhirnya pergi
bersama seorang pelayan. Entah apa yang pelayan wanita itu
katakan hingga mereka mau meninggalkan tugas yang diberikan
oleh Darrius.
Namun Linda tidak mau berpikir banyak, ia segera
berlari memegangi ujung dressnya keluar dari istana dengan
mengendap. Lagi-lagi, ia membantah suaminya sendiri hanya
untuk menemui Eros. Karena rasa cintanya begitu besar kepada
Eros dari pada suaminya sendiri. Dan keselamatan pria itu
adalah prioritas utama bagi Linda dari pada keselamatannya
sendiri.
74 Slave
Darrius tidak akan melakukan hal yang lebih kejam
selain menghukum Linda, mengikat kedua tangannya atau
mencambuk punggungnya. Selebihnya, Darrius tidak akan rela
kehilangan seorang gadis yang sangat cantik di seluruh penjuru
Sparta hanya karena hal sepele.
Hal sepele karena Darrius tidak mengetahui hubungan
gelap istrinya dengan Eros...
Linda tahu, ketika ia tidak menemukan Eros di manapun,
pria itu akan berada di sebuah tempat yang menenangkan di
kerajaan ini. Sehingga pada akhirnya, Linda lagi-lagi harus
menerobos lorong-lorong agar bisa sampai ke sebuah tempat di
mana terdapat bibir pantai yang indah. Saat Linda telah keluar
dari terowongan, ia menemukan pria itu tengah berbaring di
atas pasir pantai. Kedua tangannya terangkat keatas membuat
sandaran kepala, terlihat jelas di kedua mata Linda kedua otot
lengan Eros terpahat dengan sempurna. Membuat Linda ingin
menyentuh kulit kecoklatan itu dan menyadarkan kepalanya di
sana.
Eros yang menyadari kehadiran seseorang menoleh
sekilas, seharusnya ia sudah tahu bahwa itu adalah Linda.
Mengingat tidak ada seorang pun yang mengetahui tempat
tertutup ini. Pria berambut gondrong dan pirang itu hanya
menatap langit biru di atasnya, melihat kebiruannya
mengingatkan Eros pada gadis bermata biru itu. Sangat cantik,
batinnya.
Irma Handayani 75
“Jika Darrius tahu istrinya pergi dari istana tanpa
sepengetahuannya, maka dia akan menghukummu
lagi. Mencambukmu, atau mungkin mengikatmu dan
menelanjangimu semalaman,” Eros membuka percakapan
mereka berdua.
Linda berjalan perlahan menuju Eros, “Ya, aku sudah
terbiasa dengan semua hal itu,” balas Linda.
“Kau memang suka mencari masalah agar mendapat
hukuman?” tanya Eros sarkas.
“Karena aku terbiasa dengan rasa sakit dan hukuman,”
sahut Linda seadanya.
Seketika Eros terdiam, Linda berdiri tak jauh darinya. Ia
melirik gadis itu, mengenakan pakaian kerajaan yang membuat
aura kecantikannya semakin menguar. Ditambah dengan segala
aksesoris yang melekat di tubuh gadis itu, memberikan kesan
mewah namun tidak terlalu berlebihan.
“Coba kau tanggalkan pakaianmu!” kata Eros, seketika
Linda mengernyit bingung. Ia bertanya kepada Eros,
memastikan yang ia dengar barusan adalah benar. Namun Eros
menjawab dengan perkataan yang sama, dan Linda merasa pria
itu sedang dalam keadaan tidak baik.
“Apa kau sudah gila?” cecar Linda.
Seketika Eros bangkit, berdiri menuju Linda. Pasir pantai
masih melekat di kulit kecoklatan itu, hingga membuat Linda
menegak salivanya sendiri. Terutama saat tubuh kekar itu
76 Slave
berjalan mendekatinya dan kedua mata tajam Eros nenatapnya
tanpa berkedip.
“Aku bilang, tanggalkan semua pakaianmu!” Suara serak
Eros terdengar mengintimidasi, sehingga membuat tubuh Linda
membeku dan akhirnya membuka satu-persatu pakaiannya. Di
pantai yang terik dengan angin kencang, tanah lapang nan luas
meskipun tanpa ada siapapun yang melihat kecuali Eros. Linda
menanggalkan seluruh pakaiannya, tanpa sehelai benangpun
menutupi tubuhnya. Ia berdiri bertelanjang tubuh di hadapan
Eros.
“Kau tahu aku akan selalu melakukan apapun untukmu,”
tukas Linda, Eros masih menatapnya tajam. Linda bahkan tidak
dapat membaca raut wajah Eros, pria itu semakin lama semakin
berubah semenjak pernikahan Linda dan Darrius.
“Duduk di atas tanah!” titah Eros, Linda makin dibuat
bingung. Eros sekarang sudah seperti Darrius yang suka
memberi perintah. Eros yang dulu lembut dan penuh kasih
sayang berubah seketika. Linda bahkan sempat berpikir jika
semua pria yang ada di Yunani memiliki sifat yang sama dengan
Darrius. Namun Linda mencoba mengembalikan sifat dan
karakter lembut Eros, dengan menarik kembali kepercayaan
pria itu padanya.
“Buka kedua selangkanganmu!” perintah Eros,
Linda melakukannya namun pandangannya tak lepas dari
Eros. “Mainkan dirimu sendiri!” tambah pria itu. Lagi,
Irma Handayani 77
Linda melakukannya, kini ditambah rasa malu. Dan Eros
menyunggingkan senyum melihat hal itu, ia tertawa.
“Lihatlah! Bagaimana aku dapat membuat istri Darrius
mematuhi perintahku dan membuatnya benar-benar menjadi
seorang Budak!”
Deg!
Seketika, semuanya berubah. Saat Eros berkata demikian
dengan suaranya yang lantang di iringi dengan gelak tawa.
Linda ingin menumpahkan air matanya, Eros yang ia kenal
kini telah berubah menjadi pria yang tidak memiliki rasa
kasih sayang seperti dulu. Linda menampar Eros dengan kuat,
sebelum akhirnya ia mengambil pakaiannya dan pergi dari
tempat itu. Bersama hati dan perasaannya yang telah hancur
dipermainkan oleh Eros.
Bahu tegap itu tertunduk lesu, menyadari kesalahannya
yang telah meremukan hati dan kepercayaan gadis itu
kepadanya. Perkataan Eros barusan memang bukan dari dalam
lubuk hatinya, ia tidak seperti Darrius yang selalu berkata kasar
terutama pada wanita, meski wanita di kerajaan ini dianggap
sebagai budak sekalipun. Eros tetap memperlakukan wanita
dengan baik.
Hanya saja, hubungan Linda dengan dirinya harus benar
benar dihentikan, Linda adalah gadis lembut dan penyayang.
Namun sayangnya pada Eros terlalu berlebihan sehingga
mengabaikan fakta bahwa ia telah menjadi istri Darrius. Linda
harus menerima takdirnya sendiri, ketika Dewa Yunani ingin
gadis cantik itu menjadi permaisuri di kerajaan ini. Maka Linda
78 Slave
harus menerimanya dengan segala kerendahan hati.
Dan yang dilakukan Eros barusan semata-mata hanya
untuk kebaikan Linda, karena Eros tahu, Linda tidak akan bisa
menerima ketika Eros memutuskan sebuah hubungan secara
baik-baik. Gadis itu malah akan menangis histeris dan tangisan
wanita adalah sebuah hal yang paling Eros hindari di dunia ini.
Membuat Linda membenci Eros adalah satu-satunya cara agar
Linda berhenti membahayakan dirinya sendiri untuk bertemu
dengan Eros, karena tidak selamanya hubungan terlarang ini
akan berlanjut. Itu akan sangat berbahaya bagi Linda, jika
Darrius mengetahuinya. Eros bahkan tidak akan tega melihat
Darrius menyiksa Linda, apalagi sampai membunuhnya.
Eros masih berada di pantai itu sambil mengagumi
keindahannya, langit dan laut yang biru. Seperti kebiruan netra
indah yang selalu menatapnya sangat intim, mungkin kelak ia
akan merindukan Linda dalam dekapannya. Merindukan aroma
Linda yang selalu wangi layaknya bunga Lily, yang sangat
wangi dan dihormati di seluruh penjuru Yunani.
Bugh!
Tiba-tibakepalaErosdihantamkuatdenganbenda tumpul,
belum sempat pria itu menoleh dan mengetahui pelakunya,
Eros kehilangan kesadarannya. Tubuhnya tumbang di atas pasir
pantai, kepalanya ditutup oleh sebuah kain hitam hingga pada
akhirnya tubuh besarnya diseret dari pantai tersebut.
❍❍❍
Irma Handayani 79
Sementara Linda, kembali ke dalam kerajaan dengan
wajah sembab. Meskipun ia mencoba menutupinya namun
Celine dapat melihat Linda yang sehabis menangis. Celine
melewati Linda begitu saja saat gadis itu berniat kembali ke
kamarnya, dari raut wajah yang ditunjukan Celine kepada
Linda. Sepertinya ada suatu hal yang aneh, Celine seperti
berusaha memberi tahu Linda sesuatu. Namun tertahan entah
oleh apa dan saat Linda kebingungan melihat wajah Celine, ia
mendapati kedua pengawal pribadinya berdiri di samping pintu
kamarnya.
Seperti tidak ada yang terjadi, biasanya jika Linda kabur
dari istana, kedua penjaga itu akan kerepotan mencari dirinya.
Namun sekarang, mereka berdiri mengerjakan tugasnya seolah
Linda masih berada di dalam kamarnya. Itu aneh... Linda
memasuki kamarnya, tidak ada orang di sana. Mengetahui hal
itu, Linda buru-buru mengganti pakaiannya yang telah kotor
oleh pasir pantai. Sebelum Darrius mengetahui kepergiannya
dan akhirnya menyiksa Linda.
Linda sudah seperti seorang istri yang nakal sekarang,
berbuat hal yang tidak terpuji dengan pria lain sementara dia
telah berstatus sebagai seorang istri. Padahal, semua hal itu
dilakukan Linda karena cintanya yang begitu besar kepada
Eros. Namun pria itu tidak perduli, dan lebih mementingkan
hasratnya sendiri dibandingkan dengan perasaan Linda.
Seketika Linda teringat hal yang baru saja terjadi, Eros yang ia
kenal sebagai pria yang lembut terhadap setiap wanita.
80 Slave
Eros yang ia anggap selalu menghormati wanita
meskipun kota ini menganggap wanita adalah budak, malah
memperlakukan Linda benar-benar seperti seorang budak.
Melecehkan harga diri Linda, membuat Linda melakukan hal
gila itu, lalu setelah itu dia tertawa bangga dapat membuat istri
orang lain mengikuti perintahnya. Linda tidak akan pernah
melupakan hal itu dari hidupnya.
Linda menjadi jijik pada dirinya sendiri, terutama pada
Eros.
Brak!
Seketika Linda terkejut ketika mendengar pintu kamarnya
terbuka dengan lebar, menampilkan seorang pria yang ia benci
setengah mati. Saat Linda duduk di meja rias dan merapihkan
tatanan rambutnya, Darrius masuk dan menatapnya dengan
tajam.
Perasaan Linda jadi tidak enak...
Darrius masuk dengan menatap tajam kearah Linda
yang masih terduduk di kursi, terdiam dan khawatir ketika
Darrius mendatanginya. Jarang sekali pria yang sudah menjadi
suaminya itu mendatanginya di siang hari di sela kesibukan
Darrius ketika membantu Ayahnya memimpin kerajaan. Tidak
ada kalimat yang keluar dari mulut Darrius.
Pria itu hanya mengelilingi Linda yang sedikit takut,
Darrius berusaha mengintimidasi Linda, dan itu sangat berhasil.
Ketika Linda menyadari ada sesuatu hal yang aneh semenjak
Irma Handayani 81
kepergianya tadi pagi dari istana, kini keyakinannya bertambah
semenjak Darrius mendatangi kamarnya dan memegang bahu
Linda, dengan sedikit meremasnya.
“Kau sangat cantik pagi ini, Linda. Kuharap, pasir pantai
tidak mengurangi nilai kecantikanmu.” Tukas Darrius, kalimat
pertama yang diucapkan pria itu berhasil membuat tekanan
jantung Linda berdetak lebih keras.
Ia melihat ke arah cermin, wajah tampan Darrius terlihat
menyeringai. Berdiri tepat di belakang Linda yang masih dalam
keadaan terduduk. Linda terdiam seribu bahasa, tak tahu apa
yang harus ia katakan. Karena ia pun juga khawatir. Terutama
pada Eros dan dirinya sendiri.
“Apa kau suka dengan angin pantai Linda? Jika iya,
aku akan membawamu ke pantai yang paling indah di seluruh
penjuru Yunani,” tanya Darrius, Linda betul-betul takut
dan khawatir jika Darrius mengetahui segalanya, termasuk
perselingkuhannya dengan Eros.
“Apa kau tahu Linda, jika aku mengetahui kerajaanku
sendiri sangat baik, bahkan dari rakyatku sendiri. Apalagi hanya
kepada seorang pendatang sepertimu,” tambah Darrius, Linda
masih tak bergeming. Wajah cantik itu benar-benar seperti
boneka di hadapan cermin, boneka milik Darrius yang disentuh
dan dibelai oleh Darrius dengan lembut, mulai dari wajah dan
leher. Hingga turun ke bahu dengan remasan yang kuat.
Membuat Linda sedikit risih dan timbul rasa sakit dari
82 Slave
remasan itu, wajah Darrius pun seakan menunjukan rasa
kekesalannya terhadap Linda. Rasa kesal yang ia simpan
selama berminggu-minggu. Bahkan sebelum ia menikahi gadis
itu. “Aahhh...!” Linda terpekik, Darrius menjambak rambutnya
dengan keras hingga membuat kepalanya mengadah keatas
langit-langit kamar.
“Sudah kukatakan jangan pernah berani menentangku
Linda, aku tidak akan segan menghancurkan apapun yang
berani menentangku!” desis Darrius, Linda berusaha meraih
jemari Darrius dari rambutnya. “Bahkan aku tidak akan segan
menyakiti ciptaan Dewa yang paling cantik sekalipun seperti
dirimu.” Seketika Darrius menarik Linda untuk berdiri, berjalan
keluar menuju balkon kamar dengan jambakan di rambut Linda
yang tidak ia lepaskan.
Seketika tubuh Linda lemas tak berdaya, melihat ke
bawah sana seperti pertunjukan gladiator yang sering ia lihat
setiap tahunnya. Namun, bukan hal itu yang membuatnya
terkejut. Melainkan melihat Eros berdiri di tengah tanah lapang
dengan kedua tangan dan kaki terborgol dengan rantai besi.
“Itulah yang akan terjadi jika seseorang berani menentang
Lord Darrius,” desisDarrius di telinga Linda. “Sudah kukatakan,
kau akan menangis kepadaku, memohon kepadaku. Dan saat
itu terjadi, baru kau menyadari jika kau adalah seorang Istri dari
Lord Darrius, yang tidak berguna. Hanya karena wajah cantik
itu, seorang wanita bisa memiliki tahta dalam sebuah kerajaan.
Irma Handayani 83
Tapi, hanya sebagai sebuah simbol....”
Linda menangis histeris, berusaha terlepas dari
cengkraman Darrius. Melihat di bawah sana pria yang baru
saja menggores hatinya kini tengah terbelenggu dengan rantai
baja yang kuat. Ujung dari masing-masing ikatan besi baja itu
dikaitkan ke dinding. Ini adalah satu dari berbagai hukuman
yang diterapkan oleh Darrius di negeri ini.
Tapi mengapa harus Eros?
“Tentu kau tahu kenapa aku memilihnya sayang, aku pikir
dengan menikahimu aku dapat memiliki dirimu seutuhnya,
tapi itu tidak akan terjadi jika pria itu masih hidup dan kau
masih bisa menemuinya secara sembunyi-sembunyi di pinggir
pantai,” kata Darrius, wajahnya terlihat puas.
Menyaksikan dua sejoli yang selama bertahun-tahun
telah menyembunyikan hubungan mereka, namun Darrius
lebih pintar. Ia sangat mengetahui seluruh rakyatnya, ia sangat
mengetahui pekerjaan setiap orang yang ada di kerajaannya.
Termasuk pekerjaan orang-orang yang telah melanggar
peraturan yang ada secara turun-temurun.
“Kau tahu apa yang akan kulakukan padanya Linda?
Memberinya hukuman yang setimpal, meskipun dia adalah
prajurit terbaikku, aku tetap akan menjunjung tinggi peraturan
yang telah dibuat oleh Kakek Buyutku selama bertahun-tahun.
Dan untukmu,” Darrius menarik dagu Linda, gadis itu hanya
bisa menangis karena menyadari kelemahannya sebagai seorang
84 Slave
wanita, dan sebagai Budak. Darrius menghempaskan tubuh
Linda begitu saja, merosot ke bawah lantai masih menatap pria
itu dari balik pagar balkon. Dari kejauhan Linda melihat wajah
Eros. Wajah tampan itu masih bisa tersenyum kepadanya,
meski darah segar mengalir dari kepala. Sorak-sorai orang
orang di bawah sana menginginkan kematian Eros yang telah
menghianati Darrius sebagai pemimpin di kerajaan ini.
Eros yang selalu memberikan kemenangan untuk
kerajaan ini, Eros yang selalu menjunjung tinggi kerajaan ini
hingga keringat terakhirnya. Pada akhirnya, dijatuhi hukuman
hanya karena ia meniduri istri dari seorang Lord Darrius. Masih
terlihat jelas ketampanan pria itu ketika tersenyum menatap
Linda dari kejauhan, seolah berkata dirinya rela melakukan apa
saja demi kebahagiaan Linda.
Apa saja...
Dan bodohnya Linda baru menyadari, jika hal terakhir
yang Eros lakukan padanya hanya semata-mata untuk kebaikan
Linda. Jika dirinya tidak terlalu mengagumi Eros dan berusaha
untuk selalu bertemu dengan pria itu, maka hal ini tidak akan
terjadi. Seharusnya Linda mengetahui posisinya sebagai
permaisuri dan istri dari Darrius. Linda selalu menyangkal hal
itu, dan berakhir menjadi istri pembangkang dengan kata lain
menantang Darrius. Kini, Linda harus menghadapi amarah dan
pembalasan Darrius padanya. Linda pikir, Darrius hanya akan
menyakiti tubuhnya dan perasaannya dengan kata-kata kasar
Irma Handayani 85
seperti yang pria itu biasa lakukan.
Namun ternyata tidak.
Darrius benar-benar menunjukan kekuasaan serta
kekejamannya pada Linda, kepada siapapun yang berani
menentangnya. Kepada siapapun yang berani melanggar
peraturan yang ada, apalagi sebuah penghianatan. Darrius
sangat membenci hal itu. Tak lama kemudian, sorak-sorai
kerumunan orang-orang di bawah sana berhenti. Seluruh rakyat
yang menjunjung tinggi keagungan Lord Darrius sebagai
pemimpin di bawah Raja yang dapat memakmurkan kehidupan
rakyatnya.
Dan seluruh rakyat akan tunduk pada penguasa yang
membuat perut mereka kenyang. Darrius mengulurkan sebelah
tangannya di atas balkon dan disaksikan oleh semua rakyat
yang menginginkan pertarungan Eros sang penghianat itu, dan
dengan senang hati, Darrius akan memberikannya. Darrius
menunjukan Ibu Jarinya kepada semua orang saat sebelah
tangannya terulur, membuat sorakan nyaring kepada seluruh
rakyat yang gemar melihat pertarungan secara langsung.
Gladiator ala Yunani kuno.
Tiba-tiba sebuah kurungan penjara terbuka perlahan,
penikmat hiburan gladiator sangat berantusis menyaksikan
pertunjukan yang hanya diadakan setiap penghujung tahun.
Apalagi, gladiator kali ini adalah Eros. Seorang kesatria dan
pemimpin pasukan yang paling kuat di kerajaan ini. Seorang
86 Slave
prajurit memberikan sebilah pedang kepada Eros untuk
melawan seorang pria yang ada di dalam penjara kerajaan ini,
pria dengan bobot tubuh dua kali lebih besar dari Eros. Keluar
dari kurungan penjara hanya membawa sebilah kapak yang
besar.
Eros menarik nafas panjang, ia sudah sering menjatuhkan
orang seperti itu. Namun pria itu adalah seorang penjahat
yang brutal tanpa mengenal seni bertarung, pria itu hanya
perduli akan pembunuhan dan pembantaian yang keji dalam
pertarungan. Maka dari itu Raja menempatkan dirinya di dalam
penjara bawah tanah.
Darrius tersenyum lebar sambil berkacak pinggang,
sementara Linda hanya bersandar di balik pagar balkon tak ingin
melihat pertarungan Eros. Jika saja kedua tangan dan kaki pria
itu tak terikat, mungkin dengan mudah Eros dapat menjatuhkan
lawannya, tapi Darrius tidak ingin Eros melewatinya dengan
mudah. Dan meskipun pria itu akan menang, Darrius tetap akan
melakukan eksekusi padanya.
“Inilah yang aku sebut dengan olahraga dan eksekusi,”
ucap Darrius sambil tertawa. Bagaimana mungkin pria itu
menyebut gladiator sebagai olahraga? “Jangan salah sangka
Linda, ini bukan hanya tentang pembalasan dendamku padamu
dan pria itu. Tapi olahraga ini, semata-mata hanya untuk
persembahanku kepada Dewa dan Dewi. Terutama kepada
Olimpus, sang Dewa perang!” jelas Darrius panjang lebar
Irma Handayani 87
seraya memberi penghormatan kepada Dewa dan Dewi Yunani.
“Dan inilah yang terjadi jika seorang wanita tidak menyadari
kedudukannya, kau harus sadar siapa dirimu Linda. Sekali
Budak tetaplah Budak, kau hanya perlu mengikuti perintah
dan peraturan yang kubuat. Apa itu cukup sulit untukmu, hm?”
Darrius berjongkok di depan Linda yang masih terisak.
“Wanita itu cukup rumit, kebutuhan mereka selalu
terpenuhi. Namun sikap pembangkang yang mereka tunjukan
sepertinya hanya sebagai sebuah isyarat jika mereka ingin
diperhatikan, dan Eros terlalu lembut dalam menyikapi tingkah
wanita. Apalagi wanita sepertimu...,” cecar Darrius, Linda
hanya menutup kedua telinganya.
Tak sanggup mendengar segala kalimat yang
mengintimidasi serta merendahkan dirinya, ditambah lagi suara
pedang yang bersahutan di bawah sana. Tanpa Linda tahu Eros
akan selamat atau tidak nantinya. “Eksekusi Eros akan tetap
dilakukan meski ia menang melawan pria itu, dan kau akan
kubuang dari kerajan ini atas tuduhan penghianatan,” tambah
Darrius.
“Sayang sekali wajah cantikmu tidak menunjukan
perilaku terpuji Linda, yang harus kau ketahui. Menjadi wanita
hanya cukup berdiam dan berias diri untuk dikagumi para pria,
tidak lebih. Dan kau... tidak akan mungkin bisa menyertarakan
kedudukan pria dan wanita di muka bumi ini, karena kau hanya
Budak!” Darrius menutup percakapan mereka meski Linda tak
88 Slave
berkata sepatah katapun.
Akhir kalimat Darrius benar-benar membekas di hati
Linda, meremukan perasaannya yang selembut kapas dan
hati nuraninya sebagai wanita. Darrius memang tidak bisa
menghargai wanita, mungkin termasuk Ibunya sendiri. Ketika
keringat berjatuhan membasahi tanah, panas terik di siang hari
dengan cepat menghapus tetesan keringat tersebut. Menghapus
tanda akan kerja keras seorang prajurit yang rela mati hanya
demi kerajaan mereka, demi memberi makan para bangsawan
kerajaan hingga mulut mereka dipenuhi makanan dan perut
mereka membuncit tanpa memikirkan nasib petarungnya.
Pertunjukan gladiator yang diadakan setiap tahun selalu
menghabiskan kepingan emas bagi setiap orang yang ingin
menyaksikanya, menyaksikan sosok gladiator yang melawan
hewan buas atau melawan seorang narapidana dan prajurit
yang kuat. Dan tentu saja bagi siapapun yang menang, akan
ditentukan hidup dan matinya oleh para bangsawan yang turut
menyaksikan pertunjukan itu di balkon kerajaan.
Karena kemenangan bukanlah kebebasan di Yunani..
“Menurutmu dia akan kalah?” tanya Selena, seorang Ratu
kerajaan ini yang juga berasal dari Budak. Ibu tiri Darrius dan
satu-satunya Ratu yang masih hidup meskipun kehidupannya
sangat tertekan karena harus mengikuti setiap peraturan yang
ada di kerajaan ini. Dengan kata lain, Selena hanya simbol
kerajaan. “Mungkin My Lady, tapi Eros adalah salah satu
Irma Handayani 89
prajurit terbaik kami. Dia selalu memimpin pasukan di setiap
pertempuran.” Kata seorang pria kepala penjara yang juga
pelatih para gladiator sebelum tampil di arena.
“Ahh, ya... Eros, aku pernah mendengar namanya. Pria
itu selalu membawa pulang kemenangan,” ujar sang Raja
Attikus, pria tua itu adalah Ayah kandung Darrius, pemimpin
pasukan Sparta di jamannya dulu.
Dan seperti itulah politik kerajaan, ketika loyalitas
prajurit tak berarti apapun kepada pemimpinnya. Hanya nama
yang terdengar dan nama itu akan segera lenyap di telan jaman.
Seperti sebuah nama yang terukir di atas pasir dan hilang karena
ombak. Sejarah hanya akan mengenal Raja dan para pemimpin
mereka, tidak ada yang mengenang jasa prajurit yang bertempur
hingga mati di barisan depan.
Nama para pemimpin-pemimpin itu akan berbaris rapi di
samping nama kerajaan mereka yang dibanggakan, tapi tidak
ada satu pun yang mengungkap sebuah kebenaran. Bahwa
pemimpin belum tentu ikut andil dalam sebuah peperangan.
Begitulah kelamnya Sejarah, dan tidak ada seorang pun yang
ingin mengulangi Sejarah beserta kepalsuan yang dibuatnya.
Pertarungan Eros akhirnya berakhir ketika ia berhasil
menumbangkan narapidana yang bobot tubuhnya dua kali lebih
besar darinya itu, kemenangan Eros menjadi sorak-sorai yang
menggema nyaring di seluruh penjuru kerajaan. Begitu hiruk
pikuk terdengar Linda langsung melihat ke arena, nafasnya
90 Slave
sedikit lega ketika melihat narapidana itu telah terbujur kaku.
Menandakan bahwa prianya menang dan masih bernafas...
“Tidak untuk waktu yang lama!” desis Darrius seraya
menjambak rambut Linda dengan kuat, gadis itu lagi-lagi
berusaha melepaskan cengkraman Darrius di rambutnya.
Seketika Darrius memberi isyarat kepada para pengawal
kerajaan yang menjaga jalannya pertunjukan gladiator
tersebut, Linda meraung mengetahui rencana Darrius yang
ingin menyingkirkan Eros. Memohon kepada Darrius namun
terlambat, jika saja Linda memahami posisinya sebagai Budak,
jika saja Linda tidak terlalu egois dan jika saja takdir Linda
tidak seburuh itu.
Tapi kata jika hanyalah khayalan sekaligus keinginan
Linda yang tidak akan pernah terwujud, seorang wanita
tidak akan pernah memiliki hal yang ada di dalam khayalan
Linda. Selagi wanita itu masih menginjakan kaki di kerajaan
ini. Desas-desus perselingkuhan Linda, sang permaisuri yang
kecantikannya telah diakui di seluruh kerajaan Sparta sekaligus
istri dari seorang Darrius, menyebar dengan cepat.
Para bangsawan berbisik ria dan mengakui kegagahan
Eros yang membuat gadis itu berani menghianati Darrius,
meski semua orang tidak mengerti dan tidak tahu kejadian yang
sesungguhnya. Bahwa Darriuslah yang merebut Linda darinya,
dan desas-desus yang berkembang wajah Linda yang sangat
cantik itu dapat menarik perhatian pria manapun, sehingga
Irma Handayani 91
mudah baginya untuk berhubungan dengan banyak pria.
Semua bangsawan terutama wanita dan rakyat hanya
bisa berspekulasi, tanpa mengetahui kebenaran atau setidaknya
mendengar penjelasan Linda terlebih dahulu. Karena itulah
mereka, hanya mengagung-agungkan pemimpin yang memberi
makan mereka. Jadi apapun keputusan dan pengumuman yang
dibuat oleh kerajaan, dengan senang hati akan mereka terima
dan lagi, karena semua rakyat Yunani menyukai pertunjukan
gladiator.
Kabar perselingkuhan yang dilakukan istrinya sendiri,
membuat Darrius murka. Seolah ia sebagai seorang suami
dan juga calon pemimpin kerajaan ini merasa gagal dalam
mengurus seorang istri, sebuah penghinaan bagi Darrius dan
telah mencoreng nama baiknya dan nama baik Ayahnya.
Maka dari itu, Darrius telah mempersiapkan hal ini dari
jauh-jauh dari dan perencanaan yang matang. Memberikan
Linda waktu untuk benar-benar mengerti statusnya sebagai
seorang wanita dan merelakan Eros, namun gadis itu keras
kepala dan tidak mengerti posisinya sebagai seorang budak
dan Darrius sangat membenci hal itu. Hingga pada akhirnya,
Darrius melakukan eksekusi kepada Eros. Memberikan isyarat
Ibu jari yang menunjuk ke arah bawah, yang artinya kematian
bagi Gladiator.
Semua rakyat termasuk bangsawan kerajaan besorak ria
dan bertepuk tangan atas isyarat yang diberikan Lord Darrius,
92 Slave
semua penghuni Sparta adalah manusia yang bar-bar, kematian
bagi para gladiator adalah hal yang mereka bayar mahal untuk
melihat pertunjukan tersebut. Eros dianggap sebagai seorang
penghianat yang bisa saja menimbulkan kerusakan di kerajaan
mereka, karena itulah keyakinan mereka pada Dewa dan Dewi
Yunani. Serta, ini adalah sebuah pertunjukan gladiator. Tidak
puas rasanya jika sang petarung tidak mati dan menumpahkan
darah sebagai persembahan kepada Dewa Perang.
“Kau bukanlah Dewa Perang, Eros! Akulah Dewa
Perang,” ucap Darrius disertai wajah angkuh dan kepercayaan
diri yang tinggi, Linda yang melihat hal itu mendengus kesal.
Meskipun dengan wajah sembab setidaknya Linda masih bisa
melawan Darrius.
Linda bukan gadis yang ingin diperlakukan seperti yang
Darrius lakukan kepada seluruh Budak di kerajaan ini, karena
menurutnya kedudukan semua umat manusia adalah sama.
Dewa dan Dewi memiliki kedudukan yang sama, Dewi adalah
wanita dan memiliki kekuatan dan kelebihan seperti yang
dimiliki pada Dewa. Dan itu adalah prinsip Linda...
Linda segera mengangkat jemarinya, sama seperti yang
dilakukan oleh Darrius. Namun Linda mengangkat jempolnya
ke atas,yang artinya adalah kehidupanbagi pemenang Gladiator.
Sorak-sorai kembali ramai terdengar setelah Linda memberikan
kehidupan bagi Gladiator yang tak lain adalah Eros, Darrius
mendengus menoleh ke arah Linda. Hanya tatapan tajam dan
Irma Handayani 93
senyuman jahat yang dilayangkan Linda kepada Darrius.
“Kau memang menganggap status wanita adalah Budak.
Tapi aku permaisuri, dan aku memiliki status yang sama
denganmu Suamiku. Semua rakyat dan pengawal juga tunduk
kepadaku!” cecar Linda.
Yang akhirnya membuat Darrius murka dan menampar
wajah Linda dengan keras, gadis itu tersungkur di atas lantai.
Namun dengan wajah penuh kemenangan, setidaknya Eros
masih bisa bernafas di bawah sana. Tidak ada lagi prajurit
gagah berani yang bertempur dengan kehormatan dan selalu
membawa pulang kemenangan, tubuh besarnya dengan lengan
berurat yang akan selalu Linda kenang. Rambut pirang dan
gondrong yang selalu terikat serta brewok tipis yang membuat
sisi maskulinnya terpancar dengan segala kalimat yang penuh
wibawa dan juga lembut.
Tidak ada lagi pria di penjuru Sparta seperti Eros, pria
yang benar-benar tahu bagaimana caranya memperlakukan
wanita dengan benar. Pria yang sangat tangguh dan jantan
bahkan hingga akhir masa kejayaannya, setidaknya Eros
tumbang sebagai kesatria yang berani. Bukan lari dari eksekusi
atau menjerit meminta pengampunan dari Darrius, bukan...
Eros adalah prajurit Yunani yang kuat.
Jemari yang dulu kuat dan lengan yang dihiasi oleh
urat kini harus terbelenggu oleh rantai besar, duduk tertunduk
di sebuah penjara bawah tanah yang paling rendah dan hina.
94 Slave
Menunggu sebuah kematian yang tak di ijinkan oleh Dewa
Kematian, mungkin belum saatnya. Dan mungkin ada sebuah
rencana yang dibuat oleh Apollo untuknya, untuk Linda dan
untuk kerajaan ini.
Mungkin...
Tapi sepertinya Eros tak lagi berharap pada para Dewa,
ujian dan beban hidupnya terlalu berat. Eros bahkan ragu Dewa
masih menyayanginya seperti mereka menyayangi umatnya
yang lain. Bahu besar yang dulu kokoh dan kuat kini terlihat
lesu, ia tak ingin membebani Linda setelah ini. Dan menunggu
kematian sepertinya lebih baik untuk saat ini. Suara ketukan
langkah besar mendatangi ruang bawah tanah, beberapa
langkah terdengar mulai mendekati sel yang ditempati oleh
Eros dan berhenti tepat di luar jeruji besi.
Sedikit mendongak, aroma parfum khas kerajaan
menguar begitu saja. Tanpa Eros harus melihat ia sudah dapat
menduga siapa yang mengunjungi selnya. “Suatu kehormatan,
Lord Darrius yang agung mau mengunjungi tempat rendah
seperti ini,” ujar Eros, wajah tampan yang nampak babak belur
itu tertutup oleh beberapa helai rambut, diperburuk dengan
pencahayaan yang minim. Eros yang dulu gagah kini menjadi
seorang yang rendah dan hina.
“Ini yang terjadi jika seseorang berani menentang
Lord Darrius.” Darrius mencoba melecehkan Eros,
meskipun wajahnya terlihat murka, namun di dalam hati
Irma Handayani 95
Darrius mengkhawatirkan Linda yang mulai menunjukan
keberaniannya.
Dan percayalah, hinaan atau cercaan Darrius tak lagi
berguna jika seseorang telah menghuni penjara. “Kau beruntung
istriku masih membiarkanmu hidup,” tambah Darrius, Eros
terkekeh, hampir tertawa mendengarnya.
“Kau bilang istrimu? Mungkin maksudmu, kekasihku,”
cecar Eros.
Hal itu tentu saja membuat Darrius naik pitam, ia lalu
mengarahkan kedua pengawalnya untuk membuka sel Eros
guna bersenang-senang dengan pria itu.
Bugh!
Eros terbatuk ketika pengawal terus memberikan pukulan
di perutnya dengan kedua tangan terbelenggu, tanpa dapat
melawan. Sementara Darrius hanya melihat kejadian tersebut
dan berlalu pergi ketika dirinya sudah puas menyiksa tawanan
nomor satu di kerajaan ini.
“Simpan tenaganya, kita membutuhkan dia di acara
gladiator besok,” ujar Darrius.
Tubuh Eros lalu di buang begitu saja ke dalam sel dengan
luka lebam yang kembali memar, ia bahkan tak lagi dapat
merasakan sakit. Hanya berharap Darrius segera mengambil
nyawanya agar dirinya terbebas dari perbudakan ini, karena
semua penghuni Yunani tahu bahwa kematian adalah kebebasan
yang sesungguhnya.
96 Slave
❍❍❍
Irma Handayani 97
memegang sebuah gulungan kertas tua.
“Hmm...” Linda berdeham, dagunya terangkat ke atas
pandangannya lurus ke luar jendela. Entah hanya perasaan
mereka saja, atau Lady mereka kini terlihat berubah.
Nada bicara serta permintaan Linda kini terdengar
otoriter serta mendominasi, tak biasanya Linda memanggil para
budak untuk melayani dirinya. Kini Linda terlihat seperti Ratu,
bukan lagi seorang Budak yang kebetulan dipersunting oleh
Lord Darrius.
Brak!
Pintu kamarnya terbuka dengan keras, menampilkan
seorang pria berjubah merah yang sudah dapat Linda tebak.
Ia tak terkejut, suaminya itu memang tidak pernah bersikap
lembut. Begitu pula hal yang akan Linda tunjukan padanya, tak
akan ada lagi kelembutan.
“Keluar!” ujar Darrius kepada semua budak, dengan
segera mereka membereskan perlengkapan dan keluar dari
kamar Linda sesuai titah Darrius. “Apa yang kau lakukan?”
tanya Darrius, berjalan mondar-mandir di hadapan Linda yang
nampak santai.
“Melakukan perawatan,” jawab Linda dengan singkat,
yang dimaksud Linda kepada Darrius adalah kini Linda adalah
seorang permaisuri, hal yang wajar ketika seorang lambang
kerajaan melakukan hal yang sebagaimana mestinya dilakukan
oleh anggota kerajaan.
98 Slave
Darrius mengusap kasar wajahnya, kesabarannya sudah
habis oleh gadis yang sama sekali tidak dapat ia jadikan Istri
sekaligus Budak. Darrius menarik lengan Linda, gadis itu
sedikit terperanjat meski ia tak lagi terkejut dengan sikap
Darrius. “Kau mungkin boleh tersenyum hari ini, tapi besok
Eros kupastikan akan mati!” cecar Darrius. Tapi Linda hanya
tersenyum, dan membelai wajah Darrius dari rahang ke pipinya
yang ditumbuhi bulu halus. Tiba-tiba Linda mengecup bibir
Darrius, Darrius yang terkejut berusaha menjauhkan diri dari
Linda namun gadis itu menahan tengkuk Darrius dan makin
memperdalam ciumannya.
Darrius hanya manusia biasa, yang memiliki birahi besar
apalagi terhadap gadis cantik yang sedari dulu selalu ia awasi
dan kini menjadi istrinya. Dengan gerakan cepat, Darrius
mendorong pinggul Linda menuju atas ranjang. Merobek
pakaian gadis itu dan kembali melumat bibirnya.
“Besok petinggi kerajaan Sparta akan datang, kuharap
kau bisa menjaga sikapmu!” ucap Darrius di sela cumbuannya,
Linda hanya tersenyum.
“Tentu saja suamiku, aku akan menjaga sikapku,” balas
Linda dengan senyum kemenangan.
❍❍❍
Irma Handayani 99
Berwarna putih susu serta memiliki ikat pinggang yang terbuat
dari permata, mewah saja tidak cukup untuk menandakan
bahwa dirinya adalah seorang Putri. Rambutnya digelung
ke atas dengan sedikit helaian dibiarkan menjuntai di sekitar
pelipis dan telinganya.
Wajah cantik yang tak perlu diragukan lagi sebenarnya
tidak perlu dipermak agar terlihat lebih segar, hanya saja Darrius
memaksa. Pria itu ingin Linda tampil sempurna dalam acara
hari ini, meskipun ia tahu bahwa hari ini adalah acara di mana
Kekasihnya akan bertarung sampai titik darah penghabisan.
Gladiator...
Terdapat ratusan gladiator dari seluruh Sparta yang
akan bertarung, ini sudah seperti olahraga tahunan yang
dilaksanakan oleh Sparta. Demi menghormati para Dewa,
terutama Dewa Ares yang merupakan simbol dari peperangan
yang selalu berpihak kepada Sparta dalam meluaskan wilayah
kekuasaan mereka, Sparta selalu memenangkan pertempuran.
Dan mungkin pimpinan kerajaan mulai melupakan, siapa yang
selalu pulang membawa kemenangan dalam peperangan.
Eros...
Kedua lengan besarnya masih dirantai oleh besi-besi
yang kuat, sebelumnya ia hanya menjadi penonton atau ia akan
sembunyi di bibir pantai ketika olahraga ini berlangsung. Eros
tidak menyukai pertandingan bunuh diri seperti ini, namun
sekarang ia harus menghadapi sendiri olahraga yang dianggap
100 Slave
hiburan oleh masyarakat Yunani, terutama Sparta.
Menunggu gilirannya dipanggil bersama para tahanan
lainnya yang akan bertarung melawan gladiator terkuat di
penjuru Sparta, menunggu penjara yang terbuat dari besi itu
terbuka. Maka ia dan para tahanannya akan keluar menghibur
para penonton yang bersorak di luar sana, berjuang untuk tetap
hidup.
Rantaidan besimulaibersahutan,berdentingdanberbunyi
seiring jeruji besi terbuka. Sinar matahari mulai memasuki
penjara bawah tanah yang pengap dan berbau darah, mereka
hanya dapat melihat marahari jika sedang bertarung dan bebas
jika kematian mendatangi mereka. Setidaknya itulah yang
terjadi, bahwa kebebasan yang dijanjikan pemimpin mereka
hanyalah bualan belaka. Dan kebebasan yang sesungguhnya
adalah kematian.
Para tahanan yang memiliki tubuh perkasa tersebut
keluar dari sana, tubuh kecoklatan dan otot kekar mereka
terlihat mengkilap di bawah pantulan sinar matahari. Membuat
para wanita dan gadis-gadis nenjerit histeris ingin membayar
satu dari mereka untuk melampiaskan hawa nafsu. Terutama
Eros yang memiliki wajah paling rupawan dan tubuh yang
kuat, semua orang rela merogoh kocek lebih dalam hanya
untuk melihat pria itu bertarung di arena gladiator. Sementara
pria itu hanya bersikap acuh, yang ia tahu bahwa ia hanya harus
bertarung dan bertarung. Mengayunkan pedang dan bertahan
102 Slave
akan mengambil tahta kerajaan besar Sparta, pemanah jitu dan
petarung terbaik yang dimiliki oleh Sparta.
“Patroklous,” ujar pria berambut pirang yang tengah
memperkenalkan diri seraya mengecup jemari Linda. Pria
itu tak ubahnya seperti Eros, rambut panjang yang dibiarkan
terurai dan otot lengan yang kuat.
“Linda, My Lord...” sedikit menyunggingkan senyum
nakal ke arah Patroklous seraya menunduk hormat.
Darrius yang menyadari hal tersebut akhirnya terbakar
api cemburu, Linda memang tidak akan pernah bisa menjadi
istri yang ia inginkan.
“Nikmati pertunjukannya Yang Mulia,” ujar Darrius
kepada Aphareus, mereka pun akhirnya pergi menuju kursi
duduk di atas bangunan menunggu pertandingan dimulai.
Sementara Darrius yang menahan amarah, menarik lengan
Linda dengan kuat dan menyudutkannya ke dinding bangunan.
“Jaga sikapmu, atau aku bersumpah akan melemparkan
Eros ke kandang singa!” cecar Darrius.
“Kau sudah melemparkannya ke kandang singa hari ini!”
balas Linda. “Satu lagi suamiku sayang, jika kau membunuh
Eros hari ini. Maka akan kupastikan ini adalah hari terakhir
aku menjadi istrimu, dan keesokan harinya aku akan terbangun
di atas ranjang Patroklous dan menyandang gelar sebagai
istrinya!” tukas gadis itu seraya menyipitkan kedua matanya
dan tersenyum simpul.
104 Slave
terhadap Linda, namun sayangnya pemilik wajah cantik itu
hanya terpaku pada sebuah objek yang sangat ia kagumi sedari
dulu. Cintanya tak akan berubah sampai kapanpun meski kini
tubuhnya tak lagi untuk pria itu, meskipun statusnya sebagai
istri dari Lord Darrius namun cintanya tetap untuk pria itu.
Linda akan tetap menunggu dirinya kembali kepada pria itu,
walau ajal mengejar mereka berdua.
Suara pedang saling bersahutan, mengalun indah bagi
manusia yang menyukai sebuah pertarungan. Panas terik
membuat peluh kian menjadi, membasahi rambut yang terurai
namun segera mengering kembali karena panas matahari. Perisai
yang dikenakan Eros nampak penuh dengan goresan pedang,
pertanda dirinya terlalu banyak berlindung dari serangan demi
serangan dari beberapa pedang.
Tidak hanya satu lawan, Eros harus mengalahkan
beberapa tahanan kerajaan dan tahanan dari Sparta. Mereka
bertarung satu sama lain, sampai tersisa satu pria yang akan
menjadi pemenangnya. Pada akhirnya Linda menghembuskan
nafas lega, melihat mayat bergelimpangan di atas pasir tandus
dan hanya menyisakan seorang pria yang sangat ia cintai
menjatuhkan pedang yang digenggam sedari tadi seraya
menatap lekat ke arah Linda dari kejauhan.
Sorak-sorai menjadi penutup acara, semua orang yang
bertaruh mengambil keuntungan dari kemenangan Eros. Tak
terkecuali anggota kerajaan, sementara Darrius hanya terdiam
106 Slave
yang memiliki postur tubuh serta rambut yang sangat mirip
dengan Eros tersebut. Hingga akhirnya, Patroklous mengajak
Linda untuk berbincang dan meninggalkan tempat tersebut.
“Aku hanya seorang Budak,” ucap Linda untuk pertama
kalinya bangga dengan status tersebut ketika menceritakan awal
pernikahan dengan Darrius, tak ada lagi rasa rendah dan malu.
Ia mengakuinya, itu lebih baik dari pada mengaku menjadi
seorang Putri namun tidak bisa berbuat apapun.
“Aku tidak terkejut, Darrius dapat melakukan apa saja.
Termasuk mencari wanita yang ia inginkan,” balas Patroklous.
“Kau mencintainya?” tanya Pat, sontak Linda
menggeleng seraya tersenyum. Pat hanya mengangguk. “Ya,
kurasa memang tidak ada cinta di Sparta. Cinta hanya omong
kosong, dan kurasa di negeri ini tidak akan ada manusia yang
ingin berjuang demi cinta.”
Deg!
Seolah perkataan Patroklous barusan menusuk tepat ke
arah jantung Linda, sebuah sindirian bagi setiap orang yang
mengabaikan cintanya hanya untuk kesenangan belaka. Itulah
yang terjadi di kebanyakan tempat di Sparta, termasuk Linda.
Seketika wajahnya tertunduk dan termenung. Menghentikan
langkah dan hal tersebut membuat Patroklous mengernyitkan
dahi.
Tak lama kemudian, beberapa pasukan tahanan yang
tersisa digiring kembali ke tahanan mereka setelah pertunjukan
108 Slave
Sparta, aku pernah mendengar desas-desus tersebut. Dan aku
pikir itu hanya sebuah omongan belaka, namun saat ini aku
paham,” ujar Pat, Linda hanya diam saat pria itu berbicara di
hadapannya. “Skandal tersebut benar, kau menikahi Darrius
dengan keterpaksaan karena status,” tambah pria itu.
“Dan seharusnya tetap seperti itu,” kata Linda dengan
wajah sendu, Pat menghembuskan nafas kasar.
“Aku bisa membantu, kau hanya perlu ikut denganku ke
Sparta dan aku akan membeli Eros sebagai hadiah kepulanganku
dari sini,” jelas Pat.
“Lalu atas dasar apa kau membawa istri dari Lord
Darrius?” tanya Linda.
“Menikah denganku!” kata Pat, Linda tertawa. Ia paham
Patroklous hanya menawarkan sebuah bantuan, namun apa
yang membuat tawaran tersebut aman? Karena Patroklous
hanyalah orang asing, sama seperti orang asing di Sparta pada
umumnya.
“Lalu, setelah kau berhasil mengambil istri Lord
Darrius beserta seorang tahanan dan membawanya ke Sparta.
Kau akan menceraikanku begitu saja dan membiarkan berita
buruk berkembang di kerajaanmu?” tanya Linda seraya
menyunggingkan senyum remeh, ia menggeleng. “Tidak
Patroklous yang Agung, terimakasih atas tawaranmu. Tapi ini
terlalu rumit dan apa yang membuat pria sepertimu berminat
untun menolong Budak sepertiku?” tanya Linda.
❍❍❍
110 Slave
bibir seperti ular. Pat ingin mengambil Eros, menjadikan pria itu
menjadi penasihat kerajaan sekaligus tangan kanannya. Karena
Eros adalah prajurit yang jujur dan kuat, jarang sekali Pat bisa
menemukan pria setengah Dewa yang memiliki kebaikan hati
sekaligus kekuatan seperti yang dimiliki Zeus.
Dari pada harus terkurung di balik jeruji besi dan hanya
menunggu untuk menghibur bangsawan, Pat rasa kelebihan
Eros akan sia-sia berada di sini. Darrius terkejut dengan
kedatangan Patroklous yang secara tiba-tiba ke ruangan
kerjanya, sejujurnya ia tak pernah suka melihat Pat apalagi pria
itu selalu berusaha mendekati Linda. Tapi Pat adalah golongan
bangsawan Sparta, sudah seharusnya Darrius melayani calon
pewaris Sparta.
“Sungguh kehormatan bagi kami Patroklous yang Agung
mengunjungi ruangan kami bekerja,” ujar Darrius seraya
sedikit merunduk, walau lirikan kedua matanya tak lepas dari
Patroklous.
“Apa aku mengganggumu?” tanya Pat, Darrius memberi
isyarat kepada para Budak untuk membawakan minuman dan
buah-buahan kepada Patroklous.
“Tentu saja tidak,” jawab Darrius.
Pat mengamati ruangan kerja Darrius, seketika kedua
matanya terkesan dengan sebuah minatur berbagai kerajaan
yang tertata rapi di meja berukuran besar. Itu adalah miniatur
seluruh kerajaan yang ada di Yunani, terdapat tanda berwarna
112 Slave
medan pertempuran, dia selalu berkata. Semua pria adalah
sama, akan mati di sebuah pertempuran jika Dewa berkehendak
demikian. Jadi, sampai detik inipun aku tidak akan pernah takut
atau sembunyi dalam pertempuran apapun,” jelas Pat panjang
lebar, Darrius masih terdiam seribu bahasa. Ingin melawan,
namun yang ada di hadapannya ini bukanlah tandingan yang
seimbang dengan dirinya.
“Aku akan membawa Eros pulang esok hari, kau boleh
meminta tebusan apapun atas dirinya. Dia akan menjadi prajurit
yang hebat di samping singgasanaku, dari pada menjadi badut
kerajaan yang hanya kau simpan di dalam kerangkai besi. Eros
akan lebih berharga jika bersama Sparta yang sesungguhnya,”
kata Patroklous, sontak Darrius tak menyetujui hal tersebut.
“Tapi My Lord, Eros adalah seorang penghianat. Ia telah
berselingkuh dengan istri—”
“Itu bukan urusanku!” bentakan Patroklous menggema
hingga sudut ruangan. “Singkirkan urusan pribadimu dari
urusan kerajaan! Lagi pula, jika kau adalah seorang pria sejati.
Istrimu tidak akan berhianat di belakangmu dan lebih memilih
pria lain!” cecar Patroklous, Darrius kembali terdiam dengan
wajah memerah dan air matanya yang hampir saja keluar
karena pelecehan ini.
“Aku akan membawa Eros besok, dengan atau tanpa ijin
darimu!” kata Patroklous lalu pergi dari ruangan Darrius diikuti
beberapa pengawal yang selalu setia menjaga calon pewaris
❍❍❍
114 Slave
bingung.
“Kau tidak ingin bertemu dengannya?” tanya Pat.
Linda menggeleng, “Hubungan kami sudah mulai
renggang, akan sangat melukai hatinya jika ia tahu bahwa
ini semua hanyalah sebuah rencana yang telah disiapkan.
Aku takut ia akan menolaknya.” Linda menoleh ke arah
Patroklous yang berdiri tak jauh darinya, “Biarlah air laut tetap
seperti itu, tak seorangpun boleh mengetahui apa yang ada di
dasarnya,” kata Linda, meskipun Patroklous menyadari gadis
itu mengatakannya dengan perasaan sedih.
Pat mengangguk, “Baiklah, jika itu permintaanmu.” Dia
lantas meninggalkan Linda.
Tapi seketika, Linda berdiri dari duduknya dan menggapai
lengan Patroklous. Membuat pria itu berbalik dan menatap heran
ke arah Linda. “Berjanjilah kau akan menjaganya untukku,”
pinta Linda, netra kebiruan itu begitu berkilau karena air mata
yang menggenang di sana.
Pat tersenyum berusaha meneduhkan hati Linda, “Aku
berjanji.”
Dari kejauhan, Darrius melihat sesuatu yang kini mulai
ia pahami. Patroklous mengecup kening gadis yang memiliki
status sebagai istrinya itu, saat itu juga amarah Darrius tak
terbendung. Ingin sekali ia menghabisi Linda saat ini juga,
namun ia berusaha menahan emosinya karena Patroklous
masih berada di sini. Darrius mengepalkan kedua tangannya di
116 Slave
Chapter 3
Sparta
ingung... Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanya
B bertanya-tanya, beberapa pengawal membuka borgol
dan menggiringnya keluar dari penjara dan beberapa tahanan
menjerit saat ia dibawa keluar dari sel yang terdapat banyak
tahanan, meneriakan nama Eros seolah ingin ikut bersama pria
itu. Mereka menyadari Eros baru saja dibebaskan, terlihat tanpa
ada borgol lagi di kedua tangannya. Namun bagi Eros yang
sama sekali tak mengerti sistem penjara, ia bingung.
Ia pikir tidak ada kebebasan bagi seorang penghianat
di negeri ini, tapi ternyata pengawal yang mengantar dirinya
keluar akhirnya berhenti tepat di depan gerbang utama
kerajaan. Dinding besar setinggi sepuluh meter dan sangat kuat
itu memiliki sebuah gerbang yang terbuka, ramai oleh kereta
kuda serta pengawal yang ia ingat berasal dari kerajaan Sparta.
Begitupun dengan pria yang mengenakan jubah bangsawan
Sparta, memerhatikannya dari kejauhan dan semakin membuat
Eros bingung. Ia hanya mengikuti anjuran untuk menaiki
sebuah kereta kuda yang diisi dua orang tahanan sepertinya.
Sampai detik ini pun Eros masih kesatria yang loyal
pada kerajaan, mengikuti perintah adalah yang utama baginya.
Apalagi sekarang ia tak perlu lagi mengenakan borgol di
kedua tangannya, hingga akhirnya kereta kuda bergerak
dan meninggalkan tempat kelahirannya. Ia masih bingung,
pengawal dan pihak bangsawan tak ada yang memberitahunya.
Ia hanya bisa melihat sebuah kerajaan besar dan makmur yang
terlindungi oleh dinding di sekelilingnya kini mulai mengecil, ia
118 Slave
bukan memikirkan tentang kesedihan akan perpisahan dengan
tempat yang telah memberinya hidup. Namun ia memikirkan
tentang gadis yang tidak akan ia dengar lagi kabarnya, akankah
gadis itu selamat dari Darrius yang kejam? Sementara Eros
hanya prajurit yang dibuang ke dalam sel tahanan dan kini
dibuang kembali dari kerajaannya sendiri.
Sungguh miris!
Beberapa jam menempuh perjalanan, ia merasakan
panas di bumi Yunani yang menyengat, seolah Apollo tengah
bersemangat memberikan kemakmuran kepada kaumnya. Dan
akhirnya kereta berhenti, keramaian mulai terdengar oleh indera
pendengaran Eros. Saat ia turun dari kereta beserta dua tahanan
lainnya, kedua matanya merasa takjub akan sebuah anugerah
yang para Dewa berikan ke tanah yang makmur ini. Ternyata
para bangsawan Sparta telah membawanya ke kerajaan Sparta
yang besar dan makmur, entah pertukaran apa yang mereka
lakukan Eros tak ingin tahu. Tapi ketika ia menapakan kedua
kakinya ke tanah ini, Eros merasa sesuatu yang baru akan ia
mulai.
Seorang pengawal Sparta membawanya bersama dua
tahanan lain menuju ke sebuah tempat, menjelaskan bahwa
mereka bukan lagi berstatus sebagai tahanan di tempat ini. Ini
adalah pusat kerajaan Sparta, dimana semua perdagangan dan
pertempuran serta pemerintahan berpusat di sini dan Patroklous
yang Agung memimpin semua sistem yang bekerja di bawah
120 Slave
Namun sepertinya sorak tersebut tak berlangsung lama,
Eros menendang kaki pria tersebut hingga patah. Dan saat
ia bangkit dari gentong yang berisi air dan membuat seluruh
rambut dan wajahnya basah, ia melayangkan beberapa bogem
mentah kepada pria itu. Dengan keras hingga menyebabkan
darah mengalir dengan deras, pria berkulit hitam itu tersungkur
di atas lantai.
Tidak ada yang berani berbicara atau melerai perkelahian
yang dimenangkan oleh Eros, semua hanya terdiam. Eros
menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara
perlahan, dada bidangnya terlihat basah oleh air dan peluh.
Ia baru tiba di Sparta dan seseorang baru saja mengajaknya
bertarung. Bukan Sparta namanya jika tidak ada pertarungan.
Belum berakhir perkelahian ini, beberapa pengawal
ditugaskan untuk menjemput Eros untuk bertemu Patroklous.
Ia mengikuti pengawal tersebut yang membawanya ke sebuah
ruangan mewah dengan miniatur yang tak kalah bagus seperti
tempat kelahirannya dulu. Nafasnya masih terengah, namun ia
dihadapkan dengan pria yang memiliki gaya rambut dan postur
tubuh sama sepertinya. Hanya saja, tampilan Eros lebih kacau
dari Patroklous.
“Ijinkan aku menjelaskan beberapa hal yang tidak sempat
aku lakukan di tempat asalmu, Eros. Karena Darrius bersi keras
agar aku tak membawamu kemari, tapi tentu saja, aku tidak
akan menyia-nyiakan bakatmu begitu saja dan hanya menjadi
122 Slave
Oleh sebab itu aku membawamu kemari, agar kalian
dapat bersatu kembali seperti dulu....
❍❍❍
Plak!
Sementara di bumi Sparta bagian lain, seorang gadis
tengah menahan perih di sekujur tubuhnya akibat siksaan.
Kedua tangannya dirantai dengan seluruh tubuh tanpa tertutup
sehelai benang, punggungnya memerah dan berbekas cambukan
yang terus dilayangkan Darrius tanpa henti. Hukuman bagi
para istri yang ketahuan berselingkuh adalah cambukan, Linda
beruntung ia tidak langsung dieksekusi oleh algojo. Meskipun
Linda berpikir hal ini bukanlah keberuntungan, ia lebih memilih
ajal menjemputnya dan akhirnya bebas dari pada terus tersiksa
seperti ini.
“Sekali budak memanglah budak! Kau pasti tidak bisa
mengubah hal itu di dalam dirimu, sudah tersusun baik di
kepalamu. Menggoda para bangsawan, bukan?” desis Darrius
seraya membekap leher Linda dengan keras.
Terlihat gadis itu menahan nafasnya karena jari Darrius
menahan udara yang memasuki tenggorokannya, setelah
Darrius melepaskan cengkramannya, Linda terbatuk. Keringat
nembasahi sekitar wajah dan leher, tapi ia tak kunjung meminta
belas kasih sedikitpun dari Darrius.
“Aku lebih baik menggoda Patroklous yang Agung, dari
124 Slave
sampaikan. Namun keegoisan dan sifat sombong yang dimiliki
Darrius takkan pernah habis meski termakan usia, ia selalu
mempunyai cara untuk mengelak semua hal.
Termasuk kekalahannya sendiri...
Satu tamparan keras menyudahi hukumankepada istrinya,
Darrius keluar dari kamar dengan perasaan yang tak menentu.
Ia baru menyadari siasat Patroklous dengan membawa Eros dari
negeri ini, karena hanya Eros yang selalu berjaya membawa
pulang kemenangan.
Darrius menjatuhkan sebuah tinjuan ke meja, membuat
meja yang terbuat dari kayu tersebut rusak seketika. Ia terlalu
membiarkan ambisi dan egonya berlarut menjadi satu, sehingga
ia kalah telak dalam pertempuran dingin melawan atasannya
sendiri. Pat telah merebut kehormatan istrinya, berselingkuh
dengan Linda yang notabennya adalah istri sahnya. Dan
sekarang ia baru menyadari, Pat juga telah mengambil Eros,
kesatria terbaik yang pernah dimiliki oleh kerajaan ini.
Darrius bersumpah pria itu akan membayar semua
yang telah diambil darinya, termasuk kehormatan dan harga
dirinya yang hilang akibat kekuasaan yang dimiliki Patroklous.
Sementara Linda tersenyum penuh kemenangan ketika para
Budak membuka belenggu rantai yang ada di kedua tangannya.
Tersenyum puas ketika Darrius tengah menikmati sebuah
karma.
❍❍❍
126 Slave
juga harus memiliki semangat yang tinggi untuk melanjutkan
hidup,” lanjutnya.
Tak lama suasana hening, Eros tak tahu harus berkata
apa karena hidupnya tidak seperti gadis itu. Namun Eros dapat
merasakan rasa kehilangan gadis itu, saat ia menghunuskan
pedang kepada lawannya. Saat itu juga Eros telah merenggut
suami dari istrinya, dan ayah dari anak-anaknya.
“Keluarlah! Bilang pada mereka bahwa kau telah selesai
melayaniku, agar mereka tak menyakitimu,” ucap Eros, tak
berniat sedikitpun melirik kepada gadis tersebut.
“Tapi—”
“Lakukan!” bentak Eros, melihat pria itu membentaknya
dengan menggenggam sebuah pisau, gadis itu akhirnya keluar
dari kamar Eros. Eros tak menyalahkan hal tersebut, sudah
menjadi tugas seorang gadis di kerajaan ini untuk menggoda
prajurit. Tujuannya agar prajurit mendapat kepuasan dan tak
terbebani saat perang, apalagi untuk pria yang belum menikah
seperti Eros. Namun Eros bukanlah tipe pria yang memiliki
birahi tinggi, ia terlalu memikirkan cinta yang akhirnya
membawa dirinya ke tempat ini.
Eros mengikat rambutnya, membilas wajahnya dengan
air jernih yang ada di dalam gentong kayu. Air tersebut menetes
dari wajah hingga membasahi otot lengan serta dada bidangnya,
ia lalu bercermin di atas air jernih tersebut. Wajah yang telah
membunuh ribuan manusia di medan pertempuran, masih
128 Slave
elangnya terus memperhatikan gerak lawan. Eros memberikan
beberapa pelajaran dalam menghadapi lawan, tentu diterima
baik oleh prajurit Sparta mengingat Eros sudah seperti prajurit
Yunani yang melegenda.
Tubuh besarnya bahkan dapat mengalahkan lawan tanpa
harus menggunakan pedang atau perisai yang ia genggam,
prajurit Sparta telihat takjub melihat perkelahian singkat
yang selalu dimenangkan oleh Eros. Dan mereka kembali
berlatih seperti yang Eros ajarkan, selalu serang lawan di
bagian tenggorokan, itu adalah hal dasar yang mudah untuk
menaklukan lawan.
Tak lama Eros mendengar sebuah tepuk tangan yang
ternyata berasal dari Patroklous, menyadari bangsawan seperti
Pat mendatangi medan latihan Eros sedikit membungkuk untuk
menghormati pria itu. Namun Pat bukanlah bangsawan seperti
Darrius yang gila hormat.
“Kudengar kau selalu mengalahkan semua orang
orangku selama satu bulan terakhir ini,” ujar Pat, mengajak
Eros berbicara sementara ia mengarahkan pengawal untuk
mengikutinya kali ini.
“Kau memiliki jutaan prajurit yang siap mati, tapi mereka
semua tidak memiliki teknik dalam bertarung,” balas Eros, Pat
tertawa.
“Ya, itu sebabnya aku membawamu kemari. Darrius
mungkin memiliki prajurit terbaik dalam bertarung, tapi aku
❍❍❍
130 Slave
masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada sang Raja.
Pria tua itu terheran, begitu pun dengan Darrius dan Linda.
Beberapa pengawal tersebut berhenti dan memperlihatkan
seorang pria tua bertubuh tinggi besar dan memiliki rambut
serta jenggot yang telah memutih.
“Aphareus?” ujar sang Raja yang merasa terkejut dengan
kedatangan penasehat kerajaan Spartan tersebut. Seketika
suasana hening dengan kedatangan sekutu yang tidak terlalu
baik kepada mereka, Darrius bahkan menahan kepalan kedua
tangannya di atas meja makan. Sparta tidak memiliki sopan
santun, datang ke kerajaan orang lain tanpa mengetuk pintu
terlebih dahulu. Linda pun berpikir demikian, mengapa suasana
menjadi lebih tegang saat ini. Apalagi melihat pengawal Sparta
lengkap dengan senjata mereka, seolah ini bukan sebuah
kunjungan resmi namun tanda peperangan.
Apakah ini yang direncanakan oleh Patroklous? Lagi
lagi Linda hanya bertanya-tanya dalam hati.
“Maafkan aku datang secara tiba-tiba, pengawalmu di
luar tak mengijinkanku masuk dengan cepat dan mengulur
[Link] tidak dapat menunggu selama itu karena ini perintah
langsung dari Agamemnon,” ujar Aphareus.
Semua masih terdiam, raja terlihat takut walau pun tidak
bagi Darrius. Mereka menunggu Aphareus membuka selembar
kertas yang diserahkan pengawal kepadanya, pria tua itu
membacakan isi kertas yang memiliki tanda kerajaan Sparta
132 Slave
Malam ini benar-benar menguji kesabaran Darrius, baru
saja ia mendengar nama Eros disebutkan di dalam kertas yang
tadi dibacakan oleh Aphareus dan sekarang ia mendengar Linda
akan diambil oleh Sparta.
“Bagaimana jika aku menolak?” Tantang Darrius.
“Maka Raja Agamemnon akan menganggap hal itu
sebagai perang!” Jawabnya dan segera meninggalkan tempat
itu beserta seluruh pengawal Sparta.
Linda mendengar suara kursi yang ditendangoleh Darrius,
ia masih tertunduk seraya berpikir. Jika ini adalah sebuah
rencana Patroklous, maka hal ini benar-benar mengerikan.
Tak pernah terpikirkan di benak Linda bahwa semua ini akan
menimbulkan perang, tanpa Eros kerajaan yang dipimpin oleh
Darrius akan hancur.
Linda tidak memperdulikan kehancuran Darrius
melainkan seluruh rakyat yang ada di dalamnya akan terbunuh
jika perang benar-benar terjadi. Aphareus memberikan waktu
selama satu bulan untuk Darrius menyerahkan prajurit dan
budak untuk Sparta. Jika Darrius mengambil sebuah keputusan
yang salah, maka negeri ini akan hancur di tangan Sparta.
“Kau lebih mementingkan egomu sendiri dari pada
rakyatmu?” tanya Linda, saat ia dan Darrius berada di kamar
mereka. Darrius masih dalam keadaan marah, di balkon kamar
ia melihat ratusan rumah yang dihuni oleh banyak rakyat.
Tapi jika ia mengabulkan permintaan Agamemnon
134 Slave
awal dari sebuah petaka.
Seharusnya ia tak membiarkan Patroklous beserta
penasehat kerajaan itu datang kemari dan membawa beberapa
prajurit termasuk Eros, namun apapun yang direncanakan oleh
Agamemnon ia harus mengabulkannya. Atau pria itu akan
membumihanguskan negeri ini hingga rata dengan tanah.
❍❍❍
❍❍❍
136 Slave
namun siapa sangka dibalik semua itu hanya karena ia juga
merasakan sesuatu terhadap Linda.
❍❍❍
138 Slave
“Dan membiarkanmu menjadi selir Agamemnon?”
balas Darrius, dahi Linda terlihat berkerut. Sedikit mendekati
Darrius agar ia paham maksud pria itu.
Seketika Darrius melirik ke arah Linda dan terpana oleh
kedua mata sebiru laut yang berada di sebelahnya itu, di balik
wataknya yang keras Darrius tidak ingin memperlihatkan
kepeduliannya, apalagi terhadap Linda.
“Agamemnon dan kau tidak ada bedanya,” bisik Linda,
mendekatkan wajahnya ke rahang Darrius seolah mengatakan
sebuah kebenaran. Ya, Agamemnon dan Darrius tidak memiliki
perbedaan dalam memperlakukan wanita. Bagi mereka
berdua, wanita hanyalah seorang budak dan permaisuri hanya
melahirkan anak-anak mereka.
Darrius terdiam, ada sebuah momen di mana dirinya dan
Linda dalam keadaan terlalu dekat namun tak ingin mengakui
hal tersebut. Karena keegoisan dan kekuasaan yang berpengaruh
terhadap harga dirinya sebagai calon penerus tahta, meski pun
sampai detik ini ia masih mengagumi wajah cantik Linda dari
segala sisi dan ucapan gadis itu memang benar, hanya Darrius
yang terlalu takut untuk mengakuinya.
Dirinya memang memiliki tubuh dan hidup Linda, tapi
dia tidak akan pernah bisa memiliki hati Linda. Apalagi gadis
itu selalu berpikir bahwa dirinya menganggap rendah derajat
seorang wanita.
“Karena Agamemnon lebih tua dariku.” Hanya itu yang
140 Slave
Linda tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, jika dirinya tidak
pergi hari ini juga maka perpecahan akan terjadi dan akan
menjadi awal peperangan.
“Lord Darrius hanya bilang untuk menjemputmu,” jawab
Celine.
“Baiklah, aku akan kembali. Ada barangku yang
tertinggal di dalam.” Bohongnya, Linda kemudian kembali
masuk ke dalam kuil. Linda berjalan kesana-kemari guna
mencari sesuatu, sampai pada sebuah dinding yang terbuat dari
batu dan mendorongnya.
Linda ingat sebuah lorong yang terhubung dengan
labirin, labirin yang dulu selalu ia gunakan jika bertemu dengan
Eros. Linda segera berlari seraya memegang ujung dress yang
ia kenakan, menelusuri labirin gelap tanpa cahaya lampu. Tak
perduli jika Celine lama menunggu atau Darrius akan berteriak
marah kepadanya. Linda hanya ingin pergi dari sini sebelum ia
tertinggal oleh kereta kuda, namun sekarang tujuannya bukan
hanya untuk Eros, tapi demi keselamatan negeri ini.
Celine yang mulai menyadari gerak-gerik aneh dari Linda
segera memasuki kuil, menyerukan nama gadis itu namun tak
kunjung ada sahutan. Mengetahui Linda berhasil kabur darinya,
Celine mulai panik. Darrius bisa saja membunuhnya jika tahu
ka gagal membawa Linda menghadap Darrius. Tapi, saat Celine
menemukan sebuah pintu yang terbuka, ia bisa sedikit bernafas
lega. Celine turut memasuki tempat yang gelap dan sepi
142 Slave
kencang dan berteriak guna menghentikan kereta tersebut.
Sontak membuat golongan bangsawan yang juga terdapat Raja
dan permaisuri menoleh ke arah Linda, mereka sempat berpikir
bahwa Darrius tetap bersikeras untuk tidak menyerahkan
Linda. Namun disinilah Linda, membuat senyumam lebar dan
nafas lega bagi setiap orang yang melihatnya. Setidaknya hal
ini tidak akan menjadi perpecahan hingga perpecahan bagi
kerajaan mereka.
Raja kemudian menghampir Linda sebelum gadis itu
menaiki kereta kuda, mengucapkan terimakasih dan tak lupa
ciuman penghormatan di kedua pipi Linda. Permaisuri juga
memberikan penghormatan terakhir, berterimakasih atas
pengorbanan Linda kepada kerajaan ini. Meskipun mereka
semua tidak tahu, jika Darrius sama sekali tidak mengijinkan
hal ini terjadi.
Akhirnya kedua kaki Linda menaiki sebuah kereta
kuda yang memang dipersiapkan hanya untuk dirinya, seperti
mengambil sebuah langkah baru. Linda seperti terbebas dari
sesuatu yang telah lama merenggut hidupnya, walau di sana
ia tidak mengetahui apa yang terjadi. Setidaknya Dewa masih
memberinya kesempatan untuk meninggalkan tempat terkutuk
ini, dan menyelamatkan ribuan jiwa.
Dari balik jendela kereta Linda dapat melihat Raja
melambaikan tangan ke arahnya, pria tua yang sudah berumur
itu selalu bersikap baik kepadanya meski Raja selalu sibuk akan
144 Slave
tersebut.
Dari suara yang khas, Linda sangat mengetahui siapa
seseorang tersebut. Satu-satunya orang di kerajaan ini yang
tidak rela Linda pergi. Menghindari kerumunan pengawal yang
menunggu di bibir pantai cukup sulit, Linda yang tak berhenti
memberontak makin menyulitkan pergerakan Darrius. Saat
seorang pengawal ditugaskan untuk menjemput Linda di kereta
kudanya, tempat itu sudah kosong. Dan sudah pasti pengemudi
akan disalahkan dalam kelalaian ini. Seketika suasana berubah
ricuh. Linda yang mengetahui mereka tengah mencari dirinya
mencoba memberontak namun tenaga Darrius sudah pasti lebih
kuat darinya.
Pengawal mulai berpencar mencari Linda, keberangkatan
kapal ditunda karena menunggu seorang permaisuri yang
diperebutkan oleh dua kerajaan. Jika Raja mengetahui hal ini
maka dia akan murka, Darrius belum siap mengatakan hal
ini kepada Ayahnya karena pasti pria itu akan menentangnya.
Darrius juga tak bisa kembali melewati tanah tandus dengan
berjalan kaki, menyadari posisinya tersudut akhirnya ia
memutuskan untuk melompat ke pinggir tebing. Masih
mendekap Linda ia menceburkan diri bersama wanita itu
ke dalam laut. Saat Linda berpikir bahwa Darrius tidak bisa
lebih gila lagi ingin mengakhiri hidup dengan cara seperti ini.
Ternyata pria itu malah menariknya berenang entah kemana,
tanpa tujuan.
146 Slave
orang-orang yang tidak bersalah.
Namun lagi-lagi pria itu hanya diam...
Linda bahkan melempar beberapa kerikil yang ada
di pantai kepada pria itu, tapi Darrius hanya diam. Di dalam
benaknya Darrius paham akan segala konsekuensi yang
diterimanya dan juga negeri ini, tapi ego dan sesuatu yang ia
rasakan sekarang seolah berdebat di dalam pikirannya dan
akhirnya tubuh dan pikirannya bertindak di luar kendalinya
sendiri, ia malah menyelinap untuk menculik Linda.
“Darrius apa kau mendengarkanku?!” bentak Linda,
gadis itu berdiri tak jauh darinya dalam keadaan tubuh dan gaun
yang basah. Pikirannya mulai sedikit tak terkendali, perdebatan
itu masih ada di kepalanya meski Darrius sudah menentukan
pilihannya untuk menghancurkan apa yang telah Ayahnya
bangun.
Kerajaan ini, berdiri di atas tanah yang diperebutkan
oleh Sparta. Namun Ayahnya menawarkan sebuah perdamaian
kepada Sparta dengan melayani Sparta kapanpun diminta,
dan Darrius dengan bodohnya menghancurkan suatu hal yang
sangat dibanggakan oleh Ayahnya dan di sinilah Darrius,
terjebak dengan seorang gadis yang asalnya hanyalah seorang
Budak. Kedua alisnya menyatu ketika melihat Linda, ada
gelenyar aneh yang tidak dapat ia pastikan saat ia melihat gadis
itu dengan wajah memerah karena amarah di bawah terik sinar
matahari.
148 Slave
“Lalu apa maksudmu dengan prinsip yang tidak
manusiawi?” tanya Linda.
“Pembantaian...,” jawab Darrius singkat, Sparta terkenal
karena keganasan dan kebuasannya dalam berperang. Merebut
wilayah adalah satu-satunya tujuan di samping merebut harta
jarahan, mereka akan melakukan apapun demi hal itu. Termasuk
membunuh siapapun yang ada didalam sebuah negeri, anak
anak dan wanita, tanpa pengecualian. Itulah yang pernah
Linda rasakan, kehilangan orang tua ketika Sparta membumi
hanguskan tempat kelahirannya dan membawa Linda ke tempat
seperti ini.
Sempatterbesit dipikiran Lindabahwa Darriusmelakukan
hal bodoh ini hanya karena tidak ingin berbagi istri dengan
Agamemnon, atau setidaknya pria itu merasakan sesuatu
terhadap Linda. Namun, sepertinya Linda salah besar, Darrius
tidak ingin terus di bawah pengaruh Sparta dan melakukan apa
yang dikatakan oleh pimpinan mereka. Seolah Darrius dan
Ayahnya hanyalah kerbau yang bekerja saat diperintah dan juga
karena sebuah dorongan lain untuk menghancurkan sebuah
peradaban yang melakukan pembantaian.
“Tapi kau tidak bisa melakukan itu dengan mengorbankan
banyak nyawa yang tidak bersalah,” ucap Linda.
“Kau permaisuri bukan? Lakukan tugasmu sebagai
seorang wanita,” balas Darrius.
Diam menyaksikan kerumunan bangsawan lagi-lagi
150 Slave
Darrius yang bertentangan dengan keinginannya.
Harusnya Linda bisa menduganya, Patroklous adalah
pewaris tahta Sparta. Tidak mungkin pria seperti itu mau
menolong Linda dengan sukarela tanpa balasan apapun,
Linda yang hanya seorang budak yang kebetulan dipersunting
dan menjadi permaisuri. Patroklous hanya menginginkan
peperangan dan kehancuran, dan Darrius telah membuka jalan
peperangan kepada pria itu.
“Sebenarnya konflik apa yang terjadi pada negeri ini
dan Sparta, aku rasa bukan hanya soal kekuasaan dan tanah?”
tanya Linda, Darrius mengambil nafas dalam-dalam lalu
menghembuskannya perlahan.
“Agamemnon memiliki banyak permaisuri, salah satunya
berasal dari kerajaan ini dengan status seorang Budak. Yang tak
lain adalah Ibu dari Patroklous,” kata Darrius.
“Itu sebabnya kau tak pernah menyukai kedatangan
Patroklous? Karena Ibunya adalah seorang budak?” tanya
Linda.
“Tidak. Aku memang tidak menyukai siapapun!” sahut
Darrius tegas. “Mengetahui Ibunya dulunya adalah seorang
budak, Patroklous menanggung malu seumur hidupnya. Sparta
adalah negeri yang keras, cemoohan dan gunjingan selalu ia
dengar setiap hari,” tambah Darrius.
Linda mengangguk, Patroklous pernah menyebutkan
bahwa mendiang Ibunya adalah seorang Budak dan ia ingin
❍❍❍
152 Slave
kerumunan yang sedang ribut, di saat seperti ini Raja berharap
Darrius dapat memberikan sebuah solusi. “Ayah, apa kau masih
percaya kepada para Dewa?” tanya Darrius saat perjalanan ke
kamarnya.
“Tentu, nak. Apollo akan melindungi kita dari serangan
Sparta,” balas pria tua itu, Darrius hanya [Link]
selalu mengabdikan diri kepada para Dewa, andai Darrius
percaya kepada hal semacam itu seperti Ayahnya.
“Bagaimana jika Dewa tak bisa membantu kita saat
penyerangan?” cecar Darrius.
Langkah Raja terhenti, “Kau tidak boleh berkata seperti
itu, para Dewa selalu menyayangi rakyatnya.”
“Jika memang benar seperti itu, maka tidak akan pernah
ada pertumpahan darah di Yunani,” ujar Darrius melanjutkan
perjalanan. Sesampai di kamar Darrius membuka kunci pintu
dan mempersilakan Raja memasuki kamarnya lalu menutupnya
lagi.
Raja sempat kebingungan saat itu, “Kuharap Ayah
benar mengenai para Dewa akan melindungi tanah ini beserta
penghuninya, karena aku tidak akan pernah membagi istriku
dengan Agamemnon,” ujar Darrius seraya menarik lengan
Linda yang bersembunyi di balik lemari. Seketika membuat
Raja terkejut.
❍❍❍
154 Slave
mereka berdua selamat setelah peperangan.
“Panggil Eros!” titah Pat kepada pengawal, sementara
Aphareus yang mulai meninggalkan ruangan Pat setelah
mendapat perintah dari pria itu. Tak perlu menunggu lama, Eros
adalah prajurit yang loyal dan setia dimana pun ia memihak.
Pria itu memasuki ruangan Pat.
“Aku harus membawa berita berita buruk untukmu.”
“Apa itu?” tanya Eros menyipitkan kedua matanya.
“Darrius menolak untuk menyerahkan Linda, peperangan
akan dimulai setelah Ayahku menyetujuinya dan berita
buruknya, aku tidak bisa menjamin gadismu akan selamat
dalam peperangan itu. Kau kuberi waktu untuk menyelamatkan
Linda sebelum prajuritku membakar habis kerajaan tersebut,”
jelas Pat.
Eros yang mendengar hal tersebut menarik nafas dalam
dalam, mengepalkan kedua tangannya. Ia pikir dengan terpisah
antara kedua kerajaan bisa menyelamatkan nyawa mereka
berdua, tapi kini nyawa gadis itu dalam bahaya dan bodohnya
Darrius tak membiarkan Linda pergi.
“Kapan penyerangan pertama dimulai?” tanya Eros.
“Kau akan tahu, kau yang akan memimpinnya!” ucap
Patroklous.
❍❍❍
156 Slave
mantab.
Linda menarik nafasnya sendiri setelah mendengar
jawaban Darrius, berharap yang ia dengar bukanlah sebuah
kebohongan hanya untuk meyakinkan sang Raja untuk
mempertahankan istrinya.
Sang Raja mengangguk yakin seraya tersenyum,
“Semoga Apollo melindungi negeri ini,” ujarnya kepada
Darrius dan menepuk pundak pria itu untuk terakhir kalinya
sebelum akhirnya meninggalkan kamar, melewati Linda gadis
itu hanya tertunduk hormat kepada sang Raja di balik wajahnya
yang sendu.
Setelah Raja benar-benar menghilang dari kamar mereka,
Linda melangkah ragu menuju Darrius. Ingin bertanya pada
Darrius yang pria itu katakan barusan adalah kebenaran atau
hanya sebuah alasan meski ia ragu di saat seperti ini Linda
masih bisa memiliki rasa penasaran akan perasaan pria itu.
“Apa yang kau katakan itu benar?” tanya Linda menengok
wajah Darrius, sayangnya pria itu tak kunjung menjawabnya. Ia
malah mengalihkan wajah dan menatap rembulan yang bersinar
terang saat air di pantai sedang pasang, menurut Darrius ini
adalah pemandangan yang paling indah, selain gadis yang ada
di sampingnya.
“Ikutlah denganku!” ujar Darrius secara tiba-tiba,
Linda sontak mengikuti pria itu seraya mengenakan tudung
di kepalanya agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
❍❍❍
160 Slave
“Dikarenakan Darrius telah menentang Agamemnon
dengan tidak memberikan keinginan Sparta, maka dengan ini
Raja memerintahkan untuk menyerang kerajaan mereka hingga
rata dengan tanah!” seru Aphareus di kelilingi oleh ribuan
pasukan yang telah siap mengenakan seragam perang mereka.
Tak terkecuali Eros, jemarinya menggenggam sebuah kalung
mutiara yang dulu hampir ia berikan kepada kekasihnya. Ia
akan mencari gadis itu sebelum pembantaian terjadi.
Matahari mulai terbit di ufuk timur, angin berhembus
kencang dari arah pantai dengan ombak yang tinggi. Membuat
burung-burung gagak beterbangan di atas kepala menunggu
santapan yang sebentar lagi akan tersedia di medan perang.
Hari terasa panas, namun tidak dengan suhu tubuh yang terasa
dingin menunggu nasib yang akan ditentukan oleh para Dewa.
Pintu dan jendela rumah yang terbuat dari rotan tertutup
dengan rapat, bersembunyi di baliknya berharap pasukan
Sparta tak akan membakar tempat berlindung mereka selama
puluhan tahun. Suasana begitu sepi, hanya suara larian kuda
dan besi dari prajurit yang saling bersahutan di luar dinding
kerajaan mereka. Semua berbaris dengan rapi walau mereka
tahu peperangan ini tidak akan mudah, ditambah sudah tidak
ada Eros di pihak mereka. Hanya Darrius yang berada di barisan
paling depan memimpin dengan kudanya, semua itu disaksikan
oleh para bangsawan yang duduk di singgasana di atas balkon
kerajaan mereka, yang juga menunggu dengan harap cemas dan
terus berdoa kepada para Dewa.
Irma Handayani 161
Tak terkecuali dengan Linda, ada dua pria yang ia tunggu
dengan harapan penuh akan selamat. Linda sudah melakukan
apa yang menjadi mandat Darrius kepadanya, semua orang
akan berkumpul di dalam kerajaan jika dinding mereka
berhasil ditembus oleh Sparta. Dan menuntun mereka keluar
dari kerajaan ini. Ketakutan mulai menjalar ketika melihat
kapal perang Sparta telah berlabuh di pinggir pantai, bukan
hanya satu atau dua buah kapal. Melainkan puluhan kapal yang
berisi puluhan prajurit, para bangsawan mulai gusar. Prajurit
yang dipimpin Darrius bersiap pada posisi mereka masing
masing. Begitupun dengan Linda, netra sebiru laut itu berdiri
di tepi balkon, mencari seseorang yang telah lama hilang dari
pandangannya.
Rambut pirang yang tertutup oleh helm pelindung,
memegang sebilah pedang dan perisai di masing-masing lengan
kekarnya. Tubuh besar tersebut berlari memimpin sebuah
pasukan yang baru saja menginjakan kaki di kerajaan ini,
jantung Linda terasa diremas melihat pemandangan tersebut.
Andai ini bukan sebuah peperangan, andai dirinya
bukan berstatus sebagai istri Darrius. Ingin sekali Linda berlari
memeluk tubuh kekar berotot dan berkata padanya bahwa ia
sangat rindu, sayangnya ia melihat pria itu ketika keadaan
mulai kacau. Penuh harap mereka semua akan hidup dan akan
bersatu, jika Dewa mengijinkan.
Darrius masih dalam posisi menunggu, mendengar derap
162 Slave
langkah prajurit yang banyaknya melebihi pasukannya sendiri.
Berhenti tak jauh dari posisi bertahan yang disiapkan Darrius,
tak lama kemudian muncul sosok yang sangat ia benci. Sangat
mirip dengan Eros, hanya saja mengenakan jubah yang lebih
besar dan berkilau.
Patroklous berdiri di garis paling depan ditemani
penasehatnya, tidak ada Agamemnon. Membuat Darrius
menyipitkan kedua matanya dan bertanya-tanya dalam hati, ada
sesuatu yang tidak beres hari ini. Ditemani dua orang prajurit
termasuk Eros, Patroklous berjalan ke depan ke depan tanpa
ditemani oleh kereta kudanya. Dengan busur panah berada di
punggung, ia berjalan kaki.
Darrius yang mengerti pun turun dari kuda ia tunggangi
guna menemui pria itu, hanya sendiri tanpa ditemani oleh
siapapun. Pat menyunggingkan senyum, Lord Darrius yang
terkenal karena kekejamannya kini berjalan seorang diri tanpa
pengawalan. Tanpa prajurit andalannya yang telah Pat rebut
dan sebentar lagi kerajaan Darrius juga akan ia rebut.
“Aku dapat melihat wajah tak bersalah prajurit yang
berdiri di belakangmu, kau dapat menyelamatkan mereka
hanya dengan melakukan satu hal tapi kau malah tetap pada
pendirianmu,” ujar Pat kepada Darrius.
“Kerajaan ini tidak akan lagi melayani Sparta,” tegas
Darrius.
Pat tersenyun remeh, “Sparta telah banyak berjasa demi
164 Slave
bisa menebak apa yang akan terjadi. Jumlah pasukan Darrius
sangat tidak sebanding dengan pasukan Sparta. Patroklous
bahkan tak perlu repot-repot turun ke medan perang karena
jumlah pasukannya sudah pasti bisa menerobos dinding besar
tersebut, harusnya Darrius memperhitungkan hal itu. Tapi
sepertinya pria itu telah pasrah dan mencoba untuk berjuang
hanya demi nama keluarga dan Ayahnya.
Masing-masing dari mereka kembali ke posisi semula,
karena Darrius tak mengubah pendiriannya. Maka Aphareus
membunyikan seruan untuk segera melakukan penyerangan,
seiring dengan ditiupnya terompet besar di kerajaan Darrius.
Membuat suasana kian mencekam bagi siapapun yang
mendengarnya, pasukan Sparta mulai menyerang dengan Eros
di garis depan.
Linda yang menyaksikan hal itu segera menuruni
menuruni balkon dan menuju sebuah pasar untuk memastikan
semua orang telah siap melarikan diri. Suara pertempuran
sangat brutal di luar sana, Linda tak tahan melihat jika pria
yang ia cintai terluka atau gugur di medan perang, meskipun
ia tahu bahwa Eros adalah prajurit yang handal. Suara pedang
dan perisai saling bersahutan, jeritan kesakitan dan ketakutan
terdengar hingga menerobos dinding.
Linda masih berlari menuruni tangga dan menuju tanah
lapang, beberapa dari mereka telah berkumpul di sana menjadi
satu. Linda memastikan semua orang berada di sini dan tidak
166 Slave
mungkin ia akan melarikan diri sekarang juga dan menunggu
Eros untuk menemukannya, andai hidup semudah itu. Tapi
Dewa telah memberikannya tugas yang berat namun sangat
mulia, terlebih Linda adalah sosok yang penyayang dan peduli
kepada sesama.
Brak!
Suara hantaman yang begitu keras berhasil membuat
semua orang terpaku, dinding yang diagung-agungkan tidak
akan pernah roboh tersebut hancur seketika. Pasukan Sparta
berlarian masuk ke dalam wilayah kerajaan dengan membawa
obor, membakar serta menghancurkan pasar mereka.
Linda yang melihat hal tersebut secara langsung mulai
menuntun semua orang untuk mengikutinya, suara pedang
yang berhasil menembus daging serta kulit terdengar olehnya
dan semakin membuatnya panik. Ditambah lagi ketika Linda
harus mendengar jeritan bayi yang berada di dalam dekapan
Ibunya, hal yang menggores hati dan menyebabkan air matanya
mengalir.
Linda hanya bisa melakukan apa yang ia mampu,
meskipun beberapa orang yang tidak bersalah menjadi korban
keganasan prajurit Sparta, setidaknya ada banyak orang yang
bertahan dan masih bersamanya hingga saat ini. Pintu menuju
kerajaan berhasil ditutup oleh pengawal walau hanya akan
bertahan beberapa menit saja.
Linda menuntun semua orang agar memasuki lorong
168 Slave
genting seperti ini Linda masih sempat terharu. Andai cintanya
seberuntung itu, tapi ia sama sekali tidak mencintai pria yang
telah menikahinya. Tapi dunia tidak akan pernah mengetahui
hal itu.
“Apa kami semua akan selamat?” tanyanya lagi.
“Ya, jika kau lari sejauh mungkin dari kerajaan ini dan
tidak pernah kembali,” jawab Linda.
“Kami tidak bisa pulang ke rumah kami lagi?” Gadis itu
tak berhenti bertanya.
“Sebuah rumah bukanlah rotan dan kayu, tapi sebuah
rumah adalah tempat yang membuatmu merasa aman dan
nyaman. Kau bisa membuatnya lagi dimanapun, apa gunanya
rumah ketika kau berada di bawah pengaruh orang lain,” jelas
Linda, gadis itu mengangguk.
“Kau benar, My Lady,” jawabnya tersenyum.
“Sekarang pergilah! Kau berhak bebas,” kata Linda,
bebas dalam artian kelak jika gadis itu dewasa dia tidak akan
menjadi Budak seperti Linda. Kini semua wanita tua dan muda
bebas seperti yang ia inginkan, tidak ada lagi perbudakan,
dengan harapan Linda adalah generasi terakhir.
“Semoga beruntung menemukan cinta sejatimu My
Lady,” seru gadis itu sambil berlari menyusul rombongan, Linda
berdiri dan melihatnya semakin menjauh lalu menghilang di
balik kegelapan. Ia juga ingin pergi dari sini, itu yang ditugaskan
Darrius kepadanya. Namun ada seseorang yang ia cari yang
❍❍❍
174 Slave
meninggalkan semua orang, gadis itu tidak akan tega.
“Aaarrggghhh!”
Bugh!
“Kau bodoh!” cecar Eros, menyerang Darrius
dengan tangan kosong secara membabi-buta. Ia benar
benar menunpahkan kekesalannya di wajah Darrius hingga
membuat wajah itu babak belur dan berdarah. “Jika sesuatu
terjadi padanya, aku tidak akan sudi melirik ke arah mayatmu
sekalipun!” bentak Eros seraya menarik kerah jubah Darrius,
mengabaikan wajah Darrius yang telah memar.
Eros sungguh frustasi, keringat dingin membasahi
sekujur tubuhnya. Sungguh ia hampir kehilangan Linda
dan tak akan pernah melihat wajah gadis itu lagi, ingin
menumpahkan kekesalan dan amarah namun semua itu tidak
ada gunanya ketika semua sudah terlambat. Apa yang harus
ia perbuat? Berdoa kepada para Dewa agar gadis itu tiba
tiba muncul di hadapannya? Jika itu akan terjadi, maka Eros
akan melakukannya sekarang juga. Meski semuanya sudah
terlambat, setelah apa yang telah ia perbuat. Membunuh ribuan
orang tak berdosa hanya untuk memenangkan perang dan
kini ia berharap Dewa mengabulkan doanya, hal yang paling
munafik yang pernah Eros lakukan.
Andai dulu ia lebih mempercayai Linda dan pergi sejauh
mungkin dengan gadis itu, maka semua ini tidak akan terjadi.
Kini ia menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Linda adalah
❍❍❍
176 Slave
berlarian dan beberapa lagi mencoba untuk bertahan di garis
terakhir, kebrutalan berhasil menghancurkan sebuah negeri
yang damai dan makmur. Hanya karena sebuah drama, tahta dan
juga wanita, seorang gadis yang memiliki status sebagai Budak
menjadi awal tragedi ini. Linda bersembunyi dari kerumunan
prajurit Sparta, suara tawa mereka terdengar mengerikan
membuat Linda takut hanya dengan mendengarnya. Seolah
mereka tengah bahagia karena berhasil menghancurkan sebuah
negeri, Linda jadi berpikir apakah Eros juga seperti itu jika
berperang? Mengerikan. Tanpa perduli anak-anak atau wanita,
mereka mengambil semuanya.
Di balik dinding Linda bersembunyi dengan jantung
berdebar sangat kencang, berharap orang-orang mengerikan
itu tidak menemukan dirinya dan membawanya kepada
Agamemnon atau Patroklous, atau mungkin lebih buruk
membunuhnya. Rela mengorbankan sebuah kebebasan hanya
demi bertemu dengan pria pujaan, Linda sadar langkah yang ia
ambil adalah sebuah kesalahan. Tapi ia tidak dapat pergi begitu
saja tanpa membawa Eros serta bersamanya, terlebih ia khawatir
dengan nasib Darrius. Mendengar suara prajurit Sparta telah
pergi, Linda segera keluar dari tempat persembunyiannya yang
mulai terasa panas akibat terbakar karena ulah mereka. Kini
awan di langit terlihat berwarna biru gelap namun memerah,
bukan sebuah senja yang indah. Melainkan api yang berkobar
membuat pemandangan terlihat berwarna orange.
Sore berganti malam, tapi mereka tak kunjung
Irma Handayani 177
menghentikan aksi mereka dan benar-benar ingin
menghancurkan senuanya hingga rata dengan tanah dan menjadi
butiran debu. Siapapun yang mendalangi semua ini sungguh
kejam, Darrius memang tidak mengabulkan permintaan
Agamemnon, tapi mengapa mereka tega membantai orang
orang yang tidak bersalah? Politik kerajaan, inilah yang harus
diterima oleh rakyat kecil. Mengikuti pemimpinnya selalu, jika
hidup pemimpinnya nikmat maka mereka bisa tidur nyenyak
dan makan hidup tentram. Sebaliknya, jika pemimpin mereka
bermasalah maka mereka pun akan turut merasakan akibatnya.
Setidaknya Darrius telah berusaha keras untuk kesejahteraan
negeri ini, meski hanya sementara.
Linda segera berlari meski peluh membasahi sekitar
wajah dan tubuhnya, berlari kesana kemari hanya untuk
menghindari kerumunan prajurit Sparta. Kuda dan binatang
peliharaan berlarian karena udara semakin panas, tidak ada
yang perduli dengan mereka. Semua orang terlihat berusaha
menyelamatkan diri dan melawan prajurit Sparta. Dari kejauhan
Linda melihat sang Raja masih berdiri di atas balkon seorang
diri, tanpa pengawal atau permaisuri dan golongan bangsawan
lainnya. Linda segera memasuki kerajaan kembali, berlari
menenteng ujung dress yang ia kenakan. Suasana di dalam
masih sama, masih hiruk-pikuk akan kehancuran dan kobaran
api. Hanya saja api yang ada di dalam belum melebar seperti
yang ada di luar, karena kerajaan terbuat dari batu sementara
rumah penduduk terbuat dari kayu.
178 Slave
Linda menaiki tangga, menuju balkon dimana tempat
ia menyaksikan pertarungan tadi. Sang Raja masih berdiri di
pinggir pagar, melihat kerajaannya runtuh dan hancur hanya
karena ulah anaknya sendiri, tapi beliau masih tak menyalahkan
Darrius, semua adalah kehendak para Dewa.
“My Lord, kau tidak berusaha menyelamatkan diri?
Aku bisa membawamu ke tempat yang aman,” ujar Linda di
belakang Raja.
Pria tua itu sempat menoleh sekilas ke arah Linda,
“Seorang Raja harus bertahan demi kerajaannya sampai titik
darah penghabisan, pergilah nak! Kau berhak untuk bebas.”
“Kita bisa membangun kerajaan lagi di lain tempat,”
bujuk Linda.
“Lalu Sparta akan menemukan kita lagi, sebuah
kebebasan sebuah negeri adalah dengan melawan,” balas sang
Raja, Linda mengerti Ayah Darrius adalah pria yang sangat
bijak. Ia percaya bahwa Dewa menyayangi mereka yang terlah
berbuat baik kepada sesama, dan kematian bukanlah sebuah
akhir dari kehidupan. Linda tersenyun.
❍❍❍
Aaarrrggghhh!
Jeritan sang Raja berhasil membuat Linda terkejut dan
berteriak kencang, perutnya ditembus oleh sebilah pedang yang
panjang. Saat tubuh renta itu tumbang ke bawah Linda baru
180 Slave
“Eros tidak sekuat itu Linda, ia telah tumbang. Kini
hanya ada aku, dan aku di sini menjemputmu. Memberikanmu
hidup yang layak dan cinta sesungguhnya, aku tidak akan
meninggalkanmu seperti yang pernah Eros lakukan,” bujuknya.
Namun Linda tak percaya semudah itu, ia tidak
percaya pada pria manapun selain Eros. Tidak akan pernah...
Karena sejatinya semua pria di penjuru Sparta adalah sama,
menganggap wanita hanyalah seorang Budak meski Patroklous
ingin menghapuskan status tersebut dari seluruh kerajaan.
Tapi tetap saja, ia tak bisa percaya pada perkataan pria itu.
Terbukti saat ini, ia tak membawa Eros kepadanya dan malah
menawarkan dirinya sendiri untuk menggantikan posisi Eros.
Linda tidak akan salah lagi dalam memilih pasangan
hidup, ia ingin bersama dengan pria yang ia cintai. Bukan
karena sebuah paksaan atau keharusan, ia telah mengorbankan
kebebasannya hari ini, maka akan ia tebus dengan segala cara
meski menolak permintaan Patroklous sekali pun. Lagi pula,
Linda tak melihat mayat Eros. Dan kemungkinannya sangat
kecil sekali jika pria itu tumbang dengan mudah mengingat
Eros adalah prajurit yang kuat.
Melihat gerak-gerik Linda, Patroklous mulai curiga.
Perlahan ia mendekati Linda dan meyakinkan gadis itu untuk
tidak takut kepadanya, tapi ketakutan Linda untuk kehilangan
Eros jauh lebih besar dari pada ketakutan menghadapi
Patroklous. Ia memberanikan diri untuk melawan, saat Pat
182 Slave
menghancurkan kerajaan ini.
Seharusnya dulu Linda tidak percaya dengan perkataan
pria [Link],nasi sudahmenjadibubur, sekali lagi Linda teringat
bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan apapun. Pat adalah
pewaris tahta Sparta setelah Ayahnya meninggal, menolak
pertolongan yang diberikan olehnya secara cuma-cuma hanya
akan mendatangkan masalah lebih besar lagi. Hari ini Linda
melihat kejadian dan kebenaran, bahwa tak selamanya orang
baik memiliki keaslian yang serupa. Ia sadar bahwa Darrius tak
seburuk seperti yang dulu ia kenal, dan Patroklous tak sebaik
dugaannya. Terkadang seseorang menunjukan kebaikan hanya
untuk kepentingan dirinya sendiri, dan seseorang yang berbuat
jahat sejatinya mungkin saja ia sedang berusaha menolong
orang lain.
Tidak ada yang tahu di dunia ini...
Sebuah pengalaman hidup yang pahit meskipun ia telah
berusaha menjadi orang yang baik, pada kenyataannya nasib
Linda tidak seindah wajah dan tubuhnya. Di balik kecantikan
dan keindahan yang Dewa turunkan kepadanya, ternyata
banyak cobaan hidup dan pelajaran yang diberikan. Namun
semua orang pasti hanya melihat hal yang paling luar, dimana
keindahan menjadi patokan utama dan sebagai simbol sebuah
kebahagiaan. Tapi siapa sangka, kebahagiaan bukan didapat
hanya dengan keelokan tubuh dan kecantikan.
Linda malah menganggap bahwa titisan Dewi yang
186 Slave
telah menolongmu?” tanya Pat.
“Orang yang menolongku tidak akan menakuti Linda,”
balas Eros, berusaha menyembunyikan Linda di balik tubuh
kekarnya.
“Kau penghianat!” cecar Pat.
Eros menggeleng, “Tidak! Kau yang menghianati dirimu
sendiri,[Link]
untuk mendamaikan perang, bukan untuk menaklukan sebuah
negeri yang kau benci. Hingga akhirnya Linda dan aku yang
menanggung semua ini.”
“Itulah tugas rakyat jelata, melayani pemimpinnya.
Kukira kau adalah prajurit yang loyal, tapi sekarang kau harus
mati!” kata Pat mengambil busur panahnya di balik punggung
dan mengarahkannya ke arah Eros dan Linda berada.
Kedua matanya menyipit, hanya ada dua orang yang
menjadi tujuannya hari ini. Pat berniat mengakhiri hidup
pasangan yang tengah berdiri tak jauh dari hadapannya, sang
pria yang tengah menyembunyikan kekasih hatinya di balik
tubuh kekarnya. Sementara gadis cantik itu bersembunyi
seraya memeluk Eros dengan erat, jemarinya bergetar menahan
ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi. Ia tidak
ingin kehilangan kekasihnya lagi, jika pria itu harus mati
maka mereka berdua akan mati bersama. Karena tujuan Linda
bernafas sampai detik ini hanyalah demi Eros, bukan pria lain.
Jika ia ingin kabur, sudah Linda pastikan ia akan menghilang
188 Slave
kepada orang-orang yang tidak berdosa,” balas Darrius.
Pat merasa tersinggung dengan hal itu, tidak ada seorang
pun yang berani berkata seperti itu kepada dirinya. Ia adalah
calon pewaris Sparta, tidak ada yang bisa memerintah dengan
seenak hati terhadap dirinya. Pat membuat posisi siaga, Darrius
paham apa artinya itu. Ia segera mengarahkan kudanya untuk
menyerang Patroklous, namun Pat cukup terlatih dan berhasil
menjatuhkan kuda yang dikendarai Darrius, membuat pria itu
jatuh tersungkur.
“Kau harus menolongnya!” ujar Linda, khawatir jika Pat
akan membunuh Darrius.
“Tapi kau harus pergi!” balas Eros seraya mencari
bantuan untuk Linda dan membawa gadis itu pergi.
“Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Kau sudah
berjanji untuk membawaku keluar dari sini,” ketus Linda,
bertahan demi pria yang tidak akan pernah ia lepas lagi.
Eros menghembuskan nafas kasar, dalam hati ia juga
tidak ingin berpisah lagi dengan gadis itu. Namun ia takut
mengambil resiko yang mungkin dapat menyebabkan kematian
bagi Linda. Jika hal itu terjadi, maka Eros tidak akan pernah
bisa memaafkan dirinya sendiri. “Kau keras kepala sekali!”
kata Eros, wajahnya begitu panik. Bukan karena peperangan
ini, ia sudah terbiasa dengan hal itu dan dekat dengan kematian.
Eros panik karena khawatir dengan Linda, gadis itu masih sama
seperti dulu. Masih sangat keras kepala.
190 Slave
gadis itu juga menyayanginya. Terbukti ketika Darrius terbunuh
oleh Pat dan Linda menangis karenanya, Darrius sempat
tersenyum melihat hal itu.
Sementara Eros yang geram, sontak mengayunkan
pedangnya ke arah Patroklous seraya berteriak kencang. Leher
Pat tergorok dan mengeluarkan banyak darah, akhirnya tubuh
Pat tumbang berusaha mencari pasokan angin yang terhambat
karena tenggorokannya terbelah. Patroklous yang Agung kini
telah mati dan terbaring lemah di atas lantai, terbunuh oleh
prajurit bernama Eros.
Itu akan menjadi sebuah tragedi yang mengubah sejarah...
Linda akhirnya berusaha menggapai tubuh Darrius
yang tergeletak di atas lantai, masih bernafas ia hanya tinggal
menunggu ajal menjemputnya. Gadis cantik yang dulu ia siksa
kini berada di sampingnya dengan wajah yang berhamburan air
mata, melihat ke arahnya seolah takut untuk kehilangan. Jemari
lembut Linda menyentuh lengan Darrius, meletakan jemari
yang dulu gemar menampar dan memukulnya itu ke pipinya.
Darrius merasa beruntung masih bisa menyentuh kulit mulus
itu untuk terakhir kalinya, ia merasa bersalah dengan apa yang
telah ia lakukan dulu sehingga menyakiti gadis itu.
“Pergilah!” ujar Darrius ketika wajahnya mulai terlihat
memucat, dengan belati dan pedang masih menempel di
perutnya.
Linda menggeleng, ia tak sanggup meninggalkan Darrius
192 Slave
Eros menarik perut Linda, dan pada akhirnya rangkulan
lengan Linda di tubuh Darrius terlepas karena hal itu. Eros
membawanya dengan paksa, Linda masih bisa melihat tubuh
Darrius terbaring dalam damai. Wajahnya terlihat sangat
damai dan tenang, tidak ada lagi ambisi besar serta kemarahan.
Hanya ada ketenangan dan ketentraman, mungkin inilah yang
diinginkan Darrius dari jauh-jauh hari. Melihat Linda pergi
bersama dengan orang ia gadis itu cintai, serta membebaskan
rakyatnya yang berada di bawah pengaruh Sparta.
Akhirnya, dinding menutupi penglihatannya akan
Darrius. Membawanya ke suatu tempat yang ditunjukan oleh
Darrius, yang akan membuatnya bebas sebagai manusia. Dewa
telah mengabulkan keinginan Linda, terbebas bersama orang
yang ia cintai. Tanpa Linda ketahui ternyata ada seseorang yang
berkorban untuk hal itu. Semua hal yang terjadi bukan hanya
kehendak para Dewa, tapi juga atas keinginan dan doa.
Api telah menjadi abu, dan malam berganti pagi...
Ketika seseorang telah berusaha untuk keluar dari
kehidupan yang semu, maka akan selalu ada cobaan untuk
dilalui. Tapi di akhir cerita, akan selalu ada cahaya yang
menunggu. Jika hati cukup kuat untuk menggapainya, maka
keajaiban akan terjadi.
196 Slave
sebuah peristiwa menyadarkan Darrius bahwa cinta tidak dapat
dipaksakan, cinta hanya bisa dibentuk oleh dua orang yang
saling mencintai.
Lambat laun Darrius mulai menyadari hal itu, dan
mengubah tujuan hidupnya menjadi seseorang yang berguna
bagi peradabannya. Yaitu menghancurkan status Budak yang
melekat kepada istrinya, kini ia kecewa karena gunjingan
keluarga dan para bangsawan yang hanya menganggap Linda
sebagai Budak yang beruntung dapat ia nikahi. Dalam hati
Darrius selalu berkata, bahwa dirinyalah yang sangat beruntung
bisa menikahi gadis yang paling cantik di seluruh penjuru
Sparta. Bukan hanya cantik dan elok rupa, Linda juga memiliki
hati yang cantik dan bersih.
Mungkin itu pula yang menyebakan pertempuran
antara tiga pria dalam memperebutkan Linda, hingga menjadi
permusuhan antar dua kerajaan hingga peperangan. Namun
pada akhirnya, Linda tetap tidak bisa memilih Darrius meski
pria itu telah berubah. Cintanya hanya kepada Eros dan tidak
akan pernah terganti meski dunia dalam keadaan kacau balau,
pukulan dan hukuman tidak akan membuat kesetiaan Linda
berubah terhadap Eros, pria yang selalu ada untuknya dan
menganggap wanita adalah makhluk paling mulia di muka
bumi ini.
Wajah cantiknya terlihat sembab, air mata telah
mengering meski hatinya masih perih menyaksikan kematian
The End
200 Slave
“Kecantikan bukanlah sebuah
simbol kebahagiaan,
tapi kebahagiaan sejati
adalah sebuah kebebasan.”
Tentang Penulis
Pengalaman Menulis
Mulai menulis cerita Romansa Dewasa sejak tahun
2017 disebuah situs Online menulis dan membaca
yakni WATTPAD dalam berbagai genre yaitu,
Romance, Historical, Thriller dan Action.
202 Slave
Berikut karya-karya tulis yang telah dibuat dan
dipublish di Wattpad:
• SACRIFICE
• BRING ME HEAVEN
• BEAUTIFUL SUBMISSIVE
• HEART OF DEMON
• SHORT STORY COLLECTIONS
• DADDY’S GOOD GIRL
• THE MAN IN JAIL
• ADAM RIG
• NIGHT CREEPY DIARY
• BEAUTIFUL SUBMISSIVE PART 2
• MR AND MRS RIG
• SLAVE
• DATING HIS FATHER
• MOMMY
Nama :
Alamat lengkap : (beserta kode pos)
No. Hp :
Judul Buku :
Jumlah pesanan :